Showing posts with label Tandi Skober. Show all posts
Showing posts with label Tandi Skober. Show all posts

Sunday, September 29, 2013

Jangan Biarkan Bulan Tenggelam

Cerpen Tandi Skober


BERMULA dari iseng chatting internet, Aini (17) dan Dading (17) bersua kreatif, akrab, dan nyeleneh. Meski masih SMU, Aini mengaku mahasiswi pascasarjana (S2), sementara Dading yang juga masih SMU berpura-pura sebagai eksekutif muda yang baru saja menggondol gelar magister dari sebuah univeritas negeri.

Kebohongan identitas itu berlanjut hingga saling berkirim SMS  yang sesekali saling bertukar misscall. Bahkan saling menyapa “say hello” melalui radio FM. Untuk meyakinkan true lies itu Aini kerap meminta tolong Asih (27)—mahasiswi pascasarjana—setiap kontak SMS dengan Dading. Demikian juga Dading, agar bisa diyakini bahwa dirinya adalah sosok eksekutif muda bergelar doktor, selalu meminta agar Kana (30)—eksekutif muda—mengajari teks-teks berwacana intelektual. Tak aneh apabila, pada posisi tertentu pada akhirnya interaktif SMS itu dilakukan antara Asih dan Kana.

Waktu bergulir. Interaktif SMS yang semula bernada biasa-biasa saja menjadi ajang curhat. Saat akhir pekan, misalnya, Aini dan Dadang saling meluncurkan imajinasi-imajinasi seperti layaknya remaja sedang “falling in love”. Pada malam-malam tertentu kadang ada pertengkaran SMS meski selalu berakhir untuk saling merindu.

Hingga pada titik didih kasmaran tertentu, ada hasrat yang tak cuma sekadar bertukar SMS, yang cuma memiliki mimpi dan bayang-bayang dalam kemasan imajinasi aneh, keduanya—Aini dan Dadang—bersepakat bersua sosok di sebuah kafe, Sabtu, pukul 20.00.

Di sini timbul masalah. Aini ragu. Saat temu perdana nanti, ia harus berbuat apa untuk meyakinkan Dadang bahwa dirinya bukan anak SMU, tapi seorang mahasiswi pascasarjana. Demikian juga Dadang, ia cari akal untuk meyakinkan bahwa dirinya bukan anak SMU, melainkan sosok eksekutif muda energik dan mapan.

Tak pelak, baik Aini maupun Dadang mencoba mencari trik-trik tertentu, putar otak. Terus? Apa boleh buat, lagi-lagi,  untuk penampilan dan sang keyakinan itu, dua remaja itu meminta bantuan pada seniornya.
Aini, misalnya, didandani Asih. Remaja berusia 17 tahun itu diubahsuai menjadi wanita matang berusia 27. Dan Dadang dipoles Kana agar berpenampilan lebih dewasa seolah-olah berusia 30 tahun.

Aini untuk pertama kalinya mengenakan gaun malam dengan belahan dada sedikit terbuka, rambut ditata terurai dan memakai lipstik. Di depan cermin Asih tersenyum, terkagum-kagum memandangi Aini, “Kamu tidak lagi cewek SMU, Aini! Kamu benar-benar seperti bidadari cantik cerdas dan aku yakin Dadang yang eksekutif muda akan terpesona memandang kamu.”

Akan halnya Dadang berkemaja lengan panjang formal, rambut disisir rapi lurus berminyak licin. Tentu, Dadang mengenakan kacamata. Dan satu lagi, Kanu memberikan kunci mobil pribadi kepada Dadang. "Aku pinjami kamu mobil. Ini agar kamu diyakini Aini sebagai eksekutif muda! Kamu harus calm dan confident! Tatap mata Aini dengan sinar mata lembut tepat di antara dua matanya. Oke?” Dadang mengangguk.

Bersuakah mereka? Ternyata, tidak. Baik Dadang maupun Aini cuma berdiri kebingungan di depan pelataran kafe. Ada keraguan dan debaran jantung yang aneh yang membuat keduanya tidak percaya diri. Terus? Keduanya, secara bersamaan, tepat pukul 20.00, dari pelataran parkir kafe saling mengirim SMS “Sorry, aku nervous. Ragu. Sebaiknya temu kita dibatalkan!”

Hasrat untuk bersua sosok yang selalu berakhir aneh dan urung itu, berlangsung beberapa kali. Hingga sekali tempo Tuhan mempertemukan mereka melalui lomba baca puisi. Aini dari SMU 1 diutus sekolahnya untuk mengikuti lomba baca puisi. Demikian juga Dadang menjadi wakil SMU 2 untuk ikut berpartisipasi mengikuti lomba baca puisi.

Saat lomba berlangsung dan menunggu giliran manggung, Aini dan Dadang duduk berdampingan. Dan tentu saja, tidak saling kenal. Tapi saat saling bertatapan, baik Aini maupun Dadang merasakan getar-getar halus yang merambati jiwanya, agak aneh tapi nyaman. Dan keduanya saling tersenyum.

Aini tampilkan puisi—meski karya Asih—tapi diakui sebagai karya pribadinya Air Mata Mengalir di Jarimu. Sedangkan Dadang tampilkan karya Kana yang  juga diakui sebagai karya dirinya berjudul Jangan Biarkan Bulan Tenggelam.

Tentu saja, puisi dua remaja itu—yang pada hakikatnya ditulis remaja dewasa itu—menjadi puisi terbaik yang memukau para dewan juri. “Puisi kontemplasi yang berlari jauh melampaui batas usia remaja tujuh belasan,” komentar ketua dewan juri.

Hingga pada hari “H” final lomba, keduanya duduk berdampingan  menanti pengumuman dewan juri. Aini harap-harap cemas. Dadang  berkeringat dingin. Seperti biasa, bila begini Aini mengirim SMS untuk Dadang. Demikian Dadang, ia agak gemetar memijiti HP kirim SMS ke Aini. Dan? Secara bersamaan HP Aini dan  Dadang berbunyi tiitttttt! Keduanya saling tukar pandang. Aneh! Sama-sama menerima SMS. Dan lebih aneh lagi ketika kedua remaja itu dinyatakan sebagai juara bersama dalam lomba puisi.

Aini dan Dadang saling angkat toast HP tanda sukses. Dan keduanya memijiti nomor miss call.  HP sama-sama berdering. Hingga? Agak ragu Aini dan Dadang mengucapkan halo melalui HP masing-masing. Terus? Mereka berpandangan. Dua pasang bola mata berpijaran.

“Kamu?” sapa Dadang dan Aini refleks.

Di posisi inilah, keduanya sadar bahwa keduanya sebenarnya telah lama akrab. Mereka dipertemukan Tuhan lewat jalur lomba baca puisi. Mereka tertawa tak sadar saling berpelukan, melepas rindu yang selama ini cuma ada dalam imajinasi aneh yang selalu memasuki ruang malamnya.

Bermula dari chatting berakhir di arena puisi, cinta remaja itu bergulir linier dan indah. Dan mengalir hingga jauh. Hingga ada keyakinan yang sulit ditepis bahwa keduanya bagaikan sekotak cokelat manis tidak tahu mana manisan gula dan mana pula cokelat! Manunggal!

Hingga, sekali tempo, selintas angin menjadi badai di tepian cinta remaja itu. Sekelompok seniman senior menghujat puisi dua remaja itu.

“Pasti ini bukan karya Aini maupun Dadang! Ini kebohongan publik!” ungkap Afrizal, seorang  penyair yang kerap nongkrong di Taman Budaya,

“Ini puisi plagiat! Saatnya kita adili dua remaja itu!”

Tentu saja, hujatan itu kabar buruk bagi Aini dan Dadang. Di sekolah, keduanya dilecehkan di majalah dinding. Karikatural Aini dan Dadang terpampang di majalah dinding ditimpali teks “Bohong!” Sementara di tabloid remaja hujatan agar Aini dan Dadang diadili lewat peradilan puisi terus-menerus mengalir. Lantas Aini dan Dadang? Cuek-cuek saja. Bahkan mereka bersedia diadili para pakar puisi di republik ini.

Peradilan puisi pun digelar di sebuah ruang disponsori sebuah tabloid remaja. Aini dan Dadang duduk berdampingan menghadapi para pakar puisi yang diketuai Afrizal. Suasana ramai hiruk pikuk dipadati para kawula muda. Dan Tuhan berpihak kepada jalinan kasih sayang yang steril. Ada lintasan-lintasan imajinatif keluar dari bibir dua remaja itu dalam bentuk teks-teks kalimat amat puitis, filosofis, dan mengalir begitu bagus.

