Showing posts with label Yetti A.KA.. Show all posts
Showing posts with label Yetti A.KA.. Show all posts

Sunday, March 8, 2015

Sebatang Pohon Mahio

Cerpen Yetti A KA


MAHIO sudah lama ingin jadi sebatang pohon. Suatu hari Mahio menggali tanah dan menanam setengah badannya.

Primrose berkata pada ibunya, “Oh, Hio, dia benar-benar sudah gila.” Wajah Primrose pias dan ketakutan. Mereka—juga hampir semua tetangga-tetangganya—menyaksikan Mahio berdiri telanjang dengan tanah menutupi ujung kaki hingga pinggang, dan berkata—dan seakan-akan kalimat itu bukan berasal dari dirinya—“Selamat tinggal semuanya. Aku akan tumbuh jadi pohon. Ini benar-benar seperti mimpiku bertahun-tahun ini. Kumohon mengertilah dan jangan bersedih.”

Mahio memejamkan mata dan ia merasa akar sudah tumbuh di jari-jari kakinya dan betis dan tunas segera keluar dari pinggang dan bagian tubuhnya yang lain dan tunas itu cepat sekali membesar menjadi daun-daun yang hijau tua, hingga ia menjadi pohon dengan cabang dan ranting dan daun yang lebat. Sebagaimana pohon-pohon yang selama ini memenuhi kepalanya. Sebagaimana pohon-pohon yang sering ia gambar dengan jarinya di atas pasir basah di tepi sungai di saat hampir semua teman-temannya membuat rumah pasir atau membuat bangunan mirip istana dengan menara yang tinggi.

Dulu, bapaknya Mahio seorang pencari kayu gaharu. Lelaki yang berburu pohon-pohon di hutan. Mahio memang tidak pernah bertemu lelaki itu—atau mungkin pernah ketika ia masih sangat kecil dan ibunya barangkali saja sering bercerita tentang bapaknya bersama rombongan yang kembali dari hutan membawa bongkahan atau gubal gaharu dan tak lama setelah itu mereka membeli baju baru atau mengupah anak-anak dari desanya untuk mengangkut beberapa karung batu dari sungai atau membeli satu pancang daging kerbau di saat ada penyembelihan atau daging rusa atau kijang hasil perburuan yang diasap di atas bidai. Sampai suatu ketika bapaknya tak pernah pulang lagi, Mahio dan ibunya mengalami masa-masa suram.

Mahio marah pada bapaknya yang tak pernah kembali lagi itu. Akan tetapi, tetap saja, tak ada yang berani menyimpulkan kalau kemarahan Mahio itu membuat ia ingin menjadi sebatang pohon.

Orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Mahio yang berkilat dan mereka tak bisa berbuat apa-apa. Seperti juga mereka pernah tak bisa berbuat apa-apa saat menemukan tubuh ibunya Mahio tergantung di cabang pohon pada Rabu pagi di bulan Juni. Pohon yang beberapa hari kemudian ditebang karena orang-orang tak ingin hantu ibunya Mahio berdiam di sana dan itu membuat Mahio meraung-raung sebab pohon itu satu-satunya yang tertinggal dalam hidupnya.

“Hio, kau harus segera pulang ke rumahmu. Udara dingin sekali,” kata Primrose dengan suara rendah. Mahio tetap diam saja dan matanya tetap terpejam. Beberapa anak kecil malah tertawa-tawa. Hanya mereka saja yang bisa tertawa saat itu. Menampakkan gigi-gigi mereka yang kecil-kecil kekuningan karena tidak terawat dengan baik. Primrose mendelikkan mata pada mereka, memberikan peringatan kalau mereka sedang menghadapi sesuatu yang sangat gawat, dan ini sama sekali bukan lelucon.

Sampai matahari tenggelam, Mahio masih menolak mengeluarkan setengah tubuhnya dari dalam tanah meski Primrose terus membujuk.

***

Tengah malam, orang-orang berhasil membawa Mahio pulang ke rumah setelah ia nyaris jatuh pingsan. Mahio yang malang, kata salah seorang dari mereka dengan suara menyesal seolah-olah ia sedang bicara pada anaknya sendiri.

Dan ketika matahari telah menghangatkan atap rumah, Mahio belum bangun. “Ia sangat lelah,” batin Primrose saat memandangi wajah Mahio yang tertidur.

Sejak kecil, Mahio dan Primrose sudah berteman. Saat ibu Mahio meninggal, berhari-hari Primrose menemaninya, membuat kue-kue kecil dengan rasa yang sangat manis dan berkata, “Mulai sekarang kau bisa mengandalkanku.”

Menurut Primrose betapa penting kue-kue manis itu bagi hati Mahio yang sedih. Rasa manisnya bisa menghapus air mata seseorang. Mahio tergelak dan menghabiskan kue-kue itu, tapi ia tak pernah mengatakan pada Primrose kalau hatinya tetap saja sedih dan diam-diam ia sering menangis sendirian. Ia justru bilang pada Primrose kalau nanti gadis itu akan jadi seorang tukang masak yang hebat dan itu membuat wajah Primrose memerah bahagia. Primrose tidak sabar menunggu hari-hari yang sepenuhnya dipenuhi aroma kue yang ia buat untuk Mahio.

“Tidak,” kata Mahio. “Kau tak harus melakukan itu untukku.”

“Kenapa?” tanya Primrose.

Mahio tak bisa memberi alasan apa-apa. Karena Mahio diam saja, Primrose sudah memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan dalam hidupnya. Primrose sama sekali tidak tahu kalau saat itu Mahio sedang menunggu hari yang tepat untuk menjadi sebatang pohon.

Rumah Mahio persis berada di sebelah rumah Primrose. Rumah dengan dinding batu. Di batu-batu yang berwarna hitam itu Primrose sering menulis pesan-pesan kecil untuk Mahio dengan kapur yang dicurinya dari sekolah—dan pesan-pesan itu—kebanyakan tentang gerimis atau hujan atau langit merah (semua kata itu ia dapatkan dari gurunya yang pintar menulis puisi), dan Primrose selalu menyertakan kalimat: semua itu sesungguhnya adalah kamu—tentu hanya gadis itu yang tahu sebab ia memang menulisnya agar tidak perlu dibaca siapapun.

Selain dinding batu, bagian yang paling disukai Primrose dari rumah Mahio adalah jendela kamar lelaki itu. Mereka punya jendela kamar yang berhadapan. Jika Primrose membuka jendela kamarnya sendiri, maka ia bisa melihat Mahio tidur-tiduran di ranjang besi tua peninggalan ibunya dan kadang-kadang mereka bercakap-cakap. Lelaki itu tak pernah mengunci jendela kamarnya sepanjang waktu—bahkan saat hujan dan titik-titik air masuk ke dalam.

Lewat jendela itu pula Primrose senang sekali menghadiahi Mahio sebuah dongeng yang sering diceritakan gurunya yang pintar menulis puisi itu sebelum jam pelajaran dimulai. Gurunya itu berasal dari sebuah kota yang sangat jauh dan ia guru yang sangat menyenangkan meski jarang sekali tertawa, dan yang paling Primrose sukai darinya baris-baris giginya yang rapi dan tentu sesekali saja bisa dilihat. “Kau mesti bertemu dengannya,” kata Primrose pada Mahio, “Ia akan meminjamimu banyak buku cerita yang membuat hatimu senang.” Namun Mahio menolak, ia tidak suka sekolah. Bukan. Bukan. Mungkin ia akan suka seandainya dari awal ia melakukannya, tepatnya sebelum ia punya mimpi ingin jadi sebatang pohon, sebelum ia kehilangan segalanya: bapak, ibu, dan kemudian sebatang pohon satu-satunya yang tertinggal miliknya.

Lewat jendela yang sama Primrose sering juga mengulurkan semangkuk bubur dan itu ia lakukan tanpa sepengetahuan ibunya yang senang mengomel bila makanan mereka diberikan pada orang lain. Ibunya bukan orang yang terlalu pelit, tapi bila itu Primrose lakukan saat mereka nyaris kehabisan bahan makanan maka tentu saja jadi sebuah masalah.

Mahio masih saja tertidur.

Primrose terus-menerus memandangi wajah yang pucat itu. Kalau Mahio membuka mata, Primrose ingin mengatakan, “Jangan lakukan lagi, Hio. Kau membuat khawatir kami semua.” Ah, pikir Primrose, ia mungkin bisa membuat kalimat yang lebih pendek: Berhentilah ingin jadi pohon, Mahio. Lagi-lagi Primrose belum puas pada kalimatnya. Dan ia menyerah dan memutuskan tak perlu memikirkan kalimat apa nanti yang akan ia katakan. Ia hanya ingin menunggu Mahio bangun. Ia menunggu mata Mahio terbuka. 

***

“Aku sedih.”

“Cobalah tertawa.”

“Tidak bisa. Aku sudah gagal menjadi sebatang pohon.”

“Kau sedikit demam,” kata Primrose tak memedulikan kata-kata Mahio.

“Aku ingin sekali jadi sebatang pohon.”

“Kau ingin kubuatkan kue-kue yang manis? Aku akan membuatnya sebelum Ibu pulang.”

Mahio menggeleng. Ia menatap dalam pada Primrose. 

“Lupakan itu, Hio,” kata Primrose resah, “Lupakan keinginanmu jadi sebatang pohon.”

“Itu satu-satu yang kuinginkan.”

“Aku tidak bisa lagi mengerti kamu.” Primrose meninggalkan jendela kamarnya. Ia berpikir betapa kerasnya Mahio dan itu membuatnya kesal. Ia masih mendengar Mahio memanggil namanya. Mungkin teman sejak kecilnya itu membutuhkan bantuan atau menyesali sikapnya. Namun ia sedang marah pada Mahio. Ia lari mencari dinding batu. Di sana ia kembali menulis sesuatu. Menulis tentang gerimis atau hujan atau langit yang berwarna merah. Segala yang sesungguhnya ingin ia sampaikan pada Mahio sekaligus ingin ia sembunyikan. Lalu ia duduk di dekat dinding penuh tulisan itu dan menangis. Setelah hari ini, ia berjanji tidak akan menulis apa-apa lagi di sana. Ia merasa Mahio hanya akan memikirkan keinginannya menjadi sebatang pohon sampai kapan pun.

***

Pada Senin pagi Primrose berdiri di depan cermin siap-siap hendak berangkat ke sekolah. Hari ini ia akan bertemu kembali dengan gurunya yang pintar menulis puisi dan ia mau menceritakan tentang Mahio yang ingin jadi sebatang pohon dan pada akhir pekan lalu menanam dirinya di dalam tanah. Mahio yang sejak percakapan kemarin tak lagi mau membuka jendela kamarnya. Mungkin Mahio sedang ingin sendirian. Tidak mau bertemu atau bicara pada siapa-siapa.

Setelah merapikan rambut di depan cermin, Primrose memperhatikan matanya yang selama ini jarang sekali ia lakukan. Hanya bila perlu saja ia bertatapan dengan mata itu. Sekadar untuk memastikan tak ada kotoran yang mengering di bawah dan sudut mata sebelum ia pergi ke sekolah. Ia harus dalam keadaaan sempurna saat bertemu guru yang sangat disukainya itu.

Mata itu, gumam Primrose sambil mendekatkan wajahnya ke cermin dan membuka kelopak mata lebih lebar saat ia melihat bayang-bayang hitam yang tak biasa. Bukan, pikirnya, itu bukan mata hitam milikku. Dada Primrose seketika berdebar keras. Dalam mata itu tumbuh sebatang pohon! 

Primrose  menjerit dan lari keluar dan mendobrak pintu rumah Mahio. Ia tak menemukan lelaki itu. Dan tak akan pernah menemukannya lagi. n

GP, 2014


Lampung Post, Minggu, 8 Maret 2015

Sunday, June 1, 2014

Kupu-kupu Tanalia

Cerpen Yetti A.KA


TANALIA menatap dinding kamarnya. Di sana tergantung satu lukisan. Ia sendiri yang melukis saat umurnya enam tahun. Lukisan seekor kupu-kupu dengan salah satu sayap yang robek. Sekarang ia tidak pernah melukis lagi. Masya melarangnya melukis kupu-kupu dan ia tidak berminat melukis objek lain.

Kenapa Masya melarang ia melukis kupu-kupu? Kata Masya, seekor kupu-kupu besar pernah hinggap di lengannya—kupu-kupu besar yang keluar dari hutan. Ketika terbang, kupu-kupu itu meninggalkan serbuk yang beterbangan dan membuat batuk. Sejak itu Masya menganggap kupu-kupu binatang yang buruk.

Tanalia sudah tidak percaya pada cerita mamanya itu. Ia anak kelas lima SD yang tidak mudah lagi dibohongi.

