Showing posts with label Sungging Raga. Show all posts
Showing posts with label Sungging Raga. Show all posts

Sunday, April 20, 2014

Pesugihan Zombi

Cerpen Sungging Raga


KETIKA wanita itu melihat kekasihnya telah menjadi zombi, ia berlari ke tepi laut dan menangis seperti alien.

Suara tangis wanita itu menderit keras seperti gesekan seng pada lantai keramik, dan gesekan itu terdengar sampai ke radius 300 meter. Air matanya pun bukan air mata biasa, tapi berupa lahar panas, mengucur lewat pipi, jatuh di pasir, membuat kawah-kawah kecil. Tak seorang pun penduduk pantai yang berani mendekatinya, mereka bahkan harus menutup telinga karena miris dengan suara deritnya.

Sementara itu, kekasih si wanita juga telah dibawa ke puskesmas oleh warga sekitar, puluhan orang berkumpul di halaman puskesmas yang kecil, berebut melihat ke dalam ruangan di mana telah terbaring seorang lelaki yang rambutnya rontok, kulit tubuhnya membusuk, giginya tanggal dan berganti balok besar seukuran tuts piano. Sebuah pemandangan yang tak pernah terjadi sebelumnya.

“Kenapa bisa seperti itu?”

“Zombi, dia pasti mengikuti ritual pesugihan zombi.”

“Pesugihan zombi?”

“Itu lo, pesugihan baru di Gunung Barokwok.”

“Oh, yang sering dibicarakan orang-orang di pasar ikan?”

Sebagian warga memang sudah mendengar desas-desus tentang pesugihan zombi. Jika dahulu pesugihan menggunakan tuyul atau babi ngepet, beberapa bulan terakhir mereka mendengar bahwa di Gunung Barokwok ada seorang kakek sepuh yang bisa mengajarkan pesugihan dengan membuat pelakunya menjelma zombi, membuat wajah dan tubuh pelakunya menjadi sepucat mayat, suaranya seperti dengung lebah, lantas si pelaku ini akan berjalan di sekitar kampung sepanjang malam.

Tak seorang pun yang mencium aroma zombi itu, melainkan akan langsung tertidur, dan tidak satu benda berharga pun dalam radius 13 meter, melainkan akan menempel pada tubuh zombi tersebut, jadi ia seperti magnet, cukup dengan berjalan mengelilingi kampung, maka di tubuh sang zombi akan menempel berbagai jenis perhiasan, kalung, gelang, cincin, batu akik, dompet berisi uang, buku tabungan, dan yang lainnya.

Ketika ia tersadar pagi harinya, ia akan melihat benda-benda itu telah menumpuk di sekelilingnya. Pelaku pesugihan ini juga bisa mengatur nama-nama benda berharga yang tidak perlu diambil sehingga ia tidak akan membawa benda-benda berat, seperti televisi, kulkas, atau benda-benda pribadi seperti jemuran milik gadis tetangga.

Desas-desus pesugihan ini sebenarnya bukan sekadar isu, melainkan memang ada dan sengaja dipublikasikan. Entah siapa yang menempel selebaran di tiang-tiang listrik, di pos ronda, di tembok sekolahan, serta jembatan-jembatan di sekujur desa itu, selebaran yang isinya menawarkan ritual pesugihan zombi Gunung Barokwok. Dalam selebaran tersebut, segala hal yang saya jelaskan di paragraf sebelumnya telah tertulis jelas.

Dan lelaki itu, lelaki pengangguran yang telah berjanji akan menikahi kekasihnya tahun ini, tergiur dengan selebaran tersebut. Sepasang kekasih itu telah berpacaran selama enam tahun, tapi kisah romantis mereka selalu terkendala masalah ekonomi. Sering pasangan kekasih itu bertengkar karena uang, tidak bisa kencan malam minggu karena uang, tidak bisa candle light dinner karena uang, tidak bisa menelepon karena tak ada uang untuk pulsa, dan semisalnya.

Oleh sebab itu, si lelaki tertarik untuk mencoba pesugihan agar bisa mendapat uang dalam sekejap demi membahagiakan kekasihnya. Rupanya ia adalah orang pertama yang berminat, sementara warga lainnya tak tertarik karena belum tahu efek sampingnya. Begitulah si lelaki kemudian berangkat menuju gunung Barokwok ditemani sang kekasih. Mereka pergi pagi sekali tanpa diketahui warga.

Secara geografis, letak Gunung Barokwok cukup jauh dari desa itu. Lelaki itu dan kekasihnya menempuh perjalanan kereta api setengah hari untuk tiba di stasiun terdekat dengan lereng gunung, lalu dilanjutkan berjalan kaki selama tiga jam, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah goa dekat puncak gunung, dan di dalamnya telah duduk seorang kakek berpakaian serbaputih, jenggot putih, rambut panjang putih, di mana tak ada gambaran lain yang lebih umum dari ini.

Singkat cerita, si lelaki dan wanitanya mendengarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan juga pantangan-pantangannya.

“Syarat yang terpenting adalah, kau harus merelakan sebagian jiwa dari orang yang paling kau cintai untuk dirasuki jiwa anak buahku dari dunia gaib,” kata sang kakek. Lelaki itu pun langsung menoleh pada kekasihnya. Wanita itu mengerti.

“Apa saya harus mati sebagai tumbal?” tanya si wanita.

“Oh, tentu tidak. Itu sudah klise. Anak buahku hanya akan mendiami setengah jiwa Nona.”

“Apa saya akan mengalami perubahan fisik?” tanya si wanita lagi.

“Tidak. Selama kekasih Nona tidak melanggar pantangan, Nona akan tetap baik-baik saja. Anak buahku hanya sebagai penjaga, jika suatu saat pantangan zombi dilanggar, saat itulah anak buahku akan memberontak dalam tubuh Nona.”

“Memberontak? Apa yang akan dilakukannya pada saya?”

“Hm, sedikit perubahan perilaku yang tidak normal. Kalau itu terjadi, Nona harus segera kembali kemari untuk disembuhkan.”

“Kalau tidak kembali, bagaimana?”

“Ya, Nona akan tetap seperti itu.”

“Apakah perubahan perilaku itu lama-kelamaan bisa membuat nyawa saya melayang?”

Kakek ini rupanya geram juga dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya. “Ini cerita pendek, Nona. Lebih baik tanyakan langsung pada penulisnya apakah di akhir cerita nanti Nona mati atau tidak.”

Wanita itu terdiam. Akhirnya transaksi pun terjadi. Dan pantangan yang paling utama adalah, si wanita tak boleh berada di dekat kekasihnya dalam radius tertentu ketika sang kekasih sedang menjadi zombi di tengah malam, jadi ia harus bermalam di tempat yang steril.

***

Alkisah, beberapa hari setelah itu, warga mulai sering kehilangan harta benda, jutaan rupiah mendadak lenyap, ternak peliharaan, koleksi cincin dan batu keramat, semuanya menumpuk di rumah si lelaki. Namun, tak satu pun warga yang mengaku telah kehilangan sesuatu. Di sinilah keunggulan pesugihan zombi, para pemilik barang yang hilang itu akan lupa kalau pernah memiliki barang tersebut, kecuali kalau mereka melihatnya lagi.

Jadilah kehidupan sepasang kekasih itu mendadak sejahtera dan sangat romantis, nyaris tanpa persoalan. “Adakah pasangan kekasih yang lebih bahagia dari kita berdua?” tanya wanita itu. Mereka lantas membeli lahan di sebuah bukit yang menghadap laut. Mereka juga mulai membicarakan tanggal pernikahan.

Kehidupan keduanya berbanding terbalik dengan kehidupan warga lainnya, semakin hari warga desa semakin miskin, sebagian mulai terlilit utang pada rentenir desa sebelah, dan di saat-saat seperti itulah sering muncul obrolan, “Jangan-jangan, ada yang sudah melakukan pesugihan zombi di desa kita.”

“Mungkin. Tapi siapa? Kita juga tidak merasa kehilangan sesuatu.”

Pertanyaan mereka akhirnya terjawab beberapa bulan kemudian, yaitu pada suatu pagi, tersiar berita bahwa Gunung Barokwok tiba-tiba meletus. Rupanya sang kakek sepuh itu salah memilih gunung, ia memilih gunung yang masih aktif. Seharusnya ia belajar vulkanologi. Riwayatnya langsung berakhir bersama gempa vulkanik yang kemudian memicu semburan lahar panas. Berakhirlah usaha pesugihan zombi yang baru dirintisnya itu.


Kejadian tersebut langsung berdampak secara gaib pada si lelaki. Pagi itu, tiba-tiba tubuhnya menjadi keriput, kulitnya memucat, dan dia menggumam tak karuan. Dia telah menjadi zombi secara permanen. Ketika si wanita datang untuk membawakan sarapan, terkejutlah ia melihat pemandangan tersebut. Sebuah pantangan telah dilanggar. Tiba-tiba terasa tubuhnya sendiri bergejolak, hawa panas menyelimuti pori-pori kulitnya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali lari menjauh ke tepi laut.

Dan wanita itu pun menangis seperti alien.

Sementara itu, setelah berjam-jam di puskesmas, warga semakin yakin bahwa lelaki itu memang melakukan pesugihan, apalagi ketika rumahnya digeledah, ditemukan banyak tumpukan uang dan benda-benda berharga yang tak sempat dijual ke penadah.

“Lo, ini dompet saya.”

“Ini cincin saya.”

“Nah, ini kalung saya waktu kawin dengan juragan beras.”

Dokter dan perawat puskesmas tak bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan lelaki itu, tubuhnya cepat membusuk dan menyisakan aroma tak sedap, tapi matanya masih terbuka, melihat ke sekeliling, mulutnya juga terus menggumam tak jelas. Lelaki itu lantas dipindahkan ke ruangan khusus tanpa diberi penanganan lebih lanjut. Lama kelamaan, ia justru menjadi bahan tontonan warga sampai ke luar desa.

***

Begitulah yang terjadi sampai bertahun-tahun kemudian, kondisi lelaki itu ternyata tidak berubah, tidak hidup dan tidak pula mati. Sementara itu, si wanita tetap berdiri di tepi pantai. Sepasang kakinya kini membatu, air matanya terus mengalir ke laut dan menjelma lumpur panas.

Jadi, adakah pasangan kekasih di dunia ini yang lebih menderita daripada mereka berdua?

Baik di dunia ini atau di dunia setelah mati kelak, keduanya tak pernah bisa dipertemukan kembali. n


Lampung Post, Minggu, 20 April 2014

Sunday, September 22, 2013

Abnormaphobia

Cerpen Sungging Raga


LELAKI itu baru saja duduk di ruang konsultasinya ketika tampak sosok seorang wanita muda di balik pintu kaca.

“Hm, semoga hari ini aku tidak mendapatkan klien yang aneh, cukup kemarin saja aku bertemu dengan seseorang yang takut dengan bayangannya sendiri,” ucap lelaki itu dalam hati. Ia lantas membuka pintu, mempersilakan si wanita duduk, dan seperti biasa, ia memulai dengan kalimat yang sama:

"Selamat pagi, hari yang indah untuk berbagi perasaan pada orang lain. Jadi, apa keluhan Anda?” Ia bertanya sambil tersenyum, sementara wanita itu masih terlihat mencemaskan.

“Saya benar-benar takut,” jawab wanita itu.

“Takut apa?”

“Saya takut tidak bisa merasakan ketakutan lagi sama sekali.”

