Showing posts with label Tarpin A. Nasri. Show all posts
Showing posts with label Tarpin A. Nasri. Show all posts

Sunday, December 8, 2013

Awas, Jangan Salah Pilih

Cerpen Tarpin A. Nasri


BUAT yang terhormat Marzuki Danubrata Wicaksono, ada seribu jalan menuju Roma untuk mewujudkan keinginan, cita-cita, obsesi, harapan, dan impiannya menjadi orang No. 1 di Provinsi Kamis Berseri, setelah dua periode berturut-turut menjadi wakil rakyat dan berkantor di Senayan, Jakarta.

Tampaknya setelah menjadi wakil rakyat berturut-turut dalam dua komisi, Marzuki masih ingin menjadi “presiden” atau “raja” di provinsi. Hebat! Salut!

Bagi Marzuki—dan tentu saja bersama tim suksesnya—semua jalan itu jadi halal. Yang abu-abu, yang haram, yang tidak beretika dan atau yang tidak bermoral, bisa menjadi terang, halal, dan sangat santun. Yang penting dalam pelaksanaannya lembut dan cantik, serta polesan, sentuhan, dan kemasannya manis. Oleh karena itu, aku benar-benar prihatin dan sedih dengan perilaku yang sangat tendensius itu.

Untuk meraup suara dan guna dipilih rakyat, Marzuki—dan orang-orang pilihannya yang bekerja  untuk  mencetak kemenangan untuknya—telah merambah mulai dari wilayah provinsi, kabupaten, kotamadya, kecamatan sampai ke desa-desa, serta bekerja jorjoran memburu, menjaring, dan bila perlu membeli suara rakyat. Karena selain Marzuki, masih ada tiga calon lain, yakni Siti Aisyah, Arif Markasan, dan Edy Nurbawono, yang tidak kalah terkenal di tengah-tengah masyarakat Provinsi Kamis Berseri. Mereka itu adalah putra daerah, keluarga pejabat, serta pengusaha yang juga elite pengurus suatu parpol. 

Perilaku seperti itu tidak ewuh pakewuh dan tidak malu-malu lagi dikerjakan Marzuki. Mulai dari pohon, tembok, jembatan, tikungan jalan, pos ronda, warung, toko, salon, bengkel, tambal ban, cucian mobil, pompa bensin, rumah makan, perempatan jalan dan tempat-tempat terbuka lainnya, telah dihiasi dan dibanjiri potret dirinya, lengkap dengan identitas di bawah atau di atas fotonya: Dr. Marzuki Danubrata Wicaksono, S.H., M.H., Calon Gubernur Provinsi Kamis Berseri Periode 2020-2025, dengan tambahan kredibilitas: wong dhewek, dari rakyat, untuk rakyat! Tujuannya pasti, agar Marzuki dikenal luas, lalu ketika tiba waktunya pencoblosan berharap minta dipilih, dan untuk dipilih itu Marzuki sudah menggelontorkan uang miliaran, dan juga sudah bersilaturahmi atau bermanuver ke mana-mana dengan berbagai acara yang dibuat, diikuti, dan dihadirinya.

Marzuki tidak hanya telah menebar kaus, poster, spanduk, dan baliho, akan tetapi nama atau foto Marzuki juga ada di kemasan sabun mandi, kaleng susu, karung beras, bungkus gula pasir, ada di handuk, ada di kaleng ikan sarden, ada di bungkus kopi, dan ada di bungkus mi yang dibagi-bagikan kepada rakyat. Selain itu, Marzuki juga mengagendakan datang ke hajat sunatan, pesta pernikahan, pengajian, silaturahmi dengan tokoh agama, sowan ke pondok kiai, mendatangi  tokoh/lembaga adat, menggandeng tokoh pemuda dan tokoh masyarakat, merapat kepada ketua/tokoh lembaga, minta dukungan LSM, menyambangi preman sampai dengan menghadiri upacara kematian warga. Sungguh luar biasa dana dan energi Marzuki untuk menjadi Kamis Berseri-01.

Aku sih melihat tata cara yang digunakan Marzuki  untuk meraup suara dan dukungan, senyum-senyum saja.

“Marzuki sedang berakrobat untuk mendapat simpati rakyat agar pada pemilukada nanti dipilih oleh rakyat,” kataku ke Kang Sarman setelah membaca berita di koran, mendengarkan siaran di radio, dan melihat di televisi atas apa yang telah dilakukan Marzuki.

Di pagi yang cerah pada bulan Desember, Kang Sarman kembali silaturahmi ke rumahku. Kang Sarman itu tetangga empat rumah dari rumahku.  Kang Sarman orangnya aktif dan gemar bersilaturahmi sebagaimana yang diajarkan oleh Islam yang dianutnya.

Terkait akrobat Marzuki, Kang Sarman punya penilaian tersendiri. “Untuk mendapatkan  dukungan dan suara rakyat, tidak semua cara jadi halal begitu dong, Mas,” jawab Kang Sarman dengan nada setengah protes.

“Makanya rakyat jangan sampai tergiur dan rakyat juga jangan sampai terkecoh dalam memilih wakil rakyat atau gubernur—juga dalam memilih bupati, wali kota, atau kepala desa,” tukasku.

“Tegasnya rakyat tidak boleh salah dalam memilih pemimpin atau keliru menentukan wakil rakyat ya, Mas,” ujar Kang Sarman minta kepastian, sekaligus  minta dibenarkan pendapatnya, dan aku menyikapinya dengan tersenyum santai.

Aku mengajak Kang Sarman masuk ke ruang tamu rumahku, dan Anisyah—istriku—langsung menyediakan kopi, serta singkong goreng dan munthul rebus.

“Monggo kopinya diminum,“ tawarku. “Sekalian singkong goreng dan ubi rebusnya dinikmati Kang Sarman,” lanjutku dengan tulus dan ikhlas.

“Gulanya, kopinya, dan airnya dijamin tidak ada Cap Marzuki-nya, juga minyak untuk menggoreng  singkong dan gas untuk merebus muthul ini bukan dari tanda cinta, tanda kasih, tanda sayang, tanda peduli, tanda perhatian, dan tanda bakti dari Marzuki,” seloroh istriku.

“Hus! Saru!” cegahku sambil senyum, “Jangan sinis begitu, dia itu calon terkuat dan terpopuler untuk gubernur provinsi kita lo.”

“Benar, Mas. Menurut saya mbakyu Ani tidak salah, Mas,” bela Kang Sarman. “Memang di lapangan begitu kok dan itu fakta. Semua telah dikepung, semua sudah disisir dan semua sudah sukses digarap Marzuki!”

“Maksudnya gimana, Kang Sarman?” tanyaku penasaran.

“Untuk mendapat suara dan dipilih rakyat, Marzuki telah merambah atau menggurita ke mana-mana, Mas,” lanjut Kang Sarman penuh semangat.

“Apa contohnya?” pancingku sambil senyum.

“Kemarin Marzuki menyumbang dan menghadiri pentas kuda lumping—jaranan terbaik asli dari Tulungagung—dan pentas reog terjoss asal Ponorogo, dan belum lama ini Marzuki juga membantu rehab bangunan panti asuhan, merampungkan pembangunan musala, meletakkan batu pertama pembangunan masjid, lalu tempo hari juga memperbaiki sekolah yang mau roboh, memperbaiki gorong-gorong dan jembatan yang rusak, menambal jalan-jalan yang berlubang, serta mengkhitankan anak yatim piatu dan menyantuni anak-anak miskin. Bahkan yang terbaru…” ujar Kang Sarman sambil diselang minum kopi.

“Bahkan yang terbaru apa, Kang Sarman?” tanyaku. “Kok tidak dilanjutkan...”

“Minggu besok Kelompok Pengajian Ibu-ibu dan Kelompok Jemaah Yasinan kampung kita akan dikunjungi dan akan diberi bantuan tikar, buku Yasin, Alquran, sarung, sajadah, busana muslimah, baju muslim, peci dan juga bantuan dalam bentuk uang kas untuk melancarkan roda kegiatan,” jawab Kang Sarman mantap sekali.

“Tujuannya untuk apa ya, Kang Sarman?” tanyaku pura-pura tidak tahu, atau berlaga tidak  nyambung, sekaligus untuk menguji pengetahuan Kang Sarman terkait manuver Marzuki, “Saya sih melihatnya sederhana saja, supaya Marzuki dapat dukungan suara dari kita, dan pada pemilukada nanti minta dipilih oleh rakyat agar jadi gubernur. Iya kan, Mas?”

“Kang Sarman setuju tidak dengan cara-cara seperti itu?” tanyaku ingin tahu isi hati dan pikiran Kang Sarman.

Kang Sarman diam sejenak, mikir juga dia rupanya, dan aku menunggu dengan sabar.

“Sebenarnya sih saya risi, bahkan tidak sepenuhnya setuju dengan cara-cara seperti itu, karena itu dilakukan tidak tulus, mboten ikhlas, ada maunya, ada tujuannya, atau ada udang di balik batunya. Dan semuanya itu demi suara!”

Aku membiarkan Kang Sarman menikmati singkong goreng yang diselingi dengan makan ubi rambat. Dia tampak menikmati kopi dan makanan yang kami suguhkan, dugaanku Kang Sarman tadi pagi belum sempat dibuatkan sarapan oleh istrinya—mbakyu Genuk.

“Kira-kira untuk semua itu, Marzuki sudah mengeluarkan uang berapa miliar ya, Mas?” tanya Kang Sarman sambil ber-hehehe, dan hehehe-nya Kang Sarman kemudian aku hentikan dengan, “Kira-kira jika Marzuki terpilih, uang yang dihabiskan itu harus kembali tidak ya selama yang bersangkutan menjabat?” kataku balik bertanya ke Kang Sarman.

Sebelum menjawab Kang Sarman berpikir dalam-dalam sehingga kesannya jadi takut salah omong. “Kalau menurut saya…kalau menurut saya…kalau menurut saya… ya pasti dipikirkan bagaimana caranya uang itu agar bisa kembali selama dia menjabat!”

“Apa alasannya, Kang Sarman?” tanyaku lagi dengan santai.

“Peribahasa mengatakan ‘tidak ada makan siang yang gratis’ di dunia ini, Mas,” ujar Kang Sarman dengan sangat cerdas, “Lha segelas kopi yang saya nikmati buatan mbakyu Ani ini, dan ditambah dengan singkong goreng dan ubi rebus ini, tidak gratiskan? Karena saya membayarnya dengan bersedia ngobrol dengan Mas Bayu Priyo. Apalagi yang bentuknya uang sampai miliaran rupiah, pasti uang itu harus kembali, Mas!”

“Makanya saya pesan, Kang…” tukasku hati-hati sekali.

“Pesan apa, Mas?” sambutnya dengan cepat dan penuh semangat.

“Awas: jangan salah memilih pemimpin,” kataku, seraya melanjutkan, “Pilihlah pemimpin yang bersih, yang bersedia mengabdi untuk rakyat, yang tulus berjuang untuk rakyat, yang ikhlas membela kepentingan rakyat, yang berasal dari rakyat, dan yang benar-benar mau bekerja untuk melayani rakyat, agar rakyat yang memilihnya menjadi lebih baik nasibnya, lebih makmur ekonominya dan lebih sejahtera hidupnya.”