Pintu kamar Tanalia terbuka. Kepala Masya menyembul. “Belum tidur?” tanyanya. Tanalia cepat-cepat bangkit. Sudah satu jam ia tidur-tiduran, menunggu mamanya pulang kerja. Dari siang ia sudah menyusun rencana demi seekor kupu-kupu. Ia mau memberi tahu Masya tentang keinginannya memelihara kupu-kupu dalam kamar. Permintaan itu memang hampir tidak masuk akal mengingat Masya pembenci kupu-kupu. 

“Kupu-kupu?” mata Masya terbelalak. Masya menjaga emosinya tidak meletup di hadapan Tanalia. Ia mengembuskan napas pelan-pelan dan menggeleng.

“Aku melihatnya hinggap di pagar sekolah. Sayapnya ungu…”

“Tidak, Nalia,” potong Masya.

“Aku ingin sekali.” Tanalia hampir menangis.

“Kamarmu bukan kebun bunga, Nalia. Bagaimana bisa kau memelihara kupu-kupu?” Masya membujuk.

Mata Tanalia mendadak berbinar, “Ma, aku ingin punya kebun bunga di depan kamarku. Biar aku bisa pelihara seekor kupu-kupu di sana. Boleh, ya?”

Masya memandang lelah pada Tanalia.

Tanalia menunggu. Dadanya sedikit gugup. 

“Mama tidak suka kupu-kupu, Nalia. Kau ingat?” ujar Masya meruntuhkan harapan Tanalia. Membuat Tanalia langsung masuk dalam selimutnya dan tidak mau bicara lagi. Ia bahkan diam saja ketika Masya mengucapkan selamat tidur dengan suara rendah. Ia menyukai kupu-kupu. Masya justru membencinya. Mungkin hanya mamanya yang membenci kupu-kupu di dunia ini. 

Ia dengar langkah kaki Masya menjauhi tempat tidurnya. Lalu bunyi pintu. Lalu hening. Seperti biasanya, kalau sedih, kembali ia menginginkan kehadiran lelaki kupu-kupu. Ia memanggil orang itu paman. Paman kupu-kupu. Ia yang dulu sering mengetuk jendela kamarnya dan mengajak keluar untuk mencari kupu-kupu di pagi hari. Setiap kupu-kupu yang mereka temui akan ia lukis sepulang dari perjalanan itu. Masya tentu tidak tahu apa-apa. Masya cuma tahu Tanalia masih tidur di kamar saat ia berangkat kerja. Tugas pembantu memandikan dan mengantar Tanalia ke sekolah bermain. Dan pembantu itu tidak pernah memberi tahu Masya kalau ia sering menemukan Tanalia melukis di lantai kamar dengan baju yang kotor sekali atau kadang-kadang lembap embun.

Sudah enam tahun paman kupu-kupu tidak lagi menemui Tanalia. Waktu itu, untuk terakhir kali, ia muncul di jendela, melambaikan tangan, pergi untuk selamanya—bertepatan dengan Masya mulai melarang Tanalia melukis kupu-kupu dan memasukkan semua lukisan Tanalia ke dalam gudang kecuali lukisan yang sekarang dipajang di dinding.

***

Di kamarnya, Masya tidak bisa tidur. Ia teringat terus pada permintaan Tanalia. Kupu-kupu. Kebun bunga. Bukan. Sebenarnya Tanalia bukan menginginkan kebun bunga, tapi kupu-kupu. Apa yang Tanalia pikirkan tentang itu semua? Kupu-kupu. Masya mengembuskan napas. Ia menarik sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Membakar bagian ujung. Ia memain-mainkan rokok itu. Dulu, bermalam-malam, ia merokok dalam kamar yang gelap saat ia berada dalam keadaan kacau. Ia menciptakan kunang-kunang agar tidak merasa sendirian. Sekarang ia kembali pada perasaan itu. Sendirian. Dan ia tidak lagi sempat memikirkan kunang-kunang, sebab kepalanya mendadak dipenuhi kupu-kupu dari masa lalu.

Kupu-kupu. Lelaki penyuka kupu-kupu, itu. Ia yang mengaku datang dari sebuah hutan.

“Kau suka kupu-kupu?” tanya lelaki itu.

Masya berumur enam belas—seorang gadis kesepian waktu itu. Sebenarnya, ia tidak tahu apa ia suka kupu-kupu. Ia cuma senang pergi bersama lelaki itu mencari kupu-kupu. Mereka singgah di kebun bunga orang, ladang di pinggir kota, dan tempat-tempat bersemak di mana kupu-kupu terbang bebas.

Lama-lama lelaki itu sering datang pada Masya membawa rombongan kupu-kupu yang banyak sekali. Masya kadang heran melihat ratusan kupu-kupu terbang di atas kepala lelaki itu dan beberapa hinggap di bahu, rambut, dan punggungnya.

Sekarang ia berpikir, pasti saja semua itu hanya halusinasinya saat remaja dulu. Ia tersihir ketika itu. Juga saat lelaki itu mengajaknya mencari kupu-kupu pada tengah malam. Ia tahu kupu-kupu tidak terbang malam hari, tapi ia tidak peduli. Ia keluar lewat jendela saat orang tuanya tertidur. Berkali-kali ia melakukannya bersama lelaki kupu-kupu.    

Ah, sesuatu menusuk dada Masya. Ia mengisap rokok dan memainkan asap yang mengambang. Ia ingat betul, enam bulan setelah itu, ia merasakan sesuatu tumbuh dalam tubuhnya.

“Itu seekor kupu-kupu,” bisik lelaki itu sebelum ditelan kegelapan dan tak bisa lagi ia temukan.

Dan kini kau minta seekor kupu-kupu, Nalia? Masya menyandarkan punggungnya di dinding. Dari kedua sudut matanya keluar air yang selama ini ia tahan. Dalam gelap, Masya membiarkan air dari matanya kian meluap.

***

Dari atas tempat tidurnya, Tanalia memandangi malam yang muram. Ia sengaja membuka jendela beberapa saat setelah Masya keluar. Malam sering menyembuhkannya dari kesedihan-kesedihan. Dalam kegelapan malam ia merasa lelaki kupu-kupu tengah menatapnya dari kejauhan. Dan ia sudah setengah tidur, saat matanya benar-benar menangkap sebentuk bayangan di balik jendela.

“Paman kupu-kupu?” desisnya tak percaya. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar, namun kelopak matanya kaku. Tanalia ingin bangun, tubuhnya berat. Ia cuma bisa menatap bayangan lelaki kupu-kupu itu. Juga mendengar suara sayap kupu-kupu yang halus. Lelaki itu datang membawa banyak kupu-kupu. Apa ia membawanya dalam kandang kawat? Tanalia penasaran sekali.

“Tetaplah di sana, Nalia,” suara lelaki kupu-kupu, “Aku datang untuk memberimu hadiah.”

Tanalia menunggu. Satu detik. Lalu satu menit. Dan… dari luar jendela, kupu-kupu aneka warna menerobos masuk. Mereka beterbangan di ruang kamar Tanalia. Beberapa ekor hinggap di dinding dan lemari. Sementara Kupu-kupu lain terus berdatangan, bagai keluar dari kotak seorang pesulap yang lupa ditutup.

“Kupu-kupu, kupu-kupu,” Tanalia berseru-seru. Ia tertawa bahagia.

Lelaki kupu-kupu tersenyum.

***

Masya pergi ke kamar Tanalia untuk melihat wajah anaknya yang sedang tidur. Ia biasa melakukan itu pada tengah malam saat ia belum juga bisa memejamkan mata. Tapi, ia terperangah menyaksikan kupu-kupu memenuhi kamar Tanalia. Di tempat tidur, anaknya terlelap dengan tangan memeluk guling dan bibir menyunggingkan senyum. Ia melihat jendela. Tanalia lupa menutupnya, pikir Masya. Dari sanalah kupu-kupu masuk, seakan mereka mendengar keinginan hati Tanalia. Masya segera berlari menuju lemari pakaian sambil menghalau kupu-kupu yang terbang di depannya dengan kedua tangan. Dari lemari, ia keluarkan sepotong kain. Dengan kain itulah Masya mengusir kupu-kupu. Kain ia kibas-kibaskan.

“Pergi!” desis Masya, “Pergi!” Tiga ekor kupu-kupu jatuh. Sayap-sayapnya remuk. Masya bergerak ke sana ke mari. Mengikuti ke mana pun kupu-kupu terbang tanpa memberikan kesempatan pada serangga itu hinggap. Sebagian kupu-kupu sudah keluar lewat jendela, sebagian masih beterbangan di kamar Tanalia.

***

Begitu pagi, pertama-tama yang dilihat Tanalia serpihan sayap kupu-kupu terserak di lantai. Belum sempat ia berpikir jauh, matanya menemukan tulisan pada kertas yang ditempel di dinding—tempat biasa Masya meninggalkan pesan jika ia pagi-pagi pergi kerja: Tiga hari lagi Mama akan memberimu hadiah kebun bunga. Tapi, kau harus lupakan kupu-kupu. Janji ya.

Tanalia membaca ulang pesan itu. Sampai tiga kali. Mamanya sengaja meninggalkan pesan itu agar ia tidak bisa membantah. 

***

Tanalia memandangi kebun bunganya dengan mata tak berkedip.

“Kau suka, Nalia?” tanya Masya. Tangannya mencengkeram lembut bahu Tanalia.

Tiga hari lalu, saat Masya menulis pesan akan memberinya kebun bunga, Tanalia sudah membayangkan batang-batang dahlia, kembang sepatu, seruni, bahkan juga cempaka. Tiga hari lamanya ia sudah memikirkan bagaimana kupu-kupu tersesat di kebun bunga itu dan ia akan menyembunyikannya.

“Nalia?” Kali ini Masya mengguncang pelan bahu Tanalia. “Bagaimana menurutmu?” Masya tidak sabar. 

Ini tentu saja bukan kebun bunga sebagaimana yang ia bayangkan, namun Tanalia tetap saja bahagia. Paling tidak, ia tahu, mamanya sudah meluangkan waktu untuk kejutan ini. Mamanya sangat jarang pulang cepat. Namun, hari ini ia sudah menunggu Tanalia di pintu saat pulang sekolah pada pukul lima sore.

“Cantik sekali, Ma.” Mata Tanalia sudah berkedip lagi. Ia mengembangkan senyum, berbalik, dan memeluk Masya. “Tapi pasti tak akan pernah ada kupu-kupu yang tersesat di sana.” Wajah Tanalia seketika berubah murung.

“Lupakan kupu-kupu, Nalia.” Masya mengelus rambut anaknya yang panjang.

Tanalia segera membalikkan badannya kembali, memandangi kebun bunga di dinding kamarnya. Kebun bunga itu menempel di dinding keramik dengan warna dasar hijau tua. Bunga-bunga itu tampak begitu hidup. Ada bunga mawar yang besar-besar. Lengkap dengan daun-daunnya yang masih muda dan tepi yang tidak rata. Di petak lain, ada kembang seruni merah. Ada banyak jenis bunga lainnya. Masya pasti sudah merencanakan semua itu dengan serius. Memilih sendiri motif bunga pada petak-petak keramik yang akan dipasang di sebidang dinding kamarnya agar kebun bunga itu terlihat penuh. Lalu minta tukang mengerjakannya saat ia  di sekolah.

***

Betapa terkejutnya Tanalia saat suatu hari, sepulang sekolah, ia melihat bunga-bunga yang menempel di dinding keramik benar-benar hidup. Beberapa bunga berkembang segar. Beberapa lain sudah layu dan membusuk. Mata Tanalia mengerjap-ngerjap. Bunga yang layu itu segera pula digantikan bunga baru yang mungil. Terlebih, di kebun itu ia juga melihat seekor kupu-kupu sedang terbang. “Kupu-kupu!” jeritnya. Itu kupu-kupu yang tersesat. Memang bukan kupu-kupu ungu yang dilihatnya di pagar sekolah, melainkan kupu-kupu bersayap kuning dengan bintik cokelat.

Semenjak ada seekor kupu-kupu di kebun bunga, Tanalia selalu bermain bersamanya. Karena itu, jika suatu ketika Masya pulang ke rumah dan tidak lagi menemukan Tanalia, anak perempuan itu tentu tengah asyik berlari-lari dalam kebun bunga di dinding kamarnya. Masya mungkin panik, memanggil-manggil nama Tanalia. Mencari ke berbagai sudut rumah. Dari gudang hingga semua kamar mandi. Tanalia tidak juga ia temukan.

Sementara itu, di kebun bunganya, Tanalia sedang mengejar seekor kupu-kupu kuning sambil tertawa-tawa. Ia sungguh tidak mendengar apa-apa. Tidak pernah mendengar apa-apa lagi.

Dan tanpa sepengetahuan Masya dan Tanalia, di tempat yang jauh lelaki kupu-kupu memandang mereka berdua dengan kedua matanya yang segelap malam. n

GM, 2014
   

Lampung Post, Minggu, 1 Juni 2014

Sunday, March 9, 2014

Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam itu

Cerpen Yetti A.KA.

