Showing posts with label Satmoko Budi Santoso. Show all posts
Showing posts with label Satmoko Budi Santoso. Show all posts

Sunday, September 14, 2014

Lukisan Palsu

Cerpen Satmoko Budi Santoso


SIANG yang mendung, langit redup. Seorang tamu datang ke rumah saya. Ia datang dari Ibu Kota: J. Ia menanyakan apakah tahu orang yang memproduksi lukisan palsu. Ia pun minta diantar ke rumah orang tersebut, jika memang ada. Tentu saja, saya menyanggupi mengantar karena memang saya tahu tempatnya. Kebetulan, saya adalah mantan ketua RT dan rumah-rumah yang satu RT dengan saya, banyak yang dikontrak seniman yang pekerjaannya membuat lukisan. Satu di antaranya saya tahu khusus membuat lukisan-lukisan palsu. Jadi, saya tahu ke mana saya harus mengantar tamu saya itu. Tamu itu tahu rumah saya juga karena kebetulan saja. Katanya, kampung tempat tinggal saya pernah masuk televisi sebagai kampung seniman sehingga ia mengingat baik-baik informasi dari televisi itu.   

Tamu itu sungguh senang bertemu dengan seniman atau orang yang ia maksud.

“Jauh-jauh dari Ibu Kota akhirnya ketemu juga. Terus terang, saya ini orang kaya baru alias OKB. Barusan saja hidup saya sukses. Kini, saya perlu memermak rumah saya dengan lukisan-lukisan. Saya datang ke sini khusus mau membeli lukisan palsu. Saya dengar dari mantan Pak RT ini, Anda membuatnya?”

“Benar, Pak.”

“Syukurlah. Tamu-tamu saya tidak perlu tahu yang asli. Asal ada lukisan dengan nama dan tanda tangan seolah-olah buah tangan maestro lukisan, tamu-tamu saya sudah terkagum-kagum. Saya pun terdongkrak martabatnya. Anda tahu, kan? Ha ha ha…”

“Ha ha ha…”

“Berapa harga per biji? Saya perlu lima sekaligus.”

“Tergantung, Pak. Ada yang tiga juta, lima juta, sepuluh juta, sampai dua puluh juta.”

“Wah, lukisan palsu saja mahal, ya? Saya kira maksimal 2 juta.”

“Lho, kan tergantung seolah-olah karya maestro siapa, ukuran lukisan, dan tingkat kesulitan dalam membuat. Rata-rata setiap lukisan saya perlu modal awal 300 sampai 500-an ribu. Itu untuk membeli bahan pembuatan, pengawetan bahan, pokoknya biaya praproduksilah.”

“Oke. Saya mengerti.”

Kesepakatan harga dan lukisan palsu yang dibeli pun terjadi. Termasuk biaya pengirimannya. Sebagai mantan ketua RT saya melihat dengan mata kepala sendiri semua transaksi itu. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya, di dalam mobil, tamu saya bermaksud memberikan uang fee sebagai ucapan terima kasih karena saya telah membantunya. Saya menolak secara baik-baik. Tamu saya itu sempat heran tapi kemudian memahami pilihan saya.

“Ajak saya makan siang saja, Anda telah menjadi teman saya. Kalau saya menerima uang Anda, tentu bisa tidak ada hubungan pertemanan lagi di antara kita.”

Tamu itu pun mengajak saya makan siang di sebuah restoran sederhana. Kami bicara sekadarnya, bertukar nomer ponsel juga. Ia kemudian mengantar saya pulang setelah semuanya dirasa cukup.
                      
***

TAMU semacam itu adalah tamu yang pertama dalam hidup saya. Pengalaman itu pun saya ceritakan kepada warga kampung, suatu malam di sebuah acara ronda. Ada warga kampung yang menanggapinya santai dan tertawa saja, ada yang lumayan serius.

“Wah, gawat, mantan ketua RT kok jadi makelar lukisan palsu,” ujar salah seorang warga.

“Lho, apa salahnya? Menurutku, itu justru lebih fair, tidak ada bohongnya. Permintaan yang ada disesuaikan dengan produk yang ada. Kalau mengantar orang mau beli lukisan asli ternyata dialamatkan ke pemalsu lukisan, itu baru bohong besar. Tidak fair.

