Showing posts with label Arman A.Z.. Show all posts
Showing posts with label Arman A.Z.. Show all posts

Sunday, October 20, 2013

Singaralang

Cerpen Arman A.Z.


SANJALAH Tuan ke Tanjung Iran, negeri elok yang akan membuat siapa pun kerasan. Jikalau mengusung niat baik, takkan kehadiran Tuan ditentang. Warga kami tahan berkorban apa saja untuk menjamu tamu dengan hidangan paling nikmat. Bila tak sedang diburu waktu, sambutlah tawaran bermalam di sana. Begitulah kami punya adat menjunjung tamu.

Kututurkan itu pada siapa saja yang kujumpa dalam kembara menyambangi negeri-negeri asing dan jauh. Aku tak sedang bermanis mulut saat mewartakan Tanjung Iran pada mereka yang berbaik hati menyediakan air minum dalam kendi di depan rumah atau menawari makan dan menginap kala langit beranjak pekat.

Tanjung Iran berpagar nyiur berbatang-batang. Sawah ladang hijau membentang. Rumah-rumah panggung beratap ijuk dengan anak tangga berjumlah ganjil. Sungai bagai liuk naga. Ngarai bagai bokong sapi betina. Meski hilir mudik kemarau dan hujan, Tanjung Iran permai belaka. 

Bila Tuan bangga nian pada kampung halaman, gerangan apa membuat Tuan jauh ngembara? Bukan sekali dua pertanyaan itu kuterima. Maka, tanpa maksud mengolok adab, kujulurkan kaki kiri ke hadapan mereka. Tahi lalat kecokelatan di telapak kaki ini, penanda sejak zaman puyang bahwa hidupku kelak penuh kembara.

Kalau merekah sekarang seruni, bunga makanan burung bebarau. Kalau bertuah balik ke sini, tidak bertuah hilang di rantau. Bila belum puas hati, sebutlah namaku di Tanjung Iran. Mengakulah sebagai sanak famili atau handai taulanku. Niscaya sangsi Tuan dan Puan terobati.

***

AKULAH Singaralang, bujang juaro dari Tanjung Iran. Telinga siapa tak pernah mendengar namaku malang-melintang seantero negeri? Bertubuh kekar, bermisai bercambang lebat, pandangan nyalang serupa mata lemawang. Berteman seribu jin, berilmu halimunan, tak mempan segala senjata. Hanya orang-orang lolo yang nekat menjajal adu nyawa denganku.

Begitulah takdir pengembara. Mata angin adalah ibu yang setia menemani perjalanan. Telah kenyang aku ditempa panas dan hujan. Melintas dusun, memintas ladang. Menyeberang sungai, menyusur ngarai. Menyibak belukar, meniti pematang. Tidur beratap gemintang berlampit bumi.

Kerap melanglang bukan berarti kubuang risalah kampung halaman. Musykil kulupakan segar air kendi yang jadi obat dahaga, reranting tempatku menjemur baju, perigi tempatku mandi, juga anak tangga rumah panggung tempat bertukar kelakar. Takkan pula kulupa bujang gadis teman sepermainan yang bersama menabuh gendang meniup serunai.

Sejak belia aku setia menyabung beruga. Singgah dari pasar ke pasar, dari kampung ke kampung, mencari lawan sabung. Jika ada yang culas hendak menggagalkan kemenanganku, alamat mengundang bala. Siapa sanggup menyulut amarahku, harus siap pula menghunus keris. Kerap sabung beruga berujung sabung nyawa. Bukankah ajal, pengintai segala yang hidup itu, telah tertera di kitab takdir? 

Takdir pula yang membawaku jadi hulubalang penjaga Tanjung Iran. Semenjak kakanda Wayang Semu jadi mantu Kerie Carang, orang terpandang di Tanjung Iran, kian jarang aku ngembara menyabung beruga. Tak kuasa kutolak amanat yang dilepakkan di pundak untuk menjaga merawat Tanjung Iran.

Mari bertukar sepah pinang, dirajang dengan runcing kuku. Air mata jatuh berlinang, iringlah saat mengubur daku. Tidak boleh ditebang lagi, kalau ditebang menimpa padi. Tidak boleh dikenang lagi, kalau dikenang menyusahkan hati.

Bila ajalku tiba, telah kutitipkan amanat pada sanak kerabat: tanam aku di kaki kubur bunda. Andai nyawaku putus di ujung runcing keris musuh, usah menghunus balas. Jangan biarkan dendam beranak-pinak tujuh temurun. Jangan pula mengingat yang sudah mangkat. Selayaknya adat, tundalah mengunyah sirih dan pinang beberapa hari untuk menghormati kematianku.

Pangkal selasih bunga cengkudu, mendari dayik tinggal tuan. Tinggallah kekasih tinggallah duduk, jangan muka daku dilupakan.