SEHARUSNYA kami sudah tidur pada malam itu—seperti Nome, adik kecil kami yang sudah pulas. Tapi Nat berbisik, “Saat bayi, kau ditemukan Ibu dekat pagar rumah kita. Kau bukan kakak kami.”

Mula-mula aku merasa geli. Nat pasti sedang mengarang. Dia memang banyak berkhayal sebelum tidur. Kadang-kadang dia bilang kalau Ibu ada di kamar kami. Kata Nat, Ibu tidak berubah sedikit pun, tetap seperti hari-hari terakhir bersama kami. Selalu cantik. Kami semua menikmati karangannya itu. Membayangkan kalau Ibu benar-benar menemani tidur kami, setiap malamnya. Melindungi kami dari mimpi-mimpi buruk. Nat memandang tepat ke bola mataku, “Kau merasa tidak apa-apa mendengar ini?”

“Nat?” Aku memandang lama pada Nat, seakan-akan aku minta ia segera mengakhiri permainan yang mulai membuatku cemas.

“Tanya pada Bibi Salda. Dia tahu semuanya.”

Sungguh, seharusnya aku tumbuh menjadi gadis bahagia kalau saja malam itu tidak pernah ada. Umurku lima belas tahun. Nat satu tahun di bawahku. Nome baru berumur tujuh tahun (Ibu kami meninggal ketika melahirkannya). Sebelumnya kami anak-anak perempuan yang saling mencintai. Bahkan ketika Nat mengatakan rahasia besar itu, aku juga percaya perasaannya masih tetap sama padaku.

Tapi aku berubah. Aku mulai membenci segalanya. Dan aku tidak pernah mengatakan apa-apa.

***

Aku menggambar—sebenarnya aku hanya mencoret-coret saja kertas gambarku—di meja taman belakang. Aku mendengar suara Ayah, Nat, dan Nome. Mereka baru pulang dari kebun kakao kami. Setiap hari Minggu Ayah biasa mengajak kami ke sana, terlebih setelah Ibu tidak ada. Di sana Ayah bertemu dengan para pekerja. Sementara kami bermain-main di bawah batang kakao. Itu dulu. Sekarang aku tidak pernah mau ikut lagi. Kukatakan pada Ayah kalau aku ingin menggambar saja di rumah. Aku tentu saja tidak sepenuhnya menggambar. Aku lebih banyak memikirkan betapa bahagianya mereka di kebun kakao dan aku tidak ada di sana. Apa mereka sempat memikirkanku? Apa mereka merasakan ada tempat kosong yang tidak terisi di sana—tempatku? Lalu mereka pun menyadari betapa aku amat berharga dan karena itu mereka segera berbalik pulang?

“Maganda,” panggil Ayah yang sudah berdiri di pintu belakang rumah kami. Nome bergantung di lehernya seperti anak monyet. Pipi Nome sangat merah. Nat berdiri di samping kanan Ayah juga dengan pipi yang merah.

“Sudah pulang?” tanyaku singkat, lalu berpura-pura sibuk menggambar lagi. Sebenarnya, dalam hati, aku bersorak riang.

Aku tidak tahu apa Ayah menjawab pertanyaanku dengan mendeham atau mengangguk. Aku tidak memperhatikannya. Bahkan aku tidak tahu kapan mereka meninggalkan pintu belakang. Yang kudengar suara mereka begitu ramai di ruang tengah. Mereka sepertinya berebut sirop dan kue kering yang disiapkan pembantu kami.

Seketika aku kembali murung. Tidak bisakah Ayah berdiri lebih lama di pintu itu? Tidak bisakah Ayah mengalahkan rasa tinggi hatiku dan membuatku luluh. Ayah hanya perlu sedikit waktu untuk membujuk hatiku yang terluka.

Tapi Ayah tidak melakukannya. Malah aku mendengar tawa mereka yang makin keras. Duniaku selalu gelap setiap melihat atau mendengar kebersamaan semacam itu. Aku menangis. Aku lari ke kamar mandi. Di sana aku terus bersedih dengan perasaan sembab.

Untuk pertama kali, pada malam harinya, aku mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tanganku. Nat memekik keras saat menemukanku hampir pingsan dengan darah berceceran di sekitar tempat tidur. 

***

Ayah bilang padaku, “Kau cemburu, Mag. Kenapa kaulakukan itu?”

Menurut ayah, semua anak perempuan seusiaku sibuk bermain bersama hingga kepala mereka dipenuhi jenis-jenis boneka cantik, tokoh komik, nama-nama teman yang ditulis dalam buku harian lengkap dengan keterangan hobi, moto, dan cita-cita, atau juga rahasia-rahasia yang mereka simpan bersama-sama.  

“Kau berbeda sekali dengan anak-anak lain, kau tidak berteman dengan siapa pun,” kata Ayah. 

Ayah benar. Aku berbeda sekali. Di usia lima belas tahun aku tidak punya satu teman akrab pun sebab dulu kupikir aku punya keluarga yang sempurna. Tepat di usia lima belas tahun pula kepalaku justru dimasuki benda jahat, dan karena itu aku juga berpikir ingin menyingkirkan Nat dan Nome. Aku meyakini keberadaan mereka membuatku tersisih. Membuat Ayah bukan lagi milikku seperti sebelum aku mendengar rahasia dari Nat.

Bola mata Ayah keluar, seperti bola yang seakan siap jatuh dan menggelinding, saat kukatakan semua itu, lalu ia memberiku peringatan atas sesuatu yang kelewat kelam dalam jiwaku.

Sampai suatu hari, Ayah menyerah. Ia memilih mengeluarkan aku dari rumah. Hanya untuk beberapa waktu (tapi aku tahu itu untuk selamanya), bujuk Ayah.

Aku tinggal bersama Salda, istri salah seorang penjaga kebun kakao yang paling dekat dengan keluarga kami, hingga aku dewasa. Aku tidak terlalu suka pada Salda sejak ia membuka rahasia tentangku pada Nat, tapi aku tidak punya pilihan selain tinggal bersamanya. Aku juga tidak mengungkit atau mempertanyakan tentang apa-apa yang dikatakan Nat. Aku tidak mau membicarakan apa-apa.

Ayah memang sering mengunjungiku. Sesekali saja bersama Nat dan Nome. Ia membawa berbagai hadiah, tapi perasaanku sudah berbeda. Aku tidak suka semua yang ia lakukan itu. Ayah sering berkata, “Kau salah sangka. Kau keliru. Aku tidak membuangmu.”

Siapa pun tahu, kenyataannya aku dibuang oleh Ayah. Aku tidak pernah kembali lagi ke rumah kami yang berwarna cokelat; dari lantai, atap, hingga dinding-dindingnya—warna-warna yang mewakili selera etnik Ibu (rumah tempat aku pernah merasa sangat bahagia ketika Ibu masih ada).

Lama-lama aku berusaha tidak lagi mengingat kalau aku punya Ayah—seperti halnya aku berusaha melupakan Ibu yang telah mati—meskipun  ia tidak berhenti datang padaku. 

***

Kesedihan itu—kesedihan yang benar-benar pekat dari biasanya—datang pertama kali pada pagi tanggal 25 Januari saat ulang tahunku yang ke-24. Ayah menitipkan kado satu hari setelahnya pada Salda dan belum kubuka hingga hari ini sebagaimana kado ulang tahun sebelum-sebelumnya. Salda sendiri berencana akan membuatkan masakan spesial untukku, tapi aku menolaknya dengan alasan tidak ada teman-teman yang akan datang.

“Bagaimana mereka mau datang kalau kau tidak mengundangnya,” ujar Salda.


“Sejujurnya aku tidak menyukai satu orang pun dari
teman-temanku itu,” timpalku.

“Kau tidak membuka hatimu.” Salda merapikan kertas-kertas gambarku di meja. Aku belajar sketsa tiga kali seminggu pada seorang pelukis di kotaku. “Seharusnya gadis seusiamu juga sudah pacaran beberapa kali. Bukan hanya sibuk sendiri dengan kertas-kertas gambar ini,” tambah Salda.   

Aku menatap gusar pada Salda. Ia cepat-cepat menghindar. Lari ke dapur. Di dapur ia meributkan soal sampah yang menumpuk. Aku tahu itu cara ia mengalihkan kekesalanku.

“Ayahmu pasti mau datang kalau kau menginginkannya.” Salda sudah berdiri lagi di dekatku dengan satu kantong sampah di tangan kanan, sementara rantang kosong di tangan kirinya.

Aku langsung menjawab bahwa aku tidak menginginkan Ayah di hari ulang tahunku. Aku tidak mau ada siapa-siapa. Juga Nat. Juga Nome.

Pada hari itu Salda cepat pergi tanpa berkata lagi.
Tapi kesedihan yang pekat itu tidak beranjak ke mana pun. 

***

Pukul lima sore Salda datang membawa rantang makanan. Setelah aku dewasa aku memutuskan tinggal sendirian, tapi Salda tetap tidak bisa percaya kalau aku bisa membuat makanan. Aku menyembunyikan tentang kesedihan itu pada Salda. Tapi Salda bukan orang yang mau membiarkan sesuatu yang tidak biasa lewat dari pengetahuannya, ia bertanya, matamu merah dan bengkak, apa ayahmu nekat datang dan kalian bertengkar?

Kukatakan: Tidak.

Kata ayahmu kau memang keterlaluan sekali bulan lalu itu saat kau menolak membukakan pintu untuknya. Aku sarankan padanya untuk menunggu saat kau benar-benar menginginkan bertemu dengannya lagi jika mau memperbaiki keadaan. Mungkin saja ia menuruti nasihatku, ujar Salda. Tapi tetap saja seharusnya ia memaksakan diri untuk datang di hari ulang tahunmu. Ia harus berusaha.

Aku tidak menginginkannya lagi. Apa kau mengerti?

Tidak perlu kaujawab sekarang, ujar Salda, lalu kenapa matamu? Kaupasti banyak sekali menangis.
Aku bertemu kesedihan yang pekat.

Salda tampak tidak mengerti, tetapi ia tidak bertanya lagi. Salda paham sekali, hidupku, termasuk pikiran-pikiranku, terlalu rumit. Bedanya dengan Ayah, Salda bisa menerima pikiran paling tidak masuk akal atau paling menakutkan yang keluar dari kepalaku. Ia tidak membuangku. Mungkin karena Salda tidak punya kekuasaan untuk itu. Bisa pula karena ia menyayangiku.

Lekas dimakan, kata Salda, mumpung masih panas.

Setelah itu Salda meninggalkanku. Rumah Salda berjarak setengah kilo dari kediamanku. Sebenarnya itu bukan rumah Salda sebagaimana pula rumah yang kudiami bukan rumahku. Itu rumah yang diberikan Ayah. Hanya, Salda menghiburku, semua yang ayahmu miliki sekarang adalah yang dulu kepunyaan ibumu. Kau boleh benci ayahmu, tetapi aku tahu kau sangat sayang pada ibumu. Jangan buat ibumu bertambah sedih dengan menjadi gelandangan di jalan. 

Aku tidak tahu apa orang yang sudah mati masih bisa sedih.

***

Kesedihan itu datang lagi di Minggu pagi bulan Februari. Dan aku belum tahu juga alasan kenapa ia memilih hari itu, selain aku hanya menebak-nebak, di hari lain ia mendatangi rumah-rumah yang lain pula. Mula-mula aku melihatnya berdiri di luar pagar. Lalu ia membuka pintu pagar yang sengaja tidak kugembok. Salda sering mengingatkan tentang kemungkinan orang-orang yang tidak diinginkan menerobos masuk ke halaman. Aku bilang pada Salda, satu-satunya hal yang kucemaskan di dunia ini setelah Ibu mati adalah kehilangan Ayah. Namun, ternyata aku juga sudah kehilangan. Lantas apa lagi yang perlu kutakutkan?

Ia sudah berdiri di depan pintu. Aku mencium aroma tertentu yang sulit kugambarkan, meski sudah begitu kukenali. Kata Salda, kesedihan yang pekat itu pasti berbau busuk. Tentu saja bukan. Baunya menyerupai aroma akar. Walau tidak juga sepenuhnya benar.

Aku membuka pintu seperti seseorang yang sudah lama menunggu. Seperti biasa, saat aku menatapnya, aku kembali merasakan masa lalu di kamar gelap saat aku begitu sedih memikirkan Ayah. Memikirkan betapa aku ingin cinta yang bulat, tapi Ayah menganggapku jahat. Saat-saat di mana aku ingin mati dengan cara yang membuat Ayah tidak bisa melupakannya seumur hidup. Aku cepat saja menangis sebab dadaku memang sangat sesak.

Kemudian kesedihan itu berbisik, “Semuanya sudah berakhir.”

