Showing posts with label Alexander G.B.. Show all posts
Showing posts with label Alexander G.B.. Show all posts

Sunday, November 30, 2014

Seekor Naga yang Menggeliat di Kepala Seorang Wanita

Cerpen Alexander G.B.


SORE itu, aku melihat naga abu-abu yang keluar dari bibirmu. Menggeliat, mengibas-ngibaskan ekor, lalu melesat ke sebuah tempat yang jauh dan tinggi. Seperti dongeng tentang puyang atau sesuatu yang kau percaya sebagai muasalmu. Meski mati-matian aku mencoba membantah. Namun, telanjur kau percaya dan aku tak hendak mengusiknya.

“Jadi, salah satu telur naga itu ditetaskan di puncak Seminung. Lalu ia bertapa, berkelana dan akhirnya menjadi penguasa laut yang sakti dan pemberani,” ujarmu.

Meski demikian, aku mencoba menawarkan Adam sebagai mula kehidupan. Seperti yang disampaikan Kiai Muhtasor, guru ngaji-ku semasa aku masih tinggal di Ulubelu. Lelaki ringkih yang hampir separuh usianya dihabiskan di musala selepas menempuh pendidikan di sebuah ponpes di pulau seberang. Ia yang dengan keyakinan yang seolah tak bisa disangkal itu mengatakan Adam dan Hawa tergoda dan makan buah terlarang dan akhirnya terlempar ke dunia. Dan aku begitu saja percaya. Tak sedikit pun curiga, bahwa bisa jadi Tuhanlah (yang dengan caranya) yang telah merancang demikianlah kisah Adam-Hawa. Tanpa disadari siapa pun, sehingga (termasuk kita) telanjur menganggap itu sebagai kesalahan Adam semata. Padahal, Adam dijebak, ia masuk perangkap. Kudengar naga di kepalamu mendengus, mungkin hendak menelanku.

“Namanya Sabatang,” tegasnya.

“Bagaimana kamu bisa memercayai cerita semacam itu?” balasku.

“Memang bagimu tidak masuk akal, tapi begitulah, tapi bagiku demikianlah kebenaran.”

Lekas, kisah Seribu Satu dan Semalam (Harun dan Lautan Dongeng) Salman Rusdie mengetuk-ngetuk kepalaku. Ah, mengapa kitab itu tak kutemukan meski kepala telah lama berdenyut.

Dari tempat duduk, kau menatap langit yang tak biru. Lalu menghela napas. Aku menduga dongeng-dongeng di kepalamu turut tercemar oleh mendung yang tiba-tiba merebak itu. Kau juga menolak kuajak ke museum atau ke perpustakaan kota dengan alasan terlalu banyak fakta yang telanjur berubah sebagai fiksi di sini dan sebaliknya. Lalu kita tertawa, kembali membahas ihwal perjumpaan dan perpisahan, tentang sambal terasi dan seruit yang dulu kerap menghiasi meja makan kami.

“Ini bukan sekadar dongeng, memang tak disebutkan nama tempatnya. Tapi gunung yang dikelilingi danau itu ada. Kamu tahu Seminung kan?”

Aku mengangguk. Setelah puluhan atau ratusan perjumpaan baru sekarang kutemukan wanita yang ngotot sepertimu. Mungkin kau bosan bertahun-tahun hidup di Belanda yang selalu dituntut rasional dan serbateratur itu.

“Untuk apa lagi kau mencoba mengingat dongeng semacam itu?” tanyaku. 

Kau meneguk kopi tanpa gula, mengeluarkan sebatang rokok putih lalu mengisapnya. Bulatan-bulatan kecil keluar dari bibinya. Bulatan abu-abu, yang kemudian pudar dan menyusun garis tipis. Kau kembali tersenyum. Bulatan kecil abu-abu telah kembali menjelma naga. Ia menatapku usai berputar-putar di atas meta kayu pinggir kolam, matanya memerah seolah juga meminta membantumu menyusun kisah bersama. Lalu angin yang melompati dinding pembatas kolam berpusar, dan naga itu melesat dan mendekam di kepalaku. 

Kau tahu, aku sedang memikirkan hal lain, yang mungkin saja tak berkaitan dengan muasal siapa pun. Sebab, aku tak betah untuk turut menelusuri lorong-lorong masa lalu yang bagiku selalu gelap.

Sembari mengusap batu cempaka madu. Aku kembali menegaskan ada banyak hal terjadi di luar sana. Banyak orang berduyun-duyun membangun masa lalunya sendiri, memajang foto mereka di billboard-billboard. Sementara aku, dalam kerumunan itu, hanyalah sekumpulan daging yang sesekali menertawakan kisah yang mencoba mereka yakini sebagai kenyataan.

“Jadi menurutmu, kota ini juga bermula dari dongeng?”

“Barangkali, atau bisa jadi sesungguhnya kita hidup di negeri dongeng.”

“Saat ini?”

“Ya, saat ini.”

“Jadi kau pikir hidup sebatas fiksi?”

“Bisa jadi.”

“Baiklah, besok kuajak kamu menelusuri Tanjungkarang,” ujarku.

“Aku setuju,” ujarmu.

“Memang tak seindah kota-kota imajinernya Italo Calvino,”

“Aku tahu. Sekalian antar aku ke sebuah tempat ya?”

Aku mengangguk. Membayangkan kira akan menyapa sudut-sudut Tanjungkarang yang belakangan binary matanya terlihat gamang. Lalu aku berpamitan. Seorang teman lama mengirim kabar lewat pesan singkatnya, bahwa malam itu, kamu menjumpai sebuah komunitas lain di satu sudut kota ini. Sementara aku terlelap dalam kisah yang lain, hingga naga itu tiba-tiba hadir dan seolah hendak membelitku. Aku nyaris tak mampu bernapas, setelah mengapai, mengucap mantera, ayat-ayat yang diajarkan Kiai Muhtasor, mengatur napas, hingga terasa terbebas dari belitan naga yang keluar dari bibirmu. Meski risikonya, kupaksa mataku melotot hingga pagi. Terlelap sebentar, lalu dering telepon darimu membuatku kembali terjaga.

Kita kembali bertemu. Siang sangat terik. Kita jalan-jalan, kulit putihmu melegam. Tapi tak ada jalan lain untuk membangkitkan ingatan, kecuali kembali menelusuri jalan-jalan yang pernah kita lewati bukan? tanyamu dalam perjalanan. Aku sangat menghargai keseriusan dan ketulusan niatnya itu. 

“Apa yang kamu lakukan selama ini?”

“Menemani Bung Joy.”

“Siapa dia?”

“Kolektor batu akik.”

Kau tertawa. Mencubit lenganku, membasahi tenggorokan dengan air mineral, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
                               
***

Di sebuah tempat, kamu tahu, banyak orang menyambut kita dengan tatapan sinis. Aku memakluminya. Butir-butir garam keluar dari kening dan pelipismu. Kamu terlalu bersemangat ketika itu, hingga sesungguhnya, hatiku berduka sebab sesuatu yang berbeda yang berlintasan di kepala mereka.

Namun, aku tak hendak mencampuri semua itu. Aku memilih menikmati segelas kopi dan beberapa batang rokok di satu sudut gedung, yang kuduga sebagai salah satu mata air dongeng yang salah satunya kau ceritakan itu. Di sana kisah-kisah lain dilahirkan, diproduksi, dikemas, dan disebarkan ke seluruh pelosok negeri.

Kutatap wajah minggu yang muram di sebuah kota, yang menurutmu, orang-orang lebih suka melihat kota itu sebagai puing-puing, gedung-gedung yang tak kuasa menahan hantaman sang waktu, yang dalam istilah Salman Rusdi serupa sekumpulan hati yang patah. Mestinya kita bisa menyusun dongeng kita sendiri, ujarmu. Tapi aku masih enggan dan lebih suka bertahan di kursi plastik hijau di beranda. Angin membawakan aroma mawar dari sebuah tempat yang jauh dan lekas berlalu. Samar kudengar debur ombak dan lengking camar dari dada temanku yang saat itu  termangu. Lalu jalanan kembali lengang, hari beranjak sore, dan minggu mulai berkemas.

“Sebentar lagi aku harus meninggalkan Tanjungkarang,”

“Mengapa buru-buru?”

“Dongeng-dongeng itu memanggilku,”

“Mengapa ia tak memanggilku?”

“Sebab, kamu terlalu terpukau pada Ulubelu.”

Kau tersenyum. Lalu meninggalkan satu sudut Grande yang tanpa sengaja telah mempertemukan kita, pada banyak obrolan yang gagal kita sepakati sebagai sejarah atau sekadar bumbu gelak-tawa.

Ada banyak dingin dan gigil yang hendak kau kirimkan lantaran rindu yang telanjur tertanam di satu ruang dalam diriku? Ada banyak kesedihan dan duka cita yang mesti kutanggung untuk kembali sampai kepadaku. Ada banyak dongeng yang mesti kausingkap usai pertemuan itu. Kau pukau aku lalu pergi begitu saja. Kini naga itu menyemburkan apinya kepadaku. Dan mungkin akan membakar seluruh kisah yang pernah kutuliskan.

Esoknya, selepas subuh, kau itu meninggalkan kota ini. Kau lupa membawa naga, yang kini telanjur mendekam di kepalaku yang kini sedang duduk di satu sudut kota, yang selalu gugup dan malu-malu ketika menyebutkan namanya. n

Tanjungkarang, September 2014


Lampung Post, Minggu, 30 November 2014

Sunday, July 13, 2014

Luna Tak Ingin Pulang

Cerpen Alexander G.B.


