Showing posts with label Raudal Tanjung Banua. Show all posts
Showing posts with label Raudal Tanjung Banua. Show all posts

Sunday, January 29, 2012

Keluarga Ampuntuan

Cerpen Raudal Tanjung Banua


TAK ada pembunuhan di sini. Tak ada pembantaian.1) Semua mengalir mengikuti garis takdir. Tuhan memberi semua lebih dari yang diharapkan siapa pun, bahkan oleh si empunya nasib.

Nasib? Tak seorang pun tahu jalan nasib.

Ketika Orde Baru sedang jaya, ia jadi simpatisan diam-diam sebuah partai politik, sambil mengurus sepetak sempit ladang jeruk. Ketika Orde Baru di ambang bangkrut, ia terang-terangan mengaku sebagai anggota partai yang ditindas. Meski partai itu sendiri mengalami pecah kongsi, kemaruk, berkat politik belah bambu militer dan laskar terakhir Orde Baru, ia tak acuh. Ketika hantu krismon merangkak di Latin dan Asia, lalu membesar liar di negerinya, ia tak mampu beli pupuk, kecuali setekong dua-tekong beras plus kerupuk, tapi toh ia menolak ikut antre menerima sembako murah, malah memilih merutuk dan mengutuk sehingga orang-orang menoleh kepadanya.2)

Ketika El Nino ikut pula masuk langit berita, ia mendapatkan buah jeruknya mulai berulat persis kekuasaan yang membusuk. Ketika nasi bungkus dibagikan dan proyek Padat Karya dipadatkan, ia pun menolak ikut, malah dengan gagah memilih menjadi tukang ojek dengan motor butut yang sebelumnya ia pakai ke ladang membawa pupuk kandang. Ketika orang-orang berani turun ke jalan, ia jadikan pos ronda tempatnya mangkal sebagai posko siaga, entah siaga apa. Bendera partainya dalam lambang baru dipasangnya besar-besar, berdampingan dengan bendera merah-putih, bahkan mengalahkan ukuran pos ronda, sehingga jika kedua bendera itu berkibar serentak orang akan melihat seakan pos ronda itu akan dibawa terbang sepasang sayap raksasa ke langit harapan.

Ketika koor reformasi menggema di langit yang biru, ia kuat-kuat menginjak tanah yang waktu itu mulai basah, sebagian oleh keringat, sebagian oleh darah, dan sebagian lagi memang karena musim hujan sudah tiba. El Nino pergi, dan ia nyaris mendapat si cantik Nina, mahasiswi aktivis yang kemudian juga pergi sebab tahu ia sudah punya Atikah Bandriah dengan dua anak remaja, Budi dan Azizi. Nasib belum berpihak padanya.

Ketika pemilu pertama era reformasi hendak digelar, ia terjaring tangan panjang partainya yang sedang mengadakan konsolidasi. Nasib baik mulai meliriknya. Mula-mula ia terpilih jadi ketua pengurus anak cabang di kecamatan, secara aklamasi, terutama karena memang tak ada lagi figur yang paling heboh dan berani selain dia di kecamatan itu. Tak berapa lama, dalam kongres daerah, ia terpilih jadi Ketua di tingkat kabupaten. Ketika pemilu raya sekaligus memilih anggota legislatif dalam satu paket, tentu saja ia maju bukan di nomor sepatu. Beruntung pula ijazah yang ia peroleh dari lima tahun kuliah di kota provinsi tidaklah lusuh sebab disimpan baik-baik di balik plastik laminating, bebas kepinding, belum sekalipun ia jejalkan ke kantor-kantor partikulir dan tong sampah pemerintah. Dan saat ia gunakan pertama kali sebagai syarat caleg cap "nomor jadi", benar-benar membuatnya jadi anggota Dewan di kabupatennya yang merana, persis kerut kulit jeruk dimakan ulat.

Tapi ia tak ciut, sebab di luar dugaan, anggota Dewan yang terpilih mayoritas berasal dari partainya. Padahal, selama bertahun-tahun partainya bagai terkubur humus dan serakan daun-daun, tak seorang pun sudi berhimpun jadi anggota. Ajaib, ketika kini partainya bangkit, entah dari mana datangnya, banyak orang menumpang bersamanya. Tak apa. Situasi memang berbalik. Terimalah dengan rida. Dan ia segera berbenah di dalam gedung dewan yang tua dan berlumut, bertahun-tahun tak pernah tersentuh kuas dan cat. Sekarang ia dan anggota Dewan lainnya yang terhormat, era paling mutakhir dari demokrasi negara ketiga, bersiap mewarnai gedung itu dengan bendera partai aneka warna dan nama-nama. Warna-warni. Ramai sekali. Melebihi pelangi. Meski memang, warna partai Tokoh Kita3) yang paling mencolok. Membuatnya seakan tak percaya bahwa kekuasaan yang lepas dari tampuknya jatuh persis menimpa dirinya!

