Sunday, April 17, 2011

Televisi tanpa Channel

Cerpen Muhammad Amin


permisi, saya sedang bunuh diri sebentar
bunga dan bensin di halaman
teruslah mengaji, dalam televisi berwarna itu, dada1)

Kerap berkali-kali lelaki tokoh kita membentak-bentak dirinya sendiri. Di depan televisi. Seperti lelaki gila. Apa yang ia saksikan di depan layar 24 inci itu hanya gambar-gambar tentang dirinya. Tentang ketololannya dalam menangani permasalahan pelik yang menimpanya beberapa waktu lalu. Tekanan dari berbagai pihak. Juga televisi dan koran-koran yang tak henti menyorot dan memberitakan dirinya.

Bahkan hingga ia sudah mengundurkan diri dari ‘kursi panas’nya, masih saja ada yang memburunya.

Tapi kini, ia lebih tampak seperti pria dungu yang suka memaki-maki dirinya sendiri di depan televisi.

II

Adakah mereka menyangka bahwa saya sedang depresi? Saya rasa tidak. Saya rasa mereka tak akan berprasangka seburuk itu. Saya pintar menyembunyikan sesuatunya. Bahkan mungkin sampai suatu saat nanti mereka tak akan pernah tahu siapa sebenarnya saya.

Saya sangat beruntung menemukan tempat senyaman ini. Saya tak perlu lagi merasa takut dihantui orang-orang yang memburu saya.

Saya sudah menjadi orang baik-baik sekarang. Percayalah. Saya sudah berubah. Mereka pun bersikap baik terhadap saya. Mungkin di sini memang akan saya temukan kehidupan yang baru. Tanpa kekangan. Tanpa tekanan.

Saya akan bahagia tinggal di sini. Mungkin sampai suatu saat nanti. Dan saya tak perlu khawatir bila suatu hari saya bakal mati di sini…

III

Kami mendapatkan tetangga baru. Dia kelihatan orang baik-baik. Suka berinteraksi. Dan sangat menyenangkan jika diajak mengobrol. Jadi kami tak perlu menaruh prasangka yang buruk kepadanya.

Kadangkala, pada saat-saat tertentu, ia lebih betah berada di rumah. Tidak ke luar seharian. Dan kami tak perlu bertanya-tanya mengenai hal itu. Keesokannya ia sudah bergabung bersama kami. Mengobrol, melantur, bahkan menertawakan apa pun yang bisa ditertawai. Minum kopi sambil main kartu hingga larut malam.

Namun akhir-akhir ini kami baru menyadari wajah lelaki itu tak asing lagi. Sepertinya kami kerap melihat wajah itu. Wajah di televisi itu. Tapi kami lupa siapa dia. Apakah ia orang penting? Orang terkenalkah?

Tapi orang di layar televisi itu berkepala botak. Dan tetangga kami berambut gondrong dan berkacamata. Apakah ia sedang menyamar? Kami tak terlalu bisa mengingat. Kami pun tak mau berprasangka. Bukankah sejak awal kami tak ingin menaruh prasangka buruk terhadapnya?

IV

Dia, lelaki tokoh kita, sering mengingat-ingat kenangan itu. Kenangan dengan kekasih yang amat ia cintai. Namanya Anne, wanita cantik keturunan Indo. Posturnya tinggi semampai. Garis wajahnya mewarisi kecantikan ibunya, wanita Eropa yang menikah keduakalinya dengan ayahnya.

Anne, nama itu selalu mengendap di dalam pikirannya seperti lumpur di tepi sungai. Kekasihnya yang kemudian ia ketahui tak sungguh-sungguh menjalin hubungan dengannya.

Mereka sudah berpacaran selama hampir tiga tahun. Itu bukan waktu yang singkat dalam menjalin hubungan. Mereka selalu bersama. Anne sering menginap di apartemennya. Begitu pun sebaliknya.

Si lelaki menginginkan mereka menjalin hubungan yang lebih serius. Tetapi Anne selalu menolak dan berdalih belum punya keinginan menikah.

"Kita bisa menikmati hidup tanpa harus menikah," katanya. Akhirnya ia harus memaklumi wanita yang pikirannya berkiblat pada budaya Barat itu. Tanpa harus memperlebar masalah. Tanpa banyak pertanyaan. Dan mereka masih punya banyak waktu buat bersama.

Setelah dia tahu Anne akan pergi ke luar negeri meninggalkannya sendiri, suatu malam di sebuah kafe, dia mengajukan pertanyaan bodoh ini:

"Anne, mau kau mati bareng denganku?"

Anne tersentak dari tempat duduknya, mengira kekasihnya sedang bergurau.

"Apa kamu bilang?" Anne ingin mendengar pertanyaan itu lagi.

"Mau kau mati bareng denganku agar kita bisa pergi bersama-sama?"

"Aku tak suka lelucon macam itu. Pasti kau sedang bercanda."

"Aku tidak sedang berlelucon atau pun main-main, Anne. Aku sudah membawakan dua utas tali, sebotol racun serangga atau kamu ingin mencari cara lain yang lebih menyenangkan. Kamu tinggal pilih yang mana. Ini akan menjadi saat-saat paling indah untuk mati."

"Kamu sudah gila!" bentak Anne sambil menamparnya.