DI kamar berdinding cokelat itu ia bangkit, melempar buku karya Murakami yang belum selesai dibaca. Dadanya turun naik, berkali-kali mendengus, melangkah bolak-balik di dekat ranjang, lalu mendekat jendela, memperhatikan jalanan, kabut tipis mulai turun. Ia menuntaskan bir yang tinggal satu tegukan.

Di luar, orang-orang hilir mudik memenuhi jalanan. Setelah menatap jam, ia mengambil pistol yang tersimpan di laci meja. Beberapa saat merasakan dingin pistol yang telah digenggamnya, menimang-nimang, lantas memasukkannya ke dalam tas dan bergegas keluar. Sampai di trotoar, ia melihat beberapa pasangan keluar dari hotel dan restoran.
Sambil mengisap rokok putihnya pelan-pelan, Luna melangkah mendekat ke salah satu pasangan, lalu membidikkan pistol ke arah salah satu pasangan.

"Mengapa kau harus bersama banci itu. Fuck you!" ujar Luna, lebih kepada dirinya sendiri.

Letusan pistol Luna menggema. Lelaki itu roboh sambil memegang dadanya. Perempuan di sebelahnya berteriak histeris dan menutupi wajah dengan kedua tangan, menata sosok Luna lalu memeluk lelaki itu, sambil meraung-raung seperti suara sirene ambulans membelah jalanan.

Dua burung bersayap merah terbang ke langit.

Tak berselang lama tampak kabut semakin menebal, lelaki dan perempuan itu pun tinggal menjelma bayangan, pelan-pelan menjadi dua titik hitam yang semakin kecil lalu lenyap. Namun, suara teriakan wanita itu masih terngiang-ngiang di telinga Luna.

Luna menutup telinga dengan kedua tanggannya, tubuh wanita yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun ke-26 itu bersimbah keringat. Selimut terlempar ke lantai bersama bantal guling. Ia menggeliat, seperti didekap sesuatu yang sangat kuat, tubuhnya menegang, napasnya kian tak teratur. Sekitar 15 menit kemudian akhirnya ia berhasil membuka mata dan mencoba menyadari apa yang barusan terjadi dengan dirinya, lalu terkulai. Saat itu wajah Luna sepucat mayat dan bibirnya gemetar.

Luna menatap dinding yang ditempeli foto-foto keluarganya, lalu beralih ke langit-langit kamar. Lekas ia mengambil posisi duduk, mengambil bantal dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia mencoba mengingat kembali mimpinya. Namun gagal.

Sementara angin menggerakkan daun jendela, terdengar pula suara detak jam yang memantul-mantul di dinding kamar.  Perlahan nafasnya kembali teratur, memeluk kedua kaki hingga dagunya bersandar pada kedua lutut. 

Saat kembali teringat pesan ayahnya yang meminta lekas kembali ke Tanjungkarang, wajahnya kembali berubah muram.  Tak mungkin menolak perintah lelaki itu.

Dua minggu sudah ia menimbangnya, tetapi tak kunjung bulat keputusannya, terombang ambing antara pulang dan bertahan. Lantaran itu hampir setiap malam ia berkarib dengan mimpi-mimpi ganjil, tentang wanita tua yang matanya menyala, tentang pistol yang tiba-tiba ada di laci meja, pisau, sepasang mata lelaki yang serupa mata serigala, sungai yang sewarna tinta cumi dan gurita dengan bau amis yang menyebar ke seluruh kota. 

Barangkali, seluruh mimpi buruk itu bersumber dari sorot mata lelaki dan perempuan itu. Dua sosok yang ia percaya membuat hidupnya kehilangan pukaunya. Ia terjebak pada situasi putus asa dan kehendak untuk mengakhiri hidup lebih cepat dari yang semestinya.

Namun, ada suara penyangkalan yang berbiak di kepalanya. Suara-suara yang bergema setiap malam, sesaat sebelum matanya terpejam. Pada waktu-waktu lain ia terusik oleh bayangan di cermin yang terletak di sebelah kanan ranjang. Cermin itu terkadang menghadirkan sosok yang asing bagi dirinya sendiri. Sosok yang tersenyum dan kerap menampilkan kegembiraan pelayan toko yang pura-pura ramah kepada setiap pelanggan.

Pada titik ini, ia ragu apakah keganjilan yang ia rasakan bersumber dari sepasang mata lelaki dan perempuan itu atau justru dari dirinya sendiri. Kebimbangan ini menyakiti perasaannya sendiri. Keadaan yang membuatnya tak pernah sunggguh-sungguh bisa menikmati hidupnya.

Seperti ketika ia bersama Dani, seorang arsitek yang lembut dan berpenampilan rapi, bertubuh tegap, senyum menawan, cerlang matanya begitu cerah, seperti pagi di bulan Juni. Namun, baru beberapa bulan kemudian, Luna bosan, merasa kehampaan menyelimuti hubungan keduanya. Kembali Luna terusik sepasang mata lelaki itu. Demikian halnya ketika ia menjalin cinta dengan yang lainnya, sepasang mata lelaki itu seperti tak ingin membiarkan Luna menikmati hidupnya.

Seketika ia merasakan senyap merayap ke tepi ranjang, jarum jam dinding mengarah pada angka dua. Masih terlalu cepat baginya untuk meninggalkan kamar dan tampak ia enggan kembali tertidur. 

Kota itu masih terlelap, gedung dan atap-atap rumah tampak hitam, lampu yang masih menyala seperti kunang-kunang yang berkerumun, sementara suara jangkerik dan belalang bagi Luna seolah menyusun nada-nada yang melulu kesedihan.

Pada saat-saat seperti ini, sepasang mata lelaki itu kembali memenuhi ingatannya. Sepasang mata yang terkadang menyala di tengah kegelapan, berkilat seperti sepasang mata serigala. Meski kerap timbul rasa takut, diam-diam Luna mengagumi sepasang mata yang terkadang begitu lembut dan menenteramkan baginya.

***

Beberapa saat sebelum Luna berniat menutup kisah hidupnya, ia dikejutkan sepasang mata Robert di kaca jendela. Sepasang mata yang sesekali tampak lembut, misterius, jalang, tak peduli, dan terkadang merupa langit kala senja. Hal yang membuat kaki dan tangan Luna gemetar, hingga pisau yang digenggamnya terlepas. Ia mundur beberapa langkah lalu terduduk di samping ranjang dan segera menyembunyikan wajah pucatnya dengan kedua lutut yang masih gemetar. Pakaian Luna basah oleh butiran-butiran garam yang keluar dari tubuhnya. Ia menggigil, meringkuk dengan bahu yang sesekali terguncang. Sesekali pula matanya—melalui celah jemari—menatap kaca jendela, namun sepasang mata Robert tak lagi ada di sana.

Ya, memang bukan pertama. Sudah beberapa kali aku mencobanya. Tetapi selalu saja gagal pada akhirnya. Selalu saja muncul keraguan atau sesuatu yang menggagalkan niatku. Sebenarnya Ini sangat menyedihkan.
Aku membenci sesuatu yang dulu kerap kamu katakan bahwa hidup hanyalah serangkaian kemungkinan dan kitalah yang memastikannya. Faktanya tak ada kepastian, yang pasti hanyalah ketidakpastian itu sendiri.

Dan aku ingin ia lebih cepat datangnya masa itu. Aku merindukan kepakan sayap malaikat, hingga tuntas semua penderitaanku.

Dari jendela aku menyaksikan dunia yang memutih itu. Aku melangkah sendirian dengan bibir gemetar. Ah, mengapa kau terus mengusikku. Sepasang matamu lagi-lagi membuyarkan keberanianku. Kamu benar-benar mirip patung yang terbuat dari perunggu dengan hati yang terbuat dari timah.
Tetapi mungkin ini salahku, sebab tak kunjung mampu membuang ingatan-ingatan tentangmu. Seandainya aku bisa menghapusmu.... Sayang, kurasa aku gagal. 

Tindakan ini bukan didorong rasa frustrasi karena gagal mendapatkan lelaki lain selain darimu. Mereka mencintaiku, hal yang menyedihkan justru aku yang tak kunjung mampu mencintai mereka…. Kamu tahu, karierku cukup membanggakan, gaji lebih dari cukup untuk hidup setiap bulannya, tetapi tetap terasa ada yang tak lengkap.

Tolong. Hentikan. Tidak. aku tidak ingin berpikir. Aku tidak ingin merindukan. Aku tidak ingin apa pun. Aku ingin pergi ke jalan, pohon-pohon menggigil, dunia memutih.

//(Diam, menyeka beberapa butir air yang sempat menggantung di kelopak matanya)//

Aku memutuskan berhenti di sini. Aku ingin membuat sebuah upacara sederhana menjelang tidur panjangku.
Wanita itu, ah, ia terlalu banyak menyimpan jejakmu… Sayang aku juga sangat mencintainya. 

Pada saat-saat terakhir seperti ini tiap detik menjadi sangat berarti, setiap kenangan menjadi begitu berharga. Baiklah, sekarang biarkan aku tenang. Biarkan aku tenang, tak membenci atau mencintaimu secara berlebihan.
Apa kau dengar detak jam dinding yang melambat itu?
Angin mendesau. Berkali-kali Luna menghela napas. Sesaat ia memejamkan mata.

Luna…

Luna …

Suara wanita setengah baya membuat Luna terhenyak. Ia mengenali suara itu. Matanya terbuka, lalu bangkit, menoleh ke sana kemari, keluar dari kamarnya.  Ia menoleh ke kanan, tak ada siapa pun di ruang tamu.