Lelaki itu langsung heran, sebenarnya ia ingin menggaruk-garuk kepalanya, tetapi itu bukan hal yang biasa dilakukan oleh seorang psikiater.

“Takut tidak bisa merasakan ketakutan lagi?” tanya lelaki itu.

“Benar. Ini membuat saya cemas, sampai-sampai beberapa hari terakhir ini saya susah tidur.”

“Bisa Anda ceritakan lebih detail contoh-contohnya?”

Maka lelaki itu menyimak baik-baik ketika wanita itu mulai bercerita dengan wajah yang pucat:

Pada suatu pagi, wanita itu bangun tidur dalam keadaan tidak takut kepada hal apa pun. Ia langsung menyadarinya ketika melihat seekor kecoa hinggap di hidungnya, seekor kecoa yang benar-benar kecoa, bukan jelmaan siapa-siapa. Biasanya, setiap melihat kecoa di mana pun dan kapan pun, ia akan langsung melompat, menjerit, dan berlari menyelamatkan diri ke tempat yang steril. Namun, pagi itu berbeda, ketika sepasang matanya melihat kecoa sedang hinggap di hidungnya, ia justru memungut kecoa itu dan langsung mengunyahnya begitu saja, tanpa rasa takut sama sekali.

"Kecoa itu Anda makan?” tanya si lelaki psikiater.

“Iya. Rasanya seperti tempe bacem.”

“Hm. Silakan dilanjutkan.”

Kemudian wanita itu bercerita tentang interaksinya dengan anjing tetangga yang bernama Balaidos. Sudah bertahun-tahun Balaidos mengganggu hari-hari wanita itu. Ia tak habis pikir bagaimana tetangganya begitu sabar merawat seekor anjing yang suka menyalak pada siapa pun dalam radius sepuluh meter. Setiap pagi dan sore, wanita itu akan dikecam rasa takut ketika melintas di halaman rumah tetangganya, ia bahkan sering berlari karena tak tahan mendengar suara anjing apalagi melihat bagaimana mulut anjing itu menganga dan menampakkan lidah terjulur. Karena anjing itu pula, wanita itu enggan menyapa tetangganya.

Namun, tidak untuk pagi itu, ketika ia keluar rumah dan melihat anjing itu sedang kencing di pagar, wanita itu langsung mendekatinya, lalu meninju wajah anjing itu sebanyak tiga kali sampai pingsan. Tetangganya ikut pingsan karena tak percaya saat melihat apa yang dilakukannya...
Lelaki itu mulai mencatat beberapa ucapan si wanita. Suasana di ruang konsultasi itu beranjak serius.

“Selain anjing dan kecoa, ada keanehan apa lagi?” tanya si psikiater.

“Hm, apa, ya? Biasanya saya takut mengenang sesuatu, tapi sekarang saya suka mengingat hal-hal yang telah berlalu.”

“Bukan. Maksud saya, selain hal-hal yang melankolis.”

Wanita itu kemudian bercerita bagaimana ia sudah tidak takut ketinggian, tidak takut naik roller coaster, tidak lagi menderita claustrophobia, ia juga tidak takut dimarahi bos tempatnya bekerja kalau datang terlambat, tidak takut ditilang polisi, tidak takut kegemukan, dan tidak takut kesepian.

“Wah, kompleks sekali.” Lelaki itu mengangguk-angguk.

“Jadi, bagaimana? Apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan rasa takut saya. Semua keanehan ini membuat saya takut. Saya benar-benar takut tak bisa merasakan ketakutan selamanya.”

“Sebentar, sebentar, saya juga bingung.”

Wanita itu menghela napas, “Saya datang kemari bukan untuk melihat Anda bingung. Kalau Anda bingung, seharusnya Anda tidak jadi psikiater."

“Lo, satu hal yang harus Nona tahu, sebenarnya saya sendiri bingung kenapa saya jadi psikiater, dulu saya bercita-cita jadi masinis.”

“Sewaktu mendaftar di jurusan psikologi Anda belum merasa bingung?”

“Nah, itulah masalahnya, saya bingung kenapa dulu saya tidak bingung ketika memilih jurusan ini. Lagi pula saya lulus biasa-biasa saja.”

Wanita itu menggelengkan kepalanya. Lelaki itu merasa takjub pada klien wanita yang mungkin cocok jadi istrinya ini.

“Begini saja, Nona... Ah, saya bahkan belum kenal nama Anda?”

“Saya Nalea. Nalea Mendieta.”

“Hm, ya, ya. Nona Nalea. Boleh tahu pekerjaannya?”

“Saya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan seluler. Kadang juga bekerja sampingan sebagai tokoh cerita pendek.”

“O.. Begitu. Sudah menikah?”

“Belum.”

“Wah kebetulan.”

“Jadi bagaimana solusinya?”

“Em. Begini. Saya rasa, satu-satunya hal yang bisa mengembalikan rasa takut Anda adalah dengan menghadapi ketakutan terbesar.”

“Ketakutan terbesar?”

“Benar.” Lelaki itu tersenyum cerah.

“Apa itu? Jangan bilang itu sesuatu yang sangat rumit seperti istilah-istilah psikologi.”

“O, tentu tidak. Yang saya maksudkan adalah, kematian.”

“Kematian?”

“Ya. Saya sarankan, coba Anda menyeberang di Jalan Kaliurang. Anda tahu jalan itu, kan? Itu jalan yang nyaris mustahil dilalui penyeberang jalan karena semua pengendaranya adalah pembalap. Jadi, coba Anda menyeberang di jalan itu. Kalau Anda takut, berarti Anda sembuh.”

Wanita itu seperti langsung menemukan cahaya harapan yang gemilang.

“Sepertinya menarik. Benar-benar ide brilian. Saya akan melakukannya siang ini juga,” katanya.

Ia berterima kasih sebanyak mungkin, memberikan sebuah amplop, dan mohon pamit.

***

Keesokan harinya, lelaki itu duduk santai di ruang konsultasinya sambil mendengarkan lagu-lagu Ensiferum dari earphone, Mark Toivonen tengah memainkan distorsi maksimal lagu Deathbringer From The Sky ketika wanita itu tampak dari balik pintu kaca. Buru-buru psikiater itu bangkit, melepas earphone yang masih mendengungkan musik, dan membuka pintu.

“Wah, ternyata Nona Nalea. Silakan masuk.”

Wanita itu masuk dan duduk di kursi yang sama seperti kemarin.

“Hari yang indah untuk mendengarkan lagu-lagu kenangan. Ngomong-ngomong, bagaimana menyeberang jalannya? Sukses?”

Wanita itu mengangguk. “Iya. Sekarang saya sudah bisa merasakan ketakutan lagi, ternyata menyeberang jalan Kaliurang itu memang mengerikan sekali.”

“Nah. Saya bilang juga apa, pasti Nona takut menyeberang di jalan itu. Artinya Nona sudah sembuh karena berhasil mengembalikan ketakutan terhadap sesuatu. Selamat atas kesembuhan ini, tapi tak usah terlalu memuji saya, saya hanya membantu sekadarnya, sudah kewajiban saya untuk membantu meringankan masalah setiap orang, termasuk Nona Nalea yang cantik dan kebetulan...”

“Tapi,” Wanita itu memotong, “Ada satu penyakit baru yang menimpa saya, yang saya harap Anda bisa menolong untuk menyembuhkannya sekali lagi.”
“Penyakit baru?”

“Benar. Untuk itulah saya datang kemari.”

“Boleh saja. Apa itu?”

“Begini. Biarpun saya sudah merasa takut ketika hendak menyeberang, tetapi kemarin, saya telanjur melangkah ke tengah jalan Kaliurang yang sangat ramai itu.”

“Hah? Lalu?”

Wanita itu sedikit memajukan tubuhnya mendekati sang psikiater, lalu ia berbisik: “Jadi, bisakah Anda menyembuhkan kematian saya?” n

Yogyakarta, 2013


Lampung Post, Minggu, 22 September 2013

Sunday, May 5, 2013

Wanita Ini Membawa Senjata

Cerpen Sungging Raga

WANITA ini membawa senjata. Wanita yang sedang tidur di hadapanku seraya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membawa pistol jenis sand hawk. Pistol itu terselip di pinggang bagian kiri, aku melihatnya ketika ia sedikit menggeliat beberapa detik lalu. Mungkin ia akan membajak kereta ini, semisal memaksa masinis untuk membawa kereta sesuai perintahnya, lalu menabrakkannya di suatu tempat. Ah, apakah sebaiknya aku memberitahu masinis agar kereta cepat-cepat berhenti di stasiun terdekat sebelum wanita ini terjaga dan melancarkan aksinya?

Wanita ini jelas-jelas membawa senjata, bagaimana ia bisa lolos dari pengawasan? Bahkan aku tak yakin wanita ini hanya sendirian, pasti ada kawan-kawannya yang menyebar di setiap gerbong, mungkin wanita-wanita lain yang juga membawa senjata, satu komplotan penjahat sistematis, yang menunggu komando untuk beraksi bersama-sama. Atau ia adalah satu-satunya wanita di komplotan tersebut? Biasanya memang begitu, sebuah komplotan penjahat sering menyisipkan seorang wanita sebagai anggota, menjadi pemanis suasana, kadang malah wanita itu ketuanya.

Kalau wanita ini membawa senjata, mungkin ia bukan wanita baik-baik, dan aku tidak terbiasa dekat wanita yang tidak baik-baik, kalau wanita baik saja bisa melukai seorang lelaki, apalagi wanita yang tidak baik-baik? Namun aku sebenarnya bingung dengan definisi baik itu sendiri. Apakah semua wanita yang tak bersenjata adalah wanita yang baik? Apakah semua wanita yang ketahuan membawa senjata adalah wanita yang sama sekali tidak baik? Yang pasti, wanita ini membawa senjata, meski penampilannya cukup anggun, rambutnya tergerai panjang, bibirnya tipis dan tampak segar, antara dagu dan lehernya terlihat lekukan seperti putih telur, aku yakin bahwa wanita ini sangat jahat, mungkin ada tato di balik kemejanya yang berwarna merah itu, tato ular naga, atau ular kobra, atau gambar tengkorak dengan sepasang pedang menancap, pokoknya tato mengerikan yang ia sembunyikan entah di bagian tubuh yang mana, biasanya wanita semacam ini juga punya paku yang ditancapkan di lidah, hidung, atau dekat alis matanya. Ah, pasti paku-paku itu dilepas agar tidak terlalu mencurigakan.
                ***

Kereta terus melaju. Tak ada petugas kereta yang biasanya mondar-mandir, kalau ada satu di antara mereka yang kebetulan melintas, pasti akan kuberitahukan bahwa kereta ini tidak aman. Namun tak ada yang lewat, aku melongok ke lorong dekat pintu, tak ada sosok petugas. Mungkin aku yang harus bertindak, mungkin aku harus pura-pura ke kamar kecil, lalu menyelinap ke gerbong berikutnya, ke kamar kecil lagi, menyelinap lagi, sampai aku tiba di ruang petugas. Ya, ya, sepertinya itu lebih baik.

Perlahan aku bangkit dari tempat duduk, sangat perlahan, berharap wanita itu tidak terjaga, kuharap tidurnya sangat nyenyak seperti tokoh wanita di novel House of Sleeping Beauties karangan Kawabata. Aku maju beberapa langkah meninggalkan tempat dudukku, sesekali kulihat penumpang lain, wajah-wajah yang tak tahu apa-apa, sebagian juga sedang tertidur, barangkali mereka juga membawa senjata. Aku curiga pada beberapa tas bawaan penumpang yang diletakkan di bagian atas, jangan-jangan ada tumpukan shotgun di salah satunya.