“Bukan jadi preman berdasi, bukan menjadi pengisap ganja dan shabu-shabu, bukan menjadi peminum, bukan menjadi pemangsa perempuan,  bukan menjadi penjudi, bukan menjadi calo proyek, bukan menjadi pemakan uang rakyat, bukan menjadi pengisap keringat rakyat, bukan menjadi pemeras  tenaga rakyat, dan bukan juga menjadi peminum darah rakyat! Begitu ya, Mas?!”

Aku tersenyum dan tersedak ketika akhirnya aku “ditembak” dengan jitu oleh Kang Sarman, “Lha Mas Bayu Priyo itu berkampanye untuk siapa sih, atau mendukung siapa sih?!”

Setelah aku berhasil menguasai diri, aku berkata hati-hati sekali untuk tidak salah bicara. “Begini, Kang. Saya pribadi tidak punya kepentingan apa-apa. Saya hanya tidak ingin rakyat salah memilih atau keliru menentukan pemimpin, karena jika rakyat salah memilih pemimpin, rakyat juga yang harus menerima dan memikul akibatnya,” kataku.
Kang Sarman menyimak ketika aku melanjutkan omonganku. ”Uang yang dikucurkan dalam bentuk itu dan ini guna membeli suara dan agar dipilih dalam pemilukada seperti Kang Sarman bilang ‘tidak ada makan siang yang gratis’, saya setuju sekali, dan itu pasti dipikirkan bagaimana cara pengembaliannya saat yang bersangkutan menjadi pemimpin, atau saat dia duduk menjabat.”

Kang Sarman manggut-manggut, pertanda dia mengerti, maka kulanjutkan apa yang ingin aku sampaikan, ”Semua itu nantinya yang membayar dan yang menanggung akibatnya adalah rakyat, yang notabene terjebak dan terikat dengan kenikmatan sesaat berupa bantuan itu dan pemberian  ini. Maka pilihlah pemimpin yang benar-benar diajukan dan dipercaya oleh rakyat, bukan memilih pemimpin yang bisa membeli suara rakyat dan terang-terangan minta dipilih oleh rakyat!” 

Kang Sarman manggut-manggut lagi. “Nah siapa calon gubernur yang harus kita pilih nanti, saya harap Kang Sarman dan… tolong ini juga disampaikan ke teman-teman yang lainnya, jangan sampai salah memilih pemimpin. Jika kita salah memilih pemimpin, kita semua yang susah, dan yang senang adalah pemimpin yang kita pilih. Pilihlah pemimpin yang bekerja untuk rakyat dan yang mau melayani rakyat!”

Setelah berjanji untuk menonton pergelaran seni  janger yang diboyong langsung dari Banyuwangi dengan lakon Damarwulan Ngarit malam Minggu besok, dan bersedia menyaksikan pentas wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Semar Dadi Rojo di lapangan kecamatan malam Minggu berikutnya— yang kesemuanya diiming-imingi dengan hadiah traktor, sapi, kambing, bibit sawit, bibit karet, bibit padi, bibit jagung, dan bibit ikan yang disponsori oleh Marzuki—Kang Sarman pamit pulang, dan aku melepasnya dengan senyum dan dalam hati berkata—tepatnya berdoa, ”Semoga Allah berkenan membimbing, mengarahkan, dan memberi petunjuk untuk rakyat dalam memilih gubernur—juga memilih bupati, wali kota, wakil rakyat, dan kepala desa—karena selama ini rakyat secara sistematis dan terencana sudah dibimbing, diarahkan, dan diberi petunjuk untuk hanya memelih seseorang dengan serangkaian program-programnya yang manis di awal, dan semoga setelah terpilih dan menjabat tidak banyak melukai hati dan perasaan rakyat yang memilihnya, yakni dengan jalan melaksanakan kontrak politik dan mewujudkan janji-janji manis bermadunya. Tolonglah ya Allah, agar rakyat jangan sampai terus-menerus menjadi susah, dan menjadi korban atas berbagai tanda cinta, tanda kasih, tanda sayang, dan tanda bakti yang diterimanya dengan membayar harga yang sangat mahal, berupa penyesalan dan penderitaan yang harus dipikulnya selama sedikitnya lima tahun,” ujarku sambil menghela napas dalam dan berat.

—Brajaselebah, Lamtim, Agustus-September-November 2013           
    
    
Lampung Post, Minggu, 8 Desember 2013

Sunday, June 9, 2013

Ujian Prabasiwi

Cerpen Tarpin A. Nasri


NJANUR gunung! Edan! Seperti disambar geledek di siang hari bolong! Itulah kata yang paling tepat ketika istriku—Prabasiwi Dyah Wahyuning  Kinasih—menyuruhku menikah lagi. Jangankan dipoligami, mendengar—apalagi sampai  tahu—suami punya pacar, punya selingkuhan atau punya wanita idaman lain saja, biasanya istri sudah mecucu alias cemberut, makanan dibuat tidak enak dan disajikan tidak menarik, bicara ketus,  di tempat tidur tubuh sebeku es,  badan disentuh tangan ditepis,  tidur dipunggungi, ketika hasrat batin membuncah istri meradang: stop pelayanan!  Bahkan tidak sedikit istri yang pundung  sampai dengan yang paling sangar dan tragis: bratayudha. 

"Lha ini aku koq disuruh menikah lagi? Ada apa gerangan denganmu, Siwi?"

Oleh karena itu, ketika ada waktu yang pas untuk bicara, aku mendekati istriku yang sudah memberiku si Ganteng—Galih Galindra Prabu Wisesa,  dan si Cantik—Gendhis Cantika Puspitaningtyas.

“Jadi tidak saat liburan sekolah anak-anak nanti, kita bulan madu ke Kaliurang, Cinta?” tanyaku kepada Siwi, yang lagi asyik membaca majalah wanita ternama terbitan Ibu Kota.

“Honeymoon itu ya cocoknya dengan istri baru atau istri muda,”  jawab istriku mulai nyleneh lagi. “Bulan madu koq karo bojo sing wis tuwo, ya tidak serulah, Mas. Tidak romantis gitu lho," lanjutnya.

“Maksudmu gimana sih, Sayang?” tanyaku iseng. Aku tak mau terpancing.

“Kalau Mas mau menikah lagi, silahkan, dan kuikhlaskan lho, Mas,” jawabnya dengan tegas. “Punya istri lebih dari satu dibolehkan koq oleh agama kita, bahkan bisa sampai empat orang istri….”  lanjutnya dengan antusias,  yang langsung kusambar,

“Asalkan sang Suami bisa bersifat adil kan? Dan Mas terkasihnya Siwi ini, terus terang wae, belum tentu bisa bersifat adil. Dari pada tidak sanggup bersifat adil, lebih baik cukup beristri satu! Ingat itu! Jadi tidak asal poligami!”

“Nabi Ibrahim AS, Nabi Dawud AS, dan Nabi Sulaeman AS beristri lebih dari satu, demikian pula dengan Junjungan Kita Nabi Besar Muhammad SAW beristri empat, kenapa kita umat yang mengimani ajaran-Nya tidak mau mengikuti sunnah-Nya?”  ujar istriku, yang membuat aku jadi tambah penasaran.

“Iya waktu itu kan poligami terjadi untuk kepentingan penyebaran agama, karenanya semua mendapat ridhoi Allah SWT, karena Para Beliau itu terbukti bisa bersikap adil. Lha untuk  tujuan apa aku sampai harus berpoligami?”

“Kan untuk menghindari selingkuh, menjaga punya wanita idaman lain, atau menghindari zina,” sambar istriku.

“Apa selama ini aku selingkuh? Apa selama ini aku punya wanita idaman lain? Apa aku telah berbuat zina, sehingga Siwi—istri dunia-akhiratku, sampai menyuruhku harus menikah lagi?”

“Siapa tahu Mas mau melaksanakan syariat agama, menjalankan sunnah rosul, atau punya keinginan untuk lebih menyebarkan syiar agama?” tantang istriku.

“Apa melaksanakan syariat agama dengan baik dan benar itu harus dengan poligami? Apa bukti menjalankan sunnah rosul itu harus dengan beristri lebih dari satu? Apa untuk menyiarkan agama harus dengan beristri dua, tiga atau sampai empat?!”  jawabku setengah meradang.

Istriku santai saja dengan jawabanku.

“Dikasih enak, dikasih nikmat dan dikasih izin sama istri koq  tak mau sih, Mas?” tanyanya sambil senyum. “Padahal laki-laki di luar rumah ini, diam-diam banyak yang punya pacar,  diam-diam banyak yang punya selingkuhan, diam-diam banyak yang punya wanita idaman lain, bahkan banyak yang diam-diam menikah lagi!”

“Aku tidak termasuk yang engkau sebutkan tadi kan, Kasih?” tanyaku.
Istriku tersenyum manis sekali.

“Makanya aku tawari, makanya aku persilahkan, makanya aku izinkan, Mas. Tidakkah kau tertarik dan terpikat untuk melakukannya, Arjunaku?”

“Jawaban suamimu jelas dan tegas: tidak! Ti-dak! T-i-d-a-k!” jawabku.

“Karena, sekali lagi, aku belum tentu bisa bersikap adil. Lebih baik dan lebih aman cukup satu istri,” lanjutku.

“Beristrikan Siwi saja belum tentu aku bisa membahagiakannya lahir-batin, belum tentu aku bisa mencukupi  sandangnya, pangannya, dan papannya,  belum lagi kemungkinan terjadinya perceraian yang menyebabkan anak-anak jadi korban.”

“Aku bahagia koq dengan menjadi istrimu, Romeoku,” jawab Siwi.

“Sandang, pangan, papan dan masa depanku sudah Mas siapkan  semuanya,  anak-anak sudah disiapkan beasiswa pendidikannya, bahkan mereka sudah punya deposito sendiri-sendiri,” lanjutnya.

“Makanya aku ingin menghormati dan berterimakasih untuk semua kebaikkan dan jaminan hidup yang Mas berikan dengan mempersilahkan, membolehkan dan mengizinkan Mas untuk menikah lagi. Di luar sana banyak wanita dan janda yang siap dinikahi lho, Mas. Kasihan jika sampai mereka jadi perawan tua dan telantar!”

“Lho lho lho….” jawabku.

“Koq  bicaranya semakin lama semakin ngaco sih?” lanjutku mulai cemas. 

“Kamu masih sadar kan, My Soulmate?”

“Insya Allah aku sadar, Ramaku,” jawabnya.

“Aku hanya takut tak mampu dan tak sanggup menjadi  istri yang baik dan sempurna dalam melayani dan membaktikan diri kepada suami yang telah membuat aku tak cuma bahagia, akan tetapi telah membuat  hidupku tenang, nyaman, damai, tentram dan sejahtera, Imamku.”

“Tidak ada yang kurang dari pelayanan dan baktimu kepada suamimu, Julietku,” ujarku. “Makanya tak terlintas sedikitpun di hati dan di pikiranku, untuk memiliki lebih dari satu, apalagi sampai punya empat istri!” lanjutku. “Bagiku satu istri cukup untuk selamanya, Dinda.”

