Sunday, January 26, 2014

Aroma Kematian

Cerpen Tita Tjindarbumi

RASANYA sudah terlalu lama kubiarkan otak ini kaku. Memasungnya dalam kegelisahan yang tak berujung pangkal. Sudah lama pula ingin kutandaskan semua yang bernama keraguan. Kegamangan yang kian menebal dan mengkristal menjadi ketidakpercayaan.

Sudah sangat lama aku mengeja setiap gerak tubuhmu. Bahkan setiap gerak bibirmu bermain di mataku, sungguh aku seperti sedang berada di belantara yang gelap. Bahkan cahaya bulan dan kerlip bintang pun tak mampu menembusnya. Inilah yang aku rasakan setiap aku mencoba dan mencoba menerjemahkan tiap gerak organ tubuhmu.

Tetapi mengapa sampai detik ini aku masih bisa bertahan? Setidaknya membiarkan pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang tak pasti. Membiarkanmu berenang sebebas-bebasnya di benakku. Lalu apa yang menjadi goal dari hubungan ini?

Aku mencoba tersenyum, menarik kedua ujung bibirku dengan berat. Bagaimana senyumku bisa merekah sementara hatiku terpenjara? Meski harus kuakui magnitmu begitu kuat menarikku untuk mempelajari siapa dirimu yang sebenarnya.

“Sebaiknya kegelisahanmu kau bagi padaku,” ujar Jero dengan suara lembutnya. Suara yang selalu membuat hatiku lemah.

“Tersenyumlah pasti kecantikan auramu akan terpancar,” katanya lagi, seakan bisa membaca pikiranku yang semakin diselimuti kabut kegelisahan.

“Aku tak bisa ...bagaimana bisa tersenyum jika kelakuanmu tidak juga berubah,” kataku lirih, seakan ditujukan pada diriku sendiri.

Aku bodoh ya? Tak bisa menyembunyikan kecamuk di dada ini.

Jero tersenyum. Lalu dengan sigap ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Nyaris saja ujung bibirnya menyentuh keningku. Untunglah, tak kena. Perasaan tak pernah bisa berbohong. Aku bukan tergolong perempuan yang bisa memamerkan senyum di saat hatiku sedang diamuk kemarahan. Apalagi lumer hanya karena sentuhan basa-basi!

Jero memandangku tak percaya. Mungkin ia berpikir aku sedang berpura-pura marah atau sok jual mahal dan tidak butuh sentuhannya. Uff, lelaki selalu saja menganggap sentuhan bisa meluluhkan keberangan. Mereka selalu pukul rata dalam memberi penilaian pada perempuan.

Atau...Jero justru merasa begitu yakin, caranya menaklukan perempuan bisa diterapkan pada setiap perempuan yang diincarnya?

Oh, betapa naifnya? Tidakkah ia berpikir dari sekian banyak perempuan yang masuk dalam perangkapnya, masih banyak perempuan yang sebetulnya menghitung setiap langkahnya. Bahkan tak hanya sekadar menghitung, banyak perempuan yang jeli dalam menimbang untung dan rugi dalam sebuah hubungan.

Dan aku?

Dalam rasa kesal, marah dan perasaan lain yang menggumpal di dada, aku ingin mencari jawab atas tanya yang sering kali menghantui dan mengganggu pikiran. Kehadiran Jero dalam hidupku, setidaknya tak bisa kupungiri kehadirannya memang dapat mengobati kerinduanku akan perhatian seorang laki-laki. Kukatakan begitu, bukan berarti aku tergolong perempuan yang kesepian. Dalam kenyataan keseharianku tak pernah sepi. Ya terutama sepi masalah.

Masalah silih berganti menghampiri hidupku. Datang tidak diundang, lalu pergi begitu saja. Seperti rutinitas saja. Harus kuakui kehadiran Jero cukup bisa membunuh sepi, terutama sepi akan tawa. Joke-joke Jero dapat membuatku tertawa, bahkan terpingkal-pingkal, meski semakin hari terasa seperti sebuah suguhan dengan menu yang sama setiap hari. Membosankan dan garing abis!

“Baru kali ini aku melihatmu tak berdaya menghadapi laki-laki itu,” ujar Ella teman sekantorku dengan suaranya yang lantang. Suara Ella jelas menggambarkan kekesalan hatinya. Ella adalah temanku yang paling dekat dan awet. Ella banyak men-support-ku dalam banyak hal, tetapi Ella juga banyak mengkritikku. Kadang kritikannya bikin telinga keriting, bagiku tak mengapa, bukankah teman sejati adalah teman yang berani mengatakan hal yang sebenarnya, seburuk apa pun itu.

“Laki-laki itu punya nama, La! Jero namanya. J-E-R-O,” jawabku dengan suara tenang, menyimpan kegalauan yang bisa mendadak muncul setiap mendengar nama itu disebut.

