Cerpen Miftah Fadhli
"COBA lihat di sana." Tunjuk lelaki itu; telunjuknya menuding langit berbentuk gerombolan domba, kecil-kecil, manakala sekawanan burung melintas dia lebih sumringah dari sebelumnya.
Si gadis kecil, yang masih berumur tujuh tahun duduk di pangkuannya dan menyandarkan kepalanya di dada si lelaki. Ia mengikuti arah telunjuk dan melihat langit seperti bola-bola kecil, bukan domba-domba kecil sebagaimana yang dilihat si lelaki. Ia memakai pita merah muda di kepalanya yang dililit melingkar seperti bando, ujungnya dihempas semilir angin, berayun-ayun seperti rumput laut.
Sekarang si gadis kecil merasa ingin meloncat saja dari pangkuan pamannya. Namun, ia merasa tangan kiri pamannya menahan pahanya dengan erat sehingga ia sulit untuk berdiri. Ia tahu pamannya sedang tidak enak hati saat ini. Dadanya berdetak terus, terasa di kepalanya yang menyandar itu. Sementara ia hanya mampu membuktikan ketidak-enakan hatinya dengan memain-mainkan jari dan berwajah murung. Ia memakai baju terusan berwarna hitam dengan selendang hitam melilit lehernya. Tadi selendang itu menutupi separuh kepalanya; pita merah muda itu kelihatan sangat menyolok di antara lautan hitam pakaiannya.
"Aku lapar, Paman," ucap gadis kecil itu.
Sang paman menurunkan tangannya dan mengelus rambut Si Gadis Kecil.
"Sebentar lagi kita pulang, Sayang."
Lalu menengadahkan kepalanya ke langit. Sekawanan burung lagi-lagi melintas, berwarna hitam, seperti noktah yang digerakkan waktu sementara langit di ufuk semakin terang warnanya. Dia tak dapat melihat pemandangan apa pun di tempat ini karena semuanya tertutupi pohon kemboja dan kenanga yang tumbuh tinggi. Puring juga tumbuh di mana-mana.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku tujuh tahun, Paman. Tidak enak dipangku terus."
Sebenarnya lelaki itu ingin memberitahu keponakannya bahwa langit begitu indah hari ini. Bentuknya selalu berubah-ubah. Terakhir langit di hadapannya seperti pasir di tepi pantai, setelah lama berdiam diri seperti gerombolan domba—di pikiran lelaki itu. Bentuknya seperti habis diterjang ombak. Ada beberapa garis tidak menentu, kadang sebenarnya, terlihat seperti benang yang serabutan, tapi garisnya sangat panjang dan memang terlihat mirip seperti pasir sehabis disapu ombak.
Akan tetapi keponakannya tampaknya tidak terlalu memberikan perhatian lebih. Si Gadis Kecil itu lebih sering melihat ke bawah. Ke arah iring-iringan semut yang menggotong remah-remah kayu dan dedaunan. Berbaris di tepi keramik, panjang, mengarah ke sebuah lubang yang letaknya sangat jauh dari tempat mereka memulai. Semut merah, mirip semut rangrang, tapi semut rangrang seharusnya ada di tangkai-tangkai pohon. Jadi, pikir lelaki itu, mereka bukan semut rangrang. Namun semut adalah semut. Perilaku mereka membuat orang kagum; membuat keponakannya lebih suka memerhatikan mereka ketimbang dia dan pikiran tentang langit. Pikirnya, di tempat seperti ini memang lumrah ditemui banyak semut. Hampir di setiap sudut ada semut bergotong-royong, mencari makan, membuat sarang, atau ramai-ramai mengerubungi objek benda tertentu; tapi kelakuan mereka masih membuat orang tertarik—dan itu membuat dia agak kesal, tapi juga tenang. Maka dia sedikit menyunggingkan senyum melihat wajah keponakannya. Mengelus-elus rambutnya yang panjang dan wangi.
"Ah, Paman," Si Gadis Kecil menggeleng, "Aku ingin dibelikan makanan saja."
"Kita belum boleh ke mana-mana, Sayang."
"Kenapa?"
"Kita harus menunggu orang-orang pulang dulu. Menghormati mereka."
"Siapa mereka?"
"Mereka... tamu...," lelaki itu mengatupkan bibirnya.
Dadanya kembang-kempis menghembuskan napas yang pendek-pendek. Bau bunga kenanga terhirup masuk bersama udara, sangat tajam, sehingga dia merasa agak pusing dan kembali biasa setelah beberapa saat. Angin meniup tengkuknya sehingga dia merasa agak merinding dan hangat; matanya tiba-tiba memerah dan bibirnya juga merah sebelum telinganya menyusul berwarna merah. Dia mengambil saputangan di saku kemejanya dan mengelap wajahnya. Kemeja berwarna hitam memiliki kemampuan menyerap panas sehingga udara akan tersimpan pada benang-benangnya dan menguap ke seluruh tubuh membuatnya merasa gerah; dia berkeringat pada dahi dan cuping hidung. Namun air pada matanya diragukan apakah itu keringat atau berarti sesuatu. Bagaimanapun, lelaki itu tidak berusaha mencari tahu. Ketika Si Gadis Kecil itu menoleh kepadanya dia buru-buru menyelesaikannya dan menyurukkan saputangan ke saku kemejanya. Lalu dia buru-buru tersenyum.