Pernah ia bermimpi seolah sedang tertidur di bawah pohon jeruk. Sebuah jeruk busuk jatuh menghempas wajahnya hingga matanya terpercik perih air asam—serasa gas air mata dilepaskan polisi anti huru-hara di perempatan kota kecilnya. Tapi itulah yang terjadi. "Jeruk dan kekuasaan punya mikrofonnya sendiri, mikrofon yang akan sama-sama jatuh jika tripotnya membungkuk, condong ke arah massa," seseorang seperti alien—makhluk langit—bicara padanya dalam tidur itu. Ia tergeragap. Kata makhluk itu lagi, "Einsten merumuskan hukum vertikal gravitasi di bawah pohon apel, tapi sebenarnya ada hukum melingkar gravitasi. Kau bisa dapatkan dari amsal buah jeruk. Karena buah jerukmu busuk, yang ada ialah ulat. Tak ada obat dan pupuk, tak ada pasar dan tawar-menawar, tak ada jual-beli, akibatnya sebuah siklus terputus yang akan merenggut buah lebih besar: kekuasaan!"

***

WAKTU ia terbangun, makhluk aneh berkepala gundul itu sudah tak ada, sebaliknya ia benar-benar mendapati buah ranum kekuasaan sebagaimana dikatakan si alien. Lihatlah, dirinya tersandar gagah di kursinya, di ruang sidang yang sudah sepi dan kosong. Tak ada lagi gema suara-suara dan perdebatan. Jelas, tak seorang pun yang berani lancang membangunkannya, sekalipun dengan lembut dan sopan, sebab semua tahu belaka betapa payah ia bekerja hari-hari terakhir ini. Hari-hari yang menentukan warna cat dan gema mikrofon di gedung Dewan itu.

Semua mahfum betapa ia telah berjuang dimasa-masa sulit: mengumpulkan satu-dua kawan untuk berani menyatakan diri. Di antaranya, menyablon kaos yang biasa mereka pakai ke ladang dengan lambang partai yang saat itu antara ada dan tiada, ditambah sedikit kata-kata, "Ada atau Tiada, Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata." Telah ia kibarkan bendera di pos ronda. Telah ia dirikan pos siaga. Meski memang tak kelewat tegang, tak perlu menderap langkah, apalagi berdarah-darah. Semua dilakukannya dengan santai, kadang sambil cengengesan dan tertawa-tawa. Iseng, kata sebagian orang. Tapi apakah yang tidak berbahaya disaat buah kekuasaan sedang ranum di batang-batangnya yang baja? Apakah ada alasan lain jika bukan berani, saat tampuk kekuasaan hendak lapuk lalu dijaga laskar terakhir dengan separuh kantuk? Tak ada. Bahkan tindakan iseng pun hampir sebuah subversi!4)

Maka, apa pun kata orang, Tokoh Kita membuktikan tidak semua keisengan sia-sia. Telah ia lalui hari kemarin dengan segala rutuk dan geramnya. Merana. Kini, waktu tak membiarkannya berlama-lama jadi semerana jeruk busuk sehingga dalam pemilihan ketua Dewan, ia terpilih bulat-bulat jadi ketua, bersaing sedikit ketat dengan anggota dari partai lain yang sedang dihujat sana-sini, dan karenanya sang pesaing agak kurang percaya diri. Sedang ia tak perlu malu-malu kucing karena sejarah masa lalu membuktikan ia kucing sejati di antara tikus dan kelinci.

Selesai? Soal nasib tak ada yang selesai, bahkan ketika kelak tubuhmu dikubur, nasib baik akan tetap menyertai orang-orang yang dekat dengan dirimu. Maka begitulah, dalam pemilu periode berikutnya, ia melenggang maju dicalonkan partainya sebagai bupati. Tanpa pembunuhan apalagi pembantaian, ia terpilih dengan suara terbanyak, dan suara-suara lain dibuat ciut, kalah nyali. Maka ia dilantik sebagai bupati dengan terlebih dulu diarak pakai gerobak dan pedati, penuh berisi buah-buah tanda kemakmuran. Berhiaskan bunga-bunga simbol perdamaian.