Ini membuat Afrizal dan audiens terpukau. Bahkan amat terkagum-kagum manakala Aini dan Dadang secara spontas bisa menciptakan puisi yang rumit dan menyentak kalbu. “Luar biasa!” ucap Afrizal seraya berdiri memberi aplause. Tak cuma Afrizal para remaja di ruang peradilan pun bertepuk tangan.

Afrizal melangkah mendekati kedua remaja itu, memeluk Aini dan Dadang. ”Hands have no tears to flow,” ucap Afrizal. ”Kalian adalah sepasang pengantin puisi di republik yang kering yang tidak memiliki jejak-jejak sajak memukau.”

***

Hmm, sinopsis FTV karyaku itu langsung saya kirim via e-mail ke produser sinema. “Ini cerita paling ok, loh,” tulis saya  mengantar sinopsis via e-mail ke produser X, ”Andai berminat, kirim dong honorarium.“

Hmm, sinopsis yang ditulis di Semarang, Wednesday, June 12, 2002 1:15:32 PM itu, sampai sekarang Tuesday, September 13, 2013 1:00:51 AM, tidak pernah berbalas honor. Apa boleh buat saya kirim ke Lampung Post dengan pengantar surat: ”Dikmas Udo Z. Karzi, buah duren buah kedondong, ini cerpen muat dong..”

Bandung, 3 September 2013


Lampung Post, Minggu, 29 September 2013





Sunday, April 7, 2013

Ampun, Njaluk Urip

Cerpen Tandi Skober


SEKOBER, Indramayu, Oktober 1965. Bulan sabit memanjat langit. Tak jua Mardi menutup mata. Bocah bersarung motip penganjang itu gelisah di atas amben. Sejak magrib, tak satupun lampu sentir dinyalakan. Tentara ada di mana-mana. Ketakutan bertebaran. Wong Sekober lebih banyak masuk kandang, membuka telinga lebar-lebar.

Memang, beberapa bulan terakhir susah sekali mencari minyak tanah. Dua hingga tiga kali, Mardi pernah ikut antri membeli minyak tanah di alun-alun depan pendopo kabupaten. Sambil memegangi karcis minyak tanah, Mardi melihat ayahnya membersihkan drum band di alun-alun kabupaten. Itu drum band milik Babah Krupuk. Itu pula yang membuat ayahnya kelak membawa pulang beberapa kilogram beras bulgur, gula, kopi dan teh.

“Babah Krupuk itu seperti malaikat penyelamat penderita ya ayah?”tanya Mardi.

“Wah ya memang begitu,” ucap ayahnya bernama Cacam seraya mengisap rokok klepas-klepus, “Babah itu kaya. Kaya raya.”

“Seperti lagu Indonesia Raya ya ayah?”

“Bisa dibilang begitu itu. Sewaktu kamu disunat, Babah Krupuk nyumbang uang untuk nanggap wayang klitik.”

Hmm, Mardi tersenyum. Ia ingat, usai dikhitan, dituntun ayahnya menuju rumah Babah Krupuk. Ia berjalan tertatih-tatih sambil membawa sapu. Kata emaknya, selama kemaluannya masih belum sembuh dilarang melangkahi cabe, lidi, bawang atau paku. Itu agar luka khitanan cepet sembuh. Makanya sambil jalan ngegang Mardi menyapu terlebih dahulu jalan yang akan dilewatinya. Kemaluan Mardi yang diperban itu disanggah dengan batok kelapa yang masih bersabut. Itu perlu. Bila tidak maka kemaluannya yang diperban itu akan nempel di paha. Bila sudah begitu, maka rasa sakitnya jadi nyut-nyutan.

Ternyata Babah Krupuk tidak mau menerima tamu. “Jangan sekarang, Mang. Ada tamu hebat. Tamu politik. Politik hebat,” sergah centeng itu.

“Aku hanya mau mengucapkan terima kasih. Berkat Babah Krupuk anakku bisa disunat.”

“Ya sudah. Nanti tak kasih tahu sama Babah Krupuk.”

“Tapi babah pernah janji mau kasih kopiah dan sarung untuk Mardi,” kembali Cacam berkata.

Matanya merayapi ruang kantor Babah Krupuk yang luas itu. Ia melihat asbak dipenuhi puntungan rokok. Ia juga saksikan Babah Krupuk terlihat terlibat pembicaraan serius dengan orang-orang politik Jakarta itu. Cacam tahu orang politik Jakartaan itu orang-orang penting. Kenapa? Mobil Jeep yang diparkir di halaman rumah Babah Krupuk sangat mengkilap.

Demikian juga, Mardi. Dilihatnya kipas angin di atas ruangan kantor berputar pelan. Tampak Babah Krupuk berdiri menuju papan tulis. Terlihat kesal. Tapi ditulisnya banyak huruf China yang tidak dimengerti Mardi. Tapi Mardi lebih suka melihat apa yang terhidang di meja tamu. Kenapa? Di atas meja makan terhidang dodol Kweh Ci Ho. Itu dodol mahal. Hanya orang-orang penting dan kaya raya saja yang diberi hidangan  dodol Kweh Ci Ho. Sekali tempo, bertepatan dengan Hari Raya China, Mardi pernah merasakan secuil dodol Kweh Ci Ho. “Wahhh, enaknya ngga ketulungan. Edan tenan! Enak tenan,” ucap Mardi saat itu sambil menjilati sisa dodol di jemarinya.

Tapi itulah, itu! Malam ini, ada banyak pertanyaan berseliweran di kepala Mardi.  Kenapa babah Krupuk jadi mayat. Kenapa  mayat Babah Krupuk itu tersangkut di besi kaki jembatan welanda. Kenapa babah yang punya mesin diesel listrik itu, mayatnya hanya bercahayakan rembulan kuning yang bergerak memanjat langit. Kenapa kepala Babah Krupuk itu nyaris putus, padahal punya banyak centeng dan pengawal. Ke manapun Babah pergi dipastikan selalu dikawal  dua hingga lima centeng. Mardi juga tidak mengeri, kenapa kematian Babah Krupuk nyaris seperti kematian seekor ayam. Padahal dia itu baik sekali. Semua anak-anak Sekober yang dikhitan pasti disumbang Babah berupa panggang bekakak ayam.

“Ndak usah dipikirkan. Sudah kamu cepat tidur. Besok kamu ndak usah main-main di sungai lagi. Jaman lagi mangmung,” ucap kakek Mardi bernama Wanda.

Jaman mangmung? Ini juga hal yang tidak dimengerti Mardi. Juga sulit dicerna otak Mardi, ketika ayahnya saling berbisik dengan kakeknya.

“Tidak mungkin mayat itu dibiarkan begitu saja. Harus dikubur.”bisik Cacam, “Saya sudah membuat lubang kuburan di pemakaman Sindang.”

“Kamu tidak takut tentara?” tanya Kek Wanda,” Bisa saja mereka mengira kamu ini baperki simpatisan pki.”

Cacam diam.

“Sudah aku bilang jangan ikut-ikutan politik drum band Babah Krupuk. Lah malah kamu koq paling suka main drum band. Lah, malah kamu mau kuburkan mayat Babah Krupuk.”

“Babah Krupuk itu baik.”

“Siapa bilang Babah Krupuk itu buruk?”

“Hal itulah yang membuat Babah Krupuk akan aku kubur di tempat yang baik. Manusia mati yah di dalam tanah bukan nyangkut di atas jembatan Welanda.”

Kek Wanda diam. Melalui kisi-kisi jendela ia melihat bulan sabit memanjat langit. Tapi pada detik yang ke sekian, Kek Wanda terkesiap. Ia melihat cahaya bulan sabit itu berwarna merah. Asap putih mengepul diiringi histeria amarah yang muncrat-mucrat. Mereka membawa golok, pedang, pisau dan menyeret pria berdarah-darah dengan tali tambang. Tidak jelas apakah pria berkalung tambang itu sudah tewas atau belum. Yang jelas, amarah massa itu kini bergerak mendekati rumah Kek Wanda. Yang lebih jelas lagi, ada banyak tentara mengikuti gerakan massa itu.
Kek Wanda sadar! Massa itu mencari ayah Mardi bernama Cacam. Massa itu akan mengikat Cacam dengan tali tambang dan menyeretnya hingga ke tanggul sungai Cimanuk. Usai itu, nasib anaknya tidak mustahil bernasib sama dengan Babah Krupuk. Satu ayunan pedang akan  memenggal kepala Cacam.

