Sunday, July 25, 2010

Eyang Sentot

Cerpen Luhur Satya Pambudi


AMBULANS yang membawa jenazah Eyang Sentot perlahan-lahan meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal Almarhum. Aku duduk tepat di belakang sopir, di dekat peti jenazah bersama beberapa orang tetangga Eyang Sentot. Sebagai wakil keluarga, menjadi tugasku untuk menjadi penunjuk jalan bagi supir ambulans menuju makam. Sekitar dua ratus meter menjelang jalan besar, tiba-tiba ada sesuatu yang menghentikan laju rombongan pembawa jenazah. Pelakunya adalah dua orang perempuan cantik separuh baya yang lantas mendekati ambulans.

"Pak, kami berdua mau ikut," tukas salah satu dari mereka.

"Eh, iya. Silakan, Bu, di belakang sepertinya masih ada tempat," sahut sopir ambulans yang sesungguhnya cukup heran melihat hal yang dihadapinya. Pintu belakang ambulans kubuka, mereka berdua menghambur masuk, lalu duduk di sampingku. Rombongan pembawa jenazah kembali merayap.

"Sudahlah, Jeng. Hapus air matamu," ujar salah satu dari mereka.

"Hiks, tapi sedih je, Mbakyu. Ndak mungkin kita bakal ketemu lagi sama Pak Sentot. Aku terkenang banget sama kebaikan beliau," jawab adiknya dalam isak tangis.

"Sst, ya yang sabar, to ... Kita semua pasti juga merasa begitu. Wong memang Pak Sentot itu orang baik. Inggih to, bapak-bapak? Yang penting kita doakan beliau, semoga semua kebaikannya diterima dan dosa-dosanya juga diampuni sama Gusti Allah."

Aku mengenali mereka berdua sebagai murid Eyang Sentot ketika masih menjadi guru di sebuah SMA puluhan tahun silam. Bagi kakak beradik tersebut, Eyang Sentot merupakan guru favorit mereka sepanjang masa. Maka, begitu mengetahui bahwa beliau dirawat di rumah sakit, mereka pun datang dan setia menjenguknya, hingga hari ini beliau meninggal dunia. Konon, si adik yang biasa kupanggil Tante Endah adalah orang yang pernah dicintai oleh Eyang Sentot di masa mudanya. Tante Endah sendiri sejak masih menjadi muridnya sudah jatuh cinta kepada gurunya itu. Tapi Eyang Sentot dahulu pernah memegang teguh sebuah prinsip, yaitu tidak akan menikahi perempuan yang pernah menjadi muridnya.

***

Eyang Sentot adalah adik kandung kakekku dari ibuku. Sepanjang usianya beliau hidup sendiri, tak pernah merasakan mahligai rumah tangga dengan perempuan mana pun. Keluarga kami sangat dekat dengan beliau karena kamilah satu-satunya keluarga yang tinggalnya paling dekat. Semua kakak dan adik Eyang Sentot tinggal berbeda kota dengannya. Bahkan ketika kedua orang tuaku memutuskan pindah ke kota ini, Eyang Sentot menjadi salah satu alasan kuat mereka. Telah banyak hal yang dilakukan beliau untuk membantu kelangsungan hidup keluarga kami di sini, terutama masalah pendidikan kakak-kakakku.

Aku merasa dekat dengan Eyang Sentot karena beliau orangnya menyenangkan, senang bercanda, tak pernah marah, wawasannya luas, bijaksana, dan murah hati pula. Apalagi setelah ayahku tiada, Eyang Sentot bagaikan ayah kedua bagiku.

Kadang sejatinya inginku bertanya pada beliau, apa sebabnya beliau tidak menikah. Tapi rasanya aku terlalu sembrono jika sampai melakukannya. Tak seorang pun yang tahu persis apa alasannya melajang sepanjang masa. Tidak juga ibuku yang notabene adalah keponakan terdekat Eyang Sentot sendiri.

"Yang Ibu tahu, dulu Eyang Sentot pernah punya kekasih. Tapi eyang buyutmu--bapak ibunya Eyang Sentot --sama sekali tidak setuju dengan pilihan putra mereka. Tapi Ibu juga tak tahu pasti, apakah itu alasan beliau melajang seumur hidupnya atau ada alasan lainnya,“ kata ibu suatu ketika.

"Padahal mungkin banyak perempuan yang suka dengan beliau ya, Bu? Apa sih kurangnya Eyang Sentot sebagai seorang laki-laki? Orangnya sangat baik, sabar, penyayang, suka memberi, dan selalu menghargai orang lain, apalagi pada kaum perempuan. Lagi pula secara materi beliau juga tak pernah kekurangan. Sekarang sudah sepuh, Eyang Sentot juga masih ganteng dan terlihat gagah kok," komentarku.

"Ya, memang benar. Makanya beliau selalu menjadi favorit murid-muridnya saat masih mengajar dulu. Bahkan ada seorang murid perempuannya saat SMA yang masih terus memberi perhatian pada Eyang hingga kini. Padahal dia sudah lama juga menikah."

Belakangan, yaitu setelah Eyang Sentot masuk rumah sakit, baru kutahu bahwa murid yang diceritakan ibuku adalah Tante Endah. Dan dapat kulihat sendiri wujud begitu perhatian dan sayangnya perempuan tersebut kepada guru SMA pujaan hatinya, ketika kami bertemu di rumah sakit.