"Boleh aku melihat orang-orang itu?"
Si paman buru-buru menghalang-halangi si gadis kecil. Badannya cukup besar, dan dadanya bidang. Hal itu menghalangi pandangan si gadis kecil untuk melihat langsung ke belakang. Sebab, kalau terlalu memutar akan membuat lehernya sakit di kemudian hari. Ia hanya mampu menolehkan kepalanya sedikit sementara badan yang seharusnya membantunya memperluas jarak memutar tidak dapat bergerak leluasa karena tangan si paman terlalu mengekangnya. Ia tidak bebas melakukan apa pun yang ia mau. Selain itu, sudah sejam lebih ia berada di tempat ini bersama pamannya.
"Kamu pernah ke gunung, Sayang?"
"Ayah pernah mengajakku ke gunung, tapi sampai sekarang aku belum pernah ke gunung."
"Aku pernah ke Sibolangit."
"Itu bukan gunung, Paman."
Si paman terkekeh. "Ya, kamu betul. Tapi mirip gunung. Aku dan ayahmu berkemah berdua di tempat itu setelah kakekmu memaksa."
"Kenapa kakek memaksa, Paman?"
Pada kenyataannya dia dan ayah si gadis kecil adalah saudara kembar. Ayah mereka menyuruh keduanya untuk pergi ke bumi perkemahan agar belajar mandiri setelah selama ini mendapat pelayanan maksimal dari ibunya dan pembantunya. Tidak satu lelaki pun bisa disebut lelaki apabila mereka belum pernah menaklukkan apa pun yang menjadi ketakutannya, ucap si paman meniru ayahnya. Dan, saudara kembar itu memang dipaksa untuk menaklukkan ketakutannya dengan berangkat menuju Bumi Perkemahan Sibolangit dan mendirikan kemah di sana.
Si lelaki tahu bahwa dia dan saudara kembarnya belum pernah belajar mengenai tenda dan sejenisnya sebelumnya. Pengetahuan mengenai simpul dia dapatkan di pramuka saat SD dan sudah tentu dia lupa 80 persen materi pelajarannya karena tidak pernah mengikutinya dengan sungguh-sungguh. Saat jambore tingkat sekolah dasar, dia menolak ikut karena alasan yang dibuat-buat; tak beda jauh dengan saudara kembarnya yang ikut pasukan pengibar bendera sekolah, dia tidak pernah ikut "pasukannya" saat kegiatan itu berlangsung di luar dan harus bersusah-susah mendirikan tenda atau bertahan hidup seadanya.
"Jadi kalian sangat manja?"
"Ya, kami terlalu manja."
Ketakutan terbesar saudara kembar itu adalah hidup sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun karena kalau begitu, mereka harus melakukan semuanya sendirian demi mempertahankan hidup. Mereka telah diberi bekal alat-alat kemah yang lengkap dan rute menuju Sibolangit menggunakan bis umum. Setibanya di sana, keduanya kocar-kacir karena tak satu pun dari alat-alat yang mereka bawa tahu namanya. Mereka hanya tahu tenda dan tali tambang dan memasangnya lebih dulu. Setelah melalui proses yang rumit mendirikan tenda yang sempurna mereka harus membuat api unggun yang artinya mereka harus mengumpulkan kayu bakar.
"Di sana dilarang memotong pohon."
Jadi mereka mencari dahan-dahan pohon jatuh dengan susah payah lalu mengangkutnya dengan lebih payah ke perkemahan.
Mereka di Sibolangit hanya untuk tiga hari. Akan tetapi, perjuangan untuk mempertahankan diri selama itu lebih sulit dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Mereka pikir bisa meminta bantuan dari orang-orang yang tinggal di sekitar perkemahan.
"Ternyata mereka lebih dingin dari sekotak es batu sekalipun."
"Jadi kalian benar-benar melewati tiga hari itu sendirian, Paman?"
"Ya, dan Rudi membuatku jengkel selama tiga hari itu."
"Kenapa ayahku?"
"Dia selalu merengek minta pulang. Kamu tahu, setiap malam kami mendengar suara aneh dan Rudi paling sering menangis di antara kami."
Tenggorokannya terasa hangat setelah itu; dia tidak yakin setelah ini akan berbicara dengan lancar.
"Benarkah? Tapi ayah selalu melarang aku menangis."
"Ya, benar...," dia tercekat, matanya merah.
"Kenapa, Paman?"
"Tidak apa-apa."
"Bagaimana kelanjutannya, Paman?"
"Kami melewati tiga hari itu. Dan kami mulai belajar."
