Sunday, April 12, 2015

Karma Suci

Cerpen Teguh Affandi


BARULAH sekarang aku menyadari, karma dan pembalasan perbuatan salah tak perlu menunggu lama. Pembalasan bisa terjadi sesaat pasca-perbuatan merugikan. Sepertinya, Tuhan tanpa ragu menurunkan kegelisahan yang merajam perasaan. Ini pencurian pertamaku. Perut melilit bukan hanya membuat muka mengernyit lantaran lapar, tapi juga menyempitkan pikiran. Dalam kelaparan, rumah papan berlubang tiba-tiba dingin. Hayati lebih suka diam.

Hayati mengusulkan agar menjual rumah untuk menutup semua utang. Kulihat noktah ragu di wajah Hayati. Sebagai suami, aku terenyuh dan merasa gagal membahagiakannya. Tapi, bila rumah papan ini dijual, lantas akan tinggal di mana? Lebih susah mencari tempat tinggal daripada mencari uang. Hayati memakai daster, lehernya kurus, tulang belikat membentuk cekungan mirip tempat sabun.

Hayati mendesahkan putus asa. Utang terus menumpuk, berurusan dengan lintah darat berarti bermusuhan dengan waktu. Aku menyunggingkan senyum mencoba menenangkannya. Aku janji akan mencari pekerjaan di pasar meski aku sendiri tidak yakin. Rematik di pangkal pinggang menyiksa pedih dan hampir memensiunkanku sebagai kuli panggul.

Hayati bangkit dari tempat duduk menuju dapur, Hayati merebus daun singkong yang dipetik di pagar hidup kebun tetangga. Rebusan daun singkong itu akan kami makan dengan sambal dan nasi tak seberapa. Sambal? Apa pantas disebut sambal bila Hayati hanya menghaluskan cabai, garam, dan dua bawang merah?

“Aku pergi dulu.” Hayati di dapur tidak menyahut. Usai masak, Hayati akan ke rumah Bu Lurah, menawarkan bantuan apa saja. Bu Lurah sering menyuruh Hayati memasak, mencuci pakaian, bahkan menanam bunga di pekarangan. Apa saja asal halal, kata Hayati. Karena halal atau tidak halal sangat berefek besar.

Kondisi ekonomi semakin terjatuh ketika aku terjerat utang dengan Tarman si lintah darat. Entah bagaimana mulanya aku tertarik meminjam uang dengannya. Seingatku bermula saat masa masuk sekolah anakku. Aku membutuhkan uang untuk seragam dan segala kebutuhan sekolah. Tarman menawari uang enam ratus ribu dengan bunga nol persen.

Kuterima. Kubelanjakan. Tiga bulan berselang, aku berhasil menutup lubang utang itu. Tapi keberhasilan melewati lubang jarum lintah justru menjadi jurus pamungkas Tarman untuk terus menawariku utang. Tanpa disadari, setahun kemudian, aku tiba-tiba memiliki utang dalam jumlah yang begitu besar. Rasa-rasanya andai aku membungkuk di pasar, menjadi kuli panggul, berbulan-bulan sekali pun takkan berhasil menutup utang.

“Salimun, kamu kukasih tenggat sebulan lagi. Semua utang plus bunga harus lunas. Kalau tidak, rumahmu bisa kusita,” Tarman mengancamku kemarin.

Perkataan Tarman terus saja membayang di pikiran dan menggedor sanubari. Rasanya ingin terbang dan protes kepada Tuhan, memeras keringat hingga kering, membanting tulang hingga remuk kalau perlu. Banyak hal menjerat hingga aku seperti lelaki tanpa daya.
               
***

Pasar masih jauh di sana. Kakiku lemas. Tremor karena belum sarapan. Rematik merepotkan jalan. Keringatku sebesar biji jagung di sekujur badan. Ketiakku lengket dan bau. Apakah Tuhan mengerem roda kehidupanku hingga mandek di bagian bawah?

Aku duduk istirahat di bangku pinggir jalan. Bangku kayu di bawah pohon angsana. Riuh pasar terlihat, namun tampak begitu jauh dan susah dijangkau. Angin sepoi berdesir, terasa dingin saat membelai keringat. Kurasakan tenggorokan kering. Aku menoleh mencari sesuatu yang bisa membasahi dahaga tanpa harus membeli. Masjid! Rupa-rupanya aku duduk di depan masjid.

Biasanya ada galon air gratis yang disediakan takmir di serambi masjid. Atau kalau tidak aku bisa minum air keran. Jalanku tertatih.

Tak ada galon air gratis di serambi. Aku celingak-celinguk mencari. Mungkin takmir menempatkan galon minum gratis di tempat lain. Setelah kucari-cari tidak ada. Memang di masjid tidak menyediakan galon minum gratis. Apakah takmir masjid tak tahu ada orang dahaga yang butuh air minum?

Suasana masjid sepi di pagi hari. Hanya embusan dingin yang jauh lebih segar daripada suhu panas di luar bangunan masjid. Terpaksa aku menuju keran wudhu. Aku bisa minum sepuas dan sebanyak perut mampu menampung. Keran kuputar lancar. Air bersih deras mengalir. Tangan kubasuh, dinginnya air merasuk hingga ke dalam kulit. Begitu tenang. Wajah kusapu dengan air. Sejuk terasa. Kuisap air keran dalam-dalam. Tak kupedulikan air mentah, asal mampu mengusir dahaga dan memulihkan tenaga yang menguap sepanjang perjalanan dari rumah menuju pasar.

Setelah kenyang minum air keran, aku leyeh-leyeh di serambi masjid. Kulihat wanita beriasan tebal memboncengkan anak berseragam sekolah dengan motor matic. Aku ingat Hayati yang seharusnya hidup enak dan dimuliakan sebagai orang. Tapi lagi-lagi miskin lebih kejam menghajar dan membuatku menjadi orang penggerutu dan pengeluh nomor satu.

Kelebatan pikiran merasuk diam-diam. Mataku tertuju pada kotak amal dekat pintu. Kotak beroda tampak begitu memikat. Terasa ada panggilan dari dalam kotak tersebut. Tutupnya hanya diamankan dengan gembok tak dikunci. Gemboknya terbuka. Cat kayunya lusuh dan tampak tulisan ‘Mohon Diedarkan’ warna putih. Aku menangkap isyarat bahwa Tuhan menggiringku ke masjid ini untuk mengambil uang sedekah jamaah.

Aku mendekati kotak amal. Tanganku gemetar, tapi kuyakinkan bahwa semua takdir telah diatur Tuhan. Tuhan menjadikanku haus dan berhenti di bangku bawah angsana depan masjid, minum air keran, dan menerima sedekah orang di dalam kotak amal ini. Kotak amal ini diakadkan sebagai sedekah.

Kubuka gembok dan tutup kotak segera terbuka. Beberapa lembar uang rapi terlipat, sisanya seperti gundukan kertas tak beraturan. Mataku menangkap lembar warna merah dan biru, pecahan terbesar. Kubayangkan uang ini akan menyumpal mulut Tarman agar tidak lagi meneror keluargaku.

Tanganku tak lagi kikuk. Ada kepercayaan yang tumbuh dalam dada bahwa uang sedekah ini memang untuk orang-orang membutuhkan sepertiku. Tidak perlu terus-terusan uang sedekah masjid untuk mempercantik masjid yang memang sudah indah. Orang miskin punya hak atas setumpuk uang sedekah jamaah. Senyumku mengembang. Tanganku meraih semua isi uang dalam kotak amal. Kutata dan kuurutkan berdasarkan besar pecahan. Ada lima ratus ribu lebih sedikit. Ternyata jamaah masjid sekitar sini cukup loyal. Kumasukkan saku celana. Suasana masjid masih sepi, seperti memang dihadirkan untukku seorang.

Barulah ketika berdiri, segerombol ragu ramai-ramai berdemo di dadaku. Banyak suara mencemooh. Di antara banyak suara yang riuh mendengung di telinga, tiba-tiba seekor cicak jatuh tepat di kepalaku. “Plak!”

“Ya Robbi!” aku berteriak kaget. Seekor cicak melompat dari kepalaku ke lantai keramik dan seketika kabur di balik pintu.

Aku gegas pergi. Suara cemoohan makin kencang terdengar. Aku sudah terlanjur yakin bahwa ini jalan Tuhan menolongku. Saku celana penuh uang kotak amal. Di tepian pagar, aku sempat menoleh masjid dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan.

“Sebaiknya aku ke pasar membeli makanan untuk Hayati dan anakku. Selanjutnya kukasih sisanya untuk Tarman, setidaknya bisa membuatnya adem.” Aku bergumam perlahan. Mataku membayangkan aneka penganan yang diam-diam kurindukan. Tiba-tiba seorang remaja naik motor yang knalpotnya dimodifikasi hingga menghasilan suara berisik hampir menabrakku.

“Hati-hati, Pak! Mau mati?”

Mati? Tidak mau aku mati sebelum aku memberi makan Hayati dengan makanan enak.

“Salimun, apa kamu mau mati sesaat setelah mencuri?” sebuah suara bertanya dekat telinga. Suaranya jelas terdengar, serupa narator sandiwara radio. Tak tampak orangnya namun begitu hidup di ruang dengar penyimak.

“Aku tidak mencuri. Ini pertolongan Tuhan,” jawabku.

“Salimun, Salimun! Tetaplah mencuri namanya bila mengambil tanpa izin,” suara gaib itu bernada semakin tinggi.

“Ini milik Tuhan. Dan ada di rumah Tuhan,” jawabku penuh pembenaran. “Aku hamba Tuhan yang membutuhkan pertolongan.” Sejujurnya aku mulai gelisah.

“Apa kamu sudah bicara kepada Tuhan, Salimun?”

Aku diam. Aku belum izin kepada Tuhan. Belum sempat kujelaskan, kulihat keributan dekat penjual buah di depan pasar. Beberapa orang mengeroyok pemuda bertato naga di lengan kiri.

“Ada apa, Bu?” tanyaku kepada seorang wanita yang membawa tas belanjaan penuh sayur dan dua butir kelapa utuh.

“Ada copet tertangkap. Biasa, Pak! Kalau penjahat tertangkap ada dua nasib menunggunya,” wanita itu memasukkan sekantung ayam potong ke dalam tas yang hampir muntah kepenuhan.

“Maksudnya?”

“Kalau tidak di penjara, ya mati dibakar massa. Untung ada polisi patroli. Kalau tidak, sudah mati dibakar itu copet!”

Sekonyong-konyong keringatku menderas. Tanganku gemetar.

“Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya wanita itu.

“Tidak apa-apa. Hanya masuk angin,” aku gegas pergi.

Pembalasan Tuhan sudah digelar. Aku diserang ketakutan paling menakutkan. Cicak jatuh di kepala, hampir ditabrak motor, kemudian ada suara protes di kepala. Tanda Tuhan terhampar. Tidak masalah aku tidak punya uang asal aku tidak mati terpanggang massa.

Aku kembali ke masjid mengembalikan uang kotak amal. Sepanjang perjalananku yang sedikit tergesa, aku menderas ampun.

Aku berada di halaman masjid. Debar perasaanku berdentum lebih keras daripada saat aku mencuri. Sekarang kurasakan semua mata tertuju kepadaku, melemparkan curiga, dan siap menerkam.

Aku berdiri di dekat pintu, kotak amal masih berada pada posisi sebelumnya. Kubuka dan kuletakkan semua uang ke dalam kotak seperti semula.

“Mohon ampun, ya Tuhan!”

Saat kututup kotak amal, tiba-tiba lelaki berbadan tinggi menyapaku mengagetkan.

“Kamu mau apa? Mencuri? Kamu pasti yang menguras kotak amal!”

Suaranya bagai halilintar menghentakkan telinga. Badannya begitu besar dan tampak begitu seram. Dia berjalan begitu pongah seperti harimau lapar mendekatiku yang kuyup oleh rasa takut. n


Lampung Post, Minggu, 12 April 2015

Sunday, April 5, 2015

Anak-anak Serigala

Cerpen Adam Yudhistira


DESAS-DESUS itu merebak di Desa Yeleniskoye, Desina Kruizseva melahirkan anak-anak serigala. Ia merayap seperti asap dan terisap masyarakat menjadi mitos yang bernuansa gelap. Kata mereka, sudah tak terhitung anak-anak serigala yang lahir dari rahim Desina. Bahkan desas-desus itu menjalar—sejak kerap terdengar lolong serigala pada malam-malam purnama yang memecah keheningan Desa Yeleniskoye. Masyarakat percaya, lolongan itu adalah anak-anak Desina yang beralih rupa menjadi serigala.

Konon, Desina Kruizseva dikutuk karena menjalin cinta dengan Major Rudolf Sauerbrei—seorang perwira muda dari serdadu Nazi. Masyarakat Desa Yeleniskoye mengusir Desina saat diketahui gadis itu mengandung benih Major Rudolf Sauerbrei. Dan kutukan itu menjadi semacam teror bagiku berpuluh tahun setelahnya—sebab entah benar atau tidak—kurasa aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka.

Aku mendapatkan pengalaman ini dari Vasilly. Ia lelaki setengah baya bertubuh gemuk, warga Yeleniskoye. Aku mengenalnya saat bekerja di Oblast, Chelyabinsk-Soviet, di penghujung tahun ‘80-an. Vasilly salah satu pekerja di proyek yang sama-sama kami tangani. Sampai kini aku masih sulit percaya jika mengingat cerita yang dituturkannya.

“Dia (maksudnya Desina) sedang berada di Kota Stalingrad,” ucap Vasilly memulai kisahnya.

Aku dan Vasilly berbincang di sebuah bar kumuh di sudut Desa Yeleniskoye. Langit gelap, hujan turun sangat deras, suasana bar begitu sepi. Hanya ada aku, Vasilly, dan pria tua pemilik Bar. Cuaca buruk itu membuat kami terjebak dan itulah titik mula kisah musykil ini kudengar.

“Lalu bagaimana dia bisa mempunyai anak dari Major Rudolf?” tanyaku sembari menenggak seteguk vodka untuk menghangatkan darahku yang membeku.

“Dia sukarelawan perang di sana.”

Aku memandang keheranan, “Setahuku saat perang di tepi Sungai Volga itu, serdadu Nazi dan Tentara Merah sama-sama sulit, rasanya tak mungkin dua kubu ini bisa bertemu dalam keadaan damai, apalagi untuk urusan cinta. Sungguh tak masuk akal, Kawan.”

