Showing posts with label Humam S. Chudori. Show all posts
Showing posts with label Humam S. Chudori. Show all posts

Sunday, July 22, 2012

Sang Kepala Desa

Cerpen Humam S. Chudori


MALAM terus berjalan. Melewati Desa Hidup Fakir. Sebuah desa yang terpencil. Jauh dari sebuah kota kecil. Desa yang tak pernah tercatat dalam peta itu begitu senyap. Penduduknya masih jarang. Hampir tidak ada rumah yang berjajar. Hanya ada satu dua rumah yang menempel satu sama lain. Rumah seperti ini, biasanya, merupakan rumah satu yang disekat menjadi dua. Penghuni kedua rumah tersebut masih punya hubungan kekerabatan. Masih bersaudara.

Kebanyakan rumah di sana masih berdinding papan atau gedek alias anyaman bambu, dan beratapkan blarak. Sebagian lainnya setengah permanen. Hanya ada satu dua rumah yang berdinding tembok. Penerangan listrik belum merata. Jika malam tiba, Desa Hidup Fakir laksana kuburan. Sepi. Sunyi. Lengang. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Hanya suara binatang malam yang tak pernah henti atau desah suara gesekan daun yang dibelai angin malam.

Malam ini Desa Hidup Fakir benar-benar senyap. Lantaran hujan yang turun sejak sore belum sepenuhnya reda. Kendati butiran air yang jatuh dari langit sudah lebih lembut. Pun, angin malas bertiup. Hingga nyaris tak ada gesekan dedaunan di pucuk pohon seperti pada malam-malam sebelumnya. Padahal biasanya menjelang larut malam angin sudah menciptakan instrumentalia alam. Laksana musik jazz yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

Binatang malam yang biasanya berdendang tak terdengar suaranya. Entah kenapa pula kodok yang senantiasa bernyanyi riang apabila hujan dicurahkan dari langit, tidak ada yang bersuara. Mereka bungkam. Atau barangkali mereka sedang merenungkan nasib yang dialami sebagian penduduk desa yang terisolir dari desa-desa sekitarnya. Lantaran mereka sudah dipaksa keadaan–makan nasi aking dan harus “berpuasa”. Ya, sejak era reformasi bergulir kehidupan penduduk makin terpuruk. Sudah bertahun-tahun desa itu tak terjamah oleh berita. Apalagi terberitakan ke luar. Mungkin karena orang-orang lebih sibuk memikirkan politik daripada nasib rakyat.

***

DI sebuah gubuk berdinding anyaman bambu, seorang kakek renta tengah duduk di pinggir ambin. Gurat-gurat ketuaan menghiasi wajahnya yang telah keriput. Kerut-kerut yang menjadi garis penghias wajahnya bukan sekadar tanda ia sudah berusia lanjut. Melainkan pula disebabkan beban hidup yang terlalu berat.

Kakek yang tak punya pekerjaan tetap itu duduk di pinggir ambin. Sementara itu, sang istri terbaring lemah. Tidak berdaya. Ambin yang terbuat dari papan itu berderik, tatkala istrinya terbatuk-batuk. Bukan saja karena tempat tidur itu sudah sangat tua. Melainkan juga kaki-kaki tempat tidur itu sudah disangga di sana-sini. Lantaran tempat tidur tersebut sudah lapuk dimakan usia.

"Kalau Karsini masih hidup," ujar sang nenek, "Barangkali kita tidak akan begini, Pak ne."

Lelaki tua itu, Sumardi, bergeming. Membisu. Mematung. Tak berusaha memberi jawaban kepada istrinya. Kendati hanya sekadar anggukan atau gelengan kepala.

"Betul kan, Pak ne. Kalau Karsini masih ada kita tak akan..."

Suara Sukemi terhenti. Lantaran ia terbatuk-batuk. Napasnya tersengal-sengal. Kaki ambin kembali berderit-derit.

"Sudahlah Mbok ne. Tidak usah memikirkan yang sudah tak ada. Tak ada artinya menyesali nasib Karsini," ucap Sumardi, mencoba menenangkan hati istrinya, "Ora ilok, kalau kita membicarakan orang yang sudah mati. Nanti arwahnya tidak tenteram di alam kubur."

Sukemi diam. Dengan susah payah ia mengatur napas.

