Sunday, June 15, 2014

Kisah Raja Tikus

Cerpen Jauhari Zailani


RAJA Tikus duduk seorang diri. Lilin di hatinya, menyala bergoyang-goyang oleh angin. Sinarnya meredup, muramnya hidup dan kehidupan. Sinar itu sebagai penerang dan memandu kehidupan, ke mana arah kaki melangkah di tengah pergulatan antara gelap-gelap yang menggila.
                              
***

Dengan nyala lilin di depan mejanya, ia periksa rekeningnya yang terus bertambah. Ia tahu riwayat setiap jumlah angka yang tertulis. Tak pernah berkurang, tambah iya. Aliran rekening adalah kisah perjalanan dirinya si Raja Tikus. Tiap angka adalah gambaran hari harinya yang legit dengan kegiatan memburu uang. Tiada habis kata dan waktu. Tak lelah oleh kantuk di larut malam.

Aneka rintangan menghadang telah terlewati dan ditundukkan. Segala kekuatan siap bergerak dan menggerakkan. Siang dan malam bergegas mengejar waktu. Ritual malamnya menghitung uang, ia tatap angka demi angka dalam rekeningnya. Wajah-wajah berseliweran bungah dan muram dalam bayangan.
Sebelum tidur ia sempatkan ke garasi. Mobil barunya telah membawakan kebanggaan diri. Ia tersenyum mengenang kerumunan wajah-wajah kagum. Bersama mobilnya, ia menjadi pusat perhatian. Mobil-mobilnya melengkapi tumpukan uang yang acap menghiasi mimpi-mimpi tidurnya.

Mobil ini upah yang pantas bagi dia yang selalu punya waktu untuk duit. Dia, selalu bersemangat menyambangi dan menyambut uang. Di mana pun, kapan pun. Wajah-wajah berkelebatan dalam bayangan melengkapi mimpi tidurnya.

Dalam peraduan, ia memeriksa mantra-mantra ajaib yang selalu diulangnya dalam pergaulan; apa proyek kita, berapa bagianku. Untuk apa kita berteman jika tak saling berbagi proyek dan untung. Karena pengalaman mengajarkan ada duit abang sayang, abang berkantong tipis pasti nangis. Matanya terlatih menyelidik dan mengukur teman barunya. Taksiran pada arloji yang melingkar di tangan. Cincin yang melingkar di jarinya. Sepatu yang menyangga kakinya. Ia tersenyum melihat aneka wajah yang melintas dalam ingatannya.

Dari tempat tidurnya, wajah dan matanya melirik koleksi arlojinya. Dalam dunianya, busana dan turangga bukan saja bahan bincang, melainkan juga penentu peran dan fungsi. Bahkan status dan identitas. Pengelompokan dan pergaulan atas dasar apa yang dimiliki. Si kaya penentu perbincangan dan acara. Layaknya pengarah dan pengatur bagi hidup dan kehidupan orang-orang yang nampak dan dalam bayangan, di balik tirai kehidupan. Bagi si bokek, cukuplah rela menjadi pemanis acara dan objek ejekan. Terbayang aneka wajah yang mengagumi jam yang dipakainya.
                               
***

Raja Tikus mulai bercerita entah pada siapa. Malam ini, rumahku semarak oleh sebuah pesta. Pesta Tikus. Acara dimulai dengan karnaval Tikus. Tikus-tikus berarak, berpawai dengan menyandang aneka atribut, dengan aneka gaya. Lagak-lagaknya dalam menari dan meloncat. Menyeringai, tersenyum hingga memekik. Melenggang, bergoyang, dan membungkuk. Aneka bunyian keluar dari mulut tikus-tikus, bercericit. Berisik dan bising tak alang kepalang. Setiap sampai di depanku, Tikus-tikus itu berhenti sejenak. Wajah-wajah dipalingkan ke arahku. Seraya tersenyum, membungkuk, dengan membuka topi.

Aku pun wajib berdiri seraya melambai tangan membalas salam dari peserta karnaval. Membalas lambaian tangan dan senyuman. Tikus-tikus terus melenggang tenang dan tertibnya, sesekali berisik nguik-nguik. Entah yang ke berapa, seekor tikus dengan atraktif mengangkat kedua kaki depannya, memegang mulut dan menarik kumisnya. Tikus yang di belakangnya, melenggang lalang tanpa melihat panggung, pandangan acuh ke arahku. Suit bercuit-cuit bersahutan dari tribun kehormatan dan balkon penonton.