Ia melangkah masuk ke kamar mandi, memutar shower, memejamkan mata, dan membiarkan air kran yang serupa hujan itu menyentuh kulit kepala dan tubuhnya. Satu jam kemudian ia mulai menggigil dan menyelesaikan upacara di kamar mandi. Sampai di depan pintu kamar ia berhenti sejenak, membayangkan wanita itu termangu di ruang tamu.

Luna telah berganti pakaian, tetapi kembali merasakan kepalanya berdenyut. Sesaat, tubuh Luna bergetar, meremas, merobek kertas atau apa saja yang ada di dekatnya. Debu-debu berlompatan di kamar itu. Matanya berubah merah, dadanya sesak, ribuan jarum seperti menusuk-nusuk kepalanya. Mulutnya terbuka, otot-otot wajahnya menegang. Tangannya gemetar memegangi kepalanya. Ia melihat sebilah pisau tergeletak di lantai berdekatan dengan salah satu kaki meja. Napasnya tersengal-sengal, tubuhnya menegang, lalu terkulai di samping ranjang.
Dan bulan tertutup awan. n

Bandar Lampung, Januari 2014


Lampung Post, Minggu, 13 Juli 2014

Sunday, June 2, 2013

Rosa

Cerpen Alexander GB

APA yang membuat banyak orang bunuh diri? Rosa menjawab kebebasan. Mengapa kebebasan, bukankah itu yang didambakan setiap orang? Kita tak ingin terikat oleh apapun. Secara kasar barangkali aku akan mengatakan demikian. Tetapi selama berpikir, bernafas berarti tetap terikat. Begitu selamanya. Namun secara konyol kita terus mencoba untuk bebas, dan pada akhirnya akan menemui jalan buntu, hingga terpaksa menantikan kematian sebagai satu-satunya solusi bagi kehendak meneguk kebebasan tanpa syarat. Namun bagiku, seluruh penyangkalan itu adalah usaha untuk menolak peran yang mesti kita tunaikan.

Mengapa kematian?

“Karena kematian akan membuat jiwa kita bebas, lepas,” jawab Rosa selanjutnya.

Ia ingin menjadi Rosa yang lain dari Rosa yang selama ini ia lihat di cermin itu. Sebatang pohon ranggas, satu persatu dahannya berjatuhan ke tanah.

“Kematian membuat kita tak perlu risau dengan detak jam dinding di ruang tamu, lepas dari ancaman kelaparan, segala penyakit, prasangka, dan tak lagi terombang-ambing antara kenangan dan harapan. Sudah terlalu lama kita akan berubah dari mahluk bumi yang menyedihkan menjadi mahluk astral yang bebas berkelana kemana saja, bebas melakukan apa saja,”  lanjutnya. 

“Jadi itu alasanmu hendak bunuh diri?” tanyaku.

Rosa diam saja.

Mungkin sedang memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.

“Aku bukan Veronika, ia tak suka aku memelihara seekor kucing,” ujar Rosa.

Aku tak begitu mengerti dengan jawaban yang baru keluar dari bibir pucatnya. Jadi hanya karena ia tak setuju memelihara seekor kucing. Ah,  mengapa begitu sepele, seekor kucing?

“Ya, ia tak menyukai seekor kucing. Jika aku kembali memelihara seekor kucing maka aku tak perlu sendiri seperti ini, tapi ia tak membutuhkan kehadiran kucing di rumah ini. Memelihara kucing adalah simbol orang yang kesepian, yang hanya nyaman di kamar dan ruang tamu. Mestinya kamu lebih terbuka kepadaku. Aku ini psikolog, aku tahu setiap laku ada alasannya, aku telah mempelajari ratusan bahkan mungkin ribuan ekspresi bahwa sadar. Begitu katanya. Lalu ia menatapku penuh kecurigaan. Aku benci dengan tatapan semacam itu. Aku benci mata itu. Matanya, ya matanya menjelma pisau yang teracung ke jantungku,” ujar Rosa geram.

Tiba-tiba Rosa seperti hendak meluapkan amarah. 

“Mata siapa?” tanyaku.

“Mata lelaki itu, dan semua orang. Ya semua orang,”  ujar Rosa selanjutnya.

“Jadi alasan utama kamu memilih bunuh diri adalah karena dilarang memelihara kucing atau karena mata-mata yang kamu anggap menghakimi atau mengancam kenyamanan hidupmu?”  tanyaku.

“Sudahlah. Aku lelah,” ujar Rosa sambil mengalihkan pandangan ke jendela.

Seekor kupu-kupu menabrak dinding kamar kemudian jatuh. Rosa tersenyum melihat kekonyolan kupu-kupu itu.  Sepertinya aku gagal mengorek keterangan apa yang telah membuat Rosa nekat menelan pil tidur dalam jumlah yang tidak semestinya. Ia tidak ingat, tahu-tahu sudah terdampar di ruang putih ini. Ia menceracau.

Sulit memahami kata-kata Rosa yang berhamburan seperti  peluru yang ditembakkan membabi buta. Ia menjelma pasien di rumah sakit yang enggan pulih dan lekas pulang. Sementara lelaki itu duduk di ruang tamu, menonton televisi. Sudah dua hari telepon genggam dan telepon rumah ia matikan. Ia menolak setiap klien yang hendak konsultasi. Kepalanya dipenuhi Rosa yang nyaris mati.

Barangkali bertahun-tahun Rosa terjebak pada dunia yang diciptakannya sendiri. Dunia yang dibangun dari dari sekumpulan hati yang patah,  kebosanan menjalani rutinitas, sebagai perempuan yang terpaksa tak berdaya, atau oleh  banyaknya kekecewaan yang harus diterima. Rosa seperti sebuah kota dengan langit yang disesaki awan hitam, yang berkarib dengan hujan dan air selokan yang selalu meluap ke jalanan. 
Ketika tanpa sengaja kutanya siapa yang paling ia benci, Rosa lekas  menjawab lelaki yang kini sedang menonton televisi. 

Dan Rosa tidak nyaman sering diperlakukan berlebihan. Setiap ada yang melenceng dari kebiasaan dianggap tidak wajar, ekspresi bawah sadar yang tak bisa dikendalikan, atau gamblangnya lelaki itu iangin mengatakan ia gila.  Puncaknya ketika Rosa berkeras hendak memelihara kucing di rumah, lelaki itu tampak tersinggung dan tak menegurnya selama satu minggu, bahkan pernah mengancam menceraikan. Pada titik ini Rosa menduga sesungguhnya lelaki itulah yang gila.

Secara detail aku tentu tidak tahu apa yang dialami Rosa, yang aku tahu dua matanya kerap dihuni butir air serupa embun, menjalar ke pipi lalu jatuh ke lantai.

Rosa merasa bahwa hidup hanyalah menuntaskan  satu kisah sedih ke kisah sedih lainnya. Kesepian adalah masalah terbesar manusia yang hingga mati tak dapat terpecahkan misterinya. Rosa tersenyum getir ketika beberapa larik sinar pagi menerobos jendela, ruang putih itu benderang. Ia menatap takzim suasana di balik jendela,  melihat sekumpulan awan yang bergerak menutupi kota. Ia membenci pagi, seperti ia juga membenci segala yang berwarna merah atau biru.

                ***       
           
Bagi Billy, Rosa adalah mimpi buruk, wanita bermata api yang berhasrat membakar apa saja.

Andai saja membunuh dan bunuh diri itu dihalalkan, barangkali ia akan membunuh Rosa. Atau paling tidak ia akan membunuh dirinya sendiri. Tapi ia tak cukup memiliki keberanian untuk melakukan hal ini. Namun pikiran untuk mengakhiri hidup juga kembali berlintasan.

“Daripada bertahun-tahun tersiksa,” ujar Billy pada sahabatnya Daniel ketika bertemu warung kopi pinggir kota.

Billy mengeluhkan banyaknya pertengkaran yang harus terjadi di rumahnya akhir-akhir ini.

“Aku tak terkejut jika sikapmu berubah Billy. Jangan katakan aku penyebabnya. Seperti aku yang tak membawamu dalam masalah yang kini sedang kuhadapi,”  ujar Rosa.

“Faktanya kita telah bersama bertahun-tahun.” ujar Billy.

“Bersama? Apakah kamu tak salah omong?” ujar Rosa, nada bicaranya lebih mirip ejekan daripada pertanyaan.

“Bagaimana kamu bisa bertanya demikian?”

“Apa guna deretan buku di rak dan meja belajarmu, benda-benda yang kerap membuatmu lupa dengan kehadiranku. Sesekali memang tubuh kita berdekatan, bahkan begitu rapat, tangan kita pun pernah saling genggam. Namun yang kurasakan tidak demikian adanya. Pada akhirnya kita tetap sendiri, dengan prasangka dan fiksi atas hidup yang kita jalani. Ini bukan soal banyaknya hal yang kita rahasiakan, namun begitulah adanya. Kita tetap kesepian, tetap merasa sendiri. Dan sebuah pelukan, sebuah ciuman, atau tangan yang saling genggam akan sia-sia pada akhirnya.”

“Jadi benar dugaanku, meski telah bertahun-tahun tetap kamu tak bisa menerima kebersamaan kita?”

“Bukan soal menerima atau tidak menerima. Aku hanya menyampaikan sebuah fakta, bahwa kita tetap sendiri, itu saja.”

“Lalu tentang hubungan kita?”

“Hanya soal regenerasi, harus ada penerus yang tinggal di bumi, dan permainan tetap bisa dilanjutkan.”

“Selalu begitu?”

“Mungkin.”

Percakapan terhenti, ketika ada sebuah ketukan di pintu. Tak lama kemudian Billy meninggalkan rumah.

