Sunday, March 8, 2015

Sebatang Pohon Mahio

Cerpen Yetti A KA


MAHIO sudah lama ingin jadi sebatang pohon. Suatu hari Mahio menggali tanah dan menanam setengah badannya.

Primrose berkata pada ibunya, “Oh, Hio, dia benar-benar sudah gila.” Wajah Primrose pias dan ketakutan. Mereka—juga hampir semua tetangga-tetangganya—menyaksikan Mahio berdiri telanjang dengan tanah menutupi ujung kaki hingga pinggang, dan berkata—dan seakan-akan kalimat itu bukan berasal dari dirinya—“Selamat tinggal semuanya. Aku akan tumbuh jadi pohon. Ini benar-benar seperti mimpiku bertahun-tahun ini. Kumohon mengertilah dan jangan bersedih.”

Mahio memejamkan mata dan ia merasa akar sudah tumbuh di jari-jari kakinya dan betis dan tunas segera keluar dari pinggang dan bagian tubuhnya yang lain dan tunas itu cepat sekali membesar menjadi daun-daun yang hijau tua, hingga ia menjadi pohon dengan cabang dan ranting dan daun yang lebat. Sebagaimana pohon-pohon yang selama ini memenuhi kepalanya. Sebagaimana pohon-pohon yang sering ia gambar dengan jarinya di atas pasir basah di tepi sungai di saat hampir semua teman-temannya membuat rumah pasir atau membuat bangunan mirip istana dengan menara yang tinggi.

Dulu, bapaknya Mahio seorang pencari kayu gaharu. Lelaki yang berburu pohon-pohon di hutan. Mahio memang tidak pernah bertemu lelaki itu—atau mungkin pernah ketika ia masih sangat kecil dan ibunya barangkali saja sering bercerita tentang bapaknya bersama rombongan yang kembali dari hutan membawa bongkahan atau gubal gaharu dan tak lama setelah itu mereka membeli baju baru atau mengupah anak-anak dari desanya untuk mengangkut beberapa karung batu dari sungai atau membeli satu pancang daging kerbau di saat ada penyembelihan atau daging rusa atau kijang hasil perburuan yang diasap di atas bidai. Sampai suatu ketika bapaknya tak pernah pulang lagi, Mahio dan ibunya mengalami masa-masa suram.

Mahio marah pada bapaknya yang tak pernah kembali lagi itu. Akan tetapi, tetap saja, tak ada yang berani menyimpulkan kalau kemarahan Mahio itu membuat ia ingin menjadi sebatang pohon.

Orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Mahio yang berkilat dan mereka tak bisa berbuat apa-apa. Seperti juga mereka pernah tak bisa berbuat apa-apa saat menemukan tubuh ibunya Mahio tergantung di cabang pohon pada Rabu pagi di bulan Juni. Pohon yang beberapa hari kemudian ditebang karena orang-orang tak ingin hantu ibunya Mahio berdiam di sana dan itu membuat Mahio meraung-raung sebab pohon itu satu-satunya yang tertinggal dalam hidupnya.

“Hio, kau harus segera pulang ke rumahmu. Udara dingin sekali,” kata Primrose dengan suara rendah. Mahio tetap diam saja dan matanya tetap terpejam. Beberapa anak kecil malah tertawa-tawa. Hanya mereka saja yang bisa tertawa saat itu. Menampakkan gigi-gigi mereka yang kecil-kecil kekuningan karena tidak terawat dengan baik. Primrose mendelikkan mata pada mereka, memberikan peringatan kalau mereka sedang menghadapi sesuatu yang sangat gawat, dan ini sama sekali bukan lelucon.

Sampai matahari tenggelam, Mahio masih menolak mengeluarkan setengah tubuhnya dari dalam tanah meski Primrose terus membujuk.

***

Tengah malam, orang-orang berhasil membawa Mahio pulang ke rumah setelah ia nyaris jatuh pingsan. Mahio yang malang, kata salah seorang dari mereka dengan suara menyesal seolah-olah ia sedang bicara pada anaknya sendiri.

