Showing posts with label Budi Saputra. Show all posts
Showing posts with label Budi Saputra. Show all posts

Sunday, December 9, 2012

Geraham yang Bertaut

Cerpen Budi Saputra

BARANGKALI yang ia tahankan itu kembali rasa geram. Di tengah gerimis, saat menjelang tengah malam, orang-orang ternyata masih bisa menyempatkan diri untuk datang. Tua muda tampak mulai mengerumuni rumahnya, membawa wajah sedih bercampur kaget. Dan dari sudut rumah, wajah-wajah itu diperhatikannya baik-baik. Ada sedikit rasa lega yang ia rasakan. Setidaknya, dari banyaknya orang yang datang, maka ia bisa mengambil kesimpulan, bahwa rasa ketidakpedulian itu tak ada sangkut pautnya dengan kematian. Setiap ada yang tertimpa musibah kematian, tentu orang-orang akan peka. Melayat, hingga berbondong-bondong menyalatkan dan menuju pekuburan.

Ia tentu bersedih atas kematian sang nenek. Tubuh ringkih dan kurus itu, masih segar dalam ingatannya, suara-suara batuk, dan perintah sang ibu untuk membuang air seni dan kotoran di dalam ember beberapa jam sebelumnya. Betapa tak disangka-sangka, tubuh yang dibiarkan sendirian berbaring di atas dipan itu, tak kunjung terbangun saat sang ibu membangunkan. Kesedihan pun pecah, kaum perempuan tak kuasa menghindar dari ratap berlebihan. Dan ia pun, harus terburu-buru membangunkan garin masjid untuk mengumumkan berita kematian ke seantero kelurahan.

Memang, ia tampak begitu sibuk di malam itu. Mengeluarkan kursi-kursi yang dibantu rekan seumurannya ke halaman rumah, agar para pelayat leluasa untuk bergerak melihat jenazah Nek Rimah yang terbaring kaku di sudut ruang tamu. Setelah mengangkat kursi, ia juga harus ke salah satu rumah warga untuk menjemput kursi dan tenda yang memang disediakan khusus untuk hari kematian.

?Ayo jemput tenda dan kursi sekarang!?

?Bendera, dan drum jangan lupa.?

Suara-suara itu, atau diucapkan dengan bahasa lain memang kerap terdengar saat ada hari kematian. Orang-orang akan paham dengan sendirinya. Membantu keluarga yang ditinggalkan sesegera mungkin begitu kumandang toa di masjid memperdengarkan berita kematian.

Maka, karena bantuan dari orang-orang sekitar rumahnya itulah, memang, ia tampak begitu puas di malam itu. Tak peduli rasa letih setelah mengangkat kursi dan memasang tenda di halaman depan rumahnya. Sebab, menurutnya, sebagai anak laki-laki memang harus menjadi andalan. Pandai bergaul dan memudahkan urusan keluarga.

Tetapi begitulah, barangkali yang ia tahankan itu kembali rasa geram. Selain sedikitnya pemuda yang datang membantu, tentu perangai abangnya, Bustam yang kerap membuatnya menautkan geraham.

***

TENTANG Bustam, ia memang harus menerima kenyataan. Seorang yang lebih tua empat tahun darinya itu, yang kerap berpakaian rapi sebagai orang kantoran, sungguh, itu tak membuatnya menaruh rasa hormat yang begitu tinggi pada abangnya itu. Setiap kali ia memperhatikan Bustam, terkadang ada rasa gamang yang ia rasakan. Bagai sebuah kapal yang berlayar di lautan, siapa yang menjamin kapal itu akan aman-aman saja melewati gelombang yang maha besar? Entahlah, menurutnya, barangkali itu telah menjadi sebuah takdir. Atau, barangkali itu sebuah penyakit akut yang sulit disembuhkan. Sebab, dari tahun ke tahun, sungguh tak ada perubahan yang ia lihat pada diri Bustam. Pikirnya, sejak masa kanak-kanak hingga masa dewasa, Bustam tak ubahnya seperti seorang perempuan yang betah menghuni rumah.

?Tak ada gunanya kau mendapat gelar sarjana dan bekerja sebagai orang kantoran. Dasar perempuan! Kau tak punya rasa malu terhadap orang-orang sekitar!?

Suatu ketika, ia tak kuasa menahan amarahnya terhadap Bustam. Ia lemparkan sebuah asbak rokok ke arah Bustam yang sedang asyik menonton televisi. Kata-kata caci maki pun ia muntahkan. Tak peduli orang-orang sekitar yang barangkali memasang telinga mendengar perang mulut yang memang kerap terjadi itu.

Ya, ia merasa begitu perlu mengingatkan meski tak dihiraukan sampai mulut berbuih-buih. Keluar untuk berbaur dengan masyarakat sebagai pemuda, baginya, memang sangat penting sekali.

?Ibu apa membiarkan saja ia tetap begitu? Menghadiri pengajian, melayat hingga menguburkan jenazah, menghadiri takziah, menghadiri undangan perhelatan, adalah bagian dari sisi sosial yang meski ada kita di dalamnya.?

Begitulah, ia juga kerap mengingatkan sang ibu tentang Bustam. Dan sang ibu, memang juga tak bisa berbuat banyak. Setiap ada warga sekitar yang tertimpa hari buruk kematian ataupun melaksanakan hari bahagia pernikahan, wajah Bustam memang sulit sekali ditemukan di antara kerumunan orang banyak.

Tak seperti dua adik perempuannya yang pandai bergaul, Bustam lebih memilih berdiam di rumah, atau sibuk dengan rekan kerjanya di luar rumah. Sehingga, dengan perangai Bustam yang seperti itu-itu saja sejak dulu, yang jarang berbaur, membuatnya begitu kesal.

