Showing posts with label Rilda A. Oe. Taneko. Show all posts
Showing posts with label Rilda A. Oe. Taneko. Show all posts

Sunday, September 28, 2014

Lubang Bumi

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


PADA mangkuk kloset, ia mendekatkan wajah, menunduk, dan muntah. Satu pagi yang normal di musim dingin: gelap, suram, dan gigil menyumsum. Ratusan orang di kotanya terjangkit virus flu atau, seperti yang ia alami, tertular norovirus: demam panas-dingin dan muntah-muntah.

Ia menekan tombol siram, memperhatikan air tercurah ke mangkuk, menjadi pusaran, lalu hilang ke dalam pipa, menyisakan genangan. Penderitaannya belum selesai, masih ada muntah tersisa di tubuhnya. Ia membuka mulut, menunduk, wajahnya memanas, dahi berembun keringat, cairan pahit keluar dari mulutnya, kembali menyembur ke mangkuk kloset.

Ia balik menekan tombol siram. Tapi kali ini ia merasa aneh, kepalanya yang pusing dan berat seakan terpelintir, terpilin memanjang, seperti kain basah yang dua ujungnya dipegang, ditarik dan diputar ke arah berlawanan oleh dua orang.

Ia membungkuk lebih dalam. Kepalanya tersedot pusaran air di mangkuk kloset. Tangannya berusaha menahan, berpegangan pada sisi mangkuk seerat ia mampu. Namun, ia tak berdaya. Pusaran air itu mengisap begitu kuat, menghirup kepala, tangan, menelan seluruh tubuhnya, kaki, menyisakan sepasang sandal tidur biru di lantai kamar mandi.

Perasaan yang ganjil. Ia tak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri. Seperti terjaga dan tersadar di dalam lelap tidur yang amat berat, tidak bisa membuka kelopak mata, apalagi menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Otaknya berteriak menyuruh ia melawan deras arus air, tapi tubuhnya terus tenggelam, terjatuh, dan terbanting, meluncur cepat ke lubang bumi, tercampak jauh ke dalam kegelapan. Gravitasi bumi selalu menang, ia tidak bisa melawan.

IA, anehnya, tiba-tiba saja berdiri di eskalator menurun yang curam. Ujung tangga tak terlihat, hanya pekat. Ia turun, terus turun dan turun ke perut bumi. Orang-orang berjalan cepat, beberapa berlari melewatinya.
Lorong-lorong sempit, dingin, berbau pesing dan alkohol basi, menunggunya di akhir tangga. Ada sepasang kelemayar bergelung di satu sudut.

Ia mendengar gemuruh, melihat pendar bergerak-gerak, pijak kaki berguncang. Di atap rendah sebuah lorong, papan penunjuk waktu dan tanggal elektrik digantung. Papan itu berayun-ayun dihempas angin dari kereta yang berkelebat cepat. 08.50 AM 07/07/2005. London Underground.
Gemuruh lain terdengar, cahaya menembus terowongan, kereta menghampiri, kemudian berhenti. Pintu kereta membuka di hadapannya. Ia terbawa arus penumpang, bersesakan masuk ke gerbong, berdiri sambil berpegangan pada tiang.

Kereta bergerak maju melalui lorong gelap dan picik, mengeluarkan suara berisik, serupa ular boa yang mendesis-desis. Ia merasa terkurung dalam ruang sempit hampa udara yang perlahan-lahan makin mengecil, membuat ia terdesak sehingga tak dapat bergerak dan sesak napas, klaustrophobia. Mulutnya membuka-tutup, seperti ikan yang terdampar di darat.
Orang-orang di sekelilingnya duduk dan berdiri tanpa ekspresi. Tatapan mata mereka kosong dan nanar. Mereka terlihat lelah. Ia mencium bau karet terbakar, lalu sebuah ledakan.

Orang-orang yang tadinya duduk, lekas berdiri, dan mereka yang sebelumnya berdiri, bercepat-cepat berlari, menuju gerbong lain, menjauh dari suara ledakan. Ia mendengar ledakan yang lebih kuat, asap hitam memenuhi gerbong, dan kali ini ia merasai wajahnya terciprat cairan pekat yang hangat.

Ia mengelap wajah dan melihat darah di telapak tangannya. Entah darah siapa. Orang-orang berteriak, memekik minta tolong, menangis.

PERLAHAN ruang yang mengimpitnya melebar, sesak dan gelap berganti udara segar dan cahaya pudar. Ia berada di permukaan bumi. Ia melihat pohon-pohon berdaun hijau di sekelilingnya dan tidak merasai gigil musim dingin. Ia tidak lagi berada di kotanya. 

“Papa! Papa!”

Seorang gadis kecil, sekitar tiga belas tahun, berambut hitam sebahu, berkulit langsat, berlari keluar dari rumahnya, hanya bergaun tidur putih. Ia berdiri di tengah jalan tanah, tak jauh dari mobil-mobil tentara. Ia melihat beberapa tentara menyeret tubuh seseorang, meninggalkan jejak merah di tanah dan lantai beranda rumah. Ia melihat gadis itu meraung, melolong sedih. Tapi gadis itu tidak melihatnya. Pada gaun tidur berenda, ia melihat bercak darah.

Tentara-tentara itu melempar tubuh yang mereka seret ke belakang mobil bak terbuka. Mobil melaju, meninggalkan debu dan raungan gadis kecil yang lamat-lamat memudar. Ia berdiam di belakang bak mobil, berjongkok di dekat mayat lelaki paruh baya, memerhatikan lubang-lubang peluru pada tubuh dan darah segar di wajah yang mengernyit kesakitan. Tak jauh dari mayat, ada lembaran koran yang mungkin tertinggal. Koran itu tertanggal 30/9/1965.

Mobil melewati lapangan penerbangan, memasuki jalan berbatu, ia terguncang-guncang dan ingin muntah.

Akhirnya mobil berhenti di pinggir hutan. Di dekat pokok nangka, ada sebuah sinkhole, sebuah lubang kelam yang menganga di permukaan bumi, sekelam dan segelap rongga mata yang hampa bola mata.

Banyak tentara lain telah dulu sampai. Mereka juga membawa mayat-mayat. Ia berdiri di dekat sinkhole, menyaksikan tentara-tentara itu melempar satu per satu mayat ke dalam lubang. Tambahan pula, setelah mayat habis dijungkal, mereka mengarahkan pistol-pistol dan menembak berkali-kali ke dalam sinkhole.

Ketika matahari terbit di ufuk timur, tentara-tentara itu beralih-muka, melipat-gandakan tubuh, dan saling membunuh.

Selepas itu, tentara-tentara pemenang kembali membelah diri serupa ameba, menjelma menjadi ratusan manusia berwajah hitam. Mereka berkeliaran, mengendara gelombang radio, keluar dari kotak-kotak televisi, menguasai seluruh daratan. Ia menyaksikan mereka berbaris dan dengan tatapan mata kosong, mereka berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk-ngetuk pintu, mendobrak, dan merusak jendela-jendela kayu.

Parang, pisau, pistol, golok, arit digenggam erat di tangan mereka. Mereka berhasil mengumpulkan manusia-manusia yang kemudian mereka giring ke lubang-lubang bumi di sudut-sudut kampung. Ia melihat manusia-manusia yang diculik dipaksa berjongkok, lalu satu per satu kepala mereka menggelinding, memasuki lubang, diikuti tubuh yang dijungkal.

“Kau!”

Seorang lelaki bertubuh kurus, berambut hitam tebal, matanya abu-abu, memegang parang, berteriak padanya.

Tidak mungkin, pikirnya. Sedari tadi tak ada orang yang bisa melihat dirinya.

Tetapi lelaki itu menarik tangannya, mendorong ia hingga terjerembab di dekat lubang, di bawah rumpun bambu. Ia melihat parang diangkat tinggi, memantulkan sinar mentari. Ia berteriak, menggulingkan tubuhya ke dalam lubang.

Ia meluncur jatuh. Lubang itu lebar dan dalam. Ia mendarat di atas mayat-mayat bergenang darah. Sementara itu, dari mulut lubang, mayat-mayat terus berjatuhan, menimpanya, hingga ia tak mampu bergerak, tak juga bisa berteriak.

Lubang itu gelap, suram dan gigil menyumsum, mengingatkan ia pada satu pagi yang normal di musim dingin.

Ia sangat ingin keluar dan kembali berada di permukaan bumi.

SEKONYONG-konyong ia melihat lubang bumi yang lain: sebuah kawah raksasa, dan ia berdiri di pinggirnya. Kawah itu sangat dalam, beralur undak-undak, begitu luas dan lebar, seluas dan selebar kota di mana ia tinggal.
Tak jauh dari tempat ia berdiri, seorang pria bertubuh besar dan berkulit gelap berbicara pada telepon genggamnya.

“Ingat-ingat, Nak. Tanah kita tanah kaya. Tambang mineral yang tak pernah habis dikeruk. Tapi tanah dan kemerdekaan kita dirampas.”

Ia mendengar suara rentetan tembakan, pekik-lengking orang-orang. Di sisi lain kawah, ada kerusuhan, tentara, yang memegang senapan panjang, melawan penambang.

Pria di dekatnya terus berbicara, “Ingat-ingat, Nak, kita harus melawan. Dan ingat, papamu bukan seorang pengecut. Teruslah ingat papamu ini, jangan pernah lupakan. Jaga mamamu dan belajarlah yang rajin. Demi tanah kita.”

Pria itu berlari ke tempat kerusuhan sambil menangis. Tetes-tetes air matanya terbawa angin, jatuh ke mangkuk kawah.

Tak lama, ia mendengar tangis menyayat pilu yang sangat dekat. Ia memerhatikan sekitar, mencari asal tangisan. Tak ada seorang pun terlihat, bahkan angin berhenti mengusik dedaunan.

Ia menunduk, lalu berjongkok dan kemudian tengkurap di sisi kawah, mencoba mendengar lebih keras. Ternyata tangisan itu berasal dari bawah, dari dasar kawah.

Ia bangkit dan menjenguk curam lubang, melihat air dari tanah melesat ke udara, berkumpul tetes demi tetes, menjadi genangan di mangkuk kawah terus pusaran besar. Air meluber keluar kawah, serupa jejari, merayap ke sisi seberang. Air itu menarik para tentara ke dasar kawah. Ia melihat orang-orang berteriak dan berlarian. Lalu senyap, hanya desir angin.

Angin berbisik di telinganya: air menuju akuifer, mengalir ke sungai, bermuara ke samudra, bertemu tetes-tetes air di sepanjang arus, bertambah besar, mengepung negara asal petaka, menyusup pada pipa-pipa air minum, dan keran-keran rumah. Angin menyiarkan tulah: barang siapa meminum air kesedihan maka orang itu akan menjadi gila, teramat gila sampai bisa membunuh-tembak orang-orang, membabi-buta.

KEMUDIAN, entah bagaimana, ia sudah berada ke tempat gelap-gulita. Tempat itu terasa sempit tetapi lentur. Ia mendengar suara mengerang, napas tak beraturan, dan teriakan kesakitan ternyaring yang pernah ia dengar.

Ia terdorong keluar dari dalam kegelapan melalui lubang bumi, melihat sinar terang yang berkilauan. Kemudian ia merasai dekapan hangat.
Suara teramat lembut berbisik padanya, “Aku rela mati untuk melahirkanmu ke dunia. Anakku.”

IA berdiri di dekat kloset. Ia bermimpi, pikirnya. Ia menyeka keringat di dahi kemudian wajah. Ia merasai cambang. Bagaimana mungkin?
Seingatnya, ia baru bercukur kemarin pagi. Ia menatap cermin, cambang-bauknya benar menyemak, rambut hitamnya tambah panjang.

Ada cicit burung di luar. Ia mendekati jendela, menarik tali penutup kaca. Deret daffodil dan krokus bermekaran di taman belakang, tersiram gilang-cemerlang sinar mentari. Kuncup dedaun mapel merekah hijau muda dan kuntum-kuntum magnolia bergoyang menyambut hangat.

Ia terbelalak, mulutnya menganga, hatinya bersuka, ternyata musim dingin telah usai, semi datang, dan bumi terlahir kembali. n

Lancaster, Maret 2013


Lampung Post, Minggu, 28 September 2014

Sunday, May 25, 2014

Wennington Morse

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


Barat dan Timur Jauh
Masa Lalu dan Masa ini


SATU

PEPOHONAN tak berdaun, batang-batang hitam terpeta lumut perak-hijau, reranting mereka terentang, serupa jejari kurus para penyihir. Salju menumpuki kota, mengubahnya menjadi bebukitan putih tak berpenghuni. Kanal dan cabang-cabang Wyre dan Lune membeku. Di dalam sungai kristal, ikan-ikan terperangkap, mati.

Petani mengalami gagal panen. Hutan tidak lagi menyediakan kayu bakar. Leret rumah-rumah batu tua retak berlubang. Pakaian yang compang. Roti dan sup hangat di atas meja membatu dalam bayangan. Jejaring laba-laba memenuhi baskom cuci piring dan rak kayu tua. Ini musim dingin yang panjang. Musim dingin yang tidak akan pernah berakhir.


DUA

KENDI liat milik ibu pecah di lantai rumah, tanpa menumpahkan setetes air, hanya kering dan laba-laba abu-abu yang tadi bersembunyi di dalamnya. Laba-laba berlari miring, menghilang di celah dinding jalinan daun kelapa kering.

Ibu berduka melepas kepergianku. Aku dan tiga kawan mendaki gunung, berjalan di satu sisi bumi yang hangus. Angin kering berkesiur, meratapi kematian dedaunan. Debu panas, retak tanah, bau kulit terbakar, kulit manusia. Kami bertelanjang kaki. Jejak kami menandai gurun merah. Bayangan kami membekas siluet hitam, semakin memanjang, dan kemudian menghilang ke balik senja. Ayah berjalan di sisiku. Dia berjalan dengan wajah bersalah, tanpa air mata, hanya wajah yang berjelaga.

Tenggorokanku perih, haus. Aku menjilat keringat asin yang menetes dari hidung. Aku terus berjalan, menginjak semak-semak kering, duri. Darah di kaki.

"Apakah kita akan bertemu lagi?" Ayah bertanya.

"Jika kita masih hidup, tentu saja," jawabku.

"Kau adalah harapan," Ayah tersenyum lemah. "Pergi sejauh kau bisa. Pergi. Karena hanya kematian menunggumu di sini."

"Bukankah kematian juga yang menungguku di ujung lain? Di penghujung senja?"

Ayah terdiam, senyumnya menjelma bulan sabit, lalu di langit gemintang bertaburan.

Aku mendongak dan berdoa "Langit, bawalah hujan."

Tapi hanya ada bintang yang berkedip-kedip. Pada mereka, aku bertanya, "Bintang, di manakah hujan? Pintalah awan gelap menutupi kalian barang sekejap. Kami perlu hujan."

Bintang-bintang berkelap-kelip. Kedip-kedip-kedip.
***            ***
            ***            ***

Ular mendesis dari bawah bebatuan.

"Ular panggang. Adakah liur kalian menetes, teman? Nyalakan api. Kita makan enak malam ini. Esok pagi, laut menunggu."


TIGA

"LIHAT, Daddy. Orang-orang itu sangat kurus."

"Ya, manis. Sekarang makanlah dulu. Matikan televisi itu dan duduk di sini.''

