Showing posts with label Aris Kurniawan. Show all posts
Showing posts with label Aris Kurniawan. Show all posts

Sunday, March 2, 2014

Martir yang Terkutuk

Cerpen Aris Kurniawan


BUTIRAN keringat dingin mengalir di pelipis keriput Kiai Husen. Ia terlihat tegang. Bola matanya mendelik seperti hendak mengejar bayangan yang berkelebat meninggalkannya melalui jendela. Aku ingin menubruk tubuh ringkih lelaki itu, tapi sesuatu menahanku. Bahkan mulutku diam terkunci. Menyaksikan sinar lampu bolham di kamar Kiai Husein bagai meredup dan gorden kamar tersingkap, bergetar-getar, tertiup angin. 

Sejak itu aku mendapati wajah Kiai Husein selalu tampak murung. Kehilangan rasa percaya diri. Seribu pertanyaan memadati dadaku tanpa dapat kuungkapkan. Lelaki yang selama ini menjadi tempatku memperoleh segala jawaban atas berbagai persoalan itu, kini seolah berubah jadi pikun. Sifat ekspresifnya lenyap. Matanya selalu menghindar bertatapan langsung dengan mataku. Hingga aku terus menahan diri untuk bertanya tentang peristiwa malam itu.     

Aku mendapatkan jawaban dari seribu pertanyaan tentang peristiwa malam itu bertahun-tahun kemudian, ketika aku menjenguknya sepulang dari perantauan. Kian Husein makin tampak ringkih, suaranya bergetar lirih saat menceritakannya.

Malam itu Azazil datang ke rumah Kiai Husein. Moyang iblis dari zaman Nabi Adam itu telah mengembarai seluruh antero bumi untuk menemukan Kiai Husein. Azazil tampangnya masih serupa dengan saat pertama kali diciptakan Tuhan dari kobaran api. Kiai Husein sendiri mengaku tidak mampu, atau tepatnya tak ada bahasa manusia yang berdaya menggambarkannya secara perinci dan meyakinkan.   

“Apa keperluan Azazil mendatangimu, Kiai?” kataku, tak mampu membendung rasa penasaran yang bertahun-tahun ditimbun. Seperti biasa, Kiai Husein seolah sengaja mempermainkan emosiku, menahan kecamuk pertanyaan bersemburan dari mulutku. Aku tahu, sorot matanya memintaku tenang, jangan grasa-grusu. Ia menyulut rokok, menyesap perlahan-lahan, meletakkannya di asbak, menghembuskan asap, lantas menarik napas dalam-dalam.
   
Sebelum bertemu Kiai Husein, Azazil telah mendatangi satu per satu kiai-kiai besar di Timur Tengah. Ia mengetuk pintu kediaman imam-imam besar seluruh masjid di pusat-pusat spiritualitas dunia tanpa terkecuali. Namun, tak satu pun dari mereka mampu mengabulkan permohonan Azazil. Mereka justru memping-pong Azazil hingga akhirnya sampai di rumah Kiai Husein yang terpencil di tepi perkuburan desa yang sepi.

“Apa permintaan Azazil itu, Kiai? Mengapa para imam besar itu tak mampu mengabulkan permintaannya?” kejarku, setelah lelah menunggu karena cukup lama Kiai Husein membiarkan keheningan berdiam seakan tengah menyiapkan ledakan dahsyat. Ia berdeham beberapa kali, seperti ragu melanjutkan ceritanya.

“Kamu pulanglah dulu, Karim. Bukankah kamu baru datang dari perantauan bertahun-tahun dan belum bertemu orang di rumah,” suara Kiai yang teduh seakan menghentikan laju darahku yang menggelegak oleh keingintahuan yang dipendam berabad-abad. Aku mengemasi ranselku, menatap wajah Kiai Husein dengan kegusaran yang hampir meletus. Tapi aku tahu, aku tak mungkin memaksa lelaki ini untuk melanjutkan ceritanya sampai tuntas sekarang juga. Masgul aku mengemasi ransel yang berisi beberapa buku cerita.

Aku meraih tangannya untuk kucium. Kiai Husein menyerahkan tangannya yang halus dan empuk pada genggaman tanganku, tetapi ia segera menariknya ketika hampir sampai ke wajahku.       

            
***


KIAI Husein menatap mataku dalam-dalam, seakan mengukur seberapa besar keingintahuanku tentang peristiwa malam itu. Angin berdesir. Terdengar lolongan anjing dari arah perkuburan. Aku tiba-tiba merasakan kengerian ditatap Kiai Husein seperti ini. Belum pernah tatapannya semenghunjam ini. Kiai Husein baru selesai melaksanakan salat malam dari masjid tua samping pondoknya ketika aku tiba di pondoknya. Langkahnya tertatih ketika berjalan menuruni tangga masjid menuju arah pondoknya.

Aku yang duduk menunggunya di ambin depan pondok segera bangkit berdiri, menghampirinya untuk memapahnya. Tapi Kiai Husein menahan tanganku. Ia memberi isyarat mengikutinya masuk ke pondoknya yang berlampu temaram.

Tatapan mata Kiai Husein membuatku gelisah. Ingin rasanya segera meninggalkannya seandainya rasa penasaran itu tidak menyiksaku.

“Karim,” suara Kiai Husein terdengar seperti keluhan. “Permohonan Azazil begitu berat, ini persoalan paling berat yang pernah saya hadapi.”

Raut muka Azazil begitu kecewa manakala Kiai Husein terus menggeleng, tak mampu berkata-kata setelah mendengar seluruh gundah gulana, kesedihan, dan keinginan yang disampaikan Azazil.

“Kiai, engkau adalah harapan terakhir saya setelah ribuan imam besar di seluruh penjuru bumi tak mampu menunjukkan jalan padaku untuk menggapai keinginanku bertobat. Saya sungguh-sungguh mengungkapkan keinginan ini dari perasaan paling dalam yang saya miliki. Jangan biarkan saya tersiksa menanggung semua ini, Kiai,” suara Azazil meratap dengan kesedihan yang begitu menyayat-nyayat perasaan Kiai Husein.

Kiai Husein memahami betul perasaan Azazil. Perasaan seseorang yang dikorbankan demi kemuliaan Adam. Tetapi bagaimanakah kiranya sejarah dunia ini bila Tuhan mengabulkan pertobatan Azazil?  Tentu ini akan membatalkan ayat-ayat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan? Isi kitab-kitab suci ayat-ayat harus dikoreksi besar-besaran. Kiai Husein tercenung beberapa lama. Tak pernah terpikir olehnya betapa ia akan menghadapi persoalan serumit ini.

“Bagaimana, Kiai? Dapatkah kau membantu mengajukan pertobatan saya kepada Tuhan? Saya sungguh menyesal telah membangkangi perintah Tuhan memberi hormat kepada Adam. Waktu itu saya begitu dikuasai kesombongan, saya tak mampu berpikir panjang. Hingga saya terjebak dalam perjanjian yang sungguh merugikan saya dan seluruh keturunan saya.”

“Saya sungguh-sungguh menyesali kebodohan saya di masa lalu. Dan kini saya ingin menebusnya, bagaimanapun caranya. Saya rela diperlakukan apa saja asalkan saya diperkenankan bertobat, dan mencabut kembali semua perjanjian itu, Kiai.”

“Kiai, imam-imam besar di seantero bumi yang telah kutemui semuanya menganjurkan aku datang kepadamu mengadukan persoalan ini. Selama ini engkau dikenal sebagai orang bijaksana, orang yang selalu berpikir jauh ke depan. Mampu memahami keadaan paling rumit sekalipun.”

Kiai Husein masih tercenung, tak mampu berkata-kata. Sempat terpikir olehnya, tidakkah kata-kata Azazil mulai menjebaknya. Bukankah menurut ayat-ayat dalam semua kitab suci Azazil memang licik dan pintar menjebak manusia? Tapi pikiran itu ia enyahkan jauh-jauh. Kiai Husein merasa kesungguhan dalam semua tutur kata dan sikap tubuh Azazil.            

Dengan nada lembut dan hati-hati, Kiai Husein bertanya apa melatarbelakangi kesadaran Azazil hingga mendadak ingin bertobat. Tentulah ada peristiwa besar yang membalikkan sikap Azazil hingga ia sampai pada keinginan bertobat.

“Tidak ada peristiwa besar apa pun yang membuat saya ingin bertobat. Keinginan ini sesungguhnya sudah muncul sejak dulu, manakala Tuhan mengutukku, saat itu juga muncul penyesalan saya. Namun, sebelum saya sempat mengungkapkan, Tuhan telanjur mengajukan perjanjian yang mau tidak mau harus saya sepakati. Posisi tawar saya lemah. Waktu itu perasaan saya tertimbun oleh kekesalan.

Ini adalah kebodohan saya. Sekarang saya ingin menebusnya, Kiai. Dulu ketika Tuhan mencetuskan perjanjian denganku, sehingga aku memproklamasikan diri sebagai musuh manusia sejatinya aku tidak sepenuhnya sadar. Sudahlah, semua telah berlalu dan tak mungkin kita putar ulang. Mungkin ini sudah garis takdir. Dan sekarang saya akan mengubah garis takdir itu. Bukankah tidak ada kata terlambat untuk bertobat, Kiai?”

Kiai merasa bahwa Azazil belum mengungkap seluruhnya. Namun, ia tak ingin mengejarnya. Biarlah ia menunggu Azazil mengungkapkannya sendiri. Kalau pun Azazil tetap menyimpan sebagian penyebab lainnya, Kiai Husein merasa tidak perlu memaksanya, karena toh apa pun alasan di balik keinginan Azazil, Kiai Husein merasa tidak mampu menolongnya. Sekarang persoalannya bagaimana ia menyampaikannya kepada Azazil yang tampak begitu bersedih. Suatu kesedihan yang mahadalam. Kiai Husein mendadak merasa begitu bodoh dan zalim lantaran tidak mampu menolong mahluk Tuhan yang hendak bertobat.

“Menyesal sekali, Azazil, saya tidak bisa membantumu. Satu-satunya jalan kamu harus menghadap langsung kepada Tuhan.” Begitulah Kiai Husein akhirnya dengan suara tersendat mengatakannya pada Azazil yang bersimpuh dengan air mata berurai. Mendengar jawaban Kiai Husein, secepat kilat Azazil berkelebat meninggalkannya...     

***

RUPANYA Azazil berkelebat terbang ke langit, mengikuti saran Kiai Husein, ia berniat langsung menghadap Tuhan di Kerajaan Surga. Sepanjang perjalanan menuju Kerajaan Surga itu air mata Azazil berderai-derai. Butiran air mata penyesalan itu seperti kilauan permata yang berlesatan di keluasan semesta. Azazil merasa begitu kecewa kepada Kiai Husein dan semua imam besar yang tak satu pun bersedia membantunya bertobat. Terbayang kembali peristiwa menyakitkan yang membuatnya jadi pecundang. Sudah berapa ratus ribu tahunkah semua itu berlalu?

Waktu itu Azazil bahagia sekali Tuhan menciptakan makhluk baru yang dibuat dari tanah. Makhluk bernama manusia itu diciptakan begitu sempurna. Azazil bahkan sempat mengagumi keindahan makhluk baru itu. Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Kabar yang berhembus tentang bakal ditasbihkannya Adam sebagai makhluk terbaik membuat Azazil resah.

Keresahannya makin menjadi manakala Tuhan memanggil seluruh makhluk ciptaannya, termasuk Azazil untuk berkumpul. Hatinya betul-betul rontok, amarahnya meledak manakala Tuhan benar-benar mengumumkan kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya untuk menundukkan diri di hadapan manusia.      

Azazil tersentak dari lamunannya ketika tubuhnya hampir menyenggol meteor. Jarak ke Kerajaan Surga tampaknya tidak jauh lagi. Namun, manakala ia sampai di pintu gerbang langkahnya segera dicegat seorang malaikat. Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot, akhirnya malaikat tanpa sayap itu menyilakan Azazil bertemu Tuhan.

“Terserah padamulah, silakan menghadap sendiri,” seru malaikat, kesal, suatu sifat yang semestinya tidak dimiliki makhluk berbahan dasar cahaya itu. Azazil akhirnya berhadap-hadapan dengan Tuhan. Di hadapan pencipta alam semesta itu, Azazil mengungkapkan keinginan yang sudah ia ceritakan kepada Kiai Husein dan imam besar lainnya. Di hadapan Tuhan, Azazil mengungkapkan alasan lain yang tidak diutarakan di depan Kiai Husein.

“Tugas hamba menggoda manusia sudah selesai. Sekarang, tanpa dibujuk pun, manusia sudah punya inisiatif untuk berlaku jahat. Bahkan kejahatan mereka melampaui apa yang hamba sarankan. Hamba kini jadi pengangguran ya, Tuhan. Kalau Engkau tidak mengabulkan permohonan tobat hamba, berilah hamba tugas baru, menggoda anak Adam untuk berbuat baik dan kembali ke jalan yang lurus.”  

Para malaikat yang menguping permohonan Azazil, saling celingukan, garuk-garuk kepala. Salah satu di antara mereka tiba-tiba angkat bicara.

“Tidak mungkin! Ini tidak boleh terjadi. Kami tidak sudi bertukar peran denganmu, Azazil!”

Azazil menoleh, menatap malaikat yang kehadirannya sungguh mengejutkannya. Namun, Azazil segera menenangkan malaikat yang tampaknya khawatir tugasnya diambil alih.

“Sabar, kita akan bersama-sama mengajak manusia ke jalan yang benar. Dengan kerja sama yang baik, pasti dengan mudah manusia dapat kita kembalikan ke jalan yang benar,” kata Azazil, bijak sekali.

“Kalau seluruh manusia kembali ke jalan yang lurus, lalu bagaimana drama di bumi akan dilangsungkan?” malaikat, terus mengejar.

“Inilah tantangan buat Tuhan, bagaimana Ia dapat menciptakan drama dengan tokoh-tokohnya yang lurus semua.”

“Tidak bisa, takdirmu tidak dapat dikoreksi. Kau tetap menjadi martir yang terkutuk,” kata malaikat.

Seketika halilintar menggelegar. Kegelapan menutup semua pandangan seperti layar hitam menutup panggung pertunjukan. n

Gondangdia, September 2013


Lampung Post, Minggu, 2 Maret 2014 

Sunday, September 15, 2013

Penyeret Gerobak dan Seekor Anjing

Cerpen Aris Kurniawan


SABAN pulang kerja, pukul 11 malam, aku melihat perempuan itu menyeret gerobak dari arah utara. Begitu aku keluar dari gerbang kantor, perempuan itu tiba di hadapanku. Tentu saja dia muncul sambil terus menyeret gerobaknya tanpa mengacuhkanku. Gerobak yang diseret perempuan itu panjangnya sekitar dua sampai tiga meter dengan beban buntalan-buntalan plastik hitam entah apa isinya, bertumpuk-tumpuk memenuhi gerobak. Dan, lihatlah, di sela-sela buntalan plastik hitam—terselip seperti sisa makanan di antara gigi—seekor anjing berbulu putih kusam nyaris luput dari perhatian.

