Showing posts with label Luhur Satya Pambudi. Show all posts
Showing posts with label Luhur Satya Pambudi. Show all posts

Sunday, July 20, 2014

Menjelang Pernikahan Adik Perempuanku

Cerpen Luhur Satya Pambudi


SEBENTAR lagi, keluarga kami memiliki hajat besar. Bapak dan Ibu akan menikahkan Vina, adik bungsuku sekaligus satu-satunya anak perempuan orangtuaku. Untuk sementara kutinggalkan Jakarta agar bisa kubantu persiapan acara keluarga yang tak biasa di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Bagi Bapak dan Ibu, pernikahan Vina di hari Minggu nanti merupakan kesempatan tunggal bagi mereka mengadakan acara mantu, jadi kami sangat serius mempersiapkan semua hal, tentunya agar acara tersebut berlangsung mulus sesuai asa bersama.

Sehari sebelum pernikahan adikku, tepatnya pada Sabtu pagi, sebuah berita duka kami terima. Pakde Parto, kakak tertua ibuku -yang sudah sakit parah selama dua tahun terakhir- tutup usia. Beliau wafat ketika fajar menyingsing dan akan langsung dimakamkan siangnya karena semua anak cucu Pakde Parto kebetulan sudah berkumpul. Mereka datang sebenarnya untuk menghadiri pernikahan adikku keesokan harinya. Kota tempat tinggal Pakde Parto dan kota kami sendiri terpisah jarak belasan kilometer belaka.

”Mungkin ibumu jangan diberitahu dulu, demikian pula Vina,” usul Mbak Runi ketika memberi kabar padam nyawanya sang ayah lewat telepon.
”Iya Mbak, lebih baik begitu. Saya mewakili keluarga besar Bapak turut berduka atas wafatnya Pakde Parto. Mohon maaf, kami mungkin tak sempat melayat.”

”Kami maklumi kalian yang tak bisa datang. Sekarang mending kamu urus persiapan pernikahan Vina. Sampai jumpa besok ya, Dik.” 

Betapa tidak nyamannya perasaanku. Pakde Parto berakhir riwayat hidupnya, tapi Ibu yang merupakan adik kandung almarhum malah belum tahu. Padahal sejumlah kerabat yang berada di rumah kami sudah mengerti kabar itu. Kuminta mereka semua agar merahasiakan berita duka tersebut agar tidak sampai ke telinga Ibu maupun Vina. Kekhawatiran Mbak Runi memang beralasan lantaran ibuku memiliki penyakit jantung. Sebuah kejutan tak menyenangkan manakala tengah menyambut acara membahagiakan putri bungsunya, bisa saja mempengaruhi kondisi kesehatan Ibu. Demikian pula dengan Vina yang mesti dijaga agar konsentrasinya tak buyar menjelang hari istimewanya. Aku tahu, ia memiliki hubungan yang hangat pula dengan pakdenya. Kendati kecewa tak bisa mendatangi pemakaman Pakde Parto, tapi aku paham, tanggung jawabku tak ringan demi menjamin kelancaran hajat besar keluarga kami.

***

Lantaran Vina menikah mendahului Dino, salah satu kakaknya, maka ada upacara menyerahkan pelangkah sesuai dengan adat Jawa. Namun sehabis acara tersebut dilaksanakan, Dino kemudian pergi tanpa pamit. Ia menghilang begitu saja dari rumah.

”Bagaimana ini, Mas? Tidak ada yang tahu, Dino pergi ke mana,” ucap Beni adikku menjelang acara midodareni.

”Dino sudah dewasa, Ben. Tak usahlah kita terlalu memikirkan dia. Aku percaya, dia bisa jaga diri. Besok pagi ketika Vina menikah, dia pasti sudah pulang,” sahutku mencoba menenangkan Beni.

Beberapa saat setelah acara midodareni usai, Dino tetap belum terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba Bapak memanggilku dengan raut wajah tegang.

”Ada apa, Pak? Baru saja Bapak terima telepon dari siapa?” tanyaku.

”Itu tadi dari kantor polisi. Adikmu Dino ada di sana,” sahut Bapak agak berbisik.

Ternyata Dino berada di tempat itu karena -menurut keterangan polisi- ia mabuk dan telah menabrak orang di jalan. Ah, ada-ada saja peristiwa yang terjadi menjelang pernikahan Vina besok pagi.