“Dia sukarelawan perang, dia tidak memihak siapa pun.” Vasilly  memantik korek dan menyalakan sebatang rokok. “Desina mengaku jika janin yang dikandungnya adalah anak Major Rudolf, tapi bukan berarti mereka miliki ikatan cinta.”

“Kau pernah bertemu Desina?”

“Ehmm... tidak, aku dapat cerita ini dari kakekku.”

“Ah...” keluhku kecewa. “Lalu bagaimana cerita selanjutnya?”

“Desina Kruizseva terjebak di reruntuhan gedung.” Vasilly menggaruk hidungnya yang besar sebentar. “Dia memberi perawatan medis untuk Tentara Merah yang terluka di garis belakang, saat itulah dia diculik dan dibawa ke kubu Jerman.”

Kureguk lagi setegukan vodka di dalam gelas, lantas kuajukan analisisku, “Aneh sekali, setahuku juga, petugas medis adalah para pria, jarang ada wanita yang bertugas langsung di titik pertempuran seperti dalam ceritamu itu.”

“Jadi kau tidak percaya padaku, Bramantyo?” ucapnya sambil menunjukan raut wajah meradang.

Aku mahfum, tipikal lelaki Rusia memang mudah sekali naik darah. Aku tertawa, “Aku percaya, aku percaya. Sudahlah, lanjutkan saja ceritamu, aku masih ingin mendengarnya.”

“Oke,” katanya sambil mengisap rokoknya terlebih dulu. “Percayakah kau jika kukatakan, anak-anak yang lahir dari rahim Desina menjelma serigala?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan itu. Vasilly benar-benar pandai memancing rasa penasaranku. Aku mengangguk dan kucondongkan tubuhku sedikit ke arahnya. Ceritanya mulai menarik, sebab tak hanya di Indonesia saja ada hal-hal berbau klenik begini, ternyata di negara sebesar dan semaju Rusia ada juga cerita seperti itu. Hitung-hitung mengobati rasa rinduku pada Tanah Air, lantas kuteruskan pertanyaan-pertanyaanku.

“Menurut kakekku, Desina tidak sendirian menerima kutukan itu.”

“Maksudmu?”

Belum sempat Vassily menjawab pertanyaanku, tiba-tiba pria tua yang duduk di sudut bar menunjuk ke muka Vassily sambil berkata, “Eta lozh!”

“Zatknyis! Ya cibya nakazhu!” bentak Vasilly. Pria tua itu sontak terdiam, kemudian menunduk ketakutan. Aku tak mengerti apa yang mereka katakan, sepertinya Vasilly mengancam pria itu hingga dia ketakutan. Pria tua itu kembali mengacuhkan kami, tapi sesekali masih kudengar gumaman dari mulutnya.

“Iya, maksudku banyak perempuan lain yang menerima kutukan sama seperti dirinya. Diusir dan melahirkan anak-anak serigala.”

“Kenapa bisa seperti itu?”

“Karena benih yang ditanamkan serdadu-serdadu Nazi itu adalah benih-benih iblis. Dan perempuan yang menerima benih itu—apa pun alasannya—pasti akan menerima kutukan yang serupa.”

Aku mengangkat tangan dan mengisyaratkan pada pria tua penjaga bar untuk menambahkan vodka ke dalam gelasku. Pria tua itu mengangguk, dengan cekatan ia menuang cairan beraroma menyengat itu ke dalam gelas. Ia mendengus saat melirik Vasilly, melihat itu, aku tersenyum geli. Vasilly sendiri tak memedulikan keberadaan pria tua itu.

“Maksudku begini, bagaimana bisa serdadu Nazi menanamkan benihnya pada perempuan Soviet pada masa genting seperti itu?”

“Kau kritis sekali, tapi kau terlalu lugu untuk menguak fakta-fakta sejarah yang tidak sempat tertulis.” Vasilly menyeringai, di sela-sela giginya yang kuning, terselip beberapa pecahan daun tembakau.

“Aku tidak mengerti,” ucapku jujur. Aku sungguh tertarik mendengar kisah itu, tapi Vasilly menjadikan rasa ketertarikanku menjadi sebuah “siksaan” yang mengasyikkan. Rasa penasaranku ditarik-ulur olehnya. Itu membuatku mulai jengkel dan merasa sedang dipermainkan.

“Dulu...” katanya melanjutkan ceritanya lagi, “banyak perempuan Soviet yang menjadi budak seks serdadu Nazi.”

Aku mengangguk-angguk. Sejarah yang dicelotehkan lelaki itu tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Aku mulai merasa lelaki bertubuh tambun yang menguarkan aroma bawang ini cuma terobsesi dengan kisah-kisah hantu picisan.
“Seperti lazimnya negeri-negeri yang disinggahi bala tentara iblis, negeri kami juga pernah merasakan masa-masa suram itu,” lanjutnya sambil menghembuskan gumpalan asap rokok tepat ke wajahku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang perih terkena hembusan asap rokoknya. Kutegakkan posisi dudukku dan menjauh. Bukan cuma itu, sebenarnya cerita lelaki ini mulai menjurus pada kegilaan terstruktur dalam lisannya sendiri. Aku pesimistis ceritanya mengandung kebenaran.
Dia—kurasa—lelaki yang memiliki ketidaknormalan dan terobsesi kompulsif pada teori-teori konspirasi atau kisah-kisah menyeramkan tentang Nazi. Aku menduga pemikiran Vasilly sudah terjangkiti semacam paham kebencian pada mitos ras yang sempat didengung-dengungkan Jerman pada periode Perang Dunia II. Kebencian itu termanifestasikan dalam bualan kosongnya tentang anak-anak serigala—yang di telingaku tak ubahnya semacam caci-maki paling konyol yang pernah kudengar.

Aku mereguk vodka di dalam gelas yang isinya tinggal setengah. “Mengapa kau mengira jika serdadu-serdadu itu bala tentara Iblis?” tanyaku mengerutkan alis.

Vasilly terkekeh memamerkan deretan gigi-gigi keroposnya, “Kenyataannya memang seperti itu. Kau tahu? Hanya serdadu-serdadu iblis yang bisa melakukan kejahatan dan berambisi menguasai umat manusia dalam satu kekuasaan.”

“Aku tidak mengerti...”

Lelaki itu mendekat dan berbisik, “Dari kakekku pula aku tahu jika Hitler itu jelmaan Lucifer,” katanya mengangguk meyakinkanku.

Aku mendengus, “Kurasa ceritamu sudah melantur jauh dari kisah Desina Kruizseva. Sebaiknya kita kembali ke cerita tentang perempuan itu saja,” ucapku mengingatkannya.

Vasilly mengangkat dua tangannya seperti lagak orang yang menyerah, “Oke, oke...” katanya mengalah.

“Nah lanjutkan, mulailah dengan kisah tentang Major Rudolf, mengapa ia memilih Desina Kruizseva?” tanyaku sembari meraih gelas vodkaku dan mereguk isinya hingga tandas.

“Ah, itu memang sudah menjadi agenda terselubung, Bram.”

“Oh ya?”

“Iya! Aku bisa menjamin itu!” katanya menepuk meja. Matanya menyorot yakin. “Nazi mencetak serdadu-serdadunya dengan menanamkan benih iblis dalam kantong-kantong sperma mereka, untuk nanti dibuahkan pada perempuan yang negerinya menjadi target penaklukan. Desina adalah perempuan kuat dan pemberani, ia adalah perempuan yang tepat untuk program itu.”

“Wow!” seruku terkagum-kagum. “Maksudmu itu semua adalah konspirasi?”

“Tepat sekali!” jawabnya tertawa. “Kelak benih-benih itu akan lahir di negeri-negeri taklukan dan menjadi bala tentara iblis yang dikoordinasikan untuk tujuan Nazi di masa datang.”

“Tujuan apa?”

“Tujuan menguasai seluruh dunia.” Vassily tersenyum puas melihat ketakberdayaanku.
“Luar biasa,” sahutku menggeleng kagum. Sebenarnya aku kagum pada kepiawaiannya mendeskripsikan cerita sampah yang sarat omong kosong itu. Aku ingin terbahak, tapi takut ia tersinggung.

Hening sejenak, Vasilly tampak melamun. “Aku tahu kau tidak percaya pada ceritaku ini, Bramantyo,” ucapnya mengagetkanku.

“Oh tentu saja aku percaya, Kawan,” tangkisku cepat-cepat. “Tadi kau bilang mendapat cerita ini dari kakekmu, bukan?”

Vasilly mengangguk, kali ini wajahnya berubah datar. Bahkan sangat datar. Suhu di dalam ruangan bar yang tak seberapa luas itu mendadak menjadi lebih dingin. Aku menatap matanya, hatiku berdenyar.

“Lalu dari mana kakekmu bisa mendapatkan cerita menakutkan itu? Eng ... maksudku bagaimana cerita itu bisa sampai pada kakekmu dan sampai pula padamu?”

Vasilly menyeringai. Dia menatap mataku lekat-lekat dan bola matanya yang biru keruh itu menyala. Dengan nada suara penuh penekanan dan terdengar mistis, dia berkata, “Kakekku adalah Major Rudolf Sauerbrei dan nenekku adalah Desina Kruizseva.”

Vasilly menggeram, suaranya—entah kenapa—kudengar sangat mirip geram serigala dan aku terdiam dalam cekaman rasa takut yang sulit kuilustrasikan. n

Catatan:
Eta lozh! : Itu bohong!
Zatknyis! Ya cibya nakazhu! : Diamlah! Kupukul kau nanti!


Lampung Post
, Minggu, 5 April 2015

Sunday, March 29, 2015

Mata Air Air Mata

Cerpen Ganda Pekasih


SUDAH beberapa minggu perempuan bermata sedih itu tinggal di rumah pengembaraannya, di sebuah kota yang kabut hitam lebih sering muncul menjelang senja lalu disusul hujan jatuh, apa yang disedihkan perempuan itu adalah kesedihan tentang seorang lelaki yang wajahnya  berlumuran darah karena membutakan matanya sendiri dengan belati, yang lalu pergi meninggalkannya.

Kota yang lebih sejuk dan sore terasa lebih cepat tiba pada senja menambah kuat ingatannya selalu pada lelaki itu, dia terus pergi mencarinya dari satu kota ke kota lainnya. Sembilan tahun sudah dia melewati gugus waktu dalam kesendirian, dan dia masih yakin suatu hari pasti akan berjumpa lagi dengan lelaki itu, yang teramat luka dan pasti sangat membenci dirinya.

Saat dia membeli tanaman-tanaman hutan yang menjalar dan anggrek kesukaannya di sebuah tepi jalan, sore yang sedang dihujani merah tembaga matahari sebelum disapu kabut dia melihat seorang lelaki bertongkat berjalan seorang diri, lelaki itu buta, dan dia sungguh merasa terkejut melihat caranya berjalan yang sangat ia kenal, rambut sebahu ikal dan panjang ciri khasnya, warna pakaiannya masih seperti warna-warnanya yang disukainya dulu.
Limbo! Benarkah itu dia?

Ah, di kota ini akhirnya dia temukan lelaki itu, lelaki yang wajahnya pernah berlumuran darah kala dia membutakan matanya sendiri. Sepasang mata tampan yang tak melihat itu tentu saja tak bisa mengungkapkan lagi cinta dengan sinarnya,  menumpahkan semua harapan masa depannya seperti dulu yang cuma untuknya.

Dia tampak berjalan pelan dan tertatih-tatih dengan tongkatnya itu menyusuri sore ke arah matahari terbenam, dulu dia seorang lelaki yang gagah, kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri saat mereka telah bertunangan dan waktu pernikahan sudah ditetapkan.
Mau ke mana dia seiring senja jatuh?

Limbo...

Suara tongkatnya terdengar memukul kerikil-kerikil tepi jalan. Dia mencoba mengikutinya beberapa puluh meter, merasa hampa tak berarti, air matanya deras berjatuhan, dia tak sanggup untuk menyapa dan akhirnya berbalik arah, pulang tergesa, menjatuhkan dirinya di ranjang yang dingin dan sepi.

Kata orang-orang di tikungan ujung perumahan di kaki bukit sejuk itu, biasanya dia ke kedai kopi langganannya untuk merokok, bertemu teman-temannya dan ngobrol dengan siapa saja yang mampir ke kedai kopi itu, lalu  dia melanjutkan pergi ke tepi danau, bekerja menjaga beberapa petak ladang bunga yang mekar di sana ketika malam dan dipanen pemiliknya pagi hari untuk dilelang ke kota.

Dia pernah cerita kepada orang-orang, menikam kedua matanya sendiri karena melihat perselingkuhan calon istrinya, cintanya, di malam acara penglepasan lajang perempuan itu, perempuan yang tak bisa menolak bujuk rayu bekas pacar di masa lalu, cinta yang pernah membutakan jiwa mereka. Beberapa temannya membawa botol-botol minuman, berpesta agak liar, jauh di luar keinginannya dan nyaris mereka semua minum sampai mabuk hingga terjadilah perselingkuhan itu. Limbo, tunangannya yang sengaja tak diundang datang, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri di kamar pesta itu, dan mereka tak memiliki alasan khilaf untuk membantah.

Limbo, lelaki yang sangat dirindukannya itu, bertahun-tahun sudah dia mencarinya, lelaki yang dengan mata kepalanya sendiri melihat tunangannya bergelinjang lupa diri dan cinta yang telah disandarkan hanya untuk sang calon pengantin, lalu dia membutakan matanya karena tak sanggup melihat petaka itu, berdarah-darah di malam pesta, menjadi pemandangan yang mengerikan. Pemandangan yang tak pernah pergi dari pikirannya yang membuat penyesalan tak berkesudahan.

Setiap sore dan senja turun hingga malam dia berdiri menunggu lelaki itu kembali lewat di depan taman penjual bunga-bunga hutan dan anggrek, tapi saat lelaki itu muncul mengayun tongkatnya, dia yang sudah dekat di belakang mengikuti hingga puluhan meter tak berani menegur sedikit pun, apalagi mengeluarkan suaranya yang terisak, bahkan dia takut lelaki itu akan mengetahui kehadirannya.

Hingga suatu ketika lelaki itu menghentikan langkahnya, mematung, perlahan dia memalingkan wajah ke belakang, ke kiri dan ke kanan, dia mungkin sudah tahu sejak pertama perempuan itu mengikutinya beberapa hari yang lalu, aroma tubuh perempuan itu pasti terendus hidungnya, bercampur bau anggrek-anggrek hutan kegemarannya sejak dulu, Lelaki itu tampak acuh saja kemudian melanjutkan perjalanannya lagi, dia pasti tahu perempuan itu terdiam di tempatnya, menahan sedu sedan tangis kesedihan, lalu berlari pulang meninggalkannya.

