Sunday, February 3, 2013

Waktu Matahari Sepenggalahan Naik

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


Malam itu Abi membaca Ad-Dhuha, berulang-ulang, seolah berharap aku akan mengingat dan menghafal kata per kata. Ia membaca surah perlahan dengan suara lembut, membuatku merasa damai dan lama-kelamaan, aku pun tertidur di pangkuannya.
--------------------
Lampung, 7 Februari 1989

SUARA rentetan tembakan memecah keheningan fajar. Umi dan aku terbangun dalam keadaan ketakutan. Aku mendengar orang-orang berlarian di luar, mereka berteriak dan menangis. Dari bawah rumah kami, aku mendengar ayam ribut berkotek.

Umi melompat dari tempat tidur, gegas berpakaian dan mengenakan kerudung. Kemudian ia memelukku erat, mengusap-usap punggung, menciumi dahi dan menyeka air mataku.

"Jangan menangis," bisik Umi. "Jangan takut."

Dari jendela kayu, kami melihat rumah-rumah panggung terbakar. Langit berwarna merah. Di antara orang-orang yang berlari dan berteriak, aku melihat teman-temanku. Mereka menangis keras. Abu hitam terbang di sekitar kepala mereka.

"Tentara ...," gumam Umi, pandangannya nanar.

"Siapa mereka, Umi?" tanyaku.

Umi tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke beberapa pemuda berseragam hijau. Mereka mengenakan sepatu bot hitam dan membawa senjata. Mereka berteriak, mendorong dan menendang beberapa tetangga kami.

?Abi belum pulang dari masjid ...? gumam Umi lagi, seperti mengigau.

Saat itu, kami melihat Abi berlari, memasuki halaman rumah. Umi gegas membawaku dari kamar ke pintu depan, menyambut Abi. Abi terengah-engah dan berkeringat, pucat dan menggigil ketakutan. Wajahnya kotor oleh abu.

Ia memeluk kami dan berkata dengan suara gemetar, "Lari ke masjid, berlindung di sana. Kalian akan baik-baik saja. "

"Ke mana kau akan pergi?" tanya Umi, mulai menangis.

"Saya harus membantu tetangga kita. Mereka memerangi tentara."

"Jangan tinggalkan kami," pinta Umi.

"Kau tahu saya harus pergi," kata Abi, "Maafkan."

Aku melihat riak telaga di mata Abi, memberati pelupuk, air jernih yang tak terbendung. Ia memeluk kami erat. Hangat air matanya terasa di pundakku.

Sebelum pergi, ia berkata, "Jaga diri. Saya segera kembali."

Abi melambaikan tangan, menuju fajar merah. Ia tak pernah kembali, tidak pernah bisa kembali. Kami melihat Abi berlari ke arah pasar kampung, tepat di saat kami mendengar gemuruh dari atas. Ada dua helikopter berwarna hijau gelap dengan tentara yang menumpang. Mereka menembaki kampung, membabi-buta. Kami mendengar Abi menjerit, sosoknya yang tinggi dan kurus rebah ke tanah. Aku melihat darah di punggungnya, mengubah putih kemeja menjadi merah. Aku menangis. Usiaku masih tujuh tahun dan apa yang terjadi saat itu tampak tak nyata. Aku tidak pernah melihat orang saling membunuh. Jantungku berdebar keras.

Umi menjerit, "Ya Allah! Ya Allah!"

Mendengar lengking suara Umi, seorang prajurit menoleh. Dia berlari ke arah kami, dekat dan semakin mendekat. Matanya merah, dan ia tersenyum jahat. Umi meraih tanganku cepat. Tangannya yang lain memegang perut besarnya, seolah menggendong bayi di dalamnya. Kami berlari ke pintu belakang, terus ke halaman belakang.

***

Ada ilalang melambai tertiup angin, di halaman belakang. Tak jauh dari tangga kayu, tumbuh baris pokok pisang, pohon kelapa, semak nanas berduri, dan kaleng-kaleng berisi tanaman lidah buaya. Umi sering memintaku duduk di tangga, memunggunginya. Ia telah menyiapkan sepanci penuh irisan tanaman lidah buaya, yang kemudian ia gosokkan di kulit kepalaku.

