Showing posts with label Benny Arnas. Show all posts
Showing posts with label Benny Arnas. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Suatu Waktu Kau Akan Menjelma Buku Tua di Perpustakaan yang Kuambil Sebab Hasrat untuk Mencium Aroma Kertas Tua yang Menguning dan Bebercak di Tiap Halamannya Sungguh Tak Kuasa Kukendalikan dan Kau Tidak Harus Bertanya Macam-macam Tentang Itu.

Cerpen Benny Arnas

                                                                                                                        —buat Ahmad Fajri Nida

KECINTAAN pada buku memang yang mempertemukan kita, tapi ketentuan-Nyalah yang menyeretmu bermukim dalam ingatan yang gagal mengenali malam.

Lewat pelatihan pendampingan Perpustakaan Desa (Perpusdes) selama sepekan di Bali, Oktober 2014, semesta membuat kita bersinggungan dalam adegan filmis di layar monokrom dan suara yang berisik. Kita bersisapa untuk pertama kalinya dalam acara prapembukaan dan dengan lancang kutanyakan apakah kau berdarah Aceh, sebab kau mengingatkanku pada sahabatku yang hilang disapu tsunami ketika ia pulang ke Pidie pada 2003.

Aku meyakini, peristiwa itu adalah peletakan batu pertama pembangunan kedekatan kita yang absurd. Dari ciri-ciri fisik dan bahasa tubuh, tak sedikit pun kau mirip dengan sahabatku yang hilang itu. Namun, naluriku mengatakan—tentu saja seraya berharap dengan bodohnya—bahwa kau adalah dia yang Tuhan hidupkan kembali dalam wujud yang lain; seorang laki-laki dua puluh enam tahun pemilik tongsis (tongkat ponsel berkamera penyokong berfoto selfie dari jarak jauh) yang menggelengkan kepala dan menjawab “tidak” tanpa intonasi ketertarikan untuk menghangatkan percakapan.

Saban menyadari hal itu, aku selalu merutuki kebodohanku sekaligus mengutuk semesta yang tanpa tedeng aling-aling mengaitkanmu dengan dia yang selama ini hanya kuingat ketika berita tentang tsunami sesekali muncul di televisi. Ah, apa yang bisa diperbuat seorang manusia yang tidak akan hadir di dunia tanpa kehendak-Nya sepertiku ini?

Keesokan harinya, para peserta sudah terbagi dalam tiga kelompok. Kami berada di kelas yang sama dan sedikit pun aku tidak menganggapmu istimewa. Kupikir, kau hanya seseorang dari entah yang Tuhan kirimkan untuk membuatku merutuk beberapa kejap bahwa reinkarnasi itu tidak pernah ada! Lagi pula, selama pelatihan di kelas, aku tak pernah merasakan kebosanan sebab para instruktur begitu lihai berbagi ilmu, tidak pelit memberikan apresiasi pada peserta, dan tentu saja sejumlah permainan yang dikeluarkan di waktu-waktu yang mustajab. Bila pun harus kusebutkan celah yang tidak penting adalah; sebagai seorang narsis, aku sedikit kecewa sebab kau tidak membawa tongsis-mu ke dalam kelas.

*

PADA suatu malam (aku lupa malam keberapa), aku menyelesaikan sebuah esai tentang perpustakaan dan membaginya di grup Facebook yang beranggotakan para pendamping Perpusdes seperti kita. Tulisan itu beroleh respons positif, baik dari para instruktur maupun para peserta. Dan kau adalah salah satunya. Sebagai pengarang yang sudah menerbitkan enam buku, aku sudah terbiasa dengan pujian (juga kritikan, sebenarnya). Tapi entah bagaimana, keinginanmu untuk belajar menulis yang kauungkapkan ketika mengunjungi kamar hotelku pada sebuah pagi, membuat tumpukan batu bata kedekatan itu perlahan-lahan tumbuh, meninggi, dan mendindingi kita dengan sejumlah tanda tanya.

Pada malam kelima, usai memenuhi tawaranmu dan dua teman sepelatihan yang lain untuk berenang di lantai paling atas hotel bakda magrib itu, rencana makan malam bersama di sebuah kedai di pinggir jalan merusak mood-ku. Aku tidak bisa makan bersamamu dan teman-teman karena aku tidak bi(a)sa makan ayam kalau bukan ayam kampung. Aku pun meninggalkan kalian begitu saja. Ah, saban mengingat itu aku merasa sangat bersalah. Alasan bahwa perutku mulai berulah sebab mag yang kambuh sangat tidak sepadan dengan ketaksopananku. Aku akhirnya makan ke kedai yang lain dengan “menyeret” salah seorang teman yang sedang ada di lobi hotel untuk menemaniku. Sekembalinya di hotel, aku berniat menyelesaikan sejumlah deadline yang sedang kugarap, tapi perasaan bersalah sungguh menggangguku. Aku mencoba mengalihkannya dengan menonton teelvisi sebelum akhirnya mengetik pesan pendek ke nomor ponselmu. Entah bagaimana, sepertinya aku butuh teman ngobrol untuk mengembalikan mood-ku. Sementara teman sekamarku sedari tadi membiarkan acara favoritnya Arjuna Mencari Cinta menyaksikannya terlelap.

Sayang sekali, ternyata, usai makan malam, kau dan teman-temanmu mampir di pusat perbelanjaan. Kau juga meminta maaf karena telah membuatku tidak bisa bergabung makan malam bersama. Ah, aku yang “bertingkah”, kenapa kau yang meminta maaf? Aku tersenyum miring membaca pesan pendekmu. Aku mengutuk diriku yang terlalu gengsi untuk meminta maaf hingga akhirnya kaudahului. Memang, itu bukan perkara serius atau hal yang bisa merenggangkan hubungan antarteman-sepelatihan, tapi mood yang tidak baik selalu mampu melemparku pada keadaan yang sejatinya tidak kusukai: menjadi melankolik!

Dan keesokan harinya, usai mengikuti acara penutupan di Nusa Dua, kita bersepakat untuk menaklukkan malam di lobi hotel dengan sejumlah cerita yang kelabakan mencari benang merah. Kutumpahkan kegelisahanku yang absurd: bahwa aku tak mengerti bagaimana kau bisa kukait-pautkan dengan sahabatku yang hilang dan sebagainya dan sebagainya. Tanpa rasa bersalah kuungkapkan bahwa aku membenci setiap hal yang gagal dijelaskan dengan alasan dan logika. Padahal, sebagai seorang pengarang, aku harusnya mengimani ungkapan “Realita boleh masuk akal, tapi fiksi harus masuk akal”.

