Showing posts with label Guntur Alam. Show all posts
Showing posts with label Guntur Alam. Show all posts

Sunday, October 12, 2014

Skenario

Cerpen Guntur Alam


INT. KAMAR LEAN – TENGAH MALAM

LEAN memijat keningnya, kertas-kertas berhamburan di bawah meja. Seminggu ini, dia kehilangan ide untuk menulis cerita pendek. Padahal sebentar lagi akhir bulan, itu artinya dia harus segera menyiapkan uang sewa kamar. Setelah ratusan surat lamaran kerja yang melampirkan ijazah sarjananya dikirim dan tak satu pun yang menuai hasil, Lean hanya bisa menggantungkan hidup dari honor menulis cerita pendek di koran. Dan dia memuji Tuhan untuk talenta ini, karena pekerjaan mengkhayal ini sudah berkali-kali menyelamatkannya dari kematian akibat lapar. Kali ini, dia begitu cemas. Ide mendadak buntu. Sialnya lagi dia hanya punya satu ide cerita yang tak kunjung sanggup dia rampungkan.

Beginilah kerangka skenario cerita yang Lean buat dan tak kunjung selesai: Mario dan Lusi bertemu di bar. Mario pelanggan tetap bar. Lusi seorang pelayan yang seksi dan cantik. Mario dan Lusi saling mencintai dan akhirnya menikah. Lean ingin cerita berakhir bahagia, tapi dia kesulitan menemukan ending seperti itu.

Nah, sebagai pembaca cerita pendek di koran, maukah kamu menolong Lean dalam menulis cerita picisan untuk Mario dan Lusi? Kalian bebas bercerita, asal akhirnya bahagia dan tentu saja penuh drama—tersebab orang Indonesia menyukai hal-hal yang penuh drama. Namun, bacalah dulu beberapa skenario yang Lean tulis untuk kisah cinta Mario dan Lusi ini—dari beberapa skenario yang terserak di bawah mejanya.


Skenario 1

Mario, pemuda berusia dua puluh dua tahun tahun, anak seorang tuan tanah di Kota A, jatuh cinta pada Lusi si pelayan bar. Mereka bertemu saat Mario terjebak hujan deras dan mobilnya mogok tepat di depan bar yang sepi malam itu. Tak ada sesiapa selain Lusi. Cuaca memang buruk sejak sore, Mario nekat pergi karena ayahnya meminta untuk meninjau lahan di kota tetangga yang kelak akan dijadikan real estate.

Sebenarnya, Lusi hampir saja membalik tulisan open di pintu menjadi close karena majikannya sudah mengatakan tak akan ada tamu lagi di cuaca seburuk ini. Terlebih kedua majikannya sudah naik ke lantai atas untuk tidur—lantai atas bar itu memang tempat tinggal mereka dan Lusi mendapat salah satu kamar tinggal di sana. Namun, Lusi salah menduga, Mario mendorong pintu bar dengan baju sedikit basah. Dia memesan segelas brendi tanpa belahan dada, tapi Lusi memberinya bonus itu.

Karena ini cerita romance, Lean membuat kedua tokohnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Lusi jatuh cinta pada badan tegap, rahang keras, sorot mata tajam, dan tentu saja wajah tampan Mario (Oh, Lean menjadikannya terlalu sempurna!). Sementara Mario, bisa ditebak. Sebagai pemuda yang baru berusia dua puluh dua tahun tahun, tentu dia menelan ludah melihat belahan dada Lusi, lenggokan pinggul, dan bibir penuhnya. Ini karena Lean menjadikan tokoh Mario-nya sebagai heteroseksual—harusnya untuk lebih drama, Lean menjadikan Mario seorang gay atau biseksual, nanti kita usulkan pada Lean di skenario berikutnya.

Malam itu mereka bercinta di atas salah satu meja bar, bahkan keduanya tak malu-malu untuk melenguh dan mengumpat. Hujan deras tak akan membangunkan sepasang suami-istri pemilik bar, pikir Lusi. Malah Mario beranggapan bisa jadi pemilik bar sudah bergelung di bawah selimut untuk menghangatkan malam mereka.

Begitulah, mereka menjadi sepasang kekasih. Setiap akhir pekan, Mario akan membawa Lusi untuk berkencan dan mereka akan menghabiskan malam dalam pergumulan demi pergumulan. Karena merasa tak akan jatuh cinta pada perempuan lain, Mario melamar Lusi. Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.

Lean membuang draf pertamanya ini dengan mencabik-cabiknya, membakarnya, dan membuang abunya ke dalam kloset kamar mandi. Cerita pendek ini terlalu memuakan. Dia membayangkan A.S. Laksana akan bunuh diri bila membaca cerita jenis ini ada di halaman koran Minggu yang dia baca.


Skenario 2

Mario jatuh cinta pada Lusi, seorang pelayan bar bertubuh seksi di Kota A. Sayangnya, Lusi tidak jatuh cinta kepadanya. Namun, Lusi menyukai uangnya. Mereka bertemu dan berkenalan karena suatu malam mobil Mario mogok di depan bar yang hampir tutup. Melihat siapa tamunya (tentu saja Lusi mengenal Mario yang adalah satu-satunya putra tuan tanah terkaya di Kota A), Lusi berusaha memikat Mario. Bahkan, dia sengaja membuka dua kancing atas bajunya agar dadanya yang mengkal terlihat lebih nyata di mata Mario. Dia pun tak malu-malu menggoda pemuda berusia dua puluh dua tahun itu.

Mario tergoda. Malam itu mereka berdua menghabiskan malam bersama di atas meja bar. Pergumulan demi pergumulan mereka tuntaskan dengan dada membara. Seumur hidupnya, baru malam itu Mario merasakan bercinta yang membuat dadanya akan meledak. Lusi benar-benar sudah memikatnya.

Lusi yang merasa Mario benar-benar mencintainya mulai memasang perangkapnya. Dia meminta pemuda itu untuk membelikannya apartemen. Tentu saja dengan alasan agar mereka lebih leluasa bercinta, sebab bila Lusi masih terus tinggal bersama majikannya di bar ini, kesempatan mereka untuk bercinta sangatlah langka. Mario yang dibungkus hawa nafsu setuju. Dia membelikan Lusi apartemen mewah di pinggiran kota. Saban malam, sepulang Lusi bekerja, mereka akan bercinta sampai pagi. Sesungguhnya, Lusi muak melayani Mario yang hanya besar nafsu tetapi payah dalam bermain. Namun dia bertahan dengan harapan akan dinikahi Mario.

Sayangnya, impian Lusi terancam kandas lantaran ibunya Mario tidak setuju. Oh, tentu saja sebagaimana cerita fiksi romance, ibu-ibu kaya mendambakan menantu yang cantik dan sederajat. Mana mau dia melihat anak laki-lakinya menikah dengan pelayan sebuah bar kecil.

Ayah Mario pun mendukungnya—di dalam cerita jenis ini kebanyakan suami takut pada istrinya. Namun Lusi berlaku cerdik. Dengan tubuhnya, dia menaklukan ayah Mario. Laki-laki tua itu selalu kelojotan setiap Lusi merangkak di atas tubuhnya. Dia rela mati dan menukar apa pun demi detik-detik yang melambungkan jiwanya itu.

Setelah merasa menggenggam ayah-anak itu, Lusi melancarkan rencana berikutnya. Dia membayar seseorang (dan uang itu dia dapatkan dari Mario dan ayahnya) untuk menghabisi ibu Mario. Perempuan paruh baya yang angkuh itu ditemukan mati tanpa busana di dalam got busuk penuh kotoran. Berita yang tersiar, dia dirampok lantaran perhiasan mewah di tubuhnya lenyap tanpa sisa.

Di ending-nya, Lean menuliskan, pada akhirnya Lusi menikah dengan Mario. Lalu, dia meracuni ayah mertuanya. Semua harta jatuh pada Mario dan secara perlahan pindah ke Lusi. Pelan-pelan pula, Lusi menjadikan Mario budaknya, dia pun memuaskan hawa nafsunya dengan meniduri banyak pemuda-pemuda perkasa. Cerita berakhir di sini.

Lagi-lagi, Lean membuang draf ceritanya ini. Dia merinding membayangkan bila Triyanto Triwikromo membaca cerita pendeknya ini. Apa reaksinya? Cerpen ini terlalu sinetron. Sangat lebay dan menjijikan. Mungkin saja Triyanto akan menegak empat butir Paramex sekaligus karena kepalanya sakit.


Skenario 3

Mario laki-laki tua yang malang. Dia berkali-kali menikah, tetapi istri-istrinya selalu meninggal sebelum usia pernikahan mereka satu tahun. Oleh karena kemalangan ini banyak perempuan yang menjadi takut bila didekati Mario. Ada desas-desus yang beredar, bila laki-laki tua itu menyimpan kutukan. Setiap perempuan yang dinikahinya akan mati. Orang-orang mengatakan perempuan-perempuan itu menjadi tumbal kekayaan yang dimiliki Mario.

Adalah Lusi, pelayan bar yang kerap didatangi Mario untuk membuang kesedihan. Dia begitu iba dan diam-diam jatuh cinta pada Mario. Di usia Mario yang tidak lagi muda, laki-laki itu tetap memancarkan pesona. Kedekatan antara Mario dan Lusi terjalin karena perempuan itu kerap menemaninya minum dan mendengarkan ceritanya sampai bar tutup.

Dulu, Lusi pernah punya pacar. Seorang laki-laki seusia dengannya. Namanya Pieter. Sayangnya, Pieter belum mau berkomitmen. Dia hanya ingin bersenang-senang. Mereka sempat tinggal bersama, tetapi akhirnya Lusi melepaskan diri dari Pieter. Laki-laki itu malas bekerja, setiap ada uang dia habiskan untuk membeli minuman dan ganja. Dia pun setiap hari meminta Lusi bercinta dengannya. Mulanya Lusi berharap percintaan demi percintaan mereka akan membuat Pieter mengubah perilakunya, terlebih bila Lusi hamil nanti. Namun itu tak terjadi. Pieter tetap saja laki-laki berengsek yang tak bisa diharapkan. Karena tak ingin menderita lebih sakit lagi, Lusi meninggalkan Pieter.