"Rambutmu akan menjadi kuat, tebal, panjang, dan mengilap hitam," Umi berkata.

Ada ruang teduh di bawah rumah panggung, cukup tinggi sehingga orang dewasa bisa berdiri tegak tanpa kesulitan. Tanah di bawah rumah itu mengeras oleh pijakan langkah kaki. Di sudut ruang, ada kandang ayam. Abi membangun kandang itu dari papan dan kawat guna menjaga ayam di malam hari agar aman dari serangan musang. Di siang hari, ayam-ayam bebas berlari dan mematuk di sekitar rumah.

Kami memelihara sepuluh ayam. Setiap hari mereka memberi kami sembilan telur. Pagi hari, sebelum sekolah, aku kerap membantu Umi mengumpulkan telur. Umi menjual enam telur di warung kecil milik tetangga, sedang sisanya kami konsumsi sendiri. Karena ayam kami adalah ayam kampung, Umi mendapat harga yang lebih baik dibanding dengan telur ayam buras.

Aku punya ayam sendiri. Ayam yang besar, berbulu warna-warni: oranye, cokelat, dan kekuningan, sayapnya hijau gelap mengilap dan ekornya hitam, jenggernya merah cerah. Aku memanggilnya Jago.

***

"Terus berlari," Umi menarik tanganku.

Kakiku terasa berat dan sakit. Tapi, aku tahu aku harus berlari. Dari halaman belakang, kami berbelok ke kanan, menuju ke tepi desa, di mana masjid berdiri. Kami tersandung mayat-mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan. Setiap kali tersungkur, Umi membantuku bangun. Darah di mana-mana, merendam tanah, membasahi tanganku, pakaian. Darah kental merah dan gelap pada wajah mayat, wajah keriput yang akrab bagiku: kakek pembuat gula merah. Api berkobar, menghanguskan rumah-rumah. Deru helikopter dan letus senapan memekakan telinga. Sebuah horor tak terlukiskan, bahkan dengan kata. Aku terus menangis.

Setiba di masjid, ramai orang berkumpul: orang tua, wanita hamil, anak-anak?termasuk beberapa temanku, dan bayi. Mereka tampak ketakutan. Masjid dipenuhi doa dan isak-tangis. Kami semua memohon Tuhan akan perlindungan-Nya. Kami pikir kami berhasil melarikan diri dari tentara. Bagaimanapun, kami berlindung di masjid, sebrutal apa pun tentara tentu mereka tidak akan berani menghancurkan rumah Tuhan. Tapi, dari jendela masjid, kami melihat beberapa tentara datang mendekat. Umi mendorongku pergi, memintaku meninggalkan masjid.

"Lari ke hutan," katanya, "Lari secepat kau bisa. Lari!"

***

Ada sebuah masjid dicat hijau dengan kubah perak berkilauan, di tepi kampung. Lima kali sehari, panggilan salat bergema dari pengeras suara masjid. Selain untuk salat, masjid itu tempat aku dan teman-teman belajar mengaji, lalu bermain sesudahnya: petak-umpet dan orang-orangan kertas, gobak sodor di pekarangannya.

Ada hutan di bukit dekat kampung, tempat pohon-pohon kelapa, pohon kakao, dan tanaman kopi robusta tumbuh. Aku senang pergi ke hutan. Setiap musim kakao tiba, aku memungut buah kakao yang jatuh, terserak di antara tumpukan daun dan rerumput. Buah kakao bergaris hijau, dan ketika matang berubah warna menjadi marun gelap. Aku harus membuka kulit tebal sebelum menemukan buah putih dan manis di dalamnya.

Ada sungai kecil, yang dipenuhi batu besar bulat abu-abu, di mana ternak, kambing dan sapi, sering minum, membelah hutan. Di satu sisi sungai, terdapat hutan bambu kecil dan mata air. Kami menyebutnya belik.