Aku baru sadar bahwa memercayai sebuah parafrasa menjadi begitu menjengkelkan ketika harus dibenturkan pada kenyataan yang menimpa diri sendiri. Ya, aku gagal menemukan alasan mengapa perasaan bahwa kau adalah teman baik yang mumpuni kujadikan saudara merimbuni kepala dan meriap-riap di dalam dada. Aku gagal berdamai dengan sifat kenyataan yang paling hakiki—menisbikan sejumlah alasan karena kadangkala Tuhan dan semesta-Nya tidak ingin membiarkan manusia berbangga dengan nalarnya.

Malam itu, kau lebih banyak mendengarkan (sebuah kecakapan yang tidak terlalu kukuasai). Seolah hendak menyeimbangi keabsurdanku, kau katakan bahwa kau juga merasakan hal yang tak terjelaskan itu dan aku nyaris tersenyum lebar sebelum kau mengimbuhinya dengan alasan bahwa kau ingin belajar menulis. Oh, ternyata aku tetap berada pada pihak yang ‘kalah’ dan aku benar-benar membenci keterpurukanku. Aku seperti memaksa orang lain untuk kujadikan saudara dengan cara merangkulnya kuat-kuat sehingga ia tidak berkelit. Yang membuatku makin kalah adalah kau tak menolak dan tidak juga menampakkan bahwa kau (benar-benar) bersedia … meskipun, ya meskipun, sebagai seseorang yang menjunjung gengsi dan kemenangan, aku menginginkan lebih dari sekadar bersedia. Aku ingin mendengar bahwa kau juga merasakan keabsurdan serupa tanpa diimbuhi alasan ingin belajar mengarang!

Meskipun demikian, sebagaimana orang yang kalah, aku akhirnya tetap bercerita panjang-lebar tentang kepengarangan dan kau tampak sangat antusias menyimaknya. Bila tidak meyakini bahwa kau bukan seseorang yang Tuhan kirimkan tiba-tiba, aku tidak akan membagi rumusan mengarangku kepadamu. Dengan berseloroh kukatakan bahwa kau sejatinya sangat beruntung karena mendapatkan semuanya dengan cara privat dan tanpa mengeluarkan sepeser rupiah pun—lalu kita memecah malam dengan tertawa yang sumbang.

Pukul tiga dini hari, kita kembali ke kamar masing-masing. Kita hanya punya waktu kurang dari empat jam untuk merehatkan tubuh karena usai sarapan esok kita mesti berangkat ke Ubud untuk mengikuti rangkaian cara terakhir.

*

DI Ubud, ternyata semua peserta lebih banyak bermain dan bersenang-senang dalam outbound ringan yang sudah disiapkan instruktur. Tidak seperti di kelas dalam hotel, outbound kali ini melempar kau dan aku ke grup yang berbeda. Karena lebih banyak berada di lapangan, kau dengan tongsis-mu pun menjelma gula pasir dan kami menjadi kerumunan semut. Di mana ada tongsis, di sana orang-orang serentak merapatkan diri. Kupikir, kita bisa berfoto dengan tongsis berdua saja agar paling tidak bisa kujadikan bukti yang tidak penting bahwa aku benar-benar menemukan sahabat baru …. Dan kita tidak pernah melakukannya!

Dan … sunatullah pun berlaku. Setiap pertemuan meniscayakan perpisahan. Kupikir Tuhan terlalu cepat menunjukkkan kuasa-Nya. Bukan perkara aku masih belum mampu menemukan alasan atas kedekatan ini, tapi karena, ibarat bunga, keabsurdan ini baru saja menguncup dan tiba-tiba ia dipetik sebelum sempat mekar dan menyebarkan wangi ke sekujur jiwa. Uh!

*

SETIBA di Lubuklinggau, aku sudah dihadang setumpuk pekerjaan dan deadline yang gagal kurampungkan di Bali. Namun, ternyata hal itu tidak mampu mengusir keganjilan yang menghinggapiku sejak dari Bali. Memang kita bisa tetap berkomunikasi meskipun kau suka sekali membaca Blackberry Messenger (BBM)-ku tanpa tergerak membalasnya, meskipun kau belum pernah meneleponku sebagaimana aku melakukannya padamu …. Sepertinya, aku baru saja dihadapkan pada kenyataan yang tidak fiksi sedikit pun, bahwa kau sejatinya jauh lebih sibuk dariku.

Sebagai seseorang yang biasa bergaul dengan imajinasi dan dramatisasi, dengan semena-menanya kusimpulkan bahwa aku hanyalah seseorang yang merasa memiliki seorang sahabat—apalagi seorang saudara! Aku hanya merasa. Sejatinya kau adalah seorang laki-laki baik hati yang ingin belajar menulis dariku. Itu saja.

Dan malam ini, ketika akhirnya kutulis semua kegelisahan yang menyesakkan tanpa jeda, aku pikir, sudah seharusnya aku menjadi lebih bijak. Aku maknai kehadiranmu yang tiba-tiba sebagai hadiah dari Tuhan atas hal-hal baik yang kulakukan di dunia. Dan sebagaimana kebaikan, kupikir, tidak seharusnya perasaan memiliki sahabat atau saudara, mesti juga kau balas. Aku belajar dua hal indah yang tidak mudah kuterima: bahwa menemukan kebaikan adalah juga mendapati cinta yang berkilau di tempat yang jauh; bahwa kehadiran orang baik adalah buku tua di perpustakaan, yang kuambil tanpa memerlukan alasan, alibi, dan penjelasan yang rigid, selain aku hanya ingin menikmati aroma kertas menguning yang bebercak di tiap halamannya. n
       
Denpasar-Lubuklinggau, 2014


Lampung Post, Minggu, 21 Desember 2014

Sunday, October 13, 2013

Kami Tusuk Mata Kami

Cerpen Benny Arnas


ANAK pertama kami lahir. Jenis kelaminnya perempuan. Saya dan istri senang sekali. Kami menamainya Dinda Sahasika. Sebenarnya kami ingin menamainya Sahasika saja. Memang kami tidak terlalu paham artinya. Kami lebih menyukai bunyi ketika nama itu disebut. Terdengar unik. Namun, karena ibu saya yang begitu bahagia dikaruniai cucu perempuan meminta pendapatnya didengarkan, kami pun menambahkan “Dinda” sebagai nama depannya.