”Tolong, kamu jemput adikmu, ya. Kata polisi, dia boleh dibawa pulang, asal ada jaminannya,” kata Bapak lagi.

”Baiklah, Pak. Serahkan saja urusan Dino pada saya. Oh ya, tolong Bapak jaga Ibu agar tidak sampai tahu masalah ini,” ujarku. Bapak pun menganggukkan kepalanya.

Bergegas saja aku beranjak pergi bersama Beni dan Om Narso -adik kandung Bapak- menuju kantor polisi. Moga-moga kami bisa melakukan negosiasi dengan mereka agar Dino bisa pulang selekasnya.

”Ben, kamu tahu Dino sedang ada masalah apa?” tanyaku pada Beni di dalam mobil.

”Tidak tahu, Mas. Cuma beberapa hari ini, dia kelihatan lebih pendiam,” sahut Beni.

”Apa dia sebelumnya sering mabuk?”

”Sepertinya terakhir sekitar dua minggu lalu, waktu habis putus dengan pacarnya. Begitu yang saya dengar dari Ibu.”

”Apa mungkin dia sebenarnya kurang ikhlas, karena adiknya menikah mendahului dirinya?” tanya Om Narso.

”Mungkin saja, Om,” ucapku.

”Om hanya berpesan agar kalian jangan memarahi Dino. Biarkan dia nanti pulang dengan hati nyaman. Dia mungkin merasa kurang mendapat perhatian saja.”

Aku dan Beni mengiyakan apa kata Om Narso. Dalam hati kucoba memaklumi kelakuan adikku. Usia Dino hanya setahun lebih tua daripada Vina, sementara Vina satu-satunya anak perempuan, sehingga otomatis menjadi sosok paling istimewa di keluarga kami. Barangkali tanpa sengaja, baik Bapak dan Ibu, bahkan aku maupun Beni, sudah sering bersikap diskriminatif terhadap mereka sedari Dino dan Vina masih kecil. Ketika kedua bocah itu dahulu bermain bersama, lalu Vina menangis, maka Dino selalu disalahkan dan menjadi sasaran kemarahan kami. Seiring waktu, Vina lantas melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sementara Dino memutuskan bekerja di bengkel sepeda motor sesudah lulus dari SMK. Seusai merampungkan kuliahnya, Vina bekerja di Jakarta, dan tak lama kemudian bertemu dengan jodohnya. Sementara itu, tempat Dino bekerja tidak banyak pelanggannya, jadi kadang ia bagaikan seorang penganggur belaka. Maklumlah, kota tempat tinggal orangtua kami memang tak terlalu besar. Lalu dalam soal asmara, mesti berkali-kali pula Dino patah hati.

Bukannya aku tak pernah mencoba membantu adikku. Aku sempat mengajaknya tinggal bersamaku supaya bisa bekerja di Jakarta. Dino tak mau, karena ia kasihan pada orangtua kami yang usianya semakin menua. Memang hanya dirinya yang masih tinggal bersama mereka. Beni dan keluarganya telah memiliki rumah sendiri, meski masih berada di kota yang sama. Kuhargai pilihan Dino, apalagi alasannya adalah berhasrat menjadi anak yang berbakti pada Bapak dan Ibu.

Sesampainya di kantor polisi, perlu waktu hampir dua jam sebelum kami akhirnya diperbolehkan membawa pulang saudara kami. Orang yang ditabrak Dino dengan sepeda motornya -menurut polisi- hanya mengalami luka ringan. Adikku sendiri mendapatkan luka yang tidak seberapa di wajah, dada, tangan, maupun kakinya. Beruntunglah Dino, lantaran pihak keluarga korban tak ingin membawa insiden tersebut ke ranah hukum. Mereka meminta penyelesaian masalah ganti rugi dilakukan secara kekeluargaan belaka tanpa tergesa-gesa.

”Apa yang akan kau katakan, jika Ibu melihatmu seperti itu?” tanyaku di dalam mobil yang membawa kami berlalu dari kantor polisi.

”Saya naik motor dan tabrakan di jalan. Apa lagi yang mesti saya bilang, Mas?” sahut Dino dengan raut wajah datar.

”Dino, apa kau tidak sadar sudah bikin susah banyak orang?” ucap Beni dengan suara agak keras. Ia tampak geregetan melihat sikap adiknya yang seolah tak merasa bersalah.

”Ben, yang penting malam ini Dino bisa pulang,” kataku yang berada di belakang kemudi. Beni duduk di sampingku, sementara Dino di kursi belakang bersama Om Narso.