Dalam hitungan hari, ia segera meluncurkan gerakan swasembada jeruk dan program "Jeruk untuk Semua". Menurutnya, jika sebuah propinsi di timur tanah air berhasil dengan tanaman jagung, maka ia berpikir daerahnya bisa bangkit dengan jeruk. Sedangkan "Jeruk untuk Semua" merupakan program bagi-bagi jeruk di setiap rumah, supaya anak-anak tidak kekurangan vitamin C, dan bagi orang tua, setelah merasakan manisnya jeruk, diharapkan segera membuka kebun jeruk pula. Uniknya, ia pun mencoba memberdayakan tupai sebagai ternak unggulan lewat anjuran mencari bibit terbaik dengan menangkap tupai hidup-hidup di pohon kelapa. Ini segera mengantarnya meraih penghargaan inspiratif dari istana negara, dan tentu saja catatan dari museum rekor sebagai terobosan paling nyeleneh di negeri pulau kelapa. Saat diwawancarai, dengan rendah hati ia malah berkampanye bahwa kebijakannya itu bernilai ganda: tupai terusir dari kelapa, hati tupai baik untuk penyakit asma.

Prestasi demi prestasi sukses ia tuai, termasuk penghargaan dari sebuah lembaga sosial-politik yang mencatatnya sebagai "Tokoh Politik Lokal Bebas Konflik". Tapi bukan penghargaan itu benar yang membuatnya tersanjung, melainkan perempuan pemilik lembaga itu membuatnya beruntung. Ya, pemilik lembaga itu tak lain Nina Asmarina, mantan aktivis yang pernah dekat dengan dia saat demo kecil-kecilan di perempatan kota kecilnya. Seajaib nasibnya dalam dunia politik, seperti itu pula nasibnya dalam dunia perkawinan. Tanpa ribut-ribut, ia nikahi Nina Asmarina secara siri dan gadis itu pun ingin. Habis perkara. Bahkan istri pertamanya tak mungkin mungkir akan sunah nabi, meski syarat berbuat adil, entahlah. Maka benarlah ia menjelma tokoh politik bebas konflik di dunia yang sesungguhnya penuh konflik.

***

WAKTU berputar segan di ubun-ubun mereka yang lamban, banyak tidur dan mengantuk. Tapi alangkah cepat menggasing mereka yang sulit tidur sebab segalanya mesti diatur. Mereka pun berjalan, dan terantuk. Tapi selalu tangan tuhan terulur, lewat tangan-tangan dewan yang merumuskan undang-undang dan aturan. Anggota dewan adalah wakil tuhan di bumi, jika kau percaya suara rakyat adalah suara tuhan—sebab bukankah rakyat, kita semua, yang memilih anggota Dewan?

Begitulah sebab-musabab dan tali-temali nasib bekerja. Ketika masa jabatan Tokoh Kita sebagai bupati berakhir, undang-undang memberinya keleluasaan untuk maju kedua kali. Ia maju lebih percaya diri, bahkan hampir-hampir tak merasa perlu berkampanye seperti tukang obat di pasar, cukup keliling membagikan bibit jeruk yang khusus didatangkan dari Kalimantan. Tak perlu mencincang lawan, membanting mikrofon atau menjilat pantat rakyat. Ia hanya merasa perlu mengganti pasangan wakilnya, dari Subandi menjadi Amzori Rifai, masih sepupu, sebagaimana kepala dinas banyak dari kalangan sepupunya sebab itu modal merawat kekuasaan.

Ketika masa kekuasaannya untuk kedua kali hampir habis, dan undang-undang yang manis dan sopan melarangnya mencalonkan diri kembali, tak ada yang perlu dicemaskan. Nasib masih akan bekerja. Undang-undang toh tak pernah menutup kesempatan setiap warga negara untuk berkuasa. Tak ada larangan kalau ia maju di daerah lain. Dan karena undang-undang kekuasaan begitu manis dan sopan, ia bisa saja maju di kabupaten tetangga, daerah asal istrinya. Namun, rekomendasi partainya tak kalah manis, sedang rumput tetangga yang sehijau kulit mangga, biarlah untuk sang istri. Ia toh tak perlu neko-neko ketika tangan panjang partainya—kini mulai tambun dan berlemak—menggamitnya untuk bertarung di tingkat provinsi, walau jabatannya masih bersisa separuh masa.