***

Hujan turun, seekor anak kucing menggigil di dekat pintu rumah yang tak berpenghuni. Rosa mengamati dari jendela dengan dagu berbantal dua tangan. Butir-butir hujan mengaburkan pandangan sehingga ia tidak bisa menangkap hal-hal yang lebih detail, misalnya bagaimana tubuh anak kucing itu menggigil hebat ketika bulu-bulunya basah.

“Sayang sekali aku tak bisa membawamu kemari. Billy tak akan pernah suka. Meski aku sangat menginginkannya,” ujar Rosa lirih.

Keterikatan Rosa dengan seekor kucing bukan hal baru. Tapi, sejak dokter Yadi yang gendut dan berkumis lebat itu mengatakan salah satu penyebab Rosa tak kunjung hamil anak adalah bulu kucing -- dan tentu ditambah semacam mitos lain-- maka Rosa pun mengalah dan terpaksa berpisah dengan candu psikologis masa kecilnya itu.

Rosa sempat memprotes, namun Dokter Yadi tentu tak mau disanggah. Ia mengurai panjang lebar unsur apa saja yang terkandung pada bulu kucing ( agar tampak ilmiah), lalu didukung beberapa fakta banyak pasien lain yang terlambat punya keturunan gara-gara memelihara kucing di rumahnya. Maka lengkaplah penderitaan Rosa. Sepulang kosultasi dengan Dokter Yadi, Billy tertawa penuh kemenangan. Dan Rosa diam, lalu terbaring. Tak lama kemudian terlelap.

***

Setelah kusampaikan beberapa hal kuharap kamu bisa memaklumi, kenapa Rosa merasa sendiri, lalu hendak bunuh diri. Rosa atau kamu juga kerap merasa sendiri bukan. Bahkan saat kita berpelukan, kamu tetap saja merasa kesepian. Kita adalah mahluk yang paling munafik. Begitu yang dikatakan Rosa di sebuah malam.

Ini semacam kegilaan. Dan kita tak berdaya. Kita tak kuasa untuk merubahnya. Barangkali saja sesekali kamu sungguh-sungguh lupa dengan kesedihanmu? Tapi berapa lama kamu sanggup bertahan dalam kenyamanan semacam itu. Semua segera berganti, dan jika kita kalkulasi, lebih banyak kisah sedih yang kita alami bukan? Meski selalu disembunyikan, lalu kita akan mengatakan baik-baik saja, sehat  kepada setiap teman dan kolega.

Mari kita lupakan kerumitan yang melanda hidup Rosa. Dan aku hanya berniat membantu, memenuhi harapan terakhirnya. Sudahlah, mari kita tengok hidup kita. Sejenak saja.  Dan kupastikan, kamu juga sedang mengalami beberapa hal yang mungkin mirip dengan apa yang dialami Rosa.

Oke, baiklah. Biarkan saja. Mungkin itu tidak penting. Sekarang jalani saja hidupmu. Dengan caramu. Lupakan semua ceritaku. Berbuat baiklah. Karena berbuat baik, betapapun pura-puranya akan tetap ada manfaatnya daripada kamu berkeluhkesah. Jangan takut. Kamu boleh juga berbuat sebaliknya. Maaf, sebenarnya Rosa tak mati karena bunuh diri. Namun kupastikan ia telah menemukan Rosa lain, Rosa yang selalu ia rindukan, yang tak pelu takut atau malu-malu.

Bandar Lampung, Februari 2013


Lampung Post, Minggu, 2 Juni 2013

Sunday, January 13, 2013

Suara dari Masa Lalu

Cerpen Alexander G.B.

SETELAH menikahi Arin, anak pengusaha ternama di kota ini kehidupanku berubah 180 derajat.  Atas saran Arin aku tetap merahasiakan asal usulku pada keluarganya. Namun setiap malam aku tertunduk, dadaku sesak, seperti merasakan sesuatu yang hilang dari diriku. Hampir setiap malam  aku bertanya dan tak kunjung menemukan jawabannya.

Arin dan dua anakku pergi sejak sore tadi ke rumah mertua, silaturahmi dan refleksi keluarga setiap malam tahun baru. Sementara aku terbaring di sofa ruang tamu menunggu sembari menonton televisi.  Apa boleh buat, badanku masih lemas dan menggigil. Mungkin demam lantaran dua hari diterpa hujan atau kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang mesti diselesaikan. Arin mengirim pesan mereka pulang selepas tengah malam.

Detak jam dinding bergema di ruang tamu. Mendengung di telinga. Lalu sepi dan dingin. Aku tercekat. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Daun jendela terombang ambing, tirainya bergoyang, dingin merayap. Jendela terbuka, televisi menyala. Sejenak kusandarkan kepala di sofa. Tiba-tiba ingatan tentang kampung halaman bermekaran.  Terkenang Bapak dan Ibu yang telah 15 tahun kutinggalkan. Kabarnya mereka masih menggarap sawah dan ladang di lereng bukit barisan. Entalah. Lalu seperti ada kabut tipis di ruang tamu. Televisi tiba-tiba tanpa suara. Badanku meringan, melayang, menyaksikan Ulubelu.

***

Aku duduk di ruang tamu. Di hadapanku ada ibu. Ia tampak sehat. Tersenyum, menghidangkan segelas teh hangat untuku.

“Yuli kakakmu sudah dua tahun jadi TKI. Mestinya dia sudah pulang. Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya,” ujar Ibu mengawali perbincangan.

“Ya, berdoa saja agar dia baik-baik saja,” ujarku.

“Seandainya doa bisa menyelesaikan semuanya.” Ia menghela nafas.

“Atun kemana?” tanyaku.

“Atun jaga toko di Padang, kebetulan dapat jodoh dan menetap di sana,” ujarnya diiringi batuk kecil.

“Yanti?”  tanyaku kembali.

“Yanti sudah menikah, sudah punya anak satu. Itu si Panji yang kini menemani ibu. Kalau tidak ada dia pasti rumah ini akan sangat sepi. Tanah di lereng bukit sudah dijual untuk berobat,” ujarnya, nadanya  sedih. 

“Ibu sakit apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu?” tanyaku.

“Darah tinggi. Tapi tidak apa-apa sudah sembuh,” ujar ibu.

Lalu diam sejenak. Setelah sejenak menatapku.

“Duduklah. Setiap hari Ibu mencemaskanmu. Tapi syukur kamu baik-baik saja. Tuhan menjawab doa ibu. Kata Yanti kamu sudah sukses. Nah sekarang Ibu titip adikmu. Kami sudah kepayahan untuk mengarahkannya. Kerjanya di sini mabuk-mabukan dan berkelahi dengan anak-anak kampung sebelah. Karena doyan berkelahi dia tidak diterima kerja di pabrik. Padahal anak itu sesungguhnya baik, sayang dengan keluarga dan mau bekerja keras.” Matanya berkaca-kaca menatap foto adikku yang terpajang di dinding.

“Iya, biar saya yang mencarikan pekerjaan nanti.”

Ibu menggangguk. Membelai rambutku. Hampir sepuluh tahun aku tak pulang. Rambut ibu sudah penuh uban.

“Suara apa rame-rame itu? Kok sepertinya gawat. Coba kamu lihat!” pintanya.

“Bukan apa-apa, itu suara petasan dan kembang api. Nanti malam itu tahun baru Ibu.” Ujarku menenangkan diri. Tiba-tiba ia seperti ingin bangkit. Aku mencegahnya.

“Seperti suara rumah yang terbakar.” Aku mencoba mendengar. Tapi tak terdengar apa-apa. Wajah ibu semakin cemas.

“Tidak ada apa-apa Ibu. Duduklah,” ujarku.

“Tapi ada yang teriak-teriak.” Ibu semakin gelisah.

“Baiklah, ibu duduk saja. Biar kulihat.” Aku pun lekas membuka pintu. Kutengok kanan dan kiri.  Tak ada apa-apa. Tak ada anak-anak yang menyalakan petasan seperti yang kuduga. Aku terus melangkah, melewati halaman. Lalu bergegas ke jalan. Kakiku kian menjauh dari rumah.

Tiba-tiba semua tampak memerah. Api menyala di mana-mana. Aku terkejut. mengapa tadi aku tak melihat atau mendengar apa pun? Dalam waktu sekejap kampung ini berubah. Aku menyaksikan orang-orang memakai topeng membakar sekolah dan rumah-rumah. Aku berteriak. Mereka mengacuhkan teriakanku. Aku ingat Bapak dan Ibu. Aku lekas berbalik arah. Tapi tidak tampak jalan yang tadi kulewati.
Orang-orang bertopeng berkelebat. Bapak dan para tetangga mengejarnya. Sepintas aku melihat anak kecil menangisi bapak ibunya yang terbakar. Aku ingin menggendong dan membawanya menjauh dari kobaran api. Tapi ia malah takut dan berlari, kemudian terbakar.

Aku membalikkan badan, berhadapan dengan orang-orang kampung, aku mengenalinya beberapa diantara mereka adalah teman sekolahku dulu. Tapi sepertinya tak ada lagi yang mengenaliku. Wajah mereka berubah buas. Matanya menyala seperti anjing-anjing geladak. Lalu mereka berlalu, mengikuti Bapak yang berlari membawa golok dan cangkul memburu orang-orang bertopeng.  Ada yang membawa parang, bambu atau kayu sebesar lengan orang dewasa. Mereka berteriak, berlarian.  Aku mendengar jerit orang-orang yang dipukuli dan terbakar.