Suaraku sebagai mantan ketua RT ternyata masih cukup berpengaruh. Seorang warga yang tampak mau mendebatku menjadi mengalah. Entah di dalam hati, ia setuju atau tidak dengan pikiranku. Aku pun berterus terang kepada warga bahwa aku memilih tidak menerima fee dan sekadar makan siang saja. Seluruh warga di gardu ronda yang mendengar cerita bahwa aku hanya dapat makan siang saja, tertawa ngakak.

“Benar-benar mantan ketua RT teladan. Kenapa tidak mendaftar jadi anggota KPK?” Seloroh seseorang.
                       
***

SELANG seminggu saya kedatangan tamu dari Ibu Kota itu, datang lagi tamu yang ternyata teman dari tamu terdahulu. Ia juga datang dari Ibu Kota, sama dengan tamu yang pertama. Ia mengontakku setelah punya nomor ponselku. Tentu yang memberi adalah tamu yang pertama. Tamu kedua tersebut kebutuhannya adalah sama, ingin membeli lukisan palsu.

Rutinitas sebagaimana yang kualami dengan tamu yang pertama kembali kujalani. Ia kuantar ke pembuat lukisan palsu. Transaksi terjadi. Sebanyak 3 lukisan palsu deal. Harga dan pengiriman tersepakati. Uniknya, setelah transaksi beres, di mobilnya tamu kedua itu langsung menawariku makan siang. Ia juga menyatakan bahwa aku pasti tidak mau menerima fee. Tentu, saya merespons dan juga saya katakan kepadanya bahwa yang seperti itu sangat baik buat saya. Saya juga katakan kepadanya, pasti ia tahu perihal itu dari tamu yang pertama. Ia mengiyakan.

Restoran sederhana tempatku makan dengan tamu kedua juga sama dengan restoran makanku dengan tamu pertama. Di dalam restoran kami bicara ke sana kemari hingga pertemuan usai dengan sendirinya.
                       
***

MINGGU berikutnya, saya menerima tamu lagi dengan kepentingan yang sama dengan tamu pertama dan kedua saya yang datang dari Ibu Kota. Rupanya, dalam pergaulan antara mereka nama saya sudah menjadi referensi utama sebagai penunjuk jalan dalam membeli lukisan palsu. Hingga tamu-tamu berikutnya yang datang, terhitung sudah satu tahunan dan setiap minggu satu orang. Karena pembicaraan antara mereka pula, tamu-tamu selama satu tahunan itu dengan sendirinya sudah sangat tahu kebiasaan dan kesukaan saya, hanya mengantar, tidak menerima fee, dan cukup makan siang saja.

Atas kenyataan ini, tentu saya dibodoh-bodohin oleh warga kampung di saat ronda tiba. Saya memang selalu menceritakan kepada warga kampung mengenai tamu-tamu saya.

“Wah, sayang sekali, kenapa tidak mau menerima fee? Kalau mau kan selama satu tahunan ini sudah kaya. Dulu waktu jadi ketua RT tidak digaji, giliran sudah mantan kok masih prihatin. Bodoh itu namanya,” kata salah seorang warga yang umurnya jauh lebih tua dari saya sehingga saya maklumi saja ketika ia menganggap saya bodoh. Kalau umurnya lebih muda dari saya, mungkin saya bisa tersinggung jika dianggap bodoh.  

Saya tentu saja hanya tertawa mendengar respons dari warga kampung. Saya tegaskan kepada mereka, meskipun itu bukan merupakan urusan mereka dan jelas terserah keputusan saya, saya akan tetap bertahan dengan cara cuma sebagai pengantar tamu saja. Biarpun si “seniman” pembuat lukisan palsu sudah kaya, banyak karyawan, dan kelak akan terus bertambah kaya, saya tetap akan bertahan cuma sebagai pengantar tamu.

“Tapi, hati-hati, awas nanti kalau tertangkap polisi, ya? Jangan bawa-bawa kampung kita. Pemalsu lukisan kok ya masih disebut-sebut sebagai ‘seniman’!” umpat salah seorang warga.