“Ya..JERO!!” sahutnya cepat, memberi tekanan pada nama itu. Sepertinya Ella kena imbasnya juga. Teman sejati...? Ah...

Hatiku tertawa. Senang dapat teman dalam urusan galau.

“Aku tak suka padanya,” kata Ella tiba-tiba tanpa kuduga. Rupanya Ella tidak puas hanya dengan menggambarkan ketidaksukaannya pada Jero hanya dengan sikap. Ia perlu mengatakan langsung, keluar dari mulutnya yang berbibir sensual itu.

“O,ya? Tadinya kupikir kamu suka padanya. Caramu mencuri pandang setiap kali bertemu dengannya kadang membuatku cemburu!” kataku asal saja.

Sengaja memutarbalikkan fakta. Sering aku melihat tatap mata Ella setajam silet ketika melihat Jero bermanis-manis padaku. Kami sudah lama bersahabat, nyaris tak ada rahasia di antara kami.

“Aku tahu kamu membutuhkannya sekadar untuk pembunuh sepi. Bisa jadi ...pelarian gitu...” kata Ella seenak hatinya tanpa memikirkan perasaanku.

Aku nyengir. Tak terlalu salah sih ucapannya. Aku memang sering memikirkan laki-laki itu, tapi tak selalu. Sebab, hari-hariku terlalu banyak masalah, masalah yang mendatangkan uang buatku. Sebagai lawyer lumayan kelimpungan jika tak ada klien yang datang dengan membawa masalah dan uang sebagai imbalan jasa konsultasi yang telah kuberikan.

“Gaya bicaramu seperti pakar, Ella. Kesimpulanmu kali ini seribu persen salah. Tega sekali kamu menyamakan Jero seperti sebuah lagu yang kita dengar saat kita butuh saja. Saat kita ingin rileks sambil rebahan dengan mata terpejam. Kejamnya dirimu....” kataku cepat sebelum Ella memberikan penilaian-penilaian konyol berikutnya.

“Aku tahu...kamu pengin serius, tetapi mana mungkin bisa jika melihat Jero-mu itu seperti kucing garong?!”

Jiaaaaaaaaah...sekarang dia bilang kucing garong.

“Kalo dibilang serius, mana ada perempuan yang tidak ingin menjalin hubungan yang serius. Emakku sudah ribut pengin momong cucu. Tetapi enggak semudah itulah....”

“Ya enggak semudah itu sebab kriteria lelaki idaman yang ada di kepalamu tidak ada satu pun di diri seorang Jero. Lalu mengapa kamu galau?”
Duh..Ella kok  merepet terus?

***

Cinta memang sungguh aneh dan jelimet. Padahal kata banyak orang hasil akhirnya yang begitu-begitu saja. Happy ending atau sad ending!

Aku tak ingin cinta berujung di kegelapan.

Cinta bagiku hanya segumpalan kegelisahan yang bikin sakit kepala. Dia melebihi benang kusut yang tak terurai. Tetapi, aku selalu saja ingin menyisihkan sebuah tempat untukmu, di hatiku yang paling dalam. Di sana hanya aku dan Tuhan yang tahu apa yang kurasa dan segala apa yang kumau. Meski kadang aku merasa tak selalu tahu apa yang aku mau. Tetapi aku terus mencoba. Mencari tahu apa yang kuinginkan.

Satu per satu bayangan masa lalu acap membuat langkahku kaku. Aku ingin menepi dan membiarkan bayang-bayang itu benar-benar berlalu. tetapi mengapa mata ini tak bisa menahan kedip? Mengapa hati ini tak juga bisa membeku. Mereka seperti tak rela membiarkan kenangan demi kenangan ini berlalu begitu saja. Padahal mereka juga tahu, semua ini membuat luka lama menganga dan basah...

Jika kudengar suara derit ban atau aroma bensin bercampur debu, seketika tubuhku menggigil. Rasanya aku sedang berada di sebuah kamar sunyi dengan suhu terdingin dan cahaya lampu menyilaukan mata. Aku seperti berada di sebuah ruangan dengan aroma khas yang melelapkan, yang dalam hitungan tak lebih dari sepuluh menerbangkanku pada keadaan di dunia ada dan tiada. Kecelakaan itu membuatku hilang entah berapa lama. Sungguh telah kujelajahi dunia tanpa senyum. Dunia tanpa kata-kata.

Tak ada Ella. Tak ada Jero yang sempat kuharapkan bisa membangun cinta bersamaku. Tak ada siapa pun! Hanya aroma yang tak kukenal.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah kurasakan. Inikah yang disebut kenyamanan? Ketenangan? Inikah aroma kematian itu? n
               

Lampung Post, Minggu, 26 Januari 2014



Sunday, January 19, 2014

Pada Hari Pemakaman

Cerpen Yuli Nugrahani


SEBENARNYA dia sudah terlihat ketika iring-iringan jenazah melewati lampu merah dekat pasar. Tapi tak seorang pun memperhatikan karena dia berbaur bersama dengan para pelayat lain, berjalan tanpa menunjukkan sikap yang berbeda. Aku sempat melihatnya karena suatu kali dia menjejeri kami, para perempuan yang berjalan tertinggal, di bagian belakang rombongan.