Perihal nama, bagi kami masih dapat dikompromikan selama itu masih enak didengar. Lagi pula, bagi kami, arti sebuah nama tak banyak berpengaruh terhadap sifat dan masa depan seseorang. Lihatlah, begitu banyak orang yang memiliki nama dengan arti yang luar biasa bagusnya, tetapi berperangai kurang ajar dan hidup tak berjuntrungan. Ah, sudahlah, kami tak mau membincangkan ini lebih jauh. Kami takut malah menyinggung perasaan orang lain.

O ya, setelah kami pikir-pikir, nama anak kami yang sekarang juga terdengar indah.

Ah, hal ini tidak lepas dari rona kebahagiaan yang kami tangkap dari wajah perempuan yang melahirkan saya itu (ya, istri saya adalah seorang yatim piatu). Walau Dinda Sahasika bukan cucu pertamanya, sejauh ini Dinda adalah cucu perempuan satu-satunya. Cucu pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki lahir dari rahim adik ipar saya (adik saya lebih dahulu menikah daripada saya). Fakta lain yang mendukung adalah saya dan tiga saudara kandung saya semuanya laki-laki.

Dengan kenyataan itu, kami memaklumi kebahagiaan Ibu yang meletup-letup. Tentu kami tidak mau mencederai perasaannya hanya karena usulan namanya kami tolak. Ibu bahkan sempat melompat kegirangan beberapa detik setelah memastikan bahwa istri saya melahirkan bayi perempuan. Dua perawat yang membantu proses melahirkan pun tampak sedikit terkejut dengan kegirangan Ibu. Mereka sempat berpandangan sesaat sebelum sigap membereskan jahitan di selangkangan istri saya.

*

ORANG-ORANG menyebut kami sangat beruntung. Bukan hanya karena kami memiliki buah hati, tapi juga karena istri saya melahirkan pada tanggal 14 Februari. Melahirkan di Hari Valentine sungguh diimpikan banyak pasangan, begitulah kurang lebih inti ungkapan mereka yang dilontarkan dengan nada penuh ketakjuban.

Kami hanya tersenyum. Jujur saja, kami tidak peduli tanggal berapa dan bertepatan dengan hari atau perayaan apa bayi kami dilahirkan. Bagi kami setiap hari adalah hari kasih sayang. Bayi kami lahir dalam keadaan sehat, anggota badannya lengkap, dan tinggi serta berat badannya normal, bagi kami sudah lebih dari cukup. 

Ternyata, memiliki bayi mungil itu memang meruahkan kegembiraan. Sepanjang hari kami bermain-main dengan Dinda (begitu akhirnya anak kami dipanggil) dengan penuh keceriaan seolah-olah ia adalah muara semua kebahagiaan kami. Saking asyiknya bermain, kami sering lupa waktu. Kami sering tak menyadari kalau matahari sudah lari, kalau malam sudah tinggi, kalau subuh sudah kembali. Kami berdoa siang dan malam, memohon agar Dinda selalu diberi kesehatan dan kebaikan.

Kalau dipikir-pikir, memiliki anak telah membuat kami seperti orang gila. Ya, seperti, bukan sebenar gila. Kami berbicara kepada Dinda seolah ia sudah mengerti arti semua kata-kata. Kami menganggap semua gerakan badan Dinda sebagai reaksi atas yang kami ucapkan, padahal kami sadar benar kalau bayi belum tahu apa-apa. Dan bagian ini yang kami pikir sangat lucu: ketika Dinda tertidur, kami selalu menggodanya agar kami dapat segera mencumbuinya. Namun, kalau ia terjaga sepanjang hari, kami tak henti meninabobokkannya agar kami dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang lain.

Ah, ternyata kehadiran buah hati bukan hanya menggelombangkan membahagiakan, namun juga melimbungkan pendirian. Kami kerap tertawa menyadari kekonyolan ini. Benar! Dinda benar-benar mampu membuat kami melupakan kedewasaan yang seharusnya sudah melekat pada usia kami. Kami seolah sama dengannya. Ia seolah sama dengan kami. Kami larut dalam dunia yang baru. Dunia baru yang menyenangkan. Dunia baru yang tidak menguar aroma keasingan. Dunia baru yang cepat dikaribi. Dunia baru yang penuh candu. Dunia baru yang benar-benar di luar dugaan. Ya, kami memang sering mendengar bahwa memiliki anak seolah menggenapkan kebahagiaan dalam kehidupan. Kami percaya itu. Namun kami tak pernah menyangka kalau kebahagiaan itu akan menjadi sebegininya. Terlalu sukar digambarkan. Terlalu manis dibayangkan, tetapi sangat sayang bila raib dari ingatan.

*

KALAU Dinda menangis, istri saya akan langsung meraihnya. Hebatnya, istri saya seolah tidak pernah merasa kelelahan walaupun lebih setengah hari Dinda berada dalam buaian tangannya. Saya baru akan membuainya kalau perasaan bersalah membiarkan istri saya seharian bersama Dinda, mengerubungi saya. Ah, saya benar-benar suami yang tidak sensitif, rupanya.

Sekali-kali, kami juga membaringkan Dinda di dalam buaian yang kami buat di dekat dapur. Kami mengayun buaian itu dengan ketukan dan kecepatan tertentu. Kadang agak cepat, kadang sangat pelan. Kami tak pernah mengayunnya dengan cepat atau sangat cepat karena kami tahu Dinda pasti merasa tak nyaman. Kami selalu bahagia kalau mendapatinya tidur dengan lelap. Wajah bayi memang berlumur ketenangan. Kami benar-benar percaya, kalau bayi terlahir tanpa dosa. Termasuk bayi kami, tentunya.

Makin hari, kami makin menyayangi Dinda. Namun kami juga harus menerima keadaan bahwa sejatinya kami tidak bisa menemani Dinda sepanjang hari. Istri saya adalah seorang guru. Sementara saya adalah seolah pengarang. Ketika masa cuti melahirkan istri saya sudah habis, mau tidak mau ia harus kembali pada rutinitas di sebuah SMP di pedalaman kabupaten. Saya pun tak kalah sibuknya. Ya, saya benar-benar tidak mengerti bagaimana saya bisa serta-merta menerima tawaran seorang editor sebuah penerbitan untuk menulis sebuah novel dalam waktu kurang dari satu bulan. Apakah ini yang disebut berkah lahirnya seorang anak? Mungkin saja. Dan saya pikir, patutlah saya mensyukurinya. Namun begitu, tak dapat dinafikan, sebagaimana istri saya, waktu saya untuk mencumbui sang anak pun makin berkurang.