Dari gerakannya menyeret-nyeret gerobak roda dua itu tentu bebannya sangat berat. Jika lebih cermat lagi akan tampak sepasang betisnya membengkak dan ditumbuhi varises. Kadang secara refleks aku ingin membantu mendorong gerobak itu supaya mengurangi bebannya. Namun, segera saja kubatalkan niat itu. Aku khawatir tindakanku justru membuatnya curiga, kemudian menghajarku. Bukankah ia terlihat kurang waras? 

Wajahnya sekilas kutangkap mengingatkanku pada seseorang yang pernah begitu dekat, entah siapa aku lupa. Wajah yang acap menunduk saat menyeret gerobak itu tidak terlihat menderita. Tidak pula bahagia. Ekspresi wajah perempuan itu seakan mengatasi kedua emosi itu. Kurasa wajah itu menyiratkan semacam ketegangan, agak sedikit menyerupai kemarahan.

Sesekali ia bersiul, mengomel. Kalau terdengar suara klakson atau teriakan orang yang meledeknya, ia akan bersiul atau memekik-mekik menirukan suara orang yang meledeknya—yang di telingaku terdengar seperti lolongan suara anjing—kemudian tertawa. Tapi, sekali lagi, bukan tawa dari ekspresi kebahagiaan atau kesedihan. Entahlah, aku sulit merumuskan ekspresi jenis apa.

Ia akan berhenti jika melihat sampah yang mungkin dianggapnya berharga, teronggok atau berserak di tepi jalan dan trotoar. Dipungutnya, lalu dimasukkan ke buntalan-buntalan plastik hitam. Begitu hitam. Itulah sebabnya beban yang diangkutnya semakin hari semakin menggunung.
Ia seret gerobaknya melewati kolong jembatan rel kereta api, berbelok ke kanan melintasi lorong antara stasiun dan permukiman padat. Tepat di tikungan perempuan itu kembali berhenti sejenak, memeriksa tong sampah depan rumah makan padang. Ia lanjutkan menyeret gerobak, naik ke trotoar depan sebuah kantor bank seberang masjid raya. Ia ikat gerobaknya dengan tambang yang ujung lainnya dililitkan ke tiang listrik. Lalu menggelar tikar plastik dan tidur. Anjing yang terselip di sela buntalan hitam meloncat turun dan menemaninya tidur. Di sanalah rupanya perempuan itu beristirahat.

***

Sebenarnya tidak selalu pukul 11 malam aku mengakhiri pekerjaan untuk kemudian pulang. Kadang pukul sembilan, sepuluh, malah tak jarang tepat tengah malam. Pekerjaanku memang tidak dibatasi jadwal tertentu. Namun biasanya pukul delapan sudah kelar. Hanya saja aku enggan pulang cepat-cepat. Sebagai lajang—yang pernah patah hati parah—toh tak ada yang kutemui di kamar sewaan selain kesenyapan. Aku tetap di kantor menghabiskan waktu dengan main games, atau sekadar berselancar di dunia maya.

Sekalipun begitu, saban pulang aku mesti berpapasan dengan perempuan penyeret gerobak. Seakan ia menunggu aku pulang pukul berapa pun untuk memperlihatkan gerobak dan ekspresi wajahnya yang tak dapat kurumuskan itu.

Aku berpikir mungkin ini sebuah kebetulan belaka yang sudah sepantasnya diabaikan. Namun, pikiranku yang lain menyergah bahwa ini kesengajaan. Kalau sebuah kesengajaan, lalu apa maksudnya? Pertanyaan ini yang membuatku penasaran. Maka suatu kesempatan, sejak sore sampai menjelang subuh, aku nongkrong di warung kopi depan kantor. Menunggu perempuan penyeret gerobak itu lewat. Sampai beberapa kali melakukan pekerjaan menggelikan ini, yang kudapat adalah kesia-siaan. Perempuan penyeret gerobak itu tak juga muncul batang hidungnya. Tentu saja hal ini membuatku makin penasaran. Apalagi setelah mendengar keterangan beberapa orang yang biasa nongkrong di depan kantor. Mereka bilang tak pernah lagi melihat orang yang kumaksud.

Apakah perempuan penyeret gerobak itu ilusiku belaka. Atau ia memang luput dari perhatian mereka. Rasanya tidak mungkin. Karena jauh sebelum kusadari kejadian rutin ini, setiap aku melewati trotoar depan kantor bank sepulang menonton film atau minum-minum di pub sekadar mengusir kesepian, aku melihat perempuan penyeret gerobak itu ada di sana. Pernah kulihat ia tengah memberi makan, mengelus-ngelus leher anjing kesayangan, sambil berbicara dalam intonasi seorang ibu yang memberi nasihat kepada anaknya. Sekarang aku ingat, wajah itu mirip sekali dengan Anindita. Calon istriku yang minggat semalam menjelang pernikahan. Tujuh tahun silam. Mungkinkah ia Anindita?

“Banyak sekali orang yang menarik gerobak lewat sini. Mereka adalah pemulung dari kampung. Yang mana yang kamu maksud?” kata ibu penjual rokok dengan nada mencurigaiku. Jawaban hampir serupa kudapatkan dari satpam yang bertugas jaga di pos depan kantor. 

Dipenuhi semangat memecahkan teka-teki, suatu sore menjelang magrib aku menyusuri jalan ke utara, arah dari mana perempuan penyeret gerobak itu muncul. Sampai satu kiloan berjalan, aku tak menemukan perempuan dengan gerobak dan anjingnya. Mengurai sedikit kelelahan aku duduk di kursi depan minimarket sambil menyesap minuman dingin. Mengorek informasi dari orang-orang yang ada di sana. Jawaban mereka tak ada yang memuaskanku. Barangkali ini memang ilusiku belaka.

Lalu aku meyakin-yakinkan diri bahwa ia betul-betul ilusi. Namun, makin aku meyakin-yakinkan diri, semakin aku tidak yakin. Bagaimana mungkin ia ilusi jika setiap malam aku dapat melihatnya begitu nyata melintas di depanku, menyeret-nyeret gerobak yang itu-itu juga. Aku menyesal mengapa tidak terpikir untuk memotretnya. Padahal kamera poket selalu ada di tasku.

Di kota ini memang makin banyak gerobak berseliweran di jalan-jalan, berbaur dengan sepeda motor, mobil, dan kendaraan-kendaraan lain. Lalu lintas jadi macet dan semrawut. Kadang di dalam gerobak tidak hanya berisi sampah, melainkan juga manusia. Mereka adalah anak dan istri penyeret gerobak. Tapi mengapa sekarang aku tidak menemukan satu pun mereka? Apakah sengaja mereka ngumpet karena tahu aku sedang mencari mereka untuk bertanya siapa perempuan penyeret gerobak bersama seekor anjingnya itu? Bahkan tak kutemukan pula di trotoar depan kantor bank seberang masjid tempat ia biasanya beristirahat.

Kini kegiatanku hanya melamun. Wajah Anindita dan kejadian menyedihkan yang ingin kukubur dalam-dalam, terus berkelebatan. Aku bertekat menemukan perempuan penyeret gerobak itu. Hari-hari berikutnya tak ada yang kukerjakan selain berupaya mencari dan terus mencari untuk menemukan perempuan penyeret gerobak dan anjingnya itu. Aku tak menggubris nasihat beberapa kawan yang memintaku melupakan perempuan penyeret gerobak itu.

“Jangan korbankan masa depanmu. Perempuan penyeret gerobak tak pernah ada. Ia hanya ilusi, Kawan. Kasihanilah dirimu, kamu dibutuhkan dirimu sendiri.”

“Ayolah, Kawan. Sebelum semua terlambat, sudahi kegiatan bodohmu. Habis nanti waktumu untuk mengurusi ilusi yang tidak jelas. Lagi pula apa sih menariknya perempuan penyeret gerobak dan anjingnya itu? Bukankah gajimu cukup untuk menyewa perempuan kapan pun?”
       
***

Berbilang hari sampai berbulan-bulan kemudian aku terus mencari dan menunggu perempuan penyeret gerobak itu. Aku meninggalkan pekerjaanku, bahkan aku tak peduli lagi dengan keadaanku sendiri. Kemeja putihku tampak kekuningan oleh debu dan asap knalpot. Sedikit pun tak kuhiraukan keadaan wajah dan seluruh tubuhku. Mungkin amat dekil lantaran tidak pernah tersentuh air, rambut awut-awutan, dan gigiku pun kuning mirip jagung rebus.

Aku berjalan memasuki gang-gang sempit sambil mengawasi setiap penyeret gerobak yang berpapasan. Aku selalu menanyakan hal yang sama setiap bertemu mereka. Namun, mereka kini mulai tidak mengacuhkan pertanyaanku. Karena kesal aku pernah menggampar mereka. Mereka pun berlari menjauh sambil menyeret-nyeret gerobaknya. Ada pula yang balas menggampar sehingga terjadilah gampar-gamparan. Ketika terjadi gampar-gamparan, teman-teman penyeret gerobak yang kugampar berdatangan dan mengeroyokku sampai tubuhku babak belur. Mereka baru meninggalkanku yang jatuh terkapar dengan tubuh penuh bekas pukulan.

Tetapi kejadian semacam itu tidak membuatku kapok. Aku terus bertanya dan menggampar mereka yang tak mengacuhkan pertanyaanku sehingga orang-orang segera menyingkir apabila melihat aku lewat. Aku terus berjalan sambil memunguti barang-barang yang mengonggok di jalan. Mengorek-ngorek tong sampah. Memasukannya ke plastik hitam. Aku menggendong palstik hitam yang makin lama makin penuh dan bertambah berat. Maka aku pun mencuri gerobak entah milik siapa yang terparkir di dekat tong sampah.

Saban hari aku terus berkeliling dengan beban yang makin berat. Meski bebanku terus memberat, tapi aku terus memasukan barang-barang yang kutemukan di jalan atau tong sampah. Kadang aku harus berebut dengan para penyeret gerobak lain. Bahkan dengan seekor anjing. Aku kemudian berdamai dengan anjing berbulu putih kusam yang kutemukan mengorek-ngorek tulang di tong sampah depan rumah makan padang. Aku berkawan dengan anjing itu yang kemudian mengikutiku ke mana pun aku berjalan. Ia meringkuk di sela-sela buntalan plastik hitam di dalam gerobakku.
Suatu malam ketika aku berjalan melintasi sebuah kantor, aku melihat seorang perempuan muncul dari gerbang kantor. Mungkin karyawan kantor itu yang mau pulang. Ia memandangku dengan wajah iba. Namun, tentu saja aku tak memedulikannya. Saban malam aku melintasi kantor itu dan melihat ia keluar dari gerbang kantor seakan ia sengaja menungguku melintas di gerang kantor itu pukul berapa pun lewat di sana. Setiap melihatku menyeret-nyeret gerobak kulihat ia secara refleks ingin mendorong gerobakku supaya bebanku berkurang. Namun, itu tak pernah jadi ia lakukan. Entah mengapa. Mungkin ia takut aku mencurigainya dan kemudian menghajarnya.

Gondangdia, 12 Juli 2013  

   
Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 September 2013

Sunday, April 14, 2013

Jalan Pulang

Cerpen Aris Kurniawan


DIA berjalan tergesa. Sebelah tangannya menjinjing sepatu hak tinggi. Sementara tangan satunya sibuk menyeka airmata yang tampaknya mengucur deras membasahi pipinya yang disaput bedak tipis. Dalam beberapa detik dia menatapku. Ada debaran lembut di dadaku kala mata kami bersirobok. Aku tertegun beberapa saat, melihat langkahnya yang makin cepat dan hampir berlari. Kakinya yang putih lentik tampak tersaruk menapaki permukaan jalan berkerikil. Aku langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah, lantas memanggil adikku yang tampaknya baru bangun dan tengah berancang-ancang berangkat ke sekolah.

“Pardi! Pardi!” seruku, nyaring.

Pardi terlonjak keheranan, menatapku, lantas tanpa menyahut tergopoh mengampiriku dengan wajah bersungut-sungut.

“Bukankah itu Marto?” kataku mengarahkan pandangan mata kepada orang yang berjalan terburu yang kini makin menjauh dan hanya terlihat punggungnya.

“Ya, Mba Marti. Pasti dia menangis. Biasa, paling habis bertengkar lagi dengan pacarnya,” sahut Pardi tanpa memperhatikan ekspresi wajahku.

“Marti?”

“Ya, Marto teman kakak dulu. Sekarang jadi Mba Marti. Rumahnya yang besar di ujung jalan sana,” kata Pardi seraya ngeloyor, meneruskan kesibukan memasukkan buku ke dalam tas, mengenakan sepatu, lantas bergegas menghidupkan mesin motor. Tahun depan Pardi lulus SMA.

Sepeninggal Pardi rumah kembali sepi. Ibu setengah jam sebelumnya pamit ke pasar untuk belanja menyiapkan masakan kesukaanku seperti ia janjikan semalam.

Hanya mereka berdua yang tinggal rumah ini sejak ayah meninggal dan dua orang kakak perempuanku menikah dan pergi mengikuti suami mereka, masing-masing di Semarang dan Pekalongan. Minggu depan baru mau pada datang. Aku melangkah kembali ke teras menuju pekarangan depan, meneruskan rencana semula menjenguk tetangga kiri kanan lantas menjorok jambu air dan mangga manalagi tapi dengan pikiran tertuju pada rumah besar di ujung jalan yang dikatakan Pardi sebagai rumah Marto.

Dua hari yang lalu aku melihat rumah besar itu dari dalam taksi yang mengantarku pulang. Rumah itu memang tampak besar dan megah di antara rumah-rumah lainnya di kampung ini. Terdiri dari dua lantai, dengan bagian bawah dijadikan toko dan salon di masing-masing sayapnya. Halaman samping kanan terdapat taman yang dibangun dengan selera cukup berkelas. Ada kolam kecil yang di tengah-tengahnya berdiri patung anak kecil yang tengah kencing.

Banyak sekali perubahan di kampung ini setelah hampir delapan tahun kutinggalkan. Tapi keberadaan rumah besar itu sangat mencolok. Waktu aku meninggalkan kampung ini untuk melanjutkan kuliah di Bandung, lahan di atas rumah besar itu masih berupa kebun pisang dengan sebuah gardu pos kamling di pojok sebelah kanan. Itulah gardu tempat anak-anak muda yang kebanyakan pengangguran nongkrong, main gaple atau gitar-gitaran sampai jauh malam. Aku lupa siapa pemilik kebun pisang itu. Tapi yang jelas bukan milik orang tua Marto.   