"Daddy, apakah mereka lapar?"

"Ya, sayang."

"Bisakah kita memberi mereka makanan?"

"Kita telah memberi mereka, little princess. Dua poundsterling setiap bulan."

"Tapi kenapa mereka masih kurus?"

"Sudahlah. Jangan berbicara saat makan, love. Selesaikan makanmu, setelah itu kita pergi melihat bintang."


EMPAT

SEBUAH kapal dagang besi besar. Di dalamnya ada ratusan peti kemas kayu.

"Mari kita menyelinap dan bersembunyi. Jangan bergerak, apalagi berbicara. Setelah laut, kita akan sampai di ujung lain dunia. Di sana ada ladang kentang, jagung, dan wortel. Rumput hijau membentang, sungai berkelok-kelok tenang. Sapi dan domba merumput dan tidur dengan perut kenyang. Dan di hutan, beri hitam dan beri biru tumbuh liar. Apel dan pir jatuh ke tanah, membusuk.

Mereka memiliki panen yang berlimpah. Selain itu, ada ratusan kapal dagang seperti ini, yang berlayar dari setiap sudut dunia, menyeberangi berbagai lautan, membawa makanan ke sana. Kita tidak akan pernah pernah kelaparan lagi. Kemudian, kita akan kembali ke rumah suatu hari. Kita akan membawa makanan untuk ibu dan ayah, bayi-bayi kehausan. Oleh karena itu, jangan bergerak, teman-teman, apalagi berbicara. Setelah  lautan, kita akan tiba."

Udara di dalam peti kayu terasa basah oleh asin keringat. Kami tidak tahu apakah siang atau malam hari, di mana berada, tidak bisa menghitung hari dan bahkan tidak bisa melihat tangan sendiri, kaki. Teramat pekat dan kami mati rasa.

Kemudian, dari luar peti, kami mendengar ledakan memekakan telinga. Kapal bergoyang, peti bergeser.

"Apa yang terjadi?! Apakah kita sudah sampai?"

"Ssshh, tetap tenang."

"Aaaaaghhh!"

"Jangan berteriak."

"Ada sesuatu melukai punggungku!"

"Tolong diam. Gigit bibirmu. Atau kita semua akan ketahuan."

"Terlalu sakit. Sakit sekali. Aaaagh ... tolong!"

Kami mendengar langkah kaki di luar. Pintu peti dibuka. Lalu ada silau cahaya, siluet manusia.

"Saya menemukan penyelundup di kotak pojok!"

Siluet-siluet mendekat, berkacak pinggang.

"Kita apakan mereka?"

"Ada yang terluka. Tolong!"

Tidak ada jawaban. Mereka tidak mengerti. Kami berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Ada ledakan lain. Kapal bergoyang lebih kuat. Siluet tampak menari, menjaga diri mereka dari jatuh. Kemudian sirene alarm meraung. Siluet-siluet pergi. Mereka berlari. Mereka meninggalkan kami.

"Apa yang terjadi?"

"Apakah kita akan mati?"

"Aku mau muntah."


LIMA

Langit
***        ***             ***
Matahari        ***            ***            Bulan
                    ***            ***   

"Apakah itu bintang, Daddy? Apakah itu bulan? Bukankah hari masih siang? Atau di tempat ini, siang dan malam, serta perbedaan ruang dan waktu, berkumpul di langit luas?"


ENAM

"JANGAN mati di sini, putriku. Jangan mati. Terus bergerak. Kita hampir sampai, River Lune hanya selangkah lagi," Ma memegang tanganku.

"Lihat Ma, ada mayat beku di bangku."

"Terus berjalan, love."

"Ma, ia terlihat seperti manusia salju."

"Jangan pernah berhenti. Terus bergerak. Jika tidak, kau akan membeku.”

Bayangan gelap mendekat dari balik pepohonan tak berdaun. Seorang wanita tua, kurus, bungkuk dan lemah, jubah hitamnya lusuh-compang. Ada rantai besi mengikat pergelangan kakinya. Dia bergerak perlahan ke bangku, berusaha menyeret mayat.

"Ball!” ia berteriak.

Seekor anjing hitam besar dengan gigi tajam muncul entah dari mana. Anjing itu menggigit kaki mayat dengan giginya, menyeretnya ke balik pepohonan. Wanita itu berpaling kepada kami. Satu matanya lebih besar dari yang lain. Wajahnya keriput, penuh kerut-merut. Kami membeku. Ma meremas tanganku erat-erat. Kemudian wanita itu berbalik, mengikuti anjingnya. Mereka terus berjalan menuju Gallows Hill, sebuah bukit pucat yang dikelilingi oleh kabut. Dari jauh kami bisa mendengar dia menggumam mantra.

Double, double toil and trouble;
Fire burn and caldron bubble.1/

"Ma, apakah dia seorang penyihir?" bisikku.

"There’s no such thing as witches, dear. Jika ada, mereka pasti akan membuang semua dingin, salju dan slug dari kota ini."

"Mungkinkah penyihir yang menciptakan semua dingin, salju dan slug, Ma?"

"Teruslah bergerak."

"Tapi salju sangat tebal, Ma. Sulit untukku berjalan. Kakiku berat. Aku lelah."

"Terus bergerak, sweet pea. Kita akan mencapai sungai dan bertemu ayahmu yang kembali dari berlayar. Dia membawa gula dan makanan."

"Aku tidak bisa berjalan lagi, Ma."

"Jangan menyerah."

"Apakah benar ayah akan datang, Ma?"

"Ya, dia akan datang. Mereka kembali dari Semarang, membawa makanan dan gula. Wennington membawa mereka pulang."

"Bagaimana jika ayah tidak datang?"

"Teruslah bergerak."

"Jika dia tidak datang, Ma, apa yang akan terjadi pada kita?"

"Kita akan pergi. Kita akan pergi bersama kapal-kapal yang sudah disiapkan oleh Ratu."

"Ke mana kita akan pergi, Ma?"

Serpihan salju putih berputar dalam embusan angin. Kakiku sakit. "Ma, ke mana kita pergi bersama kapal-kapal?"

"Kita akan mengikuti bintang. Kita akan menuju matahari, karena hanya kematian menanti kita di sini Kita akan berlayar ke benua lain. Di sana mereka memiliki panen yang berlimpah. Kamu bisa makan apa pun yang kamu suka. Ada ... "

"Ma, kenapa kau berhenti? Ma, teruslah bercerita. Aku ingin mendengarmu, Ma. Ma, jangan hanya berdiri di sana. Ma ...."

Angin dingin berputar-putar, menghembus beku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kami telah tiba di tepi Lune, tapi tidak ada Wennington, atau kapal-kapal Ratu. Hanya bayangan bintang berkelap-kelip di air sungai yang beku.

"Apakah itu bintang, Ma? Apakah itu bulan? Bukankah hari masih siang? Atau di tempat ini, di langit, siang dan malam, beda jarak ruang dan waktu, berkumpul jadi satu? "


TUJUH

"IBU, lihat! Orang-orang itu mati beku!"

"Matikan televisi. Makanlah dulu, Nak."

"Kasihan sekali. Bisakah kita membantu mereka?"

"Kita telah membantu mereka. Kita telah mengisi kapal mereka dengan rempah-rempah, gula, gas alam, kayu dan buah-buahan."

"Tapi mengapa mereka membeku sampai mati di tepi sungai? Di bangku-bangku taman?"

"Bahkan di negeri subur ini, bayi mengalami kekurangan gizi dan orang-orang yang mati kelaparan, sayang."

"Mengapa begitu, Ibu?"

"Bila dewasa nanti, kamu akan tahu mengapa."

"Apakah itu sebuah misteri?"

"Ya. Sekarang habiskan nasi. Lalu kita bisa pergi ke pantai."

Laut
***— — —***
Mercusuar        ***— — —***            S.V Wennington
                        ***— — —***

“Apakah langit yang kita lihat sebenarnya adalah laut, Ibu? Apa itu cahaya mercusuar dan bukan matahari? Apakah bulan sesungguhnya adalah lampu kapal? Apa bintang-bintang itu permintaan bantuan? Lihatlah, Ibu, mereka berkelap-kelip, kedip-kedip-kedip, mengirimkan kita kode Morse.”

Lancaster, 2012

1/  Dari ‘Macbeth’, oleh William Shakespeare.



Lampung Post, Minggu, 18 Mei 2014



Sunday, February 23, 2014

Kembang Api di Stasiun Kereta

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko



Di kota yang tidak pernah mengubur masa lalu,
kami tidak memerlukan panggung.
Hanya satu-dua cahaya lampion, percik kembang api, lalu, malam.


MALAM ini malam Bonfire di Lancaster. Rencananya, kembang api akan diluncurkan dari menara-menara kastil. Rencananya pula, Lati akan ikut menyaksikan pesta kembang api itu bersama teman-temannya dari lapangan Giant-Axe. Tapi malam kemarin, Lati menerima pesan itu. Dan pesan itu, tentu saja, mengubah rencananya.

Lati tiba di depan pintu stasiun lima menit sebelum waktu kedatangan kereta yang ia tunggu. Ia mengibaskan air dari payungnya, melipatnya rapi dan mengalungkan tali payung ke lengannya. Di layar kedatangan yang ditempel di dinding di atas mesin tiket, ia membaca: Arrivals Time: 18.13, Origin: Manchester Airport, Plat: 3, Expected: On time.

Lati melangkah menuju pintu bertuliskan ‘To the Trains’, mengikuti arah tanda panah ke peron 3, melalui lorong jembatan yang berada di atas rel kereta dan kemudian menuruni tangga. //Keep Left.//

Lati berdiri mematung di tepi peron. Ia merasa gugup. Pandangannya berpindah-pindah dari papan pengumuman elektrik yang digantung di langit-langit peron ke pekat malam, ke arah kedatangan kereta. Dua menit lagi. Lati merasai pipinya memanas. Ia merapikan kerudung putih yang menutupi kepalanya. Kereta akan tiba kapan saja. Mungkin sekarang. Dan Steen akan melihatnya berdiri di sini, menunggunya. Ah, sungguh memalukan, pikir Lati. Ia bergegas pergi, menuju Passenger Lounge and Buffet, dan lekas menutup pintu kaca di belakangnya. Kereta belum datang. Lati menghembuskan napas lega. Ia tidak ingin Steen berpikir kalau ia tidak sabar untuk bertemu dengannya. Nanti saja, pikir Lati, ketika kereta sudah datang dan penumpang sudah turun, ia akan keluar dari ruang ini. Ia ingin melihat wajah Steen mencari-cari dirinya dan bukan sebaliknya.

Apakah Steen tetap sama? Apakah rambut cokelatnya yang halus dan bergelombang itu masih gondrong, hingga menyentuh bahunya? Masihkah ia memandang dengan sorot mata yang lembut dan berbicara tenang, dengan menyuarakan huruf “r” seperti mengeram dan menyisipkan puluhan kata “ja ... ja .. ja” di setiap percakapan?

Tiga tahun, dua bulan, dan satu hari. Selama itu mereka tak jumpa. Terakhir kali, mereka berpisah di stasiun kereta Maastricht Centraal. Saat itu, ia yang berada di kereta dan Steen berdiri mematung di peron. Saat itu, kereta bergerak pergi dan bukan datang untuk berhenti. Saat itu ia meninggalkan Steen dan bukan ingin menemuinya kembali, seperti saat ini. Tapi, bukankah ia masih memiliki waktu untuk pergi? Sebelum kereta tiba dan Steen turun, lalu menemukan ia berdiri di sini?

Di luar ruang tunggu, deru kereta terdengar mendekat. Ujung lokomotif yang serupa peluru bergerak cepat menarik gerbong-gerbong merah-perak. Kereta telah tiba. Apakah sebaiknya ia bersembunyi? Ia masih memiliki waktu untuk keluar dari pintu samping ruang tunggu. Ia masih bisa pergi menuju lapangan Giant-Axe, menemui teman-temannya dan  melihat pesta kembang api, seperti yang telah ia rencanakan sebelumnya.

Lati merasakan debar jantungnya menguat, napasnya sesak. Sudah sejauh ini ia berjalan, sudah selama ini ia menjauh dari Steen. Tapi mengapa sekarang ia berada di stasiun ini, menunggu Steen? Terlebih lagi, mengapa ia kembali ke kota kecil ini? Kota tempat ia pertama kali bertemu Steen, mengenalnya dan lalu, tanpa ia duga, jatuh cinta padanya. Sedemikian banyak kota di dunia ini untuk dijadikan tempat belajar, mengapa ia memilih kembali ke Lancaster? Mengapa memilih melanjutkan studinya di kota tua yang sunyi, di kota yang tiga tahun lalu, ia menjalani kuliah masternya bersama-sama Steen?

Beberapa orang keluar dari ruang tunggu. Sebagian dari mereka menaiki kereta, sementara yang lain menemui orang-orang yang telah mereka nantikan kedatangannya. Mereka berpelukan, tertawa, dan pergi bersama-sama menuju pintu keluar. Penumpang yang ramai turun terlihat menyeret koper-koper mereka, menenteng bawaan atau melenggang keluar stasiun. Peluit berbunyi nyaring, dan Lati tetap berdiri di ruang tunggu, di dekat pintu kaca, ragu untuk membukanya.

Tiga tahun, dua bulan, dan satu hari. Siapkah ia untuk menemui Steen lagi?

Kereta menderu pergi. Hujan telah reda. Hampir semua penumpang yang turun telah meninggalkan stasiun. Hanya satu-dua orang masih tersisa di peron, menghubungi penjemput yang belum datang melalui telepon genggam mereka.

"Where art thou?”

Tapi Lati tidak melihat Steen. Lati berdiri bingung di tepi peron. Steen tidak ada. Ia tidak datang. Apakah pesan yang ia dapat dari Maaike sekadar lelucon belaka? Maaike tidak mungkin berbuat demikian. Maaike adalah sahabat baiknya, dan Maaike telah lebih dahulu bersahabat dengan Steen.

“Steen tersiksa olehmu, Lati. Betapa teganya kamu. Tidak pernah mau mengangkat Skypenya, teleponnya, tidak pernah membalas surelnya, bahkan menghapusnya dari Facebook-mu. Dia bilang, ia merindukan kamu.”

Apakah Maaike tahu, betapa tersiksanya dirinya sendiri melakukan semua itu?

Lati tersenyum pahit. Dan ternyata Steen tidak ada di sini. Steen tidak datang. Tidak seperti ia, dulu. Ia yang memutuskan untuk menyelesaikan semuanya, berhadapan muka dan berbicara jujur. Ia yang ingin memastikan akhir kisah mereka, sebelum kepulangannya ke Tanah Air. Saat itu, Steen telah lebih dulu menyelesaikan tugas akhirnya di Lancaster University dan kembali ke Maastricht. Lati memutuskan untuk menyusul Steen. Ia telah berangkat dari stasiun ini, menuju Manchester Airport, terbang ke Schipol lalu mengendara kereta ke ujung selatan Belanda, ke Maastricht, untuk menemui Steen dan bertanya padanya, “Apakah ada kemungkinan, sekecil apa pun itu, untuk kamu percaya?” Tapi nyatanya, tidak ada ruang untuk mereka bisa bersama. Tidak ada. Dan mereka menangis malam itu, sampai kering air mata dan serak suara.