?Apa kau tak malu ha? Nanti jika kau menikah atau mati, jangan harap orang-orang akan berbondong-bondong datang ke rumah menghadiri undanganmu atau melihat mayatmu!?

***

BARANGKALI di malam itu, ia telah mengambil sebuah kesimpulan dari hati yang teriba. Rasa saling menjaga dan bertetangga baru saja ia tunaikan. Ibu dari rekan sejawatnya baru saja berpulang. Kumandang toa berita kematian di masjid memang membuatnya sedih. Ia pun bergegas pergi melayat saat matanya ingin sekali dipicingkan di sudut kamarnya. Kembali diangkatnya kursi-kursi dan tenda seminggu yang lalu saat kematian Nek Rimah bersama para pelayat lainnya. Sementara ibu dan dua orang adiknya, tampak juga menyempatkan diri pergi melayat ke rumah Buk Siar meski memakai sarung untuk tidur. Lagi-lagi, batang hidung Bustam sungguh sangat sulit diharapkan hadir dalam kerumunan itu.

Ya, hatinya sangat teriba. Bukan karena pertanyaan dari seorang rekannya yang menanyakan keberadaan Bustam kepadanya. Pikirnya, wajah Bustam itu memang telah sepatutnya ia simbolkan sebagai sebuah kepalan tinju. Darah muda pergaulannya sama sekali tak menyukai perangai Bustam. Biar Bustam sadar, karena menurutnya, Tuhan pun tak menyukai orang yang tak memedulikan kehidupan bermasyarakat. Saling menjaga dan memberi yang bukan berarti selalu disimbolkan dengan memberi suatu kebendaaan yang berharga.

?Mati sajalah dia itu. Aku sudah bosan mengingatkannya.?

Memang, berbau bercanda ia katakan dengan nada sedikit tinggi. Tentang Bustam, sudah berulang kali ia muntahkan pada rekan sepermainannya sejak masa kecil itu. Seperti ingin menegaskan, bahwa karena pribadi Bustam yang tak membuka diri, pada akhirnya, imbasnya mulai ia tuai secara perlahan. Dugaan diskriminasi. Ya, diskriminasi. Juga sebuah perkiraan yang tak luput dipikirkannya.

Maka, ia banding-bandingkanlah antara sang ayah, Nek Rimah, dan Buk Siar. Sungguh, itu sangat sulit ia menentukan segalanya. Yang ia tahu, semuanya itu mati dalam keadaan baik-baik, bukan dengan cara yang buruk. Atau, apakah karena Buk Siar itu orang berpunya dan agak disegani? Ia pun tak habis pikir. Cuma dari kerumunan itu, setelah ia memasang tenda dan menyusun kursi, serta mengisap sebatang rokok basa-basi dari seorang pelayat, ia pun memuntahkan semuanya pada Dikar, di sebuah batang kelapa tak jauh dari rumah duka.

Betapa Dikar hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap wajahnya dan kerumunan para pelayat di tengah malam itu. Kadang dengan nada tinggi, kadang dengan nada seperti mengiba ia tuturkan perkara kematian sang ayah dan Nek Rimah. Memang, ayahnya bukanlah orang yang tak terlalu banyak bergaul dengan masyarakat setempat. Pergi kerja pagi, dan kembali pulang pada malam harinya. Tapi, sungguh memang keadaanlah yang saat itu mau tak mau harus diterima. Para pemuda yang biasanya berkumpul di lepau-lepau, dan tak jarang akan senang hati membantu apabila ada warga yang tertimpa musibah kematian, memang saat itu hampir semuanya ikut mendaki gunung sebagai para pecinta alam. Waktu ayahnya berpulang, juga tak jauh beda dengan waktu berpulangnya Nek Rimah, menjelang tengah malam. Dan ia, memang sangat terkuras saat itu. Hingga untuk menggali kuburan di permakaman kaum pun, ia ikut berkorban yang dibantu beberapa orang penggali kubur lainnya. Dan tentu ia harus terburu-buru membersihkan diri untuk menyalatkan jenazah ayahnya itu menjelang waktu zuhur.

?Aku tak menghitung-hitung jerih, Dikar. Kau bisa lihat sendiri, saat nenekku berpulang, para pemuda itu lebih banyak asyik duduk-duduk di lepau. Tak berapa orang yang ikut membantu, bahkan menampakkan batang hidungnya ke rumah. Tapi, kau lihatlah sekarang. Semuanya tampak semangat membantu mengangkat kursi dan mengangkat tenda.?

Mendengar semua itu, Dikar hanya diam mencoba memahami perasaannya. Sebuah pertanyaan hidup yang memasuki kepala, lalu dicerna, bagai melihat sebuah dunia yang penuh keniscayaan. Dikar lantas tak menyalahkan siapapun. Yang terpikir olehnya, hanyalah bagaimana cara untuk mati itu sendiri. Tak peduli siapa yang mengurus jenazah, berapa banyak pelayat yang datang, hingga datang kembali untuk menunaikan takziah. Dikar hanya berucap pendek, ?Tak usahlah terlalu dipikirkan. Ambil saja hikmahnya.? Betapa ia pun seperti telah bisa menerima segalanya, walau dalam hati kecilnya, ada sesuatu hal yang mengganjal perasaannya. Wajah Bustam terbayang. Darah muda yang berbau ugal-ugalan, memang kadang menyimpan perasaan ketidakakuran yang meletup tiba-tiba.

