Sunday, December 15, 2013

Satu Hari yang Ingin Kuingat

Cerpen Yetti A.KA.


AKU minum orange juice di kafe X. Ini satu hari yang ingin sekali kuingat; meja nomor 19, kursi warna krem dengan sandaran beraksen anyaman, kotak tisu, gelas minuman yang kutaksir setinggi 15 sentimeter, sedotan putih susu, tas merah, telepon genggam, novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami, sepasang lesbi bertatap mesra, antrean para pengunjung di kasir, pelayan-pelayan yang kehilangan ekspresi alami—mereka mengantar makanan ke meja-meja dengan seragam dan mimik nyaris sama.

Hari ini kafe X cukup ramai. Orang-orang makan bersama pasangan atau keluarga atau teman-teman. Mereka tentu terlihat bahagia. Hari ini aku sendirian saja—seperti hari-hari sebelumnya, memang—bedanya saat ini aku belum menerima telepon atau pesan dari seseorang yang kemarin masih pacarku. Berulang-ulang aku merasa telepon genggam itu berbunyi, hidup, berkedip. Berkali-kali aku memelototi layarnya untuk memastikan memang tidak ada SMS atau panggilan yang masuk. Memang tidak ada yang bertanya:

“Masihkah kau pacarku hari ini?”

“Tidak ada yang terjadi, dan tentu saja kau pacarku.”

“Kau merindukanku?”

“Pasti.”

“Tidak bisa mengatakannya dengan sedikit romantis?”

“Siapa?”

“Kamu.”

“Hehe.”

“Hmm.”

Itu percakapan kemarin pagi. Percakapan yang ingin terus kuingat. Kalau aku melupakannya maka aku kehilangan dia. Aku mungkin tidak kehilangan dia dalam arti yang sesungguhnya, pastilah tidak sekonyol itu, tapi ini tentang perasaanku saja. Aku merasa kehilangan dia meskipun dia tidak meninggalkanku.

“Apa aku aneh?”

“Eh, kenapa?”

“Aku ingin menyimpan semua percakapan kita karena aku takut kehilangan, padahal tanpa kusimpan aku tidak akan kehilangan apa-apa, bukan? Kau milikku. Seseorang yang terus bertanya setiap pagi ‘masihkah kau pacarku hari ini?’. Kita tidak akan terpisahkan oleh apa pun.”

“Apa kau merasa sakit?”

“Tidak. Aku cuma merasa cemas.”

“Akhir-akhir ini memang agak aneh.”

“Apa?”

“Ya, kau aneh.”

“Iya, ya. Aku tahu itu.”

Sekarang aku betul-betul merasa aneh. Aku duduk di kafe X dengan segelas orange juice dan novel Norwegian Wood yang baru kubaca sampai adegan Watanabe berciuman dengan Midori sehabis mereka nonton kebakaran dari tempat penjemuran (di halaman depan buku itu ada tulisan tanganku: Kelak aku akan mengingat hari ini di mana aku membeli buku kembaran. Satu untukku, satu untuk pacarku. Kelak yang entah apa kami masih bersama atau tidak. Kelak yang apa benar kami akan saling mengingat atau tidak. Tapi aku berharap kami jangan saling melupakan dengan cepat), dan terus-menerus gelisah mengingat telepon genggamku belum juga menerima panggilan atau pesan dari seseorang yang bertanya: Masihkah kau pacarku hari ini?

Ini tidak biasa. Ia tidak pernah lupa menelepon lewat dari pukul 10 pagi. Kalau sangat sibuk, ia sempatkan kirim pesan. Apa ia lebih dari sekadar sibuk? Apa ia jangan-jangan sedang tidak sibuk, tapi belajar melupakan.

Ia tengah menyiapkan kejutan: meninggalkanku. Rencana yang sangat jahat. Pertama-tama ia membersihkan semua tentangku di ponselnya; kutipan-kutipan sajak romantis seorang penyair yang sengaja kutulis dan kusimpan di ponselnya saat kami kencan, pesan-pesan tengah malam kami yang nakal, foto pribadiku saat mengenakan lingerie ungu muda motif floral atau foto kami berdua di pantai pada minggu ketiga bulan Maret dan hari itu aku ulang tahun.