Sepetak ladang bunga itu mulai mekar di bawah bulan dan langit dini hari, tak ada angin berhembus kecuali hening, hanya serangga serangga kecil mengisi kesunyian menikmati aroma bunga-bunga.

Ketika terdengar suara kokok ayam dia pun pulang, kicau-kicau burung beraneka suara mengiringi langkahnya, rumahnya hampir lima kilometer dari petak-petak ladang bunga itu, di tepi lembah yang berbatu-batu.

Melewati kembali tikungan yang agak sedikit ramai dengan deretan penjual makanan, penjual bunga-bunga segar tempat dia biasa singgah sekejap minum kopi, sarapan bubur, dan merokok sebelum istirahat memejamkan matanya di rumah, mata yang tak melihat apa pun sejak peristiwa berdarah itu, kecuali kegelapan cintanya yang dikhianati.
Memperhatikan dan mengikuti laki-laki itu beberapa kali lalu akhirnya terisak pulang kini perempuan itu sampai di ladang bunga. Mereka sama-sama tiba di sana, duduk berjarak beberapa meter.

Lelaki itu menyadari sudah begitu sering dia terus diikuti, bau tubuh perempuan itu yang membuat dirinya terpelanting ke masa lalu.  Dia pernah yakin tak akan pernah berjumpa lagi dengan gadis yang pernah bertunangan dengannya itu, calon istrinya yang harus ditinggalkannya. Dia yakin itu Mayan, yang membuat dia lebih baik membutakan matanya sendiri dan pergi. Apa yang dicarinya datang ke tempat sunyi ini? Bukankah semua sudah berlalu?

Wanita-wanita yang kini dikenal lelaki itu merasa dia adalah pria yang tampan pada mulanya jika dia masih mempunyai sepasang bola mata itu, sepasang mata adalah cahaya kehidupan. Dengan mata buta ketampanan tak bisa berwujud, dia jadi hilang bentuk, wanita-wanita itu mereka-reka seperti apa ketampanannya, tapi mereka yakin dia awalnya adalah lelaki yang tampan.

Setelah mereka hanya membisu, Mayan akhirnya tak bisa lebih lama lagi membeku.

“Aku ingin buta seperti juga kau Limbo, aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” Mayan terisak.

Angin malam berdesir, bunga-bunga mulai bermekaran dini hari berlomba menjumpai pagi.

“Apa yang kau cari lagi,  Mayan.”

Lelaki itu bangkit, berjalan ke tengah ladang bunga dan memetik beberapa rose, memberikannya kepada Mayan.

“Ini ladang pencaharian bibiku, aku hanya menjaganya sebelum pagi dipetik untuk dibawa ke pelelangan.”

“Terima kasih.” Mayan menghirup serumpun rose mekar dalam-dalam. “Butakanlah mataku dengan tangkai tangkai mawar ini Limbo, biar kita menjadi sepasang kekasih buta.”

“Aku lama mencarimu. Aku menderita sejak melihat darah itu. Aku sungguh menyesali semua itu.”

“Tak boleh Mayan, mata tak berguna tanpa cahaya.”

“Aku merindukanmu hidup bersama. Aku tahu khianat mana pun tak ada yang bisa menandingi kecewamu, aku akan mengobati lukamu, mengabdi padamu.”

“Sudah terlambat Mayan.”

“Aku ingin buta bersamamu Limbo, aku sudah lama mencarimu, Limbo.”

Mayan memeluk Limbo sekuat tangannya.

Bunga-bunga bermekaran.

Pagi hari mereka pulang, diiringi mentari, Mayan ikut ke rumah Limbo. Mereka disambut seorang perempuan dengan sepotong tongkat seperli Limbo dan matanya buta.
Mayan tercekat!

“Dia istriku, namanya Layonsari, kami sudah kenal lama di daerah ini, dia membutakan matanya sendiri karena melihat perselingkuhan suaminya, lalu dia datang menemuiku dan kami saling membutuhkan, mencintai dalam kebutaan, seiring waktu kami merasa kami tidak buta, cinta kami  bercahaya.”

Mayan dilibas cemburu. 

Perempuan buta itu mendekati Mayan, merabai wajahnya, menelusuri bahu dan rambut Mayan.

“Kau perempuan yang cantik,” dengusnya tak suka.

Napas Mayan memburu.

“Kau pasti perempuan yang bernama Mayan itu? Limbo pernah menceritakanmu. Hh, kau ternyata!”

Mayan terpatung, Layonsari mundur beberapa langkah.

“Aku tak mau berjumpa lagi dengan Koko!” Tiba-tiba dia histeris. “Dia jahat, dia tak boleh mencariku ke sini hanya karena suatu saat nanti dia menyesali perbuatan selingkuhnya, seperti perempuan ini, yang membuat kekasihnya membutakan matanya sendiri lalu dia datang mencari kekasihnya mengatakan dia sangat bersalah! Tidak! Pergi kau! Pergi!”

Mayan bergidik ngeri mendengar ucapan perempuan itu, perempuan yang  pasti sangat membenci lelaki yang membuatnya membutakan matanya sendiri, seperti juga bencinya Limbo dulu padanya. Lalu perempuan itu tampak menggapai-gapai ke arah Limbo, begitu dapat tubuh Limbo langsung dia peluk dengan erat.

Mayan bergetar melihat pasangan buta itu, dilibas cemburu.

“Butakanlah mataku, aku sangat cemburu! Itulah balasan yang pantas untukku! Aku tak akan menyesal!” Mayan mendekatkan wajahnya ke arah Layonsari sambil dia mengulurkan tangkai-tangkai rose yang panjang berduri.

Limbo menggapai-gapai mendekati Mayan.

“Pergilah Mayan, tolong pergi dari sini, jangan ganggu kami.”

Mayan makin dilibas cemburu, Limbo mengusirnya, yang lama dia cari bertahun-tahun. Mayan merasa hancur berkeping! Merasa sangat pantas jika dia membutakan mata sedihnya sendiri segera, itu setimpal dengan kemarahan Limbo dulu, tak perlu lewat tangan mereka, tapi dengan kedua tangannya sendiri. Tapi jika dia membutakan matanya sendiri bukankah Limbo sudah tak bisa melihat darah-darah itu, tak bisa. Jadi percuma saja karena Limbo tak akan melihat pengorbanannya.

Limbo dan istrinya melewati jalan ke arah matahari jatuh, bergandengan tangan, istrinya itu pasti tak membiarkan lagi suaminya pergi sendiri, juga tak ingin kekasihnya dari masa lalu datang lagi mendekat membawa penyesalan, ujung tongkatnya ia sambarkan ke sana kemari.
Mayan terisak, sudah beberapa sore mereka memamerkan cinta dan kemesraan, tak memberinya lagi kesempatan sedetik pun didekati. Mayan melemparkan tangkai-tangkai rose berduri dan bergegas lari. Limbo beruntung menemukan lagi sosok yang dicintanya, sedang dia akan mengembarai lorong, makam sunyi, dengan sepasang mata sedihnya yang tanpa cahaya kecuali air mata. n


Lampung Post, Minggu, 29 Maret 2015

Sunday, March 22, 2015

Ayam Jantan Taji

Cerpen Fitri Yani


TAJI senang mendengar ayam-ayamnya berkokok, setiap suara yang dikeluarkan ayam-ayam itu memiliki makna tersendiri bagi Taji. Tujuh ekor ayam jantan itu serempak mengeluarkan suara nyaring mirip lengkingan yang memekakkan telinga, dan pada saat yang sama mereka bersuara lembut seperti petikan gitar klasik di kejauhan. Mereka mengebas-ngebaskan sayap sebanyak tujuh kali lalu bersahut-sahutan setiap pukul empat pagi. Dan yang membuat bocah sepuluh tahun itu lebih senang, ayam-ayam jantan itu senantiasa berkokok saat fajar berpijar, seakan menyongsong harapan yang dibukakan oleh langit.

Lalu siang hari ayam-ayam itu akan kembali bersahut-sahutan seakan menandai wilayah kekuasaan dan pamer kepada para betina. Kokok terakhir akan terdengar menjelang matahari terbenam sebelum akhirnya mereka digiring dan berakhir di dalam kandang sepanjang malam.

Suara-suara itulah yang selalu didengar Taji sejak pertama kali ia bisa megingat dan mendengar, selain suara alu ibunya yang beradu dengan lesung di halaman belakang rumah. Juga suara khusyuk ayahnya melantunkan ayat-ayat suci Alquran di surau yang letaknya tak jauh dari rumah panggung mereka, saban magrib hingga isya serta menjelang subuh. Namun, saat angin awal februari 1989 mengetuk-ngetuk daun jendela, dua kali subuh ayam-ayam jantan itu tak berkokok dan bergeming di dalam kandang, meski fajar telah merekahkan diri.

Barangkali ada puluhan musang yang mengintai mereka dari balik kandang dan membuat ayam-ayam itu ketakutan. Musang-musang itu barangkali telah menahan air liur membayangkan daging ayam-ayam jantan yang empuk, pikir Taji. Karena itulah, sebelum azan subuh berkumandang ia bangun dan bergegas ke halaman belakang rumah, ke kandang ayam-ayamnya. Ia ingin memastikan mengapa ayam-ayamnya dari kemarin tidak berkokok seperti biasa. Taji telah menyiapkan batu-batu kerikil dan akan melempar musang-musang itu seperti melempar batu jamrah.

Setelah berada di halaman belakang rumah, di dekat kandang ayam-ayam jantan, tak ada musang yang mengganggu, tak ada apa pun selain dua rumpun pohon pisang di dalam gelap. Taji membuka celah bambu di samping pintu kandang lalu menajamkan pandangannya ke dalam, ayam-ayamnya masih berada di sana seperti biasa, hinggap pada bambu yang disilang diagonal di tengah kandang. Taji menyalakan senternya ke arah mata ayam-ayam jantan itu, tetapi mereka tetap bergeming saat melihat cahaya.

Lama Taji termenung di samping pintu kandang sambil mendekapkan tangannya ke dada. Saat itu Taji belum memahami bahwa sesungguhnya ada rahasia kosmik yang tengah berlangsung di situ. Ayam-ayam jantan itu seakan tak kuasa menahan tanda-tanda duka yang susul-menyusul menyusupi indera mereka. Dan Taji tak menyadari bahwa bulu-bulu ayam-ayam itu rontok masing-masing tiga helai. Ia tak sampai pada pemahaman tentang gelisahnya ayam-ayam itu, yang ia tahu hanyalah seharusnya ayam-ayam itu berkokok sahut-menyahut subuh itu, membangunkan Kampung Talangsari.

Lalu cahaya kemerahan mulai menampakkan diri di balik bukit-bukit yang senantiasa berbaris. Atap-atap rumah bermunculan, asap-asap dapur mengepul, anak-anak menimba air di sumur.

***

Jika saja Taji tahu, pada malam sebelumnya, saat ia terlelap dan dibuai mimpi, seorang lelaki berseragam dari kota telah dipanah oleh orang-orang di kampungnya lalu dikuburkan di balik rumpun bambu di pinggir rawa. Lelaki berseragam bersama beberapa anak buahnya itu telah membuat orang-orang kampung naik pitam dan melepaskan anak panah, lantaran berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senapan ke arah surau, tempat ayahnya tengah mengaji bersama beberapa orang yang dituakan oleh kampung.

“Jangan pernah usik kampung kami!” teriak seorang lelaki yang berselempang sarung.
Dan andai Taji tahu bahwa ayam-ayam jantan itu mendengar teriakan ratusan peluru yang siap menyiram kampungnya dengan kobaran api dan pekik tangis yang akan membubung hingga angkasa. Peluru-peluru itu merintih dalam kegelapan, “Kami akan menembus jantung manusia-manusia tak berdosa yang tengah khusuk berdoa.” 

“Kami akan terlepas sia-sia dari tangan-tangan yang menganggap diri mereka berkuasa dan membunuh entah untuk siapa.”

“Kami akan menanam dendam beberapa generasi yang akan dikuburkan.”

Jika saja Taji memahami duka yang disimpan ayam-ayam itu, ia akan tahu bahwa orang-orang di kampungnya akan dilenyapkan dalam lautan peluru dan api, dan ayahnya, sang pembuka pintu kandang para ayam jantan, akan dipancung dan dibiarkan membusuk di antara ratusan mayat lainnya karena dianggap membangkang pada negara. Juga ibunya, yang senantiasa menebarkan biji-biji jagung bagi ayam-ayam peliharaan mereka, akan dipaksa melepas kerudung lalu disiksa hingga mati.

Semua tanda yang akan tiba itu tak bisa didengar oleh Taji dan oleh siapa pun di kampung itu. Ayam-ayam itu tetap merinok seperti mandangan di dalam kandang. Lalu pagi makin terang. Ladang-ladang jagung dan singkong melambai-lambai dimainkan tangan-tangan angin.

***

Kampung yang dingin itu kehilangan suara. Saat itu usai salat subuh, peluru-peluru menyiram kampung. Pekik tangis pecah ke angkasa. Ribuan orang berseragam yang dirasuki setan dendam mengepung kampung dengan senapan dari semua penjuru. Ayam-ayam Taji mengebas-ngebaskan sayap, tetapi tetap tak berkokok, mereka melihat cahaya membubung di rumah-rumah penduduk.

Jika saja subuh itu Taji tak melihat salah satu ayam jantannya tiba-tiba terkapar, ia tak akan masuk ke kandang dan memeluk ayam kesayangannya itu dengan penuh kasih. Jika saja Taji tidak tertidur dan keluar dari kandang, ia akan menjadi salah satu anak yang disuruh menunjukkan pondok-pondok berisi ratusan jemaah dan dipaksa membakar pondok-pondok itu. Ia akan menyaksikan orang-orang berseragam hijau dan cokelat membantai para remaja dan menarik kerudung para wanita.

“Ini istri-istri mujahidin, perempuan dan anak-anak ini harus dibunuh, karena akan tumbuh lagi nantinya!”

Ia akan menangisi ayahnya, Warsidi, yang dianggap pengobar semangat penduduk kampung untuk mendirikan Negara Islam dan menentang Pancasila, saat ditebas lehernya dengan parang di antara ratusan mayat lainnya. Ia akan meratapi ibunya yang dilepas kerudungnya dan dipukul hingga lebam dan dihujani pertanyaan, “Ikut pengajian apa? Apa yang diajarkan? Gurunya siapa?”

