Showing posts with label Alex R. Nainggolan. Show all posts
Showing posts with label Alex R. Nainggolan. Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Hujan Bulan Januari *)

-bagi Iswadi Pratama
Cerpen Alex R. Nainggolan

 
sepanjang jalan tanjungkarang
januari gugur sepertu hujan
kemilau pasar: cahaya di pipi perempuan
**)

MUNGKIN, di Januari ini engkau akan sedikit menyepi. Ketika tahun mulai membuka jubahnya, sekaligus melemparkan kesedihan atau kesakitan bagi puisi yang pernah kautulis. Tapi, bukankah penyair juga berhak berbahagia? Sebab kesedihan terkadang menjadi seluas lautan saat menjelma jadi puisi. Duh, mengapa puisi senang berlarat-larat dengan peristiwa? Barangkali pula, ini bukanlah hujan sebagaimana yang tertulis dalam puisimu. Tapi bukankah hujan tetaplah hujan? Tak peduli bagaimana bentuknya. Entah itu gerimis, deras, ataupun rinai.

Dengan dinginnya yang wingit, semacam memberikan celah yang sempit. Sekejap segalanya membasah. Jalanan, rumah, gedung-gedung, kendaraan, orang-orang, juga puisi. Seperti juga tubuhmu, yang kuyup—kenangan mendadak buram. Tak ada halte buat dirimu singgah, bahkan perempuan yang ranum sekalipun. Bukankah kenangan pula yang membuat kita kerapkali buta? Dengan sekejap datang tanpa diduga, serupa hantu.

Ah, mengapa engkau lupakan jalan pulang? Bukankah di rumah mungil itu telah lama menunggu; canda anak-anak dan seorang istri yang senantiasa menyeduhkan secangkir kopi setiap pagi? Setidaknya engkau bisa melepaskan setiap lelap pikiranmu. Saat tiba di sebuah rumah, anak-anak yang berlarian menyebut namamu: Ayah. Ketika pagar kaubuka, mereka akan sigap melompat, berlarian mengejarmu.

lelakiku kesasar di sini
dalam setiap dering telepon, kartu pos, atau pacar lama
**)

Januari ini hujan turun lagi. Hampir setiap hari. Hampir sepanjang hari. Langit melulu redup. Dingin serasa terkunci, mengatup. Dan kota yang kutinggali dicekam ketakutan. Air menggenang di mana-mana. Tubuh-tubuh membeku. Terkunci. Tak bisa bergerak. Jalanan serasa mampat. Di kota yang kutinggali, hanya ada bukit kecemasan, setiap kali aku bertemu dengan orang lain. Yang ditanyakan hanyalah: ”Apakah tempat tinggalmu dikepung banjir?” atau ”Seberapa tinggi banjir yang masuk ke dalam rumah?” atau ”Apakah engkau bisa berangkat kerja dengan banjir yang mengepung?” atau ”Apakah engkau mengungsi saat banjir datang? Ke mana? Ke hotel apa apartemen?” atau puluhan tanya lainnya yang nadanya sama. Ketakutan tentang banjir yang melanda. Pertanyaan yang membuat dirimu muak. Pertanyaan yang terasa semacam ketololan semata.

Mudah-mudahan bukan di kotamu, penyair. Sebab bagiku Tanjungkarang selalu menyisakan gemintang harap, yang senantiasa menggertap. Tanjungkarang akan kerap berpijar dengan denyarannya yang abadi. Bukankah kota itu telah lama menyihir para penyair? Seakan menjadi tenung yang panjang, katakanlah untuk sekadar merenung. Di setiap sudutnya, masih ada puluhan diksi yang abadi. Diksi itu ibarat buat yang telah masak, sehingga tinggal dipetik saja. Hmm. Betapa Tanjungkarang meninggalkan segurat tanda di kepalaku. Jalanannya yang seperti abadi dalam ingatan. Bertahun-tahun, setiap kali aku bertandang ke kota itu, tak banyak yang berubah.

DI JALANAN Tanjungkarang itu pulalah, terasa benar jika sunyi telah membesar. Sunyi yang berkecambah acapkali menguliti rindu yang magis. Tanpa mesti ada tangis. Di kotamu, segalanya seperti meninggalkan tanda, bukan hanya tertera pada plang nama jalan semata. Melainkan juga pada setiap relung yang terlewati. Saat kita melangkahkan kaki, terasa benar sudutnya yang bergetar. Semacam ada sekelebat cahaya yang melambai, untuk minta didatangi.

Sebagaimana aku yang dulu menikmati kotamu. Sebuah jalan yang lurus terbentang, menuju sebuah titik. Tanjungkarang yang dipenuhi rindang cahaya. Tak ada keramaian di kota itu yang benar-benar riuh, bagiku. Sepertinya orang-orang begitu menikmati segala metamorfosa sunyi dari Tanjungkarang. Meskipun sesekali, mobil angkutan kota bergerak dengan hantaman bising lagu house music-nya, yang membuat sunyi itu pecah. Tapi itu pun tak terlalu lama, dengan sekejap sunyi kembali menyusun dirinya, selapis demi selapis.

Tapi Januari di kotaku terasa berbeda. Kota yang dipenuhi selokan yang mampat. Belum lagi sejumlah orang yang berkomplot, dengan pelbagai muslihat atau rencana jahat. Ya, justru di Januari ini, orang-orang sibuk membaca denah kota. Saling menyalahkan mengapa hujan yang turun sepanjang hari, setiap hari itu meninggalkan genangan air yang abadi.

Tapi apa yang salah dengan hujan yang turun di bulan Januari? Mereka saling berteriak, saat curahan hujan turun begitu deras. Saat hujan seperti jatuh tanpa ampun. Seketika mendadak ngungun. Saat hujan masih turun, lalu menciptakan beberapa genangan di setiap sudut. Bahkan saat hujan semakin deras, genangan seperti cepat beranak-pinak, menjadi banyak dan semakin meninggi.