Marto, gumamku. Ada yang menggeliat di ruang benakku. Lantas ingatanku terjajar ke belakang. Menemukan sorot mata yang sekilas tadi. Sorot mata yang pernah begitu akrab lantaran kami pernah satu bangku waktu di sekolah dasar, SMP, bahkan sampai SMA. Tubuh Marto yang kurus dan lemah dengan gerak geriknya yang lembut membuatnya sering diledek teman-teman di sekolah maupun di lingkungan rumah.

“Marto wandu*, Marto wandu,” begitu mereka mengolok-olok Marto.

Hanya linangan air mata membasahi pipi Marto menerima olok-olokan yang menyakitkan itu. Aku tak mampu membela Marto meskipun ingin. Pernah sekali ketika aku mencoba membelanya, mereka makin jadi mengolok-olok dan mengejekku sebagai pacar Marto. Aku hanya bisa menahan kejengkelan sekaligus iba di dada kecilku, melihat Marto makin selalu terlihat murung, pendiam, dan menarik diri dari pergaulan teman-teman sebaya. Kondisi ini bahkan pernah membuat Marto berkeinginan keluar dari sekolah. Hampir seminggu Marto absen. Setelah kubujuk dan berjanji menemaninya Marto akhirnya mau kembali sekolah. Terus terang, aku beruntung juga dekat dengan Marto. Otaknya yang lebih encer dari otakku kerap memberiku contekan.

“Kamu naksir Marto ya Kris? Hahhahah Krisno pacarnya Marto wandu hahahha...” olok-olokan itu mengiang begitu jelas di gendang kuping seperti aku baru mendengarnya kemarin.

Lulus SMP kami diterima melanjutkan ke SMA favorit di kota kecamatan. Gerak gerik Marto yang gemulai memang tak berubah, malah makin terlihat lembut. Sehingga Marto tetap menerima olok-olokan meski tidak sekerap di sekolah dasar dan SMP. Tapi aku mulai berani terang-terangan membelanya. Sikapku menyebabkan Marto selalu ingin dekat denganku. Tak jarang aku main dan nginap di rumah Marto yang kecil dan berdinding gebyok. Ibunya, seorang janda, membuka warung kecil-kecilan untuk menghidupi mereka. Ia tampak senang Marto punya teman sebaya. Setiap aku datang ia menyuguhiku bermacam jajanan pasar.

“Mereka semua jahat, Kris,” gumam Marto lirih, setiap menerima olok-olok, bikin trenyuh. 

Saban pagi Marto selalu nyamper ke rumahku untuk berangkat bareng ke sekolah. Aku menggonceng Marto. Sambil duduk terguncang guncang di goncengan Marto sesekali bicara mengungkapkan perasaannya yang sedih. Kadang Marto memegang pinggangku dari belakang.

“Untunglah ada teman seperti kamu, Kris. Kamu baik, beda dengan mereka,” kata Marto.

“Kamu harus berani melawan mereka. Jangan diam saja kalo mereka mengolok-olok,” kataku.

“Mana mungkin aku berani, Kris, tubuhku kurus. Lagi pula mereka banyakan, bisa-bisa aku dikeroyok,” keluh Marto sedikit manja seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.

“Kamu nggak malu berteman denganku, Kris?”

“Kenapa malu?”

“Nanti kamu diolok-olok.”

“Berani mengolok-olok aku tonjok,” kataku, heroik.

Marto tertawa riang. Tangannya makin erat mencengkeran pinggangku. Aku gembira mendengarnya tertawa seperti itu. Kami kerap berkeliling-keliling kebun jati sepulang sekolah. Aku yang lebih sering mengayuh sepeda. Kalau haus kami istirahat duduk di bawah pohon jati yang paling besar dan kukuh sambil minum es kelapa. Kadang sampai maghrib baru kami pulang. Selain di kebun jati tempat favorit kami adalah bantaran sungai Cisanggarung yang membelah propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kami duduk di tembok beton yang dibangun untuk menahan arus sungai supaya tidak menggerus daratan. Kami ngobrol sambil memandang orang-orang mencuci dan mandi telanjang di bawah sana. Tampak pula orang mendayung sampan.

“Kamu punya pacar, Kris?” suara Marto hampir lenyap tertelan hembusan angin.

Di sini anginnya sangat kencang, menerbangkan uap air dan aroma segar tanaman perdu yang khas. Kawanan capung mencari perlindungan di batang batang pohon waluh.
Aku menggeleng.

“Kamu nggak naksir Liana?”

Nama yang disebut Marto adalah idola di sekolah kami. Selain berkulit putih dan berhidung mancung, anak kepala sekolah kami itu merupakan saingan kuat Marto dalam pelajaran matematika dan bahasa Inggris.

“Siapa yang tidak naksir Liana? Semua anak lelaki pasti menjadikan Liana bahan khalayan mereka saat tidur. Berkhayal mencium bibir Liana,” kataku sambil membayangkan bibir ranum Liana. Aku tak punya nyali menyatakan perasaan suka pada Liana lantaran rangkingku tiga tingkat di bawah Liana. 
“Pasti dia mau sama kamu, Kris, kalau kamu berani menyatakan. Kamu kan ganteng.”

Aku tertawa. Marto terus menatapku. “Kamu makin kelihatan ganteng kalau ketawa seperti itu, Kris.”

Aku agak tersipu dipuji serupa itu. Entah mengapa aku kemudian jadi selalu ingin terlihat rapi di depan Marto.

Aku melanjutkan kuliah berkat beasiswa. Marto pun mendapat beasiswa, namun aku tak tahu kabarnya melanjutkan ke mana. Sejak itu kami kehilangan kontak. Selama kuliah di Bandung aku hanya pulang dua kali. Ayah dan ibu yang kerap menjenguk ke kosanku di Bandung. Aku tak pernah bertanya tentang Marto kepada mereka. Begitu lulus aku langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Beberapa kali pindah kerja sebelum akhirnya dikirim ke kantor pusat di Denhag, Belanda. Aku makin jarang pulang. Hampir tujuh tahun aku tak menginjak kampung halaman.

Bahkan aku tak menghadiri pemakaman ayah.

Denhag, meski tak seramai New York atau London, adalah kota kosmopolitan. Di sana aku bertemu dengan banyak teman dari berbagai bangsa. Salah satu yang paling dekat adalah Jim. Kami tinggal sekamar di apartemen. Pria peranakan China ini mengingatkanku pada Marto. Raut mukanya, gerak geriknya. Hanya kulitnya jauh lebih putih dan bersih. Sebelum aku terbang ke tanah air, Jim berkali-kali mengingatkan aku segera kembali dua hari sebelum masa cutiku habis, tepat sehari setelah Natal. Kamu sedang dipromosikan naik level, kata Jim. Jadi, tidak boleh telat.    

Bunyi pintu pagar dibuka menyadarkanku. Ibu pulang dari pasar dengan belanjaan banyak sekali seperti mau menggelar hajatan atawa mau buka toko. Meski sudah tua ibu masih terlihat gesit membawa barang belanjaan. Aku segera menghambur membantu membawakan belanjaan ibu.

“Banyak sekali belanjanya bu.”

“Sekalian, Kris. Supaya tidak bolak balik ke pasar lagi sebulan,” ujar ibu sambil menyeka keringat di pelipisnya.

“Tadi waktu mau berangkat  ibu ketemu Marti, eh Marto. Masih ingat kan? Teman kamu dulu,” kata ibu tanpa menghentikan kesibukan memasukkan sayur, buah, dan bermacam makanan kaleng ke dalam lemari es.

Aku pura-pura mengabaikan kata-kata perempuan yang melahirkanku itu, tapi mengharapkan melanjutkan cerita pertemuannya dengan Marto. Aku begitu digelayuti keingin tahuan yang besar tentang kabar Marto. Ibu bilang Marto makin cantik. Bahkan lebih canti dari Lilis, perempuan paling cantik di kampung ini yang kata ibu sering menanyakan kepulanganku.

Ibu bercerita, ketika aku berangkat ke Bandung. Beberapa hari kemudian Marto juga berangkat ke Surabaya. Dia tidak melanjutkan kuliah. Entah kerja apa di sana. Mungkin kerja di salon,  kata ibu. Apa lagi? Selain memasak dan menjahit baju, Marto dulu memang gemar memotong rambut. Seperti diriku, Marto jarang pulang. Meski begitu ia tak pernah telat mengirimi ibunya uang saban bulan. Dari uang kiriman itu ibunya bisa membangun rumah dan membeli tanah di ujung jalan itu.

Ketika pulang tiga tahun kemudian, Marto membuat orang sekampung terperangah. Marto bukan hanya berubah wujud menjadi Marti yang cantik sekali tapi dia juga pulang membawa pacarnya, seorang pria bule. Selain menjenguk ibunya, kepulangan Marto adalah untuk membangun rumah.

“Terus pacar bulenya itu?” kejarku begitu bersemangat, seperti mendapat kejutan.

“Katanya sih mati kecelakaan. Marto mendapatkan uang asuransi kematiannya,” kata ibu mengakhiri ceritanya.

Dibantu tetangga sebelah ibu mulai sibuk mengiris bawang, dan meracik bumbu lainnya. Padahal aku masih penasaran siapa pacar Marto yang membuat dia pagi-pagi menangis. Entah mengapa aku enggan bertanya lagi. Mungkin aku harus mencari sendiri informasi ini. Tapi kepada siapa? Yang jelas Pardi bukan orang yang tepat kujadikan sumber informasi yang kubutuhkan.

Tengah malam ketika sebagian orang sudah tertidur, didorong rasa penasaran dan disertai sedikit semangat menjadi detektif aku mengintai rumah itu dari jarak beberapa meter. Aku menghentikan gerobak bakso yang lewat dan memesan semangkuk. Sambil pura-pura makan bakso aku mengawasi rumah Marto, sepi. Seseorang baru saja menutup rolling door toko, sementara lampu di ruangan salon masih menyala terang. Marti tampak sedang duduk di meja kasir, bercakap-cakap dengan seseorang entah siapa. Mungkin pegawai salon. Tak lama kemudian pegawai salon keluar, pulang. Marto kulihat bangkit dari duduk dan bersiap menutup salon.

Sambil menahan debaran aneh, pelan-pelan aku berjalan ke arah Marti. Rupanya dia melihat kedatanganku. Tangannya yang hendak menutup gorden, terhenti. Dia memandangku yang makin mendekat. Marto memang telah sempurna menjelma jadi perempuan. Di bawah lampu seratus watt ia tampak begitu anggun, lebih cantik dibanding waktu kulihat pagi tadi. Dia mengenakan gaun terusan motif batik mega mendung dari jenis bahan lembut dan jatuh ke kulit memperlihatkan bentuk tubuhnya ramping molek. 

“Marto,” panggilku, lirih.

“Krisno?” dia tertegun memandangku agak nanar. Aku ingat, terakhir kali sebelum pulang dari tembok beton sungai Cisanggarung menjelang lulus sekolah, dia menangis. Dalam gerimis aku mendengar suaranya lirih mengatakan betapa ia selau ingin bersama-sama denganku.

“Kapan pulang dari Belanda, Kris?” suara Marto tertahan. Dia menghambur hendak memelukku, tapi aku tahan. Kami berpandangan dalam jarak beberapa senti. Entah berapa lama kami berpandangan ketika sekonyong konyong Pardi muncul dari ruangan sebelah salon. n

Relung malam Pondok Pinang, Februari 2013.

catatan
* wandu = banci   


Lampung Post, Minggu, 14 April 2013

Sunday, December 30, 2012

Penjinak Harimau

Cerpen Aris Kurniawan


JADE belum mati. Dia hanya tak mau bertemu denganmu. Harimau dalam tubuhnya akan mengaum mendadak, haus darah, ingin menerkam, jika mengingatmu. Tak bisa dibayangkan bila bertemu. Dia terbang menyeberangi benua untuk membunuhmu dalam kepala dan aliran darahnya; menjinakkan harimau dalam tubuhnya.  Di pulau terindah di dunia ini dia menemukannya. Dia melukis saban pagi. Saban sore. Saban malam. Dia melukis perjalanan yang ditempuhnya, orang-orang yang dijumpainya, pohon-pohon yang pernah menaungi tubuhnya, kereta api, bis, pesawat…

Warna-warna kelam mendominasi lukisan-lukisannya. Aku menduga itulah warna yang tepat buat membenam sepenggal kisah hidupnya yang pedih. Langit kusam. Lautan suram. Hutan-hutan, bebungaan, taman-taman, bahkan matahari tak ada yang memancarkan warna cerah di atas kanvasnya. Sungguh, lukisan-lukisan yang menjalarkan gelisah pada perasaan siapa pun yang menatapnya, sama seperti pelukisnya. Seakan Jade sengaja menjalarkan rasa gelisahnya pada orang-orang. Kini aku tahu ada orang yang memelihara kegelisahan.

Tak mudah memahami perempuan. Tapi Jade jauh lebih rumit lagi. Setidaknya buatku. Hampir setahun aku mengenalnya, tapi hanya sebagian kecil saja riwayat hidupnya yang bisa kuendus melalui sepatah dua patah kata yang meluncur dari bibirnya yang juga kelam oleh timbunan nikotin. Selain warna-warna kelam, itulah satu-satunya fakta yang dapat kutelusuri untuk menemukan jejak masa lalunya.

Aku tak pernah bertemu dengan Jade sebelumnya. Mungkin saja dia pernah berkeliaran di pantai itu, atau keluyuran di sepanjang jalan, keluar masuk toko buku, toko kaset, nongkrong di kafe, toko cenderamata, yang bertebaran di kota wisata ini. Dan tentu sangat mungkin dia pernah masuk ke toko bunga tempatku bekerja, membeli bunga. Pernah bertanya padaku tentang mawar, anyelir, teratai, kenanga…tapi aku tak mengingatnya. Banyak sekali pengunjung toko bunga. Aku tak mungkin mengingatnya satu persatu. Jade tidak  memiliki banyak ciri khas yang menonjol pada tampilan fisiknya. Rambut keriting panjang keemasan. Sepasang matanya dalam dan berkantung. Tulang pipinya tinggi seperti struktur wajah model yang kerap kaulihat di majalah. Ada tato salib di punggung telapak tangannya yang pucat. Gelang dengan bermacam jenis dan bahan di kedua pergelangan tangannya yang kurus, mungkin agak sedikit membedakannya dari pengunjung lain. Tapi itu tak akan mampu kutengarai di tengah keramaian kota dan kesibukanku melayani sekian banyak pembeli bunga.

Aku baru dapat mengingatnya setelah dua kali mengantarkan bunga pesanannya pada suatu sore yang tidak terlalu cerah. Wajah Jade yang murung  saat melihat kedatanganku.

“Terima kasih,” hanya itu yang diucapkannya dengan intonasi terdengar datar dan kaku. Pada kedatanganku yang kedua, pada pekan berikutnya, dia menawariku minum teh yang rupanya sudah disiapkannya sebelum aku datang. Tentu aku enggan menampik. Aku menghirup teh dengan sedikit gugup sembari melihatnya melukis. Ditangannya kuas itu bagai lidah yang menari-nari di permukaan kanvas. Dia memindahkan objek bunga ke dalam kanvas.

“Kamu suka lukisan ini,” tanyanya ketika memergoki aku menatap lukisannya dengan seakan-akan serius.        

“Ya, aku suka lukisan bunga,” sahutku sekenanya.

“Kamu bekerja di toko bunga itu?”

“Ya…,” aku kebingungan harus menyebut apa di depan namanya.

“Saya Jade. Panggil Jade saja.”

“Sudiarja,” sebutku, “orang biasa memanggilku Arja”

Sejak itu aku rutin mengantar bunga pesanannya. Dia memesan semua jenis bunga yang ada di tokoku. Tapi yang lebih sering adalah bunga mawar. Semua bunga-bunga itu hanya untuk dilukisnya. Setelah itu dia buang di tong sampah yang selalu tersedia di studionya di lantai dua. Meski tanpa percakapan panjang dan seru, diam-diam kami merasa saling dekat satu sama lain. Dekat dalam keasingan kami masing-masing. Tapi aku tahu ada perasaan bahagia saat berada di rumahnya, berada di dekat Jade. Kurasa dia sepantar bibiku. Hampir saban minggu aku datang mengantar bunga pesanannya dan melihatnya melukis. Aku jadi hapal gerakan-gerakannya kala melukis. Dan aku mulai menyukai lukisan. Aku selalu mengantar bunga lebih banyak dari yang dia pesan.

Jade tinggal sendirian di rumah itu. Dia beli dari seorang petani. Rumah itu menghadap hamparan persawahan yang berundak-undak. Sementara halaman belakangnya, menghadang hutan kecil yang rimbun. Tampak biru kala menjelang malam. Aku kerap membayangkan betapa sepi hidup tanpa teman kecuali lukisan. Setiap aku datang mengantarkan bunga ia selalu tengah melukis. Tangannya tampak belepotan cat. Kadang warna cat menodai tangkai cangkir teh yang selalu disuguhkannya padaku. Dia berjalan tenang menyambut dengan ekspresi yang tak pernah berubah. Sekali dia pernah memberiku tisu untuk menyeka keringat di wajahku. Ini pun dilakukannya tanpa kata-kata. Maka tak kutepiskan jauh keinginan bertanya apakah dia tidak merasa sepi dan bosan sendirian. Jade membagi rumahnya menjadi lima ruangan. Dua ruangan di lantai dua dan tiga ruangan di lantai bawah. Kamar tidur dan studio tempatnya melukis di lantai dua. Ada perpustakaan di lantai satu, dua ruangan lainnya dibiarkan kosong membentang. Tampak tenang dan menyenangkan.

Jade pernah memintaku jadi model lukisannya. Dia mengarahkan aku duduk sejauh dua meter dari kanvas.

“Lepas topimu,  Arja.”

“Begini, Jade?” kataku, kikuk.

“Santailah,” ujarnya mengarahkanku.

Suatu hari, tiga bulan sejak pertemuan pertama kami, Jade memintaku menemaninya pergi ke pantai, mengunjungi candi, melihat-lihat pura dari jarak dekat, menyusuri toko-toko cenderamata. Dia suka duduk berlama-lama menghadap pantai dengan mata mengerjap-ngerjap resah. Membiarkan aku dalam kebisuan. Seharian kami melakukan perjalanan, tapi hanya beberapa kalimat meloncat dari mulutnya untuk hal-hal yang mendesak. Misalnya meminta pertimbanganku saat memilih tas rajut di Pasar Seni Sukawati.

Sesampai di rumah, setelah agak lama tertegun menatap lukisan yang baru diselesaikannya kemarin, untuk pertama kalinya dia bilang tentang harimau di dalam tubuhnya, yang akan mendadak mengaum, haus darah, jika mengingatmu.

“Siapa dia Jade? Apakah dia musuhmu?” begitulah aku bertanya dengan sedikit ragu-ragu. Waktu itu aku mengira ia akan menguak riwayat masa lalunya. Ternyata perkiraanku meleset. Dia hanya mengatakan, “Seseorang dari masa laluku. Kau tak akan mengerti, Arja.”

Aku mengurungkan niat bertanya lebih lanjut. Karena aku melihat dia tak menginginkan itu. Tapi tak ada yang bisa mengekang pikiranku untuk mulai menerka-nerka bahwa dia memendam dendam yang besar pada seseorang. Sebuah dendam karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Selebihnya situasi tidak berubah. Kembali ke semula. Tak ada percakapan panjang. Hanya bahasa yang diantarkan lewat gerak tubuh kami masing-masing. Bahkan sampai sejauh itu dia tak pernah memanggil namaku secara lengkap. Aku pun hanya memanggilnya Jade. Karena hanya nama depannya itu yang aku tahu. Huruf F di belakangnya aku tak tahu kependekan dari apa. Mungkin Foster, atau Fitzgerald, atau Fonda. Semua hanya perkiraan saja.

Seperti biasa dia mengucapkan terima kasih dan senyum sekadarnya sebelum aku meninggalkan rumahnya. Dia menatapku dengan semacam permintaan maaf karena tak membagi masa lalunya padaku. Apakah karena aku baru tujuh belas tahun? Tapi sejak perjalanan itu aku diburu keinginan untuk mengetahui seseorang itu sekalipun tak tahu apa yang akan aku lakukan nanti jika mengetahui seseorang itu.  Aku tak tahu harus merasa lega atau sebaliknya saat tak lama berselang, akhirnya dia menceritakannya.

“Aku mencintai dia sebesar cinta dia padaku. Tapi pada saat bersamaan harimau dalam tubuhku mengaum, ingin menerkam dan mencabik dirinya. Itu yang menyebabkan aku di sini,” bisiknya.

“Dia kekasih gelap ibuku.” Sorot matanya terluka.

“Jade,” ucapku. Aku mencoba memahami kalimatnya yang membingungkan.

“Aku tak bisa mencintai siapa pun selain dia,” desisnya.
Aku mendengar nada bersalah pada kalimat itu. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalaku. Aku pikir hebat sekali kamu. Mampu menerbitkan dua perasaan saling berlawanan pada saat bersamaan dalam benak Jade.

Dua minggu aku absen mengantar bunga ke rumahnya. Beberapa kali Jade menelpon ke toko, menanyakan bunga pesanannya. Aku selalu menjawab habis. Aku menunggu dia mengundangku. Aku ingin datang bukan sebagai pengantar bunga. Aku ingin datang sebagai diriku sendiri. Tapi tak ada telepon untuk itu. Jade hanya menginginkan bunga, seorang pengantar bunga yang dengan sukarela memperhatikanya melukis. Betapa menyedihkan.

“Kamu sakit, Arja?” tanyanya ketika aku muncul lagi mengantarkan bunga.

“Aku baik-baik saja, Jade. Kuharap kamu juga. Bisa melupakan seseorang itu.”

Jade menatapku sebentar. Lalu meneruskan kegiatannya melukis. Sementara dadaku dipenuhi gemuruh kekecewaan. Aku tak menyentuh teh yang dihidangkannya. Aku merasa harimau dalam tubuh Jade kini tumbuh pula di tubuhku. Ingin menerkammu. Apakah kamu telah memperlakukan Jade seperti dia memperlakukan aku? Sekuat daya aku menjinakkan harimau di tubuhku.

“Siapa lelaki itu, Jade? Katakan padaku. Biar kucekik dia” kataku dengan nada tinggi, yang bahkan aku sendiri terkejut mendengarnya. Sesuatu meliuk di udara basah. Kusadari ini mungkin hari yang salah. Aku rasa harimau dalam tubuhku tak mampu kujinakkan. Melontarkanku dari dadaku sendiri. Aku merenggut bahu Jade.

“Siapa laki-laki itu?”

“Apa yang kamu lakukan, Arja!” Jade meronta, gemetar.  “Kamu mabuk?” masih sempat kudengar kalimat itu, sebelum aku berhasil menikam harimau di tubuhku, lantas pergi berlari.

Jade mengejarku sampai pintu. Tapi dia tidak memanggilku. Harimau dalam tubuhku meronta-ronta, dia mengajakku kembali ke rumah Jade. Merobeknya. Tapi kaki-kaki kurusku terus berlari seperti terbang. Pohon-pohon menjadi saksi kejadian menyedihkan itu. Udara bagai penuh debu yang bikin sesak napasku.

Jade belum mati. Dia hanya tak ingin bertemu denganmu. Suatu sore, sepekan setelah peristiwa itu dia menemuiku di toko bunga. Meski tanpa kata-kata, aku tahu Jade ingin mengucapkan pamit padaku. Jade pergi untuk membunuh harimau dalam tubuhnya. Dia bilang kamu telah datang di pulau ini untuk mencarinya. Sekarang, seperti yang kamu lihat, rumah ini kosong. Dan maaf, aku tak bisa menjinakkan harimau di tubuhku. Berbaringlah sementara di ruangan studio ini. Nikmati lukisan-lukisan yang ada di sini.  Biarkan kusiapkan liang untukmu di belakang rumah. Santai saja. Kamu masih punya cukup waktu.

Denpasar-Jakarta Desember 2012


Lampung Post, Minggu, 30 Desember 2012



Sunday, September 9, 2012

Gadis Distro

Cerpen Aris Kurniawan


AKU menunggunya di depan pintu plaza dekat perempatan yang menghubungkan Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto. Dia akan keluar pukul sembilan malam. Aku membayangkan dia berdiri seharian, tersenyum manis pada setiap pengunjung yang masuk ke distro, menawarkan koleksi baju-baju baru yang dipajang dalam etalase kaca.

Membayangkan wajahnya yang kecewa manakala pengunjung berlalu begitu saja. Wajahnya akan berubah ceria ketika pengunjung lain menunjuk sebuah baju dan meminta dia membungkus lantas membawanya ke kasir. Kemudian dia akan kembali berdiri, memasang senyum yang itu-itu juga tapi tak pernah membosankan kepada pengunjung.

Senyum dari sepasang bibir pipih dengan polesan gincu yang samar. Saat ini mungkin polesan gincu itu telah pudar sehingga tampaklah warna aslinya yang agak pucat. Aku membayangkan matanya yang lelah dan mengantuk, telapak tangannya yang halus dengan jari jemarinya yang lentik berkali-kali harus menutup mulutnya yang menguap. Kadang dia ngobrol dengan temannya sesama penjaga distro untuk sekadar menjinakkan kantuk yang tampaknya menyerang dengan ganas.

Membayangkan sepasang bibirnya, tiba-tiba aku jadi terganggu oleh pikiran tentang bibir siapakah yang pernah menyentuhnya. Adakah sepasang matanya memejam saat bibirnya disentuh oleh bibir entah milik siapa. Ada berapa pasang bibirkah yang pernah singgah di bibirnya, mencecap lidahnya. Betapa lembut bibir itu, dengan garis-garis kerutannya yang halus.

Waktu terasa bergerak sangat lambat. Orang-orang terus keluar masuk di pintu plaza itu. Lelah mataku mengamati mereka satu per satu dan berharap dia keluar lebih cepat dari biasa. Jalanan terlihat begitu padat. Bermacam kendaraan terus mengalir dari arah Thamrin. Aku tahu, meskipun dia masuk sif satu, dia kadang tetap akan keluar jam sembilan malam. Dia tak mau berdiri berdesak-desakan dalam metro mini dihadang kemacetan yang makin panjang. Dia lebih memilih duduk di bangku kafe, atau duduk membaca di toko buku di lantai tiga, menunggu metro mini ke jurusan alamatnya pulang sepi penumpang supaya dia mendapat tempat duduk dan kemacetan sedikit terurai.

Aku mengerti, setelah seharian berdiri tentu akan sangat menyiksa jika harus berdiri pula di dalam metro mini. Tapi mungkin juga dia menunggu seseorang yang akan menjemputnya.

Karena begitu rindunya aku pernah terpaksa masuk ke distro untuk melihat wajahnya, senyum manisnya.

Pura-pura melihat-lihat koleksi baju yang dipajang, bertanya tentang merek terbaru, model yang sedang ngetren, jenis bahan, dan tentu saja harganya, aku mencuri-curi pandang ke arah wajahnya. Kulihat matanya berbinar gembira saat aku meminta dia membungkus dua potong kaus. "Terima kasih," ucapnya, kalimat yang diucapkannya berulang dengan cara yang sama pada setiap pengunjung distro yang membeli baju.

Sekarang aku tak mungkin nekat masuk ke distro dan pura-pura mau membeli baju supaya dapat melihat wajahnya. Uang yang ada di dompetku tak akan cukup untuk membeli sepotong celana dalam sekalipun pun. Aku tak ingin melihat wajahnya kecewa. Uangku hanya cukup buat ongkos untuk membuntutinya pulang nanti.

Maharani, begitulah nama yang tertera di name tag yang tersemat di seragam kerjanya. Aku catat baik-baik nama itu. Nama yang kupikir selaras dengan sosok penyandangnya. Nama dan sosok yang entah berapa pekan terakhir ini begitu menyita perhatianku. Menarik langkah-langkah kakiku, menggerakkan tarikan napasku, memengaruhi setiap keinginan dan mimpi-mimpiku.

Sekali waktu pada saat jam makan siang, seperti biasa aku menitipkan konter ponsel pada Ikra, kawanku sesama pejaga konter, untuk pergi makan siang. Kami memang harus bergantian untuk pergi makan siang. Biasanya aku mencari warung makan murah yang nyempil di gang sempit antara gedung perkantoran dan mal ini. Kau tahu upah penjaga konter ponsel tak cukup untuk makan siang di restoran cepat saji yang terdapat dalam mal. Tapi siang itu, karena bosan dengan menu itu-itu juga dan kebetulan habis gajian, aku pikir tak ada salahnya sesekali mencicipi makan di restoran dalam mal.

Begitulah, aku masuk ke restoran khas Amerika. Itulah saat pertama kali aku melihat wajah itu. Wajah yang sendu di dalam distro yang sepi. Seketika aku merasakan debaran tak biasa dalam hatiku. Tiba-tiba aku meyakini dialah perempuan yang akan menjadi jodohku. Wajahnya memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan perempuan yang diramalkan bakal jadi istriku.

Kerling mata dan senyumnya membuat acara makan siang istimewaku tak berjalan sebagaimana yang kuharapkan.