Apa setelah semua pintu tertutup sedemikian rupa, sekarang Steen mau menempuh perjalanan yang telah ia lalui? Maukah Steen bertolak dari Maastricht Centraal menuju Schipol, lalu terbang ke Manchester Airport dan kemudian mengendara kereta ke ujung utara Inggris, ke Lancaster, untuk menemuinya?

Lati mengetuk-ketuk kepalanya beberapa kali. Betapa bodohnya aku, pikirnya. Tentu Steen tidak akan datang. Untuk apa? Bukankah semua sudah usai—tiga tahun, dua bulan, dan satu hari yang lalu? Tetapi, jika benar semua telah usai, lalu mengapa ia sekarang menangis? Mengapa air mata bergulir tanpa mampu ia tahan, dan mengapa hatinya lara, mencari-cari dia?

“Where art thou?”

Kalaupun ini sebuah lelucon, ini sungguh lelucon yang tidak lucu, Lati mendengus. Ia akan marah besar kepada Maaike. Betapa teganya! Lati mengusap air matanya. Ia menarik napas dalam, mengeluarkan teleponnya dan membuka surat elektronik yang malam tadi ia terima dari Maaike.

Steen akan ke Lancaster besok. Ia akan tiba pukul 18.13 di stasiun kereta. Dia bilang, dia sangat berharap kamu mau datang menemuinya.

Sungguh tidak lucu, batin Lati. Betapa tega Maaike mempermainkannya.

Di saat Lati menduga-duga seperti itu, pengumuman dari pengeras suara terdengar memecah sepi: kereta dari Manchester Airport dengan tujuan Glasgow Central tertahan di Preston karena kerusakan mesin. Petugas yang berbicara di pengeras suara memohon maaf atas ketidaknyaman yang terjadi. Lati gegas mendongak ke arah layar keberangkatan. Time: 18.14, Destination: Glasgow Central, Expected: 18.52.

Ternyata kereta yang tadi datang bukanlah kereta yang ia tunggu. Kereta yang membawa Steen akan tiba dua puluh menit lagi.

Lati kembali masuk ke ruang tunggu, menuju bufet dan memesan satu cangkir teh. Ia mengambil dua batang cokelat yang diletak di samping tempat majalah. Ketika Lati kembali duduk di ruang tunggu, dari layar kedatangan ia tahu bahwa waktu penantiannya kembali memanjang: Departures Time: 18.14, Destination: Glasgow Central, Plat: 3, Expected: 19.14. Kereta akan terlambat selama satu jam. Tidak biasanya hal seperti ini terjadi, pikir Lati. Apakah ini sebuah pertanda? Apa Tuhan memberi kesempatan padanya untuk pergi dan membatalkan pertemuannya dengan Steen?

Lati menghabiskan teh di cangkir kertas yang sedari tadi ia genggam dengan kedua tangannya. Ia menuju bufet dan membuang cangkir ke tempat sampah. Lebih baik ia pergi saat ini juga, tekadnya. Untuk apa bertemu lagi?

Kisah mereka hanyalah sebuah kesalahan.

Lati membuka pintu ruang tunggu, menutupnya perlahan-lahan dan kembali berdiri mematung di peron, di bawah papan pengumuman elektrik. Di belakangnya, pintu menuju keluar seolah menunggu. Way Out. Itukah jalan keluar yang terbaik baginya? Namun, mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah menuju pintu itu? Mengapa hatinya terus mengharap keajaiban terjadi untuk Steen dan ia?

Alih-alih meninggalkan stasiun, Lati malah melangkah ke sudut jauh peron 3, menuju Purple Zone, tempat quiet coach biasanya berhenti. Lati teringat, Steen selalu memilih duduk di quiet coach, selalu begitu di setiap perjalanan mereka. Berapa banyak sudut kota dan situs bersejarah di Inggris yang telah mereka jelajahi berdua? Berapa banyak kanal, danau dan pegunungan, gedung-gedung dan istana? Selama ini Lati tidak pernah menghitung-hitung, dan sekarang, kenangan-kenangan itu seolah datang bersamaan, membanjiri benaknya, menyesaki hatinya.

Di bangku besi merah-perak, di sudut Purple Zone itu, Lati duduk mematung. Kerumunan orang berduyun-duyun melaluinya, beberapa dari mereka membawa lampion kertas dan tongkat bersinar. Anak-anak mengenakan bando, gelang, dan kalung bercahaya warna-warni, berjalan setengah meloncat dan terlihat penuh semangat. Mereka keluar dari stasiun melalui pagar besi, menuju jalan setapak ke arah lapangan Giant-Axe. Lati mendengar sayup genderang ditabuh.

Di depannya, menara kastil mengintip dari celah gelap dedaunan Birch yang berayun-ayun diusik angin. Lati termenung, berapa banyak pertemuan dan perpisahaan yang telah disaksikan oleh menara itu? Bagi menara yang dibangun di abad pertengahan, dan stasiun yang berdiri sejak tahun 1900 ini, tentu cerita cinta seperti yang ia alami bukanlah hal yang baru. Tentu sudah ribuan orang berdiri di peron ini dan mengalami hal yang sama dengannya, sejak lebih seratus tahun yang lalu. Lati memandang ke arah menara, kemudian ke sekeliling peron. Lati tersenyum, dan entah mengapa, ia merasa pipinya menghangat.

Dari balik menara, kembang api diluncurkan, jejak asapnya membelah pekat malam, membubung tinggi dan kemudian memecah-mecah, menciptakan bunga-bunga warna-warni di langit Lancaster. Layar pengumuman elektrik yang digantung di langit-langit peron mengedip dan menampakkan tulisan: Time: 18.14, Destination: Glasgow Central, Expected: Delayed.

Melalui pengeras suara, di sela-sela ledakan kembang api, petugas stasiun kembali menyampaikan permohonan maaf. n

Lancaster, November 2013


Lampung Post, Minggu, 23 Februari 2014

Sunday, November 24, 2013

Rumah Impian

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


KARENA orang tuanya tak pernah mempunyai rumah, hanya tinggal di bedeng sewa reyot belaka, Kohar memutuskan untuk meninggalkan kampungnya dan pergi mengadu nasib ke kota. Ia bermimpi suatu hari ia akan memiliki rumah. Di kota, Kohar bekerja sebagai buruh percetakan. Dari pagi hingga petang, ia bertugas mengganti tinta dan mengepak buku, majalah dan koran yang telah dicetak. Penghasilannya lumayan. Selain untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar sewa kamar, Kohar masih bisa menabung. Sebenarnya tabungannya tidaklah banyak, tapi bagi Kohar yang berasal dari keluarga miskin, dengan memilki tabungan sejumlah itu, hidupnya sudah berkecukupan.

Lewat tiga tahun bekerja, Kohar berpikir untuk membeli rumah di kampungnya. Rumah itu bukan untuk ia tempati, melainkan untuk orang tuanya tinggal sehingga mereka tidak perlu menyewa. Sementara, Kohar merasa cukup tinggal di kamar sewanya yang sempit di kota. Dan selama tiga tahun itu, Kohar senantiasa menepati janjinya kepada orang tuanya, untuk pulang setiap hari raya. Betul. Kohar tidak pernah tidak pulang saat hari raya. Ia merasa menjadi anak durhaka jikalau melanggar janjinya itu.

Sekali waktu, setelah bersilaturahmi hari raya, Kohar berkeliling kampung, mencari-cari rumah yang kiranya bisa ia beli. Namun sayang, sejak ia meninggalkan kampungnya, harga tanah melambung, apalagi harga rumah, masih jauh di atas jangkauannya. Uang tabungannya tidak cukup. Sementara itu, adiknya butuh biaya untuk kuliah. Adiknya itu pintar. Sejak kecil selalu juara kelas dan menjadi kebanggaan keluarga. Sayang sekali kalau adiknya itu tak bisa kuliah dikarenakan tak ada biaya, apalagi ia sudah diterima di sebuah universitas terkenal di Pulau Jawa. Kohar, yang hanya lulusan SMA, akhirnya merelakan tabungannya untuk biaya adiknya masuk kuliah. Kohar pun berjanji pada orang tuanya, setiap bulan ia akan mengirim biaya kuliah, indekos, dan keperluan lain untuk adiknya. Dan Kohar selalu menepati janjinya itu. Betul. Ia selalu membayari semua keperluan adiknya, termasuk membelikan sebuah komputer bekas, yang bagi Kohar merupakan barang mewah.

Selama empat tahun adiknya kuliah, Kohar hidup pas-pasan. Tapi ia tak pernah mengeluh. Bagi Kohar membantu keluarga adalah pekerjaan termulia, membuat ia merasa hidupnya tidaklah sia-sia. Apalagi saat ia melihat adiknya itu diwisuda, mengenakan jubah wisudawan berwarna hitam dan kuning cemerlang. Betapa gagah, pikir Kohar, dengan bangga. Kebanggaan Kohar bertambah ketika adiknya diterima bekerja sebagai pegawai kelurahan di kampung mereka.

Sekarang kewajiban pada adiknya telah lepas, Kohar mulai menabung lagi. Impian untuk memiliki rumah masih terpatri di benaknya. Tapi, setelah ulang tahunnya yang ketiga puluh, Kohar merasa ia telah siap untuk menikah. Kohar ingat kata-kata ustaz di kampungnya dulu, bahwa pernikahan itu sebaiknya disegerakan. Kohar pun memutuskan untuk menikah. Karena ia tidak terlalu suka dikritisi dan dicermahi orang, Kohar tidak ingin menikahi perempuan cerewet. Dan kebetulan, di kampungnya ada perempuan cantik, bermata bulat, berbibir penuh dan bertubuh semampai, yang bisu. Perempuan itu bernama Supeni. Saat pulang hari raya, Kohar menyampaikan niatnya itu pada orang tuanya. Awalnya, orang tuanya Kohar menolak.

“Mengapa harus dengan Supeni?” tanya emaknya.

“Karena perempuan bisu tidak bisa cerewet, Mak. Tidak bisa banyak protes.”

Akhirnya, setelah menimbang-timbang baik dan buruk, emaknya Kohar mengabulkan keinginan Kohar.

Saat orang tuanya menyampaikan niat Kohar pada keluarga Supeni, niat itu disambut dengan senang. Sangat senang sehingga keluarga Supeni menyanggupi semua biaya pernikahan. Tentu ini meringankan beban Kohar. Tabungan yang sudah dia ambil tak jadi dipakai. Kohar berencana menggunakan uangnya sebagai uang pangkal pembelian rumah. Namun, selepas malam pertama, kakaknya Kohar meminta tolong, ia butuh tambahan uang untuk membeli tanah. Tanpa pikir panjang, Kohar meminjamkan uang tabungannya. Toh, ia bisa menabung lagi, pikirnya.

Kohar mengajak Supeni ke kota. Mereka tinggal di kamar sewaan yang sempit. Kamar itu tempat mereka tidur, makan, dan mencuci piring. Sementara untuk mandi dan buang hajat, mereka harus pergi ke kamar mandi umum. Supeni tidak pernah protes. Ia menerima keadaan Kohar apa adanya. Lebih lagi, ia sudah bersyukur ada orang yang mau menikahinya. Tapi, kemudian Supeni mengandung, dan layaknya seorang ibu, ia ingin membuat sarang yang pantas bagi anaknya kelak. Dengan tulisan dan gerak tangan, Supeni berusaha menyampaikan maksudnya.

“Punya rumah?” tanya Kohar.

Supeni mengangguk, menunjuk pada perutnya yang gendut.

Kohar setuju, mereka harus kredit rumah di kota. Rumah kecil saja, asal cukup untuk tempat anak mereka tumbuh. Setelah menghitung-hitung tabungan, ditambah dengan uang yang ia pinjamkan ke kakaknya, dan membatalkan rencana pulang kampung untuk berhari raya, Kohar yakin bisa membayar uang muka pembelian rumah sangat sederhana. Dengan bersemangat ia mengirim surat kepada kakaknya, meminta uangnya kembali.

Sebulan kemudian, bukan wesel yang tiba, tapi sepucuk surat dari kakaknya: uangnya sudah diserahkan pada orang tua mereka, dan menurut penjelasan emak, uang itu sudah terpakai.

Kohar, tentu tak bisa berbuat apa-apa. Jika orang tuanya butuh uang itu, sudah seharusnya ia memberi. Demikian ia menjelaskan pada Supeni, dan bahwa mereka tak jadi membeli rumah. Supeni yang bisu, hanya diam menerima, dan berusaha sebaik-baiknya menjadikan kamar sempit mereka sebagai tempat untuk anak mereka tumbuh.

Ketika anak mereka berumur empat tahun, tabungan Kohar hampir cukup untuk membayar uang muka rumah. Namun, selama empat tahun itu, mereka tidak pernah pulang ke kampung untuk berhari raya, mereka hanya menabung saja. Karena itu, hari raya kali ini mereka memutuskan untuk pulang, menggunakan sedikit uang dari tabungan. Mereka sudah sangat rindu bertemu keluarga. Nanti mereka bisa menabung lagi, pikir Kohar.

Di kampung, banyak hal yang berubah. Adiknya Kohar telah memiliki rumah, demikian juga kakaknya. Bahkan kakaknya sudah mengkredit mobil pula. Ramai-ramai mereka mencemooh Kohar.

“Apalah yang kamu dapat dari kerjamu jauh-jauh di kota, Kohar?” tanya kakaknya, menunjukkan rumahnya yang baru selesai dibangun.

“Iya,” tambah adiknya, “Lihat kami. Lihat orang-orang di kampung ini. Kami tak perlu jauh-jauh pergi. Cukup di kampung saja, uang pun datang juga.”

Mereka tertawa gelak-gelak. Dan apa yang mereka katakan itu menjadi beban pikiran bagi Kohar. Berhari-hari sejak kembali ke kota ia melamun saja. Ia sudah merantau di kota selama hampir lima belas tahun, tapi tanah sejengkal pun ia tak punya.

“Aku harus pergi ke Arab, Supeni,” katanya, “Di Arab, uang banyak.”
Supeni, sekuat ia bisa, melarang Kohar pergi. Namun, tabiat Kohar yang keras membuat Supeni tak bisa berbuat banyak selain merelakan. Kohar mendaftar ke Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), dan akhirnya mendapat kerja sebagai petugas bersih-bersih di Oman. Hampir hari kepergian Kohar ke Oman, Kohar mengantar Supeni dan anaknya pulang ke kampung. Sampai di kampung, dengan bersemangat Kohar bercerita tentang rencana kepergiannya. Ia pun berangan-angan akan bisa naik haji setiap tahun!

“Beruntungnya engkau, Kohar,” kata Bapaknya, “Setua ini, Bapak tak pernah bisa berhaji.”

Perkataan Bapaknya ini membuat hati Kohar terenyuh.

“Apa Bapak ingin naik haji?” tanyanya.

“Tentu Bapak ingin, Kohar,” jawab bapaknya, matanya menerawang pada tembok bedeng yang mengelupas sana-sini.

“Emak juga ingin, Kohar,” tambah Emaknya.

Kohar terdiam. Tabungannya untuk membeli rumah masih ia simpan. Bukankah sekarang ia tak butuh membeli rumah? Dan bukankah nanti setelah bekerja di Oman, ia akan mendapat banyak uang, dan akan mampu membeli rumah?