***

KEMENAKANKU Dayang Rindu, bidadari yang lahir dari rahim Tanjung Iran. Jelitanya semerbak ke seluruh negeri. Senyumnya bak hujan di tengah kemarau, membasahi sawah ladang kerontang. Di buri rumah panggung, di bawah rindang tembesu, berkali kunasihati ia. Peliharalah lagak laku. Jangan kecantikan membuatnya jadi perawan kanji besar kepala yang memeram petaka.

Banyak bujang, hingga dari negeri jauh, datang ke Tanjung Iran. Satu semata hajat mereka: meminang Dayang Rindu. Namun semua pulang menekuk wajah menggumam keluh. Niat mereka ditolak Kerie Carang. Tiada dalih lain, cucunya Dayang Rindu telah dijodohkan dengan Ki Bayi Radin, putra Batin Pasak dari Rambang.

Aku hanya bisa bertanya dalam hati, sebab apa semua yang hendak meminang selalu ditampik Kerie Carang. Jika jodoh Dayang Rindu telah datang, mengapa tega menutup pintu? Mantu dan besan macam apa yang dicari? Setiap yang datang, disuguhi permintaan yang nyaris tak masuk akal. Apakah dia sedang bermain-main dengan jodoh cucunya sendiri? Apa yang diharap dari mematahkan hajat baik orang lain? Ah, Kerie Carang, kian uzur, pikirannya serupa anak kecil. Ataukah demikian adab orang terpandang, bercongkak-pongah di depan orang?

Bukan aku tak paham Ki Bayi Radin. Jejaka gagah sahaja itu pun tak mudah mendapatkan Dayang Rindu. Susah payah dipenuhinya permintaan tak masuk akal dari Kerie Carang. Daun sirih selebar nyiru dan pinang sebesar kulak telah ditemukan. Hanya satu permintaan lagi yang nyaris membuatnya putus asa. Manalah mungkin menemukan kerbau bertanduk tiga?!

Kerap Ki Bayi Radin singgah mengharap petuah. Duduk di jabo, iba aku melihatnya bermuram muka mengeluhkan sikap Kerie Carang. Berbilang purnama telah dicarinya kerbau tanduk tiga. Meninggalkan Rambang dan Dayang Rindu, serasa tubuhnya dibuang jauh. Selalu saja kukatakan kepadanya: jangan gugup jangan sangsi, jikalau jodoh takkan ke mana.

***

DATANGLAH perahu bidar, perahu bercadik, kapal-kapal besar berbendera lambai mengular, mengusung banyak nian muatan. Banyak hulubalang dan prajurit di dalamnya. Turut pula penghulu, ketib, dan imam.

Seisi negeri berpayung risau. Dusun mana hendak dilanggar, negeri mana hendak dilebur. Gawi apa gerangan hendak dituju? Kalau hendak menyabung, orang sini tak punya banyak beruga. Kalau hendak berjudi, orang sini bukan penjudi. Kalau hendak berperang, orang sini tidak berani. Kalau hendak berdagang, orang sini tidak beruang.

Serupa beruga lama dikurung tak kunjung disabung, gatal juga aku bertemu lawan. Beringkas kubawa senjata dan kubebat seluruh jimat. Kalung hitam pusaka puyang yang bertahun terpisah dari leher, kukenakan lagi. Aroma kecut keringat di kalung itu bagai membentangkan kembali lingkaran masa silam.

Semua risau itu pupus. Mereka utusan Pangeran Riya, raja dari negeri Palembang. Berlayar berhari-hari mengarungi Sungai Ogan, Selat Bangka dan Teladas, melabuh sauh di Tanjung Iran. Berpakaian indah, mereka datang mengusung amanat Pangeran Riya untuk menyunting Dayang Rindu. Segala sesembahan dibawa. Kulit macan, sirih dan tembakau, gambir dan pinang, emas dan uang bergantang-gantang, perhiasan berjuntai-juntai, beras berdulang-dulang, puluhan peti berisi kain dan sutera yang terlipat rapi, payung-payung berpucuk intan, juga keris dan senjata.

Ketika hajat itu ditolak Kerie Carang, berat hati mereka segera pulang ke kandang. Tumenggung Itam mendelik berkacak pinggang. Seluruh senjata yang jauh-jauh mereka bawa akan ditikamkan di tanah Tanjung Iran jikalau Dayang Rindu gagal dibawa ke Palembang. Demi langit dan bumi, naluri bujang juaroku mengendus gelagat tak sedap. Telah lama kudengar nama Tumenggung Itam, juga hulubalang-hulubalang sakti dari Palembang. Dibalik pakaian sutera, mereka sembunyikan congkak. Sungguh tamu tak tahu diuntung, sukar diajak berbijak hati. Tebersit sangsi, adakah hajat tersembunyi di balik niat meminang Dayang Rindu? Apakah mereka hendak menguasai Tanjung Iran?

Bunga berkembang di dalam hati, dinanti layu tidak kan layu. Apa lagi dinanti-nanti, mengamuk payu berperang payu.