Diolah intuisi keisengannya yang sudah teruji, ia buat move sebagai calon gubernur yang mendapat dukungan penuh lembaga survei, tapi di saat yang tepat ia menelikung secara dramatik: ia putuskan untuk maju sebagai wakil pasangan gubernur saja. Bukan tanpa alasan. Ia dan partainya tahu belaka bahwa meski partainya mayoritas di dewan propinsi, tak ada jaminan para anggota Dewan akan langsung memilih dia. Waktu itu pemilihan masih dilakukan oleh anggota Dewan dengan pola voting rahasia sehingga siapa jamin anggota itu tak membelot mengingat banyak di antara mereka penumpang gelap? Jika sampai ia kalah di tengah mayoritas anggotanya, tentu akan berbahaya dan meruntuhkan reputasi partai dan dirinya sendiri. Maka, alon-alon kelakon selalu lebih baik, percayalah.

Tanpa perlu meledak-ledak, majulah ia mendampingi seorang calon yang ambisius—jauh dari kesan iseng—sehingga kelak di kemudian hari dengan sedikit keisengan saja Tokoh Kita pasti akan memetik buahnya. Ya, ya, wakil itu adalah sebaik-baiknya modal untuk maju jadi orang nomor satu dalam pemilihan berikutnya. Dan atas nama nasib baik dan rakyat banyak, pasangan itu menanglah.

***

NASIB mengalir seperti air pelimbahan, meluap di kali dangkal, seperti air hujan di cucuran atap, ke mana lagi mengalir kalau tidak di bawah kaki keluarga yang seakan milik kekal kekuasaan? Siapa lagi yang hendak ia basuh jika bukan kepala orang-orang terdekat, seolah mengusapnya dengan tongkat keajaiban?

Begitulah, istri tercinta Tokoh Kita maju sebagai calon bupati mengincar kursi yang ditinggalkannya. Sementara istrinya yang kedua, Nina Asmarina tak berselang lama maju pula sebagai wakil wali kota di sebuah kota pelabuhan yang selalu tampak seperti orang meringis—sarat beban—jika dilihat dari laut. Anak Tokoh Kita, Ir. Budi Kelana Jauhkali juga terjun ke politik, tak kepalang tanggung, perlahan tapi pasti di internal partai, Budi digadang-gadang sebagai calon sekjen lokal masa depan, dan tentu saja lebih dulu memetik bintang di bangku Dewan daerah.

Sementara drg. Azizi Makronah, si bungsu yang pandai merayu, resmi dipinang putra politikus tua kawakan—dengan perayaan tujuh hari tujuh malam—sehingga membuhul dinasti lokal dan nasional, pelan-pelan. Pesta pun berlanjut. Pesta demokrasi tahun berikut, mengantar Azizi yang manis dan selalu tampak seperti perawan suci, sebagai anggota Dewan. Tak sekadar memenuhi kuota perempuan. Azizi dikenal santun, persis saat ia praktek di klinik gigi membujuk pasiennya yang menggigil seperti rakyat menunggu mukjizat kebijakan. Klinik yang sebentar lagi akan menjelma rumah sakit swasta pertama di kota kelahirannya yang kini ranum belaka, seperti buah jeruk marabahan dalam masa panennya yang terbaik.

Demikianlah, tak perlu waktu lama menunggu pohon keajaiban nasib tumbuh dan berbuah. Sewindu sehat, satu dasawarsa sempurna. Selewat itu, tinggal menjaga akar dan sulur-sulurnya, berjalinan mencari akar dan sulur lain di tanah basah. Kini kita punya dinasti lokal yang sambung-menyambung, berjajar pulau demi pulau, dalam naungan undang-undang yang manis dan sopan, tak perlu ada pembantaian.

Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini, dalam tidur yang singkat dan sulit terpejam, makhluk serupa alien itu sering kali merasuk ke dalam mimpi-mimpi siang-malam Tokoh Kita. Konon, menurut staf ahlinya yang tak perlu disebutkan nama—sebab kesaksian ini bersifat rahasia—tuannya itu sering tergeragap bangun, basah keringat, ngungun seperti lanun terkepung kapal patroli.

Perlahan, setelah diambilkan air putih, sang tuan akan bercerita bahwa mimpi yang sama datang lagi. Katanya, makhluk gundul serupa alien itu, selalu, antara takjub dan gemetar, berkata padanya, "Ampun, Tuan, Ampun, Tuan...."

