Showing posts with label Fakhrunnas M.A. Jabbar. Show all posts
Showing posts with label Fakhrunnas M.A. Jabbar. Show all posts

Sunday, November 17, 2013

Kerinduan

Cerpen Fakhrunnas M.A. Jabbar


IA langsung memeluk saya. Kuat dan semakin kuat. Air matanya berjuntai ke lantai. Baju yang saya pakai turut kuyup. Saya tak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah saja dalam dekapannya. Dalam tangis dan sesegukan itu, tiba-tiba tangis saya pun ikut berbaur di dalamnya. Kami sama-sama menangis. Sama-sama menumpahkan air mata. Penyebab kami menangis, jelas berbeda. Saya menangis karena ia menangis ketika memeluk saya. Ia menangis karena sesuatu yang amat disayangi telah lesap tak terduga. Jelas, ia sedang kehilangan sesuatu yang amat berarti.

Perempuan dalam usia makin senja itu memperkuat pelukannya. Saya bagai tak bisa bernapas. Air matanya meleleh ke sekujur tubuh saya. Heran, kenapa perempuan seusia dia masih menyimpan air mata yang melimpah-ruah? Barangkali saja, air mata itu sudah ditabungnya bertahun-tahun. Entahlah. Sebenarnya saya bisa saja berbuat tak peduli. Tapi betapa kurang ajarnya, bila saya tiba-tiba melepaskan pelukan yang kuat itu. Dalam adat-resam Melayu yang mengalir deras di tubuh saya, amatlah kualat namanya, bila memengkis orang setua dia.

Ia memeluk saya karena sesuatu yang amat dirindukannya. Dan kerinduan itu ternyata hanya bisa ia tumpahkan pada diri saya. Tidak dengan siapa pun. Padahal, saya hanyalah salah seorang teman dekat anaknya yang telah meninggal gantung diri  beberapa tahun lalu. Dan banyak bekas temannya yang lain, kalau ia mau. Tapi pilihannya hanya pada saya.
Dua jam kemudian pelukan itu makin longgar. Air matanya mengalir lagi. Tapi tak sederas semula. Barangkali ia makin menyadari betapa sebuah kerinduan hanyalah sesuatu hasrat yang perlu diluapkan. Kalau tidak, tentu bisa menjadi bara di hati berkepanjangan. Dan ini pula yang menggugah saya untuk menyediakan diri sebagai tempat berbagi duka dengannya.

Di sisi lain, saya juga tiba-tiba merasa bangga. Saya telah berhasil menyalurkan kerinduan seorang ibu tua. Bagaikan lepasnya sumbatan lahar di lubang kepundan.  Meski ia sendiri tak pernah lega sesudah pertemuan itu. Sebab, kerinduan yang dimilikinya bukan sembarangan kerinduan. Bayangkan saja, ia sedang merindukan sesuatu yang mati.

Bila agak lama ia menatap saya, air matanya mengalir lagi. Begitu sulit di bendung. Saya jadi ikut-ikutan menangis. Tapi tentu saja saya menangis bukan karena menanam kerinduan yang dalam pula pada anaknya. Pada bekas sahabat saya yang setia. Saya menangis karena ia menangis di depan mata saya. Jadi saya terpengaruh.

"Saya heran, kenapa kepergian anak saya itu benar-benar membuat saya kebingungan. Kadang-kadang orang menduga saya sudah berubah akal. Tapi rasanya tidak. Saya masih mengerti batas-batas kerinduan. Merindukan seseorang bukan berarti gila. Apalagi anak bujang yang saya sayangi."

Saya agak tersentak karena ungkapannya yang agak filosofis itu. Padat dan berisi. Andaikan saja ia seorang pensyarah, tentu ucapannya yang baru terlontar itu sudah menjadi bahan rujukan yang amat berharga bagi para mahasiswa. Sayang, ia hanya seorang ibu rumah tangga yang tak banyak lagi memikirkan yang lain. Tampaknya dalam sisa usianya yang tinggal sepenggal, ia ingin menghabiskannya untuk mengenang anaknya yang telah mati.