Di kotaku, bayangan hujan mendadak menjelma jadi ketakutan yang memanjang. Bahkan untuk sekadar bayang-bayang hujan sekalipun! Saat langit mulai gelap, dengan mendung yang terkurung. ”Sialah, hujan turun lagi!” umpat mereka. Mereka seperti menyesali hujan yang bertandang. Ketika hujan mulai datang yang bermula dari gerimis, kemudian menjadi deras dan lebat. Seketika mereka mulai memeriksa saluran di sisi rumah. Saluran yang dipenuhi endapan lumpur ditambah sampah yang menumpuk. Di kotaku, tak ada yang menyambut hujan dengan raut wajah ceria. Melihat hujan wajah mereka sekejap murung.

Pun di televisi, mereka asik berdebat. Berbusa dalam omongan. Menyodorkan sejumlah asumsi dan teori. Saling menyalahkan kembali. Memberikan solusi, namun tak sepenuhnya dikerjakan. Jika banjir akibat salahnya tata kota. Jika banjir akibat banyaknya curah air dari tempat yang lebih tinggi. Jika banjir pembangunan kota yang semrawut. Ah, bukankah banjir sendiri adalah berkah? Dengan begitu, kita seperti ditegur dengan keras—jika manusia memang sekadar pion bagi Tuhan. Bahwa kita tak pernah bisa melawan kehendak-Nya. Jika kita memang hanya bisa berencana, namun Tuhan pulalah yang menentukan.

Bukankah renungan itu seperti dengung yang abadi. Untuk kita senantiasa berbenah, secara tidak langsung jika hal ini akibat ulah kita sendiri. Menghilangkan resapan air, membuang sampah sembarangan, membuat sempit aliran sungai. Duh, mengapa justru aku yang melantur. Mendadak jadi seorang pengkhotbah? Padahal aku hanya ingin menikmati hujan yang turun di Januari ini, sebagaimana yang kautuliskan dalam puisi. Hujan yang membuat dirimu terus menggeluti setiap jejak sunyi. Terasa begitu kepayahan dirimu untuk memungutinya satu per satu. Semacam pekerjaan yang serius dan tekun; ketika menyusun kepingan puzzle. Kepingan-kepingan itu adalah sisa ingatanmu yang masih sempat berdenyar. Ah, betapa kenangan terasa begitu menyesakkan dada. Terasa banyak yang mesti disusun ulang, rencana-rencana yang terasa tinggal sekadar kata-kata.

Dengan ingatan itulah, engkau seperti ingin mengajak berdamai dengan masalalu. Seperti ingin merekatkannya dengan kuat. Namun serasa tak sepenuhnya segala hal bisa kauingat dengan sempurna. Terasa ada hal-hal yang kurang, berlalu begitu saja. Abai bersama waktu. Di muka tahun, ingatan-ingatan itu terus saja meenerjang lalu-lintas pikiranmu.

Januari ini hujan terasa panjang. Memasuki setiap urat kota, menelusup di segala ruang. Jalanan basah dalam erang. Langit begitu meriang. Tak ada tirai matahari yang terbuka. Tak terasa pijar hangat yang terkuak dari sinarnya. Mendung seperti terkurung di angkasa. Tak bisa ke mana-mana.

Lalu, orang-orang di kotaku akan berteriak hingga serak, ”Cahaya... di mana cahaya? Kami butuh cahaya! Di mana matahari kami?”

*

aku merapatkan mantel dan kerah kemeja
orang-orang menyusun dirinya
memasuki masa lalu
yang terus tumbuh dalam otakku
**)

Januari ini hujan turun lagi. Hampir setiap hari. Hampir sepanjang hari. Langit melulu redup. Dingin serasa terkunci, mengatup. Dari kejauhan, aku sendirian membaca puisi yang kautuliskan. Di kejauhan, kaca jendela terciprat hujan yang luruh. Menjadi sebuah bayangan magis, yang mengumpulkan segala ingatanku. Tentang kota atau seorang perempuan. Mendadak pandanganku buram, kota seperti berenang menghampiriku. Hampir tenggelam.

Poris Plawad/Edelweis, 2014

Catatan:
*) Judul kisah ini diambil dari puisi Iswadi Pratama dengan judul yang sama, setidaknya turut menjadi inspirasi bagi kisah di dalamnya.
**) Lirik puisi Hujan Bulan Januari ditulis oleh Iswadi Pratama


Lampung Post, Minggu, 18 Januari 2014

Sunday, January 12, 2014

Kisah-Kisah yang Tak Perlu Diingat

Cerpen Alex R. Nainggolan


1.
Perempuan itu berjalan sendirian. Langkah kakinya tergesa. Melewati lorong yang gelap. Ia bersenandung, begitu lirih—barangkali ingin mengusir segala ketakutan yang hinggap di tubuhnya. Hari sudah teramat malam. Ia ingat cerita pemerkosaan itu. Ia pernah membacanya, di sebuah surat kabar. Seorang perempuan muda, digagahi oleh beberapa lelaki muda. Para lelaki yang sarat dengan berahi.

Hari teramat malam. Sudah dini hari. Mulai terasa hembusan angin yang membawa embun. Ia bergegas. Langkahnya cepat. Sungguh, ia adalah perempuan yang cantik. Dengan payudara yang masih muda dan ranum. Ia bergegas. Setidaknya ia mesti melewati lorong itu. Lorong yang gelap memanjang. Ah, mengapa ia tak sampai ke tubir?

Jejaknya memburu. Lorong masih gelap. Semestinya ada cahaya di depan sana. Tapi ia merasa beberapa tangan mendekapnya. Tubuhnya limbung. Ia tak sempat mengingat banyak. Hanya remang terdengar suara lelaki muda dengan tawa yang dipenuhi aroma alkohol. Ia tak sempat lagi berteriak.

2.
Ada suara gemerisik. Larut malam. Ia turun mengendap. Tiga orang lelaki membongkar paksa lemari besi. Suara makin gaduh. Jauh larut malam. Ia masih mengendap. Mungkin sebaiknya ia menelepon polisi. Tapi ponselnya tertinggal di kamar. Ia mengendap. Suara gemerisik.