Kemudian dia meninggalkan deretan kami, berjalan dengan cepat hingga berada di depan, berjalan seiring dengan peti jenazah. Beberapa lama dia berjalan di samping jenazah, dengan ayunan kaki mengikuti derap para penandu jenazah. Lalu dia mundur berbaur bersama para bapak yang sedang membaca doa-doa dengan suara rendah, di bagian tengah.

Yang membedakannya dengan pelayat lain adalah badan dan bajunya yang kotor. Begitu dekil dan berdebu, hingga hanya semacam kelabu saja dari kepala hingga kaki. Dan dibanding dengan semua pelayat lain yang minimal memakai selop atau sandal jepit, dia bertelanjang kaki.

Dia menarik perhatian para pelayat lain ketika mulai melambai-lambaikan tangan di sisi luar iring-iringan jenazah. Dia membuat tanda-tanda dengan tangannya, seolah ingin mengatur supaya kendaraan dari arah belakang tidak menyalip iring-iringan rombongan ini, dan kendaraan dari arah depan tidak mendekati. Dia terus-menerus menggerakkan tangannya hingga semua orang mau tidak mau melihatnya.

Lalu, ketika kami sudah berada di jalan yang lebih sempit, jalan masuk ke kompleks permakaman, dia berjalan cepat ke arah depan, tak terduga hingga persis berada di depan usungan peti jenazah. Andai kata para pemanggul jenazah tidak sigap, tentu orang itu sudah tertabrak, karena tiba-tiba dia berhenti, berbalik badan dan menyetop jalannya rombongan. Hidungnya persis menyentuh peti jenazah, dan peti agak terjungkit karena berhenti mendadak. Beberapa orang yang melihatnya terpekik.

Orang-orang berusaha menghalaunya. Semula, matanya kelihatan melawan, tapi tanpa bujukan yang lama, dia pun minggir, mengelesot di tanah dengan isakan sedu sedan seperti anak kecil yang dicabut dari susu ibunya. Semua orang menoleh padanya tapi tak seorangpun berhenti untuk menghiburnya.

“Apakah dia keluarga dari almarhumah?” Seseorang di dekatku berbisik.

“Tidak. Aku tidak mengenalnya.” Kakakku yang sedang berjalan sambil menggamit tanganku yang menjawab.

Aku menoleh pada laki-laki itu ketika melewatinya. Dia duduk di tanah, di depan salah satu rumah. Rambutnya nyaris uban semuanya, kelabu cenderung putih. Bisa jadi umurnya sudah lebih dari 70 tahun. Kulit dan bajunya memang sangat kotor, terlihat jelas ketika aku berada pada jarak terdekat dengannya.

Kulitnya, seharusnya kulitnya putih kalau melihat perbedaan yang tampak jelas di wajah yang tersiram air mata dengan kulit lain yang tak tersentuh usapan tangannya. Aku berdebar ketika melihat matanya yang serupa garis melintang tipis sarat duka, berurai air mata hingga tak tampak manik matanya. Mengapa dia kelihatan begitu bersedih?

“Sepertinya aku pernah melihat orang itu. Mengapa dia ada di sini? Bagaimana dia ke sini?”

“Oh ya. Dia si penyair itu kan?”

“Dia orang gila, yang biasa berkeliaran di sekitar terminal. Kau ingat? Dia pernah mengikuti kita saat akan naik bus dulu.”

Kasak-kusuk di belakangku terdengar begitu jelas walau mereka berbisik-bisik. Aku menahan diri tidak menoleh pada mereka, tapi aku mendengarkan perbincangan itu.

“Dia itu dulunya seorang penyair. Dia jadi gila ketika istrinya meninggal.”

“Setahuku dia tak pernah menikah. Dia ini tetangga dari temannya teman ibuku. Katanya dia hidup sendiri kok. Mungkin karena sendirian itu dia menjadi gila.”

“Ah, itu pasti penyair yang lain. Yang ini kabarnya sudah punya anak kok. Dua anaknya tinggal di luar negeri, membuat dia tak terurus. Kasihan.”

“Kau ini bicara seolah-olah ada dua penyair yang gila di kota kita.”

“Mungkin lebih banyak lagi. Kota kita punya banyak penyair. Bukankah menjadi penyair adalah tanda pertama dari seseorang yang mulai gila?”

“Apa? Menjadi penyair? Lalu kau?”