Dan ketika matahari telah menghangatkan atap rumah, Mahio belum bangun. “Ia sangat lelah,” batin Primrose saat memandangi wajah Mahio yang tertidur.

Sejak kecil, Mahio dan Primrose sudah berteman. Saat ibu Mahio meninggal, berhari-hari Primrose menemaninya, membuat kue-kue kecil dengan rasa yang sangat manis dan berkata, “Mulai sekarang kau bisa mengandalkanku.”

Menurut Primrose betapa penting kue-kue manis itu bagi hati Mahio yang sedih. Rasa manisnya bisa menghapus air mata seseorang. Mahio tergelak dan menghabiskan kue-kue itu, tapi ia tak pernah mengatakan pada Primrose kalau hatinya tetap saja sedih dan diam-diam ia sering menangis sendirian. Ia justru bilang pada Primrose kalau nanti gadis itu akan jadi seorang tukang masak yang hebat dan itu membuat wajah Primrose memerah bahagia. Primrose tidak sabar menunggu hari-hari yang sepenuhnya dipenuhi aroma kue yang ia buat untuk Mahio.

“Tidak,” kata Mahio. “Kau tak harus melakukan itu untukku.”

“Kenapa?” tanya Primrose.

Mahio tak bisa memberi alasan apa-apa. Karena Mahio diam saja, Primrose sudah memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan dalam hidupnya. Primrose sama sekali tidak tahu kalau saat itu Mahio sedang menunggu hari yang tepat untuk menjadi sebatang pohon.

Rumah Mahio persis berada di sebelah rumah Primrose. Rumah dengan dinding batu. Di batu-batu yang berwarna hitam itu Primrose sering menulis pesan-pesan kecil untuk Mahio dengan kapur yang dicurinya dari sekolah—dan pesan-pesan itu—kebanyakan tentang gerimis atau hujan atau langit merah (semua kata itu ia dapatkan dari gurunya yang pintar menulis puisi), dan Primrose selalu menyertakan kalimat: semua itu sesungguhnya adalah kamu—tentu hanya gadis itu yang tahu sebab ia memang menulisnya agar tidak perlu dibaca siapapun.

Selain dinding batu, bagian yang paling disukai Primrose dari rumah Mahio adalah jendela kamar lelaki itu. Mereka punya jendela kamar yang berhadapan. Jika Primrose membuka jendela kamarnya sendiri, maka ia bisa melihat Mahio tidur-tiduran di ranjang besi tua peninggalan ibunya dan kadang-kadang mereka bercakap-cakap. Lelaki itu tak pernah mengunci jendela kamarnya sepanjang waktu—bahkan saat hujan dan titik-titik air masuk ke dalam.

Lewat jendela itu pula Primrose senang sekali menghadiahi Mahio sebuah dongeng yang sering diceritakan gurunya yang pintar menulis puisi itu sebelum jam pelajaran dimulai. Gurunya itu berasal dari sebuah kota yang sangat jauh dan ia guru yang sangat menyenangkan meski jarang sekali tertawa, dan yang paling Primrose sukai darinya baris-baris giginya yang rapi dan tentu sesekali saja bisa dilihat. “Kau mesti bertemu dengannya,” kata Primrose pada Mahio, “Ia akan meminjamimu banyak buku cerita yang membuat hatimu senang.” Namun Mahio menolak, ia tidak suka sekolah. Bukan. Bukan. Mungkin ia akan suka seandainya dari awal ia melakukannya, tepatnya sebelum ia punya mimpi ingin jadi sebatang pohon, sebelum ia kehilangan segalanya: bapak, ibu, dan kemudian sebatang pohon satu-satunya yang tertinggal miliknya.

Lewat jendela yang sama Primrose sering juga mengulurkan semangkuk bubur dan itu ia lakukan tanpa sepengetahuan ibunya yang senang mengomel bila makanan mereka diberikan pada orang lain. Ibunya bukan orang yang terlalu pelit, tapi bila itu Primrose lakukan saat mereka nyaris kehabisan bahan makanan maka tentu saja jadi sebuah masalah.