Benar. Sudah hampir satu tahun Karsini dikubur. Dimakamkan. Tetapi, kematian anak mereka yang semata wayang tak pernah dapat diterima. Karena kematian Karsini dianggap tidak wajar. Betapa tidak, perempuan yang bekerja sebagai TKW itu tak pernah ada kabar berita sebelumnya. Tahu-tahu anak pasangan Sumardi-Sukemi pulang sudah menjadi mayat.

Andaikata Karsini mendengar pendapat Lesmono. Perempuan itu tak akan pernah mengalami nasib tragis. Mati di tangan majikan. Bahkan bukan di negeri sendiri. Sebab, Lesmono menentang keinginan istrinya yang akan mengadu nasib ke negeri orang.

"Kalau cuma menjadi pembantu kenapa mesti ke luar negeri?" tanya Lesmono, ketika Karsini menyampaikan keinginannya mengadu nasib di negeri orang.

"Tapi, di sana gajinya besar Kang daripada pembantu di...."

"Mungkin benar. Gaji pembantu di sana besar. Tapi masalahnya bekerja itu bukan hanya cari uang. Kamu mesti ingat Kar, kamu punya suami dan anak."

"Jadi, Kang Mono keberatan kalau saya bekerja di luar negeri."

"Iya."

"Saya kerja di luar negeri juga untuk kepentingan keluarga, Kang."

"Apa selama ini uang yang...."

"Kalau sekadar untuk hidup memang cukup," Sukemi memotong kalimat yang belum usai dilontarkan menantunya, "Tapi, kami sebagai orang tua ingin ada perbaikan rumah tangga di sini."

"Sudahlah. Kalau memang saya dianggap tidak mampu memberi nafkah kepada istri lebih baik...."

"Mono!" untuk kedua kalinya Sukemi memotong ucapan menantu, "Kamu kalau ngomong itu mbok ya dipikir dulu."

"Apa Karsini mau bekerja di luar negeri juga dipikir. Kalau dipikir pasti ia tidak akan jadi. Sebab, ia punya suami sama anak. Apa gunanya hidup menjadi suami-istri jika tak mau tinggal bersama," kata Lesmono, tak mau kalah.

Karena tidak mau mendengar permintaan suaminya, untuk membatalkan niatnya—bekerja di luar negeri—Lesmono memutuskan pergi dari rumah mertua. Suami Karsini itu pergi bersama Darmo, anaknya yang masih balita.

"Ah, kalau saja Karsini tidak...."

"Yang saya pikirkan sekarang ini justru kita, Mbok ne," kata Sumardi, "Saya tidak tahu lagi apa yang akan kita makan besok."

Sukemi diam. Napasnya masih tidak teratur.

"Saya tidak tahu apa yang akan saya dapatkan besok. Asal Mbok ne tahu sudah tidak ada lagi pohon pisang yang masih berbuah," tambah Sumardi, dengan nada setengah berbisik. Sebab, ia tidak ingin pembicaraannya terdengar orang yang lewat.

***

LELAKI yang rambutnya sudah memutih semua itu menghentikan percakapan dengan istrinya, tatkala mendengar pintu rumahnya diketuk orang dari luar. Tubuhnya mendadak menggigil. Panas dingin. Rasa takut menjalari di sekujur badan.

Setelah berkali-kali pintu diketuk dan tak juga dibukakan oleh tuan rumah. Lelaki yang berdiri di depan pintu rumah Sumardi meneriakkan nama tuan rumah.

"Pak Mardi. Buka pintunya Pak," sebuah suara yang tidak asing bagi Sumardi terdengar.

Ya, suara itu memang tidak asing bagi tuan rumah. Sebab itu suara Maramian—sang kepala desa.

Sumardi masih bergeming. Jantungnya berdetak semakin tidak menentu. Ia tak bisa membayangkan jika percakapannya dengan Sukemi beberapa saat sebelumnya terdengar oleh kepala desa. Betapa tidak, sudah beberapa hari ini perut mereka hanya diganjal dengan pisang. Buah-buahan itu dicuri dari kebun milik kepala desa. Lantaran ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sementara itu, Sukemi sudah lama hanya bisa terbaring di ambin.

"Pak Mardi sudah tidak kenal siapa saya?" Maramian kembali mengetuk pintu.

Hening. Tak ada sahutan dari dalam. Tiba-tiba batuk Sukemi kembali terdengar dari luar.

Ambin berderit, tatkala Sumardi bangkit. Menuju pintu. Di depan pintu, Sumardi merasa gamang. Ia ragu untuk mengangkat palang pintu rumahnya. Takut membukakan pintu untuk tamu yang datang malam itu.