Oh, itu Ibu. Ia  menampi beras dalam kobaran api. Aku mencoba memanggilnya. Tapi ia tetap menampi beras. Wajahnya hambar, air matanya menetes dan menjadi butiran-butiran beras yang ia tampi. Aku berteriak, memanggilnya berkali-kali. Tapi sia-sia.

Lalu ibu menghilang dalam kobaran api. Berganti dengan rombongan bertopeng seperti ninja, mereka membawa obor dan kembali membakar apa saja. Rumah, ladang jagung, kandang ternak, belukar, hutan bambu di sepanjang bukit barisan.  Masjid dan mushola ikut terbakar.  Orang-orang bertopeng terus berlari, jumlahnya semakin bertambah banyak.  Bapak dan tetangga terlibat perkelahian. Sementara api terus menjalar di sekelilingnya. Jerit mahluk-mahluk yang terbakar. Aku mencoba melompati kobaran api. Tapi terpental seperti ada dinding yang menghalangi. Aku melihat bapak yang terbakar tetapi tetap mengayunkan parangnya dengan kesetanan, tetangga yang lain melakukan hal yang sama. Kenapa bapak berubah buas?
Setelah menghabisi semua warga desa, orang-orang bertopeng membalikkan badan dan menatapku. 

Mereka mendekat.  Pakaian mereka seperti aku kenal. Mereka pegawai …..  Ah, gagal mengingatnya. Mereka makin dekat,  tinggal sepuluh langkah di depanku. Kerumunan orang itu membuka topengnya.
Wajah mereka berubah anjing geladak, menyeringai. Kulihat  air liurnya yang menetes-netes. Gigi dan taringnya berkilatan. Mereka bersiap untuk menerkamku. Aku terus mundur…. mereka mengpung dan menerkamku. Aku berteriak ketakutan, tak ada suara keluar, tubuhku tak bisa bergerak. mataku terpejam... dan... Gelap. Seperti ada suara tembakan. Seperti ada suara pintu yang terbuka.

***

Aku mengangkat wajahku, ada pijar kembang api, disusul suara petasan. kulihat langit bertuliskan; HAPPY  NEW YEARS.. Aku mencoba menajamkan pandangan dan mencoba bangkit. Tiba-tiba sudah ada sosok Arin dekat sofa, ada Dodi dan Sindy, dua anakku yang masih menggenggam terompet. Lalu mereka menyerbu, memelukku yang masih bersimbah keringat, dan terengah-engah.

Happy New Years Ayah

Suara terompet tahun baru. Lalu memberiku pelukan.  “Ada kabar gembira. Ayah memberitahu setelah tiga tahun, besok perusahaannya resmi dioperasikan. Tahu tidak tempatnya? Di Ulubelu, itu kampung Ayah bukan? Sekalian pulang kampung, jangan lupa ajak aku menghadap bapak dan ibu. Diam-diam saja, jangan sampai ayah dan keluarga lain mengetahuinya,” ujar Arin dengan lembut. Aku mengangguk.

“Akhirnya kamu pulang Ton.  Duduklah. Tiga tahun lalu rumah kita dipaksa pindah. Rumah kita kena gusur. Itu tanahnya yang dipakai area pabrik. Ia keras kepala, ia menolak pindah sebelum kamu bisa dihubungi. Tapi petugas-petugas itu memaksa, Tomo marah melihat petugas memaksa ibu. Ia mati melawan petugas-petugas itu. Ibu tak bisa menerima kehilangan Tomo, ia pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Sebulan kemudian bapak menyusul.  Kami kesulitan untuk menghubungimu. Syukurlah akhirnya kamu datang sendiri.” ujar Yanti.

Ia tersenyum. Beberapa butir air terjatuh dari dua matanya.  

Bandar Lampung, 31 Desember 2012

Sunday, March 4, 2012

Cerita-Cerita Picisan Sepanjang Februari

Cerpen Alexander G.B.


1. Sebuah malam di Tanjungkarang dan kamu tak ada

Membelah malam sebuah Februari yang dingin dan berangin. Dari Gunungterang ke Perum Kemiling. Mimpi-mimpi pucat di pinggiran kota kecil yang selalu gagal mendefinisikan dirinya. Menikmati hembusan angin lembut dan bintang-bintang yang pelan-pelan redup ditutup awan.

Sepanjang jalan kukenang senyummu, penuh harap sekaligus menyimpan dukacita yang panjang.

"Sudah lama bunga-bunga di belakang rumah tak kau siram, sudah lama pantai itu tak kau sapa. Waktu mengajari kita untuk bersabar selama menunggu, sedang jarak mengajari kita tentang rindu."

Tanjungkarang terlelap. Dibekap mimpi-mimpi tentang water front city dan jembatan Selat Sunda. Sementara itu, aku masih berkutat dengan pekerjaan sepele yang tak kunjung tuntas. Berkali-kali mulutku menguap. Keteguk lagi kopi yang nyaris dingin. Kepulan asap rokok menjelma bayangmu. Aku menyusun kembali kisah-kisah muram dan berserakan di kepala. Aku menghimpunnya dan berharap bisa menjadi cerita pendek atau sebuah puisi indah yang lekas kukirimkan kepadamu, hingga kamu tak perlu terlalu merasa sendiri.

Pernah aku berpikir untuk meninggalkanmu. Tanpa air mata. Tanpa pesan apa pun dari bibir indahmu. Kepalaku menyimpan banyak keraguan. Seperti kendaraan yang tak henti berlintasan, suara klakson, dan penjual koran juga. Begitu ramai.

Menjelang pukul satu, kususuri Jalan Panglima Polim hingga Purnawirawan. Senyummu hadir sepanjang jalan itu. Senyum badai embun yang memadamkan nyala api di dadaku. Aku menggigil. Merasakan kegelapan yang begitu pekat. Sesaat terdiam. Tercekat oleh perasaan yang aneh. Tanpamu, aku merasa seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Seperti lelaki yang ditinggalkan purnama.

Esoknya kamu akan menjelma black hold, menyerap setiap unsur dalam diriku. Aku ingin menghindar tapi selalu gagal. Saat ini, kita seperti mahluk konyol yang menunggu ditinggalkan atau meninggalkan. Lalu, ada hati yang merasa kehilangan, yang tak lagi lengkap, atau anggapan-anggapan lain yang terkadang begitu sulit untuk dimengerti.

Paginya aku terbangun. Aku mencari-cari kamu. Tak ada siapa-siapa. Daun-daun jambu berserakan di belakang rumah. Aku merapikan batu-batu di depan pintu, menganti baterai jam dinding yang sudah dua hari tak lagi berdetak. Ada beberapa sarang laba-laba di sudut kamar. Ada potretmu tergantung di situ, tersenyum seolah sedang mengejek kesendirianku.

2. Rumah dan ayah yang tak lagi hijau

Aku tak tahu jika ayahmu tak lagi berwarna hijau. Ayah semakin jarang pulang ke rumah. Seperti kamu. Bertahun-tahun tak ada jejakmu di situ. Ada pigura berwana cokelat melekat di dinding ruang tamu. Seorang wanita suka sekali memandang begitu lama. Jarum jam mengelak untuk melakukan ketidakbiasaan. Ia terus berputar sesuai dengan garis edarnya. Tak hendak melakukan semacam improvisasi.

Apa yang sedang kamu lakukan? Beberapa daun bungur rebah di tanah. Undakan menuju beranda berlumut. Lalu, suara batuk-batukmu terdengar mengusik ketenanganku.

"Aku tak apa-apa. Hanya sedikit terganggu kisah-kisah yang kamu hidangkan setiap malam, oleh iklan-iklan dan berita kriminal di koran dan televisi, juga foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu."

Jejak-jejak ayah begitu nyata di matamu. Kamu begitu peragu dan takut yang kerap tidak pada tempatnya. Bahkan, kamu tak pernah mau singgah di taman dua musim itu. Sebuah taman yang dibangun seorang teman yang suka menulis sajak-sajak indah tentang Januari. Aku ingin mengajakmu ke sana. Berbagi cerita, bertukar kebosanan dan keluh kesah yang kerap menjadi menu sarapan dan makan malam.

"Kenapa sekarang kamu semakin kurus?"

Kamu menghapus banyak sekali jejak ayah di situ. Seolah-olah menolak lelaki yang turut menyusun dirimu.

"Tidak. Bukan begitu. Terlalu banyak ayah di rumah ini."

"Tetapi, bukankan itu normal. Setiap rumah dan halaman selalu saja dipenuhi Ayah bukan?"

"Tapi aku ingin berubah. Aku ingin melepas ritus kecemasan yang turun-temurun harus ditelan mentah-mentah bagi penerusnya. Tetapi, aku tak hendak menolak silsilah. Aku hanya ingin berubah."

"Bukankah ayah juga suka berubah-ubah?"

Kamu diam. Menjelma tugu selamat datang. Lalu, memintaku segera berlalu, meninggalkan Tanjungkarang dan tak lagi mengingatmu. Kamu wanita yang aneh. Kamu menolak peta dan tanda-tanda jalan yang mestinya tetap kamu simpan sebagai bekal perjumpaan.

"Tidak. Aku tidak menyesal. Aku bebas menyusun kisah-kisahku. Aku bebas membangun taman yang berbeda dari ayah."

"Mengapa kamu begitu membenci ayah?"

"Aku sudah bilang. Aku tidak membenci ayah. Aku hanya ingin sedikit berubah."

Ia kembali diam. Aku juga diam. Bulan kroak di langit dimakan kala. Awan kelabu menaungi Tanjungkarang. Sementara, aku sangat ingin melihatmu tersenyum setiap pagi. Tapi, selalu gagal lantaran hujan yang tak pernah alpa sepanjang Februari. Apakah kamu tahu bahwa ayah tak lagi berwarna hijau.

