Showing posts with label Ika Nurliana. Show all posts
Showing posts with label Ika Nurliana. Show all posts

Sunday, March 3, 2013

Hujan dan Kisah Bola Daging di Mangkuk Cap Ayam

Cerpen Ika Nurliana
   

BUKAN subyektivitas. Tapi aku yakin dari seribu orang yang harus melakukan ini, belum tentu satu yang bisa menikmatinya. Oh, mungkin aku berlebihan, baiklah kuralat. Dari seratus orang yang harus melakukan hal seperti aku ini, hanya satu orang yang dapat menikmatinya. Dan mungkin satu orang itu adalah dia dengan keisimewaaan kesabaran atau kebetulan otaknya sedang tak waras!

Menunggu dalam panas terik yang mendadak menyengat kulit. Kenapa pula aku begitu bodohnya janjian dengannya di perempatan jalan dengan lalulalang kendaraan dan semburan kenalpotnya? Kenapa tidak aku pilih café atau lobi hotel saja? Akan nyaman. Ngadem, dan banyak pemandangan. Ah, terlanjur sudah! Aku nyari yang praktis saja dan kuterlalu berprasangka baik kalau ia termasuk orang yang tepat waktu dalam janji. Baiklah, tak apa aku telah menunggu di sini, berdiri mematung di pojok ruko ini, berlalu sudah dua puluh menit. Agak gila!

Kenapa mendadak cepat sore? Kepalaku mendongak, bola mataku mengejar matahari ke arah barat. Oh tidak! Langit gelap! Mendung kelabu merapat. Ini dia cuaca yang sama sekali tak kuperhitungkan. Kenapa pula handphone dia tak bisa dihubungi? Dimatikan? Takut disadap? Oh lala… poooh!

Awan akan segera jatuh jadi hujan! Aku akan menjadi orang yang semakin tampak bodoh bila membiarkan badanku basah kuyup oleh percikan air. Air atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Bukan. Menepuk air di dalam bak, terpercik ke muka sendiri. Bukan. Tak ada hubungannya keadaanku ini dengan dua pribahasa pengairan itu tadi.

Membiarkan kepalaku celingak celinguk, maka kutemukan tempat itu. Prediksiku ini hujan akan sangat lebat dalam waktu sebentar, atau rintik lama dan tetap membasahi badanku juga! Baiklah, perlu ketepatan berpikir dan kecermatan dalam mengambil keputusan. Aku menuju ke sana. Tak boleh sayang uang. Kalau hanya untuk makan di sana saja aku tak punya uang, tentu tak akan mungkin terpikir kesalahanku mengapa tak janjian saja di café atau lobi hotel berbintang. Ini, di tasku ada puluhan juta. Kalau aku dengan gaya proletar ini, sungguh hanya sebatas cara untuk tetap terkesan sederhana. Kakiku melangkah ke sana.

Seorang pelayan di tempat makan sederhana ini menyambutku.

“Pesan apa Bang?” aku dipanggil Bang, panggilan yang telah lama hilang dari pendengaran.

“Ada mi ayam dan bakso,” ucapnya sopan.

Tanpa pikir panjang aku bilang. “Bakso pakai mi putih dan mi kuning ya,” ia mengangguk,

“Minumnya?”

“Es tawar saja,” aku tahu ia bengong sesaat.

Kenapa? Kamu kira aku miskin? Untuk makan di kafe atau menginap di hotel uangku ini cukup! Ah, tapi untuk apa aku bicara begitu? Akan lebih baik mereka selalu melihatku sederhana. Uangku sih, kusimpan saja atau seperti yang sudah sudah, kuinvestasikan dengan cara tersembunyi. Beli tanah di luar propinsi dan buat kamar kos kosan itu invest teraman. Istriku? Ia piih berlian tanpa pernah dipakai dan logam mulia yang disimpan di bank. Tak perlu penampilan. Sebab terlanjur mengidentitaskan diri sebagai orang yang sederhana begini.

Aku berpindah tempat duduk ke pojok dan kudengar teriakan pelayan tadi. “Bakso putih kuming satu, es tawar satu.”

