Showing posts with label Tita Tjindarbumi. Show all posts
Showing posts with label Tita Tjindarbumi. Show all posts

Sunday, December 14, 2014

Lelaki di Bawah Hujan

Cerpen Tita Tjindarbumi


Rintik hujan luruh perlahan. Semakin dipandang semakin cepat gerakannya. Membentuk garis lurus. Dan berubah bak pisau ketika ujungnya menancap ke tanah. Semakin diterjang, semakin tajam menampar kepala, wajah, lengan dan… hati.

“APA yang kau lihat?! Udara di sini tak baik untuk kesehatanmu,” lirih suara itu namun cukup dapat menimbulkan gema di dadanya.

Tak ada siapa-siapa. Tak seorang pun. Hanya langit yang semakin gelap dan pekat. Sementara dedaunan telah basah kuyup. Tangkai dan rantingnya mulai terlihat merunduk. Lunglai. Diterpa angin dan hujan yang datang silih berganti.

Kristy merapatkan krah jaketnya. Sejak sore tadi dingin merasuk hingga ke tulangnya.
Tubuhnya bergetar. Lebih tepat dibilang gemetar, menahan dingin dan rasa aneh yang membuat bulu kuduknya mulai merinding.

Perempuan itu menoleh. Ke kiri beberapa detik. Lalu memalingkan pandangannya ke arah yang berlawanan. Tak ada siapa-siapa. Suara nyangkrik mulai terdengar di antara riuhnya deras hujan. Disusul suara kodok yang bersahutan. Suara itu membuat rasa takut akibat suasana sepi perlahan-lahan menghilang.

Keinginan Kristy untuk duduk berlama-lama di teras sambil menikmati hujan semakin kuat. Andai saja waktu dapat diputar, kembali ke masa lalu yang penuh kegembiraan. Andai saja ….

Masa-masa indah saat bersama teman-teman se kampusnya berputar-putar di benaknya.

“Hai… apakah hujan pun akan kau jadikan sebagai inspirasi untuk cerita fiksimu?”

Anita terkekeh di sampingnya. Menggoda dengan gayanya yang khas. Keceriaan selalu mewarnai wajahnya yang bulat. Rambutnya yang sebahu terurai berai diterpa angin. Hujan semakin riuh membelah bumi.

Villa mungil dengan empat kamar dan fasilitas lengkap milik keluarga Anita adalah tempat favorit untuk berkumpul sekaligus refreshing bagi Anita in the genk.

“Sudah lama banget aku nggak nulis fiksi.”

Kristy serius menanggapi guyon Anita. Sudah lama sekali ia berhenti menulis fiksi. Waktunya habis untuk hunting berita. Waktunya habis di jalanan.

“Kamu terlalu larut dalam pekerjaan. Padahal fiksi-fiksimu kerap membuat fan-fanmu ikut mengkhayal,” goda Anita lagi semakin menjadi-jadi. Senyum Kristy melebar. Membayangkan masa-masa itu...

“Siapa tokoh-tokoh gantengmu? Atau tokoh hmmm… teman masa kecilmu itu?” Anita tertawa terbahak-bahak.

“Nit… please! Mereka hanya tokoh imajinerku.”

Kristy mencoba menghentikan ocehan sahabatnya yang semakin melebar ke mana-mana. Mengobok-obok hatinya. Menyudutkan dirinya pada sebuah kenyataan: betapa pahitnya masa lalu!

Siapa yang menyangka canda Anita selama ini tentang tokoh imajiner dalam fiksi Kristy bukanlah sekedar canda biasa. Kristy telah berkali-kali mengatakan, bahkan meyakinkan sahabatnya, bahwa kisah-kisah yang ditulisnya dan mendapat respons baik para pembacanya, hanyalah fiksi semata. Sangat jauh dari kisah nyata apalagi pengalaman pribadi.

“Aku nggak percaya, sumpah?” Anita menyudutkan pada pilihan yang sulit.

“Jangan terlalu melambung membayangkan tokoh-tokoh itu, Anit. Mereka hanya ada di dalam cerita,” Kristy mencoba memengaruhi sahabatnya. Kalau ia bisa membuat Anita begitu terpengaruh dengan kisah-kisah fiksinya, masak sih tidak bisa meyakin untuk hal yang satu ini?

Kristy mencoba berakting sesempurna mungkin. Nggak kebayang reaksi Anita jika saja ia tahu….

Gubrak!

Tiba-tiba seekor tikus besar menabrak pot berisi tanaman yang daunnya berjuntai ke bawah. Seketika itu juga lamunannya berantakan. Ah… masa-masa yang indah dan apakah mungkin akan terulang lagi. Anita…

Mengingat sahabatnya itu serasa menoreh kembali pisau di dadanya. Kristy tahu, tak baik untuknya jika terus menerus larut dalam kungkungan kenangan masa lalu. Apalagi, ia ragu, mampukah hatinya bersikap seperti sebelum kejadian demi kejadian itu menghantam-hantam perasaannya?

Persahabatannya dengan Anita sepertinya harus berakhir tidak menyenangkan. Kalau saja ia tidak bersikukuh dan lebih memilih berterus terang tentang tokoh-tokoh dalam fiksinya…. Mungkin…. Ah, siapa yang bisa mengubahnya jika kenyataan telah berkata lain. Ia dan Anita berseteru hanya karena seorang yang sama sekali tak jelas rimbanya.

“Chris, tokohmu itu anak sefakultas dengan kita, ya?” Anita menatap Kristy dengan mata penuh bintang.

“Lagi-lagi pertanyaanmu soal itu. Emang kenapa?” Kristy mengalihkan pandangannya. Berharap sohibnya ngga focus ke soal tokoh itu.

Tokoh Galang tanpa sengaja ia temukan pada senja yang basah. Waktu itu ia sudah terlanjur keluar dari gedung fakultas. Dan sialnya di bagasi motornya tak ada jas hujan. Padahal biasanya Kristy selalu siap.

Tiba-tiba saja entah datangnya dari mana sosok tegap tanpa senyum itu sudah berada di dekatnya. Menatapnya dengan sorot mata dingin. Hanya sejenak karena setelah itu laki-laki itu hanya diam. Menatap lurus ke depan seperti sedang menghitung jumlah rintik hujan yang semakin deras.

“Aku tidak sedang bicara dengan tembok kan?” ujarnya lagi. Kali ini tatapan matanya tertuju tepat di dada Kristy.

“Oups maaf....” Kristy terbata. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan gigil dan dengan sigap menutup bagian dadanya dengan tas kanvas yang sejak tadi berada di dekapannya. “Lain kali jas hujan jangan sampai ketinggalan,” kata laki-laki itu seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.

“Galang... namaku Galang. Aku penghuni gedung yang berhadapan dengan gedung fakultasmu.” Laki-laki menyodorkan tangannya. Dengan ragu Kristy menerima uluran tangan itu. Tangan yang kekar dan cukup memberikan kehangatan di senja yang basah oleh hujan yang tak jelas kapan berhentinya.
                               
***

Peristiwa senja itu bagi Kristy bukan hal yang istimewa. Ia terlalu sering bertemu dengan orang baru. Bahkan nyaris setiap hari ia harus menghadapi berbagai macam karakter orang yang menjadi nara sumbernya.

Sampai suatu hari, entah mengapa selalu di saat hujan, sosok Galang tiba-tiba muncul di depannya.

“Ketemu lagi, ya?“ kata Galang setelah menyampirkan backpack-nya yang sedikit lusuh tetapi tidak menghilangkan kesan mahal. Kristy, seperti dihipnosis, matanya langsung mengikuti gerak tubuh Galang.

“Kenapa dengan backpack-ku?” Galang kelihatan terganggu melihat mata Kristy masih tertuju pada //backpack// yang dengan cepat disembunyikan di belakang punggung Galang yang kokoh.

“Oh...o... nggak apa-apa. Agak basah, ya?” jawab Kristy salah tingkah. Huh, ngapain juga ngomongin soal backpack. Apa nggak ada topik pembicaraan yang lebih menarik?

“Tidak bawa jas hujan lagi?“ tanya Galang seperti ingin mencairkan suasana yang tegang. Kristy masih tegang. Ia tidak siap bertemu dengan Galang. Baginya Galang adalah sosok aneh yang membuat jantungnya berdetak tak seperti biasa.

Selalu hanya seperti itu percakapan mereka. Hujan menenggelamkan mereka ke dalam kebisuan. Banyak yang ingin Kristy tanyakan, tetapi lidahnya kelu. Bahkan bertukar nomor ponsel dan PIN BB pun tidak.

Lalu bagaimana ia bisa tahu tentang laki-laki aneh itu? Kebekuan kata itu pula yang mendorong Kristy menduga-duga. Bertanya dan menjawab sendiri semua pertanyaannya dengan caranya sendiri. Membiarkan imajinasinya meliar.

Rasa penasaran Kristy semakin membuncah. Ia ingin mencari tahu tentang Galang. Bukan ingin lebih dekat dengan sosok aneh itu, tetapi ia ingin menuntaskan menjawab semua kegelisahannya. Sebab, beberapa kali Kristy berkunjung ke gedung yang berhadap-hadapan dengan gedung fakultas, Kristy tak pernah melihat Galang di kampus.

Atau ia mencari di saat yang tidak tepat. Dengan kata lain jam kuliah mereka tidak sama? Bisa saja Galang hanya mengikuti kuliah di jam pagi, sementara Kristy justru ambil mata kuliah di jam sore?

Rasa penasaran Kristy semakin membludak karena ia memang nyaris tak pernah melihat mahasiswa yang wajahnya seperti Galang. Siapakah Galang? Kenapa ia begitu misterius? Bahkan Anita saja setengah memaksa memintanya mengenalkan Galang padanya.

Kristy tak bisa menjawab semua pertanyaan dan permintaan sahabatnya, sebab ia sendiri tak tahu siapa dan dimana bisa menemukan sosok Galang.
                               
***

Hujan belum juga berhenti. Gemericik air yang jatuh di atas Vila semakin besar tekanannya. Entah mengapa Kristy masih ingin berlama-lama duduk di teras vila. Memandang hujan dalam kegelapan yang pekat. Angin yang semula terasa silir-silir kini terasa seperti badai yang setiap saat dapat membuat tubuhnya semakin menggigil.

Betapa hujan begitu memukau malam itu. Apalagi diselingi suara gesekan daun yang memecah sunyi. Kristy suka sekali mendengar desau angin dan gesekan dedaunan yang seakan meneriakan kegelisahannya.

“Selamat malam Nona penyuka hujan,” tiba-tiba suara berat itu mengacaukan keasyikannya menikmati hujan.

“Kamu....” sahut Kristy terkejut. Seketika wajahnya memucat. Darimana datangnya sosok itu. Bukankah sejak tadi ia hanya sendirian? Lalu darimana laki-laki itu tahu keberadaannya? Tiba-tiba saja bulu kuduk Krsity berdiri.

Mengapa ia selalu datang tiba-tiba? Aneh sekali...

Bagaimana Galang tahu tempat ini? Bukankah ia tak pernah bercerita apa-apa tentang apa pun pada laki-laki aneh ini. Mereka hanya bertemu tiba-tiba dan tak prnah bertukar cerita. Bahkan, menatap wajah lelaki itu saja Kristy tak pernah. Seperti ada yang menghalangi keinginannya itu.

“Kaget ya saya tiba-tiba ada di sini?” kata Galang membuat Kristy tersadar dari lamunannya.

Aku tak boleh memperlihatkan keherananku pada Galang, gumam Kristy dalam diam. Lalu setelah mengumpulkan keberaniannya, Kristy mempersilahkan Galang duduk di salah satu kursi yang ada di teras vila. Kendati sebetulnya Kristy tak yakin apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar. Mempersilahkan seorang laki-laki di tengah hujan deras masuk ke vila bukan pilihan yang tepat. Tetapi membiarkan Galang berdiri di bawah hunjaman air hujan yang kian deras, betapa tdak berkeprimanusiaan.

“Duduklah, Lang. Aku bikinkan teh panas, ya? Tubuhmu menggigil. Kamu bisa sakit jika dalam keadaan basah begitu.” kata Kristy dengan ujung mata melirik ke backpack lusuh yang dengan terang-terangan disembunyikan di balik tubuh Galang yang tinggi besar.

Kristy berdiri dan ingin cepat-cepat beranjak masuk, tetapi sorot mata Gslang menahannya.

“Tetaplah duduk, saya sudah terbiasa berbasah-basah begini. Lagipula saya hanya mampir sejenak. Saya sedang tak ingin minum apa-apa. Saya memang senang bermain di bawah hujan,” kata Galang semakin membuat Kristy bergidik.

“Kalo gitu, saya akan mengambil handuk dan pakaian ganti,” jawab Kristy asal saja. Ia sendiri tidak tahu apakah di vila ini ada pakaian laki-laki yang bisa dipakai sebagai pengganti T-shirt Galang yang basah dan sudah lengket di tubuhnya. Dalam keadaan basah kuyup begitu Kristy sempat memperhatikan postur tubuh Galang. Tinggi besar, kokoh, dan kuat. Jangankan hujan badai pun sepertinya bisa dihadangnya.

“Tak perlu, Nona...” lagi-lagi Galang melarangnya. Tetapi Kristy tak menggubris. Ia tetap menyeret langkahnya masuk ke dalam vila.

Dengan langkah setengah berlari Kristy masuk ke kamar. Anita sudah tidur lelap di balik selimut tebalnya. Kristy ingin membangunkan Anita, tetapi ia tak tega. Lagi pula Anita pasti heboh bila melihat kehadiran Galang yang sangat tiba-tiba dan dalam keadaan basah.

Sebaiknya Anita tidur saja. Toh Galang tak lama. Ia pasti akan pergi meneruskan perjalanannya setelah hujan redah. Kristy membuka lemari besar yang ada di dalam kamar. Mencari sesuatu yang dapat membantu Galang, setidaknya sepotong T-shirt atau sarung?

Tak ada satu pun T-shirt berukuran besar di dalam lemari. Kristy ngubek-ngubek traveling bag milik Anita. Biasanya Anita membawa T-shirt berukuran raksasa setiap kali ia bepergian kemana pun.

Saat sibuk mengacak pakaian Anita, tiba-tiba saja Kristy melihat sebuah T-shirt corak kotak-kotak di bagian bawah traveling bag Anita. Dengan cepat Kristy menarik T-shirt itu, tetapi karena begitu bersemangat sikut tangannya menyenggoln patung yang letaknya tak jauh dari traveling bag.

“Oufff... gubrak”. Patung tersungkur dan pecah. Anita terbangun.

“Ngapain malam-malam ngubek koperku?” tanya Anita setengah berteriak dan langsung bangun dari tidurnya. Selimutnya disibakan begitu saja.

“Maaf... aku mencari baju ukuran besar. Biasanya kamu kan selalu membawa kemana pun kau pergi, Nit!” jawab Kristy sambil berdiri dan memperlihatkan T-shirt yang sudah di tangannya.

“Ada seseorang di depan membutuhkannya?” kata Kristy meminta persetujuan Anita.

“What?” Anita lompat. Dengan sigap menarik T-shirt dari tangan Kristy.

“Plis, Nit!”

Tetapi Anita tak menggubris. Ia malah lari keluar kamar dan seperti sedang dikejar setan Anita menuju teras vila diikuti langkah Kristy yang mengekor di belakangnya.

“Mana orangnya?” tanya Anita penasaran.

Kristy melongo. Tak ada siapa-siapa di teras vila.

“Dia siapa, Kris? Plis ceritakan padaku,” ujar Anita menghiba. Matanya berkaca-kaca.

“Tadi ada di sini. Ia selalu datang tiba-tiba,” ujar Kristy dengan suara tertahan.

“Katakan padaku dia seperti apa?” kata Anita dengan menghiba.

Lalu Kristy menceritakan sekilas gambaran tentang Galang. Sejak pertemuan pertama, sampai kejadian malam ini.

“Ga...lang... betul dia Galang!” Tiba-tiba saja tubuh Anita lemas dan terkulai. Tak sadarkan diri.

Tanpa sadar Kristy menjerit histeris. Suaranya memecah kesunyian malam. Tetapi siapa yang  peduli. Vila itu letaknya terpencil, jauh dari tempat tinggal penduduk asli daerah itu. Hujan semakin deras menenggelamkan suara gesekan dedaunan. Bahkan suara kodok pun seperti tercekat. Di benak Kristy menggantung beribu tanya. Tentang lelaki itu yang selalu hadir di saat hujan. n   


Lampung Post, Minggu, 14 Desember 2014

Sunday, July 6, 2014

Capucino Kenangan

Cerpen Tita Tjindarbumi


Secangkir kopi cappucino yang kuseduh malam ini membuat aku terkejut. Tiba-tiba aku menyadari bahwa ternyata kita menggemari rasa kopi yang sama. Lebih terkejut lagi karena aku melihat bayangmu pada uapnya yang mengepul, padahal sudah kulipat ingatanku tentangmu. Ah, perempuan bermata embun.
                     
***

MENCINTAI dan dicintai bukanlah sesuatu yang pernah kita rencanakan apalagi hadirnya dibuat-buat. Ia datang menyusup serupa udara yang kita hirup, memenuhi rongga dada yang terkadang justru membuat kita kelelahan. Barangkali karena fakta yang berlari melaju terlalu dini mencapai garis finis, sementara kita masih bersiap-siap di garis start untuk melangkah mencetak jejak, mengambil sekadar pilihan.

Dan…kita seperti dua manusia yang tersesat di hutan belantara yang gelap. Tak membawa perbekalan dan juga peta!

Baru kusadari, cinta saja memang tak cukup untuk berjalan sampai di tujuan, sebuah rumah cinta yang selalu ramah dan memberikan rasa nyaman dan aman. Kuakui, menepis semua godaan memang tak semudah membalik telapak tangan. Perhatian dan kasih sayangmu terasa belum menyempurnakan hidupku yang terbiasa dengan lompatan-lompatan yang menggairahkan. Jauh di dasar hatiku, aku menginginkan dirimu seperti perempuan lain yang mengejar-kejar diriku. Sepertinya mereka tak peduli dengan segala urusan yang bernama cinta. Bagi mereka bersamaku jauh melebihi rasa cinta.

Sayangnya, kau bukan mereka. Dan tak akan pernah bisa menjadi mereka!

Pernah di suatu kesempatan percakapan kita yang tak pernah bisa berdurasi panjang, bagaimana kau menyimpulkan bahwa "cintaku hanya sebuah retorika" dan hanya sekadar konsep yang tak mewujud dalam tindakan nyata. Merangkum semua ucapanmu, selalu kusimpulkan bahwa realitasnya adalah; ada dia suamimu, seseorang yang nyatanya selalu ada dan setia menunggumu meskipun ia tahu cintamu kini untukku.

Dalam kenyataan yang sama, di ruang kosong hatiku yang lain, masih ada seorang perempuan yang tak lagi asing bagimu dan kau selalu menyebutnya sebagai musuh abadi. Aku dan terlebih dirimu, sering membuat kesimpulan yang sama: bahwa kita hanya membuang waktu untuk hal yang tak mungkin bisa tergapai. Kita, terlebih dirimu hanya membuang energi yang seharusnya energi itu dapat kau manfaat untuk hal yang lebih berarti dari sekadar mencintaiku, lelaki yang kau sebut manusia ambigu!

Itu sebabnya, tak bisa kupersalahkan ketika matamu tak lagi menatapku penuh binar. Jemarimu tak lagi bergetar setiap rindu ini tak kuasa kutahan dan rasa itu ingin kutumpahkan meski hanya sebatas menggenggam jemarimu yang tak pernah berhenti bekerja. Kau terkadang seperti arus yang mengalir jauh menuju samudera luas.

“Jika hanya ini yang dapat kau berikan, aku tak akan menampiknya,” ujarku ketika jemarinya dingin berada di genggamanku.

Bibir yang warnanya selalu berwarna cokelat soft itu terkatup. Kau menatapku sejenak. Tidak lebih dari lima detik. Dadaku ingin pecah menahan getar yang menggila.

Ah, sepertinya aku sedang mengalami tsunami hati. Ombak naluri bergulung-gulung. Naik turun membuncah dan pecah di tepian menyebarkan buih.

Aku bisa gila setiap berhadapan denganmu, perempuan yang kurasakan membalas perasaan cintaku dengan sinyal-sinyal yang berpendar dari matanya yang berembun, tuturnya yang membuatku ingin mengulum setiap kata yang terucap dari bibir yang selalu terlihat seksi dan menggoda berahi.

“Hanya ini yang kupunya,” jawabnya pendek. Rambutnya yang panjang tergerai meriap kena angin yang masuk lewat jendela ruang tamu yang selalu ia buka lebar setiap aku berkunjung.

Aku diam. Menunggu sekian detik sinyal dari bahasa tubuhmu. Yang kubayangkan ternyata memang terlalu berlebihan. Kau tetap saja seperti arca yang terbuat dari pualam. Dan aku tak berani menyenggolmu. Aku tak ingin membuatmu retak. Lebih tepatnya, aku tak ingin kehilanganmu jika nekat memperlakukanmu seperti perempuan-perempuanku, pendahulumu.

“Aku tak bisa memberimu lebih, kau tahu alasanku,” katamu lagi.

Aku kembali menatapmu. Aku tahu kau perempuan normal yang butuh sentuhan. Namun tetap saja ketakutan akan kehilanganmu jauh lebih kuat dan membuatku tak berdaya.

Setiap menghadapi kenyataan ini, aku merasa menjadi lelaki tanpa taring. Kadang ingin kuterjang semua keraguan dan ketakutan yang sepertinya telah berhasil mengangkangiku. Membuatku menjadi lelaki tanpa daya setiap berada di dekatmu. Namun, tetap saja rasa cintaku padamu berhasil membuatku menjad lelaki penyabar yang harus puas dengan hanya menggenggam tanganmu.

“Aku akan menjadi pengabdi yang setia jika sudah tiba saatnya,” katamu, saat kau dengan pasti dapat membaca kegelisahanku.

“Berapa lama aku harus menunggu saat yang mendebarkan itu?” tanyaku dengan suara bergetar. Ombak semakin bergulung dan gerakannya nyaris membuatku kehilangan akal sehat.

Darah di otakku bergerak cepat. Aku sudah tak tahan ingin memeluknya.

“Berapa lama? Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan,” jawabmu lembut dan dengan suara bergetar. Aku terpaku menatapmu.

Jantungku seperti berhenti ketika kau menyebut kata Tuhan. Terasa seperti disengat aliran listrik bertegangan tinggi.

“Ketika kita menginginkan sekarang sementara Tuhan belum berkehendak, maka kita akan dimarahi Tuhan,” katamu lagi, mimik wajahmu serius.  Begitu indah sekaligus kejam caramu menjinakkan kegelisahanku. Begitu jitu caramu menyentil kenakalanku.

Bibirmu tersenyum. Tetapi aku lebih suka memandang matamu yang kian berembun. Kalimatmu sungguh ajaib plus manjur. Dengan sebuah kalimat saja telah membuatku terlempar ke masa lalu yang berwarna hitam.

Diriku seperti domba nakal yang tak pernah mengenal Tuhan.

Aku ingin beringsut melepas genggaman tanganku. Tetapi rasa tak rela itu lebih kuat memenjarakan hatiku. Mematahkan keinginan-keinginanku, terutama melampiaskan kenakalanku. Aku lelaki normal. Begitu anehkah jika aku berharap lebih dari sekadar menggenggam jemari?

Atau justru aku sudah gila? Membiarkan perempuan yang manusia biasa dan kuanggap peri….atau bidadari penyelamat hidupku?

Secangkir capucino seduhanmu memang telah membuatku tak berdaya selain mencintaimu dan rela menjadi si kodok yang merindu rembulan…

***

Aku mendengar sumpah serapah itu serupa gendang bertalu-talu, menggebuk gendang telinga, mencambuk kebodohan, meremuk-redamkan jiwa dan memorak-porandakan batinku. Tetapi apalah arti semua itu jika aku tak bisa melakukan apa-apa, selain marah pada keadaan. Marah pada manusia yang memetak-metakan keyakinan. Marah pada mereka membeda-bedakan tempat untuk menuju Tuhan.

Aku tak bisa marah ketika dirimu mengatakan bahwa Tuhanmu begitu sayang padamu sehingga kau bisa menikmati sekaligus mensyukuri semua beban deritamu meski kau hidup sendirian. Aku ingin mendebatmu ketika kau bilang kesendirianmu karena itu bentuk kasih Tuhanmu yang sedang mengujimu dan kau ikhlas menerima hanya agar kau bisa naik kelas.

Sungguh, kau perempuan yang tak mudah dimengerti jika sedang bicara tentang Tuhanmu. Apalagi kau begitu takut kusentuh hanya karena sebuah kata “dosa”.

Lalu aku? Sikapmu membuatku merasa kau sedang meragu akan diriku. Seakan kau bertanya “Bertuhankah diriku?” Tatap matamu seakan menempatkan diriku di barisan manusia yang penuh dosa karena aku suka berganti-ganti perempuan.

Tuhan…di mana dirimu? Di mana kau letakkan diriku? Apakah Tuhanku berbeda dengan Tuhanmu?

Tubuhku membiru pasrah menikmati kenyataan yang hanya mampu membuatku seperti seorang pangeran tanpa mahkota. Seperti arjuna tanpa anak panah yang hanya bisa menunggu, seperti katamu: ketika tiba saatnya…

Tak banyak aksara yang dapat kususun dalam kata-kata, berbaris menjadi puisi yang mampu membuat jiwaku nyaman menunggumu hingga waktu menjelma binar wajahmu seperti merahnya senja paling ranum di lengkung cakrawala.

Ah…a..aku bukan pujangga yang bisa meruntuhkan keyakinanmu dan menjelma menjadi pangeran yang kau impikan. Pangeran yang diutus Tuhanmu membawa kebahagiaan yang abadi.

Abadi?

Bukankah kau bilang, tak ada yang abadi, kecuali perubahan…

Andai bisa kuputar ulang “Mississippi” tanpa bermaksud merayumu agar kau selalu mengingatku, hingga pita suara laptopmu parau kelelahan menyanyikannya, seolah kaki pengembara yang tergagap langkahnya hingga terbujur di atas padang ilalang yang ujung dedaunnya tajam menusuk sukma.

Andai….

Ternyata aku salah menerjemahkan pesan musim yang datang menyapa rimbun ilalang di rumah cinta, tempat di mana kita pernah saling menggenggam jemari menerima kenyataan yang kejam sebagai kenangan.

Kini jalan pulangmu jadi sempurna sesempurna langkahmu yang purnama saat hujan bulan Juli menyapa iringi lambaian tanganmu yang terakhir di bandara itu, tinggalkan secarik cerita dan sisakan sendiriku yang tak menerima kepergianmu. Maka kubiarkan kau jadi kisah sebuah musim dan melipatnya dalam sunyi yang paling purba.

Aku ternyata salah membaca pesanmu, aku keliru meraba hatimu yang ternyata separuhnya telah pergi hingga badai benar-benar datang menenggelamkan kita di lautan kenyataan. Adalah aku lelaki yang terbungkam ambigu, cuma bisa menyusun rindu lewat aksara. Mungkin hanya terdengar seperti nyanyian camar yang rindukan sarang, maka tak perlu menyalahkan waktu juga keadaan sebab cinta kita mungkin hanya untuk memijak hari kemarin.

Kini saat fajar mulai membuka pagi dengan gerimis paling romantis memasuki musim kehilangan. Ada rasa cemas meremas terasa makin sunyi,  berteman redupnya matahari ketika kau pergi di senja kemarin. Mungkin tak ada lagi suguhan istimewa yang bisa kuberikan padamu andai nanti kau datang singgahi kotaku, sebab kita tak bisa kembali pada jalan yang terpecah oleh keyakinan. Maka pulanglah kau kepadanya…

Begitu sederhana caraku menyelesaikan persoalan. Bagiku mungkin ini jalan paling terbaik untuk kita.

Kita?

“Semua bisa terjadi dalam percintaan,” kataku seakan begitu yakin bahwa dirimu tak akan menangis. Yang ada di kepalaku bermacam-macam jenis kekhawatiran. Tetapi melihatmu tak menangis adalah hal yang paling dominan. Sebab, aku tak akan mampu beranjak pergi setiap melihat air mata perempuan. Mungkin itu kelemahanku. Air mata perempuan pulalah yang membuatku tak bisa menolak kehadiran mereka. Menikmati kemanjaan dan dimanja oleh mereka.

“Ya, saatnya memang sudah tiba,” katamu dengan suara pelan, seperti biasa, membuatku gemas. Aku berharap kau menangis dan aku segera memelukmu.

Lima menit…itu tak terjadi. Justru senyum tipismu menusuk jantungku. Kau memang peri penyelamat bagi dirimu. Bukan peri penyelamat kegelisahanku.

Semusim lalu saat aroma bunga kau tebar dan memasuki relung hatiku yang kosong, kukira kau jelmaan peri yang akan menolongku dari sunyi. Ternyata kau perempuan yang lebih suka membiarkan matamu kian berembun, daripada berlari menerjang rambu yang Tuhanmu ciptakan. Kini aroma bungamu berubah menjadi jeruji sunyi yang memenjarakan hatiku: lelaki ambigu. n

* Catatan di sebuah kota yang tercoret dari petamu, 2 September 2011 pukul 20.22, terinspirasi dari sebuah puisi karya EMP.

                       
Lampung Post, Minggu, 6 Juli 2014

Sunday, April 6, 2014

Batu Serampok

Cerpen Tita Tjindarbumi


TELAH bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini. Pulang kampung, menghirup udara segar tanah kelahiran yang bau tanahnya tak pernah hilang dari penciumanku. Bahkan telah pula kususun dengan detail agenda selama berada di negeri beraroma lada. Dulu, ketika orang tuaku masih kaya, hampir sebulan sekali aku dan adik-adikku diajaknya ke kampung.

Di kampung ayahku selalu bilang, ”Ini tanah leluhur kita. Tidak akan habis tujuh turunan meski dibagi dengan anak cucu kalian kelak.” Waktu itu aku tidak begitu peduli apa yang diucapkannya. Yang kuperhatikan adalah kembang cengkih yang muncul di ketiak daun.

Bentuk bunga cengkih sungguh aneh namun indah. Aku suka sekali harum aromanya yang khas. Apalagi jika telah dipetik dan dijemur. Bunga cengkih itu telah menjadi kering dan kata ayahku harganya mahal sekali. Petani di kampungku makan dari upah memetik cengkih.

Selain melihat kebun keluarga, ayah juga memberi tahu letak tanah keluarga yang sama sekali tak menarik bagiku. Entah berapa hektare luasnya, yang kuingat ayahku pernah bilang, ”Di mana letak tanah yang kau suka, Imah. Jika kau suka laut, ambil yang paling dekat dengan pantai. Jika kau pilih yang belakang, nanti tertutup dengan bangunan lain.”

Aku diam. Tak begitu paham. Buat apa aku tanah? Aku memang suka laut. Debur ombaknya selalu membuat imajinasiku menari-nari. Tetapi tak terpikir olehku tinggal di tepi pantai. Selain sepi, aku ingin pergi merantau. Lepas dari urusan keluarga yang menurutku ruwet dengan berbagai urusan silsilah, adat istiadat. Lagi pula aku tak bermimpi bersuamikan lelaki asli daerah ini. Bukan tak cinta pada daerah, tetapi aku tak suka dengan adat istiadat yang ribet.

Aku suka kesederhanaan. Cinta bagiku adalah urusan perasaan. Bukan transaksi antara dua keluarga besar yang mengedepankan derajat keturunan atau gelar-gelar. Bahkan, jujur, aku tak mengerti apa yang mereka sebut “adok”. Bagiku ketika hatiku bergetar saat bertemu lelaki yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya, itulah cinta yang sebenarnya. Tak peduli ia dari keluarga keturunan ningrat atau orang biasa.

Siapa yang mampu menampik rasa cinta? Tak perlu bicara adat, sebab adat tak selalu bisa menyelesaikan persoalan hati. Mungkin adat hanya tepat mengurus soal waris dan bukan soal hati. “Kamu bisa minta apa saja dari ayah, tetapi tidak restu menikah dengan lelaki yang tak jelas asal usulnya!” Begitu ucap ayah saat kukatakan bahwa Lanang, lelaki berdarah Jawa itu akan datang untuk meminangku.

Suara ayah tidak keras tetapi sangat tegas seperti tak bisa ditawar. Darahku serasa bergerak cepat naik ke kepala. Aku perempuan Lampung yang mewarisi kekerasan hati keluarga, tak bisa diperlakukan sewenang-wenang. Ini urusan hati. Bukan urusan warisan yang sudah ada aturan tetapi masih tetap ada kompromi.

“Ayah, saya tidak meminta apa-apa, hanya restu. Dan saya sudah menentukan pilihan hidup saya. Apa pun risikonya, akan saya terima,” kataku tenang meski darah telah bergejolak. Aku ingin berteriak, tetapi percuma. Aku tahu persis siapa ayahku. Ia tak akan menggadaikan martabatnya hanya untuk sebuah restu. Bagi ayah memberi restu sama saja mempermalukan diri dan keluarga. Selain itu, ternyata ayah telah menjodohkanku dengan anak kerabatnya yang turunan ningrat, kaya raya, dan tanahnya berhektare-hektare ada di mana-mana.

Aku tahu, menjadi pembangkang terlalu besar risikonya. Tetapi aku tak akan pernah mundur. Meski begitu, aku juga tak mau bersikap konyol. Aku harus mendiskusikan pada Lanang. Aku butuh dukungan Lanang. Terutama keberanian Lanang agar apa yang sudah kupikirkan tidak hanya keinginan aku semata. Lanang harus punya keberanian dan nyali yang kuat jika ia memang mencintaiku. Dan aku tak begitu yakin soal itu.

“Kita harus bertemu,” kataku pada Lanang lewat telepon. Tegas. Aku tak ingin menangis meski hatiku galau. Darah Lampung, piil (gengsi)-nya terlalu tinggi. “Ya, tentu. Bisakah menunggu sampai selesai jam kantor?” jawab Lanang dengan suaranya yang tenang. Sama sekali tak terkesan ia mengkhawatirkanku. Inikah lelaki yang membuatku jatuh cinta? Bahkan seperti manusia tanpa logika?

“Tidak! Aku mau sekarang kamu datang menemuiku,” kataku memaksa. Lalu aku menyebutkan nama sebuah tempat di mana kami sering ke sana memandang laut, ombak yang bergulung-gulung dan pantai yang seksi. Di sanalah aku pertama kali merasakan getar cinta itu. Entahlah... jatuh cinta karena keindahan laut yang menghipnosis sehingga membuat Lanang terlihat sebagai lelaki yang hebat? Atau karena Lanang memang lelaki yang hebat dibandingkan lelaki lain yang mengejarku dengan modus yang mudah sekali kutebak. Karena aku pewaris tunggal kekayaan orang tuaku.

Hari itu aku menunggu Lanang sampai senja. Aku duduk sendirian memandang debur ombak yang bergulung-gulung. Biasanya aku selalu tersenyum setiap melihat ombak yang berkejaran menuju bibir pantai. Tetapi tidak saat itu. Hatiku cemas. Sebentar-sebentar aku menarik ujung lengan jaket yang menutupi lenganku hanya untuk melihat jam. Berkali-kali kucoba menelepon Lanang, tetapi ponselnya tidak aktif. Pesan singkat yang kukirim tak ada satu pun yang ia jawab.

Ke mana Lanang. Orang kantornya yang menerima teleponku mengatakan Lanang sudah keluar kantor beberapa jam yang lalu. Ke mana? Hingga menjelang mangrib Lanang tak muncul. Aku pulang dengan seribu tanya dan hati tak menentu.

Tak ada yang tahu Lanang ke mana. Bahkan tak satu pun teman kami mengetahui keberadaan Lanang. Seminggu tak ada kabar tentang Lanang, bagiku sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa Lanang memang tidak akan muncul dan mewujudkan impianku untuk terus bersamanya dalam kapal yang sama. Lanang hanya sebuah lukisan buram masa laluku.

Berbulan-bulan aku menyendiri. Mengurung diri di kamar. Tak ingin bicara pada siapa pun bahkan seperti manusia dungu yang patah arang karena cinta yang kuimpikan begitu indah hanyalah fatamorgana.

***

Tak mudah melupakan Lanang. Ia lelaki baik. Lembut dan selalu saja penuh perhatian dan pengertian. Aku masih penasaran mengapa hari itu ia tak datang bahkan tak ada kabarnya. Setelah bertahun meninggalkan tanah Lampung, tak satu pun lelaki dapat menggantikan posisi Lanang di hatiku. Bagiku, rasanya aku masih mempunyai utang janji: janji untuk menikah dengannya. Aku tak peduli usiaku kian bertambah. Aku ingin tahu pasti mengapa Lanang tak datang hari itu. Jika saja ia bilang bahwa ia tak bisa menikahiku karena sesuatu alasan tentu, aku tidak akan sepenasaran ini. Bahkan, mungkin aku telah bisa membuka pintu hatiku untuk lelaki lain.

Upaya ayah dan ibu untuk memintaku kembali tak sedikit. Aku belum ingin kembali dengan luka yang masih basah. Aku butuh penjelasan. Sampai berita terakhir soal ibuku yang sakit-sakitan. Terbayang wajah ibuku yang lembut, ah rasanya aku sudah menjadi anak durhaka yang egois. Lari dari rumah hanya karena sepotong hati yang patah. Padahal ibuku tak pernah berhenti mengkhawatirkanku. Lalu kubiarkan ayahku mengirim orangnya untuk menjemputku. Aku memilih naik darat meski sebetulnya naik pesawat lebih menghemat waktu. Tetapi aku punya alasan yang tak bisa ditawar. Aku ingin berhenti di tempat aku dan Lanang memandang keindahan alam. Pantai Batu Serampok yang juga dikenal dengan nama Tikungan Patah Hati.

Hmm... aku baru sadar mengapa tempat itu disebut tikungan patah hati. Pantai itu kini tak seindah dulu. Sekarang berisik dengan suara mesin pemecah batubara. Lautnya yang dulu indah kini tak terlihat lagi. Tetapi aku tetap ingin duduk sejenak di tempat itu. Setidaknya....

“Hai... sudah sore sebaiknya jangan sendirian di tempat seperti ini,” tiba-tiba saja teguran itu membuatku menoleh. Dan suara itu seperti tidak asing. “Ka...mu?” Aku terbata-bata begitu melihat lelaki dengan kemeja kotak-kotak dan celana jins berwarna biru pekat berdiri tak jauh dari posisi dudukku.

Lelaki itu tersenyum tipis. Matanya memandang ke arah lain, seperti tak berani membalas tatap mataku yang tak lepas dari sosoknya. Aku ingin memeluknya, tetapi lelaki itu seperti tak ingin aku mendekatinya. “Pulanglah, Imah. Jangan lama-lama di sini. Sudah magrib,” katanya lagi seakan mengusirku.

Aku diam. Tak peduli pada kata-katanya. Aku ingin bicara banyak hal, termasuk bertanya mengapa ia tak datang. “Lanang... ke mana saja kamu selama ini?” tanyaku. ”Mengapa kamu tak menepati janjimu?” kataku setengah berteriak. “Kamu jahat! Aku kecewa padamu!” aku terus berteriak kencang lalu mendekatinya dan memukuli tubuh Lanang yang hanya diam. Pasrah.

“Pulanglah, Imah. Sudah gelap nanti kamu sakit. Udara malam di pantai ini tak baik untuk kesehatanmu,” kata Lanang lagi lalu membimbingku, setengah memaksaku turun dari bebatuan.

“Kamu harus ikut aku ke rumah. Dan katakan pada ayahku bahwa kita akan menikah!” kataku lagi memaksa Lanang untuk ikut pulang bersamaku. Lanang diam saja. Ia menuntunku, memegang erat lenganku seakan takut aku terjatuh. Oh, ternyata Lanang masih perhatian padaku. Ia masih mencintaiku.

***

Mobil yang membawaku berhenti di depan rumah keluarga. Bangunan itu masih seperti dulu, terawat dan tetap hijau. Ibuku penyuka tanaman. Seseorang membangunkanku. “Ke mana Lanang?” tanyaku cepat ketika melihat tak ada Lanang di dalam mobil selain pegawai ayahku. “Siapa Lanang?” tanya Udin, sopir ayahku.

“Temanku yang menuntunku ke mobil!” kataku cepat dengan mata nyalang mencari Lanang ke setiap sudut di dalam mobil. Mereka yang masih berada di dekat mobil berpandangan. Aku bingung. Ada apa? “Maaf, Non. Tadi Non masuk mobil sempoyongan. Sendirian. Tidak ada siapa-siapa!”

Alamak! Jadi yang kutemui di pantai Batu Serampok tadi siapa? Tanpa sadar air mataku langsung bercucuran. Itukah jawabannya mengapa Lanang tak datang hari itu? Lalu mengapa ia tak tahu kabar buruk itu? Apa penyebabnya? Rasanya kakiku tak memijak tanah. Bumi berputar lebih kencang dari putaran gasing. n


Lampung Post, Minggu, 6 April 2014

Sunday, January 26, 2014

Aroma Kematian

Cerpen Tita Tjindarbumi

RASANYA sudah terlalu lama kubiarkan otak ini kaku. Memasungnya dalam kegelisahan yang tak berujung pangkal. Sudah lama pula ingin kutandaskan semua yang bernama keraguan. Kegamangan yang kian menebal dan mengkristal menjadi ketidakpercayaan.

Sudah sangat lama aku mengeja setiap gerak tubuhmu. Bahkan setiap gerak bibirmu bermain di mataku, sungguh aku seperti sedang berada di belantara yang gelap. Bahkan cahaya bulan dan kerlip bintang pun tak mampu menembusnya. Inilah yang aku rasakan setiap aku mencoba dan mencoba menerjemahkan tiap gerak organ tubuhmu.

Tetapi mengapa sampai detik ini aku masih bisa bertahan? Setidaknya membiarkan pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang tak pasti. Membiarkanmu berenang sebebas-bebasnya di benakku. Lalu apa yang menjadi goal dari hubungan ini?

Aku mencoba tersenyum, menarik kedua ujung bibirku dengan berat. Bagaimana senyumku bisa merekah sementara hatiku terpenjara? Meski harus kuakui magnitmu begitu kuat menarikku untuk mempelajari siapa dirimu yang sebenarnya.

“Sebaiknya kegelisahanmu kau bagi padaku,” ujar Jero dengan suara lembutnya. Suara yang selalu membuat hatiku lemah.

“Tersenyumlah pasti kecantikan auramu akan terpancar,” katanya lagi, seakan bisa membaca pikiranku yang semakin diselimuti kabut kegelisahan.

“Aku tak bisa ...bagaimana bisa tersenyum jika kelakuanmu tidak juga berubah,” kataku lirih, seakan ditujukan pada diriku sendiri.

Aku bodoh ya? Tak bisa menyembunyikan kecamuk di dada ini.

Jero tersenyum. Lalu dengan sigap ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Nyaris saja ujung bibirnya menyentuh keningku. Untunglah, tak kena. Perasaan tak pernah bisa berbohong. Aku bukan tergolong perempuan yang bisa memamerkan senyum di saat hatiku sedang diamuk kemarahan. Apalagi lumer hanya karena sentuhan basa-basi!

Jero memandangku tak percaya. Mungkin ia berpikir aku sedang berpura-pura marah atau sok jual mahal dan tidak butuh sentuhannya. Uff, lelaki selalu saja menganggap sentuhan bisa meluluhkan keberangan. Mereka selalu pukul rata dalam memberi penilaian pada perempuan.

Atau...Jero justru merasa begitu yakin, caranya menaklukan perempuan bisa diterapkan pada setiap perempuan yang diincarnya?

Oh, betapa naifnya? Tidakkah ia berpikir dari sekian banyak perempuan yang masuk dalam perangkapnya, masih banyak perempuan yang sebetulnya menghitung setiap langkahnya. Bahkan tak hanya sekadar menghitung, banyak perempuan yang jeli dalam menimbang untung dan rugi dalam sebuah hubungan.

Dan aku?

Dalam rasa kesal, marah dan perasaan lain yang menggumpal di dada, aku ingin mencari jawab atas tanya yang sering kali menghantui dan mengganggu pikiran. Kehadiran Jero dalam hidupku, setidaknya tak bisa kupungiri kehadirannya memang dapat mengobati kerinduanku akan perhatian seorang laki-laki. Kukatakan begitu, bukan berarti aku tergolong perempuan yang kesepian. Dalam kenyataan keseharianku tak pernah sepi. Ya terutama sepi masalah.

Masalah silih berganti menghampiri hidupku. Datang tidak diundang, lalu pergi begitu saja. Seperti rutinitas saja. Harus kuakui kehadiran Jero cukup bisa membunuh sepi, terutama sepi akan tawa. Joke-joke Jero dapat membuatku tertawa, bahkan terpingkal-pingkal, meski semakin hari terasa seperti sebuah suguhan dengan menu yang sama setiap hari. Membosankan dan garing abis!

“Baru kali ini aku melihatmu tak berdaya menghadapi laki-laki itu,” ujar Ella teman sekantorku dengan suaranya yang lantang. Suara Ella jelas menggambarkan kekesalan hatinya. Ella adalah temanku yang paling dekat dan awet. Ella banyak men-support-ku dalam banyak hal, tetapi Ella juga banyak mengkritikku. Kadang kritikannya bikin telinga keriting, bagiku tak mengapa, bukankah teman sejati adalah teman yang berani mengatakan hal yang sebenarnya, seburuk apa pun itu.

“Laki-laki itu punya nama, La! Jero namanya. J-E-R-O,” jawabku dengan suara tenang, menyimpan kegalauan yang bisa mendadak muncul setiap mendengar nama itu disebut.

“Ya..JERO!!” sahutnya cepat, memberi tekanan pada nama itu. Sepertinya Ella kena imbasnya juga. Teman sejati...? Ah...

Hatiku tertawa. Senang dapat teman dalam urusan galau.

“Aku tak suka padanya,” kata Ella tiba-tiba tanpa kuduga. Rupanya Ella tidak puas hanya dengan menggambarkan ketidaksukaannya pada Jero hanya dengan sikap. Ia perlu mengatakan langsung, keluar dari mulutnya yang berbibir sensual itu.

“O,ya? Tadinya kupikir kamu suka padanya. Caramu mencuri pandang setiap kali bertemu dengannya kadang membuatku cemburu!” kataku asal saja.

Sengaja memutarbalikkan fakta. Sering aku melihat tatap mata Ella setajam silet ketika melihat Jero bermanis-manis padaku. Kami sudah lama bersahabat, nyaris tak ada rahasia di antara kami.

“Aku tahu kamu membutuhkannya sekadar untuk pembunuh sepi. Bisa jadi ...pelarian gitu...” kata Ella seenak hatinya tanpa memikirkan perasaanku.

Aku nyengir. Tak terlalu salah sih ucapannya. Aku memang sering memikirkan laki-laki itu, tapi tak selalu. Sebab, hari-hariku terlalu banyak masalah, masalah yang mendatangkan uang buatku. Sebagai lawyer lumayan kelimpungan jika tak ada klien yang datang dengan membawa masalah dan uang sebagai imbalan jasa konsultasi yang telah kuberikan.

“Gaya bicaramu seperti pakar, Ella. Kesimpulanmu kali ini seribu persen salah. Tega sekali kamu menyamakan Jero seperti sebuah lagu yang kita dengar saat kita butuh saja. Saat kita ingin rileks sambil rebahan dengan mata terpejam. Kejamnya dirimu....” kataku cepat sebelum Ella memberikan penilaian-penilaian konyol berikutnya.

“Aku tahu...kamu pengin serius, tetapi mana mungkin bisa jika melihat Jero-mu itu seperti kucing garong?!”

Jiaaaaaaaaah...sekarang dia bilang kucing garong.

“Kalo dibilang serius, mana ada perempuan yang tidak ingin menjalin hubungan yang serius. Emakku sudah ribut pengin momong cucu. Tetapi enggak semudah itulah....”

“Ya enggak semudah itu sebab kriteria lelaki idaman yang ada di kepalamu tidak ada satu pun di diri seorang Jero. Lalu mengapa kamu galau?”
Duh..Ella kok  merepet terus?

***

Cinta memang sungguh aneh dan jelimet. Padahal kata banyak orang hasil akhirnya yang begitu-begitu saja. Happy ending atau sad ending!

Aku tak ingin cinta berujung di kegelapan.

Cinta bagiku hanya segumpalan kegelisahan yang bikin sakit kepala. Dia melebihi benang kusut yang tak terurai. Tetapi, aku selalu saja ingin menyisihkan sebuah tempat untukmu, di hatiku yang paling dalam. Di sana hanya aku dan Tuhan yang tahu apa yang kurasa dan segala apa yang kumau. Meski kadang aku merasa tak selalu tahu apa yang aku mau. Tetapi aku terus mencoba. Mencari tahu apa yang kuinginkan.

Satu per satu bayangan masa lalu acap membuat langkahku kaku. Aku ingin menepi dan membiarkan bayang-bayang itu benar-benar berlalu. tetapi mengapa mata ini tak bisa menahan kedip? Mengapa hati ini tak juga bisa membeku. Mereka seperti tak rela membiarkan kenangan demi kenangan ini berlalu begitu saja. Padahal mereka juga tahu, semua ini membuat luka lama menganga dan basah...

Jika kudengar suara derit ban atau aroma bensin bercampur debu, seketika tubuhku menggigil. Rasanya aku sedang berada di sebuah kamar sunyi dengan suhu terdingin dan cahaya lampu menyilaukan mata. Aku seperti berada di sebuah ruangan dengan aroma khas yang melelapkan, yang dalam hitungan tak lebih dari sepuluh menerbangkanku pada keadaan di dunia ada dan tiada. Kecelakaan itu membuatku hilang entah berapa lama. Sungguh telah kujelajahi dunia tanpa senyum. Dunia tanpa kata-kata.

Tak ada Ella. Tak ada Jero yang sempat kuharapkan bisa membangun cinta bersamaku. Tak ada siapa pun! Hanya aroma yang tak kukenal.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah kurasakan. Inikah yang disebut kenyamanan? Ketenangan? Inikah aroma kematian itu? n
               

Lampung Post, Minggu, 26 Januari 2014



Sunday, November 3, 2013

Cinta yang Terbelah

Cerpen Tita Tjindarbumi


Jika rindu kubunuh dirimu dengan puisi atau kalimat dalam cerpenku.
MERINDING bulu kudukku membaca tulisan Soimah. Bayangan perempuan berkebaya itu mencabik-cabik jantungku, memicu ketakutanku yang belakangan ini timbul tenggelam dalam benak dan nyaris meracuni perasaanku terhadap perempuan yang sekian tahun ini menempati seruas ruang di hatiku.

Tak bisa kutampik kenyataan ini. Kendati cintaku pada Soimah kian membeludak, aku belum mampu membiarkan seluruh perasaanku dipenuhi oleh bayangannya. Sosok perempuan lain yang sekian tahun hidup bersamaku membuatku ambigu... Aku membutuhkan sosok Elean dengan penuh kesadaran dan kemunafikanku.

Mencintai dua perempuan dalam waktu yang sama, aku tak lebih dari pecundang yang memanfaatkan perhatian dan cinta mereka. Aku tak berani berkata jujur, sebetulnya di antara mereka pasti ada salah satu yang menempati ruang hatiku dengan bebas.

"Kita tak usah bicara cinta jika kau tak pernah tahu dan bisa memaknai cinta dengan benar,” kata Soimah. Bibir mungilnya setajam belati.
Kutahan napas agar degub di dadaku tak terdengar ke telinganya. Rasanya seperti ditendang mendengar ucapannya. Namun, anehnya aku menganggap tendangannya sebagai rasa cintanya kepadaku.

Sebagai laki-laki diriku memang lemah dan tak punya keberanian mengambil keputusan yang tegas. Bukan tanpa alasan bila aku masih saja terlihat sebagai lelaki egois. Tapi apakah ada gunanya bila kukatakan aku tak ingin mengorbankan anak-anakku yang sudah telanjur berada di zona nyaman karena fasilitas yang diberikan Elean yang belakangan kurasakan tak lebih dari kerangkeng? Yang membuatku tak bisa berpaling pada Soimah.

Dan lagi-lagi pesan yang Soimah kirim padaku itu membuatku semakin ketakutan. Ketakutan yang terbawa ke mana pun aku pergi. Bahkan saat aku menikmati belaian Elean.

Hatiku berdarah. Membungkus gelisahku berhadapan dengan Elean yang tatapannya semakin tajam setiap kali menyambutku pulang dengan wajah semringah. Soimah tak hanya membuat ladang hatiku berbunga, ia juga telah menyemai benih rindu yang membuatku kehilangan arah jika tidak melihat senyumnya.

“Aku muak melihat sisa senyummu,” ujar Elean tanpa melihat wajahku.
Dari ujung mata kulihat amarah menguasai wajahnya. Kubiarkan. Tak ada gunanya bicara pada singa betina yang sedang marah.

“Aku mau mandi, bisa tolong siapkan air hangat?” ujarku setelah mendekat. Sengaja kusentuh telinganya dengan ujung bibirku. Elean mengelak dengan gerakan yang sangat kutahu, ia hanya berpura-pura. Aku sangat tahu bagaimana menjinakkan kemarahannya!

Itu yang membuatku tak pernah kapok dan berhenti mencari perempuan sejati yang dapat membuatku tak berkutik dan takluk padanya. Juga takut kehilangan cintanya.

“Kupikir di tempat perempuan itu sudah kau dapatkan segalanya.” tukas Elean dengan wajah ditekuk.

Kubiarkan ia bicara apa saja.. Tak ada hasratku menjawabnya. Bukan tak bisa menjawab, aku hanya tak ingin jawabanku hanya akan membuat suasana bertambah panas. Bahkan kubiarkan ia melengos ketika lewat di depanku.
“Aku lelah pengin istirahat, bisa agak cepat sedikit? Oke..biar aku siapkan sendiri,” kataku sambil berlalu dan bergegas menuju dapur. Memasak air lalu duduk di kursi di ruang makan.

Terbayang lagi wajah Soimah. Mata embunnya, caranya tersenyum, lentik jemarinya , semua tak lepas dari pandangan mataku. Kelembutan hatinya mempertegas garis darah asal usulnya.

Tanpa kuminta Soimah selalu saja melakukan hal-hal yang mungkin dianggap sepele bagi perempuan lain. Soimah selalu menyambutku dengan sikap penuh pengabdian. Ia menyediakan secangkir capucino panas yang aromanya begitu kuat menyeretku pada ruang yang nyaman.. Ia menyapaku dengan sopan sebagaimana layaknya memperlakukan seorang tamu istimewa.
Ia begitu detail dalam segala urusan. Tak heran bila kadang keningnya berkerut melihat kemejaku tak selicin pakaiannya.

“Orang kota sepertimu tetap terlihat keren meski dengan pakaian sedikit lecek begitu. Apalagi harganya selangit,” katanya dengan senyum yang sulit kuartikan.

Ia membiarkan pikiranku berlari kian kemari mencari maknanya. Aku tak peduli itu kritikan atau sanjungan. Bagiku yang terpenting adalah senyum dan mata itu selalu bak magnit. Juga ekspresi kecemburuannya membuatku semakin mabuk kepayang. 

Soimah…

Nguiiiiiiiiiiiiiiiiing…

Air telah mendidih membuyarkan lamunanku.

“Sudah kusiapkan pakaian dan handuk,” ujar Elean yang telah berdiri di depanku. Lalu ia berjalan ke dapur, mematikan dan mengangkat panci air mendidih ke kamar mandi. Meski sedang dibakar cemburu Elean tetap menyediakan apa yang kubutuhkan..

Di dalam kamar mandi bayangan Soimah masih menari-nari di benak. Ia telah merampok habis perhatian dan perasaanku. Bahkan ia juga nyaris membuatku mengabaikan kebaikan Elean yang telah berbuat banyak untuk hidupku.                                    *****

Elean, berdiri di sebelahku. Bau sabun di tubuhku tak mampu mengusir aroma manis dari tubuhnya. Tetapi lagi-lagi bayangan Soimah membuatku ingin segera lelap dalam mimpi. Aku tak ingin  berpura-pura mesra sementara hati kecilku masih dipernuhi bayangan Soimah.

Entah kekuatan apa yang membuatku berani terang-terangan menduakan Elean. Bersama Soimah aku merasa menjadi pribadi yang kuat. Setidaknya dalam menghadapi kemarahan Elean.

“Aku ingin papa lebih konsentrasi dalam urusan pekerjaan. Tidak ngilang di jam sibuk. Tidak menghabiskan weekend untuk hal yang tak jelas. Seharusnya papa pikirkan kesehatan. Papa harus memanfaatkan weekend untuk istirahat,” kata Elean setelah menggeser tubuhnya lebih dekat ke tubuhku. Bau sabun memang sudah menghapus jejak Soimah dari tubuhku, tetapi semua tentang perempuan Jawa itu justru semakin melekat dalam jiwaku.

Malam ini kubiarkan Elean melakukan apa saja atas tubuhku ini. Aku meresponsnya seperti biasa meski tanpa hati. Aku tak mau melukai Elean. Lebih tepatnya aku tak mau kehilangan zona nyaman. Aku tak ingin anak-anakku kehilangan semua fasilitas yang diberikan Elean pada mereka selama ini. Aku juga gak ingin kehilangan pekerjaan dan menjadi gembel yang luntang lantung di jalan mencari pekerjaan.

Jujur, aku takut menghadapi hidup dalam kemiskinan dan harus banting tulang untuk menghidupi anak-anak dan diriku. Belum lagi tuntutan keluarga yang menganggapku punya harta berlebih yang bisa dibanggakan keluargaku di kampung.

Tapi aku tak bisa dan tak sanggup melepas Soimah hanya untuk menyenangkan keluarga dan anak-anakku. Keluarga dan anak-anakku harus bisa menerima kenyataan bahwa aku tak punya apa-apa. Selain sisa harga diriku yang kian tergadai demi zona nyaman yang ditawarkan Elean.

“Aku bisa menjaga kesehatan. Tidakkah kau lihat belakangan ini kesehatanku semakin membaik,” jawabku datar.

Tak sampai hati mengatakan bahwa kesehatanku semakin baik karena Soimah banyak memberikan suplemen yang telah memperbaiki sel-sel hati dan jiwaku yang mati karena tekanan-tekanan yang berkeliaran di hidupku.
Bahkan sebelum bertemu Soimah aku sudah memasrahkan diriku mengikuti semua kemauan Elean kecuali menikahinya. Aku tak mau menikah dengan perempuan mana pun sebelum benar-benar yakin dia adalah cinta sejatiku.

“Sudah seharusnya kamu pikirkan kelanjutan hubunganmu dengan Elean,” kata Soimah suatu senja. Wajahnya datar saat mengucapkan kalimat yang menohokku itu.

“Dia memang baik. Dia memang telah memberikan separoh napasnya untukku. Tetapi itu saja belum cukup untuk membangun sebuah rumah cinta,” jawabku tanpa bermaksud merendahkan Elean.

Aku juga tak ingin Soimah menganggapku lelaki yang suka bicara jelek tentang perempuan. Terlebih perempuan yang sudah hidup bersamaku sekian tahun tanpa kejelasan status.

“Kamu tak boleh permainkan Elean,” kata Soimah lagi seakan tak peduli pada perasaanku yang sakit ditusuk-tusuk oleh kata-katanya yang tajam.
“Kamu juga tak bisa paksa aku untuk memilih Elean apalagi sampai menikahinya.”

Soimah tertawa. Dalam tawanya ia tak mampu menutupi kegetiran hatinya.

“Aku hanya menawarkan yang terbaik untukmu tanpa bermaksud memaksamu untuk melakukan yang tak kau inginkan. Dari banyak ceritamu tentang perempuan itu…maaf maksudku Elean, kusimpulkan dia perempuan baik dan telah banyak memberikan banyak hal padamu.” lanjut Soimah lagi seperti sedang mengiris perasaannya. Juga perasaanku. Aku tahu ia juga mencintaiku, sama seperti aku yang mencintai dan tergila-gila padanya.

“Cinta saja belum cukup. Begitu kan katamu?” katanya lagi tanpa peduli luka itu kian menganga.

”Aku tak bisa melakukan seperti yang dia lakukan untukmu dan keluargamu. Aku tak punya apa-apa. Dan aku tidak tega melihat orang yang aku sayang hidup menderita hanya demi perempuan yang tak bisa memberikan zona nyaman padanya.”

Aku diam. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku terjebak di antara dua perempuan yang sama-sama istimewa dalam hidupku. Aku tak bisa memilih Elean dan membiarkan cintaku pada Soimah kandas. Namun aku juga belum sanggup menerima kenyataan hidup menderita jika Soimah-lah perempuan yang kupilih.

Kepalaku mendadak sakit. Tiba-tiba aku merasa menjadi banci. Tiba-tiba aku merasa semakin ketakutan setiap mengingat tulisan Soimah.

Jika rindu kubunuh dirimu dengan puisi atau kalimat dalam cerpenku.


Tiba-tiba tubuhku bergetar keras. Lunglai. Gelap. n   
   

Lampung Post, Minggu, 3 November 2013

Sunday, July 14, 2013

Perempuan Biru Bergaun Kesumba

Cerpen Tita Tjindarbumi


Langit semakin hitam. Bulan bersembunyi entah dimana. Tak satu pun terlihat bintang yang biasanya tak lelah berkedip-kedip. Gedung itu masih berdiri tegak seperti berpuluh tahun yang lalu. Tak banyak yang berubah. Secara fisik gedung itu tetap terlihat kokoh dan arogan.


Di beberapa bagian gedung tua yang masih kokoh itu, cat tembok gedung itu telah   terlihat kusam. Warna catnya memudar terkikis waktu. Semak dan ilalang yang tubuh subur, tingginya nyaris menutupi pintu masuk rumah itu.

Jika bukan karena kerinduan pada neneknya, Damian tak akan mau menginjakan kaki ke gedung itu. Dari kejauhan saja ia sudah merasakan aura lain yang membuat bulu kuduknya berdiri. Lamat –lamat terdengar suara langkah terseok. Sesekali telinganya seperti mendengar suara  napas terengah. Semakin dekat ke pintu kamar Damian merasa seperti sedang terjebak di sebuah kota tanpa penghuni. Hanya suara sirine mobil patrol milik satu-satunya polisi di kota mati itu. Imajinasinya kacau. Apalagi rasa takut kian menyergapnya. Ia merasa tubuhnya mendadak dingin. Bulu kuduknya tak hanya berdiri. Tetapi tubuhnya juga seperti tak bertulang.

“Tak ada yang perlu kau takutkan,” Damian seperti mendengar suara bisikan.

Ah, suara siapa itu? Ia tak pernah mendengar suara sehalus itu. Lagi pula kabar yang ia dengar gedung tua itu sudah hampir sepuluh tahun tak berpenghuni. Satu persatu penghuni rumah itu pergi meninggalkan rumah peninggalan neneknya.

Pertikaian keluarga tak bisa dihindari. Beberapa ahli waris bertengkar memperebutkan rumah yang dibangun neneknya dengan susah payah. Ahli waris perempuan yang kebanyakan sudah menjadi orang kaya ingin rumah itu dijual saja.

“Kami ingin menikmati warisan sebelum mati.” ujar Rum, anak perempuan nenek yang nomor tiga. Ia bahkan ngotot mengatakan jika belum laku dijual maka yang menempati rumah itu harus membayar uang sewa sehingga semua ahli waris bisa menikmati uang sewa rumah warisan itu.

“Betul, Tante Rum, kami juga sebagai ahli waris mama sepakat,” tukas Nana anak tertua dari  anak perempuan nenek yang paling tua dan telah meninggal.

Damian menggoyang-goyangkan kepalanya. Ingin memastikan apakah ia sedang bermimpi atau hanya berhalusinasi? Lalu mengapa ia seperti melihat rumah itu? Rumah tua yang terasa sekali banyak penghuninya. Makhluk asing yang tak bisa dilihat tetapi mengapa ia bisa merasakan dan melihat mereka dengan jelas?

Wajah-wajah asing yang lalu lalang seperti tak peduli padanya. Wajah-wajah yang sibuk dengan urusan masing-masing dan tak menoleh padanya.

Damian menepuk pipinya kuat-kuat. Terasa sakit. Ia tidak sedang bermimpi. Tetapi Damian sadar sepenuhnya ia sedang berada di kamarnya, tidak di rumah tua itu. Bukankah rumah tua itu cukup jauh jaraknya? Bahkan untuk mencapai rumah itu ia harus menempuh perjalanan sehari semalam.

Sunyi semakin menikam malam. Damian menarik selimut tebal semakin ke atas. Nyaris menutup separuh wajahnya. Semakin ke atas. Menahan  napas.

Uff...gigil menyerang tubuh Damian. Ditahannya napas lalu menghembuskan perlaha. Dadanya masih sesak dan aroma anyir berbaur dengan lembab menyeruak semakin dekat ke penciumannya.

Ini bukan halusinasi…

Damian memaksa matanya agar bisa tidur. Dipejamkan matanya berharap setelah itu ia terlelap dan tidak lagi berada antara tidur dan terjaga. Bayangan rumah tua dan wajah-wajah asing itu masih saja menari-nari di pelupuk matanya.

Lalu suara halus itu…suara siapa? Damian mencoba mengingat-ingat. Sulit baginya menggali sisa kenangan tentang rumah itu. Memorinya telah penuh dengan potongan-potongan peristiwa yang terjadi. Hanya sebagian kisah masa kecil dan tentang rumah itu yang ia ingat. Yang paling Damian ingat adalah semua cucu ahli waris rumah itu dipaksa keluar dari rumah itu hanya karena sebuah kertas penjanjian usang yang ditandatangani bapaknya dan saudara-saudaranya.

Padahal, bapaknya sudah lama meninggal. Seharunya ia sebagai ahli waris bapak punya hak atas rumah itu. Tetapi ia juga menjadi korban pengusiran.

Bukan tak berani melawan keangkuhan mereka, tetapi Damian tahu, mengalah adalah satu-satunya sikap yang bisa membuat hubungan keluarga terjaga. Meski pada akhirnya, sulit mempertahankan keharmonisan.
Tiba-tiba suara itu datang lagi. Sayup-sayup dan nyaris hanya seperti bisikan. Jauh sekali suara itu tetapi telinga Damian bisa menangkap getarannya. Damian mengerahkan kemampuan kerja telinganya bekerja ekstra. Sementara suhu tubuhnya  mulai naik. Ruangan kamarnya yang dingin  tak mampu menahan cairan yang mulai merembes dari pori tubuhnya. Damian  berharap dapat mendengar  suara dan  kalimat yang diucapkan.

Apa yang diucapkan? Suara siapa itu?

Damian tak berhasil mengembalikan memori masa lalu. Dia juga tak berhasil mengingat pemilik suara itu. Padahal …sepertinya ia cukup akrab dengan suara itu.

Lalu suara siapa?

Ini halusinasi. Tak mungkin ada suara orang berbisik di tengah malam menjelang dini hari? Perasaan takut tiba-tiba mengurungnya. Ia harus membuang rasa takut itu. Ia tak mau dikuasi oleh makhluk-makhluk jahat yang bisa saja jin atau setan yang sedang mengganggunya.

"Meeeoooooong!"

Teriakan kucing yang biasa tidur di sofa depan kamar Damian  nyaris membuat jantung Damia melompat.

Gubraakh!

Suara kotak sampah di depan kamarnya  seperti ditendang dengan kekuatan dasyat.Bulu kuduknya langsung  berdiri. Ya, Tuhan...ini bukan halusinasi. Damian melempar  selimutnya  begitu saja lalu bangun dan duduk sambil bersandar di bantal yang ditumpuk. Antara takut dan penasaran datang silih berganti. Ini bukan yang pertama kali ia mengalami malam-malam yang ganjil.

Suara lolong anjing yang panjang.  Langkah yang membuntuti dirinya di  sepanjang pintu masuk  rumah kos hingga ke lantai atas dan berhenti persis saat ia membuka kamar yang selalu didahului dengan mengucapkan salam sebagaimana seorang muslim.

Bahkan tergelincirnya dirinya dari anak tangga beberapa saat lalu membuat kecurigaan Damian  semakin kuat. Coba bayangkan keganjilannya, bagaimana mungkin ia bisa tergelincir sementara ia berjalan dengan hati-hati saat menapaki anak tangga satu demi satu. Untunglah dengan sikap tangannya memegang kayu yang membingkai tangga.

Dua menit. Dibiarkannya  kucing-kucing itu mengeong semakin keras dengan suara menyayat. Duh...

Lalu dengan cepat Damian mengambil Ipod yang berada di balik bantalnya. Lalu ditekannya  tombol play. Beberapa detik kemudian terdengar suara seorang membaca Al Fatehah dengan keras. Sengaja dibesarkan volumenya. Bibir Damian sibuk komat-kamit mengikuti ayat demi ayat yang kusambung dengan membaca ayat kursi.

Tiba-tiba ponsel Damian  berdering. Dengan cepat diambilnya ponsel yang berada di sebelah kanan bantalnya. Lampu ponsel yang berkedip-kedip member cahaya di kamar Damian yang gelap. Ia tak bisa tidur dalam keadaan lampu menyala.

Yoi, tulisan itu muncul di layar ponselnya. Nama guru spiritual temannya. Damian tidak percaya urusan perdukunan. Ia memilih diam setiap kali teman-temannya sibuk membahas tentang dunia supranatural. Damian juga tak mau mengumbar cerita bahwa ia bisa merasakan adanya “makhluk asing” di tempat yang baru ia datangi.

"Assalamualaikum," ujar Damian dengan suara pelan.

Setelah menekan tombol yes dari seberang kudengar suara Abah Yoi menjawab salamnya. "Ada apa?" tanya Abah Yoi dengan suara penuh kekuatiran.

Damian menggerakan bibirnya, meringis. Ia ingin bersikap wajar. Badannya masih dingin. Tubuhnya menggigil. Anehnya keringat terus mengalir sampai kaos Damian basah.

Damian berusaha bicara sewajarnya untuk  menutupi ketegangan dan ketakutan.

"Nggak  ada apa-apa."

"Benar? tidak ada apa-apa?" Suara Abah Yoi terdengar ragu. Tak percaya. Tetapi ia tak ingin memaksa. Abah Yoi tahu Damian sedang ketakutan.
Damian mengangguk. Sedetik kemudian ia tersenyum menyadari ketololannya. Bagaimana Abah Yoi  bisa melihat anggukannya? Dia berada di seberang laut sana.

"Cuma sedang tidak bisa tidur. Penyakit lama, Bah."

"Yang begitu-begitu bisa dilawan dengan membaca al Fatihah dan ayat kursi." katanya seakan paham yang sedang terjadi.

Lagi-lagi Damian  mengangguk. Walah kenapa jadi bloon?

***

Malam itu  mata Damian  tak bisa dipejamkan. Masih aja telinganya terngiang –ngiang seolah masih mendengar suara aneh. percakapan lamat-lamat.Ada suara tawa. Tak lama berganti dengan suara musik. Padahal malam tadi setelah merasa agak tenang Ipod dimatikan dan Damian  beranjak ke meja kerjanya. Menengok ke laptopnya  yang masih dalam keadaan online. Membuka halaman sosial media  dan membuka halaman word.

Malam ini sebetulnya ia  sedang menulis kisah seorang perempuan. Damian  membayangkan perempuan itu begitu cantik dengan body yang nyaris sempurna tanpa kekurangan disana-sini. matanya yang biru membuat Damian menjulukinya sebagai perempuan biru. Gaun merah yang sering dipakainya membuatnya  menambahkan dengan sebutan perempuan bergaun kesumba.

Saat sedang asyik dengan imaji yang semakin meliar tiba-tiba saja jemarinya berhenti. suara langkah itu membuatnya berhenti menulis.

Ada apa?

Perempuan itu…

Yaaa…Damian bergidik. Suara itu memang suara perempuan yang sedang berbisik. Langkahnya yang menyeret itu seperti langkah perempuan yang sangat hati-hati, kuatir gaun berwarna kesumbanya yang  bak gaun pengantin itu terjurai panjang menempel di lantai, entah berapa panjang ekor gaun itu, terinjak karena nyerimpetin langkahnya. Bayangan perempuan itu serupa lukisan hidup di benaknya.

Siapa perempuan itu? Mengapa ia seperti ingin menarik Damian masuk ke dalam rumah tua itu. Rumah warisan neneknya yang lama kosong dan sangat menakutkan dalam bayangan Damian. Sepuluh tahun lebih ia tak pernah kesana. Tak ada keinginannya masuk ke dalam rumah yang merobek tali silahturahmi dengan keluarga besarnya.

Tidak! Damian tidak akan mengikuti suara itu meski sebenarnya ia mulai tergelitik ingin tahu siapa perempuan bergaun kesumba itu. Damian penasaran ingin melihat wajah perempuan itu.

Siapakah dia? Penunggu rumah itu? Setahu Damian tidak ada hantu perempuan yang menunggu rumah itu. Beberapa yang pernah Damian lihat ketika masa kanak-kanak tetapi tak pernah ada perempuan dengan gaun kesumba yang gaunnya sudah usang meski bekas-bekas kemewahan masih terlihat.

Lalu apa maunya dia? Mengapa ia muncul di antara alam setengah sadarnya?
Korban pembunuhan? Damian mencoba mengingat beberapa kejadian di rumah itu. Tak pernah ada cerita soal kematian yang mencurigakan. Meski terjadi perselisihan keluarga, tak sampai terjadi pertumpahan darah.
Otak Damian lelah. Ia tak menemukan jawabannya. Ia tak pernah melihat perempuan itu. Akhirnya Damian menarik selimutnya.

***

Esoknya Damian terbangun mendengar suara Adzan subuh. Benaknya masih digelayuti bayangan perempuan bergaun kesumba itu. Di luar kamarnya masih gelap. Damian beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar. Memutar kunci lalu membuka pintu. Keranjang sampah yang berada di depan kamarnya berpindah ke depan pintu kamar lain. Isinya berhamburan dimana-mana.

Lalu Damian berjalan keluar kamar. Memeriksa pintu yang menuju balkon, letaknya tak jauh dari kamarnya. Bulu-bulu kucing berserakan di atas sofa, sebagian di lantai.

Jantung Damian seperti berhenti sekian detik. Jadi kejadian semalam bukan halusinasi. Suara kucing yang mengeong ketakutan, suara bak sampah ditendang dan lolong anjing yang panjang….

Damian membalikkan badannya, berjalan kea rah kamarnya. Lalu ia masuk ke kamar mandi dan berwudhu. Pagi ini sholat subuhnya lebih lama dari biasanya. Damian tahu kemana dan kepada siapa ia meminta pertolongan dan perlindungan.

Selesai sholat Damian mematikan AC, lalu membuka tirai jendela kamarnya. Membuka jendela kamarnya. Matanya berhenti ketika melihat kalender di dinding tak jauh dari jendela kamarnya. Ada lingkaran merah di angka 16 yang ternyata jatuh pada hari Kamis.

Tak jauh dari jendela Damian menemukan beberapa helai rontokan rambut berwana hitam berkilau dan panjang. Juga sobekan kain berwarna merah.
Tubuh Damian seperti dipaku…. n
               

Lampung Post, Minggu, 14 Juli 2013

Sunday, April 21, 2013

Perempuan Plastik

Cerpen Tita Tjindarbumi


Membayangkanmu menjadi selimut sekaligus  kuda yang memacu kencang ranjang penuh badai para pemuja nikmat dunia, rasanya seperti sedang berada di sebuah lahan yang luas tetapi penuh sampah.

***

Doan bergidik setiap kali teringat ucapan Lani  yang setajam silet. Ia tak pernah mendengar perempuan itu berucap kasar. Lani selalu berperan sebagai perempuan yang memposisikan dirinya di titik yang objektif.
Seharusnya Magi tetap menjadi perempuan yang punya arti baginya, meski tetap saja Doan tak bisa melawan kemauan iblis penggoda. Ia mencampakkan Magi di saat Magi telah benar-benar jatuh cinta padanya.

Dan gilanya  ia berpindah perhatian pada perempuan lain. Perempuan yang di mata Lani, sahabatnya, adalah perempuan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai impiannya. Menjadi perempuan metropolis yang hedonis.

Perempuan itu bernama Diza. Ia  bunga desa yang selalu dikerumuni kumbang-kumbang yang berebut ingin menyentuhnya. Bukan karena wajahnya yang cantik, kemolekan tubuhnya membuat liur para kumbang tumpah ruah karena birahi gelisah. Dan Diza tak menyia-nyiakan peluang itu.

Tak sulit melumpuhkan para kumbang, ia cukup menarik sudut bibirnya,mengerlingkan mata dan memberi sinyal lewat bahasa tubuh, maka segala impian bisa diraihnya. Para kumbang tak merasa keberatan memenuhi permintaan Diza, asalkan…

Betul kata Lani, suatu ketika ia akan kena batunya. Mencampakan perempuan baik demi perempuan yang membuat hatinya tak pernah tenang. Perempuan desa yang mengejar mimpinya, hidup gemerlap sebagaimana layaknya perempuan kota yang menari dalam riuhnya kaum hedonis.

“Ketika kau sedang di mabuk asrama, seperti halnya laki-laki lain, hanya melihat perempuan itu dari sisi baik. Sisi yang mungkin saja tidak bisa kau rasakan ketika kau bersama perempuan baik-baik!” ujar Lani dengan suaranya yang selalu tenang. Ia selalu saja pandai menyembunyikan gejolak jiwanya.

Doan tak ingin mengomentari ucapan Lani yang menohok dan subjektif. Meski jika direnungkan, ucapan Lani banyak benarnya. Ia tak bisa pergi bersama Magi seenaknya. Magi tak punya banyak waktu untuknya. Dia pekerja keras, mandiri dan tak suka orang lain mencampuri urusannya, meski Doan adalah kekasihnya.

“Bukan tak mau menerima uluran tanganmu, Do… beri aku kesempatan untuk menyelesaikan persoalanku sendiri,“ kata Magi, selalu, setiap kali Doan ingin membantunya.

Beda sekali dengan Diza yang selalu saja membutuhkan dirinya. Doan tak menampik, ia suka pada hampir seluruh yang ada pada diri Diza. Tubuhnya yang selalu beraroma tajam, eksotik, membangkitkan erotisme yang menggila membuat syaraf-syaraf di tubuhnya mengejang. Sementara Magi? Ia terlalu lembut untuk memakai parfum yang menggoda iman laki-laki. Bersama Magi, Doan serasa seperti laki-laki yang baru saja lari dari padepokan. Kelembutan perempuan itu membuat Doan merasa seperti ada jarak yang membuat Doan harus berpikir panjang untuk mengekspresikan rasa sayangnya pada Magi.

Bersama Magi harus diakui, Doan merasa tenang. Tetapi sungguh membosankan. Tak ada tantangan sama sekali. Beda dengan Diza yang selalu saja membuat dada Doan sering terbakar rasa cemburu. Terlalu banyak laki-laki yang mengejar perempuan itu. Dan Doan melihat bahasa tubuh Diza jelas membuka peluang bagi siapa saja. Diza butuh duit banyak untuk pergi ke salon setiap minggu. Tas branded, kaca mata, sepatu, gaun sampai parfum bermerek.

Doan mencurigai banyak laki-laki yang berada di belakang punggungnya. Laki-laki yang mendapat fasilitas sama asalkan bisa memenuhi tuntutan Diza yang tak ada habisnya. Dan…Doan mulai muak. Merasa telah salah memilih perempuan. Perempuan yang tak pernah bisa jauh dari salon dan klinik kecantikan untuk memermak dirinya agar selalu bisa tampil cantik di mata laki-laki yang diburunya untuk menjadi penyandang dana demi kepuasannya. Demi untuk mencapai mimpinya menjadi perempuan kota yang kaya raya, meski untuk semua itu ia harus pasrah membiarkan para lelaki menyusuri setiap jengkal tubuhnya yang memang aduhai karena canggihnya dunia bedah plastik.

***

Doan mengepalkan tangannya. Lani telah menyumpahinya! Omongan Lani tak hanya menyiletnya tetapi mengutuknya!

Egois memang jika menganggap ucapan Lani sebagai kutukan atau sejenisnya yang pada kenyataan memang benar terjadi.

“Tidak ada yang aneh jika tiba-tiba kamu berpaling dari Magi ke perempuan yang keluar masuk salon kecantikan itu,” kata Lani, nadanya penuh cemooh. “Lagi pula kamu memang tidak pantas untuk perempuan sebaik Magi!” lanjutnya lagi, pandangan matanya lurus menatap Doan, seperti menyambar.

“Tega sekali nyumpahin aku?!” Doan menghisap rokoknya dalam-dalam.

Jika tak malu mengakui, sebenarnya ia tak benar-benar telah mencampakan Magi begitu saja. Doan  mencintai Magi. Tetapi ia laki-laki normal yang tak selalu bisa menahan gejolak.

Sebagai laki-laki yang tak mau dianggap blangsak Doan harus ekstra hati-hati setiap kali berhadapan dengan Magi.

“Bukan nyumpahin, tetapi sebagai teman aku hanya ingin menyampaikan yang sebenarnya. Apa kau tidak curiga dengan embel-embel yang melekat pada perempuan plastikmu itu?” lagi-lagi Lani bersuara tegas.
Doan meletakan rokoknya yang baru dihisapnya setengah batang.

“Maksudmu?”

Lani memandangnya tanpa kedip.

“Jangan pura-pura blo’on, Doan! Kamu pasti tahu apa yang kumaksud!”
Doan menatap Lani dengan otak yang berputar-putar mencari makna kalimat Lani yang menudingnya pura-pura.

“Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada perempuan yang kelaur masuk klinik kecantikan untuk memermak tubuhnya agar bisa selalu kelihatan molek? Memermak wajahnya agar kelihatan cantik? Apakah kau tidak sadari kau telah menjelahi tubuh perempuan yang kau pikir itulah keindahan, padahal kau sedang bercinta dengan silikon?!”

Sepertinya Lani belum puas, ia lalu beranjak dan berjalan mendekati Doan yang sedang terpekur, tak siap dengan serangan Lani yang membuatnya terhenyak. Tak pernah menyadari bahwa kecantikan Diza hanya semu. Boleh jadi dibilang kecantikan palsu.

Dan yang paling membuat Doan tak bisa menerima kenyataan adalah darimana Diza mendapatkan semua kemewahan yang dia punya sementara ia tak bekerja, kesehariannya hanya hura-hura dan bermalas-malasan di apartemen mewahnya. Meski ia selalu bangga dengan kartu nama yang dia berikan pada orang piulihannya. Direktur perusahaan batubara, jabatannya di kartu nama itu.

“Aku tak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta padanya,“ kata Doan.

“Lalu kau tertarik pada apanya? Labelnya yang direktur?”

Tawa Lani pecah. Memecah keriuhan sumpah serapah di dada Doan.         

“Siapa yang peduli dia siapa? Yang jelas lelaki juga tak bodoh. Bukankah setiap lelaki siap menjadi pembeli?”

Buset. Tawa Lani semakin mengguncang dada Doan. Doan tahu, Lani sedang mentertawakan dirinya. Mentertawakan kebodohannya, melepas perempuan yang mandiri, memperjuangkan harga diri demi menjaga kehormatannya sebagai perempuan, bekerja keras untuk mengangkat martabat keluarga dengan menyekolahkan adik-adiknya agar bisa menjadi anak bangsa yang berpendidikan, nanum ia malah meninggalkan dan menjatuhkan pilihan pada Diza yang hanya tahu kehidupan mewah, laki-laki necis berkantong tebal, shopping, jalan-jalan ke luar negeri bersama laki-laki kaya dengan gaya elegan seakan sekretaris yang profesional. Padahal yang sebenarnya ia tak lebih hanya seorang lady escort hight class.

Diza hanya butuh limpahan materi demi eksistensi dirinya untuk tetap bisa masuk di kalangan  kaum jet set. Baginya membiarkan laki-laki menelusuri tiap jengkal tubuhnya adalah salah satu rekreasi yang menghasilkan banyak duit. Bahkan dengan begitu ia bisa dengan mudah mendapatkan jabatan direktur di banyak perusahan milik para lelaki hidung belang yang tak bisa mendapatkan fantasi sex dari isteri mereka yang di ranjang hanya menyuguhkan gaya yang itu-itu saja. Membosankan.

“Coba sesekali kau survey ke pasar tradisional atau super market, tanya pada mereka, barang seperti apa yang mereka beli? Semua orang waras akan menjawab, mereka membeli barang bagus dan murah harganya,” kata Lani semakin bersemangat.

“Apa maksudmu? Masak kau samakan Diza dengan barang?”

“So…lalu apa yang ada di kepalamu? Kau masih menganggap dia bunga yang harum? Yang cantik bak pualam yang bila kesenggol kuatir jatuh atau retak?”

“Tidak segitu-gitunya juga-lah, Lan!”

“Lalu apa?!” Wajah Lani semakin serius.”Coba kau katakana, aku siap mendengarkan.”

Doan diam. Berpikir keras mencari kalimat yang tepat untuk menjawab tiap pertanyaan Lani yang membuatnya mati langkah.

“Aku tuh sedih dan prihatin jika masih ada perempuan yang salah memaknai arti kata emansipasi. Mereka menganggap untuk menjadi perempuan hebat bisa dilakukan dengan jalan pintas. Mengelabuhi laki-laki, memanfaatkan kemolekan tubuh demi memperoleh saham di berbagai perusahan. Mereka nggak sadar telah menggadaikan harga dirinya.”

“Diza belum minta saham di perusahaanku,” Doan berkilah.

“Belum… sebab kau juga ingin mengelabuhinya. Sempat terpikir olehmu untuk memanfaatkan dia untuk kepentingan usahamu juga kan?” Jawab Lani, menudingnya.

“Jangan berdalih, Do…aku tahu kau juga buaya. Itu sebabnya kau tak betah punya kekasih seperti Magi yang menolak free sex, tak membiarkanmu masuk terlalu dalam di semua urusannya. Kau merasa tak bisa menjadi pahlawan di depan Magi, kan?”

Sompret! Doan diam. Tak mau ribut sebab berdebat sampai pagi pun tak kan bisa membuat Magi kembali padanya. n


Lampung Post, Minggu, 21 April 2013


Sunday, February 17, 2013

Bloody Valentine

Cerpen Tita Tjindarbumi

Aku akan menepikan rasa, lalu membunuhnya perlahan sampai air mataku mengering  dan hati ini tak menyerukan lagi namamu. Akan kubiarkan daun-daun luruh dan terbang dibawa angin, seperti air mata yang jatuh tak mengenal tempat. Setiap  malam kudengar suara angin berbisik dan menyanyikan senandung malam tentang kita, akan kuputar lagu yang menyayat seperti pisaumu yang menyayat-nyayat tubuhku hingga tak kudengar lagi suaramu. Bahkan tak bisa lagi kudengar erangan kesakitanku. Telingaku tuli dan bisikanmu berlalu. Lalu akan kubiarkan angin berhembus kencang membawa seluruh tentangmu. Dan bau tanah itu…

***

Andaru mengepalkan tangannya yang gemetar dengan selembar kertas lusuh yang nyaris hancur digenggamannya. Ia selalu membenci Februari. Tubuhnya selalu mendadak menggigil setiap kali mengingat kejadian itu.

“Jangan ganggu akuu!” teriaknya kencang, menghardik.

Tubuhnya semakin dingin. Gigil itu telah membungkusnya sempurna. Andaru berlari memutari ruang kamarnya yang gelap. Lampu kamarnya padam. Lalu matanya nanar memeriksa setiap sudut kamarnya. Tirai jendela kamarnya sedikit terbuka. Dari celah yang terbuka matanya menangkap cahaya berkelebat di taman yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari kamarnya.

Daru menarik selimut sekuat tenaga. Ia panik. Wajahnya seketika pucat. Sial, kenapa tirai itu terbuka? Bukankah sore tadi ia telah mengunci jendela kamarnya dan menutup tirai?

Jeder!

Tiba-tiba kaca jendela kamarnya retak. Entah siapa dan dari mana datangnya batu  yang dilempar ke kaca jendelanya hingga retak. Membuat kaca itu menjadi buram.

Andaru tak berani beranjak mendekati jendela. Tubuhnya gemetar. Keringat telah membasahi bajunya. Pelipisnya basah oleh keringat dingin.

Prang….!

Gelas yang terletak di sebelah ranjangnya jatuh. Pecahan beling berhamburan di kamarnya yang terlihat acak-acakan. Salah satu pecahannya nancap ke kaki Daru. Laki-laki itu meringis kesakitan. Wajahnya pucat pasi. Ketakutan membayang di mata dan wajahnya.  Tubuhnya basah kuyub, ia teringat saat itu.

Darah! Darah! Daru melihat kamarnya penuh darah!

“Dalam percintaan semua bisa saja terjadi,” ujar Andaru dengan suara dingin, datar seakan tak peduli pada perasaan Asoka yang diam seribu bahasa.

Perempuan itu seperti dipasung jiwanya, tak berani membantah ucapan  Andaru yang sedang dikuasi alkohol.

Mata perempuan itu berkaca-kaca. Sudah lama ia merasa tertekan atas sikap dan perlakuan laki-laki itu. Bukan hanya perangainya saja yang kasar, mulutnya yang berbau alkohol itu sering kali mengeluarkan sumpah serapah. Semua kata-kata kotor bisa berhamburan dari mulutnya.

Dia bukan siapa-siapa laki-laki itu.  Ia mengenal Daru karena orang tuanya terlanjur menjodohkan dengan Daru dengan alasan klise- orang tuanya yang terbelit hutang pada keluarga Daru.

“Jika dirimu menolak perjodohan itu kenapa tidak bicara pada kedua orang tuamu?” sergah Asoka dengan suara terbata-bata. Ketakutan tak akan pernah menyelesaikan persoalannya. Jelas sikap Daru menggambarkan laki-laki itu tak suka padanya. Ia juga tak suka pada lelaki pemabuk dan suka keluar masuk klub malam.

“Nggak segampang itu, Soka, “ jawab Andaru asal saja. Ia sibuk dengan gelas  berisi minuman beralkohol yang dipegangnya. Lelaki tolol pun tidak akan menolak dijodohkan dengan perempuan semolek Asoka.
Asoka menatap nanar lelaki itu. Dia heran  hari gini masih ada lelaki seperti Daru yang setiap hari hanya malas-malasan dan mabuk-mabukan. Tatapan matanya dingin dan tak pernah bisa bicara lembut pada perempuan.

“Kita bisa bicara pada keluarga. Atau aku yang akan bicara jika dirimu tidak mau!”

“Tidak bisa! Saya akan kehilangan hak waris jika menolak perjodohan ini.”

Sungguh egois. Asoka memalingkan wajahnya. Geram pada sikap Andaru yang tidak peduli pada perasaannya.

Ia hanya memikirkan warisan. Orang tuanya tahu benar  Andaru suka ganti-ganti kekasih. Sialnya, mereka menganggap Daru akan sembuh dari penyakitnya jika ia menikah.

Tiba-tiba saja badan Asoka limbung. Hanya beberapa detik. Detik berikutnya tubuh Asoka telah berdiri di depan Andaru,  menatap laki-laki penuh amarah.

“Saya tidak akan menikah denganmu,” desis  Asoka lalu  meninggalkan Daru yang masih bengong.

Andaru nyaris terjengkang, kaget melihat Asoka yang bersikap aneh!

Asoka tidak sadar bahwa  tubuhnya telah dimasuk arwah sosok lain yang tak dikenalnya. Dan tubuhnya telah dirasuki arah gentayangan.

***

Anjing melolong. Lolongannya panjang seperti suara tangis dari kejauhan. Langit semakin gelap. Tak ada satu pun bintang di malam itu.

Malam itu juga Andaru merasa ada yang tidak beres pada diri Asoka tunangannya. Daru juga merasa Asoka berubah menjadi perempuan berani.  Bahkan matanya seperti memendam dendam. Andaru pun suka mendadak merasa kepanasan bila berdekatan dengan Asoka. Kaang Andaru kesal dan nyaris tidak bisa menahan diri bila Asoka membuatnya marah.

Daru menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin kejadian itu terulang. Sungguh ia tak bermaksud melakukannya. Ia hanya kesal dan semua itu terjadi begitu saja. Andai saja ia tidak meronta dan berteriak…
Perempuan itu…

***

Perempuan itu berdiri di pintu masuk kamar Asoka. Memandangnya tak berkedip. Kedua bola matanya menatap kosong lurus ke depan.  Ia hanya berdiri menatap kosong tetapi tak berbicara apa-apa.

“Sedang menunggu seseorang?” tanya Asoka setelah sekian menit terpaku menatap perempuan itu. Ia tidak mengenal perempuan bergaun hitam itu.

 “Saya tidak suka kau dekat-dekat dengan dia,” ujar perempuan bergaun hitam itu singkat dengan matanya yang menyorot tajam. Bibir pucatnya dikatupkan rapat. Membetuk garis lurus. Senada dengan warna wajahnya yang pucat pasi.

“Dia…? Siapa maksudmu?”  Asoka melongo.

Dia siapa? Andaru? Ada urusan apa antara permpuan pucat itu dengan Andaru?

“Daru maksudmu?”

Perempuan yang wajahnya pias itu diam tak menjawab. Ia hanya menggerakan kepalanya pelan, mengangguk.

Siapa dia?

Asoka penasaran bercampur takut.

Perempuan itu mendekati Asoka.  Membiarkan gaun hitamnya yang panjang  menutupi jalan agar Asoka tidak bisa melewatinya. Aroma asing menebar begitu tubuh perempuan itu hanya berjarak sekian jengkal dari tubuh Asoka yang tiba-tiba menggigil kedinginan.

***

Hujan...
Aku sedang membayangkan membunuhmu dan mencari akal bagaimana menyembunyikan mayatmu yang tetap terlihat tampan meski sudah tak bernyawa.
Asoka menyeringai.

Aku tak akan memasukanmu ke dalam karung karena darahmu pasti akan terceder di sepanjang lorong bangunan tua ini. Aku akan membunuhmu tanpa mengeluarkan darah setetes pun.

Asoka tersenyum. Wajahnya yang pucat mulai memerah.

Sungguh aku tak akan tega mendorongmu dari lantai 39 ini. Selain itu pasti tak bisa kupandangi wajahmu sesaat setelah jiwamu lepas dari ragamu, seperti yang kau lakukan saat kau tikam pisau itu tepat di jantungku.
Asoka menelengkan wajahnya.

Aku hanya ingin melihat senyum terakhirmu sebelum keluar dari tubuh calon isterimu. Tetapi aku tak ingin perempuan calon isterimu hidup menderita bersamamu.

Ia perempuan bodoh yang mau saja dipakai untuk membayar hutang keluarganya. Tapi kau jauh lebih bodoh. Tak menaruh curiga ketika Asoka memintanya datang ke apartemen. Lantai 39 mungkin bagi laki-laki perusak perempuan itu adalah sebuah tempat yang penuh sensasi untuk melampiaskan hasrat binatangnya.


Asoka membiarkan Andaru masuk ke kamarnya. Ia, dengan gaun pinknya yang memamerkan ranum dadanya menyambut Andaru dengan senyum. Andaru seperti biasa selalu sibuk dengan dirinya. Ia selalu  berusaha mengendalikan perasaannya setiap melihat Asoka. Ia ingin Asoka menganggapnya lelaki dingin yang tak punya cinta.

“Ada apa memintaku kesini?” tanya Andaru dengan wajah tanpa senyum. Ia melihat ada yang aneh pada diri Asoka. Setahunya Asoka tak pernah memakai gaun dengan warna yang membuat Andaru bergidik. Ia mulai curiga…

Ya..ini bukan kebiasaan Asoka. Asoka tak pernah bersikap manis meski ia termasuk perempuan penurut. Tak pernah pakai gaun apalagi sexy begitu…

“Mau minum apa, Ndaru?” tiba-tiba Asoka telah berada di sisinya. Tersenyum memamerkan bibirnya yang ranum. Matanya menyorot tajam.

Andaru melengos. Badannya mendadak gemetar. Ia melihat mata itu bukan mata milik Asoka. Mata itu milik….

Andaru berpikir keras. Ia merasa pernah melihat mata itu. Siapa? Dimana? Rasanya tak asing..

“Mari kita bersulang…”

Benar, dia bukan Asoka. Kaki Andaru gemetar. Asoka tak pernah minum minumam beralkohol. Tetapi entah mengapa Andaru seperti tak berdaya ketika tangannya dipegang perempuan itu. Andaru juga tak kuasa melepaskan tangan perempuan itu yang terasa dingin.

“Jangan kuatir …aku akan membuatmu senang malam ini,” ujar perempuan itu lalu membelai pipi laki-laki itu. Saat itu Andaru melihat dengan jelas siapa perempuan yang berada di dekatnya. Sangat dekat.

“Ti…..daak! “ Keringat mengucur deras. Padahal suhu udara di ruangan itu seperti di dalam lemari pendingin.

“Kamu mau apa?!” teriak laki-laki itu sambil bergerak menjauh. Tetapi tangan perempuan itu lebih cekatan. Bukannya malah menjauh, Andaru malah kini berada sangat dekat dengan perempuan itu. Perempuan yang sangat dikenalnya.

Kini Andaru berada di alam cengkraman perempuan itu.

“Aku tidak sengaja, Zee…tak bermaksud membunuhmu,” ujar Andaru terbata-bata.

Zee, perempuan itu menatap Andaru dengan sorot tajam.

“Tidak ada guna semua omonganmu. Kau tak hanya membunuhku, tetapi juga janin yang ada di perutku!” teriak perempuan itu lalu dengan cepat tangannya menarik tubuh Andaru yang masih menggigil kedinginan sekaligus ketakutan.

“Kau harus membayar semua itu sekarang!” guman Zee lalu melepaskan cekalannya. Membiarkan Andaru berlari mengelilingi kamar. Zee tak mengejarnya, ia hanya mengikuti arah langkah laki-laki itu. Sampai akhirnya berhenti di jendela kamar yang tertutup tirai tetapi dalam keadaan terbuka lebar.

