Showing posts with label Ganda Pekasih. Show all posts
Showing posts with label Ganda Pekasih. Show all posts

Sunday, March 29, 2015

Mata Air Air Mata

Cerpen Ganda Pekasih


SUDAH beberapa minggu perempuan bermata sedih itu tinggal di rumah pengembaraannya, di sebuah kota yang kabut hitam lebih sering muncul menjelang senja lalu disusul hujan jatuh, apa yang disedihkan perempuan itu adalah kesedihan tentang seorang lelaki yang wajahnya  berlumuran darah karena membutakan matanya sendiri dengan belati, yang lalu pergi meninggalkannya.

Kota yang lebih sejuk dan sore terasa lebih cepat tiba pada senja menambah kuat ingatannya selalu pada lelaki itu, dia terus pergi mencarinya dari satu kota ke kota lainnya. Sembilan tahun sudah dia melewati gugus waktu dalam kesendirian, dan dia masih yakin suatu hari pasti akan berjumpa lagi dengan lelaki itu, yang teramat luka dan pasti sangat membenci dirinya.

Saat dia membeli tanaman-tanaman hutan yang menjalar dan anggrek kesukaannya di sebuah tepi jalan, sore yang sedang dihujani merah tembaga matahari sebelum disapu kabut dia melihat seorang lelaki bertongkat berjalan seorang diri, lelaki itu buta, dan dia sungguh merasa terkejut melihat caranya berjalan yang sangat ia kenal, rambut sebahu ikal dan panjang ciri khasnya, warna pakaiannya masih seperti warna-warnanya yang disukainya dulu.
Limbo! Benarkah itu dia?

Ah, di kota ini akhirnya dia temukan lelaki itu, lelaki yang wajahnya pernah berlumuran darah kala dia membutakan matanya sendiri. Sepasang mata tampan yang tak melihat itu tentu saja tak bisa mengungkapkan lagi cinta dengan sinarnya,  menumpahkan semua harapan masa depannya seperti dulu yang cuma untuknya.

Dia tampak berjalan pelan dan tertatih-tatih dengan tongkatnya itu menyusuri sore ke arah matahari terbenam, dulu dia seorang lelaki yang gagah, kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri saat mereka telah bertunangan dan waktu pernikahan sudah ditetapkan.
Mau ke mana dia seiring senja jatuh?

Limbo...

Suara tongkatnya terdengar memukul kerikil-kerikil tepi jalan. Dia mencoba mengikutinya beberapa puluh meter, merasa hampa tak berarti, air matanya deras berjatuhan, dia tak sanggup untuk menyapa dan akhirnya berbalik arah, pulang tergesa, menjatuhkan dirinya di ranjang yang dingin dan sepi.

Kata orang-orang di tikungan ujung perumahan di kaki bukit sejuk itu, biasanya dia ke kedai kopi langganannya untuk merokok, bertemu teman-temannya dan ngobrol dengan siapa saja yang mampir ke kedai kopi itu, lalu  dia melanjutkan pergi ke tepi danau, bekerja menjaga beberapa petak ladang bunga yang mekar di sana ketika malam dan dipanen pemiliknya pagi hari untuk dilelang ke kota.

Dia pernah cerita kepada orang-orang, menikam kedua matanya sendiri karena melihat perselingkuhan calon istrinya, cintanya, di malam acara penglepasan lajang perempuan itu, perempuan yang tak bisa menolak bujuk rayu bekas pacar di masa lalu, cinta yang pernah membutakan jiwa mereka. Beberapa temannya membawa botol-botol minuman, berpesta agak liar, jauh di luar keinginannya dan nyaris mereka semua minum sampai mabuk hingga terjadilah perselingkuhan itu. Limbo, tunangannya yang sengaja tak diundang datang, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri di kamar pesta itu, dan mereka tak memiliki alasan khilaf untuk membantah.

Limbo, lelaki yang sangat dirindukannya itu, bertahun-tahun sudah dia mencarinya, lelaki yang dengan mata kepalanya sendiri melihat tunangannya bergelinjang lupa diri dan cinta yang telah disandarkan hanya untuk sang calon pengantin, lalu dia membutakan matanya karena tak sanggup melihat petaka itu, berdarah-darah di malam pesta, menjadi pemandangan yang mengerikan. Pemandangan yang tak pernah pergi dari pikirannya yang membuat penyesalan tak berkesudahan.

Setiap sore dan senja turun hingga malam dia berdiri menunggu lelaki itu kembali lewat di depan taman penjual bunga-bunga hutan dan anggrek, tapi saat lelaki itu muncul mengayun tongkatnya, dia yang sudah dekat di belakang mengikuti hingga puluhan meter tak berani menegur sedikit pun, apalagi mengeluarkan suaranya yang terisak, bahkan dia takut lelaki itu akan mengetahui kehadirannya.

Hingga suatu ketika lelaki itu menghentikan langkahnya, mematung, perlahan dia memalingkan wajah ke belakang, ke kiri dan ke kanan, dia mungkin sudah tahu sejak pertama perempuan itu mengikutinya beberapa hari yang lalu, aroma tubuh perempuan itu pasti terendus hidungnya, bercampur bau anggrek-anggrek hutan kegemarannya sejak dulu, Lelaki itu tampak acuh saja kemudian melanjutkan perjalanannya lagi, dia pasti tahu perempuan itu terdiam di tempatnya, menahan sedu sedan tangis kesedihan, lalu berlari pulang meninggalkannya.

Sepetak ladang bunga itu mulai mekar di bawah bulan dan langit dini hari, tak ada angin berhembus kecuali hening, hanya serangga serangga kecil mengisi kesunyian menikmati aroma bunga-bunga.

Ketika terdengar suara kokok ayam dia pun pulang, kicau-kicau burung beraneka suara mengiringi langkahnya, rumahnya hampir lima kilometer dari petak-petak ladang bunga itu, di tepi lembah yang berbatu-batu.

Melewati kembali tikungan yang agak sedikit ramai dengan deretan penjual makanan, penjual bunga-bunga segar tempat dia biasa singgah sekejap minum kopi, sarapan bubur, dan merokok sebelum istirahat memejamkan matanya di rumah, mata yang tak melihat apa pun sejak peristiwa berdarah itu, kecuali kegelapan cintanya yang dikhianati.
Memperhatikan dan mengikuti laki-laki itu beberapa kali lalu akhirnya terisak pulang kini perempuan itu sampai di ladang bunga. Mereka sama-sama tiba di sana, duduk berjarak beberapa meter.

Lelaki itu menyadari sudah begitu sering dia terus diikuti, bau tubuh perempuan itu yang membuat dirinya terpelanting ke masa lalu.  Dia pernah yakin tak akan pernah berjumpa lagi dengan gadis yang pernah bertunangan dengannya itu, calon istrinya yang harus ditinggalkannya. Dia yakin itu Mayan, yang membuat dia lebih baik membutakan matanya sendiri dan pergi. Apa yang dicarinya datang ke tempat sunyi ini? Bukankah semua sudah berlalu?

Wanita-wanita yang kini dikenal lelaki itu merasa dia adalah pria yang tampan pada mulanya jika dia masih mempunyai sepasang bola mata itu, sepasang mata adalah cahaya kehidupan. Dengan mata buta ketampanan tak bisa berwujud, dia jadi hilang bentuk, wanita-wanita itu mereka-reka seperti apa ketampanannya, tapi mereka yakin dia awalnya adalah lelaki yang tampan.

Setelah mereka hanya membisu, Mayan akhirnya tak bisa lebih lama lagi membeku.

“Aku ingin buta seperti juga kau Limbo, aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” Mayan terisak.

Angin malam berdesir, bunga-bunga mulai bermekaran dini hari berlomba menjumpai pagi.

“Apa yang kau cari lagi,  Mayan.”

Lelaki itu bangkit, berjalan ke tengah ladang bunga dan memetik beberapa rose, memberikannya kepada Mayan.

“Ini ladang pencaharian bibiku, aku hanya menjaganya sebelum pagi dipetik untuk dibawa ke pelelangan.”

“Terima kasih.” Mayan menghirup serumpun rose mekar dalam-dalam. “Butakanlah mataku dengan tangkai tangkai mawar ini Limbo, biar kita menjadi sepasang kekasih buta.”

“Aku lama mencarimu. Aku menderita sejak melihat darah itu. Aku sungguh menyesali semua itu.”

“Tak boleh Mayan, mata tak berguna tanpa cahaya.”

“Aku merindukanmu hidup bersama. Aku tahu khianat mana pun tak ada yang bisa menandingi kecewamu, aku akan mengobati lukamu, mengabdi padamu.”

“Sudah terlambat Mayan.”

“Aku ingin buta bersamamu Limbo, aku sudah lama mencarimu, Limbo.”

Mayan memeluk Limbo sekuat tangannya.

Bunga-bunga bermekaran.

Pagi hari mereka pulang, diiringi mentari, Mayan ikut ke rumah Limbo. Mereka disambut seorang perempuan dengan sepotong tongkat seperli Limbo dan matanya buta.
Mayan tercekat!

“Dia istriku, namanya Layonsari, kami sudah kenal lama di daerah ini, dia membutakan matanya sendiri karena melihat perselingkuhan suaminya, lalu dia datang menemuiku dan kami saling membutuhkan, mencintai dalam kebutaan, seiring waktu kami merasa kami tidak buta, cinta kami  bercahaya.”

Mayan dilibas cemburu. 

Perempuan buta itu mendekati Mayan, merabai wajahnya, menelusuri bahu dan rambut Mayan.