***

Sejak beberapa tahun sebelum sakit, Eyang Sentot memiliki semacam anak angkat. Bukan anak angkat seperti lazimnya, karena Dodik-nama bocah itu-sebenarnya anak tetangganya. Tapi karena sejak bayi Dodik sudah dekat dengan Eyang, sampai bocah itu sekolah kelas VI SD jadi seperti anak angkat beliau, atau mungkin lebih tepat seperti cucunya sendiri. Dodik shock berat ketika Eyang Sentot masuk rumah sakit. Apalagi ketika sebulan setelah itu Eyang akhirnya wafat. Orang yang paling menyayanginya selama lebih dari sepuluh tahun hidupnya tak akan ditemuinya lagi. Dodik akhirnya kembali ke rumah orang tuanya bersama kakak dan adik-adiknya.

Sebelum Eyang Sentot wafat, tepatnya beberapa hari setelah beliau masuk rumah sakit, keluarga kami sempat menjadi korban fitnah ibu kandung Dodik. Masa kami dituduh melakukan kesempatan dalam kesempitan, merampok harta Eyang, sementara beliau tengah lemah tak berdaya? Padahal sebagai kerabat terdekatnya, tentunya menjadi kewajiban kami untuk mengamankan dokumen dan benda-benda berharga, untuk nanti dikembalikan kepada Eyang Sentot jika beliau sudah sehat kembali nanti. Mungkin ibu Dodik khawatir jika anaknya tidak mendapatkan apa-apa sekiranya Eyang Sentot akhirnya meninggal. Benar-benar sebuah pemikiran yang busuk.

Syukurlah, ibuku dan juga kakak adik Eyang Sentot--yang tentu saja tak percaya keponakannya sejahat itu--begitu lapang hatinya. Sudah kami dihina sedemikian rupa, tapi masih bisa memaafkan ibu Dodik yang keruh hatinya. Bagaimanapun kami masih mengingat bahwa Dodik adalah “anak kesayangan” Eyang Sentot dan keluarga asli anak itu pun merupakan tetangga terdekat beliau.

Untuk lebih menenteramkan perasaan kami, aku pun berpendapat, "Saya percaya bahwa ibunya Dodik sebetulnya orang baik. Tapi bukankah orang baik pun bisa berbuat salah dan kesalahannya bisa jadi sangat besar?"

"Ya, mungkin memang lebih baik menganggapnya begitu. Kita juga mesti mengingat kebaikannya, dengan antara lain mengantarkan Eyang Sentot saat beliau sakit waktu itu. Dan kita juga masih perlu keberadaannya hingga Eyang pulang dari rumah sakit nanti," ucap Ibu padaku.

Sayang, akhirnya Eyang Sentot kembali ke rumah dalam keadaan telah wafat, setelah sekitar sebulan dirawat di rumah sakit. Menjadi duka yang mendalam bagi semua orang yang mengenalnya, termasuk kami, Tante Endah, juga Dodik dan keluarganya. Tapi bagiku, sebuah dukacita yang hebat-kehilangan Eyang Sentot-selanjutnya malah lebih mudah kulupakan ketimbang sebuah hinaan tak berarti, yang pernah dilakukan oleh ibu Dodik kepada keluarga kami. Yah, barangkali aku mesti belajar menjadi orang yang lebih ikhlas lagi nanti. n


-------------
Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Tinggal di Yogyakarta.


Lampung Post, Minggu, 25 Juli 2010

Sunday, July 18, 2010

Antara Rumah dan Kebun

Cerpen Han Gagas


AKU terbangun di tengah malam oleh rasa lapar. Perut yang melilit dan keroncongan telah mengalahkan kantukku yang berat. Sebungkus mi instan mulai aku siapkan tapi tercium bau harum menusuk hidung menghentikan aktivitasku. Bau seperti bunga mawar, atau melati, tapi juga mirip harumnya kantil. Ahh, bukankah ketiga kembang itu adalah bunga ziarah. Hatiku berdesir.

Bau itu bertambah menyengat hidungku. Halaman tak ada tanaman bunga, cuma bonsai beringin dan asam yang kubawa tadi pagi dari kontrakan. Mungkinkah bau ini berasal dari kebun itu? Tubuhku bersiaga. Kuhentikan ujung jariku yang hendak menyobek bungkus mi. Segala inderaku memeka. Terdengar dericit serangga garengpung dan desis kipas angin yang berputar, selebihnya hanya kesunyian belaka.

Bukankah angin serasa mati, kalau benar dari kebun, dengan apa bau itu bisa terbawa hingga kemari? Apakah sebuah bau bisa melayang di rongga udara tanpa sedikit pun angin meniupnya. Kipas angin yang berputar tampaknya tak akan bisa menjangkau sampai kebun itu, bahkan halaman pun tidak.

Kakiku melangkah dengan pikiran yang waspada menuju jendela pintu utama. Dari sana segala yang ada di muka rumah bisa tampak lebih jelas. Langkah demi langkah kugerakkan dengan keberanian kelu untuk mengalahkan sesuatu yang menakutkan yang melintas di benakku. Dan, nyaliku ternyata tak cukup berani untuk melihat apa yang terjadi.

Aku menghidupkan televisi agar ada perasaan ditemani. Iklan produk memorak-porandakan suara-suara tadi; dericit garengpung dan kipas angin yang mendesis. Ketika aku meninggalkan kamar tadi, istriku tidur dengan bayi kami yang melingkar di perutnya. Sebenarnya tidur bayi itu gelisah tapi kipas angin yang berputar dan irama tepukan tangan di pantatnya membuatnya jatuh tertidur lagi. Sedangkan istriku, tampaknya ia juga gelisah, dan wajahnya pucat, hanya karena kelewat kelelahan membuatnya bisa jatuh tertidur. Seharian pindahan dan membereskan segala sesuatu membuat tubuhku juga pegal-pegal. Tapi bukan kelelahan itu yang menjadi persoalan. Siapa pun mestinya merasa bahagia dan berpengharapan baik ketika menempati rumah baru, tapi kami, tiada rasa yang meliputi selain waswas dan perasaan aneh.

