Sunday, January 8, 2012

Warahan Negeri Awan

Cerpen Syaiful Irba Tanpaka



episode satu

NAMANYA Negeri Awan. Karena negeri itu betul-betul berada di atas awan.

Syahdan cerita Sang Pewarah; dahulu kala awan itu terhampar di atas bumi dan bukan di langit seperti yang kita lihat saat ini. Bila ingin pergi ke Negeri Awan, maka kita tinggal melangkah menuju pintu gerbangnya untuk kemudian menjejakkan kaki dan berjalan di atas gumpalan-gumpalan awan yang terhampar dengan indah seperti di kayangan.

Tak ada penjaga pintu gerbang. Setiap orang boleh dengan bebas melancong ke Negeri Awan kapan saja. Dan kata orang-orang yang pernah mengunjunginya, Negeri Awan memiliki pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Selain bangunan-bangunan megah dan mewah yang mengingatkan kita pada istana raja-raja, pemandangan alamnya luar biasa. Pohon-pohon tumbuh dengan warna-warni yang cerah cemerlang. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan sebagainya. Begitu pula dengan air telaga atau sungai-sungai yang mengalir berwarna-warni serupa pelangi.

"Seperti mimpi rasanya kalau kita berada di Negeri Awan. Di antara hamparan awan yang berwarna putih itu semua yang ada berwarna-warni. Bukit-bukit, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, dan benda-benda lainnya bersanding dengan paduan warna yang harmonis."

"Tak ada malam di Negeri Awan. Karena gumpalan awan yang putih itu mengandung cahaya yang menyiangkan."

Penduduk Negeri Awan hidup dengan makmur dan sentosa. Kehidupan yang sejahtera itu membuat negeri ini damai dan tenteram. Rakyat Negeri Awan hidup jauh di atas rata-rata garis kemiskinan. Tak ada pencurian karena tak ada yang mau jadi maling. Tak ada perampokan sebab tak ada yang ingin memaksakan kehendak. Tak ada pelacuran karena nilai-nilai ke-Tuhanan dan kehambaan tertanam kuat. Tak ada koruptor lantaran pejabat tinggi negeri mengutamakan kepentingan rakyat. Semua hidup berdampingan saling mengasihi sebagai keluarga besar.


episode dua

SANG Pewarah kemudian meriwayatkan asal muasal Negeri Awan dan kenapa sekarang tidak lagi berada di atas bumi, melainkan di langit tinggi.

Aaaaa...

Warahanku warahan(1)

Nyak haga cawa-cawa

Dang niku nyiksa badan

Ram damai saradara

(Aaaaa.../bercerita saya bercerita/saya akan berkata-kata/jangan Anda menyiksa badan/kita damai bersaudara)(2)

Tersebutlah seorang permaisuri yang tengah gundah gulana. Sang raja baru saja wafat. Putrinya yang sulung belum menikah. Kedua putranya yang beranjak dewasa mulai suka bertengkar. Dan hal inilah yang sesungguhnya membuat permaisuri bersedih. Bagaimana tidak. Ketika tanah kubur sang raja masih berwarna merah, tersebar kabar perseteruan kedua putranya yang ingin memperebutkan takhta kerajaan. Sehingga pejabat-pejabat tinggi dan bala tentara kerajaan terpecah.

"Ibunda permaisuri, tenanglah. Mungkin itu cuma kabar burung. Untuk jelasnya nanti kuajak bicara kedua adikku," ucap si Sulung.

"Kabar itu benar adanya, putriku. Penasihat Kerajaan telah menceritakan kepadaku. Dan Ibu telah meminta dilaksanakan Musyawarah Mulia untuk menyelesaikan persoalan ini."

"Kapan itu waktunya?"

"Tiga hari lagi."

"Saat purnama penuh?"

"Ya, saat bulan sempurna. Ibu berharap kegelapan yang bersemayam di hati kedua adikmu akan lenyap disinari cahaya kebesaran."

"Kalau begitu, Ibu jangan bersedih lagi."