Tak lama kemudian aku pun tiba di persambungan gerbong, kereta masih melaju kencang, seperti tak ada stasiun yang mengharuskannya berhenti. Aku baru saja hendak masuk ke dalam toilet ketika tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.

“Mas?”

Jantungku terasa berhenti.

Kukira wanita itu, ternyata kondektur yang hendak memeriksa karcis. Sial, kenapa tidak sejak tadi ia muncul? Segera kuserahkan karcis, dan kulaporkan apa yang kulihat.

“Wanita yang duduk di depan saya kelihatan membawa senjata.”

“Senjata?”

“Ya. Mungkin dia akan membajak kereta ini.”

“Lho. Anda tidak tahu, ya? Semua wanita di kereta ini memang membawa senjata.”

Aku terkejut mendengar penuturan kondektur itu. Ia tersenyum, mengembalikan karcis, lantas masuk ke ruang gerbong.

Semua wanita di kereta ini membawa senjata? Kereta macam apa ini? Kereta pembajak? Apakah aku naik kereta yang salah? Tidak. Aku harus cepat-cepat lari, tetapi kereta seperti tak akan pernah berhenti. Tak ada cara lain, lebih baik aku melompat saja daripada harus kehilangan nyawa sia-sia.

Segera kubuka pintu gerbong, kurasakan angin berembus kencang. Dan pada saat yang kuanggap paling tepat, aku pun melompat ketika kereta sedikit mengurangi kecepatan karena sebuah tikungan, terjadi beberapa benturan keras, tubuhku berguling-guling, terasa ngilu di setiap sendi.

Kereta telah jauh melaju ketika aku mencoba untuk bangkit, ada cukup banyak luka gores meski tak sampai mengucurkan darah. Aku mulai berdiri dan berjalan dengan sedikit tertatih, kukibaskan bajuku yang berdebu, lalu melangkah menjauhi rel.

Aku tiba di sebuah jalan pedesaan, ada sebuah warung pecel, tampak beberapa orang pembeli di situ, semuanya wanita, dan, ya Tuhan, masing-masing dari mereka memegang senjata! Ada yang membawa jenis SMG, prototype shotgun, bahkan yang agak gemuk itu, yang mengenakan daster ungu, memanggul bazooka. Mengapa mereka semua membawa senjata? Apakah mereka juga anggota komplotan wanita di kereta tadi? Atau jangan-jangan, mereka ini adalah sekumpulan wanita-wanita patah hati yang hendak sarapan nasi pecel sebelum membunuh lelakinya masing-masing?

Aku pernah mendengar kisah seorang wanita yang menunggu mantan kekasihnya di stasiun, ketika si lelaki keluar dari kereta, tanpa ba-bi-bu lagi, wanita itu menodongkan pistol, menembak dahi mantan kekasihnya itu sampai bocor. Apakah wanita jenis ini semakin menjamur? Aku penasaran, berapa jumlah wanita patah hati menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2013? Apakah meningkat drastis sejak tahun lalu? Apakah ada kenaikan signifikan pada kuartal pertama? Adakah lembaga survey yang mengalisis kecenderungan patah hati dan jumlah pembelian senjata? Bukankah senjata itu tak bisa dimiliki sembarangan? Apakah kepolisian memiliki undang-undang baru yang membolehkan wanita patah hati untuk membeli senjata?

Semakin banyak dugaan, rasanya semakin mencemaskan, aku berjalan menjauhi warung itu, mencoba untuk tak menarik perhatian mereka, sesekali aku juga berpapasan dengan orang-orang sekitar, tetapi aku lebih banyak menunduk, badanku masih sedikit nyeri, dan sepuluh menit kemudian aku tiba di sebuah pasar.

Ternyata di sini lebih menakjubkan lagi, ada begitu banyak wanita yang menyelempangkan senjata di punggung mereka, lalu bertransaksi seperti biasa. Ada yang meletakkan senjata itu di keranjang belanjanya, bertumpuk dengan sayuran. Sementara para lelaki terlihat normal, tidak ada senjata di tangan mereka, tetapi mengapa mereka tidak heran melihat para wanita membawa senjata?

Akhirnya, setelah mengumpulkan sisa keberanian, kudekati salah seorang wanita yang kebetulan sedang menyendiri di gerbang pasar, tangan kanan wanita ini memegang bullpup sniper dengan sangat kokoh, bahkan ia letakkan telunjuk di pelatuknya, seperti siap menembak kapan saja, apakah dia pernah bertugas di medan perang?

“Permisi, Mbak.”

“Ya.”

“Boleh saya tanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Kenapa Mbak membawa senjata?”

“Oh, ini ya. Ini memang selalu saya bawa kemana-mana. Memangnya cuma laki-laki yang boleh pegang senjata?”

“Tapi buat apa Mbak?”

“Hm. Saya juga tidak tahu buat apa.”

Jawaban yang tak memuaskan. Aku lantas berpindah ke seorang nenek penjual kembang kuburan di sudut pasar, nenek itu menyandarkan senjata di kakinya, sebuah chrome shotgun.

“Nek, shotgun itu dipakai buat apa?”

“Shot apa Nak?”

“Shotgun. Itu yang ada di bawah.”

“Ooo. Aduh. Saya juga lupa ini dipakai untuk apa. Mungkin untuk mengusir lalat.”

Tidak masuk akal. Aku berpindah lagi ke seorang wanita yang baru turun dari sebuah angkot, ia membawa sebuah compact rifle.

“Mbak. Kenapa Mbak membawa senjata ke pasar?”

“Lho, kan memang harus begitu, Mas. Mana ada perempuan tidak bawa senjata? Melanggar kodrat itu namanya. Coba lihat, apa saya tampak lebih cantik dengan senjata ini? Lebih anggun?”

Astaga. Apakah aku sudah gila? Segera kutinggalkan pasar itu, aku berjalan menjauh, melangkah tak tentu arah, sampai akhirnya aku tiba di sebuah stasiun kereta yang cukup terpencil. Ada sebuah kereta berhenti di sana. Segera aku menuju loket.

“Mau kemana?” tanya penjaga loket.

“Ke mana saja, yang penting pergi jauh dari tempat ini!”

Si penjaga pun buru-buru mencetak tiket. Aku meraih dan membayarnya, lantas melompat ke dalam kereta yang mulai bergerak perlahan. Segera aku mencari nomor tempat duduk sesuai yang tetera di tiket.

Napasku masih tersengal ketika akhirnya aku menemukan tempat dudukku. Kereta sudah melaju, melintasi sawah-sawah hijau. Sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang, menikmati pemandangan yang menyejukkan, langit biru dan pohon-pohon, sementara di hadapanku hanya ada seorang wanita yang sepertinya sedang tertidur pulas, ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. n


Lampung Post, Minggu, 5 Mei 2013

Sunday, April 29, 2012

Sebelum St. Andrews, Malam Nanti

Cerpen Sungging Raga


SEBELUM St. Andrews, malam nanti, telah kutaburkan seribu alarm di langit Birmingham yang bersalju untuk memastikan bahwa wajahmu adalah kenyataan, seperti lalu-lalang kenangan di sela pertokoan, seperti ruap aroma makan malam yang terlempar dari sudut-sudut restoran. Dan pastikan gaunmu bisa merancang zona waktu, sebab pertemuan kita adalah estafet perjalanan, etape-etape terpisah dari tempat-tempat yang telah lama diam.

Sebelum St. Andrews, malam nanti, udara akan bersisik di kulit jaketmu, tepat 20 menit setelah kau keluar rumah, menyusuri trotoar penuh percikan lampu yang saling memandang tanpa gerilya. Dan kau mungkin akan bersin ketika tiba di perempatan pertama. "Rasanya ada yang sedang membicarakanku," gumammu, seperti mengingat kembali dongengan orang tua. Kau menengadah pada malam, lalu bintang seakan lari dari sudut-sudut matamu. "Mungkin aku hanya kurang istirahat," pikirmu lagi.

Maka sebelum St. Andrews, kau bisa saja mampir ke sebuah toko bunga, membayangkan simbol-simbol tertentu yang nanti kau tafsirkan sendiri, seikat Gerbera merah mungkin bagus untuk malam ini, bukan? Tapi penjual bunga diam saja, enggan memberimu nasihat, barangkali ia lelah karena hampir setiap pembeli bunga datang dalam keadaan mereka tak tahu filosofi bunga. Jadi, kalau kau tak datang ke toko bunga, berarti kau bisa saja duduk sejenak di toko roti yang kau gemari sebagai tempat untuk melamun dan menulis puisi, dan kau bayangkan dingin menyeretmu ke sudut ruangan itu,  menggigit roti dengan perlahan, seperti tempo yang lambat dan rentan tanda baca. Dari balik kaca, kau lihat orang-orang berpasangan, lelaki dan wanita berjalan beriringan, kaus mereka sama, bergambar sosok yang bisa disatukan. Kau tertawa, tentu ada tahun-tahun semacam itu tersimpan dalam pikiranmu. Tahun yang mengeras, namun tak pernah bisa dimakamkan.

Malam nanti, kita mungkin hanya satu dari setumpuk janji di St. Andrews, seperti kemesraan periodik, kita berjanji untuk bertemu di dekat halte yang dinding sandarannya bergambar Mickey Mouse, gambar yang telah lusuh, hilang sebagian wajahnya. Dan telah kita siapkan acara kecil di situ, "Aku akan tersenyum dan menatap matamu pada jam sekian, detik sekian." Lalu kau merevisinya, "Tidak, tidak. Itu bagianku. Aku akan memandangmu sampai sekian detik sebelum salju turun pertama." Ya, ya. Kita berdebat tentang bagaimana kebahagiaan itu dibagikan sama rata, seperti salju yang di beberapa bulan terakhir seperti menjelma selaput keheningan untuk sekujur Birmingham.

Di saat yang sama, kau bilang ini bukan kencan. Aku setuju. Ini hanya restrukturisasi kenangan, ketika orang berkumpul di St. Andrews, dan mobil berbaris di ambang kota, lanskap kita pun menyempit sampai ke sudut gelap terakhir tempat orang-orang suka berciuman kalau sedang tak sakit kepala. Kau tentu membayangkan kita sepasang kekasih yang konyol, yang kebahagiaannya melebihi pertandingan final Piala Carling antara Arsenal melawan Birmingham City. Tapi sudah berkali-kali kubilang, kita ini tak lebih dari sepasang buta yang jatuh cinta, kita benar-benar hanya mengandalkan cinta dan suara, tanpa wajah, tanpa tahu bagaimana sebuah senyum bermula.

"Bukan, bukan," tiba-tiba kau menyanggah, "sepertinya kau lupa, kita ini hanya sepasang orang asing yang kebetulan menyukai selera musik yang sama, lalu mendramatisasi segalanya."

Oh, benar juga. Aku ingat, hari itu, di Villa Park, kudengar kau melantunkan lagu akustik Tears yang dinyanyikan Kaisa Saari bersama Band Ensiferum, dan yang mengalun di earphone-ku adalah lagu Kaisa Saari yang lain, yang berjudul Finnish Medley.

"Benarkah? Finnish Medley? Tiga lagu adat Finlandia yang dijadikan satu." Begitu kau bertanya waktu itu.

"Ya."

"Ini sebuah kebetulan."

"Hm, beberapa pertemuan memang diawali kebetulan, tapi semua perpisahan adalah kebenaran. Jadi, sebelum kita menemukan kebenaran, boleh aku tahu namamu, Nona?"