Ada sebuah gubuk-geribik yang terbuat dari daun kelapa, di belik. Seorang lelaki tua tinggal di sana. Teman-teman dan aku tak pernah tahu namanya, tapi kami memanggilnya ?kakek pembuat gula merah?. Ia memiliki wajan besar, di mana ia, secara ajaib, mengubah nira, yang ia dikumpulkan dari pohon kelapa dalam tabung bambu, menjadi gula merah, dengan merebus dan mengaduk terus-menerus. Ia kemudian menuang rebusan nira ke dalam belahan batok-batok kelapa, dan membiarkan nira kental itu mengeras. Ia selalu membolehkan kami mencelupkan jari-jari ke dalam wajan untuk kemudian kami jilati.

*** ?Lari!? Umi berteriak, mendorongku, sebelah tangannya memeluk perut. Ia mengernyit kesakitan. Ia tahu ia tidak akan mampu lari dari tentara.

Aku berlari secepat aku bisa ke belakang masjid, melintasi ladang singkong dan jagung, dan terus berlari ke perkebunan tebu terdekat. Aku bisa merasakan basah embun pagi dari dedaun tebu, permukaannya yang kasar membuat tangan dan kakiku terluka. Tapi aku tidak peduli. Aku harus terus berlari.

Pada akhir perkebunan, aku terengah-engah mendaki bukit. Aku mendengar ledakan keras, berhenti dan berbalik, melihat ke arah kampung, berpikir untuk kembali. Tapi, dari puncak bukit, aku melihat masjid dibakar, asap hitam membubung ke langit, api merah keemasan menjilat-jilat pagi, suara berderak dan berdentum, berulang-ulang.

***

Petang kemarin, aku sedang bermain orang-orangan kertas dengan teman-teman, ketika Umi memanggil dari beranda rumah. Mendengar panggilannya, aku gegas berhenti bermain, berlari pulang, dan memanjat tangga kayu.

"Saatnya mandi. Ini hampir magrib. Sudah waktunya pergi ke masjid."

Aku mengangguk patuh. Umi sedang hamil delapan bulan. Abi memintaku untuk tidak membuatnya marah, bahkan sekadar membuat alisnya bertaut, karena itu tidak baik bagi Umi dan bayinya. Aku pergi ke kamarku, melepas pakaian, membungkus diri dengan kain panjang, dan mengambil handuk.

Aku pergi ke halaman belakang, melintasi sekelompok tanaman pisang, nanas dan kaleng-kaleng berisi lidah buaya, menuju kamar mandi. Dalam hitungan ketiga, aku mengguyur air ke kepala, cepat-cepat. Angin bertiup samar-samar dan air terasa sejuk dan segar. Sementara mencuci rambut dan tubuh, aku bernyanyi ceria, ditingkahi gemeresik daun kelapa.

Aku kembali ke kamarku dan memakai pakaian bersih, kemudian mukena putih, siap untuk pergi ke masjid bersama Umi. Setiap kami meninggalkan rumah, kami tidak perlu repot mengunci pintu. Di desa kami, tidak ada pencuri. Desa kami adalah desa yang aman dan damai.

***

Gumpalan asap dari masjid bergulung-gulung, pekat. Aku bisa mencium bau kayu terbakar, daging terbakar. Daging manusia. Umi dan bayi di dalam kandungan Umi. Tetangga dan teman-teman. "Umi!" aku ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Rasanya seperti ada batu besar menyesaki tenggorokan. Aku menangis dalam diam. Burung-burung berserakkan di langit, menjauhi api, menuju cahaya matahari terbit. Langit di sisi lain bukit biru cerah dengan cercah cahaya keemasan. Angin bertiup lembut, bermain gelombang pada gemeresik ilalang. Aku melihat embun pagi di ujung reranting pohon jati, mencerminkan sekitar dalam warna pelangi.

Aku menyeka pipi yang kuyup oleh air mata, menyadari bahwa aku telah menjadi yatim, di pagi yang damai, di waktu matahari sepenggalahan naik.

----------------------
Abi mengelus rambutku, tak henti membaca Surah Ad-Dhuha dari sebuah Alquran tebal, yang ia letakkan pada penyangga buku kayu berukir tanaman jalar. Suara Abi, yang mengalun perlahan dan lembut, adalah nyanyian pengantar tidur terindah yang pernah aku dengar.

Lancaster, 22 Januari 2013


Lampung Post, Minggu, 3 Februari 2013 

No comments:

Post a Comment