“Ada orang. Cepat kejar dia!” langkahnya terdengar oleh seseorang. Ia menoleh. Ingin berteriak. Lalu sebilah parang menembus badannya. Ia ingin menjerit. Tapi tubuhnya lemah. Malam terasa makin larut.

3.
Belum jam dua puluh empat. Tapi suara teriakan memberat. Begitu dekat di gendang telinga. Segalanya telah pecah belah. Piring, gelas, foto, toples, dan mungkin kenangan. Malam terasa gulita.

“Kau pikir, aku tak membaca semua BBM-mu! Kau main belakang. Kau pengkhianat cinta. Betapa aku percaya penuh denganmu. Namun ternyata di otakmu hanya selingkuh.”

Perempuan itu menangis. Di sudut dinding ruang tamu. Malam begitu berat. Terasa gelap makin remang di tubuhnya. Ia merasa rambutnya ditarik. Ia merasa pipinya ditampar. Ia menjilat darah dari sela bibirnya. Ia menangis lagi.

“Dasar perempuan murahan. Kegatelan. Jadi itu kegiatanmu di luar. Wanita karier apaan kayak begitu.” Plak. Suara tamparan lagi. Kursi terbanting. Jeritan yang menembus kelam langit malam. Ia tak bisa menghitungnya. Entah yang keberapa. Entah keberapa kali pula—kejadian seperti ini—terus terjadi. Di usia pernikahannya yang merangkak ke angka lima tahun. Buk! Tendangan kaki terasa di perutnya. Ia limbung. Hanya ada sayup suara yang tak jelas.

Ia merasa malam betul-betul berat. Yang sempat diingat hanya suara sirene ambulans. Juga suara bisikan pelan di telinganya, ”Maafkan aku. Jangan bilang siapa-siapa tentang hal ini.” Ia mencoba tersenyum. Wajahnya terasa lebam. Namun, ia merasa masih ada cinta di tubuh lelakinya.

4.
Malam rebah di kota. Di sebuah pompa bensin. Ia baru saja berhenti. Baru menyandarkan sepeda motornya. Tapi seketika kepalanya ada yang menggebuk. Sebuah balok kayu. Lelaki muda itu terjatuh. Kerumunan orang mengeroyok tubuhnya. Pukulan bertubi-tubi singgah. Ia tak melihat dengan jelas wajah pelakunya.

Yang diingatnya orang-orang itu mengenakan helm. Tubuh mereka kekar. Ia diseret. Digebuki. Tak bisa menjerit. Ia muntah darah. Darahnya tercecer di aspal. Banyak orang melihatnya. Tapi tak berani mendekat. Satu pun. Ia ingin menjerit, mungkin menangis. Tapi tak pernah bisa. Terasa malam mengemas tubuhnya hingga meleleh. Malam yang bangkrut di kota. Hanya tubuhnya teronggok di seperempat bahu jalan. Di sebuah pompa bensin. Ia merasa sudah mati.

5.
Napasnya terasa begitu sengau. Pandangannya mendadak payau. Ia merasa sudah sampai di ujung kepala. Larinya sudah panjang. Malam yang ramai. Rangkaian karnaval. Kota yang berwarni. Keramaian yang riuh, menjelma teluh. Orang-orang memadat. Tenggelam dan merapat di kerlip lelampuan. Takjub pada binar cahaya.

Ia teringat anaknya yang demam. Uangnya habis. Anaknya sudah mengigau. Batinnya berbisik, “Aku segera mendapatkan uang buat beli obatmu, anakku. Bertahanlah.”

“Copet! Copet!” Kerumunan yang berkalung. Malam yang berbinar. Matanya yang kalap. Ia mesti mendapatkan uang buat beli obat.

Kerumunan tubuh. “Copet! Copet!” digenggamnya sebuah dompet. Sebuah lengan menunjuk wajahnya. Ia bergeas. Lari sekuat tenaga. Tapi napasnya mendadak habis. Malam masih berkerumun. Tubuhnya terjerembap. Suara pukulan bertalu-talu. Malam yang gaduh. Malam yang berkerumun. Ia, mungkin akan mati. Namun, masih diucapkannya lamat-lamat, “Ini obat buatmu, anakku. Kuburkanlah sakitmu.”

6.
Di sebuah hotel yang mewah. Malam yang muram. Suara pintu dibuka paksa. Tanpa ada ketukan.

“Dari mana ini? Apa hak Anda? Kok bisa seenaknya masuk? Mana surat perintahnya. Apa…” ia bertanya lantang.

“KPK!” mendadak ia lunglai. Padahal ia baru saja mau menyerahkan kantong kresek hitam ke seseorang. Tubuhnya digeledah. Ada perempuan cantik di sana. Ia belum sempat mengenakan pakaian. Tubuhnya setengah telanjang. Perempuan cantik itu, juga setengah telanjang.
“Silakan Saudara ikut,” suara seorang lelaki. Lalu sebuah mobil. Puluhan blitz lampu memotret. Ia menunduk. Menutup wajahnya. Mendadak ia lupa cara untuk tersenyum. Tubuhnya terasa kecut. Tak ada ponsel. Tak ada yang bisa dihubungi.

Ia melihat langit malam dari jendela mobil. Begitu muram. Ia menerawang, berusaha mengingat. Tentang perusahaannya yang baru berjalan. Tentang depositonya di berbagai bank. Tentang emas batangan seberat 100 kilogram di lemari besi rumahnya. Tentang rumah kesepuluhnya yang baru direnovasi. Tentang perempuan yang belum sempat bercinta dengannya.

Di luar memang langit benar-benar muram.

7.
Jalanan lengang. Malam yang menggelepar. Perempuan itu menekan pedal gas mobilnya sampai mentok. Tak lagi menyisa. Di kepalanya terasa penuh bintang. Jalanan begitu sepi. Ia merasa jadi pembalap formula satu. Masih digigitnya gigi. Masih ditekannya pedal gas. Di sebuah tikungan, mendadak matanya penuh kabut. Di kepalanya masih ada kerumunan bintang.