Awalnya ibu saya sering datang ke rumah sehingga kami merasa Dinda tidak akan terlalu merasa kesepian kalau kami tinggalkan. Namun, Ibu pun tidak bisa selama-lamanya begitu. Selain karena ia masih memiliki suami dan dua adik saya yang harus diurus, rumahnya pun tak bisa dibilang dekat dari rumah kami. Apalagi Ibu tidak memiliki pembantu untuk mengurusi rumahnya. Kami pun maklum kalau Ibu tidak bisa selalu menggantikan peran kami.

Maka, kami membayar seorang pengasuh bayi. Karena banyaknya pekerjaan rumah yang terbengkalai, kami meminta pengasuh bayi kami mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Tentu saja, bayarannya kami tambah. Memang, hal itu membuat ia tidak mampu sepenuhnya mengurus Dinda sehingga anak kami lebih banyak berada dalam buaian. Saya sering mendapati Dinda terlelap di sana. Kasihan juga sebenarnya, tapi apa hendak dikata, kesibukan yang kami jabani, bukan hanya untuk kami. Semua untuk Dinda. Untuk memenuhi semua kebutuhannya kelak.

Kami memang tengah mempersiapkan dana yang cukup besar agar Dinda dapat bermain di taman kanak-kanak yang berkelas dan belajar di sekolah yang berkualitas. Ah, senangnya apabila semua itu terwujud nantinya.

Anakku, anak kami, tidurlah nyenyak di buaian, ya. Kami akan selalu mendoakan dan membesarkanmu dengan cinta. Setumpuk pekerjaan dan kesibukan takkan mampu mengurangi perhatian dan kasih sayang kami. Percayalah, Dinda, walaupun orang tuamu jarang lagi mengajakmu bermain, hati dan cinta kami takkan pernah beralih darimu. Termasuk ketika pengasuh bayi mengabarkan kalau kau terjatuh dari buaian pagi tadi. Saat itu, ayahmu ini sedang berada di perpustakaan, mencari data demi sebuah novel yang tenggatnya tinggal menghitung hari. 

Cepat bawa Dinda ke dokter, nanti saya telepon Ibu untuk nyusul ke sana! Seru saya kepada pengasuh bayi itu di ujung telepon. Istri saya yang sedang rapat kurikulum di sekolah juga sepakat begitu. Tak lama kami sudah beroleh kabar kalau Ibu sudah berada di tempat praktik dokter langganan kami. Alhamdulillah. Saya dan istri lega sekali. Saya dapat merampungkan dua bab terakhir novel saya dan istri saya dapat mengikuti rapat dengan tenang.

Ah, Tuhan memang menyayangi kami, kedua orang tua yang tak kenal waktu untuk menghidupi anaknya. Ya, kami tak ingin Dinda tidak bisa minum susu hanya karena kami tak mampu membelinya (walaupun harga BBM batal naik, tapi sepertinya itu hanya untuk sementara—Ah, itu alasan yang tidak penting). Yang paling nyata adalah Tuhan selalu menyayangi orang tua yang begitu peduli pada masa depan anaknya, orang tua yang begitu menyayangi anaknya Ya, tentu Tuhan memaklumi kesibukan kami yang bejibun. Kami melakukan semua ini demi anak kami. Tentu bila tumbuh sehat dan cerdas, Dinda akan menjadi bagian dari generasi penerus yang tidak hanya membanggakan kami, tapi juga bangsa dan negara. Syukur-syukur ia bisa jadi negarawan perempuan yang disegani dan dihormati.
Ya, kami sungguh tidak mengerti, sebagai orang tua yang seharusnya bijak, Ibu justru lebih banyak menyalahkan kami perihal jatuhnya Dinda dari buaian. Kami bekerja, Bu, dalih saya. Kami mohon maaf kalau Ibu merasa direpotkan, timpal istri saya sembari menimang Dinda yang diantar Ibu lepas magrib tadi. Ibu justru mencak-mencak. Ia mengatakan kalau kami tidak bisa memilah mana yang lebih penting.

Jujur, saya tersinggung. Sebenarnya saya berharap Ibu dapat membantu kami sebagaimana ia dahulu dengan telaten mengasuh anak adik ipar saya. Saya merasa Ibu belum cukup tua untuk memberikan perhatian yang serupa. Saya merasa sudah pilih kasih. Saya pun meluapkan unek-unek saya. Saya membandingkan perlakuan yang Ibu berikan kepada anak kami dan anak adik ipar saya. Ibu menganggap saya terlalu perasa dan berlebihan. Tapi saya pikir justru Ibu yang keliru. Saya benar-benar kecewa kepada Ibu. Saya marah besar.

Saya sadar kalau saya sudah termakan amarah. Beberapa kali istri saya mencoba menenangkan dan meminta saya mengontrol diri, tapi saya tidak memedulikannya. Saya pikir saya harus menunjukkan wibawa saya sebagai seorang anak tua, apalagi saya sudah memiliki keluarga sendiri. Istri saya pun tak dapat berbuat banyak. Saya bahkan membentaknya ketika ia hendak merangkul Ibu yang meneteskan air mata. Kini, ia berdiri tidak jauh dari saya sambil menahan tangis.

Malam itu, Ibu pergi tanpa sepatah kata. Saya menyesal, sebenarnya. Tapi saya pikir, apa yang saya lakukan sudah benar. Istri saya lebih banyak diam malam itu. Ia membuatkan kopi jagung kesukaan saya selepas kami salat isya berjamaah. Sungguh, saya tidak suka keadaan seperti ini. Saya merasa istri saya sebenarnya tidak menyukai apa yang baru saja saya lakukan kepada Ibu, tapi dia tidak berani mengutarakannya.

Tiba-tiba, pengasuh bayi kami berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur. Badan Dinda panas sekali. Saya tak ingat lagi kata-kata selanjutnya. Kami bergegas menuju dapur. Tak lama, istri saya meraung. Saya gegas menuju garasi sembari melarang pengasuh bayi menelepon Ibu. Kami harus mandiri, pikir saya. Kami segera ke rumah sakit. Saya menyetir dengan tangan yang menggigil. Syukurlah kami sampai di tujuan dengan selamat.