Ketika istriku mangap mau bicara aku langsung mengatupkan mulutnya dengan kalimat yang membuatnya mingkem terkunci.

“Soal datangnya  mentruasi, atau sakit, atau sibuk ngurusi anak-anak, terus Siti Khadijahku  merasa terganggu melayani kebutuhan rohaniku, aku bisa menerimanya dengan tulus dan ikhlas, diantaranya bisa kuisi dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanku,  atau dengan melukis yang menjadi hobiku, atau dengan meningkatkan ibadah melalui pengajian-pengajian. Jadi tidak ada masalah kan?!” ujarku membaca jalan pikiran dan isi hati garwo-ku.

“Ah yang benar….”  godanya.

“Jangan-jangan di laur sana….” lanjutnya tak tuntas, karena  langsung kupotong.

“Dijamin 100% di mataku, di pikiranku, di darahku, di napasku, di jantungku  dan di hatiku, hanya ada Prabasiwi Dyah Wahyuning Kinasih! Dan untuk semua itu aku berani bersumpah: demi  Tuhan! Demi Allah!” teriakku.

Istriku tersenyum, dan sikapnya santai saja.

“Tenang, Mas.  Tenang!  Te-nang! T-e-n-a-n-g! Tak usah teriak-teriak begitu. Santai saja. Dikasih kenikmatan koq malah marah-marah. Di luar sana banyak istri dan anak-anak yang jadi korban kekerasan, jadi korban penganiayaan, jadi korban penelantaran dan jadi korban perceraian oleh suaminya yang diam-diam punya pacar, punya selingkuhan, punya wanita idaman lain,  punya istri simpanan, atau karena poligami!”

“Makanya Mas-mu ini tidak mau begitu,” jawabku.

“Takut dirimu dan anak-anak yang jadi korban,” lanjutku. 

“Mas nanti yang malu sama tetangga, malu sama orang tua, malu sama masyarakat, malu sama agama, dan malu sama Tuhan! Lha wong belum bisa bersikap adil koq malah pecicilan dan bersemangat 45 untuk punya istri lebih dari satu! Apa pula nanti kata dunia?!”

“Kenapa harus malu, Mas?” tantangnya .“Kan aku setuju, mempersilahkan dan mengizinkan untuk itu?” lanjutnya. “Jadi harusnya tak ada masalah toh?”

“Tidak!” jawabku.

“Itu masalah buatku. Jangan-jangan aku malah terjebak, yakni niatnya mau melaksanakan syariat agama, demi menjalankan sunnah rosul atau untuk menghindari perzinahan, akan tetapi prakteknya malah menganiaya istri dan menyakiti anak-anak.  Jatuhnya nanti malah jadi fitnah!”

Dan tawaran untuk beristri lebih dari satu terus didengung-dengungkan oleh Siwi dalam setiap kesempatan, akan tetapi anehnya setelah  tawaran itu disampaikan, Siwi selalu mengakhirinya dengan sikap lemah lembut yang indah, penerapan kasih sayang yang mengguncangkan dan kemesraan di tempat tidur tanpa tanding, apalagi bila aku sudah sampai abang rai, gosong  kuping, gigi sudah gemeletuk dan tangan sudah terkepal.  Dengan sikap Siwi  yang seperti itu, ujung-ujungnya aku dibuat  terkapar dalam kepuasan tak terkisahkan, karena Siwi menerbangkan aku ke sorga dengan tuntas dan sangat sempurna.

“Jika sudah begini indah, nikmat, dan puasnya…” ujarku pada persetubuhan di akhir pertengkaran yang kesekian kalinya dengan tema poligami.

“Buat apa lagi aku harus punya istri lebih dari satu, Shintaku?” lanjutku sambil mencium kening dan kedua pipinya yang mandi keringat.

“Kan bisa lebih nikmat lagi dengan istri muda, Sayangku?”  jawabnya.

“Apalagi dia lebih cantik, bisa lebih hot dan digaransi lebih menggairahkan.”

“Itu berarti poligaminya untuk syahwat!” elakku. “Dan aku tidak mau munafik dengan berlindung di balik pembenaran itu!”

“Jadi gimana dengan tawaran Mama untuk  Papa berpoligami?”  tanyanya  dengan supermesra.

“Persetan dengan tawaran Mama itu!” jawabku. “Buat laki-laki lain silahkan saja melakukan poligami dengan beristri dua, tiga atau empat, biarlah pahala dan dosanya  ditanggung sendiri! Buatku— Jaka Sulaksana Tedjaningrat— cukup satu istri, yakni Siwi. Sekali lagi: Si-wi. S-i-w-i"

“Hanya Si-wi  ya, Pap?” tantang istriku sambil senyum.

“Ya! Ha-nya S-i-w-i, Mam!” tegasku mantap.

Selidik punya selidik, kenapa Siwi ngotot  menyuruhku untuk punya istri lebih dari satu, dikarenakan ketakutan.  Adik kandungnya punya istri lebih dari satu dan keluarganya berantakan, bahkan kini anak-anaknya ikut mBah-nya di Yogyakarta.  Dengan demikian aku telah lolos ujian kesetiaan Prabasiwi, yang memanfaatkan isu poligami yang kebetulan kini tengah menjadi trend.

Fakta yang kemudian kulihat di masyarakat, kebanyakkan praktek poligami tidak semata-mata demi melaksanakan syariat agama,  demi menjalankan sunnah rosul, atau demi menghindari perzinahan sebagaimana yang terjadi di zamannya Nabi Agung Muhammad SAW ataupun nabi-nabi sebelumnya, akan tetapi masih berkutat untuk memanjakan seekor belut agar bisa bladhas-bludhus  pada sepetak sawah sempit, sehingga menodai nawaitu atau semangat  mereka-mereka yang berpoligami murni untuk  melaksanakan syariat agama, untuk menjalankan sunnah rosul atau untuk menghindari perzinahan.

Braja Mulia-Braja Selebah-Lamtim, September 2012-April 2013.


Lampung Post, Minggu, 9 Juni 2013


Sunday, November 18, 2012

Istri yang Terpilih

Cerpen Tarpin A. Nasri 


DALAM urusan memilih jodoh, Prawiro Satrio Karto Subagyo?Papaku, dan Endang Dyah Sulastri Rahayuningsih?Mamaku, benar-benar menempatkan bibit, bebet, dan bobot, menjadi acuan utama, sehingga ketika aku memutuskan untuk menikah dengan Marina Zaraswati, Papa dan Mamaku yang masih berdarah biru itu langsung melakukan litsus dan hasilnya langsung disampaikan, ?Jika kamu berkeras untuk menikah dengannya, menikahlah dan itu artinya kamu tidak perlu lagi doa dan restu dari kedua orang tuamu,? kata Papa yang dijunjung tinggi oleh Mamaku.

Hal itu terjadi ketika aku bilang sejujurnya tentang Marina, ?Aku kenal Marina di sebuah klub malam secara tak sengaja, dan asal Marina dari keluarga kaya yang berantakan. Marina korban perceraian kedua orang tuanya sehingga Marina boleh dibilang produk wanita kota yang bebas bergaul atau salah urus, akan tetapi kini Marina telah kembali ke jalan yang lurus dan aku yakin Marina telah bertobat dengan sungguh-sungguh, maka aku ingin menikahinya lahir-batin.?

"Sudah berasal dari keluarga yang berantakan, calon istrimu itu rusak pula tampaknya," kata Mama dengan sangat kecut dan sinis sekali.

"Dia bekas bintang wanita malam, juara dugem, jago narkoba dan ratu seks bebas, Mam," tambah Dimas Ario Jayaningrat?adikku, mengompori Papa dan Mama.

"Apa di kolong jagat raya ini sudah tidak ada wanita lain yang pantas, layak dan terhormat untuk jadi menantuku, Joko?" tanya Papa dengan nada jauh sekali dari ramah. Apalagi wajahnya!

"Tak terbayang jika cicit-cicitku harus lahir dari wanita hina dan nista seperti itu," timbrung Ijjah Siti Kulsum, nenekku.

"Mau jadi apa nanti cicit-cicitku, Tarub?" tambah Amran Halim Karto Subagyo-kakekku. "Ini aib, noda dan najis untuk keluarga!" protes kakek.

Dalam "sidang paripurna" keluarga itu, semua tak ada yang setuju aku menyunting Marina. Akan tetapi semakin ditentang begitu, niatku semakin bulat menjadikan Marina sebagai Belahan Jiwaku. Aku yakin?bahkan haqul yaqin?Marina bisa menjadi istri yang salihah! ?Lihatlah buktinya nanti,? ujarku dalam hati.

***

KETIKA niat itu aku bicarakan dari hati ke hati dengan Marina, aku melihat ketabahan Marina yang luar biasa, dan aku juga melihat kehancuran Marina yang sangat dahsyat bila Marina tidak jadi kuselamatkan. Aku ingat pertanyaan Marina kala itu, "Apakah wanita bekas sampah dan kotor sepertiku tidak bisa atau haram menjadi perhiasan rumah tangga yang indah, Mas? Apakah terlarang bagiku untuk menjadi seorang wanita salihah, Mas?"

Aku menggeleng dengan mantap.

"Aku sudah memastikan keluarga besar Mas pasti akan menolak mantan wanita yang hina, penuh noda, nista, dan najis sepertiku," ujar Marina dengan tegar. "Dan ini jauh-jauh hari sudah kusampaikan kepada Mas, akan tetapi Mas selalu bilang 'Mas siap melawan gempuran badai', bahkan demi niat Mas untuk menyuntingku, Mas juga bilang 'Mas siap jika harus menebusnya dengan dibuang dari keluarga sekalipun'," lanjutnya dengan tenang.

Aku mengangguk dengan mantap sekali, lalu kuraih jemari tangan Marina, kuremas dengan lembut dan mesra, kemudian kubawa kedua tangan yang tergenggam itu ke hidungku, dan aku menciumnya dengan cinta selembut sutra, dengan kasih semanis madu dan dengan sayang yang tulus dan ikhlas seputih kapas.

"Mas tak akan mundur selangkah pun dari semua ini, Rin," tegasku setegar gunung batu.

"Apakah Mas siap sengsara dengan terbuang dari keluarga, lalu menikah dan hidup tanpa restu dari kedua orang tua Mas?" tanya Marina kembali.

"Aku tidak hanya siap, Rin," jawabku dengan mantap seliat kayu. "Akan tetapi aku juga tidak takut hidup denganmu. Tuhan bersama kita dan pasti Beliau menolong kita. Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Rin," lanjutku.

Marina menjatuhkan kepalanya di dadaku. Setelah kuelus kepalanya, tangisnya pecah. Baju dan dadaku tersiram air matanya yang deras mengalir. "Bukan dikarenakan kecantikanmu yang selangit dan mengguncangkan hati, bukan disebabkan keseksianmu yang bisa merontokan kesetiaan laki-laki, serta bukan juga tergiur kekayaanmu yang membuatku bertekad untuk menyuntingmu sekuat apapun rentetan badai yang pasti menggulung dan menghempasku, akan tetapi niatmu untuk tobat nasuha dan menjadi wanita salihah yang membuatku tak rela jika engkau harus kembali jadi kembang utama wanita malam, kembali jadi anak emas narkoba dan kembali jadi primadona kesayangan belantara seks bebas," tegasku.