Inilah harinya beruga menyerang elang. Bagai hidup dari mati bila bertemu lawan sepadan, mengamuk aku bak badai di lautan. Kapal dan perahu kukaramkan. Kutebang orang bagai menebang batang pisang dan tebu. Roh-roh beterbangan dari tubuh-tubuh yang terbunuh. Tanjung Iran menjelma jadi tanah dendam. Pedang dan keris meneguk darah bergantang-gantang. Akan kubuat tulang belulang mereka pulang dibawa gagak. Akan kubuat darah mereka menghilir dibawa arus.

Akulah penjaga Tanjung Iran. Selama hayat di kandung badan, siap kusabung nyawa demi marwah keluarga dan tanah kandung. Buat aku terjengkang, hasut amarahku hingga puncak ubun, maka ruh lemawang menyatu dalam ragaku.

Apa yang tersisa dari amuk? Kakandaku Wayang Semu mati di tangan Ki Bayi Metig. Ki Bayi Radin dibunuh Kerie Niru. Panas menjalar sekujur tubuh. Aku meraung laksana lemawang luka.

Mudik ke hilir mudik ke tanjung, bawa jangkar seribu tali. Putus benang boleh disambung, putus nyawa di mana cari. Kiranya Tumenggung Itam dan Ki Bayi Metig masih sawan pada ajal. Tak mudah mereka menyembah minta hidup. Kutebas telinga kiri Tumenggung Itam. Kucacatkan hidung Ki Bayi Metig. Itulah pengganti harga diri lelaki pemberani, penebus malu mereka yang kalah bertarung.

Siapa nyana siasat busuk mereka berhasil mengelabuiku. Dayang Rindu raib dari Tanjung Iran. Dia berhasil diboyong ke Palembang. Entah siapa yang diam-diam menculiknya. Demi puyang-puyang yang bertakhta sepanjang bukit dan sungai, takkan aku tinggal diam. 

Kalau tumbuh selasih, jangan dilimbang dulang. Kalau sungguh hamba dikasih, jangan diberi di ambil orang.

Terbetik kabar, setiba di Palembang, Dayang Rindu tak sudi diperistri Pangeran Riya. Tinimbang bersanding dengan lelaki bukan pilihan hati, ia terbang ke khayangan, berkumpul kembali dengan kedua orang tua dan tunangannya Ki Bayi Radin.

Malu dan dendam bersekutu membuat Pangeran Riya muntab. Kepalang tanggung, dikerahkannya rombongan perahu dan kapal dalam jumlah lebih besar untuk menebus dendam, melantakkan Tanjung Iran. Tersebab kasih tak sampai, lelaki berharta bertakhta jadi gelap mata.

Aku pun tak jera tarung sekali. Ketika rombongan dari Palembang dalam perjalanan kembali ke Tanjung Iran, aku pergi memburu lawan. Dusun dan rimba kulalui. Menyusur jalan setapak berliku-liku. Dari pinggang hingga puncak bukit. Menyeberang ngarai curam dan sungai berhantu banyu. Akan kuburu Pangeran Riya hingga ke lubang semut.

***

TERANG bulan di Tanjung Iran. Perang Palembang dan Tanjung Iran telah selesai. Kerie Niru mati kubunuh, namun mujurlah Pangeran Riya. Ajal masih jauh dari napasnya. Seperti kijang sawan menghindari terkam lemawang, dia berhasil kabur ke jantung belantara sebelum sempat bersua denganku.

Tapi tak kunyana, sepulang berperang di Niru dan Palembang, Tanjung Iran luluh lantak tak berwajah. Darah menggenang sepanjang jalan. Anyirnya menyesak ke paru-paru. Rumah-rumah panggung jadi arang. Kendi pecah, lampit koyak-moyak. Tubuh-tubuh tanpa nyawa centang perenang. Sanak kerabat dan handai taulan tak tersisa. Sungguh, pulang ini serasa mati. Hidup serasa hilang nyawa. Demi apakah perang ini? Untuk siapakah mengadu nyawa?

Akulah Singaralang, bujang juaro Tanjung Iran. Terkapar di kampung halaman yang berkubang darah, tahi lalat di kaki kiriku berdenyut pelan, seperti mengimbau agar aku kembali berjalan. Menghilir hingga sisa umur. Bukankah ajal, pengintai segala yang hidup itu, telah tertera di kitab takdir. n

Bandar Lampung, 2012-2013


Lampung Post, Minggu, 20 Oktober 2013

Sunday, November 25, 2012

Cincin Hujan

Cerpen Arman A.Z.


Kisah 1


AKSA dan Mayang terjebak di ruang tunggu bandara. Hujan pagi itu membuat penerbangan mereka delay. Duduk di bangku panjang, sepasang suami istri itu leluasa mengamati orang-orang hilir mudik. Aksa menangkupkan tangan kirinya ke tangan kiri Mayang yang mendekap tas jinjing di pangkuan. Mayang yang tersipu, sepintas melirik tahi lalat di bawah mata kiri Aksa. Ada benda bergesekan dalam genggaman mereka: sepasang cincin kawin berhias batu permata.