Suara televisi yang mengusir kesunyian menebalkan nyaliku. Kakiku kembali melangkah, jengkal demi jengkal menuju kusen jendela. Dengan ujung jari kusentuh tepi korden putih ini-korden pemilik rumah lama yang terasa kasar di jariku. Aku hendak membukanya tapi hatiku kembali berdesir. Bau harum bunga kembali menusuk, lebih keras, sepertinya seluruh ruang tamu ini diisi begitu wangi oleh bau itu.

Sehabis magrib tadi aku mengunci pintu utama, lalu membuka korden itu dan melongokkan kepala untuk memastikan apakah pagar rumahku sudah terkunci atau belum. Dari sudut itu, latar belakang pagar itu dengan jelas tergambarkan. Seruas jalan desa, dan dibaliknya menghampar kebun yang luas dengan pohon-pohon yang campur aduk: mahoni, waru, jati, mangga, dan lamtoro. Sebagian menjulang terlalu tinggi hingga melampaui kabel listrik di jalan. Gelap membias, dengan bayang-bayang pohon yang meraksasa. Aku berdoa: semoga malam pertama ini terlewati tanpa sesuatu yang menakutkan.

Kini, aku khawatir akan menemukan hal berbeda di kebun itu. Ada kabar mengerikan tentangnya yang aku dengar, tapi aku mengacuhkannya saat itu karena harga rumah ini begitu cocok dengan kocek kami yang tipis. Aku pegawai rendahan yang keuangannya harus dibantu istriku dengan menjahit. Hidup di zaman sekarang harus dihadapi berdua sambil mengetatkan ikat pinggang, agar terus bisa berjalan tanpa harus berutang pada rentenir.

Kami mencari rumah yang cocok sudah terlalu lama. Tiga bulan lebih ke sana kemari dibawa makelar-makelar tanah yang menganggapku daging empuk. Juga memeriksa iklan di koran lokal. Semuanya nihil. Kelewat mahal. Mungkin kami bisa membelinya dengan menjaminkan SK pengangkatan pegawaiku tapi aku tak bisa berpikir lagi bagaimana mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang dipotong hampir tiga perempat. Apalagi ASI istriku sudah tak keluar, susu formula demikian mahal, dan bayiku termasuk anak yang rakus pada susu itu.

Sungguh pilihan yang sulit manakala aku menemukan rumah ini yang sangat murah dan terjangkau-rumah petak dengan satu kamar, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi-tapi lengkap dengan kabar kebun itu yang mencengangkan. Seorang makelar menerangkannya disertai Pak RT yang rumahnya agak jauh dari tempat ini.

"Banyak yang melirik rumah ini tapi setelah mendengar cerita tentang kebun itu maka para calon pembeli mengurungkan niatnya. Sebenarnya itu bukan hal yang gawat, yang penting kita percaya dan yakin sama Tuhan, bukankah begitu, Pak RT?" Makelar itu meyakinkanku tapi dengan nada yang ragu. Matanya memohon persetujuan Pak RT.

Pak RT hanya manggut-manggut saja sambil tersenyum samar.

"Sebagai makelar saya harus menceritakan ini karena orang membeli rumah tidak hanya beli bangunan dan tanah tapi juga lingkungan. Saya tak mau dibilang bohong karena menutupi sesuatu." Wajah makelar tampak serius dengan mata bulat-bulat seperti dibuat-buat.

Pak RT manggut-manggut lagi. Aku terbawa juga, ikut manggut-manggut.

Cerita itu aku simpan sendiri. Kueram di dada. Aku tahu betul sifat istriku. Ia amat takut dengan hantu, segala cerita, bahkan pada hantu guyonan atau hantu pura-pura yang sering ditampilkan di televisi. Sungguh ia akan segera memindah gelombang atau mematikan televisi itu dengan kesal.

Aku memutuskan membeli rumah itu tanpa menceritakan kisah kebun itu pada istriku. Hidup di kontrakan sangat menderita, tak punya privasi, dan pemilik rumah selalu bertindak seperti raja. Minta dituruti, dihormati, dilayani. Sungguh menyebalkan. Lagipula kontrakan itu sudah tak bisa diperpanjang lagi. Mencari kontrakan lain juga tak mudah. Apalagi uang tabungan kami sudah terkumpul lumayan, bila tidak segera digunakan bisa tercecer-cecer lagi. Dengan alasan-alasan itu pula istriku menyetujui, manut katanya.

Esoknya kami segera pindahan, menyewa mobil pikap untuk mengangkut barang-barang. Ketika kami menurunkan barang di halaman rumah baru, seorang tetangga datang. Aku merasa bakal ada sesuatu yang tak biasa. Sial. Perempuan muda itu terlalu banyak bercerita, mencerocos tanpa henti, seperti kran yang airnya mengocor.

"Wah, ibu adalah perempuan paling berani yang saya kenal," lanjut tetangga itu dengan ramah, namun segera menyengat instingku.

"Kenapa?" sahut istriku.

"Lho, ibu belum tahu ceritanya?"

Istriku mengerenyit. Ia menggeleng. Aku hendak segera mencegah obrolan itu tapi tangis bayi di gendonganku menghentikan langkahku. Kupanggil istriku tapi ia diam saja. Aku segera berlari ke arah mereka, tapi...

"Ibu tak tahu bahwa kebun itu dulunya adalah tempat pembuangan bayi-bayi hasil aborsi. Dan rumah ini adalah milik bidan keparat itu. Kami telah mengusirnya pergi. Setiap ada yang menempati rumah ini, bayi-bayi itu seakan hidup lagi menuju rumah ini menuntut bidan itu agar nyawanya dikembalikan."