Si gadis kecil merasa gerah. Tiba-tiba mukanya memerah. Pita merah muda di rambutnya masih berayun-ayun dihempas angin, seperti rumput laut. Ia teringat ayah dan ibunya. Tiba-tiba ia merasa setiap hari akan sangat sunyi. Ia merasa ketakutan terbesar dalam hidupnya menunggunya di depan pintu dan menyambutnya dengan kesedihan. Ia ingin menangis saat itu juga akan tetapi pamannya tiba-tiba berteriak dan menuding langit.
"Jarang-jarang ada burung sebesar itu!"
"Itu hanya seekor elang, Paman."
"Oh, ya, aku tahu."
Ia tidak pernah berada di tempat ini sebelumnya. Saat neneknya meninggal, ia masih berada dalam kandungan. Itu tidak berarti ia benar-benar pernah berada di tempat ini sebelumnya. Ia bahkan belum pernah membayangkan bagaimana bentuk liang lahat itu. Sekarang barulah ia tahu bagaimana wujud sebenarnya tempat yang dikelilingi batu-batu nisan dan pohon-pohon yang tumbuh sendiri-sendiri. Sepi. Cenderung aneh. Semua orang hikmat. Doa-doa dilantunkan dan ia sama sekali tidak dapat melihat orang-orang yang sedang berdoa. Badan pamannya terlalu besar untuk ditembus.
Sekarang ia merasa kepalanya benar-benar hangat. Telinganya juga hangat seperti seseorang sedang bernapas di dekatnya. Sekalipun ia ingin tidak memedulikan perasaan itu, tetap saja seperti ada seseorang bernapas di telinganya atau di depan wajahnya. Ujung baju ia tarik-tarik sedemikian rupa. Tiba-tiba rasa kehilangan itu muncul begitu saja dalam kepalanya. Rasanya seperti habis memecahkan vas bunga milik ibunya.
"Paman, kapan kita pulang? Aku sudah lapar."
Lelaki itu tidak menjawab. Wajahnya benar-benar merah dan matanya lembab. Namun bagaimanapun, si gadis kecil tak mampu melihat wajah lelaki itu. Dia sengaja mengencangkan pelukannya agar ia tak bebas bergerak.
Sekawanan burung lagi-lagi melintas. Di gadis kecil tengadah memerhatikan kawanan burung seperti sekumpulan noktah yang digerakkan oleh waktu. Ia tak tahu sudah berapa lama ia berada di sini. Langit di kejauhan sudah memerah. Beberapa orang yang tiba-tiba muncul dari balik punggungnya mengucapkan beberapa kalimat kepadanya dan pamannya, lalu tak kelihatan. Terus begitu. Sampai ia benar-benar merasa sesuatu mengganjal di hatinya.
"Berikan senyum terbaikmu, Sayang."
"Kapan kita akan pulang, Paman?"
"Sudah berapa lama kamu tidak mengunjungi paman dan bibi?"
Si Gadis Kecil menggeleng.
"Setelah semua selesai, kamu harus ke rumah paman dan bibi, ya?"
"Kenapa, Paman?"
"Di sana banyak makanan. Kamu bisa memakan semuanya sampai puas." n
Lampung Post, Minggu, 24 Juli 2011
Showing posts with label Miftah Fadhli. Show all posts
Showing posts with label Miftah Fadhli. Show all posts
Sunday, July 24, 2011
Sunday, October 17, 2010
Lipstik di Bawah Guyuran Hujan
Cerpen Miftah Fadhli
SEPULUH tahun silam dia pernah di sini, bersama seorang lelaki. Lelaki yang menyapu wajahnya yang basah kuyup karena hujan. Dengan takzim lelaki itu berucap, "Kita akan bertemu lagi di sini, sepuluh tahun lagi."
Maka sepuluh tahun kemudian, tepatnya hari ini, perempuan itu duduk lagi di sini. Di hari yang sama. Di hujan yang juga sama: bergedebum, membawa gigil dingin. Dia merogoh saku kanan roknya. Dikeluarkannya sebuah lipstik dan diputarnya gagangnya sehingga ujung lipstik berwarna merah menyembul bagai baut yang ditarik oleh sesuatu yang gaib. Bagai melukis, dia memoles bibir pucatnya—karena dingin—dengan lipstik itu dengan harapan, dia bisa seperti dulu lagi. Lalu diedarkannya pandangan kepada kaki kirinya. Dia mendesah, bagai resah. Ternyata dia tidak persis seperti dulu lagi.
Gerakan tangannya terhenti di tengah bibir. Dia tengadah. Hujan tidak akan berhenti, gumamnya. Lalu lipstiknya bergerak ke kanan dan kiri, lagi, di bibir atas. Kemudian bibir bawah. Begitu pelan. Begitu senyap. Hanya gemuruh hujan dan silang-sengkarut guntur bergemebyar di langit. Langit yang keruh, membawa jiwa yang rapuh. Apakah perempuan itu akan tetap bertahan di situ?