Namun, sebelum St. Andrews, malam ini, kau mungkin tak akan mendengar alunan apa pun, hanya suara kendaraan dan ribuan klakson yang enggan bergeming, yang menyebabkan perasaanmu lebih dulu sempurna ketimbang tubuhmu. Aku tak bisa membayangkan kau datang dalam keadaan kosong, di mana semua cerita telah usai di matamu, dan tubuhmu hanya artefak, serupa prasasti yang tinggal menyisakan sebuah lahan tanda tangan.

Di St. Andrews, kita tentu tak bicara harga tentang sebuah pertemuan, sebab kau paham, bahwa bisa saja kita membatalkan semuanya, dan kita biarkan salju turun di penjuru Birmingham, di sepanjang malam, membenamkan semua pertanyaan dan pernyataan. Mungkin lebih baik kita berdiam di rumah masing-masing, duduk menghangatkan tubuh dekat perapian, lalu saling menelepon hanya untuk mengucap selamat malam.

Memang begitulah yang bisa kuperkirakan. Setidaknya kau pun akan memikirkan hal yang sama. Sebelum St. Andrews, malam nanti, kau selalu mengingatkanku tentang janji yang dipanaskan, yang bisa meleleh, menguap, atau menyublim seperti kamper di celah rak toko pakaian. Atau seperti aroma sarden di atas wajan, ketika kau meneleponku sementara tangan kananmu sibuk menggoreng sesuatu,

"Kau cium baunya tidak? Aku sedang membuat menu masakan baru dari majalah."

"Sejak kapan telepon bisa mengirimkan bau masakan?"

"Ah, yang surealis sedikitlah, pikiranmu terlalu eksak."

"Hm, baiklah, aku bisa mencium harumnya, dan sekarang kita bisa saling menyuapi lewat telepon. Sini, berikan sendokmu."

"Haha. Konyol. Mana ada sendok bisa melewati kabel telepon? Sudahlah, sampai nanti malam ya, di halte bergambar Mickey Mouse."

"Lalu, apa kita akan masuk ke dalam St. Andrews?"

"Hm, mungkin saja, kita akan duduk di tribun terdepan, sambil berharap salju tak cepat turun."

Sebenarnya, aku masih sering bertanya, apakah yang bisa kita banggakan di St. Andrews? Jejak pertemuan kita mungkin akan dengan mudah terlindas mobil yang melaju, terhempas angin yang mengirimkan berita tentang pekat salju.

Aku selalu membayangkan hal terburuk di mana kita akan melewati malam nanti secara dramatis, sehingga setelah itu, kita tak selamanya membutuhkan pembuktian. Semisal sebuah badai salju yang tiba-tiba datang mendahului prediksi para pengamat cuaca. Sehingga kita pun terjebak selama berjam-jam. Sebab kau tahu, mungkin bukan kisah Cinderella yang akan merekonstruksi riwayat kita, bukan juga kisah pernikahan Veikko dengan seekor tikus betina dari Finlandia yang telah lebih dulu ada. Aku membayangkan kita seperti sepasang pohon mapel di tengah Craven Cottage, dua pohon keras kepala yang berdiri bersebelahan, yang selalu mengundang kecurigaan bahwa mereka dulunya adalah sepasang kekasih yang membeku dalam bentuk pohon yang menjulang, tapi kita juga tak mungkin selamanya berada di Selhurst Park, terbius oleh senja yang paling sialan, yang paling dilaknat para kekasih karena mereka selalu menangis saat melihat senja yang amis di sana, sehingga setiap pagi harinya, tisu-tisu berserakan.

"Aku tidak ingin menjadi semua itu... Kau tahu? Di pagi yang hijau, aku ingin menjadi sepotong hati, dan di malam yang matang, aku ingin menjadi seekor burung." Begitu katamu, masih saja mengutip puisi milik Federico Garcia Lorca. Sementara kurasakan hawa termometer kian tajam saja di pelupuk kota Birmingham.

Dan sesaat sebelum tiba di St. Andrews, malam nanti, aku mungkin sudah kehabisan kata-kata, kertas-kertas berisi rencana kecil itu kubuang ke tempat sampah. Aku hanya akan memastikan bahwa kita bahagia, aku akan menatapmu, melihat wajahmu, yang seperti mutiara kaca mendekat padaku, tapi kemudian menjauh lagi, malu-malu seperti lampu kota, yang terbungkus jaring salju.

"Helvetia..."

"Ya?"

"Kau percaya padaku?"

"Apa?"

"Kau percaya padaku?"

"Di St. Andrews. Iya."

"Hmm...."

Dan tiba-tiba langit melemparkan dingin ke dalam ingatan kita. Di kota ini, mungkin kita harus belajar untuk saling mencintai dalam keadaan lupa, seperti saat kita tak tahu untuk apa kita duduk di halte Mickey Mouse yang steril ini, memandang salju pertama yang akhirnya tiba dengan selamat di permukaan St. Andrews. Malam nanti. n

(Kedai Senja, 12-02-4040)


Lampung Post, Minggu, 29 April 2012

Sunday, September 18, 2011

Fortifikasi Keheningan

Cerpen Sungging Raga



AKU memasuki sebuah lorong panjang. Sebuah lorong yang menjadi semacam pembatas antara masa lalu dan masa depan.

Kulangkahkan kaki bersama segenap ingatanku akan kehidupan yang berjalan ke belakang. Aku baru menyadari, ternyata usia memiliki kaki yang bergerak mundur, menghitung waktu untuk terjatuh ke dalam sebuah jurang tanpa harus melihat. Dan lebih baik aku melangkah ke depan, tentu aku sudah lupa sejak kapan aku terjebak di sini. Disekat dua dinding gelap yang bahkan tak bisa kulihat permukaannya. Seperti terowongan, tapi aku merasa tak ada pembatas antara aku dan langit. Udara dingin menyerangku dari arah depan, belakang, dan atas. Lalu aku terkepung, mabuk oleh peristiwa-peristiwa purba yang entah mengapa hadir kembali saat itu juga. Aku merasakan detik-detik hidup yang paling berharga, jatuh dan jatuh, tak bisa kukendalikan. Aku tak bisa mengendalikan apa pun kecuali beberapa gerakan tubuh yang memang harus kulakukan. Aku melangkah ke depan, bernapas, mendengarkan detak jantungku sendiri. Sungguh, hidup terasa hanya kiasan, dan kesunyian adalah kenyataan di sini, nyaris hampa, tak ada apa-apa, tanpa semesta, tanpa cakrawala. Tetapi sudah kukatakan, ini adalah sebuah lorong, di mana pada suatu saat akan memiliki ujung, mungkin ada cahaya yang membentang di sana, sehingga anggap saja aku sedang menelusuri sebuah goa, menelusuri batuan raksasa yang hanya menyisakan suara kelelawar atau air yang menetes, menuju muara. Sekarang aku tak tahu lagi tentang hari-hari, tanggal, atau rencana-rencana yang tertunda selama beberapa waktu. Aku tak ingin tahu apa-apa.

***

Semua ini berawal dari mimpi, berwarna hitam, memaksa kelopakku membuka dalam dunia bawah sadar. Dan semuanya berbalik, matahari hanya igauan tentang kegelapan, langit pun menyusut, tak ada angin, kecuali udara yang masih memaksakan suhu menurun di bawah rata-rata, membuatku harus sadar bahwa aku masih berada di bumi. Tetapi mengapa tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah lorong? Yang membuatku tak punya pilihan lain kecuali terus berjalan, tanpa bayang-bayang. Seketika kurasakan ini hanya mimpi, mungkin kuadrat mimpi, jadi aku bermimpi di dalam mimpi, mungkin juga ini telah melewati puluhan tingkatan mimpi, sehingga tak ada lagi yang tersisa dari mimpiku kecuali sebuah kegelapan yang terbatas pada dua dinding memanjang. Dan aku tak tahu, aku berhenti di mimpi ke berapa.

Aku justru bisa mengingat beberapa kenyataan yang terjadi di luar mimpi, itu pun dalam rangkaian waktu yang tak valid lagi. Aku mengingat pagi sebelumnya, kutemukan diriku menangis, aku memang harus menangis hari itu. Duduk di tempat tidur, aku menangis di hadapan serangga-serangga yang bersembunyi di balik lemari, kursi, dan jam dinding. Air mataku mendarat di lantai ubin yang dingin, menelusup lewat celah kecil, menuju kehampaan. Hanya hampa, ternyata toh air mata hanya menuju keheningan. Sama seperti tangisan, semakin dalam kesedihan, tangisan justru semakin sunyi, bukan semakin berteriak-teriak.

Apakah kesedihan sejati memang tak bisa berteriak? Sebab aku tak pernah lagi punya kesedihan, atau hati yang ngilu oleh peristiwa-peristiwa duka. Sejujurnya, perasaan duka atau terluka sudah lama terangkat dari tubuhku sejak kecil. Ya, bagiku, meninggalkan masa kecil adalah layaknya keluar dari sebuah ruang operasi. Kupandangi dua orang dokter yang tak lain adalah ayah ibuku. Mereka terus mengajarkanku kesembuhan yang abadi, seakan aku terbentuk dari serangkaian rasa sakit berkepanjangan. Aku terbaring di atas meja operasi dengan kain putih. Di bawah sorot lampu cahaya mengesankan. Lampu itu menggambarkan seorang bocah yang berada di sebuah pasar malam, dituntun oleh orangtuanya, menunjuk-nunjuk pada seorang penjual gulali, penjual mobil mainan, juga wahana bianglala. Cahaya itu seperti berasal dari sebuah bioskop dengan peristiwa yang acak. Gambaran masa kecilku berpindah-pindah. Seorang gadis kecil sedang mencoba baju yang merupakan hadiah ulang tahun, lilin baru saja padam, tepukan meriah masih menggema di ruang tamu, kemudian seorang anak laki-laki yang dijunjung orangtuanya agar bisa melihat sirkus jalanan. Tetapi anehnya, tak kutemukan diriku di sana, peristiwa masa kecil hanyalah nama, tanpa tokoh yang nyata. Dan di ruang operasi ini, kutemukan ayah dan ibuku hanya sebuah angan-angan yang panjang tentang gelak tawa. Aku selalu bisa membayangkan seorang ibu yang sedang menjemur pakaian, atau memasak di dapur. Dan ibu teduh memandangiku yang baru saja terjaga, muncul dari balik kamar mandi.

"Cepat ganti baju, sebentar lagi sarapan siap."

Aku mengangguk. Selanjutnya aku akan menerjemahkan kasih sayang: Seorang ibu berbicara tanpa memandangi anaknya. Tetapi ada aura positif yang memancar dengan jelas dari nada suara ibu. Mungkin aku tak kuasa menangkapnya, apalagi menerjemahkannya daripada sekadar definisi yang hampa. Aku mengenal orang tuaku tepat ketika masa kecilku merapikan ceritanya dalam buku-buku lusuh yang kesepian karena tak pernah lagi dibuka. Masa kecilku terasa begitu hening, begitu pengap. Meskiun aku paham bahwa tak ada lorong di masa kecilku, tak ada kegelapan, aku bahkan tak mengenal listrik yang padam, atau bulan mati. Toh aku hidup di pinggiran kota yang gemerlap. Meskiun kumuh, masih bisa kuterima cahaya menyilaukan dari sorot lampu jalanan, lampu mobil, atau papan reklame yang berwarna-warni. Dan aku merasa inilah kehidupan lain yang menungguku untuk menyeberang jalan, menuju ke arahnya. Tetapi lama-kelamaan, aku tak tahan hidup bersama angan-angan, ia sudah seperti bayang-bayang, kadang berada di belakangku, kadang berada di depanku. Dan ia juga seperti cahaya, ia bisa menyentuhku, tai aku tak bisa menyentuhnya. Kudapati kehidupan begitu rumit untuk kucatat. Bukan dalam kertas, melainkan dalam pandanganku tentang masa depan.