Ribuan orang berseragam menyerbu kampung yang dikelilingi kebun singkong dan jagung yang sangat tenang itu. Mereka membakar dendam sambil menghentak-hentakkan kaki dan mengacung-acungkan senapan, seolah mereka adalah pahlawan abdi negara. Tentu saja ratusan penduduk kampung yang hanya menggunakan golok dan tombak itu mati sia-sia dan tertembus ribuan peluru.

Usai membantai Warsidi dan ratusan penduduk, kau tahu, orang-orang berseragam itu menggiring dua puluh wanita paruh baya ke kota seperti menggiring sapi-sapi tua yang telah lelah dan ringkih.

“Bunuh saja wanita-wanita ini!”

Namun, ketua barisan orang-orang berseragam yang matanya merah mirip mata iblis itu berkata, “Mereka akan bersaksi untuk hal-hal yang akan segera mereka lupakan.”

Suara-suara peluru dan jerit tangis yang sesaat itu hilang bersamaan dengan terbangunnya Taji di dalam kandang, yang mendekap ayam kesayangannya yang mendadak mati. Ladang jagung dan singkong penuh darah, rumput-rumput di jalan setapak layu karena terinjak-injak. Asap-asap murung mulai hilang di antara reruntuhan rumah panggung yang dibakar.

Saat matahari mulai muncul dari balik bukit-bukit yang berbaris muram, segaris cahaya menghampiri mata Taji dari celah dinding kandang. Keenam ayam-ayamnya terbaring di sampingnya. Apakah ayam-ayam ini tak bisa lagi melihat cahaya, pikirnya.
Taji keluar kandang memapah ayam-ayam jantannya.

Tanjungkarang, 13 Desember 2014


Lampung Post, Minggu, 22 Maret 2015

Sunday, March 15, 2015

Lemawong Palakia

Cerpen Wiriawan Rio


DI Pekon Tanjung ini tak ada yang tak kenal Tuyuk Darsan. Lelaki itu tinggi besar dengan sorot mata tajam dan kumis hitam lebat di atas bibirnya yang tebal. Ia jarang mengumbar senyum kecuali pada istrinya, Hj. Siti Aminah.

Darsan orang pertama yang mengubah belantara Way Palakia menjadi perkampungan. Ia berhasil menundukkan Serimol dan Siluman Lemawong yang sejak zaman Tumi menguasai sebagian besar kawasan gaib di daerah itu. Ia tak kecut menghadapi lawan-lawan yang mencoba menggeser patok tanahnya. Tak sedikit orang yang jauh-jauh datang ke rumahnya untuk meminta jampi dan arahan-arahan agar mendapat ilmu kanuragan atau sekadar mengambil hati sang tuan tanah yang memang dermawan.

Tuyuk Darsan tinggal di sebuah rumah panggung besar yang beranak tanggakan kayu kemit berjumlah lima tingkat. Jumlah tingkatan anak tangga ini katanya terilhami dari jumlah salat wajib yang harus dikerjakan setiap hari. Setelah kita menaiki tangga terakhir, kita segera mendapati lepau yang luas dengan kursi kayu panjang yang tidak dilapisi cat atau pernis. Kemudian di dekat meja tamu ada sebuah rak tempat menaruh kopi bubuk, gula aren, termos air panas, sendok dan juga beberapa gelas bersih.

Pada suatu ketika, Zainudin, perantau dari Blitar, datang ke rumah Tuyuk Darsan. Pria itu meminta supaya ia dapat dijadikan anak buah untuk mengurusi kebun lada. Pria itu menunjukkan selembar kulit macan beserta taring babi dan juga cangkul blitar sebagai tanda bahwa ia mampu mengurusi kebun lada yang luasnya berhektare-hektare. Tuyuk Darsan yang tidak suka dengan perlakuan Zainudin karena merasa ditantang ilmu kanuragannya, langsung naik pitam.

“Kik siwok yaddo siwok
Mak ngeba jadi biyas
Teduhmu nyak ji rinok
Kusani niku tiwas.”

Itulah kalimat yang diucapkan Tuyuk Darsan setelah kemarahannya memuncak. Lantas turunlah Tuyuk Darsan dari rumah panggungnya, segera ia cabut pedang yang ia selipkan di pinggang, lalu melompat ke atas pohon kantil sembari menari-narikan pedang yang sudah tak bersarung itu.

“Inji kehagamu? Teduhmu nyak ji merinok? Ha?”

Beberapa warga yang ikut menyaksikan langsung panik. Mereka ketakutan melihat Tuyuk Darsan yang hanya mengenakan sarung bugis hitam kotak-kotak tengah mengayun-ayunkan pedangnya di atas pohon kantil. Wajahnya seram, matanya merah nanar, dan kumis tebalnya semakin naik. Ia menggeram. Tapi untungnya itu tak berlangsung lama lantaran istrinya berlari keluar dengan tangan kiri memegangi sarung yang hampir melorot, dan tangan kanannya menggenggam rotan pemukul kasur berwarna gading sambil diacung-acungkan ke arah Tuyuk Darsan.

“Radu lagi Bang, radu!” teriak Hj. Siti Aminah sambil menangis.

Mendadak kemarahan Darsan mereda, seperti kemarau yang tiba-tiba diguyur hujan deras. Mungkin Darsan khawatir darah tinggi istrinya bakalan kambuh. Tapi yang terang, ia adalah suami yang sayang istri.

Zainudin? Tak usah ditanya lagi karena tubuhnya seperti teringgiling yang digencet besi. Dia meringkuk ketakutan sampai terkencing-kencing di lepau rumah panggung itu. Hingga akhirnya dia diamankan oleh Datuk Hamrawi, anak sulung Tuyuk Darsan.

Pendeknya, Zainudin diberi maaf oleh Tuyuk Darsan dan ia diberi kepercayaan mengurusi kebun kopi di Pekon Bawang Heni, di kaki Gunung Pesagi. Zainudin kemudian menikah dengan gadis dari Pekon Balak, Mislena namanya. Mereka dikaruniai satu anak. Edison namanya. Edison adalah sosok guru sederhana, berambut klimis belah tengah, dan senang berpergian menunggangi sepeda jengki hijau tua.

***

Takbir menggema. Saat itu pukul 11 malam dan Edison baru pulang dari pawai keliling kampung. Saat tiba di rumah, ia lantas mencari bapaknya. Tapi bapaknya tak ada. Ia bertemu emaknya dan perempuan berjilbab itu berkata bahwa si bapak pergi ke rumah Tuyuk Darsan. Tak lama Edison pun menyusul ke sana dengan mengayuh jengkinya.

Sesampainya Edison di halaman rumah Tuyuk Darsan, segera ia parkirkan si jengki di bawah pohon kantil. Dan saat hendak menaiki jan (anak tangga), saat itu pulalah ia dihadang seekor macan kumbang. Mata macan itu kuning menyala. Taringnya yang basah oleh air liur nampak semakin tajam. Edison takut bukan kepalang. Ia berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh menuju langgar yang jaraknya kurang lebih 600 meter dari rumah Tuyuk Darsan. Sesampainya di sana, ia menceritakannya pada warga yang sedang takbiran.

“Tidak mungkin lemawong di sini,” tanggap seorang warga.

“Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Sumpah!”

“Enggak mungkinlah, Son. TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) itu jauh dari sini. Lagi pula mana ada macan kumbang di sini. Kalau yang loreng banyak. Foto-fotonya ada di stan Dinas Kehutanan tiap pameran ulang tahun Lampung Barat.”

Singkatnya, beberapa warga beserta Edison pergi ke sana dan mengecek kebenaran cerita itu.

Setelah warga sampai di sana, lemawong yang Edison ceritakan tak ada. Yang ada hanya jengki yang sedari tadi ngelamun di bawah pohon kantil.

“Dipa lemawong ni? Kalau kerbau, itu ada di kandang, masih tidur,” ucap seorang warga sambil melihat-lihat sekitar rumah Tuyuk Darsan.

Datuk Hamrawi yang mendengar suara gaduh pun segera keluar rumah.

“Ngapi pai ajo kuti reramikan dija?”

“Tabik, Datuk. Kata Edison dia tadi melihat lemawong di sini.”

“Apa benar itu, Son?”

“Iya, Tuk,” jawab Edison.

“Lemawong hitam?”

Edison mengangguk.

“Jadi begini,” Datuk Hamrawi terbatuk sebentar. “Edison benar. Lemawong itu pengikutnya Tuyuk Darsan. Tapi kalian tidak perlu takut. Lemawong itu tidak akan mengganggu kalian. Tugas lemawong cuma menjaga rumah ini. Sekarang lebih baik kalian pulang, jangan ribut-ribut di sini. Tuyuk Darsan lagi sakit. Mantri Agus dan Pak Zainudin yang sedari tadi menjaganya. Ingat, kalian tidak boleh cerita pada siapa-siapa soal kejadian ini.”

“Iya, Tuk, kami pamit pulang dulu,” jawab mereka sebelum bubar.

Waktu itu pukul 04.30. Suara takbiran berhenti bukan karena suara azan. Tapi karena ada suatu pengumuman.

“Innalillahi’wainnaillaihiraji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah. H. Darsan Bin H. Thabrani pada pukul 03.55 pagi. Jenazah akan dikebumikan sehabis zuhur di tempat pemakaman keluarga, Way Jawoh, RK III. Sekali lagi....”

***

“ITULAH kisah tentang tuyukmu, Nakan,” ucap Pakngah Zainudin sembari memijati pergelangan tanganku.

“Jadi Tuyukku sakti mandraguna?”

Zainudin mengangguk dan berkata, “Terlebih lagi dia sangat dermawan. Hampir semua harta yang kumiliki sekarang adalah pemberiannya.”

“Lantas perihal lemawong itu?”

“Tentu saja. Lemawong tidak sembarangan menampakkan wujudnya. Ada waktunya sendiri.”

“Maksudnya?”

“Ya, saat tuannya terancam atau pada orang yang dianggapnya baik dan pantas untuk menjadi tuannya.”

“Maksud Pakngah?”

“Pada saat anakku, Edison, melihatnya, itu adalah saat lemawong merasa Tuyukmu dalam keadaan terancam. Lemawong dapat mencium aroma maut sang tuannya. Dia sangat tunduk kepada Tuyukmu dan cepat atau lambat dia akan mencari tuannya yang baru, garis keturunan dari Tuyukmu. Bisa saja garis keturunan itu kamu.”

”Aku masih belum mengerti.”

“Sudah 25 tahun sejak kepergian Tuyukmu, lemawong itu belum mendapatkan tuan yang baru.”

“Tapi, apakah lemawong itu pernah bertemu dengan Pakngah?”

“Ya. Tuyukmu menitipkannya padaku. Ini tambor berisi mantra yang ditulis oleh Tuyukmu. Ambillah. Ini milikmu, lemawong itu milikmu. Dua puluh lima tahun yang lalu, aku mengurusi Tuyukmu yang tengah terbaring sakit. Sekarang di malam takbir pula kau datang padaku untuk minta pijat. Aku rasa inilah waktunya.”

Aku diam dan mencoba mencerna kata demi kata.

“Ini, bawalah tambor berisi mantra ini. Baca dan rawatlah ia.”

***

DI lepau rumah panggung Tuyukku, di malam takbir, aku berbaring di bangku bambu. Kurenungkan lagi cerita Pakngah Zainudin. Sesakti itukah Tuyukku? Seseorang yang hanya bisa kulihat wajahnya melalui lukisan hitam putih 120 cm X 60 cm yang dipajang di ruang tengah lamban tuha ini? Mengapa aku justru mengenalnya melalui orang lain? Selama ini aku merasakan hasil kerja kerasnya melalui warisan tanah yang amat luas di Dusun Terbamban, Pekon Hanakau.

Jika dulu saat ia berikan kepada bapakku masih ditanami kopi, sekarang sudah jadi ladang kol, sawi, wortel atau tanaman lainnya.

Kubaca tambor pemberian Pakngah Zainudin. Kueja satu per satu had Lampung yang sudah agak buram. Tapi mataku berat, aku perlu istirahat. Kantuk makin menjadi dan aku pun tertidur.

Di masjid-masjid azan subuh bersahutan. Ada sesuatu yang menjilati pipiku. Mataku masih berat untuk dibuka. Aku belum puas tidur, tetapi jilatan itu mendarat lagi di pipi, bertubi-tubi. Karena penasaran, kukuatkan diri untuk membuka mata. Kulihat di sampingku ada sejenis kucing hitam sebesar kerbau jantan. Ia berusaha menjilatiku lagi. Aku terkejut bercampur takut. Tapi aku diam saja. Kucing besar itu memandangiku. Kini kami saling pandang. Apa dia lemawong yang kupanggil lewat mantra yang tertulis di tambor tadi?

“Tuyuk?” kataku.

Kucubit paha dan pipiku, sakit. Berarti aku tak sedang bermimpi. Kucubit pipi kucing besar itu, tapi matanya malah memejam. Kepalanya mengelus-elus dadaku. Mahkluk itu berusaha menjilat lagi, aku menghindar. Kubaca lagi tambor tadi dalam hati. Sontak tubuhku bergetar hebat sebelum melemah seperti setumpuk kain belacu. Kucing besar itu memasuki tubuhku. Aku tak kuasa melawannya. Rasanya seluruh tubuhku panas seperti dibaluri balsem. Aku memejam sambil menggeram. Kurasakan dirinya telah menjadi bagian dari diriku dan diriku telah menjadi bagian dirinya. n

Bandar Lampung, 2015


Catatan:
tuyuk : Kakek Buyut
datuk : Kakek
lemawong : Macan/ Harimau
tambo : Tulisan kuno yang biasa ditulis di kulit kayu, kulit hewan, ataupun bambu.
lamban tuha: rumah tua
lepau: teras rumah
parruh : Alat untuk mengangkut air yang terbuat dari bambu
selimpok bungking : sejenis kue lambangsari tapi berbahan baku ketan
serimol : makhluk ghaib sejenis genderuwo
pancor pungah: pacoran pongah. Air mancur/mata air.
undom: batok kelapa.


Lampung Post, Minggu, 15 Maret 2015

Sunday, March 8, 2015

Sebatang Pohon Mahio

Cerpen Yetti A KA


MAHIO sudah lama ingin jadi sebatang pohon. Suatu hari Mahio menggali tanah dan menanam setengah badannya.