“Dino, jika boleh Om menyarankan, nanti sampai rumah, kau bersedia kan, mandi dan segera tidur? Oh ya, kamu sudah makan belum?” Om Narso ikut bersuara.

Dino ternyata belum makan, sehingga kami memutuskan mampir di sebuah warung tenda yang masih buka di seputar alun-alun. Rasanya kami memang perlu menenangkan hati masing-masing sebelum kembali ke rumah.

”Mas Rano, Mas Beni, dan juga Om Narso, saya minta maaf. Seharusnya sejak sore tadi, saya tak perlu ke mana-mana,” ujar Dino setelah rampung makan mie ayam dan minum teh hangat. Kami bertiga sempat saling menatap, lantas tersenyum bersama menyikapi kata-kata Dino.

”Ya, sudahlah. Masih kau ingat kan, apa saran Om Narso tadi?” tanyaku.

”Iya, Mas. Terima kasih ya, kalian bertiga sudah mau menjemput saya sehingga bisa tidur di rumah malam ini,” sahut Dino sambil tersenyum.

Aku lega, kami bisa pulang dengan hati yang lebih tertata. Setibanya di rumah, Dino bersedia melakukan saran paman kami. Syukurlah, Ibu sudah masuk ke kamarnya, setelah sempat menemani Vina terjaga sampai pukul dua belas malam. Kulihat waktu menunjukkan jam satu lebih sepuluh menit dini hari. Masih ada beberapa kerabat kami yang terjaga di depan rumah.

                                ***

Hari pernikahan adik perempuanku tiba. Segala sesuatunya berlangsung mulus tanpa aral gendala. Aku sebenarnya sempat khawatir, ketika melihat Ibu pagi-pagi bertanya pada Dino tentang wajahnya yang memar.   
”Ibu tidak usah cemas. Tadi malam saya hanya jatuh dari motor,” sahut Dino.

Ibu tampak mengangguk dan menyibukkan diri lagi. Perasaanku kembali tidak tenang kala melihat putra-putri almarhum Pakde Parto datang. Tapi tampaknya Mbak Runi tahu mesti menjawab apa, jika Ibu menanyakan kabar ayahnya.

Sekian jam kemudian, ketika malam menjelang, kami sekeluarga tengah berkumpul di dalam rumah. Pada intinya, kami mensyukuri hajat besar keluarga dapat berjalan lancar. Bapak kemudian memintaku menceritakan apa yang terjadi sehari sebelum adik perempuanku bersanding di pelaminan.

”Ibu, sebelumnya kami mohon maaf. Ada sesuatu yang terjadi kemarin, tapi Ibu mungkin belum tahu,” kataku yang berusaha berhati-hati sekali menyusun kalimat.

”Apa maksudmu, Nak?” tanya Ibu.

”Mmm... Ini tentang Pakde Parto.”

“Hah, pakdemu kenapa?”

“Semoga Ibu bisa kuat dan sabar mendengar kabar ini. Pakde Parto kemarin sudah meninggalkan kita semua.”

Serta merta pecahlah suara tangisan Ibu. Mataku ikut berkaca-kaca menatap reaksi ibuku. Beliau tampak terpukul mendengar berita kepergian kakak sulungnya. Kami berusaha menenangkan kegalauan hati Ibu. Bapak lekas saja memeluk istrinya dan mengelus-elus punggungnya. Yang tidak kuduga, beliau ternyata memiliki firasat tersendiri tentang wafatnya Pakde Parto.

”Menjelang bangun tidur subuh tadi, Ibu sempat bermimpi didatangi Pakde Parto. Beliau hanya tersenyum, jadi Ibu mengira kondisinya baik-baik saja. Ternyata, mungkin itulah salam perpisahan dari beliau,” ujar Ibu yang masih berurai air mata.