Kucium bau akar yang bertambah pekat. Lama-lama bau akar itu berubah menjadi bau Ayah, Nat, Nome yang juga pekat. Mengambang di udara. Bagai aroma  kematian. Amis darah yang teramat pekat.

Seketika aku mundur ke arah dinding. Tubuhku menggigir, lalu melorot ke lantai, lalu gelap.  Ayah, Nat, Nome, aku takut sekali. Sungguh. Seharusnya malam itu tak pernah ada. Bangunkan aku. Katakan ini mimpi. n

JEM, 13-14


Lampung Post, Minggu, 9 Maret 2014

Sunday, December 15, 2013

Satu Hari yang Ingin Kuingat

Cerpen Yetti A.KA.


AKU minum orange juice di kafe X. Ini satu hari yang ingin sekali kuingat; meja nomor 19, kursi warna krem dengan sandaran beraksen anyaman, kotak tisu, gelas minuman yang kutaksir setinggi 15 sentimeter, sedotan putih susu, tas merah, telepon genggam, novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami, sepasang lesbi bertatap mesra, antrean para pengunjung di kasir, pelayan-pelayan yang kehilangan ekspresi alami—mereka mengantar makanan ke meja-meja dengan seragam dan mimik nyaris sama.

Hari ini kafe X cukup ramai. Orang-orang makan bersama pasangan atau keluarga atau teman-teman. Mereka tentu terlihat bahagia. Hari ini aku sendirian saja—seperti hari-hari sebelumnya, memang—bedanya saat ini aku belum menerima telepon atau pesan dari seseorang yang kemarin masih pacarku. Berulang-ulang aku merasa telepon genggam itu berbunyi, hidup, berkedip. Berkali-kali aku memelototi layarnya untuk memastikan memang tidak ada SMS atau panggilan yang masuk. Memang tidak ada yang bertanya:

“Masihkah kau pacarku hari ini?”

“Tidak ada yang terjadi, dan tentu saja kau pacarku.”

“Kau merindukanku?”

“Pasti.”

“Tidak bisa mengatakannya dengan sedikit romantis?”

“Siapa?”

“Kamu.”

“Hehe.”

“Hmm.”

Itu percakapan kemarin pagi. Percakapan yang ingin terus kuingat. Kalau aku melupakannya maka aku kehilangan dia. Aku mungkin tidak kehilangan dia dalam arti yang sesungguhnya, pastilah tidak sekonyol itu, tapi ini tentang perasaanku saja. Aku merasa kehilangan dia meskipun dia tidak meninggalkanku.

“Apa aku aneh?”

“Eh, kenapa?”

“Aku ingin menyimpan semua percakapan kita karena aku takut kehilangan, padahal tanpa kusimpan aku tidak akan kehilangan apa-apa, bukan? Kau milikku. Seseorang yang terus bertanya setiap pagi ‘masihkah kau pacarku hari ini?’. Kita tidak akan terpisahkan oleh apa pun.”

“Apa kau merasa sakit?”

“Tidak. Aku cuma merasa cemas.”

“Akhir-akhir ini memang agak aneh.”

“Apa?”

“Ya, kau aneh.”

“Iya, ya. Aku tahu itu.”

Sekarang aku betul-betul merasa aneh. Aku duduk di kafe X dengan segelas orange juice dan novel Norwegian Wood yang baru kubaca sampai adegan Watanabe berciuman dengan Midori sehabis mereka nonton kebakaran dari tempat penjemuran (di halaman depan buku itu ada tulisan tanganku: Kelak aku akan mengingat hari ini di mana aku membeli buku kembaran. Satu untukku, satu untuk pacarku. Kelak yang entah apa kami masih bersama atau tidak. Kelak yang apa benar kami akan saling mengingat atau tidak. Tapi aku berharap kami jangan saling melupakan dengan cepat), dan terus-menerus gelisah mengingat telepon genggamku belum juga menerima panggilan atau pesan dari seseorang yang bertanya: Masihkah kau pacarku hari ini?

Ini tidak biasa. Ia tidak pernah lupa menelepon lewat dari pukul 10 pagi. Kalau sangat sibuk, ia sempatkan kirim pesan. Apa ia lebih dari sekadar sibuk? Apa ia jangan-jangan sedang tidak sibuk, tapi belajar melupakan.

Ia tengah menyiapkan kejutan: meninggalkanku. Rencana yang sangat jahat. Pertama-tama ia membersihkan semua tentangku di ponselnya; kutipan-kutipan sajak romantis seorang penyair yang sengaja kutulis dan kusimpan di ponselnya saat kami kencan, pesan-pesan tengah malam kami yang nakal, foto pribadiku saat mengenakan lingerie ungu muda motif floral atau foto kami berdua di pantai pada minggu ketiga bulan Maret dan hari itu aku ulang tahun.

Setelah membersihkan semuanya, pagi-pagi sekali ia menelepon, mengucapkan selamat tinggal. Suaranya dingin. Lebih dingin dari dinding-dinding toilet hotel tempat kami pernah menginap. Sanggupkah aku?

“Kalau kangen kau bisa telepon daripada berpikir macam-macam.”

“Aku tidak mau melakukannya.”

“Memangnya kenapa”

“Aku mau kau yang kangen, bukan aku.”

“Kau membuat rumit.”

Aku rumit. Itu kalimat yang sangat tepat.

Kami sudah sering membicarakan tentang kenapa tidak aku yang menelepon dia. Aku juga sering sebal pada diri sendiri. Kenapa aku mesti serumit ini? Ah, ya, sungguh, lebih baik aku meneleponnya saja. Aku tinggal memilih namanya dan menekan tanda call. Aku bisa langsung bertanya kenapa ia tidak menghubungi setelah kemarin pagi itu. Aku juga bisa mengatakan, aku tidak tahan tidak dihubungi.

Aku bisa gila. Aku bisa menerobos jalanan yang padat kendaraan tanpa benar-benar kusadari dan kemudian orang-orang akan berteriak melihat tingkahku dan aku pasti kebingungan sekali. Itu kalimat-kalimat yang memang sangat didramatisasi. Tapi aku mau sekali mengatakan semua itu seandainya saja aku bisa meneleponnya. Seandainya saja aku bisa memilih namanya dari ratusan nama yang tersimpan di memori ponsel, dan memulai pembicaraan dengan kalimat basa-basi, “Aku bisa menelepon lagi nanti jika kau sibuk sekali.”

Sayangnya, aku sungguh-sungguh tidak bisa melakukan gagasan itu. Jika aku nekat melakukannya, aku pastikan berhari-hari atau bahkan selamanya menyesali diri sendiri. Selamanya aku merasa pada saat tertentu, pada hari itu, aku lebih mencintai dia dan dia tidak terlalu mencintaiku. Seseorang yang merasa tidak terlalu dicintai sejak kecil akan menuntut untuk tampak sangat dicintai ketika ia dewasa. Pikiran semacam itu sangat menyakitkan.

Penderitaan yang sering tidak bisa kuhadapi di saat aku sedang sendirian. Sendirian itu, bagiku, bisa menjadi saat-saat berbahaya. Sedikit saja aku lepas kendali, maka habislah; pikiranku menjadi tertutup, perasaanku menjadi sangat kacau. Mengerikan, bukan?
Telepon genggam kumasukkan dalam tas. Aku harus membuang jauh-jauh keinginan untuk menghubunginya. Dadaku sesak dan bergetar-getar. 
Kupesan minuman baru. Jus melon. Rasanya aneh. Mungkin karena aku tidak suka buah melon. Lalu kenapa aku memesannya? Jika ia tahu,  pasti ini yang dikatakannya: Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan akal sehat—paling tidak saat memesan minuman? Maka aku pasti saja berkilah, “Apa salahnya mencoba. Lagi pula pikiranku sedang kacau.”

“Kalau mau jujur kau bukan orang yang menarik dalam banyak hal.”

“Kau mulai lagi.”

“Kau sering tidak tahu apa yang kaubutuhkan.”

“Pembicaraan ini mulai tidak relevan.”

“Kau tidak lebih dewasa dari gadis lima belas tahun.”

“Ingat ya kita bicara tentang minuman. Kau terlalu melebar.”

“Ya, tentang kau yang berumur tiga puluh tahun dan tetap tidak tahu minuman apa yang seharusnya kaupesan. Sangat relevan.”

“Berhentilah sinis!”

“Aku sinis?”

“Kau harus tahu masalah minuman tidak perlu dibahas serius.”

“Bagiku harus.”

“Aku muak pada kau yang selalu serius. Hidup itu juga soal humor. Ngerti!”

“Baik. Kita tidak cocok. Kita putus.”

Uh, untung dia tidak di sini dan kami tidak perlu bertengkar karena soal sepele. Ada bagusnya pula ia tidak menelepon (walau tentu ia yang tidak menelepon itu tetap saja satu masalah tersendiri) hingga aku tidak perlu menceritakan tentang jus melon yang kupesan dan ternyata tidak aku sukai. Aku tahu ia bukan lelaki yang bisa menahan pikirannya, ia bisa sangat pedas dalam menilai sesuatu, tanpa perasaan, sementara takdirku adalah mencintainya. 

Aku menghembuskan napas keras-keras. Sepasang lesbi sudah pergi tanpa aku tahu kapan tepatnya. Mungkin mereka pergi ke lantai atas. Di sana ada tempat karaoke. Banyak orang memilih kamar karaoke sebagai tempat kencan. Paling tidak bisa ciuman. Di kota ini orang tidak bisa sembarang berciuman. Di kota ini semua orang sibuk mengurusi orang lain.

Ia belum juga menelepon, belum mengirim pesan, sementara aku merasa sudah menunggunya ratusan tahun, meski kenyataannya ia meneleponku kemarin pagi (tentang ini ia sering bilang: kau terlalu mempermainkan waktu). Bagaimanapun tetap saja keterlaluan. Dulu, lelaki itu berjanji saat memintaku jadi pacar bahwa ia akan selalu bertanya setiap pagi: Masihkah kau pacarku hari ini? Dengan cara itulah aku menunjukkan rasa takut kehilanganmu, katanya, sebab malam kadang bisa mengubah seseorang.

Tapi, tapi, malam memang telah mengubah seseorang. Mengubah dia. Kadang-kadang, ketika pikiranku sedang jernih, dan itu hanya sesekali saja terjadi, aku ingat sebenarnya aku sudah kehilangan ia jauh sebelum kemarin. Bahkan mungkin sudah setahun. Ketika itu pagi-pagi sekali ia bilang: sebaiknya kita berpisah. Aku tidak tahan lagi denganmu. Kau rumit sekali. Senang mengacaukan hari-hariku. Aku bisa gila. Please, jangan ganggu aku lagi. Aku ingin sendiri dalam waktu yang lama. Aku mau bekerja dengan tenang.

Sejak itu ia jarang menelepon, lalu berhenti sama sekali. Sejak itu pula ia tidak mengirim pesan lagi. Ia melupakan dengan sangat cepat, sedangkan aku tidak bisa beranjak dari pikiran bahwa ia tetap pacarku yang kemarin pagi bertanya: Masihkah kau pacarku hari ini? Kemarin pagi yang tidak pernah bergerak, tidak menjadi satu minggu, satu bulan, satu tahun.

Selamanya aku akan tetap menunggu telepon atau pesan darinya. Aku harus percaya, dan ini memang sungguh-sungguh harus kupercayai, sebab aku sendirian, sebab aku tidak punya siapa-siapa yang mendukungku, bahwa ia masih pacarku yang kemarin pagi bertanya: Masihkah kau pacarku hari ini?

Karena itu aku masih di kafe X, di meja nomor 19 dengan segala sesuatu yang ingin kuingat. Dengan mengingat, aku tidak akan kehilangan apa-apa. Seharusnya begitu. Seharusnya aku tenang dan tidak perlu berpikir hal-hal mengerikan yang bisa saja kulakukan.

Tapi siang itu aku mendengar orang-orang menjerit saat seorang perempuan menabrakkan diri ke mobil yang sedang melaju kencang di jalan raya—tepat di depan kafe X. Aku tidak tahu siapa perempuan itu sampai kulihat meja nomor 19 sudah kosong dan begitu sunyi. n

GM D22, 2013


Lampung Post, Minggu, 15 Desember 2013

Sunday, April 28, 2013

(Tidak) Pulang

Cerpen Yetti A.KA


KAU tidak tahu harus pulang ke mana seolah-olah kautak punya rumah. Tidak punya kamar dengan dua daun jendela yang lebar. Tidak punya halaman belakang tempat kau berdiri lama-lama menatap serumpun bambu hias. Tidak punya seseorang yang mencemaskan dan menunggumu. Apa kau pernah merasa begitu?

Sekarang dia sedang merasakannya. 