Marina jatuh terkulai di pangkuanku, dan itu kutangkap sebagai perlambang hidup dan matinya telah bulat diserahkan kepadaku.

***

AKHIRNYA aku menikahi marina dan kami langsung hidup mandiri. Aku tak lagi dapat bantuan keuangan dari keluargaku, dan aku pun tidak lagi kerja di perusahaan keluargaku. Aku kerja di perusahaan orang lain. Untuk menutupi kebutuhan hidup kami di awal pernikahan, Marina--dengan tabungannya yang segunung dan aliran dana dari Bapak dan Ibunya yang deras--berperan sekali dalam mengepulkan asap dapur dan menggelindingkan roda rumah tangga kami.

Untungnya posisiku di kantor juga dari waktu ke waktu bergerak sangat bagus. Akan tetapi, sungguh bukan hanya karena itu yang membuatku layak bahagia, bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan. Tekad Marina yang istikamah untuk menjadikan dirinya sebagai wanita salihahlah yang memikatku untuk siap menangkis setiap badai yang datang mendera, utamanya badai yang datang dari tiga dunia yang pernah menjadikan Marina sebagai wanita yang memiliki kelas sangat istimewa. Di dunia malam: siapa yang tak kenal Marina? Di ranah narkotika: siapa yang tak tahu Marina? Di belantara seks bebas papan atas: siapa yang tak memuja Marina?

Di rumah Marina tidak bersedia mempekerjakan pembantu. ?Demi aku, Mas saja bersedia terbuang dari keluarga, masak aku dalam melayani semua kebutuhanmu harus dibantu pembantu,? katanya. ?Selagi aku masih bisa, biarlah semuanya kukerjakan sendiri, Mas. Melayani dan berbakti kepada suami buatku kini adalah suatu anugerah dan kehormatan, serta kewajiban dan ibadah!? lanjutnya dengan mantap.

"Apa tidak ingin bekerja dan tidak jenuh di rumah, Rin?" tanyaku sambil mencium keningnya dan membetulkan jilbab indahnya.

"Selain melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunah, kan masih banyak ibadah lainnya yang bisa aku kerjakan untuk membuang jenuh, Mas," jawabnya. "Aku total memilih jadi ibu rumah tangga agar aku bisa seratus persen mengabdikan diriku kepada suami," lanjutnya.

Aku mendengar baik-baik setiap untaian kata curahan hati Marina.

"Masa laluku yang hitam dan kelam di dunia malam dan narkotika, serta penambang dosa di lembah nista, kemudian dientaskan oleh Mas menjadi istri yang terhormat, rasanya tak cukup kubalas dengan pengabdianku 1 x 24 jam kepadamu, Mas?"

Kuraih bahu Marina lalu kurebahkan kepalanya di lekuk leherku. "Tidak segitunya kali," godaku kepadanya sambil kucium pipinya. "Tetaplah melangkah di jalan lurus untuk masa depan dan anak-anak kita kelak, Sayang," lanjutku.

"Apa pun yang Mas perintahkan asal itu tidak melanggar larangan agama, undang-undang, peraturan, etika, norma dan yang lainnya, dengan tulus dan ikhlas pasti kukerjakan meski harus bertaruh dengan nyawaku?" sambutnya.

"Hehehe. Maksudnya apa dan ke mana nih? Kok sampai harus bertaruh dengan nyawa segala, Kasih?" tanyaku.

Marina mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Aku tadi ke Dr. Mirna Astuti, Sp.O.G., katanya aku mulai hamil, Mas?" lanjutnya dengan lembut, mesra dan penuh syukur.

Karena aku tak kuat menahan bahagia dan syukur, refleks aku bopong Marina, dan aku melakukannya dengan menari dan berterima kasih tiada henti. "Terima kasih untuk anugerah yang terindah ini, ya Allah," ujarku. Habis itu kami berdua bersujud syukur untuk karunia dan anugerah yang tiada ternilai harganya ini.

***

DARI buah cinta kami lahirlah Laras Ayu Kembang Ati, yang pada suatu acara di sekolah anakku lima tahun kemudian menyedot perhatian seorang Bapak yang memberikan bantuan beasiswa untuk siswa teladan di sekolahnya. Orang tua itu jatuh hati pada darah dagingku dan Marina.

Penampilan Laras yang cantik, bersih, sopan, rendah hati, memikat dan cerdas mengantarkan pertemuan antara orang tua/wali murid dengan sang donatur, yang tidak lain dari Papaku. Kami berpelukan, bertangisan dan ketika seminggu kemudian Papa-Mama ke rumah, Laras dengan tiada keraguan sedikit pun diakui dan diterima sebagai cucunya. "Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah," ujar kami dalam sebuah sujud syukur.

"Mana istrimu, Joko?" tanya Papa dengan wajah dan mata yang memancarkan kebahagiaan.

"Iya mana menantu Mama, Nak?" sambung Mama tak kalah gembira dan syukur dengan Papa.

Ketika aku mencari-cari Marina ke segala arah, Marina muncul. "Saya di sini, Mas, Papa, Mama. Assalamualaikum?" jawabnya dengan sopan dan penuh hormat.

Kami sungguh terhipnosis melihat penampilan Marina yang sempurna sebagai wanita muslimah.

"Marina di awal hidupnya memang pekat melakukan amalan-amalan penduduk neraka, akan tetapi dan insya Allah setelah itu ia bisa dan biasa melakukan amalan-amalan penduduk surga," pujiku dengan tulus. "Dialah yang menjadikan rumah ini sebagai firdaus. Oleh karena dia, saya lebih betah di rumah dibandingkan berada di mana pun," lanjutku. "Karena di rumah ini ada Marina, istri saya yang terpilih, Papa, Mama," tegasku.

Kulihat Papa dan Mama membiarkan tangannya dicium Marina dan Laras, bahkan beberapa kali kulihat Marina dan Laras dipeluk dengan hangat dan mesra oleh Papa dan Mama.

"Kamu tidak salah pilih, Joko," aku Papa lembut sambil senyum tulus.

"Iya, Nak," timpal Mama. "Kami yang selama ini salah lihat, dan terlalu cepat memutuskan," lanjutnya. "Sekarang tidak ada lagi dinding pemisah di antara kita," lanjut Mama lagi.

"Semua ini karena Mas Joko Tarub Umbaran yang sukses melintasi rentetan dan menangkis gempuran badai, sampai Laras lahir, besar, serta ketemu dengan kakek dan neneknya," ujar Marina dengan sinar mata lembut dan penuh cinta yang diarahkan kepadaku.

Sejak itu setiap akhir pekan jika tidak Papa dan Mamaku yang melewatkannya di rumah kami, kamilah yang menghabiskan akhir minggu di rumah Papa dan Mamaku, dan Marina?juga Laras?selalu jadi bintang karena kesalihanan dan keagungan budinya.

Marina yang telah berhasil menjadi sebaik-baiknya perhiasan rumah tangga, juga membuat kakek dan nenekku selalu minta dilayani dan diurusi olehnya, dan Marina menyambutnya dengan tulus dan ikhlas untuk ibadah sehingga Marina melakukannya dengan cinta sebening embun, mengerjakannya dengan kasih seanggun gunung dan menunaikannya dengan sayang seputih salju.

Braja Mulia-Braja Selebah-Lamtim, Agustus 2012


Lampung Post, Minggu, 18 November 2012          

Sunday, February 26, 2012

Ketika Kembang Mencintai Ngarai

Cerpen Tarpin A. Nasri


TERNYATA tidak mudah untuk memetik cinta Gunung Geulis. Jatuh bangun aku memburunya, bahkan hatiku sampai berdarah-darah dibuatnya, tapi cinta yang ingin kudapat dari Gunung belum juga bisa kupetik. Sikap Gunung merampok seluruh kepenasaranku, karena cintaku diterima juga tidak, ditolak pun tak jelas. Ngambang. Tak pasti. Anehnya, kalau Gunung kuajak nonton pertunjukkan teater di TIM atau di Salihara, menikmati konser jazz di Balai Sarbini atau di Jakarta Convention Centre, nonton ketoprak humor di Gedung Kesenian Jakarta, dan berburu buku baru di Gunung Agung, sampai belanja pakaian di Sogo, Gunung tak pernah menolak, bahkan ketika kuajak berkenalan dengan keluargaku di Yogyakarta, Gunung juga menyambutnya dengan senang hati. Hanya ketika kutembak guna minta kepastian cinta Gunung untuk siapa, Gunung tak juga mau menjawab. Mulut Gunung rapat terkunci, di layar mata dan di lintasan wajahnya tak juga kutemukan cinta mengombak dan menampakkan jati dirinya.

Mendapati kenyataan yang seperti itu, jujur saja, aku jadi ragu antara terus maju atau step by step mundur. Akhirnya setelah kupertimbangkan lebih dari dua bulan, aku memutuskan untuk menjaga jarak saja dengan Gunung. Antara mengejar atau menyerang dengan menunggu atau mempelajari perkembangan yang terjadi, porsinya imbang. Terus terang saja hal itu kulakukan karena aku masih menaruh harapan dengan cinta Gunung.

"Gimana progress percintaanmu dengan Gunung, Ngarai Elok?" tanya sahabatku Laut Biru saat kami makan siang di jam istirahat kerja.

Aku menunda menyuapkan nasi ke mulutku. Aku angkat bahu dengan wajah berkabut.

"Maksudmu gimana, Ngarai?" tanya Laut Biru. "Kok angkat bahu?"

"Tak ada kemajuan yang signifikan, Laut Biru," jawabku. "Cintaku diterima juga tidak dan ditolak pun tidak oleh Gunung," lanjutku. "Hanya bila kuajak ke mana pun, Gunung tak pernah menolak, dan Gunung juga selalu punya waktu untukku."

"Terus gimana dong langkah selanjutnya?" kejar Laut Biru.

"Wait and see sajalah dulu," jawabku. "Mungkin dengan demikian akan ada yang berubah ke arah yang lebih jelas dan lebih pasti. Kebetulan juga kini banyak yang harus aku kerjakan, sehingga ingatanku dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi tak terus-terusan kepada Gunung seorang."

"Okey jika itu yang terbaik buatmu, Ngarai," jawab Laut Biru. "Aku selalu siap membantu jika kau butuhkan, Sob. Okey?"

Aku mengangguk. "Thanks, Bro," jawabku, lalu kami melanjutkan makan sampai selesai.

***

AKHIRNYA aku benar-benar menanti dan melihat apa yang terjadi dengan Gunung. Ketika Gunung jalan dengan Bukit Topan, meski aku kecewa dan sedih, aku harus legowo. Gunung berhak memilih pria terbaik untuk hidupnya. Apalagi kutahu, bagi Gunung menikah itu hanya terjadi sekali untuk seumur hidup. Bahkan ketika Awan Langit melakukan pedekate dan kemudian menembak Gunung, aku juga menyikapinya dengan menghibur diri, "Kalau Gunung jodohnya Ngarai, Gunung tak akan jatuh ke dalam pelukan siapa pun."