Esok harinya, kami sekeluarga berziarah ke makam saudara tertua Ibu, setelah sebelumnya mengunjungi rumah keluarga Pakde Parto. Ibu berusaha mengikhlaskan diri menerima takdir Ilahi atas kakaknya. Yang paling penting, tiada masalah berarti selama acara pernikahan Vina kemarin. Tentang insiden yang terjadi pada Dino, biarlah nanti Bapak saja yang menceritakannya pada Ibu di lain waktu. n


Lampung Post, Minggu, 20 Juli 2014

Sunday, July 25, 2010

Eyang Sentot

Cerpen Luhur Satya Pambudi


AMBULANS yang membawa jenazah Eyang Sentot perlahan-lahan meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal Almarhum. Aku duduk tepat di belakang sopir, di dekat peti jenazah bersama beberapa orang tetangga Eyang Sentot. Sebagai wakil keluarga, menjadi tugasku untuk menjadi penunjuk jalan bagi supir ambulans menuju makam. Sekitar dua ratus meter menjelang jalan besar, tiba-tiba ada sesuatu yang menghentikan laju rombongan pembawa jenazah. Pelakunya adalah dua orang perempuan cantik separuh baya yang lantas mendekati ambulans.

"Pak, kami berdua mau ikut," tukas salah satu dari mereka.

"Eh, iya. Silakan, Bu, di belakang sepertinya masih ada tempat," sahut sopir ambulans yang sesungguhnya cukup heran melihat hal yang dihadapinya. Pintu belakang ambulans kubuka, mereka berdua menghambur masuk, lalu duduk di sampingku. Rombongan pembawa jenazah kembali merayap.

"Sudahlah, Jeng. Hapus air matamu," ujar salah satu dari mereka.

"Hiks, tapi sedih je, Mbakyu. Ndak mungkin kita bakal ketemu lagi sama Pak Sentot. Aku terkenang banget sama kebaikan beliau," jawab adiknya dalam isak tangis.

"Sst, ya yang sabar, to ... Kita semua pasti juga merasa begitu. Wong memang Pak Sentot itu orang baik. Inggih to, bapak-bapak? Yang penting kita doakan beliau, semoga semua kebaikannya diterima dan dosa-dosanya juga diampuni sama Gusti Allah."

Aku mengenali mereka berdua sebagai murid Eyang Sentot ketika masih menjadi guru di sebuah SMA puluhan tahun silam. Bagi kakak beradik tersebut, Eyang Sentot merupakan guru favorit mereka sepanjang masa. Maka, begitu mengetahui bahwa beliau dirawat di rumah sakit, mereka pun datang dan setia menjenguknya, hingga hari ini beliau meninggal dunia. Konon, si adik yang biasa kupanggil Tante Endah adalah orang yang pernah dicintai oleh Eyang Sentot di masa mudanya. Tante Endah sendiri sejak masih menjadi muridnya sudah jatuh cinta kepada gurunya itu. Tapi Eyang Sentot dahulu pernah memegang teguh sebuah prinsip, yaitu tidak akan menikahi perempuan yang pernah menjadi muridnya.

***

Eyang Sentot adalah adik kandung kakekku dari ibuku. Sepanjang usianya beliau hidup sendiri, tak pernah merasakan mahligai rumah tangga dengan perempuan mana pun. Keluarga kami sangat dekat dengan beliau karena kamilah satu-satunya keluarga yang tinggalnya paling dekat. Semua kakak dan adik Eyang Sentot tinggal berbeda kota dengannya. Bahkan ketika kedua orang tuaku memutuskan pindah ke kota ini, Eyang Sentot menjadi salah satu alasan kuat mereka. Telah banyak hal yang dilakukan beliau untuk membantu kelangsungan hidup keluarga kami di sini, terutama masalah pendidikan kakak-kakakku.

Aku merasa dekat dengan Eyang Sentot karena beliau orangnya menyenangkan, senang bercanda, tak pernah marah, wawasannya luas, bijaksana, dan murah hati pula. Apalagi setelah ayahku tiada, Eyang Sentot bagaikan ayah kedua bagiku.

Kadang sejatinya inginku bertanya pada beliau, apa sebabnya beliau tidak menikah. Tapi rasanya aku terlalu sembrono jika sampai melakukannya. Tak seorang pun yang tahu persis apa alasannya melajang sepanjang masa. Tidak juga ibuku yang notabene adalah keponakan terdekat Eyang Sentot sendiri.

"Yang Ibu tahu, dulu Eyang Sentot pernah punya kekasih. Tapi eyang buyutmu--bapak ibunya Eyang Sentot --sama sekali tidak setuju dengan pilihan putra mereka. Tapi Ibu juga tak tahu pasti, apakah itu alasan beliau melajang seumur hidupnya atau ada alasan lainnya,“ kata ibu suatu ketika.