Kek Wanda pucat.

Tubuh Cacam gemetar. Keringat dingin mengucur. Demam. Dan? Perut Cacam melilit-lilit menahan ketakutan yang tidak bisa ia taklukan. Massa beraroma asap obor terus bergerak mengepung rumah Kek Wanda. Memang rumah Kek Wanda sudah terkepung.

Dari kisi jendela Mardi melihat semua itu. Ia saksikan ayahnya diseret keluar. Ia lihat rambut ayahnya dijambak. Ia lihat ayahnya duduk ngelemprak menghadapi kerumuman massa. Ia dengar ratapan ayahnya, “Ampun njaluk urip. Aku sudah sunat. Aku Islam. Aku bukan pki.”

Tapi? Ratapan itu tertelan hingar bingar histeria amarah massa. Mardi memejamkan mata saat  ayahnya diikat, diseret, dipukuli! Tapi Mardi tidak bisa menutup telinganya. Ia dengar ratapan sang ayah yang terus menerus, terus-terusan, makin lama, makin jauh “Ampun njaluk urip. Aku sudah sunat. Aku Islam. Aku bukan pki.”

Bandung, Wednesday, March 27, 2013


Lampung Post, Minggu, 7 April 2013

Sunday, August 26, 2012

Tuhan, Aku Gelas Kosong

Cerpen Tandi Skober


DIKMAS Redaktur Cerpen yang saya sayangi, judul cerpen ini saya petik dari status pisbuk Miranda Risang Ayu Palar. Maklum, saya ini yang mana fan berat Miranda sejak dianya menulis esais resonasi di koran X terbitan Jakarta. Kagumku itu bertambah-tambah manakala Miranda naik pangkat ke strata tertinggi kepenulisan yaitu menjadi sang penyair.

Hal lain, yang juga menginspirasi cerpen ini adalah baliho 2 m x 5 m  bergambar Ahmad Heryawan yang terletak di pengkolan jalan utama kompleks Bumi Panyileukan Bandung. Selama Ramadan 1433 H, gambar itu telah menjadi pelipur lapar puasa saya. Tiap kali haus menggerus, perut gemeruput, langsung saya duduk di bawah baliho itu. Tanganku membuka, wajahku tengadah ke ruang langit tak berbatas. Terus dalam desir angin keriting kering kerontang, saya bicara, "Tuhan, aku gelas kosong."

Miranda tentu beda dengan Heryawan, "Beliau itu gubernur Jabar," ucap sahabat saya.

"Loh, kok bisa jadi gubernur?"

"Hmm, bisa jadi disebabkan Heryawan lahir 19-6-1966," balas Somari, "Kan ada angkatan enam-enam yang menjadi angkutan politik. Ada banyak cerita di pusaran angkatan enam-enam yang terposisikan sebagai wali kota atau gubernur. Hal lain, persis seperti main domino. Yang memiliki kartu balak enam, pastilah bisa menjadi pemenang."

Tuturan Somari saya terima sebagai hal yang patut dihormati dan diapresiasi. Kenapa? Somari itu hobi banget iktikaf di masjid Al Ukhuwwah Panyileukan dan membacakan ayat-ayat suci Alquran. Mengingat saya ini ditakdirkan menjadi gelas kosong, mohon maklum bila saya selalu duduk di samping Somari, memejamkan mata menikmati aliran jernih suaranya. Terus terang, suara lembut Somari selalu membuat saya ketiduran dan baru terjaga njelenggenek bangun ketika ia menepuk kopiahku seraya berkata, "Punya rokok garpit?"

Hmm, tentu itu sudah saya sediakan. Ini membuat Somari senang, "Sebaik-baiknya pengarang adalah sebagian honorarium karangan itu dibelikan sebungkus-dua bungkus rokok," ucapnya sambil klepas-klepus merokok di teras masjid. Fatwa Somari Itu saya amalkan.

Yang tidak saya setujui (baca belum saya mengerti) adalah fatwa dilarang melamun di bawah baliho Heryawan. "Sebaik-baiknya gambar di dalam kalbu adalah lukisan niat amalkan apa yang diperintahkan Gusti Allah dan apa yang dikerjakan Kanjeng Nabi Muhammad saw.," tuturnya sesaat jelang iktikaf di pertengahan Ramadan 1433H. "Sebagai penulis lansia yang sudah bau tanah, sebaiknya mengubur semua gambar dunia."

Hmm, saya mantuk-mantuk. Somari bersandar di dinding teras masjid. "Gambar dunia itu sebagus apa pun yang mana merupakan perilaku tingalira. Perilaku yang memuja harta, kursi dan gua garba kekuasaan. Tinemu wong awing uwung ngantuk anemu kethuk. Malenuk samargi-margi. Marmane  bungah kang nemu. Marga  jroning kethuk  isi. Kencana sesotya ...byor."

"Artinya, Stadz?"

"Akan ditemukan manusia kosong yang melangkah dalam keadaan tak sadar di jalan-jalan labirin. Lantas mereka menemukan kethuk (gong kecil). Sesaat semringah. Padahal isi kethuk itu cuma emas dan kencana. Itu kan dolanan dunia belaka."

Akan tetapi, entah kenapa ujaran Somari itu lagi-lagi tidak bisa saya mengerti. Bahkan, saat Ramadan 1433 H memasuki sepuluh hari terakhir, dipastikan saya suka ngabuburit di bawah baliho balak enam itu. Saat sirine meraung-raung tanda buka puasa tiba, langsung saya makan sebiji kurma dan seteguk air mineral seraya memandangi mata berkacamata Heryawan.

Yang ajib, tindak-tanduk tandi ini ternyata diperhatikan artis Ria Irawan. Tidak jelas kenapa Ria Irawan pun mengikuti jejak pikir saya. Jelang buka puasa ia duduk ngelemprak di bawah baliho balak enam membawa sebiji kurma dan segelas air mineral. Bukan cuma membawa seonggok badan sendiri, juga ditemani anak, suami, tetangga bahkan keponakan  Irawan dari Medan bernama Fasya pun ikut nimbrung ngabuburit di bawah baliho Heryawan.

Kok bisa jadi begini sech? Hmm, ternyata ini baru saya mengerti, saat Ria Irawan berdiri berlatar belakang Baliho dan berkata di depan mic, "Saudara-saudara sekalian di Bumi Panyileukan. Ini ada berita utama yang patut diberi tepuk tangan."

Saya lihat tangan saya. Saya siapkan tepuk tangan.

"Seperti kita ketahui bersama, bahwasanya radio PRFM (29-7) saat wawacarai redaktur surat kabar terbitan Ceribon, Dudung, yang mana diberitakan hal mana Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mampu memegang tiga pusaka Keraton Kasepuhan Ceribon. Terus terang, ini baru kali ini ada yang mampu menyentuh tiga benda pusaka itu. Ajaib! Padahal tidak ada satu presidenpun di dunia ini yang mampu melakukan hal itu," tutur Ria Irawan." Maka mari kita tepuk tangan.

Saya langsung berdiri tepuk tangan seraya memandangi gambar Heryawan. "Jadi, beliau itu terlahir tidak hanya untuk jadi gubernur, juga layak jadi presiden Indonesia."

Saya tepuk tangan.

"Tidak hanya presiden Indonesia, juga presiden Perserikatan Bangsa-Bangsa."

Saya tepuk tangan sekitar tujuh detik pada detik ke delapan mendadak tangan saya dipegang Somari. "Tangan diciptakan bukan untuk tepuk tangan, wahai cerpenis lansia Tandi Skober," ucap Somari. "Tapi untuk dibuka berdoa, berzikir dan meluruskan telunjuk saat duduk tasyahdu saalat. Telunjuk yang diarahkan ke kiblat sebagai konsistensi riligi terhadap keesaan Allah swt. dan pengakuan Muhammad saw. sebagai rasul. Akan tetapi, ketika kamu tepuk tangan dan diarahkan ke media baliho, wahai penuis lansia Tandi Skober, yang terjadilah adalah peri laku perih luka kultural yang mematut diri menjadi master of the power game."