“Kau perempuan yang cantik,” dengusnya tak suka.

Napas Mayan memburu.

“Kau pasti perempuan yang bernama Mayan itu? Limbo pernah menceritakanmu. Hh, kau ternyata!”

Mayan terpatung, Layonsari mundur beberapa langkah.

“Aku tak mau berjumpa lagi dengan Koko!” Tiba-tiba dia histeris. “Dia jahat, dia tak boleh mencariku ke sini hanya karena suatu saat nanti dia menyesali perbuatan selingkuhnya, seperti perempuan ini, yang membuat kekasihnya membutakan matanya sendiri lalu dia datang mencari kekasihnya mengatakan dia sangat bersalah! Tidak! Pergi kau! Pergi!”

Mayan bergidik ngeri mendengar ucapan perempuan itu, perempuan yang  pasti sangat membenci lelaki yang membuatnya membutakan matanya sendiri, seperti juga bencinya Limbo dulu padanya. Lalu perempuan itu tampak menggapai-gapai ke arah Limbo, begitu dapat tubuh Limbo langsung dia peluk dengan erat.

Mayan bergetar melihat pasangan buta itu, dilibas cemburu.

“Butakanlah mataku, aku sangat cemburu! Itulah balasan yang pantas untukku! Aku tak akan menyesal!” Mayan mendekatkan wajahnya ke arah Layonsari sambil dia mengulurkan tangkai-tangkai rose yang panjang berduri.

Limbo menggapai-gapai mendekati Mayan.

“Pergilah Mayan, tolong pergi dari sini, jangan ganggu kami.”

Mayan makin dilibas cemburu, Limbo mengusirnya, yang lama dia cari bertahun-tahun. Mayan merasa hancur berkeping! Merasa sangat pantas jika dia membutakan mata sedihnya sendiri segera, itu setimpal dengan kemarahan Limbo dulu, tak perlu lewat tangan mereka, tapi dengan kedua tangannya sendiri. Tapi jika dia membutakan matanya sendiri bukankah Limbo sudah tak bisa melihat darah-darah itu, tak bisa. Jadi percuma saja karena Limbo tak akan melihat pengorbanannya.

Limbo dan istrinya melewati jalan ke arah matahari jatuh, bergandengan tangan, istrinya itu pasti tak membiarkan lagi suaminya pergi sendiri, juga tak ingin kekasihnya dari masa lalu datang lagi mendekat membawa penyesalan, ujung tongkatnya ia sambarkan ke sana kemari.
Mayan terisak, sudah beberapa sore mereka memamerkan cinta dan kemesraan, tak memberinya lagi kesempatan sedetik pun didekati. Mayan melemparkan tangkai-tangkai rose berduri dan bergegas lari. Limbo beruntung menemukan lagi sosok yang dicintanya, sedang dia akan mengembarai lorong, makam sunyi, dengan sepasang mata sedihnya yang tanpa cahaya kecuali air mata. n


Lampung Post, Minggu, 29 Maret 2015

Sunday, May 11, 2014

Tarian Pedang

Cerpen Ganda Pekasih


“INGIN bicara dengan Tuhan?” 

Penjaga dinding ratapan itu geram, belum pernah ada yang ingin bicara dengan Tuhan kecuali meratap dan membenturkan kepala. Lalu dengan sabar laksana rahib dia menyuruh lelaki itu pergi ke kastil tempat imam imam mereka. Lelaki itu menghunus sangkurnya dan menikam penjaga itu sampai mati. 

Lelaki itu sudah pergi ke berbagai pelosok dunia, istana-istana kekuasaan, kerajaan-kerajaan yang berkuasa bersama sekutunya iblis dan penjajah, negeri di bawah gelombang sampai atap dunia. Dia bisa tiba di mana saja bak kabut.

Dia pernah terlihat di Kuil Ratu Khayangan Jagat, mengamuk dengan pedangnya dan membakar seribu lampion yang tergantung di kota-kota hingga sang Ratu murka lalu menggiringnya ke ceruk Longsan, kawasan berduri dengan beribu gumpalan salju membatu di lereng lereng Gunung Rongzhi, ladang kematian kaum revolusioner. Dengan dupa emas Sang Ratu terhenyak di altar tulang belulang seratus pemuda yang mati demi mendirikan istana tujuh puncak yang menjulang tinggi bak cawan Gunung Rongzhi yang disembah.

“Selamat datang Lelaki Pedang, demi namamu yang masyhur.”

“Kau menjamu tapi juga ingin membunuhku?”

Ratu Khayangan murka, wajah semua pengiringnya  membeku, lelaki itu telah melumpuhkannya, terhempas pecah seperti kaca. Sang Ratu membuka topengnya dan melesat ke atap istana.

“Mampuslah kau pendusta!” seru lelaki berjubah kelabu tua.

Lalu meteor-meteor salju sekeras batu terlepas dari busurnya, menghunjam dari lereng-lereng Gunung Rongzhi. Pedang berkelebat, panah menghunjam, sang Ratu sekarat di atas atap gerbang istana.
 
&&&

Lelaki itu tiba di semenanjung utara Teluk Hudson Kanada ketika musim semi pergi dan beruang-beruang muncul mencari makan. Sebuah tempat peribadatan tua ramai dikunjungi orang-orang muda yang tertarik kemunculan wajah Tuhan di atas langit rumah ibadah.  Usai kemunculan wajah Tuhan lonceng menara tak digerakkan lagi oleh tangan penjaga, tapi digerakkan oleh angin berputar-putar kencang menyambut kedatangan lelaki itu.

Perempuan tua bersyal putih dibordir gladiol dengan wajah keriput, mata keruh berwarna seperti air sumur menunjukkan jari telunjuknya ke menara  kepada orang orang muda yang mengaguminya sebagai wanita suci hingga muncul wajah Tuhan di sana, saat Lelaki berjubah itu tiba di dekatnya wajah perempuan tua itu berubah merah darah memandangnya, terpancar pandangan kebencian berabad abad. “Bodoh…,” Sinis lelaki itu.

“Kunci mulutmu!”

“Pembohong besar!”

Perempuan itu melepas syal putihnya dan berlari ke rumah peribadatan, jubah panjangnya yang hitam berkibar seperti hendak terbang,  lalu dia menghilang di dalam. Api tiba tiba mulai membakar rumah itu, orang orang panik, perempuan suci itu bisa mati di sana tapi tak ada yang berani menolongnya menjadi martir Tuhan, sedang lelaki berjubah itu mengacungkan pedangnya ke langit, menampung kilat panas cahaya yang membakar apa saja.
                               
&&&

Meksiko, seratus orang sedang merapal mantera, Sekte Hari Kiamat menetapkan 9 Juni sebagai hari akhir. Dan mereka telah melihat surga. Tuhan memberkati mereka bahwa  sebuah komet dari galaksi terjauh kutub bumi, yang mereka namakan Malaikat Srigala Guadalahara  akan menjemput roh mereka ke surga yang dijanjikan, di sana tubuh mereka akan diganti jadi lebih kuat.

“Jangan percaya iblis pengkhianat, mereka ingkar dan kalian akan jadi tumbal api jahanam!”

Seratus orang yang merapal mantra menggigil memperhatikan Lelaki Berjubah, pengembara dari negeri asing berselimut debu yang tak pernah mereka lihat. Mereka ingin menyentuh, memegang jubahnya bak sayap burung burung dari utara, membuat kerinduan dalam dada, tapi pemimpin sekte  cepat membagikan mereka cawan-cawan minuman untuk dihabiskan.

Mereka lalu meregang nyawa, roh mereka direntapkan dengan kasar. Lelaki itu menghunus sangkurnya dan menikam mati pemimpin sekte. “Pimpin anak buahmu ke neraka, iblis terkutuk!”

“Tolong, jaga anakku yang akan lahir. Beri dia nama Jacguess yang agung. Mahgdalena kalau wanita, aku suka tentang perempuan bernama Maghdalena yang ditulis Khalil Gibran.”

“Kau akan punya anak?”

“Ibunya pelacur di jalanan Guadalahara”

“Kau tertipu, Iblis! Jacguess telah mati!”

Lelaki itu menangis memanggili Jacguess agung, melolong-lolong seperti anjing serigala tua berwarna kelabu dari Balkan.
                               
&&&

Bosnia, seorang pengemis tua berambut dan berjenggot putih duduk di ujung pintu rumah sakit sehabis pembantaian oleh para tentara penguasa bermata perak, sisa kekuatan politik abad lampau yang kejam dan sadis. Bau amis darah yang mengering di jalan itu menikam penciuman.

“Kami berlindung pada Tuhan. Tuhan datang dengan wajah tak dikenal. Dia bisa dilihat pada hari kiamat seperti ketika melihat bulan. Ketika suatu hari nanti kita akan melihatnya itulah hari yang nyata di mana kita akan kekal bersama di sungai sungai yang mengalir.”

Lelaki Pedang bersimpuh.    

“Semua manusia akan digiring pada bukit yang tinggi, di mana Tuhan dapat melihatnya. Mereka akan berdiri di belakang pemimpin pemimpin yang mereka sebut dulu Tuhan tapi tak bisa berbuat apa apa, lalu mereka digiring ke jembatan yang menuju Jahannam. Tuhan akan menghukum mereka. Beristirahatlah, akan ada seorang Rasul yang pertama diberi lewat, yang sedih mengkhawatirkanmu sepeninggalnya, ikutilah dia dari bangsa mana pun.”

Lalu sangkurnya yang pendek seperti kepunyaan para

Resi dilepaskan. “Besi-besi bengkok seperti gantungan daging akan menyambar nyambar, mereka akan menyesali menentang Rasul Sang Utusan. Tuhan mengenali mereka pada wajahnya yang tak ada pada makhluk lain, maka neraka diharamkan untuk mereka.”

“Seperti apa wajahnya?”

“Kau telah melihatnya dalam mimpi.”

“Aku tak pernah memimpikannya, aku tak bisa melihatnya.”

Lelaki berjubah bangkit dan menghunus pedangnya.

“Kau hanya pintar berkata-kata karena kedatanganku!”

“Aku pernah mendengarnya, membaca riwayat dan kitabnya.”

“Kau penipu, fitnah, penghasut. Kau iblis laknat, orang munafik.”

“Terserah padamu, tapi iblis dan para munafik juga membenarkan kelahirannya adalah tanda akhir zaman yang pertama di dunia. Duduklah bersama. Sudah cukup pekerjaan para Iblis, tak perlu berapa juta manusia lagi untuk mengisi neraka sedangkan nenek moyang mereka dulu  pernah di surga.”

“Panggilkan aku nenek moyang-nenek moyang yang kau sebutkan itu!”

“Mereka selalu datang berwujud penguasa-penguasa, berebut menjadi pemimpin dan melupakan hukum-hukum-Nya, mereka menyimpan dayang wanita-wanita telanjang, raja dan ratu yang sudah kau kenal sebelumnya.”

“Mereka punya sejuta wajah?” 

“Pergilah ke Timur, kau akan temukan di selasar gedung kepolisian, seorang bocah yatim piatu, kedua orang tuanya terlunta-lunta tanpa rumah, mereka orang orang yang shaleh,  mereka segelintir dari manusia yang akan masuk surga tanpa diisap.”

“Kau sok tahu.”

Lelaki itu memejamkan matanya, malaikat di kiri kanannya memberinya penglihatan, dia lalu melihat pemandangan seperti laut,  menggelegak panas di bawah cendawan langit yang marah. Lelaki itu malu, dia sudah lama mendengar dan membaca berita lumpur itu tapi hanya mendengarnya.

Lalu dia berkelebat pergi, dan pengemis itu menangis kehilangan.
                           
&&&

Sidoarjo, di selasar kantor polisi dia menemukan seorang gadis kecil 5 tahun sedang menghitung kerikil dari balik bajunya yang sempit, lalu dia pingsan. Lelaki berjubah terhenyak, anak perempuan yang kelaparan mengganjal perutnya dengan batu di negeri timur matahari berbukit bukit hijau.

Sepeninggal lelaki itu mencari makanan gadis itu terbatuk, lendir dan busa keluar dari mulutnya.  Iblis perempuan bersama suaminya Lelembut Banaspati tiba di tempat itu ingin melarikan si gadis kecil  untuk mereka isap jiwa dan darah manisnya dari urat uratnya yang hijau.   

“Kau nakal, kau lupa bahwa paru parumu kotor karena tenggelam di Lumpur waktu ayahmu demo. Ayo kembali ke pengungsian.”

Gadis kecil itu meronta, setan-setan itu mengecup bibirnya. Lelaki berjubah tiba. 

“Hentikan Laknat!”

Sepasang setan itu bersiap melesat ke balik awan dengan gadis kecil itu yang tak bergerak dalam cengkeraman. “Ambillah!”

Setan itu melemparkan mayat si gadis kecil, lelaki itu cepat menangkapnya dan menghunus pedangnya, berkelebat bagaikan kilat.

Di atas luapan Lumpur di permukaan bejana raksasa uap racun lelaki berjubah berhasil memenggal sepasang kepala setan itu, membakarnya dengan asap racun lewat panas ujung pedangnya, hingga bak debu yang berhamburan.

Dia mengembalikan gadis itu ke selasar kantor polisi dan menampar polisi gemuk yang tertidur di posnya.

Awan-awan bergelombang di atas luapan lumpur beriringan di antara angin yang bertiup perlahan. Lelaki itu menangkap bisik-bisik awan dan lumpur yang menyembur tak henti-henti, membaca bentang kitab mereka bahwa Tuhan Allah selalu turun dini hari di sini. Tuhan beserta bala tentaranya yang tak pernah tidur mengurus makhluk-makhluk-Nya.
                               
&&&

Inilah negeri paling laknat dibanding mana pun, rakyatnya pura-pura menyembah Tuhan padahal menyembah setan dan iblis. Mereka bersekutu dengan pusaka-pusaka milik setan iblis yang mereka puja-puji, pejabatnya korupsi, ingkar janji, padahal bersumpah di atas kitab-Nya yang paling suci, mereka paling senang ke dukun-dukun yang mengaku paranormal pandai terawang nasib. Negeri ini sangat hina dina karena paling makar pada-Nya, penantang yang nyata tanpa menoleh ke hukum-hukum-Nya.

Lelaki berjubah duduk bersimpuh di selasar Masjid Tua At-Taubah, dan rumah-rumah yang akan terus jatuh dibenamkan ke tanah oleh gelegak lumpur, dia tersedu mencium jubahnya yang kelabu dan berpasir. Di tempat ini dia ingin bicara dengan Tuhan, bahwa dia ingin melihat surga yang diceritakan yang pernah didiami dan dinikmati nenek moyang segala iblis dan setan, yang mereka bilang semua sangat indah dibanding bumi tua renta bak perempuan tua yang bersolek menyambut malam ini, tapi surga itu telah mereka tinggalkan sejak dulu demi sebuah rencana besar memasukkan semua manusia ke Jahanam.

Dini hari, bulan begitu bersinar indah, kuning berkilau keemasan dan tembaga. Bukit-bukit membisu, gelegak berhenti, hewan-hewan menahan napasnya, hening. Dini hari yang sendu biru. Dia melihat seribu malaikat mulai turun dengan sayap-sayapnya yang bercahaya berkilauan, baru sekarang dia melihat makhluk-makhluk putih itu, dan seakan dia mencium bau surga yang mereka bawa, surga yang kekal, rumah-rumah dari zamrud dan mutiara, minuman susu dan daging burung terlezat yang dijanjikan untuk manusia. Mereka selalu muda, dikelilingi bidadari yang selalu perawan dan katanya para lelaki di pagi hari mereka akan meniduri seratus bidadari yang bisa kembali perawan.

Itulah tempat yang dirindukannya dan semua makhluk di bumi,  berapa lagi iblis-iblis terkutuk dari jenis manusia bodoh, serakah, mengangkat dirinya raja, pemegang pusaka setan-setan yang harus diburu, agar dia bisa kembali pergi ke sana dan menukarnya dengan surga. Surga yang dulu nenek-nenek moyangnya meninggalkannya karena tak suka ciptaan-Nya yang lain, yang mereka sebut bau dan kotor, penantang zalim yang bernama manusia. Dan takhta, surga yang sebatas hanya baru dijanjikan bagi mereka, semakin jauh dari bumi yang hijau. n
   

Lampung Post, Minggu, 11 Mei 2014

Sunday, January 5, 2014

Lelucon Negeri Maling

Cerpen Ganda Pekasih
         
SEORANG mantan pejabat korup yang terserang penyakit “lupa” dan terkenal selama hidupnya pintar bersilat lidah baru saja meninggal dunia, keluarganya segera hendak memakamkannya hari itu juga. Tapi para aktivis antikorupsi dan penyidik KPK yang datang melayat ke rumah duka segera menolak.

“Tunda penguburan hingga tiga hari ke depan, kita harus memastikan dia pura-pura mati atau memang sudah mati beneran.”

&&&

Seorang koruptor tahanan KPK mengeluh sakit gigi dan ingin giginya dicabut di rumah sakit swasta langganannya, ketua KPK memerintahkan segera membuatkan surat jalan untuk berobat, tapi ditunjuk rumah sakit pemerintah yang terkenal pelayanannya sangat buruk, ketua KPK juga memberi memo di secarik kertas untuk dokter yang akan memeriksa gigi si koruptor:

Kalau terpaksa giginya dicabut, harap jangan pakai obat bius demi penghematan uang negara.

&&&

Seorang perempuan mantan gubernur bank tengah malam menelepon penasihat spiritual pribadinya.

“Bapa, saya tidak bisa tidur mengingat semua korupsi yang sudah saya lakukan, tolong beri nasihat saya biar saya bisa tidur.”

Telepon di seberang menjawab.

“Wah, nyonya salah sambung.”

“Nomer Anda sudah sangat saya hafal Bapa. Mana mungkin saya salah sambung.”

“Ya ampun nyonya, Anda salah sambung.”

“Bapa, sudah tidak zamannya lagi sekarang berbohong.”

“Ya ampun Nyonya, saya katakan Anda salah sambung, saya ini bukan penasihat spiritual Anda, tapi salah satu ketua KPK yang baru dilantik kemarin.”

“Hah, jadi Anda salah satu ketua KPK yang baru dilantik itu?”

“Betul!”

“Kalau begitu Anda betul, saya memang salah sambung!”***

&&&
   
PILKADA: para calon terdiri dari anggota DPR, mantan menteri, pejabat tinggi, bahkan kepala polisi yang sebentar lagi pensiun, mereka bertarung memperebutkan kursi gubernur, pada saat pendaftaran terakhir, salah satu ketua KPK yang masa tugasnya akan berakhir ikut mencalonkan diri sebagai wakil independen.

Setelah penghitungan suara selesai, ketua KPU setempat memberitakan bahwa ketua KPK yang akan berakhir masa tugasnya itu dinyatakan sebagai pemenang.

Calon-calon yang kalah kemudian mengakui kekalahan mereka dengan senang hati dan mengatakan: 

“Kami mengakui kekalahan kami dan merasa menjalani hidup ini lebih tenang.”

&&&

Seorang terdakwa koruptor yang sedang menjalani penahanan di penjara masih kukuh bahwa dirinya merasa tidak bersalah telah melakukan korupsi, dengan berapi-api jika ditanya wartawan dia menjawab tegas.

“Jadi Anda benar-benar merasa tidak bersalah?”

“Tidak!”

“Tidak melakukan korupsi?”

“Tidak!”

“Tidak merasa merugikan negara?”

“Tidak!”

“Tapi Anda sekarang sudah masuk penjara, Bung? Vonis sudah dijatuhkan.”

“Aku tetap harus konsisten!”

&&&

Pak Dirjen mengeluh tentang keluarganya kepada bawahannya, Pak Gabus.

“Aku tak mampu menjaga anak-anak dan istriku lagi dari hidup boros dan berfoya-foya, mereka terus membeli apa saja setiap hari.”

“Itu biasa, kita juga waktu anak-anak banyak maunya, kan?”

“Kau benar, eh kalau boleh aku tahu dulu cita-citamu jadi apa sehingga kau sekarang sangat kaya?”

“Dulu aku cuma bercita-cita jadi maling kecil-kecilan saja!”

“Kalau begitu kau sekarang hebat ya, sudah bisa jadi maling gede-gedean.”

&&&

Seorang terdakwa korupsi setelah persidangan yang melelahkan bertanya kepada ahli hukumnya.

“Apakah yang dimaksud dengan kebenaran sejati di dunia ini?”

“Jangan sok bermoral, kalau kesalahanmu kubuka lebar-lebar kau bisa masuk penjara minimal dua puluh tahun.”

&&&

Seorang ibu muda yang baru saja mendapat transfer uang ratusan juta dari suaminya tergopoh-gopoh memasuki sebuah bank. “Tolong, saya ingin membuka rekening.”

“Baik, Bu. Silakan diisi formulirnya.”

“Saya ingin buru-buru memindahkan uang saya ke rekening yang baru,” celoteh si Ibu dengan gembira.

“Hm Ibu pasti nasabah yang bonafide, apa rupanya kerja suami ibu?”

“Dia pejabat di kantor pajak.”

“Oh... pantas.”

Tiba-tiba si ibu terkejut.

“Saking terburu-burunya saya lupa apa nama bank ini?”

“Bank Mutiara, Bu.”

“Wah saya enggak salah masuk, namanya saja sudah bagus sekali.”

“Dulu nama Bank ini Century, Bu.”

“Century? Kalo gitu enggak jadi ah, saya cari bank yang lain saja. Di sini pasti tidak aman.” Si ibu tergopoh-gopoh lari keluar.
Petugas bank ngedumel keki.

“Dasar istri maling!”

&&&

Seorang koruptor yang diburu buru intel KPK datang ke seorang paranormal untuk minta penjagaan gaib agar aman, si paranormal  segera merapal mantera lalu memberi bunga tujuh rupa.

“Ayo mandilah dengan air kembang ini?”

“Di mana mandinya Mbah, di rumah apa di sini?”

“Di jalanan, biar ditonton orang rame-rame abis itu ditangkap polisi.”

&&&

Bagaimana cara mengenali mobil seorang koruptor di jalan raya? Lemparkan sebuah batu, maka pasti batu itu akan menimpa mobilnya karena saking banyaknya mobil yang lewat di jalan hasil korupsi!

&&&

Seorang pejabat yang seharian diperiksa di KPK pergi makan siang dengan seorang pengacaranya.

“Kau punya ide kita makan apa siang ini?”

“Karena Anda sedang gelisah aku anjurkan soto kudus saja Tuan. Siapa tahu setelah itu nanti semua bisa jernih melihat masalah ini.”

“Kenapa soto kudus?”

“Kudus kan artinya suci, Tuan.”

&&&

Seorang koruptor kakap buronan KPK tertangkap di kota persembunyiannya, intelijen KPK yang menangkapnya segera membawanya ke Jakarta. Di dalam pesawat terbang yang membawa mereka si koruptor berceloteh dengan bangga.

“Tadi pagi aku sarapan bubur di Manado, siang tadi aku makan nasi bebek di Surabaya, sekarang aku menonton video di pesawat di atas Yogyakarta, nanti sore aku pasti minum kopi di Jakarta bersama kepala polisi di kantornya, beruntung sekali hidupku.”

“Ada yang ketinggalan, Bung,” sela intelijen KPK.

“Apa?”

“Malamnya Anda akan tidur di tahanan KPK.”

&&&

Seorang istri pegawai korup tergopoh-gopoh mencari anak lelakinya yang kecanduan narkoba.

“Aduh gawat! Kau tahu di mana anakku? Aku harus membikin sarapan suamiku,” tanya si ibu kepada tetangganya.

“Apa yang dibawanya?”

“Tabung gas.”

&&&

Seorang pejabat yang punya sakit jantung dan darah tinggi suatu hari terjungkal dari sepedanya saat berolahraga di perumahan tempat tinggalnya. Pejabat itu lalu memaki-maki polisi tidur yang membuatnya terjatuh.

Tak lama kemudian polisi tidur itu bangun.

Dan jantung si pejabat kontan berhenti.

&&&

Pak Robet seorang koruptor dan makelar yang santun, setiap berhasil korupsi dia selalu mendatangi gereja membuat pengakuan dosa.

Suatu hari Pak Robet dicari-cari KPK, dia sangat takut sekali, maka dia pun lari bersembunyi. Dalam persembunyiannya suatu hari dia mendatangi gereja langganannya untuk membuat pengakuan dosa seperti yang selalu dilakukannya.

Tapi alangkah kagetnya Pak Robet setelah dia membuat pengakuan dosa, pastor yang sudah lama dikenalnya itu keluar dari biliknya, ternyata dia bukan pastor langganannya, tapi penyidik KPK. 

Pak Robet panik. “Di mana pula pastor langgananku itu?”

Pastor palsu itu menjawab. “Beliau sedang menunggumu untuk sama-sama membuat pengakuan dosa di kantor KPK.”

&&&

“Kudengar kau diceraikan suamimu si koruptor tua yang ngaku lagi sakit ambein itu anakku?”

“Benar, Pak.”

“Lalu apa yang sudah kau dapat dari dia?”

“Menyerahkanku ke koruptor yang lebih muda, Pak.”

“Dasar menantu sialan! Semoga dia kena ambien seumur hidup! Terkutuklah mereka semua jadi batu!” n
    

Lampung Post, Minggu, 5 Januari 2013

Sunday, June 30, 2013

Mayat-Mayat Dari Lubang Gunung

Cerpen Ganda Pekasih


KABUT di kaki gunung itu mulai tersibak, keping keping sawah tercetak indah seperti harapan, sungai jernih mengalir di antara lembah bukit dan pagi menampakkan keindahannya, memacu gairah bagi ratusan Gurandil mulai membuka pintu pintu lubang di perut gunung itu seperti semut semut hutan yang memasuki sarangnya.

Mereka orang orang dari sekitar desa desa di kaki gunung itu, dengan hanya membawa linggis, cangkul, mencari urat emas. Sore hari mereka memanggul karung karung berisi kerikil, memecahkannya menjadi pasir yang lalu dipisahkan lagi dengan mercuri untuk mendapatkan satu atau dua gram emas layaknya memisahkan nasib dari kemiskinan, tapi tak jarang karung karung itu akan berisi mayat dari kawan kawan mereka yang mati tertimpa reruntuhan lubang yang mereka gali sendiri.

Mereka menggali tak memperhitungkan maut yang bersembunyi seperti hantu, lubang dibuat seadanya tanpa pengaman, berbeda dengan perusahaan resmi yang juga mencari keuntungan di perut gunung itu, kadang terowongan bisa menembus areal terlarang, dan itu bisa memicu konflik. Lubang lubang para Gurandil pun harus ditutup, tapi mereka akan membuka lubang yang baru lagi.

Lelaki berperawakan tinggi besar itu termenung di pinggir nyala api dari tumpukan kayu yang dibakar, dia sedang tak bersemangat, sudah beberapa bulan ini dia lebih banyak rugi, tak ada penggali yang beruntung untuk diperdaya oleh kelicikannya. Entah kenapa para penggali lama tak menemukan urat emas yang membuat mereka mendadak untung belasan juta rupiah dalam sehari.

Muncul di kesunyian itu seorang lelaki, Sarban, bayangan tubuh kurusnya tercetak di antara lidah api dan bulan yang bersinar, lelaki tinggi besar itu seperti mendengar suara detak jantung Sarban yang berdegup kencang karena berlari jauh, itu mungkin juga dikarenakan sebuah temuan, pikirnya, tapi rasanya tidak, mungkin dia mau meminjam uang lagi, hutang kelompoknya sudah menumpuk, tiap hari cuma membawa satu dua karung berisi kerikil, butuh proses lama untuk mendapatkan satu gram emas, tagihan tak bisa lunas sementara hutang baru mengejar seperti mimpi buruk. Sudah lama tak ada temuan menyilaukan mata yang menghebohkan, nasib baik jarang memihak mereka, sementara pengolahan resmi mempunyai cara yang hebat untuk menemukan kilauan itu.

“Sarban, ke sini!” pinta lelaki itu.

Sarban mendekat dan berdiri di depan perapian, menghadap lelaki tinggi besar itu yang baginya seorang manusia pencekik leher, dia memodali mereka menggali, tapi semua penghasilan para Gurandil dia yang lebih banyak untung,  seenaknya dia memberi harga untuk segram emas yang sudah terpisah dari pasir yang semula hanya berisi sekarung penuh.

Orang ini tak bisa  lagi membantu disaat genting, pikir Sarban, dia rentenir tak bisa dipercaya dan keji, dia akan menyesal dan aku akan membalas kelakuannya selama ini. Sarban sudah menghitung urat emas yang ditemukannya, paling sedikit lima belas juta rupiah akan dia terima, dan cukup dalam empat karung saja yang akan dia keluarkan dari lubang itu, tapi orang ini pasti menekan harga yang jauh dari pantas jika dia tawarkan sebelumnya, dan sekarang dia cuma akan mendapatkan bagian untuk dibalas.

Sarban akan menipu si Licik ini dengan meminta 50 persen dimuka. Gunung yang kaya ini milik leluhurnya, sebelum emas ditemukan mereka turun temurun hidup damai berladang dan bertani yang hasilnya melimpah, sekarang orang orang datang entah darimana saja, modal deras masuk bersama barang barang hiburan dan nimuman keras. Gunung tak sejuk lagi tapi bopeng bopeng disesaki kejam kehidupan.  Rentenir, buruh angkut, tukang pukul, pembuka lubang bergumul saling sikut, saling injak.

“Hei Gurandil, bicaralah, jangan seperti Anjing Kurap menunggu tulang!”

Sarban geram dipanggil Anjing Kurap, tapi begitulah cukong, mereka penguasa yang punya uang untuk modal menggali, tidak menggali tidak  dapat emas, tak dapat emas akan mati kelaparan. Mereka menghisap kekayaan segram demi segram dari gunung leluhur kami, mereka tahu perut gunung banyak menyimpan emas, caranya dengan menggali, dan Gurandil harus bekerja kesetanan.  Mereka sering berkata, kita berpacu dengan waktu, tak mau semua emas habis diraup perusahaan resmi yang dananya dibantu luar negeri,  membuat Gurandil bersemangat. Sementara cukong menjadikan mereka budak yang kakinya dirantai belitan hutang. 

Sarban menjatuhkan linggisnya, si Tinggi Besar berwajah kejam itu  mendekatinya. Mereka berhadapan dalam cahaya api unggun yang melemah walau ditiup angin karena tak ada kayu yang dosorongkan lagi. Sarban memperhatikan mata lelaki itu, yang biasa mengabarkan kenaikan harga mercuri dengan tiba tiba, segram emas menjadi setengah gram emas dengan culas, Sarban tahu orang didepannya tak akan memberikannya  sepuluh atau lima belas juta rupiah malam ini, tapi dia tak boleh melihat urat emas itu, ini hanya sebagai pancingan bahwa karung karung berisi urat emas yang sudah diraup akan dikirim ke pengolahan miliknya karena lokasinya paling dekat dengan lubang itu.

Tiba tiba lelaki itu tertawa lebar. “Berapa karung?” katanya memancing dan dia memang jagoan dalam permainan ini.

Sarban mencoba tersenyum. “Paling banyak empat.”

Dan lelaki itu tambah kuat tertawa.

“Bawa cepat ke tempatku, aku beri sepuluh  persen sekarang, jarang aku berbaik hati seperti malam ini bukan?”

Tanpa menunggu persetujuan Sarban lelaki itu mengeluarkan uang sejuta lima ratus ribu rupiah dari kantungnya dan menyodorkannya.

“Cepat kau antarkan, sisanya nanti setelah semua urat emas itu kuteliti.”

Sarban merasa akhirnya kemenangan besar berpihak padanya malam ini, dan dia akan dikenang dengan keberanian sekaligus kemampuannya membuat sebuah karya yang akan menjadi legenda di gunung ini.  Dengan uang yang diterimanya itu kemudian dia pun berlari.

Sarban meruntuhkan pengaman lubang yang dipasang pengolahan resmi yang sudah membeli urat emas itu lebih dulu, lalu mulai memanggul karung pertama dari mulut gorong gorong, hanya pengolahan milik lelaki culas itu yang paling dekat. Dia tak ingin meruntuhkan dinding dinding lobang yang memang mudah runtuh karena lubang yang dibuat Gurandil seadanya tanpa alat pengaman.

Di dalam gorong-gorong itu sebelumnya mereka bertarung dengan maut seperti yang sudah sering dia jalani,  dan maut acapkali yang sering memenangkan pertarungan.  Sarban tak ingin rekan rekannya terkubur selamanya di sana. Urat urat emas itu sebenarnya sudah terkumpul dalam 4 karung besar sejak sore tadi, Sarban pun sudah lebih dulu mengangkutnya ke luar dan dibayar dua belas juta rupiah. Isi karung karung itu sudah diteliti oleh perusahaan resmi, mereka pun sudah membayarnya, itu sudah terlalu istimewa karena biasanya mereka malah lebih sering merampok temuan Gurandil dengan mengklaim lubang galian masuk wilayah mereka. Urat emas yang ditemukan Sarban berikut alirannya yang tersisa kini sudah jadi milik mereka,  bayaran untuk teman temannya jadi urusan Sarban karena dia ketua kelompok.

Karung pertama yang berisi mayat salah satu rekannya sudah sampai di pengolahan milik si Culas, dia ada di sana, memperhatikannya dari atas bukit, dan itu sudah diduga Sarban, Sarban kini berpacu dengan waktu, beruntung dia karena lelaki itu tidak segera memeriksa isi karung, dia hanya memperhatikan dari kejauhan. Tapi Sarban tahu, pada karung yang ke empat lelaki itu pasti akan memeriksanya, dan jika dia ketahuan bohong, maka nyawa taruhannya.

Sarban kembali harus mengeluarkan karung karung berisi mayat teman temannya, dia ingin mereka dikubur dengan layak sebagai penghormatan terakhir, mereka tidak boleh membusuk di lubang galian itu. Uang telah di dapat dan dendam mereka semua kepada orang orang seperti si Culas akan tuntas.

Karung yang ke empat Sarban tak menggotongnya ke pengolahan si Culas, dia hanya meletakkannya di depan mulut lubang, lalu dia meruntuhkan jalur tengah lubang agar orang orang mengira ada yang terkubur di ujung galian sehingga  dia punya banyak waktu pergi sejauh mungkin,  orang orang perusahaan resmi pasti tahu Sarban yang melakukannya setelah Mayat mayat itu dikenali, tapi Sarban yakin mereka akan membiarkannya dan menjaga rahasia walau untuk beberapa jam ke depan karena mereka tak suka berurusan dengan aparat yang juga sama sama culas di area ini.

Sebelum subuh nanti dia sudah harus sampai sejauh mungkin dari gunung ini, dengan kereta pertama yang berangkat dari stasiun tua itu dia akan melarikan diri ke kota impiannya.

Si Culas tak sabar menanti karung ke empat yang dibawa Sarban, dia sudah membawa senter untuk memeriksa karung karung itu, dia menyesal telah memberikan Sarban uang muka, walau itu terlalu kecil jika dibandingkan temuan urat emas yang selama ini tak pernah kurang dari limabelas juta rupiah bersih. Reaksi dari keterkejutannya bahwa akhirnya ada Gurandil yang menemukan urat emas yang makin sulit ditemukan akhir akhir ini membuatnya cepat cepat merogoh saku dengan mudah.

Dia cepat membuka karung pertama yang menyadarkannya bahwa karung itu bentuknya terlihat aneh, seperti bukan berisi batu kerikil apalagi pasir. Dan ketika ikatan karung itu terlepas, sesosok kepala berlumuran darah jatuh ke bawah kakinya. Lelaki ini, walau sudah biasa melihat mayat mayat Gurandil yang dikeluarkan dari lubang galian yang runtuh tak bisa menahan keterkejutannya.  Dia segera meradang dan berteriak tereak seakan ingin membangunkan siapa saja yang ada di gunung itu, memuntahkan makian dan cacian cacian keji bahwa ada orang yang telah begitu berani menipunya.

Sarban kini sudah punya cukup uang memulai kehidupan baru, mimpi yang sudah lama ingin diraihnya. Tiga belas juta limaratus ribu rupiah termasuk uang dari si licik itu, bahwa dia tak akan kembali ke gunung yang perutnya mengandung urat urat emas yang baginya adalah kutukan, puluhan bahkan ratusan tetangga tetangga kampungnya telah bercerai berai, mati di tengah reruntuhan, atau mati mabuk minuman keras setelah mendapat urat emas.

Kereta api Sarban melaju, berpacu dengan waktu, keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya, tapi dia merasakan sebuah ketenangan luar biasa karena semua rencananya telah berjalan sempurna.
Beberapa rekan Sarban rupanya menyusul dari gerbong belakang,  Sarban terkejut melihat kehadiran mereka, bukankah mereka telah jadi mayat dan ada di dalam karung karung yang terikat itu? Yang telah dia jual ke Cukong Culas yang ternyata begitu mudah tertipu dan akan jadi tertuduh pertama.

Poleng lebih dulu membunuh Jafar tengah malam tadi, dia sendiri bertugas membunuh Woko yang gempal, lalu tanpa setahu Poleng diam diam Sarban menghabisinya. Sarban sengaja mengkhianati Poleng,  merampas rencana pertama mereka yang tadinya akan membagi dua uang itu.

Bersukur mereka masih hidup? Orang yang duduk di sebelah bangku yang diduduki Sarban juga membisu dengan linggis dan pahat di tangannya. Sarban merasa ia menaiki kereta yang salah, ini mungkin kereta yang suka diceritakan orang orang, para penggali pendatang dari daerah lain yang mati di gunung suka kembali ke kampungnya dengan naik  kereta dari stasiun tua.

Tapi mengingat orang orang perusahaan resmi adalah yang paling serakah, bak robot yang dihidupkan untuk menembus perut gunung dengan kekuatan laksana monster, dia tersentak. Mereka juga yang  menyebabkan banyak kematian Gurandil dengan meruntuhkan lubang lubang ilegal, mereka pembunuh culas penghisap isi perut gunung sebanyak mungkin, bahkan sering merampok temuan para Gurandil.  Kengerian menyantakkan Sarban ke dalam kesedihan aneh, impiannya tiba tiba terasa memudar seperti kabut.  Sarban ragu dirinya masih hidup.

Kereta terus melaju seperti menuju lorong kegelapan, wajah wajah mereka semua pucat dan  tergugu dalam gerbong hitam berkarat karat.  Tapi Sarban masih merasa yakin akan tiba di kota impiannya, untuk memulai kehidupan baru, entah kalau kepergiannya kali ini bersama teman temannya adalah sebuah mimpi buruk, bahwa dirinya adalah bagian dari sekumpulan mayat mayat dari lubang lubang gunung yang terkutuk. n
          

Lampung Post, Minggu, 30 Juni 2013

Sunday, June 12, 2011

Cincin dari Kota

Cerpen Ganda Pekasih


Sudah lama Boma ingin pulang ke kampungnya di Tanjungsari, tapi cincin yang asli belum terbeli, senyum emaknya ketika menerima cincin imitasi itu masih terbayang-bayang, terpancar hangat lewat binar mata tuanya yang semakin dikelilingi keriput.

Kabar tentang cincin imitasi itu kini membuatnya selalu bertanya-tanya, menyelusup di antara hujan, terik matahari, kawat berduri, sepatu lars tentara yang berbaris baris. Apa sekarang emak sudah tahu kalau cincin itu palsu?

Emak seorang janda tua yang bekerja di ladang milik orang orang kota yang menyewakan tanah-tanah mereka untuk digarap, ditanam cabai dan kacang tanah jika musim panas, melon dan semangka bila musim hujan. Emak tinggal di rumah gubuk sederhana, sebatang kara.

Mulanya Boma terenyuh melihat seorang perempuan tua di mal membeli cincin imitasi, tapi sialnya Boma jadi berpikir ada baiknya juga membelikan cincin imitasi itu untuk emak.

Sangat indah perhiasan-perhiasan yang ditata rapi di dalam etalasi kaca itu. Hanya ini yang bisa kuberikan untuk emak, pikirnya. Maka dia belikan emak sebuah cincin berkilau seberat sepuluh gram, warnanya sama seperti emas dua puluh empat karat yang banyak dipakai ibu-ibu Madura yang tinggal di dekat markas aktivis. Maafkan aku Mak, hari ini kubeli yang imitasi dulu, cuma seratus lima puluh ribu rupiah. Nanti kalau aku sudah jadi orang pasti kubelikan yang asli.

Kini dua tahun sudah sejak dia pulang membawa cincin imitasi itu, masih terbayang senyum bangga dan bahagia wajah emak, cincin itu langsung dipakainya.

&&&

Emak sedang asyik menyiangi tanaman jagung, tubuhnya tenggelam di dalam jajaran tanaman itu saat membungkuk. Orang-orang biasa memanggilnya Mak Endah. Bertahun-tahun dia mengambil upahan mengerjakan ladang-ladang milik orang kota, upahnya hanya cukup untuk makan sehari. Tak bisa untuk membetulkan dinding dan atap rumah yang semakin bocor, apalagi mengembalikan sawah dan ladang ladang yang sudah lama tergadai.

Dulu, ketika suaminya masih ada, mereka masih mempunyai tanah dan ladang yang bisa ditanami sendiri sesuka hati, Boma anaknya sekolah hingga SMP di Tanjungsari sebelum melanjutkan SMA ke Jakarta ikut pamannya yang berjualan sepatu buatan Bandung.

Lalu Boma jarang pulang, bisa dihitung dengan jari kedatangannya. Mak Endah ingat ketika Boma membawa pulang izajah SMA-nya beberapa tahun lalu, hasil keringatnya membantu pamannya, lalu berturut-turut dia pulang setahun sekali, lalu katanya dia kuliah di sebuah universitas swasta dan menjadi aktivis mahasiswa yang suka berdemo, kemudian tak terasa dua tahun lebih sudah dia tak pulang lagi, terakhir dia pulang membawa cincin emas sepuluh gram dua puluh empat karat.

Jika dia ingat ketika terakhir kedatangannya, Boma pulang dengan banyak bekas luka di tubuhnya, lebam-lebam biru menghitam yang membuatnya merinding melihat bekas luka luka itu.

Tapi si emak bersyukur Boma berbakat seperti bapaknya yg dulu pernah menjadi pesuruh kepala desa yang jujur, yang suka membantu kepentingan masyarakat tanpa pamrih.

Mak Endah tak memiliki apa yang dibanggakannya kecuali cincin pemberian Boma itu, cincin itu jarang dia pakai, kecuali jika ada pengajian dua minggu sekali di masjid ujung desa seberang, atau jika diundang bantu-bantu memasak orang yang hendak hajatan.

Atap dapur itu bocor semakin merata, air hujan menggenangi tempat tidurnya, hanya cincin itu satu-satunya yang bisa memperbaiki atap itu sebelum dinding-dinding lainnya tambah keropos. Inilah saatnya, pikir Si Emak, walau berat hati.

&&&

Di Pasar Kecamatan emak langsung masuk ke dalam Toko Emas Mulia Indah. Si pemilik toko segera menerima cincin itu, memperhatikannya sejenak kemudian memeriksa keasliannya dengan menggosokkannya ke batu asah. Bahkan hingga beberapa kali. Lalu beberapa saat sambil menatap wajah si emak dia berkata, "Maaf, Mak, ini bukan emas, ini imitasi."

"Imitasi?" tanya emak tersentak.

"Iya, Mak."

Si emak tak percaya, dia segera mencari toko emas yang lain, kebetulan di situ ada kantor pegadaian, si emak masuk dan berubah pikiran ingin menggadaikan saja cincin itu, si petugas rumah gadai menyuruh si emak mengisi formulir, si emak yang ragu meminta petugas itu memeriksa cincinnya terlebih dahulu.

Si petugas dengan ramah bersedia memeriksa cincin itu dan menyuruh si emak duduk menunggu, beberapa menit kemudian si emak dipanggil.

"Maaf Mak, setelah kami periksa cincin ini palsu, Mak, imitasi...."

Si emak mencoba tersenyum dalam pias wajahnya yang malu yang kini tak bisa dipertahankannya lagi, lalu dia menjawab pendek, "Terima kasih...Mak cuma merepotkan saja...."

"Tidak apa apa, Mak..."

Si emak berbalik, langkahnya gontai. Si Emak teringat Boma, pandangannya berkaca-kaca. Dia tidak marah pada Boma, dia malah bertambah kangen dengan anak semata wayangnya itu. Kalau Boma pulang nanti dia ingin sekali memeluknya erat, anak yang dia lahirkan di saat usianya sudah empat puluh tahun.

&&&

Di sebuah mal Boma sangat gembira memperhatikan cincin cincin emas di dalam etalase. Tapi yang ini bukan barang imitasi. Boma lalu membeli cincin dan kalung emas itu untuk si emak lalu berangkat ke Tanjungsari walau besok dia harus memimpin demo besar. Jabatan sebagai ketua aktivis baru saja didapatnya seminggu yang lalu, dua puluh juta rupiah cash ada di kantongnya hari ini untuk seratus orang yang harus dibayarkan segera sebagai jaminan ikut demo besok pagi.

Dalam demo besok Boma membela seorang pejabat yang akan diperiksa di kantor KPK, begitu perjanjiannya, tapi kini Boma sudah lelah, dia akan berhenti membela para pejabat pejabat brengsek itu. Pejabat itu merampok uang negara tak tanggung-tanggung, mereka lupa diri, serakah, dan tidak memikirkan kepentingan rakyat, dan kini apa salahnya aku merampok sebagian kecil saja dari mereka.

Dulu dia tak tahu untuk apa berdemo kecuali demi sesuap nasi menyambung hidup. Siapa yang membayarnya maka dia akan turun ke jalan. Ketuanya selalu bilang: "Kita berjuang untuk rakyat dan hati nurani."

Hari ini dengan segala risiko Boma memilih mundur sebelum kabur ke Malaysia, dan demi cincin imitasi yang dulu dia beli yang ternyata tak pernah berhenti meneror batinnya, dia akan menggantikannya dengan yang asli.

Emak tak boleh menuduhku cuma seorang penipu, seorang pejuang rakyat tak boleh dituduh tak bersih apalagi oleh orang yang telah melahirkannya dengan susah payah. Dengan mantab Boma keluar dari mal itu lalu menelepon sopir mobil sewaannya yang menunggu di luar. Sejauh ini semua rencananya berjalan lancar.

Tak lama kemudian mobil datang, Boma cepat naik dan langsung menyuruh supirnya tancap gas. Boma tak sabar ingin segera berjumpa dengan emak dan mencium tangannya yang bercincin mas asli sepuluh gram berkadar dua puluh empat karat yang nanti akan dipakaikannya sendiri ke tangan emak lalu memohon maaf tentang cincin imitasi yang dulu dia berikan. Tapi Boma harus lolos lebih dulu dari kota ini karena anak buahnya sudah tahu soal pembayaran uang demo ini kemarin, dan mereka tak kenal rasa takut, bahkan rela mati jika tahu ternyata aku melarikannya sementara mereka sudah mengumpulkan kawan-kawan.

&&&

Nyaris senja menyungkup Tanjungsari menjelang si emak mengakhiri pekerjaannya ketika sebuah mobil diiringi seorang pengojek sepeda motor berhenti di tepi jalan, jantung Mak Endah berdebar-debar ketika seorang lelaki turun dari mobil mendekatinya dengan terburu-buru.

"Benar ini Mak Endah?" tanya lelaki yang membawa mobil itu.

Mak Endah mengangguk. Lelaki itu lalu mendekati pengojek sepeda motor, memberikannya uang lalu menyuruhnya pergi. Setelah pengojek pergi menjauh, lelaki itu kembali mendekati Mak Endah.

"Mak, ini ada titipan dari anak emak, Boma, mohon diterima. Tadi pagi dia bersama dengan saya, tapi di tengah jalan kami dihadang anak buahnya, terjadi perkelahian, dan Boma...."

"Kenapa Boma?"

"Ah, tidak apa-apa, Mak!"

"Cepat katakan!"

"Tidak apa apa, Mak. Ayo ambil ini, ini tugas saya untuk mengantarkannya kepada Emak, dan saya harus segera kembali ke Jakarta secepatnya!"

Si emak menerima titipan itu dengan perasaan tak menentu, lalu lelaki itu berlari cepat ke mobilnya dan tancap gas.

Mak Endah termangu-mangu dan serbaheran memandang kepergian mobil itu hingga lenyap di turunan bukit-bukit, tapi jantungnya berdebar tak keruan, lalu dia penasaran membuka bungkusan kertas plastik di tangannya, tampak kotak perhiasan yang cantik, segera dia buka kotak itu.

Mak Endah tercengang melihat cincin dan sebuah kalung bercahaya sangat indah di dalamnya, matanya nyaris tak berkedip, tapi mengingat cincin imitasi yang tak laku itu seketika hatinya pun patah tak percaya. Boma..., Boma..., ucapnya lirih. Permainan apa pula yang sedang jalankan anakku?

Baginya hanya ada satu pertanyaan mengganjal, di mana Boma? Dan apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia gagal pulang?

Sesungguhnya Mak Endah lebih bahagia melihat Boma pulang daripada mendapatkan cincin dan kalung yang membuatnya nanti akan kembali dibuat malu. Mak Endah lalu memasukkan benda-benda itu ke lubang tanaman bersama biji-biji jagung terakhir yang masih tersisa di tangannya. Kemudian ditimbunnya pelan-pelan dengan tanah galian lubang itu seperti lubang-lubang lainnya.

Angin yang bisu seperti biasa bertiup bersama gontai lelah kaki Mak Endah pulang ke gubuknya, dalam siraman cahaya senja yang merah merona berwarna rindu, dia hanya ingin Boma pulang, pulang tanpa lebam-lebam biru apalagi luka pada tubuhnya seperti dulu, cuma itu.... n


Lampung Post, Minggu, 12 Juni 2011

Sunday, February 7, 2010

Sang Suami

Cerpen Ganda Pekasih

SANG suami tiba-tiba merasa bahwa segala usahanya mencari harta dan kekayaan sia-sia. Ia mempunyai istri yang dirasanya kini hanya menghabiskan tabungan dan penghasilannya saja. Dua anaknya yang masih berusia balita juga sama. Baginya mereka meminum susu yang sangat mahal, yang tak pernah dibayangkannya kini harganya terus melambung. Sang Suami ingat dulu ketika kecil dia tidak pernah diberi susu formula oleh kedua orang tuanya yang hidup miskin. Jadi untuk apa susu susu itu, karena tidak minum susu pun dia sekarang bisa hidup.

Suara istri dan rengekan uang jajan anak anaknya yang kelas empat sekolah dasar itu pun kini terasa sakit di telinga. Tangis anak bungsunya yang berusia dua tahun itu pun terasa sumbang pula. Sang suami merasa sumpek dan tak menikmati lagi ritme-ritme berbeda dari suara suara itu yang dulu menjadi obat pelipur lara dan kekagumannya akan Sang Maha Pencipta, yang menitipkan anak-anak padanya yang pernah dia sebut sebagai anak anak keajaiban.

Istrinya muncul di pintu kamar. Kebiasaannya hari-hari belakangan ini setelah sang suami bertingkah aneh, tergesa menanyakannya kenapa ia belum berangkat ke kantor. Aku bekerja tidak mendapatkan apa-apa, kata sang suami dalam hati, wajah si istri tampak kuyu dan lelah. Untuk apa sebenarnya aku bekerja? Pikirnya lagi. Karena dengan adanya istri dan anak-anak, banyak keinginan dalam hidupku tak mampu kumiliki, pikirnya.

Ia merasa hanya punya rumah sederhana dengan dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi dan ruang tamu serta secuil halaman. Mobil tua tahun 90-an yang sama sekali tak bergengsi lagi karena setiap jalan yang dilaluinya kini terasa sempit oleh mobil-mobil baru dan mewah. Dia mestinya bisa memiliki apa pun jika sejak lama tak ada anak-anak dan istrinya, yang semuanya hanya bisa menghabiskan penghasilannya.

Pikiran macam apa yang datang menggangguku, pikir sang suami gelisah, hari harinya dia rasakan hanya berisi kejenuhan dan rutinitas yang tak berpindah. Bangun pagi, sarapan, bergaul dengan istri dan anak-anak. Urusan rutin kantor, tetek bengek ini itu, lalu malam panjang senyap menghantam. Ia gelisah, katanya rumahku surgaku, tiba di rumah, dirinya merasa seperti hiasan tanduk kepala rusa kering yang ada di tengah tengah rumah mereka, waktu telah tercecer entah ke mana.

Lalu....

Dia pernah menanyakan kepada teman-temannya tentang masalah yang dihadapinya. Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa pikiran yang kini bersemayam di kepalanya semacam tekanan atau stres yang akan bisa mengakibatkan kemunduran loyalitas dalam banyak hal. Ada yang bilang dia disorientasi atau telah kehilangan haluan hidup.

Seharusnya istri dan anak-anaknya tetap menjadi motivasi terbesar dan memaknai semua permasalahan kehidupan sebagai ujian yang bersandar kepada-Nya. Semua yang datang dari-Nya adalah titipan yang harus dijaga. Berbahagialah orang yang dititipkan karunia-Nya demi keberlangsungan ciptaan-Nya.

Tapi beberapa temannya yang lain ada juga yang berpikiran sama dengannya, bahwa untuk apa memelihara istri dan anak-anak, segala kebutuhan apa saja toh bisa dilayani pembantu. Urusan beres-beres rumah, cuci, sarapan sampai urusan ranjang bisa disiapkan orang lain. Mereka bisa dibayar dan mengerjakan apa yang dibutuhkan untuk paruh waktu. Sementara uang yang dihasilkan bisa bukan hanya untuk memelihara pembantu, melainkan membeli apa saja untuk kenikmatan, gengsi, dan kehormatan.

Sang suami merasa gembira bahwa pikiran itu ternyata tidak dimiliki dirinya semata, ada beberapa rekannya yang juga punya pikiran yang sama, istri dan anak-anak pada saatnya hanya akan menjadi beban saja. Jangan harapkan imbalan dari mereka, mereka memiliki jiwa dan raga sendiri, mereka ibaratnya anak panah yang lepas dari busurnya dan anak panah tak akan kembali setelah dilepaskan.

&&&

Sang suami, bersama rekannya duduk santai di sebuah kafe, melepaskan beban bekerja untuk selusin target yang harus dicapai. Mereka terperangkap seperti ikan dalam bubu pikiran yang mereka ciptakan sendiri. Mereka minum bir dan merokok ditemani seorang pelayan kafe yang cantik, berpakaian seksi dengan atasan yang menonjolkan belahan buah dadanya. Sang pelayan rajin menuangkan bir dingin ke gelas dua orang sahabat itu yang merasa berat sekali untuk pulang ke rumah.

"Minggu depan aku akan keliling Jawa, audit beberapa usaha rekanan, jadi aku tidak pulang ke rumah seminggu! Untuk sementara aku keluar dari perangkap tikus!"

"Kau enak bisa jalan-jalan, aku mau ke mana, tugasku numpuk. Sementara uangku habis hanya untuk anak-anak dan istriku. Aku tak punya apa-apa. Bahkan untuk ikut asuransi saja sulit," kata sang suami.

"Libur saja sendiri. Habiskan uangmu. Itukan penghasilanmu. Suruh istrimu beli susu yang murah. Jangan kasih mertua dan keluarga istrimu sering-sering datang. Untuk apa, mereka toh datang hanya meminta uang."

"Jangan terlalu pelitlah untuk diri sendiri, lihat penampilanmu, tidak sesuai dengan jabatanmu. Kau bisa lebih sedikit metroseksual, beli pakaian yang sedikit mahal, ganti frame kacamatamu, beli dasi impor, beli parfum, itu akan membuat suasana lain yang menyenangkan. Jangan terlalu membebani diri sendirilah."