Dia tentu saja punya rumah. Punya kamar yang berjendela lebar di mana serangga sering keluar masuk bila sedang terbuka. Punya halaman belakang tempat dia mengamati rumpun bambu yang dia tanam sendiri setahun lalu. Di rumah itu tentu juga ada suami yang sedang menunggu.
Ponselnya terus berbunyi—puluhan panggilan dan pesan pendek—karena lelaki itu pasti cemas, sebelumnya dia tidak pernah pulang terlambat. Atau paling tidak dia selalu mengabari jika ada lembur di kantor atau pergi makan sushi bersama teman-temannya—satu-satunya yang bisa dia perjuangkan dari sekian banyak hal yang ingin dia lakukan selain urusan kerja.

Martin, suaminya, mungkin saja sekarang ini tengah menghubungi semua teman-teman dia lalu bertambah cemas karena tidak satu orangpun yang tahu di mana keberadaannya, tidak satu orang pun mengerti apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Seperti juga dia tidak benar-benar mengerti apa yang membuatnya merasa tidak punya rumah dan tak tahu harus pulang ke mana.

Dia memang punya rumah yang lain lagi, selain rumah yang ia tempati bersama Martin. Rumah orang tuanya. Rumah itu ramai sekali. Bapak, Ibu, Kakak, dan ponakan-ponakan yang lucu. Tapi ia bahkan sulit melangkah ke sana. Hatinya justru hambar membayangkan berada di antara keriuhan suara anak-anak. Di antara kebahagian yang bisa jadi malah menyudutkan dia. Membuat dia merasa berada di tempat yang salah. Terkucil dengan rasa sepi yang membingungkan, lalu mengacaukan kegembiraan orang-orang di sekitarnya karena pasti Ibu orang pertama yang menyadari ada sesuatu yang salah dan tidak biasa.

Ponselnya terus-menerus berbunyi. Dia menduga, selain Martin, sekarang teman-teman turut mencoba menghubungi, juga Bapak atau Ibu atau Kakak. Martin sudah berhasil membuat panik banyak orang. Dia mendengus kecil. Dia bisa mengabaikan Martin atau teman-temannya. Tapi Bapak dan Ibu? Dia kirim pesan pendek pada Bapak, mengabarkan kalau dirinya baik-baik saja, hanya sedang ingin sendiri, dan nanti akan pulang (meski dia sendiri tidak yakin pulang ke mana sebab ia benar-benar merasa tidak punya rumah). Setelah pesan itu terkirim, ponsel dia matikan. 

***

Dia berpikir ingin ke taman kota saja. Ah, tidak, desahnya cepat. Taman itu tempat orang pacaran di malam hari. Dia pasti risih berada di sana seorang diri. Halte? Dia juga mulai tidak menyukai halte yang bau pesing. Malam-malam banyak pemuda tanggung duduk dan mabuk di sana, kemudian kencing sembarangan. Laut? Tempat itu biasanya mampu mengembalikan perasaan gembira, udara asin yang lengket di kulit, bau amis yang khas—menerbangkan dia ke masa kecil yang riang. Dia berlari-lari sepanjang pantai, hanya bermain-main dan tertawa saja (dan seandainya dia pernah menangis, itu adalah tangis anak kecil yang minta perhatian bukan karena penderitaan). Dia bermain pasir, membuat boneka. Dia terkikik ketika air laut menyambar boneka pasirnya. Dan kakaknya berkomentar, Kau aneh sekali, seharusnya kau tidak tertawa tapi sedih.
Dia bertanya-tanya terus: Kenapa aku harus bersedih?

Kakaknya tidak pernah mau membahas lagi dan sering marah-marah atau gusar atau membentaknya. Dan kemudian Ibu yang diam-diam berbisik padanya, Kakak hanya cemburu padamu karena tidak bisa membuat boneka pasir sebagus milikmu. Dia tidak percaya kata-kata Ibu, namun setidaknya dia tidak perlu bertanya lagi.

Dia sudah tidak ingin pergi ke laut. Dia memilih duduk di trotoar di bawah lampu jalan yang dikerubungi sungsulung—jenis serangga yang juga menyukai cahaya tapi memiliki tubuh jauh lebih kecil dari laron—seperti seseorang yang hidup sendirian dalam kota yang ramai; orang-orang lewat. Kendaraan yang bising. Tapi ia benar-benar merasa sendirian. 

***

Dia memang sendirian. Sudah lama sekali dia merasa tidak punya siapa-siapa. Dia hidup dengan pikiran-pikirannya sendiri. Dengan perasaan-perasaan yang berubah-ubah. Dengan kekacauan emosi yang tidak pernah bisa dia bicarakan pada orang lain.

Martin selalu ada untuknya, memang. Lelaki yang menikah dengannya tiga tahun lalu. Lelaki yang sesekali memberinya kejutan kecil. Lelaki yang romantis, meski tidak pernah mengajaknya jalan-jalan lagi setelah setahun menikah. Lelaki itu berkali-kali berkata tidak bisa kehilangan dia.

Tapi sesekali aku mau mencair, lesap, hilang! Pikiran itu datang berulang kali. Lebih sering datang ketika dia sedang marah. Atau ketika dia begitu tidak tahan berhadapan dengan Martin yang mencintainya dengan amat nyinyir. Berlebihan. Egois. Berkuasa. Memaksanya kembali merasakan kejadian-kejadian ketika dia berhadapan dengan kakaknya yang judes. Kakak yang mengekang, yang tidak memberi kesempatan padanya untuk menjadi diri sendiri, menyukai apa yang dia inginkan. Atau Ibu yang membandingkan-bandingkan dia dan Kakak. Kakak pintar. Kakak suka membantu Ibu. Kakak tidak pernah membuat kecewa Bapak. Kakak yang ketika berumur enam tahun sudah bisa menceritakan cita-citanya dengan rinci dan memikat. Kakak yang dipuji semua orang.

Dia juga pintar, tentu saja, tapi dia tidak sepintar kakak. Ketika ditanya apa cita-citanya, dia menjawab: ingin bisa menggambar sebagus Om Adit. Om Adit itu adik Bapak. Pernah kuliah seni rupa, dan tidak pernah tamat. Bapak melarang dia terlalu dekat dengan Om Adit. Tidak punya masa depan, kata Bapak, nanti kamu ikut-ikutan.

Dia memang jarang membantu Ibu, sebab dia tidak suka lama-lama berada di dekat Ibu yang pemurung. Ibu yang jarang tertawa. Jarang bicara. Jarang menunjukkan seperti apa perasaannya kecuali dengan cara menangis. Dia tidak suka Ibu yang menangis. Dia mau Ibu yang sering tertawa. Ibu yang bisa marah dengan bicara meluap-luap sebagaimana Tante Rosa, pacar Om Adit jika mereka sedang ribut dan kebetulan dia menguping dari balik dinding.

Sungguh, dia ingin tubuh Ibu tidak diam saja sepanjang hidupnya. Dia mau melihat tubuh Ibu berteriak, memberontak. Tubuh Ibu yang berlari-lari, melayang, serupa kapuk randu yang memesona.

Namun kenyataannya dia justru mirip sekali dengan Ibu setelah dia menikah. Perempuan yang tidak berkata-kata, tidak berteriak. Perempuan yang menyimpan semua di hatinya seolah-olah dia takut dengan perasaan dan pikirannya sendiri.

Dia telah melepaskan semua yang diinginkan.

Dia tidak jadi seorang pelukis seperti Om Adit. Itu tentu Bapak yang menggagalkannya. Mungkin juga karena dia tidak terlalu keras berusaha. Dia tidak sekuat yang dia pikirkan. Berbeda sekali dengan Om Adit yang bahkan berani keluar dari rumah saat Kakek tidak suka pilihan hidupnya. Sedangkan dia mudah sekali ditundukkan. Bapak memberinya satu pilihan. Dia menerima.

Ketika menikah dengan Martin, banyak hal lain lagi yang dia lepaskan. Satu demi satu dia kehilangan bagian-bagian yang dia sukai. Martin tidak membiarkan dia pergi liburan sendirian, padahal sesekali dia mau duduk di laut seorang diri. Martin mengatur jam berapa dia mesti di rumah. Minta dia tidak terlalu akrab dengan sejumlah temannya. Dia tidak mau diperlakukan begitu, akan tetapi dia tidak punya suara. Karena itu mungkin saja Martin menganggap semua baik-baik saja dan merasa heran kenapa hari ini dia tidak pulang hingga malam. Semua memang baik-baik saja. Mereka tidak bertengkar. Tadi pagi sebelum berangkat kerja malah mereka masih sempat membicarakan kapan akan pergi ke dokter kandungan untuk konsultasi, mengingat Martin sudah tidak sabar ingin punya momongan. 

***

Dia mendongak ke atas. Melihat sungsulung makin banyak, bergerombol di sekitar bola lampu. Hatinya meriap. Serupa bayi yang menggeliat. Ia terharu. Atau perasaan yang tiba-tiba ingin membuatnya menangis, tapi bukan karena rasa sedih.

Sudah lama sekali dia tidak lagi tergugah oleh sesuatu di sekitarnya. Dia terlalu sibuk mengurus Martin. Memenuhi semua yang diinginkannya. Menjaga perasaannya sebaik mungkin agar dia baik-baik saja. Agar dia tidak merasa sebagai lelaki yang kalah.

Martin itu cuma terlalu mencintaimu, kata Ibu suatu hari.

Dia menakutkan, Ibu, katanya mirip seseorang tengah sekarat. Suaranya pendek-pendek dan gemetar.

Kau membesar-besarkan, Ibu menggenggam tangannya, seolah-olah Ibu ingin memberikan kesabarannya yang besar pada dia.

Berhari-hari dia menatapku, tidak bicara, benar-benar hanya menatapku karena aku pulang sedikit terlambat. Dia menuduhku bertemu mantan pacar di suatu tempat. Dia curiga aku akan meninggalkannya. Matanya melucuti pertahananku. Melumpuhkan syaraf-syarafku, membuatku ketakutan setengah mati.

Ibu mendesah, dan berujar, dia mencintaimu dan cemas dengan apa yang dipikirkannya tentangmu. Semua lelaki begitu.

Semua lelaki. Dia tertawa sumbang mengingat kalimat Ibu.

Sudah hampir pukul sebelas malam. Jalan masih ramai, namun mulai menakutkan. Dia belum tahu juga akan pulang ke mana. Semua jalan di depannya, tertutup. Tidak memberikan padanya kemungkinan-kemungkinan, selain duduk diam di tempat dia sekarang. Padahal, kalau bisa, tentu saja dia ingin berlari lebih jauh. Meninggalkan Martin. Meninggalkan rumah mereka yang mungil dan cantik. Mencari tempat pulang yang benar-benar ia inginkan.

Ah, pernahkah kau tidak tahu harus pulang ke mana seolah-olah kautak punya rumah? n
       
Jalan Enam Mei, 2013
buat Anggun Prameswari

Lampung Post, Minggu, 28 April 2013

Sunday, August 5, 2012

Satu Senja dan Hujan yang Pecah

Cerpen Yetti A.KA

DARI kemarin hujan turun lebat. Ah, tidak. Sejak berbulan-bulan lalu hujan sering turun di pagi, siang, juga malam hari. Itu yang paling mendekati kebenaran, kata Bi Tah, pembantu rumah ini, seorang janda lima puluh tahun yang senang menemaniku di meja makan sambil bercerita macam-macam. Dari dua puluh empat jam waktu dalam sehari, setengahnya milik hujan, ujarnya lagi bernada serius. Aku maklum. Ia sedang kesal karena rumput gajah di halaman cepat sekali tinggi dalam cuaca yang selalu lembab begini dan itu membuat ia mesti memanggil tukang potong rumput dua kali dalam sebulan.

Kedatanganku ke rumah ini atas tawaran seorang sahabat yang kebetulan bepergian ke Brighton untuk melanjutkan studi doktoral, dan ia ‘memberikan’ rumah mungil bercat purple kesayangannya untuk beberapa waktu. Kau bisa menulis novel dengan tenang di rumah, bujuk temanku itu sebulan sebelum keberangkatannya. Tidak akan ada yang mengganggumu. Kau bahkan bisa mengurung diri di kamar, berminggu-minggu, tanpa harus merasa cemas dianggap asosial.

Sekarang aku paham. Sejak kemarin, aku tak menemukan satu orang pun yang sengaja keluar rumah untuk sekadar menyapa tetangga. Oh, bukan. Bukan. Sudah sejak lima tahun lalu, saat pertama kali perumahan orang-orang kaya ini dibangun, lalu dihuni satu demi satu, mereka tak pernah saling berkenalan. Mereka orang sibuk. Berangkat pagi, pulang sore atau malam. Tidak ada waktu untuk hal-hal di luar itu, sanggah Bi Tah.

Aku menghabiskan sisa teh melati di cangkir, memandang Bi Tah sekilas, tersenyum canggung.

***

DI kamar lantai dua, aku banyak membaca buku, selain tentu saja menulis. Benar kata Bi Tah, kota ini selalu diguyur hujan, berhari-hari, yang membuatku lebih sering menutup jendela kamar rapat-rapat. Dan setelah dua minggu di sini, aku belum keluar rumah sama sekali. Semua sudah diurus Bi Tah. Kalau ada kebutuhan lain, aku tinggal bilang Bi Tah dan ia dengan senang membantu.