“Apa? Es tawar?” suara pelayan yang lain mampir ke daun telingaku.

***

SAMBIL menunggu pesanan datang, aku mencoba menghubunginya lagi. Tidak aktif juga. Apa maksudnya ini? Lalu uang ini akan diapakan? Puluhan juta aku tenteng begini saja. Ah, benar-benar jutawan gaya proletar!

Pesanan itu datang tak lama kemudian. Aroma baksonya, hmmmm. Sudah lama aku tak menikmati makanan seperti ini. Pasti nikmat sekali. Dulu, aku terbiasa makan bakso tanpa  saus dan kecap.

Aku belum mrnyentuhnya. Saat pandanganku keluar warung bakso ini dan mendapati hujan turun semakin menderas, mendadak aku memikirkan sedang dimanakah ia? Apakah telah terjadi sesuatu dengan dirinya hingga ponselnya belum juga aktif? Apakah dugaanku yang hiperbola tadi memang telah terjadi? Ataukah hanya masalah teknis, handphone nya habis batre di perjalanan. Ah, uang itu masih utuh padaku. Harus ku jaga. Ini amanah.

Aku menikmati makanan yang sudah sejak semenit lalu di depanku. Belum memakannya. Tapi menikmati aromanya. Rasanya belum puas saja mencium aroma lezat itu, anehnya belum mau juga menyentuh sendoknya.

Persis seorang perempuan yang tengah ngidam. Merengek minta bakso sedangkan waktu sudah mulai larut malam dan di luar sana hujan. Bersikeras tidak mau ditinggal untuk beli, dibungkus, dibawa pulang. Nekat ikut jalan jauh ke warung bakso, sampai di tempat, enggan turun dari motor, ternyata sudah puas melihat tempatnya dan aroma dari kepulan asapnya. Perempuan ngidam ada-ada saja pintanya. Tapi itu tentu bukan aku. Karena aku jelas pria. Dan istriku tidak sedang ngidam pula! Ini hanya sekelumit cerita tentang temanku. Lalu, dimana ini teman yang sudah kutunggu sejak tadi? Apakah aku baru akan memakan bakso ini setelah melihat batang hidungnya datang duduk di depanku?

“Bang, kok belum dinikmati baksonya?” aku tersenyum untuk menguasai diri dari kegugupan.

Sialan pelayan ini. Aku harus jawab apa agar ia puas. Mengapa pula ia memanggilku abang. Semestinya akulah yang memanggilnya demikian. Abang tukang bakso, mari-mari sini, aku mau beli, abang tukang bakso lekas dong kemari sudah tak tahan lagi, satu mangkuk saja, lima ratus perak yang banyak baksonya, bla bla bla.

Busyet dah! Kenapa aku masih hapal lagu kesukaan adiku jaman kecilnya itu? Dan tunggu dulu, lagi itu tahun berapa ya? Harga bakso lima ratus perak atau dua ratus si Eno itu bilang? Sekarang sepuluh ribu. Kulirik lagi uang dalam kantong plastik itu. Kugeser lebih mendekat. Aku takut khilaf.

Bakso bulat berkuah, dengan mi putih kuning, taburan bawang goreng dan daun seledri. Aku memang macam orang gila saja tak lekas menikmatinya.

“Mas,” tiba-tiba aku tergerak untuk bertanya sesuatu pada pelayan yang tengah membersihkan meja sebelah.

“Iya Bang?”

“Ini bakso apa?" apakah pertanyaanku terkesan tolol hinga ia bengong begitu? Atau kalimatku yang terlalu tinggi menurutnya? Disangkanya ini hanya sebuah kalimat tanya penuh kias?

“Bakso sapi.”

“Bakso sapi?” aku bergumam masih dengan tanda tanya.

“Iya Bang, bakso sapi, bukan yang lain. Sapi halal kan?!” ia menjawab panjang.

“Sapi impor atau lokal?” ia bengong lagi. Tahu aku menunggu jawabnya dan mungkin itu akan menjadi jawaban yang amat penting bagiku, ia memilih cara aman, diam lalu menggeleng.

“Enggak tahu saya,” aku sengaja menampakkan wajah kecewa, entah untuk alasan apa.