Percakapan Aksa dan Maya terputus oleh gerutu seorang ibu tambun berdandan menor yang berdiri gelisah tak jauh dari tempat mereka duduk. Ini bukan melatih kesabaran, ini tentang konsumen yang dirugikan, protes ibu itu pada petugas yang berdiri salah tingkah di pintu keberangkatan. Seorang pria tua menimpali, menuding pemerintah yang tak peduli pada penumpang yang terlantar karena pesawat telat berangkat.

"Mereka tak bisa bercanda dengan waktu..." desis Aksa. Mayang tersenyum sambil mencubit paha Aksa. "Menurutmu, apa yang menggerakkan mereka kemari?!" sambung Aksa.

"Ya, urusan mereka masing-masing." jawab Mayang. Aksa menggeleng, "Ada yang lebih dari itu..." sahutnya. Mayang menengok. Dahinya berkerut.

"Ini yang menggerakkan mereka," jelas Aksa sembari menggesek-gesekkan jempol dan telunjuk kanannya. Sepasang alis Mayang naik, seperti tak sepakat dengan kalimat suaminya.

"Jadi, kita pun ada di sini karena diatur uang?"

Aksa menjawab dengan senyum, lalu mengalihkan topik percakapan seraya menatap wajah istrinya, "Sudah lama kita tak pergi berdua seperti ini. Tiap rencana liburan sering gagal." Jauh hari mereka menyusun rencana pelesiran ke Bali, merayakan selusin tahun usia pernikahan.

"Kau kelewat sibuk dengan kerjaan. Pulang saat anak-anak sudah tidur. Bangun ketika mereka sudah pergi sekolah. Anak-anak lebih akrab dengan sopir dan pembantu. Kita mirip orang asing yang tinggal serumah," sindir Mayang. Barusan tadi, tanpa disuruh Aksa, Mayang menelepon ke rumah. Memastikan lewat ibunya bahwa ketiga anaknya berangkat sekolah.

"Kau juga sibuk bisnis dan arisan dengan teman-temanmu," dalih Aksa.

Diam. Waktu menitik seperti butir-butir air hujan yang gamang di telapak dedaunan sebelum luruh ke tanah.

Maya mendengus kesal. "Sudah setengah jam hujan reda. Tapi kenapa belum juga ada panggilan untuk berangkat?"

Aksa menghela napas. "Iya. Capek juga jadi manusia di ruang tunggu."


Kisah 2

SIANG mendung di kafe terbuka tepi pantai yang sepi pengunjung. Wara duduk di pojok ruangan, terhalang deretan pot gantung dengan bunga pelastik berjuntai-juntai. Ditemani sekaleng bir dingin dan sebungkus rokok di meja. Gelisah menunggu pria bertahi lalat di bawah mata kiri itu. Sesekali kepalanya mendongak ke langit, berharap rinai tak segera menjelma hujan lebat.

Berbinar matanya memergoki Aksa berjalan tergesa di pedestrian. Seraya menarik bangku di depan Wara dan mendudukinya, dia minta maaf karena terlambat datang. Dia sempat nyasar sebelum bertanya pada pemilik warung tentang lokasi kafe itu, tempat mereka janji bertemu. "Menunggumu tak pernah membosankan," kata Wara singkat, mengobati rasa bersalah Aksa.

Ketika Aksa menyampaikan rencana liburan ke Bali bersama istrinya, mereka sepakat bertemu di tempat yang sama. Demikianlah, Wara lebih dulu datang dan menyewa kamar hotel tak jauh dari cottage tempat Aksa dan istrinya menginap.

"Orang Romawi zaman dulu memakai cincin kawin di jari tengah tangan kiri. Konon, mereka percaya ada pembuluh darah yang mengalir lewat jari itu, langsung ke hati," kata Wara usai melirik cincin kawin di jari manis Aksa.

"Kau kelewat banyak baca buku," sindir Aksa.

"Buku itu jendela dunia."

"Resletingmu juga jendela dunia," gurau Aksa.

"Dasar cabul..."

Wara mengeluhkan istrinya yang cerewetnya akut. Sejak tiba di sini, sudah puluhan kali dia menelepon, memastikan semuanya baik-baik saja. Kesehatan, makan, pakaian, sampai oleh-oleh untuk anak-anak. Ingin rasanya Wara membuang ponsel yang dirasanya jadi semacam teror.

"Kita bakal sulit bertemu seperti ini. Beberapa teman kantorku tampaknya mengendus hubungan kita."

"Siapa? Hati-hatilah. Jangan sampai reputasiku hancur."

"Tenang saja. Jangan panik. Bukan cuma kamu, karierku pun akan habis."

"Bisa kamu selesaikan?"

"Mudah-mudahan."

"Harus dipastikan!"

"Yakinlah, semua akan beres. Makin terancam, kan makin menggairahkan," timpal Aksa dengan senyum penuh makna.

Ah, selain tempat dan waktu, cinta pun bisa melepas jangkar pada orang yang tak tepat. Begitulah Aksa dan Wara.