Entahlah. Minggu-minggu seterusnya saya masih disibukkan dengan kegiatan mengantar tamu pemburu lukisan palsu. Itulah yang bisa saya lakukan di sela pekerjaan serabutan saya lainnya, entah sebagai MC acara-acara tertentu di tingkat antarkampung, entah sebagai petani dan peladang biasa. Sampai kemudian suatu siang saya mendengar kabar, bahwa si “seniman” lukisan palsu itu sudah berpindah kontrakan, tidak lagi sekampung dengan saya. Saya tidak tahu ke mana ia pindah, karena ia juga sama sekali tidak pamit dengan saya. Sejujurnya, saya menganggap tidak apa-apa tidak dipamiti, karena saya benar-benar tidak merasa sebagai apa-apa selama berteman dengannya. Ya, hanya sebagai tetangga satu kampung dan pengantar tamu-tamunya saja. Titik. Saya pahami di dalam diri saya sendiri, ia tidak pamit dengan saya karena saya duga ia tahu bagaimana cara memperlakukan saya, biasa-biasa saja. 

Di gardu ronda ketika giliran ronda saya tiba, saya mendengar informasi dari salah seorang warga bahwa si “seniman” lukisan palsu itu sudah membeli rumah di sebuah perumahan yang berbeda kecamatan dengan kecamatan yang saya tempati. Tapi, tepatnya di perumahan apa, alamatnya di mana, warga itu tidak tahu. Warga yang bilang kepada saya itu adalah warga yang rumahnya dikontrak selama membuat lukisan-lukisan palsu.

Saya menyungging senyum mendengar kabar tersebut. Setelah saya mendengar kabar itu, tangan saya kemudian sibuk membalas sebuah SMS dari seseorang, tamu yang kesekian, yang besok minta diantar untuk membeli lukisan palsu. Ringan saya membalas SMS dari seseorang tersebut, ‘Maaf, saya sangat kecewa tidak bisa membantu Anda, karena orang yang Anda maksud sudah pindah dari kampung saya. Saya tidak tahu ke mana ia pergi. Ia tidak mempunyai masalah apa-apa dengan saya. Mungkin Anda sangat bersedih mendengar kabar saya ini. Saya juga merasa bersedih karena saya tidak lagi dapat membantu dia dan juga Anda. Terima kasih atas perhatian Anda.’ n


Lampung Post, Minggu, 14 September 2014

Sunday, May 12, 2013

Dua Paket Cerita Mini

Cerpen Satmoko Budi Santoso


Cerita Mini Pertama
KALAU ada yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah saya entah pada pagi, siang, sore, atau malam, tentu saja itu bukanlah suatu kejutan. Karena adat orang bertamu memang mengetuk pintu ruang tamu. Yang mengherankan, dalam satu minggu terakhir ini, tiap ada yang mengetuk pintu rumah lantas saya, istri, atau anak membukakan, menengok siapakah yang mengetuk pintu, ternyata tidak ada siapa-siapa. Istri saya adalah orang yang sensitif terhadap peristiwa “kecil” yang mengherankan seperti itu dan akan meraba-raba kemungkinan maksud dan pelakunya.

“Rasanya, kalau dilakukan anak-anak tetangga tidak mungkinlah berturut-turut dalam setiap hari selama seminggu. Lagi pula, waktunya acak. Apakah maksudnya memang meneror, membuat kita tidak nyaman? Tapi, kita kan bukan pengontrak,” demikian analisa istriku suatu hari.

“Ya, ini sudah hari ketujuh dan tadi sore saya masih mendengar suara ketukan itu kemudian saya lihat tidak ada,” imbuh anak tunggal saya yang menginjak bangku SMA.

“Kalau hanya tetangga biasa, kenapa isengnya keterlaluan, ya,” saya ikut menimpali.