Aku tak tahu apa maksudku bertanya begitu. Mungkin di pikiran ruang bawah sadarku memerintahkan aku untuk menunda makan sambil menunggu rekan. Hujan sudah mulai reda, kepulan asap dari mangkok baksoku sudah menipis. Kehangatannya berkurang., mungkin itu juga akan berbanding lurus dengan rasa nikmat saat nanti ku makan, jika aku masih mau menyantapnya.

Sampai saat ini aku lebih tertarik untuk memandang makananku itu. Es sekali saja kuseruput. Bola daging sapi sepuluh biji, ukurannya kecil-kecil. Tampak nikmat disajikan dengan mangkuk putih bergambarkan ayam jago merah.

***

“KAU di sini,” mendadak sosok itu berdiri tegak di depanku. Beberapa bagian badannya tampak basah. Ia lompat bangku dan duduk.

“Bagaimana kau tahu dan langsung di sini?” kucoba sembunyikan curiga.

“Aku tahu, di mana posisimu, kan ponselmu disadap, aku tahu kau bawa uang banyak,” ia tertawa tergelak gelak sendiri, mungkin karena melihat mukaku yang memucat.

“Gampang saja. Kita janjian di situ, saat hujan kau akan berteduh di tempat terdekat sambil mungkin menikmati makanan, apa lagi saat tahu ponselku tak bisa dihubungi,” cukup cerdas tebakannya.

“Kau sekarang vegetarian, ya?” ia menatap aneh kearahku dan mangkok baksoku.

“Tak. Cuma aku belum memakannya. Mau?” ia menggeleng cepat.

“Aku pesan mi ayam, kenapa tak lekas kau makan, aku sudah disini,” ujarnya

Aku menghela nafas. “Aneh. Aku kasihan melihat sapi yang telah jadi bola begini,” ia terbahak.

“Aku sebaliknya, aku benci dengan sapi!” sedetik lalu ia terbahak, kini ia membentak seperti orang kalap.

Aku memandang menembus matanya.    

“Kenapa?” tanyaku pelan.

“Sapi adalah binatang yang paling sombong! Karena ia laris dan banyak dikonsumsi. Bahkan komuditas ekspor impor daging terbesar. Lihat bagaimana sistem pencernaannya. Binatang pemamah biak, makan pelan tapi rakus begitu. Sapi di banyak negara menimbulkan persoalan. Dari mulai penyakitnya, dagingnya yang mahal sampai harus operasi pasar menjelang lebaran, jadi rebutan untuk dibuat rendang,” aku menyimak.

“Dan kau tahu betapa terkenalnya sapi hanya karena bahasa kias, politik dagang sapi, sapi perah, sapi ompong, gerobak cadang ditarik sapi lawang, masih akan ada lagi nanti,” ia masih emosi hanya karena sapi.
"Sapi itu membuat petani sulit di saat kemarau. Ia tak lebih baik dari kerbau yang mau membantu membajak sawah,” aku terpukau dengan kalimatnya. Mi ayamnya belum datang juga. Memasak mi ayam memang lebih lama dari menghidangkan bakso.

“Sapi makin hari makin terkenal saja. Sapi sudah seperti selebriti, beredar di koran, televisi, infotainment, hallah! Ia menjadi makin terkenal karena namanya. Ia tak tahu terima kasih dan sekarang menyusahkan banyak orang dan petinggi negeri ini,”

“Ah, bahasamu Chuy, sejak kapan jadi bisa berfilosofi atau kau tengah belajar jadi politisi?” aku tersenyum.

“Lihatlah mangkukmu itu, aku semakin benci sapi dan lebih suka pada ayam.”

Aku menaikkan alis dan memandangnya, menunggunya bicara.

“Bola bola daging sapi itu tersaji dengan apik, dinikmati dan dipuji, tidakah kita lihat mangkok cap ayam yang begitu setia membawanya? Tapi ayam itu dapat apa?” aku tersenyum geli, mengerti tapi tak mampu menanggapi.

“Kau tahu? Sejak dulu ayam dan sapi musuhan. Di mangkokmu itupun tengah terjadi pertengkaran antara ayam dan bola daging,” kalimatnya nada geram.

