Showing posts with label S.W. Teofani. Show all posts
Showing posts with label S.W. Teofani. Show all posts

Sunday, November 4, 2012

Selawat Kelahiran

Cerpen S.W. Teofani


KAU makna tak terkata yang hadir pada musim umbi bertunas. Menguncupkan harapan penghuni bentala yang mulai lelah pada kemarau. Hadirmu berbarengan dengan rintik hujan pertama yang menghidupkan kembali bumi yang mati. Semoga begitu pulalah artimu bagi kehidupan, sebagai yang dinanti, yang diharap.

Sebelum kututupkan sehelai benang pun pada tubuhmu, ingin aku bersyahadah pada pesan Ilahiyat yang menyertaimu. Begitu polosnya kau bermula, penuh dengan magis ketuhanan, kuharap begitulah kembalimu. Ada percik cemburu karena waktu telah menggulungku dan melolosi kefitrahan yang dititipkan Yang Satu. Adalah titik demi titik suci itu terpercik nokhtah, hingga putihnya tak menjadi pendar lagi.

Kini warna itu semakin kusam. Setiap kucoba menyucikannya, terciprat lembar-lembar hidupku oleh percikan air suci yang beradu debu. Akankah kukembali seperti saat kubermula? Semoga kau jalan lurus yang menuntunku kembali pada awal yang bening. Hingga kutemui jalan kembali pada Mahahening pada suatu masa yang pasti.

Sebelum kusematkan sebentuk penanda pada seluruhmu. Aku tak ingin menghapus tanda abadi yang dianugerahkan Penguasa Tanda. Dia yang telah memberimu seluruh kasih dengan tanda cinta yang diabadikan pada binar matamu pun senyum yang akan kau tebarkan pada setiap makhluk. Sebagai penyampai dari rekah hatimu yang lebih lapang dari sahara. Lalu kau akan piawai membaca setiap tanda yang ada pada dirimu pun semesta. Dan tak perlu lagi kutambahkan tanda selain sebentuk nama.

Kelak kau yang akan menjadikan tanda itu mewangi atau tak lebih sebuah panggilan. Pada lakumu, penanda itu akan menjadi abadi atau sekejab melintas bumi. Adalah nama-nama yang dipanggil begitu lama, bahkan hingga jasadnya tak lagi ada. Tapi tak sedikit pula nama yang hanya berkelebat seumur hanyat, lalu padam bersama jasad.

Hari ini kau adalah keajaiban mungil dengan makna tak tepermanai. Hadirmu menyesap seluruh keluh yang tercipta mengiringi kau mengada. Kau penebus segala letih dan perih-yang tak untuk diratapi. Sakit itu, keluh itu, serupa biru muda merah jambu yang mengharu-birukan penyambutan untukmu. Sebab, memeluk alam rahim menjadi kebahagiaan yang disangsangkan Pencipta pada tiap-tiap ibu. Sebentuk amanah yang tak dipercayakan pada keperkasaan pun kegagahan, tapi kesabaran dan ketabahan yang panjang.

Aku tak menghamparkan permadani pun singgasana untukmu, hanyalah sehelai kain cinta yang tak pernah habis meski segala benang di bumi tak dipintal lagi. Aku tak menyiapkan upacara agung pada hadirmu, yang disaksikan para resi pun para ratu, hanya senarai doa yang tak bisa digantikan meski kau wasilahkan pada para wali.

Kau tak lahir dari perempuan nariswari yang membuatmu beruntung menjadi raja di setiap bumi yang kau huni. Kau juga tak ditakdirkan hadir dari trah kekuasaan yang membuat jarimu berharga sebelum mengerti arti harga. Dengan itu, semoga kau tahu makna menjadi, kau paham arti bersungguh, pun kesabaran yang hanya disangsangkan pada ketekunan panjang. Aku perempuan biasa yang menempa setiap yang mungkin dengan godam juang, maka kau yang akan menjadikanku nariswari atau kesahajaan abadi. Tapi Cintaku, tak ada yang kupinta darimu, hadirmu adalah segala yang disebut pinta. Kau melampaui ingin pun puja yang kutitipkan pada desau kemarau.

Muhyal Qulubku?, sesahaja apa pun perempuan yang melahirkamu, adalah keinginnan untuk menghantarkanmu pada tempat terbaik. Hari ini masih bisa kuhangatkan tubuhmu dengan peluk yang lebih hangat dari sinar mentari pagi. Tapi esok, kau adalah busur dengan lesap tak tertangkap pandangku. Maka kan kujaga gandewa waktu yang akan menghantarkamu pada zaman yang tak sama. Suatu hari akan kuhantarkan dirimu pada tangan yang lebih suci. Tangan-tangan teguh yang mampu menempa busur-busur zaman pada tumpu yang seharusnya. Hingga kau tak menjadi anak panah yang terpelanting pada tempat yang tak dikehendaki.

Suatu ketika, kan kupertemukan dirimu pada para penjaga. Manusia yang dipilih Sang Maha untuk merawikan kalam-Nya. Mereka para pemelihara yang dijaga lembar-lembar suci. Aku akan menyerahkan dengan rela pada saat bulan sabit belum menjadi purnama. Bukan karena kulelah menjagamu. Jika karena itu, tak lagi pantas manusia menyebutku ibu.

Semesta ini begitu luas, Sayang. Aku tak sanggup menuntunmu dari satu benua ke samudera lainnya. Adalah manusia lain yang jauh lebih tahu dariku. Kepadanyalah harus kau cecap pengetahuan itu. Sedang gugusan ilmu melampai luas buana, pengetahuanku tak sejumput pun dari adanya. Maka kutitipkan dirimu pada mutiara yang lebih nyala, pada padi yang lebih bernas. Dan kepada para penjaga kalam-Nya, kan kau temui nyala cahaya abadi yang lebih pendar dari purnama.

Suatu ketika kau akan kembali, merindui sosok yang tak muda lagi. Tapi kasihku selalu muda, cintaku selalu baru. Aku akan menanyaimu, adakah kau rasa cukup dengan ilmu yang dapat? Dan kuharap kau gelengkan kepala, karena ilmu begitu luas, dan waktu manusia hanya sejumput kesempatan yang tak cukup untuk mewadahinya.

Qulubku?sebelum kau mendaki gunung, adalah tapak yang satu. Sebelum tapak itu, adalah kau terjatuh, adalah rangkak juga tangismu sebagai penanda sebelum kau mengenal kata pun sanggup mengucapkannya. Dan tangis itu akan menyertai setiap hidup manusia. Dia adalah penyampai pesan Ilahiah yang hanya pecah pada kekalahan pun ketakberdayaan. Maka menangislah, dia adalah suara kejujuran yang memanggil hati semesta pada massa kau ditimang. Tapi tinggalkan tangis itu, saat Tuhan memberimu kemampuan lain padamu.

Kita bukan manusia-manusia yang termaktub dalam Kalam. Hanya sisa-sisa zaman yang coba mengais rida Tuhan. Maka jalan bukanlah jalur lempang tanpa tikungan. Kita akan melampauinya, dengan jerih yang masih tersisa. Maka masih ada asa untuk belajar pada ketabahan Siti Hajar saat seorang saja di padang pasir mengharap mata air. Karena kita dipercaya mengada sebagai penanda ada harapan di sana, untuk kembali dengan muka yang berseri. Maka teruslah kau baca Kalam itu, yang akan menunjungmu apa-apa yang tak kau tahu.

Hari ini, sebelum kukeringkan darah pada tubuhku pun tubuhmu, dengarkan panggilan yang lebih merdu dari requiem di kastil-kastil purba. Bersaksilah sebelum kau saksikan kesaksian yang lain. Adalah yang Mahabesar yang akan menaungi seluruh waktu kita. Dia yang menguasai hidup dan mati manusia. Dari-Nya kita bermula, dan kepada-Nya kita akan menyerahkan kembali seluruh yang diberikannya-Nya. Tiadalah selain Dia yang mengatur hidup kita, yang menguasai alam raya, juga tiap-tiap hewan melata yang ada di ceruk maya pada. Sempurnakan kesaksianmu duhai, Cintaku. Jaga kesaksian itu hingga tak lagi ada denyut di nadimu.

Tak akan kuangkat kau dari tempat tibamu. Dengarkanlah suara itu, yang mengajakmu bersyahadah pada manusia agung yang menjadi pilihan Rabb-mu. Dia manusia yang termaktub pada lembar suci, yang akan memberi pertolongan pada pengikutnya di hari saat manusia tak bisa saling menolong. Maka ikutilah dia, yang membawamu pada keselamatan.

Duhai makhluk suci? Ikutilah ajakan untuk menyembah Tuhanmu. Ajakan yang akan bergaung pada seluruh waktu yang dipinjamkan padamu. Maka kan kau tuai kemenangan dalam hidupmu. Anakku, itulah suara kesaksian pertama yang kau dengar dari laki-laki muasalmu. Jadikan pewarna darah yang mengalir di tubuhmu, hadirkan pada setiap tarikan nafasmu.

Kini kusimak tangismu, penanda kehidupan, pecah menembus hening malam. Aku tahu, kau belum mengenal irama, tapi rima yang kau perdengarkan melampaui pesona canang. Aku tak akan memeluk untuk mendiamkanmu, hingga kau redakan suara magismu. Kan kusimak baik-baik rautmu yang penuh keajaiban, dengan pesona Ilahiyat tak terbantah. Perlahan tangis itu reda, hingga kau diam gematar. Tangan mungilmu membuka genggam dengan sangat pelan. Matamu mencari cahaya. Bibirmu memanggil sumber kehidupan. Adalah aku tak sabar merengkuhmu, mendekapmu pada detak jantung yang akan selalu mengeja namamu. n


Lampung Post, Minggu, 4 November 2012

Sunday, September 4, 2011

Pesan Kepergian

Cerpen S.W. Teofani


KENAPA kau pergi, Guru. Bukankah pengetahuanmu belum genap kucecap. Ke mana engkau menjejakkan tapak. Tak ada tilasmu untuk kutuju, selain segenggam kenang atas seluruh kehilangan. Tak kau berikan tanda pun sasmita untuk sebuah perpisahan purna. Sepertinya engkau lupa telah mengasuhku sejak mengada.

Senja lengas itu kau biarkan seorang saja aku menggembala. Tak ada kekhawatiran selain ketakzimanku pada seluruhmu. Sungguh tak biasa kau biarkan aku sendiri menghalau ribuan domba itu, sedang srigala mengaum dari seribu penjuru.

Guru, tanganku tak sekukuh hastamu. Yang lempang mengarak langkah waktu. Jemariku tak sebanding telunjukmu, teguh mengarah peradaban debu. Lalu apa yang kau sisakan hingga tega meninggalkanku di padang tanpa rumput dengan beliung menderu.

Duh Guru, andai kutahu musabab kau meninggalkanku, kan kuluruhkan setiap denyar luka yang menyilaukanmu. Tapi tak kutemukan musabab pun maksud lesapmu. Tak ada yang kau pesankan selain kepergian itu.

Malam setelah gaibmu, kau bertandang antara nyata dan maya. Mengusap bahuku dengan kasih yang melebihi cinta. Aku tak sanggup menatapmu barang setegak benang. Kurasai jiwa itu merengkuh rindu. Tapi tak sanggup kugapai jubah putih, juga kakimu. Agar kusujudkan seluruh cemas yang kau sangsangkan di tengah siang.

Terlalu sarat kata ingin kusampaikan, tapi tak sedenting pun terucap.

Apakah kau masih menatapku, Guru. Aku sesengguk lurus dengan telapakmu, tanpa kutahu, apakah ujung kaki itu berpijak atau berjarak. Tapi kutahu, jiwamu merengkuh ibaku. Aku menjadi bayi yang merindu puting ibu. Menyecap setiap hikmah yang kau sematkan di padang waktu.

Tidakkah engkau rindu, Guru. Saat kau ajari aku manahan dahaga, meski kita kecukupan tirta. Lalu kau tunjuki aku dahaga sesungguhnya, yang tak tunai cawan anggur pun jernih telaga. Bukan sekadar air di tempayan rasa, melainkan laku suwungdi dasar sukma. Kau yakinkan aku ada kecukupan dalam kelaparan, ada kesegaran pada dahaga. Kau hidupkan kematian jiwa yang termanja benda-benda. Setiap tapakmu membekas pada jejak waktu yang disusun keping-keping pristiwa.

Lupakah engkau pada semua, Guru?

Saat kau usap penat beban di pundak batinku. Kau yakinkan bahwa hidup seringan cahaya yang dititipkan surya. Kau yakinkan pula tentang mahacahaya di balik seluruh benderang surya, juga jiwa. Aku diam, merasai keagungan jiwamu. Aku lenyap pada pengetahuan batinmu yang melebihi ketakziman biksu.

Adakah aku berbuat salah atas petuah pun titahmu? Kau kujunjung agung melebihi sesiapa yang pernah kusapa. Tak sesiluet pun kuberniat menitikkan kecewa pada hayatmu. Aku mencari pada setiap langit hari yang bermantel sunyi. Tidakkah kau merindukan cengkerama sukma kita yang melebihi kemansyukan sejoli?

Guru, tanpamu, bukan dahan-dahan hidupku yang patah, aku bagai tercerabut dari bumi. Seluruhku layu, diam, beku, melebihi kebisuan dini.

Denganmu aku sedamai bulir pisang yang tersemat pada tandan, terjaga pelepah, daun, dan batang. Aku tak mengkhawatirkan kawanan kera yang mengincarku. Tapi tanpamu, aku tak lebih seulir pisang pada tandan busuk di batang lanas. Kelelawar pun tak ragu mengabisi seluruhku. Duh, Guru, kau dengarkah semua dawai keluhku.

Saat kucoba mendongak, aku siaga pada kesadaran purna. Semua hanya mimpi yang tiba untuk mempertegas lenyapmu. Luruh hatiku semakin saja, tanpa tonggak pun harap penyangga.

Hari ini aku merasai gundah hati Rumi saat ditinggal Guru Samsyi. Kudekap gulana Musa kala Khidir pergi. Tapi aku manusia biasa, Guru. Tak ada gelar ulul azmi yang layak menjadi alasan untukku tegar kehilanganmu. Pun aku bukan guru sufi yang punya berlapis keimanan demi memagar hati. Aku tak mampu mengubah kehilanganku menjadi kasidah cinta juga masnawi.

Tahukah engkau Guru, setiap tilasmu menjadi makna bagiku. Taburan kebajikan yang kau ajarkan dalam diam, berubah ngiangyang menuntun laku. Kepergianmu menyisakan tanya pun duka yang melebihi kedalaman samudera.

***

ADAKAH kau tahu yang disebut guru, duhai Sahabatku? Tidakkah kita mengada dari mula takdir yang sama. Jika aku lebih tahu darimu, tak lebih karena terlahir sebelummu. Karena kucecap pekerti saat kau masih menyusu. Maka kutinggalkan dirimu duhai jiwa yang bercahaya melebihi seluruh pelita. Jika aku tetap bersamamu, siapa yang akan melihat terangmu yang tertutup pantulan hadirku. Tak mungkin ada dua matahari di semesta raya. Pasti satu akan menyelinap pada bayang yang lainnya. Maka kau akan menyala melebihi terangnya bagaskara tanpaku.

Usah kau tengok jalan kecil itu. Memang pernah kita lalui, tapi bukan untuk kita genapi. Dia hanya lintasan. Umpama lorong gelap menuju Tuhan. Maka tiada sesal pun utang yang kita titipkan pada jejaknya.

***

SEDASAWARSA tak cukup untuk mengubur kenang. Sepeninggalmu aku menyudahi petualangan. Terlalu banyak jalan yang tak kita hitung, begitu luas takdir tak terbendung. Manusia hanya bisa diam, menginsyafi kesementaraan atas rencana-rencana kehidupan. Maka aku mencoba tegak tanpamu. Menyisir sepi di batu-batu. Satu-satu kukumpulkan, kutumpuk menjadi bangunan. Kini aku berdiam, menyudahi segala pengembaraan. Entah karena duka atau lelah doa. Karena banyak rencana di luar rencana kita. Hatiku membaca banyak kemungkinan, tapi aku memilih tak mengungkapkan, biarlah rahasia menjadi hak-Nya untuk bersembunyi.

Bening itu darah, tak menentes pun mengental, yang menjadi sanksi kepergian.

Diam pada ketakziman ketentuan. Dan ketentuan hari ini berima dari keputusan masa lalu: keteguhanmu untuk meninggalkanku. Maka kukais apa-apa yang tersisa dari luka. Kukumpulkan yang terserak dari lara. Manjadilah ia kekuatan yang melampai apa-apa yang kita duga.

Sepeninggalmu Guru, kucoba merawat setiap yang kau sampaikan. Kuedarkan lagi pada orang-orang yang berkunjung pun menetap di kastilku. Semakin waktu, satu-satu manusia membunuh kesendirianku. Menjadi wasilah pekerti yang kau wariskan kepadaku. Kepada mereka kusampaikan, darimulah segala pengetahuan itu. Maka ikhlaskan semaua untuk kusebarkan, Guru.

Aku semakin mendapati jalanku, jalan yang lempang dengan kesendirian. Mungkin aku lelah mengharap hadirmu. Hingga kuhidupkan apa-apa yang pernah kau nyalakan di jiwa pun pikirku. Maka tak aka lagi kesendirian yang sesungguhnya, Guru. Kau menjelma pada jiwa-jiwa yang hadir menemaniku. Atau dengan malu aku mengaku kau mengejawantah pada diriku yang menyampaikan risalah pada jiwa-jiwa itu. Entahlah, tapi aku tak lagi sepi pun karenamu. Jika tak kau tunjuki aku jalan-jalan itu, bagaimana aku akan menyampaikan dua jalan yang harus kita pilih untuk sampai pada Sang Maha. Kini jiwa-jiwa itu merindumu meski tak pernah bersitatap dengan wujudmu. Para jiwa telah menerima apa-apa yang pernah kau pantulkan pada jiwaku. Maka, gema kehilanganku menjadi gaung di gua jiwa mereka.

***

"BOLEHKAH aku menimba pengetahuan padamu, Guru?"

"Apa yang akan kau ketahui? Aku belum pantas disebut guru, aku hanya membunuh sepi karena kerinduan pada guruku."

"Adakah kemasyuranmu akan pengetahuan dan kazuhudan kau tukar dengan frasa membunuh sepi?"

"Itulah yang senyatanya. Kau tahu, Tamuku, mataku buta karena air mata. Sepanjang malam, selama epuluh tahun, aku nyanyikan kehilangan atas manusia agung yang kusebut guru. Kecerdasannya mendekati Khidir, kezuhudannya sebanding sufi."

"Di manakah ia?"

"Aku tak tahu. Dia lenyap begitu rupa. Aku telah mencari di setiap penjuru yang kutahu, tapi sia-sia. Akhirnya aku diam, di sini, menyanyikan namanya pun seluruhnya pada orang-orang yang bertanya."

"Adakah yang bertanya tentang halnya?"

"Jiwa-jiwa yang merindu kebaikan akan memburu orang-orang terpilih. Maka gurulah yang menjadi pilihan nilai kebaikan. Kebaikan dan guruku menyatu menjadi nyanyian yang tak kuhentikan sebelum manusia pencari pengetahuan lelap."

"Apakah kau mengharapkan pertemuan dengan gurumu?"

"Aku telah mengikhlaskannya, pun kehendaknya untuk meninggalkanku. Aku hanya percaya, dia lakukan itu bukan tanpa rencana."

"Jika kau bertemu dengannya, adakah utang yang akan kau lunaskan?"

"Kami pernah berjanji untuk mengafani siapa yang lebih dulu menghadap Illahi."

"Kau ingat itu, dan aku datang menagih janji. Aku akan damai jika ajal tiba kau yang mengafani."

"Guruuuu......"

***

AKU tersungkur, dengan perasaan tak terukur. Meski mataku tak menatapnya, batinku melebur seluruhnya. Kurasakan dia memelukku, hingga aku tak merasakan apa pun.

Lamat-lamat kudengar tangis kehilangan. Tak ada yang lebih damai dari kepergian yang dihantarkan orang terkasih. Dia mengafaniku.

Lampung, Februari-Maret 2011


Lampung Post, 4 September 2011






Sunday, April 24, 2011

Bukan Lembar yang Hilang*

Cerpen S.W. Teofani


TAK pernah terpikir aku akan menggoreskan pena untuk frasa ini. Tapi memang yang digariskan hadir pasti kan tiba. Jika kau cari di kumpulan surat-suratku kepada yang kucintai Ny. Abendanon, tulisan ini takkan kau temukan. Tapi ini bukan lembar yang hilang.

Seperti kumpulan naskah itu, lampir ini pun tak ada pada kiraku. Saat melepas segala beban kepada yang terkasih Ny. Abendanon, aku tak pernah menghitung kelak jejak penaku menjadi nyala zaman. Bagiku, menuangnya sepenuh cinta telah membebaskan jiwa dari segala belenggu duka. Sungguh tak kuraba jika bulir duka yang menjadi tinta suatu masa menjelma minyak lentera yang tak ada habisnya.

Aku tak pernah punya ingin namaku mengharum melebihi saat kuada. Semua berjalan di luar kuasa kalam pun kiraku. Andai penaku anak panah, tak pernah kutarik gendewa begitu rupa. Aku tak lebih melesakkannya pada sebuah cita, segumpal ingin, yang kuwasilahkan pada lembar-lembar yang kukirimkan kepada sang kekasih Ny. Abendanon. Dialah sahabat, ibu, kekasih jiwa yang memahami hasratku.

Atau tanpa kusadari dia racun hidupku, yang membuat tak nyaman dengan gelar raden ayu pun segala tradisi yang di matanya adalah belenggu. Perlahan penuh kepastian, umpama tetes air yang melubangkan batu, aku setumbuk dengannya. Dia hembuskan pengetahuan Eropa, aku menerima begitu rupa. Aku turut mendepa ada yang salah pada tradisi bangsaku, ada yang tak adil pada kaumku. Meskipun untuk segala cara pandang itu aku melukai hati ibundaku, mengoyak kepatuhan kaumku, menggundahkan saudara-saudaraku. Apa yang kuanggap benar, tak seiya dengan tradisi. Lalu mereka menggelariku pembangkang. Raden ayu yang berperilaku tak lugu. Menerjang pagar-pagar yang terpancang sepanjang ruang.

Aku tak pernah meraba, jika suatu masa lembar-lembar yang kukirimkan padanya menjadi cahaya yang lebih cerlang dari pelita. Ada yang bernaung pada pendarnya, juga mendapati kerlip nyala yang diterima dari kejauhan masa. Ada pula yang selalu mengenangnya dengan lambang-lambang suka yang dicipta dari zamannya.

Aku mendamba suatu zaman di mana perempuan tak terhalang menyecap pengetahuan. Kini zaman telah melerai belenggu-belenggu waktu. Tak kudapati lagi kumpulan perempuan yang diam di kamar menunggu pinangan. Bilik-bilik perawan dihuni saat mentari menepi. Kala benderang, wanita-wanita zaman menatah pengetahuan juga memamah remah kehidupan. Bertebaran bersama kaum Adam meraih rezeki pun kepandaian. Terang telah terbit, gelap telah menyisip, meskipun hadir kegelapan-kegelepan lain yang menjadi tugas cahaya kehidupan. Maka perempuan-perempuan akan menjadi lentera pada setiap zamannya. Kita hanya punya kisah dan waktu yang berbeda, pun keberuntungan yang tak sama. Adakah di masaku aku paling bercahaya? Tidak. Telah bertebaran bunga-bunga bangsa yang bermekaran pada ranah dan ruang yang tetap menjadi rahasia.

Setelah tiba masa pingitan, aku disibukan oleh hantu-hantu kecemasan yang berkeliaran. Zamanku menelikung langkah hingga kakiku lumpuh di bilik mimpi. Aku hanya punya angan suatu hari akan lempang kaki lembut perempuan ke ranah yang mampu dia jamah. Lalu aku goreskan pena hati dengan tinta yang dicelup pada setiap lelehan saksi sunyi. Di kertas kanvas kehidupan aku goreskan setiap yang menyesak di angan-angan. Kukirimkan keluhku ke negeri yang jauh. Kucecap semangat dari jiwa yang membarakan impian. Aku tak tahu berapa harga prangko yang kububuhkan, hingga lembar-lembar itu menembus dari zaman ke zaman. Mewangikan segugus ide yang tak semua terwujudkan. Adalah di ujung waktuku sebagian mimpiku maujud, meskipun masih menyisa harap tak terungkap. Andaikan ini menjadi sigi yang menerangi, aku tak sendiri.

Di ranah lain di ruang bangsaku, bermunculan perempuan-perempuan sezaman yang sebangun denganku. Yang juga merindu cahaya mentari pemekar biji-biji pengetahuan. Satu demi satu bermunculan, menumbuhkan kecambah-kecambah yang lebih mencerdaskan. Pada waktunya di musim hujan tetumbuhan itu bermunculan, bersemi menyemai diri. Hingga tumbraslah anak pemikiran tentang kesetaraan pada lahan perubahan. Lalu anak-anak zaman mengenangkanku, mengagungkan surat-suratku, hingga yang lain tersembunyi di balik batu-batu peradaban.

Jika di masaku aku banyak mengenal teman wanita sebangsa, mungkin tak hanya kepada Ny. Abendanon kukirim semua warta. Tersebutlah si cerdas Rohana, yang terlahir semasa denganku. Dia pun merindu kaumnya tak bersembunyi di bilik rumah gadang. Andai ruang menambatkankan kami, adalah dua sejoli yang saling menghargai dengan perpaduan energi. Tapi tak ada yang disesalkan dari pertautan ketentuan. Semua berjalan dengan tuntunan Tangan Yang Sama. Dia yang menghidupkan kami untuk menorehkan langkah-langkah kecil demi cita-cita tak terduga.

Adalah Rohana, yang bersuamikan Kudus, melangkah lebih lempang, menatah lebih dalam. Dengan waktu yang lebih panjang dari yang kumiliki, diterobosnya segala yang sebelumnya mimpi. Aku lebih banyak mencecap pengetahuan Belanda, meskipun tetap kujunjung adiluhung budaya bangsaku, sedang Rohana melahap yang datang dari negeri yang jauh pun bangsanya sendiri. Tidaklah patut membanding keberuntungan, tapi tak mengapa memuji kelebihan kawan. Saat aku disibukan dengan pikiran-pikiranku yang tertuang di lembar-lembar saksi sejarah itu, dia telah mendidik kaumnya dengan taksa. Jika aku asyik membaca lembar-lembar kabar dari Eropa, dia mencipta laman berita itu bagi kaumnya. Di tangannya pula Soenting Melayu menjadi warta pertama kaum hawa di Nusantara.

Belum tunai langkah cergas Rohana menitah kaumnya. Dia dirikan Sekolah Amai Setia untuk mematangkan pribadi kaumnya. Adakah langkah itu tak melebihi tajamnya surat-suratku? Jika buah pena menjadi getah damar yang menyalakan dian, langkah-langkahnya menjadi matahari yang menerangi semesta sepenuh tulus. Rohana, adakah kau lebih beruntung terlahir sebagai perempuan Sumatera, yang tak harus terbelenggu kasta. Ah...tak ada sesal kita Perca atau Dwipa, pun wanita di belehan Indonesia lainnya, ikhtiar dan ketentuan Yang Agung telah manjadikan kita ada dengan kurang dan lebihnya.

Jika aku boleh cemburu, karena kau tunai mendapat pengajaran dari guru-guru agamamu. Untuk mendapat pengajaran tentang agama, aku berperantara bangsa Belanda, dengan orang Belanda pula, yang bangsa tak disuka bangsa kita. Kepada Senouck Hugronye aku tanyakan tentang agama. Di tanahku, begitu sulit aku bertemu ahli-ahli agama yang siap menjawab gelisah manahku hingga tak tertangkup semua gelisah membara itu. Maka Rohana, begitu lengkap kau cecap berbagai cabang pengetahuan. Andai cita kita tersambung di masa itu, mungkin telah kita bagi segala ruah pun gelisah. Akan kukirimkan meja tulis ukiran Jepara untuk saksi-saksi kerjamu, pun gamelan Jawa yang aku suka.

Belum tunai kusebut satu-satu pendar lakumu. Tak cukup kau bimbing kaum Hawa memegang pena, mengukirkan tinta, kau ajarkan pada mereka beradu cerdas menukar barang pada Belanda. Kau tak hanya piawai menisik kain menejelujur benang, jalur dagang pun kau lempangkan. Ilmu siasah pun kau praktekkan. Duhai Putri Minang, adakah keraguan bangsa ini mengharumkan seluruh jejakmu, hingga aku lebih bersinar darimu?

Tak cukup bagimu Soenting Melayu pun Amai Setia, setelah prahara menerpa, kau lebih kukuh mengunggah langkah. Kau bangun Rohana School yang menandaskan baktimu pada kaum pun bangsamu. Di sana kau didik anak-anak zaman dengan takrir purna. Maka silaulah Belanda pada seluruh yang kau sangga. Sia-sia bangsa Eropa itu tak mengizinkanmu mengenyam pendidikan di sekolahnya, ternyata pengetahuanmu melampaui tempaan mereka. Maka menjadilah kau wanita utama, pendidik anak-anak bangsa kala gelap masih gulita karena Kartini tak seorang saja.


Kastil Nurul Yaqin, April 2011


* Terinspirasi dari surat-surat Kartini dan kisah perjuangan Rohana Kudus.

** Untuk Mamak, perempuan tangguh yang paling mencintaiku.


Sumber:
Lampung Post, Minggu, 24 April 2011

Sunday, January 2, 2011

Kidung Rebung

Cerpen S.W. Teofani


MENGAPA tak sekarang saja kita tebang rumpun rebung itu, Ibu? Apa lagi yang kita tunggu. Bukankah semak laknat itu menyisakan mimpi buruk pada malammu, juga siangku. Kita telah kehilangan nakhoda biduk pada ganasnya gelombang hidup. Laki-laki yang sangat mencintai bambu, mungkin melebihi cintanya padamu, juga padaku. Tapi kau tak pernah cemburu pada bambu-bambu itu. Bahkan saat akhirnya dengan sadis pohon kesumat itu menjadi sebab kematian laki-lakimu, ayahku.

Aku ingin segera meleyapkan rumpun aur itu, Ibu. Biar usai pedih ini. Agar lenyap bayang senyap pada tetumbuhan yang merenggut seluruh suluh hidupku: cengkerama dengan ayah di rembang petang, di antara betung dan aur, menyisahkan kenang yang mengguncang. Memelantingkan seluruh siksa ditinggalkan, mengundang ruang raung yang hilang.

Benar hutan bambu itu sesak kenangan, tapi nganga luka pun ia suguhkan. Aku memilih melenyapkan semua, Ibu. Agar tunai seluruh kenang, juga dendam.

Ayah pasti marah padaku, jika kuleburkan pohon hidupnya. Tapi, bukankah akhirnya pohon-pohon itu jua yang merenggut nyawanya? Karena cinta selalu menagih pembuktian, ayah menyatakan cintanya. Cinta pada rerimbun bambu, sejak bertunas hingga meranggas. Bahkan hingga bambu-bambu itu menghendaki cinta yang tandas. Lalu ke mana kehilangan ini aku sangsangkan, bila tiap bilah bambu adalah keriut lara lukaku.

Engkau diam Ibu, tak mengiyakan, pun menolak hasratku. Ingin yang kusampaikan dengan ungkap dusta, agar tak tercipta pedih bagimu, juga lara untukku. Kau hanya tersenyum dengan sungging yang mendamaikan, sekaligus meresahkan. Seperti rimbun bambu yang teduh, juga membuntal gatal. Tersebab bulu halusnya yang terselip pada setiap pelepah dan batang.

Maafkan aku Ibu. Aku mencintamu, tapi kali ini aku ingin mencintai diriku sendiri.

Di hatimu telalu banyak bilik. Aku tak sempat memasukinya satu per satu. Sebanyak bilik rumah bambu yang ditatah ayah, dibawa ke kota-kota yang jauh, dikagumi indahnya, dipuji pesonanya. Tanah kita pun masyhur karena tangan terampil ayah. Dari rakyat biasa hingga pejabat terpesona karyanya. Engkau turut tersenyum bangga, pada laki-lakimu, yang tetap kau cintai, bahkan hingga tinggal tilas yang mengenangkanmu.

**

Kan kupelihara hutan bambu itu, Suamiku. Sebagaimana dirimu menjagaku, juga anak kita. Kau merawat bambu-bambu itu sepenuh waktu, tapi aku percaya, kau jaga kami dengan seluruh hatimu. Sepeninggalmu, bambu-bambu ini yang menemaniku. Kesiurnya mengingatkan pada bisikmu tentang ketabahan. Deritnya mengenangkan pada suaramu saat memanggilku, dengan pelan,...dalam, pada sepenarikan napas yang membuat kita sadar pada amanah kemaslahatan. Lalu muncul pucuk-pucuk rebung yang menjanjikan hari esok nan panjang. Rebung itu bertumbuh menjadi aur baru yang menggantikan. Hingga siap ditinggalkan batang induknya yang kita tebang.

Tapi tidak diriku, Suamiku. Kau tinggalkan aku saat rebung kita begitu belia. Ia belum siap menanggung derita. Tapi aku berbaik sangka, kau yakin kumampu menjaganya. Selain ketundukkan kita pada keharusan semesta yang mengajari lega lila pada ingin-Nya. Meski ada lembar hatiku mengeja hal lain yang kita amini dengan kedipan mata. Lalu kita tertunduk karena kesalahan yang tak kita kehendaki.

Kau ajari aku menyayangi bambu seperti menjaga kehidupan. Kau tak akan menebang betung jika tumbuhan itu tak menginginkan. Bahkan kau tahu, mana batang yang berkenan kau tebang, dan mana yang enggan kau pinang. Tak akan kau tebang batang betung yang menyusui rebung. Kau rawat dia hingga tunai sang betung mengasuh rebung. Jika pada titimangsa tua, ketika bulan tak lagi purnama, kusaksikan batang-batang betung rebah dengan indah. Pada pangkuanmu, pada tanganmu yang begitu piawai menjadikannya lebih berharga. Akan kusaksikan betapa mesranya kau menyambut batang betung itu. Dan betapa cemburunya aku pada kemanjaan rumpun rumput istimewamu. Batang-batang itu seperti tahu, kaulah yang akan menatah titah mengada; memberi manfaat bagi semesta. Jika sampai waktunya, bambu itu pasrah pada tanganmu mencipta. Batang betung dan aur itu percaya, kau mampu mendandaninya menjadi permata yang disanjung puja. Bukan sekadar kayu bakar yang tersia.

Di hari nahas itu, aur dan betung mengutukmu. Rumpun itu merasa dikhianati, sebagaimana kau tersiksa atas pengingkaran pada anak jiwamu, juga seluruh hidupmu. Aku tahu, Suamiku, betapa sulitnya debat hatimu saat itu.

Seluruhmu tergadai antara titah dan tembang manah. Kau sanggupi wisma angsana di taman kota praja. Yang Mulia meminta mahakaryamu tercipta dari bambu terbaik yang dipilihnya. Dia tunjuk serumpun betung nan memesona; setiap jiwa terkagum pada pikatnya. Dengan santun kau katakan pada Yang Mulia, betung itu belum sampai titimangsa. Kau tawarkan batang lain yang tak kalah jelita. Telah kau siapkan pada musim tebang sebelumnya.

Tapi siapakah engkau, Suamiku. Engkau tak punya daya untuk menawarkan kebenaran di hadapan penguasa. Apalah arti pengetahuanmu di hadapan kemauan raja. Dengan senyum getir, kau iyakan mata murkanya. Dia puas dalam tawa. Tak ada yang lebih tahu dari nafsunya. Tak ada yang sanggup menentang maunya. Apalah arti seorang perajin bambu di hadapan kuasanya. Sebentar lagi istana bambu yang diidamkannya tercipta, meski menumbalkan kemaslahatan muasalnya.

Aku tahu, Suamiku, untukmu yang begitu takzim pada gerak mayapada, memangkas betung dengan tergesa adalah perbuatan sia-sia. Bagimu, ini langkah zalim pada semesta. Satu betung kau bawa, berdasa rebung binasa. Tapi bisakah penguasa berlapang dada pada kearifan alam raya?

Suamiku, di belakangmu aku terdiam. Mengikuti langkahmu yang gamang. Tak kulihat lagi semringahmu menyambut rebahnya lurus batang. Kau begitu bimbang. Akan kau tebang betung yang tengah menyusui rebung. Akan kau pangkas hatimu untuk titah. Tapi aku tak percaya, kau berani mengingkari tembang rejang kehidupan.

Langkahmu gundah, mendekat batang betung dengan pasrah. Tanganmu gemetar saat menempelkan parang pada batang yang tak hendak rebah. Ketika parang kau angkat, riuh jerit rimbun rebung pilu menyayat. Direbutnya parang hatimu yang mendekat. Tangis mereka pecah saat besi tajam itu semakin rapat. Gendang telingamu tak mampu menangkap apa pun, selain sayat pilu sedu sedan rebung. Tanganmu goyah, entah ke mana parang terarah, hingga senjata itu memilih tuannya. Darah mengucur di pucuk-pucuk rebung, juga bambu betung. Tangis rebung reda, atas peristiwa tak terduga, berganti isakku kehilanganmu. Tak lama, rebung-rebung itu, petung itu, aur itu, turut tersedan. Melafalkan kidung penyesalan akan kepergian. Menembangkan kehilangan manusia yang akan menjaga dan merawatnya, juga memolesnya hingga memesona. Kemudian, kota ini menjadi sepi, tak lagi wangi.

**

"Mengapa tak sekarang saja kita tebang rimbun aur itu, Ibu? Kan kubuat sebuah kota dengan rumah-rumah bambu di atasnya. Pasti negeri ini akan masyhur lagi."

"Anakku, menanam ada masanya, memetik pun ada waktunya, jangan kau ganggu bambu-bambu itu. Lihatlah, anak-anaknya tengah menyusu."

"Ah..ibu, manalah putingnya, manalah airnya, ibu jangan mengada-ada. Akulah anak ibu yang akan merawatnya, dengan menjadikannya lebih berharga."

"Pada mangsa setelah dasa, kala bulan tak lagi purnama, tebanglah induknya saja. Biarkan anak-anaknya bertumbuh menggantikannya."

"Akan aku tebang semuanya, Ibu. Agar tak lagi ada ular yang bersembunyi di semaknya. Kan kubangun rumah-rumah bambu di atasnya, biar tanah kita jadi legenda."

"Anakku, buah cinta hutan bambu, jangan turuti nafsu. Apalah arti legenda, jika musnah segala yang ada. Kita ambil sebagian saja, seperlu hajat kita, bumi akan panen raya setelah padam purnama."

"Duh Ibu, kekasihku, teman jiwa ayahku,...mengapa kau eja purnama, zaman tak lagi menghiraukannya. Esok ada batang beton yang menggantikan bambu betung itu."

"Duh..anakku, kau saksikan matahari muncul di waktu pagi, terbenam di senja kala, tentu ada maksudnya. Tuhan tak ciptakan itu dengan sia-sia. Adalah perputaran waktu yang menggantikan warsa. Membuat kita belajar tentang musim, tema titimangsa. Benar semua waktu baik, Anakku. Maka disebut baik, karena mengandung kebaikan untuk yang lainnya. Pandailah kau membaca sasmita, pertanda yang dipersembahkan alam untuk kita. Cermatlah dirimu berteman dengan musim, agar menjadi sahabat semesta."

"Duh..Ibu, tidakkah semua telah berlalu. Kita hidup di zaman tanpa musim, tak beda ketika purnama atau gulita."

"Anakku, ibu telah tua. Tinggal merawatmu, juga rumpun rebung itu. Menjaga kinasih ayahmu, menata kelarasan mayapada."

"Duh Ibu, aku anakmu seorang saja, kan kulakukan yang terbaik bagi semua."

***

"Suamiku, maafkan aku. Tak tuntas kuajarkan kearifan pada anak kita. Kini aku hidup tanpamu, tanpa hutan bambu. Yang tertinggal ngiang kidung rebung yang meratapi namamu."

Jatimulyo, ujung 2010

Happy birthday my best friend Elly D., 25 Desember 2010

Kado untuk Suluh Jiwa, 20 Desember 2010


Lampung Post, Minggu, 2 Januari 2011

Sunday, August 22, 2010

Bukan Puncak Huangshan

Cerpen S.W. Teofani


TERSEBAB kau memilih jalan yang lebih mendaki dari Puncak Huangshan, aku merasa malu berani menyuntingkan tunjung biru pada mahkotamu. Seharusnya kuberada pada ketinggian sanjung manjadi takdirmu. Kau terima dengan rela pelepah hati masaiku. Tapi, di malam yang telah dihalalkan kubuka cindai jinggamu, aku tak mampu menatap kejora jiwa itu.

Bibirmu yang tak seranum kuncup kenanga, meneteskan makna-makna melampaui sabda. Meski matamu tak secerlang kaca, kedalamannya menundukkan keangkuhan sahara. Seluruhku lumat pada keteduhan yang kau pungut dari belantara sukma.

Dalam keheningan malam yang dihentikan debar harap, aku mematung dengan sebab yang tak tertangkap. Menatap sosokmu pun aku luruh. Senyummu yang tak jeda menakhta pada pipimu nan merona, menahan setiap kehendak penuh bara. Apakah aku telah menikahi peri, ataukah bidadari?

Kulihat tapakmu berpijak di bumi, rautmu pun tak menabur kejelitaan purna, tapi apa yang membuatku mabuk dalam pana.

Seharusnya kubimbing kau pada sesiah mahamesra, atau kutunaskan cumbu paling rayu. Tapi aku seperti hamba menghadap ratu. Kau begitu agung dalam diam dan kulum. Bahkan aku tak tahu, apakah harus mengulurkan tangan untuk memulai atau menghaturkan seluruh khidmat umpama cantrik bertemu mahadewi.

Kucoba bersitatap, retinaku terantuk kilau pupilmu yang memaksa rela menumbuk permadani. Di pelaminan itu, kau melebihi Sinta yang menjaga kesucian. Tapi aku bukan Rama, ksatria bijaksana itu, pun Rahwana si durjana. Aku hanya menusia tanpa tanda untuk cinta juga citra.

Saat aku berani mengangkat pandang, tetap tak mampu bertaut dengan tatapmu. Apakah kau Robiah Agung yang tak terjamah nafsu. Tapi mengapa kau sedia dengan ikatan ini?

Aku tak mungkin menyalahkanmu. Bukan kau menolak inginku, tapi seluruhku luruh sebelum tunas hendak itu menjembul pada jasad mahawadak. Dan kita biarkan malam menyisakan mamang tanpa kenang.

***

Pada enam pergantian waktu, engkau tetap tak terjamah. Menatapmu aku tak ubah laron yang silau pada pijar dian. Seucap kata terbaik pun begitu sia-sia dibanding kedip matamu. Aku lebih suka terdiam mengeja seluruh kemungkinan tentangmu. Di hadapmu, kubiarkan diri tanpa rupa, luruh tak berasa.

"Mengapa kau memilihku sebagai takdirmu?"

Frasamu menjadi denting pertama dari ginonjing jiwa kita.

"Karena aku mencintaimu."

"Karena cinta menangih pembuktian, salahkah jika aku mempertanyakannya?"

"Apa yang kau inginkan?"

"Temui Al Malik." Suaramu tenang, penuh kelembutan, tanpa kehilangan rasa yakin.

"Maksudmu?"

"Temui Rajamu."

Kau hanya membubuhkan sedikit penegasan.

"Bisakah dipertandas...?" Kucoba meyakinkan diri atas pinta itu.

"Tidakkah cukup jelas, temui Al Malik, Maharaja itu!" Suaramu meninggi. Pupilmu yang biasa redup, memijar. Aku terhentak meski tak gentar.

"Siapakah engkau? Mengapa pintamu begitu ganjil? Seorang Sulaiman bisa memindahkan singgasananya ke hadapan Bilqis dalam sekejap. Bandung Bondowoso mampu membangunkan seribu candi dalam semalam untuk membuktikan cintanya pada Roro Jonggrang, tapi aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya ribuan tentara jin untuk melakukan semua. Kau telah menerima akadku, bisakah kau terima aku apa adanya?" Aku mengimbangi nada yang kau cipta, kecanggunganku sirna.

"Adakah aku meminta kemegahan yang diminta perempuan-perempuan itu? Aku meminta sesuatu yang mampu kau lakukan tanpa bantuan tentara kera milik Rama atau pasukan jinnya Raja Sulaiman. Adakah aku berlebihan?"

"Duhai...pilihan hatiku, tidakkah ini mulai bencana itu. Jika kau minta Taj Mahal, aku akan berguru ke negeri Syah Jehan, membangunkan mendiang Guru Isa. Tapi kau meminta yang tak mungkin dilakukan manusia biasa. Seorang Musa pun tak sanggup menatap Cahaya Al Malik di Gunung Sina, kau memintaku menemui-Nya. Ya muhyal qulub....adakah pilihan untukku?"

"Kau telah memilihku, aku meminta temui Al Malik, hanya itu." Aku diam, mulai meragukan cinta yang kulafazkan, antara menyesal dan mengental. Tapi mundur tetap bukan pilihan.

"Berjalanlah ke arah matahari tenggelam. Ikuti jejak burung-burung yang tak bisa lagi mengepakkan sayap. Ke sebuah puncak yang lebih mulia dari Huangshan." Suaramu sayup antara nyata dan ngiang.

***

Aku berada di tempat yang kau inginkan, Kekasih. Meski belum sampai pada pintamu. Aku meragukan diri bisa memenuhi yang kau mau. Tapi mencoba lebih agung dari meragu.

Aku tak sendiri. Sebelumku tak terhitung manusia yang mendaki tempat ini. Tapi tak ada yang mengabariku telah bertemu Al Malik. Kulihat kesah dan lelah di wajah mereka, merarasi maksud yang tak mewujud. Raut-rautnya lebih menyedihkan dari tentara kalah perang, dengan tubuh penuh kasusahan. Pemandangan itu menerbankan maksudku yang belum teguh.

Aku surut. Saat hendak kembali, tangan kukuh mencengkeram bahuku. Sosok itu tegak di sampingku. Matanya begitu elang, menembus ranyah kalbuku.

"Engkau menyerah sebelum memulai?" Suaranya setajam belati.

"Aku tak mau melakukan kesia-siaan." Kuberanikan membalas kilaunya.

"Adakah yang sia-sia setiap tapak menuju Al Malik?"

"Kau lihat orang-orang itu pulang hampa, haruskah aku melakukan hal serupa?"

"Kita tak harus mengikuti orang-orang kalah, masih ada diksi kemenangan."

"Aku manusia biasa, tak kan bermimpi bertemu Al Malik."

"Kau tahu, para nabi pun manusia biasa. Adakah mereka disebut nabi tanpa cobaan? Adakah kau disebut beriman tanpa ujian? Benar kita manusia biasa, tapi kita adalah makhluk yang diciptakan Zat Luar Biasa. Dan kita diperintahkan untuk menemui-Nya."

"Untuk apa?"

"Kau bertanya untuk apa? Tidakkah Al Malik tujuan tiap makhluk. Ke mana kita kembali kalau tidak kepada-Nya? Hidup hanya memilih dua hal; menuju Al Malik atau menghamba syaitan."

Aku diam, dia bukan manusia biasa, pikirku. Hatiku mengeja halnya.

"Kau akan tetap pergi?"

"Lebih baik mati dalam perjalanan menuju Al Malik daripada hidup tanpa tujuan."

Lalu dia meninggalkanku begitu saja. Aku terdiam dalam pana. Tersisa ngiang kata terakhirnya.

"Tunggu..." Dia tetap bergegas. Aku mengejarnya. Jalannya begitu cergas. Aku mempercepat langkah hingga manjajar diri.

"Aku ikut...."

"Mantapkan hatimu."

Aku hanya diam, berharap dia menguatkanku jika rapuh. Kutemukan jawab di matanya.

***

Kami beriringan menuju tempat tanpa alamat. Menyisir jalan setapak yang penuh jejak juga bercak. Ada tilas pergi dan kembali. Ada bercak darah pun peluh lelah.

Aku meraba rasa yang tak berupa. Termasukah aku yang pergi untuk kembali? Atau yang pergi untuk kepergian itu sendiri.

Kami melintasi taman tanpa nama. Dengan rupa-rupa tawan di dalamnya. Ada sepasang angsa memadu cinta, juga kijang kencana bagus rupa. Aku ingin menangkapnya. Tidakkah rusa itu bisa menyenangkan kekasihku, hingga ia lupa mempertanyakan Al Malik. Aku mengedip pada teman perjalanan, berahap ia mengiyakan. Kulihat alis matanya beradu tanda marah padaku.

"Adakah rusa itu lebih membahagiakan dari pertemuan dengan Al Malik?"

"Rusa itu nyata, sedang Al Malik?"

"Maka manusia disebut beriman karena percaya pada yang gaib. Jika kau meragukannya, tak pernah ada jalan menuju Al Malik untukmu."

Aku diam, termangu antara gamang dan bimbang.

"Jika kau menuju Al Malik karena yang lain, Al Malik tak akan memalingkan wajah padamu." Suaranya semakin mantap.

"Kau seperti pernah bertemu Al Malik."

"Karena aku belum bertemu Al Malik, kupelajari jalan-jalan menuju Al Malik."

"Kau tahu banyak tentang jalan menuju Al Malik."

"Yang kuketahui belum seberapa, tapi kucoba melintasinya. Kau sendiri?"

"Aku selalu tergoda dan tak tahu jalan ke sana."

"Lalu, kau akan kembali?"

"Aku akan mengikutimu?"

"Kenapa?"

"Karena kau lebih mengerti."

***

Kami meneruskan perjalanan. Mendaki ketinggian tanpa undakan. Menyisir tebing paling ngarai. Memanjat gigir yang lebih cadas dari stalaktit. Menjejak terjal paling koral. Menapaki magma paling batu yang menguras kesabaran juga kekuatan.

Sampai di sebuah lembah kami istirah. Mengeja yang nanti dan yang sudah.

Entah berapa waktu telah kami tatah. Pun berapa lagi yang akan terjamah. Kami tak tahu mula dan ujung, awal dan khatam. Aku menatap teman yang seorang, kudapati matanya memendam bimbang serupa.

"Apakah kita tetap menuju Al Malik?"

"Iya!" angguknya tandas. Meski kuyakin dia mengeja jalan-jalan buntu dengan letih paling kuyu.

"Al Malik....Al Malik...kami datang dengan seluruh ketidaktahuan. Terimalah langkah kecil kami yang begitu siput. Tuntun tapak lemah ini menuju Engkau. Tunjuki jalan yang Kau rahasiakan. Amiiin."

Suara itu lebih dalam dari palung. Lebih getar dari gelombang. Aku terbawa magnitnya, meleburi kefanaan.

***

Sejurus aku tersadar pada dahaga yang paling lapar. Di sekelilingku rimbun pohon buah-buahan. Juga unggas yang siap jadi buruan. Kucari jawab pada matanya untuk menuntaskan hasrat.

"Jangan turuti kehendak nafsu. Kita bukan sedang mengembarakan keinginan raga. Biarkan jasadmu merana. Rasakan wisata jiwamu merindu Al Malik. Jika kau manjakan wadak itu, akan terpejam mata jiwamu dari Al Malik. Tahanlah...sampai Dia sendiri yang memberikannya."

"Sampai kapan?"

"Sampai kita menemui-Nya."

Aku diam, mengatur kehendak yang membuncah. Menjepit nafsu yang menggelagah. Bagai kabut dan asap saling mencegah. Seluruhku payah. Hingga kurasa sesesap jiwa bermandi cahaya.

Pada kali lain aku tergoda, teringat kekasihku, muasal segala cerita.

"Kekasih,...ikhlaskan jika aku tak lagi menemuimu. Kita yang saling ikat karena syahadah harus terpisah. Karena tebing yang kau ingin bukan Puncak Huangshan, gunung indah tempat bersenang." Aku menggumam dalam kepasrahan.

"Lupakan dia. Al Malik tidak menyapa hati yang bertakhta sang lain di dalamnya."

Kutatap sahabatku, dia lelah kuyu, tapi tak pernah disebutnya selain Al malik juga jalan-jalan selain jalan menuju Al Malik. Aku cemburu. Mungkin dia yang pantas bertemu Al Malik. Dan aku....

Bandar Lampung, Ramadan, 1431 Hijriah



Lampung Post
, Minggu, 22 Agustus 2010

Sunday, May 2, 2010

Sigi Piningit

Cerpen S.W. Teofani


INI adalah masa sulit hidupku. Melewati dua belas tahun usiaku, menjadi petaka bagi ruhaniku yang haus pengetahuan. Saatnya kutinggalkan semua kenang di puri kebijaksanaan. Dipaksa usai memamah hikmah menjadi duka yang tak ku suka. Saat paling mengerikan yang tak pernah kuharapkan kehadirannya. Aku harus berdiam di balik tembok-tembok keangkuhan adat yang menandaskan seluruh cita. Menaati tradisi yang tak kumengerti.

Akan kuhapus kelebat rasa yang membuatku duka. Saat aku dan teman-temanku yang berkulit putih menumbuk biji-biji pemahaman dari guru-guru kami yang bestari. Bagi teman-teman wanita sebangsaku, yang dipasung rigit tradisi, mendedah ilmu tidak mengundang keriaan. Tapi bagiku, yang telah diajarkan menatap dan merasai indahnya cahaya mentari, meninggalkan jendela pengetahuan laksana mandapati gerhana purna.

Apalah arti siang hari, jika surya tertutup bayang-bayang bumi.

Aku merana seorang. Sekelilingku tak memahami dukaku. Bagaimana aku akan menceritakan sulitnya hidup dalam kegelapan, jika gelap itu mereka anggap benderang. Dan kini aku dipaksa menerima semua sebagaimana mereka menerimanya. Mampukah aku legowo pada kenyataan? Dapatkah aku mengamini telikung tradisi sebagai kebenaran jika telah kurasai indahnya kebebasan mengenyam pengetahuan? Akankah kuanggap dunia selebar kamar, sementara kutahu banyak negeri-negeri maju di belahan bumi yang jauh. Kulempangkan kaki, kutuju pintu agar terbebas impit pingit, tapi pintu itu selalu terkunci. Sedang anak kaitnya terlempar di samudera ketidaktahuan.

Hari terakhir manuju rumah pengetahuan menjadi saat paling memilukan. Kuhitung tapak demi tapak dengan dada sesak. Tiap pijak mewakili hari-hari yang sudah, penuh damba sampai ke sekolah. Bertukar pikir dengan gairah tiada menyerah.

Ingin kukembalikan seluruh mula yang mengenalkanku pada bangku-bangku ilmu. Agar tak kurisaukan datangnya hari ini. Hari perpisahan. Berpisah dengan teman-teman, terlepas dari para pengajar. Terberai dari cahaya kehidupan. Meninggalkan jajaran kursi yang menjadi saksi setiap ilmu yang kusigi. Melupa halaman sekolah, syahadah segala ria bersama teman sebaya. Tapi yang lebih memilukan, berpisah dari pelajaran-pelajaran yang mencerahkan.

Aku peluk guru dan teman-temanku satu per satu. Dengan dekap bayi yang takut kehilangan ibu. Ibu kehidupan, yang mengasuh anak-anaknya menjadi manusia purna. Aku bukan sekadar memeluk tubuh-tubuh itu, melainkan roh yang senantiasa berpijar oleh nyala pengetahuan.

Setelah ini, aku akan menjalani hari-hariku yang sunyi. Merentang dari tembok ke pagar, meniti hari dari sunyi ke sepi. Mananti temali takdir yang semakin menelikung seluruh ingin.

Aku mencoba menerima apa-apa yang bisa disangga wanita-wanita Jawa. Berdiam tanpa kata, bergeming tanpa cita. Mengiyakan apa-apa yang digariskan leluhur tanpa bisa mempertanyakannya. Mengamini tradisi dan membiarkan nurani mati.

Sehari demi seputaran mentari waktu kurambati. Pergantian masa kurasa begitu lama. Kubunuh jenuh dengan buku-buku dari Kanjeng Romo. Tapi seberapalah arti buku-buku, tanpa bimbingan sang guru. Kepada siapa aku tanyakan makna-makna di balik isinya. Biasakah si buta berjalan tanpa tongkatnya. Luruskah berjalan di pekat malam tanpa pelita.

Aku begitu cemburu pada teman-teman Eropaku, juga kangmas-kangmasku. Mereka bisa menumbuk pengetahuan ke mana saja, kenapa aku tidak? Meski aku terlahir sebagai Jawa, pelajaranku tak tertinggal dengan mereka yang Eropa. Sekalipun aku wanita, daya tangkapku tak kalah dengan para pria. Apa salahku terlahir sebagai Jawa? Apa yang tidak benar dengan kodratku sebagai wanita?

Aku tak kan membiarkan diri dilumat tradisi begitu lama. Ada gelap berarti ada cahaya. Ada tembok berarti ada cela. Dan, di hati Kanjeng Romo kuharapkan cahaya kasih itu. Pada jiwanya kudamba celah baru.

Kanjeng Romo... ya... hanya Kanjeng Romo yang sangat tahu gejolak manah-ku. Padanya selalu kucurahkan segala ingin. Kanjeng Romo yang mengerti kedalaman batinku. Padanya kusandarkan patahan jiwa.

Kanjeng Romolah yang mengenalkanku indahnya pengetahuan. Meski semua menjadi pertentangan karena melawan kelaziman.
Di sini, di bumi Jawa ini, tak terhormat wanita ningrat membawa senjata kertas dan pena. Seorang raden ajeng diajar menjadi wanita sumarah; nerimo, selalu diam dan tersenyum, meski hatinya tercabik sidik. Seorang raden ajeng dididik meredam dendam, memendam keinginan-keinginan, meski hatinya terluka purna.

Karena kelak, ketika dia menjadi raden ayu, semua akan berguna, ketika dia memanen luka demi luka. Saat menyaksikan suaminya membawa pulang perempuan lain tanpa persetujuannya. Dia harus menerima dengan senyum pembungkus hatinya yang lara. Memendam sakit demi citranya. Berapa pun selir di kediamanya, tak boleh ada yang menyaksikan pedih batinnya. Raden ayu dipaksa menerima semua sebagai ketentuan yang tak bisa dipertanyakan keadilannya.

Raden ayu...raden ayu, engkau manusia kayu. Terlahir untuk merawat ayu, sementara sukmamu tercerabut hingga layu. Dan Kanjeng Romo tak membiarkan aku menjadi raden ayu tanpa bekal ilmu. Kanjeng Romo juga yang memberiku setiap buku-buku yang kumau. Untuk menemani setiap hari yang berwarna sunyi.

Oh... Kanjeng Romo, begitu berartinya dirimu. Andai ku tak memiliki Romo sepertimu, mungkin telah tandas jiwa ini dalam keputusasaan. Kau sirami jiwaku dengan piwulang agung. Tak kau biarkan otakku beku diselubungi adat yang kaku. Tak kau biarkan putrimu mencecap gelap di bilik-bilik nestapa. Meski kau harus menjadi bahan gunjingan banyak orang, karena membiarkan anak perempuanmu melompati pagar tradisi.

Kepadanya kini akan kuwedarkan inginku. Segugus cita menuju menara budi, melanjutkan memamah pengetahuan. Bersanding dengan bangsa kulit putih, duduk tanpa tunduk, berdiri menjajar diri. Aku akan menyusul kangmas-kangmasku. Untuk beradu pikir, mendedah cakrawala batin. Akan kuyakinkan Kanjeng Romo, aku akan belajar sebaik-baiknya. Tidak akan mempermalukannya, membawa serta buah ilmu yang membanggakannya.

Kutemui Kanjeng Romo di singgasana agungnya. Kuberjalan dodok menghampiri. Setapak demi setindak ku mendekat. Setiap depa adalah sekumpulan pahatan doa. Berharap penuh Kanjeng Romo memberi restu. Meski tundukku setakzim gending, kutahu, Kanjeng Romo sedang menatap kebanggaan hatinya dengan kasih. Sampai di hadapan Kanjeng Romo, kutandaskan seba. Disambutnya sembahku dengan senyum tulus. Aku mendekat, hingga rapat pada helanya yang menenteramkan.
Kukatupkan tangan di atas kedua lututku. Kuberanikan menatap kedalaman jiwanya. Sepenuh damba ku bermohon padanya. Meski tersimpan telaga kekhawatiran di sana. Seorang wanita, raden ajeng pula, bisa mencecap sekolah dasar, sudah luar biasa. Tapi aku menawar lebih. Sebab kutahu, sekolah dasar saja tak memenuhi dahaga jiwa. Meski aku juga tahu, Kanjeng Romo pasti didera caci jika mengizinkannya. Rautku penuh harap, sebanding bayi mendamba puting ibunya.

Setelah haturku usai, detik kurasa begitu lama. Ruang melampaui kesunyian angkasa. Kutahan napas demi mananti jawab yang menentukan. Detak jantungku menyamai roda kereta. Kuberhenti bernapas beberapa jeda. Kurasai tangan kukuh Kanjeng Romo mengusap kepala. Menyibakkan anak rambutku sepenuh tulus. Membelai mahkota dengan nada jiwa, tapi tak cukup menenangkan sukma. Karena hatiku menanti jawaban dari pertanyaan yang menentukan. Menentukan nasibku, hari depanku, hidupku, dan bahagiaku.

Akhirnya yang kutunggu datang juga. Dengan kelembutan sempurna, diperdengarkannya jawaban yang kunantikan.

"Tidak!"

Jatiagung, April 2010

* Ditulis berdasar surat R.A. Kartini kepada Nyonya Abendanon, bertarikh Agustus 1900

** Untuk Mamak tersayang, wanita pertama yang "mengenalkanku" pada R.A. Kartini


Lampung Post, Minggu, 2 Mei 2010

Sunday, February 28, 2010

Tandan Tanggal

Cerpen S.W. Teofani


KEMUDIAN yang tertinggal penggalan kenang yang hampir tanggal. Bertandang dari laman-laman masa silam. Pada setiap waktu yang kita ramu. Pada warta-warta terkata.

Ketika masa mengaribkan kita, kau wanodya penuh ria. Aku suka menghitung tapakmu di antara bunga rumput dan bebatu. Dengan cengkrama yang selalu berbeda, kau wedarkan segala ruah rasa. Dalam tawa dan nelangsa, kau cecap setiap makna. Lalu aku terbiasa dengan seluruhmu; sungging senyum, kecumik manja, sedan hampa, hingga nganga luka yang kau punya.

Pernahkan kita menyesalkan undak yang kita tapak?

Karena esok bukan lalu. Kini kurasai seluruhku masai tanpamu.

Kulipat setiap kenang pada duka paling luka. Saat kusaksikan tandan waktu menanggalkanmu; aku ngungun di pusara itu.

Dukaku tandas di atas tanah merah berbasah resah. Muncul keriap kenang yang mencemaskan waktu. Saat kau menyisir lempang jalan menuju rumah hitam. Tempat bartaut suai pemikiran-pemikiran lalu dan yang baru. Berbincang tentang canang kejayaan masa usang dan kehancuran sejarah sudah. Buah pikir manusia dari negeri-negeri yang gemah. Akal budi tokoh negeri yang kita "adili". Kearifan sufi dari lorong yang tak kosong. Kebijakan pujangga pada racikan kata dan makna. Kita akan membincangkannya hingga senja hampir binasa.

Esok pagi, sebelum matahari bergegas tinggi, kita akan mengayunkan langkah menuju cita-cita yang jauh. Tentang pendidikan yang memanusiakan manusia. Tentang hukum-hukum yang adil. Lalu kita gunjingkan tapak-tapak Paulo Freire dan Romo Mangun, Ivan Ilich dan

Roem Topatimasang. Juga jejak-jejak penindasan yang mamasung cita.

Di sebuah masa yang luka, saat kaum muda memancang bendera, kita menjelma pagar jalanan. Meneriakkan pekik-pekik keadilan. Meninggikan panji-panji peradaban. Pada barisan sayap-sayap yang mengepak menuju lazuardi tertinggi. Akan kita basahi jalanan itu dengan seluruh peluh muda membara. Kita bacakan Bunga dan Tembok dengan dendam paling dalam. Sekelam kisah sang pujangga yang hilang ditelan zaman yang muram. Kita tersenyum dengan kulum paling ranum, kala lelah tanpa upah menjadi mur'ah yang kita pilah.

Saat suara menggema tentang wanita-wanita pendamba mahkota, kau dan aku bertukar kata. Kemana kiblat bangsa kita? Pada wanita pemuja benda, atau kaum hawa yang sedang memberai temali budaya? Dan kita memilih requim Sachico Murata. Wanita pewarta harmonisasi semesta. Dan kita pun seiya bahwa Mumammad, ksatria dari Arabia, manusia utama yang pertama peduli pada takhta wanita.

Sempat juga kita umpat diktat-diktat yang membuat sekarat. Karena kita kecewa dengan isinya, dan tak punya uang untuk membelinya. Sementara diri dipaksa memilikinya demi nilai-nilai yang tak lagi bernilai.

Ada kala kita tergelak. Menandaskan tetes terakhir dari secawan air. Menyuap nasi dari pinggan yang sama. Menjejak tapak di jalan itu juga. Kau sering berkata, semua akan jadi kenang yang sulit kita ulang. Aku membalasnya dengan tatap tak terkata. Tapi kembali kau mengajakku dalam derai suka.

Kau pernah menanda sesayat duka. Aku takzim mendengarnya. Tentang lara, tetang asma. Kusimak kau berwacana, mari kita lupakan derita fisik yang sementara. Bukankan jiwa masih menyala? Menerangi setiap sudutnya. Kita sibukakan dengan karya-karya sebagai jamuan surga. Karena kesedihan adalah bahagia yang bertengger di puncak kesunyian. Lalu Kau cari telaga untuk membasuh duka. Merendam seluruhnya hingga hilang tiap tilasnya. Lalu menghapus segala cerita dengan ceria. Kau enggan menatah duka, tak suka memahat luka. Hidup bagimu tapak-tapak suka dan taman tawa. Memeram muram pada cahaya. Memindai minda menjadi baskara jiwa. Dan aku terbawa pada rebawa bahagia. Kita pinda rasa lega sempurna.

Kadang kita empaskan semua, melupa untuk beberapa jenak. Menyimak Caravansari pada dayu lunak. Lalu kita bersembunyi di bilik hati paling sepi. Demi temukan segugus sunyi yang kita cari.

Pernah kita memadu harap. Mengeja kemungkinan-kemungkinan tentang perubahan. Untuk bangsa yang merapuh, pada sejarah yang sepuh.

Kini rencana-rencana menjadi mumi yang bertengger pada masa yang bisu. Karena seluruhmu tak sampai pada cerita bangsa yang berbeda.

Setelah musim wisuda tiba, kita terberai titimangsa. Karena Freire tidak cukup pada kata, Romo Mangun tak selesai pada wicara. Pilihan pengabdian berbeda menjadi jurang yang nganga. Tapi jiwa selalu saling sapa. Meski kita jarang bertukar warta. Hari menggugus dalam pergantian tahun, kita menjadi jiwa yang saling mendamba untuk berjumpa. Meski kesibukan menjadi hantu yang memberaikan. Kita bertukar tawa dalam ruang yang tak lagi sama.

Hingga pada pagi yang lengas, kudengar sebait berita dari alam maya. Daun gugur di kala hijau, rumput mengering menanggung risau. Setandan jiwa telah tanggal. Jiwa yang tak pernah tega mewartakan duka. Jiwa yang menyimpan rapi setiap nelangsa. Hanya tawa dan ria yang kau wartakan pada dunia. Aku mengeja: hidup adalah tandan-tandan yang akan tanggal pada saat yang ditentukan. Dan ketentuanmu telah datang saat hari masih memancarkan keelokan.

Sepenggal duka yang pernah kau buka, menanggalkan asamu yang masih nyala. Kau masih menggantang hari depan saat maut mengintaumu. Jiwamu mengejar cahaya ketika alam lain menyambut kedatanganmu. Kau tak tinggalkan keluh juga nelangsa sebagai pinanda kepulangan. Maut kau sambut dengan senyuman. Bukan ratap ketakutan. Kematian mengerangkeng seluruh asan yang hendak kau wajudkan.

Hari itu, aku menjumpai jasadmu terbujur kaku. Kita bertemu untuk berpisah. Laksana magrib yang tiba demi sang malam. Kita berjumpa untuk sayunara, bagai mimpi yang hadir di ujung pagi. Aku siramkan suri suci, berserta bunga rindu dan wewangi madu. Rindu yang tandas, karena perjumpaan fisik menjadi kemustahilan. Aku berikan ciuman terakhir, menghantarkan duka yang akan terkubur bersama seluruhmu.

Tak bisa kunahan gemawan kemana berarak, di mana terserak.

Karena dia dituntun Tangan yang lebih kuat. Tapi jiwaku pun dibimbing Tangan yang sama. Di mana pun kelak, jiwa kita akan bersua.

Aku ingin bersenandung bersama rinai di fajar jingga. Mengabarkan tunas-tunas baru yang memesona. Kerena duka hari ini pasti tinggal. Tapi seluruhmu tak akan luruh pada serpih muram itu. Keriapmu akan hadir pada lembar hari yang mewujud dalam kinanti hati. Kau kinatan penabur pinar, pincara pesan-pesan Tuhan, tentang kasih, cinta, dan ketulusan. Duhai kinasih kehidupan... aku melepasmu dengan rebas tertahan: Selamat jalan.

Rajabasa, Februari 2010

Mengenang Rosa Novalinda

Berpulang; Jumat, 5 Februari 2010


Lampung Post, Minggu, 28 Februari 2010