Kejadian itu membuat Lusi sedikit susah jatuh cinta, terlebih pada pria sebayanya. Lusi jadi lebih tertarik pada pria berumur. Dalam benaknya, pria berumur lebih matang dalam segala hal, termasuk komitmen. Itulah sebab yang membuat Lusi menerima cinta Mario. Dia pun kagum pada laki-lai paruh baya itu karena selama hubungan mereka, laki-laki itu tak pernah memaksanya untuk bercinta. Mereka hanya sebatas ciuman dan bermesraan. Tak banyak laki-laki sekarang yang begitu, pikir Lusi.

Pada akhirnya mereka menikah. Lusi berpikir dia akan hidup bahagia dengan Mario. Sejatinya begitu sebelum Lusi tahu jika Mario laki-laki impoten. Dia tak pernah bisa bercinta dengan Lusi. Hal ini sangat menyiksa Lusi. Di saat dia terbakar dalam ciuman demi ciuman Mario, percintaan mereka berakhir sampai di situ. Tak ada adegan yang Lusi harapkan. Lusi berusaha bertahan, tapi semuanya runtuh ketika Pieter muncul lagi. Laki-laki itu menawarkan kehangatan yang Lusi cari.

Suatu hari, saat Mario pergi keluar kota dalam urusan bisnisnya, Pieter mendatangi Lusi dan menggodanya. Lusi tak bisa lagi menahan dirinya. Dia dan Pieter bercinta sepuas-puasnya, membasahi kehausan yang didera Lusi selama ini. Hingga mereka tidak sadar jika Mario kembali karena ada barang yang tertinggal. Laki-laki itu begitu marah melihat Lusi tengah bergumul dengan laki-laki lain di atas ranjang mereka. Tanpa pikir panjang, dia mencabut pistolnya dan menebak kedua orang itu. Lusi dan Pieter tewas seketika.

Mario tertegun, dia baru tersadar saat melihat Lusi dan Pieter bersimbah darah. Seumur hidupnya, baru kali ini dia begitu jatuh cinta pada seorang perempuan. Lusi berbeda dari istri-istrinya terdahulu. Untuk menghapus kesedihannya, Mario menebak kepalanya sendiri.

Hampir saja Lean menyimpan draf cerpennya yang ini dan kemudian mengetik dan mengirimnya ke koran. Namun, saat dia membacanya ulang, Lean merasa jijik sendiri. Betapa cerita pendeknya ini sangat penuh dengan adegan ranjang. Seketika dia membayangkan Sungging Raga membaca cerpen ini di halaman koran Minggu pagi, pasti Sungging akan memasukkan bersendok-sendok garam ke dalam gelas kopi paginya saking mual.


INT. KAMAR LEAN – TENGAH MALAM

LEAN masih menatap kertasnya di depannya. Dia memang lebih nyaman menulis cerita dengan pulpen dan kertas sebelum mengetiknya di komputer. Kopinya tinggal ampas dan itu bungkus terakhir. Dia benar-benar sadar sekarang, menulis cerita pendek bertema cinta dan harus berakhir bahagia itu sangat sukar di tengah perut yang melilit perih. Akhirnya, dia hanya bisa menulis kalimat ini: Mario dan Lusi jatuh cinta dan menikah. Namun terjadi krisis moneter, semua serbamahal dan uang susah dicari. Untuk bertahan hidup, Lusi membunuh Mario dan memasaknya.n

Pali, Agustus 2014.


Lampung Post, Minggu, 12 Oktober 2014

Sunday, June 23, 2013

Di Suatu Hikayat, Aku dan Emak Bercerita

Cerpen Guntur Alam


SEJAK aku dapat mengingat dengan jelas, Emak telah memulai hikayat ini. Sebuah cerita yang saban hari berjejal di lubang cupingku. Berdenging. Lalu, lamat-lamat menjadi doktorin. Dan aku, mau atau pun tidak, duduk khitmat menyimaknya. Menelaah dalam kebingungan tentang apa yang Emak ceritakan.

Dalam hikayatnya, Emak selalu berkisah tentang seorang gadis bertubuh purnama. Hidung bangir. Bibir semerah delima dan ikal mayang yang menjuntai sepinggang. Kisah yang membuat mataku mengerjap penuh binar. Kemudian, kisah itu berubah kelam saat Emak mulai menguak cerita si gadis secara dalam.

Kata Emak, di suatu limas ada seorang gadis yang terbuang. Bukan lantaran ia hidup sebatang kara atau pun tak bersanak-saudara. Gadis itu memiliki orangtua, pun dengan karib-kerabat. Hanya saja, sebuah nasib malang telah membuatnya tersisi ke sudut kelam. Dalam bilik pengap, tak berani menampakkan hidung ke khalayak.

Saat aku diam dengan penuh tanda tanya, Emak menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya. Pada bilangan masa yang tak hendak gadis itu ingat, ia berkenalan dengan seorang bujang rupawan. Seketika, rumpun mawar di dadanya menggeliat, merincakkan bulu hidung sang bujang. Demikianlah, masa menyalin-nyalin rupa dengan cepat, menggiring keduanya dalam rajutan basah yang hangat.

Seperti halnya bermain hujan, tempiasnya pastilah akan memercik dan menciptakan gerimis yang sedikit-sedikit akan membasahi. Pun dengan si gadis dan bujang. Sesekali, keduanya bertaut tangan, bermain mata, membelai rambut, lalu lambat-laun sesekali liur bertemu liur. Dan, pada bilangan gerimis yang kesekian, singkap-menyikap mulai menyeling. Gelombang aneh terasa menggiring, bukit bersalju mengintip, jakun turun-naik, dan seekor ular mendesis. Pada titiknya, bisa ular menyembur, menancapkan taring, dan si gadis terkapar; membiru dalam cemas yang mengkantar. Ular lenyap tak tentu rimba, bersilat lidah dengan dua cabang. Hingga, si gadis dibalur jelanga, terbuang dalam bilik pengap seorang saja.

***

AKU meringkuk dalam baluran cerita Emak yang mengerikan. Alangkah menakutkan. Di pelupukku, sosok gadis malang itu mengantar-kantar. Meringkuk dengan rambut kusut masai dalam bilik pengap. Sementara, tubuh kian kepayahan menahan perut yang terus mengembang. Sedang di luar bilik sana, hanya berjarak setipis dinding papan, bibir-bibir mengurai cerita busuk yang mengelindap jauh ke kedalaman dadanya. Dan kembali, air mata hanyalah kawan yang tak bisa diajak berbagi terlalu dalam.

Hikayat Emak selalu saja membuatku menghirup napas lebih dalam. Lebih-lebih ketika aku merasa ada sesuatu yang tumbuh dan terasa sakit di dada. Dan Emak kian gencar bercerita ketika di pagi buta aku meringis penuh derita, sesuatu memerah di bawah pusar.

Kau sudah jadi gadis sempurna, itulah ucapan Emak yang menenangkanku dalam balutan nyeri yang terasa mengkili. Lalu, kisah itu kembali terurai. Jangan percaya dengan mulut manis seorang bujang, apa pun yang ia katakan. Tersebab kumbang hanyalah ingin singgah sebentar saja, mencicip madu, lalu terbang. Kecuali, jika ia datang hendak bersarang, membentuk rumah dari liurnya, dan beranak-cucu yang banyak. Barulah kau percaya. Itupun bila ia telah bertandang ke limas kita, mengajak Ebak-emaknya, dan bermufakat atas kehendak yang merayap-rayap di palung dada.
Aku diam sejenak. Mencoba meraba-raba cerita Emak di antara rasa yang menyesak di perutku, kadang kala mendesak-desak jauh ke bawah pusar. Nyeri. Dan Emak seolah tak peduli, ia melanjutkan ceritanya kembali.

Ingatlah hikayat gadis yang Emak ceritakan, lantaran tak percaya cerita emaknya, ia bermain basah dengan bujang. Bila kau telah merasakan nyeri di sana dan kedewasaanmu dirayakan dengan keramas di satu pekan berikutnya, itu artinya kau bukan kanak-kanak yang ingusan serupa masa silam. Walau tubuhmu masih belia, tapi isi di dalam telah purna. Jadi, ingatlah selalu kata Emak, jangan sesekali biarkan bujang menitip liur kental di dalamnya, kecuali ia telah berijab-sah di depan Ebak-mu dan khalayak.

Kepalaku berdengung-dengung. Tertatih aku menyeret napas mengikuti ritme cerita Emak. Ini bilangan angka ke empat belas sejak aku mengoek panjang dari perut Emak, nyeri di bawah pusar dan dada sebagai penanda tetapi aku masih saja belum paham akan hikayat Emak yang terasa mengganjal.

Tinggal berapa tatih kau akan sampai ke tangga lebih tinggi, di sana kau akan paham apa yang Emak ceritakan.

Dan aku akan diam, berpura mafhum, lalu berujar dalam hati. Emak pastilah benar, ia telah kenyang asam-garam dunia, tentulah lebih paham akan apa yang ada. Lalu, aku menata napas. Menyibak urai pikiran yang kusut. Setelah itu, kubayangkan kembali sosok gadis malang itu, terserak seperti baju bekas di dalam bilik pengap. Sesekali tangannya meraba bundar perut dengan putaran tapak tangan. Aku bergidik. Kusabit gulma buruk yang tumbuh di pikiranku itu. Sekilas-pintas, kurasa gadis dalam otakku itu menengadah muka, aku berjinjit melihat raut wajahnya. Oh, tidakkah gadis itu mirip denganku?