***

PADA akhirnya, tibalah saat ia sejenak melupakan segenap perang mulut atau pertengkarannya dengan Bustam. Atau, barangkali semua itu luput baginya untuk memikirkan. Di kamar rumah sakit, sang ibu tampak terbaring lemah. Jantungan ibunya kembali kambuh. Sungguh, itu terasa berat baginya, begitu pula dengan Bustam. Bustam begitu rajin bolak-balik dari kantor ke rumah sakit, atau dari rumah ke rumah sakit. Beberapa teman kerja Bustam tampak hadir untuk membesuk, juga ibu-ibu tetangga di sekitar rumahnya. Sementara beberapa pemuda yang termasuk Dikar, juga datang membezuk.

Tapi apa yang dialami Bustam sungguh lebih memiriskan hatinya. Hari buruk itu, entah dalam bentuk apa dan bagaimana ia terjemahkan. Sebuah pisau hidup yang menusuk tiba-tiba membuatnya terperanjat. O, sungguh terperanjat. Ia berlari di sepanjang ruang rumah sakit. Menuruni tangga demi tangga. Barangkali sebelum ia tiba di sebuah perempatan itu, arwah Bustam telah lebih duluan terpisah dari badan dan terbang ke langit. Bau parfum Bustam yang tersisa di kamar rumah sakit, seolah mengisyaratkan bau kematian.

Ya, ia memang menyaksikan kematian itu. Tubuhnya menggigil melihat darah segar mengucur deras dari hidung Bustam. Rumahnya akan kembali dipasangi tenda, disusun kursi-kursi serta sebuah bendera hitam yang dipasang di halaman depan. Pun kumandang toa dari seorang garin yang memberitakan kematian di masjid ke seantaro kelurahan. Dan dalam seketika itu pula, ada perasaan lain yang membuncah dalam dadanya. Kata-katanya itu, kata-kata yang pernah diucapkannya kepada Bustam, sungguh ia tak ingin itu terjadi. Ia juga teringat kata-kata Dikar di sebuah malam yang bergerimis itu.

Padang, 2012


Lampung Post, Minggu, 9 Desember 2012   
  

Sunday, May 27, 2012

Khidmat

Cerpen Budi Saputra


MEREKALAH yang tunduk kepada para pendakwah yang berhati baik. Yang ijtihad, bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu yang membelit. Tiap hembusan napas, setan dan bala tentaranya memukul tabuh genderang perang kepada lawan abadinya sejak berada di tempat yang sangat-sangat jauh sebelum masehi. Sebelum adanya Habil dan Qabil, para nabi, kaum Tsamud, kaum Luth, bangsa Romawi dan Persia, bahkan para hobbit Flores yang dikemukakan oleh para ilmuwan. Dan merekalah, yang begitu tunduk pada makhluk yang sempurna dan utama yang diciptakan dari air mani yang busuk, dan berkesudahan kembali menjadi yang berbau busuk: bangkai dalam kubur.

Merekalah, yang dimaksud oleh Syekh Hasan pada para muridnya, adalah makhluk-makhluk yang senantiasa berzikir pada Tuhannya. Seperti halnya sayap burung yang mengepak di udara tanpa ada penghalang, sayap itu juga senantiasa berzikir mulai dari kobar matahari timur hingga terbenam di ufuk barat. Begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan  dari Syekh Hasan saat menyampaikan ceramah pencerah pada para muridnya. Dengan sorban putih, gamis putih, dan janggut putih, Syekh Hasan tampak berwibawa dan rendah hati. Hidup dengan kesederhanaan bercermin pada orang-orang terdahulu. Orang-orang suci yang senantiasa menghidupkan malam dengan penuh khusyuk pada Tuhannya.

Ilmu yang dikuasai Syekh Hasan adalah imu-ilmu yang baik. Baik sanad dan baik tujuannya. Syekh Hasan banyak menguasai kitab-kitab hadist dan kitab kuning. Pun butir-butir hikmah yang berisikan kisah-kisah pendakwah, begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan pada mata Syekh Hasan.

Butir-butir hikmah itu, memang, selalu ada rasa takjub tercipta. Antara percaya dan tak percaya. Bahwa dalam kisah-kisah tak sembarangan itu, memang ada keistimewaan di dalamnya. Apakah pada jin, iblis, ataupun pada hewan-hewan masuk surga? Ya, sungguh tak bisa mengatakan bahwa tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Merekalah, atau pada mereka yang lain yang tak punya akal dan nafsu seperti manusia. Hanya sebagai makhluk Tuhan yang berkhidmat kepada manusia dan kepada para pendakwah yang berhati baik. Semacam karomah. Ya, karomah yang memang tak sembarangan orang yang mendapatkannya. Hanya orang-orang tertentu sebagai wali. Orang-orang yang bersih wajahnya, baik amalannya, dan selalu menjunjung surga dan neraka di kepalanya.

***

SUATU pagi di Amazon, dua orang pendakwah tampak mandi dan mencuci di sungai yang banyak ditumbuhi ikan-ikan pemakan daging. Mereka itu adalah pendakwah dari negeri jauh yang datang melihat para saudara mereka. Membawa bekal secukupnya, melihat dunia dengan sangat hati-hati. Sangat hati-hati dan tak panjang angan-angan. Sementara di jidatnya, tanda pengabdian itu, sangat jelas terlihat.

"Hah, kenapa mereka tak dimakan oleh ikan?" Dalam bahasa mereka, orang suku setempat seketika terheran melihat pendakwah yang mandi dan mencuci di sungai tulang itu. Sungai yang apabila ada burung yang jatuh dari pepohonan atau bangkai mamalia yang hanyut, maka seketika akan menjadi tulang. Daging-dagingnya ludes seketika di makan oleh piranha, hewan karnivora yang ganas di perairan Amazon.