Untuk apa Pak Kades kemari? Apa ia sudah tahu siapa yang mengambil pisang di kebunnya? Lalu kenapa harus malam-malam seperti ini? Dari mana Pak Kades tahu jika saya yang selama ini mencuri pisang di kebunnya? Mungkinkah Pak Kades mendengar apa yang saya ....

"Pak Mardi. Buka pintunya Pak," seru kepala Desa Hidup Fakir, membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran tuan rumah.

Tiba-tiba tangan Sumardi terasa gemetar. Tangan itu mendadak lemas, tatkala mengangkat palang pintu rumah. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu palang pintu itu menimpa tubuhnya sendiri. Terpukul kepalanya sendiri. Lalu. Bruk. Sumardi terjatuh.

Mendengar suara orang terjatuh, Maramian mendorong pintu yang sudah tidak terhalang oleh balok itu. Dengan susah payah kepala Desa Hidup Fakir akhirnya bisa masuk ke rumah. Karena tubuh Sumardi melintang di depan pintu. Menghalangi terbukanya pintu yang sudah keropos di sana-sini tersebut.

Antara percaya dan tidak, Maramian mendapati tubuh yang terjatuh itu sudah tak bernyawa. Berkali-kali Pak Kades berusaha membangunkan Sumardi. Namun, Sumardi benar-benar sudah tak bereaksi.

Pak Kades bingung setengah mati setelah melihat kondisi Sumardi. Sementara itu, si nenek yang terbaring di ambin. Bahkan semula tampak lemas. Tak bertenaga. Tiba-tiba mampu berteriak sekeras-kerasnya. Ya, Sukemi berteriak, "Tolong ... tolong..." berkali-kali sambil menunjuk kepala desa yang berjongkok. Mematung di depan jasad Sumardi.

Belum sempat Maramian berbuat sesuatu, warga sekitar sudah berdatangan ke sana. Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba kepala desa itu dihakimi warganya sendiri. Kepala desa dianggap telah melenyapkan nyawa Sumardi. n


Lampung Post, Minggu, 22 Juli 2012

Sunday, August 15, 2010

Wulan dan Suaminya

Cerpen Humam S. Chudori


SEJAK Wulan tinggal di rumah sebelah, sebetulnya, saya tak suka perempuan itu. Betapa tidak, apabila bertandang ke rumah, ia selalu mengatakan jika dirinya tidak ikut bekerja mereka pasti tidak mungkin membeli rumah. Menurut penuturannya, suaminya tak pernah mau ketika ia mengusulkan agar membeli rumah. Alasannya penghasilan Suharjono tak cukup untuk membayar angsuran.

"Tapi, nyatanya sampai sekarang angsuran rumah tidak pernah menunggak. Kami tetap lancar membayar," lanjut ibu dari tiga orang anak itu, setelah ke sekian kalinya ia menceritakan upayanya -- membujuk suami -- untuk membeli rumah.

"Bahkan rumah mungkin masih akan tetap seperti ini, jika hanya mengandalkan gaji suami," tambahnya, "Orang biaya renovasi rumah juga dari uang saya, Bu."

Siti Karima, istri saya, tampak kurang suka dengan pernyataannya yang terakhir. Mungkin Siti tersinggung karena sang tamu mengatakan rumah masih tetap seperti ini. Bagaimana tidak, rumah kami masih utuh, seperti saat diserahkan pengembang, masih berlantai tegel abu-abu kusam. Dindingnya belum diplester. Belum berpagar. Sementara itu, rumah sebelah bukan hanya dindingnya sudah diplester. Melainkan sudah berganti kusen, lantainya sudah keramik, dan sudah berpagar pula.

Tak heran jika Siti tak suka dengan ocehannya. Sejurus kemudian istri saya pergi ke dapur. Meninggalkan tamu yang menjadi tetangga baru kami. Saat itu, kami�saya dan istri�yang menemani sang tamu.

"Mas, tolong sebentar," ujar Siti, beberapa saat kemudian, sambil membawa kompor, "Sumbunya sudah banyak yang pendek."

Saya bangkit dari tempat duduk. Meninggalkan Wulan di ruang tamu. Bersamaan saya bangun dari kursi, Wulan pamit. Pulang.

"Sumbu ini sengaja saya tarik," katanya, "Kalau tidak begini mana mungkin perempuan itu pulang."