Hanya saja, ada yang terlupa oleh Bi Tah saat bercerita padaku di meja makan. Bisa jadi ini tidak terlalu penting, selain, mungkin saja, Bi Tah memang tidak tahu-menahu soal itu. Namun, bagiku ini rasanya seperti menonton pentas tari atau teater atau melihat pameran lukisan yang luar biasa. Aku terdiam lama. Lama sekali. Bibirku sedikit kugigit untuk memastikan kalau semua yang kulihat itu bukan halusinasi. Hari ini memang pertama kalinya aku membiarkan jendela terbuka sampai senja. Tanpa disangka aku menemukan karya yang indah di balik butiran hujan. Dan aku telah terhisap di dalamnya. Mirip sobekan kertas yang tak sengaja tersedot penghisap debu.

***

PAGI-PAGI Bi Tah sudah mengetuk pintu kamar. Aku membuka pintu dengan malas. Kenapa tidak turun untuk sarapan? tanya Bi Tah. Aku bilang semalaman nyaris tidak tidur dan masih mengantuk. "Kau terlalu banyak baca buku," Bi Tah berkomentar. Aku dapat menebak apa yang ada dalam pikiran Bi Tah. Ia pasti mengira betapa tololnya seorang gadis usia tiga puluhan tahun yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku dan mengabaikan kesempatan bertemu seseorang yang siapa tahu bisa menjadi pacar atau bahkan melaju pada tingkat yang lebih serius. Sebenarnya aku ingin bilang pada Bi Tah: “Sekarang ini banyak gadis merasa nyaman dengan usia di atas tiga puluh, malah ada yang malas menikah seumur hidup. Ah, aku tidak tega melihat mata Bi Tah terbelalak, kebingungan.

Bi Tah meletakkan nampan berisi secangkir teh melati dan sepiring kecil singkong goreng yang sengaja kupesan—mengingat menu itu cocok sekali untuk mengusir rasa dingin—di atas meja Oshin yang hampir sesak oleh buku-buku, majalah, koran, laptop, juga kertas yang kucoret-coret dengan tinta berwarna-warni. Saat makan siang kau harus turun, ujar Bi Tah sambil berlalu. Itu seakan perintah yang mesti aku turuti dari seorang ibu. Aku tersenyum, memandangi punggung Bi Tah yang kubayangkan betapa hangat jika aku menempelkan tubuh di sana. Aku tahu ia mulai kesepian. Bisa jadi Bi Tah pelan-pelan terbiasa dengan kehadiranku di meja makan yang akhirnya membuat ia tidak tahan jika aku absen sekali saja.  Atau ia punya cerita baru yang mesti kudengar untuk melengkapi cerita-cerita darinya sebelum ini.

Kemarin Bi Tah sudah bercerita soal arisan para pembantu yang mereka lakukan sebulan sekali, juga mengikutsertakan tukang sayur dan tukang potong rumput yang biasa datang ke kompleks. Setengah menyesal Bi Tah menyayangkan para majikan, terutama kaum ibu-ibu, tidak melakukan hal yang sama; berusaha menghidupkan suasana kompleks dengan mengadakan acara kumpul-kumpul juga, semisal arisan, senam bersama satu hari dalam seminggu, pengajian atau yang paling sederhana ngobrol di pinggir jalan depan rumah pada sore hari di saat cuaca bagus.

"Apa orang yang kerja kantor itu benar-benar sibuk?" tanya Bi Tah bersungut.

Aku tidak menjawab, tapi mengangguk-angguk sembari menahan tawa. Aku ingat sahabatku, pemilik rumah ini, yang mungkin saja sedang disindir Bi Tah. Kukira, jika saja aku salah seorang pemilik rumah di kompleks ini, walaupun aku tidak kerja di kantor, aku akan sama saja dengan sahabatku itu atau orang-orang yang tinggal di sini. Kami sedang ingin melaju, itu alasannya. Kami mesti menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk, berkejar-kejaran dengan waktu. Waktu tidak pernah menunggu orang yang lambat, Bi Tah, kataku dalam hati.

"Apa menurutmu kami tidak kalah sibuk dari mereka?" Bi Tah merasa belum puas. Dalam kalimat Bi Tah itu aku seolah mendengar suara lain: Sama saja, kami juga sedang ingin melaju, tapi kami masih bisa menyempatkan diri agar tetap menjadi manusia.

Aku nyaris menumpahkan teh di dalam cangkir ketika itu. Mendadak bayangan orang-orang serupa patung kayu berseliweran di depan mataku. Pagi-pagi, sepasang anak berpakaian seragam sekolah dengan cepat melompat ke dalam mobil, membuatku tidak benar-benar tahu jenis seragam sekolah tingkat apa yang mereka kenakan, apalagi pandanganku juga dihalangi hujan. Begitu juga ayah dan ibu mereka, dengan ketergesaan yang sama menutup pintu mobil. Mereka pun segera menghilang dari halaman rumah itu, untuk seharian. Tanpa meninggalkan bekas yang bisa diingat, kecuali betapa mereka benar-benar tergesa, sehingga sama sekali tidak ada satu alasan saja yang membuat orang berpikir kalau mereka keluarga yang hangat.

Hampir semua penghuni perumahan ini sama saja. Aku tidak pernah melihat mereka tersenyum satu sama lain saat secara kebetulan mereka keluar dari pintu rumah. Kalau saja aku bisa melihat tubuh kaku mereka dari dekat, aku pasti dapat mengenali serat-serat halus serupa serat kayu di wajah, kulit tangan atau kaki mereka yang membuat mereka benar-benar mirip dengan patung kayu koleksi kakekku. Bagaimana bisa orang hidup sedingin itu? Demikian yang dirisaukan Bi Tah. Dan entah karena terbawa suasana hati Bi Tah, aku ikut-ikutan gelisah pagi itu.

"Tapi tenang saja. Jangan khawatir. Keadaan di sini tidak seburuk yang kaulihat. Seperti kataku, kami—para pembantu di sini—selalu menyempatkan diri untuk saling bertemu di tengah kesibukan kami mengurus rumah." Bi Tah sudah tersenyum meskipun aku tahu hatinya belum lega. Sampai kapan pun, menurut perhitunganku, Bi Tah tidak akan pernah lega lagi karena kehidupan sudah melemparkannya ke tempat dan waktu sudah berbeda dari yang ia pikirkan mengenai seharusnya orang-orang yang hidup berdampingan.

Tentang para pembantu yang dimaksudkan Bi Tah itu, tentu aku sudah mengetahuinya sejak hari pertama kedatanganku. Setelah majikan berangkat kerja, anak-anak pergi sekolah dan hujan perlahan berhenti turun, mereka akan berkumpul ramai-ramai mengelilingi gerobak tukang sayur. Tidak jarang kikik mereka terdengar olehku yang duduk di ruang tengah, yang diam-diam memerhatikan semua situasi di lingkungan baru ini. Aku seorang novelis, terbiasa ‘membaca’ apa-apa yang ada di sekelilingku, itu yang tidak Bi Tah tahu. Seandainya pun kukatakan, ia tidak akan sepenuhnya mengerti pekerjaan macam apa itu. Yang Bi Tah tahu aku teman baik majikannya yang akan tinggal di sini selama temanku itu pergi ke luar negeri. Atau paling tidak sampai aku merasa harus pergi lagi.

Tapi, sekali lagi, ada yang terlewat dari perhatianku selama ini. Sebab itu, sungguh, aku tidak sabar menunggu senja datang, sembari berharap hujan terus turun. Aku ingin kembali merasakan bagai duduk di bangku penonton atau berdiri di hadapan lukisan yang besar, lalu aku terhisap ke dalamnya.

***

INILAH senja yang kutunggu itu. Hujan masih turun, cukup deras. Aku duduk menghadap jendela kaca yang kubiarkan terbuka dari pagi tadi. Dadaku cukup berdebar. Debar yang sama persis saat aku menunggu-nunggu cahaya lampu muncul di atas panggung, tanda pertunjukan siap dimulai.

Kemudian lampu itu pun menyala bersamaan dengan terbukanya jendela besar di lantai dua rumah seberang sana. Tiga orang anggota keluarga segera berdiri sejajar di depan jendela itu. Salah seorang dari mereka, seorang anak laki-laki, melongokkan kepala sedikit keluar dari kusen jendela, sementara dengan antusias tangannya berusaha menangkap butir-butir hujan seolah itu baru pertama dilakukannya. Aku mengusap mata. Aku bergumam tak jelas, berkali-kali.

Dengan cepat lampu-lampu lain ikut menyala. Aku kian berdebar. Sungguh. Ini sempurna sekali. Sekarang aku bisa melihat di kanan-kiri rumah, juga di barisan depan—barisan yang demikian panjang—semua jendela sudah terbuka, dan orang-orang dengan sukacita menikmati hujan. Mereka tertawa, sesekali tangan mereka saling melambai pada tetangga.  Juga ada yang saling bicara dengan orang di rumah sebelah, sedikit berteriak, mengingat suara hujan cukup keras. Wajah mereka, yang kutangkap samar-samar, memancarkan kegembiaraan dan kehangatan yang masih sedikit kuragukan bahwa semua ini nyata (sebab bukankah mereka itu patung kayu?). Ya. Orang-orang menikmati hujan dari jendela. Bukan tiga atau empat orang, melainkan puluhan atau mungkin saja ratusan. Semua ini bagai sebuah dunia dalam fiksi. Bagai tak benar-benar ada, tapi semuanya sedang terjadi tepat di depan mataku. Dan... oh! Sekarang orang-orang itu tidak saja duduk atau berdiri di dekat jendela seperti kulihat senja kemarin, melainkan satu demi satu keluar dari jendela itu seakan tubuh mereka seringan kapas. Mereka terus melangkah, saling menuju secara terburu. Setelah bertemu dengan cepat mereka menabrakkan diri satu sama lain (bayangkan saja adegan laron yang menabrak cahaya, begitulah cara mereka melakukannya). Tubuh-tubuh yang bertabrakan itu segera menjadi pecahan-pecahan hujan yang sangat tipis dan hilang perlahan—menyisakan malam yang makin hitam.

Aku tidak tahan. Cepat kuambil handphone. Kucari nomor sahabatku secara terburu.

"Hello, Tita...," sambut Mauri terdengar gembira.

"Senja ini aku sedang menghadap jendela, Mau, dan aku melihat...."

Mauri tertawa renyah. Tawa yang lama-lama membuatku merinding, ngeri. Membuatku tak kuasa berkata apa-apa lagi, bahkan saat kudengar ia mengatakan sesuatu, lalu memanggil namaku dua kali dengan nada seru.

Setengah berlari aku turun ke lantai bawah. Bi Tah kutemukan menonton televisi di ruang keluarga, tengah tertawa-tawa sendirian, tidak menoleh saat kupanggil berulang-ulang. Perasaanku makin tidak keruan. Dengan cepat aku menuju pintu utama yang terbuka, dan—di halaman  rumah barisan depan—mataku segera membentur mata merah senja—mata para pembantu yang menatap amat licik.

Tidak menunggu lama, tubuhku sudah menjadi patung kayu. n

Sumatera, 11-12


Lampung Post, Minggu, 5 Agustus 2012

Sunday, January 15, 2012

Tebing

Cerpen Yetti A.KA.


BELAKANGAN, aku sering merasa tiba-tiba berada di tepi tebing. Tebing yang sangat sepi. Aku tak berani melihat ke bawah, tapi aku bisa menyelam ke dasar yang gelap, teramat gelap; dinding napal yang basah, pohon-pohon dengan duri di sepanjang batang atau ranting-ranting kecil yang tajam, juga nyanyian sayup yang misterius dan terus membujuk: biarkan kami mengambil jiwamu yang sakit dan gelap.

Maka cepat sekali aku menggigil. Rambut di keningku basah. Juga di tengkuk. Pipiku panas dan sepertinya terus membengkak. Dadaku seakan dialiri cairan asam yang terus naik hingga ke mulut. Sebelum benar-benar limbung, segera kutampar wajah keras-keras hingga kudapatkan kembali diriku sedang duduk beku di depan laptop yang berkedip, kertas kerja yang berserakan, dan buku agenda bersampul hitam.

Berjam-jam kemudian aku tetap duduk di sana. Gemetar.