Tenggorokanku tercekat. Kata-katanya kelewat cepat keluar. Paras istriku berubah drastis. Menjadi pias, tanda ia amat ketakutan.

"Kenapa ibu bicara begitu!" sergahku kasar.

"Maaf, Pak." Ia buru-buru pergi.

Tubuh istriku bergetar. Kuiringkan langkahnya menuju sofa, dan mendudukkannya. Bayi kami terus menangis, karena tangisan ini ia tak terlalu menuruti perasaan takutnya. Namun, pandangannya kini beralih ke kebun itu, dan rumah ini, wajahnya bertambah pucat. Aku segera mengambil segelas air putih, dan ia meminumnya dengan lekas.

Perasaan menyesal mengganggu pikiranku. Aku mendekati istriku yang kini dilanda kemarahan. Wajahnya yang pucat berangsur memerah.

"Ini soal besar, Mas! Tapi kau tak berterus terang padaku." Dadanya berguncang, matanya berlelehan.

"Aku minta maaf. Tapi kau tahu, kan keadaannya. Keuangan kita, tak ada rumah yang murah di zaman sekarang dan pemilik kontrakan sudah menyuruh kita pergi. Kita punya iman."

Istriku diam, sesenggukan.

"Semua telah aku bayar lunas dengan uang kita."

"Kita jual lagi. Kita pindah saja!"

"Kita yakin sama Tuhan. Orang mati tak bisa mengganggu hidup kita, kalau mengganggu, Tuhan yang melindungi." Kata-kata itu menusuk jantungku sendiri. Lebih terasa itu untukku.

Istriku duduk sesenggukan, kakinya ditekuk berpeluk pada lutut. Aku memeluknya. Ini tangisan terlamanya. Perlahan dadaku ikut terguncang. Apakah aku terlalu memaksakan diri terhadap pilihan ini?

Senja memerah menyapu halaman rumah. Kutatap kebun itu, merahnya senja juga menghampar di sekujur tubuhnya. Menerobos dahan dan daun juga rumpun ketela. Sepi tak ada orang melintas. Ruas jalan ini buntu, di ujung sana adalah tepi sebuah sungai. Gelap hampir turun, langit mulai kelam, kami terus berpelukan, menguatkan satu sama lain, bayi kami sedang pulas di dipan itu. Sepertinya karena bayi kami yang pulas itulah yang memompa nyali istriku. Malam telah memerangkap semuanya. Tak bisa tidak, malam ini harus tidur di sini. Aku meyakinkan istriku dengan doa yang khusyuk.

Malam pertama di tempat baru membuat kami tak bisa tidur seperti biasanya. Bayi kami tampak gelisah, juga istriku, tapi keterpaksaan ini kami jalani dengan sepenuh doa. Akhirnya karena kelelahan pindahan, kami bisa jatuh tertidur.

Lampu tiba-tiba mati! Gelap. Aku tergeragap. Mataku memicing. Keadaan yang semula berisik oleh suara televisi mendadak hening hanya ada suara dengkur istriku yang berkelindan dengan dericit garengpung. Untung istri dan anakku tak terbangun karena gelap ini. Ujung jariku masih memegang korden ini. Pikiranku beralih hendak mencari lampu senter tapi terdengar suara dari luar yang mengagetkanku. Jantungku berdetak kencang, kulitku memeka, merinding.

Terdengar dengan jelas suara seperti langkah kaki yang diseret. Dan, tercium bau busuk yang sangat menyengat. Seperti bau bangkai. Di manakah bau harum tadi?

Kakiku terpaku di tempat. Ujung jariku kaku memegang korden. Tak bisa digerakkan. Muncul tawa cekikikan anak-anak kecil di luar. Tanganku gemetar. Jantungku copot!

Suara langkah terseret makin dekat...

Aku hendak berdoa, tapi lidahku kelu. Tenggorokanku tercekat!

Terdengar suara menyayat-yayat, memilukan. Isak tersedu.

Aku hanya bisa membatin esok akan menziarahimu dengan bunga tiga rupa itu: mawar, melati, dan kanthil.

Solo, 5 Mei 2010


-----------
Han Gagas, cerpennya dimuat sejumlah media massa nasional dan daerah. Anggota redaksi buletin Pawonsastra Solo. Buku kumpulan cerpennya Jejak Sunyi (2008).



Lampung Post, Minggu, 18 Juli 2010

Sunday, July 11, 2010

Memasung Malam

Cerpen Fahri Asiza



MENUANG arak dari botol penghabisan tak jua membuat Iskandar mau meledak perutnya. Tawanya makin gurih kala tetesan arak yang dihamburkan ke mulutnya berpencaran menetesi dagu dan jatuh memburai di tanah. Lapak kecil yang terletak di pojokan jalan dibahani tepukan penyemangat.

Setelah tetesan terakhir yang bersisa di dagu bagian bawah diusap, lalu dijejalkan ke mulut, tepukan kembali merajai malam kelam. Iskandar bangkit berdiri, menahan huyungan badan. Matanya mulai tak berteman, lingkarannya mengecil dengan sedikit gumpalan di bagian bawah. Kedua tangannya disentakkan ke atas, menantang dingin dan mengirimkan kabar ke pelosok langit.

"Hiaaaaaaa! Mana uangnya? Mana?"

Gofar mengambil setumpuk uang dari saku celananya. Amarahnya mulai mendekati ujung. Di kampung ini dia terkenal sebagai peninum arak tanpa mabuk, namanya sudah mengedar ke segenap penjuru angin. Iskandar datang, takhtanya pun tumbang.

"Besok kita beradu minum lagi," sengitnya sembari melempar uang di meja, menyelinap di antara botol-botol arak dan gelas yang letaknya sudah lintang pukang.

