Showing posts with label Restoe Prawironegoro Ibrahim. Show all posts
Showing posts with label Restoe Prawironegoro Ibrahim. Show all posts

Sunday, June 8, 2014

Laki-Laki di Jendela

Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim


SEMENJAK tamat dari es-em-a, tahun 1977 lalu, aku bekerja sebagai guide pada sebuah biro perjalanan. Jangan heran kalau aku bisa jadi pemandu, sebab meskipun hanya lulusan es-em-a, aku telah mengantongi ijazah bahasa Inggris dan Jerman. Bintang terang agaknya selalu menerangiku sehingga dalam waktu singkat aku bisa menjadi seorang pemandu yang paling laris di perusahaan tempatku mengabdi.
 
Pada 1980, sewaktu aku sedang bertugas mengantar tamu ke Pulau Dewata, aku sempat berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Eva. Ia seorang mahasiswi tingkat akhir pada sebuah perguruan tinggi negeri. Perkenalan itu kemudian berlanjut menjadi percintaan. Dan masa berpacaran berakhir pula dengan sebuah pernikahan kami, setelah Eva berhasil menggondol gelar doktoranda.
  
Sebenarnya, hubungan kami yang akhirnya berlanjut pada jenjang pernikahan kurang disetujui oleh keluargaku, terutama ibu yang telah menjanda. Banyak argumentasi yang mereka kemukakan. Antara lain karena Eva anak orang kaya, sedang aku dari keluarga “Senin-Kemis”. Karena Eva sarjana, sementara aku cuma lulusan sekolah lanjutan atas. Karena usia Eva lebih tua dariku dua tahun dan sekeranjang alasan lainnya. Tapi dasar namanya sudah terkiwir-kiwir, aku teruskan saja. Ternyata, apa yang mereka khawatirkan terjadi juga.
   
Tiga bulan sudah perjalanan bahtera rumah tangga kami, ketika sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi. Terus terang, aku sangat terkejut dan tak percaya melihat sikap istriku yang tiba-tiba berubah. Kalau sebelumnya ia begitu penuh dengan kasih sayang, kemesraan, kemanjaan, dan pengertian, kini berubah menjadi sebaliknya. Ia sudah mulai berani kepadaku dalam segala hal. Bahkan tak jarang pula memerintahku seenak perutnya sendiri. Aku seakan tak berarti di hadapannya. Tersinggung? Tentu saja perasaan itu hadir di hatiku. Tapi aku berusaha tetap menahan diri lantaran selain tak menginginkan pertengkaran, juga karena kami masih menumpang di rumah orang tuanya.
   
Ternyata, dari hari ke hari sikap Eva kian merajalela kepadaku. Hampir setiap waktu aku menjadi sasaran sikap dan ucapan kasarnya. Wibawaku sebagai seorang suami sudah dihancurkannya, baik di hadapan keluarganya maupun teman kerabatku. Sementara itu, sikap orang tua dan adik-adiknya pun kurang adil terhadapku. Pokoknya, aku terus tersiksa dengan keadaan selalu dimusuhi seperti itu. Untuk mengatasi semua itu, aku bermaksud pindah rumah saja. “Barangkali dengan tinggal di rumah sendiri, aku bisa menundukkan istriku. Karena tak akan ada lagi rasa sungkan kepada mertua,” pikirku. Maka, dengan mengambil uang simpanan di bank, aku bisa mengontrak rumah selama lima tahun.
   
Rumah yang kukontrak memang tak begitu besar. Tapi halamannya cukup luas dan dirimbuni berbagai pepohonan. Di sebelah kirinya ada sungai kecil yang airnya cukup deras. Di depan rumah terdapat poskamling dengan serumpun pohon bambu kuning di sisi kirinya. Suasana kampung baruku cukup tenang, apalagi kalau malam hari. Yang terdengar hanya alunan nyanyian katak dan jangkrik.
   
Hari-hari pertama tinggal di sana memang ada perasaan tak kerasan di hatiku, tapi lama-kelamaan senang juga. Hanya satu yang membuat hatiku belum bisa gembira, yakni sikap Eva yang tak kunjung berubah. Bahkan semakin menjadi-jadi. Harapanku setelah pindah ke rumah sendiri istriku dapat menjadi baik, ternyata meleset. Justru malah naik “voltase”nya. Kini, pertengkaran terjadi hampir tiap hari. Ini karena aku sudah mulai unjuk taring. Tak hanya diam mendengarkan dampratannya, dan tak kuat lagi menahan emosi. Ada saja bahan untuk dibuat pertengkaran. Perkara sepele bisa menimbulkan ledakan pertengkaran yang dahsyat.
   
Suatu hari, kami bertengkar cukup seru. Gara-garanya, aku menolak menyemirkan sepatunya. Malam hari setelah “Perang Bharata Yudha” itu terjadi, aku tinggal seorang diri di rumah karena Eva purik (ngambek) ke rumah orang tuanya.
   
Jam dinding berdentang dua kali, tapi mata ini tetap tak mau terpejam. Mungkin disebabkan kekacauan pikiranku. Tiba-tiba, terdengar olehku suara langkah kaki di luar seperti mendekati kamarku, dan berhenti persis di jendela. Jujur saja, waktu itu hatiku berdebar keras. Rasa takut dan khawatir mencekam perasaan. Apalagi ketika kuingat cerita Pak Harun, tetangga kanan rumahku, bahwa sebelum kutempati rumah tersebut dikosongkan pemiliknya kurang lebih tiga tahun. Pasalnya, konon rumah yang kudiami sekarang ada “penunggunya”.
  
Lamunan yang tidak-tidak mendadak buyar oleh semilir angin yang menerpa permukaan kulitku. Sungguh, yang namanya bulu kuduk berdiri tegak, setegak-tegaknya. Mataku yang tak berkedip menatap ke jendela yang membuka dan menutup sendiri, semakin melotot ketika menangkap bayangan di jendela. Bayangan seorang laki-laki muda yang cukup tampan. Ia tampak tersenyum kepadaku, seolah mengatakan, “Jangan takut sobat!”
   
Aneh, melihat senyumnya, hati ini rasanya tenteram. Rasa takut yang melanda hatiku mendadak sirna. Namun, sayang, sebelum aku sempat berbuat sesuatu, bayangan laki-laki di jendela itu sudah lenyap begitu saja.
  
Hari-hari berikutnya, bayangan laki-laki misterius itu sering menampakkan diri. Terutama kalau aku habis bertengkar dengan Eva. Apa maksudnya selalu menampakkan diri? Tentu saja aku tak mengerti. Tapi kalau kulihat dari pandangan matanya, seakan ia menaruh rasa iba kepadaku. Bisa jadi. Suatu malam, ketika bayangan itu kembali menampakkan diri, kuberanikan diri untuk menegurnya. Kutanya siapa ia dan apa maksudnya “menggangguku”. Tapi ia tak menjawab, hanya menudingkan jarinya ke arah foto pengantinku, lalu ia kembali lenyap.
   
Selama aku mendapat “gangguan” tersebut, aku tak pernah menceritakan kepada Eva. Tapi justru pernah sekali kuceritakan pada Pak Harun, itu pun setelah ia menanyakan apakah aku tak pernah mendapat gangguan? “Tenang saja Mas, enggak usah ditanggapi! Nanti kan hilang sendiri. Yang penting, tingkatkan kebaktian kita kepada Tuhan!” saran Pak Harun. Dan, Pak Harun cuma tersenyum, ketika aku ingin mengetahui lebih jauh tentang hantu laki-laki tersebut. “Sudahlah, nanti sampeyan akan tahu sendiri,” jawabnya.
  
Enam bulan sudah kami tinggal di rumah itu. Keadaan ekonomi rumah tanggaku semakin mantap. Ini karena ditunjang Eva yang sudah punya kedudukan di salah satu instansi yang terkenal “basah”. Namun, pertengkaran semakin sering terjadi.
    
Pada awal bulan ketujuh, aku bertengkar lagi dengan Eva. Kali ini benar-benar habis-habisan. Begitu emosinya, ia kupukul beberapa kali. Selain itu, barang-barang yang ada, seperti televisi, kulkas, kipas angin, dan sebangsanya, hancur terkena amukanku. Aku benar-benar kalap. Emosiku sudah tak mampu kubendung lagi. Aku sudah nekat. Harga diriku tak boleh diinjak-injak terus.

Awal perkaranya? Sepulangku dari mengantar turis ke Jawa Tengah selama seminggu, mendadak Eva menuntutku untuk menceraikannya. Alasannya, ia sudah bosan hidup bersamaku. Tak hanya itu, Eva juga menyatakan sangat menyesal menjadi istriku. Dan yang paling membuatku naik darah, ia mengulangi cerita lama, mengumpat dan menghinaku; laki-laki tidak bonafide, goblok, keturunan kere, tidak intelek dan semacamnya.
   
Semenjak bom emosi itu meledak, Eva minggat ke rumah orang tuanya. Dan sekali lagi, aku digempur ramai-ramai oleh ibu dan adik-adiknya, seperti biasanya kalau kami lagi berselisih. Sekitar tiga minggu kami pisah tidur, mendadak pada suatu pagi, Eva pulang sambil menangis minta maaf. Ia menyatakan tak akan menyia-nyiakanku lagi. Kontan saja aku sangat heran dengan perubahan yang tiba-tiba itu. Setelah tenang, Eva menceritakan asal mula yang mengilhami kesadarannya.
   
Selama berada di rumah orang tuanya, katanya, ia selalu mimpi  bertemu dengan seorang laki-laki misterius yang tak dikenalnya. Setiap bertemu, laki-laki itu selalu minta agar Eva mau “gencatan senjata” denganku. Mula-mula Eva tak menanggapi. Tapi lama-lama, dipikirkannya juga permintaan tersebut. Hatinya benar-benar tersentuh, ketika pada suatu malam, dalam mimpi, laki-laki itu datang dan memberikan gambaran buruk yang pernah dialaminya sendiri. Entah, mukjizat apa yang turun, sehingga cerita itu masuk ke dalam jiwa Eva.
    
Malam harinya setelah “gencatan senjata”, kami memulai lagi malam manis penuh kemesraan, seperti saat sehabis naik pelaminan dulu. Tengah malam, tiba-tiba aku dibangunkan Eva. Wajahnya tampak sangat ketakutan, sambil menatap ke arah jendela. Ketika kulihat, laki-laki misterius yang selalu menggodaku, kembali menampakkan diri. “Dia Mas. Dia yang …. yang datang kepadaku!” teriak Eva. Namun, sebelum aku bangkit untuk mendekatinya, laki-laki misterius itu telah lenyap. Kepergiannya diakhiri dengan senyuman dan lambaian tangan. Sejak saat itu, sahabat misteriusku itu tak pernah muncul lagi.
   
Sungguh aku tak menyangka, hantu laki-laki di jendela yang selama ini kuanggap selalu mengganggu ternyata justru sebagai pahlawan penyelamat rumah tanggaku dari jurang kehancuran. Badai yang selama ini melanda, ternyata dengan mudah dihentikannya. Padahal, selama ini aku sangat kesulitan menemukan jalan keluarnya. Berbagai cara telah kucoba. Tapi hasilnya nihil.
   
Kini, sikap istriku tak lagi seperti dulu. Sekarang ia begitu mencintai dan menghormati padaku, sebagaimana layaknya seorang istri. Rumah tangga kami berjalan manis dan harmonis. Apalagi setelah kami dianugerahi momongan yang mungil dan lucu. “Terima kasih Tuhan. Engkau telah menurunkan mukjizat lewat laki-laki misterius itu,” pujiku.
   
Siapa sebenarnya laki-laki di jendela itu? Menurut cerita Pak Harun, sepuluh tahun yang lampau, seorang warga kampung bernama Sukarno ditemukan tewas bunuh diri dengan jalan menyilet nadi pergelangan tangannya. Laki-laki itu ditemukan tergeletak di bawah jendela kamarnya. Yang membuatnya putus asa hingga nekat bunuh diri, lantaran ia tak kuasa lagi menahan kehancuran harga dirinya karena perbuatan istrinya. Istrinya yang bernama Rahayu, terlalu berani dan tak mau menghormati suaminya sedikit pun.
Bahkan, beberapa kali Sukarno memergoki Rahayu berbuat zina dengan seorang pemuda kampung di dalam kamar tidurnya. Entah bagaimana kejadian selanjutnya yang sampai membuat Sukarno nekat menghabisi nyawanya. Yang jelas, ia telah menyelamatkan kehancuran rumah tanggaku. Agaknya ia tak rela, kisah sedih yang pernah dialaminya terulang kembali, terjadi padaku. n

Jakarta, Gang Harlan, Petamburan; 6 Mei 2014


Lampung Post, Minggu, 8 Juni 2014

Sunday, April 25, 2010

Sepercik Cahaya Tuhan

Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim



TIBA-TIBA saja Nunung terjangkit penyakit diam. Rekan-rekan indekosnya sempat dibikin celingukan. Selama ini ia dikenal sebagai gadis yang lincah, periang, dan teramat mudah untuk beradaptasi. Di mana ada Nunung, disitulah terjadi suasana gelak tawa meledak-ledak. Namun, sampai sore ini ia masih diam seribu bahasa. Bahkan berbagai permintaan pengisian acara juga ditolaknya tanpa berkomentar apa-apa.

Nunung memang tergolong gadis serbabisa. Ia pernah menjuarai lomba karaoke, aktris teater, dan deklamator terbaik tingkat daerah, maupun lomba-lomba pada tingkat nasional. Belum lagi grup musiknya yang sudah demikian kondang. Dari seringnya ia mengisi acara dan show kemana-mana itulah, rekan-rekannya menjulukinya gadis balcony.

Tentu saja Nunung tidak memperoleh semuanya itu dengan begitu saja. Segalanya telah diperjuangkannya sejak kecil dengan pengorbanan yang tidaklah sedikit; pengorbanan waktu, tenaga, dan tentu saja pengorbanan biaya. Demikian kehendak orang tuanya, agar kelak ia menjadi seorang gadis yang dapat menaklukkan balcony. Dan ia sama sekali tidak menolaknya, sebab Nunung memang mempunyai kehendak yang sama. Sehingga hampir tiada waktu yang tersisa di masa-masa kecilnya.

Dan kini semuanya telah teraih. Hampir tiap malam ia tak pernah ada di rumah indekosnya. Mulai dari permintaan baca puisi di pertemuan-pertemuan resmi kampus, sampai dunia tarik suara. Maklum ia menguasai hampir seluruh lagu-lagu dari jenis pop, keroncong, sampai pada irama musik dangdut yang sekarang lagi tren. Padahal hampir setiap pagi ia harus pergi ke kampus studinya.

Tapi apa makna dari semua ini bagi Nunung? Ia sudah demikian jauh dengan gebyar sorak-sorai warna tepukan. Toh perjalanan pentas tak pernah menemui ujungnya. Bagai meneguk air lautan; semakin direguk makin bertambah haus saja. Lalu sampai di manakah bakal menemukan batas balcony itu.

Tak terasa air matanya meleleh mengaliri pucat pipinya dengan seribu kegalauan. Air mata ketakpastian. Sebab, dari dunia balcony inilah Nunung membiayai seluruh bekal yang diperlukan dalam menyangga hidupnya. Rasanya ia tak bisa meninggalkan begitu saja dunianya. Namun, rasanya ia juga tak bisa terus menerus mengikuti begitu saja dunia yang kini mengalirinya.

�Tidak usah menangis Nunung��.,� sergah Ipah, teman kampus sefakultasnya yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya. �Sebab, tangisan itu hanyalah sebuah kesia-siaan yang tertunda.�

�Aku lagi kalut, Pah���..�

�Dari kesempitanlah manusia bisa menciptakan kesempatan.�

�Aku serius, Pah. Aku butuh bantuan untuk mencari jawaban.�

�Lebih baik terlebih dahulu memahami pertanyaan dari pada mencari jawaban��..�

�Ah, Ipah. Aku tidak main-main. Besok di kampus saja kuladeni kamu untuk berilusi-ria memperdebatkan soal-soal filsafat!�

�Hi�hi�hi��Nunung�Nunung. Rupanya gadis semacam kamu masih juga memiliki waktu untuk bersedih.�

�Ipah, kiranya aku segera meninggalkan dunia balcony-ku.�

�Jangan tergesa-gesa kamu memutuskan seperti itu, Nung.�

�Apalagi yang harus kucari? Nama besar? Ketenaran? Pujian? Huh! Semuanya hanya penipuan yang terselubung. Pada kesenian sulit kutemukan kebersahajaan diri, ketulusan hidup, dan kejujuran. Ternyata seni cuma mengajariku untuk mengerti apa itu waktu. Tetapi tak pernah mengajariku untuk memahami apa itu ruang.�

�Kemudian apa yang kau perbuat?�

�Diam, barangkali.�

�Diam itu kematian, Nung!�

�Apa beda jalan diam dan jalan gerak?! Diam itu sebuah titik, Pah. Dan gerak adalah merupakan gabungan dari titik-titik itu. Lalu salahkah jika aku hendak menjadi hanya sebagian dari titik-titik itu?!�

�Kenapa tidak kita gunakan kesempatan saat orang masih mau mengasih kita peluang?�

�Diriku cuma tahu siapakah aku. Tapi aku yakin, kau tidak mengerti siapakah sebenarnya diriku ini��..!�

Keduanya diam. Tak seperti biasanya. Biasanya, gadis dwi tunggal ini selalu mengakhiri perdebatan dengan tawa ria. Atau jika permasalahannya belum selesai, keduanya berpesan untuk kapan bertemu kembali dengan saling mengerutkan wajah. Dan kali ini cuma kesedihan yang letih. Keduanya seakan baru tersadar.

Nunung seolah memahami kalau soal yang tengah dipermasalahkan adalah kenyataan hidup yang riil, bukan persoalan-persoalan realita academica yang bisa dijadikan bahan perdebatan dengan gadis calon filusuf ini. Demikian juga dengan Ipah, ia seakan baru memahami tantangan kejadian yang tengah menimpah sahabat karibnya. Dan kini keduanya mencoba sama-sama mengerti dalam diam.

Nunung sebenarnya tengah mendendam luka lama. Enam tahun silam, saat pertama kali ia menginjak kakinya ke Jakarta, adalah merupakan puncak-puncak kesedihan hidupnya. Beban kematian kedua orang tuanya yang cuma selisih beberapa bulan belum terobati, malah muncul luka hati yang sama sekali di luar perkiraannya; om dan tante yang turut membesarkannya malah akan menikahkan dirinya dengan salah seorang direktur muda dari sebuah perusahaan di Jakarta.

Padahal pada waktu itu ia baru duduk di kelas satu SMA. Maka dengan bekal pertengkaran yang berkepanjangan itulah, Nunung memutuskan dirinya untuk meninggalkan rumah om dan tantenya. Barangkali Jakarta lebih ramah dari Bandung yang kukuh dan angkuh. Dan nyatanya, Jakarta memang sedikit ramah ketimbang Bandung. Bahkan seluruh teman-teman dekatnya tak satu pun yang membenci kehadirannya. Sehingga hidupnya yang sebatangkara terasa lebih ramai dan penuh suasana keakraban. Bahkan Nunung telah menjadi pusat persahabatan.

Lalu untuk siapakah semua ini ia perjuangkan? Apakah perjalanan-perjalanan panjang kehidupannya ia pergunakan untuk meraih kemegahan hidup? Ataukah demi menciptakan sebuah gelas kaca yang akan dapat menampung segala kejanggalan luka dan dendam amarahnya?

Yang jelas, kini Nunung hendak menempuh jalan kedamaian. Ia sudah meraih kemegahan hidup bersama orang tuanya dulu dengan berlimpah harta dan benda. Sedang dengan luka yang lama, biarlah itu menjadi gugusan kenangan yang akan sirna tenggelam bersama kedamaian. Maka diputuskan untuk menjadikan hidup dengan cara yang diputuskannya sendiri.

Waktupun kian berlalu. Satu tahun sudah Nunung menjalani hidup dengan diam. Kini ia jarang sekali keluar kemana-mana. Nunung benar-benar sendiri bersama gemebyar kenangan masa lalunya dan barangkali dengan seonggok mimpi tentang esok dan lusa. Di kamarnya yang sunyi, ia hidup dengan hamparan luka hati dan jajaran ilusi.

Betapa tidak? Kesendirian Nunung ternyata tidak membuahkan kedamaian diri, melainkan sebuah keputusan yang terpendam barangkali. Ia hanyalah bak melempar sebuah kerikil ke dasar sungai yang berombak tenang dipermukaan. Terlempar jatuh ke dalam, untuk kemudian hilang tanpa masa depan. Buktinya Nunung makin hari bertambah kurus dengan wajah cekung ketua-tuaan.

�Apa sebenarnya yang kau cari, Nunung?� Teriak hatinya bimbang. Ternyata pada diamnya pun kau juga tak lebih paham. Kini kau bisa merasakannya sendiri bahwa sepi tak selamanya punya hati. Sepi ternyata tak menjanjikan ketenangan-ketenangan yang selama ini kau impikan. Kini kau mengerti kalau dalam kesunyian tak selalu menawarkan benih kedamaian. Bahkan sunyi kini telah membelenggumu dalam jarring-jaring kenyataan yang tak pernah kau fahami; Sebuah kenyataan semu di mana dirimu hanya hidup sebagai benda pasif yang tak tahu mana yang harus kau tentukan. Bagai memandang garis maya. Sebuah peta tentang jalan yang tanpa arah.

Kemudian apa makna kesendirianmu sampai kini? Bukankah ini arah surut yang buntu? Sebuah kematian di atas kematian jiwa raga? Sedang untuk meniti kembali setapak jalan lalumu, jelas merupakan sesuatu yang tak mungkin terwujud. Sebab kau sendiri telanjur membelanya dengan rasa benci.

�Apa yang tengah kau tangisi, Nung?!� tanya Ipah sambil mengangkat bahu Nunung secara lembut perlahan.

�Aku bingung, Pah. Ternyata hidup ini hanyalah jalanan ilusi yang berkepanjangan. Aku tak pernah menemukan kebahagiaan batinku sendiri. Dalam canda tawa ria���, dalam keramaian masa laluku, yang aku rasakan sebenarnya sebuah tangisan yang pahit di lubuk hatiku yang teramat dalam. Dan pada sunyi kesendiran pun ternyata masih tak kutemukan pula jiwa ketenteraman.�

�Nunung, keramaian, kesunyian, hanyalah permainan raga. Kita sering kali tak bisa menipu batin sendiri. Dalam keramaian tak jarang kita merasakan napas kesepian. Begitu pun dalam kesunyian, terkadang kita malah bergolak dengan deru batin kita sendiri.�

�Lalu kapan aku harus mendapatkannya��..?�

�Mintalah jawaban dari batinmu sendiri. Sebab dialah yang lebih mengerti. Bertanyalah kepadanya, benarkah dalam perjalanan kesendirianmu yang telah lalu adalah untuk mengejar kedamaian hidup? Ataukah sekadar untuk mengubur kelelapan masa lalumu?�

�Jika jawaban yang kedua, salahkah yang aku lakukan?! Aku sungguh-sungguh tak ingin kembali menjamah dunia balcony-ku yang sering kali menginjak-nginjak rasa kemanusiaanku sendiri. Aku ingin menjadi manusia apa adanya. Bukan dengan balcony yang kamuflase itu! Dan karena gejolak hatiku masih menjadi-jadi untuk meloncat-loncat pada dunia balcony-ku, terpaksa aku menyelesaikannya dengan rasa diam hingga semua rasa gejolak itu hilang.�

�Kau tak sedang menyelesaikannya, Nung. Tapi kau sedang mengakhirinya. Ingatlah Nung, sesuatu yang berusaha kita lupakan sebenarnya ia merupakan sesuatu yang paling sering kita ingat. Dan penyelesaian tidak harus dengan jalan meninggalkan segala-galanya. Kalau sesuatu itu bisa kita manfaatkan sebagai media kebenaran untuk bekal batin kita, mengapa harus kita tinggalkan?�

�Lalu apa yang harus aku lakukan, Pah?�

"Saya kira kamu lebih tahu daripada saya, Nung.�

Mendengar jawaban itu Nunung jadi diam kembali. Pikirnya, kalau dirinya tahu dengan apa yang dia perbuat, tentu tak bakalan dia menanyakan hal itu padanya. Dia sendiri tak tahu, kenapa Ipah tak mau menjawabnya dengan terus terang. Bahkan cenderung menmbelit-belit kata.

Kini ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, hingga Ipah pamitan keluar. Dan Nunung pun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang penuh dengan berbagai problematika yang tak kunjung menemukan jalan keluarnya.

Lama sekali Nunung berada dalam kesendirian semacam itu. Untung saja, di ujung kebimbangannya ibu indekosnya datang membawa segelas air rohani. Di elusnya rambut Nunung dengan penuh kasih sayang. Dan Nunung pun segera menyandarkan tubuhnya pada ibu indekos dengan manja, bagai seorang anak yang rindu kasih sayang ibunya.

�Apa yang sebenarnya terjadi, Nung?� tanya ibu indekosnya dengan suara khasnya yang menyejukkan.

�Entahlah, Bu. Saya benar-benar kalut. Dan saya kira Ibu sudah mengerti apa yang tengah saya alami.�

�Aku cuma mendengar sedikit dari Ipah. Tapi aku tak percaya jika orang seperiang kamu bisa mengalami hal semacam itu.�

�Apa yang dikatakan Ipah benar, Bu. Begitulah yang saya alami sekarang. Saya benar-benar dalam keadaan bingung, Bu���..�

�Mintalah jalan kepada Tuhan, Nung. Sebab Dialah yang tahu persis jalan yang akan mengantarmu ke dalam kedamaian. Dan senantiasalah ingat pada-Nya, niscaya kedamaian dan ketenteraman akan segera meliputi kehidupanmu.�

Nasihat yang bersahaja itu, di kalbu Nunung terasa bagai air penyejuk. Kata-kata itu mengalir ke seluruh celah-celah jiwanya. Sehingga ketulusan batin Nunung terpadu jadi satu dengan semilir angin kebersahajaan menyusuri hamparan ruang dirinya dengan sepercik harapan baru; sebuah semangat untuk menyongsong masa depan matahari yang bercahaya benderang dengan seperangkat senyum kejujuran.

Kini garis-garis peristiwa yang berkepanjangan itu telah usai dilaluinya. Semoga esok hari cahaya itu berwujud sesuai dengan yang berada di tabung kepalanya. Dan tak lagi jadi bayang-bayang yang justru menguburnya kediriannya.

Jakarta, 29 Maret 2010


Lampung Post
, Minggu, 25 April 2010