***

APAKAH aku harus menceritakan ini kepada Emak? Riak kebingungan menghentak-hentak benakku. Sekejap itu, riak kenangan berpusar. Menderas. Dan mengombakkan dadaku. Kembali rasa aneh itu membuat hatiku merona. Lalu, bayangan wajah dengan rahang keras itu mengantar-kantar, sebaris senyum manisnya juga menghujam-hujam. Oi, dag-dig-dug di jantungku kian tak berirama. Alahai, kenapa jua kuingat-ingat rautnya? Menyesal, aku benar-benar menyesal ikut Yuk Maryam membantu hajat di rumah Wak Safar. Bila tidak, tentu mataku tak akan bertaut dengannya, cupingku tak mendengar desau suaranya.

Kau cantik, seperti purnama yang terbit di kelam hatiku. Maukah kau jadi penerangku selamanya?

Kata-katanya itu. Binar matanya. Jemarinya yang terasa besar dan hangat –yang tiba-tiba saja menggenggam tanganku malam itu. Kepalaku semaput. Darahku berdesir-desir. Mendadak saja raut muka Emak terlintas, lalu dengung hikayatnya mulai terdengar. Berdenging-denging. Tumpang-tindih dengan lempengan peristiwa malam itu. Aku terengah. Hikayat Emak dan kenangan hangat malam itu membelukar di kepala. Aaarrrggghhh...! Aku harus menebasnya, harus menggundulinya. Kuulang-ulang cerita Emak, berkejaran dengan ritme yang kacau. Wajah rupawan. Wajah Emak. Hikayat Emak. Sengau suaranya.

Ingatkah hikayat Emak. Jangan percaya dengan mulut manis seorang bujang, apapun yang ia katakan. Tersebab kumbang hanyalah ingin singgah sebentar saja, mencicip madu, lalu terbang. Kecuali, jika ia datang hendak bersarang, membentuk rumah dari liurnya, dan beranak-cucu yang banyak. Barulah kau percaya. Itupun bila ia telah bertandang ke limas kita, mengajak Ebak-emaknya, dan bermufakat atas kehendak yang merayap-rayap di palung dada.

Kata-kata Emak itu seperti aroma tanah basah yang habis dilucumkan hujan. Aku menghirupnya dalam-dalam, melegakan dada. Lalu, kujemput gulita dalam pejam, berniat mengusir simpul senyum sang bujang rupawan. Celakanya, wajah itu telah menghadang di sana. Dan aku tak berkutik. Kuhalau raut wajah dan sengau suara yang menggedor hati, sia-sia. Dengung suara Emak pun tak dapat lagi memercik. Aku pasrah. Kubiarkan saja, wajah itu merajut angan dalam benak.

Itu wajar, kau seorang perawan, Fa. Bila telah tiba masanya, kau akan menikah. Kalau tak berkenalan dengan bujang, dari mana kau dapat calonnya?

Itulah kata-kata Yuk Maryam ketika kubagi galau yang bersarang di dada. Entah, aku kian tak paham. Kian terombang-ambing saja. Seolah berkongsi dengan hati dan raut sang bujang yang kian hari kian rajin saja hadir, terasa semua ini bersitentang dengan Emak. Aku cemas. Bila kulanggar, tentu aku akan terbuang seperti gadis dalam hikayat Emak. Tapi, aku tak kuasa menanggul hati yang menampung air kasmaran, kian berdesak-desak saja.

Akhirnya aku menyerah. Kata-kata Yuk Maryam menyudahi kemarau. Walau diam-diam tanpa sepengetahuan Emak, kusambut tangan besar yang hangat itu. Dan semua terurai dengan indah. Degup-degup di jantung masak sempurna. Tak ada apa-apa, kami bertukar cerita, bertukar tawa, bertukar rindu, bertukar cinta, sesekali bertukar hangat di telapak tangan.

***

HANYA Risma yang tahu dan tentu saja bujang keparat itu. Oi, haruskah aku mengurai cerita legam ini kepada Emak? Tapi, aku tak akan mampu. Aku tak bisa. Tentu Emak akan murka, bukan lagi beliung serapah atau repetan yang tak usai walau malam telah matang sempurna sekali pun, bila Emak tahu ini. Pastilah Emak akan merajam dan melemparku ke dalam bilik pengap serupa gadis yang ada dalam hikayatnya. Tetapi, aku tak akan mampu menyimpan bangkai ini berlama-lama.

Lagi, rasa pedas dalam dada membuat merah dan menggigilkan kedua mataku. Lalu, rasa itu menghimpun bulir-bulir hangat yang asin untuk bergulir. Dadaku sesak. Napasku tersengal. Peritiwa-peristiwa yang bersinggungan mengail-ngail airmata. Dengung hikayat Emak yang membuatku muak –tetapi kali ini begitu hendak kudengar. Desau suara bujang yang terasa membuai hingga aku lupa bumi berpijak. Keheningan membawa peristiwa-peristiwa itu kian kentara dalam batok kepala. Dan air bening itu kembali mengalir. Aku tak ingin menangis. Tapi, air mata telah menciptakan telaga di mukaku yang kusut masai.

Aku berusaha menyabit belukar galau yang tumbuh di hati. Entah, aku pun kian tak paham dengan apa yang tumbuh di batok kepalaku. Marah. Sesal. Takut. Semua berbaur. Lalu mengelindap. Silih berganti wajah Emak dan Ebak. Aku gemetar melihat raut mereka dalam pelupuk mata. Tentu, ini adalah hujan darah bagi mereka, akan berkalung malu hingga ajal menjelang. Kupejam mata, serasa Emak tengah meratap-lolong di kelam raya, menyesali nasib malang yang menimpahnya, beranak gadis bengal, mengusal-ngusalkan kotoran di mukanya. Membayangkan itu, airmataku kian beranak-pinak.

Kuraba perut yang lamat-lamat terasa lebih besar dari biasa. Ada detak halus di dalam sana, detak yang membuat perasaanku luluh seketika. Apa aku tega? Hatiku berdesir karenanya. Lamat pula, segandeng mataku menangkap sepiring nanas muda yang terserak, segelas minuman pahit yang kata Risma mujarab. Emak... Oh, betapa aku hendak mendengar Emak berhikayat sekarang. Kembali, kabut mengapung di mata. n

C59, 2011-2013


Lampung Post, Minggu, 23 Juni 2013

Sunday, April 15, 2012

Hari Tenggelamnya van der Decken

Cerpen Guntur Alam


BANYAK cerita yang beredar tentang tenggelamnya kapal yang dikomandoi Kapten Hendrik van der Decken di Tanjung Harapan, 1641. Kapal dagang VOC yang bertolak dari Batavia dengan membawa rempah-rempah menuju Holland. Dari sekian banyak cerita yang ada, semua seolah sepakat kalau peristiwa naas itu akibat ulah Kapten Hendrik van der Decken yang bersekutu dengan iblis. Menentang kehendak langit dan bertingkah sombong akan dapat menaklukan badai hebat yang menghadang di mukanya, hingga ia menerima kutukan dan menjadikan kapalnya sebagai kapal hantu legendaris: Flying Dutchman.

Ah, seandainya mereka tahu. Ya, seandainya mereka tahu kalau bukanlah itu penyebab utama tenggelamnya kapal Var der Decken. Ooh, apa kisah yang telah melegenda itu akan hilang bila aku menceritakannya? Entahlah, pastinya mereka akan tetap beranggapan, kemampuan Kapten Hendrik van der Decken yang bisa mengarungi lautan lebih cepat dari jadwal yang ada antara Batavia dan Holloand akibat persekutuannya dengan makhluk gaib akan tetap ada di benak mereka. Namun, itu tak akan mengurungkan niatku untuk menceritakan kisah tenggelamnya kapal Van der Decken ini sesuai versi seorang awaknya yang selamat.

Awak yang selamat? Ahai, tentu kau tak akan menduga ini. Ya, aku dapat menerkanya. Kau pasti terperanjat bila mengetahui kalau ada seorang awak kapal Van der Decken yang selamat dari petaka itu. Tersebab, cerita telah tersiar ratusan tahun lampau, kalau kapal itu hilang beserta seluruh isinya. Lalu, darimana aku tahu ada awak yang selamat dan mendapat cerita tentang kejadian naas itu? Nanti, nanti aku kisahkan bagian itu. Pertama-tama, marilah kita simak cerita yang diuraikan awak itu kepadaku.

***

SAAT bertolak dari Batavia, para awak kapal sudah mendapat firasat tak baik. Bukan. Bukan karena mereka sudah menduga akan mengalami nasib naas. Bukan itu. Perihal badai, mereka kerap kali menemukannya. Telah puluhan kali mereka bertempur dengan badai, terlebih di Semenanjung Harapan itu. Firasat buruk yang menghantui seluruh awak kapal adalah percekcokan antara kapten mereka dengan istrinya, Mevrouw Bernard. Ya, nama asli Kapten Hendrik van der Decken adalah Bernard Fokke.

Sebenarnya, perang dingin antara sang kapten dan istrinya telah dimulai sejak kapal hendak berlayar dari Holland menuju Batavia. Telah berkali-kali perempuan itu memaksa Kapten Hendrik van der Decken untuk mengizinkannya mengikuti pelayaran dari Holland menuju Batavia. Ah, tentu tak ada satu pun kapten kapal di muka bumi ini yang hendak meluluskan permintaan seperti itu. Pasti sangat merepotkan. Terlebih Kapten Van der Decken tahu, keinginan istrinya hanyalah sebuah ambisi yang hendak dipuaskan. Perempuan itu hanya ingin menghabiskan ratusan gulden untuk berburu barang mewah yang kerap dipamerkan kawan-kawannya. Namun, entah apa yang terjadi, tak seorang awak pun yang tahu, tiba-tiba saja pada pelayaran kali ini Kapten Van der Decken meluluskan permintaan istrinya itu, walau semua diawali percekcokan seperti biasa. Dan para awak kapal hanya terngangah melihat perempuan itu ada di kapal.