"Bagaimana mungkin, putriku. Bagaimana mungkin hati seorang ibu akan tenang mengetahui anak-anaknya berbeda paham, saling menyusun kekuatan untuk saling menghancurkan? Ibu manakah yang rela menyaksikan anak-anaknya dikuasai amarah dan nafsu saling membunuh? Ibu membesarkan kalian dengan penuh harapan. Lantas ibu manakah yang tak akan menangis bila harapan-harapan itu berambisi untuk saling memadamkan?" Permaisuri meneteskan air mata.

Si Sulung menatap penuh keharuan; karena ia juga seorang perempuan. Seseorang yang secara kodrati kelak akan juga dipanggil ibu. Apakah lantaran persamaan itu ia bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya. Seakan tak mengerti si Sulung menggeleng-gelengkan kepala. Dan butiran air mata mengalir dipipinya

Waktu begitu pelit untuk menyampaikan semua hal yang diketahuinya. Ia menyimpan segenap rahasia rapat-rapat. Nasib dan takdir manusia menjadi bagian dari misteri yang dikandungnya. Tak terasa tiga hari telah berlalu. Bulan purnama bersinar di langit malam. Di dalam istana Musyawarah Mulia baru saja berlangsung.

"Dengan mengingat kewibawaan dan kebijaksanaan Baginda Raja almarhum, Musyawarah Mulia dibuka," suara Penasihat Kerajaan menggema.

"Yang Mulia Permaisuri, Ratu Agung Kerajaan Sembilan Gunung dipersilahan untuk bicara."

Permaisuri tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia memulai perkataan dengan bertanya.

"Apakah yang membuat kerajaan ini menjadi besar dan dihormati?"

Hadirin tampak tenang. Tak ada seorang pun yang berkeinginan untuk menjawab. Maka Permaisuri melanjutkan.

"Jawabnya adalah karena nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang senantiasa dipupuk dan dipelihara oleh almarhum Baginda Raja. Dan nilai-nilai itulah yang seharusnya kita pertahankan agar kerajaan ini tetap besar dan dihormati. Karena itu, akan tiba waktunya bagi kedua putraku untuk membuktikan diri siapa yang layak sebagai putra mahkota. Tersebab putri sulungku tidak memiliki hak untuk itu."

Tiba-tiba Putra Kedua angkat bicara.

"Maaf Ibu Ratu, bukankah ketika Yunda Putri tidak memiliki hak pewaris maka secara otomatis akan jatuh ke tanganku sebagai putra tertua?"

Namun, sebelum Permaisuri menjawab, segera Putra Bungsu menukasnya.

"Maaf Ibu Ratu, hamba tidak sependapat dengan Putra Kedua. Sebagaimana Ibu Ratu katakan, kami harus dapat membuktikan diri siapa yang lebih layak sebagai pewaris tahta Kerajaan Sembilan Gunung..."

Putra Kedua yang penasaran balik membantah.

"Yang kukatakan adalah aturan yang lazim dipakai. Aturan yang seharusnya. Jadi akulah pewaris takhta yang sah."

"Tidak bisa. Kita harus menghormati perkataan Ibu Ratu...."

"Tapi kita harus pakai aturan...."

"Tidak bisa, harus begini...!"

"Tidak bisa, harus begitu...!"

Kedua putra raja itu tidak bisa lagi dikendalikan. Suasana gaduh. Ketegangan mulai mengalir dalam ruangan. Para petinggi kerajaan mengambil posisi merapatkan barisan dengan putra raja yang didukungnya. Sementara di luar pasukan kerajaan terpecah dua. Tiba-tiba terdengar suara teriakan "Serbuuuuuuuu...."

"Lindungi Ibu Ratu dan Putri!" sebuah suara menggaris hiruk pikuk, lalu perang pun terjadi. Mereka saling memukul, saling menombak, saling menebas, saling memanah. Pekikan-pekikan menyerang dan kesakitan bergema bersamaan. Istana seakan berwarna merah oleh percikan dan tumpahan darah. Tubuh-tubuh yang roboh terluka serta mayat-mayat bergeletakan memendarkan cahaya bulan yang murung. Keangkaraan tersenyum dingin menyaksikan peristiwa itu. Peristiwa yang menjadi narasi besar dari hasrat manusia yang haus kekuasaan. Tak peduli harus meminum darah saudaranya sendiri.

"Oooh...!" Permaisuri mendesah. Di dera kepiluan hatinya, ia berlari menggandeng sang putri. Ia berlari dan terus berlari. Hingga ia sampai di padang luas terbentang. Ia menghentikan langkahnya. Ia tatap wajah putrinya yang berurai air mata.

"Berhentilah menangis putriku sayang. Ibu sekarang hanya memilikimu, tak ada yang lain. Kecuali sesuatu yang akan ibu berikan kepadamu."

Putri merebahkan diri ke pelukan Permaisuri. Tak lama kembali mengangkat wajahnya dan menatap kepada Permaisuri.

"Apa yang Ibu maksudkan?"

"Ibu ingin engkau menjadi seorang ratu."

"Bagaimana mungkin, Ibu?"

"Engkau harus menjadi ratu bagi dirimu dan rakyatmu. Tuhan Yang Maha Utama, keadilan adalah sarana, kehidupan yang damai dan sejahtera tujuannya."

"Tapi...." Putri diliputi tanda tanya.

Permaisuri berusaha tersenyum, "Ibu akan membuatkan sebuah negeri untukmu."

"Ibu...."

"Inilah pilihan yang dapat membuat ibu tenang dan bahagia."

Sebelum Putri menyadari apa sesungguhnya yang tengah terjadi, secepat kilat Permaisuri membelah dadanya dengan kuku-kuku jarinya. Lalu ia mengeluarkan hatinya dan melemparkan ke atas padang yang luas itu. Dari hatinya itu muncul asap putih yang semakin lama menggumpal semakin banyak bersamaan dengan raibnya jasad Permaisuri.

Kenyataan itu membuat Putri tersentak dan histeris. Putri jatuh pingsan. Dan saat siuman ia mendapatkan dirinya terbaring di atas sebuah tempat tidur yang mewah. Beberapa pelayan yang sejak tadi menungguinya menyatakan siap untuk menjalankan perintah. Kemudian para petinggi negeri datang dan memberi hormat.

"Di manakah ini?"

"Ini Negeri Awan dan Ratu adalah pemimpin kami."

Sejak saat itu sang putri menjadi Ratu Negeri Awan. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Ia senantiasa mengingat pesan Permaisuri, ibunya, bahwa hati nurani adalah ruang pengadilan yang teradil. Hingga negeri Awan terkenal ke seantero negeri sebagai negeri yang subur, makmur, aman, damai, dan sejahtera.


episode tiga

Mahap ngalimpugha pun....

Sang Pewarah lalu menceritakan bagian akhirnya..

Konon beberapa tahun berjalan, pasukan kerajaan Sembilan Gunung dengan rajanya Putra Kedua menyerbu Negeri Awan. Namun niat Putra Kedua untuk menodai ketenteraman Negeri Awan tidak pernah terlaksana. Sebab ketika bala tentara Sembilan Gunung datang untuk menyerang, Negeri Awan membumbung dan terus membumbung ke angkasa serta menjadi bagian dari langit. Tak ada seorang pun yang bisa memastikan apakah Negeri Awan masih ada di antara awan-awan yang kita lihat sekarang. Padahal setiap orang merindukan untuk bisa menikmati kehidupan seperti di Negeri Awan.

Bandar Lampung, November 2011


Catatan:

(1) Warahan; merupakan sastra tradisi Lampung dari Kabupaten Way Kanan, sebagaimana Reringget di Kabupaten Lampung Utara dan Tulang Bawang atau Muayak dari Lampung Barat. Sastra-sastra tradisi ini masing-masing memiliki irama yang khas

(2) Bait pertama dari buku Warahan Radin Jambat terbitan DKL, 1995


Lampung Post, Minggu, 7 Januari 2012

No comments:

Post a Comment