Kami yakin Tuhan sebenarnya sangat sayang kepada kami hingga Ia menurunkan cabaran ini. Kami sangat sayang anak kami. Ia pasti tahu itu! Kami sudah berusaha mempersiapkan semuanya untuk Dinda, terutama persiapan materi yang sangat dibutuhkan di zaman sekarang kami. Ya, kami yakin Tuhan akan menyembuhkan anak kami, sebagaimana Ia sangat menyayangi para orang tua yang begitu menyanyangi buah hatinya.
Seperti kami, termasuk kami, tentu saja. n

Lubuklinggau, 2012—2013


Lampung Post, Minggu, 13 Oktober 2013

Sunday, August 18, 2013

Fitnah Kayla

Cerpen Benny Arnas


KECUALI Lubis Sulaiman, Kayla tak tahu banyak tentang keempat calon wali kota Lubuklinggau yang lain. Justru karena keterbatasan pengetahuannya pula, ia akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kalinya. Dan yang akan dicoblosnya bukan kertas suara bergambar laki-laki berkumis rimbun itu. Ya, ia sangat berharap suaranya dapat membantu calon lain untuk menjungkalkan Lubis Sulaiman!

*

Dua minggu ini, perbincangan di rumah, kedai, pasar, hingga masjid, hanya berputar pada topik pemilihan kepala daerah Lubuklinggau. Seperti biasa, masyarakat akan menjelma penilai yang paling lihai. Mereka sibuk membanggakan si ini dan si itu atas dasar kesamaan tempat kelahiran, hubungan darah, atau bantuan yang secara pribadi pernah mereka dapatkan.

Tak jarang obrolan mereka melipir menjadi perdebatan hingga pertikaian. Tak terkecuali para pelanggan pempek dan gorengan di kedai milik Kayla di simpang jalan utama Ulaksurung. Kayla kerap tersenyum sinis—bahkan perutnya bisa tiba-tiba mual—menyaksikan fanatisme buta itu.

“Laki-laki yang bisa memimpin itu salah satu cirinya berkumis. Makin tebal kumisnya, makin kelihatan wibawanya.”

“Betul sekali, Man! Walaupun selama ini tinggal di Lampung, tidak berarti si Lubis tu melupakan tanah kelahirannya. Lihatlah, jalan-jalan kecil yang sering kita lalui untuk menyadap karet, dua minggu lagi akan diaspalnya.”

“Aku juga sependapat, Pakcik! Untuk Agustusan tahun ini, si Lubis akan mendanai semua kegiatan. Bayangkan lomba gaple saja hadiah utamanya sepeda motor, lomba makan kerupuk hadiahnya Rp500 ribu! Nah, bisa kita bayangkan acara pesta rakyatnya nanti!”

Percakapan itu menahan Kayla di balik gorden yang memisahkan tempat pembeli dan bilik belakang. Ia bahkan menyuruh Sika, anak gadisnya yang tengah menggoreng pempek, untuk membawa gelas-gelas kopi ke hadapan mereka. Kebiasaannya membaur dengan para pelanggan menguap sudah.

“Biar Mak yang meniriskan gorenganmu,” ujarnya, seraya mengambil sendok penggorengan dari tangan Sika.

“Sepertinya orang sekampung ini mendukung Pak Lubis ya, Mak?” cerocos Sika, sekembalinya dari depan. Kontan, kalimat anak semata wayangnya itu menyalakan luka yang perlahan padam di dada Kayla.

“Tak baik menguping Sika. Kau belajarlah saja supaya lulus SMA!” seru Kayla, seraya memasukkan adonan pempek ke dalam belanga. Bunyi ribut minyak panas membuat kata-katanya tak terlalu jelas di telinga Sika.

“Sika kan cuma mengikuti perkembangan, Mak. Masa Sika tak tahu apa-apa kalau ditanya tentang pemilukada di sini, Mak,” jawab Sika polos. Ia membereskan beberapa gelas kotor ke dalam bokor plastik.

“Sudah, sudah!” Kayla mulai kesal. “Kau lekaslah ke depan. Siapa tahu Pakcik Rahman dan kawan-kawannya sudah mau pergi. Nanti saja kau cuci gelas-gelas itu! Hari Ahad ini kedai kita buka setengah hari saja.”

*

Awal Agustus itu, Sika kembali membuat ibunya muntah. Kayla membaca tulisannya tentang Lubis Sulaiman pada selembar kertas di atas meja belajarnya.

“Kenapa pula Mak ni, setiap bicara pemilukada selalu naik pitam?” tanya anaknya tak mengerti. ”Bukannya Mak sendiri bilang, kalau tahun ini Mak tidak akan golput?”

“Ya, tapi suara Mak bukan untuk si Lubis itu!” sahut Kayla, ketus.

“Terus apa masalahnya sama Sika, Mak?” protes Sika.

“Ini!” Kayla mengangkat selembar kertas seperti menunjukkan barang haram yang disembunyikan anaknya. “Buat apa kau sanjung-sanjung si Lubis?”

“Itu kan naskah Lomba Menulis Surat untuk Pemimpin Lubuklinggau dalam rangka peringatan 17 Agustus ini, Mak,” jawab Kayla polos.

“Kenapa pula harus si Lubis yang kau puji?”

“Mak seperti tak tahu saja,” ujar Kayla, dengan senyum kecil seolah menyindir ibunya, “Yang mengadakan lomba itu kan tim suksesnya Pak Lubis, Mak. Jadi, kalau Sika mau menang, ya harus kupuji-pujilah dia, Mak. Lagi pula …”

”Lagi pula apa?” potong Kayla cepat.

“Menurut Sika, dari lima calon yang ada, Pak Lubis paling keren, Mak!”

“Jaga mulutmu, Sika!” suara Kayla seperti gemuruh lahar yang hendak muncrat. “Tahu apa kau tentang dia?!” Dadanya megap-megap.

Sika terperanjat. Dia benar-benar tak menyangka kalau ibunya dapat berubah beringas hanya karena hal sepele.

“Jawab?!” Kayla melotot. Jarak wajahnya dan wajah Sika tak lebih lima jari.

Sika berjalan agak mundur. Ia benar-benar gentar dengan kemarahan ibunya.

“Jawab, atau ….” Kayla menghentikan gerakan tangan kanannya yang hendak menampar Sika.

Sika terduduk di lantai setelah menyandarkan tubuhnya cukup lama di dinding. Ia terus berpikir mengapa ibunya begitu membenci Pak Lubis.

*

Kayla tahu ia tak seharusnya bersikap kasar pada Sika.

Putrinya itu tak tahu apa-apa tentang perasaannya, musabab kemarahannya, dan hal-hal yang menyakitkan lainnya. Tapi, ia sungguh-sungguh tak bisa menerima apa-apa yang terbaca dari tulisan Sika beberapa waktu yang lalu.

Anak gadisnya itu tidak hanya memuji visi-misi laki-laki yang belum genap berusia lima puluh tahun itu sebagai calon wali kota, tapi juga kontribusinya pada Kelurahan Ulaksurung, kepeduliannya pada acara tujuh belasan, dan ketampanannya. Ia yakin tulisan putrinya itu tak sepenuhnya mengada-ada demi hadiah, tapi lebih banyak didasarkan pada pendapat pribadinya.

“Mak.”

Panggilan Sika membuyarkan lamunannya malam itu.

“Ceritakanlah yang sebenarnya, Mak.”

“Tentang apa, Nak?” Suara Kayla agak bergetar. Perasaannya tak enak.

“Semua yang Mak tahu tentang Pak Lubis.”

Deg! “Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu?” refleks Kayla meneguk liur.

“Mengapa pula Mak selalu benci pada orang-orang di kedai yang membincangkan Pak Lubis? Mengapa Mak tak memperbolehkan Sika mengikuti lomba menulis yang diadakan tim suksesnya? Mengapa Mak bersikap aneh sejak Pak Lubis jadi calon wali kota?” berondong Sika penuh penasaran.

“Sika, kau, kau, kau... Apa maksudmu?” Kayla tak mampu menyembunyikan kegugupannya. “Jangan terlalu jauh berprasangka,” ujarnya, dengan suara ditahan. Tubuhnya mendadak menjadi dingin dengan keringat yang berebutan tumbuh di pori-pori.

“Jangan-jangan Pak Lubislah laki-laki yang menyebabkan Sika menjadi yatim seperti ini, Mak?” suara Sika terdengar lantang dan menghujam hulu hati Kayla. “Mengapa Mak diam saja?” desak Sika. Kali ini ia menyentuh bahu Kayla. “Apakah Mak akan membiarkan Sika pura-pura tak tahu semuanya sebagaimana Sika yang tak pernah mengenal wajah Bapak.”

Kayla terdiam. Ia benar-benar tak menyangka kalau bumerang yang ia lempar dulu, baru menyerangnya hari ini. Sungguh, ia tak ingin semuanya terbongkar.

“Kenapa tak kita laporkan saja Pak Lubis, Mak?”

Sigap Kayla memeluk Sika yang sudah larut dalam tangis. Ia mengusap-usap rambut putrinya yang perlahan merenggangkan pelukan.

“Jadi, benar Pak Lubis yang membunuh bapak, kan, Mak?” mata merah Sika menatapnya, dalam dan tajam.

Kayla bergeming. Hanya air mata yang bergerak menyentuh ujung bibirnya. Ingatannya melayang pada cerita yang ia karang saban Sika menanyakan ayahnya dulu.

“Bapakmu dibunuh orang tak dikenal pada pertengahan Agustus 1997. Mungkin dia punya masalah dengan bapakmu. Karena tak tahan menanggung rindu pada bapakmu, Mak membakar semua foto-foto pernikahan kami. Itu pula yang menyebabkan Mak memboyongmu pindah dari Lampung ke kota yang jauh ini. Jangan tanyakan lagi tentang bapakmu, Nak. Kita mulai hidup baru di Lubuklinggau ini.”

Sika, pada akhirnya percaya pada cerita karangan itu. Dan Kayla tak pernah menyangka kalau beberapa hari yang lalu Sika akan bertindak jauh melampaui perkiraannya. Ia lupa, usia Sika sudah hampir tujuh belas. Ia bukan lagi anak-anak. Sika mengikutsertakan tulisannya dalam lomba menulis surat itu. Ia membeberkan kebejatan Lubis Sulaiman. Benar saja, satu minggu kemudian, ketika kedai sepi pembeli, Kayla didatangi orang-orang yang mengaku anggota tim sukses Lubis Sulaiman.

“Bapak sangat terkejut membaca tulisan putri Ibu,” ujar salah seorang dari mereka. “Bapak sangat ingin bertemu dengan Sika dan ibunya. Bapak ingin bertanya beberapa hal. Yakinlah, Bapak orangnya baik, Bu,” tutur pesuruh Lubis Sulaiman itu sangat sopan dan meyakinkan.

“Sika belum pulang sekolah, Pak,” jawab Kayla dengan degup jantung yang susah ia kendalikan. Ia menyesal telah melibatkan Sika sejauh ini.

Dialah muara fitnah ini. “Tapi apa-apa yang Sika tulis dalam suratnya sepenuhnya atas sepengetahuan saya. Jadi, lebih baik bapak-bapak membawa saya saja.”

Anggota tim sukses itu berpandangan sebelum salah satu dari mereka mengangguk. Kayla menutup kedai dengan gerakan terbata-bata. Andaikan saja fitnah itu tak pernah ditanamkan ke kepala Sika, ia takkan secemas ini menghadapi Lubis Sulaiman, laki-laki yang pernah berjanji menikahinya setelah hubungan terlarang mereka di perkebunan damar di Kalianda pada Agustus enam belas tahun yang lalu.

Ah, tak guna aku gentar, batin Kayla, kini giliran kami yang menang, wahai Sulaiman. Ya, bagaimana kau akan menunaikan janjimu pada rakyat, bila pada kekasih dan darah dagingmu sendiri saja kau tak pernah peduli?

Kayla menghela napas kuat-kuat. Ia masuk ke mobil mewah tim sukses Lubis Sulaiman dengan hati yang dikuat-kuatkan. n
 
Rabu, 10 Juli 2013


Lampung Post, Minggu, 18 Agustus 2013

Sunday, June 16, 2013

Anak Ibu (4)

Cerpen Benny Arnas

DI RUMAH mentereng tiga lantai tersebut, mereka berkumpul. Tentu saja bukan untuk mengagumi susunan ubin mengilap yang diimpor dari Turki, bukan juga untuk mengagumi lampu gantung kristal dari Ceko yang meliuk sepanjang dua meter dengan seratus lilin yang menyertai, bukan juga untuk melihat-melihat koleksi BMW limited edition di garasi seluas lapangan voli, dan yang pastinya juga bukan untuk menjaga tali silaturahim mereka: lima saudara yang kesemuanya laki-laki dengan pekerjaan mapan dan bisnis menjanjikan, dengan istri yang cantik dan pandai bergaya, dengan anak yang diatur pergaulannya …. Lima laki-laki itu, kesemuanya, sudah lebih dua puluh lima tahun tidak pulang ke kampung halaman.