"Ingat, kamu harus lebih baik dari bapakmu, sekolah yang tinggi, biar jadi orang, bukan gelandangan."

"Apa gelandangan bukan orang?"

Ibu diam. Aku terus saja tumbuh bersama nasihat-nasihat tak tercatat. Semacam formalitas, di mana sering pendengaranku penuh dengan kisah ajaib orang lain, sedangkan jalanku sendiri semakin menyusut, mengecil, tidak menarik, muram, berkerikil, dan tak menampakkan ujung yang istimewa. Apalagi yang paling istimewa dari masa lalu yang terus berjingkat menjadi masa depan penuh tanda tanya? Kukenal banyak orang, banyak cerita. Ada banyak kabar pesta, banyak pula kabar penuh keluh. Kukenal romansa kehidupan lewat senyum gadis belia yang duduk di halte sambil membaca buku. Kukenal perjuangan paling menyakitkan dari seorang cacat yang mengais uang logam dalam kereta. Kupahami mudahnya masa depan dari seorang yang keluar dari mobil Ferrari. Apakah mereka semua berhubungan? Setiap kali memandangi seseorang, aku merasa seperti sedang mengarang masa depannya, atau mungkin aku hendak masuk ke dalamnya, menjadi molekul halus yang selalu mengikuti ke mana saja, dan jatuh dalam ingatan bahwa setiap orang membawa kesunyiannya masing-masing hingga ke dalam tidurnya.

Lalu kedewasaan kutemukan di bawah bangku perkuliahan. Ruang kampus yang ramai gelak tawa, gadis-gadis dengan bedak tipis di wajahnya, celana ketat, sepatu sporty, juga handphone yang siap menyatukan janji-janji.

"Hai, besok ikut ke Pantai Siung? Kita mau kemah."

"Iya. Ayolah ikut, kok kamu jarang ikut kumpul dengan anak-anak?"

Aku diam. Mengangguk. Kupandangi mereka, berjalan, tertawa, menuruni tangga. Berpisah di lobi. Berpisah dalam riuh kendaraan. Melambaikan tangan. Dan aku pun berlalu, berjalan di sepanjang trotoar, masuk kamar, menutup jedela, melompat ke tempat tidur, terpejam, dan bermimpi.

Pandangan jadi hitam. Seperti berada dalam sebuah goa yang pekat. Tetapi lama kelamaan, aku menyadari, aku berdiri di sebuah lorong, cukup lebar, namun tak cukup menenangkan. Dan aku lebih sadar lagi, setiap orang memiliki lorongnya sendiri, di mana tak ada orang lain yang tahu, bagaimana lorong itu ditafsirkan, juga tentang apa yang akan ditemui di dalamnya. Tiba-tiba juga, aku merasa kata-kata hanyalah serangkaian huruf kesepian yang mewakili kehendak aneh manusia.

"Ingat, kalau besar nanti..."

"Lho, kamu belum lulus?"

"Kerja di mana?"

"Kapan menikah?"

"Sudah punya rumah atau kontrak?"

"Dulu kamu kan hidup enak sekali..."

"Wah sayang sekali kalau orang cerdas seperti kamu..."

"Ayo reuni...."

"Wah, belum sukses juga?"

"Apa kamu tidak kasihan...."

"Kamu tidak bisa main layang-layang?"

"Selamat ulang tahun...."

"Laki-laki kok gampang menangis?"

Ternyata manusia selalu datang dan pergi, dan yang menetap hanyalah suara-suara dalam bentuk kata. Dari arah depan atau belakang, tak mudah kukenali dalam gelap seperti ini. Sekarang aku paham, masa lalu dan masa depan memang terkadang bertukar tempat, atau juga berjalan beriringan, sejajar seperti saling bercermin, sementara orang lain hanya metafora kehidupan. Dan ketika masa lalu dan masa depanku tak bisa dibedakan, ketika aku sadar bahwa masa lalu dan masa depan itulah kedua dinding yang membentuk lorong gelap saat ini, maka yang bisa kulakukan hanya berjalan, terus berjalan.

Menuju keheningan. n


Lampung Post, Minggu, 18 September 2011

Sunday, July 3, 2011

Rumah Masa lalu

Cerpen Sungging Raga


KIAN renta rumah ini, ketika kupijakkan kaki di atas tanah berkerikil, kudengar suara angin yang seolah menyambutku. Sudah berapa tahun berlalu? Seperti baru kemarin ketika aku melihatmu menyirami bunga-bunga yang sekarang entah di mana bangkainya. Pot-pot telah jadi hitam, terbakar oleh cuaca yang berganti-ganti, sementara rumput dan daun sudah menyatu, kering dan berdebu.

***

Biografi Kepergian

Setelah hari itu, kudengar kau tak pernah lagi kembali untuk sekadar merapikan kamar yang kau tinggalkan, bahkan untuk sekadar mengunci pagar agar tak ada orang asing masuk. Tetapi kepergianmu sepertinya telah dipastikan, lewat sisa tatapan matamu yang sempat kuingat, lewat kebersamaan yang berangsur-angsur padam seperti sore yang jelaga. Ah, di kursi bambu itu, terkadang kita suka melihat matahari jatuh di balik rimbun ranting pepohonan, menghirup udara sore yang merayap lewat celah-celah kecil dedaunan tempat masuknya cahaya. Kau yang mengatakan padaku, bahwa duduk di sore hari itu bukan menghabiskan waktu, melainkan untuk menghayati kesunyian. Jadi, sekarang kau telah berpindah untuk mencari kesunyian baru?

Aku melangkah melewati pekarangan, berhenti di depan pintu, kulihat gagangnya sudah berkarat, ada rantai pejal melingkar namun sepertinya tak lagi terkunci, barangkali ada orang lain yang pernah memotongnya dengan gergaji untuk memasuki rumah ini. Mengambil sesuatu di dalamnya, seperti kenangan. Barangkali kau sendiri yang diam-diam datang di tengah malam. Kudorong pintu ini, terbuka. Aroma lembap menyeruak begitu saja di wajahku. Aku menutup hidung, ada debu beterbangan dari segala sudut. Dari celah lebar yang baru saja kubuka, di dalamnya, seperti berdiam ratusan tahun kegelapan. Bayangkan, terakhir kali kulihat kau berdiri di pintu ini, adalah saat di mana kita berpegangan tangan. Aku tak akan melupakan bagaimana caramu menciumku, lantas berbisik, "Aku akan di sini, setia, seperti rumah ini." Tetapi setelah mengucapkan itu kau justru melangkah, menjauh, dan hilang seperti hujan yang sia-sia di awal kemarau.

Sekarang kutatap ruang tamu, dengan mata menyipit yang dipaksa-paksakan, akhirnya beberapa puluh detik kemudian aku mulai terbiasa. Keremangan yang sempurna, kotor yang sempurna, pengap yang sempurna. Tak ada lagi sapu yang biasanya tergeletak di dekat gorden jendela. Tentu saja aku masih hapal letak beragam perabotan yang pernah hidup di sini, yang pernah kita gunakan beberapa tahun sebelum karam sampan itu.

Ah, mungkin aku yang terlalu kasar padamu, ketika kupaksa kau untuk tak ikut pergi ke perantauan, ketika kupaksa kau untuk sejenak bersabar dengan berbagai kekurangan dalam pernikahan kita. Tetapi bukankah kau yang akhirnya pergi terlebih dahulu?

Barangkali kita hanya salah menentukan waktu, kita berselisih dalam sengkarut kenangan. Dan hari ini, sekembalinya dari tanah rantau, aku hanya bisa tertunduk di ruang tamu ini. Sendirian.

Masih terdengar suara kicau burung-burung di luar itu, seperti sebuah orkestra akan masa lalu yang terus berayun-ayun di kepalaku.

Foto Pernikahan

Pada dinding bagian utara, yang catnya telah mengelupas dan penuh dengan jaring laba-laba, foto pernikahan itu tampak semakin usang saja, seperti usangnya cinta kita. Foto yang tak sempat kita rawat usianya. Di foto itu kita hanya berdua, tersenyum bahagia. Mengapa hanya berdua? Kau memang bilang bahwa kau merindukan seorang anak, sementara kau pun mengeluh karena aku tak juga mampu mendapatkan pekerjaan yang layak. Nanti anak kita mau dikasih makan apa? Mimpi-mimpi?

Begitu besar keinginan itu sehingga setiap malam aku terusik, tidurku tak tenang, sementara kau kadang terisak, dalam tangis yang seolah berbisik-bisik pada kesunyian di tengah malam. Sabar, kataku, sambil kuusap rambutmu, kubelai, dan kau menggeliat, menolak, merebahkan diri, lantas pura-pura terpejam.

Tetapi ketika suatu hari kudapatkan berita gembira itu, ketika kudapatkan kesempatan mengumpulkan uang di negeri lain, di tanah yang lain, kau justru menghadirkan dilema yang lain, dalam bentuk yang lain. "Nanti aku kesepian," katamu. Padahal ini semua demi kita, bukankah sudah lama kau merindukan bagaimana kita akan dengan santai menenggak minuman dingin tanpa harus keluar rumah untuk membeli sebongkah es dari tetangga? Bukankah kau ingin menikmati nasi yang selalu hangat di dalam rice cooker? Tak akan ada lagi nasi yang selalu basah dan berbau basi. Bukankah sebuah gelang emas begitu kau dambakan untuk melingkar di pergelangan tanganmu ketika kau keluar untuk berkumpul bersama ibu-ibu tetangga sekitar rumah kita?

Baiklah, kau punya segudang harapan, dan kau memang tak selalu mengatakan apa yang kau pikirkan, setiap orang punya rahasia. Mungkin ada yang tak terungkapkan di foto pernikahan itu. Di foto itu kau dan aku tersenyum, bahagia, di depan cipratan cahaya kamera. Padahal ada banyak foto-foto lain yang terbuang, yang tak bisa memunculkan chemistry, hingga tersisa foto itu, yang kemudian diperbesar, dan ditakdirkan untuk menggantung di ruang tengah.

Kemudian foto itu tak lebih dari sekadar hiasan, selebihnya adalah desas-desus dari para tetangga tentang dirimu. Bahwa jika kusimpulkan secara kasar, kau seolah hendak membuat foto yang lain, foto di mana ada dirimu bersama lelaki lain yang bukan aku. Secepat itukah? Padahal foto kita saja belum juga aus dimakan rayap, belum juga terempas badai yang menyergap. Tetapi mengapa begitu gencar tiba kabar itu di telingaku? Kabar yang tumbuh berjamur dan nyaris kuanggap sebagai kebenaran ketika ditutup dengan kepergianmu.

Lalu, kapankah terakhir kali kau menatap foto pernikahan kita? Mungkin ketika aku sedang tak berada di rumah, kau seringkali menangis, meratapi pernikahan yang tak sesuai dengan bayanganmu dahulu. Namun setidaknya foto ini pun masih menjadi satu-satunya tanda, bahwa setidaknya kita, pernah—pura-pura—merasa bahagia.