Ketika staf yang sebelumnya berprofesi sebagai wartawan lokal itu diminta mencatat ucapan si alien—untuk analisis mistik-politik—si staf agak kebingungan. Maka ia menulisnya campur aduk. Kadang "Ampun, Tuan," kadang "Ampuntuan".

Menurut Anda, apakah ada bedanya?

Rumahlebah Yogyakarta, Mei-Juni 2011


Catatan Kaki:

1 Pada hari Senin, 23 November 2009, terjadi pembantaian paling brutal dalam politik lokal Filipina. Sebanyak 57 orang tewas, 27 orang di antaranya wartawan dan 15 orang merupakan pengemudi motor atau mobil yang kebetulan lewat di tempat kejadian, di kawasan peternakan terpencil, Provinsi Maguindano. Korban terbesar adalah klan Ismael Mangudadatu, seorang calon gubernur yang sengaja mengutus istri dan keluarganya untuk mendaftarkan dirinya ke komisi pemilihan umum setempat. Mangudadatu tidak berangkat, lantaran mendapat ancaman pembunuhan dari klan Amputuan. Klan Amputuan merupakan kroni anak-beranak yang berkuasa di hampir semua kawasan Manguindano, mulai sebagai walikota hingga gubernur. Pembantaian dilakukan karena Ismael Mangudadatu berani bersaing dengan patahana Andal Amputuan Senior sebagai calon gubernur Provinsi Manguindano (Kompas, 28 November 2009). Sebagian media menulis nama klan Amputuan, sebagian lagi Ampatuan. Tapi menurut Anda, apakah ada bedanya?

2 Pola peringkasan waktu (flash-time) seperti ini sengaja diadopsi dari teknik Iwan Simatupang dalam pembukaan Ziarah (1969)—lantaran betapa silih-bergantinya peristiwa dalam waktu singkat.

3 Tokoh ala Iwan Simatupang yang bernilai representatif.

4 Judul buku cerpen Kuntowijoyo (1999), yang menurut Wan Anwar (2007) berhasil membaurkan mitos dan realitas, termasuk mitos dan realitas politik


Lampung Post, Minggu, 29 Januari 2012

Sunday, August 14, 2011

Kenangan dalam Bus

Cerpen Raudal Tanjung Banua


AKU merantau, seolah semuanya telah menjadi lampau. Tapi tidak. Semuanya baru dimulai ketika ingatanku terasa bangkit kembali di sepanjang jalan yang kulalui. Telah aku seberangi selat dan kulewati kota-kota, dalam sebuah bus tua yang berderak sepanjang jalan, sepanjang siang dan malam. Meskipun dioper bus tiga kali, tetap bus tua juga yang akhirnya membawa diriku dari kota ke kota.

Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, hari pertama aku menginjakkan kaki di luar pulau dan hari pertama aku “resmi” menjadi perantau. Perantau pemula. Hingga bertahun-tahun kemudian, ketika sesekali kurindui kampung-halaman, kenangan itu datang bagai dihantar bus tua yang menerobos begitu saja dinding-dinding ingatanku yang rawan.

Ya, tiap kali mengingat bus yang melaju, kenanganku berebut tumbuh. Pohon-pohon yang berlarian bagai kemunculan tangan-tangan yang pernah hilang dalam lambai, walaupun kusadari hanya sesaat. Tak pernah menemani ke mana aku pergi, karena satu per satu mesti tertinggal sepanjang perjalanan— di posisinya semula berdiri.

Seperti deretan Bukit Barisan yang semula seperti hendak memintas kepergianku, tapi perlahan tertutup kabut dan senja, akhirnya lenyap saat bus memasuki perbatasan. Meluncur lebih deras di jalan lintas Sumatera. Lalu berganti pohon-pohon karet yang tegar berderet sepanjang daratan Jambi, kemudian hilang berganti hamparan lahan transmigran selepas Lahat menjelang Lampung. Ah, semua menanti, semua dilewati, begitu fana!

Aku mendesah, ingin menumpahkan keluh-kesah, tapi entah pada siapa. Ya, pada siapakah aku harus berbagi, melepas beban yang mengimpit hati? Seorang perempuan setengah baya ada di sampingku, mukanya bulat dan rambutnya tersanggul besar. Bukankah ini Mak Gaek, orang yang paling tepat kuajak berbagi?