Ketika seminggu kemudian kami janjian untuk makan siang, santai saja aku menunjukkan sikapku. "Akhir-akhir ini, maaf, aku melihat kau banyak didekati, bahkan ditembak oleh mereka, yang ingin menjadikanmu pacar, bahkan mungkin istri," kataku. "Kuharap Gunung bisa memilih salah satu yang terbaik untuk hidupmu...."

Gunung mengangguk. "Sejauh ini belum ada satu pun yang aku pilih, aku masih mengejar karierku, dan aku juga masih belum ingin berumah tangga. Semua laki-laki yang pedekate kepadaku masih kuanggap sebagai teman biasa. Jadi, belum ada salah satu yang kuistimewakan."

"Tak ditakut disebut wanita yang suka gonta-ganti pria?" pancingku.

"Kukira aku enggak gonta-ganti laki-laki. Dengan siapa pun aku berteman."

"Tak takut dengan usia yang terus berjalan?" tantangku.

"Aku wanita normal, dan aku juga ingin menikah, punya anak, lalu jadi ibu rumah tangga," jawab Gunung. "Tapi sampai detik ini belum ada laki-laki yang mencuri hatiku dan belum ada pria yang berhasil menggetarkan cintaku. Terus kalau faktanya begini mau diapakan, Ngarai? Apa aku salah bersikap jujur seperti ini?"

Aku menggeleng. "Jika itu yang terbaik untukmu saat ini, lakukanlah dengan enjoy," kataku. "Siapa Arjuna yang terbaik untukmu, hanya kamu yang tahu. Dan kapan kau harus mengakhiri masa lajangmu, kamu juga yang mutusin, bukan orang lain dan bukan pula orang tuamu kukira."

"Kamu sendiri gimana, Ngarai?" tanya Gunung balik bertanya. Aku gugup, karena aku tak menduga akan dapat serangan pertanyaan seperti itu. "Sudah ada Juliet yang kau pilih?"

Sejenak aku diam dan dalam hati kemudian aku bicara, "Kamulah Juliet yang kupilih, Gunung. Apakah kau tidak tahu? Apa kamu pura-pura tidak mengerti?"

"Lho ditanya kok diam?" desak Gunung. "Kenapa? Salahkah pertanyaanku?"

Aku menggeleng, lalu tersenyum untuk menyamarkan kecewa. "Tak ada yang salah dengan pertanyaanmu, Gunung."

"Jadi jawab dong kalau begitu?"

"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin mencari jodoh yang terbaik untukku, tapi sampai detik ini aku belum menemukan jodohku. Kalau dengan wanita yang kukehendaki, Tuhan sudah mempertemukannya...."

"Siapa wanita itu, Ngarai?" potong Gunung. "Akukah wanita itu?"

Aku tersenyum. Lalu aku ngeles. Takut cintaku pada Gunung bertepuk sebelah tangan. "Mari kita lanjutkan makannya, Gunung?"

***

KARENA kulihat cinta Gunung belum jelas entah untuk siapa, aku jadi punya ide menggandeng Kembang Wangi yang kuskenariokan seolah-olah jadi pacarku untuk memancing reaksi Gunung: Apa Gunung memberi perhatian atas kebersamaanku dengan Kembang Wangi?

Sial! Sampai sejauh ini Gunung enjoy saja, bahkan Gunung sempat mengucapkan selamat via es-em-es tanpa meraba desir sedih dan robekkan kecewa di hatiku: "Selamat dan sukses atas keputusan Ngarai yang telah memilih Kembang Wangi sebagai kekasih". Dan di lain waktu ketika kami tepergok makan siang di sebuah kafe di selatan Jakarta, tak lama kemudian Gunung kirim e-mail yang membuatku nyaris putus asa: "Aduh...semakin asyik dan lengket saja nih sejoli cinta Ngarai Elok Sakti-Kembang Wangi. Kapan nih tunangannya? Jangan lupa Gunung diundang ya?"

Atas dasar itu, aku kemudian memutuskan untuk tidak menunggu-nunggu Gunung, apalagi Gunung kini kulihat sering dikawal makan siang dan diantar pulang kantor oleh Bintang Kejora. Mendapati kenyataan pahit di luar skenarioku, aku frustrasi bukan main, sehingga semangat kerjaku drop, pikiranku kacau, dan kerjaku banyak yang berantakkan. Akhirnya dari pada merusak semuanya, aku putuskan untuk ambil cuti dulu. Otak, pikiran, dan perasaanku heng....

Di saat aku menghilang itulah, Gunung deras kirim es-em-es ke handphone-ku dan e-mail Gunung juga menyerbu laptop-ku. Gunung bertanya: kenapa aku menghilang, di mana aku berada, dan sampai kapan sembunyi. Di lain pihak Kembang Wangi juga menguberku dan minta aku bertanggung jawab. Ternyata Kembang Wangi mencintaiku. Witing tresno jalaran soko kulino. Kebersamaannya bersamaku telah menumbuhkan cinta suci. Sementara cinta matiku justru kepada Gunung!

Ketika keduanya kemudian meminta aku memilih dan menentukan sikap. Aku dihadapkan pada posisi sulit. Kalau aku memilih Kembang Wangi, Gunung pasti terluka. Jika aku memilih Gunung, Kembang Wangi jelas sakit hati. Maka biar adil aku tidak memilih keduanya.

"Maaf bukan aku tidak mencintaimu, Gunung," kataku kepada Gunung. "Cintaku kepadamu memang cinta mati, tapi aku juga tak mau melukai Kembang Wangi," lanjutku. "Lagi pula kamu sudah mempunyai Arjuna, yang ke mana pun kamu pergi dengan setia mengawalmu!"

Sedangkan untuk Kembang Wangi aku bilang, "Cinta sucimu kuterima dan kuhargai lahir-batin, tapi aku juga tak ingin menyakiti Gunung."

***

KETIKA Gunung dan Kembang Wangi mengantarkan kepindahan tugasku ke Yogyakarta, di Stasiun Gambir, aku bilang kepada keduanya. "Ini keputusan yang berat dan sulit, tapi aku sudah memilih dan memutuskan untuk tidak mencintai siapa pun, biarlah aku pilih jalan sendiri: aku rela membujang sampai Tuhan mempertemukanku dengan jodohku. Adil bukan?"

Menjelang detik-detik terakhir keretaku berangkat ke Yogyakarta, Bintang Kejora menjemput Gunung yang berlinang air mata. Dan ketika aku naik gerbong kereta dan duduk di kursi yang nomornya tertera dalam tiket, kulirik kursi di sebelahku ternyata masih kosong. Hanya dua menit menjelang kereta berangkat, seseorang mengusik lamunanku yang kukerjakan sambil bersandar di sandaran tempat duduk dan memejamkan mata. "Maaf, numpang lewat, kursi saya di sebelah Anda," katanya.

Kubuka mataku pelan-pelan. "Kembang Wangi...," kataku seperti dalam mimpi.

"Aku juga mau ke Yogyakarta untuk mencari pelabuhan cinta, serta buat menemukan dermaga untuk kasih dan sayangku. Entah siapa dia, biarlah Tuhan yang memilihkan jodoh untukku."

Ketika kereta bergerak dan meninggalkan Stasiun Gambir, aku masih diam dan berpikir. "Tuhan, apakah ini jodoh pilihan-Mu untukku?" tanyaku kepada-Nya, dan aku sama sekali tak mengusik ketika dua jam kemudian Kembang Wangi tertidur pulas menyandar di bahu, dan kemudian jatuh ke pangkuanku sepanjang perjalanan.

Ketika sampai Stasiun Tugu, barulah kami bingung. "Mau ke mana kita, Mas Ngarai?"

"Lho kamu memang mau ke mana?" aku balik bertanya kepada Kembang Wangi yang dengan manis dan mesra menambah panggilan "mas" di depan namaku.

"Tolong bawa dan antarkan aku sekarang ke rumah orang tuaku di Sleman, dan sekalian lamar aku, karena aku tak mungkin lagi bisa lepas darimu, karena cintaku kepadamu bukan cuma cinta suci, tapi cinta mati, Mas Ngarai!"

"Kembang Wangi...," ujarku kaget dan bungah. "Kamu...."

"Jangan biarkan hidupku, cinta suciku, cinta matiku, dan kecantikan-keayuan-kemanisan-keseksianku dimakan waktu tanpa Mas Ngarai nikmati. Berikan cinta suci Mas Ngarai kepadaku dan berikan pula cinta mati Mas Ngarai kepada Gunung untuk Kembang Wangi. Apakah Mas Ngarai tak yakin bahwa aku adalah jodoh pati Mas Ngarai? Aku yakin, aku diciptakan Tuhan khusus untukmu, Mas Ngarai...."

Karena semuanya sudah jelas aku langsung menggandeng tangan Kembang Wangi keluar dari Stasiun Tugu, dan dengan menyewa taksi aku membawa Kembang Wangi ke rumahnya. Begitu sampai di rumah joglo yang indah, bersih, anggun, cantik dan asri, bapak dan ibu, serta adik-adik Kembang Wangi, dan ditambah dengan beberapa saudara dekat, menyambut kedatangan kami dengan riang gembira.

"Inikah Arjunamu yang akan memberi kami beberapa orang cucu yang cantik dan ganteng, Nnuk Wangi?" tanya bapak Kembang Wangi, yang diamini oleh anggukan orang-orang berwajah sumringah yang turut menyambut kami.

Kembang Wangi tak segera menjawab. Kembang Wangi melirikku untuk segara menjawab. Melihat gunung harapan menjulang tinggi di kelopak matanya dan lautan keinginan terhampar begitu luas di wajahnya, tak ada kata yang lebih indah yang keluar dari mulutku untuk anak ningrat yang masih kerabat Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu kecuali: "Inggih, Kanjeng Romo...."

Selanjutnya aku sibuk membopong Kembang Wangi yang langsung pingsan mendengar jawabanku, yang kupastikan sangat berkenan dan begitu menggembirakan hatinya.


Lampung Post, Minggu, 26 Februari 2012

Sunday, August 28, 2011

Syukur Kembali Fitri

Cerpen Tarpin A. Nasri


SYUKUR bukan baru kemarin memeluk Islam dan bukan baru kemarin pula menjalankan ibadah puasa. Akan tetapi, untuk puasa tahun ini, tampaknya Syukur benar-benar ingin puasanya diterima Allah swt. Syukur menginginkan puasanya tak hanya dapat lapar dan dahaga. Tentulah sia-sia puasa yang dikerjakan sejak terbit fajar sampai matahari tenggelam kalau hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

"Seminggu menjelang datangnya bulan suci Ramadan, saya sudah siap-siap menyongsongnya dengan riang gembira, tulus, dan ikhlas. Fisik dan mental pun sudah saya siapkan untuk menjalani serangkaian ibadah lain di bulan suci Ramadan ini, Pak Ustaz," ujarnya kepadaku.

Aku tersenyum menyambut semangat Syukur, yang selama ini orang mengenalnya sebagai bocah brengsek, anak rusak, jagoan kampung, preman desa, anak prapatan, dan ahli molimo—mabok, maling, madon. Karena Syukur mulai insaf, kampung kami jadi aman dan tenteram.