"Hujan sudah reda. Mau ke kamar hotelku?"

"Itu yang kutunggu. Semoga hujan lebat."

"Jika Mayang mencari?"

"Sudah kumatikan ponsel. Kalau dia curiga, cuaca bisa dijadikan kambing hitam."

"Benar katamu, tempat ini menyimpan gairah. Sudah lama aku menginginkan suasana seperti ini. Bercinta di hotel tepi pantai, dengan jendela terbuka, ditemani debur ombak dan rintih hujan..."

"Sstt, jangan kuat-kuat. Kita buktikan saja siapa yang lebih kuda dari kuda..."

"Dasar kamu, kuda liar..."


Kisah 3

DARI jendela yang separuh terbuka, Lala termangu menatap lantun gerimis. Gadis berhidung bangir itu suka suasana saat gerimis tiba. Romantis. Mistis. Iramanya menjelma nyanyian pilu di batin Lala. Tetesnya yang jatuh di genangan air mencipta lingkaran-lingkaran serupa cincin yang membesar menyebar lalu raib.

Dia teringat ibunya. Sebelum berangkat, beliau sempat berpetuah. Meski diucapkan secara tersirat, namun Lala paham maksudnya: Ibu meminta Lala segera menemukan pendamping hidup. Lala nyengir kuda menanggapinya. Bagi Lala, pernikahan hanya ihwal secarik kertas, juga status yang tak penting. Ada orang yang hidup normal, banyak juga yang berantakan. Lala hanya ingin bahagia dengan versinya sendiri.

Rokok putih terjepit di sela jemari kirinya. Dia abaikan abu yang jatuh ke lantai yang licin bersih. Lala menginap tak jauh dari tempat Mayang menginap. Pagi tadi sendirian dinikmatinya sarapan, lalu melewati waktu bercanda bersama anjing-anjing kecil di tepi pantai. Dia bayangkan ada anjing bersemayam dalam dirinya. Lambat laun dia paham, ada naluri anjing dalam tubuh semua orang.

"Apa yang ada di benakmu tentang Desember?" gamang tanya Lala. Perempuan yang duduk di tepi ranjang menatap televisi, mengalihkan pandangnya ke jendela.

"Ulang tahun pernikahanku. Itu yang membawaku kemari," jawab Mayang.

"Tak ada yang lebih indah dari itu?" kejar Lala. Mayang sudah menduga, pertanyaan itu akan disusul dengan pertanyaan berikutnya. Mayang memilih diam.

"Aku sudah terbiasa menikmati sakit ini sendirian," sambung Lala sejurus kemudian.

Mayang enggan berdebat lebih jauh dengan Lala. Ini tentang kesepian dan hasrat wanita. Baginya, bertemu dengan Lala sudah cukup membahagiakan.

"Kubayangkan kita menyusuri pedestrian sepanjang pantai ini. Menikmati malam bertabur bintang di sebuah cafe terbuka. Ditemani lagu-lagu romantis dan lilin kecil yang menari di tengah meja..." suara Lala mengambang.

Selain tempat dan waktu, cinta pun bisa jatuh pada orang yang salah. Mayang dan suaminya sepakat hari ini mereka bebas pergi sendirian. Saat kembali ke hotel, mereka akan saling cerita bagaimana mereka mengisi waktu sendirian sepanjang hari itu. Mayang tak risau. Dia selalu dapat nilai bagus waktu pelajaran mengarang dulu. Lala tersenyum mendengar cerita Mayang.

Cuaca dingin dari luar jendela memaksa Lala beranjak dari tempatnya berdiri. Berjalan ke tepi ranjang. Duduk di samping Mayang. "Kapan kita bertiga seranjang. Aku, kau, dan suamimu. Bercinta sampai pagi," usul Lala dengan tatapan nakal, disusul tawa langu.

"Gila!"

Mayang hendak pulang. Lala mencegah. Gerimis masih mengalun di luar. "Tak apa. Sudah lama aku tak berjalan di bawah gerimis." Dihampiri dan diciumnya tengkuk Lala, sambil berkata "Jaga dirimu, Sayang."

Tangan kiri Mayang telah menyentuh gagang pintu ketika Lala mengejutkan, "Selalu ada yang terlupakan..." Mayang menunda langkah. Menoleh ke belakang. Mata Lala mengantar Mayang ke atas ranjang. Mayang terkejut teringat sesuatu. Bergegas dia mencari benda mungil itu di balik selimut yang masih acak-acakan. Mengenakannya kembali di jari manis tangan kiri.

"Melepas cincin nikah sebelum bercinta, bukan berarti melupakannya, apalagi meninggalkannya."

Usai cincin itu telah terpasang di jari manis, ada yang berkelebat dalam benak Mayang. Benda mungil itu tak lagi berkilau. Dia selalu cuai menyepuhnya.

"Kabari aku jika kamu sudah pulang. Siapa tahu aku bisa menjemputmu, kemudian menemaniku ke toko emas..." kata Mayang sembari melanjutkan langkah ke pintu keluar. Mimik wajah Lala bertanya untuk apa.