“Iya, aku juga. Hehehe... Hush.” Mereka berdua tertawa tertahan tapi kemudian segera menyetop sendiri tertawanya, dan mereka kembali melafal doa-doa ketika aku menoleh. Dua laki-laki yang tak kukenal. Sejurus kemudian, mungkin karena sungkan, mereka mempercepat jalan dan beralih di barisan depan.

Ibu mertuaku bukanlah orang terpandang. Yang melayatnya tidak telalu banyak, dan separuh lebih dari antaranya tidak kukenali. Aku bisa tanya suamiku tentang mereka, tapi suamiku ikut menggotong peti jenazah di bagian depan. Dan sebenarnya, seusai mendengar kematian ibunya, suamiku dan aku nyaris tidak bertukar suara. Dia asyik dengan kesedihannya dan berusaha mengatasi dukanya dengan tegar. Dia menangis pada  30 menit pertama setelah tahu ibunya meninggal.

Usai itu dia sibuk menelepon, mengurus ini itu bahkan ketika dia sampai di hadapan jenazah ibunya, dia sama sekali tidak menangis. Malah, dia memarahi ibunya yang telah membujur kaku. Dikatakan kalau ibunya terlalu buru-buru. Digugatnya jenazah ibunya karena tak menunggu ajal hingga dia bisa memberikan cucu. Ah, orang sedih memang boleh tidak masuk akal.

Kematian ini menyedihkanku juga. Walau aku tidak tinggal serumah dengan ibu mertua, dia sungguh ibu mertua tepat bagi menantu seperti aku. Suamiku adalah anak tunggal kesayangan, tapi dia tidak suka ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Dia tidak cerewet dan tidak banyak komentar tentang segala hal.

Suamiku bilang ibunya itu seorang artis, dulu di zamannya, tapi aku tidak terlalu percaya. Tidak ada bukti tentang itu, dan aku lebih cenderung menilai ibu mertuaku sebagai seorang pemalu. Bahwa dia seperti menyimpan misteri, aku pun mengakuinya karena dia tak banyak bercerita tentang dirinya sendiri seperti kebiasaan ibu-ibu yang sudah tua. Dia tak pernah menyakitiku walau juga tak pernah ada inisiatif untuk memperhatikanku lebih intim sebagai seorang menantu.

Jika sekarang tidak banyak pelayat yang menyertainya ke pemakaman, aku bisa memakluminya. Melihat kecenderungan ibu mertuaku, dan anaknya yang hanya satu, pasti yang hadir ini lingkaran-lingkaran terdekat dari keluarga, kerabat, atau sahabat. Mungkin nanti kalau masa duka sudah lewat aku bisa tanyakan ke suamiku, siapa saja mereka yang telah hadir di pemakaman ini. Termasuk lelaki tua itu. Mungkin suamiku tahu lebih baik dari dua orang yang kasak-kusuk tadi.

Aku tak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Seolah-olah dia datang secara khusus untuk pemakaman ini. Jika dia orang waras, tentu ibu mertuaku adalah orang istimewa baginya sehingga kedukaan bisa membuatnya tampak segila itu. Atau, jika dia memang orang gila, mungkin dia mengira ibu mertuaku adalah orang lain yang istimewa baginya. Dan ini tetap menarik karena ternyata orang gila pun punya kenangan akan seseorang secara luar biasa.

Dia muncul kembali saat jenazah sedang diturunkan ke liang kubur. Entah bagaimana dia datang, tiba-tiba dia menyeruak, mendorong tubuhnya sehingga terayun ke lubang. Kalau tidak segera ditangkap oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, dia pasti sudah menimpa jenazah dan ikut terjerembap ke dalam lubang kubur.

“Jangan! Jangan kuburkan dia. Jangan!”

Parau suaranya seperti lolong liar. Bulu kudukku berdiri dan aku spontan memeluk kakakku. Laki-laki itu menjelma singa lapar yang meraung dalam keputusasaan, dan berusaha memberontak dari cengkeraman orang-orang.

Rambut putihnya yang panjang berantakan berkibar-kibar mengikuti ayunan tubuhnya sendiri yang ingin maju, dan melawan tarikan orang-orang yang memegangnya. Kelihatan dia memberontak sekuat tenaga sehingga para laki-laki yang menahannya kewalahan. Kulitnya memerah karena tenaga luar biasa yang berusaha dia keluarkan. Orang-orang di sekitarnya  menyingkir memberi ruang supaya dia bisa diseret menjauh.

“Kemuning! Kemuning! Jangan mati! Bawa aku, Kemuning!”

Dia mengulang-ulang panggilan itu. Orang-orang menyeretnya lebih jauh lagi. Sesekali lengkingannya berubah menjadi tawa yang mengenaskan. Tangis dan tawa bergantian. Aku masih sempat mendengar ujung tertawanya sesaat sebelum suaranya hilang. Entah dia dibawa ke mana, tidak ada orang yang bertanya, tapi beberapa orang menyeletuk lirih, ”Gila.” 