Perihal suara ketukan pintu yang misterius di rumah kami memang hanya menjadi agenda perbincangan kami sekeluarga saja. Kami tidak berusaha membawa obrolan tersebut ke orang-orang kampung, misalnya dengan sengaja membicarakan di warung atau gardu ronda. Kami khawatir, peristiwa tersebut akan menjadi perbincangan seru di tingkatan kampung. Tapi, sungguh, saya sendiri sebagai kepala rumah tangga sangat penasaran dengan peristiwa ketukan pintu tersebut. Suara ketukan pintu tersebut cukup keras, di antara saya, istri, dan anak saya yang pernah mendengar secara terpisah, tidak pernah bersamaan, bisa sangat jelas mendengarnya. Tapi, ya begitulah, jika ditengok, tidak ada siapa-siapa.

Sebegitu penasarannya terhadap peristiwa suara ketukan pintu yang misterius tersebut, saya mempunyai inisiatif memasang CCTV.  Karena, kini, sudah menginjak hitungan hari ke 14 suara ketukan pintu misterius tersebut akan muncul dalam waktu yang acak.

***

CCTV telah dipasang di teras rumah. Otomatis jika ada orang yang mengetuk pintu akan kelihatan.  Sembari menunggu jawaban secara logis dengan dipasangnya CCTV di teras rumah, pikiran saya melayang dengan ragam dugaan.

“Apakah karena profesi saya  wartawan sehingga mendapatkan perlakuan teror seperti itu? Apakah karena istri saya bekerja di LSM perlindungan anak sehingga mendapatkan teror seperti itu? Apakah karena anak saya sebulanan lalu ikut demo di sekolahnya menuntut transparansi kebijakan dana BOS sehingga mendapatkan teror semacam itu?” saya bersolilokui, bicara dengan diri sendiri.

Saya cuma bersolilokui tiga hal itu saja. Saya tidak memperpanjang prasangka di dalam diri saya sendiri, karena saya tahu kalau saya panjang-panjangkan justru hanya akan menyiksa diri. Terus terang, saya juga malas dengan kemungkinan memperlebar prasangka dengan menganggap ada hal gaib yang berkaitan dengan suara ketukan pintu yang misterius itu. Wah, jika prasangka saya sampai pada hal yang gaib, berarti saya telah memperlebar prasangka terhadap setan. Makin tidak jelas saja arahnya. Maka, logika yang paling masuk akal untuk membuktikan kemungkinan prasangka apa pun adalah dengan memasang CCTV itu.

Aneh, setelah CCTV dipasang memang tidak ada lagi suara ketukan yang misterius. Kalau pun ada suara ketukan, kami tengok orang yang mengetuk memang ingin bertamu. Ketukan misterius yang jika kami tengok tidak ada orangnya tidak ada lagi. Yang menjadi puncak keanehan, yang tahu bahwa ada CCTV hanya saya, anak saya, dan istri saya. Jadi, siapakah yang sesungguhnya melakukan? Kami bertiga saling memandang mata secara bergantian dengan maksud saling menuduh...
               

Cerita Mini Kedua

BAYI itu menangis. Panjang. Pasti, tangis bayi itu menjadi bernilai aneh. Apalagi, suara tangisnya seperti tangis yang menakutkan, bukan tangisan haus atau karena gerah.

Nung, ibu bayi, pada mulanya kalut jika mendengar anaknya menangis. Nung kerap menghubung-hubungkan keberadaan kuburan yang berada tepat di samping kanan rumah kontrakannya.

“Mungkin anak pertama kita kesambet,” ucapnya berbisik, suatu kesempatan, kepada suaminya. Budya, suami Nung, melengos. Terus merokok.
Jika bayi itu menangis, memang ada satu-dua-tiga atau empat orang tetangga yang peduli, datang untuk sekadar menengok, menanyakan kenapa sampai menangis.

“Sudah disusui?” begitu biasanya para tetangga bertanya. Nung mengangguk sembari melirik anaknya. Bayi itu hanya memandang, tatapan matanya kosong, maklum matanya belumlah awas.

“Nggak apa-apa, barangkali saja ia melihat dan ingin bercanda dengan malaikat yang menjaganya,” begitulah Nung pada akhirnya menghibur diri dengan menelan ujaran orang-orang kampung jika kembali mendengar bayi itu menangis, terlebih pada malam hari.