Saya diam. Sebetulnya saya kesal dengan istri. Bagaimana tidak, belum seminggu sumbu kompor dibetulkan, sekarang saya harus melakukan pekerjaan yang sama. Namun, saya dapat memahami alasannya. Lantaran saya sendiri sebal mendengar ocehan tetangga baru kami.

"Baru bisa membantu suami saja sudah sombong seperti itu. Lagi pula apa benar ceritanya?" gerutu Siti, "Padahal rumah masih tipe kecil. Di kompleks perumahan RSS pula. Bagaimana jika rumahnya berada di real estate."

***

Apabila istrinya tak ada, Suharjono akan datang ke rumah kami. Lelaki bertubuh kurus itu akan mengeluhkan kelakuan Wulan yang sok mengatur. Bukan sekali dua kali Suharjono menceritakan keburukan sifat istrinya. Ia yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga, tetapi yang terjadi sebaliknya. Dalam keluarganya justru Wulan yang mengatur segalanya. Meskipun tidak secara eksplisit ia berkata demikian.

Yang membuat Suharjono merasa kesal, lantaran Wulan sering mengambil uang di dompet suaminya. Tanpa pernah minta izin. Bukan sekali dua kali lelaki itu kehilangan uang yang ada di dompet. Entah lima puluh ribuan atau dua puluh ribuan.

Mula-mula Suharjono tak pernah mempersoalkan uang yang diambil istrinya. Toh uang dicari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk keperluan keluarga. Tetapi, setelah sadar cara-cara yang dilakukan Wulan tidak benar. Suharjono selalu mengantongi dompetnya. Bahkan di kamar mandi maupun ketika tidur, dompet itu selalu di kantong celananya.

***

Untuk ke sekian kalinya Suharjono menceritakan uangnya yang hilang kepada saya. Entah kenapa ia lupa membawa dompetnya ketika tidur. Akibatnya bisa ditebak. Uangnya raib. Kali ini jumlahnya tak tanggung-tanggung. Tiga ratus ribu rupiah. Ia baru tahu uangnya hilang setelah tiba di kantor.

"Uang di dompet papa, hilang lagi. Siapa yang ngambil? Orang semalam masih ada, Ma," kata Suharjono kepada Wulan, setelah ia pulang dari kantor, "Perlu Mama tahu uang itu bukan uang papa pribadi. Tapi uang kantor. Apa Mama yang mengambil?"

"Siapa yang bilang begitu?"

"Papa cuma tanya? Apa mungkin di sini ada tuyul?"

"Papa sudah tanya sama Budi?"

"Jadi, Budi yang mengambil?"

"Ya, nanti tanya saja sendiri sama anak itu. Kalau Budi sudah pulang."

Ketika Budi, anak pertama mereka yang sudah duduk di bangku SLTP, pulang dari kursus bahasa Inggris. Anak itu ditanya papanya. Karena merasa tidak mengambil uang dari dompet papanya, Budi tidak mau mengaku. Ketika pertengkaran anak dan orang tua itu hampir mencapai puncaknya. Dengan tanpa merasa berdosa sama sekali, Wulan memotong pertengkaran mulut mereka.

"Sudah kamu bayarkan uang kursus bahasa Inggris itu, Bud?"

"Sudah Ma," jawab Budi. Lalu anak lelaki itu mengeluarkan selembar kertas, tanda bukti pembayaran, dari kantong bajunya. Menyerahkan kepada sang mama.

Wulan menerimanya. Membaca sebentar. Lalu menyerahkan kertas itu kepada suaminya, "Nih, lihat!"

Suharjono membaca kuitansi yang diserahkan istrinya.

"Ya, itu tadi uang yang Papa tanyakan," ujar Wulan.

"Jadi?" tanya Suharjono tak mengerti.

"Apa untuk keperluan anak-anak harus minta orang lain?" tanya Wulan. Ketus.

Suharjono diam. Ia marah. Ingin sekali melampiaskan kekesalan kepada Wulan. Ia ingin menampar perempuan itu. Lantaran telah mengambil uang di dompetnya tanpa izin. Namun, ia tetap tak mampu berbuat sesuatu terhadap istrinya.

"Andaikata sejak pertama ditanya, ia langsung menjawab mungkin saya tidak marah. Apalagi uang itu digunakan membayar kursus bahasa Inggris Budi. Meskipun saya harus menggantinya," suami Wulan itu mengakhiri ceritanya.

"Lalu apa yang Pak Jono lakukan setelah tahu kalau yang mengambil uang itu istri Bapak?" tanya saya.