Suamiku menjadi satu-satunya orang yang tak terusik oleh peristiwa itu. Dia terus memegang cangkul, yang kemudian diikuti orang-orang lain, melemparkan tanah-tanah merah basah ke dalam lubang kubur hingga menjadi gundukan. Lantunan doa-doa tak berhenti, tak terganggu lagi oleh apa pun kecuali suara tanah yang berantuk dengan tanah, dan angin yang merontokkan bunga kamboja. Lelaki tua itu tak muncul lagi, bahkan pembicaraan tentang kekacauan yang dibuatnya pun ikut lenyap. 

Tapi aku tak akan pernah melupakan peristiwa ini. Seumur hidup aku pasti akan mengingat lelaki tua itu, yang mungkin memang gila, yang bisa jadi memang seorang penyair, yang memanggil-manggil jenazah ibu mertuaku dengan panggilan sayang: Kemuning. n


Lampung Post, Minggu, 19 Januari 2014

Sunday, January 12, 2014

Kisah-Kisah yang Tak Perlu Diingat

Cerpen Alex R. Nainggolan


1.
Perempuan itu berjalan sendirian. Langkah kakinya tergesa. Melewati lorong yang gelap. Ia bersenandung, begitu lirih—barangkali ingin mengusir segala ketakutan yang hinggap di tubuhnya. Hari sudah teramat malam. Ia ingat cerita pemerkosaan itu. Ia pernah membacanya, di sebuah surat kabar. Seorang perempuan muda, digagahi oleh beberapa lelaki muda. Para lelaki yang sarat dengan berahi.

Hari teramat malam. Sudah dini hari. Mulai terasa hembusan angin yang membawa embun. Ia bergegas. Langkahnya cepat. Sungguh, ia adalah perempuan yang cantik. Dengan payudara yang masih muda dan ranum. Ia bergegas. Setidaknya ia mesti melewati lorong itu. Lorong yang gelap memanjang. Ah, mengapa ia tak sampai ke tubir?

Jejaknya memburu. Lorong masih gelap. Semestinya ada cahaya di depan sana. Tapi ia merasa beberapa tangan mendekapnya. Tubuhnya limbung. Ia tak sempat mengingat banyak. Hanya remang terdengar suara lelaki muda dengan tawa yang dipenuhi aroma alkohol. Ia tak sempat lagi berteriak.

2.
Ada suara gemerisik. Larut malam. Ia turun mengendap. Tiga orang lelaki membongkar paksa lemari besi. Suara makin gaduh. Jauh larut malam. Ia masih mengendap. Mungkin sebaiknya ia menelepon polisi. Tapi ponselnya tertinggal di kamar. Ia mengendap. Suara gemerisik.

“Ada orang. Cepat kejar dia!” langkahnya terdengar oleh seseorang. Ia menoleh. Ingin berteriak. Lalu sebilah parang menembus badannya. Ia ingin menjerit. Tapi tubuhnya lemah. Malam terasa makin larut.

3.
Belum jam dua puluh empat. Tapi suara teriakan memberat. Begitu dekat di gendang telinga. Segalanya telah pecah belah. Piring, gelas, foto, toples, dan mungkin kenangan. Malam terasa gulita.

“Kau pikir, aku tak membaca semua BBM-mu! Kau main belakang. Kau pengkhianat cinta. Betapa aku percaya penuh denganmu. Namun ternyata di otakmu hanya selingkuh.”

Perempuan itu menangis. Di sudut dinding ruang tamu. Malam begitu berat. Terasa gelap makin remang di tubuhnya. Ia merasa rambutnya ditarik. Ia merasa pipinya ditampar. Ia menjilat darah dari sela bibirnya. Ia menangis lagi.

“Dasar perempuan murahan. Kegatelan. Jadi itu kegiatanmu di luar. Wanita karier apaan kayak begitu.” Plak. Suara tamparan lagi. Kursi terbanting. Jeritan yang menembus kelam langit malam. Ia tak bisa menghitungnya. Entah yang keberapa. Entah keberapa kali pula—kejadian seperti ini—terus terjadi. Di usia pernikahannya yang merangkak ke angka lima tahun. Buk! Tendangan kaki terasa di perutnya. Ia limbung. Hanya ada sayup suara yang tak jelas.

Ia merasa malam betul-betul berat. Yang sempat diingat hanya suara sirene ambulans. Juga suara bisikan pelan di telinganya, ”Maafkan aku. Jangan bilang siapa-siapa tentang hal ini.” Ia mencoba tersenyum. Wajahnya terasa lebam. Namun, ia merasa masih ada cinta di tubuh lelakinya.