Aku juga sudah tak mendengar lagi kabar tentang kelompok Syukur yang mabuk-mabukan di poskamling, tak terdengar lagi ada pencurian, tak terlihat lagi ada orang dipalak dan tak tersiar lagi anak perawan atau janda bunting tanpa ketahuan siapa pejantannya. Pesta hajatan dengan dangdut dan organ juga sepi dari ajang mabuk-mabukan dan perkelahian dengan senjata tajam atau pecahan botol. Insafnya Syukur disambut syukur, gembira, dan terima kasih.

"Supaya puasa Mas Syukur diterima oleh Allah, tolong jauhi segala larangan Allah agar hal-hal yang membatalkan pahala puasa bisa dihindari," kataku.

"Iya, Pak Ustaz," jawabnya. "Tapi puasa yang membuahkan amal yang bisa diterima langsung oleh Allah itu berat ya, Pak Ustaz?"

"Beratnya di mana?" sambutku kalem. "Kan Mas Syukur sudah menyiapkan diri secara fisik dan mental sebelum puasa itu datang?"

"Kalau sekadar menahan makan dan minum masih bisa saya kerjakan, Pak Ustaz. Tapi..." ujarnya tak lanjut.

"Tapi apa, Mas Syukur?"

Syukur hanya tersenyum. Maka aku angkat bicara, "Setelah melaksanakan ibadah wajib, seperti sholat, atau bila tidak ada yang harus dikerjakan lagi, demi untuk menjaga lisan atau ucapan, juga menjaga telinga dan menjaga mata, sebaiknya Mas Syukur tidur saja, atau membaca Alquran."

Syukur mengangguk setuju dan aku menambahkan lagi, "Bila malam, daripada begadang di pos ronda, main gitaran, menggoda janda, dan mengencani wanita bersuami yang ditinggal merantau, lebih baik tadarus di musala atau berserah diri mohon ampunan Tuhan," kataku.

"Anu lo, Pak Ustaz. Saya kan belum bisa ngaji, Pak Ustaz?" katanya malu-malu.

"Mendengarkan orang mengaji sambil terus belajar, pahalanya sama dengan yang mengaji, sama dengan yang tadarus, sama dengan yang baca Alquran," ujarku.

Aku masih dengan sabar mendengarkan apa yang mau diomongkan Syukur.

"Satu lagi Pak Ustaz," pintanya.

"Apa?" jawabku.

"Kalau melihat wanita cantik, manis, seksi dan montok bisa membatalkan puasa ya, Pak Ustaz?"

"Tuhan memberi karunia mata kepada kita untuk melihat. Wanita yang seperti itu boleh dilihat bila tak sengaja. Yang tak boleh itu, setelah dilihat dimasukin ke hati untuk kemudian... maaf, dibayangkan bagaimana enaknya bila dinikmati. Itu yang tak boleh dan bisa membatalkan pahala puasa."



***

SEJAK itu, Syukur memang banyak berubah. Setiap datang waktu salat lima waktu aku sering ketemu di musala, dan waktu salat Jumat juga aku sering jumpa. Pas buka puasa bersama di masjid kampung, Syukur ada di sana.

Untuk tidak kembali ke masa lalunya, aku ada pemikiran untuk mengajak Syukur bekerja. Sejak kuselamatkan dari kemungkinan dihakimi dan dibakar massa ketika Syukur tertangkap tangan mencuri motor di kampung tetanggaku, Syukur memang berubah dan nurut kepadaku.



"Ini maaf lo, Mas Syukur," kataku hati-hati sekali. "Orang hidup itu tak melulu salat atau puasa lo."

"Maksudnya?" sambutnya.

"Mas Syukur kan masih muda, pasti mau nikah, pasti ingin punya baju dan sepatu baru, pasti ingin punya motor dan suatu saat Mas Syukur juga harus pisah dari orang tua kan?" ujarku.

"Semua itu benar Pak Ustaz," sambutnya.

"Jadi Mas Syukur mulai sekarang harus mulai berpikir untuk bekerja," tegasku.

"Kerja apa ya, Pak Ustaz? Saya cuma lulusan SMP," jawabnya dengan muka bingung.

Aku tersenyum. "Kalau kerja di toko material dan bangunan milik saya bagaimana?"

"Saya ini bekas orang enggak beres lo, Pas Ustaz? Apa Pak Ustaz percaya sama saya?"

"Mas Syukur menjadi orang tak beres kan dulu," jawabku. "Sekarang Mas Syukur sudah jadi orang beres kok. Percayalah."

"Tapi cap itu enggak mudah terhapus begitu saja lo, Pak Ustaz. Masyarakat belum percaya dan diam-diam masih menghukum saya dengan kecurigaan-kecurigaan mereka."

"Inilah kesempatan yang baik buat Mas Syukur untuk membuktikan diri bahwa Mas Syukur itu bisa dipercaya, tak perlu dicurigai, tak perlu dihukum diam-diam, dan yang terpenting, Mas Syukur juga bisa jadi orang baik."

Syukur diam sejenak. Ada cairan bening yang mengembang di kelopak matanya, yang kemudian berubah jadi butiran yang menggelinding membuat anak sungai di pipinya.

"Kok Pak Ustaz tak menghukum saya seperti mereka? Kok Pak Ustaz tak menghakimi saya? Kok Pak Ustaz enggak melecehkan saya? Kok Pak Ustaz tak menghina saya? Kok Pak Ustaz mempercayai saya? Kok Pak Ustaz enggak menjauhi saya? Kok Pak Ustaz tak alergi dengan saya?"

Aku tak mau menjawab pertanyaannya. Aku malah menghadiahi Syukur senyuman.

"Besok sudah bisa kerja kan, Mas Syukur?"



***

SYUKUR ternyata rajin bekerja, jujur, dan ramah melayani pembeli. Lambat laun banyak juga orang yang mulai percaya dan suka dengan pelayanannya. Syukur orangnya ringan tangan, sehingga sering dapat uang persenan dari pengembalian belanjaan.

Dua minggu setelah Syukur kerja, aku menyerahkan pengelolaan toko material dan bangunan itu kepadanya tanpa sedikit pun takut uangku sebagaian di-tilep atau dibawa lari olehnya. Benar saja, sebulan kemudian aku diserahi setumpuk uang pecahan ribuan, dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan, dan dua puluh ribuan, jumlahnya berapa aku tak menghitungnya.

"Ini uang apa, Mas Syukur?" tanyaku.

"Dikasih pembeli, Pak Ustaz."

"Kok dikasihkan ke saya? Maksudnya apa ya?"

"Saya bingung uang itu milik saya atau milik toko Pak Ustaz? Saya kan sekarang kerja dengan Pak Ustaz?"

Benar kan? Aku yakin Syukur jujur dan bisa dipercaya. Akan tetapi, setelah setengah tahun Syukur kerja dan dan anak sulungku, Herlina Kusuma Wardhani, kelihatan mulai dekat dan tertarik dengan Syukur, Syukur jadi sering gelisah. Bahkan, ketika Herlina semakin terang-terangan menunjukkan minatnya, Syukur langsung minta berhenti bekerja. Karuan aku kaget.

"Kenapa minta berhenti? Apa Mas Syukur sudah dapat pekerjaan yang lebih baik dengan upah yang lebih bagus? Kalau itu alasannya, saya setuju Mas Syukur berhenti kerja di tempat saya. Bagaimana?"

"Saya enggak ada pilihan pekerjaan lain, Pak Ustaz," jawabnya. "Tapi ini semua karena saya menghormati Pak Ustaz dan keluarga. Saya enggak mau kurang ajar, dan tak mau disebut orang yang tak tahu diri, apalagi tak mengerti balas budi. Pak Ustazlah yang menyelamatkan saya dan telah meng-uwongke saya seperti ini."

"Maksudmu apa, Mas Syukur?" tanyaku.

Syukur diam sejenak. "Ini ada kaitannya dengan putri Pak Ustaz, Herlina," ujarnya dengan berat hati-hati.

"Kenapa dengan putri saya itu, Mas Syukur?" tanyaku pura-pura tak tahu.

Syukur tak menjawab, tetapi Syukur memberikan amplop kepadaku yang diambil dari saku bajunya. "Saya tak mau membalas air susu yang Pak Ustaz berikan ke saya dengan air tuba. Saya sadar dan tahu diri, saya ini bekas ahli mabuk, ahli maling, ahli madon, preman, dan sampah masyarakat. Saya enggak mau menaburkan aib ke muka Pak Ustaz dan keluarga. Herlina terlalu suci untuk saya dan saya menghormati Pak Ustaz."



***

SEJAK itu Syukur berhenti bekerja dan kudengar berhasil membeli beberapa puluh ekor kambing dari hasilnya bekerja denganku. Bahkan, kudengar dia juga berternak ikan lele, dibantu teman-teman yang dulu jadi komplotannya.

Ketika aku butuh kambing untuk kurban, aku menemuinya sekalian untuk Herlina yang begitu kuat mencintai Syukur. Ditinggal Syukur, Herlina sampai mogok makan dan mogok bicara.

Aku membeli dua ekor kambing dan dipilihkannya yang paling gemuk dan paling sehat, hanya ketika bicara harga Syukur kebingungan bukan main. "Ini kambing terbaik dan tersehat yang saya punya, Pak Ustaz. Dulu waktu saya beli kambing ini sakit-sakitan, kudisan, dan kurus dengan harga beli Rp250 ribu. Jadi, sekarang terserah Pak Ustaz mau ngasih keuntungan saya berapa? Berapa pun keuntungan untungannya saya ikhlas menerimanya, Pak Ustaz."

Aku juga sudah tahu harga kambing yang pantas dan sewajarnya itu berapa, akan tetapi urusan yang terpenting sejatinya adalah yang menyangkut Herlina. "Mas Syukur mbok sekali-kali buka puasa di rumah? Herlina memasakkan pepes ikan mas kesukaanmu lho."

Syukur diam. Wajahnya penuh warna. Ada rona bingung dan tak percaya. Akan tetapi kulihat ada sekelebat bahagia.

"Kasihan Herlina yang sudah payah-payah belanja dan sudah masak susah-susah untukmu," godaku seraya melanjutkan. "Kalau Mas Syukur tak ke rumah, nanti dia kecewa berat lo."

"Janganlah karena nila setitik dari saya, maka rusaklah susu sebelanga Pak Ustaz dan keluarga," ujar Syukur. "Dalam hal ini nama baik dan kehormatan Pak Ustaz sangat saya jaga," lanjutnya.

"Bila Mas Syukur tidak rindu kembali ke masa lalu, kupikir tak ada masalah," jawabku enteng saja.


"Kalau soal itu sih saya sedang menuju tobat yang setobat-tobatnya, Pak Ustaz," tegasnya.

"Kalau begitu tak ada masalah dong, Mas Syukur?" tantangku.

Syukur tak menjawab. Kubiarkan Syukur berpikir. Akhirnya Syukur mengajukan pertanyaan, "Boleh saya mengajukan satu pertanyaan, Pak Ustaz?"

Aku mengangguk tulus disertai senyum yang tulus, arif, dan teduh.