Ayam goreng dan minuman bersoda khas Amerika yang kupesan jadi terasa hambar di lidah.  Matanya yang sendu mengalihkan konsentrasiku saat menggigit ayam goreng, mereguk soft drink yang mestinya rasanya lezat sekali.

Aku buru-buru menghabiskan makan siangku yang terasa tak habis-habis—akhirnya memang tak habis, lantas bergegas keluar dari sana dan masuk distro untuk melihat lebih jelas sosoknya. Kepalaku sibuk merekam setiap ekspresi wajah dan gerak tubuhnya. Ada rasa berdesir di dadaku manakala mataku bertubrukan dengan matanya. Begitu saja sentimentalitasku muncul, bahwa akulah pangeran yang dikirim Tuhan untuknya. Ciumannya akan mengubah wajahku yang buruk rupa menjadi tampan memesona. Tanpa pikir panjang aku menunjuk sepotong kemeja untuk meredakan gugupku saat dia menyilakan aku memilih koleksi baju yang terpajang.

"Boleh dicoba dulu?"

"Silakan, Mas, di ruang pas," katanya dengan suara yang terdengar merdu, suara yang berhari-hari setelahnya mengiang terus di lorong pendengaranku. Suara yang saat ini begitu kurindukan. Di kamar pas aku tak pernah mencoba kemeja yang hendak kubeli. Aku tak punya nyali melihat wajahku di cermin. Melihat wajah sendiri di cermin hanya membuatku sakit hati pada Tuhan (jika memang Tuhan terlalu iseng mengurusi wajah orang) yang telah memberiku bentuk rupa yang begini buruk.

Lihatlah, mataku belo dengan bola mata yang tampak seperti mau meloncat dari rongganya, dinaungi dahi nan lebar dan menonjol ke depan; bibirku tebal dan sobek di bagian tengah tepat di bawah lubang hidung, yang membuat suaraku terdengar sengau menggelikan dan tak jelas kala bicara; hidungku seperti tak bertulang sehingga terlihat hampir rata dengan pipi; dan kulitku yang kelam ditambah beberapa bekas luka di sekitar pelipis akan menyempurnakan kebencianku pada Tuhan. Di kamar pas itu aku berdiri berdebar membelakangi cermin.

Kemarin untuk kedua kalinya aku membuntutinya begitu dia keluar dari pintu mal ini. Aku meloncat masuk dari pintu belakang metro mini yang dinaikinya. Duduk di belakang bangku yang didudukinya. Menghidu bau tubuhnya. Dia duduk dengan kepala tertunduk digayuti kantuk, memperlihatkan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu lembut. Sebuah tengkuk yang seolah mengundang tanganku untuk membelainya. Bangku di sebelahnya kosong ditinggalkan penumpang yang turun, tapi aku tak berani pindah ke sana. Aku sibuk meredakan debur jantungku yang kian tak menentu. Seraya membayangkan tanganku membelai tengkuknya, aku menggumamkan sajak,

Aku ingin menemanimu pulang malam ini

Menaiki bus kota dan berimpitan di dalamnya

Aku ingin menemanimu sampai halte berikutnya

Sampai kilometer selanjutnya, turun di depan kantor polisi

Menunggu metro mini. Aku ingin menemanimu bersidekap

Dalam angkutan yang pengap, melewati sejumlah lampu merah

Melewati sekian perlintasan kereta api, melewati jalan-jalan layang

Melewati terowongan-terowongan hingga terjebak kemacetan

Dekat terminal. Aku ingin menemanimu menarik napas panjang

Mengeluarkan tisu dan mengelap keringat di kening serta lehermu

Aku ingin menemanimu turun dari kendaraan rombeng itu

Berjalan menuju pangkalan ojek. Aku ingin menemanimu

Melintasi tanah-tanah berlubang, menerobos liku-liku gang

Hingga pekarangan rumah kontrakanmu yang penuh jemuran

Aku ingin menemanimu membuka pintu, memasuki kamarmu

Mencopot sepatu, melepas semua pakaian dan melemparkannya

Ke bawah dipan. Aku ingin menemanimu menghidupkan kipas angin

Lalu meneguk air mineral yang dingin. Aku ingin menemanimu

Menyalakan televisi, menonton film biru dan mengisap candu

Aku ingin menemanimu bermain-main dengan sepi di kamarmu
*

Aku tersadar manakala bus mendadak berhenti di sebuah perempatan dan dia meloncat turun begitu cepat. Bus kembali melesat, dan aku berada di dalamnya dengan perasaan hampa yang memadat. Inilah untuk kedua kalinya aku gagal membuntuti sampai ke rumahnya.

Hari sebelumnya aku berhasil membuntutinya sampai mulut gang. Sialnya, sebelum langkahnya berbelok masuk gang, dia mampir belanja dulu ke minimarket di sebelah gang. Aku kehilangan jejak. Dia tak keluar-keluar lagi sampai minimarket itu tutup. Belakangan aku sadar minimarket itu memiliki dua pintu keluar, di depan dan samping.

***

JAM delapan. Berarti masih sejam lagi aku harus menunggu. Mungkin mulai ada orang-yang memperhatikanku. Aku melangkah ke deretan kafe-kafe, mencapai gerai ATM. Depan gerai ATM itu ada kios majalah. Ke sanalah aku menuju. Aku pura-pura mencari-cari majalah yang tak ada.

"Ada majalah pohon?" kataku sekenanya.

"Majalah baru ya, Mas? Wah enggak ada tuh Mas," ujar gadis penunggu kios yang tampak jijik melihat tampangku.

Akhirnya aku membeli koran supaya dapat berdiri lama di sana. Aku hanya membaca judul-judul berita koran yang kubeli, sambil sibuk mengawasi pintu plaza dan sesekali melihat jam di ponselku. Lima belas menit lagi. Saat ini mungkin dia sedang melepas baju seragamnya di kamar ganti, mencuci muka, menyisir rambut.

Sosok yang kutunggu keluar juga. Dia melangkah sedikit gontai melewati bangku-bangku kafe di selasar mal. Dia telah mengganti baju seragamnya dengan kaus krem yang dipadu jaket berbahan kaus. Tas mungilnya berayun pelan di samping pinggangnya yang ramping. Sebentar lagi dia lewat di depan kios majalah ini.

Aku mengikuti langkahnya dalam jarak tertentu. Melihatnya berdiri menanti bus. Kali ini aku tidak boleh gagal. Aku harus tahu rumahnya. Tahu tetangga-tetangganya. Tahu siapa saja yang singgah ke rumahnya. Tahu siapa saja yang akan kehilangan jika besok atau lusa aku merebutnya dari mereka. n

Pondok Pinang, 5 Juli 2012

* Aku Ingin Menemanimu, Sajak Acep Zamzam Noor

Cerpen ini diinspirasi dari sebuah puisi, Aku Ingin Menemanimu karya Acep Zamzam Noor.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 September 2012
 

Sunday, July 31, 2011

Pagar

Cerpen Aris Kurniawan


IA sampai di depan pintu pagar rumah kekasihnya. Sekuntum bunga kering melayang jatuh tepat di ujung sepatunya. Sunyi mengisi jalanan. Cahaya lampu memendar redup, tak mampu menyentuh kerikil di permukaan jalan. Gerumbul dedaun pohon mangga dari rumah sebelah menelan bayangan tubuhnya yang canggung mencoba menepis ragu. Dia meraba ponsel yang mendekam damai di kantong celana jins ketatnya. Merogohnya perlahan. Menyusuri nama-nama di daftar teman yang tersimpan dalam ponselnya. Ada lebih dari lima ratus nama. Nama kekasihnya yang berhuruf depan M ada di urutan ke seratus.

Ketika nama itu muncul, ia hanya memandangi rangkaian huruf-huruf yang membentuk nama kekasihnya seraya menyunggingkan senyum, tapi ragu untuk menekannya. Mendesah pelan, ia mengambil sebatang rokok dari kantong jaketnya. Sambil menghembuskan asap rokok dari rongga mulutnya ia mendesah lirih, inikah saatnya...

Sudah lama sekali ia memendam gelora hasratnya. Kadang merasa harus meraung-raung demi meredam gejolak dalam tubuhnya yang ia tahu persis tak mungkin tidak dimuntahkan. Ia kerap terbangun tengah malam. Keluar dari kamar lantaran takut melihat pantulan wajahnya di cermin, wajah yang pasti terlihat kusut masai bagai kertas diremat-remat. Duduk di kursi goyang kesayangannya di ruang tengah, menekan-nekan nomor telepon sekenannya. Sekali dua kali ada yang mengangkat, lantas didengarnya orang menggerutu, bahkan maki-maki.

Usianya telah menginjak 42. Tapi seperti baru terlahir 12 tahun lalu dalam urusan asmara, sehingga harus bertanya pada Joe, keponakannya, yang baru kelas satu SMA. Sialnya Joe malah meledeknya kalau ia tak memberinya uang.

"Om pacaran saja sama Tante Jum," kata Joe, "Dia penggemar tanaman, juga kaya, Om." Kalau sudah begitu ia jadi langsung ilfeel pada keponakannya itu. Tante Jum, tetangganya, perempuan lajang seusianya yang pernah menetak kepala seekor kucing sampai pecah hanya lantaran si kucing mematahkan ranting tanaman piaraannya. Pacaran dengan wanita itu? Membayangkannya saja ia bergidik.

Sejurus matanya yang letih menyorot pintu rumah itu, seperti ingin menembus. Tapi mendadak gugup melandanya lagi. Apa kira-kira yang bakal dilakukannya kalau nanti bertemu.

"Pertama-tama tentu Om harus memberikan senyum paling manis buat dia." Ia ingat saran keponakannya.

Ia telah melintasi sejumlah provinsi, menyeberangi Selat Sunda, untuk sampai di depan pintu pagar rumah kekasihnya. Ia menyeka wajahnya dengan tisu basah. Tapi itu tak membuatnya cukup merasa segar. Karena keringat yang mengucur dari pori kulitnya sejak di Bandar Udara Soekarno-Hatta yang belum dibasuh meninggalkan lengket dan rasa tak nyaman di sekujur badan.

Sepenggal bulan menggantung di ujung langit yang bersih. Angin merayap perlahan-lahan meraba tengkuknya. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar sayup-sayup. Tadi ia menyuruh sopir taksi menurunkannya di ujung jalan kompleks perumahan ini. Ia memilih meneruskan dengan berjalan kaki. Ia khawatir suara kendaraan itu mengganggu rencananya membuat kejutan. Tidak terlalu sulit mencari rumah kekasihnya di kota kecil ini. Apalagi kekasihnya telah menuliskan alamat secara sangat perinci. Terbukti, hanya butuh 15 menit ia telah berdiri di depan alamat yang dituju.

Disapukan pandanganya ke rumah kekasihnya yang tampak tengah menunggu seseorang datang mengetuk pintu. Rumah itu persis dengan yang dideskripsikan kekasihnya. Rumah model zaman dulu yang memiliki dinding bagian depan tinggi berbentuk huruf V terbalik, dihiasi ornamen yang membentuk huruf M. Temboknya bercat ungu, di teras yang membentuk huruf L dengan atapnya disangga tiang tiang besi kecil dan ramping, terdapat sepasang kursi rotan. Tembok setinggi satu meter memisahkan teras dengan halaman. Pohon belimbing dan jeruk bali, masing-masing berdiri di pojok halaman sebelah kanan dan kiri, digelantungi pot-pot gerabah berisi aneka bunga-bungaan yang menjuntai ke bawah. Keset sabut kelapa bergambar hati di depan pintu masuk. Dan tentu saja nomor 69 di pagar teralis warna perak yang berjarak beberapa senti dari tempat ia sekarang berdiri.

Kekasihnya acap menjelaskan, di kursi rotan itu dia duduk menghabiskan waktu senja seraya memandangi tanaman yang dirawatnya sepenuh cinta. Tak heran bila mereka pun tumbuh subur dan selalu siap memberi keteduhan yang diperlukan penghuni rumah. "Duduk di situ sampai gelap turun dan menyalakan lampu-lampu," ujar kekasihnya.

Sangat mudah baginya menekan bel yang terdapat di pojok dekat tiang lampu. Namun, ia merasa bukan sekarang saat yang tepat memberi kejutan. Dari balik jendela berbentuk persegi panjang ia melihat lampu di ruang tengah masih menyala. Ia juga menangkap pendar sinar dari pesawat televisi. Mungkin kekasihnya tengah menonton televisi. Acara apa yang ditonton dini hari begini?

"Dipeluk olehmu pasti sedap rasanya di malam berhujan begini," begitu kekasihnya kerap berbisik, dikirimkan gelombang elektromagnetik ke telinganya, malam-malam. Ia hanya tertawa ngakak. Ia sendiri ragu apa makna tawa seperti itu. Gembira, heran, cemas, atau takut. Atau mungkin seluruh perasaan itu berbaur sempruna menciptakan sensasi yang aneh dalam benaknya.

Ia teringat muasal hubungannya dengan kekasihnya. Lalu ia akan merasa terheran-heran bagaimana sebuah kejadian salah sambung dapat berlanjut menjadi sebuah hubungan kekasih. Sementara dengan orang yang saban hari bertemu, di bawah satu atap dan lantai yang sama, begitu asing dan jauh. Ia tengah gelisah, bersiap tidur setelah bosan menonton teve yang acaranya begitu-begitu saja. Menjengkelkan dan tidak kreatif.

"Fred," ujar telepon salah sambung itu, dengan intonasi yang menyentak.

"Fred? Anda siapa? Salah sambung!" sahutnya.

Ia hampir saja menutup percakapan yang menjengkelkan itu ketika mendadak ia seperti pernah akrab dengan suara itu.

"Oh maaf, jadi saya salah sambung ya?"

"Ya Anda salah sambung, saya bukan Fred."

"Tapi di ponsel saya benar lo ini nomor Fred. Ya sudahlah mungkin operatornya lagi ruwet. Maaf, kalau begitu saya bicara dengan siapa?"

"Saya Sam di Jakarta."

"Hah, Jakarta. Ya ampun jauh sekali ya."

"Anda di mana?"

"Pekanbaru."

"Oh."

"Kenapa oh? Anda pernah ke Pekanbaru?"

"Belum pernah ke sana. Oya, Fred siapa?" ia bertanya setelah merasa tanggung.

"Untuk apa Anda tahu? Kita tidak saling kenal kan?"

"Baiklah, maaf. Saya tutup telepon ini karena saya telah bicara dengan orang yang tak saya kenal."

"Loh kok marah sih?"

Ia tertawa.

"Kok tertawa?"

Percakapan terhenti sampai di situ. Tampaknya gangguan sinyal. Esoknya ia menerima telepon lagi dari orang yang sama.

"Benar Anda mau tahu tentang Fred?"

"Bukankah saya orang yang tidak Anda kenal?"

"Sekarang saya sudah kenal. Bukankah kemarin Anda sudah menyebutkan nama?"

Ia tertawa.

"Mau tahu tidak?"

"Apakah itu penting buat saya?"

"Baiklah. Saya tutup telepon ini. Terima kasih."

Ia tengah menghadapi banyak persoalan di kantor. Ia merasa tertekan lantaran beberapa bulan ini selalu gagal memenuhi target. Terlalu banyak intrik. Rekan-rekannya di kantor selalu memandangnya sebagai pesaing yang siap melemparkan mereka keluar. Dia sungguh butuh teman untuk mengobrol. Ia merasa telepon salah sambung itu menjadi teman ngobrol yang sedikit menolongnya dari suntuk. Maka, setelah tiga hari menahan diri, akhirnya ia menghubungi nomor si salah sambung.

"Fred kekasihmu?"

"Bukan lagi. Dia pengkhianat."

"Terus untuk apa kamu mau menghubungi dia?" Tanpa sadar ia mengganti "anda" dengan "kamu".

"Apakah itu penting buatmu? Kalau memang penting buatmu, baiklah saya ceritakan."

Lantas ia mendengar si salah sambung menuturkan perihal untuk apa menelepon si pengkhianat. Cerita yang sangat klise dan tentu saja membosankan. Tapi dia terus menyimak lantaran merasa mendapat peluang, semacam harapan yang selama ini tak pernah menghampirinya. Kenyataannya ia tidak salah duga. Sesudahnya saban malam mereka bertelepon dan berikrar saling setia.

"Suatu saat aku akan menjemputmu ke Pekanbaru. Aku akan membuat kejutan."

***

DIA berkemas seraya membayangkan hidung mancung kekasihnya, bibir tipis, rambut ikal, tubuh padat, dan kulit kecokelatan. "Apa yang akan kamu lakukan jika aku datang?" begitu ia kerap bertanya pada kekasihnya.

"Memeluk dan mengecupmu, membelaimu..." kekasihnya menyahut dengan suara begitu syahdu dan menggemaskan. Lantas disambung dengan kata-kata yang mengekspresikan kekaguman yang memabukkan, memuji bentuk dahinya yang tinggi, bibirnya yang seksi, serta daun telinganya yang lebar. Ia sempat terheran-heran bagaimana bisa dia memuji seperti itu hanya berdasarkan penuturan.

"Daun telinga yang lebar pertanda pintar," kata kekasihnya. Seperti biasa, ia lalu berjingkat menghampiri cermin. Menatap tampangnya, dan tersenyum-senyum sendiri. Benarkah aku tampan, bisiknya.

Hari-harinya yang suntuk dengan tugas menyusun paket proposal penawaran iklan, bertemu dan merayu klien demi mengejar target, berubah jadi penuh gairah. Bisikan-bisikan syahdu penuh bujuk rayu kekasihnya tak ubahnya darah segar yang menjalar di urat nadinya. Memberinya tenaga untuk meninggalkan kebiasaan nongkrong berlama-lama di kedai kopi sekadar untuk membuang sepi dengan mencuri-curi pandang pada pasangan-pasangan yang berseliweran keluar dan masuk mal. Sebuah kegiatan yang pada kenyataannya justru membuat ia makin dilanda sepi.

"Akulah tulang rusukmu." Kata-kata itu membuatnya tersenyum lagi, sedikit geli. Sejujurnya ia bukanlah seseorang yang menyukai hal-hal yang romantis. Hal itu dianggapnya terlalu bertele-tele. Ia lebih mempercayai yang praktis-praktis. Rekan-rekan kantornya menyebutnya si pragmatis. Tapi, kini ia mulai berpikir untuk tak ada salahnya sesekali menjadi sedikit romantis.

Ia melihat jam digital di layar ponselnya. Pukul 02.55. Dicarinya lagi nama kekasihnya di daftar nama. Tapi lagi-lagi ia ragu. Ia ingin membuat kejutan. Tapi kejutan apa lagi? Ia ragu ada orang lain di rumah kekasihnya meskipun sudah dijelaskan berulangkali bahwa kekasihnya tinggal seorang diri. Siapa pun dia pasti akan mengganggu pertama yang mendebarkan.

Ia berpikir untuk berbalik keluar ke jalan besar untuk mencari penginapan. Mungkin akan lebih mengesankan jika pertemuan berlangsung di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di pinggiran kota. Mungkin ia akan bangkit berdiri menyambut kedatangan kekasihnya dengan kedua tangan direntangkan. Memeluknya, memesankan minum, dan menumpahkan perasaannya sesuai rencana.

Ah, ini sungguh bertele-tele, ia menyergah gagasannya sendiri. Diambilnya ponsel, mencari nomor kekasihnya, lantas menekannya. Beberapa menit kekasihnya tak mengangkat panggilannya. Diulangi sampai beberapa kali, tetap sama. Tentu saja ini di luar kebiasaan. Kekasihnya biasanya selalu siap sedia menerima telepon darinya. Ia memutuskan untuk memijit bel di sudut pagar di dekat tiang.

***

DI dalam taksi yang baru keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, seorang perempuan tampak memucat wajahnya. Ia meminta sopir menghentikan taksinya.

"Pak tolong antarkan saya ke alamat ini. Tapi saya hanya punya jam tangan ini. Dompet dan semua uang saya hilang di bandara tadi!" katanya suara logat Melayu Pekanbaru.

Relung Malam Pondok Pinang, 08 Juli 2011.


Lampung Post, Minggu, 31 Juli 2011

Sunday, March 27, 2011

Malam Ziarah

Cerpen Aris Kurniawan


WARTI tersungkur di punggung makam. Memeluk gundukan tanah dengan sepasang lengannya. Separuh wajahnya yang mulus tak berjarak dengan permukaan tanah yang ditumbuhi alang-alang yang mulai membasah oleh embun.

Cahaya bulan samar-samar membantunya membaca guratan nama di nisan papan. Dia menahan suara tangisnya, tapi tak kuasa menghentikan air yang ambrol dari kedua sudut matanya. Susah payah dia mengambil posisi bersimpuh lantaran gaun terusan panjang yang dikenakannya, lalu berdoa dalam diam.

Hening. Hanya dengung serangga malam dan detak jantung Warti yang terdengar. Dadang yang berdiri di sampingnya melirik haru namun tetap membersitkan kesan melecehkan. Angin berdesir lembut mengelus tengkuk Warti yang berguncang-guncang.

"Sudahlah, War. Tak usah lama-lama, percuma, doamu tak bakal diterima," celetuk Dadang menusuk perasaan Warti. Tapi dia tidak peduli, dan merasa tak perlu peduli. Warti sudah terlalu terbiasa dengan kalimat menyakitkan yang ditujukan kepadanya, bahkan sejak dia kanak-kanak, ketika dia bernama Warto. Dan Dadang merupakan orang nomor satu dalam hal melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. Sekarang kupingnya sudah kebal.

Tak akan pupus dari ingatan Warti lontaran menyakitkan dari mulut Dadang yang pertama kali. Waktu itu Warti baru kelas empat sekolah dasar. Panitia perayaan tujuh belasan memilihnya ikut menari tari-tarian daerah untuk mengisi panggung hiburan di balai desa. Tari lilin dari Padang, tari pendet dari Bali, tari remong dari Jawa Timur. Warti menyambut sangat gembira ajakan tersebut.

Namun Dadang berusaha mencegah keikutsertaan Warti. "Jangan mau, Warto. Tarian itu untuk anak perempuan. Jadi banci kamu nanti," bentak Dadang. Namun Warti berkukuh. Bagi Warti inilah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya berguna, bukan dalam turnamen sepak bola, bola voli, atau permainan gobak sodor, seperti kawan-kawan sebayanya dalam tradisi merayakan hari kemerdekaan di kampung.

Sesudahnya ucapan dan umpatan menyakitkan lainnya berhamburan lebih banyak lagi dari mulut Dadang dan saudara-saudara Warti yang lain, juga tetangga, teman-teman, bahkan ibunya turut bersikap keras jika melihat Warti bersikap lemah lembut. Hanya bapaknya yang tak sekalipun bersikap kasar. Bapaklah yang sepuluh tahun lalu membuat Warti begitu berat meninggalkan caci maki, hinaan, dan segenap kenangan buruk masa kanaknya desa ini, ke Surabaya.

"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Bapak. Aku baik-baik saja di Surabaya. Salam buat ibu dan saudara-saudara semua di rumah." Begitu Warti menulis surat untuk bapak, sesampai di Surabaya. Warti tidak tahu surat itu sampai atau tidak. Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di perantauan seorang diri membuat dia tak sempat memikirkan nasib surat lebih lanjut. Tapi Warti yakin bapak selalu berdoa untuk keselamatannya.

***

"SUDAH malam, War." Suara Dadang mendesing, menggasak hening.

Warti bergeming. Wajah teduh bapak memenuhi kepalanya. Wajah orang yang selalu membelanya saat ibu dan saudara-saudaranya mencaci maki. Menyediakan pangkuannya bagi tumpahan air mata Warti, mengelus-elus kepalanya penuh welas asih. Terngiang pertengkaran bapak dan ibunya yang berbeda sikap terhadap kondisi Warti.

"Walau bagaimanapun kamu tetap anak bapak sampai kapan pun." Demikian kata bapak, lirih, setiap ibu membentak Warti.

Kata-kata ini yang mengiang dan membuat Warti merasa tidak benar-benar sendiri. Kata-kata yang memberi kekuatan pada Warti untuk menerima takdir yang harus dipikulnya. Kata-kata yang membekali Warti menempuh jalan hidupnya yang lain di Surabaya.

"Aku pergi, Bapak," kata Warti suatu malam, sambil tersedu.

"Mau pergi ke mana, kamu anakku?" bapaknya bertanya pilu.

Jika mengingat adegan ini, beberapa waktu sesudahnya, Warti seperti melihat sebuah adegan dalam sinetron yang membuat dia tak kuasa menahan haru. Dadanya sesak, air mata berlelehan tak henti-henti sampai Warti berada di dalam bus. Waktu itu, sama sekali dia tak tahu hendak menemui siapa di Surabaya.

***

"PULANGLAH lebih dulu, Kang Dadang. Aku nanti menyusul."

"Ini hampir tengah malam, Warti. Tidak aman buat perempuan...."

"Aku bisa menjaga diri," tukas Warti, pelan tapi tegas. Sekilas dia melirik wajah Dadang. Wajah itu mirip sekali dengan wajah bapak. Tapi kenapa watak keduanya sungguh bertolak belakang? Sungguh, saat ini Warti membutuhkan wajah Bapak untuk meredakan ketakutannya.

"Kamu memang keras kepala!" bisik Dadang. Dia melangkah menjauh, lantas duduk di gundukan makam berporselen, membakar rokok. Klepas klepus sembari mengawasi Warti yang masih bersimpuh, khusyuk sekali. Sampai habis beberapa batang rokok, Warti tak juga selesai berdoa. Dadang agak menyesal kenapa tidak menunggu besok pagi saja mengantar Warti ke makam bapak. Kedatangan Warti dengan wujud baru magrib tadi sangat mengejutkan. Begitu mendengar bapak telah meninggal Warti langsung memohon diantar ke makam. Hhhs..., Dadang mendesis gelisah. Sibuk menghalau nyamuk yang berdenging menggigiti kulitnya.

Ketika selesai berdoa Warti tak kunjung beranjak dari simpuhnya. Dia merasa begitu berat meninggalkan makam bapak. Bukan hanya karena menyesal tak bisa melihat bapak untuk yang terakhir kali, tapi ada ketakutan lain yang menguntit perasaannya. Dia takut polisi memburu sampai ke rumahnya. Jantung Warti mendadak berdegup kencang tak mampu mengenyahkan kecemasan yang melanda jantungnya dengan hebat.

Peristiwa itu kembali berkelebatan di kepalanya. Peristiwa yang membuat semua usaha yang dibangunnya di Surabaya berantakan. Sumarsih, karyawan setia di salon miliknya, berkhianat. Pagi itu Sumarsih menelpon minta izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Namun menjelang sore ketika Warti menjenguk di kamar kontrakannya, dia mendapati Sumarsih tengah berangkulan lekat sekali dengan Subardi, kekasih Warti.

Dengan perasaan tersayat Warti berlari pulang. Sekeranjang buah yang dijinjingya terlempar begitu saja. Apel merah Australia dan jeruk Mandarin berpentalan, menggelinding ke sana kemari. Jadi rebutan bocah-bocah dekil penghuni permukiman para kere tersebut.

Sesampai di rumahnya di belakang kios salon, Warti menumpahkan air matanya sampai habis tak bersisa di dalam kamar. Ternyata ada yang lebih menyakitkan dari segala hinaan dan caci maki yang pernah diterimanya sejak kecil. Kenapa kamu tega sekali, Sumarsih? Mengkhianati aku, orang yang telah mengangkat kamu dari jalanan?

"Ampun, Yu. Mas Subardi yang memulai." Sumarsih bersimpuh di kaki Warti.

"Apa yang kurang dariku, Marsih? Selama ini aku menganggapmu lebih dari karyawan. Tega sekali kamu, Marsih. Ternyata benar desas-desus itu. Jancuk kamu, Marsih." Suara Warti bergetar oleh kemarahan yang berbaur dengan kepedihan.

"Ampun, Yu." Sumarsih terus bersimpuh di kaki Warti, menangis sesenggukan.

Perasaan Warti yang lembut dan mudah tersentuh perlahan-lahan luluh melihat Sumarsih terus mengiba. Warti tahu Subardi memang hidung belang. Tapi Warti telanjur jatuh hati pada lelaki itu. Bahkan tergila-gila. Apa saja keinginan lelaki pengangguran jebolan pesantren itu dia penuhi. Subardi tahu betul merogoh hati Warti.

Tetapi itulah kesalahan Marsih yang tak termaafkan. Pengkhianatan itu berulang. Kali ini mereka melakukannya di kamar Warti. Mereka benar-benar sepasang ular berbisa yang harus ditebas kepalanya. Kalap Warti merenggut pedang pajangan di dinding. Kemudian didobraknya pintu. Warti melihat sepasang ular itu terkesiap ketakutan. Dia sibak kain kelambu dengan ujung pedang. Wajah mereka pucat pasi, menyembah-nyembah Warti, lupa menutup tubuh mereka yang telanjang bersimbah keringat dingin.

"Bangun kalian, Iblis, tatap mataku." Suara Warti terdengar menggeram seperti harimau hendak menerkam mangsa yang diincar sekian lama. Dalam hidupnya mungkin baru kali ini Warti bisa sebegini murka. Warti masih sempat melihat wajah Sumarsih yang sepias mayat sebelum pedang dalam genggamannya terayun cepat menyabet leher Sumarsih. Darah muncrat seketika, deras bagai air mancur, memerahkan sprai dan lantai.

"Wartiii, ampuuunn..." Subardi memekik dan berupaya menubruk Warti. Malang bagi Subardi. Tubuhnya disambut pedang terhunus. Subardi ambruk dengan ujung pedang menancap tepat di ulu hatinya.

"Inilah buah pengkhianatan yang harus kalianmu terima," desis Warti menatap nanar kedua mayat mereka yang bergelimang darah. Kesadaran Warti lekas bekerja. Dia masukkan jasad mereka ke dalam sejumlah karung setelah memenggal-menggalnya menjadi beberapa bagian.

***

"AYO War, sudah malam," Dadang setengah berteriak, membuyarkan lamunan Warti.

"Kang Dadang, biarkan aku bermalam di sini. Sebelum subuh aku mau langsung kembali ke Surabaya. Ambillah kopor dan semua isinya untuk kalian," kata Warti, hampir berbisik sembari merapikan selendang transparan penutup kepalanya.

Dadang terpaku menatap wajah Warti yang tampak samar di bawah cahaya bulan. Tapi Dadang dapat menangkap betapa wajah itu halus dan cantik, dengan lekuk rahang yang melengkung lembut.

"Kamu tahu, War, sewaktu bapak sakit sering memanggil-manggil kamu. Bahkan menjelang wafat nama kamu yang disebutnya," ujar Dadang. "Kami mau mencarimu, tapi tak tahu kamu tinggal di mana," kalimat terakhir tak sempat keluar lantaran segera terpotong kata-kata Warti yang meminta Dadang meninggalkannya seorang diri.

"Sudahlah, Kang Dadang, tidak ada yang perlu disesali, pulanglah," kata Warti seperti ditujukan kepada diri sendiri. Dia telah merobek gaun panjangnya sebatas lutut.

Dadang berdiri gamang. "Tidak, War. Kamu harus kembali ke rumah. Mereka pasti sudah menunggumu," kata Dadang, memperkencang debaran jantung Warti. Kulit wajahnya tentulah memucat, tapi Dadang tak dapat melihat perubahan itu dalam keremangan. Keduanya terdiam beberapa saat. Sebelum tiba-tiba terdengar suara kemerosak langkah kaki dari arah jalan desa.

Seketika Warti berkelebat pergi, "Kang Dadang, pulanglah, sampaikan salam dan maafku untuk saudara-saudara semua."

"Wartiii...."

Langkah-langkah yang datang dari arah desa ternyata saudara-saudara Warti. Segera mereka secara serentak mengejar Warti yang terus lari lintang pukang menerabas semak-semak.

"Wartiii, maafkan kami, kembalilah, kami kangen... Wartiii..." seruan-seruan mereka mengelupas keheningan malam terang bulan itu. Namun Warti terus lari, dan lari, sampai ia tak memperhatikan di depannya melintang sungai curam.

Pondok Pinang, Januari 2011


--------
Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya: Lagu Cinta untuk Tuhan (kumpulan cerpen, 2005,) Lari dari Persembunyian (kumpulan sajak, 2007).


Lampung Post, Minggu, 27 Maret 2011

Sunday, September 5, 2010

Kota Puisi

Cerpen Aris Kurniawan

Sekembali dari terowongan itu, Darja mendapati gerobak ketopraknya masih teronggok di sisi jalan. Gerobak itu seperti menunggu tuannya dengan setia. Keadaannya masih utuh. Piring, gelas, sendok, stoples plastik, cobek, ulekan, ember, semuanya masih lengkap. Letaknya tak bergeser sama sekali. Bahkan beberapa butir air sisa bilasan di punggung piring belum lagi kering. Hanya kantung plastik yang terlihat sedikit menyembul keluar, bergetar-getar ditiup angin.

Darja mengerjap-ngerjapkan matanya, celingukan tiga kali. Cuaca masih terang. Dilihatnya jam tangannya. Masih pukul setengah lima sore. Lantas dengan perasaan yang masih dirongrong kebingungan, didorongnya ia punya gerobak. Baru beberapa langkah, dari arah berlawanan dilihatnya Narti, istrinya, bejalan tergesa menuju ke arahnya.

Darja menyeka wajahnya dengan sebelah tangan. Dia tak ingin Narti mengetahui kebingungannya. Perempuan itu suka ngedumel kalau melihatnya melamun, atau tampak seperti baru sadar dari lamunan. Lantas menyindir-nyindir tentang cita-citanya jadi penyair. Meracik dan mengulek bumbu ketoprak saja belum becus, mau jadi penyair, begitu Narti pernah berkata. Dia memang keterlaluan. Apa coba hubungannya mahir ngulek ketoprak dengan menulis puisi? Padahal dulu Narti selalu bilang puisi-puisi Darja bagus. Indah tiara tara. Dan gara-gara dirayu dengan puisi pula Narti jadi pacar Darja hingga akhirnya mereka menikah. Perempuan memang selalu ada maunya.

Dari kejauhan Darja sudah dapat melihat muka Narti yang semrawut seperti kain tak disetrika. Seakan sudah tahu hari ini jualannya hanya habis separuh. Bisa ditebak sebentar lagi mulut perempuan itu bakal menumpahkan ceramah tentang cara jualan yang benar. Bagaimana memasang muka kepada pelanggan. Ceramah akan diakhiri dengan kalimat yang sama, yaitu "Abang sih jualan melamun mulu. Kalau nggak melamun pembeli diajak ngobrol puisi. Mikir dong Bang...." Dasar perempuan, kamu pikir orang melamun itu tidak pakai pikiran?

Maka sebelum dia sampai, Darja telah memutuskan untuk tidak akan pernah menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Salah-salah Narti makin mempanjang durasi acara ceramahnya. Bisa memicu migrainnya kambuh.

Benar saja, begitu sampai Narti langsung nyap-nyap. Tapi kali ini Darja bertekad tak peduli. Darja sibuk mengingat-ingat peristiwa yang baru saja dialaminya beberapa menit lalu. Ya, beberapa menit saja, tapi mengapa terasa begitu lama berlangsung? Seperti bertahun-tahun? Peristiwa yang baginya sendiri terlalu sulit dimengerti, tapi sungguh-sungguh dia alami secara begitu nyata, sangat nyata, bahkan lebih nyata dari kenyataan. Ah!

Rasanya tidak ada yang salah dengan terowongan itu. Lorong di bawah jalan tol yang menghubungkan Kampung Krapyak di sebelah utara dengan Kampung Semantak di selatan. Orang-orang di kedua kampung itu selalu melalui lorong berukuran lebar dua meter dan tinggi satu setengah meter itu. Dan sejauh yang dia tahu semua berjalan baik-baik saja. Memang pernah ada kabar berembus bahwa terdapat hantu penunggu lorong tersebut. Hantu seorang warga yang mati secara misterius gara-gara menolak pembebasan tanahnya untuk pembangunan jalan tol tersebut. Konon hantu itu gemar mengganduli orang yang melintas di terowongan.

Tapi, peristiwa yang dialami Darja sama sekali tidak ada urusannya dengan kabar tentang hantu yang diembus-embuskan orang itu. Lagi pula Darja sudah lama tidak percaya dengan cerita-cerita hantu semacam itu. Seperti orang-orang di Kampung Krapyak yang mau menyeberang ke Kampung Semantak dan sebaliknya, saban hari Darja melalui terowongan tersebut. Dinding-dindingnya dilabur cat putih susu, di sudut langit-langit terpasang lampu cukup terang. Sore tadi Darja melintas di sana, dan tidak terjadi apa-apa seandainya Darja tidak berbalik ke dalam terowongan lantaran dia merasa penasaran ingin membaca sampai habis sebait tulisan di dinding terowongan. Tulisan biasa-biasa saja yang digoreskan menggunakan arang kerjaan iseng anak muda. Huruf-hurufnya sama sekali jauh dari kesan rapi. Mana ada tulisan yang digoreskan arang terlihat rapi. Huruf r tampak seperti huruf n dan kadang k. Tapi begitulah, dia tambatkan sebentar gerobak ketopraknya di mulut terowongan demi memenuhi rasa penasarannya. Dia merasa tulisan itu seperti puisi.

Setelah dibaca secara penuh penghayatan dan berulang-ulang, tulisan itu memang puisi. Sangat indah. Penyair manakah yang iseng menggoreskannya di dinding terowongan ini? Pertanyaan ini bukan bagian penting dari kejadian yang dialami Darja. Sebab, beberapa detik berikutnya puisi itu menariknya ke dalam pusaran. Lantas, entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu Darja terempas ke sebuah gang yang lengang. Permukaan gang yang terbuat dari paving block membuat kulitnya sedikit lecet-lecet. Anda pernah melihat bagaimana Mr. Bean jatuh ke bumi? Begituah kira-kira yang terjadi pada Darja. Itulah sudut kota yang hanya dia kenal lewat bait-bait puisi seorang penyair kondang yang digandrunginya.

Lamat-lamat dia dengar puisi itu...

Kota itu tak bernama

Dinding-dindingnya sangat tua

Dan musik menggenang sepanjang jalan-jalannya

Yang sunyi.

Darja bangkit dan mempertajam pendengarannya. Lalu dia bergerak menelusuri sumber suara. Berjalan tersaruk mengikuti udara yang dirambati suara lantunan orang membaca puisi. Darja mendapati dirinya bagai mabuk oleh kebahagiaan. Dia meraba detak jantungnya untuk memastikan kejadian ini bukan bagian dari lamunan.

Dari dulu Darja memang sangat menggandrungi puisi, dan menjadi penyair merupakan cita-cita terbesarnya sejak remaja. Alangkah bahagianya menjadi penyair, begitu dia selalu berpikir. Adakah yang lebih hebat dan mulia dari seorang penyair? Cita-cita ini menghuni benaknya sejak dia terpesona melihat tetangganya yang jadi penyair. Berambut gondrong, pintar ngomong, berbaju agak kumal, dan punya banyak pacar. Apa saja yang dilakukannya orang maklum karena dia penyair.

Demi merintis cita-citanya, Darja pun masuk ke Fakultas Sastra jurusan puisi. Saban hari tak ada yang dikerjakannya selain menulis puisi dan membaca buku-buku teori tentang puisi. Berdiskusi hampir saban malam tentang puisi dengan siapa saja yang kebetulan bertemu atau berkunjung ke kamar indekosnya yang penuh dengan buku puisi. Tidak seperti penyair umumnya yang malas menata kamar, Darja menata buku-buku puisi koleksinya dengan rapi. Dia susun berdasarkan tahun terbit. Dia melarang keras jika ada yang bermaksud meminjam koleksi bukunya itu.

"Cita-cita kok jadi penyair sih, Darja. Apa tidak ada yang lain?" tanya bapaknya.

"Tidak ada artinya hidup ini selain jadi penyair, Pak."

"Jadi orang jangan berlebihan dong, Darja. Tapi sudahlah, terserah kamu. Tapi ingat, jadilah penyair yang berguna untuk rakyat."

"Maksud Bapak?"

"Membela rakyat, Darja."

"O, tentu saja, Pak," sahut Darja sekenanya lantaran tidak betul-betul paham dengan tema pembicaraan yang terjadi begitu saja. Kalau ingat percakapan ini Darja ragu sendiri, benarkah ini terjadi dalam sebuah kenyataan atau sekadar di panggung drama?

Darja terus berjalan tersaruk-saruk dengan dada dirasuki perasaan sukacita. Udara kota tua itu menyemburkan harum di penciumannya. Benar-benar kota puisi, bisiknya. Adakah puisi berbau harum? Hanya Darja yang bisa menjelaskan secara pasti. Dia sampai di sebuah kafe yang di dalamnya tengah berlangsung pembacaan puisi. Dari sinilah rupanya asal suara itu. Darja nyelonong begitu saja ke tengah-tengah hadirin yang tengah khusyuk menyimak pembacaan puisi. Cara mereka menyimak pembacaan puisi membuat Darja terkagum-kagum setengah mati. Dia celingukan tiga kali seperti kebiasaannya kalau sedang mumet mencerna peristiwa tak lazim, lantas menyadari betapa tak ada penyair favoritnya di sana. Bahkan tak ada satu pun yang dikenalnya. Astaga ini negeri mana ya? Gumam Darja, bego seperti biasa. Mendadak sepotong tangan menjawil pundaknya.

"Darja?"

"Eh, Anda siapa ya?"

"Ah Darja kenapa kamu jadi pelupa? Tinggal di mana sih kamu selama ini? Pasti di lembah kemiskinan ya? Pantes mudah lupa," bisik seseorang yang ternyata perempuan berdada dan berbokong besar dengan leher jenjang dan bibir seksi menawan serta tatapan mata penuh rayuan.

Perempuan itu mengajak Darja menginap di kamar apartemennya di lantai 13. Pada pertemuan pertama itu mereka langsung bercinta secara dahsyat sekali. Darja sampai tak mengira dirinya masih mampu bercinta dengan begitu dahsyat. Maklum saja selama ini dia seperti telah kehilangan gairah bercinta dengan Narti. Selain pintar nyap-nyap, mulut Narti berbau amoniak.

"Kamu ternyata tidak hanya berbakat jadi penyair, Darja. Kamu berbakat jadi seorang pemain cinta yang luar biasa." Puji perempuan yang bahkan namanya Darja belum sempat tahu.

"Sebenarnya kita pernah bertemu di mana sih sebelum ini?" Darja bertanya setelah mengenakan kembali celana jins semata wayang andalannya.

"Alah Darja, itu sudah tak penting sekarang."

"Tapi siapa namamu? Kenapa kamu mau membawaku kemari dan bercinta denganku?"

"Darja, Darja, kenapa sih kamu selalu ingin tahu hal-hal yang penting seperti itu?"

"Baiklah, tapi apakah namamu juga tidak penting kuketahui?"

"Namaku Julia, Darja. Julia Perez, lengkapnya. Ingat pakai z, bukan s."

"Terima kasih Julia. Terus apa acara kita selanjutnya?"

Julia Perez menjelaskan, di kota ini setiap orang tidak punya kesibukan apa pun selain menulis dan membaca puisi, kemudian bercinta sepuasnya. Semua warga kota ini dibekali kartu ATM dengan saldo yang terus bertambah.

"Semua kebutuhan hidup kita sudah ditanggung pemerintah," ujar Julia Perez seraya menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dengan nikmat, lantas mengembuskan asapnya ke wajah Darja, membuat laki-laki itu tergeragap dan batuk-batuk.

"Menyenangkan sekali," kata Darja mulai reda gugupnya.

"Mulanya ini memang menyenangkan, Darja. Tapi lama kelamaan kami ternyata merasa bosan juga. Ingin sesekali pulang menjenguk ke lembah kemiskinan tempat asalmu itu." Julia Perez memungut sebotol vodka dari kulkas berdinding tembus pandang. Lantas mengangsurkannya pada Darja.

"Kami bosan menulis puisi dengan tema itu-itu juga. Pasir pantai, cangkang kerang, wayang, tali kutang. Kami ingin menulis tentang kemiskinan. Tapi mana bisa? Kami hidup dalam gelimang kemewahan. Kamu tahu Darja, kemewahan bikin orang jadi bebal."

Namun, berada di kota puisi yang penuh kenikmatan itu tak membuat Darja melupakan hari-harinya sebagai penjual ketoprak, sebagai suami yang acap ditindas istri. Terkenang suara Narti kala perempuan itu mengajari bagaimana meracik dan mengulek ketoprak secara cepat dengan hasil yang tetap baik.

"Kemahiran meracik dan mengulek ketoprak menjadi ukuran sejauh mana kamu mampu menulis puisi yang berkualitas," kata Narti sok tahu. Tentu saja Darja tak sudi mempercayai ocehan istrinya itu.

**

Tiga minggu sejak kejadian itu, pada suatu sore yang biasa-biasa saja, ketika angin berembus apa adanya, Narti sendirian berjualan ketoprak. Dia mendorong gerobak sendiri dengan air mata berlinangan. Dia tak mau lewat melalui terowongan itu. Tak ingin mendengar suara Darja merinith-rintih membaca puisi.

Pondok Pinang Juli 2010.


Lampung Post
, Minggu, 5 September 2010

Sunday, May 23, 2010

Beberapa Rencana Bunuh Diri

Cerpen Aris Kurniawan


1

Dia membaca petunjuk di selebaran itu. Manggut-manggut. Melipatnya, lantas memasukannya ke dalam saku jaket. Tapi segera dirogohnya kembali, dibuka, dan dibaca lagi. Beberapa kali. Meraba tengkuknya. Sesuatu yang dingin bagai menjalar melewati punggungnya. Dia berjalan tergesa memasuki mal dengan pandangan lurus ke depan. Bunuh diri. Ide itu menghantuinya sejak beberapa pekan terakhir. Membuat tidurnya gelisah. Hasrat yang menggebu kerap memang mengganggu tidur. Keinginan menunaikan ide yang cukup menarik. Dia merasa tertantang.

"Aku harus melakukannya," gumamnya saat membaca selebaran yang berisi petunjuk untuk menjalankan ide itu. "Inilah saatnya untuk membuktikan keberanianku, sekaligus membalas kekecewaanku," bisiknya pada diri sendiri. Seringai aneh menyembul di bibirnya. Tak ada lagi alasan untuk berdiam diri menunggu. Momen itu bisa lewat begitu saja. Itu tidak boleh terjadi. Sekaligus ini akan mengakhiri semua urusan. Dia tiada merasa merugi jika harus meninggalkan semua urusan (ataukah urusan yang meninggalkannya?).

Dia masuk ke area food court. Perutnya keroncongan. Dia baru ingat sejak malam memang belum makan, kecuali minuman bersoda dan asap tembakau dan bubuk heroin. Mama sering menelepon cuma untuk mengingatkan sudah makan atau belum. Acap dia mengabaikan peringatan itu. Tapi kali ini tanpa diperingatkan pun dia harus makan. Dia tak mau mengakhiri semua ini dalam keadaan perut kosong. Semuanya harus berlaku sebagaimana mestinya. Dilihatnya jam digital di pergelangan tangannya. Pukul 14.00. Mal masih sepi. Dia akan menunggu sampai pukul empat atau lima ketika orang-orang memenuhi lantai-lantainya. Akan kubuat kalian terlonjak dan menjerit ngeri, bisiknya lagi. Percikan darahku akan menggenangi pikiran kalian, dan kalian akan melihat tak ada yang lebih berharga dalam hidup ini selain kematian. Lalu terbayang mama yang menangis histeris. Papa yang dirundung sesal dan rasa salah. Inilah utang yang harus kalian bayar. Semalam dia menulis di buku diary-nya, seperti ini:

Jon, maafkan jika aku mati lebih dulu. Kurasa ini lebih memudahkan aku. Aku tidak mau kehilangan momen. Ketinggalan tren. Jika kamu sempat bertemu dengan papa dan mamaku, katakan pada mereka bahwa kematianku membawa serta kebencianku pada mereka. Tak ada cara lain yang lebih mudah dan ampuh dilakukan untuk membalas kebencianku pada mereka selain kematian.

Lokasinya di lantai paling atas. Di sudut kanan, dekat gerai pakaian. Ya, dia kan mendekat pilar, naik ke sekat kaca setinggi dada, lantas meluncur dari sana. Hssh, tiba-tiba dia merasa tak sabar ingin segera merasakan sensasi dari aksi ini. Dia melahap nasi goreng, menenggak minuman bersoda kegemarannya. Lantas menyalakan sebatang rokok. Sambil menghisap asap tembakau dia melihat bayangan dirinya yang memantul di dinding kaca sebelahnya. Dia tampak tampan dengan kaus lengan panjang berwarna putih bertuliskan “fuck you” yang dipadu dengan celana jins belel. Paduan yang akan menjadi pakaian terakhirnya. Masih tercium harum pewangi pakaiannya, aroma segar sabun mandi dan sampo di tubuh dan rambutnya yang berkilau lembut dielus sinar lampu. Dia yakin akan kembali ke rumah, menemukan papa dan mama yang kerap saling berdiam diri, bila tidak saling memaki. Namun tak pernah telat memberi dia uang.


2

Sebagai orang muda aku tak mau ketinggalan mengikuti tren. Kau tahu, menjadi orang muda yang ketinggalan tren akan menjadi sasaran ceomohan yang menyakitkan. Tak peduli tren itu berguna atau tidak, tidak penting bagiku. Lagi pula untuk urusan tren, tak ada istilah tak berguna atau berguna. Melainkan keren atau tidak keren. Yang penting aku tidak dikucilkan dari pergaulan. Kau pikir, apa yang lebih berguna dalam hidup ini selain menjadi pusat perhatian?

Aku beruntung, selama ini selalu bisa mengikuti tren. Berapa pun mahal ongkos untuk mengikuti sesuatu yang sedang tren. Karena kedua orang tuaku tidak pernah bisa menolak permintaanku. Mereka selalu menggelontorkan berapa pun jumlah uang yang kubutuhkan untuk mengikuti tren. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Maka memenuhi apa pun keinginanku merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang mereka padaku. Jadilah aku paling depan dalam mengikuti tren apa pun yang tengah mewabah. Mereka membelikan aku mobil yang tengah jadi tren. Aku mencukur rambutku dengan mode yang tengah tren. Aku ikut balapan mobil di arena sirkuit, gank sepeda motor, mendaki gunung, panjat tebing, selancar di laut. Semua. Semua yang menjadi bahan perbincangan dan kecenderungan pergaulan.

Mungkin kau pun tahu betapa gembiranya mendapati diri menjadi bagian dari tren. Orang-orang akan memujimu sebagai orang yang selalu meng up-date tren. Menjadi pusat perhatian dan gunjingan di klub-klub pergaulan. Meskipun kadang tren yang kau ikuti tidak terlalu kau sukai. Tapi demi menjunjung tinggi pergaulan, tentulah aku sepakat untuk tak perlu merisaukan perasaan semacam itu. Seperti yang kubilang tadi: yang penting keren.

Dan sekarang aku bersiap-siap mengikuti tren bunuh diri. Kurasa dari sekian tren yang pernah kuikuti, inilah tren yang paling menantang dan bergengsi. “Ada beberapa cara bunuh diri. Kamu harus memilih mana kira-kira yang paling cocok untuk kepribadian kamu.” Begitulah petunjuk yang aku baca dari selebaran yang kudapat dari klub bunuh diri.

"Jika kamu seorang pengecut, mungkin yang paling tepat bagimu adalah dengan cara menenggak racun serangga." Lanjut selebaran tersebut. Bunuh diri cara begini tak akan ada darah keluar dari tubuh yang beku. Tapi kukira ini bukan cara yang sesuai dengan kepribadianku.

"Jika kamu seorang pemberani, cara bunuh diri yang cocok adalah menyayat leher, menusuk jantung, atau menjatuhkan diri dari ketinggian," kata selebaran itu. Hmm, kurasa ini menarik. Aku ingin orang-orang menggunjingkanku sebagai si pemberani. Tentulah sangat mudah mendapatkan pisau untuk menyayat leher atau menusuk jantung. Di dapur pelbagai jenis pisau tersedia. Baiklah, aku harus bersiap-siap. Akan kutelepon beberapa orang kawanku tentang cara bunuh diri ini.

Inilah reaksi sinis beberapa kawan yang kutelepon.

"Kapan? Wah, bakal heboh tuh. Kamu bakal terkenal. Ha ha ha..."

"Kamu yakin cara itu cocok buat kamu?"

"Ya."

"Tapi kurasa dampaknya tidak seheboh jika kau bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari lantai tujuh belas mal. Kamu tahu Rasti, dia dielu-elukan. Pemberani sekali dia, jatuh meluncur dengan kepala di bawah."

"Wah itu terlalu merepotkan orang."

"Loh, apa pedulimu? Bukankah semakin orang repot semakin heboh? Dan karenanya kematianmu mengundang perhatian?"

Aku mulai menimbang masukan yang bagus tersebut. Benar juga. Apa urusannya dengan merepotkan orang? Toh saat itu pasti mereka tidak bisa mengejarku untuk meminta tanggung jawab. Karena aku sudah tiada, mungkin aku akan menjadi arwah yang tak kelihatan, tapi bisa melihat mereka yang kelimpungan. Wah sungguh mengasyikkan.


3

Jon terpuruk di kamarnya, air matanya meleleh. Seluruh persendian tubuhnya seperti hancur. Dia baru saja pulang dari melayat Yos yang mati bunuh diri dengan cara menenggak racun serangga. Wajah Yos yang biru membeku tampak bahagia. Jon merasa sangat cemburu pada maut yang merenggut Yos. Kenapa Yos tak menepati janji. Bukankah kemarin Yos sudah sepakat untuk mati bersama dengan cara menabrakkan diri pada kereta di Stasiun Jatinegara?

"Jon," suara mama memanggil. Jon tak menyahut. Tumben mama ada di rumah siang-siang begini.

"Jon, mama bawakan makanan kesukaan kamu, bangunlah, Sayang," kata mama. Dia duduk di tepi ranjang, membelai-belai kepala anaknya. Mama membuka pintu kamar Jon menggunakan kunci duplikat. Jon sebal dengan cara mama yang seperti ini. Main selonong, tak menghargai wilayah pribadi orang sekalipun dia anaknya. Dari dulu mama memang menyebalkan, setali tiga uang dengan papa. Jon kadang tak habis pikir kenapa dia dilahirkan di tengah-tengah mereka; orang-orang yang menganggap dirinya sekadar semacam kelinci percobaan yang tidak punya kehendak.

"Jon, mama sudah bawa formulir pedaftaran masuk sekolah musik."

Jon bergeming. Dia hafal, pasti mama juga sudah mengisinya. Dan ini artinya dia akan bertengkar lagi. Kalau Yos masih hidup, Jon tinggal lari ke rumahnya, lantas pergi dan melakukan apa saja yang mereka suka. Beberapa pekan terakhir mereka mendatangi sebuah klub yang membawa tren baru:

"Aku lebih suka menyeburkan diri ke laut," kata Yos.

"Papamu tidak akan tahu, orang-orang tak akan ada yang tahu," sergah Jon. "Kamu hanya akan dianggap hilang. Bukan bunuh diri. Lagi pula itu cara pengecut."

"Aku takut melihat darah."

"Menabrakkan diri pada kereta api kita tidak akan sempat melihat darah."

Sekarang Jon tidak tahu dengan siapa akan melakukan rencananya melenyapkan diri. Di klub bunuh diri itu dia tidak bertemu seorang pun, kecuali seorang resepsionis berwajah dingin. Dari perempuan ini Jon menerima pesan-pesan yang dicetak di selebaran atau dikirim melalui internet. Perempuan bergincu ungu itu hanya memberinya secarik kertas petunjuk dan sebuah anak kunci. Dengan petunjak di secarik kertas itu Jon memasuk lorong-lorong dalam gedung itu. Lorong-lorong kusam berlampu suram. Lantas menemukan pintu. Dengan anak kunci itu Jon membuka pintu tersebut. Di dalamnya sebuah ruangan berlampu remang. Terdapat meja dengan sebuah pesawat televisi di atasnya. Di hadapannya sofa merah mengonggok. Jon duduk di sana dan tangannya segera menyentuh remote control. Dia menekan remote dan seketika layar televisi suram itu menyala, mengetengahkan adegan-adegan bermacam cara bunuh diri. Adegan-adegan yang membuatnya bergidik sekaligus terpukau dan tertantang.


4

Tubuh itu meluncur cepat sekali. Menabrak apa saja yang menghambat perjalanannya meluncur dengan keras. Terdengar suara berdebam dan tulang remuk patah. Tengkorak kepala belah dan melontarkan segala isinya ke lantai yang dingin, disusul jeritan yang menggetarkan dinding-dinding kaca.

Bibir pucat itu sedikit bergetar saat bertemu bibir botol berisi cairan racun serangga. Cairan berwarna kekuningan itu menggelontor lekas melalui tenggorokan, meluncur melalui usus ke dalam lambung, membakar seluruh organ tubuh yang ada di dalamnya. Menghentikan kerja jantung, merobek ginjal. Membekukan darah.

Mata pisau itu merobek urat nadi, memancar darah deras sekali, bagai bendungan bedah. Digigitnya bibir menahan sakit yang menyayat…

Tubuh itu pecah bagai balon air yang robek pecah saat kereta dengan kecepatan tinggi menyambut tubuh yang melayang, mengadang.

Api itu menjilat-jilat dari tungku pembakaran yang membara. Ketika tubuh itu jatuh ke sana segera terdengar bunyi nges, disusul suara gemeretak daging dan tulang hangus serta aroma daging terbakar.


5

"Ayolah, Jon, bangun."

Jon melirik mama sekilas. Dalam sekilas itu Jon melihat wajah mama yang makin asing, yang merontokkan hasratnya mengutarakan perasaan.

"Baiklah, Jon. Kalau ada apa-apa panggil mama, ya. Mama gak ke mana-mana," ujar mama, lalu perempuan itu beranjak keluar.

Setengah jam berikutnya, Jon melihat perempuan itu menjerit histeris mendapati tubuhnya beku membiru, dengan mulut mengeluarkan buih, dan mata terbelalak. Jon hanya mendengar suara jeritan mama lamat-lamat.

Pondok Pinang, Maret 2010


---
Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005).


Lampung Post
, Minggu, 23 Mei 2010