Setelah dirinya merasa sempurna, bibirnya terasa liat saat dicecap, dia memasukkan kembali lipstik merahnya di saku yang sama. Betapa gugup, betapa rikuh. Dia tidak langsung menarik tangannya keluar, melainkan berhenti sejenak di dalam saku sambil tetap memegang lipstik itu. Dia menahan gigil. Apakah lipstik itu juga menahan gigil?
Sepuluh tahun silam, dia mengingat, juga memakai lipstik yang sama. Lipstik yang umurnya bahkan melebihi umur kebersamaan dirinya dengan lelaki itu. Perjumpaan di tempat yang sama. Juga perpisahan di tempat yang tak berbeda. Berlangsung di taman yang bunganya tak memiliki warna lain selain warna merah. Semerah bibir basahnya yang tak lagi pucat.
Lelaki itu datang kepadanya dengan tangan melindungi kepalanya. Tetapi kepalanya akan tetap basah. Mata mereka bersitatap. Lama. Tapi mereka tak saling tahu, bahwa ada benang merah mengikat hati mereka berdua. Benang yang setia menembus guratan hujan yang menderu. Yang membikin ricuh. Apakah perempuan itu juga masih tidak tahu bahwa benang itu masih berada di situ?
Orang-orang berlindung di bawah payung, yang lewat di depannya menatap heran: seorang perempuan-apakah dia gila? putus asa? dan sendirian-duduk termangu, membiarkan tubuhnya kuyup dibasuh hujan menderu. Tapi dia tak peduli. Dia ingin menguji kesetiaan. Hanya itu. Tak peduli bagaimana orang memandangnya dengan kesimpulan yang bisa saja melukai perasaannya. Tak peduli hujan yang bisa saja membuatnya mati di situ.
Huh.
Dia menarik napas panjang. Mencoba bertahan dari dingin senyap yang telah merambat di ubun-ubun kepalanya. Lipstik di bibirnya pecah. Merembes ke dagu dan jatuh di pangkuannya. Merah bagai darah menyembul bagai titik sendiri di paha. Sesaat hilang sesaat muncul lagi, hilang dan muncul lagi hingga bibirnya kembali seperti asal mula: pucat, berkerut, tak terlindungi.
Dia merogoh saku roknya lagi. Mengeluarkan lipstik namun tak memoleskannya di bibir karena lipstik itu sudah tinggal pangkal. Tinggal sisa berwarna merah menyala berselemak di sekitar gagang kuningannya. Dia mendengus. Kesal? Takut? Rindu? Lantas belesakkannya lipstik itu begitu saja di saku kiri roknya.
Nun jauh di tenda-tenda biru, berpasang muda-mudi berteduh. Saling menghangatkan diri. Saling menautkan diri dengan peluk dan cium di kening. Diapun dulu begitu. Sepuluh tahun yang lalu. Menautkan diri dengan lelaki itu saat hujan tiba-tiba mengguyur tubuh, dan mereka memilih tetap di situ karena tahu hari perpisahan adalah muasal kerinduan yang tidak boleh disia-siakan.
Begitupun dirinya, saat ini. Dia ingin dipeluk. Dicium. Dan mengakhiri kerinduan yang bukan lagi sekadar muasal, tapi sudah membikin sesal. Apakah itu alasan dia tidak ingin meninggalkan tempat ini? Selain janji yang dulu disematkan, tentunya.
Tiba-tiba perempuan itu panik. Dia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari. Menahan getar, mengulum lapar. Tadi diletakkan di sini, pikirnya. Dia bergerak sedikit ke kanan, lalu ke kiri. Tidak ada. Dia mencoba berdiri. Tidak bisa. Ia duduk lagi. Dengan kegelisahan yang tak berkurang, justru kian bertambah. Tadi di sini, bisiknya. Kantungku robek.
Hujan semakin deras. Dia tahu, hujan selalu begitu. Tapi dia tidak bisa kalau tidak menunggu. Di mana? Dia ingin menangis. Bahkan sudah menangis. Hanya saja air hujan yang rebah di wajahnya membikin kamuflase dirinya yang tegar dan tak gentar. Bangku panjang itu ditelitinya dengan tubuh tetap di tempat semula. Tak bergerak banyak. Hanya gerak meraba dan memicingkan mata di tanah yang tergenang. Di mana? Pikirnya lagi dengan buncah ketakutan yang menggelepar.
Dia terngiang, "Saat kita bertemu lagi di sini, kita harus menunjukkan benda ini."
Apakah itu sebabnya dia merasa takut?
Lagi-lagi dia teringat satu hal kembali, "Benda ini, kuberikan untukmu, agar kau tetap merasa cantik."
Apakah dia tidak akan merasa cantik lagi jika benda itu tidak ada di sisinya?