Primrose berkata pada ibunya, “Oh, Hio, dia benar-benar sudah gila.” Wajah Primrose pias dan ketakutan. Mereka—juga hampir semua tetangga-tetangganya—menyaksikan Mahio berdiri telanjang dengan tanah menutupi ujung kaki hingga pinggang, dan berkata—dan seakan-akan kalimat itu bukan berasal dari dirinya—“Selamat tinggal semuanya. Aku akan tumbuh jadi pohon. Ini benar-benar seperti mimpiku bertahun-tahun ini. Kumohon mengertilah dan jangan bersedih.”

Mahio memejamkan mata dan ia merasa akar sudah tumbuh di jari-jari kakinya dan betis dan tunas segera keluar dari pinggang dan bagian tubuhnya yang lain dan tunas itu cepat sekali membesar menjadi daun-daun yang hijau tua, hingga ia menjadi pohon dengan cabang dan ranting dan daun yang lebat. Sebagaimana pohon-pohon yang selama ini memenuhi kepalanya. Sebagaimana pohon-pohon yang sering ia gambar dengan jarinya di atas pasir basah di tepi sungai di saat hampir semua teman-temannya membuat rumah pasir atau membuat bangunan mirip istana dengan menara yang tinggi.

Dulu, bapaknya Mahio seorang pencari kayu gaharu. Lelaki yang berburu pohon-pohon di hutan. Mahio memang tidak pernah bertemu lelaki itu—atau mungkin pernah ketika ia masih sangat kecil dan ibunya barangkali saja sering bercerita tentang bapaknya bersama rombongan yang kembali dari hutan membawa bongkahan atau gubal gaharu dan tak lama setelah itu mereka membeli baju baru atau mengupah anak-anak dari desanya untuk mengangkut beberapa karung batu dari sungai atau membeli satu pancang daging kerbau di saat ada penyembelihan atau daging rusa atau kijang hasil perburuan yang diasap di atas bidai. Sampai suatu ketika bapaknya tak pernah pulang lagi, Mahio dan ibunya mengalami masa-masa suram.

Mahio marah pada bapaknya yang tak pernah kembali lagi itu. Akan tetapi, tetap saja, tak ada yang berani menyimpulkan kalau kemarahan Mahio itu membuat ia ingin menjadi sebatang pohon.

Orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Mahio yang berkilat dan mereka tak bisa berbuat apa-apa. Seperti juga mereka pernah tak bisa berbuat apa-apa saat menemukan tubuh ibunya Mahio tergantung di cabang pohon pada Rabu pagi di bulan Juni. Pohon yang beberapa hari kemudian ditebang karena orang-orang tak ingin hantu ibunya Mahio berdiam di sana dan itu membuat Mahio meraung-raung sebab pohon itu satu-satunya yang tertinggal dalam hidupnya.

“Hio, kau harus segera pulang ke rumahmu. Udara dingin sekali,” kata Primrose dengan suara rendah. Mahio tetap diam saja dan matanya tetap terpejam. Beberapa anak kecil malah tertawa-tawa. Hanya mereka saja yang bisa tertawa saat itu. Menampakkan gigi-gigi mereka yang kecil-kecil kekuningan karena tidak terawat dengan baik. Primrose mendelikkan mata pada mereka, memberikan peringatan kalau mereka sedang menghadapi sesuatu yang sangat gawat, dan ini sama sekali bukan lelucon.

Sampai matahari tenggelam, Mahio masih menolak mengeluarkan setengah tubuhnya dari dalam tanah meski Primrose terus membujuk.

***

Tengah malam, orang-orang berhasil membawa Mahio pulang ke rumah setelah ia nyaris jatuh pingsan. Mahio yang malang, kata salah seorang dari mereka dengan suara menyesal seolah-olah ia sedang bicara pada anaknya sendiri.

Dan ketika matahari telah menghangatkan atap rumah, Mahio belum bangun. “Ia sangat lelah,” batin Primrose saat memandangi wajah Mahio yang tertidur.

Sejak kecil, Mahio dan Primrose sudah berteman. Saat ibu Mahio meninggal, berhari-hari Primrose menemaninya, membuat kue-kue kecil dengan rasa yang sangat manis dan berkata, “Mulai sekarang kau bisa mengandalkanku.”

Menurut Primrose betapa penting kue-kue manis itu bagi hati Mahio yang sedih. Rasa manisnya bisa menghapus air mata seseorang. Mahio tergelak dan menghabiskan kue-kue itu, tapi ia tak pernah mengatakan pada Primrose kalau hatinya tetap saja sedih dan diam-diam ia sering menangis sendirian. Ia justru bilang pada Primrose kalau nanti gadis itu akan jadi seorang tukang masak yang hebat dan itu membuat wajah Primrose memerah bahagia. Primrose tidak sabar menunggu hari-hari yang sepenuhnya dipenuhi aroma kue yang ia buat untuk Mahio.

“Tidak,” kata Mahio. “Kau tak harus melakukan itu untukku.”

“Kenapa?” tanya Primrose.

Mahio tak bisa memberi alasan apa-apa. Karena Mahio diam saja, Primrose sudah memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan dalam hidupnya. Primrose sama sekali tidak tahu kalau saat itu Mahio sedang menunggu hari yang tepat untuk menjadi sebatang pohon.

Rumah Mahio persis berada di sebelah rumah Primrose. Rumah dengan dinding batu. Di batu-batu yang berwarna hitam itu Primrose sering menulis pesan-pesan kecil untuk Mahio dengan kapur yang dicurinya dari sekolah—dan pesan-pesan itu—kebanyakan tentang gerimis atau hujan atau langit merah (semua kata itu ia dapatkan dari gurunya yang pintar menulis puisi), dan Primrose selalu menyertakan kalimat: semua itu sesungguhnya adalah kamu—tentu hanya gadis itu yang tahu sebab ia memang menulisnya agar tidak perlu dibaca siapapun.

Selain dinding batu, bagian yang paling disukai Primrose dari rumah Mahio adalah jendela kamar lelaki itu. Mereka punya jendela kamar yang berhadapan. Jika Primrose membuka jendela kamarnya sendiri, maka ia bisa melihat Mahio tidur-tiduran di ranjang besi tua peninggalan ibunya dan kadang-kadang mereka bercakap-cakap. Lelaki itu tak pernah mengunci jendela kamarnya sepanjang waktu—bahkan saat hujan dan titik-titik air masuk ke dalam.

Lewat jendela itu pula Primrose senang sekali menghadiahi Mahio sebuah dongeng yang sering diceritakan gurunya yang pintar menulis puisi itu sebelum jam pelajaran dimulai. Gurunya itu berasal dari sebuah kota yang sangat jauh dan ia guru yang sangat menyenangkan meski jarang sekali tertawa, dan yang paling Primrose sukai darinya baris-baris giginya yang rapi dan tentu sesekali saja bisa dilihat. “Kau mesti bertemu dengannya,” kata Primrose pada Mahio, “Ia akan meminjamimu banyak buku cerita yang membuat hatimu senang.” Namun Mahio menolak, ia tidak suka sekolah. Bukan. Bukan. Mungkin ia akan suka seandainya dari awal ia melakukannya, tepatnya sebelum ia punya mimpi ingin jadi sebatang pohon, sebelum ia kehilangan segalanya: bapak, ibu, dan kemudian sebatang pohon satu-satunya yang tertinggal miliknya.

Lewat jendela yang sama Primrose sering juga mengulurkan semangkuk bubur dan itu ia lakukan tanpa sepengetahuan ibunya yang senang mengomel bila makanan mereka diberikan pada orang lain. Ibunya bukan orang yang terlalu pelit, tapi bila itu Primrose lakukan saat mereka nyaris kehabisan bahan makanan maka tentu saja jadi sebuah masalah.

Mahio masih saja tertidur.

Primrose terus-menerus memandangi wajah yang pucat itu. Kalau Mahio membuka mata, Primrose ingin mengatakan, “Jangan lakukan lagi, Hio. Kau membuat khawatir kami semua.” Ah, pikir Primrose, ia mungkin bisa membuat kalimat yang lebih pendek: Berhentilah ingin jadi pohon, Mahio. Lagi-lagi Primrose belum puas pada kalimatnya. Dan ia menyerah dan memutuskan tak perlu memikirkan kalimat apa nanti yang akan ia katakan. Ia hanya ingin menunggu Mahio bangun. Ia menunggu mata Mahio terbuka. 

***

“Aku sedih.”

“Cobalah tertawa.”

“Tidak bisa. Aku sudah gagal menjadi sebatang pohon.”

“Kau sedikit demam,” kata Primrose tak memedulikan kata-kata Mahio.

“Aku ingin sekali jadi sebatang pohon.”

“Kau ingin kubuatkan kue-kue yang manis? Aku akan membuatnya sebelum Ibu pulang.”

Mahio menggeleng. Ia menatap dalam pada Primrose. 

“Lupakan itu, Hio,” kata Primrose resah, “Lupakan keinginanmu jadi sebatang pohon.”

“Itu satu-satu yang kuinginkan.”

“Aku tidak bisa lagi mengerti kamu.” Primrose meninggalkan jendela kamarnya. Ia berpikir betapa kerasnya Mahio dan itu membuatnya kesal. Ia masih mendengar Mahio memanggil namanya. Mungkin teman sejak kecilnya itu membutuhkan bantuan atau menyesali sikapnya. Namun ia sedang marah pada Mahio. Ia lari mencari dinding batu. Di sana ia kembali menulis sesuatu. Menulis tentang gerimis atau hujan atau langit yang berwarna merah. Segala yang sesungguhnya ingin ia sampaikan pada Mahio sekaligus ingin ia sembunyikan. Lalu ia duduk di dekat dinding penuh tulisan itu dan menangis. Setelah hari ini, ia berjanji tidak akan menulis apa-apa lagi di sana. Ia merasa Mahio hanya akan memikirkan keinginannya menjadi sebatang pohon sampai kapan pun.

***

Pada Senin pagi Primrose berdiri di depan cermin siap-siap hendak berangkat ke sekolah. Hari ini ia akan bertemu kembali dengan gurunya yang pintar menulis puisi dan ia mau menceritakan tentang Mahio yang ingin jadi sebatang pohon dan pada akhir pekan lalu menanam dirinya di dalam tanah. Mahio yang sejak percakapan kemarin tak lagi mau membuka jendela kamarnya. Mungkin Mahio sedang ingin sendirian. Tidak mau bertemu atau bicara pada siapa-siapa.

Setelah merapikan rambut di depan cermin, Primrose memperhatikan matanya yang selama ini jarang sekali ia lakukan. Hanya bila perlu saja ia bertatapan dengan mata itu. Sekadar untuk memastikan tak ada kotoran yang mengering di bawah dan sudut mata sebelum ia pergi ke sekolah. Ia harus dalam keadaaan sempurna saat bertemu guru yang sangat disukainya itu.

Mata itu, gumam Primrose sambil mendekatkan wajahnya ke cermin dan membuka kelopak mata lebih lebar saat ia melihat bayang-bayang hitam yang tak biasa. Bukan, pikirnya, itu bukan mata hitam milikku. Dada Primrose seketika berdebar keras. Dalam mata itu tumbuh sebatang pohon! 

Primrose  menjerit dan lari keluar dan mendobrak pintu rumah Mahio. Ia tak menemukan lelaki itu. Dan tak akan pernah menemukannya lagi. n

GP, 2014


Lampung Post, Minggu, 8 Maret 2015

Sunday, March 1, 2015

Kepak Burung Merah

Cerpen Rifan Nazhif


HARI cukup cerah. Kemudian hujan turun. Bermula gerimis, lalu menderas seakan ditumpahkan dari langit. Sekitar bandar udara sedikit berkabut. Dingin menggigit. Kurapatkan jaket membetot badan.

Selintas wajah Pa Tua membayang di mata. Sepuluh tahun lamanya kami tak bertemu. Dia ayahku. Akan terdengar geli bila aku menyebutnya Pa Tua, bukan ayah. Tapi panggilan Pa Tua lebih cocok di lidahku. Usia kami terpaut jauh. Ketika aku lahir, dia hampir 55 tahun. Dan aku adalah anak paling buncit dari istrinya yang paling buncit. Pa Tua itu Don Juan. Istrinya lima.

Tujuanku bertemu dia di Negeri Singa bukan sekadar ingin melepas kangen. Lebih tepatnya ingin mempelajari ilmu pengasih. Bagaimanapun, di usia 25 tahun dia telah memecahkan rekor beristri tiga. Di atas usia 30 tahun, sebelum berkepala empat, dia beristri lima. Sedangkan aku, menjelang 40 tahun, pacar saja pun tak punya. Konon lagi mau menikah. Kepergianku ke Negeri Singa pun tanpa sepengetahuan Ma Muda, ibuku. Pa Tua dan Ma Muda sudah bercerai sekitar sembilan tahun lalu. Penyebab utama, Pa Tua menikah diam-diam dengan perempuan berwajah oriental dan bolak-balik Indonesia-Negeri Singa.

“Kami sedang menunggu Anda. Anda Pak Safran, kan?” Seorang perempuan berbaju terusan corak batik, tersenyum di hadapanku. Aku gelagapan. Membetulkan posisi leyeh-leyeh di kursi ruang tunggu. Kemudian meraih tas jinjing berukuran sedang. Sebelum meninggalkan perempuan itu, kuucapkan terima kasih dengan kesan malu-malu.

Di lapangan udara, burung merah itu sabar menunggu. Kuturuni beberapa tangga sebelum akhirnya buru-buru menerabas hujan. Salahku terlalu lama melamun. Salahku seperti tuli ketika orang yang memanggilku dari speaker habis kesabaran.

Masuk dari pintu di ekor burung merah, aku duduk di bangku bagian tengah, sesuai nomor tiket. Seorang perempuan muda, juga seorang perempuan setengah baya, masing-masing mengapitku. Kupikir mereka satu keluarga, atau mungkin teman. Tapi aku merasa bodoh setelah mereka mengatakan bahwa burung merahlah yang mempertemukan mereka. Ya, mengapa pula mereka harus duduk dipisahkan bangkuku, kalau memang mereka satu keluarga atau teman.

Tak ada perbincangan selanjutnya. Perempuan muda itu sibuk mematikan gadget. Aku tersenyum. Sudah hampir tiga jam kumatikan handphone sebab takut ditelepon Ma Muda. Perempuan tua itu mengeluarkan kaca mata tebal dari saku baju hangat. Lalu membuka lembaran buku yang dikepitnya di ketiak sedari tadi.