***

AKU ingat saat pertama kali merasa berada di tepi tebing itu. Suatu malam, tepat pukul 01.00, aku terbangun dari tidur yang gelisah. Pikiranku sumpek. Aku ingin melihat dunia di luar, maka kubuka semua gorden di ruang tengah apartemanku. Aku melihat ke bawah. Lampu kendaraan melintas cepat, satu-satu. Tiang listrik membeku, berjejer di sepanjang jalan. Tukang satai bersuara parau. Serombongan anak muda setengah mabuk. Aku sedikit mundur. Menatap bayangan samar diriku di kaca. Rambutku sudah melewati bahu. Tanpa poni. Mataku tampak lelah. Astaga, aku terkesiap. Itu bukan mata yang lelah, melainkan mata yang telah mati. Di sana hanya terlihat sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Betapa mengerikan memiliki mata semacam itu. Bukankah dulu dia, kekasihku, bahkan bisa melihat bermacam-macam buah semak di sana, bergelantungan di dahan-dahan kecil namun kuat? "Imajinasimu liar," ujar kekasihku itu sambil memetik satu buah semak, entah apa namanya, dalam mataku. "Dan kau menyukainya?" tanyaku manja. "Aku menginginkannya, Marinda," dia berkata, memikat.

Sepanjang malam kami berbahagia. Kami saling berjanji dan berciuman di jalan yang sepi. "Ini tentang hati, bisa apa kita," katanya. Dia memandangku, lekat. "Ini tentang kita yang bertemu di waktu yang tidak tepat," tukasku sambil melepaskan syal di leher yang mulai membuat sesak. Kami sama-sama tertegun.

Aku mengusap-usap mataku. Bermalam-malam aku tidak tidur, wajar saja mata itu lelah, lalu mati.

Sesaat aku melupakan soal mata dan tumbuhan yang membusuk di dalamnya, sebab perhatianku tiba-tiba tertuju pada pintu yang tertutup yang juga tampak samar di kaca. Aku kurang suka pintu yang tertutup karena itu dapat membungkam khayalanku tentang seseorang yang muncul dari kelokan lorong, berdiri di depan pintu membawa seikat bunga lalang (aku tak pernah menginginkan mawar atau krisan, jenis bunga yang mudah saja dibeli pada penjual kembang). Namun begitu, ini penting kukatakan, aku memang jenis orang yang terlampau banyak bermain-main dengan pikiran sendiri. Sebenarnya, tidak pernah ada bunga lalang dalam hidupku seperti juga tidak pernah satu kalipun aku berani membiarkan pintu itu terbuka, terutama pada jam satu dini hari.

"Marinda, kau belum tidur?" kekasihku terdengar mengantuk saat aku tak kuasa menghalau rindu dan nekat meneleponnya.

Aku malas menanggapinya, dan berkata, "Aku sedang mengingat saat kau memetik buah semak, yang entah apa namanya, dalam mataku. Aku juga membayangkan tentang pintu yang terbuka dan kau...."

"Istriku bangun...." Tut...tut...tut....

Berjam-jam aku mengingat nada itu, berjam-jam aku termangu di depan kaca yang ingin sekali kupecahkan. Tapi... aku tetap menunggu dia meneleponku kembali, hingga aku punya kesempatan menyambung kalimat yang putus, "...dan kau muncul dari lorong, berdiri di depan pintu itu membawa seikat bunga lalang."

Tidak. Dia bahkan tidak mengirim pesan pendek. Dengan cepat sesuatu menyesak di dadaku. Sangat penuh, rasanya. Kemudian aku kedinginan, cemas, lembab. Aku meronta-ronta ingin lepas dari semua yang terasa kejam itu, sampai aku kelelahan, sampai aku berada di tepi tebing yang tidak kukenali, tapi mencoba menarikku amat kuat.

***

SEIRING dengan itu, lalu aku mulai terbiasa pula meringkuk dan memeluk kedua kaki di sudut ruangan hingga lewat tengah malam. Aku mirip anak kecil yang ditinggal sendirian di rumah dan tak tahu mesti melakukan apa. Seekor cicak menyergap nyamuk di dinding dan nyamuk itu langsung lenyap tanpa bekas. Laptop di atas meja sudah lama kulupakan, termasuk beberapa pekerjaan yang seharusnya kuselesaikan bulan ini dan sudah kutandai dengan stabilo hijau. Selebihnya, hidupku adalah sunyi. Sunyi membuatku tergelitik untuk kembali menyusuri jalan kenangan. Hanya saja, saat ini semua kenangan menjadi pahit untuk dibicarakan.

"Kau belum tidur?" tanya suamiku saat kuhubungi.

"Tidak bisa," ujarku.

"Kau perlu obat tidur lagi."

"Aku ingin kau segera pulang. Temani aku. Sungguh, aku merasa tidak tenang. Kau bisa?" tanyaku.

"Kau tahu ini pukul tiga pagi dan aku sedang berada di sebuah pulau... jauh di Sumatera. Aku tidak mungkin pulang sekarang."

Berjam-jam aku duduk terdiam. Aku tetap mengharapkan ia benar-benar datang, membawakanku aroma laut yang lembut atau tubuh garam yang berpasir. Kami akan berpelukan, sedalam-dalamnya, untuk pertama kali. Ah, sekali saja, kenapa ia susah sekali melakukan sesuatu yang bisa membuatku menangis saat membayangkan kehilangannya?

Namun ia memang tak pernah datang, juga sesudah aku membuang semua obat tidur ke dalam saluran air yang membuatku kembali berada di tepi tebing dengan amat mudah. Berjam-jam aku ketakutan. Merasa sendirian. Kesakitan.

***

AKU tidak tidur hingga matahari mulai membuat mataku silau. Biasanya buru-buru aku menutup gorden dan menyandarkan tubuhku di sana, dalam bingkai kaca. Seperti pagi ini, aku menyandarkan tubuhku dalam bingkai kaca itu sambil berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menemui kekasihku. Satu kali lagi saja. Aku tidak akan memintanya untuk kembali padaku, tapi paling tidak aku mau berteriak di hadapannya untuk terakhir kali. Teriakan yang mungkin saja ia ingat seumur hidup. Bisa jadi ini caraku menghukumnya. Dan selanjutnya, tepat pada hari itu juga, aku akan memulai hidup dengan bahagia. Tidur di hamparan rumput di alam terbuka. Berjam-jam. Tanpa siapa-siapa. Bernyanyi riang dalam hati. Menari sesukanya.

"Ini rumit, Marinda."

"Aku hanya mau bertemu. Tidak untuk membicarakan apa-apa."

"Marinda...."

"Sekali saja. Kau yang tentukan harinya," kataku.

"Tak bisakah kau mengerti?"

"Tidak bisa," ujarku.

"Apa sulit sekali bagimu?"

"Hmm."

"Aku sudah katakan, jangan hidup dalam kenangan."

"Aku sudah hidup di dalamnya, mau apalagi."

"Aku tak suka jika kita menyakitinya."

"Istrimu?" tanyaku.

"Ibu dari anak-anakku kelak."

"Kaubilang...."

"Mengertilah, jangan hidup dalam kenangan. Bukankah itu sudah terlalu sering kita bincangkan?"

Harapanku terlalu sering patah, memang. Ah, sebenarnya kami berdua yang telah membuatnya patah. Kami membiarkan hati kami membentuk diri menjadi pohon yang getas, kemudian patah teramat mudah. Meskipun tentu saja dia berusaha membuat alasan sendiri, "Istriku hamil muda. Aku tak bisa lagi menemui atau menerima teleponmu." Dia segera mematikan ponsel, seperti biasa.

Berjam-jam aku tetap diam di tempat seolah-olah dia mencemaskanku, lantas muncul secara tiba-tiba di hadapanku, mengulurkan tangannya. Hanya saja, sekali lagi, kenyataan telah melemparkanku ke lantai paling keras. Aku lebam. Biru. Hitam.

***

"AKU mengubah rencana dan akan segera pulang akhir minggu ini." Suara suamiku terdengar bening.

"Tidak perlu. Aku sudah tidak ingin kau pulang," kataku dingin. Sedingin lantai tempat akhir-akhir ini aku sering berbaring.

"Kau masih marah?" tanyanya, tak sebening tadi.

"Mungkin."

"Kau membuatku selalu bingung." Suaranya mulai keruh.

"Kau benar."

"Bertahun-tahun kita terjebak dalam kekacauan. Kapan kau berhenti begini, Marinda?"

"Aku tidak tahu," ujarku, lebih dingin.

"Ini benar-benar gila, hidup kita."

"Aku sungguh menyesal. Maaf."

"Marinda, kau..."

Telepon ditutup. Ia menyerah terlampau cepat. Begitu selalu. Kenapa ia tidak membujukku sedikit lagi saja, menunjukkan kalau aku cukup penting untuk ia pertahankan meski tanpa cinta sekalipun? Ia seringkali berbalik arah ketika sudah berada di tengah-tengah, membuatku setengah bahagia setengah terluka.

Berhari-hari setelah itu aku tetap bertahan di apartemen. Membiarkan matahari berlalu begitu saja. Membiarkan semua rencana, termasuk sejumlah seminar, berantakan tanpa aku memperjuangkannya sedikit pun. Aku memilih meringkuk atau rebahan di lantai, menatap langit-langit dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa bagian yang tak sempat kusadari selama ini sambil membayangkan bintang-bintang yang berkilat.

***

LANGIT mulai gelap di atas kepalaku, lampu-lampu mulai dihidupkan ketika aku memutuskan keluar apartemen dan berdiri di pinggir jalan. Beberapa taksi sengaja berjalan lambat, dan aku membiarkannya berlalu.

"Sudah malam lagi," aku bergumam sambil melihat ke langit. "Apa yang akan kulakukan sekarang?"

Aku bahkan tidak punya rencana apa-apa. Aku sama sekali tidak punya gambaran hendak melakukan apa atau mau pergi ke mana. Aku hanya menginginkan keluar dari apartemen. Hanya begitu. Selanjutnya adalah sesuatu yang benar-benar buram. Mungkin saja ini lebih baik daripada aku duduk terdiam menunggu seseorang yang akan pulang dari sebuah pulau dan setelah bertemu kami bertengkar, berulang-ulang.

Tidak. Aku merasa sudah cukup. Aku tidak mau membicarakan apa-apa lagi. Saat ini, aku tidak menginginkan siapa pun memandang mataku dan tumbuhan yang membusuk di dalamnya, lantas meraih bahuku dengan cara yang membuatku terus bersedih beberapa waktu ke depan.

Sungguh, kini aku justru menginginkan berdiri di tepi tebing. Tebing yang sangat sepi. Aku tak berani melihat ke bawah, tapi aku bisa menyelam ke dasar yang gelap, teramat gelap; dinding napal yang basah, pohon-pohon dengan duri di sepanjang batang atau ranting-ranting kecil yang tajam, juga nyanyian sayup yang misterius dan terus membujuk: biarkan kami mengambil jiwamu yang sakit dan gelap.

Aku tersenyum dan menangis, sama lebarnya. n

Jalan Enam Mei, 11-12


Lampung Post
, Minggu, 15 Januari 2012

Sunday, July 10, 2011

Nanci, Marine, Luppit

Cerpen Yetti A.KA.


Nanci

Teman kita itu benar-benar perempuan menyedihkan. Ia seorang pembual. Bergaduk pembangkang. Merasa paling keras kepala. Sombong sekali dia. Padahal, ibarat roti yang terlalu lama dibakar, ia repas. Jika sudah begitu, tak ada lagi yang bisa ia harapkan, selain menyerah dan terus membiarkan laki-laki itu menguasai dirinya.

Soal satu ini, kuminta jangan bilang-bilang padanya. Ini sebetulnya rahasia kami. Ia sengaja tidak memberitahumu, sebab kau berbeda, katanya. Paling-paling kau akan bilang: kalau suami sampai memukulmu, pasti karena kau telah membuat kesalahan. Sebaliknya aku justru sulit mengeluarkan kalimat semacam itu dan lebih terbiasa berkata: kau harus membalasnya, beberapa tingkat lebih keras, buat dia sedikit tercengang.

Ternyata teman kita itu lebih menyukai pendapatku. Aku memberinya inspirasi, menurutnya. Meskipun aku tahu ia tidak akan melakukan apa-apa pada suaminya—sekecil apa pun itu. Bukankah teman kita itu amat mudah tergoda. Dengan rayuan: maafkan aku, aku menyesal, aku tidak bisa hidup tanpamu—dari suaminya—ia langsung cair seperti es. Tangan-tangannya yang semula terkepal, lemas seketika, dan saat itulah ia terlihat mudah dikuasai.

Sekarang kau mengerti kenapa aku bosan sekali padanya, ia tipikal perempuan yang mudah meleleh. Aku masih ingat, dulu dia begitu cantik di antara kita. Semua teman laki-laki kita menginginkannya, menganggap kita tidak penting di setiap acara yang kita hadiri, baik itu yang diadakan pihak sekolah maupun di beberapa pesta ulang tahun. Sangat mengesalkan ketika itu. Apalagi saat melihatnya demikian genit dan tahu betul cara memanfaatkan puncak kegemilangannya.