Saya semakin bingung. Entah apa benar yang menyebabkan hingga ibu setua itu memeras kerinduannya. Padahal, anak-anaknya yang lain masih banyak. Masih ada sekitar tujuh orang lagi. Apalagi anak yang sedang diratapinya itu bukanlah anak sulung. Bukan pula anak bungsu. Bukan pula anak pertengahan. Menurut pengakuannya, sang anak merupakan anak kedua.

"Bila ingatan saya benar-benar memuncak kepadanya, biasanya saya mengalihkan perhatian pada yang lain. Kalau tak bekerja atau bertandang ke rumah tetangga, ya saya hanya mengadu pada Allah. Saya membaca kitab suci Alquran. Bila hal itu sudah saya kerjakan, luruhlah sedikit rasa kegelisahan meski kerinduan saya tak kunjung lenyap sama sekali. Saya benar-benar tak bisa hidup tanpa bayang-bayang dia. Ia benar-benar sudah bersebati dalam diri saya."

Saya hanya manggut-manggut. Bahkan lebih banyak menunduk ke lantai. Sebab, saya tak ingin mengeluarkan air mata terus-menerus. Saya ingin bertahan. Biarlah ibu tua itu saja yang menangis untuk anak yang dicintainya setengah mati.   

"Ayo, Nak, tatap saya!"  tiba-tiba suara ibu tua agak membentak. Kesal. Tapi suaranya tidak seperti membentak. Padahal selama ini, ia punya suara lembut dan amat bertenggang rasa. Tapi saya memahami kekesalannya. Saya barangkali agak mengecewakannya karena seolah-olah tidak memedulikannya.

Saya melirik. Saya berusaha untuk tidak menampakkan rasa kesal. Padahal, bukankah saya yang lebih berhak untuk kesal. Sebab, tiba-tiba saya menjadi sandra bagi luapan  kerinduannya.

"Eh, maaf, Mak. Saya terbawa hanyut oleh suasana. Maksud saya sebenarnya ingin terus menatapmu."

Lama sekali ia menatap saya. Barangkali ia sedang berusaha menyamakan diri saya dengan anaknya. Setidak-tidaknya, ia ingin membuat persamaan itu sehingga sedikit demi sedikit ia lebih mudah menghadirkan kembali sang anak dalam kenangannya.

"Wajahmu mirip sekali dengan anak saya yang mati itu," lanjutnya tiba-tiba.   

Saya tersenyum. Saya ingin membahagiakannya. Padahal saya tahu bagaimana mungkin bisa menyama-nyamakan antara saya dan anaknya itu. Kulit saya tentu terlalu hitam dibanding anaknya. Dan, kepala saya agak lonjong tentu amat berbeda nyata  dengan bentuk  kepala anaknya yang bulat bak bulan purnama. Pokoknya, menurut saya terlalu mengada-ada bila membuat persamaan saya dengan anaknya.

"Terlalu banyak persamaanmu dengan anak saya," tiba-tiba ia mengeluarkan kesimpulan itu untuk puluhan kalinya.

Saya diam saja. Meskipun masih banyak ungkapan-ungkapan ibu tua itu yang sulit diterima. Tampaknya ia memang membutuhkan seseorang yang mampu menggantikan kedudukan anaknya yang ia rindukan itu.

"Kenapa kamu diam saja?" tiba-tiba ia agak menyergah saya. Ini di luar dugaan saya. Jadi, saya makin tak mengerti, apa lagi mau sang ibu. Apalagi yang ia inginkan dari saya?

“Ayo, bicaralah. Tentang apa saja. Saya benar-benar merindukan suara anak saya. Dan suaramu persis sekali dengan suaranya."

Ya, Allah! Saya mulai pusing memikirkan jalan keluar terbaik.  Saya bukannya memikirkan apa yang harus saya bicarakan. Tapi, bagaimana mungkin saya bisa lepas dari kepungan kerinduan ibu tua yang sedang mabuk kepayang itu. Dan sama sekali, saya tak pernah bermaksud menyakiti hatinya. Saya hanya ingin melepaskan diri dari belenggu sang ibu tua itu.