“Maafkan aku, Zee. Aku mencintaimu. Sumpah…aku tak sengaja…”

Zee menyeringai. Siapa yang percaya padamu, laki-laki biadab?  Ia tetap meneruskan langkahnya. Mendekati Andaru yang posisinya semakin mepet ke jendela yang terbuka.

“Aku sudah memaafkanmu. Aku rindu pada kebersamaan kita. Aku ingin memelukmu…” Zee semakin mendekat dan  tangannya berusaha menggapai tubuh laki-laki yang dulu membuainya dengan janji-janji kosong sampai ia menyerahkan seluruh dirinya untuk laki-laki itu.

Belum sampai tangan perempuan itu menyentuhnya, laki-laki itu telah bergerak lebih cepat. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan panjang, lalu BUKK.

Perempuan itu sempat menengok ke bawah. Ia melihat kerumunan orang. Kemudian perlahan ia membalikan tubuhnya dan menghilang.

***

Keesokan harinya  semua surat kabar mengabari berita kematian Andaru. Lelaki muda diduga bunuh diri setelah mengkonsumsi minuman beralkohol. Dan di atas jenazah laki-laki itu ada setangkai bunga mawar yang tangkainya berdarah. n


Lampung Post, Minggu, 17 Februari 2013
               

Sunday, December 16, 2012

Dalam Peluk Badai

Cerpen Tita Tjindarbumi


Luka itu tergambar jelas di mata perempuan renta itu. Kerut di wajahnya tak bisa berbohong betapa sarat beban hidupnya. Aku masih ingat dan selalu ingat masa tuanya selalu ingin berbicara betapa hidup ini selalu melulu penuh luka. Luka yang tercecer di sepanjang perjalanan hidupnya.
TAK mendapat restu dan harus pergi dari rumah karena tak mendapat restu dari orang tua adalah derita yang menguras air mata tak berkesudahan. Mencintai lelaki yang tak disetujui orang tua dengan alasan yang tak jelas membuat perempuan itu harus memilih, menjadi terasing dan harus belajar dengan susah payah menjadi bagian dari keluarga yang tak dikenalnya.

Sungguh cinta membuat hidup perempuan itu berubah drastis. Kehidupan mewah anak pejabat harus secepatnya dilupakan jika tidak ingin berkubang lebih lama dalam dunia mimpi. Kebiasaan memakai baju bagus dan naik turun mobil harus dienyahkan dari benak. Dunianya sekarang seperti jungkir balik. Perempuan itu kini bukan lagi anak pejabat, ia kini istri seorang lelaki biasa, lelaki yang lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan mencari uang demi kehidupan barunya sebagai kepala keluarga. Meski terkadang pulang dengan tangan hampa.

Cinta adalah satu-satunya milik perempuan itu. Ia di usia yang masih muda harus menerima hidup apa adanya. Tak bisa lagi ia menikmati kehidupan yang selalu diwarnai dengan limpahan harta. Kini menjadi seorang istri ia harus belajar menerima keadaan. Untunglah ia mendapat keindahan yang tak ia rasakan di istana bapaknya yang pejabat. Di rumah barunya, keluarga barunya, ia cukup dilimpahi perhatian dan kasih sayang. Di keluarga barunya ia belajar hidup yang sebenarnya.

SUATU malam aku terbangun karena isak tertahan perempuan itu. Dari balik guling yang menutupi wajahku, kulihat matanya tak hanya berkaca-kaca seperti biasanya. Kini air di kedua telaga itu telah merembes perlahan ke pipinya yang tirus.

Aku ingin memeluknya, ingin bertanya mengapa ia menangis. Meski pikiranku sibuk menduga-duga apa penyebab perempuan itu menangis, tetap saja aku tak mampu melakukan itu. Aku tak ingin membuatnya semakin sedih. Sudah tentu ia tak akan menangis dengan wajah sekeruh itu jika hatinya tidak terluka. Lalu mengapa?

Aku selalu saja bertanya, mengapa dan mengapa tanpa berani bertanya padanya. Rasa takut ini sudah bersemayam sejak aku mengalami bagaimana rasa ketakutan itu menghantui pikiran dan sepanjang bayangku. Lelaki itu selalu saja keukeh dengan pendirian dan prinsip-prinsipnya. Sikap yang sama sekali tak bisa kupahami. Lelaki itu pemarah, membuatku bertanya sebegitu besarkah cinta perempuan itu sehingga ia mampu menerjang hal-hal yang menurutku menakutkan.

Sulit rasanya menerima kenyataan hidup bersama orang yang tidak romantis, jarang bicara, punya prinsip-prinsip yang menurutku kaku dan menerapkan aturan main dalam keluarga yang (maaf) menurutku sama sekali tidak manusiawi. Kami, misalnya, tidak boleh keluar rumah selain pergi sekolah. Kami harus membantu pekerjaan rumah dan membuang impian bermain dengan teman-teman sebaya yang kesehariannya bermain. Saya harus tahu diri.

Sungguh aku tak paham tentang istilah tahu diri.

Perempuan itu, ibuku, dalam penglihatanku selalu saja siap dengan berkarung-karung kesabaran setiap kali menghadapi kemarahan lelaki itu, bapakku, yang kemarahannya bisa datang dengan tiba-tiba. Sampai aku dapat menghitung berapa kali bapak tersenyum dalam seminggu. Tetapi, ibuku, selalu saja membuatku ternganga?ia selalu menyiapkan senyum setiap kali menghadapi kami, anak-anaknya yang tak bisa berbuat apa-apa ketika ia berada di tengah amukan badai kemarahan bapak.

Sampai suatu ketika aku ingin sekali mengetahui apa yang membuat bapakku menjadi pemarah. Ketika kanak-kanak aku hanya mengenal dua hal tentang manusia, jika ia lebih banyak diam dan suka berkata keras, kusebut pemarah. Dan bila ia banyak bicara dan bibirnya selalu tersenyum, maka ia kuanggap orang yang baik hati.

Aku memang belum pernah melihat tangan bapak mendarat di pipi ibuku. Sebab, ibuku tak pantas mendapat perlakukan semacam itu. Ibuku seharusnya dilimpahi kasih sayang atas kesabaran dan pengabdiannya pada bapak dan keluarga. Tetapi ibuku selalu saja membuatku gemas dan tanpa sadar kuremas semua benda yang berada di genggaman tanganku, setiap kali melihat kesabaran ibuku yang tak pernah berubah.

Aku kesal melihat sikapnya yang nrimo. Tak banyak bicara apalagi membantah. Mungkin itu pula yang membuat ibuku disayang nenek dan tante-tanteku. Kadang aku tak paham mengapa ibuku bisa bersikap baik pada orang yang pernah menyiksaku. Orang yang nyaris saja membuatku kehilangan masa depan. Untunglah? aku masih bisa mengendalikan diri dan terus melangkah menuju masa depan. Mungkin?kesabaran ibukulah yang menjadi cermin dalam menghadapi kejamnya hidup.

?IBU jangan diam saja jika diperlakukan tidak adil oleh bapak,? ujarku dengan suara lirih. Tak sanggup rasanya member tekanan pada kalimatku. Apalagi ketika melihat raut wajah ibuku yang datar tanpa ekspresi. Hanya matanya saja yang beriak.

Ya, Allah? jangan biarkan aku mengeluarkan kata-kata yang akan membuat air matanya luruh. Aku tak mau menjadi anak durhaka?

?Maaf, Bu? maksud saya Ibu bicara pada bapak, jangan diam saja. Ibu tidak salah?ibu harus tunjukkan pada bapak bahwa ibu punya pendapat. Bapak harus dengar keinginan Ibu bukan hanya ibu saja yang mendengar dan harus menelan semua ucapan dan perintah bapak. Itu tidak adil, Ibu!?

Telah menjadi anak durhakakah aku? Berbicara pada perempuan yang telah mengandung dan melahirkanku dengan taruhan nyawa tanpa titik koma? Jika sikapku ini bisa membuatku masuk neraka, baiklah, aku rela! Lebih baik aku masuk neraka daripada membiarkan bapak menjajah ibuku tanpa perlawanan!

Aku tidak rela!

Kami sama-sama terdiam. Aku tak berani menatap mata ibu, tepatnya tak sanggup. Aku akan merasa bersalah telah membuat ibuku menangis. Dan air matanya semakin membuat amarahku berkobar di dada. Mengapa ada lelaki yang tak punya hati? Mengapa ia selalu menyalahkan ibuku untuk semua kesialan yang menimpanya. Bahkan bapakku selalu menganggap semua kegagalannya dalam usaha dikarenakan ia telah salah pilih perempuan. Sungguh menjijikan sikap bapakku.

?Sudahlah, Rea? kamu tidak tahu apa-apa. Sebaiknya kamu konsentrasi saja ke kuliahmu,? begitu selalu yang ibu ucapkan setiap kali aku protes.

Bahkan, yang juga membuat darahku mendidih adalah ketika Tante Fe datang ke rumah. Tante Fe, kakak bapak yang menampungku selama kuliah di luar pulau. Dengan pongahnya ia berkata,? kalau bukan karena adikku, saya tidak mau minum pake gelas ini,? ujarnya setelah mencium gelas yang dipegangnya. Gelas model lama warisan nenek. Aku menatap ibu yang hanya diam sambil menundukkan kepala. Oh..betapa sombongnya perempuan itu. Ia telah menghina ibuku. Ia mencium gelas seakan gelas itu baud an menjijikkan. Dan lagi-lagi ibuku tak melawan. Ia menerima semua hinaan dengan pasrah.

?Mengapa Ibu diam saja. Gelas itu memang jelek tetapi gelas itu bersih dan tidak mau. Terlalu sekali Tante Fe menghina kita!? Aku mengepalkan tanganku. Rasanya ingin menonjok mulut perempuan sombong itu.

?Jangan terpancing emosimu, Rea. Bukankah selama tinggal bersamanya, kamu sudah mengenal dengan baik tantemu itu,? ujar ibu seraya menarik lenganku. Perlahan ia membuka kepalan tanganku dengan tangannya yang ringkih dan kasar.

?Jika ia menghinaku atau bahkan mencaci maki, aku terima, Ibu. Tetapi jangan menghina ibu,? kataku masih dengan suara tinggi.

?Ibu tahu kamu menderita tinggal bersama mereka. Tetapi ibu lihat kamu sudah bisa menerima keadaan itu. Begitulah kalau kita menumpang, harus tahu diri. Kita jangan melawan kekerasan dengan sikap yang keras juga, Rea. Untuk itulah kita harus belajar sabar dan ikhlas menerima semua keadaan,? kata ibu dengan senyum yang terasa getir.

?Jika saja bukan karena demi mengejar mimpi-mimpiku, lebih aku pulang seterus dan tak usah meneruskan kuliah!?

Lagi-lagi hanya senyum tipis yang mengabut di mataku.

?Kamu tidak boleh kalah dengan keadaan," ujarnya lirih sambil menarikku ke dalam pelukannya. Meski tubuh ibu terasa semakin menipis, aku masih tetap merasakan pelukan hangatnya, tak beda sseperti pelukannya di masa kecilku.

?Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa mengalahkan kesabaran ibu.? Ujarku pelan, malu rasanya bicara pada ibu dengan gaya menggebu-gebu. Seperti sedang orasi saja.

?Jangan pernah menyerah pada keadaan. Teruslah langkahmu, jangan berhenti sebelum sampai di titik yang kau inginkan. ?

Betapa hangat belaian ibuku. Kalimat demi kalimatnya seperti amunisi yang harus aku jadikan bekal untuk mengarungi hidup yang keras ini.

?Bersabar dan selalu bersyukur atas semua yang diberikan Allah pada kita, baik berupa kebahagiaan ataupun penderitaan. Itulah hakikat keikhlasan.?

Sejak itu aku lebih banyak diam dan mengamati semua perilaku ibuku yang awalnya bagiku sangat tidak masuk akal. Menikah dengan lelaki yang dicintai lalu disia-sia. Bekerja keras demi menghidupi keluarga, tetapi tetap tak dihargai. Terlebih ketika bapakku diam-diam menikah lagi dan menghabiskan harta warisan dengan perempuan sundal itu.

Aku benci laki-laki. Bahkan sampai tak percaya pada kata cinta dari laki-laki mana pun. Dendamku pada bapakku tak membuat ibuku bahagia karena dibela. Ia malah menegurku dengan kalimatnya yang halus tetapi menohok.

?Kita tidak boleh memendam dendam, apalagi pada orang tua. Seburuk apa pun ia tetap bapakmu,? ujar ibu saat dengan tegas kuperlihatkan kebencian pada bapakku yang sakit keras. Ibuku, bak peri tetap senyum saat merawat bapakku yang sudah tak berguna dan bikin repot semua orang.

Aku tercenung melihat bagaimana tangan rapuh ibu mengompres kening bapak yang sedang demam tinggi. Di mana ibu belajar untuk semua yang aku tak bisa. Bagaimana ibu bisa mencintai bapak dengan tulus di atas semua derita yang ia rasakan sepanjang perkawinan mereka. Jika bukan karena kami anak-anaknya, lalu untuk siapa?

Lalu ketika bapakku meninggal aku melihat ibuku menangis. Aku tak berani menduga-duga, air mata kepedihan karena berpisah dengan lelaki yang dicintainya? Atau menangis karena telah selesai pendieritaannya.

Ah, aku tak mau menjadi durhaka karena dugaan gila yang tak seharusnya ada di kepalaku.

TANAH itu masih basah. Luapan tangis masih tersisa raungnya. Langit mendadak menghitam di ujung senja yang menyaksikan bisuku dalam gugu. Aku tahu, tangis darah pun tak akan bisa mengubah keputusan Allah untuk memanggilnya. Tak ada cerita sakit di tubuhnya kecuali sakit derita sepanjang perkawinannya. Luka ibu adalah luka yang membekas di dadaku. Luka karena cinta yang tak pernah kutemukan obatnya.

Aku tahu ibu, kau tak akan suka bila aku terus menutup diri untuk semua urusan cinta. Maaf, ibu? belum ada satu pun lelaki yang bisa meyakinkanku bahwa cinta itu indah. Bahwa cinta mereka sehangat cintamu padaku, Ibu. Maafkan ibu, aku butuh dekap pelukmu untuk meyakinkan bahwa dalam derita cinta tetap indah.

Oh, ibu, andai aku bisa sepertimu.


Lampung Post, Minggu, 16 Desember 2012