4.
Malam rebah di kota. Di sebuah pompa bensin. Ia baru saja berhenti. Baru menyandarkan sepeda motornya. Tapi seketika kepalanya ada yang menggebuk. Sebuah balok kayu. Lelaki muda itu terjatuh. Kerumunan orang mengeroyok tubuhnya. Pukulan bertubi-tubi singgah. Ia tak melihat dengan jelas wajah pelakunya.

Yang diingatnya orang-orang itu mengenakan helm. Tubuh mereka kekar. Ia diseret. Digebuki. Tak bisa menjerit. Ia muntah darah. Darahnya tercecer di aspal. Banyak orang melihatnya. Tapi tak berani mendekat. Satu pun. Ia ingin menjerit, mungkin menangis. Tapi tak pernah bisa. Terasa malam mengemas tubuhnya hingga meleleh. Malam yang bangkrut di kota. Hanya tubuhnya teronggok di seperempat bahu jalan. Di sebuah pompa bensin. Ia merasa sudah mati.

5.
Napasnya terasa begitu sengau. Pandangannya mendadak payau. Ia merasa sudah sampai di ujung kepala. Larinya sudah panjang. Malam yang ramai. Rangkaian karnaval. Kota yang berwarni. Keramaian yang riuh, menjelma teluh. Orang-orang memadat. Tenggelam dan merapat di kerlip lelampuan. Takjub pada binar cahaya.

Ia teringat anaknya yang demam. Uangnya habis. Anaknya sudah mengigau. Batinnya berbisik, “Aku segera mendapatkan uang buat beli obatmu, anakku. Bertahanlah.”

“Copet! Copet!” Kerumunan yang berkalung. Malam yang berbinar. Matanya yang kalap. Ia mesti mendapatkan uang buat beli obat.

Kerumunan tubuh. “Copet! Copet!” digenggamnya sebuah dompet. Sebuah lengan menunjuk wajahnya. Ia bergeas. Lari sekuat tenaga. Tapi napasnya mendadak habis. Malam masih berkerumun. Tubuhnya terjerembap. Suara pukulan bertalu-talu. Malam yang gaduh. Malam yang berkerumun. Ia, mungkin akan mati. Namun, masih diucapkannya lamat-lamat, “Ini obat buatmu, anakku. Kuburkanlah sakitmu.”

6.
Di sebuah hotel yang mewah. Malam yang muram. Suara pintu dibuka paksa. Tanpa ada ketukan.

“Dari mana ini? Apa hak Anda? Kok bisa seenaknya masuk? Mana surat perintahnya. Apa…” ia bertanya lantang.

“KPK!” mendadak ia lunglai. Padahal ia baru saja mau menyerahkan kantong kresek hitam ke seseorang. Tubuhnya digeledah. Ada perempuan cantik di sana. Ia belum sempat mengenakan pakaian. Tubuhnya setengah telanjang. Perempuan cantik itu, juga setengah telanjang.
“Silakan Saudara ikut,” suara seorang lelaki. Lalu sebuah mobil. Puluhan blitz lampu memotret. Ia menunduk. Menutup wajahnya. Mendadak ia lupa cara untuk tersenyum. Tubuhnya terasa kecut. Tak ada ponsel. Tak ada yang bisa dihubungi.

Ia melihat langit malam dari jendela mobil. Begitu muram. Ia menerawang, berusaha mengingat. Tentang perusahaannya yang baru berjalan. Tentang depositonya di berbagai bank. Tentang emas batangan seberat 100 kilogram di lemari besi rumahnya. Tentang rumah kesepuluhnya yang baru direnovasi. Tentang perempuan yang belum sempat bercinta dengannya.

Di luar memang langit benar-benar muram.

7.
Jalanan lengang. Malam yang menggelepar. Perempuan itu menekan pedal gas mobilnya sampai mentok. Tak lagi menyisa. Di kepalanya terasa penuh bintang. Jalanan begitu sepi. Ia merasa jadi pembalap formula satu. Masih digigitnya gigi. Masih ditekannya pedal gas. Di sebuah tikungan, mendadak matanya penuh kabut. Di kepalanya masih ada kerumunan bintang.

Ia mencoba mengingat sudah berapa gelas alkohol yang ditenggaknya. Tapi ingatannya kembali buram. Terakhir yang diingatnya cuma satu butir pil happy. Dan ia merasa melayang. Masuk ke mobil, langsung tancap gas. Masih sempat ditenggaknya setengah botol yang menyisa di dalam mobil.

“Ayo kita segera berangkat. Cepat.” Temannya mengucap setengah tertawa.

Jalanan lengang. Malam tergeletak sendirian. Begitu sunyi. Sepi menari di jalanan. Ia mencoba menggapai bintang yang berlarian di atas kepalanya. Di sebuah kelokan, kerumunan orang. Begitu banyak. Remaja tanggung. Seorang bapak yang menggendong bayi. Ia terus menekan pedal gas mobilnya. Ia merasa telah menginjak rem. Begitu banyak bintang di kepalanya. Ia tertawa keras. Mobilnya menghantam benda keras. Semuanya terguling. Malam yang lengang. Malam menggelepar dan mendadak pecah di jalanan.