3. Ayah dan sebilah pisau di matamu

Matamu menyimpan sebilah pisau. Pisau dari baja yang kuat dan tajam. Kamu selalu membuatku takut. Aku ingin kamu terpejam. Selamanya. Agar mata itu tak lagi melukaiku. Sudah kubilang jangan menatapku seperti itu. Tolong. Aku ingin bebas dari tatapanmu.

Lalu aku teringat ketika sendiri di sebuah halte. Berharap sebuah bus melintas dan lekas membawaku pergi. Sejenak menjauh darimu. Kamu seperti ayah. Atau justru kamu sesungguhnya telah menjelma ayah. Ayah yang bagiku seperti ikan di akuarium. Ia berenang ke sana kemari dan merasa berada di sungai atau samudera.

Dulu aku kerap gagal menjelaskan kepada ayah bahwa aku harus keluar rumah, bahwa aku harus pergi agar aku tak hidup di akuarium yang sama. Tapi, ayah selalu menolak. Ia tak ingin dibantah oleh siapa pun. Ibu juga hanya diam di kursi. Lalu, setelah ayah pergi, ibu suka mengelus rambutku. Gelombang pasang melanda dadaku.

Langit merah marun, Sayang. Apa yang sedang kamu risaukan. Bukankan aku ada di sini. Menemanimu. Bukankah aku sudah berjanji akan selalu ada untukmu. Kamu adalah takdirku. Percayalah. Aku ada karena kamu membutuhkan teman yang bisa kamu ajak bercerita. Bertukar kisah lama yang dulu selalu kita sangkal. Kita kubur di halaman atau gudang tempat banyak barang bekas teronggok begitu saja.

Tapi, pertemuan demi pertemuan membuat kita justru menghadirkan hal-hal yang mestinya kita abaikan.

"Sore ini, aku ingin kamu berhenti merayu? Aku tak ingin selalu kamu dustai?"

"Ya. Aku juga sudah bosan. Toh, sesungguhnya kita tetap sendiri. Kita tak mungkin sungguh-sungguh bersama, meskipun tubuh kita begitu rapat, kulit kita saling bersentuhan. Aku merasakan napasmu. Kamu merasakan debar jantungku."

Pisau di matanya kembali berkilat. Aku terhenyak. Ia menatap tanpa berkedip selama beberapa menit. Membuatku jadi kehilangan cara untuk duduk tenang di dekatnya. Sekuntum mawar tergolek di dekat pintu. Seorang lelaki berwajah musim dingin memungutnya. Mawar itu diletakkan di akuarium. Sebuah figura terjatuh.

4. Suara di rembang petang

Di rembang petang kamu menatap ombak yang berkejaran. Seekor camar terbang sendiri, pelepah kelapa menari-nari.

"Meski tak abadi. Aku selalu ingin bersamamu. Kita akan berpisah. Tak apa. Tapi paling tidak kita pernah berbahagia. Itu sudah cukup bagiku, ujarmu. Sebelum sebuah mobil menjemputku.

"Ketidakabadian itu aneh ya?" tanyaku.

"Ya," ujarmu diikuti helaan napas yang tidak menyenangkan.

Pernah, wanita itu berdiri dengan dua sayap malaikat di punggungnya. Dia mengusir mimpi-mimpi buruk. Tanpa lelah menemaniku berjalan. Mengajari bersabar ketika keadaan tak sejalan harapan, bahwa akan ada pagi ketika hidup terasa selalu malam. Senyumnya adalah telaga.

Tapi, kini mata itu menjelma senja yang pucat. Setiap helai rambutnya menyimpan ratusan kisah sedih. Matahari dan rembulan bersembunyi dibalik rimbun awan. Kini, Ia seperti tanaman yang layu karena terlalu lama dipeluk kemarau. Aku tidak tahu sebabnya. Dan, enggan untuk menduga-duga. Tapi, aku tetap mengaguminya.

Mengenalnya membuat banyak alasan untuk berbahagia. Tapi, sekaligus bersedih karena terlalu sering berpisah. Cakrawala membentangkan banyak warna. Berkali-kali aku tergoda pelangi atau gerimis yang turun sore hari. Tapi, berkali-kali pula lembaran-lembaran lain ingin kubuka. Tapi, tatapan dan genggaman tangannya selalu membawaku kembali. Menunggu. Perempuan berpipi merah jambu.

Bandar Lampung, Februari 2012


Lampung Post, Minggu, 4 Maret 2012

Sunday, June 19, 2011

Kabut Sepanjang Jalan ke Arah Rumah

Cerpen Alexander G.B.


EMPAT jam dari Bakauheni sampailah aku di Terminal Rajabasa. Sengaja tak banyak barang bawaan, hanya beberapa helai baju dalam tas ransel hitam yang terlanjur berubah abu-abu. Debu berterbangan, beberapa di antaranya hinggap ke sepatu, baju, dan paru-paru. Rencana kepulanganku tak akan lebih dari seminggu. Aku menduga pasti tak akan kerasan di rumah. Aku tidak tahu mengapa perasaan tidak nyaman semacam ini bermekaran di kepala.

Aku tertarik dengan kesibukan orang-orang di terminal, ada yang merasa asing melangkah ragu-ragu. Tampak raut cemas dan lelah begitu lekat sebagian besar pengunjung, menunggu keberangkatan untuk pulang dan pergi. Tetapi sebagian—yang menganggap terminal sebagai rumah—tampak santai, kerap matanya berubah seperti mata serigala melihat mangsa. Mereka selalu tahu siapa yang sering bepergian dan yang tidak. Ketenanganku membuat mereka tak hendak mengusik atau mengganggu. Aku bersyukur atas itu.

Ya, sementara aku selamat, aku pantas lega karena mereka tak melakukan hal yang sama dengan pengunjung terminal lain yang menyeret ke sana kemari. Kudengar seorang lelaki berteriak Talangpadang—Kotaagung beberapa kali. Maka lekas kupilih bus menuju kota kecilku. Kupilih bangku di dekat jendela, dengan harapan jalan-jalan yang dulu kerap kulalui kembali hidup dalam ingatan. Lima belas tahun tak kusapa dan begitu banyak perubahan di sepanjang jalan menuju rumah. Aku turut bahagia dengan itu. Sepanjang jalan berbagai kendaraan menyesaki jalan. Semakin ramai rupanya. Dua jam kutempuh perjalanan dari Rajabasa menuju Talangpadang.

"Jangan lupa, jika sudah sampai di Talangpadang segera panggil becak, karena tukang ojek sering kali meminta ongkos yang terlalu tinggi dan tidak masuk akal," ujar kakak perempuan yang kerap terlampau khawatir,

"Tetapi bukankah aku bisa menolaknya?"

"Mereka akan memaksa. Dan jika kamu tidak mau mereka akan terus mengikuti. Jadi untuk lebih amannya, sebaiknya kamu panggil becak."

Aku teringat beberapa kisah menjelang Lebaran, ketika ramai orang-orang kampung mengadu nasib di Tangerang, Serang, Jakarta, atau ke luar negeri menjadi TKI di Taiwan, Malaysia, Hong Kong, Arab Saudi, dan sebagainya. Maklum tanah di kampung kian gersang. Hutan penyangga yang sempat dilarang untuk disentuh sudah lama berubah menjadi kebun kopi, cengkeh, lada, dan sebagainya.

Mengenang perjalananku, mengingatkan saat mudik Lebaran. Ketika para perantau dari kampung hendak merayakan Lebaran di kampung. Jika mereka selamat di Rajabasa, tukang ojek akan siap menghadang di Talangpadang. Kabarnya kita sudah merdeka. Beberapa di antara mereka diminta ongkos beratus kali lipat dari ongkos yang sewajarnya. Jika hari-hari biasa Rp25 ribu—Rp30 ribu, tetapi menjelang Lebaran terkadang mesti mengeluarkan Rp50 ribu sampai tak terhingga. Ada yang harus membayar Rp100 ribu, bahkan sampai Rp300 ribu. Keinginan menjumpai keluarga demikian besar sehingga mereka tetap memaksa diri untuk menempuh bahaya semacam itu, terkadang harus merelakan jerih payahnya diambil paksa oleh orang lain.

Lantas aku teringat sajak Saijah dan Adinda karya W.S. Rendra: "Orang-orang miskin menghabisi orang-orang miskin." Aku menundukkan kepala. Saat ini semakin banyak teman dan saudara keluar dari kampung mengadu nasib di negeri orang, berharap mendapatkan pekerjaan dan sedikit uang tambahan, ada yang jadi pembantu rumah tangga, buruh pabrik, berjualan keliling, sales, dan lain sebagainya. Gaji mereka pasti di bawah UMR. Jadi ketika tukang ojek itu meminta ongkos yang tidak masuk akal, mendung segera bergelayut di wajah-wajah lelah yang rindu kampung halaman itu, yang sekadar ingin merayakan dua hari Lebaran bersama keluarganya.

Ketika memasuki Talangpadang, kucium aroma yang nyaris sama 10 tahun lalu. Amis ikan, jalanan berlubang, genangan air di mana-mana, ratusan tukang ojek yang mangkal di setiap gang dan sisi pasar. Aku menikmati keriuhan dan kesemrawutan ini. Menikmati mata-mata jalang yang mengamati laju becak yang kutumpangi.