Ya, ya, Mak Gaek, orang yang paling mengerti dan selalu membantuku dalam kesulitan. Aku ingat ketika sekolah mengadakan kemah persahabatan ke Kamang, Bukittinggi, orang tuaku tidak bisa memberi biaya berangkat. Seperti biasa, aku datangi Mak Gaek, dan hari itu juga perempuan itu memanggil tukang beruk untuk memetik kelapa di kebun, dan sekadar iuran keberangkatan cukuplah. Begitulah Mak Gaek, selalu tanggap pada kesulitanku, kadang melebihi orang tuaku sendiri. Karenanya, pada Mak Gaeklah aku selalu datang untuk setiap urusan yang kusadari tak bisa teratasi di rumah. Maklum, adik-adikku juga butuh biaya ini-itu di sekolah, dan sebagai anak tertua aku sering mengalah.

Bahkan, ketika aku mengabarkan akan pergi, meninggalkan kampung dan memutuskan diri untuk pergi merantau, kusaksikan Mak Gaek tertegun. Perlahan ia gapai pundakku, dan berkata berat, "Untuk apa wa'ang ikut merantau? Tetaplah di kampung, wa’ang tak akan mati kelaparan."

Kau mungkin menduga, betapa cengengnya perempuan itu! Sebagai seorang tua ia pasti sudah tahu bahwa usia laki-laki Minang selalu berujung pada perantauan, dan akhirnya nanti kepulangan. Setinggi-tinggi terbang bangau, kata orang. Tapi tidak bagi perempuan itu. Dua anaknya sudah ia relakan pergi, ia lepas secara baik-baik sebagai perantau, tapi sampai kini tak pernah kembali.

"Dan kini wa'ang akan pergi, Kudal? Murad pergi, Ruben pergi...Dan ayek sekarang sakit..."

Sulit menjelaskan mengapa aku akhirnya juga mesti pergi. Kalau hanya buat hidup makan-minum, tanah tempat aku dilahirkan memang masihlah setia menumbuhkan tunas yang ditugal, memancarkan air di tiap pancuran. Tapi lihatlah, mata orang-orang memancarkan api, jika masih tetap bertahan di kampung tanpa kegiatan yang jelas. Dan lagi pula, hidupku tidak akan berada dalam tempurung kampung buat selama-lamanya...

Maka segeralah aku bergegas menuruni jenjang rumah Mak Gaek. Perempuan itu menarik ujung kebaya lusuhnya dan mencelupkan ke matanya yang sebak. Pula ditimpali batuk-batuk nenek yang terbaring sakit di dalam rumah. Ingin rasanya aku berbalik, tapi tidak. Hanya dari jarak jauh aku menatap Mak Gaek.

"Lho, kenapa, Den?"

Astaga, masih saja aku merasa Mak Gaek duduk di sampingku!

"Oh, maaf, Mbok, saya hanya ingin minta balsem," cepat aku berdalih.

"Monggo, pakai saja," perempuan yang duduk di sebelahku itu menyerahkan balsem. Aku menerimanya dan mulai berpura-pura menggosok tengkuk. Kuedar pandangan ke luar jendela bus yang melaju. Tiba-tiba semua terasa beku. Pohon-pohon, tiang listrik, tambak udang dan rumah-rumah pantai utara. Aku merasa terdampar ke negeri asing. Meskipun lewat sekeping papan nama di tepi jalan aku bisa membaca—Cirebon—tetap saja udara asin bergaram membuatku canggung.

Susah-payah kualihkan kembali pandangan ke dalam bus, kepada perempuan setengah baya itu. Sungguh, aku tidak bisa berpaling!

***

SESUNGGUHNYA, perempuan setengah baya yang duduk di sampingku waktu itu, juga tampak gelisah. Entah apa yang dipikirkannya. Sekali waktu, saat aku mencuri pandang padanya, perempuan bersanggul besar itu tampak sedang mengusap pipinya yang mulai keriput. Ingin aku bertanya, lebih dari sekadar berbasa-basi meminta balsem. Tapi tak berani pula. Terlebih sejak pertama kali kulihat perempuan itu persis Mak Gaek. Dan kadang, untuk menghibur hati di perjalanan, aku betul-betul mengandaikan perempuan itu sebagai Mak Gaekku. Tak lebih tak kurang. Lumayan membuatku sedikit tenang, sebab perempuan yang menyayangiku toh ikut bersamaku di bus yang melaju...