Lagi-lagi saya melihat kedua telapak tangan saya.

"Andai saya ada di Ceribon, tentu para pemimpi(n) itu akan saya bawa ke hutan bukit Plangon," sambung Somari lagi, "Itung-itung ziarah sejarah menengok puluhan anak haram kultural yang memuja gua garba kekuasaan. Maklum, dalam jaringan pikir masyarakat pesisir utara Jawabarat, kera Kalijaga Plangon adalah cermin peradaban tanpa jenis kelamin sekaligus telunjuk arief ke arah mana mimpi diarahkan. Manusia Cerbon memosisikan wisata metafisika Plangon ini sebagai langkah primordial dalam menapaki jalan iluminasi tak terbatas."

Sesaat saya terdiam. Somari menepuk bahuku, menuntunku ke teras masjid. Ia perbaiki letak kopiahku. "Gambar baliho itu tidak memakek kopiah kan?" tanya Somari.

Saya mengangguk.

"Camkan wahai Tandi, kepala kita juga mirip sebentuk gelas. Agar tidak dikencingi jin setan merkayangan maka perlu pakek kopiah. Maklum, sebagai makhluk yang hinggap di sebutir pasir, manusia diyakini memiliki potensi Ilahiah."

"Loh,  apa hubungannya kopiah, gelas kosong dan kunyuk ical Plangon?"

"Monyet Plangon juga tidak berkopiah. Tapi abaikan itu. Yang perlu dijelaskan bahwa kunyuk Plangon tak hanya berhenti sebatas seonggok tubuh. Baginya, tubuh lebih dari sekadar tanda yang memikul identitas administratif dan demografis. Tubuh menyimpan rahasia tentang dunia makna yang jauh dan tak terjamah, dunia transendental," ujar Somari, "Itulah esensi gua garba kekuasaan. Maka cobalah sekali-kali kamu mampir ke bukit Plangon."

Saran Somari saya amalkan. Usai salat Idulfitri 1433 H saya mudik ke Ceribon naik montor. Tak lupa saya mampir ke perbukitan Plangon. Maka benar kata Somari, ternyata warga Ceribon tiap kali melewati bukit Plangon di mana di sini ada kunyuk ucul clingak-clinguk tinemu ical, selalu membaca Surah An-Nas. "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan  manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia. Dari  jin dan manusia."

Redaktur Cerpen yang saya sayangi, sampai di sini saja yah ceritaku ini. Maafin saya kalau ada kata-kata yang salah. Maklum saya ini cuma gelas kosong...

Rabu, 23 Agustus 2012


Lampung Post, Minggu, 26 Agustus 2012

Sunday, April 8, 2012

Bulan Bulat

Cerpen Tandi Skober


DIPERMAKLUM dengan hormat bahwa saya ini orang terhormat, terpandang dan terdengar. Kehormatanku ini disebabkan saya memiliki kemaluan—abstraksi dari /malu/ diberi awal /ke/ dan akhiran /an/—yang mana amat sangat luar biasa. Menjadi tanda citra yang kerap dijadikan cerita penduduk negeri. Bahkan seorang penyair istana tak segan mengulum kemaluanku untuk lahirkan syair bersperma tanah air:

Kaki ketiak kehilangan sayap sayap angin

dan tandi mencat langit,

buaya biru berburu bulan bulat.


Saya tepuk tangan. Penyair itu saya kasih proyek Wisma Kemaluan senilai Rp100 miliar. Sementara sang esais yang mengangkut angka-angka matrik sebagai pertanda Tandi itu piawai hamengku Indonesia langsung saya kasih kursi putar berselaput emas monas, bergerigi gigitan cinta ratu kecantikan. Hmm, sang esais menangis terharu di ujung batang kemaluanku. Terus? Ia bertutur di media televisi, "Kelak, Tandi layak menjadi Sekjen PBB. Sebab dari tiap butir keringatnya mengalir kecerdasan budaya Nusantara."

Itulah saya! Selama delapan tahun, kemaluanku menjadi bulan-bulan bulat kemaluan Indonesia. Tapi, ini jadi aneh. Ada isyarat langitan mencuat dari meja marmer di ruang Istana saat penandatanganan naskah berita acara pelantikan pejabat negeri. Marmer dari abad ke-16 itu pecah! Saya terkesiap kamitenggeng.  Kemaluanku mengeret dan ritual kenegaraan berjalan tak elok.

Adakah ini sinyal kewibawaan negara terpuruk di ruang tak berbentuk. Tidak! Ini hanya ilusi. Tapi oh tidak, ini bukan ilusi. Saya lari ke kloset. Telanjang! Astaga, kemaluanku bagai seekor cacing yang melingkari hutan hantu negarabatin. Sementara kaki angin dari kisi-kisi jendela kabarkan suara purba yang pedih, "Yen wis tibo titiwancine, niki sing disebat nagari pager doyong apa jare gebrage bae." Pada titik tertentu, ketika pilar rapuh maka yang tersisa adalah negara gagal.

"Nagari Pager Doyong itu bernama Indonesia, Yang Mulia,” ungkap esais berwajah cakep bernama Skober, ”Dengan indeks kumulatif 83,1 yang diposisikan Majalah Foreign Policy dan Yayasan Fund for Peace maka nagarabatin yang mulia layak disebut sebagai negara gagal (failed states)."

"Bah! Pukimak kamu Skober!"

"Yang mulia, ini ditandai dengan adanya banyak hal tentang luka kultural yang diciptakan para penguasa bergincu culas," kembali Skober bersuara risau, "Suara bruk saat marmer pecah itu isyaratkan suara risau yang tuturkan tentang ilalang kering. Ketika kemarau tiba, dengan sedikit percikan api, Indonesia hanya tinggal  asap, abu, dan debu di ruang peradaban tanpa jenis kelamin. Simak di sudut-sudut ruang yang muram selalu saja ada amarah yang tumbuh dari akar perseteruan antarelite (factionalized elites). Yang malang, tiap kali ada perseteruan antarelite, maka yang terkalahkan selalu saja anak-anak akar rumput. Rakyat tiarap, megap-megap!"

Dada saya terasa sesak. Saya panggil Mak Erot! Saya tahu semua akan kembali menjadi normal saat kemaluanku berereksi bagai naga raksasa yang memutari Nusantara. Telanjangku di atas brandkar di bawah cahaya matahari membuat Mak Erot meyakini semua akan kembali pulih. “Kemaluan yang mulia akan saya kembalikan pada kemuliaan sang kemaluan,” ucap Mak Erot.

Hmm, saya tersenyum. Bulan bulat kemaluan menapaki takdir yang ia ciptakan sendiri. Tapi lagi-lagi yang saya dengar suara tentara lapar! Mak Erot lari! Lampu padam! Dan pukimak! Skober lagi-lagi bercerita tentang negara gagal, "Telah sirna tanpa karena nilai, etika dan tata krama demokrasi. Padahal hal yang tiga itu, itulah hakikat dari kedaulatan rakyat. Nilai bisa dimaknai sebagai piranti akal. Etika bergerak di ruang nurani. Nafsu menari di pusaran tata krama. Sinergisitas nan tiga itu, holistisme nan tiga itu, masih jauh panggang dari api."

***

31 April 2012, pukul 06.21 WIB,  gerimis tipis jatuh satu-satu. Dan di sebuah surau di tepi pantai Juntinyat, Indramayu, saya pahat sisa sunyi hari kemarin. Saya ditemani Skober. Ia telah menyelamatkan saya dari amuk anarki ketika Jakarta ditenggelamkan unjuk kemaluan. Kami berdua baru saja salat istikharah.

Skober sodorkan teh tubruk bergula batu. Saya tersenyum. Saya seruput teh tubruk, "Jiwa manusia Jawa cenderung kosmologia," tuturku, "Itulah jiwa saya. Saya kudu mampu merekonstruksi keserasian jagad gede dan jagad cilik sebagai konsep dasar dalam memangku kekuasaan, sekaligus dalam mendaur-ulang tata-atur hukum di republik ini. Tapi saya...."

"Maaf, Paduka Presiden, apakah jiwa kosmologia ini juga mengindentifikasi rakyat laksana cangkul dan rerumputannya, keris dengan sarungnya, dan lulur sekar taji dengan kulit kuning langsat para selirnya?" potong Skober.