Ia mencoba mengingat sudah berapa gelas alkohol yang ditenggaknya. Tapi ingatannya kembali buram. Terakhir yang diingatnya cuma satu butir pil happy. Dan ia merasa melayang. Masuk ke mobil, langsung tancap gas. Masih sempat ditenggaknya setengah botol yang menyisa di dalam mobil.

“Ayo kita segera berangkat. Cepat.” Temannya mengucap setengah tertawa.

Jalanan lengang. Malam tergeletak sendirian. Begitu sunyi. Sepi menari di jalanan. Ia mencoba menggapai bintang yang berlarian di atas kepalanya. Di sebuah kelokan, kerumunan orang. Begitu banyak. Remaja tanggung. Seorang bapak yang menggendong bayi. Ia terus menekan pedal gas mobilnya. Ia merasa telah menginjak rem. Begitu banyak bintang di kepalanya. Ia tertawa keras. Mobilnya menghantam benda keras. Semuanya terguling. Malam yang lengang. Malam menggelepar dan mendadak pecah di jalanan.

Poris Plawad, Edelweis X/16, 2013


Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014




Sunday, September 1, 2013

Orang-Orang Tanjungkarang

Cerpen Alex R. Nainggolan


SIMAKLAH orang-orang Tanjungkarang, yang kerap gundah, menelusuri jalan-jalannya. Sepanjang lorong kota yang ramai, tapi terasa asing. Orang-orang yang selalu singgah, untuk merapikan bayang-bayang dirinya. Barangkali, kau akan menemukan riwayat dirimu sendiri, yang gemar memainkan masa lalu. Mengingat kenangan tak berbatas. Di jalan-jalan protokol yang akhir-akhir ini sering macet, mereka selalu di sana, berjalan, entah untuk apa. Mungkin ingin memotret berbagai realitas yang terasa panas. Barangkali ingin menghayutkan impian yang terus berbinar.

Aku mengenal mereka, sebagian pernah kutemui wajah-wajahnya di suatu tempat. Sebagian lagi kujumpai sebagai orang yang asing, baru pertama kali bertemu. Tetapi orang-orang Tanjungkarang, bukan pelamun yang parah. Mereka memang selalu terkesiap dengan sesuatu yang baru, tetapi tidak lama. Dengan cepat mereka menyadari bahwa mereka harus menemukan tempat yang baru lagi, yang lebih memukau. Demikian seterusnya. Dan di malam hari, mereka senantiasa mabuk dan takjub pada pijar lampu yang melulu berbinar. Di sini, cuma ada gedung-gedung yang terkurung. Sisa sejarah, di mana bangunannya beranjak dari tataran masa lalu yang datar. Sisa gundah, di mana kau akan memaku kenangan-kenangan lalu.
Dan, Tanjungkarang terus saja berbuah. Orang-orang ingin memetiknya, ingin membelahnya, seperti ketika kau dapati buah apel yang ranum di tanganmu. Kelak akan ada mata pisau yang membagi sama rata. Di Tanjungkarang, kau akan beranjak, mengikuti rutinitas yang makin koyak. Di sebuah kota, yang semestinya bisa kau tafsirkan sebagai semangat untuk perjalanan langkahmu ke depan.

Lihatlah orang-orang Tanjungkarang, yang gemar mengulum diri mereka sendiri. Perempuan-perempuan muda yang terus berjalan, mengikuti rel nasib, seperti menghidupkan tungku api, mencatat pengembaraan jauh yang makin tak bertepi. Maka kau akan mudah terhipnosis ketika melalui ruas-ruas jalannya. Sebagian orang yang begitu kau kenal, seperti dirimu di masa silam. Setiap sudut kelokan seperti menawarkan keajaiban, yang bagi sebagian orang, mampu melerai kesedihan. Sehabis ini kita akan menempuh setiap depa kota, sendirian, berusaha untuk memahami takdir yang sebagian terasa getir. Sebagaimana sinar matahari yang berkali-kali jatuh, memasuki ruas jalan. Di mana kau temui para pedagang, senyum perempuan menawarkan pakaian, para gelandangan yang menyemai harapan. Kau dapat melihat dari sinar mata mereka, yang tak bisa disembunyikan ke dalam ceruk yang jauh.

Seperti juga, ketika kau berkenalan dengan perempuan, pada saat kau sedang berjalan sendirian di kota ini. Kau mengingat, ia begitu gemar menuturkan dirinya sendiri, mengguratkan alamat, serta biografi diri yang tak mampu kau bantah. Lalu kau seperti menemukan keasingan yang datang dengan tiba-tiba, menyergap, tanpa bisa kau usir jauh-jauh. Kau melihat di tubuh perempuan yang baru saja kau kenal, tumbuh sayap. Katanya, perempuan itu ingin pergi jauh. Ke suatu tempat.
Di Tanjungkarang, kau seperti tersentak dengan berbagai rupa, warna-warni pandangan yang melebihi kilau sihir. Mendadak kau menjadi melankolis, seperti para pejalan kaki itu, yang menuju sebuah tempat, yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Di Tanjungkarang, orang-orang melipat seluruh karat. Orang-orang yang merenangi dirinya masing-masing, tak sempat berbagi. Tetapi kau selalu merasakan keriangan setiap bertemu orang-orang Tanjungkarang.

Kemudian, kau menggoyangkan badanmu, mencoba mengguncangkan tubuhmu bahwa kau sedang tidak bermimpi. Bahwa kau tengah berada di sebuah kota. Kau seakan terlecut pada sebuah kenyataan, betapa kota ini menawarkan mantra yang berupa. Kemilau sihir yang hadir dari rerapat gedung, wajah orang-orang, atau lalu-lalang kendaraan.