"Apa Pak Ustaz tidak malu, tidak merasa turun derajat dan tidak merasa kotor kehormatan dengan mengambil mantan pemabuk, bekas pemaling, dan mantan pe-madon, bekas preman, mantan orang enggak genah, bekas orang rusak, dan bekas sampah masyarakat untuk Herlina yang suci, beriman, bertakwa, dan solehah?" tanyanya.

"Herlina akan membantu menuntunmu menuju jalan yang diridai Allah, dan akan mengingatkanmu untuk tidak tergiur menapaki jalan yang dilarang Allah," ujarku.

Jika aku terharu dengan apa yang dikerjakan Syukur, itu bukan karena Syukur mencium tanganku dengan simbahan air mata haru dan bahagia, tetapi karena Syukur benar-benar telah kembali ke jalan yang benar.



DAN pada ramadan tahun ini aku telah berkenan menghadiahkan kado istimewa untuk Syukur, karena Syukur telah kembali kepada kefitrian dengan taubatan nasuha, yakni tobat yang sebenar-benarnya tobat. Untuk semua itu, aku kira Herlina pantas sekali untuk mendampingi Syukur.

Keyakinanku tak meleset secuil pun, Herlina hidupnya tenang, nyaman, damai, bahagia, dan sejahtera di tangan seorang imam dan kepala rumah tangga yang bertanggungjawab siang-malam, lahir-batin, dan dunia-akhirat, yang kemudian kutambahi namanya menjadi Muhammad Syukur Abdullah.

Lampung Timur, Agustus 2011


Lampung Post, Minggu, 28 August 2011

Sunday, June 5, 2011

Sepenggal Cinta

Cerpen Tarpin A. Nasri


DYAH Nareswari Pramodya Wardhani adalah adik kelasku ketika kami sama-sama di SMP. Tapi aku tidak terlalu akrab dengan Dhani. Aku hanya tahu dan kenal Dhani. Tak lebih dan tak kurang. Maklum selain Dhani itu paling manis dan tercantik di sekolah kami, Dhani juga anak orang paling tajir di kecamatan kami. Meski cuma untuk cinta monyet, hanya siswa yang sepadan sajalah yang sepatutnya dekat dengan Dhani. Aku, Galih Prabu Kreshna, mana berani mendekati Dhani. Pungguk merindukan bulan kupikir masih wajar, tapi kalau aku sampai berani ngesir Dhani, artinya aku sudah lebih edan dari si pungguk yang merindukan bulan. Aku benar-benar tidak ngaca, alias tidak tahu diri bila sampai nekat mencintamonyeti Dhani.

Tapi siapa sangka setelah kami tamat SMP dan tidak bertemu dalam kurun waktu puluhan tahun, kini kami dipertemuakan kembali. Kami sama-sama bekerja di sebuah perusahaan yang dimerger. Kami kini bekerja di perusahaan tambak udang. Kami berkerja dalam satu atap. Hanya beda divisi dan beda ruang kerja.

Karena kami bekerja di perusahaan yang sama, kami jadi sering ketemu. Di antaranya bila kami makan siang atau kalau aku ada keperluan ke divisi tempat Dhani bekerja.

Witing tresno jalaran soko kulino tak dapat kami hindari. Bermula dari kadang-kadang ketemu, lalu sering bertemu, benih-benih sukaku kepada Dhani tumbuh dengan subur dari hari ke hari, dan akhirnya cintaku kepada Dhani mekar tanpa dapat kukerangkeng. Hanya masing-masing kami masih eling.

Untuk mengatakan isi hatiku, jelas aku tak boleh gegabah, karena meski rumah tanggaku tidak terlalu bahagia, dan rumah tangga Dhani juga tengah digempur masalah, tentu cinta ini tak boleh diumbar begitu saja. Selain rawan gosip dan kami bukan ABG lagi, masing-masing dari kami juga masih terikat pernikahan.

Aku dan Dhani lebih memilih menenggelamkan diri pada pekerjaan dan hobi kami masing-masing, dari pada memanjakan cinta kami dengan mencari-cari kesempatan untuk bertemu dan berdekat-dekatan.

Sejalan dengan laju waktu, tampaknya cinta kami terus bertumbuh tanpa bisa dicegah. Aku juga menangkap indahnya pesona sinyal-sinyal keseriusan cinta Dhani. Hanya kami sama-sama masih menahan diri untuk mengutarakannya. Alhamdulillah. Rem cinta kami masih pakem.

***

SETENGAH tahun kemudian aku hampir menyerah oleh hasrat cintaku kepada Dhani yang mendera tanpa ampun. "Maafkan aku, Dhani. Aku... aku..." kataku gagap dan tak lanjut.

"Ada apa, Mas Galih?" sambutnya ketika kami kebetulan makan siang bersama di kantin yang siang itu agak sepi.

"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," jawabku. "Tapi nanti saja deh. Ayo sekarang kita makan dulu," elakku berusaha ceria, sekaligus menyelamatkan diri dari sergapan masalah yang hampir pasti bakal membelit kami bila dimanjakan.

Aku makan di depan Dhani dengan hati bergemuruh dan kepala menggasing. "Harus dari manakah aku mengutarakan cintaku yang tulus kepadamu, Dhani?"

Karena aku tak siap dengan risiko ditolak mentah-mentah, dan aku juga tak sanggup jika disebut tak tahu diri, niatku untuk bilang ‘aku cinta padamu’ kukandaskan begitu saja. Aku takut keliru dan salah menangkap sinyal cinta Dhani.

Meski aku tidak terus bilang "aku cinta kepadamu", aku menyalurkan hasrat ikhlasku kepada Dhani dengan mengirim short message service (SMS) secara berkala, seperti mengucapkan: assalamu’alaikum dan selamat pagi, tanya: apa kabar, mengingatkan: sudah makan siang atau salat belum, sampai kepada pesan yang lebih spesial dan tendensius: jangan lupa istirahat, kerja yang rajin, jaga kesehatan, jaga diri, jaga kehormatan, atau ngecek dengan penuh perhatian : gimana kabar anak-anak.

***

KETIKA kebersamaan kami genap setahun, tentunya kami tidak bisa terus begini. Ini adalah sepenggal cinta terlarang. Cintaku kepada Dhani yang menggunung bisa memuncratkan lahar aib bila diteruskan. Sementara itu aku juga merasakan cinta Dhani kepadaku dihadapkan pada kondisi seperti harus makan buah simalakama. Karena Dhani bukan wanita bebas. Dhani wanita berstatus. Itulah tebing karang tajam yang tak dapat kupanjat, setelah di ceruknya kurenggut cinta Dhani.

Dari pada menuai badai dan diamuk bencana, aku mengambil sikap untuk menjauhi Dhani. Ketika ada peluang mutasi dalam grup perusahaan, aku ambil kesempatan emas itu. Kini kami sudah direntangkan jarak hampir ribuan kilometer, dihalangi gunung dan dipisahkan lautan. Tapi jarak, gunung, dan lautan ternyata tak mampu membentengi dan memisahkan getar cinta kami. Karena aku ternyata tak bisa menolak telepon dan SMS Dhani. Dan ketika kami tak bisa lagi menghindar untuk bertemu, maka pertemuan itu terjadi di saat kami sama-sama mengambil cuti tahunan.

Kami bertemu di Bali. “Selamat datang di Bali. Gimana kabar anak-anak dan suamimu, Cinta,” sapaku ketika aku menjemputnya di Bandara Ngurah Rai.

Aku tak mencium pipinya, aku hanya menjabat tangannya, yang kemudian tanganku oleh Dhani dicium dengan lembut dan mesra. Tuhan, inikah pertanda cinta sejati Dhani kepadaku? Batinku tergetar dahsyat.

"Kabar anak-anak, alhamdulillah baik dan sehat...," yang kemudian ditutup dengan tangis kecil Dhani yang tiba-tiba pecah. Aku jadi tak nyaman karena tangis itu pasti terkait dengan ulah suaminya.

Akhirnya aku memeluk bahunya, lalu kami berjalan menuju mobil yang sengaja kusewa selama kami liburan di Bali. "Kamu semakin manis dan kian cantik sekali, Sayang," pujiku yang langsung mengepitingrebuskan wajah Dhani. Kulihat Taman Sriwedari bermekaran di kedua kelopak matanya.

"Karena selalu ditelepon dan di-SMS sehingga menjadikan cintaku kepadamu menjadi seperti ini, Kasih," jawabnya dengan manja. "Efeknya semoga aku jadi bertambah manis dan kian cantik sekali kan?" lanjutnya dengan manja dan menggemaskan.

Karena sudah waktunya makan siang aku langsung mengajak Dhani makan di Pantai Kuta. Selama makan aku tak membicarakan cinta kami yang terlarang. Aku menjaga dan takut merusak selera makan Dhani. Hanya ketika senja jatuh dan merona di Pantai Kuta, aku mulai menyinggung hubunganku dengan Dhani.

"Jujur, aku tak bisa melupakanmu, Honey," ujarku. "Semakin kubunuh dirimu dari hati dan pikiranku, engkau semakin hidup. Engkau tak bisa kubuang dari napas dan detak jantungku. Engkau tak bisa kulenyapkan dari aliran darahku," lanjutku.

Dhani tampak menikmati sekali curhat-ku. Kalau sudah begini, siapa sih lelaki yang sanggup untuk berpisah dengan Dhani?

"Buatku dirimu sudah jadi napas kerjaku dan nyawa hidupku, Kasih," kataku lagi. "Tapi kutahu ini adalah cinta yang salah, My Sun!"

Dhani melonggarkan rapat pelukannya dariku. "Mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku, bukankah tidak harus memiliki, Arjunaku?"

Aku menatap mata dan wajah Dhani dan di sana kutemukan cinta tercetak dengan megah tanpa dusta. Sayangnya dilihat dari sudut mana pun cinta kami itu tak ada yang membenarkan. "Ya, cinta kita tidak harus bersatu, Srikandiku," sambutku layu.

***

AKU benar-benar tak tega merusak kebahagiaan Dhani selama berlibur di Bali. Tapi di hari menjelang Dhani pulang, kabut malas untuk berpisah berarak di wajah dan mata Dhani yang terus mewartakan duka. "Berpuluh-puluh tahun kumimpikan dan kurindukan kebahagiaan yang manis dan indah seperti ini, tapi waktu begitu cepat berlalu. Seakan baru kemarin kita bertemu dan kini kita harus berpisah. Asal tahu saja, aku sejatinya tak sanggup berpisah denganmu. Tolong selamatkan aku dari neraka kehidupan rumah tanggaku, Romeoku..." rintih Dhani menyilet, merobek, dan menggedor hatiku.

"Aku bisa saja mengangkatmu dari neraka hidupmu, Julietku," jawabku. "Tapi tolonglah jaga hati suamimu dan perasaan anak-anak. Mereka sangat membutuhkanmu, Sayang," lanjutku dengan hati-hati. Aku harus berani dan aku harus kuat. Aku tak boleh lembek. Apalagi mewek. Aku laki-laki. Laki-laki harus tegar.

"Lantas Mas sendiri gimana?" tanya Dhani.

"Meski aku belum menemukan kebahagiaan, aku tak menghendaki hati dan perasaan anak-anakku rusak, Kasih."