“Baiklah,” jawab Kohar dengan tegas. “Bapak dan Emak daftarlah haji segera. Untuk biaya janganlah khawatir.”

Betapa bahagia Bapak dan Emaknya Kohar. Apalagi keesokan harinya, Kohar menyerahkan semua uang tabungannya dan berjanji akan melunasi semua biaya haji dari hasil ia bekerja di Oman. Melihat emak dan bapaknya bahagia, Kohar merasa lega untuk meninggalkan Indonesia.

Selama Kohar merantau di Oman, sebelum orang tuanya sempat pergi berhaji, emaknya Kohar meninggal, lalu menyusul kedua mertuanya wafat pula, bapaknya Kohar pun sakit-sakitan. Upah yang Kohar dapat selama bekerja di Oman habis untuk membiayai pengobatan bapaknya.

Setelah tiga tahun bekerja, Kohar jatuh sakit pula. Awalnya ia batuk-batuk dan demam, tapi batuk itu tak pernah sembuh. Dokter bilang, Kohar sakit karena terlalu sering bekerja dengan cairan kimia. Akhirnya, sebelum ia sempat pergi berhaji, Kohar pun dipecat dan dipulangkan ke kampungnya.

Kohar menjadi beban bagi keluarga. Ia tak mampu lagi bekerja dan menumpang di bedeng sewa bapaknya, bersama Supeni dan anaknya. Seharian kerjanya hanya batuk-batuk saja, bahkan kadang batuknya bercampur darah. Mereka hidup dari hasil penjualan kue-kue basah yang Supeni buat. Satu hari, bapaknya Kohar meninggal. Kohar dan Supeni tak sanggup lagi membayar sewa bedeng dan akhirnya menumpang bergantian di rumah adik dan kakaknya Kohar. Dua bulan setelah kematian bapaknya, Kohar pergi menyusul. Sementara Supeni dan anaknya, yang seumur hidupnya menumpang berteduh pada keluarga Kohar, tak pernah mampu protes ketika diperlakukan selayaknya hamba sahaya. n

Lancaster, Maret 2013


Lampung Post, Minggu, 24 November 2013




Sunday, May 26, 2013

Porphyria: Penggemar Pertama

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


Ada perpautan misterius yang terjalin kuat antara penulis dengan penggemar pertamanya. Setidaknya demikian yang dirasakan Amit ketika ia menggenggam tangan Porphyria, di sebuah pantai yang dibungkus senja. Amit mendekatkan wajah dan Porphyria memejam mata. Amit membelai rambut, merasakan perpautan yang menguat di dirinya dengan Porphyria, penggemar pertamanya.

BUKAN mudah bagi Amit untuk menerbitkan cerita pendeknya di koran. Ia butuh dua tahun buat itu. Dua tahun yang penuh penolakan dan kekhawatiran.

Amit telah selesai kuliah strata satu dan orang tuanya menginginkan Amit mencari kerja, seperti teman-temannya yang lain. Kerja apa saja: karyawan di perusahaan swasta, PNS, di bank, apa saja. Asal bukan sebagai penulis. Menurut mereka, hidup penulis tidak sejahtera: tidak ada penghasilan tetap, asuransi kesehatan, apalagi jaminan pensiun. Lebih-lebih, mereka tak suka pula melihat Amit menjadi pemuda asosial, sehari-hari berkurung diri di kamarnya saja.

Selama dua tahun mendengar keberatan dan keluhan kedua orang tuanya, Amit merasa tertekan. Terlebih lagi, dalam dua tahun itu, seluruh teman-temannya telah bekerja, ada yang sering ditugaskan kantor ke luar negeri, ada yang sudah kredit rumah-mobil, ada yang kawin dengan anak orang kaya dan hidup nyaman. Sementara itu, Amit tidak juga bisa membuktikan bahwa ia mampu menjadi penulis. Surat-surat penolakan dari redaktur sastra adalah kematian baginya, seperti pisau tajam yang dihujamkan ke jantungnya, berkali-kali. Amit hampir putus asa, dan hampir menerima ketetapan takdir bahwa ia tidak dilahirkan sebagai penulis, ketika akhirnya keajaiban itu datang. Cerpennya dimuat di sebuah koran lokal!

Sesungguhnya, honor yang ia dapat tidaklah seberapa. Sungguh pun demikian, rasa percaya diri Amit yang sempat terpuruk ke dasar laut, mendadak melambung setinggi langit, melewati tinggi pepohonan dan pegunungan. Ia adalah seorang penulis, akhirnya. Karyanya diakui seorang redaktur sastra! Ternyata Tuhan benar menggariskan ia sebagai penggembala kata-kata, pikir Amit. Mendadak, ia merasa seperti berada di bawah cahaya lampu sorot, segenap pandang orang-orang tertuju padanya, memuji karyanya. Walaupun perasannya itu ilusi semata dan kala hari berganti, seketika itu juga koran yang memuat cerpen Amit dilupakan orang-orang, menimbuni sampah daur ulang dan dijadikan pembungkus pecel atau kacang rebus, Amit tetap menikmati keberhasilannya benar-benar, detik demi detik, dari hari ke minggu, berbulan-bulan.

Orang tua Amit terlihat bangga pula. Mereka bercerita tentang cerpen Amit itu pada keluarga dan tetangga. Dan ini membuat Amit berlega. Selama beberapa waktu, ia tak lagi mendengar keluhan orang tuanya. Ia bisa dengan tenang menumpang tinggal dan makan, seolah dengan terbitnya cerpennya di koran, ia berhak memeroleh apa saja dari orang tuanya.

Amit bertambah rajin menulis. Ia menulis setiap hari. Sewaktu ia tidak menulis, ia akan membaca karya-karya penulis besar, dari dalam dan luar negeri, sembari berpikir: mengapa ia tidak menulis frasa sedemikian baik, dia harus menggambarkan hal lebih detil – seperti cerita yang sedang ia baca, ia bisa mencoba menggunakan plot dan struktur seperti cerita ini dan itu. Singkatnya, di saat tidak sedang menulis, Amit hanya memikirkan tentang menulis.

Suatu pagi, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam milik Amit: dari seorang penggemar. Pesan itu berbunyi: 'Kak Amit, saya dapat nomor ponsel Kakak dari redaktur koran. Saya penggemar Kakak. Saya suka sekali dengan cerpen-cerpen Kakak. Salam, Ria.'

Hati Amit berbunga-bunga. Walaupun pengirim pesan itu menulis bahwa ia menyukai ‘cerpen-cerpen’nya dan bukan ‘cerpen’, Amit tidak peduli. Ia memang baru menerbitkan satu cerpen saja, tapi penulisan ‘cerpen-cerpen’ itu bukan prinsip bagi Amit. Yang terpenting adalah: ada orang, selain keluarga dan tetangganya, yang mengapresiasi karyanya! Ada orang yang mengaku sebagai penggemarnya!

Setelah bernapas dalam-dalam dan berdehem beberapa kali, Amit membalas pesan itu: 'Ria, terima kasih atas pujiannya. Saya cuma seorang manusia yang resah. Salam, Amit.'

Tidak ada balasan. Amit menunggu gelisah di dalam kamarnya. Setelah dua tahun, baru kali ini ada hal lain, selain menulis, yang memenuhi benaknya. Buku-buku kumpulan cerita pendek dan novel yang bertumpuk di meja belajar, memenuhi rak buku, dan berserak di lantai, tak lagi menarik baginya. Telepon genggam, dan hanya telepon genggamnya saja, yang ia pandangi berlama-lama, seolah dengan demikian telepon itu akan merespon, dengan bunyi masuknya pesan singkat atau, bahkan, dering. Seperti menunggu keputusan redaktur saja!

Dugaan berkelebat cepat, silih-berganti, memenuhi pikirannya: Apa balasannya tadi terlalu singkat? Apa ia salah menulis kata? Apa Ria berubah pikiran, dan tak ingin lagi menjadi penggemarnya? Apa Ria seorang yang hanya ingin menyampaikan perasaan tanpa menginginkan balasan? Ah, mungkin seharusnya ia tidak membalas pesan itu, dan membiarkan rasa bahagia lesap di hatinya. Selama ia tidak menerima balasan pesan dari Ria, selama itu juga Amit menyesali diri.

Tiga hari berlalu, dan akhirnya, ketika Amit masih tertidur, balasan singkat dari Ria masuk: ‘Kak Amit sedang apa?’. Meski singkat, pesan ini membuka hubungan baru bagi Amit dan Ria. Sejak itu mereka kerap berkorespondensi dan bertukar informasi mengenai apa saja: sedang apa, makan apa, baca apa. Kadang Amit mengirim baris puisi romantis, yang kemudian dibalas Ria dengan puisi yang juga romantis.

Bukan di atas kertas atau layar komputer, melainkan di telepon genggam, sekarang Amit banyak menuliskan cerita dan mengungkapkan rasa. Kapan saja dan di mana saja: tatkala matahari baru saja terbit, selama matahari bersinar cemerlang, ketika matahari terbenam dan waktu bulan naik ke langit; di kamar, di meja makan, di toilet, di pesta, di rumah duka. Kedua orang tua Amit bertambah cemas. Apabila kemarin mereka khawatir bercampur bangga, karena sesungguhnya mereka sadar anak mereka berjuang demi meraih mimpinya, tapi kini yang ada kekhawatiran semata.

Sampai Ria mengirimkan pesan, ‘Ria rindu baca cerpen Kak Amit di koran’, barulah secepat kilat Amit berjibaku menulis cerpen lagi. Berbeda dengan cerita yang pertama,  yang dihuni tokoh-tokoh kriminal dan terkesan muram, cerpennya kali ini dihuni tokoh-tokoh yang sedang jatuh cinta dan bernuansa romantis. Tak lama, cerpen itu dimuat koran lokal yang lain!

Ria menjelma semangat Amit menulis, sumber inspirasi dan gelora hati. Amit menerima beberapa pesan singkat dari pengemar lain. Kendatipun begitu, semua tak seindah ketika ia mendapat pesan dari Ria dulu. Penggemar pertama, bagi Amit, seperti keajaiban, serupa sebuah titik terang di tengah lautan kelam kala ia tersesat.

Ria mengajaknya bertemu. Ini pertama kali dalam hidupnya Amit mengkhawatirkan penampilan. Ia mengamati wajah pucatnya, jerawat di pipi, kurus tubuh. Ia takut jikalau secara jasmani ia akan mengecewakan Ria. Di hari pertemuan, Amit mencuci sedan hitam milik ibunya lalu rambut gondrongnya bersih-bersih. Ia mengenakan kemeja dan jins merek terkenal lalu menyemprotkan parfum termahal yang dimiliki ayahnya.

Mereka bertemu di sebuah kafe milik hotel bintang lima, yang terletak di tepi laut. Ria gadis yang cantik: berkulit cerah, berhidung mancung, bibir merah muda tipis, yang selalu terlihat basah. Dan yang paling mengesankan bagi Amit adalah rambutnya. Rambut Ria hitam-berkilau dan panjang sekali, melewati pinggul, hampir menyentuh paha. Ria kuliah bahasa Indonesia semester tiga.

Setelah berkenalan dan menghabiskan minum, mereka berjalan bersisian menyusuri pantai. Dibungkus teduh awal senja, mereka berbincang tentang sastra dan cinta, memandang matahari yang memerah-keemasan. Ria memuji-puji keindahan laut, matahari, nyamannya angin, lembutnya pasir, bentuk umang-umang dan kerang. Perasaan Amit terusik. Ternyata Ria mudah sekali terkesan dan merasa senang. Bukan melulu pada cerpen yang ia tulis, tapi juga kagum pada hal-hal, yang menurut Amit, remeh-temeh belaka.

Saat mereka kembali ke kafe untuk memesan makanan, terdengar bunyi pesan singkat masuk dari dalam tas tangan kulit ungu milik Ria. Ria membuka tasnya, mengambil telepon genggam dan membaca pesan. Perlahan senyum Ria melebar, pipinya bersemu merah muda.

“Robert membalas SMS-ku,” katanya dengan kegembiraan kanak-kanak. Ria menyodorkan telepon genggamnya pada Amit. Pesan itu berbunyi: ‘Ria yang baik, terima kasih telah menyukai novel saya. Salam, RB’.

Amit terhenyak, tapi ia berusaha tak menampakkan kekagetannya. Ia tersenyum, membuka pesan-pesan yang lain. Dan tahulah ia, bahwa Ria bukan hanya mengagumi karyanya belaka, tetapi juga banyak karya penulis lain. Perlahan Amit mengembalikan telepon genggam itu pada Ria, senyum tak lepas dari wajahnya.

“Baik sekali ya. Dia seorang penulis terkenal, tapi masih mau membalas SMS pengemar,” ujar Ria, riang.

Amit meminta Ria pulang bersama. Tapi sebelum mengantarnya ke rumah, dengan alasan ingin melihat mentari terbenam, Amit mengajak Ria kembali ke pantai, kali ini dengan mengendarai mobilnya. Ria tidak keberatan.

Di satu sudut pantai, di balik rimbun bunga ilalang dan leret pokok-pokok kelapa, Amit memarkir mobil. Tak lama, ia menggenggam tangan Ria, mendekatkan wajahnya pada wajah Ria. Ria bergeming, memejam mata, bibirnya perlahan terbuka. Amit membelai rambut Ria, membawa rambut itu melingkari leher Ria yang jenjang, membelit leher sebanyak tiga putaran. Setelah itu, Amit menarik ujung rambut Ria sekuat ia bisa. Ria tak sempat membuka mata, hanya dengkur halus yang terdengar dari mulutnya sebelum ia terkulai.

Amit memainkan tangan Ria, mengangkat-melepas, membuka-tutup mulut dan kelopak mata, seolah Ria cuma boneka tali belaka. Sesudah itu Amit tersenyum, menyandarkan kepala Ria di dadanya, mengelus wajah seraya menggumam lirih, “Ria, Ria, Ria. Penggemar pertamaku. Porphyria yang cantik.”

Lancaster, 14 Maret 2013.

Cerpen ini terinspirasi dari dua puisi Robert Browning: My Last Duchess dan Porphyria’s Lover.


Lampung Post, Minggu, 26 Mei 2013

Sunday, February 3, 2013

Waktu Matahari Sepenggalahan Naik

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


Malam itu Abi membaca Ad-Dhuha, berulang-ulang, seolah berharap aku akan mengingat dan menghafal kata per kata. Ia membaca surah perlahan dengan suara lembut, membuatku merasa damai dan lama-kelamaan, aku pun tertidur di pangkuannya.
--------------------
Lampung, 7 Februari 1989

SUARA rentetan tembakan memecah keheningan fajar. Umi dan aku terbangun dalam keadaan ketakutan. Aku mendengar orang-orang berlarian di luar, mereka berteriak dan menangis. Dari bawah rumah kami, aku mendengar ayam ribut berkotek.

Umi melompat dari tempat tidur, gegas berpakaian dan mengenakan kerudung. Kemudian ia memelukku erat, mengusap-usap punggung, menciumi dahi dan menyeka air mataku.

"Jangan menangis," bisik Umi. "Jangan takut."

Dari jendela kayu, kami melihat rumah-rumah panggung terbakar. Langit berwarna merah. Di antara orang-orang yang berlari dan berteriak, aku melihat teman-temanku. Mereka menangis keras. Abu hitam terbang di sekitar kepala mereka.