Benar apa kata rekannya itu, dia telah berusaha melupakan dan menghindari istri dan anak anaknya sesering mungkin, dia ciptakan dunianya sendiri di luar dunia istri dan anak-anaknya. Dia telah keluar dari perangkap tikus perkawinan, lalu dia masuki perangkap lain yang diciptakannya sendiri. Perkawinan sepasang manusia dia katakan ibarat masuk perangkap tikus.

&&&

Sang suami makin terperangkap dalam kekikirannya. Dia bertambah berat memberikan gajinya kepada sang istri. Bahkan, ketika dia sadar untuk siapa dia pelit, tak lain teman hidup dan darah dagingnya sendiri, dia tetap tak peduli. Dia mencemaskan semua pemberiannya kepada anak-anak dan istrinya hanya sia-sia karena mereka seperti anak panah yang lepas dari busurnya dan tak akan pernah kembali setelah dilepaskan.

Makin hari sang suami makin egois sendiri.

Makin hari si istri makin terlihat lungkrah dan tak bergairah. Sang istri mulai setop membeli bedak dan lipstik. Susu anak diganti dengan susu murahan, makanan mereka tak lagi mengutamakan kualitas gizi. Wajah si istri lebih sering memucat, tulang wajahnya makin tirus dan menonjol, anak-anak sering merengek karena permintaan mereka banyak tak terpenuhi.

Sang suami menumpuk tabungan, alasannya karena ingin membeli peternakan sapi dan mobil keluaran baru. Sang istri kelimpungan mengirit makanan, tak bisa lagi memberi uang kepada orang tua dan biaya kuliah adiknya.

Istrinya ingin bekerja, tapi bekerja di mana. Dia sudah berjanji untuk mengabdi sebagai istri yang taat, baginya mengurus anak-anak dan suami itu lebih utama bagi seorang wanita. Rumah adalah tempatnya mengabdi kepada Tuhan dan bekerja. Dulu, suaminya tak mau dia bekerja kalau cuma mengandalkan ijazah akademi, lebih baik di rumah saja, kata suaminya penuh tanggung jawab saat itu. Aku yang akan bekerja, kau konsentrasi di rumah saja mengurus anak-anak, tegasnya.

Dia juga ingat suaminya selalu minta didoakan siang dan malam agar karirnya terus meningkat, agar diselamatkan dari orang yang ingin menjatuhkannya, dan dia telah lakukan itu semua. Sang istri pun merasa cukup dengan apa yang diberikan suaminya, dia bisa membeli pakaian yang bagus, bedak dan lipstik yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang pernah dia beli sewaktu kuliah dulu. Ibunya bisa mendapatkan pengganti ongkos pulang ke kampung jika dia ke Jakarta karena kangen cucu-cucunya, merehab rumah, membayar uang kuliah adik-adiknya bahkan memodali pamannya beternak kambing di Purbasari.

Anak-anak tetap mendapat susu yang terbaik, sekolah yang terbaik, makanan yang terbaik. Berlebihankah aku dalam menghabiskan uang? Lihat bagaimana segala barang kebutuhan sekarang harganya terus naik, bagaimana mungkin kini suaminya menyerahkan uang dan berkata, cukup atau tidak cukup, terserah kamu, itu berarti dia kini telah melepas tanggung jawabnya.

"Ibu dan adik-adikmu jangan sering-sering lagi ke mari!" katanya. Memang mereka sudah lama tidak datang, sudah lebih enam bulan sejak sang istri mengatakan langsung kepada mereka hal itu. Aku istri yang tahu diri bahwa rumah adalah surga keluarga. Orang lain adalah tamu yang segala urusannya harus selesai dan pergi dalam sekejap, walau orang lain itu adalah mertua, adik kandung, ipar, paman, keponakan, dan tetek bengek lainnya.

&&&

Sang istri makin terjepit.

Libur panjang sekolah, sang istri membawa anak-anaknya ke Semarang ke tempat neneknya, si istri belum tahu berapa lama mereka akan tinggal di sana. Tapi, dia berjanji kepada suaminya hanya seminggu, karena bekal mereka pas-pasan dan sang suami tidak memberi ongkos dan uang untuk kebutuhan liburan.

Setelah seminggu di Semarang, mengingat perangai suaminya yang kikir dan egois tak memerdulikan dirinya dan anak-anak lagi, istrinya memutuskan untuk tidak kembali. Itu berarti mereka akan tinggal di Semarang sekitar tiga minggu hingga sebulan atau selamanya tak pulang. Cerai? Kenapa tidak! Dia pun sudah muak dengan suaminya itu.

Keputusan istrinya membuat sang suami gembira karena kini dia bisa menikmati hidup leluasa. Dia merasakan kegembiraan lain yang tak didapatnya selama ini. Dia mulai mengurus makanan dan mencuci pakaiannya sendiri seperti dia mahasiswa dulu, dia lakukan semuanya dengan senang hati. Dia bebas menonton film porno yang selama ini sangat dibenci istrinya, bermacam-macam judul dia tonton setiap hari, disetel dengan volume yang tinggi. Dia mengajak berkumpul teman-teman kantornya ke rumah, berpesta, merokok, dan minum bir, atau mereka di kafe-kafe yang sering mereka kunjungi. Sang suami benar-benar merasakan senangnya hidup sendiri, bebas seperti burung merpati seperti dia masih bujangan dulu, ke mana pun dia ingin terbang maka dia kepakkan sayapnya ke sana.

&&&

Suatu hari, dalam sebuah pameran mobil, sang suami berjumpa wanita bekas pacarnya dulu sewaktu kuliah di Bandung, merasa surprise, mereka ngobrol di kafe sampai tengah malam. Si wanita telah punya satu anak berusia tujuh tahun dan kini menjanda, dia telah bercerai karena suaminya ketahuan selingkuh. Pasangan selingkuh itu akhirnya menikah dan menceraikan istri pertamanya karena sang istri tak mau dimadu.

Si wanita yang tak mau dimadu ini hatinya luka. Sejak lama dia kesepian, hingga dia dahaga dan ingin sekali dibelai lelaki. Pertemuan pertama dengan bekas pacarnya membuatnya menyuruk pasrah, mereka menginap di sebuah hotel malam itu, saling curhat, berpelukan sampai pagi tiba hingga membuat mereka terjaga kaget tak sadar telah melakukan hubungan intim layaknya sepasang suami istri.

&&&

Setelah tiga minggu menghabiskan waktu liburan bersama anak-anaknya di Semarang, sang suami mendapat telepon bahwa istri dan anak-anaknya akan pulang, mereka minta dijemput di kantor travel langganan mereka. Cepat sekali waktu berlalu, anak-anaknya sudah menyelesaikan liburan, pikir sang suami. Sang suami akhirnya memutuskan, bahwa dia tak bisa menjemput, pulang saja naik taksi setelah sampai Jakarta, tegasnya.

Perempuan bekas pacarnya di Bandung dulu menelepon pula, minta berjumpa di hotel yang mereka tiduri kemarin malam, dan sang suami lebih memilih berjumpa selingkuhannya itu di hotel.

Saat tiba di hotel, tiba-tiba dia mendapat telepon dari travel bahwa mobil yang membawa istri dan anak-anaknya bertabrakan dengan bus antarkota. Sang suami dengan kesal segera menghubungi ponsel istrinya, tapi yang menyahut bukan istrinya, suara di seberang mengaku polantas yang menyebutkan kecelakaan dan identitas penumpangnya tengah diteliti.

Sang suami tambah kesal.

Menurut berita dari kantor travel, korban kecelakaan telah dibawa ke rumah sakit terdekat, beberapa orang tewas seketika dan beberapa lainnya sekarat, juga ada beberapa anak-anak dalam mobil itu dan balita.

Sang suami memutuskan keluar hotel dan terpaksa menuju kantor travel.

Sang suami dianjurkan untuk ke rumah sakit bersama beberapa orang dari kantor travel melihat keluarganya.

Sang suami akhirnya menurut ketika diajak rombongan kantor travel, entah ke rumah sakit mana, entah di daerah mana. Dia merasa pikirannya mendadak melayang-layang....

&&&

Istri dan anak-anaknya telah terbujur kaku di kamar mayat rumah sakit ketika sang suami tiba. Mereka telah diam tak bergerak-gerak, mereka tidak menangis apalagi merengek-rengek meminta uang jajan atau susu. Mereka terbaring kaku, cuma dengan T-shirt sederhana yang mereka pakai, celana pendek murahan, sepatu murahan. Tubuh mereka kurus kurus, sama seperti tubuh istrinya yang sejak lama berpipi tirus itu.

Mereka terbungkus di dalam selimut tikar pandan buatan tangan yang berlumur darah. Mereka tersenyum dalam diam mereka seperti mengatakan bahwa apa yang mereka inginkan sudah ada yang mencukupi untuk selama-lamanya.

Sang suami shock, dia merasa sangat terpukul melihat pemandangan yang tak pernah dia duga itu, pemandangan yang mengerikan, dia menggigil dan ingin berteriak, tetapi suaranya hanya tertahan di dada.

Semua senyum dan tawa-tawa mereka kini tak akan dia miliki dan dilihatnya lagi untuk selamanya. Mereka yang dia sebut dulu sebagai anak-anak keajaiban yang menyempurnakan dirinya sebagai sang suami. Kini telah ada yang mengambil alih semua kebutuhan dan keinginan-keinginan mereka untuk selama lamanya.... n

Lampung Post, Minggu, 7 Februari 2010