“Kenapa?”

“Kau lupa atau belum tahu sejarahnya? Ratusan tahun lalu ayam susah payah membantu manusia, ia berkorban banyak saat mengeluarkan telur dan rela diambil manusia walau ia ingin mengeraminya, lalu digorenglah telur itu untuk lauk anak manusia, ternyata manusia itu lupa pada jasa ayam, ia malah menamakannya mata sapi. Sejak saat itu ayam benci pada sapi. Ayam yang berjuang, sapi yang dapat nama!”

“Kenapa ayam benci pada sapi? Bukan pada manusia?”

“Karena mereka beda dimensi, Bodoh! Ayam tak bisa bercakap dengan manusia!”

Oh, orang ini berani mengataiku bodoh hanya karena sapi!

“Lalu? Apakah permusuhan antara mereka masih saja terjadi?” rasa penasaran memaksaku untuk menyabarkan diri.

“Tentu, itu akan abadi,” tegasnya.

“Kau seperti mengerti bahasa binatang,”

“Sedikit memahami bahasa binatang, lebih tepatnya bahasa makanan, coba nikmati daging sapi itu, belajarlah mulai sekarang,” perintahnya.

“Bagaimana caranya?”

“Bertanyalah apa saja sambil kau tetap mengunyah, saat bertanya tak perlu bersuara, pakai hatimu!” ia memberi arahan.

Seperti sapi ompong, aku menurut, sebab ia sudah mulai menyuap mi ayamnya, baksoku sudah dingin. Konsekuensi, ini harus tetap kunikmati.

“Bagaimana?”

“Dia berkata, dia datang dari tempat yang jauh, menyeberangi samudra, lintas benua,” aku berbisik.
“Tanyakan, dia dari mana,”

“Dia dari Amerika,” aku masih berbisik.

“Sekali lagi, kau kalah oleh sapi!”

“Maksudnya?”

“Pernahkah kau ke luar negeri?” aku tahu ia mengejekku.

“Kau tahu, aku banyak uang,” aku melirik kantong uang itu. “Tapi aku telanjur komitmen untuk tetap hidup sederhana, jadi belum bisa plesiran ke sana,” ia mengangguk.

Aku mengerti. Sapi ini sungguh kurang ajar sekali. Aku merasa kalah olehnya.

“Kau orang kaya, terhormat, tetap kalah oleh sapi, binatang berkaki empat?! Ia sudah malang melintang ke seantero jagad! Kau di sini terlalu teliti dan hati-hati dengan komitmen dan janji hati!” mendengarnya aku mengumpat dalam diam.

EoL, 030213


Lampung Post, Minggu, 3 Maret 2013

Sunday, May 8, 2011

Kertas akan Selalu Kosong

Cerpen Ika Nurliana


Satu bulan kemudian,

Selembar kertas kosong itu masih utuh di tempatnya. Bersanding dengan sebuah pena yang posisinya masih menindih meterai. Ketiganya siap digunakan. Secara tak sengaja posisi demikian, namun masing-masing memiliki makna. Meterai itu karena ditindih sebatang pena bertinta warna hitam, diharapkan tidak akan terbang diterpa angin ketika jendela kamar ini dibuka.

Hari ini aku membuka pintu kamar, menguaknya dengan lebar, masih berdiri di ambangnya, memandang ketiga benda itu dengan hati jeri. Betapa tidak, tiga benda itu bermakna besar bagi kehidupan kami sebulan lalu, dan mungkin hari-hari kami berikutnya.

***

Tiga benda itu bukan sebatas benda mati yang dapat digunakan sewaktu waktu saat kami mau menggunakannya, saat kami mantap memakainya atau dengan balutan emosi yang menggerakkan hati, tangan, dan seluruh raga. Hanya akan perlu waktu lima menit untuk menggunakannya dan mengubah segalanya dengan ketiga benda itu. Mengubah langkah kaki kami, mengubah status kami, mengubah hati dan kehidupan berikutnya.