Akhir Penghujan

Rumah ini sudah selesai direnovasi, pagarnya pun sudah dicat, warna merah, pot-pot ditata rapi, baru saja sebuah pikap berhenti dan menurunkan beberapa kursi yang masih terbungkus plastik. Aroma segar tercium dari pekarangan hingga pintu depan. Kau suka menanam bunga, kan? Sekarang kau tak perlu lagi menanamnya di atas tanah, cukup dengan pot-pot yang telah dihias indah itu, kau akan semakin senang ketika memandangi bunga peliharaanmu setiap pagi dan sore, melihat kuncupnya, melihat kelopaknya. Dan aku akan memandangimu dari sini, dari teras rumah ini.

Ruang tamu sudah rapi, beberapa tirai dipasang untuk menahan sinar matahari yang terkadang menyilaukan, televisi diletakkan di dekat akuarium yang telah terisi air, lengkap dengan hiasan bunga laut dan karang-karang buatan, ah, sebentar lagi ikannya datang. Tentu sebuah kejutan untukmu, kejutan yang menyenangkan.

Aku masih menanti kedatanganmu, sebuah pita sudah kubentangkan di kedua pagar pekarangan, agar tampak seperti sebuah peresmian, pita merah muda yang berhiaskan bunga di tengahnya. Aku menunggumu pulang. Cepatlah, aku tak sabar melihat senyummu, sehingga aku yakin bahwa pilihanku untuk merantau ke negeri tetangga tidaklah sia-sia, sekarang semua sudah lengkap. Rumah mungil ini menjadi mewah, dan asri. kalau perlu, besok akan kubuatkan sebuah taman kecil di samping rumah. Taman yang terdiri dari kolam ikan juga sebuah ayunan agar kau bisa bersantai, juga beberapa pepohonan untuk hinggap burung-burung, dan kursi agar kau dapat duduk tenang memandangi ikan di air jernih itu.

Bayangkan, sekarang semua itu bukan lagi mimpi, aku tak bisa mengira, bagaimana gembiranya ketika kau datang nanti? Aku tersenyum, tak sabar. Aku duduk di teras, memandangi hijau rumput dan deretan pot dengan bunga-bunga kecil yang segar. Sore sudah surut, cahaya reda. Mungkin kau kini sedang mencari jalan untuk kembali ke rumah ini, untuk kemudian mencintaiku lagi dengan cara yang paling mengesankan...

***

Hujan turun begitu deras malam harinya, pita di depan rumah menjadi basah dan putus, saat itu pula aku yakin, kau tak akan pernah datang. Aku bergegas masuk ke rumah, melihat suasana yang serbaburam dari balik kaca jendela yang tadinya telah bersih mengkilap. Selalu kaca jendela, yang seolah menjadi bingkai dari sebuah dunia di luar kita, di luar imajinasi kita. Apakah kini kau sedang kehujanan di luar sana? Apakah kau sedang berteduh di suatu tempat dan merasa cemas? Atau kau sedang berada di sebuah rumah yang tak lagi bisa mendengar suara hujan?

Entahlah, begitu banyak tempat di dunia ini yang bisa kau jelajahi sendirian. Yang pasti, di mana pun kau berada saat ini, di rumah manapun kau merasa nyaman malam ini, aku hanya berharap, semoga kau tak pernah pura-pura merasa kesepian. n


Lampung Post, Minggu, 3 Juli 2011

Sunday, February 6, 2011

Pintu Air Jagir

Cerpen Sungging Raga


"Karena yang kita lakukan selama ini tidaklah sia-sia."

SATU

Jadi, jika tubuhmu memang benar telah hanyut di sungai itu, bukan berarti tak ada lagi yang akan menunggumu di pengujung sore di sudut desa ini. Mungkin kau sadar, ketika keheningan yang kau cita-citakan itu mulai kau rasakan, ketika tubuhmu terbelit akar-akar dan daun rumput yang bergerak seragam, kau biarkan kehanyutan itu menjadi semacam doa yang melebihi waktu, kau tempuh kesunyian seperti tanpa beban, tanpa arah, dan hanya menitipkan pesan lewat celah remah dedaunan.

Sudah beberapa sore kutunggu kau kembali setelah badai membelah desa ini menjadi ribuan potongan kisah kecil. Kutatap lagi foto ini, sebuah foto tanpa bingkai yang pernah kau kirimkan beberapa tahun lalu. Seperti ucapan terima kasih yang masih terasa hangat di lengkung daun telingaku. Kau tak mendesah, kau tak berbisik, hanya telepon yang waktu itu menyaksikan suaramu hadir begitu saja, datar, lantas hanyut, dan lenyap seperti sesuatu yang begitu cepat menjadi baka.

Tetapi perjalanan memang telah mengirimkanku ke tempat ini, dengan kereta yang menghubungkan kota kita, dengan sedikit usaha untuk tiba di rumahmu yang masih harum bukit-bukit kehijauan, rumah di mana huruf demi huruf pernah kau kibaskan di atas kertas, atau ketika kau meruntuhkan pagi yang tumbuh di matamu dengan suara serak di ujung telepon itu. Teras, bunga mawar, pot kecil, dan sebatang pohon yang tumbuh melebihi pagar rumahmu, segalanya seperti rentang cerita yang kau titipkan lewat hari-hari kita yang berbatu, lewat rentang waktu yang menyekat setiap pintu.

"Karena cinta kita mendahului waktu." Begitu ucapmu bertahun-tahun lalu, ketika kita masih sepasang remaja yang biru, yang mencoba menerka-nerka adakah yang lebih indah dari perasaan yang terbahasakan. Tetapi kita memang terlalu cepat untuk melewati pijakan-pijakan yang tak kita ketahui terjal atau landainya.

Maka kita pun terbata-bata.

DUA

Sudahkah kau ingat kembali kejadian tak terduga itu? Sore temaram, sisa hujan, lembap, dingin, remang, basah, peluh, lenguh, rontok daun, suara kicau burung, dengung mesin, bau gas, cipratan air, dan segenap petikan alam yang membuatmu tersadar dari riuhnya kota ini. Kota yang tak lengang. Namun kita berawal dari sini, dari sebuah stasiun yang tak memberimu jalan keluar dari kenangan. Kita berjanji untuk bertemu di stasiun, berjalan perlahan dengan bergandengan tangan. Ah, aku memang tak melihat ketika kau melangkah perlahan memegang sepucuk surat yang pernah kukirimkan itu—yang pernah berjanji kubacakan kembali di hari ulang tahunmu, tetapi aku paham, kita berada pada satu titik rahasia, lebih rahasia dari keterlambatan kereta, yang tak boleh cepat diungkap lewat coretan pada dinding gerbong kereta.

Tetapi tiba-tiba kubayangkan kereta yang melintasi pintu air itu membuat waktu mulai mendahului kita. Di mana romansa, kata-kata mesra, dan ribuan janji kita untuk menempuh perjalanan yang paling sederhana, tanpa algoritma. Kau masih dengan pakaian putih bersih, dengan tas yang ikat talinya melingkar di tubuhmu. Kau bayangkan jam sejenak membatu. Bahkan ketika aku diam-diam memutar kembali kenangan seperti semacam film yang direkam secara bajakan, terputus-putus, miring, dan bergoyang-goyang, ingin kususun kembali bayanganku tentang sosokmu, ingin kubayangkan kau hanya lewat surat-surat dan telepon di hari-hari yang terkejut itu. Terkadang aku ingin terpejam dan tidur selamanya sebelum kereta terakhir mengantarmu pulang.

Barangkali kau juga pernah muncul dalam tidurku, dalam mimpi yang ketika itu di kepalaku hanya ada hingar-bingar perjalanan kereta, antara bersilang, disusul, dan tunggu aman. Kita pun begitu, mendadak kubayangkan kau berdiri di sepanjang rel, mengamati lenyapnya impianku yang lembut ditelan abu. Aku tahu, kau tak tumbuh dalam perjalanan itu, kau bukan wanita yang kutemui di sebuah kereta yang entah apa namanya dan entah tujuannya. Meski begitu kita pun paham, kita tidak muncul dalam suatu pertemuan acak, bahkan janji-janji itu bukan sekadar kalimat yang kau tulis begitu saja. Bahkan perjalanan ini semacam replika dari apa yang kusimpan sebelum badai itu mengguncang desamu. Bahkan stasiun itu berdampingan dengan pintu air yang aku tahu itu juga menuju rumahmu. Setiap kali kutatap pintu air itu, bendungan yang selalu mengukur debit air itu, seperti ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, terutama ketika suasana telah remang, di saat semua sinar bermunculan, lampu kota, merkuri, baliho, papan reklame, lampu lalu-lintas, ketika segala cahaya tiba di mata kita. Dan kubayangkan kita duduk di sebuah taman, saling menatap, sementara di belakang kita beberapa pemuda bermain skateboard, atau di taman tempat merpati beterbangan karena manusia mengganggu mereka yang sibuk mematuk biji-biji jagung. Ketika itulah kusampaikan gejolak paling rentan dari tubuhku. Kau tahu, tubuhku seperti karang yang kering-kerontang, tak ada desis ular air, capit kepiting, atau buih sungai yang berserakan. Tubuhku adalah rentetan karang di padang tandus, yang jauh dari air, atau mendung, atau hujan, atau apa saja yang membuat setiap kata-kata ini menjadi picisan. Tetapi badai itu tiba lebih cepat dari segalanya, mendahului waktu, mendahului kita, mendahului dirinya sendiri. Ketika desa menjadi serpihan yang tak seorangpun pernah membayangkan lewat sentuhan mata.

Aku tak menangis, kau tahu, meski terkadang aku duduk di depan rumah menatap jalan raya seperti menggelembung oleh timbunan air dari silang kendaraan demi kendaraan. meski terkadang kususuri kembali jejak-jejak yang pernah kita singgahi, meski badai itu tak terekam oleh tubuhmu yang hanyut di sungai itu.

Terkadang kau bertanya, mengapa pertemuan kita begitu terlambat dan jauh? Mengapa cinta kita bisa mendahului waktu tetapi tak bisa mendahului jarak? Bahkan ketika kau menangis lewat telepon itu, bisa kurasakan sungai deras yang mengalir di jantungmu, menelusuri setiap rongga tubuhmu yang mulai melemah. Aku tak tahu, yang pasti, setiap kali aku berkunjung ke rumahmu, tak pernah kuniatkan itu sebagai ziarah, melainkan menjadi penanda bahwa apa yang kita lakukan tidaklah sia-sia seperti yang kau ucapkan dahulu.

TIGA

Mungkin lebih baik kutunggu saja kau di pintu air ini, tempat beberapa anak sungai menyatu, membelah, dan mengalir seperti tunduk pada takdir. Entah dalam wujud apa. Tetapi di muara manakah kau akan terdampar? Ketika badai itu tiba, aku tak sedang duduk di depan cermin menunggu telepon seperti biasa. Bahkan aku tak membayangkan bahwa sungai yang sering kau ceritakan lewat telepon itu akan menjadi saksi berakhirnya biografi perasaan kita.

"Aku suka sungai, kadang aku melamun di tepinya, menulis puisi, seperti sebagian gadis-gadis zaman dahulu yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun, melamukan seorang pangeran akan tiba di bawah kepungan hujan, menjemputnya, dan membawanya ke suatu tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya."