"Itu artinya kita harus berkorban untuk mereka, Pranacitraku?"

Aku memegang kedua bahu Dhani, lalu kutatap wajah dan matanya dengan cintaku yang tak pernah berkurang secuil pun. "Kebahagiaan anak-anak kukira lebih penting dan segalanya, Roro Mendutku."

Dhani kemudian memelukku dan menangis di dadaku. Kubiarkan Dhani menangis sampai pesawatnya yang akan membawanya ke Jakarta siap.

"Lalu gimana dong dengan cinta kita selanjutnya, Mas?"

"Jujur, apa yang kamu rasakan, aku juga merasakannya, dan bukankah semua itu sudah menyatu di hati kita, mengalir di darah kita, berdetak di jantung kita, mengalun di napas kita, dan berdenyut di nyawa kita. Percayalah, engkau dan aku itu satu. Galih dan Dhani itu tak terpisahkan."

"Apakah ini artinya kita menyerahkan semua ini kepada apa yang telah digariskan Tuhan, Ramaku?" desak Dhani penuh kasih dan sayang.

"Ya! Kalau kita berjodoh, kita pasti akan disatukan Tuhan. Oleh sebab itu, mulai saat ini mari kita belajar, berusaha, dan bekerja mahakeras guna menghindari pertemuan berisiko tinggi seperti ini semampu yang bisa kita lakukan, Shintaku."

Aku mengantar Dhani sampai pesawat yang membawanya mengudara meninggalkan Ngurah Rai. Setelah itu aku melangkah ke mobilku. "Demi Tuhan, aku mencintaimu, Dhani," ujarku dalam hati. "Tapi kita tahu, ini adalah cinta yang sangat terlarang untuk diteruskan dan tidak baik untuk anak-anak kita, Sayang," lanjutku pasrah.

Aku menyetir mobil sambil melamun, karena mobil yang kularikan sudah di jalan sepi menuju perkampungan Bali yang begitu asri. "Tuhan, jika Dhani itu memang jodohku, kumohon satukanlah kami dalam cinta abadi kapan dan di mana pun. Tapi bila Dhani dan aku bukanlah belahan jiwa, tolong anugerahkanlah kebahagiaan buat rumah tangga dan anak-anak kami terkasih dan tersayang," ujarku.

Tuhan, kepada-Mu semua ini kuserahkan. Aku tak mungkin berpaling dari-Mu.... n

Brajaselebah, Lampung Timur, Juni 2011


Lampung Post, Minggu, 5 Juni 2011

Sunday, March 13, 2011

Kado Ultah

Cerpen Tarpin A. Nasri


BUAH CINTA, kasih, sayang, rindu dan pernikahanku dengan Kunti Dewi Talibrata, telah terlahir. Anak kami yang sulung laki-laki, kuberi nama Bisma Putra Bayu, dan anak kami yang ragil perempuan. Istriku memberi nama Widawati Putri Setyawati. Kami hidup rukun, damai, dan bahagia dalam bingkai kesederhanaan.

Anakku bukan tak pernah merayakan ulang tahun, karena baik Bisma maupun Widawati, pernah diulangtahunkan meski tidak setiap tahun. Kalau ada rezeki lebih, kedua anakku diultahkan. Akan tetapi bila rezekinya hanya cukup untuk menyangga biaya hidup sehari-hari, paling-paling aku minta tolong Kunti untuk memasak yang agak spesial. Seperti hari ini misalnya. Pada hari ultah Widawati kali ini, aku menyuruh istriku membuat soto ayam spesial.

Ketika soto ayam spesial terhidang di meja makan, aku bilang, "Hari ini ulang tahun siapa?"

"Akuuu....," jawab Widawati sambil mengangkat telunjuk tangannya tinggi-tinggi.

"Ya benar, Sayang," ujar istriku. "Hari ini adalah hari ulang tahun Widawati yang keempat," lanjut soulmate-ku.

"Jadi soto ini sebagai tanda ulang tahun Widawati ya, Pa?" tanya Bisma.

"Iya, Mas," jawabku. "Habis mau dirayakan dengan meriah Papa lagi tak punya cukup uang nih," lanjutku.

Setelah aku memimpin doa sebelum makan dan kami mengucapkan ultah kepada Widawati disertai dengan ciuman, kami kemudian makan soto bersama.

"Rasa sotonya enak banget, Ma," puji Bisma.

"Masa sih?" ujarku.

"Benar, Pa," jawab Bisma. "Soto buatan Mama enak banget bumbunya."

Kami makan soto dengan nikmat dan semua nambah. Setelah selesai makan malam dengan soto, istriku memimpin doa penutup makan. Tapi setelah itu, aku dan istriku menangis di kamar. Karena tanpa disengaja, tadi di meja makan Widawati mengalungkan mi di lehernya sambil bilang, "Mama lihat Ma, bagus ya kalung Nduk," katanya.

Aku benar-benar sedih. Daun telinga, leher, pergelangan tangan dan jari-jari anakku sudah sangat lama tidak dihiasi emas, baik itu dalam bentuk anting, kalung, gelang ataupun cincin. Dan lebih sedih lagi ketika pulang sekolah Widawati curhat kepadaku kalau teman sekolahnya di TK, Gisella, baru saja dibelikan kalung dan gelang oleh orang tuanya. Katanya Ella yang sudah cantik jadi tambah cantik. “Kalau Nduk pakai gelang dan kalung kan nanti cantik juga, Pa,” kata dia.

Aku melirik istriku yang matanya juga sudah ikut basah, "Nanti kalau Papa gajian, Nduk juga dibelikan sama Papa. Sabar ya, Sayang," jawab istriku. "Iya kan, Pa?"

Demi Widawati, aku mengangguk saja. Padahal saat itu aku berpikir keras: dari mana aku dapat uang untuk membeli kalung, gelang, anting atau cincin untuk anakku? Karena gaji bulan depan sudah terbayang alokasinya untuk apa saja. Kalaupun ada sisa, itu untuk kebutuhan rutin bulanan dapur, bayar iuran sekolah, listrik, sampah, arisan dan cadangan berobat bila swaktu-waktu di antara kami ada yang sakit dan harus ke dokter.

Sampai Cutiku habis dan aku berangkat kerja kembali, aku belum bisa membelikan barang emas untuk mempercantik penampilan anakku. Aku benar-benar sedih, bahkan sampai aku tak bisa makan melebihi dari yang penting bisa makan. Begitu aku mau makan enak sedikit saja, aku seperti mengunyah Widawati. Begitu aku merokok, Widawati mengepul di asap rokokku. Akhirnya aku makan dan merokok benar-benar irit. Jangankan untuk minum susu, kini ngopi juga aku mikir-mikir. Paling pol aku ngeteh. Itu pun kadang-kadang saja. Aku lebih banyak minum air putih dari isi ulang. Semua itu aku lakukan demi mengumpulkan sedikit demi sedikit uang buat menggembirakan Widawati.

Sampai beberapa kali gajian, aku baru bisa mengumpulkan sedikit uang untuk hadiah ulang tahun Widawati. Tiga bulan kemudian begitu uang hampir terkumpul sesuai kebutuhan, ndilalah-nya Bisma wajib mengikuti study tour. Duh Gusti! Bagaimana ini?

Terpaksa pergelangan tangan dan leher Widawati bakal polos lagi. Kami sedih bukan main, dan itu pun diketahui Bisma. "Kalau saja study tour ini tidak wajib diikuti, Bisma tidak apa-apa tidak ikut, Pa. Karena Bisma tahu, hidup kita lagi susah, dan Nduk Widawati ingin dibelikan kalung dan gelang,” katanya. “Bisma juga tahu, jangankan untuk study tour, untuk makan kita saja begitu sederhana dan seadanya, tapi semuanya terserah Papa deh mana yang terbaik," lanjut Bisma dengan sangat bijaksana meski baru kelas III SMP.

Aku memeluk Bisma dengan segenap cintaku, "Kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan. Yang jelas Papa pasti berusaha dan bekerja yang terbaik untuk Mama dan anak-anak Papa. Oke?"

KETIKA aku sedang berperang antara membiayai study tour Bisma atau membelikan kalung dan gelang untuk Widawati, datanglah Pengurus Remaja Islam Masjid Al Huda minta sumbangan 50—100 nasi kotak untuk acara makan siang dengan anak yatim piatu. Tanpa pikir panjang kuiyakan permohonan tersebut.

Esoknya aku memesan sejumlah nasi kotak seperti yang diminta utusan panitia, bahkan pesannya kulebihkan sampai 25 kotak. Lalu istri dan anak-anakku kuajak memenuhi undangan kegiatan itu. "Lihat Mas, ternyata masih ada yang lebih membutuhkan dari pada kita kan, Mas?" kataku dan Bisma mengangguk. "Ada yang makannya jauh lebih sederhana dari kita kan, Nduk?" tanyaku dan Widawati mengangguk.

Sebelum acara makan dimulai, dilakukan pembacaan doa yang dipimpin oleh anak yatim piatu tertua yang nyantri di masjid itu. Hampir semua yang hadir mengucurkan air mata, termasuk istriku, Bisma, dan Widawati, dan kami kembali menangis ketika doa akhir makan dipanjatkan. “…Kami tidak pernah makan siang semewah ini, ya Allah. Oleh karena itu, terima kasih untuk makan siangnya yang sungguh amat lezat dan bergizi ini, ya Allah. Tolonglah ya Allah, semoga yang memberikannya Engkau balas dengan rezeki yang lebih baik lagi. Amin…”

Beberapa hari kemudian kami belanja di supermarket dan mendapatkan kupon undian berhadiah dua lembar. Karena masih punya cukup waktu, kuisi kupon itu dan kumasukkan ke kotak, dan beberapa waktu kemudian ketika kami sedang berpikir keras bagaimana mendapatkan uang untuk membayar study tour Bisma, aku dihubungi oleh salah seorang karyawan supermarket di mana dulu kami belanja, dan memberi tahukan kalau kupon undianku memenangkan satu unit rumah. "Alhamdulillah, ya Allah...," ujarku sambil bersujud.

Ketika kami sedang mengurus hadiah tersebut, seorang pembeli menghampiriku dan menanyakan: apakah rumahnya mau dijual? Karena aku ingat hadiah yang kujanjikan untuk Widawati, study tour Bisma harus segera dibayar, serta genteng dan talang rumah banyak yang bocor, tanpa pikir panjang kujual rumah hadiah itu dengan harga yang kemudian kami sepakati bersama.

Dengan uang hasil penjualan rumah hadiah itu, aku bisa membayar utang kado ultah Widawati, bayar study tour Bisma, bisa memperbaiki rumah, bisa membelikan mukena, baju muslim dan kerudung untuk istriku, serta sisa uangnya aku tabung.

"Alhamdulillah Engkau telah berkenan mengabulkan doa anak yatim piatu itu untuk kami dengan cara atau jalan yang tidak disangka-sangka. Terima kasih ya Allah," ujar kami berempat setelah menunaikan ibadah salat Subuh secara berjamaah.

Braja Mulya-Braja Selebah-Lamtim, Februari 2011


Lampung Post, Minggu, 13 Maret 2011