Ketiga benda itu sangat bermakna. Melihatnya akan melemparkanku pada peristiwa satu bualan lalu. Pertengkaran hebat itu telah memutuskan kami untuk berteriak, memanggil Bibi Empi agar menyediakan sehelai kertas, sebatang pena tinta hitam, dan teriakan kami berikutnya adalah memanggil Mul, sopir kami, untuk mencari secuil materai yang selanjutnya akan kami gunakan untuk menuntaskan masalah ini, secepatnya, jam itu juga. Materai itu memang harus kami beli. Karena stok di ruang kerja telah habis untuk perjanjian jual-beli.

Masih teringat bagaimana Bibi Empi tergopoh-gopoh mendatangi kami, terkejut dengan semua yang tengah dilihatnya. Lalu mendengarkan suara tuannya berbicara cepat dengan nada datar, Bibi Empi mengangguk sebentar sebelum berlalu sambil menggendong si bungsu kami, berlari ke ruang kerja dan mungkin yang dilakukannya adalah mencabut sehelai kertas di atas printer Canon di atas meja. Kubayangkan wajah gugupnya tengah celingukan mencari sebatang pena, kembali berlari ke kamar kami, lalu dengan wajah pucat, takut, dan prihatin, ia sempatkan dan beranikan diri untuk memandang sesaat saja ke arah kami.

Pasti ditemukannya wajahku yang sembab, bahkan air itu masih menggantung di kelopak, mencairkan sebagian eyeliner dan maskara, semakin menghitamkan sekitar kelopak mata. Lalu, ditemukannya juga sesosok manusia yang diam, sedang berusaha menyabarkan hati, mengepalkan kedua tangan hingga sekujur tubuhnya bergetar.

Bibi Empi yang bijak, ia lekas berlalu setelah meletakkan dua benda itu. Menutup wajah Si Bungsu dengan kain gendongan agar tak melihat pemandangan itu. Tak melihat kami, dua orang tuanya yang sedang berjuang melawan emosi, meredam kata kasar, menggigit bibir agar tak keluar sepatah pun kalimat sumpah serapah yang akan didengar oleh Si Bungsu.

Tidak, dalam amarah apa pun, kami tidak akan membiarkan para buah hati kami tahu apa yang tengah terjadi dengan kedua orang tuanya. Ia tak boleh merasa bahwa saat ini rumah yang dihuninya nyaris sepanas neraka.

Tidak, mereka juga tak boleh tahu arti perang mulut, percekcokan dan pertengkaran. Bibi Empi tahu apa yang sedang terjadi. Ia cepat membawa lari tiga pangeran dan putri kami. Terbang bersama sayapnya, ke rumah tetangga.

Sepeninggalnya Bibi Empi dan buah hati, kami diam, saling mengunci mulut, hanya isak tangis dan helaan napas berat yang berirama, menghuni ruangan ini.

"Ma, tulislah, apa yang kau mau," suaranya rendah, bergetar. Tengah mengumpulkan sisa sabar.

Aku diam. Tak berminat melihatnya. Lebih tepatnya, ngeri.

Aku yang bodoh ini mengerti maksud kalimatnya tadi. Tidak. Kalaupun harus terjadi, biarlah ia yang menulisnya, menandatangani, dan mengurus semuanya, bukan aku. Dan, aku pun tak tahu kalimat apa yang harus ditulis, himpunan huruf, sederet kata, makna seperti apa yang akan digoreskan di atas kertas putih polos situ.

Ada yang mengetuk pintu kamar besar kami. Suara serak Mul mengucap salam.

Laki-laki di seberangku bangkit, diam-diam kuperhatikan ia sempatkan untuk mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Diraihnya gagang pintu, dibiarkannya terbuka sedikit. Tangannya terjulur. Tanpa kata. Suara pintu kembali menutup.

Kembali hening. Tangannya mengangsurkan kertas kecil itu. Materai. Secuil kertas yang dapat mengubah kehidupan kami berikutnya. Perjanjian di atas kertas, bertanda tangan dengan materai senilai enam ribu rupiah. Entah apa yang akan kami tulis di situ. Di antara kami tak ada yang mau mendahului. Hanya bersedia untuk menandatangani. Sebab kami sama sekali tak tahu apa yang kami maui dari semua ini.