Begitu cepat. Begitu dekat. Bagaimana jika dia tiba-tiba datang? Dia ingin sekali lagi menangis, mengalahkan gemeriuh hujan yang turun, berkelebat, mengalir di taman-taman yang tanahnya menurun.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, lelaki itu menatapnya dan memberikannya lipstik merah itu. Untuk pertama kali dia memoleskan bibirnya dengan lipstik itu, yang membuat segalanya menjadi tenang. Yang membuat segalanya menjadi lengang.
"Kakimu akan baik-baik saja." Kalimat itu bergema di kepalanya.
Perempuan itu kembali mengedarkan pandangannya kepada kaki kirinya. Sambil menangis dia mengelus-elus paha kirinya yang mati rasa karena dingin. Bukan karena gigil, tapi karena dia telah mengecewakan janji sepuluh tahun silam. Apakah dia sadar kalau benang merah itu sudah tak lagi di situ? Di dadanya? Di hatinya? Di perasaannya?
Agaknya dia tahu. Dia juga tahu muasal benang yang dulu tersambung dan kini putus. Oh, aku telah menghilangkannya. Dia meraba bibirnya. Bekas lipstiknya benar-benar hilang. Dia menatap ke pangkuan, huh, dia mendengus. Di situ juga tak ada lagi sisa warna lipstik yang tadi dipakainya.
Lalu di mana?
Padahal dia sudah menunggu cukup lama untuk ini. Sudah bersikap, lebih dari kata sabar untuk perjumpaan ini. Tapi dia tak lagi bersama benda itu? Lipstik itu? Lipstik, yang seingatnya, menumbuhkan kembali harapan dan kecantikan yang dipikirnya telah hilang? Tidak. Lebih dari itu. Dia telah membunuh muasal pertemuan dan perpisahan dirinya dengan lelaki itu?
Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menahan tangis. Namun sedu-sedan. Dirasakannya asin menggores lidah-meludah, mencecap, mengedarkan pandangan ke arah kaki lagi-, ia benar-benar menahan tangis. Oh, dulu aku tidak seperti ini, katanya, dalam kepala.
Perempuan itu tidak ingin mengeluh. Betapapun dia ingat, dulu, dirinya adalah bunga cantik yang tak layu. Kini, bunga itu telah menguncup dan hanya meninggalkan rindu. Meninggalkan sebelah kakinya. Meninggalkan keraguan. Apakah rindu? Apakah masih sedu-sedan itu?
Tapi saat dia menghalau air hujan masuk ke matanya—perlahan, meski air hujan lagi-lagi masuk—dari sela jejari dia melihat lelaki itu. Tidak mungkin dia tidak ingat. Lelaki itu, tubuhnya—"Aku akan mengenakan baju merah, seperti benda itu"—basah kuyup, menatapnya takzim-masih seperti dulu-tersenyum dengan rekah yang tak berubah: "Mira?"
Bagai gugup, giginya bergemelutuk. Mereka tahu mereka sudah saling menunggu. Sangat lama. Menunggu untuk tak menemui perubahan yang bisa saja terjadi dalam sepuluh tahun. Tapi apa? Apakah benda itu? Di mana dia? Bisiknya dalam hati.
Lelaki itu duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat dia hanya menunduk-melindungi matanya—tanpa berkata sepatah pun. Tapi perlahan dia mengedarkan pandangannya ke bawah. Tepatnya kepada kaki perempuan itu. Dia mendesah. Tersenyum. Lalu mendongak demi melihat wajah perempuan itu.
"Kau masih cantik," bisiknya di telinga.
Perempuan itu tersenyum—Semoga aku bisa segera menemukannya—dan menggamit tangan lelaki itu. Rindukah? Permintaan maafkah? Kecewakah? Dia tidak tahu, tak berkata apa pun selain mengeluarkan desah napas: dia mulai kedinginan—apakah dia juga ingin dipeluk? Dicium?
Lelaki itu merogoh sakunya. Mengeluarkan sesuatu dari sana: berdetak, bergerak beriringan dibasuh hujan—tak tik tuk, sebuah jam.
"Sesuai janji, setelah sepuluh tahun, aku memberikan ini kepadamu." Tangan kirinya mengangkat tangan kanan perempuan itu.Dibukanya—bagai kulit pisang—jemari tangan hingga yang terlihat hanya kulit pucat, saling merapat, tiga garis melengkung—dua bertemu di ujung—lalu meletakkan benda itu di atasnya.
Tapi lelaki itu tidak menduga: "Kenapa kau menangis?"
Perempuan itu menggeleng. Takzim. Tapi terenggut kecantikannya. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan dari lelaki itu. Dia memalingkan wajah. Matanya bertubrukan dengan tongkat penyangga yang tersender di sampingnya. Ah, apa yang harus kulakukan?
"Benda itu...hilang." Apa yang telah aku lakukan?
Lelaki itu memeluk. Ah. Hangat. Apakah rindunya sudah tuntas hari ini?
"Jangan khawatir. Kau masih secantik yang dulu." Erat. Keduanya mendesah. Menghapus dingin yang tiba-tiba masuk dari mulut mereka. Erat. Keduanya bagai perekat.