Sungguh ajaib, pikir mereka. Tapi adalah bisa diterima oleh akal sehat. Amalan-amalan yang begitu ikhlas, membuat ikan-ikan buas itu khidmat kepada pendakwah itu. Sebagaimana halnya orang-orang yang berjalan di atas air saat berdakwah, tanah yang berubah menjadi burung, atau lahar panas yang diusir oleh seorang saleh dengan sorbannya pada zaman terdahulu. Sungguh kadang sulit dipercaya. Tapi begitulah keistimewaan yang didapat para pendakwah yang berhati baik dan menunaikan adab. Keistimewaan yang salah satunya pernah didapat Nabi Sulaiman yang menguasai bala tentaranya dari bangsa jin, manusia, angin, dan juga binatang. Atau pada keistimewaan dari seorang khalifah. Sungai Nil yang pernah suatu ketika tak mengalir, akhirnya kembali mengalir hanya dengan selembar surat yang membuat Sungai Nil taat dan patuh.

Sungguh ajaib. Pemandangan  yang mereka lihat itu, membuat mereka terpikat.

"Tuan, kami bersedia mengikuti amalan-amalan Tuan." Dalam bahasa mereka, orang suku setempat menyatakan ketertarikan dengan ajaran pendakwah itu. Dengan mendengar kebesaran-kebesaran Tuhan di bumi dan di langit, mereka begitu takjub dibuatnya.

"Kami amat bersyukur sekali. Semoga saudara sekalian selamat sampai tujuan sesungguhnya."

Maka, pendakwah itu dengan rasa syukur atas usahanya berbincang banyak hal dengan orang suku setempat. Berbaur dengan kerendahan hati. Selain bercerita tentang perjalanan dari negeri jauh dan tujuannya di daerah orang suku setempat (tujuan yang mulia di muka bumi yang fana, seperti orang-orang terdahulu yang begitu gigih meski harus korban harta benda, terluka, hingga mati sebagai pendakwah), tentu yang utama sekali mengajari mereka cara berpegang teguh kepada kebenaran. Membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang baik sebagai bekal yang amat panjang.

Di suatu kesempatan, pendakwah itu juga bercerita tentang negeri jauh yang lain. Di sebuah celah bumi, di sebuah desa kecil di Jepang, pendakwah ini bertemu dengan seorang penduduk setempat. Awalnya, pendakwah ini tak heran saat dibawa menuju ke sebuah lahan. Namun, saat melihat dereta kuburan, maka bertanyalah mereka.

"Kenapa Tuan membawa kami ke sini?" Pendakwah ini heran saat dibawa ke kuburan. "Ini bukankah kuburan, Tuan. Orang-orang yang telah mati dan tak bisa diajak bicara lagi?"

"Tuan betul. Tapi begitulah, Tuan. Di sini ayah saya, ibu saya, dan saudara-saudara saya dikuburkan. Mereka mati sebelum Tuan datang. Tuan memang terlambat datang terlambat ke sini. Saat negara saya terus-menerus mengirim benda-benda teknologi ke negeri Tuan, seharusnya Tuan juga datang ke sini. Melihat saudara-saudara Tuan yang sama bumi dan sama langit ini. Tapi Tuan, meskipun begitu, saya sangat bersyukur sekali. Datang dari negeri jauh? Oh, sungguh tak terpikirkan oleh saya, Tuan. Jalan yang aneh. Jalan yang tentu sangat mulia bagi Tuan."

Ya, begitulah para pendakwah dengan mereka. Mereka dalam artian lain merupakan makhluk-makhluk yang memang diciptakan untuk khidmat pada manusia. Di muka bumi, bukankah manusia diciptakan untuk menjadi khalifah? Dulunya, gunung-gunung tak sanggup menerima amanah yang Tuhan ajukan pada mereka.

***

SYEKH Hasan, dengan cara sedemikian halus itu, mengajari para muridnya dengan butir-butir hikmah. Sehingga ceramah pencerah yang disampaikan memang menghujam dalam ke dalam dada para muridnya. Ceramah pencerah yang didengar dengan baik-baik. Tak ada saling berbisik, tak ada yang tidur-tiduran, ataupun memasang wajah seperti meremehkan. Semua begitu hormat mendengarkan sambil memandang wajah Syekh Hasan dengan penuh keseriusan. Karena begitulah adab. Adab yang apabila tak ditunaikan, maka ilmu pun hanya masuk dari telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Berkah tak didapat, dan seolah tersisih dan berada di luar bongkahan cahaya terang benderang, yang terhubung dengan langit jauh yang paling jauh.

Dan selalu saja. Selalu saja butir-butir hikmah yang disampaikan Syekh Hasan membuat para muridnya mengucapkan kalimat-kalimat langit yang suci lagi mulia. Ada rasa takjub. Yang membuat hati mereka tertanam semangat yang melimpah-limpah hingga begitu membara. Begitu membara memerangi diri sendiri, hawa nafsu, dan musuh terkutuk sepanjang abad manusia.

Setiap Syekh Hasan memberikan ceramah pencerah pada para muridnya, maka tentang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal memang kerap menjadi sebuah pemantik iman. Sebagaimana Syekh Hasan menceritakan tantang sebuah negeri yang diberkahi. Di negeri itu, penduduknya hanya sekali seminggu melaut. Tapi, meskipun hanya sehari melaut, hasil yang didapat bisa tahan selama seminggu. Konon, ikan-ikan di sana sangat patuh dan mendekat begitu saja untuk ditangkap karena kekuatan amalan-amalan yang ikhlas penduduk sana.