"Ayolah, bicara lagi. Saya ingin sekali mendengar suaramu. Suaramu sama persis dengan suara anak saya,” ucap perempuan itu lagi. 

Masya Allah! Ampun. Saya benar-benar kebingungan. Saya ingin lari saja. Tapi rasanya kurang masuk akal bila saya melakukan tindakan itu. Untung, saya masih bisa menyadari bagaimana memahami keberadaan diri ibu tua yang mulai pikun itu. Ah, tapi sepenglihatan saya, ia jelas belum pikun. Lantas, apa nama yang tepat untuk menyebut kenyataan itu yang amat berlebihan itu? Inikah yang namanya kemaruk?

Tunggu dulu. Saya tak pernah membayangkan hal semacam itu. Ibu itu jelas hanya menyimpan keresahan belaka. Ia tidak gila. Ia tak pernah merasa gila. Benar juga, buntut pembicaraan yang panjang itu menjadikan diri saya benar-benar menjadi ajang pelampiasan hasrat sang ibu.
Hampir tiap pagi, ia datang ke rumah. Meski ia harus berjam-jam menanti saya pulang. Saya harus bekerja di kantor, sementara menjelang saya sampai di rumah, biasanya ibu sayalah yang harus melayaninya berbicara. Sampai-sampai beberapa kali, ibu saya harus telantar memasak untuk makan siang.

Terus-terang, saya masih bisa menerima kenyataan itu. Ini tentu lahir dari pertimbangan saya bermalam-malam jauh sebelumnya. Sebab, saya bisa menebak pasti, betapa tersinggung dan lukanya hati perempuan tua itu bila saya lari menjauh. Misalnya, saya pindah rumah. Atau, tidur di rumah keluarga atau teman-teman yang lain. Tapi di sisi lain, kalu hal ini dibiarkan berlangsung berkepanjangan, tentu berakibat tidak baik juga. Saya benar-benar berada di dua persimpangan. Amat suit menentukan piihan langkah yang paling nyaman.

Tapi tunggu, masih ada sesuatu hal lain yang lebih patut saya pertimbangkan. Soalnya, beberapa hari lalu, calon mertua saya datang ke rumah. Mereka membicarakan soal jadwal perkawinan saya dengan calon istri yang sudah dipersiapkan sejak lama. Nah, bila saya menikah, tentu saya harus meninggalkan segalanya. Meninggalkan rumah yang sudah saya tempati sedari kecil. Meninggalkan saudara-saudara saya yang masih kecil. Dan jelas, mau tak mau, saya harus meninggalkan ibu tua, tetangga saya itu. Inilah pemikiran saya yang lain.

Saya turut gelisah. Sebab, menjatuhkan keputusan sendiri jelas menimbulkan akibat yang bermacam-macam. Saya berusaha membicarakannya dengan emak dan ayah saya sendiri.

"Ah, teruskan saja pernikahanmu. Sekarang kamu tinggal pilih, menikah atau tetangga?" begitu ayahku berdalih.

Nah, aku terpengaruh juga. Apalagi hal ini diperkuat oleh anggota keluarga yang lain. Terutama, saudara-mara atau karib-kerabat yang lain. Tapi aku masih tetap berpikir. Kucoba membicarakannya dengan calon istriku. Justru reaksi yang lebih keras kuterima darinya.
"Sekarang, terserah kamu. Kalau kamu mau mempertimbangkan ibu tua itu terus-menerus, silakan pilih saja dia. Saya tak ingin dijadikan bulan-bulanan seperti ini," kata calon istri saya penuh kemarahan.

Merasa tak ada lagi yang mempertahankan, saya pun mengambil keputusan untuk menikah saja. Dengan demikian, saya harus meninggalkan perempuan tua itu.

