Sunday, January 11, 2015

Ibuk

Cerpen Muhammad Amin 


SETAHUN lalu lelaki itu masih berdiri gagah di ruang megah gedung TokyoTech, Suzukakedai, memberikan last lecture di hadapan mahasiswa, peneliti, dan profesional Indonesia yang tinggal di Jepang. Usianya sekitar 43 tahun. Namanya Tri Mustofa. Peraih gelar Philosophy of Doctor di Tokyo Institute of Technologi, Jepang.

Wajahnya begitu cerah dan bersemangat. Apalagi, setelah bertahun-tahun tinggal di Negeri Sakura ini, dia dan keluarga kecilnya, istri dan seorang anak lelakinya, akan kembali ke tanah air. Sesuatu yang selalu dia tunggu-tunggu karena kerinduannya akan keluarganya di tanah air. Terutama rindunya pada ibu.

Memasuki bulan April. Cuaca di Tokyo mulai menghangat. Bunga sakura sudah nampak bermekaran. Sebelum pulang, dia menyempatkan mengajak istri dan anaknya ke gedung Miraikan, museum sains dan inovasi masa depan Jepang, menyaksikan pertunjukan ASIMO., sebuah robot yang menyerupai astronot berpakaian putih dengan membawa ransel di punggungnya. Amir, anak lelakinya yang berusia 13 tahun, begitu antusias. Hari itu jumlah pengunjung sedikit, sehingga orang tua dan anak-anak bisa duduk berdekatan.

Dengan iringan alunan musik, robot mungil itu masuk ke ruang pertunjukan sambil memberi salam kepada penonton, kemudian melakukan berbagai atraksi. ASIMO menjawab pertanyaan-pertanyaan pemandu dengan tangkas. Berbicara dalam bahasa Jepang dengan fasih. Anak-anak begitu menikmati setiap perkataannya. ASIMO juga bermain bola bersama pemandu dan sebagian anak-anak.

"Sughooi! (hebat!)" terdengar kalimat spontan itu dari para penonton yang takjub dengan pertunjukan robot pintar itu. Amir juga sempat bermain bola bersama ASIMO. "Ayah, menakjubkan sekali!" komentar anaknya semringah. Selesai pertunjukan, mereka kembali ke apartemen.

Itu hari terakhir mereka di Jepang. Wajah lelaki itu seperti selalu memancarkan cahaya kebahagiaannya. Esok mereka akan terbang ke tanah air. Akhirnya kata pulang yang belakang selalu dinantinya tersampaikan juga. Dia sudah kangen dengan rumah di kampung halamannya. Dan tentu saja kangen dengan seorang yang begitu berharga bagi dirinya: Ibuk!
               
***

Lelaki itu kini tergolek tidak berdaya di atas tempat tidur. Tubuhnya kurus yang sebagian tidak bisa digerakkan. Di kepalanya dipasang semacam alat berbentuk pompa seperti seorang hydrocephalus. Ini sudah ketiga kalinya ia terserang stroke dan kondisinya semakin parah.

Setelah menjalani pemeriksaan MRI, ternyata terdapat tumor di otak besar bagian tengah menempel di pembuluh darah besar. Dokter tidak berani mengoperasi. Terlalu besar risikonya dan terlalu kecil kemungkinan selamat.

Padahal, setahun lalu lelaki itu masih berdiri gagah di ruang megah gedung TokyoTech, sehari sebelum dia kembali ke tanah air. Dua bulan sekembalinya ke Indonesia, dia terkena serangan stroke yang pertama. Selama sebelas hari koma di rumah sakit. Sebulan kemudian keadaannya membaik.

Tetapi, itu hanya sementara. Beberapa pekan kemudian dia kembali terserang stroke yang kedua. Dan dia mulai kehilangan ingatannya. Dia mulai tidak bisa menghitung. Dan banyak kosakata yang hilang dari memorinya. Kata dokter dia mulai terkena alzheimer.

Satu bulan kemudian dia terserang stroke yang ketiga. Kondisinya lebih parah dari sebelumnya. Dia lupa akan banyak hal. Dia lupa untuk bergerak. Dia lupa akan kata "sakit". Bahkan dia lupa anggota keluarganya sendiri. Dia tidak mengenal istri dan anaknya.

Ratna tentu mengerti, sebagai seorang istri dengan suami dengan keadaan yang demikian, ini merupakan cobaan berat bagi keluarga mereka. Kadang dia merasakan guncangan yang hebat. Betapa pun ini membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit.

Mas Mustofa benar-benar sudah kehilangan ingatan, tak sedikit pun bisa mengenali dirinya dan Amir, anak semata wayang mereka. Guncangan pertama itu terjadi ketika ia masuk ke kamar. Mas Mustofa yang sedang tergolek lemah di ranjang tiba-tiba saja berteriak-teriak seperti ketakutan, seperti melihat makhluk asing si kamarnya.

“Ini aku, Mas. Istrimu…”

Mas Mustofa menggeleng dan menyuruhnya keluar dari kamarnya. Ratna menangis sesenggukan.
               