Memang, selain rasa takjub, terkadang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal itu, membuat para murid Syekh Hasan ingin juga merasakan dan menyaksikan secara langsung bagaimana kisah itu terjadi. Sungguh mulianya manusia, pikir mereka. Derajat manusia yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk lain yang diciptakan. Betapa di majelis itu. Di majelis yang selalu tumpah ruah dihadiri. Selalu kata-kata itu diucapkan berulang-ulang oleh Syekh Hasan. "Bicarakanlah kebesaran Allah. Bicarakanlah keagungan Allah. Karena itu akan membuat iman kalian menjadi naik."

Padang, 2012


Lampung Post, Minggu, 27 Mei 2012

Sunday, October 9, 2011

Cerita Lama dari Kami

Cerpen Budi Saputra


LENGANG, dan tak banyak yang dapat kami perbuat di sini. Sebuah rumah tua dengan arsitektur dan ornamen lama. Lukisan hitam putih para petani, dan patung harimau Sumatera yang setia menemani lenguh birahi kami di kamar pengap miskin cahaya. Di luar itu, hanyalah hamparan kesepian dan barisan makhluk hijau yang menatap kami setiap harinya. Bahwa selalu ada yang kami rasa datang menyusup di kala malam merayap. Dari kedalaman hutan rumbia yang lebat, selain kabar seorang gadis belia yang pernah diperkosa dan dibakar, juga bunyi-bunyi aneh yang kerap kami dengar dan merangkak menuju rumah kami di tengah malamnya.

Ya, selama bertahun-tahun memang seperti itulah. Sebuah masa yang berlari dari nyala lilin, dari sinar petromaks yang hanya menyala di kala malam. Usia yang terkungkung, terisolasi dari lalu lalang kemanusiaan. Anjing betina dan jantan yang kerap kami saksikan kawin pun, hanyalah percakapan konyol kami pada benda-benda yang tak bisa memberikan sesuatu yang menguntungkan selain untuk berjaga-jaga. Kalau pun ada tetangga yang bertandang ke rumah kami di malam harinya, itu pun hanya sesekali. Bercakap tentang rencana nonton organ tunggal atau doa selamatan di rumah tetangga lain yang jaraknya lumayan jauh dari sini.

Dan mengenai keadaan ekonomi kami. Apalah yang bisa kami perbuat saat itu. Hanya ladang ubi dan jagung yang bisa kami gantungkan untuk menyambung hidup. Pasar kecamatan yang juga jauh kami tempuh untuk menjual hasil ladang saat musim panen tiba.

***

Mana lagi cerita orang lama yang belum kami dengar. Tak ada. Semuanya akan kami ceritakan bila ada yang minta diceritakan. Tentang bigau, hantu suluh, hantu karung, palasik tudung, orang bunian, hingga tentang dewa yang kawin dan hidup dengan tukang bendi selagi ada paku menancap di kepalanya. Di zaman Belanda dulu, konon ada seorang tukang bendi yang menaikkan seorang perempuan di tengah malam. Ia tahu bahwa perempuan itu adalah dewa yang menjelma. Maka, ditanamkanlah paku di kepalanya. Mereka kawin dan akhirnya punya anak.

Di suatu hari, ketika si anak mencari kutu di kepala ibunya, maka terkejutlah si anak.

"Apa ini, Bu?" Si anak bertanya pada ibunya saat meraba kepala paku di ujung telunjuknya.

Namun, belum sempat ibunya menjawab, secara tiba-tiba si anak mencabut paku itu di kepala ibunya. Sungguh aneh, dalam detik itu jua si ibu menghilang. Menghilang dan kembali ke alamnya yang entah berantah. Sebuah peristiwa yang membuat si tukang bendi hanya bisa menyesali kehilangan perempuan cantik yang semerbak harum itu.

Hahaha.... zaman ketumbarlah namanya (bahasa lain dari istilah jadul). Saat itu memang masih lengang. Belum seperti yang sekarang, rumah-rumah penduduk yang kian bertumbuhan dan segalanya telah digerakkan dengan listrik. Lihatlah pohon kapuk ini, berapakah usianya? Cukup tua sekali. Tak jarang, dulu anak-anak didikan subuh selalu lewat bergerombol jika melawati pohon ini. Mereka tak berani sendirian. Jika pun ada yang berani, maka larilah pontang-panting sambil mengucap doa-doa pengusir setan.

Memang, soal perkara cerita lama, kami sudah kenyang dibuatnya. Siapa pula yang tak kenal dengan Sibuih pemaling besar saat itu. Pemaling yang sering menyantroni rumah dan menguras harta penduduk. Ia kebal peluru, walaupun ditembak dari dekat oleh polisi. Konon, kabarnya ia punya ilmu hitam. Ada sesuatu benda keramat yang ditanam di betisnya dan dihuni hantu balau.

***

Begitulah hidup kami, melalui perubahan demi perubahan. Dari memelihara anjing, kemudian berkembang memelihara ayam dan kambing. Dari zaman lampu petromaks, kemudian kami mendapat suntikan listrik untuk menerangi kamar buram kami. Ya, semuanya perlahan berubah. Satu demi satu orang telah mulai membangun rumah dan bersawah. Jalan menuju pasar kecamatan pun telah bisa memanjakan roda kendaraan dengan aspalnya yang hitam legam dan mulus. Sungguh, kemajuan zaman yang membuat segala aktivitas menjadi mudah. Mana ada dulu mobil mewah seperti saat ini? Mana ada mesin bajak yang menggantikan peran si kerbau kubang? Hingga akhirnya, hanyalah perubahan itu yang kami cecap dan kami saksikan saat ini.