Tanpa pamit saya meninggalkan rumah, beberapa hari setelah pernikahan saya. Sebab, kalau diberitahu lebih dulu dengan perempuan tua itu, jelas akan mempersulit keadaan. Tentu ia akan menanyakan di mana saya tinggal bersama istri saya. Dan bila alamat saya yang baru diketahuinya, tentu ia makin sering pula bertandang ke rumah mertua saya. Saya bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarga istri saya menghadapi kedatangannya.

Kebahagiaan hidup rasanya benar-benar sudah saya miliki begitu saya berkeluarga. Barangkali itu pula yang menyebabkan agama saya mewajibkan perkawinan bila sudah mampu lahir dan batin. Saya benar-benar hanya memikirkan istri saya. Setiap hari saya berusaha membahagiakannya. Memenuhi apa saja yang ia minta.

Suatu pagi, sembilan hari sesudah saya menikah, salah seorang anak ibu tua itu menelepon. Suaranya terisak-isak dan terputus-putus. Kata-katanya tak pernah tersampaikan. Tak terselesaikan. n

Pekanbaru, 062013


Lampung Post, Minggu, 17 November 2013

Sunday, June 20, 2010

Para Gila

Cerpen Fakhrunnas M.A. Jabbar



MAU merasakan jadi orang gila? Bacalah cerita ini. Seekor musang di siang tegak bercintaan dengan seekor rama-rama di pokok murbai di halaman belakang tempat tinggal kami. Musang jantan mencumbui rama-rama betina begitu seronok. Sampai-sampai menitik air liurnya. Mereka saling berkecupan. Saling birahi. Daun-daun murbai yang rindang itu sambil berguncang-guncang padahal angin tak bertiup sedikit pun. Pada mulanya hanya aku yang melihat kejadian itu. Tapi secara sengaja kukabarkan pada teman-teman yang lain. Tak peduli lelaki atau perempuan. Selang setengah jam kemudian, kami jadi beramai-ramai menyaksikan percintaan yang luar biasa itu.

Saking birahinya, saat musang jantan menindih tubuh rama-rama betinia, daun-daun murbai berjatuhan. Dan, tanpa sengaja, musang yang berbulu lebat kehitaman itu terpeleset jatuh ke rerimbunan di bawahnya. Serempak dengan kejatuhan musang, dari balik rerimbunan daun bunga dan rumputan terdengar jerit yang tergesa-gesa.

"Ampun... kiamat. Ada apa nih..!" Rama-rama betina merasa malu lalu terbang menjauh.

Rerimbunan bunga dan rerumputan itu terus saja bergoyang-goyang. Bagaikan induk musang yang bermain-main bersama anaknya. Kami berusaha memelototkan bola mata agar lebih jelas melihat apa yang terdedah di depan. Sejenak muncul punggung seorang lelaki setengah baya berbaju putih. Sekelabat tampak pula seorang perempuan muda juga berbaju putih. Tapi yang pasti, baju keduanya sudah kusut masai karena saling menindih. Benar, mereka sedang melakukan percintaan gelap di siang tegak. Mereka saling berkecupan. Saling birahi. Dan saling memadu kegairahan yang telah lama padam.

Maaf, aku jadi menerawang. Ceritaku di bagian awal tadi sebenarnya melukiskan kemesraan sepasang anak manusia yang sedang memadu kasih di bawah matahari siang. Jadi, bukan kisah musang yang bercinta dengan rama-rama. Kalaupun kisah itu ada tentu tak seberahi percintaan sepasang anak manusia yang baru kuceritakan.

Mau tahu, siapa sepasang anak manusia tadi? Ampun, di luar dugaan. Ternyata lelaki berkaca mata bening dan bertubuh ceking tinggi itu tak lain oknum -boleh ya, kupakai kata 'oknum' agar tak dituduh macam-macam- kepala RSJ sendiri. Para penghuni RSJ memanggilnya akrab dengan Pak Kepala saja. Dan sang perempuan juga tak lain Suster Mainar, suster muda yang tercantik di antara belasan suster yang merawat kami.