*

Bagimu, terkadang, sebuah kota memang menyebalkan. Kau merasa kota selalu menawarkan ruang baru, yang menelisipkan rongga, seperti kau rasakan pembuluh dirimu yang patah. Tetapi di Tanjungkarang, segalanya jadi berbeda. Ya, meskipun sekali-dua kali kau menemukan cucupan kebencian baru. Kau dapat menebak, menerka, bagaimana mata orang-orang berubah jadi pisau yang berkilat. Kau dapat merasakan dengan seluruh impuls getar saraf, jika di antara orang-orang akan menusuk tubuhmu, hingga kau berlumur darah. Tetapi kehidupan acap menawarkan dua sisi mata uang, kau tak bisa dengan segera menebak tentang seseorang, apakah dia bajingan, atau orang biasa. Kau tak bisa menerka seseorang lewat tabiatnya, apakah ia baik hati, atau jahat.

Maka kau menerima segalanya dengan hati yang lapang. Mengingat wajah orang-orang Tanjungkarang, yang pernah dikenal atau belum. Kau seperti dihadapi dengan beribu sengat perasaan, hal-hal yang gampang buat dirimu jadi periang, pemuram, perenung. Kau seperti menyematkan alamat, suatu tempat yang pernah kau ingat, tentang orang-orang itu. Ah, berapa banyak wajah yang sebenarnya kau kenal, untuk kemudian menghilang?
Kemudian, kau akan bergegas dengan cepat. Melangkahkan kaki tergesa. Bukan karena hujan akan turun, bukan karena sinar matahari teramat terik. Namun, kau ingin melampaui orang-orang Tanjungkarang, kau ingin melewati mereka. Kau ingin mengamati dengan sekilas dan cepat wajah-wajah yang melahirkan muara pertanyaan baru bagi dirimu. Sekejap, kau ingat Freud, yang sering menghubungkan pribadi seseorang dengan raut wajahnya. Meskipun kau disentakkan berbagai kenyataan yang tunas, bahwa wajah seseorang kerap menipu. Melulu kau tertipu, ketika kau mengenal seseorang yang ternyata seorang bajingan. Walaupun berkali-kali kau menyelidiki seseorang yang kau kenal, meneliti asal-usul serta riwayatnya. Tetapi kau selalu saja tertipu.

                *

Lihatlah orang-orang Tanjungkarang, yang begitu gaduh. Menempuh semua keluh. Di sini, kau akan mendapati kota yang menjentikkan berbagai harapan. Kau merasakan masa lalu dengan segera hidup, untuk kemudian tercincang kembali. Orang-orang Tanjungkarang, sebagaimana sebuah waktu akan terus berputar. Melewati jalan-jalan protokol, stasiun kereta yang demam kenangan, pusat-pusat keramaian yang menjelma jadi lingkaran.

“Jadi kita akan ke kota lagi?” tanya seseorang.

“Ya, kenapa? Apakah itu merupakan kejanggalan bagi dirimu?”

“Apa yang akan kau cari di kota?”

Pertanyaan itu mengapung, seperti pelampung. Kau seperti terjebak di tengah lautan yang penuh ombak. Mengambang di tengah pengembaraanmu. Sesekali kau ingin mencari tempat berlabuh, di mana kau bisa mendaratkan tubuh lelahmu dari pengembaraan itu. Barangkali sebuah rumah dengan kamar yang rapi, tempat tidur yang hangat, di mana kau bisa membaringkan penatmu barang sejenak. Lalu, kau membayangkan kota ini sebelumnya. Hutan-hutan yang rapat. Pohon-pohon yang besar, dengan dedaunan yang menutupi setiap jengkal. Kegelapan. Kau membayangkan bagaimana pohon-pohon itu tumbuh.

“Kita sudah tiba di kota. Ayo, turun! Sekarang kita akan berjalan,” seru seseorang.

Lalu mereka pun berjalan. Mereka, para pendatang baru di kota ini, mulai melangkahkan kaki. Seakan kepingin menetaskan kerinduan pada kota. Mengintip di tempat-tempat keramaian. Mencumbui wajah orang-orang. Tetapi mereka tersengat dalam kenyataan, bahwa mereka juga berbaur dengan orang-orang itu. Mereka harus mengakui kenyataan, jika diri mereka telah menjadi orang-orang Tanjungkarang. Kelak, mereka akan memberitahukan segalanya. Menuliskannya menjadi sebuah cerita yang akan dibaca anak-cucu. Mereka terus berjalan, sebagaimana dirimu. Terus melalui genang jalan, mengurai kegundahan yang beranak-pinak di dalam dada.

Dan lusinan kabar baru hinggap lagi. Kabar-kabar yang tak pernah ditebak sebelumnya. Seperti juga mereka lalui jalanan sepanjang Tanjungkarang, dengan penuh kehati-hatian. Seperti juga dirimu yang mencoba menempuh jalan kota ini. Sendirian, penuh kehati-hatian, memahami dirimu sendiri. Mungkin, mereka juga dirimu ingin menyusun semua belulang ingatan. Pijakan-pijakan dalam dirimu yang tertahan, merapatkan sejumlah kesangsian yang lama berlalu.

Begitulah, kau mengenang Tanjungkarang. Kau mencoba mengingat-ingat sejumlah kota lainnya. Kota yang selalu tumbuh dari pusat peradaban dunia. Kau ingat Kota Roma yang didirikan dua saudara kembar: Romus dan Romulus. Tetapi di antara keduanya malah saling membunuh. Tinggal Romus sendiri. Roma yang bermula dari kota para perampok. Apakah seperti juga Tanjungkarang? Kau tak tahu. Atau ketika kau melintasi jalan Tanjungkarang sembari mengingat salah seorang kaisar Roma, Nero, yang membakar kota jadi terang-benderang hanya untuk mencipta sebuah puisi.
Bayangan kota lainnya hadir dalam ingatanmu, tentang Jakarta yang porak-poranda jadi lautan api di bulan Mei 1998, yang mengunyah dirimu pada sebuah lagu Bandung Lautan Api. Ah, betapa segalanya layak dikenang. Lidah-lidah api yang terus menjilat, seperti mencipta gambar datar, tentang tipografi sebuah kota.

Dan kau ibaratkan Tanjungkarang seperti seorang perempuan. Yang terus saja tersenyum, untuk meredakan kebimbanganmu. Perempuan yang menculik seluruh ingatanmu pada sebuah cinta yang makin tersia-sia. Seperti juga mereka, para pendatang baru, yang menguliti sudut Tanjungkarang. Mungkin, dirimu dan mereka akan bertemu di sebuah tempat. Sembari bersama-sama memandang Tanjungkarang dari kejauhan.

*

Simaklah orang-orang Tanjungkarang, yang selalu merawat impiannya. Di setiap kelok jalan, melangkahkan kaki seperti meraba kemurungan. Semacam sedih yang diawetkan di dalam toples kaca. Dan, aku, barangkali juga kamu memandangnya dari luar. n

Bandar Lampung, Tupai 40, 2004
Poris Plawad, Edelweis, 2013


Lampung Post, Minggu, 1 September 2013


Sunday, June 10, 2012

Perempuan Bulan November

: Rina

Cerpen Alex R. Nainggolan

APA aku pernah mengenal dirimu? Bertemu denganmu di suatu tempat, di sebuah tahun yang buruk; sehingga dirimu merupa de ja vu? Ketika asap de ja vu itu berkelebatan di kelenjar otakku. Semacam menyeret ingatan. Sayangnya, aku tak pernah lengkap untuk mengingatmu.

Jadi siapa namamu? Engkau cuma menggeleng. Matamu menjelma paku. Sesekali melihat detak jam dinding. Sebentar-sebentar mencuri ke layar televisi. Sebuah berita yang menggabarkan tragedi. Ah, betapa bangsa ini terus menanggungnya. Tragedi yang melulu berulang. Nyawa yang melayang. Korban yang seperti hujan. Begitu deras. Kali ini, tentang pesawat yang menabrak cadas gunung. Dan seperti kaucium bau tabrakan itu. Ah, betapa dirimu begitu seksi.

Setelah ini kau akan pergi ke mana?

Kau hanya membisu.

Lalu dari bibirmu yang menyala itu bersiul lagu. Lagu yang juga mengingatkanku pada perempuan, yang pernah kutemui di suatu masa.

Lagu apa?

Nggak tau. Tapi enak aja dengar nadanya.

Tapi kauhapal liriknya.

Sedikit.

Perasaan banyak, deh....

Little-little.... tapi hidup enggak perlu dibawa perasaan. Enjoy aja—mengingatkanku pada sebuah iklan.

Ia berkhotbah. Suara dering telepon seluler. Senandung lagu.

Kenapa enggak diangkat?, aku bertanya.

Ia tertawa. Matanya menyipit. Mengingatkanku pada guguran daun. Rumput yang mengering. Debu pasir yang terbang. Rumah-rumah yang terbakar.

Biar saja! Lelaki kadal bunting. Lelaki bajingan.

Loh, aku juga lelaki. Tidak semua laki-laki, kataku pelan sembari mengingat lagu dangdut yang lumayan tenar dibawakan Basofi Sudirman.

Dan tiba-tiba aku kepingin sekali buat mengecup bibirmu.

Tapi aku belum mengenalmu. Belum sungguh, belum seluruh. Hanya sebuah kafe yang remang. Di luar, gerimis tiba. Jalanan menjelma jadi bayangan yang basah. Seperti rimbun air yang berkerumun. Sebentar lagi akan deras. Hanya mendung.

Terasa November menyelinap di depan.

***

DENTINGAN lagu Shoot The Piano Player masih menerawang. Ada sesak di sana. Ada candu yang lindap. Ada barisan sedih yang singgah tanpa henti. Terus berjalan. Memasuki stasiun ingatan. Kafe ini begitu lirih. Kafe yang sunyi. Dan perempuan itu duduk di sana. Tanpa ekspresi. Mungkin sedang masuk ke dalam refrain atau beat lagu. Mungkin ia sedang asyik mengunci kenangan. Matanya menyipit dan mulai berair.

Mata yang sendu. Namun hanya berair. Sepertinya air mata tak jadi menetes di pipinya. Sebab perona pipinya masih cerlang. Masih merah muda. Dan ia masih cantik. Ia meremas-remas sapu tangan putih di atas meja. Ia mengusap rambut. Ia menahan napas.

Aku di sudut yang lain. Masih di kafe itu. Suara lagu itu menyayat. Namun terasa nikmat, seperti menitipkan jeda pada sebuah hal. Hal yang tak sepenuhnya bisa kuingat dengan lengkap.

Lalu siapa namamu?, aku mengulang pertanyaan yang sama.

Seperti juga kuingat wajah pejabat negeri ini yang kerap melontarkan pernyataan yang sama. Berulang-ulang. Tanpa bobot. Tak berenergi. Tak bergairah. Dan mengapa juga segala hal bermula dari nama? Nama yang kerap menjadi awalan bagi pertemuan. Sepertinya nama adalah hal yang seksi. Nama pula yang mungkin membuat seorang Adam jatuh cinta pada Hawa.

Shoot The Piano Player masih saja bergema. Ah, apakah aku mesti menembak pemain piano semacam dalam lagu itu? Agar denting nada itu tak lagi bergetar. Supaya sunyi bisa sendiri. Dan hanya ada percakapan antara aku dan perempuan itu. Sayang aku tak membawa sepucuk pistol. Meskipun ini negeri koboi, karena di sini setiap orang bebas mengacungkan senjata api. Bila tersulut sedikit emosi, bahkan di kerumunan sekadar menciutkan nyali. Ya, mestinya kutembak saja kepala pemain piano itu. Supaya lagu berhenti. Dan aku bisa luas bercakap denganmu, mencium harum parfummu, atau menatap lekat dengan dekat bening matamu. Mata yang saat bercakap begitu penuh gairah.

Tunggu!, temani aku sebentar, radangmu pelan.