Apakah kita sedang hidup dalam sebuah fiksi yang belum mati? Cinta ini, badai ini, desa ini, stasiun ini, mungkin semua hanya fiksi. Pernah pula kutuliskan kau dalam kisah-kisah pendek yang memalukan, kutulis dirimu di bawah lampu meja, ditemani musik blues yang mendengung pelan, suara nyamuk, dan kantuk yang menyengat. Meski tak bisa kubayangkan kau dalam seribu tokoh fiksi yang berbeda. Sebab kau bisa menjelma apa saja, kau bisa menjadi pohon yang tumbuh kekar di depan peron stasiun, kau tak bisa ditebang, kau tak bisa digusur dengan alasan tata kota. Kau tetap di sana karena kau tumbuh di sana, menungguku datang dengan cinta yang terbata-bata. kau meneteskan getah itu di tanganku, semacam penanda yang baik tentang hari baik, bahwa pertemuan kita sedianya akan abadi dalam rentang ingatan yang tak akan menjadi klasik.

EMPAT

Jadi, ketika kau dinyatakan hilang oleh orang-orang itu, aku tetap suka membayangkan diriku berada di pintu air dan berlayar mengarungi sungai di depan petak rumahmu yang kini benar-benar rata itu.

Sebab aku masih menerka, apakah benar yang kita lakukan selama ini memang tidak sia-sia.


Lampung Post, Minggu, 6 Februari 2011

Sunday, August 1, 2010

Selingan Tragedi

Cerpen Sungging Raga


"ATAS nama apa mereka turun ke jalan?"

"Atas nama bangsa."

"Bangsa siapa?"

"Bangsa mereka sendiri."

Bendera berkibar, jalanan macet. Udara sedikit mendung. Hujan masih tertahan. Orang-orang berselimut amarah, berselimut bahasa yang tajam. Bendera diikat ke kayu, kayu digenggam tangan. Invasi jalan raya, jalan protokol, jalan umum. Polisi diam, formalitas ketertiban. Pengendara mobil dan motor menggerutu, mencaci-maki dalam hati. Sebagian jalan terpotong oleh iring-iringan manusia itu. Seperti robot, berteriak-teriak seragam dan serentak, nada yang tegak, siap merusak. Mereka berjalan terbungkus kain-kain bertuliskan huruf besar, caci maki, tuntutan demi tuntutan, erangan yang tak tertahan, tertuang dalam selaksa ancaman. Mereka berjalan sambil mengenakan kaus kaki di kepala, mereka terbatuk dan dalam mulut mereka tiba-tiba keluarlah manusia lain yang langsung tumbuh dewasa kemudian ikut berjalan kemudian terbatuk dan keluarlah bendera putih yang akan bertulis kecaman-kecaman serupa. Mereka begitu panjang, pohon-pohon kering merasa heran, cuaca diam.

"Ah, macet begini."

"Aku bisa telat, nih!"

"Aku juga. Sudah nggak bisa memutar pula!"

"Nasib!"

"Ampun deh!"

"Aku dengar, menyingkirkan duri dari jalan adalah sebagian dari iman."

"Betul."

"Apa mereka tidak tahu itu?"

"Seharusnya tahu."

"Kenapa tetap membuat jalanan macet?"

"Karena mereka merasa bukan duri."

"Mereka merasa benar sendiri!"

Matahari demam. Dari langit tampak lubang raksasa. Arak-arakan awan bergulung seperti selimut yang keliru, arahnya acak. Abstrak. Hujan tak berani memandang, pasti ada pawang, yang membuat hujan bertepuk sebelah tangan. Ah, tepuk tangan, mereka juga suka bertepuk tangan, riuh mengiringi perjalanan ratusan bahkan ribuan orang itu yang entah bermuara di mana. Dari mana mereka? Terbuat dari apa? Apakah mereka dari langit? Turun begitu saja bersama badai yang menggeram semalaman? Apa yang mereka inginkan?

"Mereka pasti mau membuat bangsa sendiri."

"Apa?"

"Ya, mereka tidak puas."

"Apa bangsa ini sudah tidak beres?"

"Buat aku sih, sudah cukup beres."

"Buat mereka?"

"Mungkin sama sekali tidak beres."

"Apa yang tidak beres dalam bangsa ini bagi mereka?"

"Ya bangsa itu sendiri yang tidak beres."

"Apakah semua bangsa tidak beres di mata mereka?"

"Mungkin."

"Pernahkah mereka melihat bangsa yang beres?"

"Tidak ada."

"Jadi, mereka berkhayal dong?"

"Bukan, mereka itu mimpi."

"Wih, mimpi kok seperti itu?"

"Ya. Begitulah kalau dininabobokan mimpi mereka sendiri."

Orang-orang itu tiba di sebuah gedung. Gedung bertuliskan dosa. Dicap dosa dan tak terampunkan. Orasi. Orasi. Mungkin tak sabar menunggu. Mereka justru sudah ditunggu, petugas keamanan yang lugu, yang terpaksa berdiri di sana demi membelikan anaknya segelas susu. Tetapi begitulah takdir. Amarah mendorong amarah. Pecah. Pecah. Orang-orang memecahkan kaca. Gedung bertingkat itu berkeringat penuh kaca, kaca dilempari, gedung terkejut dari tidurnya, listrik padam, AC menutup dirinya. Para pelayan disuruh keluar, kalau tidak mau dilempar ke sana-kemari. Dosa berhamburan, dari mulut dan dari tangan. Dosa. Itu dosa. Itu juga dosa. Itu juga. Ah, semua dosa. Ah, apa itu dosa? Kenapa kalian tidak berhenti? Ini merusak moral! Hancurkan! Ayo! Sikat! Orang-orang berhambur, merangsek masuk. Berhasil. Bangku-bangku ditendang. Pria-pria kesepian kalang kabut bukan kepalang. Lampu disakiti. Meja digulingkan, botol bertubrukan. Gelas dan ayunan pedang berjabat tangan.

"Nah, lihat, bangsa ini memang tidak becus."

"Kata siapa?"

"Kata orang-orang itu."

"Apa mereka itu sedang memberi contoh?"

"Ya. Mereka sedang mengusir setan."

"Dari mana?"

"Dari bangsa ini."

"Apa bisa berhasil?"

"Mungkin saja, tapi ada setan yang tidak akan bisa diusir."

"Setan apa?"

"Setan dalam tubuh mereka sendiri."

Ruangan di dalam gelap. Porak-poranda. Teriakan menggema. Tolong. Di sini terjadi pembantaian atas nama... Atas nama siapa? Aduh! Kaca pecah, matahari pecah, hiasan bintang di langit-langit remuk. Lampu patah. Gelinjang cahaya. Ruangan kerja diterjang, di dalam ruang itu ada hutan gelap. Seribu binatang tersingkap sampai meloncat ke ubun-ubun. Pasukan berbendera dan berkaus kaki di kepala itu belingsatan. Mereka bersorak. Mereka merusak, beranjak, bersorak lagi, mengaum, serentak.

"Wah, sadis."

"Itulah makna kebajikan."

"Kebajikan?"

"Benar."

"Mereka sedang melakukan kebajikan?"

"Tentu, kebajikan yang mereka baca."

"Mereka membaca kebajikan?"

"Ya. Mereka membaca dengan membabi buta."

"Babi?"

"Itu istilah. Mereka membaca, menafsirkan sendiri, bergerak. Menunggu perintah serempak."

"Mereka tentara?"

"Ya. Tentara kebajikan."

"Sadis begitu?"

"Itulah kebajikan menurut mereka. Sebenar-benar kebajikan."

Cerita hampir usai. Reporter televisi tumbuh seperti jamur, cahaya redup menampar udara. Kamera video berdesakan dengan peristiwa, bahu didesak, tangan ditarik. Kamera merekam, hati tak merekam. Mereka seperti amarah yang belum padam. Sementara di luar, mendung semakin pekat. Bangunan menjadi penjara yang rusak, papan nama rubuh. Mengapa tak ada jejak-jejak Shubuh? Hah, mereka berharap apa? Orang-orang ditendang, orang-orang menendang, macan kelaparan. Tikus tak bisa tidur. Hujan turun langsug deras. Kocar-kacir airnya. Ban tak jadi dibakar. Amarah tak pernah menjelma sabar. Cepat keluar kalau tak mau terkapar.

"Seperti sandiwara."

"Tentu saja. Dan yang mereka bela itu adalah kebenaran."

"Kebenaran untuk kita semua?"

"Kebenaran untuk golongan mereka sendiri."

Manusia terakhir dilempar. Kaca meledak!

Jogja, 2010


--------------
Sungging Raga, lahir 25 April 1987 di Situbondo, Jawa Timur. Kadang-kadang tinggal di Yogyakarta. Buku perdananya kumpulan cerpen: Ketenangan Merentang Kenangan (Greentea, 2010)



Lampung Post
, Minggu, 1 Agustus 2010

Sunday, January 17, 2010

Stasiun Bersayap Embun

Cerpen Sungging Raga

RARA sudah membayangkan bahwa ingatannya akan dengan cepat kembali ke masa lalu setiap kali ia duduk di bangku stasiun ini. Ia tak bisa lagi memendam kerinduan yang tak asing itu. Di sini, tiga tahun lalu. Ia melepas kepergian Ani, sahabat yang sudah dekat dengannya bertahun-tahun selama kuliah.

"Aku tak pernah menyangka perpisahan begitu menyakitkan."

"Benar. Menyakitkan dan nyata."

"Mungkin hanya ini yang tersisa dari pertemanan kita. Sebuah stasiun yang ramai. Selebihnya tak ada lagi."

"Aku pasti mengunjungimu, suatu saat nanti."

"Haha. Ya kalau ingat!"

"Kalau aku sudah tua pasti pikun."

"Hahaha."

Bangku kayu itu terletak di ujung barat stasiun, masih bertahan juga meski sudah banyak bangku-bangku baru yang lebih kuat, tersusun dari besi dan aluminium yang catnya masih belum mengelupas. "Sedikit demi sedikit, stasiun ini memang sudah banyak berubah," gumam Rara. Namun bangku kayu yang nyaris lapuk itu tetap saja ada meski letaknya kini terpinggirkan, hampir tak ada yang mau duduk di situ kecuali orang-orang yang sudah tidak kebagian tempat.

Hari ini, Rara sudah membulatkan tekad untuk pergi, "Setiap manusia pada akhirnya akan berjalan sendiri-sendiri," ia menghayati betul kalimat yang dibuatnya sendiri. Manusia datang sendiri dan pergi juga sendiri. Kata "sendiri" berkecamuk di kepalanya. Namun Rara masih merindukan Ani.

Gadis berkacamata yang terlampau pintar itu memiliki nama lengkap Ani Maharani, berasal dari Lampung, namun Rara tak tahu di kota mana tepatnya. "Jadi kamu mudik ke barat, sementara aku mudik ke timur." Begitulah yang biasa diucapkan ketika musim mudik mahasiswa tiba, mengingat Rara berasal dari ujung timur pulau Jawa.

Meski bersahabat dekat, nasib akademis mereka seperti langit dan bumi, Ani melewati kuliah seperti menikmati sebuah roti kismis, enak dan lancar sekali, Ani lulus kurang dari empat tahun dengan predikat nyaris cumlaude, berbeda dengan Rara yang harus menunggu sampai tujuh tahun, sampai akhirnya menyerah dan terpaksa meninggalkan kampus tanpa gelar sarjana di belakang namanya. Meski begitu, persahabatan mereka tak pernah renggang.