"Bisa jadi ke arah itu, Skober. Menjadi presiden berarti memasuki areal pengembaraan metafisika sekaligus kegelisahan kreatif manunggaling dialektika rakyat-presiden! Presiden dan rakyatnya nyaris tak miliki batas pemisah. Inilah yang disebut sinergi kosmologia kodrat alam, yaitu maruta (angin), bumi, angkasa, surya, kartika (bintang), dan dahana (api)," tuturku. Sesaat saya memandang lurus kaki langit malam. Ada kedip bintang menembusi rintik hujan. "Kamu suka gamelan Jawa, Skober?"

"Sendika, Paduka..."

"Presiden dan rakyat adalah bagian dari orkestra gamelan Jawa. Presiden sebagai Pamurba, yaitu rebab dan gendang, sementara rakyat adalah Pamangku, yaitu saron dan gender. Di dataran ini kemanunggalan Pamangku dan Pamurba akan alirkan suara keserasian dan keselarasan sebuah kekuasaan. Saat di luar istana, begitu banyak suara rakyat antikenaikan harga BBM, saat itulah diperlukan keserasian orkestra gamelan kekuasaan. Saya harus masuk roh keserasian itu. Mustahil saya membentuk alur alun bunyi yang lain."

"Tapi yang mulia gagal..."

Saya mengangguk. Hujan kini mulai deras. Saya tersenyum. "Kamu lihat rintik hujan itu, Skober?"

"Siap sendika yang mulia..."

"Bagi manusia Jawa, itu adalah sejatining pertanda restu keberpihakan jagad gede dan jagad cilik dalam memanunggalkan presiden dan rakyat," tutur lirih Paduka Presiden. "Hujan itu akan alirkan air hingga ke samudera luas. Di posisi inilah seharunya saya berada. Saya harus berimam pada samudera yang menampung multikonflik tanpa alirkan ombak dan riak. Tapi itu tidak saya lakukan pada detik-detik menentukan 31 April 2012."

"Agh, andai paduka tidak becermin pada Deng Xiaoping? Deng menempatkan semua hal dalam satu tangan. Negara Integralistik. Artinya, kedaulatan rakyat itu nonsens. Tak ada itu, yang ada adalah sejatining kedaulatan negara yang terpusat pada satu tangan, yaitu raja. Mengutip pikiran pencetus Demokrasi Asia, Chan Heng Chee, bahwa penerapan demokrasi liberal ke dalam praktek-praktek negara-negara Asia adalah pekerjaan sia-sia belaka."

"Chan Heng Cee tak selamanya benar, Skober. Meski demokrasi liberal sebagai anak nakal sejarah pada awal pertumbuhannya, akan tetapi perenung demokrasi memosisikannya sebagai kebenaran hakiki. Meski demikian, kebenaran tidak selamanya bulat dan utuh. Simak, tiap kali kesulitan ekonomi menelikung rakyat akar rumput, selalu saja mereka merindukan hadirnya “hari kemarin”. Di sini, ada tangan tersembunyi. Ada partikel aneh yang tidak bisa tercemar dan mengkristal dalam keabadian. Ada perawat-perawat demokrasi yang tak pernah letih mensterilkan periuk akar rumput dari deret derita kemiskinan yang tak terukur," ucap saya, "Kamu ngerti apa yang saya katakan?”

Terlihat Skober agak ragu. Tapi pada saat lain ia berkata,” Inikah yang membuat yang mulia undur diri?"

"Bisa jadi, benar. Saya ingin menjadi seorang sinatria yang jatmika, hormat, rukun yang edipeni, serta adiluhung, pada hakikatnya meyakini bahwa keindahan dan kemuliaan adalah refleksi kekuasaan. Sejenis aksesori yang memperindah pernik-pernik singgasana. Juga luncuran suara moral bahwa pada hakikatnya raja berwatak sinatria tak suka bertualang dengan konflik. Kenapa? Sebab konflik itu tidak edipeni, tidak indah. Terlebih lagi, Istana Negara sebagai pusat keindahan, dihayati sang raja sebagai mozaik gemerlap penenteram batin rakyat. Hal inilah yang mendasari kenapa saya turun panggung."

Agak samar terdengar alunan azan subuh. Saya melihat arloji. Berdiri. Saya mau kumandangkan azan.

"Saya yang azan, Yang Mulia," potong Skober, "Dan yang mulia akan menjadi imam salat subuh."

"Hmm, saya gagal menjadi imam nusantara, Skober," tuturku, "Subuh ini tidak ingin mengulangi kegagalan itu meski hanya untuk menjadi imam seorang makmun bernama Skober."

Bandung, Selasa, 6 Maret 2012


Lampung Post, Minggu, 8 April 2012

Sunday, October 30, 2011

White Horse, Oktober 2211

Cerpen Tandi Skober


Libya, Oktober 2011

"Tarian tirani itu terhenti Sirte,” tulis saya di sebuah mal berdebu. Pesawat NATO di atas Libya bagaikan laba-laba berserabut ribuan pelor, di darat para pejuang Dewan Transisi Nasional (NTC) merangsek masuk terbakar mesiu, dan Mu’ammar al-Qadhdhafi terpuruk merenda hari terakhir di dalam gorong-gorong pembuangan air. Ia melukis sisa kekuasaan di ruang sempit bercahaya matahari mesiu yang sunyi. Saya dekati Khadafi. Saya bacakan sajak Kwatrin-Kwatrin Musim Gugur Goenawan Mohamad, “Di udara ungu proses pun mulai. Senja membereskan daun-daun. Menyiapkan ranjang mati."

***

White Horse, Oktober 2211

Saya berdiri di atas mimbar cahaya tertelikung jaringan situs CghK. Ini membuat mataku berkerjap-kerjap. Seraya membetulkan letak jasku, saya coba menenangkan diri. Cahaya aneh kemilau itu sangat menyiksa. Tapi ini kudu kulalui dengan tabah. Ini adalah temu pers perdanaku seusai lima jam yang lalu saya dilantik menjadi presiden Amerika.

Sesaat saya tersenyum. "Republik ini," ucapku usai menarik napas panjang, "bukan lagi batu nisan raksasa yang merekayasa demokrasi melalui fatwa-fatwa kultural dari peradaban kuno yang aneh. Bukan itu. Juga bukan nyanyian sunyi sebuah negeri yang meletakan hak-hak rakyat pada perbincangan involusi. Juga republik ini bukan lautan air mata yang menaruh matahari raksasa di setiap bilik-bilik ketakutan."

Sesaat kuhela napas. Lantas kembali kuluncurkan tutur kataku, "Republik ini kudu meletakkan peradaban dalam lanskap keserasian, keselarasan, dan keseimbangan yang penuh dan menyejarah. Sebagai presiden Amerika, saya akan meletakan humanisme kinasih sebagai wajah baru madani Amerika"

"Tuan Presiden," tiba-tiba seseorang nyeletuk, "Anda itu sosok Indonesianis yang nyaris tidak memiliki apa-apa, kecuali mimpi-mimpi tirani yang masih tersisa dari abad paling busuk. Anda diragukan memiliki partikel terkendali berkualitas Amerika. Saya tidak yakin Anda bisa membawa Amerika lebih baik dari periode Hampu."

"Seorang Indonesia menjadi presiden Amerika? Mengapa tidak? Indonesia adalah republik 'Pancur Kaapit Sendang' diapit dua samudera, juga 'Sendang Kaapit Pancur' diapit dua benua. Indonesia diapit cincin api (ring of fire) dan sabuk Alpide. Ini tentu pertanda alam bahwa Indonesia tercipta untuk menjadi negara padang obore di mana dalam banyak hal patut diteladani. Sejak abad 20 hingga 21, dunia melihat Indonesia seperti melihat malaikat penyelamat peradaban. Dan wajar bila Prof Dr. Chuky di akhir abad lalu memosisikan Indonesia sebagai pusat peradaban politika global paling santun."

"Anda ngaco, Tuan Presiden," sanggah wartawan lagi, "Chuky itu spesialis demokrasi gaya Asia."

Saya tersenyum, "Demokrasi itu bermula dari impian muram Eropa ketika peradaban memasuki areal petengt dedet. Dari album sejarah sekitar akhir abad ke-20 orang menempatkan Indonesia masih terjebak perumitan demokratisasi. Tapi Anda bisa catat, kini Amerika, Afrika, Australia, hingga ke ujung lancip Eropa melihat Indonesia pada ruang yang lebih benderang. Anda tahu, Raja Inggris dan rakyatnya baru saja melamar Ki Mardiah, Indonesianis dari Cerbon agar berkenan menjadi perdana menteri lima tahun mendatang. Lantas Australia..."