Apakah rindunya sudah tuntas hari ini?
Seorang anak berdiri di depan. Bagai dipaku. Dia kehujanan. Tubuh mungilnya menahan gigil. Dia tak berkata-kata: melihat dua orang saling berpelukan, erat—sepasang kekasih?
"Oh, Rian. Kenapa tidak menunggu?" sambut lelaki itu.
Sepuluh tahun silam, perempuan itu ingat, mereka hanya akan bertemu di tempat yang sama. Ada hal yang lain? Perempuan itu menginginkan yang lain? Sesuatu yang, tidak sekadar menuntaskan rindu? Tapi lelaki itu tidak: hanya sebuah pertemuan.
"Kami hidup berdua, Mira. Tidak ada orang lain. Kami hanya berdua: ayah, dan anaknya," ucap lelaki itu, kini mereka berada di bawah tenda—nun jauh dari situ, bangku taman itu terlihat dingin.
Apa yang telah kuhilangkan? Tanya perempuan itu dalam hati. Ia menahan rasa sakit pada pangkal kaki kirinya—di lututnya—, sisa kehilangan yang lain. Oh, apa yang benar-benar telah kuhilangkan?
***
Nun jauh dari tenda biru, di mana seorang lelaki dan seorang perempuan tanpa kaki kiri menuntaskan kerinduan, hujan menyeret sebatang lipstik dengan kekuatannya. Menuruni dataran berumput hijau. Mengarungi selokan dan tak akan kembali lagi ke taman itu.
Lipstik itu pernah membuat seorang perempuan merasa cantik.
2010-05-29
Tumpatan
Lampung Post, Minggu, 17 Oktober 2010
SEPULUH tahun silam dia pernah di sini, bersama seorang lelaki. Lelaki yang menyapu wajahnya yang basah kuyup karena hujan. Dengan takzim lelaki itu berucap, "Kita akan bertemu lagi di sini, sepuluh tahun lagi."
Maka sepuluh tahun kemudian, tepatnya hari ini, perempuan itu duduk lagi di sini. Di hari yang sama. Di hujan yang juga sama: bergedebum, membawa gigil dingin. Dia merogoh saku kanan roknya. Dikeluarkannya sebuah lipstik dan diputarnya gagangnya sehingga ujung lipstik berwarna merah menyembul bagai baut yang ditarik oleh sesuatu yang gaib. Bagai melukis, dia memoles bibir pucatnya—karena dingin—dengan lipstik itu dengan harapan, dia bisa seperti dulu lagi. Lalu diedarkannya pandangan kepada kaki kirinya. Dia mendesah, bagai resah. Ternyata dia tidak persis seperti dulu lagi.
Gerakan tangannya terhenti di tengah bibir. Dia tengadah. Hujan tidak akan berhenti, gumamnya. Lalu lipstiknya bergerak ke kanan dan kiri, lagi, di bibir atas. Kemudian bibir bawah. Begitu pelan. Begitu senyap. Hanya gemuruh hujan dan silang-sengkarut guntur bergemebyar di langit. Langit yang keruh, membawa jiwa yang rapuh. Apakah perempuan itu akan tetap bertahan di situ?
Setelah dirinya merasa sempurna, bibirnya terasa liat saat dicecap, dia memasukkan kembali lipstik merahnya di saku yang sama. Betapa gugup, betapa rikuh. Dia tidak langsung menarik tangannya keluar, melainkan berhenti sejenak di dalam saku sambil tetap memegang lipstik itu. Dia menahan gigil. Apakah lipstik itu juga menahan gigil?
Sepuluh tahun silam, dia mengingat, juga memakai lipstik yang sama. Lipstik yang umurnya bahkan melebihi umur kebersamaan dirinya dengan lelaki itu. Perjumpaan di tempat yang sama. Juga perpisahan di tempat yang tak berbeda. Berlangsung di taman yang bunganya tak memiliki warna lain selain warna merah. Semerah bibir basahnya yang tak lagi pucat.
Lelaki itu datang kepadanya dengan tangan melindungi kepalanya. Tetapi kepalanya akan tetap basah. Mata mereka bersitatap. Lama. Tapi mereka tak saling tahu, bahwa ada benang merah mengikat hati mereka berdua. Benang yang setia menembus guratan hujan yang menderu. Yang membikin ricuh. Apakah perempuan itu juga masih tidak tahu bahwa benang itu masih berada di situ?
Orang-orang berlindung di bawah payung, yang lewat di depannya menatap heran: seorang perempuan-apakah dia gila? putus asa? dan sendirian-duduk termangu, membiarkan tubuhnya kuyup dibasuh hujan menderu. Tapi dia tak peduli. Dia ingin menguji kesetiaan. Hanya itu. Tak peduli bagaimana orang memandangnya dengan kesimpulan yang bisa saja melukai perasaannya. Tak peduli hujan yang bisa saja membuatnya mati di situ.