Inilah petaka yang ditakutkan seluruh awak kapal: mereka takut, Mevrouw Bernard akan mengendus rahasia terbesar kapten mereka. Ah, tak ada yang berani membayangkan itu semua. Bagaimana rupa bila perempuan mandul itu tahu kalau di Batavia, Kapten Hendrik van der Decken memiliki seorang istri dan putri? Ah, betapa itu sangat mengerikan. Tentu Mevrouw Bernard akan mengamuk. Lebih-lebih bila perempuan itu tahu jika madunya seorang perempuan pribumi!

Mungkin. Mungkin memang sudah tercatat dalam garis semesta, ketakutan para awak kapal itu terwujud. Tapi, tidak ada yang menduga kalau kenyataan yang ada jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.

Beberapa hari sebelum kapal mereka bertolak dari Batavia menuju Holland, petaka itu datang. Perempuan pribumi yang menjadi istri kedua Kapten Hendrik van der Decken meninggal dunia. Saat itu memang tengah terjadi wabah malaria di Batavia. Telah puluhan orang yang meninggal dunia, salah satunya istri kedua Kapten Hendrik van der Decken. Dan masalah dimulai, tak ada yang mengurus putri sang kapten. Gadis belia yang baru menginjak usia empat belas tahun itu tak memiliki sesiapa di Batavia. Ah, sebuah pilihan yang berat. Akan lain soal bila Mevrouw Bernard tak ikut pelayaran ini. Tentu Kapten Hendrik van der Decken akan mudah menyusupkan putrinya itu dan menyerahkan pada ibunya di Holland. Andai, andai saja kondisinya seperti itu, tentu cerita ini akan berbeda.

Sialnya, Mevrouw Bernard mengendus semuanya. Tentulah dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Perang itu meletus seketika. Mevrouw Bernard seperti singa terluka, ia mengamuk dan mengeluarkan sumpah serapah. Kapten Hendrik van der Decken berusaha tak terlalu menggubris. Itu bisa dipahami dari sikapnya yang menenggak alkohol lebih banyak. Sementara itu, Mevrouw Bernard mengancam akan mengakhiri ikatan mereka sesampai di Holland nanti.

***

TAK ada yang menduga. Sungguh, tak ada yang menduga kalau Mevrouw Bernard begitu terluka dengan pengkhianatan yang dilakukan Kapten Hendrik van der Decken, hingga perempuan itu menyusun siasat yang demikian keji.

Kapal Van der Decken berlayar seperti biasa, sesuai jadwal yang telah ditetapkan syahbandar di Pelabuhan Batavia. Pada mulanya, tak ada yang terjadi. Perang dingin itu seolah redam. Para awak beranggapan telah terjadi gencatan senjata. Hal itu membuat para awak menghela napas lega. Hingga petaka itu terkuak.

Entah, iblis mana yang menyusup di hati Mevrouw Bernard hingga pikiran keji itu terlintas di benaknya. Tak ada yang menduga; para awak, apalagi Kapten Hendrik van der Decken. Benar-benar suatu siasat keji yang membuat orang akan menganggap ini adalah mimpi buruk yang teramat nyata.

Siasat keji apa?

Ah, aku tak kuasa mengisahkan bagian ini. Bagian yang sesungguhnya menjadi awal petaka itu. Bagian yang menjadi pangkal tenggelamnya kapal Van der Decken. Baiklah, akan aku ceritakan bagian itu dengan sangat pelan, tersebab bila mengingat bagian ini, aku masih kerap didera ngeri.

Subuh itu, ketika langit di atas laut masih temaram. Tiba-tiba saja putri Kapten Hendrik van der Decken berjalan tertatih-tatih ke tempat sang kapten. Wajahnya pucat, lutut gemetar, dan pakaian yang kusut masai. Tentulah sang kapten mengeryitkan kening begitu melihat penampilan anak gadisnya. Apa yang terjadi? Pasti itu yang terbersit di benaknya kala itu. Lalu, kisah keji itu teurai dari bibir gadis belia itu.

Katanya, semalam ia baru saja dijual ibu tirinya kepada beberapa saudagar Belanda yang jadi penumpang di kapal ini. Dan para saudagar itu telah menggumuli tubuhnya semalaman.

Ah, dapat kau terka. Merah padam wajah sang kapten. Serta-merta ia berteriak seperti kesetanan mencari istrinya. Seperti yang dapat ditebak, Kapten Hendrik van der Decken mengamuk hebat. Mevrouw Bernard menjadi bulan-bulanan dalam amukan itu. Puncaknya, ia menembak mati istrinya itu dan beberapa saudagar Belanda yang telah menggumuli anaknya, lalu membuang mayat mereka ke laut.

Pemandangan mengerikan itu membuat kapal mencekam. Seluruh awak dan penumpang senyap. Tak ada yang berani membuka suara. Kapten Hendrik van der Decken membaluri dirinya dengan alkohol. Suasana kapal makin tegang ketika seorang awak mengatakan kalau anak gadis sang kapten jatuh sakit. Gadis itu tak sadarkan diri dan darah masih terus mengalir dari selangkangannya. Tentu saja, berita itu kian membuat Kapten Hendrik van der Decken kacau. Ia menyeru seluruh awaknya bekerja keras agar kapal dapat melaju lebih cepat, menggapai Semenanjung Harapan dan mendarat di pelabuhan yang ada di sana untuk menemukan dokter bagi putrinya.

Ketika kapal Van der Decken mendekati perairan Tanjung Harapan, mendadak cuaca yang tadi cerah berubah. Seolah ada tangan-tangan gaib yang berusaha menjegal keinginan sang kapten. Langit mendadak gelap, angin kencang tiba-tiba saja bergulung dari arah Tenggara. Sekejap saja badai hebat telah mengamuk. Kapal Van der Decken terjebak dalam badai dahsyat.

Awak kapal panik. Badai ini terlalu hebat untuk ditaklukan. Tapi, Kapten Hendrik van der Decken tak perduli. Ia tetap tak memerintahkan para awak untuk menggulung layar. Ia masih saja berusaha menyisir laut, menaklukan terjangan angin dan ombak yang kian menggila. Dan tiba-tiba saja, terjangan angin yang keras merobek kain layar. Kapal Van der Decken kian terombang-ambing di tengah badai. Para awak dan penumpang menyeru kepada sang kapten untuk menurunkan perintah menggulung layar dan membiarkan kapal terombang-ambing sampai badai reda. Tapi, Kapten Hendrik van der Decken tak menggubrisnya. Di pelupuk matanya, terbentang wajah putrinya yang tengah sekarat. Ah, gadis itu adalah jantung hatinya. Seorang anak yang bertahun-tahun ia dambakan. Ia tak ingin kalah dari badai.

"Aku akan menaklukan badai dan melewati semenanjung ini walaupun hari kiamat yang menghadang!"

Teriakan Kapten Hendrik van der Decken itu tentu saja meremangkan bulu kuduk seluruh awak kapal. Lepas ia melontarkan kemarahan itu, angin kian mengganas, ombak menggila dan tiba-tiba saja ombak besar menghantam kapal itu. Semua awak terpelanting di geladak, lambung Kapal Van der Decken robek! Penumpang histeris, berebutan menuju sekoci. Sekali lagi, ombak besar datang bergulung-gulung. Orang-orang panik hendak menyelamatkan diri. Kapten Hendrik van der Decken tak peduli, seolah menyosong maut, ia menerjang ombak besar itu. Dan Kapal Van der Decken lenyap ditelan ombak.

***

AKU tahu, mungkin tak akan banyak yang percaya akan ceritaku ini. Dalam benak mereka, tentu telah terpatri cerita tentang kapal Van der Decken yang menjelma menjadi kapal hantu paling misterius itu. Ah, itu tak akan mengurungkan niatku untuk menceritakan versi awak Van der Decken yang selamat. Karena awak kapal yang selamat itu adalah leluhurku, satu-satunya pribumi yang bekerja di kapal Van der Decken, yang bertugas membersihkan seluruh geladak.

Saat badai itu, ia terlempar dan terampung di atas papan serpihan Van der Decken. Lalu, beberapa nelayan menemukannya di perairan Tanjung Harapan. Ia tak pernah sanggup untuk menceritakan kejadian mengerikan itu, bertahun kemudian ia bisa kembali ke Batavia dengan menumpang kapal dari Holland. Kisah ini hanya ia ceritakan kepada keturunannya, menjadi kisah temurun yang diuraikan. Dan hanya keturunannya pulalah yang tahu, kalau dewi laut yang disebut-sebut orang dalam mitos Van der Decken bernama Calypso sesungguhnya hanyalah bohong belaka, sebab Calypso adalah nama putri semata wayang Kapten Hendrik Van der Decken.

C59, 16-17 Oktober 2011.


Lampung Post, Minggu, 15 April 2012


 

Sunday, October 23, 2011

Cerita dari Segelas Kopi

Cerpen Guntur Alam


SEJAK kedatangannya di kampung ini, lelaki itu selalu duduk di teras limasnya. Teras yang menghadap ke jalan raya dan tengah kampung. Bila ditanya oleh orang-orang yang lalu lalang ke rimba karet sedang apa dirinya? Lelaki itu selalu menjawab: "Aku sedang mendengarkan cerita dari segelas kopi."

Ahai, tentu saja jawaban lelaki itu membuat orang-orang dusun mengeryitkan kening pertanda pening. Apakah ada segelas kopi yang pandai bercerita? Mungkinkah serupa kajut-kajut, orang tua dari Emak-ebak mereka, yang bercerita setiap malam menjelang punai saat mereka akan terlelap di masa bocah? Tapi, semua itu tak dapat mereka masukan dalam akal.