***

Mas Mustofa sudah kehilangan hampir semuanya. Dia sudah kehilangan seluruh ingatannya, bahkan berbicara saja dia sudah tidak bisa. Bukan! Bukan karena mulutnya kaku dan tidak bisa digerakkan. Tetapi karena semua kosakata telah hilang dari memorinya. Benar-benar hilang tanpa tersisa. Kecuali satu kata saja yang ajaibnya masih ada di ingatannya: Ibuk!

Ibulah yang kini rajin membantu Ratna merawat Mas Mustofa, karena hanya dia satu-satunya yang masih dikenalinya di rumah ini. Ya, hanya satu-satunya sosok yang masih disimpan dalam memorinya. Mas Mustofa tak mampu berkata apa pun, kecuali satu kosakata saja: Ibu. Karena itulah, setiap kali memerlukan sesuatu atau menginginkan sesuatu, dia hanya menyebutkan kata ibu.

Ketika lapar, haus, ingin buang hajat, ingin bangun, takut, sedih, dan semuanya, hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya: Ibuk. Dan beruntungnya perempuan yang telah melahirkannya itu selalu ada di sisinya menyiapkan segala sesuatunya.

Ratna tak pantas merasa cemburu karena Ibu yang lebih diingat Mas Mustofa. Tentu saja lantaran perempuan itulah yang lebih lama memberikan kasih sayangnya. Ratna sama sekali tidak pantas untuk merasa tidak lebih beruntung daripada Ibu. Karena itu memang sudah sepantasnya.

Tetapi, kadang godaan itu pasti ada. Kadang datang dari beberapa kerabatnya yang menyarankannya untuk menikah lagi. Bukan satu-dua, sudah banyak yang mengatakan hal itu padanya. “Kamu masih muda dan cantik. Anakmu masih satu. Kamu masih bisa mendapatkan suami lagi.”

Meskipun Ratna tak pernah menanggapi perkataan itu, bagaimana pun dia tetaplah seorang perempuan biasa yang kadang muncul pula godaan-godaan serupa dari dalam dirinya sendiri. Kini dia hanya bisa berdoa agar dirinya diberikan kekuatan menghadapi ujian ini.
               
***

Mas Mustofa orang yang saleh. Kata Ibu, sejak kecil dia tak pernah sekali pun meninggalkan salat dan rajin mengaji. Juga rajin shalat tahajud. “Nak, kalau kamu ingin berhasil dalam segala hal, dekat-dekatlah dengan Gusti Allah.” Begitulah petuah ibu yang selalu membuatnya rajin ibadah.

Selain itu, Mas Mustofa juga dianugerahi otak cerdas. Sejak di sekolah dasar sampai kuliah selalu mendapat beasiswa. Setelah menyelesaikan kuliah di Jurusan Teknik Elektro UGM, Mustofa mendapat beasiswa belajar ke Nanyang Tecnological University, Singapura. Kemudian mendapatkan beasiswa S-3 di Tokyo Institute of Tecnology, Jepang.

Tapi, kini kecemerlangan dan kecerdasannya lenyap dalam sekejap saja akibat sebuah penyakit. Ratna masih belum mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. “Bu, kenapa ya orang baik selalu mendapatkan cobaan yang berat?”

Mereka sedang mengobrol di ruang tengah ditemani secangkir teh. Ibu hanya tersenyum. “Karena balasan itu surga itu teramat manis, Nak. Jauh lebih manis daripada teh buatanmu ini.”

Ratna ikut tersenyum. Seiring waktu, dia banyak belajar dari kesabaran Ibu. Bagaimana Ibu merawat Mas Mustofa dan selalu berada di sisinya. Tak pernah ada keluhan. Tak ada rasa lelah yang tampak dari wajahnya yang berkeriput. Ratna ingin seperti Ibu yang selalu bisa bersabar menghadapi segala kesulitan yang sedang mereka hadapi. Kata dokter, Mas Mustofa mustahil bisa disembuhkan.

Ratna hanya bisa memutar kembali kenangan-kenangan bersama Mas Mustofa dan si jangkung Amir adalah bukti cinta mereka selama ini.

Meski pun tak tersisa secercah ingatan dalam memori Mas Mustofa tentang dirinya, Ratna tak ingin kehilangan sedikit pun perasaan cinta pada suaminya itu. Kini dia sudah belajar banyak. Godaan-godaan itu sudah berkurang banyak.

Dengan ditemani Ibu, Ratna kerap menunjukkan album foto keluarga kecil mereka. Juga foto-foto terakhir mereka di depan gedung Miraikan. Senyum semringah yang memancar kebahagiaan itu mungkin sedikitnya bisa memercikkan secercah ingatannya kembali.

Mas Mustofa tetap tak mampu mengingat apa-apa. Tak ada kata-kata yang yang keluar dari mulutnya kecuali “Ibuk!”
               
Hamfara Yogyakarta, November 2014


Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2015

1 comment: