Sunday, August 29, 2010

Kepalanya Tertinggal di Kolong Kursi

Cerpen Beni Setia


PADA bus kota jurusan Perak, kata orang, lelaki itu masih sering muncul. Naik dari Terminal Purabaya, duduk di kursi untuk dua orang pada deret kedua dari depan, d sejak bus kota itu-bernomor L-2341-S-kembalikan polisi, sebagai barang bukti kejahatan, tapi tak ada yang berani mengoperasionalkannya karena dianggap sial-akan dijauhi penumpang. Sampai sopir, kondektur, dan kernet asli, yang tak kebagian bus lain, dipaksa keadaan untuk mengoperasionalkananya. Agak nekad, setengah berharap kendaraan bobrok itu tidak lagi dikenali banyak orang sebagai TKP kejahatan. Sepi. Behari-hari hilir-mudik sepi penumpang. Lalu dilakukan upacara ruwatan buang sial. Dan berhari bus itu tetap sepi penumpang. Sampai satu hari lelaki itu naik di terminal, memilih deret kedua di kiri, duduk merapat ke jendela-berserentakan dengan penumpang bersigegas naik.

"Panen, Jon!" teriak calo penumpang. Tapi saat karcis akan ditagih, lelaki itu tak ada di tempat, kursi yang rapat ke jendela itu kosong meski di sebelahnya terisi. Bulu kuduk Jojon bangkit. Ia gemetar. Tapi tak ngomong apa-apa. Bisu. Bersabar. Bersibuk dengan penumpang yang turun dan naik di sepanjang trayek-kursi selalu terisi semua. Di Perak, sambil antre giliran, Jojon bercerita kepada Waras dan Wagiran, kalau lelaki itu naik bus dan sekarang mungkin masih duduk di kursi deret kedua sebelah kiri.

"Jadi?" tanya Wagiran.

Waras menggeleng. Bangkit. Membeli sebatang 234, menyulut, serta pelan meletakkannya di kolong kursi kiri deret kedua dari depan.

"Asalamualaikum ahli kubur," bisiknya-gemetar.

Dan bus kota kembali penuh penumpang, yang turun dan naik sepanjang trayek. Dan meski ngeri mereka terus memakai bus kota itu sampai tutup izin layanan selepas jam 23.00. Besoknya, di pangkalan, mereka cerita tentang lelaki yang terlihat naik di Terminal Purbaya tapi tak bisa ditarik karcis ketika bus melaju di Jalan Akhmad Yani-begitu bersibelok ke luar terminal. "Ia paham-Ia mau mengerti kesulitan kita," kata Waras. Menyulut sebatang 234, serta meletakkannya di kolong kursi rapat dinding di deret dua dari depan sebelah kiri-ditambah segelas kopi yang sengaja ditumpahkan. Dan siang itu, di terminal: si lelaki itu tampak naik dan jelas memilih kursi kiri deret kedua dari depan rapat jendela. Jojon, Wagiran, dan Waras-dan calo penumpang itu-menandainya. Tersenyum-

bergairah mengepalkan tangan.

Sepanjang hari, sampai jam 23.00, bus kota itu senantiasa terisi oleh penumpang yang turun-naik sepanjang trayek. Selalu. Seminggu pol. Sampai seorang kondektur, lepas jam 16.00, membeli sisa waktu operasional dengan ongkos sebesar setor harian.

"Tolong," katanya, "anakku sakit dan seminggu ini aku tidak bisa pol setor. Tolong." Jojon menatap. Lelaki itu membungkuk sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajah. Setengah bersisembah. Jojon melirik Waras, lantas solidaritas di antara sesama sopir bangkit-seperti solidaritas yang dihadirkan oleh lelaki itu-: Waras mengiyakan. Memberi izin untuk ikut memetik keajaiban yang dilimpahkan si lelaki itu.

Dalam seminggu utang setoran Madsori tuntas. Dan cerita tentang lelaki itu pun beredar sebagai keajaiban trayek di pangkalan. Sehingga sopir yang lain berontak, dan serentak menuntut hak ikut diperbolehkan mengoperasionalkan bus kota L-2341S itu. Demonstrasi internal yang menyebabkan pimpinan memberlakukan giliran pakai yang adil: setiap tim pengelola angkut bus kota berhak untuk mengoperasionalkan bus itu selama dua hari setiap dua bulan-kecuali Jojon cs. yang boleh dua hari di setiap bulan. Dan terjadilah (peristiwa) ledakan penumpang melulu di bus kota istimewa itu-setiap beroperasi selalu pol. Mungkin sekitar 13-14 bulan. Setelah itu aura bus kota L-2341-S kembali normal, karenanya bus itu kembali menjadi jatah pakai tetap Jojon.

Meskipun sesekali si lelaki itu muncul dan memilih duduk di kursi kesayangannya, lalu semua kursi selalu terisi penumpang yang turun dan naik di sepanjang trayek. Di sela-sela hari normal yang identik dengan sukar penumpang: mereka seperti mendapat bonus. Kata orang, tanda akan muncul bonus penumpang pol pada bus itu hanya bisa diketahui sebagian orang terminal tertentu. Karena kehadiran lelaki itu hanya terlihat oleh sebagian calo penumpang, pengatur jadwal keberangkatan, sopir, kondektur, dan kernet tertentu. Mereka yang amat hapal dengan sosok dengan baju yang tidak pernah berganti itu, dengan gaya berjalan dan sikap cuek tak peduli pada riuh kesekitaran itu. Karena itu sopir yang kesulitan diuber-uber utang setoran harian, yang selalu tekor tak bisa memenuhi target setoran akan menyembah meminta agar Jojon cs. mau mengalah-di selepas pukul 16.00, dengan uang setoran harian dibayar penuh.

Senantiasa. Selalu. Dan terkadang Jojon cs tidak mau melelang meski itu ditebus uang setoran harian plus bonus. Dan terkadang bus itu tidak kunjung disiberangkatkan karena Jojon cs dikerubuti banyak sopir lain, yang bersikeras meminta jatah memakai bus kota itu. Polisi terminal pun-terkadang tanpa tahu kalau lelaki itu naik L-2341-S-menyelak, menyuruh Jojon cs naik, dan bus diberangkatkan dengan penumpang yang bersijejal. Dan meski terperangkap pengap, selama pertengkaran itu tidak pernah ada penumpang yang turun. Biasanya, lepas pukul 16.00: baru Jojon cs menyerah, bersirela memberikan si L-2341-S kepada yang berani membayar dengan harga lelang tertinggi-artinya: masih sekitar 7 jam buat lalu-lalang malam dengan trayek yang selalu ramai penumpang sehingga kursi yang ada itu senantiasa terisi.

"Itu memang keajaiban," kata banyak orang.

Sekali, di hari yang entah kapan tepatnya: ada calo penumpang yang nekad naik, duduk menjejerinya di deret kedua kursi kiri dari depan, nekad berharap mendapatkan petunjuk nomor toto gelap. Tapi lelaki kita itu tak bisa disapa, tak mau disapa. Duduk anteng. Bisu. Lantas menghilang ketika bus keluar dari Terminal, atau saat langsam bersilamban memutar di Bundaran Waru. Atau malahan langsung menghilang begitu dijejeri. Tak ada petunjuk. Tak ada impen. Tak ada wangsit. Nomer. Dan meski lelaki itu tak suka judi, kata banyak orang, tapi lelaki itu tetap memberkati penumpang bus L-2341-S. Bahkan, untung lelaki itu tidak pernah bisa dilihat penumpang-cuma sopir, kernet, kondektur, calo penumpang, dan pengatur jadwal keberangkatan.

Karena itu, semua orang di terminal bersisepakat tidak banyak omong membikin takut tiap calon penumpang-karena inti kesejahteraan mereka semua tergantung dari keberanian mencegat, naik, dan diangkut ke tujuan tanpa asumsi apa-apa dari si calon penumpang. "Cukup sekali," kata Jojon, "orang-orang membaca berita ditemukannya kepala terpenggal di kolong kursi kiri deretan kedua dari depan bus L-2341-S ini. Sisa mutilasi yang sengaja dibuang perempuan itu dengan berpura-pura naik bus kota dan ketinggalan. Tak seperti cara membuang tangan dan kaki, yang utuh diketemukan di Kali Mas, lalu torso serta isi perut yang dibuang di Selat Madura-dari feri-, dan tidak pernah diketemukan lagi. Cukup sekali, dan biar ia sesekali balik ke sini, bernostalgia, dan menyatakan tarima kasih karena kepalanya bisa diketemukan utuh...

"Aku melapor ke polisi sehingga ia bisa segera diidentifikasi, dan si perempuan pembunuh itu langsung bisa ditangkap. Cukup kita yang tahu. Cukup hanya kita yang tahu," kata Waras menandaskan. Dan kehebohan bangkit di terminal Purbaya itu-dari perjalanan lesu kurang penumpang dari Perak, sehingga Waras bisa mengingat dari titik mana perempuan itu naik dan seperti apa wajahnya-, ketika kerdus mi yang tertinggal di kolong kursi itu dibuka si pemulung. Tadjo yang setia menyapu sisa dan barang tertinggal sebagai kerja sampingan selain mengasong.

Kepala si lelaki yang darahnya membeku dan mata meram tanpa rasa sakit yang mendatangkan banyak polisi serta interogasi panjang. Kesibukan yang menyebabkan dirinya, bus L-2341-S, dan kursi jejeran kedua kiri itu masuk koran. Identifikasi dari ingatan Waras yang membuat polisi (segera) bisa mengejar dan mengciduk si pelaku perempuan itu, lalu menginterogasi dan menjejaki sisa tubuh lainnya yang dibuangnya terpencar. Pemberitaan yang membuat L-2341-S tak bisa ke luar pangkalan, sehingga Jojon, Wagiran, serta Waras hanya bisa sesekali jalan dengan bus yang menganggur.

Dan, pada dasarnya hanya orang tertentu yang tahu. Dan sesekali orang yang tak mengerti dan tidak pernah diberi tahu itu ikut menikmati berkah kemunculan tiba-tiba lelaki itu, yang muncul untuk melimpahkan terima kasih dengan menarik penumpang sepanjang jalan. Orang-orang yang bercerita panjang tentang nasib mujur, tentang hari ajaib ketika semua kursi bus selalu penuh penumpang yang turun dan yang naik, dan yang semua bersibayar tiket. Keajaiban yang mempersibesar keuntungan sisa setoran harian-membuat uang yang dibawa pulang di atas rata-rata hari normal. Sesuatu yang tak terprediksi, lonjakan penumpang yang tidak bisa diramalkan-setidaknya sampai manajemen paham keistimewaan bus L-41-S itu.

"Berkah dari hantu urban ... hah!" teriak si manager baru perusahaan-peranakan Jawa-Mandailing-setelah mendengar jawaban atas pertanyaan berulang tentang apa keistimewaan bus L 2341 S itu. "Apa tidak sebaiknya kita protoli, lantas onderdilnya dibagikan ke bus-bus lain agar berkahnya terbagi rata ke banyak bus... hah?" serunya lebih keras lagi. Semua orang di pangkalan itu ternganga. Saling tatap-bersiserentak menggeleng, bersiserentak menolak. Semua melengos dan meninggalkannya bingung di pangkalan. "Hey ..!" teriaknya, "Apa ada yang salah? Apa ada yang tak benar?"

"Apa kowe kepingin didatangi glundung pringis?" teriak Madhopi. Manager itu melengos-dan ide itu tak pernah terlaksana. Tidak ada yang berani melaksanakannya. Cukup puas dengan jatah bergilir mengoperasikannya. Dan jatah keuntungan bulanan yang teramat pasti itu telah cukup untuk mengurangi beban utang ke warung-cukup membuat surga subsistensi urban perkotaan mereka terpenuhi. Memang!

Catatan:

Anteng : tenang, tak peduli dengan kesekitaran;

Impen : impian

wangsit nomer
: petunjuk angka yang ditafsirkan dulu atau langsung dipertaruhkan dalam permainan judi lotre gelap

glundung pringis: hantu berujud kepala yang mengejar mangsa dengan terbang atau menggelundung


Lampung Post, Minggu, 29 Agustus 2010

1 comment:

  1. wow... just wow. udah lama ga baca cerpen... ini keren !!

    ReplyDelete