Kabar tentang lelaki yang punya segelas kopi pandai bercerita itu merebak ke penjuru dusun. Mula-mula cerita itu berloncatan dari mulut-mulut perempuan kampung, kemudian jadi bumbu dapur, dimasak dalam gulai pindang, dihaluskan dalam ulekan sambal pedas, lalu dihidangkan di meja makan malam. Setelah itu, laki dan bujang-gadisnya akan memasang telinga sembari mendecak-decakkan lidah atas hidangan yang dikunyah lekas-lekas.

Dari sanalah kisah lelaki yang memiliki segelas kopi bercerita itu mengalir. Ada yang sangsi, ada pula yang menganggapnya benar-benar terjadi. Dan beberapa orang yang terpancing penasaran di hati, berganti-ganti, menjadi tamu lelaki itu di pagi hari.

Seperti pagi ini, ketika kabut masih menyungkup wuwungan limas, embun baru saja menyeruak seperti biji keringat di jidat, lelaki itu telah menerima dua tamunya.

Lelaki itu membawa tamunya menikmati pagi yang menggigil di teras limas. Tiga gelas kopi telah terserak di atas meja. Asap putih tipis masih mengepul-ngepul di atasnya. Dua pasang mata tamu lelaki itu tak lepas menatap gelas-gelas kopi yang ada.

Seolah tak melihat, mungkin saja ia berpura-pura, lelaki itu membiarkan saja kedua tamunya itu memandang lekat-lekat gelas kopi yang ada di depan mereka. Lamat, lelaki itu menjangkau gelas kopinya, menyeruput sedikit isinya. Terdengar decakan lidahnya yang beradu air kopi panas.

"Silakan, diminum," ujar lelaki itu begitu melihat kedua tamunya masih saja menatap ke arah gelas kopi masing-masing.

"Katanya, gelas kopimu pandai bercerita. Apa benar?" salah seorang tamu lelaki itu tak kuasa lagi menahan gumulan tanya yang tindih-menindih dalam batok kepalanya. Lelaki itu tercengir, ia meletakkan gelas kopinya kembali ke atas meja. Melihat cengiran lelaki di depan mereka, kedua tamu itu bertukar pandang. Apakah ada yang aneh? Mungkin itu yang ada dalam benak mereka.

"Kami mendengar desas-desusnya merebak di kampung. Dan kami ingin membuktikan sendiri kebenaran cerita yang beredar itu," sahut yang seorang lagi, "Tapi sejak tadi, kami tak mendengar kopi di depan kita ini berkisah," tambahnya. Seolah tak perduli dengan cengiran tuan rumah di depannya.

"Gelas kopiku ini memang pandai berkisah," sahut lelaki itu begitu tamunya usai berkata, serentak kedua tamu itu saling lempar pandang. Kemudian, melongok dengan muka penuh gurat bingung. Keduanya memasang mata yang begitu lekat pada gelas kopi di atas meja dan berganti ke raut muka tuan rumah.

"Aku tak mendengar apa-apa," desau tamu itu kepada kawannya yang duduk di sebelahnya. Lagi, kedua retina keduanya bertaut.

"Aku pun tidak," sahut kawannya, "Atau kita yang tak bisa mendengarnya?" seolah bertanya pada dirinya sendiri, kedua lelaki itu kembali melarikan mata pada gelas kopi sang tuan rumah.

"Apa kalian tak mendengar kisahnya sejak tadi?" si empu rumah melontarkan tanya itu. Serentak, kedua tamunya mengangguk. Dan gurat takjub dikelindapi bingung merekah seperti kuntum-kuntum bunga di kedua mukanya.

"Wah, sayang sekali kalau begitu. Padahal, gelas kopiku ini berkisah hal yang sangat menarik pagi ini," ujar lelaki si empu rumah sembari jemari tangannya memegang gagang gelas.

Kedua tamu itu benar-benar takjub dibuatnya. Apakah ini sebuah kebenaran? Mata mereka kian melotot melihatnya. Melihat gelas keramik dari tanah itu. Sejatinya, gelas serupa itu sering mereka jumpai dijual di hari pekan. Dibawa toke guci dari Palembang atau Prabumulih sana. Warnanya kuning gading, mengilat, dengan lukisan seperti ruas-ruas bambu pada dinding luar. Tingginya hanya sekilan tangan. Tak ada yang istimewa. Tapi, menjadi luar biasa ketika si empu mengatakan kalau gelas itu pandai berkisah. Tidakkah hal ini luar biasa didengar telinga?

"Apa yang gelas itu kisahkan?" seorang dari tamu itu melempar tanya. Kawannya mengangguk cepat sebagai tanda setuju dengan tanyanya. Si empu rumah kembali tercengir. Lalu, ia mengangkat gelas kopi itu, menyeruput sedikit isinya. Aroma kopi hangat yang menyeruak di kedua lubang hidungnya, memberi sensasi luar biasa.

"Apa kalian hendak mendengarnya?" lelaki itu malah balik bertanya. Gegas, kedua tamu itu mengiyakan dengan anggukan, "Baiklah, akan aku ceritakan," lelaki itu membetulkan letak duduknya yang tak salah. Pun dengan kedua tamunya yang ikut-ikutan lata, membetulkan letak duduk yang tak salah.

"Inilah kisah yang diutarakan gelas kopi ini padaku," buka lelaki itu pada kisahnya. Kedua tamunya duduk menyimak dengan penuh khidmat.

***

ADA seorang lelaki yang baru membeli sebuah limas di suatu kampung. Lelaki itu memutuskan untuk menetap di kampung yang asri dan hijau itu. Ia sudah lelah dengan hiruk pikuk kota. Ia hendak meninggalkan semua urusannya di sana. Semua hal telah ia serahkan pada anak dan menantunya. Ia ingin menghabiskan masa tuanya di kampung yang hijau, mengenang masa-masa muda bersama almarhumah istrinya, dan tentu saja ia ingin memiliki kisah lain pada hidupnya, selain yang telah ia miliki sebelumnya.

Semua yang lelaki itu impikan nyaris terwujud. Kampung yang asri, penduduk yang ramah, dan keheningan yang begitu senyap. Sayangnya, kesendirian kerap membuat lelaki itu merasa bosan. Setelah hiruk-pikuk kota yang menjejali hidupnya selama ini, tiba-tiba saja ia dikungkung sepi yang demikian mencekam. Tak ada kawan baginya melewati hari. Penduduk kebanyakan sibuk menghabiskan hari di kebun-kebun karet, barulah ketika petang menjelma mereka pulang. Dan ketika malam masih ingusan, kampung telah lelap oleh dengkuran lelah.

Di limas yang ia beli? Tak ada siapa-siapa, hanya seorang pembantu yang disertakan anaknya. Pembantu itu terlalu sibuk membenahi rumah, memasak, mencuci, dan tentu saja bergosip dengan gadis-gadis belia di sungai. Pastilah, mereka tengah membicarakan bujang anu atau anu yang berbadan bagus, bersenyum manis, bermata elang, bertangan besar, bahkan mungkin saja tentang isi celana.

Sampai suatu hari, lelaki itu menemukan gelas kopi antik, warisan si empu rumah terdahulu, yang juga seorang tua yang tinggal sendiri dan mati dalam kesendiriannya. Mulanya, lelaki tua yang baru menghuni rumah itu tak tahu kalau gelas itu pandai berkisah. Sampai di suatu pagi, saat ia duduk menghadap ke jalan raya di teras limasnya, gelas kopi itu memulai kisahnya yang pertama.

Inilah kisah gelas kopi itu.

Gelas kopi itu berkisah pada tuan barunya. Kalau (dulu) sebelum tuan barunya itu datang, penghuni limas itu adalah seorang lelaki renta yang tinggal sendiri. Padahal, anak lelaki itu sangatlah banyak. Namun, tak seorang pun yang tinggal bersamanya.

"Mengapa?" sang tuan baru bertanya pada gelas kopinya.

"Karena semua anak lelaki renta itu adalah perempuan, Tuan," gelas kopi menjawab demikian cepat. Berkeryitlah kening sang tuan baru. Ia tak paham akan maksud gelas kopi. Seperti mengerti, gelas kopi itu menjelaskan.

Dalam adat-budaya kampung ini, Tuan. Anak bujang adalah pewaris harta dan orang tua. Jadi, bilalah sang orang tua telah lanjut usia, tanggung-jawab merawat dan menghidupinya ada di pundak anak bujangnya. Semua warisan, pun dengan rumah limas, juga tanggung-jawab anak bujang. Anak-anak gadis akan menikah, lalu mengikuti langkah suaminya, menjaga harta dan warisan mertua. Tak bisa menjaga harta dan warisan orang tua.

Inilah nasib nahas orang tua renta itu, Tuan. Sepeninggal istrinya yang wafat setahun silam, lelaki renta itu tinggal sendiri di limasnya yang besar. Bukan tak berbelas anak-anak perempuannya. Tetapi, semua tak berkutik. Walapun mereka mendapat jatah sama dengan saudara-saudara mengenai harta warisan orang tua, tapi tetap tak ada yang bisa untuk tinggal bersama lelaki renta itu di limasnya. Sebab, apa kata orang sedusun raya bila mengetahui ihwal memalukan ini: Seorang lelaki, mengikuti istrinya melangkah. Alahai, itu mengerikan!

Sampai, pada suatu ketika lelaki renta itu menemukan gelas kopi yang pandai berkisah, Tuan. Dari gelas kopi itulah, si lelaki renta beroleh kawan dalam kesendirian. Mereka bertukar cerita tentang banyak hal, tentang kenangan, rindu, dan masa yang pernah mereka lewati masing-masing. Bahkan tentang pemilik gelas kopi itu sebelum ditemukan lelaki renta.

"Siapa pemilikmu sebelum aku, wahai gelas kopi?" tanya lelaki renta itu. Sang gelas kopi menceritakan pemiliknya sebelum lelaki renta itu. Inilah kisah gelas kopi itu pada si lelaki renta.

Dulu, di masa Sriwijaya, gelas kopi itu dibawa oleh seorang saudagar China. Setelah mengarungi lautan yang luas dan bermil daratan yang terbentang. Gelas kopi itu akhirnya menyudahi perjalanannya pada sebuah pasar di pelabuhan Sriwijaya. Seorang gadis cantik telah menukarnya dengan beberapa koin uang pada sang saudagar China.

"Aku hendak membelikan gelas ini untuk kopi ayahandaku," itulah ucapan gadis itu ketika seorang kawannya bertanya. Gadis itu tahu, ayahandanya seseorang yang menyukai kopi. Dan sebelum ia meninggalkan ayahandanya sendiri karena akan menikah dengan pujaan hatinya, ia ingin memberi ayahandanya itu pengganti dirinya. Dan ia memilih, gelas kopi itu adalah pengganti yang tepat untuk ayahnya. Dalam benaknya, ayahnya akan bercengkrama tiap pagi bersama gelas itu, seperti kepadanya.

Singkat cerita, gadis itu telah menikah dan diboyong suaminya. Tinggallah ayah si gadis yang dirundung sepi. Sesekali, anak, menantu, dan cucu-cucunya datang bertandang. Tapi, kedatangan mereka bukanlah obat pelipur laranya, melainkan malah membuatnya kian merasa kesepian. Tersebab, setiap mereka pulang, lelaki itu akan disungkup sepi yang demikian merajam.

Setelah ia berpikir dengan cermat, lelaki itu memutuskan untuk membeli sebuah rumah di daerah perkampungan. Ia ingin meninggalkan bandar dagang Sriwijaya. Ia sadar, ia telah tua dan tak mungkin lagi berniaga. Harta dan semua yang ia punya, telah ia bagikan kepada putri-putrinya. Ia ingin menikmati kesendiriannya di kampung tenang, bersama penduduk yang ramah, dan tentu saja dengan segelas kopi yang pandai berkisah.

***

"ITULAH, kisah yang diceritakan gelas kopi ini," tutup si lelaki empu rumah pada dua tamunya yang menatap dengan takjub. Keduanya saling pandang. Benar-benar kisah yang menarik di hati mereka. Ketika matahari mulai merayap, kedua tamu itu pamit pulang dan berkata: "Kami akan mengisahkannya pada penduduk kampung lainnya."

Lelaki si empu rumah hanya tersenyum saja. Ia menjangkau gelas kopinya. Lalu, menyeruput isinya pelan. Gelas kopi berbisik pelan, "Apakah itu cerita tentang Tuan?"

Tanah Abang - C59, 06-09 September 2011


Lampung Post, Minggu, 23 Oktober 2011

Sunday, April 3, 2011

Jurai

Cerpen Guntur Alam

[1]

EBAKku meninggal hanya beberapa purnama saja setelah aku mengoek panjang dari rahim emak. Di pagi kelabu pada tanggal 5 Mei 1987. Pagi yang kelak kucatat sebagai pagi yang paling pekat dalam hidup. Sebuah pagi yang ternyata begitu mahadalam menentukan nasibku.

Mula-mula, pagi itu adalah pagi yang biasa. Serupa pagi-pagi yang datang saban harinya. Berembun. Dingin. Basah. Dan matahari merah sebesar tampah menyeruak dari rerimbun durian rimba di seberang Sungai Lematang, memedarkan warna saga yang menggoda di kilat muka air yang mengalir ke hilir. Lalu, sesuatu bernama jurai membuatnya menjadi pagi yang buta, tertutup, dan gulita.

Ucapan emaklah yang mula-mula (pula) menyiumkanku pada pagi yang gulita itu. Menghadirkan sebuah pagi yang teramat kelam. Ebakmu telah mati dan kau seorang yatim bersamaku di limas ini.

Lukisan wajah emak yang lembut tiba-tiba mengeras, berubah macam pahatan cadas putih di Pengentingan, hulu Sungai Lematang yang berpusar ganas dan lubuk para buaya kumbang. Aku merasa mulut-mulut buaya kumbang itu menganga, memperlihatkan taring-taring mereka yang menguning dan menjijikkan. Mulut buaya-buaya itulah muara jalan yang harus kulewati setelah tamparan keras emak di dada, tamparan yang menyisakan sebuah kesakitan yang mengental dan teramat kental. Dan seolah ada mulut-mulut gaib, terurailah cerita tentang pagi-pagi kelamku.

Juraimu buruk, Bujang. Ebakmu mati muda, di usia kedua puluh delapan. Tak bermusabab, seperti kena tenung dukun-dukun wanita yang merapalkan ilmu setan. Dapatlah kau tengok parasmu yang menghabiskan gurat mukanya. Adalah pantang bagi orang dusun kita, anak bujang membelah pinang dengan ebaknya. Alamat kau pun akan mati muda. Mati tanpa musabab di pagi gulita.

Oi, zaman! Alangkah dingin pagi ingusan ini. Berembun dan mencumbu sumsum. Hendak rasanya aku berlari dan meringkuk dalam telekung emak. Menyumpal cuping rapat-rapat dari ramalan yang diterakan orang sedusun laman atas nasibku yang kelam. Seketika jalan kampung ini serupa jalan penuh bangkai, mengelindapkan bau busuk yang teramat maha, mengental, dan mengaduk-aduk isi perutku dengan riang-gembira. Adalah kepercayaan mereka akan jurai, nasib seseorang yang tertera dari nasib-nasib yang mengukung leluhurnya.

Ebakmu berbini dua. Gampang sekali termakan rayuan janda. Tak pandai menjaga mata, tak cakap menjaga rasa. Oi, dapatlah pula kau rasakan bila kakimu melangkah, Bujang. Serupa telapak jijik yang enggan menjejak tanah. Itu alamat, kau pun akan berbini dua.

Itulah yang membuatmu mendadak benci dengan nasib buruk ebak. Jikalau ia tak mati muda, jikalau ia tak bebini dua, jikalau ia tak menurunkan parasnya, jikalau ia tetap ada, di sini, bersamaku, mengubah pagi gulitaku. Serupa pagi bujang-bujang yang mengurai tawa dengan derai yang rincak.

Dari ebak, kusandang jurai mati yang disematkan orang-orang sedusun Tanah Abang di pedalaman Muaraenim sana. Jurai yang membuat langkahku berat menyongsong matahari merah di pagi buta.

[2]

BILA aku menatap wajah emak yang hitam mengeras, aku seperti terbangun dari mimpi buruk pada malam yang teramat pekat. Emakku seorang perempuan perkasa. Tak banyak perempuan-perempuan di Tanah Abang kuat menjanda dalam bilangan waktu yang teramat lama bahkan seumur hidupnya. Siapa pula yang tahan mendengar gunjingan, cibiran, lebih-lebih tatapan sinis wanita-wanita bersuami gatal. Ada mata-mata penuh selidik, ada cuping-cuping yang menyimak dengan teliti.

Emak-mu perempuan kuat, Bujang. Tengoklah limasmu yang terpancang, menghujam ke kedalaman tanah leluhur kita. Rimba-rimba balam yang diwariskan ebakmu, mengalirkan getah-getah putih yang dipahat tangan kapalan emakmu sejak pagi masih ingusan, sejak kau masih lelap dalam balutan besan kotak-kotak di tengah limas.

Jurai emak yang orang-orang Tanah Abang ceritakan padaku adalah seruas obor bambu berminyak tanah penuh. Sebatang obor yang mengawani derap langkah yang terseok-seok, terantuk dalam gulita pagi yang mataharinya telah mati.

Pada garis tangan emak yang keras, pada telapaknya yang kapalan, aku menetak sekisah orang-orang Tanah Abang akan jurai yang Ebak wariskan padaku. Tentang mati muda, tentang berbini dua, tentang kemalangan yang mengintai dari balik pekat. Dari deru napas emak yang tersengal ketika menggenjot sepeda kumbang berpipa lurus di tengahnya bila mendaki bukit-bukit terjal menuju rimba balam, aku menghirup aroma bunga-bunga. Menghirup denyut yang berdetak menuju kehidupan.

Pada emak aku merajut asa yang hampir tenggelam dalam pusaran ketakutan yang diranakkan malam. Pada emak aku merangkul matahari yang hendak padam. Membawanya berlari menuju pagi, menuju pintu gerbang di ujung gulita tak berpangkal.

Emakmulah yang menjadi muasal atas kematian ebakmu. Emak-mu, wanita berkulit hitam, berwajah keras, dan hati yang serupa cadas di Pengentingan. Ia meminang kesumat pada dukun-dukun wanita yang merapalkan mantera setan di kampung sebelah, merajam ebakmu yang telah menikam hatinya dengan pengkhianatan. Emakmu wanita keras yang memberimu jurai atas sebuah dendam.

Oi, adalah jalan memang penuh onak durinya. Hendak aku terjerembab, lalu meraung, jika perlu melolong-lolong pada kelam raya yang makin gulita. Cerita yang orang-orang Tanah Abang tambahkan pada sebaris riwayat perkasa Emak, membuatku termangu di tengah gelap. Mendadak saja, aku merasa obor di tanganku meliuk lemah, ada kerlip kecil seolah kerakap yang ada di batu. Matahari yang kugendong dalam dekapan, seperti hendak terlepas dan menggelinding, jatuh, ke dalam jurang gelap yang mengangah di sepanjang jalan. Apakah sebuah kesahihan yang mereka terakan? Mungkin pulakah ini hanyalah seuntai cerita yang lahir dari bibir-bibir yang mencecap gula sebuah pergunjingan? Anak-anak dari hati yang dihamili iri atas kesempurnaan emak di mata mereka.

Mataku menemukan segurat wajah emak yang sembab, ketika kusodorkan batang oborku yang hampir saja padam. Tangan Emak yang kasar mengelus hatiku yang masai. Ada kehati-hatian seorang Emak sejati dalam elusannya, elusan yang kian menutup rahasia yang tak kumengerti. Rahasia yang kian kedap, kian gelap.