Sampai akhirnya waktu membuat kami sama-sama letih. Aku tertidur dalam duduk. Suamiku memilih meninggalkan kamar besar ini. Ia seorang laki-laki. Siang ini ada janji dengan relasinya. Apalah arti pertengkaran, baginya pekerjaan harus terus berjalan. Itulah laki-laki.

***

Perpisahan sementara karena tuntutan kerja adalah hal biasa bagi kami. Juga bagi buah hati kami. Jarang bertemu adalah bumbu mujarab untuk memupuk rindu. Dan kami seolah lupa dengan pertengkaran itu. Minggu pertama setelah hari itu, kami lalui tanpa komunikasi. Ia yang mendahului, namun rasa sakit hati masih belum kutemukan obatnya. Saat itu ia pamit untuk perjalanan dinas ke luar kota. Anak-anak menjadi tanggung jawabku mutlak. Aku bisa melupakan masalah dengan bercengkerama riang dengan mereka. Aku tak pernah masuk kamar tidur besar kami. Aku tidur bersama dua putriku. Dua pangeranku tidur di kamar sebelah.

Aku kembali terbang dan menghabiskan malam di rumah dinas saat suamiku pulang. Tanpa komunikasi berarti. Hanya tatap tanpa tukar kalimat. Minggu kedua ketiga, hanya bersedia berbalas kata. Seperlunya. Aku masih mahal untuk menggerakkan lidah, memperdengarkan suara untuknya.

Aku ingat ketiga pangeran kecil dan putri kami. Cinta kami untuk mereka sepenuhnya. Kami tak memikirkan diri sendiri. Tapi ada mereka pengikat hati dan penyubur rindu. Muara untuk bertemu, bercengkerama, bersandiwara dengan hebatnya. Kami, tanpa sepakat kata, rela meluluhlantakkan hati demi buah cinta. Mencabik ego dan mematikannya. Menahan diri tak peduli hati nyeri.

Ah, perpisahan selalu memaksaku untuk berpikir tentang aku, dia, dan anak-anak. Apa yang menjadi musabab pertengkaran hebat kami? Dia laki-laki baik, sabar, pengertian, arif. Apa kurangnya? Apakah artinya sifatku adalah sebaliknya? Aku memang emosional, tegas, dan cenderung mandiri, tapi bukan berarti tak butuh suami. Lalu apa yang salah dengan hubungan ini? Toh di antara kami tidak ada orang ketiga. Tak pernah ada masalah ekonomi. Minimal itu.

***

"Kapan kita bisa kumpul? Renang, makan, ya liburan gitu deh...," suara si nomor dua membuatku mengukir senyum. Pagi hari yang cerah. Aku masih di rumah dinas.

"Mama sibuk banget. Papa sudah carikan sekolah untukku lho, Ma. Mama tahu tidak? Syaratnya aku harus hapal sepuluh surat pendek. Untung selama ini Abang yang ngajarin aku, dan aku mau belajar dari abang jelekku ini, hehehe," ini suara si nomor tiga, putriku yang ceriwis. Ah, padahal yang benar adalah, kami mengikutkannya untuk privat mengaji bersama abangnya. Bukan abangnya yang ngajarin.

"Tapi ada wawancara orang tua juga. Ya Mama-Papa harus kompak dateng. Jangan dianter Om Mul terus," protes si sulung.

Aku yakin handphone itu akan terus berpindah tangan.

"Di mana Kiki?" tinggal si bungsu yang belum berceloteh. Kupastikan benda itu tengah berada di depan mulutnya hingga kudengar suaranya yang lucu.

"Kakih ibu kepada betang kak kekika kepandang maka, hanya mengbeki tak hakap kembaki."

"Ki, es gitu... es, es, es," si sulung menganggu konsentrasi bungsuku dalam menyanyi. Ah, si kecil ini masih belum bisa mengucapkan es. Tapi untuk ukuran usia dua tahun, ia sudah hapal lebih dari dua puluh lagu. Siapa yang mengajarkan? Tentu bukan seluruhnya aku. Kuusap mataku.