"Tentara ...," gumam Umi, pandangannya nanar.

"Siapa mereka, Umi?" tanyaku.

Umi tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke beberapa pemuda berseragam hijau. Mereka mengenakan sepatu bot hitam dan membawa senjata. Mereka berteriak, mendorong dan menendang beberapa tetangga kami.

?Abi belum pulang dari masjid ...? gumam Umi lagi, seperti mengigau.

Saat itu, kami melihat Abi berlari, memasuki halaman rumah. Umi gegas membawaku dari kamar ke pintu depan, menyambut Abi. Abi terengah-engah dan berkeringat, pucat dan menggigil ketakutan. Wajahnya kotor oleh abu.

Ia memeluk kami dan berkata dengan suara gemetar, "Lari ke masjid, berlindung di sana. Kalian akan baik-baik saja. "

"Ke mana kau akan pergi?" tanya Umi, mulai menangis.

"Saya harus membantu tetangga kita. Mereka memerangi tentara."

"Jangan tinggalkan kami," pinta Umi.

"Kau tahu saya harus pergi," kata Abi, "Maafkan."

Aku melihat riak telaga di mata Abi, memberati pelupuk, air jernih yang tak terbendung. Ia memeluk kami erat. Hangat air matanya terasa di pundakku.

Sebelum pergi, ia berkata, "Jaga diri. Saya segera kembali."

Abi melambaikan tangan, menuju fajar merah. Ia tak pernah kembali, tidak pernah bisa kembali. Kami melihat Abi berlari ke arah pasar kampung, tepat di saat kami mendengar gemuruh dari atas. Ada dua helikopter berwarna hijau gelap dengan tentara yang menumpang. Mereka menembaki kampung, membabi-buta. Kami mendengar Abi menjerit, sosoknya yang tinggi dan kurus rebah ke tanah. Aku melihat darah di punggungnya, mengubah putih kemeja menjadi merah. Aku menangis. Usiaku masih tujuh tahun dan apa yang terjadi saat itu tampak tak nyata. Aku tidak pernah melihat orang saling membunuh. Jantungku berdebar keras.

Umi menjerit, "Ya Allah! Ya Allah!"

Mendengar lengking suara Umi, seorang prajurit menoleh. Dia berlari ke arah kami, dekat dan semakin mendekat. Matanya merah, dan ia tersenyum jahat. Umi meraih tanganku cepat. Tangannya yang lain memegang perut besarnya, seolah menggendong bayi di dalamnya. Kami berlari ke pintu belakang, terus ke halaman belakang.

***

Ada ilalang melambai tertiup angin, di halaman belakang. Tak jauh dari tangga kayu, tumbuh baris pokok pisang, pohon kelapa, semak nanas berduri, dan kaleng-kaleng berisi tanaman lidah buaya. Umi sering memintaku duduk di tangga, memunggunginya. Ia telah menyiapkan sepanci penuh irisan tanaman lidah buaya, yang kemudian ia gosokkan di kulit kepalaku.

"Rambutmu akan menjadi kuat, tebal, panjang, dan mengilap hitam," Umi berkata.

Ada ruang teduh di bawah rumah panggung, cukup tinggi sehingga orang dewasa bisa berdiri tegak tanpa kesulitan. Tanah di bawah rumah itu mengeras oleh pijakan langkah kaki. Di sudut ruang, ada kandang ayam. Abi membangun kandang itu dari papan dan kawat guna menjaga ayam di malam hari agar aman dari serangan musang. Di siang hari, ayam-ayam bebas berlari dan mematuk di sekitar rumah.

Kami memelihara sepuluh ayam. Setiap hari mereka memberi kami sembilan telur. Pagi hari, sebelum sekolah, aku kerap membantu Umi mengumpulkan telur. Umi menjual enam telur di warung kecil milik tetangga, sedang sisanya kami konsumsi sendiri. Karena ayam kami adalah ayam kampung, Umi mendapat harga yang lebih baik dibanding dengan telur ayam buras.

Aku punya ayam sendiri. Ayam yang besar, berbulu warna-warni: oranye, cokelat, dan kekuningan, sayapnya hijau gelap mengilap dan ekornya hitam, jenggernya merah cerah. Aku memanggilnya Jago.

***

"Terus berlari," Umi menarik tanganku.

Kakiku terasa berat dan sakit. Tapi, aku tahu aku harus berlari. Dari halaman belakang, kami berbelok ke kanan, menuju ke tepi desa, di mana masjid berdiri. Kami tersandung mayat-mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan. Setiap kali tersungkur, Umi membantuku bangun. Darah di mana-mana, merendam tanah, membasahi tanganku, pakaian. Darah kental merah dan gelap pada wajah mayat, wajah keriput yang akrab bagiku: kakek pembuat gula merah. Api berkobar, menghanguskan rumah-rumah. Deru helikopter dan letus senapan memekakan telinga. Sebuah horor tak terlukiskan, bahkan dengan kata. Aku terus menangis.

Setiba di masjid, ramai orang berkumpul: orang tua, wanita hamil, anak-anak?termasuk beberapa temanku, dan bayi. Mereka tampak ketakutan. Masjid dipenuhi doa dan isak-tangis. Kami semua memohon Tuhan akan perlindungan-Nya. Kami pikir kami berhasil melarikan diri dari tentara. Bagaimanapun, kami berlindung di masjid, sebrutal apa pun tentara tentu mereka tidak akan berani menghancurkan rumah Tuhan. Tapi, dari jendela masjid, kami melihat beberapa tentara datang mendekat. Umi mendorongku pergi, memintaku meninggalkan masjid.

"Lari ke hutan," katanya, "Lari secepat kau bisa. Lari!"

***

Ada sebuah masjid dicat hijau dengan kubah perak berkilauan, di tepi kampung. Lima kali sehari, panggilan salat bergema dari pengeras suara masjid. Selain untuk salat, masjid itu tempat aku dan teman-teman belajar mengaji, lalu bermain sesudahnya: petak-umpet dan orang-orangan kertas, gobak sodor di pekarangannya.

Ada hutan di bukit dekat kampung, tempat pohon-pohon kelapa, pohon kakao, dan tanaman kopi robusta tumbuh. Aku senang pergi ke hutan. Setiap musim kakao tiba, aku memungut buah kakao yang jatuh, terserak di antara tumpukan daun dan rerumput. Buah kakao bergaris hijau, dan ketika matang berubah warna menjadi marun gelap. Aku harus membuka kulit tebal sebelum menemukan buah putih dan manis di dalamnya.

Ada sungai kecil, yang dipenuhi batu besar bulat abu-abu, di mana ternak, kambing dan sapi, sering minum, membelah hutan. Di satu sisi sungai, terdapat hutan bambu kecil dan mata air. Kami menyebutnya belik.

Ada sebuah gubuk-geribik yang terbuat dari daun kelapa, di belik. Seorang lelaki tua tinggal di sana. Teman-teman dan aku tak pernah tahu namanya, tapi kami memanggilnya ?kakek pembuat gula merah?. Ia memiliki wajan besar, di mana ia, secara ajaib, mengubah nira, yang ia dikumpulkan dari pohon kelapa dalam tabung bambu, menjadi gula merah, dengan merebus dan mengaduk terus-menerus. Ia kemudian menuang rebusan nira ke dalam belahan batok-batok kelapa, dan membiarkan nira kental itu mengeras. Ia selalu membolehkan kami mencelupkan jari-jari ke dalam wajan untuk kemudian kami jilati.

*** ?Lari!? Umi berteriak, mendorongku, sebelah tangannya memeluk perut. Ia mengernyit kesakitan. Ia tahu ia tidak akan mampu lari dari tentara.

Aku berlari secepat aku bisa ke belakang masjid, melintasi ladang singkong dan jagung, dan terus berlari ke perkebunan tebu terdekat. Aku bisa merasakan basah embun pagi dari dedaun tebu, permukaannya yang kasar membuat tangan dan kakiku terluka. Tapi aku tidak peduli. Aku harus terus berlari.

Pada akhir perkebunan, aku terengah-engah mendaki bukit. Aku mendengar ledakan keras, berhenti dan berbalik, melihat ke arah kampung, berpikir untuk kembali. Tapi, dari puncak bukit, aku melihat masjid dibakar, asap hitam membubung ke langit, api merah keemasan menjilat-jilat pagi, suara berderak dan berdentum, berulang-ulang.

***

Petang kemarin, aku sedang bermain orang-orangan kertas dengan teman-teman, ketika Umi memanggil dari beranda rumah. Mendengar panggilannya, aku gegas berhenti bermain, berlari pulang, dan memanjat tangga kayu.

"Saatnya mandi. Ini hampir magrib. Sudah waktunya pergi ke masjid."

Aku mengangguk patuh. Umi sedang hamil delapan bulan. Abi memintaku untuk tidak membuatnya marah, bahkan sekadar membuat alisnya bertaut, karena itu tidak baik bagi Umi dan bayinya. Aku pergi ke kamarku, melepas pakaian, membungkus diri dengan kain panjang, dan mengambil handuk.

Aku pergi ke halaman belakang, melintasi sekelompok tanaman pisang, nanas dan kaleng-kaleng berisi lidah buaya, menuju kamar mandi. Dalam hitungan ketiga, aku mengguyur air ke kepala, cepat-cepat. Angin bertiup samar-samar dan air terasa sejuk dan segar. Sementara mencuci rambut dan tubuh, aku bernyanyi ceria, ditingkahi gemeresik daun kelapa.

Aku kembali ke kamarku dan memakai pakaian bersih, kemudian mukena putih, siap untuk pergi ke masjid bersama Umi. Setiap kami meninggalkan rumah, kami tidak perlu repot mengunci pintu. Di desa kami, tidak ada pencuri. Desa kami adalah desa yang aman dan damai.

***

Gumpalan asap dari masjid bergulung-gulung, pekat. Aku bisa mencium bau kayu terbakar, daging terbakar. Daging manusia. Umi dan bayi di dalam kandungan Umi. Tetangga dan teman-teman. "Umi!" aku ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Rasanya seperti ada batu besar menyesaki tenggorokan. Aku menangis dalam diam. Burung-burung berserakkan di langit, menjauhi api, menuju cahaya matahari terbit. Langit di sisi lain bukit biru cerah dengan cercah cahaya keemasan. Angin bertiup lembut, bermain gelombang pada gemeresik ilalang. Aku melihat embun pagi di ujung reranting pohon jati, mencerminkan sekitar dalam warna pelangi.

Aku menyeka pipi yang kuyup oleh air mata, menyadari bahwa aku telah menjadi yatim, di pagi yang damai, di waktu matahari sepenggalahan naik.

----------------------
Abi mengelus rambutku, tak henti membaca Surah Ad-Dhuha dari sebuah Alquran tebal, yang ia letakkan pada penyangga buku kayu berukir tanaman jalar. Suara Abi, yang mengalun perlahan dan lembut, adalah nyanyian pengantar tidur terindah yang pernah aku dengar.

Lancaster, 22 Januari 2013


Lampung Post, Minggu, 3 Februari 2013 

Sunday, October 14, 2012

Sudut Wyresdale Road

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


ANGIN malam berkesiur tak henti. Ia memaksa pokok-pokok maple tanpa daun, di sudut Wyresdale Road, untuk bertepuk-tepuk tangan. Jari-jari maple berderak-derak.

Pagar-pagar kayu berdebam rubuh, lantaran tak sanggup menahan derasnya dorongan angin. 82 mil per jam, sungguh angin yang tak sabar.

Hujan pun tak sudah-sudah membasahi jendela sejak pagi. Menguyupkan lampu jalanan, yang senantiasa menunduk, bagai sedang berdoa agar hujan segera reda. Begitupun dengan sampah dalam bin daur-ulang, yang penutupnya telah tersingkap oleh angin, menyisakan timbunan koran, kardus-kardus basah dan kaleng-kaleng tergenang air.

Lalu, seluruh lampu serentak padam!

Bia dan Akan, penghuni rumah di sudut Wyresdale Road, mendadak diam dan berhenti saling memaki. Dari rumah-rumah tetangga dan rumah mereka sendiri, alarm berbunyi, bersahut-sahutan memekik, bersaing-saing dengan lolongan angin.

Di kota itu, selama puluhan tahun tak pernah sedetik pun listrik padam. Maka, padam lampu menjadi sesuatu yang sangat tidak diduga, juga tak diharapkan. Apalagi saat itu, Bia dan Akan sedang berkelahi. Dan, kalimat cerai sebanyak tiga kali menjadi ungkapan terakhir dari mulut Akan.

Dalam gelap, Bia dan Akan terdiam.

***

SEBAGAIMANA listrik yang jarang mati, Bia dan Akan juga tidak sering berkelahi. Akan, lelaki tampan berpendidikan strata dua dengan pekerjaan yang mapan. Bia, cantik alami, telah lulus S-3 dengan derajat terpuji. Semua orang yang mengenal mereka berpendapat sama: Bia dan Akan pasangan serasi.

Namun, orang-orang itu juga tahu, hubungan Akan dan Bia menyimpan potensi untuk meledak sewaktu-waktu!

Akan, yang sudah lama tinggal di kota Z, selalu menjadi ?tokoh? di mata orang-orang Indonesia lainnya, yang kebanyakan datang ke kota kecil dekat perbatasan Inggris-Scotland itu, sekadar untuk berkuliah. Sementara para pelajar selalu datang dan pulang, Akanlah yang menjadi tempat bertanya. Tak jarang pula Akan diminta bantuan oleh mereka yang hendak atau baru saja datang. Akan, yang senang menolong, tak pernah menolak apa pun yang diminta darinya. Sebagai gantinya, Akan menikmati posisi seorang ?tetua?: dihormati dan didengar oleh hampir semua orang Indonesia yang tinggal di kota Z. Hampir semua karena ada satu orang yang tak segan-segan menyanggah pendapat Akan.

Dan, orang itu adalah Bia!

Dalam setiap ajang diskusi, Bia berperangai bukan seperti istri. Sesuai kebiasaan, yang disebut istri, umumnya mendukung pendapat suami. Atau bahkan, biasanya, istri kerap menjadi corong penyampaian pendapat para suaminya. Istri, sehingganya, sesuai kebiasaan pula, sering tidak punya pendapat sendiri. Dan, Bia tidak bersikap seperti istri.

Bia selalu punya pendapat sendiri. Sesungguhnya ini bukan hal yang luar biasa. Bia yang seorang doktor tentu punya pandangan dan pikiran sendiri. Namun, lagi-lagi karena kebiasaan suami-istri, tiap kali Bia berbeda pendapat dengan Akan, dan ia mengutarakan pendapatnya dengan tegas, orang-orang menjadi sungkan mendengarnya. Mereka jadi berpura-pura tidak serius mendengar. Meskipun sesungguhnya mereka tahu pendapat Bia lah yang benar. Mereka juga kerap membicarakan bahwa sesungguhnya Bia lebih cerdas dari Akan.

Akan bukan tidak menyadari kerikuhan dan omongan orang-orang di belakangnya. Bahkan sesungguhnya Akan kerap merasa dipermalukan. Akan ingin meminta atau jika bisa, memerintah Bia untuk berhenti tidak sependapat dengannya. Tapi Akan sadar, itu akan terdengar sangat konyol. Selain akan merendahkan kecerdasan Bia, ia juga akan mengkhianati kecerdasannya sendiri.