Harusnya aku lebih banyak berbincang dengan perempuan muda di sebelahku. Tapi aku bukan tipe perayu, terlebih tipe pengganggu. Melihatnya menguap, lalu menyenderkan kepala di sandaran kursi, tentu tak pantas mengajaknya berbicara. Misalnya dengan menawarkan sebatang cokelat atau beberapa butir permen di balik saku jaketku. Dia pun terpejam. Entah tertidur. Malah kemudian, perempuan tua itu yang memulai perbincangan, sesaat pesawat terbang landas menembus awan tebal.

Ada getaran. Hentakan. “Kejadian ini selalu membuatku takut,” kata perempuan tua itu. Perempuan muda di sebelahku mendengkur halus, seolah tak merasakan apa pun. “Tapi setelahnya, kembali biasa.”

“Tenangkan hatimu, Bu.” Kuusap punggung tangannya. Buku yang dibacanya, jatuh ke lantai burung merah. Kuraih, dan kuletakkan pelan di pangkuannya. “Aku teramat sering mengalami hal yang demikian. Tapi percayakan saja semuanya kepada pilot. Mereka telah lihay.”

“Bukan percayakan kepada Tuhan?” selanya.

“Terutama itu,” Aku tersenyum.

Dia kembali membaca buku. Hanya saja, sepertinya dia lebih senang berbincang denganku. “Andai saja aku mempunyai anak yang masih gadis, akan kujodohkan dia denganmu.” Senyumnya nakal. Aku terperangah. Darimana dia tahu aku belum menikah? Apakah dia cenayang? Kutepiskan takhayul itu. Senyum kulepaskan bahwa aku tak berpikir macam-macam.

“Kau pasti bingung mendengar perkataanku. Lalu menbak-nebak tak karuan. Aku sudah tua. Sudah banyak makan asam-garam. Berbagai lelaki telah berhubungan, maksudku berbisnis denganku. Tua-muda. Jadi, apa sulitnya membedakan lelaki yang masih bujangan, menikah, atau duda?” Dia tertawa pelan. Burung merah tersentak. Bergetar seolah melewati kubangan. Buku perempuan itu jatuh lagi ke lantai burung merah. Kini, dia yang pelan mengambilnya, kemudian menyimpannya di saku kangguru yang terjahit di punggung kursi di depannya.

Awan hitam menyentuh kaca. Kilat saling menghempas di sekitar sayap burung merah. Tiba-tiba aku takut kilat itu melukai sayapnya. Lalu terbakar. Lalu… ah…

“Awan kumulonimbus,” katanya. Bukan perempuan tua itu yang berkata, melainkan perempuan muda di sebelahku. “Aku selalu takut bertemu awan itu. Menyeramkan. Seperti tangan maut.”

Suara di speaker meminta seluruh penumpang mengencangkan sabuk pengaman. Beberapa penumpang berdoa. Hening. Dan tiba-tiba sebuah sentakan menghantam seperti di bagian paruh burung merah. Kecepatan burung merah melebihi biasanya. Bukan terbang lurus. Lebih tepatnya terjun. Kilat-kilat menyambar kaca. Semua seperti ditelan cahaya. Mataku silau. Telingaku berdengung mendengar segala derak dan jerit. Aku tak merasakan apa-apa lagi, sebelum akhirnya kubuka mata, dan melihat orang-orang di sekitarku sedang bersiap mengambil barangnya di bagasi atas kepala.

“Sudah sampai, anak muda! Kerjaanmu tidur saja.” Perempuan tua itu tersenyum. Terlihat lebih cerah dan muda dibanding beberapa saat lalu. Ingin kutanyakan apakah dia masih ketakutan dengan kejadian barusan, maksudku saat disergap awan kumulonimbus. Tapi kupilih bungkam karena dia sudah menyuruhku berdiri. Perempuan muda di sebelahku sudah menghilang duluan.

Aku pikir ini di Bandara Changi. Orang-orang bergegas menembus gerimis. Setelah keluar dari perut burung merah sekitar sepuluh atau sebelas langkah, kusempatkan menoleh. Ajaib, burung merah itu telah lenyap!  Begitu cepatnya, seperti mengejar setoran.

Keluar dari pintu kedatangan, aku merasa melihat seseorang yang sangat kukenal di antara kerumunan penjemput dan sopir taksi. Dia menatapku takjub. Melambaikan tangan sambil tersenyum. “Safran, kapan kau tiba, Kawan?” Dia mengacuhkan larangan petugas bandara agar jangan melewati pembatas penjemput. Disongsongnya aku. Dirangkulnya bahuku. Meski agak gamang dan rikuh, tapi cepat juga kurasakan kami menjadi sangat akrab. 

Dia mengajakku singgah di gerai makanan. Menawarkanku mi telor kuah hangat. Seperti selera beratku dulu. Kukatakan dulu, sebab sekarang dokter melarangku memakan, bahkan menyentuh makanan itu. Gula darahku lumayan tinggi. Begitu juga tekanan darah. Dan masalah perut yang agak membusung, menjadi perhatian utama. Artinya, jika ingin lebih panjang umur, aku harus puasa selamanya dengan masakan siap saji, junkfood atau apalah namanya dan setipe dengan itu. Namun, tawaran dengan kawan baruku itu tak selayaknya ditolak. Lagi pula posisiku jauh dari dokter. Hmm, tak ada salahnya membatalkan setelah hampir empat tahun berpuasa.

“Dingin-dingin begini enaknya memang makan yang hangat-hangat dan sedikit berlemak.” Dia menatap perutku. Kami tertawa. Dua kursi kosong di meja sudut, menyambut kami.

Perbincangan demi perbincangan semakin lancar laksana arus air. Entah kenapa aku merasa kami memiliki banyak kesamaan. Sama-sama masih bujangan. Sama-sama suka memakai jins dan kaos. Sama-sama suka sepatu kets warna putih. Dan sekarang kami mengenakan jins, kaos, sepatu kets yang warnanya senada. Apakah dalaman kami juga sama? Aku tersenyum geli.

“Kenapa kau tersenyum?”

“Memangnya senyum dilarang?”

Kami keluar dengan perut kekenyangan dari gerai itu. Sebuah taksi mengantarkan kami ke rumah Pa Tua. Dia mengenal dekat lelaki itu, setelah kuceritakan di gerai, tujuanku ke Negeri Singa ini. Jadi, tak ada salahnya dia mengantarku ketimbang memilih pergi sendiri dengan risiko tersesat. Sungguh tak mengenakkan, bukan?

Taksi berhenti di depan sebuah rumah. Sebentar kami sedikit berdebat. Makan-minum di gerai dia yang membayari. Kenapa pula urusan taksi harus dia pula yang menanggung? Sebagai pemanduku, dia harus dibayar, bukan membayar.

Tapi tabiat kami ternyata sama. Keras kepala. Hanya saja sedikit aneh, kenapa aku kalah masalah keras kepala dengannya? Apa memang kepalanya sekeras batu? Refleks kuketok jidatnya. Dia mengaduh. “Ternyata tabiat dan kepalamu sama-sama kerasnya.” Kami terbahak.

Seorang perempuan manis menyambut kami. Sepertinya dia sudah mengenal wajahku dan terlihat sudah akrab dengan lelaki di sebelahku. Perempuan itu berlari ke dalam rumah, katanya ingin memanggil Pa Tua.

Aku memandang kawan baruku. Sejak pertama kali bertemu, aku belum tahu namanya. Sementara dia sudah tahu namaku. “Eh, dari tadi aku belum tahu namamu. Namamu siapa?” tanyaku.

“Apalah arti sebuah nama.”

“Janganlah berperibahasa, kawan.”

“Itu bukah peribahasa. Itu perkataan pujangga besar.” Dia terdiam sejenak, lalu berkata lagi, “Namaku, Safran.”

Kupukul pelan lengannya. Kukatakan dia bercanda. Tapi wajahnya terlihat amat serius. Dia setengah menyeretku ke cermin yang sengaja di tempel di dinding rumah. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata bentuk tubuh dan wajah kami serupa.

“Gila. Apakah aku bermimpi? Ini cuma halusinasi!”

“Ini benar, Safran. Aku adalah dirimu. Dirimu adalah aku. Tepatnya aku adalah amal ibadahmu.” Aku meremas rambutku seolah gila. “Safran, mustahil ada yang hidup setelah burung merah itu diremas awan kumulonimbus dan meledak, dan jatuh berserak ke dalam laut. Percayalah! Kau tahu maksudku, kan?” n


Lampung Post, Minggu, 1 Maret 2015

Sunday, February 22, 2015

Pembunuh Kerinduan

Cerpen Syaiful Irba Tanpaka


BONGKOT menghadap ke arah timur. Ia berdiri dengan kaki lunglai dan tubuh gemetar. Tangannya yang terjulur ke bawah memegang golok berlumuran darah. Ia baru saja membunuh kerinduannya yang terakhir.

Ia berharap setelah peristiwa ini, ia tidak lagi memiliki kerinduan kepada siapa pun dan kepada apa pun. Ya! Kerinduan yang membuat setiap orang menjadi cengeng. Kerinduan yang kerap menggedor-gedor petala hati secara melankolis. Kerinduan yang sering kali melukiskan bayang-bayang kecemburuan. Bahkan terkadang membuat jaringan pikiran mampet untuk mengalirkan akal sehat. Sehingga lahirlah cerita-cerita sadisme tentang orang-orang yang bunuh diri atau membunuh pasangannya sendiri.

Bongkot menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu apakah udara yang dihirup dan dihembuskannya itu menyiratkan kelegaan atau penyesalan. Sebagaimana matanya yang kosong menatap sosok kerinduan yang terkapar di hadapannya; di atas rerumputan yang dibasahi genangan-genangan cahaya purnama. Sosok yang samar terlihat; tercerai berai dilumuri cipratan-cipratan darah segar. Sosok yang semasa hidupnya sering kali menohok dengan kegalauan demi kegalauan.

“Dan sekarang dia telah mati!”

Ya! Malam semakin naik. Bongkot masih berdiri dengan kaki lunglai dan tubuh gemetar. Ujung goloknya melepas tetesan darah terakhir ke atas rerumputan. Sementara bulan purnama tepat berada di atas kepalanya. Kemudian ia mulai menggali lubang. Kemudian ia menyatukan kembali sosok kerinduan yang terserak; membopong dan menguburkannya.

Tak ada kesedihan. Tak ada air mata. Wajahnya tampak dingin dan beku. Sedingin dan sebeku udara malam.

Setelah itu Bongkot tengadah menatap bulan. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan berteriak: “Tuhaaannn...!”
           
***

“Aku sayang kamu, tau...! Aku cinta kamu!” suara Lesly terdengar manja.

Bongkot hanya tersenyum.

“Kamu sayang aku juga, kan...? Kamu cinta aku?!”

Bongkot hanya tersenyum

“Jawab dong, Beib..., aku butuh kepastian. Aku akan sangat bahagia jika kamu mengatakan itu untukku. Ayo katakan, Beib...”

Bongkot hanya tersenyum.

Lesly memberengut. Ditatapnya Bongkot dengan tajam. Meskipun kecewa dan marah namun aroma kemanjaan terus mengembang di wajahnya.

“Kamu denger aku nggak, sih?!”

Bongkot hanya tersenyum.

Lesly berpaling. Ia melempar tatapannya ke laut lepas. Alangkah indahnya pemandangan. Langit senja yang kemerahan. Matahari di ufuk pelan-pelan akan tenggelam. Perahu nelayan diayun gelombang di kejauhan. Dan ombak yang kejar berkejaran menjelang pantai. Angin berdesir. Anak rambut di kening Lesly lembut bergoyang.

Tapi bisakah seseorang menikmati keindahan dengan hati yang tengah dirundung kegalauan?

“Ayo katakan, Beib! Aku nggak peduli dibilang lebay. Aku hanya ingin mendengarnya dari bibirmu. Kamu sayang aku, kan?!” 

Bongkot mengangguk.

“Kamu cinta aku?!”

Bongkot mengangguk

“Kamu selalu merindukan aku?!”

Bongkot terdiam. Keningnya berkerut. Seketika wajahnya tampak tegang. Jauh di lubuk hatinya yang dalam ia ingin sekali merindukan Lesly.

Ya! Lesly gadis yang menemui dan meminta tanda tangannya seusai acara peluncuran buku cerpen terbarunya yang berjudul “Pembunuh Kerinduan”. 

Saat itu, Lesly dengan senyum penuh kemanjaan mendekatinya dan seperti yang lain menyodorkan buku cerpen yang dibelinya untuk ditandatangani. Namun tidak seperti yang lainnya, Lesly kemudian meminta juga nomor hape dan PIN BB.

“Hai pengarang...” suatu hari Lesly memulai percakapan di bbm.

“Hai juga...” Bongkot membalas.

“Aku sudah baca cerpen-cerpenmu. Aku suka!”

“Terima kasih...”

“Tapi ada juga yang aku nggak suka!”

“Ohya...?”

“Cerpenmu Pembunuh Kerinduan itu sadis!”

“Ohya...?”

“Itu menafikan kodrat kemanusiaan!”

“Ohya...?”

“Bagaimanapun manusia tidak bisa melepaskan diri dari pikiran dan perasaan yang bersemayam di otak dan hatinya. Membunuh pikiran sama dengan tidak waras. Membunuh perasaan sama dengan sadis. Kamu tahu itu...?”

“Ohya...?”

“Aku capek ngomong sendiri!” Lesly menghentikan percakapan BBM-nya.

Hari berganti. Matahari menyinari bumi. Bintang-bintang menghiasi malam. Lesly terus dimiangi kerinduan. Di benaknya wajah Bongkot selalu terbayang-bayang. Ia sendiri tidak mengerti kenapa semua ini terjadi. Setiap kali ia coba melupakan, setiap kali itu pula sosok Bongkot mengembang dalam ingatan.

Ping!!!

Lesly mengirim pesan sinyal lewat BBM. Bongkot tersenyum dan membalasnya

“Aku mau bertemu kamu!” sambung Lesly

“Boleh. Hehe...”

“Jemput aku di depan mal, ya!”

“Boleh. Hehe...”

“Pokoknya sejam lagi aku tunggu! Boleh, hehe...”

“Ok deh!”

Hari berganti. Pertemuan di depan mal itu berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Hingga hubungan Bongkot dan Lesly bertambah akrab. Semakin akrab. Dan kemudian bersepakat menjalin hubungan sebagai kekasih. Ya!
               