Ya, Nung telah akrab dengan tangis anaknya. Nung pun semakin akrab dengan rumah yang ditempatinya, yang pada waktu-waktu tertentu bisa menyengatkan bau kemenyan, karena kuburan di sebelah rumahnya diziarahi.

“Santai saja, setiap orang bakalan merasa karib dengan yang sebelumnya tak dibayangkan, tak dirancang dalam angan,” cetus Budya, sengaja melontarkan kalimat yang sekiranya tak menambah gundah istri tersayang.
Bagi Budya, tangis bayi seperti apa pun tak berpengaruh apa-apa, bukan merupakan isyarat bakalan tiba malapetaka.

***

KINI bayi itu berumur lebih dari tiga puluh lima hari. Suara tangisnya tetap sama. Bagi Budya, hal itu malah bernilai keberuntungan. Bukti bahwa malapetaka tak sudi mampir.

“Ngomong-ngomong atas jenis suara tangis bayi, apakah suara tangis anak kita selama ini justru karena ia tak diadzani sewaktu lahir, ya?” cetus Nung.

“Hus…. Nggak usah dikait-kaitkanlah.”

“Lho, mungkin saja.”

“Kalau semuanya bisa mungkin, dengan tak diadzaninya anak kita sewaktu lahir, apa kamu percaya bahwa ia dijaga malaikat, seperti yang dibilang orang-orang kampung?”

Nung kelu. Tercekat kaku.

“Apakah masih ada malaikat yang mau menjaganya?”

Nung melotot. Budya mengepulkan asap rokok.

Ya, bayi itu memang selalu menangis, entah pagi-siang-sore atau malam hari. Nung perlahan-lahan mulai merasakan kecemasan dengan tangis anaknya. Mereka juga sama sekali belum tahu apa sesungguhnya makna tangis anaknya yang lebih dari sekadar haus atau lapar. Hidup berjalan, hari berganti. Seperti petuah sederet sajak milik “si burung merak” WS Rendra: …. Bencana dan keberuntungan sama saja/ Langit di luar langit di badan/ Bersatu dalam jiwa….

***

PAGI-PAGI, seperti biasa, Nung maupun Budya keramas. Udara pagi masih setia seperti pagi-pagi yang silam, tak ada desir angin yang dirasakan berbeda. Begitu pula pas siang hari menohok, bagai siang-siang yang lewat, tetaplah gerah tak tertawar. Baru ketika sore hari, pas anak semata wayang mereka tertidur, mereka duduk santai di beranda rumah. Menyeruput teh, memandang kelengangan jalan kampung, seluas mata sebatas jarak, masih mereka lihat sawah pepadian kemuning menghampar, menyulut asa mata bajak para petani.

“Kapan kita menikah?” Nung sontak bertanya. Tiba-tiba.

“Kapan-kapanlah. Kenapa berubah pikiran? Karena punya anak?” jawab Budya sekadarnya.

“Aku ingin hidup kita diberkahi Tuhan. Lurus-lurus saja.”

Anak mereka kembali menangis. Rupa-rupanya bukan berarti malapetaka, bukan isyarat kutukan. Namun, Nung bersikeras untuk tetap menikah. Nung merasakan, ada aura lain di dalam rumah seandainya mereka tak menikah. Kalau anaknya memandang langit-langit rumah sehabis menangis, sorot matanya seperti gamang, ragu, padahal -- lagi-lagi kata orang -- anaknya bisa saja ditemani bahkan dijaga malaikat.

Nung mendadak yakin, untuk mengusir kegamangan sorot mata anaknya, ia harus menikah. Nung berubah mempercayai dugaannya, selama ini anaknya tak ditemani malaikat. Nung bersiteguh, tak ada malaikat yang pernah memasuki rumahnya, setiap malaikat pastilah jengah menemani anaknya.

“Kapan kita menikah?” Nung mengulang pertanyaan yang sama ketika Maghrib menjelang, dengan intonasi yang amat tegas.

Budya mematikan rokok. Sebuah jawaban yang sangat berarti sebentar lagi akan keluar dari mulutnya. n

Catatan:
Istilah cerita mini dipopulerkan oleh sastrawan Agus Noor.


Lampung Post, Minggu, 12 Mei 2013