Mahio masih saja tertidur.

Primrose terus-menerus memandangi wajah yang pucat itu. Kalau Mahio membuka mata, Primrose ingin mengatakan, “Jangan lakukan lagi, Hio. Kau membuat khawatir kami semua.” Ah, pikir Primrose, ia mungkin bisa membuat kalimat yang lebih pendek: Berhentilah ingin jadi pohon, Mahio. Lagi-lagi Primrose belum puas pada kalimatnya. Dan ia menyerah dan memutuskan tak perlu memikirkan kalimat apa nanti yang akan ia katakan. Ia hanya ingin menunggu Mahio bangun. Ia menunggu mata Mahio terbuka. 

***

“Aku sedih.”

“Cobalah tertawa.”

“Tidak bisa. Aku sudah gagal menjadi sebatang pohon.”

“Kau sedikit demam,” kata Primrose tak memedulikan kata-kata Mahio.

“Aku ingin sekali jadi sebatang pohon.”

“Kau ingin kubuatkan kue-kue yang manis? Aku akan membuatnya sebelum Ibu pulang.”

Mahio menggeleng. Ia menatap dalam pada Primrose. 

“Lupakan itu, Hio,” kata Primrose resah, “Lupakan keinginanmu jadi sebatang pohon.”

“Itu satu-satu yang kuinginkan.”

“Aku tidak bisa lagi mengerti kamu.” Primrose meninggalkan jendela kamarnya. Ia berpikir betapa kerasnya Mahio dan itu membuatnya kesal. Ia masih mendengar Mahio memanggil namanya. Mungkin teman sejak kecilnya itu membutuhkan bantuan atau menyesali sikapnya. Namun ia sedang marah pada Mahio. Ia lari mencari dinding batu. Di sana ia kembali menulis sesuatu. Menulis tentang gerimis atau hujan atau langit yang berwarna merah. Segala yang sesungguhnya ingin ia sampaikan pada Mahio sekaligus ingin ia sembunyikan. Lalu ia duduk di dekat dinding penuh tulisan itu dan menangis. Setelah hari ini, ia berjanji tidak akan menulis apa-apa lagi di sana. Ia merasa Mahio hanya akan memikirkan keinginannya menjadi sebatang pohon sampai kapan pun.

***

Pada Senin pagi Primrose berdiri di depan cermin siap-siap hendak berangkat ke sekolah. Hari ini ia akan bertemu kembali dengan gurunya yang pintar menulis puisi dan ia mau menceritakan tentang Mahio yang ingin jadi sebatang pohon dan pada akhir pekan lalu menanam dirinya di dalam tanah. Mahio yang sejak percakapan kemarin tak lagi mau membuka jendela kamarnya. Mungkin Mahio sedang ingin sendirian. Tidak mau bertemu atau bicara pada siapa-siapa.

Setelah merapikan rambut di depan cermin, Primrose memperhatikan matanya yang selama ini jarang sekali ia lakukan. Hanya bila perlu saja ia bertatapan dengan mata itu. Sekadar untuk memastikan tak ada kotoran yang mengering di bawah dan sudut mata sebelum ia pergi ke sekolah. Ia harus dalam keadaaan sempurna saat bertemu guru yang sangat disukainya itu.

Mata itu, gumam Primrose sambil mendekatkan wajahnya ke cermin dan membuka kelopak mata lebih lebar saat ia melihat bayang-bayang hitam yang tak biasa. Bukan, pikirnya, itu bukan mata hitam milikku. Dada Primrose seketika berdebar keras. Dalam mata itu tumbuh sebatang pohon! 

Primrose  menjerit dan lari keluar dan mendobrak pintu rumah Mahio. Ia tak menemukan lelaki itu. Dan tak akan pernah menemukannya lagi. n

GP, 2014


Lampung Post, Minggu, 8 Maret 2015

1 comment: