Showing posts with label M. Harya Ramdhoni. Show all posts
Showing posts with label M. Harya Ramdhoni. Show all posts

Sunday, July 29, 2012

Di Bawah Kaki Pesagi1

Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni

SIAPA pernah bayangkan seonggok jasad dewa merupakan singgasanaku kini? Dulu ia dipuja dan disembah. Tempat manusia dari berbagai kaum dan kasta memohon kasih sayang dan karunia-Nya. Mereka menyebutnya Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua. Berdiri tegak meneduhi ibu kota Kerajaan Pegunungan Tak Bernama di selatan pulau Sumatera. Setiap pagi dan petang dayang-dayang istana persembahkan wangi kemenyan berkepul-kepul dan secawan air bunga tujuh warna ke hadapannya. Lalu diam-diam ia hirup aroma sedap itu hingga tak bersisa. Tinggalkan bunga aneka warna yang jadi layu dan akhirnya mati kerontang. Tak ketinggalan harum dupa dan kemenyan pun lesap entah kemana.

Demikianlah ia dipercaya hidup dan bernyawa. Memiliki ruh sebagaimana manusia dan hewan yang hilir mudik di sekitarnya. Diyakini berperasaan dan berkehendak. Seperti makhluk mahakuasa yang menentukan hidup dan mati setiap orang serta dunia di sekelilingnya. Di bawah kaki Gunung Pesagi sembilan ratus tahun lalu ia adalah seperti yang kugambarkan kepada kalian. Di bawah kaki Gunung Pesagi sembilan ratus tahun lalu ia adalah sebatang pokok suci yang menjulang menantang langit. Pancarkan racun dan penawarnya secara bersamaan bagi sesiapa saja yang membutuhkannya. Namun di bawah kaki pegunungan ini sembilan ratus tahun kemudian kisahnya tak lagi sama. Ia tak lebih baik dengan alas kakimu kini.

***

JANGAN dengarkan perihal diriku dari mulut lelaki yang mengukuhkan penistaan terhadapku! Ia dan lima kakek moyangnya adalah para lelaki durjana yang menjatuhkan harga diriku sebagai alas pantat. Sembilan ratus tahun lalu aku adalah dewa yang menguasai seisi negeri. Diriku adalah simbol resmi sebuah negeri berdaulat. Galilah puing-puing bekas ibu kota Kerajaan Pegunungan Tak Bernama maka akan kalian temui ratusan guci dan lempeng emas dan perak bergambar diriku. Tambo-tambo2 dari kulit kayu dan hewan telah berujar dengan kagum tentang diriku, Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua.

Seluruh wangsa telah persembahkan ketaatan dan ketakziman keharibaanku sejak tiga ribu tahun sebelum diriku dipermalukan sebagai tempat penobatan temurun lima lelaki berpikiran mesum. Keberadaanku ialah kunci rahasia asal usul nenek moyang pendiri Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Hidupku berkait pula dengan simpang siur sejarah kerajaan mereka. Maka tak heran bila tiada seorang pun berani mencemooh keberadaanku di negeri ini. Setiap jiwa yang bermukim di sini memperlakukanku layaknya dewata sendiri. Mereka layani diriku penuh cinta disertai segala sikap penghambaan yang mereka punya. Pada masa jayaku telah kusaksikan betapa makhluk bernama manusia tak hanya memendam hasrat sebagai penakluk. Alam bawah sadar mereka juga menyimpan rindu untuk ditaklukkan. Sifat-sifat hamba sahaya nan laten muncul dari dalam diri mereka ketika pemujaan terhadap diriku berlangsung dengan sempurna. Lucuti segenap harga diri dan maruah mereka sebagai wakil sebenarnya Maha Dewa di atas dunia ini. Pemujaan terhadap diriku, tanpa mereka sadari, adalah kekalahan akal sehat oleh sikap penghambaan mereka yang terpendam.

Kedatangan lima lelaki asing berpikiran pesong runtuhkan digdaya diriku di hadapan seisi negeri. Mereka sebarkan benih kebencian atas diriku. Menuduhku sebagai biang keladi kekerdilan jiwa dan alam pikir seluruh rakyat. Memang begitulah adanya. Wangsa penghuni Kerajaan Pegunungan Tak Bernama mencipta diriku sebagai dewa sambil mengagungkan kebodohannya sendiri. Sementara lima lelaki berwatak pesong terus menerus menyerang diriku tanpa ampun. Hingga kerajaan itu pun goyah dan akhirnya runtuh tak bersisa melalui sebuah perang saudara yang teramat mengerikan untuk dikisahkan bahkan dalam syair pilihan gubahan pujangga agung sekalipun. Kejatuhan kerajaan itu siratkan betapa masa hidupku tak lama lagi akan berakhir. Aku meraung memohon pertolongan penguasa dan seluruh rakyat Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Aku berteriak memohon iba. Tapi tak seorang pun mendengar jerit putus asa yang kupekikkan. Setiap orang tengah berjuang mempertahankan hidupnya masing-masing. Setiap orang yang berani menentang penyebaran ajaran agama baru yang dilisankan kelima lelaki berwatak pesong mesti bersedia menerima ajal atau terusir dari tanah kelahiran sendiri.

Kepada putri kesayangan penguasa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama kuserahkan nasibku. Sebab hanya dengannya aku dapat bercakap-cakap. Kusapa dirinya tiap kali bertandang menyembahku. Suara batinku telah menembus nurani terdalamnya sejak sang putri masih bermukim di dalam rahim ibunya. Suara gaibku menyapa dirinya melalui setiap ranting, batang, dan daun yang berkecambah dari dalam diriku. Dialah satu-satunya hamba sekaligus teman karib yang setia menemaniku di saat-saat terakhir. Bahkan ibundanya, sang ratu kerajaan itu, sama sekali tak mampu menjalin kekariban mistik denganku. Hatinya terlalu angkuh untuk menembus alam arwah yang menuntut kesucian tindak dan pikir. Secara memalukan pula ia lari tungang langgang meninggalkan diriku sendirian di bawah ancaman mata pedang lengkung milik lima lelaki berwatak pesong. Dasar hamba sahaya tak tahu sopan santun!

Pada pemujaan terakhir penguasa dan rakyat atas diriku di bulan bakha, tepatnya seminggu sebelum perang besar meletus, kutumpahkan kepadanya segala kegalauan hatiku selaku dewa tertinggi Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Saat itu bulan purnama berwarna semerah darah. Nujumkan tumpah ruah darah manusia yang tak lama lagi akan terjadi. Putri penguasa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama membalas jerit putus asaku dengan duka cita yang tak kalah pilu. Kami bagaikan tuan dan hamba yang saling berbalas pantun. Rima yang terucap dedahkan luka dan harga diri yang remuk redam. Menyeret pula persinggungan antara nenek moyangnya dengan diriku sejak ribuan tahun silam. Pada akhirnya kami hanya bisa saling besarkan hati masing-masing tanpa tahu apa yang mesti diperbuat untuk membela diri melawan keangkuhan lima lelaki dan segenap pengikutnya.  

Marah dan kecewa meruyak dalam diriku ketika kutahu putri penguasa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama akhirnya memalingkan pula wajahnya dari haribaanku. Ia pilih dewa lain yang diusung lima lelaki berperawakan tak lumrah. Padahal ia satu-satunya harapanku agar diriku kekal sebagai sesembahan penduduk Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Ia satu-satunya hambaku yang mahir bercakap-cakap denganku tanpa dibatasi hubungan antara dewa dengan hambanya. Kupikir ia akan menjadi juru bicaraku dari alam arwah. Namun semua itu ia hancurkan dengan tega hati, demi menebus cinta buta bersama salah seorang lelaki aneh berwatak pesong. Tinggallah aku sendiri menunggu penugalan menjelang.      

Kedua dahanku memang istimewa. Dahan pertama dapat timbulkan luka nanah di tubuh siapa pun yang dengan sengaja maupun tidak sentuhkan kulitnya kepadaku. Sementara dahan kedua mampu sembuhkan luka itu dengan menempelkan bagian tubuh yang sakit. Sayangnya, dua keistimewaan itu seolah tak berarti saat diriku harus menghadapi lima lelaki kalap dengan hasrat membunuh tak terbatas. Pukulan demi pukulan belati lengkung milik mereka akhiri kisah hidupku. Diriku remuk redam tanpa perlawanan sama sekali. Apakah yang bisa dilakukan sebatang pohon untuk menghindari amuk seorang ayah dan keempat anak lelakinya yang bermata gelap? Tubuhku rubuh ke tanah disertai sorak sorai ribuan rakyat penghuni Kerajaan Pegunungan Tak Bernama yang telah bersalin keyakinan. Kemudian, lelaki setengah baya yang merupakan ayah dari empat lelaki keparat itu menginjak-injak diriku yang telah terbujur kaku sembari memaki dan menudingku di hadapan khalayak. Sungguh, perbuatan lelaki tua itu menista diriku tanpa ampun. Aku memang hanya dewa sesembahan suku pegunungan yang terkucil. Namun, betapa pun itu aku masih memiliki harga diri kedewaan. Diriku telah disembah oleh para puyang penghuni dataran tinggi ini sejak dua ribu seratus tahun sebelum lima lelaki berpikiran pesong itu hadir disini, di tanah istirahat para dewa. Telah kusaksikan puluhan wangsa jatuh bangun silih berganti menguasai negeri ini. Telah kusaksikan pula ribuan perang pembinasaan dan penaklukan dilakukan tanpa segan dan takut. Semua atas nama diriku atau atas nama dewa-dewa lain. Diriku adalah saksi bisu sejarah kebangkitan dan keruntuhan sebuah wangsa. Semestinya mereka, para bekas hambaku, memelihara diriku dengan hormat walau telah beralih keyakinan. Bukannya malah menciderai hak istimewaku sebagai dewa. Ataukah ini bagian dari ajaran lima lelaki berwatak pesong yang menolak menghormati setiap tradisi kuno negeri-negeri yang mereka perangi?

***
   
BERHATI-HATILAH dengan bujuk rayunya. Atau kesombongannya kala dendangkan kembali berbagai dongeng muskil tentang masa jayanya selaku dewa Kerajaan Pegunungan Tak Bernama. Ia seret kalian agar, setidaknya, bersimpati dan menyatakan kagum pada derajat kedewaannya. Kemudian pelan-pelan tanpa kalian sadari akan tersesat ke jalannya. Menyembah dan memuja dirinya seperti yang pernah dilakukan nenek moyang kita pada masa kegelapan adalah sesat pikir dan syirik belaka. Di bawah kaki Pesagi sembilan ratus tahun lalu para puyang telah berikrar mencampakkannya ke dalam tungku perapian masa lalu. Mereka menggantinya dengan Tuhan tunggal tanpa pesaing. Adalah kebodohan seekor keledai bila kalian menyembah dan mengimaninya setelah sembilan ratus tahun berselang. Setelah apa yang dilakukan nenek moyang kita demi merubah wajah negeri di bawah kaki Pesagi ini agar menjadi manusiawi dan bersahabat. Biarkan ia terbujur kaku menjadi alas pantat. Sebagai simbol tunduk dan takluk sebuah negeri penyembah berhala pada syiar para lelaki pemanggul ajaran Jalan Yang Lurus.

***

DI BAWAH kaki Pesagi sembilan ratus tahun kemudian, tepatnya menjelang dini hari, lima pemuda keturunan lima lelaki penugal Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua diam-diam memasuki bilik tempat penyimpanan jasad pohon keramat. Peringatan ayah dan paman mereka sama sekali tak diindahkan.   

"Berikan golokmu," pinta pemuda pertama kepada pemuda kedua.

Pemuda kedua ulurkan apa yang dipinta sepupunya tanpa mengucap sepatah kata.

"Pelan-pelan, dong!" pemuda ketiga mengingatkan ketika melihat pemuda pertama tergesa-gesa membelah kayu bekas Pohon Nangka Keramat Bercabang Dua.

"Apa betul benda ini bisa bikin kita kebal dan juga manjur untuk pelet perawan?" tanya pemuda keempat dengan nada suara gemetar.

"Bergantung pada tingkat imanmu kepada dirinya atau kepada Tuhan?" pemuda kelima malah balik bertanya. Nada suaranya terdengar sinis bukan kepalang.

Kuala Lumpur-Kota Karang, Mei 2012


Catatan

1. Gunung Pesagi merupakan gunung tertinggi di Lampung yang terletak di Liwa, Kabupaten Lampung Barat.

2. Buku silsilah keturunan bangsawan Lampung Sai Batin.


Lampung Post, Minggu,29 Juli 2012

Sunday, February 12, 2012

Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin

Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni



NAMAKU Sekeghumong. Dapunta Beliau Sekeghumong. Begitulah pujangga dan rakyat jelata menyebut namaku dengan takzim. Angin kering musim kemarau di Perbukitan Bedudu ini akan menceritakan kepadamu segala hal tentang diriku. Angin kering musim kemarau yang berkesiut di perbukitan ini, di mana jasadku kini ditanam, akan meriwayatkan kepadamu tentang segala kisah suka dan duka yang kualami sepanjang hidupku.

Aku dibesarkan oleh denting pedang dan lolongan kesakitan para prajurit. Serbuan anak panah dan lemparan tombak turut pula mengisi masa remajaku. Hingga aku pun tumbuh dewasa menjadi seorang perempuan bengis dan pemarah. Perwira muda kesatuan Tentara Darat Sekala Bgha manakah yang belum pernah kupatahkan tangannya dalam perkelahian satu lawan satu? Kutantang mereka dalam adu tanding tangan kosong. Akan sendiri hanya dapat mengelus dada apabila melihat kekejianku. Sementara Ibunda Ratu cuma bisa tersedu sambil tak henti merutuk: "Berapa banyak larangan dewata yang kulanggar kala mengandungmu, Putri Dalomku?"

Pada penggal pertama masa remajaku, peristiwa kecil namun bermakna terjadi atas diriku. Akan menganugerahkanku kalung emas berukir dua kepala harimau tepat di hari ketika datang bulan pertama mengunjungiku. Harimau dan kekuasaan agung Sekala Bgha. Lambang persekutuan kuno antara leluhur kami dan tentara harimau yang misterius. Sepasukan balatentara yang hidup dalam dunia ada dan tiada. Khayalan nenek moyang yang menobatkan diri seperti hidup dan bernyawa. Sebuah kerinduan pada sebuah masa tak berbilang. Sebuah kerinduan pada dunia gaib tak tergapai. Ketika diriku memilih seekor harimau raksasa sebagai tunggangan, lengkap sudah pewarisan khayalan nenek moyang atas diriku. Keakraban mistik dengan tentara harimau, pengawal kedaulatan wangsa kami yang suci dan mulia.

***

SEBUAH ramal serupa kutukan menyertai diriku tatkala mengunggah diri ke atas pepadun. "Engkaulah ratu terakhir dan terbesar bagi Negeri Sekala," berkata Akan dengan kata-kata dilamatkan, "Takdir dewata tak menyertaimu lagi, Nak. Sekelompok lelaki pengecut dari utara akan merobohkan pokok suci Melasa Kepappang sesembahan kita, dan mendirikan kuasa dewa baru di atas negeri ini."

"Siapakah mereka, Akan?"

"Entahlah..."

Beliau pun tak pasti siapakah lelaki-lelaki yang dimaksud dalam nujum leluhur.

Nujum dan ramal bagaikan minuman keras yang menyesatkan. Menyeret akal sehat ke dalam angan-angan yang tak pasti. Aku pun sempat terseret ke dalamnya. Membuat diriku semakin bengis dan pencuriga.

Hingga ketibaan orang-orang asing ke negeri pegunungan kami. Lima lelaki bertampang aneh dan ganjil. Seorang lelaki tua bersama empat anak lelakinya. Si bapak dan salah seorang anak lelakinya, yang kelak kutahu bernama Nyekhupa, pernah bekerja sebagai juru masak mendiang suamiku belasan tahun yang silam. Mereka berdua lari terbirit-birit setelah Nyekhupa meracuni lelakiku hingga tewas. Kini mereka kembali. Dengan lagak tak berdosa bagai utusan dewata dari ujung semesta.

Lima lelaki dari utara penyebab rubuhnya daulat Sekala Bgha dan Melasa Kepappang telah menampakkan batang hidungnya. Bagaimanakah aku mesti bersikap terhadap kenyataan ini?

"Kami menawarkan Jalan Yang Lurus sebagai penebus segala dosa dan kesalahan, wahai Yang Mulai Dapunta Beliau Sekeghumong," berkata lelaki tua dengan aura tubuh yang condongkan keangkuhannya.

"Telah lupakah engkau pada dosa anakmu meracuni lelakiku?" diriku pun tak kalah angkuh.

Lelaki tua tak tahu diri itu berujar ia sedia menghukum anaknya dengan nyawanya sendiri.

"Bahkan nyawa kalian berlima pun tak cukup melunaskan dendamku kehilangan lelakiku, suami sekaligus abang sepupuku sendiri!" Sungguh tak dapat kuredam bara kesumatku.

Terbitnya dendam yang telah berpinak menjadi kesumat diperhebat oleh kelakukan Sindi, putri kesayanganku yang diam-diam bersekutu dengan para pendurhaka itu. Ia bukan saja mengkhianatiku selaku ibu dan ratunya tetapi juga telah menjalin cinta terlarang dengan Belunguh, salah seorang anak dari lelaki tua keparat itu. Adakah pendurhakaan yang paling keji dibanding apa yang telah diperbuat Sindi kepada ibu, wangsa dan kedaulatan negerinya?

***

DEMI menuruti ancaman Sindi yang akan menghujamkan keris ke lehernya sendiri aku pun bersalin keyakinan. Sekaligus pula hendak kugagalkan nujum para puyang tentang akhir sejarah Sekala Bgha.

"Baiklah. Kuimani Allah Yang Tunggal, dan lelaki mulia dan terpuji sebagai utusan-Nya!"

Akan tetapi kesaksianku atas keberadaan Allah dan Nabi-Nya tak mengakhiri persengketaan di antara kami. Lima lelaki tak tahu diri itu menuntut dirubuhkannya Melasa Kepappang, simbol kedewaan kami selama 1.300 tahun terakhir. Namun yang lebih menyakitkan hatiku adalah tuntutan mereka agar aku turun dari pepadun dan menyerahkan kuasa daulat Sekala Bgha kepada mereka!

"Ajaran jalan yang lurus tak membenarkan perempuan sebagai pemimpin!" ujar lelaki tua itu dengan kesombongan yang tak berkurang sedikit pun.

Aku terhina. Betapa jatuh harga diriku dipermalukan di depan rakyat dan wangsaku sendiri. Haruskah kupertahankan maruahku dengan leherku sendiri?

Keputusan telah diambil. Kata-kata telah diucapkan dengan perwira. Tak kubiarkan lima lelaki terkutuk itu mendepakku dari atas pepadun. Ini bukan lagi pertikaian antara penyembah Allah dengan penyembah berhala. Ini medan tikai antara penguasa yang sah dengan para pemberontak asing tak tahu malu!

Hanya kepada Allah saja aku berserah diri!

***

PERTEMPURAN itu telah merampas apa yang kami punya. Menghanguskan seluruh kekayaan negeri Sekala yang dikumpulkan para puyang kami sejak ribuan tahun silam. Terlambat kusadari semua ini kala kejayaan kami harus berakhir dengan sedih dan muram. Ketika api terakhir meranggas kayu penghabisan lamban dalomku yang tercinta, nujum leluhur mewujudkan dirinya dengan sempurna. Namun bukan watak Dapunta Beliau Sekeghumong jika harus menyerah dan membungkuk memohon ampun! Akan kusudahi perang saudara ini dengan nyawaku sendiri!

Di tanganku Sangga Langit meliuk-liuk menerobos pertahanan salah seorang lelaki muda dari utara. Tajamnya belati bernafsu menembus kulit dan merobek jantungnya.

"Langkahi mayatku, jika kau berhasrat merebut takhtaku!"

Lelaki muda dari utara sunggingkan senyum meremehkan.

Kubalas senyumnya dengan tawa terkeji.

Hanya takdir, dan hanya takdir Allah semata, yang sanggup menghentikan pertempuran antara aku dan dirinya. Sungguh, aku tak berdaya menghadapi kelincahannya yang merangsek bagai ular berbisa. Menghadapi kemudaannya yang liar dan bernafsu membunuh. Sangga Langit pula akhirnya tak bermakna menghadapi belatinya yang menerbitkan aroma keramat itu. Belati yang sempat membuat diriku terperanjat takut sekaligus terpesona. "Kaukah yang dikirim Allah untuk menyudahi hidupku di dunia?" aku gemetar ketakutan.

Walaupun tubuhku dipenuhi luka tikaman senjata lelaki dari utara, tak sedetik pun terlintas dibenakku untuk menyerah takluk. Itu bukan sifatku! Itu bukan sikap perwira perempuan perkasa negeri pegunungan Sekala Bgha! Sumpah telah diucapkan! Pantang bagiku menyeruput ludah dan meratapi kekalahan!

***

KELAK, angin musim kemarau yang tak henti berkesiut di perbukitan Bedudu akan menjadi saksi bisu kisah kekalahanku yang perwira. Ia akan menjawab setiap pertanyaanmu dengan suaranya yang muram seraya menerbangkan jerebu, bebungaan dan reranting pokok kamboja.

Angin kering musim kemarau yang tak henti bertiup di atas perbukitan Bedudu ini juga akan terus mengulang-ngulang riwayat itu hingga kau bosan. Ia memang kutugaskan menyampaikan wasiat keramat ini kepada siapa pun yang bertandang kemari. Dengan dukacita ia akan bertutur tentang kekalahan pertempuranku melawan lelaki muda dari utara. Tentang leherku yang nyaris putus ditebas belati beraroma gaharu dan cendana. Tentang kemakzulan Sangga Langit oleh kedigdayaan dan keperkasaan belati ajaib dari bumi Blambangan.

Pada saat jiwaku hendak berpisah dengan raga, sempat kudengar ucapan maaf dan tangis penuh sesal Belunguh, menantuku tercinta. Diikuti pandangan haru dan penuh dosa dari ketiga saudaranya yang lain, termasuk lelaki muda yang dengan semena-mena telah mengoyak-koyak leherku hingga nyaris putus.

"Aku tak menabung dendam kepada kalian, wahai lelaki-lelaki penyebar jalan yang lurus," ujarku dengan terbata-bata menahan sakitnya ajal, "Hanya kepada Allah aku menyerahkan raga dan jiwaku, dan hanya kepada-Nya pula aku memohon ampun atas segala dosa dan kesombonganku."

"Kutitipkan putri kesayangku Sindi kepadamu, wahai Belunguh. Ajarkan kepadanya agar menjadi hamba Allah yang taat dan setia. Memang sudah takdirku mati dengan cara ditumpas. Demi Dia Yang Menguasai alam semesta, kutepiskan segala kesumat ini. Salam takzimku kepada ayah kalian, lelaki tua dari utara. Aku bersaksi bahwa Engkau Allah Tuhanku dan lelaki mulia dan terpuji sebagai kekasih-Mu...."

Kudengar suara canang bertalu-talu dari puncak Gunung Pesagi mengantar kepergianku. Mungkinkah arwah leluhur tak merestui diriku yang bersalin keyakinan? Ah, bukankah telah kuserahkan hidup dan matiku hanya kepada Allah semata? Tak perlu lagi kuungkit perihal segala dewa dan arwah leluhur Wangsa Sekala Bgha. Biarkan riwayat lama itu pudar bersama kesiut angin musim kemarau yang selalu tandang di Perbukitan Bedudu ini. Biarkan ia diganti oleh kisah keperwiraan diriku yang dikalahkan secara pengecut oleh segerombolan lelaki seiman dan seagama.