***

“Tapi sepertinya aku cuma bertepuk sebelah tangan...” ungkap Lesly curhat kepada Cida, teman kuliahnya.

“Kok bisa...?!” ucap Cida

“Ya bisalah!”

“Maksudmu?” Cida menghentikan langkah. Lesly ikut menghentikan langkah. Lalu mereka berjalan ke bangku taman yang tersedia di kampus. Lesly menghempaskan diri dan duduk dengan lesu.

“Haruskah aku membencinya, Cida?”

“Tenanglahlah, Lesly. Kau harus bersikap tenang untuk membuat keputusan” pinta Cida dengan lembut sambil menyodorkan botol minuman mineral. Lesly menerimanya, membuka tutup botol dan mereguk airnya.

“Ceritalah padaku, Lesly..., agar kamu merasa lega.”

Lesly menarik napas panjang.

“Dia lelaki yang aneh, Cida...” suara Lesly terdengar sungkan 

“Sama sekali tidak romantis. Dingin..., cuek..., dan menyebalkan! Apakah karena dia seorang pengarang? Sehingga ia hidup dengan khayalan-khayalannya saja. Bayangkan, Cida..., dia tidak pernah menelponku lebih dulu. Dia tidak pernah SMS aku lebih dulu. Dia tidak pernah BBM aku lebih dulu. Inbox facebook, twitter, line, whatsapp, dia tidak pernah lebih dulu!”

“Mungkin dia sibuk, Lesly”

“Sibuk kamu bilang...?!”

“Aku bilang mungkin, Lesly...”

“Hemmm..., tidak, Cida! Semestinya cinta selalu punya ruang dalam kesibukan-kesibukan sepadat apa pun. Cinta selalu punya sayap untuk menempuh jarak sejauh apa pun. Cinta selalu punya magma untuk meledakkan diri dari himpitan gunung sebesar apa pun. Kau tahu itu.”

Cida hanya diam.

Mendung turun di wajah Lesly. Air matanya seperti gerimis pertama yang mengalir pelan di atas daun-daun. Kenapakah Tuhan menciptakan kesedihan bagi manusia?

Ataukah lantaran manusia memiliki cinta? Dan cinta melahirkan kerinduan? Dan kerinduan melahirkan harapan? Dan harapan melahirkan semangat? Dan semangat melahirkan tindakan? Dan tindakan melahirkan pilihan? Dan pilihan melahirkan risiko? Dan risiko melahirkan kesedihan? Oh, tidak! Tentu saja tidak! Karena risiko juga bisa melahirkan kebahagiaan. Layaknya dua sisi mata uang. Kitalah yang menentukan risiko dari pilihan yang kita putuskan. Ya!

“Apakah aku telah salah mencintai orang, Cida...? Atau karena dia tidak mencintai aku? Karena itu dia tidak pernah merindukan aku!”

Cida hanya diam.

Sementara air mata Lesly seperti gerimis pertama yang mengalir pelan di atas daun-daun. ”Begitulah cinta, deritanya tiada akhir!” ungkap Siluman Babi (Ciopatkai) dalam cerita Sun Go Kong. Ah...!!!   
           
***

Bongkot duduk bersideku menghadap ke arah makam. Wajahnya sendu membaca tulisan yang pernah diguratkannya di atas batu nisan. Ia membacanya berulang-ulang di dalam hati. Sebuah epithap: di sini terkubur kerinduanku yang terakhir.

Tangannya yang memegang linggis terlihat gemetar. Sebuah pertempuran tengah terjadi dalam dirinya. Antara keinginannya untuk menggali kembali kerinduannya, dengan keinginan membiarkan saja kerinduan itu tetap terkubur. Di tengah keremangan malam itu sesekali tangannya mencoba mengangkat linggis tinggi-tinggi. Tetapi niatnya membongkar kuburan itu tiba-tiba saja terhenti. Bagai ada suatu betotan yang menarik tangannya kembali ke bawah.

Bongkot merenung-renung. Terus merenung-renung. Ya! Hingga kemudian tekadnya bulat untuk mengangkat kembali sosok kerinduan yang selama ini telah dikuburkannya. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah menghapus tulisan di atas nisan itu. Ia mengeluarkan sapu tangannya. Namun, belum sempat sapu tangannya menyentuh tulisan di batu nisan, tiba-tiba terdengar suara teriakan lantang.

“Hentikan! Tidak perlu kamu melakukannya. Biarkan kerinduanmu tenang di dalam kuburnya!”

Bongkot menoleh kebelakang. Ia terkejut ketika mengenali sosok yang berkata itu.

“Lesly...??!”

“Ya! Aku..!!!” Lesly melangkah mendekati Bongkot, sementara kedua tangannya membopong sesosok mayat yang berlumuran darah. Bongkot berdiri dan berbalik menghadap ke arah Lesly.

“Apa yang telah kamu lakukan, Lesly...?” suara Bongkot bergetar.

“Aku telah membunuh kerinduanku!”

“Astaga..!!?”

“Lihatlah sosok ini. Sosok yang senantiasa memupuk kesedihanku. Sosok yang selalu membuat galau hatiku. Dan sekarang dia telah menjadi mayat. Lihatlah! Lihatlah, Bongkot! Mayat ini!”

Bongkot hanya memandang dengan wajah tegang.

“Galilah lubang, Bongkot. Aku ingin menguburkan mayat kerinduanku!”

Bagai digerakkan gelombang sihir yang luar biasa, Bongkot menuruti apa yang dikatakan Lesly. Ia mengayun dan menancapkan linggis ke tanah dengan sekuat tenaga. Tancapan demi tancapan membongkar tanah. Hingga menganga sebentuk liang kubur.

Lesly kemudian menguburkan mayat kerinduan dalam gendongannya. Setelah itu Lesly berdiri berhadap-hadapan dengan Bongkot.

“Sekarang masihkah kita memerlukan cinta?!” suara Lesly terdengar hambar.

Malam semakin naik. Bulan perlahan ditutup kabut. Gerimis turun mencium rerumputan. Di keremangan malam itu sosok Bongkot dan Lesly hanya terlihat seperti siluet. Hanya siluet. Ya! n

Bandar Lampung, 12/2014.


Lampung Post, Minggu, 22 Februari 2015

Sunday, February 15, 2015

Pesan dari Malaikat

Cerpen Hazwan Iskandar Jaya


ROMAN wajahnya bagai diukir pada batu padas, kaku, keras, dan tak berubah. Ekspresi seperti itu sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Shinta, yang kini berusia 9 tahun, mengenalnya sebagai seorang nenek yang superpendiam. Ia tak pernah melihat wanita itu tersenyum. Walau cuma satu kali pun. Ayahnya bilang, nenek adalah wanita besi yang keras hatinya dan juga keras kepala. Tak ada satu orang pun dalam keluarga yang mampu menaklukkannya.

Shinta tahu, nenek hidup dalam kesendiriannya. Ia sangat sehat secara fisik. Mungkin rajin berjalan pagi beberapa ratus meter untuk sekadar mencari keringat. Atau sibuk mengurus kebun bunga di halaman depan. Dan untuk itu, ia tak peduli lagi sekelilingnya karena semua hasrat ia tumpaskan bercengkerama dengan bunga-bunga yang tumbuh subur berkat tangannya.

“Nenek… kami mengundangmu pada perayaan Hari Raya bulan depan. Kami ingin Nenek berkumpul dengan kami. Ibu akan memasak semua kesukaanmu,” Shinta memohon padanya.

Nenek menatap gadis mungil itu setajam belati, menusuk jantung hatinya, dan dengan ekspresinya yang khas itu. Gadis mungil itu pun merinding. Tatapan itulah yang membuat ketakutan semua keluarganya.

Paman dan bibi pun tak ada yang berani, walau sekadar menegurnya. Jika mereka berkunjung, mereka hanya sibuk bercerita tentang keluarga masing-masing. Dan membiarkan Nenek bersama dengan pikiran-pikirannya.

Jika Hari Raya kali ini Nenek tak datang ke rumah kami, desah batin Shinta, sudah tahun kelima ini keluarganya berhari raya tanpa kehadiran Nenek. Shinta tak dapat membayangkan, nenek dalam kesendiriannya. Menekuri kesunyian batinnya. Sementara mereka akan makan bersama hanya bertiga lagi. Dan satu kursi yang disediakan untuk Nenek tetap akan kosong tak terisi.
           
***

Beginilah cerita ibu. Kisah tentang Nenek yang beku.
Rupanya, Nenek telah mempunyai jodoh untuk ibu. Putra seorang pejabat tinggi. Tentu keluarga mampu dan kaya. Keluarga orang terpandang dan berada. Selalu yang menjadi alasan, ini ihwal bobot, bibit, dan bebet keluarga. Asal usul yang terang, jelas, dan terpandang. Bukan keluarga “peteng” yang tak tahu juntrungnya.

Tapi ibu tak ingin dijodohkan dengan sang pilihan nenek. Ia membangkang. Karena telah punya tambatan hatinya sendiri. Pemuda sederhana dari keluarga biasa-biasa saja. Namun kebersahajaan hatinya cukup untuk memaknai hidup yang tenteram dan damai.

“Hidup ini tidak sesederhana cinta yang telah membutakan mata. Kau membutuhkan rezeki yang cukup untuk hidup di tengah kerasnya persaingan. Jika kau hanya mengandalkan cinta…makan saja itu cinta!”  Nenek marah membuang muka.

Ibu terdiam. Tak hendak membalas api dengan bensin yang hanya akan melukai. Ibu tahu ia telah membuat Nenek makin kesal. Ia sadar bahwa restu seorang ibu adalah restu Tuhan.
Tapi kali ini, Ibu telah mengeraskan hatinya.

Ia memilih sang ayah sepenuh jiwa.

Nenek pun bagai tembok Berlin. Berdiri kokoh dan bergeming. Keluarga ibu yang lain telah berusaha keras untuk membujuk dan melunakkan perasaan Nenek. Namun, hati seorang perempuan telah terlukai, telah menjadi badai yang mengamuk walau hanya dalam batin. Nenek membiarkan semuanya terjadi, perkawinan yang tak direstui secara batiniah. Perkawinan dalam suasana kesal dan amarah Nenek.

Isak tangis Ibu tak ada gunanya. Tak mampu menaklukkan “macan tidur yang terjaga”. Bertahun-tahun pun telah berlalu.
Tapi terhadap Ayah, Nenek tak menunjukkan rasa senang walau sedikit pun. Nenek selalu menghindar dan tak ingin bertemu muka dengan Ayah. Apalagi untuk sekadar bercengkerama, Nenek sudah memutuskan, Ibu adalah anak yang terbuang.
           
***

Shinta pada akhirnya berkirim surat kepada Neneknya. Bukan kata-kata yang dituliskannya pada selembar kertas putih itu. Akan tetapi, sebuah gambar sketsa meja makan, lengkap dengan hindangan dan kursi. Ia menggambar empat buah kursi. Satu digambarnya seorang laki-laki dewasa, dia tulis ‘Ayah’. Satu lagi digambarnya wanita dan ditulisnya ‘Ibu’, sedangkan satu lagi dia menggambar gadis kecil yang ditulisnya ‘Shinta’. Sementara dia gambar satu kursi yang kosong, tetapi dia menuliskan ‘kami rindu Nenek’.

Dua minggu sebelum Hari Raya, ia kirimkan surat itu melalui Kantor Pos dekat rumahnya. Dan setiap usai salat, ia selalu berdoa agar Tuhan melunakkan hati Neneknya, dan bisa berhari raya bersama keluarganya. Hari-hari berlalu sudah. Tanpa terasa bulan suci Ramadan pun hampir usai. Shinta menitikkan air mata setiap usai mendoakan neneknya.

“Kamu tidak boleh cemas dan sedih hati. Biarlah tangan ajaib Tuhan yang akan membimbing Nenekmu sampai kemari. Tapi….,” ujar Ibu sembari mengelus rambutnya yang panjang. Shinta menatap wajah ibunya dengan penuh harap dan cemas. Bahwa Hari Raya kali ini tak lengkap tanpa kehadiran Nenek di tengah mereka.

“Jika Nenek tak juga hadir di tengah kita, masih ada Hari Raya di tahun-tahun mendatang. Siapa tahu… Nenekmu akan berubah pikiran!” Ibu memberi semangat dan nasihat.
Shinta menganggukkan kepalanya yang mungil.
Ia memeluk Ibunya dengan sangat erat.

Menumpaskan segala rasa di hatinya yang lembut.
               
***

Pagi masih remang-remang. Matahari masih enggan bangkit dari peraduannya di ufuk timur. Cahayanya temaram diselimuti mendung yang tipis. Hari ini adalah hari kemenangan, hari yang menegasi kembalinya manusia pada kesuciannya. Orang-orang berbondong-bondong untuk saolat id. Ada yang menuju lapangan terbuka, ada pula yang menuju masjid-masjid “besar”. Orang-orang merayakan Hari Raya dengan penuh gembira. Meskipun ada yang tak penuh berpuasa selama satu bulan.

Usai salat id, orang-orang tak bergegas pulang. Mereka saling meminta dan memberi maaf dengan bersalam-salaman. Anak-anak kecil berharap “angpau” Hari Raya yang banyak. Mereka keliling dari rumah ke rumah tetangga.

Ayah, Ibu, dan Shinta, pagi itu sudah kembali ke rumah. Ibu sudah menyediakan hidangan makanan istimewa untuk menyambut Hari Raya di meja makan. Ayah dan Ibu sudah duduk di kursinya masing-masing. Shinta melihat masih ada satu kursi yang belum ditarik. Ia pun menariknya dari bawah meja makan.

“Ini untuk Nenek…,” desahnya penuh harapan.

Mereka kemudian berdoa sebelum makan. Ayah meminta Shinta untuk memimpin doa. Agar Tuhan memberi berkah pada keluarga mereka.

“Ya, Tuhan… jauhkanlah kebencian di hati kami. Hindarkan rasa iri, dengki, dan amarah bersemayam di hati kami. Dan jadikanlah kami orang yang pemaaf. Wahai Tuhan, sentuh dan gerakkan hati Nenek agar bisa memaafkan Ayah dan Ibu, dan kembalikanlah Nenek kepada keluarga kami… kami bersyukur atas nikmat dan rezeki yang telah engkau berikan kepada kami hari ini dan yang akan datang…. Kabulkan doa kami, Tuhan. Amin!.”

Tiba-tiba bel pintu depan berbunyi. Tanda ada tamu yang datang. Ibu bergegas membukakan pintu.