Entah kapan kembalinya anak muda bernama Iskandar yang dikenal sebagai putra tunggal Haji Sobirin itu. Lama tak berkabar kecuali Iskandar melaut ke tanah seberang. Sempat pula membikin Haji Sobirin, yang dikenal sebagai Imam Masjid Al Furqon itu, terperangah dengan mulut menganga, lalu merangkulnya disertai titikan air mata. Putra semata wayangnya yang menurut kabar lenyap di lautan, datang dengan segar bugar.

Teringat pula kepergian Iskandar yang tak pernah jelas, setelah Munah, gadis yang sejak kecil dilimpahi cinta, tiba-tiba dikawinkan dengan lelaki tua beristri tiga. Menikahnya Munah membuat runtuh akar-akar Iskandar, batangnya tumbang dan seluruh daun berluruhan. Siang malam hanya bisa menangis meratapi kesedihan. Lalu tiba-tiba, sosoknya lenyap bersama angin malam. Tak ada yang tahu, Haji Sobirin pun tak paham. Munah menangis diam-diam, tapi tetap menurut digeret ke ranjang, apalah daya karena dia perempuan.

Sebulan kembali ke tanah harapan, Iskandar telah berpaling hulu dan ladang. Dia sudah berani berbaku hantam dengan marbot masjid yang dianggapnya lalai karena satu subuh tak sempat berazan karena masih terlelap. Berani pula menerjang-nerjang di pasar, meminta uang pada para pedagang. Terlebih gila dia mendatangi rumah Munah, berani meraih tangan mengajak Munah lari dari sana. Munah menolak, menjeritkan kalau dia tak kuasa meninggalkan dua putranya yang masih kecil. Iskandar meradang. Munah ditamparnya, dimakinya dengan sebutan yang menyisakan kemarahan. Lalu beberapa orang berseragam membawanya keluar, melemparnya. Untung suami Munah masih bertabik baik meski kemarahannya tak kuasa dibendung.

Haji Sobirin yang merasa siap terlelap panjang menunggu jemputan Izrail dalam naungan damai, merasa perlu berdoa pada Tuhan agar umur diperpanjang dan dia bisa mengembalikan Iskandar ke jalan asal. Karena suami Munah meski dituturkan penuh kelembutan, menebar paku-paku panas di sekelilingnya. Bila tak memandang wajah tuanya, Iskandar akan lenyap dari muka bumi.

"Kau beradu menenggak arak lagi, Is?" Gelegak darahnya menumpah-numpah ketika melihat Iskandar pulang terhuyung limbung membawa uang banyak di tangan. Sebagai imam masjid, tak ada lagi tempat untuk meletakan muka karena semua sudah tahu perihal Iskandar.

Iskandar tertawa sengau, lalu berdahak mirip suara lembu di kandung kala malam. "Tapi aku bawa uang banyak, Bapak. Lihat, lihat... Dengan uang ini, aku akan membeli Munah, Bapak! Karena ini yang bisa membuat Munah lari dariku!"

"Is! Inikah yang kau pelajari dari tanah seberang setelah kau menghilang? Allah murka dengan hamba-Nya yang tak mengindahkan larangan-Nya."

"O, begitu, lantas mengapa Dia membiarkan Munah dipelaminani lelaki tua yang harusnya berkalang ajal? Kenapa, Bapak? Kenapa?"

Selimbung tubuh Iskandar, batin Haji Sobirin limbung pula. Perkiraannya Iskandar pulang tanpa lagi membawa kepedihan lalu. "Karena itulah batasan dari Allah, Nak, rahasia Yang Mahabesar."

Tangannya mengibas menampar angin, kedua lulutnya bergetar hebat. "Aku tak perlu rahasia, aku ingin terbuka selebar mataku memandang lautan. Aku benci Tuhan, Bapak! Benci! Aku juga benci lelaki yang menikahi Munah! Tak puaskah dia menunai nafsu dari tiga bini yang telah memberinya banyak anak? Tak sudahkah dia menghirup darah segar dari gadis-gadis seperti Munah yang dipayungi kemegahan padahal hati gadis-gadis itu luka? Gadis lain boleh diambilnya, tapi Munah..." Tubuh itu ambruk, lalu tertatih menangis gerung.

Bibir tua Haji Sobirin bergemik-gemik. Terkulai rasanya semua tulang. Tak tahu dia harus menjawab apa. Ketika tahu Munah dipinang oleh Martua, Haji Sobirin bisa merasa kalau degup bahaya akan bertandang ke rumahnya.

Tepat pula yang dipikirkan.

Iskandar sepulang dari berladang meraung ganas, seribu harimau yang bersemayam di tubuhnya berlompatan. Perhelatan Munah dan Martua menjadi ajang prajurit terluka yang mengamuk. Tarup, hidangan, pelaminan semua lintang pukang. Tiga orang tukang pukul Martua memberi kenangan di pelipis Iskandar, hingga hari ini masih ada bekas itu.

Haji Sobirin menghela napas panjang. Lalu penuh kasih sayang dipegang kedua bahu Iskandar yang bergetar hebat. Coba diangkatnya segenap tenaga. Muntahan arak yang menyembur membasahi dadanya tak dihiraukan. Dipapah Iskandar ke dalam. Direbahkan di ranjang penuh haturan terima kasih pada Tuhan karena anak semata wayang pulang.

Disalinnya baju yang membujur arak, lalu disalin pula baju Iskandar. Diselimuti tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Mungkin arak yang telah bergolak atau karena penat batin yang berkarat. Entahlah. Haji Sobirin menungguinya hingga subuh dan memusuhi sepasang matanya kala mengerjap ingin terlelap. Tak mau melewati sedetik yang lewat memandangi Iskandar yang lamat-lamat terbujur tenang. Mungkin pingsan, batinnya. Tapi napasnya teratur seiring doa yang dipanjatkan Haji Sobirin, berharap Iskandar akan berubah.