Setelah membersihkan semuanya, pagi-pagi sekali ia menelepon, mengucapkan selamat tinggal. Suaranya dingin. Lebih dingin dari dinding-dinding toilet hotel tempat kami pernah menginap. Sanggupkah aku?

“Kalau kangen kau bisa telepon daripada berpikir macam-macam.”

“Aku tidak mau melakukannya.”

“Memangnya kenapa”

“Aku mau kau yang kangen, bukan aku.”

“Kau membuat rumit.”

Aku rumit. Itu kalimat yang sangat tepat.

Kami sudah sering membicarakan tentang kenapa tidak aku yang menelepon dia. Aku juga sering sebal pada diri sendiri. Kenapa aku mesti serumit ini? Ah, ya, sungguh, lebih baik aku meneleponnya saja. Aku tinggal memilih namanya dan menekan tanda call. Aku bisa langsung bertanya kenapa ia tidak menghubungi setelah kemarin pagi itu. Aku juga bisa mengatakan, aku tidak tahan tidak dihubungi.

Aku bisa gila. Aku bisa menerobos jalanan yang padat kendaraan tanpa benar-benar kusadari dan kemudian orang-orang akan berteriak melihat tingkahku dan aku pasti kebingungan sekali. Itu kalimat-kalimat yang memang sangat didramatisasi. Tapi aku mau sekali mengatakan semua itu seandainya saja aku bisa meneleponnya. Seandainya saja aku bisa memilih namanya dari ratusan nama yang tersimpan di memori ponsel, dan memulai pembicaraan dengan kalimat basa-basi, “Aku bisa menelepon lagi nanti jika kau sibuk sekali.”

Sayangnya, aku sungguh-sungguh tidak bisa melakukan gagasan itu. Jika aku nekat melakukannya, aku pastikan berhari-hari atau bahkan selamanya menyesali diri sendiri. Selamanya aku merasa pada saat tertentu, pada hari itu, aku lebih mencintai dia dan dia tidak terlalu mencintaiku. Seseorang yang merasa tidak terlalu dicintai sejak kecil akan menuntut untuk tampak sangat dicintai ketika ia dewasa. Pikiran semacam itu sangat menyakitkan.

Penderitaan yang sering tidak bisa kuhadapi di saat aku sedang sendirian. Sendirian itu, bagiku, bisa menjadi saat-saat berbahaya. Sedikit saja aku lepas kendali, maka habislah; pikiranku menjadi tertutup, perasaanku menjadi sangat kacau. Mengerikan, bukan?
Telepon genggam kumasukkan dalam tas. Aku harus membuang jauh-jauh keinginan untuk menghubunginya. Dadaku sesak dan bergetar-getar. 
Kupesan minuman baru. Jus melon. Rasanya aneh. Mungkin karena aku tidak suka buah melon. Lalu kenapa aku memesannya? Jika ia tahu,  pasti ini yang dikatakannya: Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan akal sehat—paling tidak saat memesan minuman? Maka aku pasti saja berkilah, “Apa salahnya mencoba. Lagi pula pikiranku sedang kacau.”

“Kalau mau jujur kau bukan orang yang menarik dalam banyak hal.”

“Kau mulai lagi.”

“Kau sering tidak tahu apa yang kaubutuhkan.”

“Pembicaraan ini mulai tidak relevan.”

“Kau tidak lebih dewasa dari gadis lima belas tahun.”

“Ingat ya kita bicara tentang minuman. Kau terlalu melebar.”

“Ya, tentang kau yang berumur tiga puluh tahun dan tetap tidak tahu minuman apa yang seharusnya kaupesan. Sangat relevan.”

“Berhentilah sinis!”

“Aku sinis?”

“Kau harus tahu masalah minuman tidak perlu dibahas serius.”