"Ini Amerika, Tuan Presiden. Anda memang berhasil menjadi presiden lima hingga tujuh periode di sebuah negara kecil di sudut barat Afrika. Lantas Anda dimutasikan menjadi pemimpin Amerika Tengah hingga tahun 2187. Dan untuk pertama kali seorang Indonesianis memimpin Amerika."

"Lintas mutasi presiden antarnegara adalah sah! Konvensi Dermayu tahun 2162 mengatakan begitu. Perlu lintas mutasi presiden antarnegara. Ini seharusnya Anda catat sebagai pencerahan pola politika global. Ketika tahun 2160 hingga 2200 hampir selama 40 tahun saya menjadi presiden Uganda atau sebelumnya hingga dua dasawarsa memimpin Jepang, maka yang ada adalah pembenaran-pembenaran Konvensi Dermayu 2162 itu. Hasilnya? Anda catat sepanjang 40 tahun Negeri Matahari itu mampu memetakan proyeksi ekonomi hingga ke gugusan manjuah-juah di sebelah selatan Mars."

"Amerika bukan Asia, Tuan Presiden?"

"Amerika kudu belajar demokrasi Asia." potong saya.

***

XCimona, Mars 2212

Saya baru saja menikmati jakjazz klasik Ramsey Lewis dan Dave Koz (1977) abad ke-21 Tumba Goreng, ketika jaringan SMM di layar XHj78R tampilkan Chan Go Koch dari Tianmensturasi, China. Ia lemparkan senyum khas yang paling saya sukai. "Ada pesan Tianmensturasi, Tuan Presiden. Hmm, maksud saya, China berharap Tuan Presiden berkenan menjadi presiden kami untuk periode 2216 hingga 2223."

Saya diam. Dan diam-diam saya merasa amat kesunyian. Terus-menerus menjadi presiden dari satu negara ke negara lain memang menyenangkan. Tapi, di puncak kekuasaan yang selalu kudapatkan adalah kolam kelam kesunyian. Selalu saja pada saat-saat tertentu hadir kerinduan untuk menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Selalu saja hadir kerinduan menimang cucu seraya menikmati lintasan jagad raya Bimasakti melalui kapsul yang terlontar dari pusat terminal angkasa luar GHK98M.

Saya menghela napas. Jaringan SMM of. Kini kusandarkan tubuhku agak dalam. Board elektronik memberi sinyal ada kabar dari Papua. Saya tak perduli. Berdiri. Melangkah ke jendela menatap hamparan Amerika yang temaram. Kulayangkan pandang pada perspektif langit yang melengkung. Beberapa kapsul FX15 melintas-lintas. Saya menunduk. Ah, kapsul FX15 itu mengingatkan saya pada cucuku, Ana Kiara Citra. Di kapsul FK202 yang melayang-layang di belahan Asia Tenggara, cucuku itu memijiti bahuku.

"Langit itu luas, Mbah?"

"Ya mahaluas. Seluas memorial nalar yang tak terbatas."

"Dan Tuhan ada di antara kemahaluasan itu kan, Mbah?"

Saat itu saya terkejut. Ah, cucuku ternyata lebih arif.

"Mbah mau bersaing dengan Tuhan kan? Menjadi penguasa bumi terus-menerus?"

Suara risau cucuku ini mengingatkan file saya 20.12.2011:

Kursi kerap melahirkan tirani. Dan ini ada pada diri Qadhdhafi. Simak, selama 42 tahun, ia telah memosisikan diri menjadi penguasa terlama sebagai pemimpin nonkerajaan keempat sejak tahun 1900. Tarian tirani Qadhdhafi paling tidak kabarkan bahwa selalu saja dari sebuah ruang gelap akan lahir penguasa despostis sekaligus sosok sindrom superstar yang malang. Padahal, kekuasaan pada titik terjauh selalu membunuh dirinya sendiri. Keinginan bertahan untuk berkuasa hanyalah goresan sementara pada permukaan alam yang tak terbatas. Alam membiarkan hal itu bertahan sementara, kemudian menghapuskannya untuk memberi tempat kepada orang lain. "Lalu waktu, bukan giliranku," tutur penyair Amir Hamzah.

"Lalu waktu, bukan giliranmu, wahai Mu’ammar al-Qadhdhafi," bisik saya saat itu.

"Seharusnya Mbah tak menerima tawaran Amerika itu," potong cucuku. Ia matikan panel eksplorer. Kapsul FK202 shut down, "Menjadi diri sendiri, dan sujud di hamparan rumput mahaluas, di bawah lanskap langit Mars merah jingga...."

Bandung, 23 Oktober 2012


Lampung Post
, Minggu, 30 Oktober 2011

Sunday, August 7, 2011

Ziarah Botol

Cerpen Tandi Skober


"Namaku Gusur. Emak bilang, sebenarnya sih pas lahir namaku Adhikarya. Disebabkan rumah emak dalam satu tahun digusur Pemda DKI lebih dari 13 kali, maka agar tidak gusar setiap kali ada operasi penggusuran kemiskinan, namaku diganti menjadi Gusur," ucap Gusur Adhikarya. "Itu ceritaku, bagaimana ceritamu, Stad?"

"Saya tidak punya cerita, Bos. Maklum sebagai office boy, cerita saya sudah banyak diceritain orang."

Gusur tertawa. Tentu saja tertawa terkekeh-kekeh. Sebagai bos memang kudu bisa tertawa terkekeh-kekeh, bila kagak bisa begitu, yah cuma pekerja biasa. Terlebih lagi Gusur adalah konglomerat di pusaran penerbitan media cetak. Konon, 12 dari 10 penerbitan majalah di republik Pancasila dipastikan dikelola Gusur. Disebabkan hal itulah, setiap kali tertawa, Gusur memiliki alur waktu tidak kurang dari dua menit. Tapi kali ini dipastikan alur waktu tawa Gusur lebih dari 5 menit. Tidak hanya itu, Gusur tidak hanya terkekeh-kekeh, juga berair mata, bahkan diperkirakan tertawa terkencing-kencing.

"Saya rindu emak," mendadak tawa Gusur berhenti. Matanya nyanyikan rindu hingga titik terjauh. Jemarinya melukis sepi pada permukaan air akuarium. "Ceritaku itu tidak harus ditulis sekarang. Stad bisa tulis nanti setelah kita ziarah kubur."

"Ziarah kubur?" agak ternganga mulutku.

Gusur mengangguk. Malam merangkak di beranda. Bulan bergulir di tenggorokan. Dan? Gusur alirkan kalimat aneh, "Inilah lukisan terbaik Ramadan 1432 H. Burung-burung berkicau, ikan, kura-kura berseliweran. Dalam kolam, anak-anak bercanda dan menangis. Marmut, ayam, tupai, istri, mereka bercumbu dengan rempah-rempah di dapur. Dalam sangkar merpati bertelur, dalam hati keikhlasan bertutur."

Saya tepuk tangan. "Ckckck, arif banget, Bos! Dalam sangkar merpati bertelur, dalam hati keikhlasan bertutur. Sungguh aku ikhlas jadi office boy dalam sanggar majalah Hehehe, Bos. Ga nyesel."

Gusur tersenyum. Senyum itu sudah tiga Ramadan saya nikmati. "Senyum bertasbih puisi," komentar Kiara. Senyum itulah yang membuat Erin dan Taufan meyakini majalah Hehehe akan menjadi ikon anekdot terbaik se-Asia Pasifik.

"Senyumku itu lukisan putih di atas kertas tanpa warna yang tergantung di ujung tiang bendera yang melengkung," ucap Gusur seraya membaca print out cerpen Nazar dalam Sepotong Roti karya Tandi Skober yang bakal terbit di edisi khusus saat Pemilu 2014.

Kalimat itu juga diucap ulang di ruang Peugeot 504. Roda mobil melaju deras, ziarah kubur ke Indramayu. "Ziarah adalah bersih-bersih album potret berdebu," ucap Gusur seraya mengelus satu botol besar minuman ringan yang dibeli seharga sebelas ribu rupiah di mini market samping kantor Hehehe. "Album itu, satu kali dalam satu tahun kudu dibersihkan."

