Sunday, January 4, 2015

Sejak Musim Hujan Terlambat Datang

Cerpen Budi Afandi

PUNYA sepuluh anak lelaki lebih aman ketimbang punya seorang anak perempuan, begitu biasanya orang di kampung kami berkata.

Dan belakangan ini perkataan itu makin sering terdengar setelah, Jumat minggu lalu, ditemukan mayat seorang bayi perempuan di penempuran sungai di belakang kampung. Bayi dalam karung beras itu seakan sudah digariskan untuk berhenti di sungai di belakang kampung kami, agar para orang tua bisa berbondong membawa anak perempuan mereka untuk menyaksikan, lalu mencengkeram pergelangan lengan anak perempuan mereka sambil berbisik: Awas kamu hamil sebelum nikah! Saya gorok kamu!

Pada saat yang sama, para anak lelaki bisa leluasa datang dan pergi menyaksikan mayat bayi itu tanpa mendapat peringatan apa pun dari orang tuanya, termasuk saat kami membawa mayat bayi itu ke pekuburan untuk dimakamkan dengan nisan bertuliskan: Anak Cucu Adam.

Setelah pemakaman itu hingga hari ini, topik pembicaraan di kampung kami masih seputar bayi malang itu. Berbagai dugaan perihal asal muasal bayi itu bermunculan dari mulut orang-orang, dan pada akhirnya aturan-aturan baru tentang kunjungan orang-orang luar yang datang midang ke kampung kami makin diperketat.

“Ndak boleh ada tamu lelaki masuk kampung di atas jam sembilan malam,” kata Kepala Kampung saat rapat membahas persoalan tersebut.

“Lelaki yang midang harus pulang sebelum jam sepuluh malam,” kata yang lainnya.

Musyawarah yang digelar malam minggu, sehari setelah mayat bayi ditemukan, berakhir dengan beberapa kesepakatan, termasuk soal denda bagi warga yang melanggar, denda yang akan digunakan untuk menambah biaya pembangunan pos ronda. 

Salah satu pos ronda yang nantinya bisa mendapatkan dana dari hasil denda adalah pos ronda yang malam ini kami tempati, berada tepat di ujung kampung di seberang sungai di depan pekuburan. Beberapa orang warga, termasuk aku, sedang asik bermain domino ketika suara anjing terdengar menggonggong sejak beberapa menit lalu.

Kami saling lirik. Permainan kartu tertahan. Salah seorang dari kami turun dari balai dan menyalakan senter ke arah langit, hal yang biasa kami lakukan untuk memeringatkan siapa saja, bahwa masih ada orang terjaga di sekitar mereka. Tapi suara anjing terus terdengar semakin mendekat ke arah permukiman, hingga akhirnya kami sepakat turun dari balai dan bersiap dengan senjata masing-masing.

Saat baru saja menyepakati dua orang untuk tetap tinggal di pos ronda, terdengar suara tembakan. Suara tembakan yang terdengar akrab. Aku yakin, mungkin juga yang lain, suara itu berasal dari senjata rakitan yang menggunakan pipa air berukuran tiga sentimeter sebagai larasnya dan kelereng sebagai pelornya. Sebulan ini banyak warga kami yang menyiapkan diri dengan senjata rakitan itu untuk berjaga-jaga jika ada rampok.

Tembakan terdengar sekali lagi dan suara anjing itu raib.

“Kamu dan kamu, diam di sini,” ucap Sanimah, “Kabari yang lain.”

Begitu selesai berkata, Sanimah mengeratkan sabuk lalu melangkah menuju pematang. Aku dan dua rekan lainnya mengikuti. Kami menyusuri pematang yang membelah dua ladang jagung yang sudah tumbuh setinggi orang dewasa.

Tanah pematang terasa lembap. Rumputnya basah embun. Tapi udara di sekitarku terasa makin berat dan hangat. Tanpa nyala senter kami membelah malam menuju hamparan ladang jagung di belakang kampung yang tak jauh dari sungai di mana mayat bayi itu ditemukan.