“Bagiku harus.”

“Aku muak pada kau yang selalu serius. Hidup itu juga soal humor. Ngerti!”

“Baik. Kita tidak cocok. Kita putus.”

Uh, untung dia tidak di sini dan kami tidak perlu bertengkar karena soal sepele. Ada bagusnya pula ia tidak menelepon (walau tentu ia yang tidak menelepon itu tetap saja satu masalah tersendiri) hingga aku tidak perlu menceritakan tentang jus melon yang kupesan dan ternyata tidak aku sukai. Aku tahu ia bukan lelaki yang bisa menahan pikirannya, ia bisa sangat pedas dalam menilai sesuatu, tanpa perasaan, sementara takdirku adalah mencintainya. 

Aku menghembuskan napas keras-keras. Sepasang lesbi sudah pergi tanpa aku tahu kapan tepatnya. Mungkin mereka pergi ke lantai atas. Di sana ada tempat karaoke. Banyak orang memilih kamar karaoke sebagai tempat kencan. Paling tidak bisa ciuman. Di kota ini orang tidak bisa sembarang berciuman. Di kota ini semua orang sibuk mengurusi orang lain.

Ia belum juga menelepon, belum mengirim pesan, sementara aku merasa sudah menunggunya ratusan tahun, meski kenyataannya ia meneleponku kemarin pagi (tentang ini ia sering bilang: kau terlalu mempermainkan waktu). Bagaimanapun tetap saja keterlaluan. Dulu, lelaki itu berjanji saat memintaku jadi pacar bahwa ia akan selalu bertanya setiap pagi: Masihkah kau pacarku hari ini? Dengan cara itulah aku menunjukkan rasa takut kehilanganmu, katanya, sebab malam kadang bisa mengubah seseorang.

Tapi, tapi, malam memang telah mengubah seseorang. Mengubah dia. Kadang-kadang, ketika pikiranku sedang jernih, dan itu hanya sesekali saja terjadi, aku ingat sebenarnya aku sudah kehilangan ia jauh sebelum kemarin. Bahkan mungkin sudah setahun. Ketika itu pagi-pagi sekali ia bilang: sebaiknya kita berpisah. Aku tidak tahan lagi denganmu. Kau rumit sekali. Senang mengacaukan hari-hariku. Aku bisa gila. Please, jangan ganggu aku lagi. Aku ingin sendiri dalam waktu yang lama. Aku mau bekerja dengan tenang.

Sejak itu ia jarang menelepon, lalu berhenti sama sekali. Sejak itu pula ia tidak mengirim pesan lagi. Ia melupakan dengan sangat cepat, sedangkan aku tidak bisa beranjak dari pikiran bahwa ia tetap pacarku yang kemarin pagi bertanya: Masihkah kau pacarku hari ini? Kemarin pagi yang tidak pernah bergerak, tidak menjadi satu minggu, satu bulan, satu tahun.

Selamanya aku akan tetap menunggu telepon atau pesan darinya. Aku harus percaya, dan ini memang sungguh-sungguh harus kupercayai, sebab aku sendirian, sebab aku tidak punya siapa-siapa yang mendukungku, bahwa ia masih pacarku yang kemarin pagi bertanya: Masihkah kau pacarku hari ini?

Karena itu aku masih di kafe X, di meja nomor 19 dengan segala sesuatu yang ingin kuingat. Dengan mengingat, aku tidak akan kehilangan apa-apa. Seharusnya begitu. Seharusnya aku tenang dan tidak perlu berpikir hal-hal mengerikan yang bisa saja kulakukan.

Tapi siang itu aku mendengar orang-orang menjerit saat seorang perempuan menabrakkan diri ke mobil yang sedang melaju kencang di jalan raya—tepat di depan kafe X. Aku tidak tahu siapa perempuan itu sampai kulihat meja nomor 19 sudah kosong dan begitu sunyi. n

GM D22, 2013


Lampung Post, Minggu, 15 Desember 2013

No comments:

Post a Comment