Karnaval kian menarik dan semarak oleh aneka atribut. Atribut warna warni yang dominan mengingatkan pada aneka spanduk di pagar, pasar, pohon dan rentang jalan. Seringai Tikus itu mengingatkan pada aneka gaya yang terpampang pada stiker di gerobak sayur, becak, angkot dan pohon. Aneka warna atribut dan senyuman. Berbagai bentuk kreativitas dan selera menghasilkan kekayaan gaya, warna dengan variasi separasinya. Pertanyaan sempat sembul, “kok dunia tikus kreatif banget ya”. Lebih kreatif dari  wajah-wajah dalam bayanganku.

Menyaksikan tikus-tikus berbaju dan bersolek dalam karnaval, menyibak satu hal. Atribut dan warnanya sebatas kulit. Tak sampai menyentuh daging, darah, sungsum apa tah tulang. Warna, semestinya tak sekadar jaket, tapi menjadi pemandu tata rasa, rasio, dan raga. Tapi kini, lebih penting menikmati pesta Tikus-tikus dengan sukaria. Entah warna, tak harus sadar ideologi, tak apa tanpa kehendak dan tujuan. Terang gamblang. Warna hanya pada jaket yang sebatas menyentuh bulu-bulu, setidaknya ketika dikenakan.

Usai pesta, kembali pada fitrahnya: Tikus berbulu. Atribut itu, semua masih berupa hiasan, kamuflase, seolah-olah. Aku tak hendak hentikan pesta itu. Karena aku Raja Tikus, bagian dari komunitas tikus. Aku menikmati wajah-wajah tikus yang sumringah. 

***

Paginya, berkat pesta tadi malam, Raja Tikus bangga menjadi penggiat dan penguasa kerajaan Tikus. Namun, beranjak siang, kebanggaan itu dikotori oleh ulah Tikus berwarna cokelat. Atas nama peradaban, satuan itu dengan garang mengobrak-abrik pengais rezeki. Kakinya yang kotor dan kokoh menginjak dan menari di atas berantakan sayuran bayem, kangkung, bawang, ikan asin, ikan teri.

Ajaibnya, tukang sayur hanya tersenyum, meski getir. Sesungguhnya hubungan tukang sayur dan penendang gerobaknya itu dekat dan akrab. Kemarin kepada Tikus cokelat itu, ia masih setor segepok uang. Segumpal rezeki bagian dan jatah anak-anaknya. Pagi ini ia saksikan betapa mudahnya tikus ini berubah ulah. Kemarin pagi bermanis muka, kini pagi ini berkerut muka. Tak ada cara menghentikan.

Kemudian tukang sayur pun menari dengan riangnya. Tangan kirinya cekatan menarik lembaran demi lembaran uang. Ia memainkan lembaran duit bak kipas-kipasi wajah. Wajah tersenyum, tangan kanan terus memainkan kipas duit. Dengan luwesnya kaki, badan dan pinggulnya bergoyang, badan memutar.

Tangan kirinya berkacak pinggang dengan lentur dan lemas. Mulutnya bernyanyi: duit-duit-duit. Tarian kian asyik, kemudian diramaikan pedagang lain yang ikut nimbrung. Demi solidaritas, atas nama nasib mereka bersama-sama menarikan kipas duit. Penonton dadakan yang berkerumun ikut bertepuk tangan. Meningkahi suara-suara berirama dari batok kelapa, kaleng cendol, lapak meja, dan ember tahu. Semarak.

Melihat kelebat duit dalam tarian kipas duit, Tikus cokelat sontak henti. Muka seri, mata berbinar, bibir tersungging senyum. Kaki melangkah dengan tangkas tangannya merenggut lembaran uang dari para penari. Suara dan lagu bermusik tukang sayur berbunyi. Terima kasih Tikus cokelat. Engkaulah pelindung kami. Karena engkau kami menjadi tertib. Karena engkau kami dapat leluasa menjarah tempat ini. Nada dan syairnya mengeras. Di mata penari, wajah tikus itu berubah-ubah antara wajah Setan kotor dan wajah Sultan yang terhormat.

Kehormatan tikus-tikus itu terjaga dengan memeras tukang sayur seperti kami. Kian banyak korban kian bergengsi si Tikus cokelat. Simaklah, pasukan berbaju cokelat itu. Ada di sembarang tempat. Penyandang hormat sekaligus laknat. Pembawa amanah penyandang khianat berpasangan dalam diri seorang. Penjaga dacin timbangan, pencuri makna huruf dan angka. Si penjaga pengguna jalan, sekaligus pemerasnya. Pemberi rasa aman, sekaligus perampasnya. Pembuat, penjaga aturan, dan memperdagangkan juga.