Selama ini Akan memutuskan untuk diam. Diterimanya sanggahan Bia di tiap forum diskusi. Tapi, Akan tidak bisa lagi hanya diam dan pasrah. Tidak semenjak perempuan itu datang!

***

PEREMPUAN itu masih muda. Ia datang ke kota Z untuk kuliah S-1. Perempuan cantik yang selalu menatap Akan dengan mata penuh binar kagum. Saat perkenalan mahasiswa baru, perempuan itu tak sungkan bertanya, ?Kak Akan ini anaknya Bapak X, pejabat di Jakarta kan? Wah, Kak Akan hebat ya. Keluarga sukses dan Kak Akan juga sukses. Saya Miranda.?

Wajah Akan memerah.

Semua yang mendengar ikut salah tingkah. Tentu mereka tahu siapa ayah Akan. Tapi, sampai saat itu tak ada yang dengan polos bertanya langsung pada Akan. Orang-orang tahu, jika bertanya, itu berarti mereka mengakui bahwa mereka tahu siapa ayah Akan, dan itu hanya akan membuat hubungan menjadi kaku.

Bagaimana tidak? Jika mereka berbaik-baik pada Akan, mereka khawatir dipandang mencari muka. Lagi pula, di luar negeri, semua orang sama derajatnya, sama-sama perantau yang kerap rindu saudara satu negara, tak peduli berasal dari keluarga kaya atau keluarga biasa-biasa saja.

Tapi Miranda tak segan menunjukkan kekagumannya pada Akan. Bahkan di setiap diskusi PPI, ia selalu membenarkan apa saja pendapat Akan. Walaupun pendapat itu disangkal oleh Bia. Walaupun semua orang tahu bahwa pendapat Bialah yang benar. Meskipun Bia adalah istri Akan, Miranda tak ragu menyanggah Bia demi membela Akan.

Bia, lama-kelamaan, menjadi kesal!

***

MALAM itu, ketika angin bertiup kencang dan lampu menjadi padam, Akan dan Bia baru kembali dari sebuah forum diskusi PPI. Akan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, tanpa sedikit pun melihat wajah Bia. Bia pun begitu. Tanpa melepas jas hangat dan menggantungkannya pada gantungan jas di lorong rumah, seperti yang biasa ia lakukan, Bia naik ke kamar.

Tapi Akan, akhirnya tak mampu terus diam. Ia turut ke kamar dan mulai merancau.

?Bikin malu saja. Malah berkelahi di forum diskusi. Tak bisakah sedikit dewasa?? sungut Akan.

Bia, yang hendak mengganti bajunya dengan piyama, menjadi marah,

?Malu? Perempuanmu itu yang tak tahu malu!?

?Dia hanya anak kecil, masih belajar. Kau yang sudah doktor mau juga layani dia.?

?Aku paling kesal melihat orang yang suka mencari pembenaran. Suruh selesai saja dulu sarjana perempuanmu itu, baru diskusi denganku.?

?Berhenti bilang dia perempuanku!?

Bia mencibir dan menirukan gaya bicara Miranda, ?Kak Akan hebat ya. Kak Akan selalu benar. Kak Akan ... Kak Akan. Dasar perempuan bodoh!?

?Jangan kaubilang dia bodoh! Setidaknya dia selalu membelaku. Bukan mempermalukan aku di depan teman-teman.?

?Ha! Sudah berani pula kau bela dia di depanku. Aku selalu bikin kau malu, Akan?! Yang benar saja!?

?Ya, kau dan segala perangai sok pintarmu. Kau dengan segala gelar doktormu! Aku pikir pendapat Akan masih bisa diperbaiki. Aku pikir pendapat Akan tidak benar. Aku pikir ... aku pikir. Apa kau pikir hanya kau yang berpikir di dunia ini??

?Lalu, kau mau apa, Akan? Sementara semua orang hanya mengangguk-angguk, apa aku juga harus diam dan membiarkan pendapat bodohmu??

Saat itulah, Akan berteriak, ?Sungguh muak aku padamu. Kuceraikan engkau, Bia. Kuceraikan engkau, Bia. Kuceraikan engkau, Bia!?

Kamar mereka menjadi gelap gulita.

***

LIMA belas menit berlalu sejak lampu padam. Satu per satu lengking alarm telah dimatikan. Hanya tinggal satu alarm yang masih berbunyi. Alarm dari rumah Akan dan Bia.

Di antara riuh hujan dan kesiur angin, Akan dan Bia mendengar ketukan di pintu depan. ?Pergilah turun,? Bia berkata, ?Mungkin itu tetangga yang hendak meminta kita mematikan alarm.?

Akan mendehem, ?Di mana senter??

?Kita tidak pernah punya senter.?

Pelan-pelan Bia meraba arah menuju jendela, dibukanya tirai. Dengan bantuan sinar bulan, Bia menemukan tasnya di atas meja. Ia mengeluarkan telepon genggam dan menyerahkannya pada Akan, ?Pakai cahaya dari handphone ini.?

Ketukan pintu telah lenyap. Sebelum ketukan yang lain terdengar Akan tahu ia sebaiknya turun dan mematikan alarm. Namun, ia hanya mematung diam. Bia paham, Akan takut gelap.

?Berapa kode alarmnya? Biar aku yang turun dan matikan,? kata Bia.

Akan menggeleng, ?Biar aku saja.?

Akan tak juga beringsut.

Bia menghela napas, ?Turunlah. Aku temani.?

Perlahan-lahan Akan menuruni tangga kayu berkarpet merah, memasuki lorong rumah dan membuka pintu ruang tamu. Di pojok dinding dekat meja telepon dan pemanas, kotak pengatur alarm diletakkan. Saat Akan mengetikkan kode alarm, Bia membuka tirai jendela. Lalu, Bia duduk di sofa, mengamati pendar bulan yang mengubah warna biru sofa menjadi ungu. Bia mendengarkan gemuruh angin melewati cerobong asap. Suara angin dan derak reranting maple menyatu dengan suara titik hujan pada kaca jendela.

Bia teringat perkataan terakhir Akan sebelum lampu padam. Dan Bia menjadi sedih.

Bia menutupi mukanya, tersedu. Akan terkejut, Bia bukan perempuan yang suka menangis. Bahkan, Akan ingat, ini baru kali ketiga ia melihat Bia menangis. Pertama saat mereka menikah, kedua ketika Bia dikukuhkan menjadi doktor, dan saat ini. Hatinya menjadi hangat dan kemarahannya luluh. Perlahan Akan duduk di samping Bia. Perlahan pula Akan meraih pundak Bia, memeluknya.

Cukup lama mereka berpelukan, dalam biru pendar bulan, ditemani siulan angin dari perapian. Tiba-tiba, seolah tersadar, Bia melepaskan pelukan Akan.

?Bukankah kau sudah menceraikan aku?? tanya Bia, suaranya tercekat.

Akan terpana.

?Kau sudah mengucapkan kata cerai sebanyak tiga kali!? teriak Bia, sambil melompat berdiri dari sofa.

?Tak mungkin,? jawab Akan, cemas.

?Tidak sah kalimat cerai itu kalau bercampur emosi. Untuk bercerai tentu butuh saksi, dan keputusan pengadilan,? jelas Akan.

?Berdasarkan ayat, sunnah, atau hukum apa itu?? tanya Bia, tak percaya.

Akan diam. Bia berkacak pinggang, ?Sampai kau tahu hukum perceraian itu, jangan kau sentuh aku!?

Bia tergesa naik ke lantai atas, membawa telepon genggamnya dan mendebamkan kakinya kuat-kuat di setiap anak tangga.

Akan tertinggal di sofa.

Angin berpusar, mengelilingi dan menyentuh lembut tubuh Akan, membuat ia menggigil. Lalu, melalui cerobong asap berbentuk benteng catur, angin berhembus ke luar rumah. Melewati sampah-sampah basah, dan terus berkesiur ke arah pokok-pokok maple yang berjajar di sudut Wyresdale Road. Angin itu bercerita pada maple, tentang seorang manusia yang duduk gelisah di sebuah ruang, diliputi ketakutan akan gelap dan terus memaki dirinya sendiri. Maple pun menderak-derakkan reranting tuanya, bertepuk-tepuk tangan.

Lancaster, Maret 2011

1) 82 mil per jam = 132 km per jam.

2) PPI = Persatuan Pelajar Indonesia


Lampung Post, Minggu, 14 Oktober 2012

Sunday, March 18, 2012

Kambing

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


PASIEN itu berdiri mematung. Keraguan terlihat enggan meninggalkannya. Ia telah mengidap kanker selama dua tahun. Dan kambing itu satu-satunya harapan. Kambing itu berbulu cokelat, tidak gemuk dan tidak tua. Bahkan menurut Sarip, nama pasien itu, kambing itu terlalu muda.

Ia melihat Sarip kembali memandangi mata kambing itu. Mata yang selembut susu, biru abu-abu. Sedetik kemudian ia melihat keraguan di mata pasiennya itu bertambah.

Ia menarik tali ikat kambing, kambing mengembik dan dengan patuh mengikutinya ke pinggir kebun. Di pojok kebun terdapat kandang sapi. Di salah satu tiang bambu kandang itulah ia mengikatkan tali kambing.

Sarip mengikuti dari belakang.

"Bagaimana, apa kau siap?" tanyanya.

Sarip terdiam, menunduk dan memerhatikan kuku-kuku jari tangannya yang menghitam. Sementara ia sendiri memerhatikan pasiennya itu. Sarip masih berusia kepala tiga, tapi ia tampak seperti berumur lima puluhan. Tubuh yang kurus, wajah sayu dan kepala yang botak. Hanya matanya yang masih terlihat menyimpan semangat.

Sarip kembali menatap padanya dan ia masih membaca keraguan di mata Sarip.

Lalu Sarip kembali menunduk. Kali ini memerhatikan kuku-kuku kakinya yang menghitam, juga sandal jepit tua yang ia pakai. Sarip menghela napas dalam.

Sarip telah menyerah, pikirnya. Sarip sudah menjalani tiga paket kemo. Ia sudah kehabisan uang.

Dari Sarip ia tahu bahwa setiap kali Sarip berhasil menyelesaikan satu paket kemo, dokternya mengatakan dan memastikan bahwa ia telah bebas dari kanker. Dan setiap kali mendengar kabar demikian, Sarip dan istrinya, Ami, merasa sangat bahagia. Namun, di pemeriksaan lanjutan, dokter memberitahu, sel kanker telah kembali tumbuh.

Sarip berkata setiap tetes cairan kemo mengaliri nadinya, ia merasa seperti berputar-putar di roller-coaster raksasa. Tak tahu kapan roller-coaster itu akan berhenti. Naik-turun-putaran terjal, hari-hari penuh muntah.

Dan sekarang Sarip dihadapkan dengan kemo keempatnya.

Sarip pun sudah habis-habisan menjual semua yang ia punyai. Rumah, mobil, tanah, bahkan perhiasan emas milik istrinya, Ami. Sarip tak tahu dengan cara apa ia akan membayar perawatan kemo selanjutnya.

"Bagaimana?" tanyanya lagi, menghembuskan asap kretek dari bibirnya. Bau kemenyan memenuhi udara sekitar.

Ia melihat Sarip kembali melirik kambing di pojok kebun. Kambing itu sedang memamah rumput hijau dan dedaunan. Kemudian Sarip mengangkat bahu.

“Tak lama, hanya satu jam saja. Setelah itu kamu akan sembuh selamanya,” ia berusaha meyakinkan.

Keraguan di mata Sarip makin terlihat nyata. "Bolehkah aku berpikir dulu?" Sarip bertanya.

Ia meludah ampas keretek ke tanah merah. Kemudian ia mengangguk. "Tapi jangan lama," katanya, "Kita tak pernah tahu kapan waktunya akan datang."

Sarip terlihat menelan ludah. Sekejap kemudian Sarip mengangguk. "Tak lama, sore nanti aku kembali."

Ia pun mengangguk.

Sebelum pulang Sarip kembali menjenguk kambing yang diikat. Menatap lama pada mata kambing itu. Ia pandangi Sarip yang melangkah lunglai sampai hilang ditelan jalan.

Mereka akan menyerah ...

Mereka akan datang tak lama lagi ...

Mereka akan kembali menggurat sejarah yang sama ...

*

SETIBA di rumah, ia menemui istrinya, Ami, sedang sibuk memisahkan daun benalu dari daun teh. Ami duduk di lantai keramik putih, menghadap pada dua tampah bambu yang sangat lebar. Satu tampah diperuntukan bagi daun benalu saja.

Sudah dua tahun ia meminum air rebusan daun benalu. Rasanya luar biasa pahit. Namun, benalu yang tumbuh ditubuhnya tak juga musnah.

Ia sering bermimpi buruk. Di dalam mimpinya akar-akar kanker melibat organ-organ dalam tubuhnya dan memusnahkan semua sel yang mereka lalui. Akar-akar itu menjalar-jalar, berawal dari paru-paru lalu ke darah dan tulang. Di dalam mimpinya, ia dapat melihat akar-akar itu berwajah. Bermata dan bermulut. Ia dapat mendengar mereka tertawa.

Mendengar langkah kakinya, Ami menoleh. "Bagaimana pertemuanmu dengan si Mbah?"

Ia ikut duduk di lantai, menghadap tampah bambu dan mulai memetiki satu per satu daun benalu.

"Bagaimana tadi, Sarip?" Ami bertanya lagi. "Kenapa kelihatan tidak semangat begitu?"

Ia mencoba menggaruk kepalanya yang botak. Kulit kepalanya kering dan rambut yang dulu lebat sekarang telah habis, rontok. “Ya begitu,” jawabnya.

"Ya begitu apa?"

"Aku sudah melihat kambingnya."

"Lalu?"

Ia memandang istrinya. Rambut yang indah. Wajah yang cantik. Matanya yang bulat lebar memandangnya lembut, selembut mata seorang bayi. Ia menunduk kembali, menghadapi dedaunan benalu.

"Aku butuh waktu."

"Tapi kita tak punya banyak waktu," lirih Ami berkata.

Ia terdiam. Ya, pikirnya, ia tak pernah tahu kapan kematian akan menjemputnya. Perkiraan dokter, karena kankernya sudah stadium lanjut, 3B, setengah tahun untuknya sudah sangat baik.

Ami menyentuh tangannya. "Apa yang ditunggu?"

"Aku ragu."

"Kenapa ragu?"

Ia berpikir sejenak, apakah ia harus utarakan alasannya. Ia takut ia akan terdengar tak masuk akal.

Ami terus menatap matanya, menunggu jawab.

"Aku tidak tega."

"Tidak tega?" tanya Ami. "Pada kambing?"

"Ya, pada kambing."

Kali ini Ami yang terdiam lama, sebelum akhirnya berkata, "Kita makan kambing, kan?"

"Ya," angguknya.

"Lalu?" Ami bertanya.

"Tapi ini berbeda. Aku merasa seolah mengorbankan kambing itu."

"Kita mengorbankan kambing kan? Begitu juga Nabi Ibrahim."

"Tapi ini berbeda. Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan anaknya, yang lalu berubah menjadi kambing, demi perintah Tuhan."

Ia mendesah dan melanjutkan, "Kalau ini, aku merasa seolah melawan perintah Tuhan. Melawan takdirku sendiri."

Ami terdiam lama. Lalu ia bertanya, "Apa ada cara lain untuk sembuh?"