"Menyepuh cincin ini, agar berkilau kembali..." sahut Mayang.


Kisah 4

"CUACA kok kayak kuda liar, susah diterka maunya...," celetuk Aksa. Di ruang tunggu bandara, dalam perjalanan pulang, ia kembali mengeluhkan penerbangan yang tertunda karena gerimis.

"Sabarlah..." imbau Mayang. Tatapannya tak sengaja membentur tahi lalat di bawah mata kiri suaminya. Menghilangkan jenuh, Aksa iseng menggumamkan siapa di antara orang yang lalu lalang di sekitar mereka yang akan duduk dekat pintu darurat pesawat.

"Lo, apa urusannya dengan pintu darurat?"

"Bisa menyelamatkan banyak orang."

"Ah, zaman sekarang, orang cari selamat masing-masing."

Giliran Mayang mengajak Aksa bertaruh. Siapa yang akan duduk di bangku pesawat bersama mereka. Aksa menerka lelaki. Mayang menebak perempuan. Mereka serempak tersenyum. Siapa pun yang melihat mereka di ruang tunggu bandara itu, tentu menduga mereka pasangan yang romantis dan bahagia. Sebuah rumah tangga yang utuh. Bukan sepasang suami istri yang sedang menipu diri sendiri.

Tangan kiri Aksa menggenggam tangan kiri Mayang. Menyentuh dan meraba cincin yang melingkar di jemari itu. Orang Romawi zaman dulu memakai cincin kawin di jari tengah tangan kiri, kata Aksa. Mereka percaya ada pembuluh darah yang mengalir lewat jari itu langsung ke hati. Mayang nyengir dan meledeknya sok tahu.

"Selusin tahun cincin ini melingkari jari manis kita. Seperti jimat, cincin ini membuatku kebal dari segala godaan," teduh mata Aksa menatap Mayang.

"Gombal," rajuk Mayang.

Dalam benak Aksa, dibayangkannya Wara pulang sendirian nanti sore. Sementara Mayang berpikir entah bagaimana ujung kisahnya dengan Lala.

"Gerimis begitu liris. Mungkin, di suatu tempat, ada yang sedang merangkai kalimat-kalimat romantis..."

"Atau... Meneguk bir dingin..."

Aksa dan Mayang bertatapan, tersenyum langu, lalu melengoskan pandang; menepis kelebat bayang seseorang benak masing-masing. Banyak yang terdengar dan terlihat seperti cinta, padahal omong kosong belaka. Aksa meremas jemari Mayang. Sepasang suami istri itu merasakan cincin kawin yang saling bergesekan. Rasa ngilunya menjangkau hati masing masing. Gerimis telah beranak pinak.

"Lucu ya, hujan menemani kita saat pergi dan pulang..."

Bandar Lampung, 2011


Lampung Post, Minggu, 25 November 2012

Sunday, January 30, 2011

Sepasang Wayang

Cerpen Arman A.Z.


ADAKAH yang lebih membahagiakan bagi lelaki uzur macam kalian selain memberi napas pada nostalgi? Kalian seperti menemukan peti harta karun saat menoleh ke belakang. Ah, memang getir menjalani sisa hidup sebagai sampah yang disisakan masa lalu untuk masa kini.

Tjin Siong, tentu kau tahu kotamu tengah bersolek menjelang Imlek, bukan? Mengapa mengurung diri dalam kamar pengap apak ketika orang-orang berwajah bungah? Buka jendela dan tataplah langit cerah di luar sana. Dengar kesiur angin kencang merontokkan daun-daun tua, mewartakan tahun baru sudah di depan mata.

Pergilah ke pusat kota. Di depan mal atau deret pertokoan, barangkali semarak lampion dan kibar spanduk merah nyala bertuliskan selamat tahun baru itu bisa sedikit mengobati dukamu. Lalu kau melenggang pulang sambil membayangkan sang naga berkenan datang menyambangimu. Kala bocah, kau acap terpukau dengan cerita naga yang menyambangi rumah-rumah, memberi berkah pada penghuninya. Itulah yang kau butuhkan saat ini, Tjin Siong.

Petang kemarin kau tak duduk di teras seperti biasa. Sia-sia belaka Narto datang. Selain ingin mengajakmu ngobrol mengiris waktu, dia menjinjing rantang berisi nasi, sayur pare, dan pepes teri untukmu. Tak kau lihat raut mukanya saat berdiri di depan pagar setinggi pinggang yang dikunci rapat. Kehilangan terpancar lewat matanya saat melihat kursi rotan lapuk yang biasa kau duduki kosong melompong. Jakunnya berkedut menelan liur kecut. Dia mendesah panjang sebelum balik kanan, menyeret langkah pulang dengan hati diganduli sedih.