Bukan lantaran laki-laki itu paling kaya hingga saudara-saudaranya berkumpul di sana, bukan! Ya, keempat adiknya tak kalah jaya darinya (Ah, tak usah diceritakan sebanyak apa harta mereka—baik yang tampak ataupun tidak). Namun lantaran ia anak sulung. Itu saja. Mereka, mau tidak mau, harus segera berkumpul pagi itu demi membicarakan bagaimana menanggapi kematian Sang Ibu. Mereka pun menetapkan berapa malam pembacaan yaasin akan dilangsungkan, berapa banyak perkumpulan pengajian yang perlu diundang untuk membacanya, berapa isi amplop yang akan dibagikan kepada mereka …. Mereka pun bersepakat untuk meninggalkan pekerjaan dan anak-istri selama sepekan (Bahkan sebelum Sang Ibu ditanam, mereka tidak menyilakan anak-istri melihatnya seolah hal itu akan menodai kejayaan yang mereka). 

“Setelah ini, kita mungkin hanya menjenguk pusaranya bila Hari Raya akan tiba,” ujar Si Sulung, dan diiyakan saudara-saudaranya yang lain.

Mereka terbang ke kampung halaman menggunakan pesawat dari maskapai lokal. Setiba di sana, mereka memutuskan menyewa mobil. Setiap mereka menyewa satu mobil. Bukan untuk satu, tapi tujuh hari. Mereka ingin semua orang kampung tahu kalau anak-anak Sang Ibu telah sukses.

“Jadi, sudah sepakat ya, kita mengundang semua perkumpulan pengajian yang ada di sini?” tanya Si Bungsu ketika mereka menuruni tangga pesawat.

“Paling lima ratus orang. Sampai seribu pun tak masalah. Tinggal sewa tenda,” ujar Si Nomor Dua dengan pongah.

“Isi amplopnya lima puluh ribu. Selama tujuh hari,” celetuk Si Nomor Empat memastikan.

“Khusus hari ketiga dan ketujuh, kita kasih seratus ribu. Menunya pun harus lebih beragam, lebih mahal, dan lebih enak.” Kali ini Si Sulung tak mau kalah.

“Orang kampung pasti akan datang berbondong-bondong karena dapat amplop dan makan enak. Bahkan di hari ketujuh, aku sudah mengontak manager ustaz yang sering tampil di TV untuk ceramah!” ujar Si Nomor Tiga penuh semangat sembari menyebutkan nama ustaz yang dimaksud.

Lalu tawa pun pecah, berhamburan, dan terbang berserakan di langit yang berlapis-lapis.

*

SEPULANG salat subuh di masjid, perempuan tua yang lebih dikenal dengan panggilan Ummi itu (bahkan, anak-anaknya pun tidak memanggilnya “Ummi”) kembali ke kamarnya yang sunyi. Biasanya, ia langsung mencangking Quran di lemari depan lalu membacanya dengan suara yang lirih di kursi rotan tak jauh dari jendela. Ia membacanya hingga matahari bulat sempurna di batas pagi. Namun subuh itu ia bahkan tidak meraih kitab itu, tapi langsung rebahan di kasurnya yang kempes dan usang. Kedua tangannya bersedekap. Seolah sudah melatih otot bibirnya sejak lama, sembari memejamkan mata ia menyunggingkan senyum paling indah. Ia memang akan menyambut Izrail dengan cara yang berbeda; dengan sukacita.

Sungguh, ia tidak pernah diminta dipanggil Ummi. Namun orang-orang kampung dan sekitarnya seperti merasa lebih nyaman dengan memanggilnya seperti itu, seolah sebutan itu begitu mulia, seolah kemuliaan itu sangat tepat tersemat padanya. Bersama seorang khadimah (pembantu) perempuan yang sudah ia anggap keluarga, Ummi selalu shalat di masjid. Saban petang, ia rajin membagikan apa pun yang dimasak kepada para tetangga. Tidak banyak memang. Namun orang-orang bagai bersicepat menyambutnya seolah-olah apa-apa yang datang darinya adalah keberkahan. Ummi juga selalu membawa penganan bila masjid mengadakan mauludan, tadarusan, pengajian bulanan, atau buka puasa Pesantren Ramadhan.

Setiap pagi Ahad, Ummi seolah punya agenda sendiri; bertandang ke rumah-rumah penduduk hingga zuhur tiba. Bayangkan, di usia delapan puluh tahun, ia mampu mengunjungi hingga tiga puluh rumah setiap pekan. Maka, saban orang-orang menanyakan rahasia kebugarannya, ia menyebutkan apa yang ia lakukan itu sebagai jawabannya.

Silaturahim bukan hanya memanjangkan usia, tapi memberi berkah pada usia yang panjang itu, begitu ujarnya seraya memamerkan gigi-giginya yang jarang.

Tanpa selebaran, pengumuman, dan iklan di suratkabar, keelokan tabiat Ummi menyebar ke mana-mana. Awalnya hanya seantero kampung. Lalu dari mulut ke mulut, dari kerumunan ke kerumunan, dari persinggahan demi persinggahan, Ummi dikenal hingga ke kampung-kampung tetangga, kota-kota terdekat. Ummi bagai menjelma permata dengan rambahan kilau tak terbatas. Orang-orang pun kerap bertandang ke rumahnya. Bukan untuk meminta nasihat karena ia pasti takkan melayani, tapi hanya ingin menjumpainya. Awalnya, orang-orang—baik penduduk sekitar maupun datangan—kerap bertanya keberadaan anak-anaknya. Namun karena Ummi selalu menjawab dengan airmata menggenang, maka mereka tak pernah mengungkit-ungkitnya. Ya, membuat sedih seorang berhati malaikat adalah sebuah kesalahan, dan kesalahan selalu menjadi cikal-bakal dosa.