***

Anjing. Ya, anjing. Hewan peliharaan yang satu ini memang setia menemani kami selama bertahun-tahun. Kami beranak pinak, mereka juga beranak pinak hingga kami pun lupa jumlah generasinya. Anjing yang semenjak perbaikan jalan atau semenjak daerah ini mulai membangun, tingkahnya, dan salaknya yang bergetar hanya membuat kami terkadang malu oleh orang yang melintas di depan rumah kami. Kadang kami sempatkan jua minta maaf jika kebetulan tengah berada di halaman.

Walaupun di sini rumah tidak rapat-rapat, tetap saja anjing kami seolah paling berkuasa menguasai daerah ini. Pernah kejadian yang membuat kami geram saat itu. Anjing kami mati. Mati karena dikasih tuba oleh orang yang tentunya tak senang dengan keberadaan anjing kami. Hmmm.. Kasus pertama. Kasus yang membuat kami mulai sensitif terhadap orang-orang baru. Hanya karena sering disalak dan digertak saat melintas di depan rumah kami, mereka dengan entengnya membunuh anjing kesayangan kami.

Jelas, jelas kami merasa sedikit dikucilkan. Semakin banyak pertumbuhan rumah di sini, semakin membuat kami berpikir-pikir untuk berhenti memelihara anjing. Pernah kami dengar dari Haji Kapeh, jika memelihara anjing, malaikat tak akan masuk ke rumah. Rahmat jauh dan rezki dari Tuhan pun jauh.

Maka dari nasihat Haji Kapeh dan atas desakan anak tertua kami-lah, akhirnya semenjak tiga tahun yang lalu kami telah berhenti memelihara anjing. Hanya janin-janin manusia yang terus berlahiran di sini. Lalu lalang anak-anak sekolah di pagi dan petangnya dari petak-petak mewah yang mengilap sekitar empat ratus meter menuju rumah kami.

***

Semenjak bekas ladang tebu itu kian subur ditumbuhi perumahan warga, maka semenjak itulah keganjilan-keganjilan sering menghampiri kami. Apakah ini bentuk kesumat atau barangkali disebabkan rumah kami agak terpencil letaknya (tetangga terdekat berjarak sekitar 30 meter dari rumah kami). Dengan kondisi di sini temaram pada malam harinya, dikelilingi sawah warga, pun pohon kapuk yang bertubuh besar ini, rasanya tak akan cocok untuk tempat keberlangsungan anak kucing, maupun anak anjing. Bukan. Bukan kami menghendaki kehadiran anjing yang banyak berkeliaran di sekitaran rumah kami, anak dan induk kucing, atau bahkan janin aborsi yang pernah kami temukan di suatu pagi. Tapi begitulah yang kami alami di sini. Halaman rumah kami jadi sasaran tempat pembuangan. Membuang yang dianggap aib, yang dianggap merusak pandangan mata.

Kami memang sering kecolongan. Kami tak tahu siapa yang membuang makhluk-makhluk itu (kebanyakan anak kucing dan anak anjing). Mungkin pelakunya beraksi di tengah malam saat kami tengah terlelap tidur. Yang jelas, kami begitu kesal. Kesal dengan si pembuang dan hewan buangan yang kerap masuk ke dalam rumah kami.

Tapi pernah suatu malam kami menyaksikan dua orang lelaki tengah membuang anak kucing dari dalam karung. Di halaman rumah kami ini, mereka mengendap-ngendap di bawah pohon kapuk. Merasa tak ada orang yang tengah memperhatikan mereka.

Sengaja. Ya, sengaja kami tak menghardiknya. Kami biarkan mereka berlalu dengan motor menuju perumahan mewah. Sialan! Barangkali dari sanalah para pembuang beraksi di malam hari.

"Mungkin karena di sini lengang, jadi mereka tak takut kelihatan oleh orang," begitulah keluhan kami pada tetangga terdekat tukang sate, Opeang.

Jika mereka bisa membuang, maka kami pun bisa membuang. Buang apa saja yang buruk-buruk pada mereka. Seperti dalam sebuah gurauan kami dengan Opeang.

"Untuk membalas mereka, bagaimana kalau kita sate saja daging anjing dan kucing yang mereka buang itu. Kemudian kita jual pada mereka. Biar mereka rasain enaknya!"

Dan sejurus kemudian, kami pun tertawa terbahak-bahak bersama.


Lampung Post, Minggu, 9 Oktober 2011

Sunday, May 29, 2011

Tamu Terhormat

Cerpen Budi Saputra


KAMI hanya bisa mengurut dada, menautkan geraham, dan menahan geram berkepanjangan. Kami tak bisa berbuat banyak. Kami hanya dipandang sebagai anak yang tahunya hanya sekolah dan membantu-bantu pekerjaan rumah. Sejak mereka mendapat cucu perdana dalam waktu berdekatan, wuih, maka mulailah mereka melebarkan sayap pemameran. Mereka tak henti-hentinya berpetualangan dari satu rumah ke rumah yang lain.

Terlebih saat siang dan petang hari. O, tak tanggung-tanggung, rumah orang pun akan dianggap sebagai rumah sendiri. Dengan seorang cucu sebagai senjata andalan, tak salah memang jika pada akhirnya kami menggelari mereka sebagai tamu terhormat. Tamu yang nyelonong saja masuk rumah, tamu yang banyak bahan gosip, tips permasalahan keluarga, dan hal-hal sepele lain yang menurut kami sangat-sangatlah mengganggu untuk diletuskan di rumah kami.