Poris Plawad, Edelweis X/16, 2013


Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014




Sunday, January 5, 2014

Lelucon Negeri Maling

Cerpen Ganda Pekasih
         
SEORANG mantan pejabat korup yang terserang penyakit “lupa” dan terkenal selama hidupnya pintar bersilat lidah baru saja meninggal dunia, keluarganya segera hendak memakamkannya hari itu juga. Tapi para aktivis antikorupsi dan penyidik KPK yang datang melayat ke rumah duka segera menolak.

“Tunda penguburan hingga tiga hari ke depan, kita harus memastikan dia pura-pura mati atau memang sudah mati beneran.”

&&&

Seorang koruptor tahanan KPK mengeluh sakit gigi dan ingin giginya dicabut di rumah sakit swasta langganannya, ketua KPK memerintahkan segera membuatkan surat jalan untuk berobat, tapi ditunjuk rumah sakit pemerintah yang terkenal pelayanannya sangat buruk, ketua KPK juga memberi memo di secarik kertas untuk dokter yang akan memeriksa gigi si koruptor:

Kalau terpaksa giginya dicabut, harap jangan pakai obat bius demi penghematan uang negara.

&&&

Seorang perempuan mantan gubernur bank tengah malam menelepon penasihat spiritual pribadinya.

“Bapa, saya tidak bisa tidur mengingat semua korupsi yang sudah saya lakukan, tolong beri nasihat saya biar saya bisa tidur.”

Telepon di seberang menjawab.

“Wah, nyonya salah sambung.”

“Nomer Anda sudah sangat saya hafal Bapa. Mana mungkin saya salah sambung.”

“Ya ampun nyonya, Anda salah sambung.”

“Bapa, sudah tidak zamannya lagi sekarang berbohong.”

“Ya ampun Nyonya, saya katakan Anda salah sambung, saya ini bukan penasihat spiritual Anda, tapi salah satu ketua KPK yang baru dilantik kemarin.”

“Hah, jadi Anda salah satu ketua KPK yang baru dilantik itu?”

“Betul!”

“Kalau begitu Anda betul, saya memang salah sambung!”***

&&&
   
PILKADA: para calon terdiri dari anggota DPR, mantan menteri, pejabat tinggi, bahkan kepala polisi yang sebentar lagi pensiun, mereka bertarung memperebutkan kursi gubernur, pada saat pendaftaran terakhir, salah satu ketua KPK yang masa tugasnya akan berakhir ikut mencalonkan diri sebagai wakil independen.

Setelah penghitungan suara selesai, ketua KPU setempat memberitakan bahwa ketua KPK yang akan berakhir masa tugasnya itu dinyatakan sebagai pemenang.

Calon-calon yang kalah kemudian mengakui kekalahan mereka dengan senang hati dan mengatakan: 

“Kami mengakui kekalahan kami dan merasa menjalani hidup ini lebih tenang.”

&&&

Seorang terdakwa koruptor yang sedang menjalani penahanan di penjara masih kukuh bahwa dirinya merasa tidak bersalah telah melakukan korupsi, dengan berapi-api jika ditanya wartawan dia menjawab tegas.

“Jadi Anda benar-benar merasa tidak bersalah?”

“Tidak!”

“Tidak melakukan korupsi?”

“Tidak!”

“Tidak merasa merugikan negara?”

“Tidak!”

“Tapi Anda sekarang sudah masuk penjara, Bung? Vonis sudah dijatuhkan.”

“Aku tetap harus konsisten!”

&&&

Pak Dirjen mengeluh tentang keluarganya kepada bawahannya, Pak Gabus.

“Aku tak mampu menjaga anak-anak dan istriku lagi dari hidup boros dan berfoya-foya, mereka terus membeli apa saja setiap hari.”

“Itu biasa, kita juga waktu anak-anak banyak maunya, kan?”

“Kau benar, eh kalau boleh aku tahu dulu cita-citamu jadi apa sehingga kau sekarang sangat kaya?”

“Dulu aku cuma bercita-cita jadi maling kecil-kecilan saja!”

“Kalau begitu kau sekarang hebat ya, sudah bisa jadi maling gede-gedean.”

&&&

Seorang terdakwa korupsi setelah persidangan yang melelahkan bertanya kepada ahli hukumnya.

“Apakah yang dimaksud dengan kebenaran sejati di dunia ini?”

“Jangan sok bermoral, kalau kesalahanmu kubuka lebar-lebar kau bisa masuk penjara minimal dua puluh tahun.”

&&&

Seorang ibu muda yang baru saja mendapat transfer uang ratusan juta dari suaminya tergopoh-gopoh memasuki sebuah bank. “Tolong, saya ingin membuka rekening.”