Alamak, aku jadi ingat kembali. Benar, memang benar percintaan musang dan rama-rama ternyata lebih birahi dibanding percintaan oknum Pak Kepala dengan Suster Mainar. Ah, bangsat! Sudahlah, sebenarnya bagiku tak penting percintaan siapa yang paling birahi. Sebab, aku sendiri tak pernah tahu bagaimana seorang perempuan muda seperti aku bisa birahi. Padahal usiaku sudah 27 tahun. Aku tak pernah merasakan percintaan walaupun menurut semua orang aku cantik-molek. Memesona. Menawan. Dan senyumku bisa menghanyutkan ratusan lelaki-lelaki di sungai birahi mereka.

Kami terus menyaksikan percintaan gelap Pak Kepala dengan Suster Mainar yang berdelau. Mereka saling tindih. Saling kecup. Saling birahi. Berjam-jam peristiwa itu berlangsung disaksikan matahari siang. Menjelang petang, Pak Kepala berdiri sambil mengibas-ngibaskan baju putihnya yang kumal. Masya Allah, tak hanya kumal. Tapi baju putih itu berlumuran darah. Mulutnya juga berdarah-darah. Ia melangkah terhuyung-huyung ke kamar kerjanya. Kami serempak bersembunyi. Semula tertawa geli. Sekarang tak. Kami jadi gusar dan waswas. Jangan-jangan lelaki jangkung itu telah membunuh Suster Mainar.

"Heh, apa yang telah kalian perbuat sampai berkumpul ramai-ramai di sini?" suara seseorang mengejutkan kami. Kami serempak menoleh. Ampun, ada Suster Mainar yang molek. Tersenyum ramah dan bergairah. Kuamati baju putihnya. Mana tahu juga ditemukan bercak darah seperti yang dialami Pak Kepala. Ternyata tidak. Baju Suster Mainar tetap utuh dan rapi. Aku dan teman-teman menatap perempuan cantik itu penuh keheranan.

Aku mewakili teman-teman menceritakan semua apa yang kami saksikan di rimbunan semak di siang tegak tadi. Suster Mainar jadi tertarik. Marahnya mulai reda. Senyuman di bibirnya mulai mengembang. Ternyata ia menikmati ceritaku sebagai sebuah kelakar yang menggelikan.

"Tapi ini fakta, Sus. Kalau tak percaya, mari kita lihat bersama," ajakku yang diikuti Suster Mainar.

Aku bersama teman-teman mengiringi langkah Suster berbaju putih bersih itu ke rimbunan semak yang dipenuhi kebun bunga dan rerumputan. Persis di dekat pokok murbai. Memang ditemukan ada sebagian semak itu yang merunduk bagai diimpit. Ada pula percik darah yang banyak. Dan nyaris serempak kami menemukan sesosok musang hitam terkapar mengenaskan.

Suster Mainar mengerutkan dahi menyaksikan pemandangan aneh itu.

"Jadi, apa yang kalian saksikan tadi di sini?" Suster Mainar langsung menatapku dan meminta penjelasan.

"Ya, kami tadi menyaksikan pergumulan Pak Kepala dengan Suster di sini. Begitu seru. Begitu menegangkan," ucapku perlahan dan hati-hati.

"Aku? Kalian bilang aku bersama Pak Kepala berduaan di sini?"

"Iya, Sus. Aku berani sumpah," kataku dibenarkan teman-teman yang lain.

Suster Mainar terdiam sejenak. Pikirannya tampak menerawang sambil mengingat-ingat apa yang dilakukannya sejak pagi tadi hingga petang ini.

"Suster, tak apa-apa, kan? Sebab, kami menyaksikan tadi Pak Kepala mengempas-empaskan Suster sampai berdarah-darah. Sadis ya, Sus?" ungkapku lagi.

Kulihat Suster makin bingung. Kemudian tertawa geli. Tertawa sejadi-jadinya. Kami juga jadi ikut-ikutan tertawa bersama.

"Terus. Apa yang terjadi selanjutnya?" desak Suster Mainar lagi.

"Ya, Pak Kepala lari ke ruang kerjanya dengan berlumuran darah."

"Ah, masak? Pak Kepala berlumuran darah?"