Bahkan saking lengketnya, Rara dan Ani pernah diduga memiliki hubungan yang tak lumrah dan terkesan menjijikkan, namun keduanya hanya tertawa setiap kali mendengar itu. Mereka memang sangat lengket, serasi seperti sepasang sayap malaikat jelita. Stasiun ini hanya salah satu dari banyak tempat yang menjadi saksi persahabatan mereka. Kebetulan Ani dulu menyewa tempat tinggal tak jauh dari stasiun, hanya menyeberang jalan dan beberapa detik melewati gang sempit. Rara suka sekali menginap di sana, pagi hari bisa berjalan kaki ke stasiun, melihat matahari terbit, menyentuh puteri malu, menyusuri rerumputan di sekitar rel yang dihiasi embun. Hmmm... Dahulu di stasiun ini, seringkali ada sepasang sayap malaikat yang berembun.

Bayangan Ani tergambar jelas, Rara masih memutar kenangan, kini ia ingat suasana kampus, ketika mengerjakan tugas kuliah bersama, ke kantin bersama, atau ke kamar kecil yang bersebelahan dan saling bicara di balik dinding, semua hal kecil dan remeh tiba-tiba menjadi sangat penting. Dan jarang sekali ada masalah antara keduanya. Bahkan dalam urusan cinta, mereka tak pernah berebut laki-laki sebagaimana mereka juga tak pernah berebut boneka. "Laki-laki itu seperti boneka, tak layak diperebutkan. Di toko banyak, bisa memilih pula!"

Tetapi selalu saja ada obrolan tentang asmara, terkadang mereka membahas siapa laki-laki yang paling bodoh di kampus, siapa laki-laki yang hanya mengandalkan wajah namun otaknya keropos. Namun keduanya bukan tipe wanita yang suka memelihara laki-laki bergantian setiap bulan.

Semua sudah berlalu, sekarang hanya satu hal yang Rara tahu, nomor handphone Ani berubah, mungkinkah sahabatnya sudah sukses di sana? Ia tak pernah mendengar kabar, tetapi jika ia mau menebak-nebak, ia pasti menebak hal yang positif. Sahabatnya itu sudah mendapat kerja yang mapan, tak usah repot-repot lagi memikirkan uang indekos bulanan. Pendapatan tetapnya sudah lumayan, bahkan mungkin sudah ada pasangan. Ah, betapa indah hidup yang seperti itu.

Rara tersenyum, gadis yang kalau dilihat asal-muasalnya ternyata masih ada keturunan Rusia itu seperti hendak menertawakan dirinya sendiri. "Aku merindukannya meski mungkin dia tak pernah merindukan aku. Mungkin sudah ada seseorang yang lebih pantas untuk dia rindukan di sana. Sudah ada laki-laki yang senantiasa menemaninya, meneleponnya berjam-jam di malam hari sampai tertidur, mengucapkan selamat malam yang diimbuhi kata-kata sayang."

Gadis berambut panjang itu terus mengingat-ingat kembali masa-masa kebersamaannya, semakin ia menajamkan pikirannya, potongan kejadian usang itu seperti terangkai lebih utuh dari sebelumnya. Ia merasa ada hal-hal yang belum terselesaikan dari persahabatan itu. Alangkah indahnya jika setiap kenangan bisa diputar berulang-ulang seperti film, tak ada yang terlewatkan meski sekecil apa pun.

Rara hanya bisa membayangkan tempat-tempat yang entah sekarang masih ada atau tidak. Beberapa bulan lalu ia mendengar kabar bahwa warung bubur kacang ijo yang dulunya biasa ia kunjungi bersama Ani sudah terbakar habis. Ia juga masih ingat jalanan yang dilalui ketika di malam tahun baru bersepeda keliling kota sampai mau pingsan, aneh sekali memang jika dua gadis bersepeda malam-malam, Rara tertawa kecil. Ia tak habis pikir betapa banyak ide tak masuk akal yang dulu dilakukannya bersama Ani.

Mereka juga pernah bersepeda melewati tempat pelacuran di malam yang lain, dan tiba-tiba rantai sepeda Rara putus, para lelaki hidung belang pun segera mendekat, mereka pasti mengira Rara dan Ani adalah sampah baru yang masih mulus. Ia merasa geli bercampur takut setiap kali ingat kejadian memalukan itu. Namun alangkah cepatnya waktu beranjak. Alangkah cepatnya waktu memakan peristiwa demi peristiwa.

Semua ingatan itu diakhirinya ketika ia mengambil sebuah MP3 player dari balik saku, ia memutar lagu gugur bunga, hanya midi--nada saja, tanpa vokal--Nuansa sedih kini mengalun di telinganya. Ia merasa heran sendiri mengapa tidak membawa lagu disko saja agar hatinya senang menjelang kepergian ini. Bukankah ia sudah tahu bahwa stasiun akan membawanya kepada suasana kegetiran? Mengapa ia justru menyuburkannya? Rara bernyanyi dalam hati, sedikit mengganti lirik lagu itu. Betapa hatiku tak kan pilu, telah pergi sahabatku. Betapa hatiku tak akan sedih, aku ditinggal sendiri.

Rara memutar lagu gugur bunga berulang-ulang.

Bagaimana kenangan bisa begitu rapi tersimpan? Padahal setiap saat, setiap detik pikiran dimasuki berbagai peristiwa lain yang lebih segar, yang lebih membutuhkan perhatian, tetapi setiap kali kenangan bertemu dengan tempat-tempatnya, maka sesungguhnya kenangan itu bisa menerobos apa saja, seperti batu karang di tepi pantai yang tak akan hilang jika hanya sepuluh atau dua puluh tahun.

"(09/11/09. 14.12. Di sini Rara. Merindukan Ani :)" Ia tuliskan kalimat dan tanda itu di bangku stasiun yang ia duduki, tak ada yang memperhatikannya, terlalu banyak manusia untuk saling memperhatikan, kecuali mereka yang mencuri-curi pandang. Rara menuliskannya dengan pena, sedikit ditekan dan diulang-ulang agar tampak jelas.

Tiba-tiba Rara merasa ingin menulis banyak hal, ada banyak yang ingin disampaikan, ada bermacam-macam keinginan yang ingin dititipkannya di stasiun yang sesaat lagi akan ditinggalkannya itu. Ia ingin menulis satu paragraf panjang, ah tidak, bahkan cerita yang sangat panjang. Namun, bangku kayu itu tentu tak cukup untuk menampung.

Lagi-lagi Rara tersenyum sendiri, entah, apakah ada yang memperhatikan senyum gadis itu sejak tadi? Adakah yang bisa menerka bahwa itu bukan senyum kebahagiaan melainkan senyum kegetiran? Tidak, setiap manusia sibuk dengan urusannya. Rara melihat-lihat sekitar, wajah-wajah dengan beragam tujuan itu, stasiun adalah arena perpisahan yang seringkali menyakitkan. Entah berapa lambaian tangan yang ia lihat setiap kali ada kereta yang baru saja berangkat. Beberapa kali ia melihat anak-anak kecil menangis, mungkin pamannya sudah harus kembali ke kotanya, atau kakek neneknya yang baru minggu lalu datang, sekarang harus pulang lagi. Di sana juga ada pasangan muda-mudi yang tentunya tersadar bahwa dunia ini tidak sempit, bahwa dunia ini bukan milik mereka berdua saja sebagaimana kalimat orang-orang dimabuk cinta. Jarak akan sangat sempurna memisahkan mereka. Stasiun akan mengeksekusi kesetiaan mereka.

Petugas stasiun memberikan pengumuman melalui pengeras suara, "Kami beritahukan bahwa kereta api Gaya Baru mengalami kerusakan, dan dijadwalkan baru tiba sekitar tiga jam lagi. Bagi calon penumpang kereta api Gaya Baru, diperbolehkan ikut kereta Gaya Lama yang akan datang lima belas menit lagi."

Rara mendengarnya, namun ia tak begitu peduli, sepertinya ia tahu bahwa yang namanya kereta adalah wajib untuk terlambat. Ia merasa stasiun menjadi begitu jahat baginya, memaksanya untuk terus memutar kenangan. Sekali lagi ia melihat sekeliling, gadis itu baru sadar bahwa tak akan ada yang melepas kepergiannya, tidak seperti ketika ia melepas kepergian Ani. Waktu itu bahkan ada beberapa kawan lain yang turut melepas kepergian sahabatnya. Ada peluk cium, ada senyuman yang terlambat dihadiahkan.

Dahulu Ani meninggalkannya ke arah barat. Sedangkan saat ini ia akan naik kereta ke arah timur. Jarak mereka akan semakin jauh. Rara membayangkan kereta yang akan membawanya itu adalah kereta yang dulunya mengantarkan Ani.

Gadis itu bersiap-siap untuk berdiri, mungkin tak ada gunanya membuka kenangannya sendiri. Kereta pengganti yang akan mengangkutnya pergi ke kota lain akhirnya datang. Di barat stasiun, palang pintu sudah menutup, diiringi munculnya sebuah cahaya putih yang berangsur-angsur mendekat dan membesar. Lantas masuklah kereta itu ke jalur nomor dua. Beberapa penumpang sudah berdiri di tepian jalur.

Rara buru-buru mengambil tasnya, takut tak kebagian tempat duduk. Ia sedikit berebut ketika naik ke atas gerbong, dan beruntung, gadis itu langsung mendapatkan tempat duduk di dalam gerbong nomor tiga. Bahkan ia bisa bersandar di jendela kaca yang ternyata sedikit basah, entah karena embun atau air hujan. Mungkin kereta ini baru saja menembus daerah penghujan. Mungkin juga kereta ini membawa embun yang sudah menempel sejak pagi tadi. Sejenak ia melihat stasiun yang akan ditinggalkannya. Ani sudah sukses di barat sana, aku juga harus sukses seperti dia. Rara bergumam.

"Mau ke mana, Mbak?" Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Di sebelahnya baru saja duduk seorang laki-laki yang tampak rapi, sepertinya seorang pengusaha muda yang bisnisnya antarkota antarprovinsi.

"Eh? Mau ke Surabaya."

"Lho, sama." Laki-laki itu tersenyum. Rara membalasnya dengan senyuman meski sangat tipis, setipis air di permukaan kaca yang kemudian menempel ke helai rambutnya. Lantas terjadi beberapa percakapan, mereka bertukar nama, nomor telepon, alamat, dan entah apalagi, alangkah banyaknya orang yang hadir dan pergi dari kehidupan kita. Rara tentu belum tahu apakah laki-laki yang sedang berbincang dengannya itu hanya akan ditemui di kereta atau akan ada cerita lainnya di kemudian hari. Hidup akan selalu menjadi misteri. Misteri.

***

Senja tiba. Kereta Rara tentu sudah jauh di sana. Stasiun masih cukup ramai. Sebuah kereta kelas ekonomi yang seharusnya sudah datang tiga jam lalu akhirnya memasuki stasiun. Banyak sekali penumpang yang hilir mudik. Dari kerumunan manusia yang kebanyakan menggerutu itu, seorang wanita muda tampak sibuk mengeluarkan barang bawaannya, sebuah kopor besar dan tas, dahinya berkeringat, akibat perjalanan yang melelahkan tentunya.

Setelah turun, dia berjalan mencari tempat yang sepi, duduk di bangku yang terletak paling ujung, lalu pelan-pelan mengusap keringat di wajahnya.

"Di stasiun ini dulu..." Dia mulai bicara namun ucapannya segera tertahan, sebab tanpa disengaja, dia membaca kalimat yang ditulis Rara tadi.

(Lempuyangan, 2009. Untuk Adi Marhadi di Kotabumi, Lampung. Turut Berbelasungkawa atas berpulangnya ibunda tercinta.)

Lampung Post
, Minggu, 17 Januari 2010