“Baik, Bu. Silakan diisi formulirnya.”

“Saya ingin buru-buru memindahkan uang saya ke rekening yang baru,” celoteh si Ibu dengan gembira.

“Hm Ibu pasti nasabah yang bonafide, apa rupanya kerja suami ibu?”

“Dia pejabat di kantor pajak.”

“Oh... pantas.”

Tiba-tiba si ibu terkejut.

“Saking terburu-burunya saya lupa apa nama bank ini?”

“Bank Mutiara, Bu.”

“Wah saya enggak salah masuk, namanya saja sudah bagus sekali.”

“Dulu nama Bank ini Century, Bu.”

“Century? Kalo gitu enggak jadi ah, saya cari bank yang lain saja. Di sini pasti tidak aman.” Si ibu tergopoh-gopoh lari keluar.
Petugas bank ngedumel keki.

“Dasar istri maling!”

&&&

Seorang koruptor yang diburu buru intel KPK datang ke seorang paranormal untuk minta penjagaan gaib agar aman, si paranormal  segera merapal mantera lalu memberi bunga tujuh rupa.

“Ayo mandilah dengan air kembang ini?”

“Di mana mandinya Mbah, di rumah apa di sini?”

“Di jalanan, biar ditonton orang rame-rame abis itu ditangkap polisi.”

&&&

Bagaimana cara mengenali mobil seorang koruptor di jalan raya? Lemparkan sebuah batu, maka pasti batu itu akan menimpa mobilnya karena saking banyaknya mobil yang lewat di jalan hasil korupsi!

&&&

Seorang pejabat yang seharian diperiksa di KPK pergi makan siang dengan seorang pengacaranya.

“Kau punya ide kita makan apa siang ini?”

“Karena Anda sedang gelisah aku anjurkan soto kudus saja Tuan. Siapa tahu setelah itu nanti semua bisa jernih melihat masalah ini.”

“Kenapa soto kudus?”

“Kudus kan artinya suci, Tuan.”

&&&

Seorang koruptor kakap buronan KPK tertangkap di kota persembunyiannya, intelijen KPK yang menangkapnya segera membawanya ke Jakarta. Di dalam pesawat terbang yang membawa mereka si koruptor berceloteh dengan bangga.

“Tadi pagi aku sarapan bubur di Manado, siang tadi aku makan nasi bebek di Surabaya, sekarang aku menonton video di pesawat di atas Yogyakarta, nanti sore aku pasti minum kopi di Jakarta bersama kepala polisi di kantornya, beruntung sekali hidupku.”

“Ada yang ketinggalan, Bung,” sela intelijen KPK.

“Apa?”

“Malamnya Anda akan tidur di tahanan KPK.”

&&&

Seorang istri pegawai korup tergopoh-gopoh mencari anak lelakinya yang kecanduan narkoba.

“Aduh gawat! Kau tahu di mana anakku? Aku harus membikin sarapan suamiku,” tanya si ibu kepada tetangganya.

“Apa yang dibawanya?”

“Tabung gas.”

&&&

Seorang pejabat yang punya sakit jantung dan darah tinggi suatu hari terjungkal dari sepedanya saat berolahraga di perumahan tempat tinggalnya. Pejabat itu lalu memaki-maki polisi tidur yang membuatnya terjatuh.

Tak lama kemudian polisi tidur itu bangun.

Dan jantung si pejabat kontan berhenti.

&&&

Pak Robet seorang koruptor dan makelar yang santun, setiap berhasil korupsi dia selalu mendatangi gereja membuat pengakuan dosa.

Suatu hari Pak Robet dicari-cari KPK, dia sangat takut sekali, maka dia pun lari bersembunyi. Dalam persembunyiannya suatu hari dia mendatangi gereja langganannya untuk membuat pengakuan dosa seperti yang selalu dilakukannya.

Tapi alangkah kagetnya Pak Robet setelah dia membuat pengakuan dosa, pastor yang sudah lama dikenalnya itu keluar dari biliknya, ternyata dia bukan pastor langganannya, tapi penyidik KPK. 

Pak Robet panik. “Di mana pula pastor langgananku itu?”

Pastor palsu itu menjawab. “Beliau sedang menunggumu untuk sama-sama membuat pengakuan dosa di kantor KPK.”

&&&

“Kudengar kau diceraikan suamimu si koruptor tua yang ngaku lagi sakit ambein itu anakku?”

“Benar, Pak.”

“Lalu apa yang sudah kau dapat dari dia?”

“Menyerahkanku ke koruptor yang lebih muda, Pak.”

“Dasar menantu sialan! Semoga dia kena ambien seumur hidup! Terkutuklah mereka semua jadi batu!” n
    

Lampung Post, Minggu, 5 Januari 2013