Aku baru saja ingin beranjak. Sebab kau tak pernah menyebutkan namamu. Bahkan di pertanyaan yang kedua.

Mengapa cinta terasa cuma sekadar gema? tanyamu memantul. Mengingatkanku pada bola bekel.

Lalu aku kelimpungan. Mencari lagi makna cinta di bibir gelas kaca yang masih tersisa bekas lipstikmu di gigirnya. Aku belingsatan, mencari cinta di kerlip lelampuan kafe. Juga asap rokok yang merawang. Ah, mengapa cinta mendadak cuma gema? Cuma lintasan peristiwa yang singgah saat pertama kali kenal. Saat dua mata bertemu dan berkemah di dalamnya.

Telepon selulernya berdering lagi.

Serius tak mau kamu angkat?

Biarin aja. Paling-paling cuma lelaki iseng. Seperti kamu.

Seperti aku?

Iya, kamu?

Buat apa kamu tiba-tiba mendekat? Bukankah kita tak pernah kenal sebelumnya? Cinta yang cuma sekadar gema.

Tapi aku tertarik padamu.

Hanya gombal yang silau. Mulanya begitu, seterusnya apa?

Aku ingin menikahimu.

Hanya baru sekali kenal, tiba-tiba kau ingin mengajakku menikah. Lelaki edan!

Biar. Aku ingin engkau menjadi ibu bagi anak-anakku-kataku sembari mengingat baris puisi Rendra.

Boleh kusimpan nomor selulermu?

Percuma.

Kok, percuma?

Ya, kaudengar sendiri yang barusan saja ada dering. Tapi tak pernah kuangkat. Buat apa? Kau hanya akan menghubungi angin. Yang kau dapati kelak cuma sebekas kekosongan.

Baiklah, kalau begitu alamat rumahmu? Mungkin apartemenmu?

Tidak perlu.

Kalau begitu namamu?

Ah. Ini sudah pertanyaan ketiga tentang nama.

Rina. Sudah, cukup?

Dan lagu itu masih saja mengalun. Namun kali ini terasa lembut. Shoot The Piano Player.

***

CINTA cuma sekadar gema. Gema yang memanjang. Seperti hujan yang turun. Seperti relung jauh yang mendadak samar-samar. Tak pernah bisa dengan lengkap diterka. Apakah betul itu dirimu?  Saat November luruh, lalu hujan jatuh satu-satu di setiap harinya?

Mungkin pula akan kutambatkan semacam kait buatmu. Meskipun aku tak memunyai nomor telepon atau alamatmu. Hanya hati kecil yang bisa menjawabnya. Hati kecilku yang meyakini jika dirimu bakal menjadi ibu bagi anak-anakku.

Terasa betapa November bakal jadi panjang. Semacam sebuah prosa yang tak pernah selesai untuk ditulis. Aku yakin bakal bertemu denganmu lagi. Di suatu tempat dan kita akan bercakap akrab. Sebab, seperti ucapmu: cinta cuma sekadar gema.

**

Mestinya aku mengantarkanmu pulang malam itu. Ke apartemenmu. Malam yang larut dan seperti bangkrut. Malam yang gelap membayang. Mungkin sebentar lagi hujan. Bukankah aku telah mengetahui namamu? Tapi engkau seperti tegar. Engkau seperti tak mau berhubungan lebih lanjut.

Sudah tidak perlu, ucapmu. Jika kau perlu, kau akan menemuiku lagi di kafe ini, sambungmu.

Dan kau bergegas pergi. Meskipun remang kafe ini belum tutup. Meskipun lagu yang kaugemari belum benar-benar selesai. Meskipun pula, di luar gerimis masih turun sedikit-sedikit. Namun kau memilih pulang. Langkahmu menjauh. Lagu itu masih saja berputar. Aku merebut hamparan nada-nadanya. Aku terlelap di untaiannya. Aku terkesima.

***

APAKAH aku pernah mengenal dirimu? Bertemu denganmu di suatu tempat, di sebuah tahun yang buruk; sehingga dirimu merupa de ja vu? Ketika asap de ja vu itu berkelebatan di kelenjar otakku. Tapi sebenarnya siapa namamu? Seketika aku mengingat bulan  di kalender. Mungkin engkau adalah perempuan yang selama ini kucari. Mataku  kembali tertumbuk pada kalender. Ahai, sudah November...


Lampung Post, Minggu, 10 Juni 2012

Sunday, November 21, 2010

Tarian dalam Dirimu

Cerpen Alex R. Nainggolan


SELALU ada yang menari dalam dirimu. Yang tak bisa kutanggalkan setiap kali bertemu.

"Jadi kau akan terus menari, sampai kapan?"

"Sampai mimpi tak lagi terbagi."

"Tapi tubuhmu bau selokan, begitu miskin, dan amis."

"Biarlah, toh, bukan diriku yang terlihat di sini. Melainkan tarianku."

"Ya, tarianmu bagus. Serupa gentar yang tak kelihatan. Seperti menusuki bekas cuaca, kini aku seperti menemukan bagian diriku yang hilang. Barangkali telah sekian waktu tak terbaca."

Orang-orang berkerumun ke arahmu. Merapikan diri mereka. Mereka mendekat. Seakan meneliti dirimu dengan seksama. Barangkali, agak heran, sebab di daerah ini jarang ada seorang perempuan yang memperlihatkan tarian ke khalayak. Namun kau seakan tak peduli, kau tetap saja terus menari, seakan terus membagi bagian sunyimu. Cuaca seakan membaca seluruhnya. Segalanya diam, keheningan yang menelusup ke setiap pori.

"Kau tak letih menari?" tanyaku ketika melihat tubuhmu telah dipenuhi peluh, "Orang-orang di sini mengharamkan seorang perempuan untuk menari."

"Kenapa?"

"Entahlah, barangkali pantangan tidak baik. Terlebih lagi, acapkali kau perlihatkan lekuk tubuhmu."

"Biar!" kau tak peduli. Tepatnya kau telah menikmati ekstase dirimu sendiri, kau terus menari. Setiap waktu, dengan atau tanpa iringan musik. "Aku takut," kataku, "Kenapa?"