Ah, para pangeran dan putri-putri kecilku. Harus bagaimana aku berterima kasih pada kalian?

"Mama akan pulang. Mama akan ambil cuti kantor. Oke?" putusku cepat.

"Papa juga Ma. Jadi kita liburan ya," alangkah girangnya si nomor dua itu.

"Oke," aku mengangguk. Air mataku meleleh. Entah oleh apa.

"Ke Bali ya, Ma?" rengek si putri.

"Tidak. Mama tidak mau, tempat lain saja," ucapku tegas.

"Kenapa Ma?" aku belum mau mengatakan alasan yang sesungguhnya pada mereka. Sebab alasan itu justru akan membuat mereka penasaran. Bali, apa bagusnya pulau indah itu untuk anak-anak seusia mereka? Turis tergeletak di sembarang tempat. Pemandangan tanpa pakaian. Ah.

"Kita ke Semarang aja." Semarang, tempat sepupu suamiku yang hingga sepuluh tahun pernikahan belum dikaruniai anak. Mereka selalu minta kami main ke sana. Kini kudengar suara keempat buah hatiku itu menceracau, memenuhi gendang telingaku.

***

"Sayang," suara itu seolah membuat tubuhku membatu. Mataku masih menatap ke arah tiga benda itu. Sehelai kertas, sepotong pena tinta hitam, dan materai di bawah pena itu. Kini pandanganku mulai kabur.

Aku mengerti makna semua ini. Membiarkannya tetap ada di sana. Bukan berarti sewaktu-waktu kami dengan mudah bisa menggunakannya. Bukan berarti ruangan ini tak pernah dibersihkan. Tapi Bibi Empi dan Yum tentu tak berani memindahkan barang apa pun di kamar ini.

"Besok kita ke Semarang. Anak-anak telah menyiapkan diri, Putri diterima di sekolah itu. Nilai tes akademiknya oke. Nilai wawancara kita," suara di belakangku berhenti.

Aku menunggu kelanjutan kalimat itu.

"Memuaskan," oh, kami semakin mahir bermain peran. Bagi orang di luar sana, kami adalah pasangan yang harmonis, romantis, sukses.

***

Hari ini, tepat sepuluh tahun pernikahan kami. Tak ada acara berarti. Aku tahu kami tak akan pernah lupa dengan tanggal dan bulan ini. Kertas itu masih kosong di tempatnya, di atas sebuah meja. Kertas, pena, dan materai yang sama. Hanya saja sekarang ruangan itu bukan lagi kamar utama. Kami biarkan berisikan buku pelajaran dan buku bacaan. Kami isi penuh dengan rak dan mainan anak. Tapi anehnya, tak satu pun dari anak kami menyentuh atau memindahkan tiga barang itu. Mereka tetap utuh di sana. Posisi yang sama.

Tak akan ada perpisaahan oleh kata. Tak akan ada perpisahan karena gerak kasar tangan. Tak akan ada perpisahan disebabkan rasa bosan. Tak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri ikatan. Kami akan biarkan rasa itu datang dan pergi dengan sendirinya. Biarkan mengalir apa adanya. Tak ada salah satu dia ntara kami akan menuliskan sesuatu di kertas putih itu. Sampai puluhan tahun kemudian warnanya memudar. Berubah cokelat karena waktu.

Kami masih akan terus saling mencintai di antara kerak masalah. Hati kami masih akan selalu bertemu meski di tengah kemelut cemburu. Pikiran kami masih akan selalu jernih. Ada sepakat. Tak akan ada pengganti bagi yang lain. Tertutup pintu bagi orang ketiga. Masalah utama kami adalah emosi yang selalu meletup. Kami sadar. Saat itu terjadi, fungsi yang lain adalah menyiramkan salju. Kami pernah bertengkar hebat. Tapi hati kami terpatri pada rasa cinta yang kuat. Semoga, selamanya. Kertas itu akan selalu kosong.

Biarkan kertas itu tetap di sana. Tanpa bertuliskan kata. Biarkan ia berubah warna dengan sendirinya. n


Lampung Post
, Minggu, 8 Mei 2011