Emak menyodorkan hatinya yang agung dan tak teraba, seolah hendak membenarkan sekisah orang Tanah Abang, hanyalah titisan sedarah yang dapat membaca ceritanya. Kusimak. Lalu, dadaku mengembang. Pada pagi yang masih gulita, emak menyulut senyumku yang hampir pudar. Darinya kudapat jurai keras tentang dunia.

[3]

ADA dua sisi yang saling berbuntut, bila kuurai jurai yang dilahirkan mulut-mulut orang Tanah Abang untukku, dari benih yang disemai pugoe-kajut. Pada orang tua ebakku ini, kutemukan dua cerita yang bertolak. Laksana sebuah kampung: Satu makmur, satu hitam, menyedihkan.

Pada kajut kutemukan tamasya kampung nan makmur. Seolah aku berada di padang rumput musim semi. Semua kuncup rumput berbunga, menyeruak kuntum-kuntum cerita yang elok disimak telinga.

Kajut-mulah Bujang, yang menurutkan darah tukang cerita ke tubuhmu. Mewariskan hidung bangirnya, mata eloknya, bahkan kecakapan membaca tanda-tanda yang alam sematkan.

Namun, pada padang rumput pun, tak semua kuntum bunga menebar aroma yang rincak di bulu hidung. Ada yang tak berbau, ada yang wangi sayup, ada yang semerbak, pun ada pula yang berbau busuk.

Kajut-mu, Bujang, seseorang yang besar ilmu. Gudang jampi-jampi bulu perindu. Tukang rekat-retak dua orang berbalur rindu-cemburu. Tentulah darah yang mengalir di tubuhmu, tak hanya darah tukang ceritanya, tapi darah penakluk untuk jiwa yang kasmaran atau pun diremuk nelangsa.

Untaian jurai itu membuatku tersengat di antara jaga yang sejaganya. Mendadak perkampungan makmur itu telah dibakar kemarau, kemarau yang seolah turun selama bertahun-tahun, hingga napas kehidupan menjadi layu. Dan, aku pun kembali memuarakan itu kepada emak, memintanya menceritakan kisah titisan sedarah, kisah yang hanya dapat disimak yang bertalian saja.

Kampung jurai pugoe yang memaktubkan kisah orang sedusun akan garis takdirku adalah kampung hitam. Pekat. Gulita. Serupa jurai yang diturunkan ebak untukku. Kusam.

Pugoe-mu itu mantan tentara. Hidup keras di tengah rimba Muaro Bungo sana. Pantaslah bila kau jadi Bujang yang keras kepala, pembangkang, tukang onar, dan seperti tak punya rasa.

Mendengar jurai ini, aku hanya diam. Diam. Diam. Dan diam. Lalu, melangkah dengan ketergesaan yang maha. Keinginan yang lekas usai menyusurinya. Semakin jauh, kian menjauh, menuju denyut kehidupan yang kuyakin akan menyambutku di ujung. Aku merasa ada lambaian sunyi yang sayup, memanggilku untuk gegas meninggalkan jurai yang tak ingin kudekap dengan asyik-masyuk itu.

[4]

PADA sekisah jurai-ku yang ini, tak banyak yang orang Tanah Abang terakan, ramalkan, ataupun duga-duga. Entah. Serupa berkongsi, semua berkatup. Menyumbal mulut, lalu hanya terdengar bisik-bisik yang tak terlalu mengusik.

Tengoklah, Bujang, kulitmu legam serupa arang. Tidakkah kau merasa berbeda dengan sanak saudara yang ada di limas ebakmu yang terpancang? Bila kau susur cerita tentang warna, dapat kau nukil dengan hati lapang, kalau kulitmu adalah turunan dari emakmu yang berdarah Kebon Undang1). Darah itu dialirkan dari pugoe-mu yang bergelar Remuas. Kau pun memiliki tanda, dua tetek yang tumbuh di ketiak, serupa dua tangan Siwa, sebagai pengingat kau pernah lahir pada masa yang silam. Pada reinkarnasi yang dipercaya benar-benar ada.

Jurai-ku dari garis kampung emak, tak banyak terkisah. Serupa kajut yang telah mengejankan emak dari selangkangannya yang memerah di masanya, tak banyak cakap, tak banyak cerita, tak banyak gaung yang didengar. Ia ada, terasa tak ada. Ia seolah embun yang lahir di pagi buta, tak terlalu dilihat orang. Walau dinginnya masih menyungkup di kulit yang mengerut.

Lamat, jurai dari garis itu menyamar, kemudian hilang lenyap seperti tak berbekas, serupa keraton-keraton Kebon Undang yang runtuh pelan-berlahan, mengurai satu-satu hingga rata. Lalu, rumput kanji mengambil peran. Merimbun hijau serupa nanggai, menutup, mengubur cerita tentang jurai dari garis pugoe-kajut-ku itu yang pernah ada. Tak berbekas, tak berpeta, tak mampu kembali untuk bercerita.

[5]

BERMUASAL dari jurai-jurai itulah orang-orang Tanah Abang membacakan ramalan nasibnya akan bujang-gadis yang mengoek panjang di tanah leluhur mereka. Berpasang mata akan berpasat, berpasang telinga akan menyimak, berpasang mulut akan berkisah: Inilah juraimu, Bujang.

Kau akan mati di pagi yang masih gulita, meninggalkan istri dua dengan anak-anak ingusan macam rayap. Hatimu keras laksana cadas, pandai bermain lidah dengan watak yang pemarah. Akan banyak jampi yang berkitar di ubun-ubun kepala. Bila kau selamat dari jurai yang diwariskan ebak, kau akan lahir kembali, menjadi agung, menjadi besar, serupa moyangmu yang pernah memerintah Kebon Undang.

Itulah sekisah, tentang juraiku yang diramalkan orang se-Tanah Abang. Hendak percaya, atau tidak: Sejatinya, aku tak berharap itu nyata.

C59, September 2010—Januari 2011.


--------
Guntur Alam, lahir di Tanahabang, Muaraenim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Menyelesaikan pendidikan di Teknik Sipil Universitas Islam '45 Bekasi. Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.


Kompas, Minggu, 3 April 2011

Sunday, October 24, 2010

Rumah Kelelawar

Cerpen Guntur Alam


RUMAH itu sudah lama jadi sarang kelelawar. Orang-orang di Dusun Tanah Abang pun telah lupa kapan tepatnya. Tak ada yang dapat mengingat dengan pasti, pekan ke berapa di purnama yang kesekian pada tahun yang tertera di bilangan angka almanak rumah. Rumput kanji telah sebatas lutut, membelukar di pekarangannya seolah berlomba dengan batang jambu air yang kian merimbun, tumbuh di beberapa hasta dari tangga depan Limas itu. Saban tahun, pohon jambu itu berbuah lebat. Buahnya memerah di sela daun yang hijau-kuning, di bawahnya buah-buah itu menghampar. Gugur masak dan membusuk. Pada musim kemarau, daun-daun jambu air itu yang akan menguning di bawahnya. Seperti itu, saban tahun. Dan orang-orang pun mulai tak memperdulikan Limas yang sesungguhnya megah itu.

Tapi, pada suatu petang-yang kelak akan diingat orang-orang Tanah Abang sebagai hari yang ganjil dalam adat-istiadat leluhur mereka, seseorang membuat rumah kelelawar itu menjadi pusat perhatian. Pokok pembicaraan. Dan berita yang tak habis-habisnya diurai di toko-toko kopi, pondok bambu bawah kolong Limas, batang (1), belantara balam, bahkan bilik-bilik pengap yang menderukan napas.

Mulanya, kisah itu dibuka pada suatu malam di Limas reot yang ada di ujung dusun. Jauh dari Limas megah itu berdiri. Seorang lelaki renta yang datang ketika hari mulai berselimut pekat yang memulainya. Ia datang mengendap, seolah tak ingin dilihat orang-orang se-Dusun Ngangah.

"Kopinya, Bak," Mak Sarifah meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja kayu, depan lelaki renta itu. Asap menggumpal-gumpal dari permukaannya, menimpali asap tipis dari beberapa potong ubi rebus putih yang merekah dalam piring kecil. Lelaki renta itu tak berkata, tangan kanannya menjangkau gelas kopi, meniup pelan permukaannya, lalu menyeruput isinya sedikit, pelan.

"Cakmane? Apa kalian bisa?" lelaki itu kembali pada pokok pembicaraannya setelah tangannya kembali meletakkan gelas kopi hitam itu di atas tatakan. Mak Sarifah mengadu pandang dengan lelaki yang duduk senyap di sebelahnya.

"Aku turut apa kata ebak-nya Safar saja, Bak," Mak Sarifah tak kuasa membuat keputusan. Baginya, ini perkara kaum lanang. Bukankah memang telah seperti itu? Tiap perkara penting, lananglah yang harus membuat keputusan. Terlebih perkara seriskan ini. Perihal rumah Limas yang sejatinya harus diurus anak lanang tertua dalam keluarga mereka. Lelaki renta itu melarikan retinanya ke arah menantunya.

Pak Saleh menelan ludah. Sejatinya, ia sendiri kebingungan. Begitu banyak pertanyaan yang bergumul-gumul dalam batok kepalanya. Apa kata orang sedusun? Bagaimana pula nanti sikap abang iparnya, Badrun, mengenai permintaan mertuanya ini? Ah, mendadak saja, Pak Saleh merasa betapa sakit kepalanya saat ini.

"Bagaimana dengan Bang Badrun, Bak?" Itulah kata pembukaan yang bisa lelaki itu ucapkan. Dari sekian pertanyaan dan kalimat yang menyerang tempurung kepalanya, kalimat tanya itu yang paling kencang bergaung.