Sesungguhnya cerita dan pertunjukan pagi ini hanya melengkapi cerita kemarin pagi. Di pasar ini, tikus berjaket biru unjuk gigi. Mondar-mandir berjalan di atas panggung, melepas jaket dan pamer kotang. Rambut panjangnya beraroma dolar. Senyum bibirnya selembut putri raja, seringai giginya seksi penuh dengan ajakan dan ancaman. Derai air matanya bernuansa drama. Tarian di atas panggung dadakan itu ber-setting cerita kehidupan anak manusia tak tahan goda kekuasaan.
                               
***

Puncak dari adegan-adegan ini, bermula ketika Tikus hitam itu tergiur sepotong daging. Dengan mudah ia melewati jalan sempit. Di dalamnya sang Tikus menikmati lezatnya sepotong daging, tak hiraukan tikus-tikus yang lain. Usai puas menyantap daging, ia mencari jalan kembali. Malang, setelah ditelusuri setiap sudut dan lubang, sadar dia telah terkurung dalam jebakan. Begitu kuat usahanya keluar dari kerangkeng itu, dengan meronta, merangsek, mendorong setiap titik yang bercelah.

Tak ada kata mundur, apalagi balik badan. Mulutnya terus mencari, mengendus, dan mendorong. Hingga moncong mulutnya berdarah, tetap tak hirau. Lukanya justru mengobarkan semangat. Semakin terluka kian kuat mendorong. Setiap tetes darah, berarti cambuk bagi dirinya. Setiap lecet adalah lecutan untuknya. Kian kuat halangan, kian semangat mencari jalan keluar. Pada satu titik, ia menemukan celah. Hingga semangatnya membara.

Kian dalam dia masuk ke dalam lubang celah. Kian semangat ia menggoyang pantatnya, kakinya terus mendorong, cungutnya terus mengendus dan mendesak. Terus, terus, dan terus mendesak akhirnya tubuhnya terkunci, tak dapat bergerak. Hanya kaki dan buntutnya yang meronta-ronta. Dari cungutnya yang berdarah, lantai berceceran darah.

Bau anyir darah tikus beraroma daging, mengundang seekor Tikus Piti untuk mencoba. Mula-mula menjilat dan menjilat tetes demi tetes darah yang terpecik dari luka Tikus besar yang kini iba. Tikus Piti seraya mengeluarkan cuit-cuit kenikmatan, mengendus amisnya darah. Menjilat setetes darah, mengeluarkan rintihan nikmat cuit. Kemudian datang tikus kedua, tikus ketiga, keempat dan seterusnya. Kian ramai suara, kian seru mengisap darah. Tak lagi beda suara erangan nikmat dari kesakitan korban.

Ibu Raja Tikus berteriak histeris, tikus menghambur. Beriring tikus menuju plafon atap kamar, suara-suara melemah dan akhirnya menghilang, lenyap dalam sunyi di atas langit. Tikus tikus pergi entah ke mana. Pembantaian sesama tikus berakhir.
                
***

Arisan ibu-ibu Raja Tikus amat subur gosip. Dari rumah-ke rumah. Giliran arisan di rumah Bu Raja Tikus. Di tengah asyik bergosip, sang ibu masuk ke kamar. Sejenak kemudian ia berteriak histeris. Tangan Bu Raja Tikus menunjuk tumpukan uang di atas kasur. Ia raih beberapa lembar kepada ibu-ibu ia tunjukkan seraya mengumpat. “Kurang ajar. Duit di gerogoti. Nyaris habis.”

Ibu-ibu tikus Piti saling pandang, tertawa. Bu Raja Tikus melotot, berkacak pinggang dan bersungut-sungut. “Kalian nglunjak, kian terang-terangan melawanku. Kian berani melawan ya. Akan kuadukan pada Raja Tikus.”

Rombongan arisan saling pandang. Mereka tahu, uang Raja Tikus disikat tikus-tikus piti, suami-suami mereka. Di dalam kamar dan lemari pribadi Raja Tikus. Ajaib. Bu Raja Tikus belum sadar juga, Raja Tikus dagingnya telah menjadi santapan tikus-tikus Piti. Satu-satu kerumunan ibu-ibu, pergi meninggalkan kamar dan rumahnya. Seiring padamnya lilin penanda kehidupan. n

Bandar Lampung, November 2013


Lampung Post, Minggu, 15 Juni 2014

No comments:

Post a Comment