Sesungguhnya telingamu menangkap seret langkah dan batuk Narto, namun kau enggan membuka pintu. Kau berharap dia tak menyadari bahwa kau ada dalam rumah, duduk mengurung diri dalam kamar berlampu remang. Tanpa isak tertahan, kau biarkan air bening itu menetes dari sudut matamu, bergulir perlahan di pipi keriputmu, jatuh ke celana pendek hitam kusam yang nyaris tiap hari kau kenakan. Kau hanya berdesis dalam hati, semoga dia mengerti, ada waktunya kau ingin sendiri.

***

Ayo bertaruh, Tjin Siong. Tentu kau ingin kembali ke masa silam ketimbang sendirian menyulam perca kenangan Imlek masa kecilmu. Dahulu, rumahmu dipenuhi pernak-pernik Imlek. Lampion bundar merah nyala, mercon, kue keranjang, dan kembang kecil merah muda perlambang tahun baru. Bersama adik-adikmu menonton barongsai dan opera kera sakti di lapangan dekat klenteng yang tengah bersolek menyambut Imlek. Kalian berlomba mengumpulkan angpau paling banyak. Tiba di rumah, kau sudah ditunggu makanan yang disiapkan ibumu. Aneka buah berderet di meja: jeruk mandarin, pir, manisan plum, buah naga, atau kiambwee. Tapi kau paling suka puih tao bumbu tauco kiriman popomu. Aroma sedapnya yang meliuk dibawa angin bisa menggeliatkan cacing-cacing dalam perutmu.

Tapi itu masa lalu. Sejak orang tuamu mangkat, rumah warisan dijual, biduk rumah tanggamu karam, hingga terperosok ke liang kemiskinan, kau memutuskan pergi jauh. Menyepi ke kota kecil itu. Bertahun-tahun tinggal di bedeng petak di pinggiran kota.

Tataplah dirimu di cermin. Kini kau hanya lelaki delapan puluhan sebatang kara dengan tubuh ringkih digerus waktu. Helai-helai rambut perakmu kerap berserak di bantal dan lantai.

Apa yang masih bisa kau banggakan untuk Imlek kali ini, Tjin Siong? Tak ada lampion bundar. Tak ada amplop angpau. Tak ada pohon plastik bunga mei hwa. Tak ada hio dan peralatan sembahyang lainnya. Tak ada uang di saku untuk memindahkan semua itu ke dalam rumahmu.

***

Kau lelaki yang pantang menjilat ludah sendiri, Tjin Siong. Tak pernah kau sesali sumpah serapah yang kau muntahkan di muka adik-adikmu sekian tahun silam. Bagimu, mereka burung yang lupa sarang setelah piawai terbang. Setelah orang tua meninggal, sebagai lelaki sulung kau jadi tulang punggung keluarga. Terlampau banyak yang kau perjuangkan demi membesarkan adik-adikmu. Namun, setelah roda hidup membuat mereka sukses dan kau jatuh pailit, mereka membalasmu dengan tuba.

Entah di mana tangan mereka ketika lumpur kemiskinan mengisapmu perlahan-lahan. Entah di mana suara mereka ketika kau dicampakkan istri yang menuduhmu mandul. Entah sesibuk apa mereka hingga tak sempat membesuk kala kau sakit. Entah di mana mereka sembunyikan dompet ketika kau tak punya uang untuk membeli sebungkus nasi.

Kau telah paham, orang lain bisa jadi saudara, sementara saudara sendiri justru mirip orang asing. Dengan suara parau menahan emosi, pernah kau sindir mereka bahwa Narto-lah yang lebih layak jadi saudaramu. Narto, lelaki sebaya mantan pemilik wayang orang yang tinggal tak jauh dari bedengmu, yang bertahan menjalani sisa hidup bersama istri dan anak-anaknya. Perasaan senasib sebagai orang-orang kalah yang menyatukan kalian.

Saat kau disengat stroke, Narto dan anak-anaknya lintang pukang menolongmu. Mencarter becak, membopong tubuh kakumu ke sinse kenalanmu. Istrinya menyeduhkan ramuan tumbuhan, serangga, dan rendaman arak. O, tentu kau kini telah fasih menakar mana lebih pahit; ramuan obat atau nasibmu.

Ketika kerusuhan satu dekade silam, kalian tercekat menyaksikan serigala-serigala berwujud manusia dalam kotak 14 inci itu. Mata rabun kalian seperti melihat sepasang tanduk mencuat di kepala orang-orang yang menjarah apa saja dan bara di mata orang-orang yang membakar apa saja. Glodok dan Mangga Besar, pecinan tertua di Jakarta yang sejak zaman kompeni jadi kawasan pemukiman dan perdagangan, musnah jadi arang.
Keluarga Narto yang cemas kerusuhan menjalar ke kota itu, memaksamu mengungsi ke rumah mereka. Beberapa hari kemudian kau dapat kabar, adik-adik dan familimu telah terbang menyelamatkan diri ke luar negeri, sementara beberapa keponakanmu jadi korban perkosaan. Kau cuma bisa menangis dalam hati kala itu.