Ada apa dengan botol itu, Gus? Gusur diam. Angkat bahu. Dan go! Peugeot melaju kencang. Saya tak banyak tanya soal botol itu. Sebenarnya pingin sih aku minum barang satu dua teguk itu. Tapi, selalu saja Gusur memeluk botol itu, erat-erat.

Senja menyelinap di daun kamboja ketika langkah kami menapaki perkuburan kumuh. Kian mendekati kuburan emaknya, terlihat langkah Gusur kian melemah. Tangannya masih memeluk botol itu. Matanya merayapi kuburan emaknya. Anak-anak kecil meminta botol minuman ringan berharga mahal itu. Ia tersenyum. Ia keluarkan dompet. Beberapa lembar uang puluhan ribu ia berikan ke anak-anak itu.

Kini Gusur sudah pun duduk bersimpuh di depan gundukan kuburan emaknya. Tutup botol minuman berlabel mahal itu ia buka. Ia tumpahkan isi botol itu ke gundukan kuburan emaknya. "Mak, Gusur datang. Gusur membawa satu botol minuman ringan. Gusur siram dengan air botol minuman ini ya Mak? Gusur sayang sama Emak. Bagi Gusur, Emak adalah Kakbah yang setiap saat Gusur rindu untuk menghadap Emak."


***

Ada apa dengan botol bermerek paling laku di dunia ini? Lagi-lagi sulit ditemukan jawabannya. Biasanya orang nyekar yah nyiramnya pakek air biasa, air bening. Ini jadi kepikiran. Tiap kali aku tanyakan ke Gusur. Bos hanya diam. Matanya menerawang ke sudut ruang. Di sana ada banyak botol minuman ringan dengan berbagai merek berjajar di atas buffet di bawah foto hitam putih emaknya itu.

Ada apa dengan botol-botol beraneka rasa itu? Erin menunduk. Ia terus menerus membaca selembar kertas print out. Aku ambil kertas itu. Aku baca. Ah! Ini bukan cerpen! Ini bukan fiksi! Aku baca tulisan itu, "Gusur diam! Diam-diam angannya berlari jauh ke belakang. Saat itu Gusur masih berusia 4 tahun. Gusur paling suka bangun sebelum subuh. Kenapa? Ia akan berlari ke atas jembatan. Duduk di buk beton jembatan kecil. Menunggu emaknya pulang kerja. Sambil menunggu, Gusur kadang terkantuk-kantuk. Tapi tetap ditahannya agar tidak tertidur. Sebab, Gusur tahu betul emaknya akan membawa satu plastik minuman berikut sedotannya. Tiap kali emaknya sodorkan plastik itu, mata Gusur berbinar-binar memandangi minuman dalam plastik itu. Tiap kali menyedot air dalam plastik itu, ia rasakan seperti ada rembulan mengalir di tenggorokan."

"Ini tulisan, Bos?" tanyaku.

Erin mengangguk. Kembali aku baca lagi, "Emak emang selalu kumpulin sisa air minuman itu dari botol-botol yang masih tersisa. Orang kaya itu kalau minum tidak pernah dihabisin. Hmm, aku pernah tanya sama emak 'Minuman apa saja yang bisa dikumpulin, Mak?’ Emak akan menjawab 'Ada Coca-Cola, ada teh botol, Pepsi, Fanta, ada Sprit, yah macam-macam lah. Daripada terbuang, yah emak tuang dalam plastik. Bisa dibawa ke rumah. Iya kan? Kamu suka minuman mahal ini kan Gusur?'"

Aku hela napas panjang. Aku ngerti. Aku memaklumi mengapa Gusur sirami kuburan emaknya dengan satu botol minuman ringan berharga mahal itu. Aku baca kembali tulisan bosku, "Ah, senangnya aku. Aku selalu mantuk-mantuk sambil menyedoti minuman itu. Pasti ini minuman orang kaya ya, Mak? Emak menjawab 'Iya, harganya saja mahal.' Aku tersenyum. 'Kerja Emak apa sih?' Hmm emak menjawab 'Sekarang masih jadi tukang cuci di warteg Kali Asat."

Sesaat aku terhenyak. Ada lintasan nestapa di ujung mataku. Tapi aku baca lagi tulisan bosku ini: "Gusur kecil manggut-manggut. Gusur sedot minuman dalam plastik yang rasanya bisa bermacam ragam. Ada rasa Sprit, ada rasa teh botol, ada rasa Coca-Cola. Dan entah apalagi. Sekali tempo, Gusur pernah nemani emaknya kerja. Oh, anak kecil itu senang bukan kepalang. Tiap kali disuruh emaknya mengambili botol, Gusur langsung lari. Langsung ambil botol-botol itu. Botol digoyang-goyang. Tiap kali isi botol masih ada, mata Gusur kecil pun berbinar-binar. "Mak, yang ini masih banyakan!" teriak Gusur. Sang Emak tersenyum. Ia elusi kepala anaknya itu. Ah! Elusan surga yang kelembutannya masih terasa hingga kini."

"Inspiring!" ucapku.

"Layak dimuat," sambung Erin.

"Hal yang sulit tentu seputar berapa harus kita bayar honorarium cerita bos itu," potong Taufan.

"Itu bukan konsumsi untuk umum," mendadak sontak Gusur Adhikarya menepuk bahuku, "Biarkan cerita itu tetap tersimpan di sebuah kamar sangat spesial di kalbuku. Kamar itu tiap kali Ramadan akan datang selalu saya buka. Saya ziarahi. Saya yakini bahwa emak masih tetap hidup. Emak masih tetap membawa satu plastik minuman aneka rasa."

Gusur menghela napas. Ia pandangi dinding ruang redaksi. Di sana ada lukisan berukuran 1 x 1,5 meter. Itu lukisan Gusur Adhikarya. Tak jelas apa yang dilukis Gusur. Yang saya ketahui ekspresi botol-botol minuman dalam lanskap warna pucat nestapa yang pedih.
Azan isya terdengar. Bos menghampiriku, "Yuk tarawih," ajak bos. Aku mengangguk. Ada dering di ponsel Gusur. Ia pijit yes. "Oh ya, bagus itu. Hmmm, paling tidak dua hingga tiga krat teh botol, dua krat Coca-Cola. Hmm ok, Fanta, bisa itu. Aqua? Bisa juga. Pokoknya semua jenis minuman harus dibeli! Kasihkan saja ke takmir Masjid Al Ikhlas. Apa? Iya Fari Aziza itu takmir masjidnya bukan Putra Gara. Iyalah tiap hari selama Ramadan 1432 H!

Bandung, 23 Juli 2011


Lampung Post, Minggu, 6 Agustus 2011

Sunday, April 10, 2011

Anak Haram Indonesia

Cerpen Tandi Skober


"AKU ingin jadi Promatheus yang melepas absurditas menantang dewa-dewa, mencuri api Olymphus sekaligus ogah sembah sungkem di haribaan Dewa Zeus. Aku ingin jadi anak haram Indonesia, memanjat Monas, mencuri emas sekaligus tak waswas disebut tak waras," ucap saya tiap kali saya datang ke Jakarta.

Jakarta cuma bisa tertawa. Dalam tawa ada taring juga tarung antarkepentingan. "Itu tak elok, Tandi," ucap Jakarta, "Jadilah wong cilik yang baik. Soalnya, Gusti di puncak Monas itu adalah simbol identitas adiluhung. Maka sebagai kawula alit selayaknya kau loyal, integratif, memanunggal emban ingemban salawase."

Jakarta sesaat sedot umbel," Lihat semesta alam, samudra, maruta, bumi, angkasa, surya, kartika, dan dahana adalah sifat kodrati jagad yang tak pernah cekcok. Semua itu mengajarkan adanya makrokosmos dan mikrokosmos yang berputar secara ajek, teratur, dan posisional. Artinya, ada pengembaraan metafisika sangkan paraning dumadi, yaitu manunggalnya kawula-gusti. Dari pemikiran ini, seyogianya paham dan mengerti dalam memaknai hidup ini."