Mereka, para tetangga saya, memang sangat menyenangkan. Mereka sudah mengganggap saya sebagai bagian dari mereka. Dan begitupun sebaliknya.

Hari-hari yang saya jalani penuh dengan kegembiraan. Berjam-jam kami bisa tertawa. Bahkan hingga larut malam. Tak pernah terasa. Sampai suatu saat mereka membahas hal yang paling sensitif bagi saya: televisi.

Mereka bertanya mengenai lelaki yang ada di televisi itu, mengapa wajahnya mirip saya. Pada saat itu saya berhenti tertawa. Saya tak bisa lagi tertawa. Entah mengapa.

Saya mengira, pasti mereka semakin bertanya-tanya. Bahkan curiga. Ternyata tidak. Mereka malah tertawa melihat wajah saya yang kelihatan kebingungan. Seperti orang dungu, gurau mereka. Ah, betapa lucunya mereka. Sebenarnya saya tak pernah bermaksud berlelucon, namun mereka memancing saya.

Dan akhirnya saya pun ikut tertawa.

VI

Hal paling lucu yang pernah kami dengar darinya, yaitu ia pernah mengatakan bahwa ia akan mati dalam waktu-waktu dekat ini. Tentu kami tak percaya begitu saja. Kami menyangka ia sedang berlelucon. Dia seorang yang humoris, kami tahu itu. Bisa saja kali ini ia ingin menjadikan kematian sebagai bahan lelucon.

Tapi entah akhir-akhir ini ia selalu membahas tentang kematian. Lalu kami bertanya, "Adakah kamu punya penyakit ganas yang sekian lama menggerogoti tubuhmu sehingga dokter memvonis umurmu tinggal beberapa bulan lagi?"

"Tidak," katanya.

"Adakah seorang pembunuh bayaran diam-diam mengincar nyawamu akhir-akhir ini?"

"Tidak," katanya.

"Adakah kamu berniat bunuh diri?"

Dia menggeleng.

"Atau kamu telah menemui Izrail agar datang lebih segera untuk mencabut nyawamu untuk mengeakhiri masa kontrakmu di dunia?" tanya kami sambil bergurau.

Dia diam saja. Tapi matanya berbinar-binar.

VII

Ternyata mereka menemukan saya. Orang-orang itu yang selalu menekan saya. Mereka yang membuat saya tertekan. Mereka, orang-orang bersafari, yang telah menggusur kedudukan saya. Mereka, orang-orang berkamera, yang telah memasukkan wajah saya di dalam halaman koran-koran dan layar televisi. Mereka selalu tampak tak puas, selalu saja ingin memburu keberadaan saya.

Dan mereka, orang-orang yang dulu berada di belakang saya, rupanya menginginkan kematian saya agar fakta-fakta mengenai mereka tak terbongkar. Malam-malam kerap saya merasa merinding mendengar derap langkah dan suara seperti seseorang mencongkel jendela. Mungkin mereka ingin membunuh saya. Silakan...

Tapi cara macam itu cukup membuat saya bergidik. Tak apa, toh sebentar lagi saya memang akan mati. Saya sudah kehilangan segalanya. Harta, istri, anak-anak, rasa nyaman, bahkan setengah dari kewarasan saya. Dan mereka ingin mengambil lagi semuanya tanpa bersisa.

Akhir-akhir ini saya kerap merasa terlalu sentimentil. Rindu pada istri saya yang pergi dengan lelaki lain, pada anak-anak yang tak mau lagi mengakui saya sebagai ayah di saat keadaan saya sedang terpuruk. Rindu pada suasana rumah.

Saya selalu menghayati perasaan. Dan itu saya lakukan di depan televisi yang menyiarkan program-program membosankan. Sinetron dan kuis-kuis yang bikin suntuk.

Saya juga kerap teringat pada Anne, kekasih saya dulu yang meninggalkan saya begitu saja ke negeri tempat tinggal orang tuanya. Tanpa memberikan harapan lagi kepada saya.

Bagaimana keadaannya sekarang? Apa yang ia lakukan sekarang? Mungkinkah ia tak akan pernah bersuami dan tetap melajang hingga kini?

VIII

Lelaki tokoh kita masih saja membentak-bentak dirinya sendiri. Di depan televisi yang menyala. Televisi yang hanya menampakkan bintik-bintik seperti koloni jutaan semut dan gemuruh suara menyesakkan ruangan. Sekarang ia merasa amat letih. Dia ingin pergi. Ke mana saja.

Pikirannya selalu terganggu oleh suara-suara yang muncul dari balik dinding rumahnya. Suara derap langkah kaki di balik tembok rumah dan seseorang yang mencongkel jendela.

Dia benar-benar letih. Jika suatu saat seorang wanita datang ke rumahnya mengetuk pintu. Terdengar dari dalam suara desis televisi yang masih menyala dan dia menyahut dengan suara terburu-buru.

"Maaf, tunggulah di luar, saya sedang bunuh diri sebentar."

Wanita itu tercenung, hampir tak percaya mendengar suara itu.

"Ratman, ternyata kamu belum berubah," gumamnya menggeleng-gelengkan kepala.

Kotaagung, 01 Desember 2010 22:33 WIB


Catatan:

1 Afrizal Malna dalam puisi “Televisi Channel 00”


Lampung Post
, Minggu, 17 April 2011

No comments:

Post a Comment