Tangan kiriku memegang erat gagang senter sementara tangan yang lain memegang gagang kelewang. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain kemungkinan ada gerombolan rampok yang mungkin sedang mencari cara memasuki kampung kami. Gerombolan yang beberapa kali beraksi di beberapa kampung di sekitar kampung kami. Rampok yang menyiksa dan menjarah apa pun dari korbannya, termasuk menjarah nyawa.

Kami berlari kecil, sesekali berhenti dan berjongkok saat terdengar suara-suara dari ladang jagung di kiri kanan kami.

“Bagi dua,” Sanimah yang paling tua di antara kami berkata sambil menunjukku dan Sadeli lalu menunjuk pematang yang ada di kanannya.

Kami berpencar, bergerak mengitari sebuah ladang jagung.
           
***

Siskamling harus digiatkan lagi. Begitu pesan Kepala Kampung saat cerita tentang aksi perampokan kerap terdengar.

Beberapa waktu lalu, perampok dengan senapan rakitan mendatangi rumah seorang warga di kampung yang tak jauh dari kampung kami. Haji Muji yang disatroni rampok itu mengalami luka parah karena dikeroyok. Menurut cerita, Haji Muji awalnya tidak hendak melakukan perlawanan dan merelakan gerombolan itu membawa semua hartanya. Namun, kesumatnya meledak saat beberapa orang dari gerombolan itu hendak memerkosa anak gadisnya. Dan begitulah, karena hendak membela kehormatan anak gadisnya, Haji Muji kalap dan anak lelakinya tewas.

Aksi gerombolan rampok terasa makin parah sejak musim hujan terlambat datang. Musim kering terasa terlalu panjang hingga ladang dan kebun jadi kurang menghasilkan. Di kampung yang dikenal subur saja, seperti kampungku, orang-orang tidak berani menanam padi karena tak tahu kapan ladang bisa mendapatkan air sehingga orang memilih menanam jagung meski sangat berbahaya ketika hujan tiba-tiba datang.

Suasana musim kering yang sudah terasa parah, diperparah lagi oleh kabar adanya orang-orang yang sengaja menembaki awan dengan panas agar hujan tak datang, hal yang dilakukan karena mereka sedang mengerjakan proyek-proyek pembangunan jalan dari penguasa.

Warga sempat marah begitu mendengar kabar itu lalu bersama warga kampung lain, kami mengajukan protes agar penembakan awan dihentikan. Penguasa berjanji hendak menuruti permintaan kami, namun setelahnya warga masih juga mendengar penembakan awan dilakukan agar pembangunan bisa rampung sebelum akhir tahun. Dan hasilnya, hujan masih juga belum datang.

Beberapa waktu lalu, pada minggu yang sama dengan saat mayat bayi ditemukan, warga sempat sudah nekat hendak menuju lokasi pembangunan jalan untuk menghancurkan mesin-mesin penembak awan. Tapi Kepala Kampung menahan dan menjanjikan akan menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara baik-baik dengan penguasa. Karena itu, warga bersepakat menahan diri dan tidak mengamuk.
               
***

Dadaku bergemuruh saat mendengar suara langkah berlari terdengar dari arah pematang di belakangku. Aku dan Sadeli berjongkok, lalu kami turun ke sisi kiri kanan pematang dan rebah di dekat pangkal batang jangung. Langkah-langkah semakin mendekat, semakin perlahan, lalu kelebat beberapa orang terlihat semakin mendekat dan semakin jelas. Rupanya beberapa warga dari pos ronda lainnya.

“Bagaimana?” Kamran berbisik kepadaku saat kami sudah keluar dari persembunyian.

“Siap-siap saja,” timpalku.

Sekitar lima orang berjongkok sepanjang pematang, di sisi lain mungkin sama, Sanimah dan orang-orang dari pos lain sudah pula bertemu.

Dari ladang jagung masih terdengar suara-suara tak biasa, suara keresek seperti orang yang sedang memperbaiki posisi duduk atau berdiri. Kami masih menunggu dalam suasana malam yang terasa lebih panas saat tiba-tiba terdengar teriakan Sanimah, “Aman! Semua kemari.”