"Aku tidak tahu."

"Semua sudah kau tempuh."

Ia mengangguk.

"Kau mau seorang shinsei mengiris-iris tubuhmu, hingga kau berlumuran darah."

Ia mengangguk.

"Kau bersedia ditusuk-tusuk ribuan jarum."

Ia mengangguk.

"Tapi tidak dengan kambing? Tidak tega?"

Ia menghela napas dalam.

"Kau sudah berjanji akan berobat ke mana saja dan dengan cara apa saja."

"Tapi penyakit ini takdirku, Ami. Bukan takdir kambing itu."

Ami memandangi daun-daun benalu yang terhampar di tampah bambu. "Lalu apa takdirku, Sarip? Kehilangan kau?"

Ia terdiam, memandangi wajah istrinya. Lalu ia menjatuhkan wajahnya ke pundak Ami.

"Begitu cintakah kita pada hidup, Ami?"

"Bukankah kematian adalah alami. Seperti bunga yang tumbuh lalu layu dan mati?"

"Apakah tidak mungkin kematian lebih indah dibanding kehidupan?"

*

IA dan suaminya datang ke rumah dukun itu. Rumah bata tanpa pagar yang memunggungi senja. Rumah itu terlihat sunyi. Di pojok kebun, di sudut kandang sapi, seekor kambing diikat pada salah satu tiang bambu. Ke pojok itulah, ia mengajak suaminya melangkah.

Kambing yang berbulu cokelat. Tidak gemuk dan tidak tua. Bahkan, menurutnya, kambing itu terlalu muda. Ia memandangi mata kambing itu. Mata yang lembut, seolah ada selaput kabut tipis membungkus retina biru keabu-abuan.

Ia merasa kerongkongannya tiba-tiba kering. Ia menelan ludah. Ludah itu terasa pahit.

Tapi ia tak melihat ada jalan lain. Suaminya, Sarip, telah dua tahun mengidap kanker. Ia tidak ingin kehilangan Sarip. Kambing itulah satu-satunya harapan.

Ia beranikan diri mengetuk pintu.

Sang dukun sendiri yang membukakan pintu. Rambutnya gondrong dan wajah berlubang. Cambang yang lebat tak terurus. Kalung dan gelang akar bahar. Menampakkan bibir dan gigi-giginya yang hitam, dukun itu menyeringai.

"Aku tahu kalian pasti akan datang."

Ia terdiam, "Kalian?" tanyanya.

"Ya," dukun itu terkekeh, "tentu saja istri akan datang menemani."

Sang dukun membuka pintu lebar-lebar, memersilakan ia dan Sarip masuk ke dalam, kemudian menutup pintu.

Tak ada kursi atau meja di ruang yang mereka masuki. Hanya ada dua dipan bambu dan sebuah tikar usang. Ia mencium bau kemenyan.

"Duduklah," kata sang dukun, menyila pada tikar. "Aku ambil kambingnya dulu."

Sang dukun berlalu ke belakang rumah. Ia terdiam. Genggaman Sarip pada tangannya terasa menguat. Sarip pun diam sedari tadi. Ia memandang pada mata Sarip. Mata yang lembut. Mata itu tersenyum padanya.

"Kamu yakin?" tanyanya.

Sarip tersenyum, "Apa saja aku lakukan untukmu, Ami."

Mendengar jawaban Sarip, ia merasa tak nyaman. Ia merasa ada yang salah. Juga dengan sejarah. Ia tidak ingin menjadi bagian dari kesalahan. Bukan Hawa yang membujuk Adam untuk menyalahi perintah Tuhan. Bukan Hawa. Dan juga bukan dirinya.

Sang dukun masuk kembali ke dalam ruangan. Dari tangannya yang besar dan berbulu lebat menjulur seutas tali. Tali itu mengikat leher seekor kambing. Kambing mengembik. Matanya yang biru keabu-abuan memandang padanya penuh iba.

Sang dukun mengangkat kambing itu dan meletakkannya pada sebuah dipan bambu. Ia mengikat kaki-kaki kambing, dua kaki menjadi satu. Kambing itu tidak berontak, ia hanya mengembik pelan.

"Tidurlah di dipan ini," perintah sang dukun kepada Sarip, sambil menunjuk pada dipan yang kosong.

Sarip menurut. Dengan pasrah ia tidur di dipan bambu. Sang dukun menarik sebuah tungku liat berjelaga kecil dari sudut ruang. Dukun itu merapal mantra yang entah artinya apa.

Ia mencium bau kemenyan.

"Kau akan sembuh sebentar lagi," sang dukun menyeringai pada Sarip. “Setelah ini, kambing itu yang akan menderita penyakitmu."

Dukun itu mengangkat tungku di atas kepala Sarip, menghembuskan asap kemenyan ke tubuh Sarip. Lalu dukun itu berpindah ke dipan sebelah. Melakukan yang sama pada kambing. Kambing itu mengembik.

Tiba-tiba saja ia berteriak.

*

MALAMNYA, di kamar mereka, Ami dan Sarip tidur berpelukan. Sarip bermimpi, akar-akar kanker di dalam tubuhnya menjalar-jalar menuju ke kaki. Akar-akar itu keluar keluar telapak, masuk ke dalam tanah dan menembus inti bumi. Sarip dapat melihat akar-akar itu berwajah. Akar-akar itu bermata. Dan Sarip dapat mendengar dirinya sendiri tertawa.

Ami menggeliat bangun. Ia mendengar suaminya, Sarip, tertawa-tawa dalam tidurnya. Ami dapat melihat, dari jari-jemari tangan suaminya, akar-akar menjalar keluar. Akar-akar itu memanjang, menggapai dan membelit tubuhnya.

Ami merasa sangat nyaman. Ia merasa telah membetulkan sesuatu yang salah. Juga dengan sejarah. Ia ingin menjadi bagian darinya. Bukan Hawa yang membujuk Adam untuk menyalahi perintah Tuhan. Bukan Hawa. Dan juga bukan dirinya.

Akar-akar itu masuk ke kulit-kulit Ami, menjalar-jalar di dalam tubuhnya dan menembus ke jantung. Ami tertawa. Ia merasa amat bahagia.

Lancaster, Januari 2012


Lampung Post, Minggu, 18 Maret 2012

Sunday, December 18, 2011

Awan Hitam Menghadang di Depan

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


ESOK adalah boxing-day dan Ray sudah menyiapkan rencana. Pagi-pagi benar, ketika gelap masih melingkupi putih salju, ia akan membawa kantung tidurnya ke pusat kota. Ia akan menyiapkan setermos teh panas dan menyelipkannya di kantung sisi ranselnya. Ia akan bersepeda dari rumah sewanya dan menempati tempat pertama di depan antrian pintu swalayan Fenwick.

Ray merasa senang dan tak sabar menunggu hari esok. Ini kali pertama ia peduli akan boxing-day. Ini kali pertama ia akan, seperti orang-orang yang lain, mengantri subuh-subuh sekali untuk dapat membeli barang-barang yang disukai. Ini, sekalinya ia menjilat ludahnya sendiri. Semua demi Cut Meutia dan Adriana.

Dulu, boxing-day, baginya, adalah perayaan konsumerisme. Sesuatu yang ia tidak sukai bahkan ia anggap konyol. Bagaimana tidak, keluar rumah di suhu minus enam atau delapan, berjam-jam ikut mengantri di depan toko-toko, dalam antrian sepanjang ular naga, hanya demi membeli barang-barang berpotongan harga. Ha! Sungguh hal ini membuat Ray menggeleng-gelengkan kepala.

Ray pun dulu berpendapat, boxing-day sungguh tidak manusiawi. Sehari itu para pemilik modal mempermainkan para pembeli. Mereka hanya memberi potongan harga besar-besaran dalam satu hari—hanya satu hari! Lalu dengan tenang menonton orang-orang yang bersusah payah sejak hari masih lagi gelap menunggu di depan toko mereka. Melihat orang-orang berebut, menyemut di lantai toko dan saling sikut demi mendapatkan sebuah barang –barang!—yang kadang, bukan sesuatu yang wah, macam tas atau dompet saja. Ini, dulu, bagi Ray sangat merendahkan kemanusiaan, amat memalukan dan tidak masuk di akal.

Namun, kemudian Ray tersadar, ia pun tak beda dengan orang-orang kebanyakan itu. Ia pun, demi Cut Meutia dan Adriana, ingin memberikan yang terbaik pada orang-orang yang ia sayangi, dan kerap kali yang terbaik itu diartikan sebagai termahal. Untuk ukuran dompetnya, potongan harga tujuh puluh lima persen atau lima puluh persen tentu sungguh membantu. Bagaimana tidak, tas yang ingin ia belikan untuk Cut Meutia harganya seribu dua ratus poundsterling, sementara boneka untuk Adriana tak kurang dari seratus.

Ray, yang akhirnya memutuskan untuk ikut menyemut dan merayakan kemenangan pemilik modal dan menyerahkan diri pada ketundukan pemujaan barang-barang, menghibur dirinya sendiri: ia melakukan semua ini untuk melihat kerlip di mata Cut Meutia dan Adriana. Ia melakukan semua ini untuk memberi kejutan istimewa dan memanjakan mereka. Ia ingin, ketika Cut Meutia dan Adriana menginjakkan kaki di negara dingin ini, kemewahan adalah hal pertama yang mereka rasa.

Ray berharap, jika sudah begitu, ketika ia kemudian mengajak mereka ke rumah sewanya, mereka tidak akan begitu kecewa. Semoga Cut Meutia dan Adriana akan tetap terfokus pada tas dan boneka hadiah, dan tak akan memerhatikan wallpaper yang mengelupas di sana-sini, karpet tua yang berlubang dan berbercak hitam, sofa yang bertambal, atap yang merembes air hujan, juga kamar mandi yang berjamur dan berbau tak sedap.

Semoga mereka tidak akan kecewa melihat sampah berterbangan tertiup angin di sisi jalan dan kantung-kantung pelastik yang tersangkut di pepohonan.

Bagaimanapun juga ini Inggris, dan di Inggris sudah seharusnya semua berkesan indah dan mewah. Apalagi bagi mereka yang baru saja datang dari Indonesia.

***

Sebelum libur Natal, berkali-kali Ray datangi Fenwick. Ia pergi ke bagian tas perempuan dan memastikan tas yang ia tuju masih terpajang di lemari kaca. Tas itu berwarna cokelat tua, terbuat dari kulit, bertali besi berbentuk gelang sambung menyambung dan berlogo H di bagian tengahnya. Ray membatin, Cut Meutia akan suka sekali pada tas itu.

Kemudian ia pergi ke bagian mainan anak-anak, dan memastikan boneka yang ia akan beli masih ada di deretan lemari soft toys. Diraihnya boneka itu, sebuah boneka beruang besar, berbulu cokelat yang sangat lembut, sebuah pita berwarna merah bertotol putih menyemat di balik sebelah telinga. Ray yakin, Adriana akan senang sekali mendapat boneka itu.

Betapa leganya Ray setiap kali mendapati kedua barang yang ia ingini masih berada di tempatnya. Betapa senangnya ia, karena sebentar lagi ia akan membawa tas dan boneka itu pulang dan akan membungkusnya dengan hati-hati. Ia akan membawa mereka ke bandara, ketika ia menjemput Cut Meutia dan Adriana, pada harinya nanti.

Sebentar lagi, batin Ray. Beberapa hari lagi, dan mereka akan tiba di sini. Hanya sekejap lagi, dan ia tak akan lagi sendiri. Hanya dalam hitungan hari, dan hari-hari penuh kerinduan dan penantian untuk kembali berkumpul akan lenyap, selamanya.

Setelah dua tahun berpisah! Dua tahun!

***

Di pagi Natal, menggunakan kartu telepon antarbangsa, Ray menelepon ke Indonesia. Ia mendapat kabar bahwa Cut Meutia dan Adriana telah tiba di Bandara Blang Bintang siang itu, waktu Indonesia. Mereka hendak berpamitan pada sanak saudara di sana, berpamitan dan mohon doa sebelum hendak berpergian jauh ke Inggris Raya.

"Adriana senang di Aceh, Nak?" tanya Ray.

"Eh-eh," jawab suara kecil di ujung telepon.

"Sampaikan salam Papa untuk nenek, nya'wa dan ayahwa ya. Papa tunggu Adriana di sini. Papa rindu sekali."

"Eh-eh," kembali suara Adriana terdengar.

"Sekarang Adriana panggilkan Mama ya. Tapi kasih cium dulu buat Papa."

"Mwah," Adriana berkata pelan. Lalu suara Cut Meutia terdengar, "Adriana senang sekali di sini. Tak henti bermain dengan sepupu-sepupunya. Dia senang melihat sawah dan kerbau. Adriana bilang ia tak ingin kembali ke Jakarta. Tak ingin pergi ke Inggris. Ia ingin selamanya di Aceh."

"Rayu Adriana, bilang padanya Papa punya kejutan untuknya di Inggris."

Ray mendengar Cut Meutia tertawa. “Aku rindu,” bisiknya.

"Sekejap lagi kita bertemu ya, sayang," Cut Meutia balas berbisik padanya.

Ray tersenyum bahagia, "Tak sabar rasanya."

"Hanya tinggal beberapa hari. Dua tahun pun Abang kuat menunggu," Cut Meutia tertawa.

Ray ikut tertawa, "Ya, tapi tidak jika hanya satu minggu. Apa rencana hari ini? Dan esok?"

"Kita makan besar siang ini, nya’wa masak lezat. Besok pagi, rencananya kita akan ke pantai."

"Nanti tiba di sini, akan aku masakan spaghetti. Aku sudah belajar dari kawan di sini."

"Wah, kedengarnya menggiurkan," Cut Meutia kembali tertawa.

"Aku sudah tak sabar," bisik Ray lagi.

Mereka bertukar cium dan dengan bahagia Ray menutup telepon.

Di luar box merah telepon umum, awan hitam menggantung, makin lama makin memekat. Awan hitam menghadang dan perlahan menelan birunya langit. Namun Ray tak peduli. Ray sungguh bahagia sekali.

***

Malam harinya, sebelum tidur, Ray memasang alarm pada telepon genggam. Jam empat tepat. Ray tak ingin terlambat.

Ray menyapukan pandangan ke sekeliling kamar, ia dapat melihat Cut Meutia dan Adriana di situ. Di luar jendela, pada jalan-jalan batu, Ray dapat membayangkan ia dan keluarganya bergandengan tangan, menyusuri jalan bersalju. Adriana akan senang sekali melihat salju, pikir Ray. Dan Cut Meutia tak akan bosan menunjuk gedung-gedung tua dan mengagumi bunga-bunga di musim semi nanti.

Ia sudah memasukkan termos tehnya di sisi ransel, dan sleeping bag ke dalamnya. Semua sudah siap, pikir Ray, esok ia akan membawa tas dan boneka itu pulang. Cut Meutia dan Adriana tentu akan senang sekali.

Ray membayangkan wajah istri dan anaknya terkejut menerima hadiah darinya nanti, senyuman melekat dibibirnya hingga ia jatuh tertidur.

Hampir pukul empat pagi, Ray dibangunkan oleh dering telepon genggamnya. Bukan alarm, pikir Ray, namun dering telepon. Dengan mengantuk, Ray menekan tombol bergambar telepon berwarna hijau.