Tapi, siapa sebenarnya perempuan ini? Aku mulai bertanya-tanya sendiri. Di mana tadi ia naik? Seingatku, kami sudah bersama sejak dari Lampung, ketika aku dioper ke bus lain di Terminal Rajabasa. Memang masih bus dari jawatan yang sama. Dan ketika di Jakarta aku dioper ke bus DAMRI lainnya, entah kebetulan atau tidak, perempuan itu juga dioper dan tetap duduk sebangku dengan diriku. Ke manakah perempuan ini menuju? Kenapa hanya sendiri? Ke mana suami, anak atau ponakannya? Padahal perjalanannya cukup jauh. Sungguh, aku ingin tahu, tapi tetap tidak berani untuk sekadar bertanya dari mana hendak ke mana kepada perempuan itu.

Bus akhirnya berhenti di sebuah rumah makan di luar kota Cirebon. Para penumpang turun, mengaso dan makan. Sopir bus yang berkeringat tampak makan lebih awal, tanpa menunggu kernetnya yang memeriksa ban dan melap kaca depan. Aku ingin makan, tapi sebenarnya belum terlalu lapar. Perjalanan telah cukup mengenyangkan mataku, dan kini aku ingin berdamai dengan perut supaya bisa sedikit berhemat di perjalanan.

Aku pesan saja mi gelas di sebuah kedai kecil di samping rumah makan. Kedai itu merangkap sebagai wartel. Di wartel itulah, dari balik kacanya yang buram, aku saksikan perempuan yang sebangku denganku itu tengah menelepon. Dan meskipun suaranya tak terdengar karena kaca kedap suara, tapi wajahnya tampak menahan tangis. Sampai akhirnya ia tampak benar-benar menangis. Siapakah yang ia telepon? Apakah yang dibicarakannya? Aku tak tahu, tapi sangat ingin tahu. Tapi bagaimana mulai bertanya padanya?

Di bus yang kembali melaju, perempuan itu masih tertunduk menyembunyikan matanya yang sembab. Saat itulah aku beranikan diri bertanya, "Ada apa, Mbok? Maaf, siapa tahu ada yang bisa saya bantu?"

Perempuan itu agak terkejut, tapi ia sembunyikan ekspresinya. Ia hanya menatap lama, dan tanpa diduga akhirnya sesungukan kembali.

"Kenapa, Mbok?" ulangku.

"Tidak apa-apa, Nak. Maafkan Si Mbok, wajah anak persis anak saya..."

"Anak, Mbok?"

"Ya. Jika ia saya jumpai, pasti sudah sebesar anak ini."

"Di mana dia sekarang, Mbok?"

"Ia pergi ke Sumantrah. Waktu itu ia baru tamat SMA. Katanya ada pekerjaan di Jambi. Hampir empat tahun ia pergi. Tak pernah pulang. Akhirnya Mbok beranikan diri mencari alamatnya, di kebun karet Muarobungo. Tapi kebun karet tempat ia dulu bekerja sudah berganti kelapa sawit dan orang di sana tak ada yang mengenalnya. Tidak mengenal anak saya. Oalah, Nak, Nak...Akhirnya, ya, saya harus kembali pulang ke Semarang..."

Aku memicingkan mata. Pedih.

"Anak mau ke mana?" perempuan itu beralih tanya.

"Ke Denpasar, Mbok."

"Melancong atau kerja?"

"Merantau," gugup aku mengucapkan kata itu. Terdengar abstrak sebenarnya. Perempuan itu diam, mengerti kegugupanku.

"Tadi barusan Si Mbok telepon keluarga di Semarang, bahwa mencari Nurdiyanto memanglah sia-sia," perempuan itu mencoba mengalihkan pembicaraan meskipun berat baginya.

Ingin aku berkata balik, bahwa wajah bulatnya sesungguhnya juga persis wajah Mak Gaekku. Tapi tidak kulakukan. Biarlah dalam hati saja aku menganggap demikian. Untuk perempuan itu, aku cukup berkata, "Kalau begitu, anggaplah saya anaknya Si Mbok yang belum pulang, walau sebatas perjalanan. Lain kali anak Mbok yang sebenarnya pasti pulang."

Perempuan itu mengusap matanya. Senyumnya sedikit mengambang. "Terima kasih, Nak," katanya. Kurasakan tangannya seperti ingin mengusap kepalaku, membayangkan anaknya lanang. Namun tertahan oleh rasa risih serta tatapan penumpang lain. Akhirnya, sepanjang jalan kami hanya saling pandang dengan menganggap bahwa kami adalah ibu-anak yang seperjalanan. Kami bisa bernapas lega dan lumayan mengurangi impitan beban di dada.