Kuala Lumpur-Kotakarang, 28 Januari 2012


Lampung Post, Minggu, 12 Februari 2012

Sunday, October 16, 2011

Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak

Cerpen M. Harya Ramdhoni


LANGIT di atas sana mulai semburatkan cahaya tipis kemerahan. Pagi telah tiba. Hujan lebat yang mengguyur Kemelak sejak semalam nyaris tak bersisa kecuali udara dingin yang kekal menyusup hingga ke sumsum. Jejak-jejak hujan nyaris tak terbaca. Dihapuskan banjir darah para pejuang republik pada pertempuran semalam. Tubuh-tubuh muda itu bergelimpangan bagai sekumpulan bangkai hewan di hari raya kurban. Dingin jasad-jasad membisu meninggalkan luka. Juga dendam sebuah republik berusia muda. Di segenap penjuru kota suara tembakan masih terdengar berkali-kali. Sisa-sisa tentara republik tak serta merta menyerah begitu saja pada keangkuhan moncong-moncong meriam tentara NICA 1) yang mendongak congkak.



Front Pertempuran Kemelak-Sepancar, Baturaja, 17 Agustus 1947

"Cepat atau lambat kita akan dibinasakan. Mereka terlalu kuat. Kita bukan lawan yang setanding buat mereka. Peperangan modern tak sekadar mengandalkan otot dan otak tetapi juga persenjataan canggih," suara perempuan terdengar pelan tapi dengan nada menggugat. Pemiliknya adalah gadis cantik berdarah indo. Tubuhnya yang tinggi ramping dengan kulit putih bersih dibalut seragam tentara republik berwarna cokelat muda. Dialah satu-satunya yang berbeda di antara lima ratus prajurit republik. Satu-satunya yang berdarah separuh Eropa. Perempuan pula.

"Hei Moeis, aku bicara padamu. Kita sedang menunggu dibinasakan, bukan?"

Lelaki muda bertubuh tinggi kurus dengan rambut sebahu tak langsung menyahuti tanya si gadis indo. Ia malah asyik menghembus-hembuskan asap rokoknya dengan tenang seolah tak ada sesuatu pun telah terjadi pada semalam.

"Entahlah, tapi yang pasti aku tak takut mati. Mengenai canggih atau kunonya peralatan tempur kita bukan urusanku. Bagiku menceburkan diri dalam kancah pertempuran ini, di sini, dengan berbagai ancaman tak terduga adalah risiko seorang patriot. Tugas suci anak kandung Revolusi Agustus!"

"Aku hanya tiba-tiba didera rindu pada Akan2) dan Ibuku di Batubrak. Takut tak sampai umurku bertemu beliau berdua," berkata Moeis dengan nada suara dipelankan, "Kau masih punya orang tua kan?"

Gadis indo berhidung mancung mengangguk dan tersenyum manis. Semanis tebu yang biasa dimamah Moeis dan Pun3)-nya, Maulana Balyan, ketika kecil dulu.

"Aku kagum padamu, Pauline. Kau khianati darah Belanda dalam tubuhmu demi membela utuhnya revolusi Agustus. Sejujurnya aku dan kawan-kawan kagum dan malu pada keberanianmu. Tabik untukmu sahabatku Pauline Gobee!"

Pauline Gobee teruja hebat dipuji seperti itu. Pipinya merah merona. Bola matanya yang berwarna biru bersinar cemerlang.

"Pauline...," sebuah suara terdengar dari arah barisan tenda darurat di belakang Front Kemelak.

"Ada apa, Jabur?" sahut Pauline.

"Komandan memanggilmu. Penting!"

"Baiklah. Aku segera ke sana, dan kau temani Moeis. Dia tengah kesepian merindu Akan dan ibunya yang jauh di Batubrak," canda Pauline sambil meninggalkan Moeis dengan tawa terkekeh-kekeh.

"Kenapa denganmu Moeis?" tanya Jabur.

"Seperti kau tak punya orang tua dan lahir dari batu!" jawab Moeis ketus.



***

"KITA dalam kesulitan, Pauline. Tidak hanya terdesak oleh balatentara NICA yang terus merangsek maju ke pedalaman Sumatera Selatan, tetapi juga munculnya penembak misterius yang beberapa hari belakangan ini menembak mati beberapa mata-mata kita dari kalangan masyarakat sipil. Kita terkepung dari berbagai arah."

Kolonel Ahmad Wahab menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Berkali-kali ia melakukannya. Seolah ingin ia tumpahkan segala beban yang menyesakkan dadanya. Di luar gerimis mulai bertandang lagi perlahan. Membasahi kembali tanah Kemelak. Mengguyur hingga bersih jejak amis darah sisa pertempuran semalam.

"Kau satu-satunya penembak jitu yang kita punya. Pergilah bersama Moeis dalam penyamaran. Tembak mati penembak gelap itu. Ditembak mati atau menembak mati!"

"Siap, Pak!"

Begitu jelas perintah Kolonel Ahmad Wahab baginya dan Pauline merasa tak ada gunanya bertanya apalagi berbantahan.



***

"DARI mana kita mulai perburuan terhadap penembak laknat itu?", tanya Moeis dengan nada suara tak sabar.

"Entahlah, aku juga bingung. Terlampau sedikit informasi yang kuterima dari Kolonel Wahab. Buruan kita ini berpindah-pindah dari ujung Kemelak hingga perbatasan menuju Sepancar."

"Sepertinya ia menguasai keadaan tempat ini..."

"Tampaknya begitu," Pauline menguatkan.

"Doorrrr, ratatatatatatatatatat..."

"Berlindung, Pauline!" teriak Moeis kala menyadari suara tembakan senapan mesin tak putus-putus menyambut mereka. Tembakan itu berasal dari sebuah gudang milik pedagang China yang tak terpakai.

"Di situ rupanya kau bersembunyi bedebah!" umpat Pauline sambil berguling-guling.

"Kita harus cari tempat persembunyian yang aman. Kau tak apa-apa Moeis?"

"Alhamdulilah, masih hidup," jawab Moeis dengan nafas terengah-engah.

Kemudian keduanya secara sembunyi-sembunyi dan memanfaatkan hari yang mulai gelap bergegas menuju bekas kantor Jawatan Kereta Api tak jauh dari situ.

"Dari sini kita bisa leluasa mengintai keberadaannya. Menunggu bedebah itu lengah sampai esok pagi pun aku siap."

"Tak sabar aku berlama-lama menanti buruan. Peluru-peluruku sudah tak tahan hendak menjebol kepala si bajingan tengik itu."

"Bersabarlah Pauline, masih ada hari esok. Dia pasti mati di tanganmu."

"Menurutmu Moeis, siapakah manusia celaka yang tadi mengarahkan moncong senapan mesinnya kepada kita?"

"Siapa lagi kalau bukan anjing-anjing NICA, baik anjing pribumi atau pun anjing totok!"

Pauline menangguk-angguk membenarkan ucapan Moeis. Percakapan mereka terputus. Sebuah kendaraan lapis baja milik musuh melintas di depan tempat persembunyian mereka. Tank itu pun berhenti. Jantung Pauline dan Moeis tak urung serasa berhenti berdetak pula. Dari dalam tank

muncul kepala seorang prajurit kavaleri. Ia julurkan lehernya, kemudian menengok ke kanan dan ke kiri. Tampaknya ia mencari sesuatu. Tak lama kemudian seorang lelaki muda berlari tergopoh-gopoh menghampiri tank itu. Lelaki itu bicara dengan si prajurit kavaleri. Ia menunjuk-nunjuk tempat persembunyian Pauline dan Moeis. Prajurit kavaleri pun menolehkan pandangannya ke arah bekas Kantor Jawatan Kereta Api.

"Keparat itu rupanya!" umpat Pauline sambil mengokang senapannya.

"Jangan! Tahan tembakanmu, Pauline. Bukan dia sasaran kita. Dia cuma mata-mata kelas teri."

"Walaupun begitu sudah sepantasnya dua kunyuk itu mesti mati!"

Hanya dalam jarak waktu enam detik dua tembakan telah dilayangkan Pauline. Tepat sasaran. Pertama-tama prajurit kavaleri langsung roboh dengan leher bolong tertembus peluru. Sesaat kemudian si mata-mata kelas teri menyusul terjerembab dengan pekik mengerikan. Ia menggelepar sesaat lalu diam menuju baka. Dahinya jebol ditembus peluru Pauline.

"Dahsyat! Jitu!" Moeis berseru-seru.

"Begitu seharusnya!" Pauline tak mau kalah.

"Ratataatatatatatatatatatattttt...."

Suara senapan mesin membahana dari seberang.

"Aaaaaarghhhhh...," Moeis terpekik. Senapannya terlempar ke luar gedung. Peluru penembak misterius mengenainya.

"Moeis!" Pauline berteriak panik.

Lelaki muda di sampingnya malah tersenyum aneh.

"Kau terluka Moeis?"

"Tak apa-apa. Hanya kaget. Kukira tanganku yang terluka. Ternyata senapan itu yang terkena tembakan."

"Ah, kukira..."

"Dia masih di sana. Bertahan menanti kita. Haruskah kita menunggu sampai malam ini berlalu?" keluh Pauline.

Ia rasakan penat mulai menjalari tubuhnya. Tiba-tiba ia perlu rehat. Merebahkan badan dan tertidur dengan lelap adalah sesuatu yang teramat mahal sejak beberapa bulan terakhir ini. Sejak agresi militer kolonial Belanda 4) menyerbu Indonesia dari delapan mata penjuru angin, segala hal yang berbau ketenangan dan kedamaian adalah kemewahan semata.

"Sepertinya kau bisa tidur lelap malam ini. Lihat itu!" berkata Moeis sambil menunjuk asap rokok berwarna putih meliuk-liuk dari bekas gudang di depan mereka. Asap itu terlihat jelas diterangi cahaya bulan terang benderang.

"Betapa malang dirimu, kawan," ucapan Pauline diikuti rentetan tembakan susul menyusul. Puluhan peluru dihamburkan Pauline selama beberapa menit. Sempat terdengar suara denting puluhan selongsong peluru berjatuhan. Lalu senyap membumbung di udara. Kemudian hujan turun gerimis lagi. Bagai tabik bagi keperwiraan Pauline.

"Hebat! Kau layak menyandang predikat penembak jitu yang dimiliki republik, bintang terang benderang di atas langit Kemelak dan Sepancar," Moeis bertepuk-tangan sebagai tanda kekaguman, "Kini giliranku yang merokok."

Pauline tertawa renyah menanggapi pujian sahabatnya itu.

"Ayo pulang. Tak sabar aku ingin laporkan kematian lelaki malang itu kepada Kolonel Wahab."

"Aku pun lapar, ingin makan sekenyangnya dan tidur pulas," Moeis menyahuti.

Keduanya tertawa terbahak-bahak. Pertanda gembira yang tak terpermanai.

Lalu keduanya pulang menuju markas sambil melewati bekas gudang milik pedagang China. Sinar rembulan yang bersaingan dengan rerintik hujan lamat-lamat menyinari sesosok tubuh telungkup berpakaian tentara NICA. Penembak misterius yang dihujani tembakan Pauline.

"Aku ingin melihatnya...," Tiba-tiba Pauline dihinggapi rasa ingin tahu. Ia berbalik arah menerobos hujan gerimis menuju bekas gudang itu. Ia lalui mayat prajurit kavaleri musuh yang masih tergeletak di tempatnya. Juga mayat lelaki muda mata-mata NICA tak bergeser sedikit pun. Keduanya terbiar begitu saja menunggu disantap sekawanan anjing liar yang biasa mendatangi tempat itu sembari membaung menjelang tengah malam.

"Untuk apa bersusah payah menjenguk bangkai anjing kompeni?" cegah Moeis. Tetapi langkah Pauline tak terbantahkan. Ia sungguh penasaran.

"Siapakah dia yang begitu cekatan dan tepat dalam menembak sasaran? Pasti dia penembak unggulan yang dimiliki NICA," batin Pauline pada diri sendiri. Moeis pun tergopoh-gopoh dengan sabar menyertai langkah sahabatnya itu.

Tak sabar Pauline ingin melihat bagaimana bentuk rupa dari jasad telungkup berpakaian tentara NICA itu. Pribumikah? Belanda totok-kah? Atau Indo-Belanda seperti

dirinya? Ah! Ia tepikan andai-andai itu dan terus bergegas setengah berlari menuju tempat di mana mayat penembak misterius berada.

"Betapa hebat dirimu! Nyaris celakakan Moeis di tengah suramnya malam. Tanpa penerangan apa pun kecuali cahaya bulan yang kadangkala benderang, kadangkala remang-remang," puji Pauline tak putus-putus terhadap musuh yang telah dibunuhnya itu.

Didapatinya mayat itu berada dalam posisi telungkup memeluk erat senapan mesinnya. Genangan darah bagai banjir yang nyaris menenggelamkan tubuhnya. Kala ditelentangkannya tubuh itu ia dapati wajah lelaki tampan berhidung dan berbola mata bagus seperti dirinya. Lelaki Indo berkulit putih yang sejenis dengannya. Manusia remaja yang memiliki darah separuh Eropa dan separuh Indonesia sebagaimana dirinya. Demi melihat itu semua tubuhnya berguncang hebat. Dadanya sesak dan sebak. Seketika jerit tangisnya membahana membelah sunyinya langit malam garis depan Front Pertempuran Kemelak-Sepancar. Lolongannya terdengar menghiba dan menyayat hati. Sementara Moeis yang berada di sampingnya kebingungan tak tahu penyebab segala histeria perempuan itu.

Lelaki indo yang dibunuh Pauline Gobee adalah kekasihnya sendiri.

Hentian Kajang-Malaysia, 10 Agustus 2011

Pukul 03.15 waktu Malaysia



Mengenang kakek Mendiang Tamong Dalom Hi. Abdoel Moeis gelar Suttan Pangeran Sekala Brak (1930-2003)



-----------

1) Netherland Indies Civil Administration (pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J van Mook. NICA tiba di Indonesia dengan membonceng tentara sekutu untuk kembali memulai proyek kolonisasi terhadap bekas wilayah Hindia Belanda dan menolak mengakui proklamasi 17 Agustus 1945 yang diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jakarta.

2) Sebutan untuk Ayah dalam masyarakat Lampung Sai Batin Sekala Brak.

3) Kakak laki-laki tertua dalam adat Lampung Sai Batin Sekala Brak.

4) Agresi Militer Belanda I adalah Operasi Militer Belanda di Sumatera dan Jawa yang dilakukan dari tanggal 21 Juli sampai dengan tanggal 5 Agustus 1947.


Lampung Post, 16 Oktober 2011