Kami sesungguhnya telah sampaikan pada nenek, ayah, dan ibu tentang keberadaan tamu-tamu terhormat itu. Namun, semuanya menganggap kami tak toleransi, buruk sangka, dan segala macamnya (seperti membelanya). Dan akhir-akhirnya, kami pun hanya pasrah dan melihat saja segala yang terjadi di rumah. Gelak tawa, tangis balita, dan lantai yang basah karena kencing mewarnai rumah kami hampir tiap harinya. Tak jauh beda keadaan yang terjadi di rumah-rumah sebelah. Mereka sering nongkrong dengan ibu-ibu di sana, membanding-bandingkan cucu, dan membuat makanan bersama tentunya. Pernah suatu kali terjadi peristiwa menyedihkan di kelurahan kami ini. Di saat tengah marak-maraknya gelak tawa gosip, sungguh tak disangka, seorang bayi tanpa disadari menghilang begitu saja di hadapan para peserta. Semuanya jadi terdiam dan panik. "Mana Mira, mana Mira?" Dan semuanya berhamburan mencari di seisi rumah dan di luar rumah. Namun setelah lelah mencari sekitar 20 menit, hasilnya pun nihil. Baru empat jam kemudianlah orang dari kelurahan lain menemukan bayi itu dalam keadaan tak bernyawa di kali. Ternyata, bayi itu hanyut dibawa arus kali di depan rumah. Dan One Ilen, bersyukur sekali karena bayi yang hanyut itu bukan cucunya.

***

Kami sangat merasa tak nyaman saat melihat kedatangan Uwo Upik Tea. Saya dan Madi telah sepakat melakukan aksi diam saat itu (seperti sebelum-sebelumnya). "Jika ada nanya-nanya diam saja, Madi," begitulah siasatku seperti biasanya. Bagaimana tidak. Ya, perlu diketahui dulu di sini, bahwa teras rumah kami ukurannya lumayan besar untuk bersantai-santai. Teras tanpa dinding dan dilengkapi kursi-kursi dan meja. Dengan demikian, pantaslah kiranya rumah kami kerap dijadikan ajang kunjungan tak punya etika. Apalagi dengan seringnya nenek duduk-duduk santai di sana. Sudah jelas, bahwa neneklah kerap dijadikan tujuan utama. Uwo Upik Tea akan menyelonong saja masuk dengan cucunya. Kemudian duduk, dan ujung-ujungnya terdengar jualah cakap yang tak menyamankan telinga.

"Kapan menikahnya dia, Tek? Di mana kerja calonnya?"

"Aduh, kenyang benar makan dengan gulai ikan siang tadi."

"Ha, si temben ini telah tahu pula lagu India, Tek. Pintar ini besok. Anak siapakah ini?"

Huhh..., itulah di antara sekian banyak yang kami dengar. Sudahlah tak pernah baca salam, ia juga dengan bebasnya mengajak nenek berkelakar ke mana-mana tanpa memikirkan keadaan rumah sebelum naik seenaknya: sedang ada bertengkarkah, sedang buka auratkah, sedang ada tamu ayahkah, sedang ada urusan keluargakah, sedang ingin tak diganggukah, ia tak akan memperhatikan. Yang penting ia dapat menghibur cucunya itu dan menyebarkan info-info terbaru tentunya.

"Heh, gak ngomong-ngomong makan ya? Apa masakan ibu kau?" Uwo Upik Tea tiba-tiba saja nyelonong ke ruang makan dengan cucunya. Jelas saja saya diam dan cuek. Sungguh tak menyenangkan. Apalagi ia dengan entengnya mengambil gelas untuk minum dan mencocor sedikit kerupuk yang terletak di depan saya. Lebih tak menyenangkan lagi, ia juga melirik-lirik ke kamar kami saat tengah melangkah dari ruang makan.

Ya, selalu begitu. Maka sabarlah. Saya sabar dan Madi sabar. Sungguh tidak sampai di situ saja tingkah nyelonongnya Uwo Upik Tea. Seperti saat Madi tengah menonton sendirian di ruang tengah. Eh, tak tahunya saat hanya sebentar Madi pergi ke WC, Uwo Upiak Tea ternyata telah berada saja di ruang tengah menonton televisi dengan cucu dan ibunya cucu. Membuat kami hanya geleng-geleng kepala saat membahasnya beberapa jam kemudian.

***

"Cuci piring lagi, Rita! Jangan biarkan menumpuk." Ibu menyuruh saya mencuci piring. Oh, saya mau tak mau harus mengerjakan suruhan ibu. Namun yang membuat saya sedikit tak senang tentu dengan piring sisa makannya Uwo Upik Tea dan cucunya. Ceritanya begini, saat itu ibu membuat bubur ketan. Nah, kebetulanlah Uwo Upik Tea menyelonong masuk ke rumah. Kali ini bukan lewat pintu depan, melainkan dari pintu belakang (ke dapur).

"Ndeh, masak bubur ibu kita ya. Hari lembap begini memang enak makan bubur. Bagilah kami sedikit tu!"

"Aman, dimakan bersama-sama nanti," balas ibu.

Oh, itu cerita nyelonong kesekian kalinya. Tak terhitung oleh saya dan Madi. Saya tak habis pikir, kenapa ada ya orang yang bertingkah seperti itu. Seenaknya masuk rumah orang yang alasannya barangkali untuk ngerumpi atau santai-santai. Tidak saja satu orang seperti itu, tapi banyak. Yang tua-tua, anak-anak, dan remaja pun mengikuti apa yang diperbuat yang tua-tua. Kalau tak ngerumpi di rumah sendiri atau rumah orang, maka mereka melakukannya di lepau-lepau.