"Padahal mungkin banyak perempuan yang suka dengan beliau ya, Bu? Apa sih kurangnya Eyang Sentot sebagai seorang laki-laki? Orangnya sangat baik, sabar, penyayang, suka memberi, dan selalu menghargai orang lain, apalagi pada kaum perempuan. Lagi pula secara materi beliau juga tak pernah kekurangan. Sekarang sudah sepuh, Eyang Sentot juga masih ganteng dan terlihat gagah kok," komentarku.

"Ya, memang benar. Makanya beliau selalu menjadi favorit murid-muridnya saat masih mengajar dulu. Bahkan ada seorang murid perempuannya saat SMA yang masih terus memberi perhatian pada Eyang hingga kini. Padahal dia sudah lama juga menikah."

Belakangan, yaitu setelah Eyang Sentot masuk rumah sakit, baru kutahu bahwa murid yang diceritakan ibuku adalah Tante Endah. Dan dapat kulihat sendiri wujud begitu perhatian dan sayangnya perempuan tersebut kepada guru SMA pujaan hatinya, ketika kami bertemu di rumah sakit.

***

Sejak beberapa tahun sebelum sakit, Eyang Sentot memiliki semacam anak angkat. Bukan anak angkat seperti lazimnya, karena Dodik-nama bocah itu-sebenarnya anak tetangganya. Tapi karena sejak bayi Dodik sudah dekat dengan Eyang, sampai bocah itu sekolah kelas VI SD jadi seperti anak angkat beliau, atau mungkin lebih tepat seperti cucunya sendiri. Dodik shock berat ketika Eyang Sentot masuk rumah sakit. Apalagi ketika sebulan setelah itu Eyang akhirnya wafat. Orang yang paling menyayanginya selama lebih dari sepuluh tahun hidupnya tak akan ditemuinya lagi. Dodik akhirnya kembali ke rumah orang tuanya bersama kakak dan adik-adiknya.

Sebelum Eyang Sentot wafat, tepatnya beberapa hari setelah beliau masuk rumah sakit, keluarga kami sempat menjadi korban fitnah ibu kandung Dodik. Masa kami dituduh melakukan kesempatan dalam kesempitan, merampok harta Eyang, sementara beliau tengah lemah tak berdaya? Padahal sebagai kerabat terdekatnya, tentunya menjadi kewajiban kami untuk mengamankan dokumen dan benda-benda berharga, untuk nanti dikembalikan kepada Eyang Sentot jika beliau sudah sehat kembali nanti. Mungkin ibu Dodik khawatir jika anaknya tidak mendapatkan apa-apa sekiranya Eyang Sentot akhirnya meninggal. Benar-benar sebuah pemikiran yang busuk.

Syukurlah, ibuku dan juga kakak adik Eyang Sentot--yang tentu saja tak percaya keponakannya sejahat itu--begitu lapang hatinya. Sudah kami dihina sedemikian rupa, tapi masih bisa memaafkan ibu Dodik yang keruh hatinya. Bagaimanapun kami masih mengingat bahwa Dodik adalah “anak kesayangan” Eyang Sentot dan keluarga asli anak itu pun merupakan tetangga terdekat beliau.

Untuk lebih menenteramkan perasaan kami, aku pun berpendapat, "Saya percaya bahwa ibunya Dodik sebetulnya orang baik. Tapi bukankah orang baik pun bisa berbuat salah dan kesalahannya bisa jadi sangat besar?"

"Ya, mungkin memang lebih baik menganggapnya begitu. Kita juga mesti mengingat kebaikannya, dengan antara lain mengantarkan Eyang Sentot saat beliau sakit waktu itu. Dan kita juga masih perlu keberadaannya hingga Eyang pulang dari rumah sakit nanti," ucap Ibu padaku.

Sayang, akhirnya Eyang Sentot kembali ke rumah dalam keadaan telah wafat, setelah sekitar sebulan dirawat di rumah sakit. Menjadi duka yang mendalam bagi semua orang yang mengenalnya, termasuk kami, Tante Endah, juga Dodik dan keluarganya. Tapi bagiku, sebuah dukacita yang hebat-kehilangan Eyang Sentot-selanjutnya malah lebih mudah kulupakan ketimbang sebuah hinaan tak berarti, yang pernah dilakukan oleh ibu Dodik kepada keluarga kami. Yah, barangkali aku mesti belajar menjadi orang yang lebih ikhlas lagi nanti. n


-------------
Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Tinggal di Yogyakarta.


Lampung Post, Minggu, 25 Juli 2010