Tetapi Iskandar semakin menjadi. Tindakannya semakin mengerikan. Warga mulai tak senang padanya, tapi masih memandang Haji Sobirin. Sambil menahan getir yang kian menggaung, Haji Sobirin berulang kali meminta maaf. Dia berjanji akan mengembalikan Iskandar ke jalan yang benar. Dan tak seorang pun yang tahu, kalau hatinya kerap menangis.

***

Gaung azan subuh menyeruak pagi, membangunkan bumi, menjejalkan aroma damai ke seluruh penjuru. Haji Sobirin bangkit mengambil wudu. Lalu mengenakan kain dan kopiah hajinya yang terbaik, selalu begitu setelah kali menghadap Allah. Sesaat terpanggil untuk melihat Iskandar, tapi dilepaskannya, karena baru kali pertama seumur hidupnya, dia akan tiba di masjid setelah dikumandangkan panggilan salat.

Maaf dilantunkan lagi, begitu setiap kali hendak memulai salat, para jemaah tetap menyambut hangat. Hitam yang ditorehkan Iskandar tak menampak di wajah teduh Haji Sobirin, begitu batin mereka. Manusia hanya menanggung dosa dan pahalanya sendiri. Saf pun teratur rapih, Haji Sobirin maju ke muka. Memimpin salat dan berdoa besok tak ada lagi kejadian yang menyusahkannya.

Tiba-tiba suara derap langkah cepat mengudara di latar masjid. Semua menoleh. Terpanggang kejut saat melihat Iskandar masuk bergegas, mengenakan kain sarung dan kopiah bersih. Tubuhnya wangi pula. Entah berapa cepat dia mandi.

Haji Sobirin tersenyum, hentakan bahagia berlagu di dada. Salat terasa lebih khusyuk dari hari-hari sebelumnya, tak lagi terpatri pikiran soal perbuatan Iskandar. Barisan anak panah yang kerap menancap dadanya, yang menggigit gelisah dalam, telah tercabut perlahan dan patah batang sebatang.

"Is khilaf dan minta maaf," sebaris kata bagai gumpalan salju menyejukkan dada kala jalan bersama menyusuri pagi mengintip siang. "Is sadar, Munah sudah milik orang. Is ingin bertobat."

Pelukan hangat dicurahkan, barisan doa dalam hati kecil pun didendangkan. Iskandar telah pulang, telah kembali ke jalan awal. Kampung pun jadi tenteram, tak ada lagi yang bikin keributan. Gaung nama besar Haji Sobirin naik setingkat lagi, berproses menjadi seorang ayah yang akhirnya mengembalikan anaknya ke jalan kebenaran. Tak lagi ditemui lapak di pojok jalan tempat Iskandar beradu minum arak. Hawa hitam tak lagi bergumpal di kampung itu.

Gofar murka karena kekalahannya tak terbalas, dia mengamuk, mencari-cari Iskandar yang meminta maaf dan mengembalikan uang yang pernah dimenangkannya. Gofar gembira tapi masih meludah. Dua hari kemudian dia ditemukan tewas di terkapar di tepi pantai. Ada yang bilang itu hukuman atas dosa-dosanya, karma atas perilaku yang mengacau orang yang telah bertobat.

Iskandar tersenyum di belakang rumah, di balik semai rumpun tinggi sambil mengasah parang. Malam menggayut pekat. Dia harus mengubah sikap, tak lagi menunjukkan wajah garang. Santun harus diperlihatkan. Bukankah seperti itu sikap orang-orang berwajah seribu, yang luar biasa banyaknya bertaburan? Dia telah banyak belajar dari tanah seberang, tanah-tanah terhormat, mengapa tidak memanfaatkannya.

Lalu dipandangi parang berkilat tajam.

Dengan langkah yakin, dia melangkah menuju rumah Martua. Setelah itu, tinggal mencari domba kurus yang akan ditanggungi beban.***

Mutiara Duta, 15 Maret-2 Juni 2010


-------------
Fahri Asiza, lahir di Jakarta, sampai saat ini sudah menulis sekitar 400 buah cerpen di berbagai media massa, 56 novel dan 5 kumpulan cerpen. Menerima IBF Award sebagai penulis produktif dengan menulis 24 novel dalam setahun, 2005. Menerima IBF Award sebagai Penulis Cerita Anak Terbaik, lewat novel anak-anaknya yang berjudul Jas Hujan Buat Abi dari IBF, 2006



Lampung Post
, Minggu, 11 Juli 2010

Sunday, July 4, 2010

Cerita yang Menyeruak dari Kebun Mawar

Cerpen Benny Arnas



LELAKI itu sangat dekat dengan ibunya, walaupun itu hanya akhir-akhir ini. Tepatnya, ibunya yang mendekat-dekatkan diri, seolah ada kesalahan besar yang hendak ditebusnya.

***

Lelaki itu adalah orang yang paling depan berdirinya dan paling keras koarannya bila menghujat ayahnya, pamannya, saudara laki-lakinya, atau teman laki-lakinya. Walaupun sampai kini ia belum juga paham mengapa ketika mereka menatap balik padanya, ada rona skeptis dari mata-mata setan itu. Apa yang kaukatakan, hah? Seakan-akan kalimat itu mencuat dari bibir orang-orang yang dibencinya itu ketika idealismenya akan konsep kelelakian ia ceramahkan. Ya, tanpa kata-kata, hanya dengan bahasa tubuh, mereka balik mengejek laki-laki itu, lebih kejam dan menyakitkan....