"Pasti, Sus. Kalau tak percaya, mari kita lihat bersama," ajakku.

"Hep! Jangan..jangan! Biar aku yang menjumpai beliau. Sekarang, kalian bubar. Dan masuk ke kamar masing-masing."

Suster Mainar langsung berlalu. Langkahnya bergegas menuju ruang kerja Pak Kepala. Tampak perempuan itu mengetuk pintu hati-hati. Pintu terbuka. Ia pun langsung menyelinap ke dalam.

Suster Mainar menemukan Pak Kepala duduk di tempatnya. Pak Kepala tampak gugup. Wajahnya agak pucat. Suster Mainar merasa agak heran sebab Pak Kepala tidak lagi mengenakan baju kerja, tetapi baju kaos santai. Padahal, pagi tadi, Pak Kepala datang ke kantor dengan baju kerja putih-putih.

"Ada yang aneh, Sus?" sambut Pak Kepala memulai pembicaraan sambil mencairkan kebekuan suasana.

Sejenak Suster Mainar tertunduk. Ia merasa gugup sekali.

"Begini, Pak. Bapak jangan marah kalau hal ini saya tanyakan. Penghuni di sini merasa melihat saya dengan Bapak berkencan siang hari di rimbunan bunga sana. Kata mereka, hubungan itu sangat sadis. Sampai-sampai Bapak berlumuran darah." Suster Mainar berbicara hati-hati.

Pak Kepala sempat memegang dahi dan menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ada beban berat menggelayut di benaknya.

"Ya, saya tak habis pikir. Kenapa bisa hal ini terjadi. Tapi, mohon soal ini jangan diceritakan kepada siapa pun. Ini rahasia. Sejak pagi, kepala saya agak pusing. Pandangan saya pun agak nanar. Seketika bagai ada suatu dorongan yang menggiring saya ke kawasan semak itu. Waktu itu, saya merasa bersama kamu, Sus. Kemudian, terjadilah hubungan yang tak pantas. Anehnya, dalam pergumulan itu aku sampai membunuh kamu sehingga darah muncrat."

"Bapak tak sadar waktu itu?" desak Suster Mainar.

"Kalau sadar, mengapa aku harus melakukannya."

"Lantas?"

"Sewaktu saya kembali ke ruang kerja ini, saya tiba-tiba tersadar. Saya temukan diri saya dalam keadaan tak wajar. Semua baju putih saya berlumuran darah. Entah apa sebenarnya yang saya lakukan." Pak Kepala menggeleng beberapa kali menyimpan rasa malu.

"Mau tahu, apa yang telah Bapak lakukan?" tanya Suster Mainar mulai tertawa geli.

"Ya, kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi?" Pak Kepala tercengang dan penuh ingin tahu.

"Bapak telah membunuh seekor musang," tutur Suster Mainar.

"Ah, masak?! Waktu itu, saya merasa berkencan denganmu. Tapi akhirnya, saya membunuhmu."

Sejak pertemuan itu, aku melihat hubungan Suster Mainar dan Pak Kepala kian dekat. Sebentar-sebentar, Pak Kepala memanggil Suster Mainar ke ruangannya. Bahkan berjam-jam, suster cantik itu berkurung di kamar itu. Meski aku disebut-sebut sebagai orang gila, tapi hati kecilku masih curiga kalau Pak Kepala dan Suster Mainar benar-benar main gila di sana. Siapa tahu? Ruangan itu selalu terkunci rapat. Tak seorang pun yang bisa tahu.

Pernah beberapa kali kucoba untuk mengintip dengan berjingkat di tingkap depan ruangan Pak Kepala, Satpam itu cepat-cepat mengusirku. Malah ia menghardik keras dan bertanya :

"Hah..jangan-jangan Pak Satpam juga ikut-ikutan main gila, ya?" ucapku masih cengengesan dan tersenyum-sipu. Jemariku menunjuk lemas ke arah satpam yang pemarah itu.

Ajaib, satpam itu jadi ikut tersipu. Aku jadi tertawa benaran. Terbahak-bahak. Terkekeh-kekeh. Tawa kami bersahutan. Suasana jadi gaduh seketika. Sampai-sampai Pak Kepala tergesa-gesa membuka pintu.