Aku dan yang lainnya saling melirik sebelum berdiri dan melihat nyala senter dari tengah ladang jagung. Kami segera menyalakan senter lalu masuk ke ladang jagung menuju posisi nyala senter Sanimah. Saat tiba di sana, lelaki dengan kepala plontos itu sedang mengarahkan senternya ke tanah tempat sebuah tikar pandan tergelar.

“Brengsek!” ucapnya saat senter diarahkan ke sudut di mana sebuah celana dalam dan kutang berada.
“Anjingnya di sini!” suara lain terdengar dan kami bergegas.

Seekor anjing tergeletak dengan kepala terluka. Kaki binatang itu bergerak-gerak. Mungkin ia sedang berada di alam pertengahan antara sadar dan tidak. Kami saling lirik kemudian mengangkat anjing itu. Membereskan tikar. Membungkus celana dalam dan kutang. Kami bersepakat tidak menceritakan hal itu sampai ada keputusan dari Kepala Kampung. Setelahnya kami kembali ke pos masing-masing dan bermain domino.
Keesokan harinya, aku dan Sanimah membawa barang bukti itu untuk dilaporkan kepada Kepala Kampung.

Kami percaya pada Kepala Kampung seperti kami percaya pada diri kami sendiri. Karena itu, saat persoalan dengan penembak awan, kami biarkan saja sesuai permintaannya meski sampai hari ini belum ada kejelasan. Maka penyelesaian soal celana dalam dan kutang yang kami temukan di tengah ladang jagung, kami serahkan juga padanya.

Saat meninggalkan kediaman Kepala Kampung aku belum bisa mengusir bayangan buruk tentang orang-orang kampungku. Siapa warga kami yang telah mesum di ladang jagung? Mungkinkah mereka orang tua dari bayi mati yang kami temukan? Sejak kapan mereka melakukannya? Jangan-jangan tindakan mereka yang menyebabkan kami dihukum langit dengan kekeringan?
Prasangka-prasangka itu semakin parah hingga aku curiga dengan semua anak perempuan di kampung kami. Entah, apa hanya aku yang memikirkannya? Atau warga yang bersama kami malam itu, menemukan celana dalam dan kutang di tengah ladang jagung, juga memikirkannya? Yang pasti kecurigaanku semakin memuncak? Setiap melihat anak perempuan memainkan ponsel sambil tertawa, aku mencibiri. Setiap melihat anak lelaki berbisik-bisik dengan ponsel di telinga, aku mencibiri. Semua orang terlihat begitu buruk, bahkan terasa lebih buruk dari gerombolan rampok yang mungkin datang ke kampung kami.

Menjelang siang aku menuju masjid dengan semua prasangka buruk dalam kepalaku. Bayangan orang berbuat mesum di ladang jagung masih bercokol dalam kepalaku. Tapi bayangan itu raib saat aku melihat kerumunan di depan tembok rumah yang berada tepat di depan gerbang masjid. Aku bergegas, memasuki kerumunan seperti saat aku memasuki ladang jagung tadi malam.

Orang-orang sedang sedikit mendongak ke arah tembok di mana sebuah tikar pandan dibentangkan dengan paku kecil di empat sudutnya. Sebuah celana dalam hijau dan kutang merah jambu dipaku tepat di tengah-tengahnya. Di bawah kedua benda itu ada kertas putih bertulisankan:

Benda ini ditemukan tadi malam di tengah ladang jagung. Jadi saya harap, jagalah anak-anak perempuan kita dengan lebih baik.
Tertanda: Kepala Kampung

Setelah membaca tulisan itu aku melihat raut muka orang-orang. Banyak mata yang mulai kemerahan. Ada mulut yang menggerutu. Ada gigi yang bergemeretak.

Kulihat Sanimah memasuki gerbang masjid. Segera kuikuti guru silat itu. Ia tersenyum saat kami mulai naik masjid. Dan tak lama kemudian khotbah jumat dimulai. Kudengar orang terisak. Dadaku bergemuruh. Khotbah hari itu soal hukuman bagi para pezina. n

# Mataram, November 2014

Keterangan:
penempuran; muara pertemuan beberapa sungai
midang: ngapel atau berkunjung ke rumah kekasih
sabuq: ikat pinggang
sapuq: ikat kepala khas lelaki sasak


Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2014

1 comment: