Sunday, August 7, 2011

Ziarah Botol

Cerpen Tandi Skober


"Namaku Gusur. Emak bilang, sebenarnya sih pas lahir namaku Adhikarya. Disebabkan rumah emak dalam satu tahun digusur Pemda DKI lebih dari 13 kali, maka agar tidak gusar setiap kali ada operasi penggusuran kemiskinan, namaku diganti menjadi Gusur," ucap Gusur Adhikarya. "Itu ceritaku, bagaimana ceritamu, Stad?"

"Saya tidak punya cerita, Bos. Maklum sebagai office boy, cerita saya sudah banyak diceritain orang."

Gusur tertawa. Tentu saja tertawa terkekeh-kekeh. Sebagai bos memang kudu bisa tertawa terkekeh-kekeh, bila kagak bisa begitu, yah cuma pekerja biasa. Terlebih lagi Gusur adalah konglomerat di pusaran penerbitan media cetak. Konon, 12 dari 10 penerbitan majalah di republik Pancasila dipastikan dikelola Gusur. Disebabkan hal itulah, setiap kali tertawa, Gusur memiliki alur waktu tidak kurang dari dua menit. Tapi kali ini dipastikan alur waktu tawa Gusur lebih dari 5 menit. Tidak hanya itu, Gusur tidak hanya terkekeh-kekeh, juga berair mata, bahkan diperkirakan tertawa terkencing-kencing.

"Saya rindu emak," mendadak tawa Gusur berhenti. Matanya nyanyikan rindu hingga titik terjauh. Jemarinya melukis sepi pada permukaan air akuarium. "Ceritaku itu tidak harus ditulis sekarang. Stad bisa tulis nanti setelah kita ziarah kubur."

"Ziarah kubur?" agak ternganga mulutku.

Gusur mengangguk. Malam merangkak di beranda. Bulan bergulir di tenggorokan. Dan? Gusur alirkan kalimat aneh, "Inilah lukisan terbaik Ramadan 1432 H. Burung-burung berkicau, ikan, kura-kura berseliweran. Dalam kolam, anak-anak bercanda dan menangis. Marmut, ayam, tupai, istri, mereka bercumbu dengan rempah-rempah di dapur. Dalam sangkar merpati bertelur, dalam hati keikhlasan bertutur."

Saya tepuk tangan. "Ckckck, arif banget, Bos! Dalam sangkar merpati bertelur, dalam hati keikhlasan bertutur. Sungguh aku ikhlas jadi office boy dalam sanggar majalah Hehehe, Bos. Ga nyesel."

Gusur tersenyum. Senyum itu sudah tiga Ramadan saya nikmati. "Senyum bertasbih puisi," komentar Kiara. Senyum itulah yang membuat Erin dan Taufan meyakini majalah Hehehe akan menjadi ikon anekdot terbaik se-Asia Pasifik.

"Senyumku itu lukisan putih di atas kertas tanpa warna yang tergantung di ujung tiang bendera yang melengkung," ucap Gusur seraya membaca print out cerpen Nazar dalam Sepotong Roti karya Tandi Skober yang bakal terbit di edisi khusus saat Pemilu 2014.

Kalimat itu juga diucap ulang di ruang Peugeot 504. Roda mobil melaju deras, ziarah kubur ke Indramayu. "Ziarah adalah bersih-bersih album potret berdebu," ucap Gusur seraya mengelus satu botol besar minuman ringan yang dibeli seharga sebelas ribu rupiah di mini market samping kantor Hehehe. "Album itu, satu kali dalam satu tahun kudu dibersihkan."

Ada apa dengan botol itu, Gus? Gusur diam. Angkat bahu. Dan go! Peugeot melaju kencang. Saya tak banyak tanya soal botol itu. Sebenarnya pingin sih aku minum barang satu dua teguk itu. Tapi, selalu saja Gusur memeluk botol itu, erat-erat.

Senja menyelinap di daun kamboja ketika langkah kami menapaki perkuburan kumuh. Kian mendekati kuburan emaknya, terlihat langkah Gusur kian melemah. Tangannya masih memeluk botol itu. Matanya merayapi kuburan emaknya. Anak-anak kecil meminta botol minuman ringan berharga mahal itu. Ia tersenyum. Ia keluarkan dompet. Beberapa lembar uang puluhan ribu ia berikan ke anak-anak itu.

Kini Gusur sudah pun duduk bersimpuh di depan gundukan kuburan emaknya. Tutup botol minuman berlabel mahal itu ia buka. Ia tumpahkan isi botol itu ke gundukan kuburan emaknya. "Mak, Gusur datang. Gusur membawa satu botol minuman ringan. Gusur siram dengan air botol minuman ini ya Mak? Gusur sayang sama Emak. Bagi Gusur, Emak adalah Kakbah yang setiap saat Gusur rindu untuk menghadap Emak."


***

Ada apa dengan botol bermerek paling laku di dunia ini? Lagi-lagi sulit ditemukan jawabannya. Biasanya orang nyekar yah nyiramnya pakek air biasa, air bening. Ini jadi kepikiran. Tiap kali aku tanyakan ke Gusur. Bos hanya diam. Matanya menerawang ke sudut ruang. Di sana ada banyak botol minuman ringan dengan berbagai merek berjajar di atas buffet di bawah foto hitam putih emaknya itu.

Ada apa dengan botol-botol beraneka rasa itu? Erin menunduk. Ia terus menerus membaca selembar kertas print out. Aku ambil kertas itu. Aku baca. Ah! Ini bukan cerpen! Ini bukan fiksi! Aku baca tulisan itu, "Gusur diam! Diam-diam angannya berlari jauh ke belakang. Saat itu Gusur masih berusia 4 tahun. Gusur paling suka bangun sebelum subuh. Kenapa? Ia akan berlari ke atas jembatan. Duduk di buk beton jembatan kecil. Menunggu emaknya pulang kerja. Sambil menunggu, Gusur kadang terkantuk-kantuk. Tapi tetap ditahannya agar tidak tertidur. Sebab, Gusur tahu betul emaknya akan membawa satu plastik minuman berikut sedotannya. Tiap kali emaknya sodorkan plastik itu, mata Gusur berbinar-binar memandangi minuman dalam plastik itu. Tiap kali menyedot air dalam plastik itu, ia rasakan seperti ada rembulan mengalir di tenggorokan."

"Ini tulisan, Bos?" tanyaku.

Erin mengangguk. Kembali aku baca lagi, "Emak emang selalu kumpulin sisa air minuman itu dari botol-botol yang masih tersisa. Orang kaya itu kalau minum tidak pernah dihabisin. Hmm, aku pernah tanya sama emak 'Minuman apa saja yang bisa dikumpulin, Mak?’ Emak akan menjawab 'Ada Coca-Cola, ada teh botol, Pepsi, Fanta, ada Sprit, yah macam-macam lah. Daripada terbuang, yah emak tuang dalam plastik. Bisa dibawa ke rumah. Iya kan? Kamu suka minuman mahal ini kan Gusur?'"

Aku hela napas panjang. Aku ngerti. Aku memaklumi mengapa Gusur sirami kuburan emaknya dengan satu botol minuman ringan berharga mahal itu. Aku baca kembali tulisan bosku, "Ah, senangnya aku. Aku selalu mantuk-mantuk sambil menyedoti minuman itu. Pasti ini minuman orang kaya ya, Mak? Emak menjawab 'Iya, harganya saja mahal.' Aku tersenyum. 'Kerja Emak apa sih?' Hmm emak menjawab 'Sekarang masih jadi tukang cuci di warteg Kali Asat."

Sesaat aku terhenyak. Ada lintasan nestapa di ujung mataku. Tapi aku baca lagi tulisan bosku ini: "Gusur kecil manggut-manggut. Gusur sedot minuman dalam plastik yang rasanya bisa bermacam ragam. Ada rasa Sprit, ada rasa teh botol, ada rasa Coca-Cola. Dan entah apalagi. Sekali tempo, Gusur pernah nemani emaknya kerja. Oh, anak kecil itu senang bukan kepalang. Tiap kali disuruh emaknya mengambili botol, Gusur langsung lari. Langsung ambil botol-botol itu. Botol digoyang-goyang. Tiap kali isi botol masih ada, mata Gusur kecil pun berbinar-binar. "Mak, yang ini masih banyakan!" teriak Gusur. Sang Emak tersenyum. Ia elusi kepala anaknya itu. Ah! Elusan surga yang kelembutannya masih terasa hingga kini."

"Inspiring!" ucapku.

"Layak dimuat," sambung Erin.

"Hal yang sulit tentu seputar berapa harus kita bayar honorarium cerita bos itu," potong Taufan.

"Itu bukan konsumsi untuk umum," mendadak sontak Gusur Adhikarya menepuk bahuku, "Biarkan cerita itu tetap tersimpan di sebuah kamar sangat spesial di kalbuku. Kamar itu tiap kali Ramadan akan datang selalu saya buka. Saya ziarahi. Saya yakini bahwa emak masih tetap hidup. Emak masih tetap membawa satu plastik minuman aneka rasa."

Gusur menghela napas. Ia pandangi dinding ruang redaksi. Di sana ada lukisan berukuran 1 x 1,5 meter. Itu lukisan Gusur Adhikarya. Tak jelas apa yang dilukis Gusur. Yang saya ketahui ekspresi botol-botol minuman dalam lanskap warna pucat nestapa yang pedih.
Azan isya terdengar. Bos menghampiriku, "Yuk tarawih," ajak bos. Aku mengangguk. Ada dering di ponsel Gusur. Ia pijit yes. "Oh ya, bagus itu. Hmmm, paling tidak dua hingga tiga krat teh botol, dua krat Coca-Cola. Hmm ok, Fanta, bisa itu. Aqua? Bisa juga. Pokoknya semua jenis minuman harus dibeli! Kasihkan saja ke takmir Masjid Al Ikhlas. Apa? Iya Fari Aziza itu takmir masjidnya bukan Putra Gara. Iyalah tiap hari selama Ramadan 1432 H!

Bandung, 23 Juli 2011


Lampung Post, Minggu, 6 Agustus 2011

No comments:

Post a Comment