Lihatlah saat petang harinya. Hampir masing-masing rumah mengirimkan wakilnya duduk-duduk di lepau atau di beranda rumahnya yang terletak di tepi jalan raya. Dengan rambutnya tergerai habis mandi, bau yang harum bukan main, juga tak ketinggalan pakaian minim yang tergantung hanya beberapa senti dari kemaluannya, mereka itu seolah-olah unjuk gigi pada khalayak. Cuaahh…, kami tentu jijik sekali melihatnya. Lelaki yang lewat dengan berbagai kendaraan begitu sering meliriknya dan barangkali mengkhayal panjang tentang keindahan tubuhnya. Oh, di manakah rasa malu itu? Kami tak habis pikir. Kami telah berkali-kali mengalaminya, yaitu tentang ibu-ibu dan anak gadisnya yang berpakaian minim itu seenaknya ngerumpi dengan orang tua kami. Sampai-sampai kami pun berpikir bahwa keluarga kami dianggap enteng saja dengan orang-orang sekitar. Mungkin karena tak ada wibawa oleh nenek, ibu, dan ayah, maka begitulah akibatnya. Orang-orang menjadi seenaknya saja berbuat. Nyelonong dengan pakaian minim, mengambil tanpa izin buah-buah jambu di perkarangan rumah kami (mungkin dengan dalih tetangga), dan sering mencandai nenek, ibu, dan ayah dengan ocehan yang menurut kami sungguh perkataan sia-sia. Anak-anak mereka pun begitu, mudah saja mencandai orang tua kami. Dan parahnya, orang tua kami juga melayaninya.

"Berapa anaknya?" Seorang anak perempuan sepuluh tahun bertanya seenaknya pada ayah.

"Dua orang." Ayah dengan santainya menjawab, ayah tak memperhatikan etika bertanya anak tetangga itu. Sebuah bukti, bahwa saat yang tua-tua membahas tentang pembicaraan mereka, maka yang kecil pun dengan mudahnya menyalin, dan pertumbuhan otaknya tentang dunia orang dewasa begitu cepat berkembang.

***

Kami tentu tak biarkan penganggap-entengan ini berlarut-larut. Ditambah sejak banyaknya ruko berdiri di sekitar rumah kami, membuat kami menjadi tak nyaman dengan keadaan yang demikian. Musik-musik keras yang berdebam dari dalam ruko yang dikontrakkan membuat konsentrasi kami belajar banyak terganggu. "Orang apalah ini. Apa masih punya otak?" Kami sering mengeluh demikian. Ya, ternyata banyak sekali tamu terhormat di kelurahan kami ini. Tidak saja tetangga dekat, pengontrak ruko pun berbuat seenaknya: membunyikan musik keras-keras hingga rumah-rumah di sekelilingnya pun seperti mendengar musik acara pesta yang sangat glamor.

"Ibu, kami tidak terima Uwo Upik Tea seenaknya saja masuk-masuk rumah. Dia tak ada etika dan seolah menganggap rumah orang-orang sini adalah miliknya juga." Suatu hari kami protes pada ibu yang di saat itu juga ada nenek yang mendengar—protes yang tentunya telah berkali-kali. Namun, ibu dan nenek hanya menganggap enteng pernyataan kami. Seolah tak ada yang patut dipermasalahkan. Tidak saja tentang Uwo Upik Tea dengan cucunya, Tek Ros pun juga seperti itu. Mereka ini memang sering menggendong cucunya dan membawa sana-sini. Mereka berdua kadang juga pernah nyelonong ke rumah kami. Tak peduli azan berkumandang. Yang jelas, sesama partai tua akan berkumpul saat itu. Menceritakan cucu, anak, tanggal orang menikah, dan lain sebagainya.

Ya, dengan pemandangan demikian, ingin kami menghardik sekeras-kerasnya dan menumpahkan amarah kami. Tapi kami tak sanggup. Kami hanyalah si anak yang dianggap tak layak mencampuri urusan orang dewasa. Sehingga, hanyalah kekecewaan kami yang kian bertumpuk, dan hanya pernah sekali lurus menyemprot karena saking geramnya. Kejadiannya tak lain dan tak bukan yaitu di teras rumah kami.

"Heh, di mana Rustam? Ada Rustam?" Seorang lelaki yang berusia sangat jauh di bawah usia ayah, bertanya sesaat sampai di rumah kami. Ia tampaknya mencari ayah.

Mendapat perlakuan demikian, tentu saja kami yang saat itu tengah belajar hanya cuek saja. Wajahnya yang sangar sambil mengisap rokok, membuat kami tak simpati padanya. Lagi pula ia bertanya tak sopan.

"Woi tuli. Kalian dengar gak?" Astaga, ia menghardik kami. Ia mungkin kesal setelah lama menunggu jawaban kami.

"Woi tamu terhormat. Bisa gak sopan kepada kami?" Kami serempak menyemprotnya. Kami sama sekali tak takut jika ia menyakiti kami.

Mendengar ucapan demikian, ternyata lelaki itu tak bertindak seperti yang kami pikirkan, yaitu menyakiti dan memaki kami dengan nada keras. Ia hanya diam. Dan sesaat kemudian berlalu sambil mengucapkan nada kekecewaan seperti berbisik.

Huhh..., kami jengkel dan geram sekali dibuatnya. Memang dasar orang-orang tak punya etika! n

Padang, 2011


Lampung Post, Minggu, 29 Mei 2011