Dalam sebulan, teman kita itu bisa ganti pacar dua sampai tiga kali, sedangkan aku dalam setahun ditolak dua kali atau kalau ada seseorang memintaku jadi pacar—dan ini pasti dari kelompok anak lelaki kurang populer—tetap saja aku merasa kurang dicintai. Apa? Kau tidak peduli tentang itu? Kami semua tahu kau memang kurang berminat dengan dunia begituan. Kau lebih senang merajut tas tangan ketika jam istirahat, membuat dirimu tampak terkucil dan berdebu di tengah hamparan bangku-bangku kosong yang ditinggalkan rombongan siswa keluar main.

Ya, kau memang manis sekali sejak dulu. Siapa pun lelaki itu pasti menyukai perempuan sejenismu. Setelah menikah, kau tetap berkarier dan mengurus rumah tangga sekaligus, tanpa keluh kesah. Aku kadang penasaran, di mana kau dapatkan semangat sebesar itu. Atau kesabaran sedalam itu. Sering aku menganggapmu kebanyakan mendengar dongeng masa lalu dari ibumu, tentang perempuan yang hanya bahagia bila berhasil menguasai sebuah rumah, terutama bagian dapur.

Kau tidak sendirian dan justru kau berada dalam kelompok besar perempuan yang seperti itu, karenanya kau merasa berada di jalan yang tepat? Kau benar juga. Hanya saja jarang sekali yang tanpa keluh kesah, bukan? Teman kita itu? Wah, kalau dia jangan kau tanyakan. Aku yakin bibirnya berkerut-kerut saat mengiris bawang. Dia kurang menjiwai apa saja yang berhubungan dengan dapur. Kau berpendapat bahwa teman kita itu tipe perempuan modern, banyak mau, tetapi tidak tahu apa-apa yang benar-benar ia inginkan? Kalimatmu hebat sekali. Kau pasti mengutip kalimat itu dari sebuah buku.

Terakhir menelepon, teman kita itu terdengar kesal karena suaminya tidak mau ikut mengurus anak-anak mereka yang masih kecil, terutama di pagi hari yang sibuk, ketika teman kita mesti menyiapkan sarapan, membersihkan lantai, menyetrika, dan mengganti air dalam bak mandi, anak-anak lucu itu tidak henti meminta perhatian darinya dengan membuat kegaduhan luar biasa.

Tahukah kau lelaki itu sedang apa? Ia minum kopi di ruang depan seakan tidak ada keributan sama sekali. Apa? Urusan rumah dan anak adalah mutlak pekerjaan perempuan? Kau memang payah untuk pembicaraan yang satu ini. Payah sekali.

Biar kuberitahu, ternyata satu-satunya peran yang paling pantas kau mainkan: tetaplah jadi anak manis sampai kau berusia lima puluh tahun. Aku menyindirmu dan seolah-olah mau mengatakan kalau kau kurang cocok melakukan perubahan kecil kecuali tetap menjadi seseorang yang polos? Kali ini kau hampir benar. Kira-kira begitulah yang ingin kukatakan. Aku tetap berharap kau akan tersinggung. Kau masih bertanya untuk apa kau tersinggung? Astaga, kau kelewat tak terjangkau oleh apa pun. Aku menyesal tidak bisa menolongmu.


Marine

Hah? Ia membeberkan rahasiaku kepadamu? Brengsek sekali dia. Ingin kugampar wajahnya yang berminyak itu. Aku terkicu telah percaya padanya. Harusnya aku ingat dirimu—seseorang yang kapan saja siap menjadi gudang bagiku. Aku merasa ini kesalahan terbesarku untuk kedua kali. Ternyata dia tidak berubah setelah membuka rahasia-rahasiaku sebelum ini pada orang lain—sialnya, mereka itu bahkan bukan temanku, melainkan kenalan suamiku—dan sudah pasti terjadi keributan serius antara kami yang membuatku cukup repot untuk memulihkan situasi.

Kenapa aku menerimanya lagi sebagai teman kalau ternyata dia sering merepotkanku? Tolonglah, kau tetap saja tidak paham bahwa kehilangan dia sama saja dengan menutup sisi lain hidupku. Dia memberiku tempat untuk membayangkan diriku yang seorang pembangkang. Pendek kata, kalau ada dia, aku bahkan bisa meraih kembali diriku yang dulu itu. Apa pentingnya diriku yang dulu? Kau sulit memahaminya, sebaiknya kau simpan saja pertanyaan itu. Aku menyepelekanmu seperti yang sering dilakukan teman kita itu? Kuharap kau tidak berkecil hati, namun itulah yang kupikirkan tentangmu.

Walau begitu, aku iri padamu. Kau mendapatkan semua yang kauangankan. Kau punya rumah sesuai dengan yang kau gambar di dinding WC sekolah kita: rumah cukup besar dan pohon-pohon di sekitarnya. Kau punya suami baik hati dan anak-anak yang menyayangimu—balasan yang wajar atas ketulusanmu. Paling penting kau tidak pernah merasakan nyeri dipukul atau ditampar lelaki yang kaucintai, pastinya karena ia tidak mungkin tega melakukannya pada orang semanis kamu. Aku? Bahkan aku dipukul saat suamiku bilang “Aku cinta padamu”. Itu membingungkan? Sudahlah. Aku tahu kau sulit percaya atau malah menganggapku bohong.

Lantas lihatlah teman kita itu, seolah tidak ada pekerjaan lain kecuali mencari kesalahan laki-laki. Hampir setiap hari ia juga menyerang perempuan manis sepertimu atau melakukan protes di jalanan di saat perempuan seusianya tengah memikirkan rencana piknik keluarga di hari Minggu. Aku heran, apa yang dia inginkan dari hidup ini. Padahal, apa salahnya kalau perempuan seperti kau tetap manis. Kami semua—kecuali dia, barangkali—sangat menyukai dirimu yang begini.

Kau tidak percaya aku membelamu? Bagaimana bisa kau punya pikiran demikian? Bukankah saat kau dilecehkan sewaktu kita sekolah dulu aku orang pertama yang berdiri di sampingmu, menggenggam tanganmu, dan berkata: aku bersamamu. Jangan pernah cengeng lagi. Setelah itu kau memang tidak pernah lagi menangis, bukan? Aku memang teman yang bisa kau andalkan, terutama yang berurusan dengan laki-laki usil. Aku bisa membuat mereka terkapar di bawah kakiku, dalam lima menit. Apa? Kau bilang lelaki mana yang tidak mau terkapar kalau bisa mengintip sesuatu dalam rokku? Kau mulai ketularan teman kita itu rupanya. Tapi kuharap kau tak sesinis dia.

Sudahlah. Lupakan masalah itu. Lagipula kejadiannya sudah lama sekali.

Ah, aku merasa dadaku sedikit ringan sekarang. Apa? Aku mudah meleleh? Kau mengejutkanku. Boleh juga. Meleleh. Sungguh, aku menemukan satu kata yang pas untuk menggambarkan seluruh diriku: meleleh. Jangan tatap aku begitu. Ah, maaf. Aku sedang sentimentil. Biasanya aku tidak begini. Jarang sekali. Dan inilah aku sekarang. Teman kita itu ada benarnya, aku mulai membiarkan diriku berantakan. Bagian ini tidak pernah kuceritakan pada siapa pun sebelumnya, termasuk pada teman kita itu. Aku tidak mau dia merisaukanku. Bagaimanapun dia teman terbaikku. Oh, aku tidak bermaksud menganggapmu tidak penting. Namun, pada dia aku merasa lebih bisa terang-terangan, sedangkan kau, sungguh, tampangmu yang selalu manis itu membuat siapa pun harus pura-pura sepadan dengan kegembiraan yang terpancar di matamu.

Aku tidak habis pikir kenapa kau selalu bisa begini, selalu manis, persis sama saat melihat kau main lompat tali, puluhan tahun lalu, tepatnya saat kau melompat dan kau tengah berada di udara. Mengambang. Bagimu seakan hidup itu amat ringan. Maksudmu tidak sepenuhnya demikian? Kau cuma berusaha untuk menahan diri, tidak histeris? Kau menyindirku. Soal histeris itu memang milikku. Aku tidak dapat mengungkapkan apa-apa tanpa marah atau berteriak. Tapi pada akhirnya aku tetap saja meleleh, sesuai yang kau katakan. Apa? Itu bukan istilahmu, melainkan kata yang kau kutip dari teman kita itu?

Sudah kuduga ia pasti terlibat dalam hal apa pun yang ada hubungannya denganku. Lihat, ia bahkan sudah menyimpulkan hidupku dalam satu kata: meleleh. Berani benar dia. Aku tidak tahu apa aku harus benar-benar menggamparnya dalam waktu dekat ini.

Kau masih juga ingin tahu pendapatku tentang teman kita yang tidak menikah dalam usia tiga puluh lima tahun? Barangkali lebih baik dia tidak menikah. Aku tahu ia tidak akan berhasil menjadi seorang istri dari seorang lelaki dari jenis mana saja, sebab teman kita itu bahkan menolak mencuci satu piring pun bila ia menikah nanti. Itu ia katakan padaku dengan suara keras, seolah-olah sebuah pengumuman yang disengaja. Menurutmu, apa ada seorang laki-laki mau hidup dengan perempuan yang membiarkan piring kotor tergeletak di lantai? Ayolah, kau tidak perlu bergidik begitu, seakan-akan kau baru berkenalan dengan teman kita itu satu bulan lalu.


Luppit

Kau benar-benar sebal padaku? Tolong jangan lakukan itu. Aku merasa bersalah sekali padamu. Aku tidak bermaksud melakukan pertemuan diam-diam di belakangmu. Semua terjadi begitu saja. Teman kita itu meneleponku. Lalu mengajakku minum teh di tempat biasa kita bertemu. Kami tidak memberitahumu karena kami pikir kau sedang sibuk sekali. Teman kita bilang beberapa kali kau tidak membalas pesan pendek dia. Kau sedang bosan padanya? Tapi ia mengira kau terlalu sibuk. Kami putuskan pergi berdua saja.

Kuakui aku terbawa emosi ketika diam-diam kuperhatikan beberapa titik kebiruan di sekitar mata dan bibirnya. Aku berseru: astaga! Jadi benar kalau kau dipukuli lelaki itu. Teman kita itu kaget. Masih kuingat bola matanya memandangku takjub, seakan tidak percaya aku tahu sesuatu tentangnya. Ia mendesakku. Kukatakan aku tahu darimu. Dia menjerit.

Menurutnya, itu rahasia kalian dan aku semestinya tidak boleh tahu. Setelah itu ia berkata ingin sekali menggamparmu, tentu saja dengan tampang geram setengah mati. Tapi seperti katamu, aku tahu ia tidak akan melakukan apa-apa—sekecil apa pun itu. Bukankah dia mudah sekali meleleh. Apalagi ia tidak bisa kehilanganmu.

Aku lega kau mau mengerti. Lain kali aku akan lebih hati-hati menyimpan sebuah rahasia. Terutama mengenai teman kita itu. Kau bertanya tentang kabarku? Tentu saja aku masih bahagia sebagaimana biasa. Hanya sedikit lelah, tapi tak begitu mengganggu. Pagi-pagi aku bangun untuk membereskan segala hal. Sehabis kerja aku juga buru-buru pulang untuk kembali melakukan hal yang sama. Itulah tugasku. Baiklah kuberitahu padamu isi kepala hampir semua laki-laki saat ia menikahi seorang perempuan. Pertama, ia memastikan ada seseorang yang akan mengantar teh atau kopi ke tempat tidur saat ia terjaga di pagi hari. Kedua, ada seseorang yang akan mencucikan baju kotornya, dua hari sekali.

Kau tak usah menggeleng-gelengkan kepalamu. Mana mungkin aku mengabaikan pekerjaan rumah dan membiarkan suamiku mencuci bajunya sendiri. Itu bukan yang diajarkan ibuku. Kesetiaan perempuan ditunjukkan dengan cara melayani. Cukup sampai di situ. Tak usah disanggah lagi, begitu ibu memberi nasihat seusai acara lamaran ketika itu. Bertahun-tahun aku menyimpan nasihat itu baik-baik.

Kau tentu saja sulit membayangkannya. Untungnya lagi kau tak perlu bertemu ibuku.
Kau harus segera pergi? Tidak biasa kau buru-buru mau pulang. Bukankah kau menyukai duduk berlama-lama di halaman belakang rumahku ini. Lagipula aku masih ingin ngobrol denganmu. Oh, kau ada janji dengan orang lain. Aku harap kau tidak perlu merahasiakannya dariku jika kau dan teman kita itu berencana minum teh di tempat biasa, sebab itu akan membuatku merasa seperti orang lain bagi kalian. Kau tidak yakin aku ada waktu untuk ikut bersama kalian sekalipun ini hari libur? Kebetulan sekali aku sudah menyelesaikan semua urusan rumahku, termasuk mengganti pisau cukur lama di rak sabun.

Jalan Enam Mei, 2009-2011