Aku dan satpam jadi tertawa besar lagi begitu kami lihat Pak Kepala muncul hanya dengan kaus singlet dan bercelana pendek. Rambutnya kusut masai seperti orang baru saja bergumul di tempat tidur. Tak lama kemudian, Suster Mainar menyusul di pintu. Luar biasa. Pakaiannya sangat minim. Hanya memakai BH warna putih.

Aku memandang Pak Kepala dan Suster Mainar sambil tertawa cekikikan hingga membuat semua pegawai kantor dan penghuni rumah sakit jiwa itu berhamburan ke luar.

"Benar kan...? Benar-benar sudah gila. Pak Kepala secara ceroboh main gila dengan bawahannya, Suster Mainar. Siapa yang gila sebenarnya? Aku? Kami? Atau, siapa?" suaraku kedengaran lantang sambil tertawa-tawa panjang.

"Siapa yang lebih gila? Segila-gila orang gila seperti kami tak pernah terpikir main gila sesama kami. Kami tahu... kami ini orang gila. Tapi sudahlah...di zaman gila ini semakin sulit membedakan orang gila dengan orang bukan gila."

Lepas berteriak lantang bagaikan seorang demonstran, aku meninggalkan kerumunan itu. Aku hanya menyaksikan tiga orang polisi tergesa-gesa menuju kerumunan. Tentu, Pak Kepala dan Suster Mainar mereka seret ke kantor polisi terdekat. Sementara aku tiba-tiba ingin pulang ke rumah. Aku tiba-tiba merasa rindu rumah. Rindu pada suami, Rustam, dan tiga anakku yang masih kecil serta emakku yang sudah renta.

Aku tiba-tiba merasa tenang. Tak ada lagi pikiran macam-macam bergelayut di benakku. Aku sudah merasa bukan gila lagi. Ah, mungkin ini metamorfosis belaka. Aku jadi gila dalam kesementaraan saja.

Dalam perjalanan pulang, aku merasa jernih mengenang detik per detik yang akhirnya mengantarkanku sampai di RSJ itu. Ya, aku masih ingat, Rustamlah yang membawaku ke sana. Sebab, aku baru saja membanting Rukmini, anak kami, yang paling bungsu. Aku marah besar padanya sampai hilang kendali. Itulah biang bala yang mengukuhkan diriku benar-benar gila. Tapi sebelum itu, sebenarnya, aku sempat pula mengejar-ngejar Rustam dengan pisau hanya karena Rustam mengingkatkanku agar salat magrib. Tapi Rustam masih sabar.

Pantas Rustam dan emak menerima kedatanganku dengan ragu-ragu. Wajah mereka menyembulkan kegamangan.

"Alisa? Kau melarikan dari RSJ? Kenapa?" pertanyaan Rustam bertubi-tubi saat melihat kehadiranku di depan pintu beranda petang itu.

Aku berusaha tersenyum. Tapi Rustam diam terpekur. Ketiga anak kami memang tak muncul waktu itu. Sebab, Hilda dan Sukri pasti bersekolah sore hari. Sedang Rukmini masih tertidur pulas siang hari.

"Bang Rustam....Aku sudah tak gila lagi. Sungguh..." Aku berusaha memperlihatkan kesadaran seutuhnya. Aku berusaha bersikap wajar layaknya bukan orang gila.

"Syukur Alhamdulillah, Bang. Allah masih menyayangiku..menyayangi kita semua..Maafkan aku....!" ucapku terbata-bata.

Aku baru saja mendapat kabar dari beberapa suster RSJ, ternyata Pak Kepala ditengarai sakit jiwa. Jadi, perbuatan halusinasi yang pernah kusaksikan di RSJ itu semata-mata proses inkubasi kelainan jiwanya itu. Masya Allah, Pak Kepala sekarang sudah benar-benar gila.

Pekanbaru, 0310



Lampung Post, Minggu, 20 Juni 2010