"Ia tak akan pulang lagi ke Tanah Abang. Ebak telah tengok sepekan silam ke Pagar Alam. Ia akan terus berkebun kopi dan lada di sana, mati pun ia nak dikubur di tanah itu. Mungkin, hanya sesekali saja ia menjejakkan kaki di dusun ini, bila kau buat hajat atau ada ihwal yang memang penting dan harus ia datangi. Mengenai perkara ini, Ebak telah mufakatkan dengan ia. Ia pun setuju saja," kata-kata mertuanya itu membuat Pak Hasan kembali senyap.

"Mengapa bukan Bang Badrun saja yang urus, Bak?" mertuanya diam, "Banyak orang dusun kita yang berkebun kopi di Pagar Alam sana, tapi Limas mereka masih dapat dirawat. Satu purnama sekali, Bang Badrun dapat pulang. Berganti-ganti dengan anak-anak bujangnya," sambung Pak Hasan.

"Badrun kadung malu, San. Malu dengan koar-koarnya beberapa tahun silam. Ia tak akan tinggal di Tanah Abang kalau tak jadi orang yang kaya-raya."

Lagi, ketiga orang itu senyap. Pun dengan secangkir kopi hitam yang tak lagi mengepulkan asap dari permukaannya. Juga dengan beberapa potong ubi rebus yang ikut-ikut mendingin. Sedingin udara malam yang mulai berembus dari permukaan Sungai Lematang, bertiup ke arah tengah dusun, menggelitik, merayu dedaun yang dilewati, menerobos celah-celah papan Limas, lalu terbang bersama malam yang kian merangkak dalam kepastian menuju puncaknya.

Kedua laki-bini itu kembali mengadu pandang. Lalu, serempak menarik napas panjang. Keduanya pun bersama-sama mengembuskannya, melegakan dada yang seketika menyempit mendadak. Seperti tak bersebab, seperti tak berpangkal. Sesak. Mengimpit dan terasa begitu menjepit.

"Bila kami bersedia, berapa yang harus kami serahkan pada Ebak karena maknya Safar seorang perempuan, Bak? Telah termaktub dalam hidup orang dusun kita. Bila anak perempuan yang mengambil alih Limas, wajib membayar pada Ebak dan anak lanang yang berhak. Sementara, kami tak punya apa-apa. Hanya sebidang kebun balam yang menjadi pokok kami makan. Tak mungkin kami menjualnya. Kebun balam itulah tempat cucu-cucu Ebak menggantungkan harap."

"Berapa pun yang kau anggap pantas," ujar lelaki renta itu. Ada desisan lega dari nada suaranya. Tersirat di gurat-gurat wajah. Terbaca di binar-binar mata.

Mak Sarifah meraba lehernya. Cuma itu yang ia punya. Sesuku kalung emas. Hampir genap satu tahun lamanya, ia mengumpulkan uang untuk dapat membeli kalung itu. Harapnya, itu harta cadangan yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu ada keperluan mendesak. Lamat, ia membukanya dari leher hitamnya yang jenjang.

"Kami hanya punya ini, Bak," tangannya gemetar mnenyorongkan kalung emas itu. Mata renta lelaki itu meredup, ada kaca-kaca yang hendak pecah, menyeruak dan terasa sangat menyesak. Mengimpit kembali dada tuanya.

"Apa kau ikhlas?" suaranya berubah serak dan gemetar.

"Insya Allah, Bak," Mak Sarifah lekas menegakkan jantungnya.

Lelaki renta itu merogoh saku baju batiknya, merentang selembar surat bermaterai. Tiga tanda tangan telah terbubuh di atas kertas bertulisan huruf sambung itu, bertinta hijau. Ia menyorongkan kertas itu kepada mantunya.

"Tanda tangan dan simpanlah. Surat ini serah terima Limas itu kepadamu, dari Ebak dan Badrun," desisnya.

Pak Hasan membawa wajah ke bininya. Wanita itu tak berkata. Tidak mengangguk atau pun lainnya. Ia bergeming di atas lantai, serupa batu yang telah dikutuk. Malam ikut senyap dalam merangkak. Angin diam saat menjadi saksi yang mengesahkan tangan Pak Hasan menggerakkan pena di atas kertas itu. Lalu, hening menyelimuti semesta pekat.

***

BEGITULAH mulanya, lalu orang-orang sedusun Tanah Abang terperangah begitu di pagi kalangan, Pak Hasan anak-beranak menebas rumput kanji yang membelukar di pekarangan limas itu. Menyapu daun-daun jambu air yang menguning. Menyalakan api dari tumpukan sampah, meliukkan asap putih tebal yang memerihkan mata ke arah Limas. Kelelawar mencericit begitu asap itu mulai menyelimuti rumah.

Berbondong-bondong mereka terbang dari tiap jendela Limas yang telah dibuka lebar-lebar, jendela yang telah bertahun-tahun tak menampilkan daunnya. Sawang-sawang digulung, debu-debu di sapu. Dan mata-mata orang Tanah Abang pun kian tertuju.

"Apa hal Hasan anak-beranak bersihkan rumah mertuanya itu?"

Itu kalimat tanya yang menjadi muasal pembicaraan yang kelak akan terjadi begitu panjang. Kalimat yang dilontarkan Wak Saiful dari toko kopi Seno yang memang hanya berjarak dua-tiga Limas dari rumah kelelawar itu.

"Nak ditunggunya mungkin," sahut Mang Batul spontan, cuek, dan terdengar santai. Jawaban yang sebenarnya biasa saja, akan tetapi menjadi tak biasa di telinga orang se-Dusun Ngangah.

"Hah? Nak ditunggunya?" kening Wak Saiful berkerut, "Ai, mati lah itu jurai Hamzah kalu anak mantu dan anak perempuannya yang tunggu Limas itu."

Setelah itu terdengar dengungan suara lanang-lanang yang mencaungkan kaki di toko kopi Seno itu. Beragam kata yang terlontar. Kemudian angin yang memang suka berbisik, membawa dengungan kata itu terbang mengintari langit Tanah Abang. Menyinggahkannya di tiap-tiap Limas, di antara perempuan-perempuan yang mencari kutu dan uban bawah kolong Limas, dan seluruh penjuru dusun.

"Sarifah anak-beranak nak nunggu Limas ebaknya. Mati lah itu jurai keluarganya."

"Oi, ada nian?" mata Bi Robiq membelalak, kutu yang hampir saja ia cengkeram dengan jemarinya di atas kepala Bi Mar langsung menyelamat diri begitu perempuan itu lengah karena terkejut mendengar ucapan Bi Mar barusan. Wak Neng dan Mak Jami ikut-ikutan melarikan mata ke arah Bi Mar.

"Kata siapa?" wajah Wak Neng berjinjit ngeri.

"Oi, lihatlah tengah dusun situ. Dia anak-beranak sedang bersih-bersih."

"Inilah akibat ebaknya Sarifah itu tak pandai mengatur harta, habis karena anak lanang. Sekarang terlunta-lunta di tanah orang. Nak tinggal di dusun lagi lah malu. Terpaksa, mematikan jurai suruh anak betine yang jaga Limas. Ya cacam..," geleng Wak Neng sembari mengerut dada.

"Kalu aku, kubiarkan baelah Limas itu jadi sarang kelelawar. Daripada cak ini. Matikan jurai keluarga," dengus Mak Jami, berapi-api. Bi Robiq mengangguk-angguk setuju.

"Betul itu, Bi."

Pada akhirnya, dengungan kalimat-kalimat yang kian banyak itu kembali diterbangkan angin. Setelah berputar-putar beberapa hari, berbilang pekan, angin pun menyinggahkan dengung itu di Limas reot Pak Hasan. Tepat di bilik pengap mereka angin mendaratkannya. Pada suatu malam yang lengang, ketika orang-orang dusun Tanah Abang mulai terlelap.

"Apa kau telah dengar, Bang, perihal orang-orang dusun yang mengatakan tentang kita?" Mak Sarifah menggerai rambut legamnya.

"Aku lah dengar, Dik."

"Lantas?" perempuan itu menghentikan tangan kanannya yang tengah menyisir rambut legamnya. Ia membawa mata cokelat beloknya ke arah lelaki yang ada di atas ranjang. Lelaki itu senyap.

"Apa kita tetap di sini, di Limas Abang ataukah kita ke rumah kelelewar itu?" tanya Mak Sarifah kembali begitu lelaki di atas ranjang bungkam.

"Menurutmu?" lelaki itu balik bertanya.

"Sebenarnya, aku lebih nyaman di sini. Tak mendengar cibiran orang-orang dusun, dan doa-doa mereka yang menyakitkan hati." Perempuan itu menghela napas.

"Bagaimana dengan ebakmu?" lelaki itu terbayang dengan mertuanya.

"Aku yang akan bicara, Bang. Kita biarkan saja rumah itu jadi sarang kelelawar, daripada jurai keluargaku mati seperti yang dikatakan orang-orang." Lelaki di atas ranjang senyap. Ia tak dapat berkata. Direbahkannya tubuh di atas ranjang, berbantal kapuk. Matanya lama menerawang bersama kepak-kepak kelelawar yang berseliweran.

***

RUMAH itu sudah lama jadi sarang kelelawar. Orang-orang di dusun Tanah Abang dapat mengingat dengan jelas tepatnya. Pada suatu petang yang mereka ingat sebagai hari yang ganjil dalam adat-istiadat leluhur mereka, seseorang membuat rumah kelelawar itu menjadi pusat perhatian. Pokok pembicaraan. Dan berita yang tak habis-habisnya diurai di toko-toko kopi, pondok bambu bawah kolong Limas, batang, belantara balam, bahkan bilik-bilik pengap yang menderukan napas.

/C59, September 2010

1) Rakit dari gelondongan kayu yang di atasnya dipakukan beberapa papan sebagai lantai, merupakan tempat mencuci, mandi, oleh kaum perempuan di Desa Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, dan beberapa dusun yang ada di sepanjang aliran Sungai Lematang, seperti Desa Bumi Ayu, Siku, Dangku, dan lainnya.


Lampung Post, Minggu, 24 Oktober 2010