Degg!

Nenek berdiri di rahang pintu.

Shinta berlari memeluknya.

“Dua hari lalu, aku menerima pesan dari malaikat. Meskipun malaikat itu tidak bersayap dan terang benderang. Ia mengirimkan surat kepadaku. Bukan dalam bentuk tulisan, melainkan dalam bentuk gambar orang-orang yang tengah patah hati. Jadi… aku kemari untuk mengobati hati yang terluka dari cucuku yang manis ini…,” Nenek memeluk erat Shinta.

Sembari berurai airmata! n


Yogyakarta, Juli 2014


Lampung Post, Minggu, 15 Februari 2015

Sunday, February 8, 2015

Sang Penulis

Cerpen Mashdar Zainal


SESEORANG mengatakan menulis itu sebuah ilmu dan ilmu itu seperti sebuah pisau, jika tidak dipakai atau diasah, ia akan tumpul. Maka, malam ini, setelah berbulan-bulan tidak menulis, aku mencoba memulainya lagi. Dan baru saja kusadari, bahwa pisauku telah benar-benar tumpul. Banyak ide meletup-letup dalam kepalaku, seperti gelembung bubur yang mendidih di dalam periuk di atas tungku. Begitu panas dan butuh dituangkan. Namun, ini tak semudah kedengarannya.

Aku sudah duduk di depan laptop selama hampir satu jam dan layar monitor masih putih sempurna. Hanya kursor kecil berkedip-kedip seperti mengejek. Aku jengkel dan mulai memikirkan kalimat yang menarik untuk membuka paragraf awal. Tanganku mulai bergerak, memencet tombol-tombol huruf di keyboard, suaranya sedikit berisik, seperti ketukan sepatu di ubin keramik.

Satu kalimat telah tertuang. Kubaca lagi. Berulang kali. Baru kusadari bahwa aku tak pernah menemukan kalimat pembuka yang lebih buruk dari itu. Pragraf awal dari sebuah cerita adalah hal yang sangat menentukan, tak ubahnya sebuah pintu gerbang untuk masuk ke kedalaman cerita. Jika pintu itu salah atau terkunci, pembaca takkan sudi masuk ke dalamnya, dan cerita itu pun hanya akan menjadi sebuah tulisan yang gagal. Tulisan yang ditulis oleh seorang yang mungkin saja hanya pecundang.

Aku menekan tombol backspace lama sekali, sampai deretan huruf itu hilang dan layar monitor kembali menjadi putih. Dan kursor kurang ajar itu kembali berkedip-kedip mengejekku.

Aku kembali tercenung memikirkan kalimat pembuka yang lain. Kalimat pembuka yang mungkin pantas untuk dibaca siapa pun. Setelah beberapa jenak, aku tersenyum dan kembali menuliskannya seperti orang mabuk. Sebuah kalimat pembuka telah berjajar di layar putih.

Kalimat pembuka itu kubaca berulang-ulang dengan bangga, hingga tiba-tiba seseorang tengah menggetok kepalaku dengan palu, aku menyadari sesuatu, kalimat pembuka itu memiliki citarasa seperti sebuah puisi yang tidak matang. Penuh metafora tapi kering. Aku tak percaya bahwa aku yang barusan menuliskannya. Aku menghela napas. Kutekan tombol Ctrl+A dan kemudian Del. Layar bersih seperti semula.

Aku duduk bersila dan mengambil napas pelan. Menatap layar monitor yang kosong itu dengan saksama. Kursor kecil itu masih saja berkedip-kedip. Genit sekali. Barangkali ia akan terus berkedip-kedip seperti itu sampai laptop itu kehabisan baterai dan listrik mati. Aku seperti tercenung. Dan mendadak semuanya menjadi sunyi. Aku terus menatap layar putih itu dan berharap sebuah keajaiban terjadi.

Menulis memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Sampai-sampai kepalaku sedikit pening gara-gara memikirkan bagaimana memulai paragraf pertama. Kepalaku benar-benar pening. Dan berat. Hingga langit-langit bagai berputar. Aku memejamkan mata. Membiarkan diriku membeku dalam keheningan. Dengan begitu rasa pening di kepalaku bisa sedikit berkurang. Mungkin.

Setelah beberapa menit, dalam keheningan, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan yang bertubi-tubi dari dalam laptop, seperti suara tombol huruf yang diketuk berkali-kali dan berganti-ganti. Suaranya tak begitu nyaring, seperti dari dalam pengeras suara dengan volume terlalu kecil. Namun, mendadak di layar putih itu muncul huruf-huruf yang saling mengejar. Aku mengucek mata. Tak percaya. Tapi aku membacanya… terus membacanya…

Lelaki di depan laptop itu jengkel pada dirinya sendiri. Ia ingin menulis sesuatu namun tak pernah berhasil. Kepalanya telah menjadi pisau yang tumpul dan tak bisa digunakan untuk mengiris kata apa pun. Ia menyesal sebab lama tidak mengasah pisau itu. Kini, setiap kalimat yang ditulisnya ia rasai seperti merajam dirinya sendiri.

Lelaki itu sebenarnya punya ide bagus tentang kisah cintanya yang dikhianati, ia ingin menuliskannya, tapi ia gagal sejak kalimat pertama. Padahal kisah itu tidak terlalu rumit, hanya seorang wanita yang menolak dinikahi seorang pria yang konon pekerjaannya adalah penulis.

Pekerjaan yang tak boleh tercantum dalam daftar identitas. Mengingat detik ini ia tidak berhasil memulai tulisan apa pun. Ia pun mulai ragu pada dirinya sendiri dan beranggapan bahwa keputusan kekasihnya itu keputusan yang adil. Pekerjaan menulis memang tidak bisa diharapkan. Menulis memang tidak lebih mudah dari menjadi seorang buruh pabrik, pikirnya. Buktinya ia hanya terlongok di depan laptop selama berjam-jam dan tak menghasilkan apapun. Malah kepalanya yang jadi pening. Ia sadar, itu kesalahannya: ia terlalu lama tidak menggunakan pisaunya.

Lelaki itu memang tak kenal menyerah—atau bebal? Ia bersumpah pada dirinya sendiri, ia tak akan beranjak dari laptopnya sebelum menghasilkan sebuah tulisan, setidaknya tiga halaman. Namun begitulah, sampai detik ini ia masih bengong dan tak bisa memulai tulisannya. Ia masih saja berjibaku memilah ide-ide dan kalimat-kalimat pembuka yang menarik, yang semuanya berselengkatan dalam kepalanya.

Bagaimana kalau aku menuliskan kisah ibuku, bisiknya dalam hati. Namun ia sadar, ibunya tak pernah memiliki kisah yang menarik. Keluarganya baik-baik saja. Dan menulis sesuatu yang baik-baik saja tentu kurang menarik. Kini ia berimajinasi, ibunya gantung diri karena ayahnya selingkuh dengan bibinya. Lalu suami bibinya silih menusuk ayahnya sebab menyelingkuhi istrinya. Oh tidak, itu kisah yang rumit dan terlalu tragis, pikirnya kemudian. Ia menyerah, ia memang tak bisa mengambil ide apa pun dari kisah keluarganya, alih-alih membuat kalimat pembuka yang menarik.

Setelah berpikir lagi, sedikit lama, lelaki itu lekas menyadari bahwa masalahnya bukan pada ide ataupun kalimat pembuka, tetapi pada bagaimana pisau itu bekerja dengan baik. Merajang kata-kata dan meraciknya menjadi kalimat yang lezat. Mustahil, oh mustahil, ia bahkan bingung apa yang sedang bergejolak di kepalanya. Yang jelas, semua kegalauan ini berujung pada kesalahannya sendiri: ia terlalu lama tidak menggunakan pisaunya. Kini pisau itu sudah tumpul. Dan ia baru tahu rasa.

Lihatlah! Lelaki itu hanya memelototi layar laptopnya yang kosong dengan tatapan kosong. Kosong sekosong-kosongnya. Lihatlah lelaki itu. Kau mengenalnya lebih baik dari siapa pun. Pecundang itu. Lelaki itu. Yang konon adalah seorang penulis. Sang penulis.

Aku? n

Malang, 2014


Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2015

Sunday, February 1, 2015

Wajah dalam Potret

Cerpen Siti Marliah


“KAU masih suka memelihara mawar?”

“Begitulah,” ujar wanita berkacamata itu.

Hampir bersamaan kedua perempuan itu memandang mawar yang sedang mekar di halaman. Ada beberapa mawar di dalam pot-pot dengan berbagai ukuran. Tapi hanya ada satu tangkai yang sedang berbunga di sana. Kedua perempuan itu dapat mengamati kelopak merah dari kursi teras tempat mereka duduk. Di antara tanaman pot dan pohon palem yang berjajar rapi terpakir Honda Jazz putih di halaman.

Kedua perempuan itu memiliki tinggi yang sama. Salah seorang dari mereka mengenakan kacamata dan sebuah syal membebat lehernya. Perempuan berkacamata itu masih memegang buku bacaan. Sementara perempuan di depannya mengetuk-mengetukkan jemarinya di atas meja. Dua gelas teh tampak anggun di atas tatakan. Sebuah kertas hijau toska berpita merah tergeletak di atas meja.

“Kenapa tetap warna merah?”

“Aku menyukai mawar merah, Maya. Dan aku tidak mudah berubah.”

“Aku pun suka mawar. Tapi aku tak punya cukup waktu untuk merawat tanaman.”

“Kau bekerja sangat keras.”

“Aku hanya merasa perlu melakukannya.”

Maya tersenyum dan mengambil teh dari tatakan lalu menyeruputnya. Ia meletakkan kembali cangkir itu di atas meja. Beberapa kali jemari kanannya meremas jemarinya yang sebelah kiri. Perempuan di hadapannya mengamati setiap gerakannya.

“Sudah tiga tahun. Kau telah banyak berubah. Kau lebih anggun dan dewasa.”

“Semoga kau bukan sedang berkomentar tentang umur, Andini,” ujar Maya sambil menarik anak rambutnya ke sela daun telinga.

“Hahaha... Kenapa kau begitu gugup, Maya? Ayolah, kita baru 28 tahun,” Maya kembali mengambil gelas teh dan menyeruputnya lalu meletakkannya kembali. Perempuan itu membetulkan posisi duduknya. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas lututnya sendiri.

“Dua puluh delapan tahun adalah alasan yang tepat untuk segera menikah.”

“Tentu. Dan kertas ini sudah di sini, apalagi yang kau cemaskan?” ujar Nandini sambil memegang kertas berpita merah di atas meja.

“Tidak. Mungkin aku hanya terlalu bersemangat.” Maya kembali menggeser posisi duduknya.

“Mahesa orang yang baik.”

“Iya. Dia telah banyak belajar dari kegagalannya.”

Nandini mengangguk dan tersenyum. Ia meletakkan buku bacaan di atas meja dan menghela napas panjang. Wanita itu mengambil gelas teh dan menyeruputnya. Ia tetap memegang gelas hangat itu.

“Aku pun belajar banyak hal dari dia,” ucap Andini lalu kembali tersenyum dan menaruh gelas di atas tatakan.

“Gagal bukan sebuah kesalahan. Sekarang itu hanya masa lalu,” lanjutnya.

“Kau benar, Andini,” ujar Maya. Hari mulai sore dan sinar matahari menerobos ke dalam teras. “Lalu kapan kau akan balas mengirimiku undangan?” lanjut Maya berseloroh.

“Oh... Tampaknya kau harus sedikit bersabar,” balas Andini.

“Ayolah, Din. Jangan mematahkan hati laki-laki lebih banyak lagi.”

“Haha.. Bukan begitu, Maya. Aku ingin fokus menyelesaikan disertasiku.”

“Baiklah. Tidak pernah ada yang bisa memaksamu, Andini.”

Maya kembali mengambil gelas teh dan menyeruputnya. Semetara Andini membuka dan mengamati kertas hijau toska berpita merah. Wanita itu meletakkan kacamatanya dan tersenyum.

“Aku suka desain undanganmu. Foto yang bagus. Kalian tampak serasi,” kata Andini.

“Mahesa yang mendesainnya. Aku hanya membantu memilih warnanya.”

“Pilihan warna yang bagus. Oh, mengapa Mahesa tak ikut kemari? Seharusnya kita bisa melakukan reuni kecil di sini.”

“Tidak. Dia banyak lembur untuk mengambil cutinya. Dia hanya menitip salam untukmu dan berharap kau datang.”

“Oh, sayang sekali. Tapi, setidaknya aku bertemu denganmu lagi setelah tiga tahun.”

“Baiklah. Sebentar lagi hari akan gelap, aku harus membeli beberapa barang sebelum kembali ke hotel. Aku akan kembali ke Semarang besok pagi,” ucap Maya.

“Kau sangat buru-buru rupanya.”

“Kau tahu, banyak yang harus aku kerjakan di sana.”

“Baiklah.”

“Sebelum aku pulang aku harus tahu. Akankah sahabatku memastikan kedatangannya di hari pernikahanku?” tanya Maya.

“Tentu saja, Maya. Namaku akan ada di urutan pertama dalam buku tamumu,” balas wanita berkacamata. “Aku pasti akan datang,” lanjutnya.

Kedua perempuan itu berbagi pelukan. Maya mengenakan sweter dan mengambil tas tangannya di atas kursi. Ia merogoh tas itu dan mengeluarkan kunci mobil. Andini mengantar Maya hingga memasuki pintu mobil. Perempuan di dalam mobil itu membuka kaca jendelanya dan tersenyum.

“Sampaikan salamku pada calon suamimu,” ujar Andini.

“Tentu. Selamat malam, Andini.”
           
***

Honda Jazz putih itu melewati pintu gerbang dan melaju ke arah selatan. Hari telah gelap, Andini bergegas masuk setelah membereskan gelas dan buku bacaannya. Ia juga mengambil kertas undangan berwarna hijau toska di atas meja. Dibacanya kembali kedua nama yang tertera di dalam kertas itu.

Wanita berkacamata itu masuk ke kamarnya. Ia duduk menghadap bingkai foto yang tergantung di tembok di samping tempat tidurnya. Bingkai itu memajang foto dirinya bersama Maya yang tengah bertoga. Ia lekas beranjak ke laci mejanya. Diletakkan undangan pernikahan Maya di sebelah undangan lain yang telah pudar warna merahnya. Di sampul depan undangan pudar itu tertera namanya sendiri dan nama Mahesa. n

Bandar Lampung, 2014


Lampung Post, Minggu, 1 Februari 2015