"Apakah ini yang namanya karma, atau ini yang disebut azab, atau ini... Aaaah, tidak! Tak ada itu! Lantas, menurutmu apa-apa yang laki-laki itu rasai saat ini adalah sebuah kebetulan, ketiba-tibaan, kelangsungjadian?"

Lelaki itu berkeringat dingin. Ia melangkah keluar rumah. Berharap angin malam dapat menyejukkan pikirannya. Aku terlalu lelah, mungkin. Lelaki itu dengan daya upaya yang ia bisa, mencoba membesar-besarkan hati bahwa semua hanya bunga penatnya.

Angin mendesau pelan, selaras dengan malam tua yang lamban menggeser waktu. Lelaki itu menghirup udara sambil memejamkan mata. Seakan mencoba khusyuk meresapi bunyi dan bau napas yang dengan lembut melewati mulut dan hidungnya. Segaaar!

Perlahan-lahan dibukannya kelopak mata yang berbulu lebat itu. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah pemandangan ganjil: sekuntum mawar raksasa yang masih kuncup bertegak kokoh di salah satu sisi pekarangannya. Mawar itu seakan-akan tengah menatapnya lekat-lekat.

Lelaki itu menggigil. Ia membalik badan. Menuju pintu rumah yang setengah terbuka. O o, kakinya berat. Lelaki itu merasa seakan-akan sekuncup mawar raksasa itu tengah berjalan ke arahnya perlahan-lahan. Terbayang olehnya, bagaimana adegan beberapa film horor yang pernah ditontonnya: tangan berjalan, kepala terbang, boneka pembunuh yang membelalak, atau ooo... ini mawar!! Perasaannya, dalam film-film horor, bunga itu tak pernah diilustrasikan sebagai simbol pembunuh, setan, hantu, atau apalah! Ooohh...

"AAAAH...!!!" Lelaki itu berkeringat dingin. Tak henti ia mengucap syukur bahwa semua hanya mimpi saja. Maka, beranjaklah ia ke kamar mandi. Baru seperempat daun pintu dibuka, seketika ia terperanjat mendapati dinding kamar mandinya sudah dipenuhi daun sirih yang merambat-menjulur. O bukan, bukan itu yang menjadi titik keterkejutannya. Sirih itu, ya sirih itu. Berbuah semangka? Oh, ini bukan saatnya bergurau, Kawan. Daun sirih itu, berbunga. Bunga yang sangat ia kenal. Warnanya.... darah! Merah kelam. Itu... bunga mawar. Bagaimana bisa? Laki-laki itu mengucek matanya beberapa kali. Mencubit-cubit lengan kanannya. Menampar-nampar pipinya. O tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata!

"Nak, cepatlah bangun! Sarapan."

Lelaki itu tersedak mendengar seruan dari luar kamar. Ibu. Ya, itu suara ibunya. Maka, makin terheran-heranlah ia, menyadari bahwa ia benar-benar tidak sedang bermimpi. Gegas ia melangkah keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana, ibunya menyambut dengan senyum sabit.

"Kemarin...Ibu lupa namanya. Ada temanmu yang ngantarin puding. Katanya enaknya dimakan hari ini, Nak." Wanita beruban itu menghidangkan beberapa potong puding berwarna kuning yang baru dikeluarkan dari kulkas. Tak lama, ia berlalu ke dapur.

Uuuh... setidaknya lelaki itu bisa bernapas sedikit lega mendapati warna makanan itu. Tidak merah.

Lelaki itu mengangguk. O o, tunggu dulu ini pemberian siapa?

"Kemarin udah Ibu cicip. Maaf ya, Nak. Tak bilang-bilang padamu. Tapi memang enak. Hebat benar teman laki-lakimu itu memasak." Ibunya berseru dari dapur seakan-akan dapat membaca pikiran lelaki itu.

Laki-lakiku? Mengantar puding...?

"O ya, sepertinya itu puding wortel. Ditambah stroberi juga. Sudah kau coba, belum?"

Lelaki itu tersadar dari lamunannya yang sejenak itu. Sesegera ia membuka plastik minyak berwarna kuning yang menutupi puding tersebut. Beberapa detik kemudian, ups! Lelaki itu tergagap. Bibirnya gemetar. Puding itu...

"Enak, Nak?"

Lelaki itu tak memedulikan suara sumir ibunya yang entah sedang apa di belakang sana. Ia bermaksud mengambil potongan-potongan puding merah hati yang berbentuk mawar di atas meja makan itu, membawanya ke beranda... dan membuangnya,

O o, ada apa dengan dunia ini? Mengapa...?

Lelaki itu teduduk, tersimpuh di beranda. Puding mawar ditangannya terjatuh berkeping-keping. Di hadapannya, di pekarangan yang tak begitu luas itu, rerumpunan mawar yang beranting-ranting menyemak di sana-sini. Di setiap sudut, hingga membentuk pagar daun, pagar duri, pagar mawar. Di salah satu sudut, tampak menonjol sendirian setangkai mawar raksasa yang belum mekar sempurna. Mungkin sebesar itulah bunga raflesia itu, pikirnya. Atau, jangan-jangan, yang ada di hadapannya inilah yang disebut bunga raflesia, batinnya. O tidak, walaupun lelaki itu belum pernah melihat bunga bangkai itu secara langsung, tetapi setahunya, bunga raflesia tak berbatang, tak berkuntum. Ia hanya berbonggol. Ya, itu mawar. Jelas-jelas mawar. Mawar dalam mimpinya!

"Lho, Nak, ngapain duduk di beranda? Kotor."

Lelaki itu menengadah. Mendapati wanita berbaju kurung sudah bediri di muka pintu. Ia tak menyahut. Ia mati kata.