Lelaki yang tinggal di rumah sebelah itu diam. Ia gelisah. Bingung.

"Jadi, Pak Jono diam saja diperlakukan seperti itu sama istri?" sambar istri saya yang sedang meletakkan air minum untuk kami, "Kalau saya suaminya pasti sudah saya tempeleng dia."

Karena tidak menduga sebelumnya Siti akan menyambar percakapan kami. Saya dan Suharjono hanya diam. Terkesima dengan kalimat yang dilontarkannya.

Setelah meletakkan dua buah buah gelas berisi teh hangat, Siti kembali ke dalam.

***

"Maafkan saya tadi, Pak," kata Siti setelah Suharjono pulang. "Entah kenapa tiba-tiba saja mulut saya ngomong begitu."

"Tapi, Bu..."

"Masalahnya yang dilakukan istri Pak Jono itu sudah keterlaluan. Mengambil uang suami tanpa izin. Bukankah ini sama saja artinya mencuri. Kendati yang dicuri uang suaminya. Tetapi, ya tetap saja namanya mencuri. Padahal, kalau saya minta uang sama Bapak tak pernah berani membuka dompet sendiri," lanjut Siti, "Saya memang tidak suka dengan istri Pak Jono yang sok itu. Apalagi ia selalu mengecilkan fungsi suaminya. Seolah-olah penghasilan suaminya tidak ada artinya. Apa mentang-mentang punya gaji. Lantaran kebanyakan ibu-ibu di sini tidak punya penghasilan sendiri."

Saya diam.

"Ngomong-ngomong, tadi saya bicara seperti itu Pak Jono tersinggung apa tidak, Pak?" tanya Siti.

"Justru dia sedang bingung," jawab saya.

"Kenapa mesti bingung. Istri macam gitu mending tampar saja, kalau tidak berani menceraikan," Siti menggebu-gebu.

"Soalnya Pak Jono itu laki-laki, Bu."

"Siapa yang bilang kalau dia itu perempuan, Pak."

"Dia takut menampar perempuan, Bu."

"Takut?"

Saya mengangguk. "Masalahnya perempuan dianggap makhluk lemah."

"Lantas?"

"Pak Jono takut dianggap melakukan kekerasan dalam rumah tangga."

"Walaupun istrinya salah?"

"Saya pikir ketakutannya itu memang beralasan. Sebab seperti kata Pak Jono tadi, jika seorang lelaki menampar istri, masyarakat akan mengatakan lelaki itu telah melakukan penganiayaan," kata saya.

Siti tampak terkejut dengan pernyataan saya, sebagaimana saya sendiri terkejut setelah mendengar alasan Suharjono yang tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Wulan. Padahal, seperti tadi ia pun bilang ingin menampar istrinya�setelah istri saya masuk ke dalam.

"Saya sependapat dengan istri bapak. Perempuan seperti istri saya seharusnya ditampar. Tapi, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab jika seorang lelaki menampar perempuan, masyarakat akan mengatakan lelaki itu telah melakukan penganiayaan. Melakukan tindak kekerasan terhadap dalam rumah tangga," terngiang lagi kata-kata Suharjono beberapa saat yang lalu.

Benarkah yang dikatakan Suharjono? Atau ini hanya sebuah alasan seorang laki-laki dayus untuk membenarkan ketidakmampuannya memimpin keluarga? Mungkinkah karena penghasilan Suharjono lebih kecil dari pendapatan yang diperoleh Wulan? Apa mungkin begitu pola pikir perempuan yang punya penghasilan sendiri? Atau hanya Wulan yang berani berbuat demikian terhadap suaminya? Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran. Namun, tak pernah saya jawab. Lantaran istri saya bukan seorang wanita karier yang punya penghasilan sendiri.

***

Sejak Siti menyambar percakapan kami, tatkala ia menyajikan teh. Sejak itu pula, tetangga sebelah tak pernah lagi bertandang ke rumah. Bukan hanya Suharjono yang tidak pernah bertamu, melainkan pula istrinya-Wulan.

"Kita memang disuruh menghormati tamu. Tapi, tamu yang bagaimana? Kalau tamu yang melecehkan tuan rumah apa masih perlu dihormati. Nah, kalau perlu kita tidak usah kedatangan tamu yang demikian," kata Siti, tatkala saya membicarakan tetangga sebelah yang sudah tak pernah datang ke rumah.


Lampung Post, Minggu, 15 Agustus 2010