***

Tjin Siong, Narto, betapa getir menjalani sisa umur sebagai bekas dalang. Dalam ingatan kalian tersimpan segunung cerita tentang sudut-sudut kota yang pernah kalian singgahi ketika menggelar pertunjukan wayang potehi dan wayang orang. Pernahkah terlintas di benak kalian, jika sedang bernostalgia, kalian bak sepasang mayat yang bangkit dari kubur? Dengan mata berbinar dan abai pada napas yang tersengal, cerita meluap tak terbendung dari mulut kalian, hingga orang-orang yang jenuh mendengar menyingkir perlahan. Macam tak ada yang lebih menarik dari masa silam; begitu rutuk mereka seraya meninggalkan kalian.

Menyesalkah kau jadi dalang potehi, Tjin Siong? Dulu kau selalu kebanjiran order. Jika ada acara keagamaan di klenteng, kau bisa mentas sebulan penuh. Sering pula kau ditanggap di luar kota. Tapi yang diingat tetangga-tetanggamu kini hanyalah rona wajahmu yang mirip kepiting rebus kala mengutuk masa silam. Kau kehilangan segalanya sejak potehimu dilarang tampil. Kau gulung tikar. Pensiun sebagai dalang.

Dan kau, Narto, apa yang kau raih setelah separuh lebih hidupmu mengurus kelompok wayang orang warisan bapakmu? Zaman berubah, Pak Tua. Seperti Tjin Siong, wayang orangmu pun telah lama mati. Membusung dadamu ketika rombongan wayangmu pentas dari satu daerah ke daerah lain. Pertunjukanmu selalu padat penonton. Senyummu semringah melihat orang-orang berdesakan demi mendapatkan karcis di loket. Tapi semenjak televisi masuk ke rumah-rumah, semenjak wayang dan ketoprak tayang di televisi, penontonmu wayang orangmu kian surut.

Tentulah mereka memilih nonton gratis. Meski tiket kau jual murah, tak lebih dari sebungkus rokok, toh pertunjukanmu tetap sepi. Acap kalian terpaksa iuran menutupi sewa gedung pertunjukan. Kau sempat ngotot bertahan meski wayang orangmu di tubir bangkrut. Cincin, gelang, dan kalung emas simpanan istrimu yang jadi tumbal menutup tekor, tak tergantikan hingga kini.

***

Imlek dua tahun silamlah pentas terakhirmu, Tjin Siong. Kau bagai musafir dahaga menemukan setangkup air di jantung gurun ketika seseorang menanggapmu untuk menggelar wayang potehi di pasar malam. Ada redup nyala lilin dalam hatimu kala itu. Dibantu Narto, kalian rangkai panggung potehi dari tripleks yang di cat merah. Atapnya seng karatan, bagian depan serupa bingkai untuk memainkan wayang, sisi-sisinya dilapisi kain merah, dan di sisi kiri ada pintu kecil untuk kalian keluar masuk.

Dalam kotak itu kau mulai pertunjukan. Narto jadi cantrikmu malam itu. Dialognya bahasa Indonesia, suluknya tetap bahasa China. Kau pilih lakon Sin Jin Kuy, sebuah kisah kepahlawanan. Justru kau yang kalah telak malam itu. Suaramu raib ditelan dentam house music dan dangdut yang disetel keras-keras. Suaramu tak bisa menyaingi teriakan para pedagang kaki lima dadakan. Segelintir penonton yang sempat berhenti untuk menonton kalian, entah berdiri atau duduk di trotoar, bubar satu per satu karena tak mendengar apa yang kau ucapkan. Kepala batu atau mengelak dari rasa malu, kau berkeras melanjutkan pertunjukan sampai usai. Sudah dibayar, jangan sampai ceritanya putus di tengah jalan, dalihmu sengau. Narto menatapmu dengan hati digores sembilu.

Ah, Tjin Siong, Narto, kesetiaan itu menyakitkan. Puluhan tahun jadi dalang wayang potehi, puluhan tahun mengurus wayang orang, kini kalian tak ubah sampah masa lalu yang disisakan untuk masa kini. Jika kalian mati dalam derita dan kesepian, pada siapa kalian wariskan peralatan wayang itu?

***

Tjin Siong, Narto, mengapa kalian masih terpekur di trotoar simpang jalan bekas pasar malam dua tahun silam? Angin malam tak baik untuk kalian yang kerap mengeluhkan rematik. Pulanglah. Malam kian larut. Rebahkan tubuh di ranjang dan tarik selimut. Jangan bermimpi ada sisa tempat buat kalian dalam sejarah kota ini; kota yang telah lama meninggalkan dan melupakan kalian.

Ah, rupanya tak ada yang lebih berharga bagi sepasang lelaki uzur malang macam kalian selain menghidupkan nostalgi yang sudah mati. Lihatlah, di bawah tatap muram tembok-tembok tua penuh lumut, di bawah sorot sinis lampu-lampu kota tanpa cahaya bulan, berdua saja kalian semarakkan panggung kenangan yang telah lama sunyi. Entah siapa menjadi dalang, entah siapa menjelma wayang. n


Lampung Post, Minggu, 30 Januari 2011