Huh.
Dia menarik napas panjang. Mencoba bertahan dari dingin senyap yang telah merambat di ubun-ubun kepalanya. Lipstik di bibirnya pecah. Merembes ke dagu dan jatuh di pangkuannya. Merah bagai darah menyembul bagai titik sendiri di paha. Sesaat hilang sesaat muncul lagi, hilang dan muncul lagi hingga bibirnya kembali seperti asal mula: pucat, berkerut, tak terlindungi.
Dia merogoh saku roknya lagi. Mengeluarkan lipstik namun tak memoleskannya di bibir karena lipstik itu sudah tinggal pangkal. Tinggal sisa berwarna merah menyala berselemak di sekitar gagang kuningannya. Dia mendengus. Kesal? Takut? Rindu? Lantas belesakkannya lipstik itu begitu saja di saku kiri roknya.
Nun jauh di tenda-tenda biru, berpasang muda-mudi berteduh. Saling menghangatkan diri. Saling menautkan diri dengan peluk dan cium di kening. Diapun dulu begitu. Sepuluh tahun yang lalu. Menautkan diri dengan lelaki itu saat hujan tiba-tiba mengguyur tubuh, dan mereka memilih tetap di situ karena tahu hari perpisahan adalah muasal kerinduan yang tidak boleh disia-siakan.
Begitupun dirinya, saat ini. Dia ingin dipeluk. Dicium. Dan mengakhiri kerinduan yang bukan lagi sekadar muasal, tapi sudah membikin sesal. Apakah itu alasan dia tidak ingin meninggalkan tempat ini? Selain janji yang dulu disematkan, tentunya.
Tiba-tiba perempuan itu panik. Dia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari. Menahan getar, mengulum lapar. Tadi diletakkan di sini, pikirnya. Dia bergerak sedikit ke kanan, lalu ke kiri. Tidak ada. Dia mencoba berdiri. Tidak bisa. Ia duduk lagi. Dengan kegelisahan yang tak berkurang, justru kian bertambah. Tadi di sini, bisiknya. Kantungku robek.
Hujan semakin deras. Dia tahu, hujan selalu begitu. Tapi dia tidak bisa kalau tidak menunggu. Di mana? Dia ingin menangis. Bahkan sudah menangis. Hanya saja air hujan yang rebah di wajahnya membikin kamuflase dirinya yang tegar dan tak gentar. Bangku panjang itu ditelitinya dengan tubuh tetap di tempat semula. Tak bergerak banyak. Hanya gerak meraba dan memicingkan mata di tanah yang tergenang. Di mana? Pikirnya lagi dengan buncah ketakutan yang menggelepar.
Dia terngiang, "Saat kita bertemu lagi di sini, kita harus menunjukkan benda ini."
Apakah itu sebabnya dia merasa takut?
Lagi-lagi dia teringat satu hal kembali, "Benda ini, kuberikan untukmu, agar kau tetap merasa cantik."
Apakah dia tidak akan merasa cantik lagi jika benda itu tidak ada di sisinya?
Begitu cepat. Begitu dekat. Bagaimana jika dia tiba-tiba datang? Dia ingin sekali lagi menangis, mengalahkan gemeriuh hujan yang turun, berkelebat, mengalir di taman-taman yang tanahnya menurun.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, lelaki itu menatapnya dan memberikannya lipstik merah itu. Untuk pertama kali dia memoleskan bibirnya dengan lipstik itu, yang membuat segalanya menjadi tenang. Yang membuat segalanya menjadi lengang.
"Kakimu akan baik-baik saja." Kalimat itu bergema di kepalanya.
Perempuan itu kembali mengedarkan pandangannya kepada kaki kirinya. Sambil menangis dia mengelus-elus paha kirinya yang mati rasa karena dingin. Bukan karena gigil, tapi karena dia telah mengecewakan janji sepuluh tahun silam. Apakah dia sadar kalau benang merah itu sudah tak lagi di situ? Di dadanya? Di hatinya? Di perasaannya?
Agaknya dia tahu. Dia juga tahu muasal benang yang dulu tersambung dan kini putus. Oh, aku telah menghilangkannya. Dia meraba bibirnya. Bekas lipstiknya benar-benar hilang. Dia menatap ke pangkuan, huh, dia mendengus. Di situ juga tak ada lagi sisa warna lipstik yang tadi dipakainya.
Lalu di mana?
Padahal dia sudah menunggu cukup lama untuk ini. Sudah bersikap, lebih dari kata sabar untuk perjumpaan ini. Tapi dia tak lagi bersama benda itu? Lipstik itu? Lipstik, yang seingatnya, menumbuhkan kembali harapan dan kecantikan yang dipikirnya telah hilang? Tidak. Lebih dari itu. Dia telah membunuh muasal pertemuan dan perpisahan dirinya dengan lelaki itu?
Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menahan tangis. Namun sedu-sedan. Dirasakannya asin menggores lidah-meludah, mencecap, mengedarkan pandangan ke arah kaki lagi-, ia benar-benar menahan tangis. Oh, dulu aku tidak seperti ini, katanya, dalam kepala.
Perempuan itu tidak ingin mengeluh. Betapapun dia ingat, dulu, dirinya adalah bunga cantik yang tak layu. Kini, bunga itu telah menguncup dan hanya meninggalkan rindu. Meninggalkan sebelah kakinya. Meninggalkan keraguan. Apakah rindu? Apakah masih sedu-sedan itu?
Tapi saat dia menghalau air hujan masuk ke matanya—perlahan, meski air hujan lagi-lagi masuk—dari sela jejari dia melihat lelaki itu. Tidak mungkin dia tidak ingat. Lelaki itu, tubuhnya—"Aku akan mengenakan baju merah, seperti benda itu"—basah kuyup, menatapnya takzim-masih seperti dulu-tersenyum dengan rekah yang tak berubah: "Mira?"
Bagai gugup, giginya bergemelutuk. Mereka tahu mereka sudah saling menunggu. Sangat lama. Menunggu untuk tak menemui perubahan yang bisa saja terjadi dalam sepuluh tahun. Tapi apa? Apakah benda itu? Di mana dia? Bisiknya dalam hati.
Lelaki itu duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat dia hanya menunduk-melindungi matanya—tanpa berkata sepatah pun. Tapi perlahan dia mengedarkan pandangannya ke bawah. Tepatnya kepada kaki perempuan itu. Dia mendesah. Tersenyum. Lalu mendongak demi melihat wajah perempuan itu.
"Kau masih cantik," bisiknya di telinga.
Perempuan itu tersenyum—Semoga aku bisa segera menemukannya—dan menggamit tangan lelaki itu. Rindukah? Permintaan maafkah? Kecewakah? Dia tidak tahu, tak berkata apa pun selain mengeluarkan desah napas: dia mulai kedinginan—apakah dia juga ingin dipeluk? Dicium?
Lelaki itu merogoh sakunya. Mengeluarkan sesuatu dari sana: berdetak, bergerak beriringan dibasuh hujan—tak tik tuk, sebuah jam.
"Sesuai janji, setelah sepuluh tahun, aku memberikan ini kepadamu." Tangan kirinya mengangkat tangan kanan perempuan itu.Dibukanya—bagai kulit pisang—jemari tangan hingga yang terlihat hanya kulit pucat, saling merapat, tiga garis melengkung—dua bertemu di ujung—lalu meletakkan benda itu di atasnya.
Tapi lelaki itu tidak menduga: "Kenapa kau menangis?"
Perempuan itu menggeleng. Takzim. Tapi terenggut kecantikannya. Dia berusaha menyembunyikan kesedihan dari lelaki itu. Dia memalingkan wajah. Matanya bertubrukan dengan tongkat penyangga yang tersender di sampingnya. Ah, apa yang harus kulakukan?
"Benda itu...hilang." Apa yang telah aku lakukan?
Lelaki itu memeluk. Ah. Hangat. Apakah rindunya sudah tuntas hari ini?
"Jangan khawatir. Kau masih secantik yang dulu." Erat. Keduanya mendesah. Menghapus dingin yang tiba-tiba masuk dari mulut mereka. Erat. Keduanya bagai perekat.
Apakah rindunya sudah tuntas hari ini?
Seorang anak berdiri di depan. Bagai dipaku. Dia kehujanan. Tubuh mungilnya menahan gigil. Dia tak berkata-kata: melihat dua orang saling berpelukan, erat—sepasang kekasih?
"Oh, Rian. Kenapa tidak menunggu?" sambut lelaki itu.
Sepuluh tahun silam, perempuan itu ingat, mereka hanya akan bertemu di tempat yang sama. Ada hal yang lain? Perempuan itu menginginkan yang lain? Sesuatu yang, tidak sekadar menuntaskan rindu? Tapi lelaki itu tidak: hanya sebuah pertemuan.
"Kami hidup berdua, Mira. Tidak ada orang lain. Kami hanya berdua: ayah, dan anaknya," ucap lelaki itu, kini mereka berada di bawah tenda—nun jauh dari situ, bangku taman itu terlihat dingin.
Apa yang telah kuhilangkan? Tanya perempuan itu dalam hati. Ia menahan rasa sakit pada pangkal kaki kirinya—di lututnya—, sisa kehilangan yang lain. Oh, apa yang benar-benar telah kuhilangkan?
***
Nun jauh dari tenda biru, di mana seorang lelaki dan seorang perempuan tanpa kaki kiri menuntaskan kerinduan, hujan menyeret sebatang lipstik dengan kekuatannya. Menuruni dataran berumput hijau. Mengarungi selokan dan tak akan kembali lagi ke taman itu.
Lipstik itu pernah membuat seorang perempuan merasa cantik.
2010-05-29
Tumpatan
Lampung Post, Minggu, 17 Oktober 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)