Kucari warung nasi untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Tiga jam menunggu, dua gelas kopi kuhabiskan, tapi kendaraan yang kutunggu tak menampakkan batang hidungnya. Terik dan penat kuabaikan. Aku menunggu mobil yang bisa mengantarku ke rumah. Kendaraan sederhana yang biasa digunakan untuk mengangkut sayuran atau barang belanjaan para pedagang. Tak ada kendaraan khusus untuk penumpang. Mengenang hal tersebut aku jadi tersenyum kecut. Lebih 50 tahun merdeka, ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi berkembang pesat, tetapi tidak bagi Ulubelu dan sekitarnya. Aku percaya kampungku masih Indonesia.

Sudah hampir pukul dua sore. Mobil yang kutunggu tak kunjung menampakkan batang hidungya.

"Naek ojek saja. Tapi cari mereka yang mangkal di dekat pos penjaga dekat Alfamart. Jangan yang di tempat lain."

Aku mengangguk. Lalu melangkah menuju tempat seperti yang disarankan kakak perempuanku. Mengabaikan mata-mata beringas yang sesekali menawarkan jasanya. Oia, beberapa tahun terakhir kampungku sudah ramai dengan telepon seluler. Tak ada telepon rumah karena tempatnya memang sulit dijangkau.

***

Segera kubayangkan jalanan berkelok yang harus kutempuh. Satu jam perjalanan. Tidak terlalu jauh. Hawa dingin sudah mulai membayang dalam ingatan. Pohon-pohon rimbun di sisi kiri dan kanan jalan, sungai dari mata air Gunung Rendingan yang dipenuhi batu-batu hitam yang berjajar rapi. Kabut yang turun sejak pukul emapt sore. Uap belerang, hamparan kebun kopi, sawah, dan teman-teman lama.

Rumah tampak sepi, hanya ada Rani, kakak perempuanku yang sedang menjahit pakaian pelanggannya. Tak tampak ayah. Mungkin masih di pasar, atau sedang berkebun seperti biasanya. Tiba-tiba aku merindukan ayah. Sosok yang sejak dulu kuhindari. Bahkan kepergianku ke Jawa adalah usaha menjauh darinya. Aku tidak tahu mengapa aku demikian membenci ayah. Bahkan, setelah 10 tahun pergi dari rumah, perasaan semacam itu masih tampak begitu kuat. Sempat ada keraguan ketika hendak membuka pintu. Tampak sepi. Hanya ada Rani yang langsung memelukku begitu aku membuka pintu.

***

"Sudah lama ayah menunggumu. Ia bangga kamu sudah semakin hebat sekarang. Kabarmu selalu ia ikuti. Ia selalu bertanya tentang dirimu. Berkali-kali ia memandangi foto-fotomu dari album yang kamu kirimkan. Ia begitu bangga, hingga hampir setiap hari ia ceritakan tentang dirimu kepada para tetangga dan keluarga lainnya. Banyak yang iri dengan dirimu."

Aku terdiam. Benarkah apa yang diucapkan wanita yang dulu selalu melindungiku dari kemarahan ayah. Jika menilik matanya tak ada kesan untuk membohongi atau menipuku. Sungguh, hanya dialah aku percaya. Selama ini aku hanya memberi kabar padanya. Tentang ibu, ia meninggal ketika kami masih duduk di sekolah dasar. Sejak kematian ibu, aku membenci ayah. Ayah di mataku seperti serigala. Barangkali kebencianku bermula dari Ibu yang sering bercerita tentang keburukan ayah. Kata ibu, ayah tak pernah sungguh-sungguh menafkahi keluarga. Ayah pemarah dan mau menang sendiri. Kesimpulan masa kecilku.

Tak bisa kupungkiri, aku begitu dekat dengan sosok yang biasa kupanggil ibu. Sikap ayah pun kasar kepadaku. Perlakuannya membuat aku semakin yakin cerita ibu bahwa ayah bukan seorang yang baik. Matanya yang menyala tampak seperti menyimpan dendam atau kebencian pada ibu. Wanita yang kemudian melahirkan adikku yang ketiga dari hubungannya dengan lelaki lain. Kabarnya ibu lakukan itu sebagai balasan atas perlakuan ayah. Kakak perempuanku yang berkisah. Ia pasti bisa dipercaya. Rani juga menyayangi ibu, ia juga tidak menyukai ayah, tetapi kebenciannya tidak sebesar kebencianku.

Tak lama sejak kematian ibu, ayah menikah lagi. Aku kian membencinya. Setelah menyelesaikan SMA, aku melanjutkan kuliah atas usaha Rani agar hidupku bisa berubah lebih baik. Akhirnya jauh dari kampung. Akhirnya lepas juga rumah yang tak beda dengan penjara. Aku juga tidak tahu apa yang mendorong ayah mengikuti saran Rani. Ia hanya seorang pedagang kecil dengan sepetak tanah yang ditanami kopi dan palawija.

***

Setelah sesaat diam. Duduk dan meneguk segelas kopi yang dihidangkan Rani, kutatap langit sore. Kulihat wajah Rani yang tampak kelelahan, meski ia mencoba menyembunyikan di balik senyumnya yang sejak dulu indah. Aku menukasi senyum Rani. Rani bercerita sudah lama berpisah dari suaminya. Aku mengangguk. Pantas saja ia tampak lebih tua dari yang semestinya, mungkin karena harus menanggung biaya hidup dan sekolah anaknya yang baru saja masuk SMP tahun kemarin. Begitu banyak hal terjadi, dan aku tak tahu. Lebih tepatnya aku tak ingin tahu. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan benci kepada ayah, kepada rumah, kepada hidupku. Bahkan, aku tak pernah bangga dengan apa yang sudah aku lakukan meski bertahun-tahun bergelut dengan dunia ideal yang banyak diimpikan orang.

Hawa dingin mulai merasuk. Sudah lama tak kurasakan dingin seperti ini.

"Besok aku mau ke kebun. Aku mau mandi di sungai. Kebun dan sawah kita masih ada kan?"

"Tidak, semuanya sudah dijual untuk membiayai kuliahmu. Meski banyak keluarga yang menentang, ayah tetap menjualnya. Iya tidak ingin kamu berhenti kuliah karena putus biaya. Ia merasa kamu satu-satunya yang pantas dibanggakan. Aku sendiri gagal membangun rumah tanggaku. Sementara Dani meninggal karena berkelahi waktu ada keramaian di kampung tetangga. Kamu satu-satunya harapan keluarga. Dan ia selalu membanggakanmu."

Ada sebersit rasa yang aneh. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku.

"Ayah di mana sekarang? Kenapa sudah lewat magrib tidak pulang juga."

Rani diam. Beberapa kali menghela napas.

"Ia meninggal setahun yang lalu. Kamu masih ingatkan, waktu aku kasih kabar ayah sakit kepadamu?"

Aku mengangguk.

"Kamu bilang tak bisa pulang karena sedang ada pementasan di Makassar. Ayah melarangku untuk menghubungi lagi. Takut kegiatanmu terganggu. Tak lama dari situ ia meninggal. Tetapi ia tersenyum. Sebelum meninggal ia berpesan agar aku menjagamu. Ia minta maaf karena tak bisa menunggumu pulang."

Kepalaku terasa berat sekali. Bagaimana jika Rani dan ayah tahu aku tidak selesai kuliah? Bagaimana jika mereka tahu pengorbanannya sia-sia? Hampir setiap hari aku dan teman-teman berbincang tentang hati nurani, estetika, filsafat, kemanusiaan, tentang masyarakat yang sakit. Seolah-olah kami yang paling sehat, karena masih punya cita-cita dan idealisme. Tetapi ayah dan Dani meninggal. Aku tidak sempat berterima kasih dan meminta maaf kepadanya.

Gelas yang kugenggam terlepas. Suara pecahannya mengejutkan Rani. Lantas gelap. Gelap sekali.

April—Mei 2011


Lampung Post, Minggu, 19 Juni 2011

Sunday, November 14, 2010

Senja di Mata Diana

Cerpen Alexander G.B.


SENJA di mata Diana. Wanita yang mati dan tergeletak di pinggir jalan bergitu saja. Tak ada yang menggambil inisiatif menguburnya hingga hari ini. Sebelumnya, keberadaan Diana dianggap meresahkan warga. Ketika kedapatan ia mati, warga bersorak bahagia. Aneh. Mengapa mereka malah senang dengan kepergian Diana? Bukankah Diana sosok yang baik hati pikirku. Apalagi jika mayat Diana tetap dibiarkan tergeletak di situ, apa mereka tak terganggu bau busuk yang akan segera menyebar ke seluruh kompleks perumahan?

Seekor kupu-kupu masuk ke kamar melalui jendela yang terbuka. Ia berputar-putar, menabrak-nabrak dinding. Lalu dalam sebuah kesempatan seekor cicak menangkapnya. Usia pula nasibnya. Aku memperhatikan kupu-kupu itu. Lalu telepon berdering berkali-kali. Setelah kuangkat, baru kutahu jika mayat Diana masih di tempat yang sama seperti dua hari yang lalu. Maka aku bangun dan segera meluncur ke kantor polisi. Saya menjumpai orang-orang berkepala serigala. Beberapa pasang mata mengawasi dari celah pintu.

Saya pengajar sebuah sekolah swasta di kota ini. Sekolah sederhana bagi anak-anak yang tak punya biaya mengenyam pendidikan formal. Baru satu tahun mengajar dengan gaji cukup lumayan bagi pemula. Maklum mengajar mereka juga dibutuhkan keahlian dan kesabaran yang berbeda. Tapi saya sangat menikmati pekerjaan ini.