Arifkah ujaran Jakarta itu? Tentu tidak! Mungkin ini lantaran saya adalah anak haram Indonesia. Tapi saya percaya pada teori muram tentang humanisme aneh. Saya yakini bahwa pada hakikatnya manusia adalah keniscayaan nestapa yang tak pernah berhenti menjaring angin, memerangi ruang awang-uwung, dan mengibarkan pembrontakan-pembrontakan. Di sini edan adalah dealektika rasionalitas ego. Dari Gurun Nod di sebelah timur Taman Eden, simak Qain yang lontarkan protes terhadap otoritas Ketuhanan. Juga Begawan Wisrawa dalam literatur Jawa Kuna tak sungkan kangkangi doktrin luhur transendental, lantas sambil menafsui Dewi Sukesih, ia berontak, mencoba merebut Sastrajendra Hayuningrat dari pusat periferial kekuasaan dewa-dewa. Bahkan hingga kini, para pemerhati eksistensialisme tak bisa melupakan teriakan Nietzsche: "Gotterdammerung: The Twillight of the idols!"

Jakarta sewot. Ia telanjangi saya. Saya ditaruh dalam sebuah gelas beraroma alkohol. Dalam gelas retak, saya lihat diriku bergerak zigzag, kadang tiarap, kerap kali merangkak tertatih-tatih. Bahkan hanya beberapa inci dari mataku ada belati beliau yang siap membuat mataku buta. "Aku adalah kekalahan demi kekalahan yang mempiramida, yang tak pernah letih mengobrak-abrik tatanan jati diriku," teriak saya di bawah gambar Garuda Pancasila.

Orang-orang tepuk tangan. Tapi tidak bagi Jakarta. Saya lihat diri saya ada dalam gelas di atas meja Indonesia. "Sudah saatnya kamu berhenti menjadi Tandi," ucap Jakarta.

Pukimak! Jakarta bukan Tuhan! Jakarta adalah hantu-hantu yang tuhankan utang luar negeri. Meski begitu, saya tahu bila saya berhenti menjadi Tandi maka saya akan berjalan poyang-paying sempoyongan di atas dua rel kemustahilan, yaitu rel realitas dan rel absurditas yang tak punya ujung.

***

Jakarta menaruh granat di kepalaku. "Berhentilah menjadi Tandi!"

Saya tatap mata Jakarta. "Lihat saya, Jakarta! Saya maklumatkan perlawanan metafisika! Saya adalah edan yang mengendap-endap di antara mesin-mesin raksasa peradaban dan rasionalitas ego yang gagap. Saya adalah edan yang terlempar pada kesunyian gulita, terjerembab pada jaring-jaring gurita kekuasaan. Saya adalah taik berwarna kuning bisa disebut PPP, Golkar, atau PDI bahkan mungkin ICMI yang diretorika menjadi kelompok cendekiawan."

Sialan! Jakarta kok tersenyum. Granat di kepalaku siap meledak! Bila sudah begini, gendengku berdendang ria. Edanku sorak-sorak bergembira. Gilaku jadi Caligula. Oh, Indonesia, ternyata menjadi sinting amenanging zaman edan, bisa membuatku menjadi bintang yang tak bisa terpangkas sistem budaya politik apa pun juga. Maka dalam hiruk-pikuk suara yang sintingkan diriku, saya berteriak, "Kita adalah generasi edan yang dikeluarkan dari garasi petinggi negeri sekali dalam lima tahun."

Jakarta kian sewot. Ia menyeret saya ke kamar putih Rumah Sakit Jiwa bernama Indonesia. "Di ruang ini, berhentilah menjadi Tandi," teriak Jakarta, "Kenapa? Kamu telah menjadi serpihan sepi yang kamu pintal dari ruang tanpa dinding. Nalar kamu abnormal!"

"Serpihan sepi?" ucapku pelan, "Percayalah, ini bukan duka dealektis rohanisme. Saya tak kesepian ketika berteriak di atas tangga dan menjadi anak haram Indonesia. Saya tidak kesepian ketika memanjat Monas mengelusi emas kuning-kemuning. Soalnya, saya adalah saya, sosok manusia yang tak pernah berhenti dipenjara berhala."

"Analisa nalarmu liar, Tandi," kata Jakarta.

"Tapi saya tak sendiri kan? Dari album wacana filsafat, misalnya, kerap kita temui penjelajahan waswas manusia yang terjerat oyod mingmang paradigmatik. Tak sedikit manusia yang mengonanikannya dalam metamorfosa Nol. Sebut saja Sartre yang memansturbasi dengan cara meminum mata air moral dari terali penjara abadi humanisme."

Polisi berpangkat kopral menelikung tangan saya. Sret! Tangan dan kaki saya diborgol! Tapi Jakarta tidak bisa memborgol suara saya. "Mencari langit penuh bintang," tutur saya, lirih, "Mencari rindu yang jauh. Di sinilah akar metafisika anak haram Indonesia. Apa artinya? Saya ini hanya seonggok nestapa yang melata dari penjara ke penjara, dari kamar ke kamar, dari statsiun yang satu ke statsiun lainnya. Adalah perjalanan kehilangan ketika saya tidak tahu pasti di posisi mana eksistensialisme didealektisasi."

***

Redaktur cerpen koran X tertawa membaca kumpul teks di atas. "Ini bukan Cerpen, Tandi. Emang sih kayaknya sih kaya dengan retorika obrak-abrik, tapi tidak ada yang bisa didapat dari cerpen ini. Sementara saya masukan ke spam saja ya..."

"Kotak sampah."

Redaktur cerpen itu mengangguk. Mata saya terbelalak. Saya ingin katakan bahwa cerpen saya ini bergerak pada dataran filsafat non-naratif. Mestinya sih mengusik kolbu, menyublimasi, memuasi batin redaktur. Mestinya sih, redaktur itu bilang, "Sip, Tandi! Tak mustahil cerpen ini lahir hasil dari ziarah lokal meditasi. Cerpen ini mampu mendiamkan gemuruh pemberontakan lewat asketisme intelektual. Dalam cerpen ini, meski rumit melingkar-lingkar tapi di sini ada duka abadi manusia. Ada kerumitan involutif yang mengimpit. Ada luka yang ditorehkan pisau nasib yang aneh."

Tapi ya itu tadi, redaktur X keukeh tak mau menerima cerpenku. Saya tinggalkan redaktur cerpen X. Cerpen saya kirim ke redaktur cerpen Media Indonesia bernama Djadjat Sudradjat dengan surat pengantar sebagai berikut:

"Dikmas Djadjat Sudradjat, namanya saja usaha untuk mencari seisap dua isap asap rokok, bersama ini saya kirim cerpen Anak Haram Indonesia. Seperti halnya Hamlet yang terjerat eksitensialisme zaman Victoria yang rumit, demikian juga kandungan maksud cerpen ini. Artinya, cerpen ini, bukan sekadar kumpul kalimat belaka. Bahkan semakin saya renungi, saya semakin meyakini adanya partikel pemikiran Friedrich Nietzsche dalam cerpen ini.

Ini cerpen bagus, Dikmas. Bila Nietzsche dalam Zarathustra kisahkan kesunyian sebagai simbolisme humanisme aneh, maka dalam Anak Haram Indonesia, saya khabarkan pengembaraan kegelisahan sang anak dalam mencari terminal terakhir kereta yang berangkat senja ketika emas Monas semakin pucat. Saya coba menakwil Indonesia dalam bingkai Frohliche Wissenschaft. Indoesia saat ini sedang meninting lentera dari hutan ke hutan belantara lainnya, hingga ia membunuh rasionalitas ego dan berteriak, "Apa yang paling suci dan mulia yang pernah dimiliki dunia, kini mengucurkan darah karena pisau kita. Maka siapa yang harus mengapus darah dari tangan kita semua?" Inilah substansi cerpen saya.

Semoga Dikmas berkenan membaca cerpen ini dan layak muat di ruang cerpen Media Indonesia.

Wassalam

Tandi Skober

***

Ternyata cerpen ini tak jua dimuat. Hingga tadi siang, Kamis 31 Maret 2011, saya temukan amplop di dalam ordner map kumal. Hmm, saat dibuka, ada lembaran-lembaran cerpen Anak Haram Indonesia. Jadi, surat tidak terkirim?

"Iya tidak saya kirim," ucap istriku. "Sudah berpuluh-puluh cerpen dikirim ke koran dan majalah kagak ada yang dimuat. Lebih baik ongkos pos kilat khusus dibelikan empal gentong."

Ternyata empal gentong lebih bermakna ketimbang Nietzsche!

Bandung, Friday, April 01, 2011, pkl 04:08:10


Lampung Post, Minggu, 10 April 2011