"Ya?"

"Ray, Ray, ini ayah." Terburu-buru suara di seberang.

Ayahnya tak pernah menelepon untuk sesuatu yang tak penting, pikir Ray. Selama ia berkuliah di Inggris, ayahnya tak pernah meneleponnya sama sekali.

"Ayah, ada apa?"

"Ray harus kuatkan hati, harus tabah."

"Ayah, ada apa?" kali ini Ray duduk dari tidurnya.

"Tsunami di Aceh, Nak. Air bah besar dan gempa bumi. Tak ada yang bisa ayah hubungi. Belum tahu kabar Cut dan Adriana."

Ray ternganga. Ini hanya mimpi buruk, ini hanya mimpi buruk, riuh benaknya.

"Ray ... Ray ... kamu harus kuat, Nak. Banyak berzikir. Kami di Jakarta masih menunggu kabar."

Ray membisu. Matanya tertumpu pada foto berbingkai perak di sudut meja belajarnya. Foto terbaru Cut Meutia dan Adriana yang ia punya. Di foto itu Cut Meutia dan Adriana tersenyum bahagia. Ray memandangi rambut Adriana yang ikal hitam kepirangan, tangan kecilnya yang seolah menggapai padanya. Dan mata Cut Meutia yang biru keabu-abuan menatap padanya lembut.

"Ray, jika bisa akses internet, bukalah berita, Nak," suara ayahnya terdengar sangat jauh. Seolah tak nyata, bergema dari lorong yang gelap.

Ray menyentuh pipinya. Ia harus bercukur dan memangkas rambutnya yang gondrong. Ia harus terlihat rapi dan bersih ketika nanti menjemput Cut Meutia dan Adriana.

Ray berdehem, melenyapkan bisu dari tenggorokannya.

"Ayah, tak usah khawatir. Cut dan Adriana baik-baik saja. Mereka akan datang ke sini tak lama lagi. Hanya sekejap lagi."

Lamat-lamat Ray mendengar ayahnya menyebut-nyebut nama Allah. Dengan tubuh dan tangan gemetar, Ray mematikan sambungan telepon.

Sedetik kemudian telepon genggam di tangannya bergetar dan suara alarm terdengar. Ray menatap nanar pada layar telepon, membaca catatan yang tadi malam ia tuliskan: Berburu hadiah untuk Cut dan Adriana. Lekas pergi antri!

Ray menatap tas ransel yang telah ia siapkan, juga helm sepeda yang sudah ia letakkan tak jauh dari tasnya. Ini boxing-day, pikir Ray, hadiah untuk Cut Meutia dan Adriana telah menunggunya. Ia tak ingin terlambat, tak ingin kedahuluan orang-orang. Ray tahu, ia harus bersiap pergi saat itu juga. Bergegas ia berpakaian, lengkap dengan jaket hangat, topi dan sarung tangan. Kemudian ia menyambar tas dan helm sepedanya.

Ray tahu ia harus menembus pekat malam, dingin salju dan gigil angin, demi dan hanya demi Cut Meutia dan Adriana.

Lancaster, September 2011


Lampung Post, Minggu, 18 Desember 2011

Sunday, September 11, 2011

Gambar Mei

Cerpen Rilda A.Oe. Taneko


IA yang meramalkan kematian keluarganya. Pertama ia menggambar ayahnya dan adiknya, kemudian ibunya. Usianya masih empat belas saat itu. Entah mengapa, suatu pagi, seolah dikejar keperluan mendesak, ia mencari-cari pensil dan kertas. Lalu, di atas kertas itu, dengan sangat cepat dan tanpa kedipan mata, ia menggambar sebuah kapal. Kapal itu berlayar di atas lautan luas. Dari dek kapal itu, ayahnya jatuh ke laut.

Pada kertas yang lain, ia kembali membuat gambar yang sama. Kali ini adiknya yang terjatuh dari kapal.

Ia menunjukkan gambar-gambar itu kepada ayahnya. Hal itu membuat ayahnya membisu berkepanjangan.

Keesokan harinya, ia kembali menggambar hal yang sama. Kali ini ibunya yang jatuh ke laut.

Ayahnya terlihat ketakutan ketika ia tunjukkan gambarnya itu. Dahi ayahnya berkeringat, dan dengan gemetar, ayahnya berkata, “Ini tanda tidak baik, Mei. Sangat tidak baik.”

Ia pun merasai ketakutan. Dengan khawatir ia bertanya pada ayahnya, "Apa yang tidak baik, Papi? Apa yang akan terjadi?"

Mata ayahnya terlihat murung. "Papi takut kamu akan sendiri. Papi takut Papi, Ade, dan Mami akan pergi jauh meninggalkanmu."

Ia sungguh ketakutan mendengar itu. Ia menyesal telah membuat gambar-gambar itu. Tapi ia tidak mampu menahan dirinya. Gambar-gambar itu seolah memerintahnya untuk membuat mereka. Juga untuk menunjukkan mereka pada ayahnya.

Enam bulan sejak itu, ayahnya meninggal dunia. Sakitnya mendadak. Orang bilang ayahnya kena angin lewat.

Tiga bulan sejak ayahnya meninggal, Ade, adik satu-satunya, menghembuskan napas terakhir. Tidak ada yang pernah menyadari kalau Ade mengidap kanker otak.

Sejak itu, ibunya melalu murung. Berkali-kali ia berusaha menguatkan ibunya, tapi usahanya selalu saja gagal. Saat itu, dengan ketakutan yang sangat, ia menyadari bahwa ibunya pun akan pergi. Dan, ia, di usianya yang baru menginjak lima belas, akan menjadi yatim piatu dan sebatang kara di dunia ini.

Tiga bulan sejak Ade meninggal, bersama saudara, kenalan keluarga dan tetangga, ia pun harus kembali pergi ke permakaman yang sama untuk menguburkan ibunya.

Demikian ia menceritakan kisahnya kepadaku.

***

Namanya Mei. Aku mengenalnya jauh waktu dari kemalangan yang menimpanya itu. Kami berkuliah di universitas yang sama. Ketika baru saja bertemu, aku merasa telah mengenalnya sejak lama.

Namanya Mei. Ia bertubuh mungil, bermata sipit, dan berkulit putih susu. Rambutnya sangat halus dan tipis, berwarna kemerahan dan sedikit bergelombang. Sebuah tahi lalat menetap di dekat ujung dagunya.

Ia yang meramalkan kematian ayahku.

Ia telah menunjukkan sebuah gambarannya padaku. Tiga ekor merpati putih—dua merpati dewasa bersama seekor anak burung—di dalam sangkar, satu burung terbang keluar, melalui lautan luas dan kemudian hinggap pada sebuah masjid yang runtuh.

Mei berkata, "Akan ada alim ulama yang meninggal dunia. Ia meninggalkan istri dan seorang anaknya."

Karena ayahku seorang penceramah dan imam masjid, juga karena aku anak satu-satunya, kata-kata Mei membuatku gundah. Dan benar saja, tak lama kemudian, ayahku meninggal dunia.

Sejak itu, bagiku, gambar-gambar yang Mei buat selalu menjadi pertanda kematian.

***

Namanya Mei. Ia suka bicara tentang apa saja. Tapi tidak tentang gambar-gambarnya. Hanya orang-orang dekat yang tahu tentang gambar-gambarnya itu. Pamannya, tempat ia menumpang hidup sejak menjadi yatim piatu, tahu tentang itu. Tapi pamannya selalu melarang ia menggambar. "Itu mistik dan bisa membuatmu syirik. Tuhan tidak akan mengampuni orang-orang yang syirik," demikian pamannya berkata.

Tapi Mei berkeyakinan bahwa Tuhanlah yang memberinya kemampuan untuk menggambar masa depan. Pun begitu, Mei tidak pernah bercerita tentang bakatnya ini pada orang lain. Hanya aku. Ya, hanya aku yang dipercayainya.

Namun anehnya, ada orang-orang yang mengetahui rahasia Mei. Contohnya saat Mei dan aku pergi berbelanja ke Telukbetung. Ketika melalui sebuah wihara, yang besar dan berwarna merah, seorang tua menyapa Mei. Orang tua itu terlihat ringkih dan ia menyapa dalam bahasa yang kami tidak mengerti. Mei menggelengkan kepala dan berkata ia tidak mengerti.

Orang tua itu tersenyum. "Kamu bukan orang China?" tanyanya.

Mei menggeleng.

Orang tua itu mengangguk dan berkata, "Tapi aku tahu kamu menyimpan kekuatan. Kamu punya kekuatan khusus yang besar. Beruntung sekali, sungguh beruntung."

Mei ketakutan mendengar itu. Ia menggenggam tanganku dan mengajakku menjauhi orang tua itu.

Itu bukan yang terakhir.

Lain waktu, kali ini ketika kami berniat makan siang bersama. Seorang perempuan paruh baya, pedagang pempek di daerah Kupang Teba, tertegun melihat Mei.

"Ncik, lu tau lu bawa hoki? Lu punya kaki dan badan tidak sama besar. Kaki lu kecil. Kekecilan untuk bawa badan. Tapi lu punya kekuatan. Kekuatan besar."

Begitu juga di waktu yang lain, seorang bapak, yang kebetulan berteduh bersama Mei dan aku di sebuah halte bus, terus memerhatikan Mei. Bapak itu mendekati Mei dan berkata santun, "Maaf, Mbak. Mbak punya simpanan ya?"

"Simpanan?" tanya Mei heran.

Bapak itu tersenyum. "Simpanan ilmu, Mbak."

Mei terkejut dan sambil menutupi kepanikannya sendiri, ia berkata, "Ya, ada ilmu juga. Ilmu hukum. Saya kuliah di Unila."

Bapak itu tertawa. "Ah, Mbak ini lucu rupanya. Tentu Mbak tahu yang saya maksud. Kalau Mbak asah terus, ilmu Mbak bisa makin kuat."

Perjumpaan-perjumpaan yang aneh ini terjadi berulang-ulang, hingga kerap membuat Mei ketakutan dan khawatir akan dirinya sendiri.

***

Beberapa tahun dari kematian ayahku, Mei kembali memberiku sebuah gambar. "Jangan pergi besok, tidak baik dan berbahaya," kata dia.

Aku mengenali gedung bertingkat lima yang ada di gambaran Mei. Di depan gedung itu, puluhan karangan bunga diletakkan. Di beberapa karangan bunga yang cukup besar, Mei mengguratkan kata "Turut berdukacita".

"Apa artinya ini Mei?" tanyaku.

"Aku tidak tahu," jawab Mei, "Tapi karangan-karangan bunga ini melambangkan adanya kematian."

"Lalu apa hubungannya dengan rencanaku besok? Gambar ini kan mungkin saja berarti pemilik gedung atau yang bekerja di situ ada yang meninggal."

Mei menggeleng. "Kamu dan kawan-kawanmu berencana march ke sana kan?"

Aku terdiam. "Tidak akan terjadi apa-apa, Mei. Percayalah."

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 28 September 1999, aku tetap pergi. Bersama puluhan kawan-kawan, aku ikut berkumpul di lapangan parkir kampus FISIP Unila. Beberapa menit kami bergantian berorasi di depan Gedung E, mengajak teman-teman yang lain turut serta.

Di dekat gedung FH, aku melihat Mei berdiri. Matanya sedih sekali menatapku. Aku melambai padanya. Lalu untuknya, sambil tersenyum, dengan tangan kiriku, aku mengepalkan tinju.

Dari depan FISIP, kami berjalan bersama-sama menuju Markas Koramil Kedaton. Kami bersemangat sekali, tak jeda bernyanyi dan meneriakkan perlawanan. Tujuan kami adalah menolak pembentukan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Berbahaya (RUU PKB). Dan bukan hanya di Lampung, mahasiswa di seluruh negeri turun ke jalan untuk menolak RUU ini.

Ketika melewati gedung bertingkat lima yang digambar Mei hari kemarin, gedung tertinggi kampus UBL, aku bergidik. Tak akan terjadi apa-apa, pikirku dalam hati. Hanya sebuah gambar yang bisa berarti banyak dan tidak berhubungan dengan aksi hari ini.

Kami pun mulai berorasi di depan Markas Koramil. Tak lama, entah mulai dari mana, keadaan menjadi kacau. Pelemparan batu disusul bom molotov dan gas air mata. Lalu, dari arah pekuburan umum di samping Koramil terdengar desingan peluru. Peluru karet, pikirku.

Tak diduga, seorang kawan bertubuh jangkung dan berkulit putih, yang berdiri tak jauh dariku, rebah ke aspal jalan. Aku melihat darah. Pekik ketakutan datang dari segala arah. "Peluru tajam! Mereka menggunakan peluru tajam! Lari!"

Seperti kelompok lebah yang diasapi dan diusik, kami lari berhamburan. Puluhan mahasiswa berlari menuju kampus IAIN lama dan UBL, yang berada tepat di depan Koramil, demi mencari tempat perlindungan. Namun, tentara tak lagi peduli dengan kekebalan kampus, mereka terus mengejar dan menghancurkan apa-apa yang mereka lalui, juga mobil-mobil dan kaca-kaca gedung.

Melalui kampus IAIN dan berbelok ke pekarangan kampus UBL, aku terus berlari desing peluru yang diikuti teriakan, saling susul-menyusul. Bau hangus ban menusuk hidungku. Ini pertempuran, pikirku. Ini perang. Degup jantungku berpacu langkah. Tentara memerangi mahasiswa. Kakiku sakit dan kepalaku terasa panas sekali. Kenapa bisa seperti ini? Kami bukan penjahat. Napasku sesak. Telapak tanganku basah oleh keringat. Aku teringat Mei.

Aku berbelok ke arah gedung berlantai lima. Di persimpangan, hampir saja aku bertabrakan dengan seorang mahasiswa berjilbab. Ia memegang kamera. Seorang tentara bersenjata mengejarnya. Mata kami bertumbuk, sedetik saja, di mata perempuan itu aku seolah melihat kematian. Perempuan itu terus berlari. Tentara yang mengejarnya melihatku dan berteriak, "Jangan kabur kamu."

Setelah itu aku merasai perih dan panas yang sangat di bagian pundak. Aku merasai darah hangat merembes ke flannel kotak-kotak merah yang tak kukancing. Darah itu mengalir membasahi kaus merah bergambar Soekarno yang kukenakan. Lalu semua menjadi gelap.

***

Beberapa hari kemudian, aku diizinkan pulang dari rumah sakit. Dua orang kawan telah meninggal dunia, empat puluh empat orang, termasuk aku, terluka parah. Berita itu aku dengar dari teman-teman yang menjenguk. Teman-teman juga bilang, keadaan belum aman. Aparat masih mencari-cari mahasiswa yang dianggap think tank organisasi yang ikut berdemo.

Di hari kedua sejak aku keluar dari rumah sakit, Mei datang ke rumahku. Dari saku celana jinsnya ia mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat-lipat.

"Ini aku gambar ketika kamu masih di rumah sakit. Empat hari lalu," kata Mei.

Aku membuka lipatan kertas itu dan tertegun. Gambar yang Mei buat membuatku sesak.

"Larilah," kata Mei. "Pergilah jauh dari negeri ini."

"Ke mana aku bisa lari, Mei?" tanyaku lemah.

Mei menggenggam tanganku dan terisak.

Lancaster, Agustus 2011


Lampung Post, 11 September 2011