***

Tiang-tiang listrik menggigil menahan udara pagi. Aroma besi karat menyeruak kemana-mana. Beberapa orang dengan santai melangkah, mungkin sudah kebal dengan dingin dan amis karat besi. Kenapa Diana selalu pulang pagi sementara orang-orang masih terlelap nyaman bermimpi sambil menikmati hangatnya pelukan suami? "Sebab Diana bukan wanita baik-baik, tidak punya suami," ujar Dewi salah satu tetangga yang kurang senang dengan perilaku Diana.

Sudah bukan rahasia jika wanita-wanita di kompleks itu tidak menyukai kehadiran Diana. Rasa benci ini mungkin dipicu karena mereka tak pandai merawat tubuh, atau barangkali mereka kalah bersaing dari sisi kecantikan. Mungkin karena didorong ketakutan suami-suami mereka tregiur pinggul Diana. Tapi sejauh ini, setelah lebih lima tahun selama aku tinggal di kompleks, hal tersebut sama sekali tidak terbukti. Bahwa Diana selalu memakai pakaian seksi, itu benar. Tetapi jika kita menduga ia menggoda suami-suami meraka, sama sekali tidak benar. Diana tampak selalu menjaga sikapnya jika bertemu semua orang.

Mayat yang tergeletak di pinggir jalan itu mungkin Diana, sudah beberapa hari ini tak tampak batang hidungnya. Biasanya menjelang subuh berjalan sambil menenteng tas merah, menyusuri gang yang sempit yang senantiasa remang.

***

Cemburu, mungkin itu yang membuat Diana kerap menjadi sasaran sumpah serapah dan pergunjingan wanita-wanita yang diduga tak sanggup memuaskan suaminya. Saya mengakui mata Diana memiliki daya tarik tersendiri, cokelat dan penuh harap. Mungkin itu yang membuat banyak lelaki berdegup jantungnya dan merangsang titik-titik tertentu sehingga mereka selalu berhasrat mendekat pada Diana. Tetapi apakah Diana suka mengganggu lelaki yang sudah punya istri? Setahu saya tidak. Tetapi Dewi dan juga wanita-wanita lain lebih suka menyalahkan Diana selalu pulang pagi.

"Tentu saja, memang kerja apa sih sampai subuh baru pulang?" kata Dewi.

"Jangan begitu, sekarang banyak jenis kerja yang waktunya harus malam."

"Alah, ya ga mungkin. Masak sejak dulu ia selalu pulang pagi. Iya kan, Mur?" ujar Dewi pada Murti.

"Iya, kalau bukan, mau usaha apa coba?"

"Eh liat dia baru keluar itu, sok sopan, padahal kalau pulang pasti pake rok mini, ih amit-amit."

"Jangan begitulah. Diana itu wanita. Kita juga wanita. Jadi mungkin dia terpaksa harus bekerja begitu. Meskipun kerjanya ga bener. Kasian kan udah hidup sendiri kita musuhi pula. Bisa jadi dia pelacur, tapi kan bisa juga tidak. Dia itu baik, kemarin saja dia bantu biaya pengobatan si Bayu waktu dia kena malaria."

"Eh, Nur kamu tahu apa tentang dia. Kalau kamu ga suka lagi kumpul sama kami-kami juga tidak apa-apa. Iya kan Mur?"

"Iya Nur, terus terang aku juga sedang khawatir, sebab Nurdin seuamiku sekarang sering pulang terlambat, pernah sekali waktu aku melihat ia menegur Diana ramah banget," ujar Murti.

"Jangan-jangan dia pake susuk atau jampi-jampi sehingga setiap lelaki tertarik padanya."

"Huss ngawur aja."

Obrolan kadang berlanjut hingga nama Diana babak belur.

***

"Aku mau kejelasan."

"Tentang apa? Jika hal yang kau tanyakan sama seperti sebelumnya, maka jawaban yang akan kau dengar akan sama saja dari yang sebelumnya. Aku mau pulang."

Lelaki itu diam sebentar lantas meraih tangan wanita itu.

"Jangan kurang ajar, jangan berbuat yang macam-macam nanti aku terpaksa berteriak," ujar wanita itu sedikit mundur. Tetapi lelaki itu lebih sigap, segera diraihnya pergelangan tangan dan ia dorong wanita itu hingga keluar trotoar sampai ke dekat gudang, bangunan tua di pinggir jalan. Wanita itu mencoba menenangkan diri. Ia hendak berteriak, tapi segera sebilah pisau mengancam lehernya. Ia tertegun, tapi tak hendak mengalah. Tak tampak raut takut diwajahnya. Ia tatap lelaki itu.

"Kita sudah cukup lama berteman. Selama ini aku sudah memperlakukan kamu dengan baik, aku tak tahu apa yang ada dalam pikiranmu hingga tega berbuat begini."

"Aku akan membiarkanmu jika berjanji tak pergi dengan laki-laki lain," ujarnya.

Wanita itu tersenyum sinis, berkukuh dengan pendapatnya.

"Kau pikir aku pelacur? Mereka rekan bisnis. Dan aku butuh teman yang banyak, sebab aku harus dapat banyak uang setiap bulannya. Lagi pula apa hubungannya denganmu dengan semua yang kulakukan. Toh aku tak pernah merugikan dirimu juga orang lain. Untuk saat ini dan selanjutnya aku sama sekali tak tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun, apa pun bentuknya selain pertemanan. Aku juga tidak mau terikat dengan janji seperti yang kau tawarkan."

"Jangan keras kepala, aku tak mau menyakitimu."

"Lelaki macam apa yang mengancam wanita dengan sebilah pisau."

Lelaki itu terkejut ketika menyadari apa yang baru dilakukannya. Pisau terjatuh.

"Maafkan aku. Aku tak suka kamu punya banyak teman laki-laki."

"Aneh, aku bukan kekasih atau istrimu. Dan hati-hati kamu bisa kehilangan pekerjaanmu. Kamu tahu sejak dulu kita sebatas teman dan selamanya akan begitu. Jadi aku bebas pergi ke mana saja dengan siapa saja. Aku tidak mau ada orang yang mau ikut campur urusanku. Memang kamu siapa mau ngatur-ngatur hidupku. Dan tolong kamu dengar baik-baik, salah satu alasan kenapa aku lebih suka sendiri adalah karena aku tak mau terikat dengan aturan-aturan semacam itu. Biarkan aku hidup dengan caraku. Lagipula aku tak pernah merepotkan dirimu, sebaiknya kamu jaga ucapan dan sikapmu."

"Kalau begitu lekaslah pergi dari sini. Banyak orang yang tak menyukai kehadiranmu."

Wanita itu terdiam sejenak.

"Tidak, aku harus tetap di sini."

"Dasar kepala..."

Lelaki itu benar-benar geram, dan tak bisa mengendalikan dirinya. Dan wanita itu merasakan semua menghitam. Sempat ia masih tersenyum. Pagi menggigil.

***

Peristiwa satu malam sebelumnya.

"Pulang, Tante?"

"Iya Bud. Cuma bertiga nih?"

"Ga Tante, Ucil, Hasan dan Aam kebetulan sedang keliling."

"Owww...Ini untuk beli nasi goreng sama rokok biar bisa jadi temen ronda. Cukup untuk kalian berenam."

"Makasih Tante. Tumben baru jam dua sudah pulang?"

"Sudah selesai kerjaannya. Lagi pula badan sedang kurang fit jadi agak lebih awal pulangnya. Ya udah, Tante pulang ya?"

"Iya Tante. Makasih."

Wanita itu segera berlalu dari pos ronda.

"Asyik juga jika tiap malam bisa datang rezeki seperti ini. Misalnya semua warga baik seperti dia, makmur juga kita. Lagipula banyak orang kaya, tapi dasar pelit sebatas air putih saja susah banget keluar, ya?"

***

Di kantor polisi.

"Dia sebatas penari latar di klub-klub malam, kafe, atau pesta-pesta."

"Kamu yakin."

"Ya, aku sering melihatnya."

"Sebatas itu?"

"Sebatas itu."

"Kamu membelanya? Dari beberapa laporan dia meresahkan warga?"

"Tidak, itu yang sebenarnya. Mungkin karena dia baik, cantik, dan seksi jadi sebagaian orang iri dan sebagian lagi ingin memilikinya sendiri."

"Beberapa laporan menyebutkan kamu adalah warga yang paling dekat dengannya?"

"Benar, tapi hanya tahu beberapa hal yang dilakukannya."

"Menurutmu modus pembunuhan wanita itu apa?"

"Mungkin cemburu atau perasaan terlalu ingin memiliki."

"Terima kasih atas kerja samanya."

Saya segera meninggalkan kantor polisi dan menyimpan kebingungan.

***

Wanita setengah baya itu kini terbujur kaku. Saya tahu sebagian warga khususnya wanita-wanita itu pasti bersorak kegirangan atas kematian Diana, dan sebagian juga bersedih jika mengenang kebaikkannya. Polisi-polisi tersenyum puas. Tak ada penyelidikan lebih lanjut. Perkara dihentikan. Kecantikan sumber petaka baginya, atau ada hal lainnya? Kini tas merah itu terus menyiksa saya. Sebab di dalamnya ada nama yayasan atas nama dirinya yang digusur pemerintah kota secara paksa. Anak-anak gelandangan menundukkan kepala sebab kehilangan tempat belajar dan bernaung seperti biasanya, sementara beberapa orang menggelar pesta sebab hilang sudah penghalang pembangunan mal yang sempat terhenti karena rumitnya negosiasi. Saya diam di kamar beberapa hari. Kini saya menderita, hidup rasanya lebih buruk dari neraka.

Hatiku terluka, dan luka itu kini kutahu bernama Diana.

Bandar Lampung, Desember 2009



Lampung Post, Minggu, 14 November 2010