"Mengapa kau serakkan puding-puding itu, Nak?" Ibunya menunjuk ke potongan puding yang menyerak di sekitar si lelaki.

O tidak, potongan puding itu sudah berubah menjadi mawar-mawar dengan beragam ukuran. Oh... lelaki itu terjerembab. Lebih tepatnya, memaksa tubuhnya untuk terjerembab. Pingsan artifisial. Dengan sepenuh jiwa ia berharap, ketika siuman nanti, entah dari tidur atau dari pingsan --buatan--nya, ia akan segera mendapati semuanya kembali seperti semula. Baik-baik saja.

***

"DARI pagi tadi, sejak dibawa ke rumah sakit ini, perutmu belum diisi, Nak. Kata dokter, kamu harus makan makanan yang lembut, halus, dan mudah dicerna, seperti puding ini." Ibunya menyodorkan sepotong puding pada lelaki yang didudukkan di sebuah dipan dengan kasur putih.

"Puding? Ooo tidaaak!" Lelaki itu menggeleng dengan mata terpejam.

"Makanlah. Puding ini kiriman istrimu, Nak."

Istri? Siapa istriku?

Lelaki itu membuka matanya perlahan. Sangat perlahan. Tiba-tiba ia menggeleng. Ia ketakutan. Bukan, bukannya mendapati puding yang berbentuk, berukir, dan berwarna mawar. Tetapi... mendapati sekuntum mawar yang sudah mekar sempurna, setinggi tubuh orang dewasa, berdiri di samping ibunya.

"Ada apa, Nak?"

Lelaki itu beringsut menarik selimutnya, bersandar di kepala dipan. Tampak sekali ia memaksa memejamkan matanya. Kepalanya masih menggeleng. Wajahnya pucat.

"Takkah kau merinduinya? Sudah lama tak bertemu, bukan? Yah, Ibu mohon maaf kalau dulu tak menyetujui pernikahanmu. Tapi sekarang Ibu sudah merestuiya, Nak. Walaupun tak berhasil jua Ibu meyakinkan ayahmu dan saudara-saudara laki-lakimu itu." Wanita itu menatap putranya lekat-lekat. Membelai rambutnya, seolah ia adalah anak belasan tahun. "Semua bukan karena Ibu sudah bercerai dan tak satu pun saudaramu yang ingin ikut Ibu, tapi... ah, sudahlah, Nak. Ibu tahu, kau tak memerlukan restu binatang-binatang itu, bukan?"

Lelaki itu menggigil. Ia sungguh tidak mengerti dengan semuanya. Bahkan, ia pun tak tahu, apakah ia tengah bermimpi atau tidak. Kalaupun iya, alangkah panjangnya mimpi ini? Alangkah membingungkan dan menakutkannya mimpi ini? Atau... sebenarnya ia sudah mati. Seperti inikah alam sesudah hidup itu? Absurd, ganjil, aneh, asal-asalan. Tak ada sebab-akibat lagi! Sungguh, sungguh yang sebenar sungguh, lelaki itu sudah lelah dengan semuanya. Lelah yang sangat. Gila!!

"Mark, tolong tenangkan suamimu, ya," wanita itu menoleh pada sekuntum mawar raksasa di sampingnya, sebelum tersenyum tipis pada lelaki itu.

Aku suami dari Mark? Mawar raksasa itu? Mark-Mawar? Apa-apaan ini, Tuhan?

Mawar raksasa merapatkan kuntum hijau berdurinya pada lelaki itu, seolah-olah hendak memeluk lelaki itu, menenangkan suaminya.

Lelaki itu berteriak. Terus berteriak hingga tak ada lagi suara. Ia mempingsan-pingsankan diri. Memejam-mejamkan mata. Memaksa membunuh diri dan jiwanya dengan perasaan yang menghunjam-hunjam, yang tiada dipahaminya.

Para pasien lain dan orang-orang yang ada di sekitar ruang inap itu berkerumun di sana.

"Bukan salah kau, Mak."

"Lagi pula bukan kehendakmu tak pulang selama 20 tahun, kan, Mak?"

"Memangnya dia bisa merasakan susahnya mencari uang sebagai TKW!"

"Sudahlah, Mak. Tak ada dalam adat percintaan macam seperti itu."

"Bila anak bujangmu gila, mungkin itu balasannya, Mak."

"Sudahlah, Mak. Pulang saja. Anggap kau tak pernah beranak."

"Bukan!" bantahnya. Ia membelalak pada perempuan-perempuan yang seolah-olah peduli padanya dan anak lelakinya. Hampir saja ia tumpahkan beban yang menyesak itu. Namun ia bagai tersadar bahwa takkan ia katakan bahwa semua ini salah suaminya. Lelaki yang berulangkali menunggangi anak lelakinya yang kala itu masih belia di kebun mawar belakang rumah, ketika ia memeras keringat di Hong Kong. Perempuan itu mengutuk-ngutuk, sebelum menangis, meraung sejadi-jadinya, seperti orang gila.

Ada yang bersitatap; memastikan bahwa tak hanya ia sendiri yang berempati. Ada yang menunduk saja. Ada yang bermata-kaca. Tak ada yang berani menyanggah. Walaupun semuanya masih singup, namun mereka bagai dapat menyimpulkan; terlalu berat perkara itu untuk jadi bahan pergunjingan.... (*)

Lubuklinggau, Januari 2009 s.d. Januari 2010


-------
Benny Arnas, lahir di Ulak Surung, kampung di utara Lubuklinggau, 08 Mei 1983. Menekuni sastra pada 2008. Cerpen-cerpennya sudah tersebar di pelbagai media dan puluhan antologi. Tahun ini, ia juga diundang event sastra internasional Ubud Writers & Readers Festival 2010.



Lampung Post, Minggu, 4 Juli 2010