"Aku takut kehilangan dirimu, tidakkah kau mendengar bisik-bisik orang-orang itu? Yang bercakap-cakap selama kau menari?"

"Apa? Ceritakan dong!" Kau terus saja menari, seakan waktu bagimu telah lama berhenti, diam di antara gerakan tubuhmu yang dengan sekejap memanjang, dan memendek. Kau terus saja bergerak, peluhmu bercucuran, begitu banyak, pakaian yang kau kenakan basah. Hampir seluruh lekuk tubuhmu terlihat.

"Syahdan, ada seorang perempuan datang ke daerah ini. Ia mempunyai bakat menari, sama seperti dirimu. Hampir setiap saat ia menari, hingga suatu saat...orang-orang membakarnya. Ia ditangkap di sebuah malam yang hitam. Tubuhnya terbakar di atas api, tangannya terikat, dan ia lantak menjadi abu. Sejak itu pula tak ada seorang pun yang berani menari di daerah ini. Orang-orang tak ada yang berani menggoyangkan anggota tubuh mereka, bahkan ketika alunan musik terdengar."

"Kok, ceritanya cuma sebentar?"

"Menurut juru cerita, orang-orang membakarnya karena tarian yang disuguhkan telah menjelma jadi wabah yang dianggap membahayakan. Ia mesti berhenti menari. Sebelum segalanya tambah parah. Maka ia dianggap aib. Ia mesti dimusnahkan dengan segera."

"Ia punya anak?"

"Entahlah, katanya dulu ia memunyai seorang kekasih. Lelaki yang mengagumi tarian yang disuguhkannya."

"Ia punya anak?" tanyamu datang lagi.

"Kabarnya, kaulah anaknya."

"Tapi, orang tua yang aku ketahui cuma seorang lelaki yang menetap di ujung daerah ini."

"Apa pernah kau tanyakan dirimu dengan sesungguhnya padanya?"

"Kau bohong!" lalu kau pergi meninggalkanku. Meski saat meninggalkan diriku, aku masih melihat tarian dari beberapa anggota tubuhmu. Tarian yang dipenuhi elegi.

***

Di hari berikutnya, aku melihatmu menari kembali. Kali ini, jauh lebih hebat. Kau berdiri di sebuah papan yang agak tinggi, dengan diiringi alunan musik. Orang-orang datang berkerumun. Peluhmu terus bercucuran, tapi dengan demikian justru terlihat bahwa kau istimewa. Semua mata melekat kepada dirimu. Tak ada ekor mata yang seperti lepas dari dirimu. Setiap orang menahan napasnya, dengan degup jantung yang seperti ditahan. Ah, betapa kau begitu sempurna saat itu. Dirimu tampak sebagai perempuan dewasa. Terkadang tinggi, sesekali rendah. Suatu hal yang mengingatkanku pada ombak di pantai yang terus datang bertubi-tubi.

Orang-orang masih saja berkerumun, tapi aku menyaksikan dirimu di kejauhan. Melihat dirimu yang tampak seperti siluet yang membentangkan hiburan baru. Ya, betapa orang-orang di daerah ini haus hiburan. Diam-diam, aku menyukai dirimu. Diam-diam, aku mengagumi setiap lekuk yang kau tawarkan, seperti seteguk air yang disuguhkan saat aku sedang kehausan. Betapa setiap gerakanmu telah menjelma menjadi suatu yang patut dikenang. Lekuk pinggul, payudara, dan bundar wajahmu telah menyihirku. Aku terpukau, kesiap yang melecut dengan seketika. Bayangan dirimu terus saja berkelebat. Yang memaksaku malas untuk menutup mata barang sebentar.

"Kau hebat ketika menari," aku menghampirimu.

"Selalu pujian yang kau berikan. Aku muak!" katamu.

"Tapi ini sungguh-sungguh. Dari sana aku menyaksikan keteguhanmu."

"Lalu, kau akan bermaksud melarangku? Kau akan menceritakan lagi kisah itu, bahwa aku memunyai seorang Ibu yang juga menari. Bila ibuku mati dibakar, begitu?"

"Kau tak percaya?"

"Buktinya, orang-orang memujaku. Lihatlah, bagaimana mereka puas dengan suguhanku. Seorang lelaki tadi menghampiriku, ia menawarkan kartu nama. Katanya pencari bakat dari sebuah production house. Katanya, tarianku dapat dipromosikan lebih besar lagi. Bisa menyaingi goyangan Inul Daratista."

"Siapa namanya?"

"Marta."

"Jadi, kau akan menerima tawaran dari dirinya?"

"Mengapa tidak? Kesempatan tak akan datang dua kali."

Tiba-tiba kembali ada yang berdesir, berenang menjauhi dadaku. Aku melihat pijar di kedua bola matamu. Dan, aku berfirasat bila kau akan pergi, jauh, meninggalkan diriku. Aku membayangkan akan ditinggalkan dirimu. Padahal, aku belum sempat mengutarakan bila aku menyukai dirimu, tepatnya telah jatuh cinta pada dirimu.

***

Sampai di hari-hari berikutnya, kau benar-benar telah menghilang dari daerah ini. Tinggal aku sendiri, mengingat-ingat tarian yang acapkali kau utarakan. Bagaimana seluruh lekuk tubuhmu seakan berbicara padaku. Suatu bahasa yang sekejap dilahirkan dengan tiba-tiba.

Aku merasa kehilangan dirimu. Seketika pula, aku kembali terkenang pada kisah di mana seorang penari yang juga Ibumu mati dibakar orang.

Tapi nyatanya, kemarin malam, aku melihat dirimu menari di televisi. Ya, dirimu! Dengan peluh yang berkucur banyak di wajahmu.

Jakarta Barat, 2004-07-17

-----
Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Unila. Tulisan berupa cerpen, puisi, dan esai dimuat di berbagai media.


Lampung Post
, Minggu, 21 November 2010