Ah, rantau, ternyata tidak selalu berujung pada kepulangan, aku menarik nafas panjang. Kurebahkan kepala di bangku bus yang berguncang. Aku ingat anak-anak Mak Gaekku di kampung, bertahun-tahun tak pernah terdengar kabarnya. Dan seperti anak Si Mbok yang malang ini juga, hampir empat tahun tiada kabar berita. Lalu, bagaimanakah diriku nanti, yang sekarang masih terombang-ambing di jalanan menuju rantauku pula? Ah, entahlah, entahlah...

Masih terus aku digedor pertanyaan tentang rantau, dan berkali-kali kutolak. Sia-sia. Maka jika pertanyaan dan gedoran itu tak tertahankan, aku akan melirik Mak Gaekku yang kini hadir di sampingku.

"Jadi, hampir empat tahun Nurdiyanto pergi...Hmm, sebenarnya untuk ukuran merantau belum terlalu lama, Mbok, hanya saja tanpa kabar berita," aku buka lagi pembicaraan, pelan-pelan. Bermaksud menghibur.

"Itulah soalnya. Kini ayahnya sakit, selalu menanyakan dia, kami harus bilang apa, coba? Saudara-saudaranya pada angkat tangan, seperti menganggap biasa kepergian Nurdiyanto. Padahal bagi Si Mbok ini kepergian tak biasa."

Aku pun ingat nenekku yang sakit di rumah gadang. Ingat ayah-ibu yang sebentar lagi juga akan merasa kehilanganku. Ingat saudara dan orang sekampung, pastilah bersikap masa bodoh atas kepergianku. Sebab, di kampungku, merantau adalah upacara biasa yang tidak akan menggugah siapa pun untuk mencari jika anak negerinya tak lagi kembali. Sialan! Aku merutuk dalam hati, merutuki tradisi kampungku sendiri yang seperti lazim membuang para penghuninya ke rantau orang. Dan sungguh tidak adil, jika ada yang berhasil, maka si perantau harus membantu kampung, tanpa kampung sendiri pernah membantu di masa-masa sulit hidup di rantau. Tak adil! Tanpa sadar, kukepalkan tanganku dan nyaris kupukulkan ke bangku bus yang berdebu. Ah, perantau pemula!

"Kenapa, Den?" kini perempuan itu balik bertanya.

Dan aku bergumam antara sedih dan malu, "Tidak apa-apa, Mbok. Anu, nenekku juga sedang sakit waktu aku memutuskan pergi..."

"O, ia pasti akan menanyakanmu, Nak."

Aku mengangguk. Menahan linangan air mata. Kini, perempuan setengah baya di sampingku ini tak hendak menahan diri. Perlahan dibekapnya bahuku, digenggamnya bagai memegang bahu anaknya sendiri. Kami bertatapan sedih. Dan terasa benar bahwa kami adalah ibu dan anak seperjalanan.

Namun, ketika bus akhirnya berhenti di Semarang, dan perempuan itu mesti pamit berdiri, saat itulah aku merasa tak bakal memiliki dirinya selamanya. Tanpa bertukar alamat, perempuan itu turun, sedang aku melanjutkan perjalanan ke sebuah pulau lagi di timur Tanah Air. Kami masih sempat saling melambaikan tangan di balik kaca bus yang retak, berdebu. Dan saat perempuan itu hilang dari pandangan, saat itulah aku tak lagi memiliki siapa-siapa.

Hanya deru bus. Klakson dan teriakan kernet. Lagu-lagu yang tak menghibur. Semuanya justru jadi pertanda bahwa aku sedang menuju ke negeri entah.

***

BERTAHUN-TAHUN kemudian, perasaan nelangsa, kehilangan dan sedih, selalu membayangiku tiap kali teringat kenangan dalam bus tua itu. Kenangan yang tak pernah mati, selalu hidup kembali tiap kali aku menyadari bahwa sudah lama aku tak pulang. Tak pernah pulang. Entah jika Lebaran tahun ini. Entah.


Catatan kosa kata Minang: Mak Gaek: bibi, dalam hal ini kakak perempuan ayah. Ayek: nenek. Tukang beruk: pawang beruk (sejenis monyet) terlatih mengambil kelapa.
Wa'ang: Kau, engkau, untuk laki-laki.


Lampung Post, 14 Agustus 2011