Ah, tak ada yang tahu betapa hati Ummi retak setiap mengingat kelima anaknya. Ummi membesarkan mereka dengan hasil ladang yang waktu demi waktu tergadaikan bahkan melayang ke tangan orang lain. Untunglah beberapa dari mereka tak tega mengambil alih ladang-ladang itu, hingga akhirnya Ummi bisa hidup darinya, dari kejujuran orang-orang upahan yang menggarapnya. Ah, siapa pula yang sudi mengakali seorang yang wajahnya selalu ruah oleh cahaya?

*

TIGA ratus meter menjelang rumah duka, mobil kelima laki-laki itu tidak bisa melaju. Mereka menyaksikan lautan manusia membanjiri jalan. Ratusan kendaraan parkir di setiap tempat yang lowong. Tak lama setelah mobil menepi, mereka berkumpul di bawah pohon yang paling besar di sana.

“Ternyata demonstrasi pun sudah terjadi di kampung-kampung,” ujar Si Sulung sambil nyengir.

“Benarkah?” tanya Si Bungsu. “Jangan-jangan ada kecelakaan hebat? Truk lawan truk mungkin? Atau jembatan rubuh?”

“Ah, tak ada jembatan di sini! Masak sudah lupa!” sanggah Si Nomor Tiga. “Jangan-jangan ada orang kaya dekat sini yang sedang bagi-bagi sembako!” Lalu ia terkekeh-kekeh.

“Sudah, sudah!” sergah Si Nomor Dua sambil mengibaskan tangan. “Coba kautanyakan ke salah seorang dari mereka,” perintahnya pada Si Bungsu sambil menunjuk kerumunan yang paling dekat dari mereka.

O o, cukup lama terpekur Si Bungsu usai mendengar jawaban salah seorang dari kerumunan. Untung saja panggilan dari saudara-saudaranya menyadarkannya.

“Sebelum meninggal Ibu berpesan, kalau ia meninggal di subuh hari dan sampai zuhur anak-anaknya belum tiba, ia minta segera dikuburkan saja!” lapornya dengan wajah yang tiba-tiba memias.

“Lalu apa hubungannya dengan kerumunan itu?” tanya Si Sulung.

“Mereka semua adalah pelayat, Bang!” jawabnya.

“Pelayat?!” Seru keempat kakaknya seolah tak percaya.

“Ya. Sekarang mayat Ibu sedang berada di masjid terbesar kampung. Usai zuhur barusan, mayat Ibu langsung dishalatkan. Jamaahnya melebihi shalat idul fitri. Dan lautan manusia itu sekarang ingin mengantar jenazah Ibu ke permakaman.”

Lalu mereka terdiam. Tentu, bukan memikirkan berapa banyak rupiah yang harus dibayarkan kepada pelayat karena mereka semua memang takkan mau dibayar, bukan memikirkan menu perayaan kematian karena sumbangan dari orang-orang yang ratusan mobilnya terparkir di sepanjang tepian jalan sudah lebih dari cukup, dan bukan juga memikirkan sampai hari keberapa pembacaan yaasin akan dihelat karena sepertinya hingga hari yang keempatpuluh pun rumah duka belum akan sepi pelayat. Mereka terdiam karena aliran darah bagai ditotok tiba-tiba, jantung yang kehilangan ritme degupnya, keringat mengucur dari sekujur tubuh, dan bibir yang menggigil tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun.

Mereka naik ke mobil. Memutar balik setir. Tak ada yang bersuara, termasuk tawa yang sudah dipersiapkan sedari tadi untuk menyala. Dalam hati, masing-masing berharap masih tersisa tiket penerbangan terakhir hari itu. Mereka benar-benar tak habir pikir, bagaimana mungkin Sang Ibu menjelma sehebat itu, bagaimana mungkin Sang Ibu, dalam sekejap, menyihir mereka dan kejayaan yang yang susah payah diraih menjadi debu, tak ada harganya. n

Berendo, 28 Juli 2012


Lampung Post, Minggu, 16 Juni 2013

Sunday, May 13, 2012

Tak Cukup Air Mata

Cerpen Benny Arnas dan Rachmat Budi M.



KESENDIRIANNYA di beranda telah membuat dadanya makin sesak. Perasaan tertekan dan gelisah berkecamuk. Disandarkannya tubuh ke punggung kursi, seolah berharap ketegangan di lehernya akan merenggang. Anak sulungnya lewat di hadapannya saat akan masuk rumah. Ia bertanya kepada gadis dua belas tahunan itu. Ya, ia bertanya, seolah bertanya dapat mengalihkan kegelisahannya.

"Kau bawa ke mana adik-adikmu, Num?"

"Ke rumah bude sebelah, Yah."

"Kau jaga mereka baik-baik. Jangan biarkan mereka ke mana-mana. Adikmu Nuke dibilangi, jangan merepotkan Budemu. O ya, mereka sudah makan?"

"Sudah, Ayah."

"Jangan sering-sering kau tinggal adik-adikmu."

"Nis minta diambilkan bonekanya, Yah."

"Mana Nel?"

"Masih sekolah, Yah."

Lalu ia terdiam. Numi sudah meranjak gadis rupanya hingga sigap sekali menjawab pertanyaannya. Ia kadang membenci dirinya sendiri yang tidak bisa hangat dan lembut kepada anak-anaknya, termasuk kepada Numi. Ia ingat sekali. Dulu, ketika baru lahir, kehadiran Numi bagai oasis di padang kehidupannya yang tandus. Sangat disayang, sangat dimanja, sangat dijaga, sangat diperhatikan. Namun lambat-laun semua berubah. Memudar, pias, bias, lalu nyaris amblas hanya menyisakan kebersamaan yang lempang.

Tentu saja bukan karena ia tidak menyukai keramaian di rumah. Ia sadar, istrinya tidak layak disalahkan. Disalahkan? Tidak ada yang salah, sebenarnya! Ia tahu kalau kehadiran Numi, Nely, Nisa, dan Nike, tentulah atas andilnya sebagai seorang suami. Ah, bodoh sekali memikirkan hal itu, pikirnya. Lalu. Ya, lalu ialah yang salah, kan? Sungguh, ia lelah berdebat dengan hati kecilnya. Ia selalu berkilah, bahwa memiliki anak laki-laki dan perempuan adalah perlambang keseimbangan; keseimbangan keluarga, juga kehidupan. Walau tak sekali-dua ia berpikir bahwa itu hanya dalih yang ia tak tahu dari mana berasal. Walau tak sekali-dua ia bertanya pada diri sendiri; mengapa ia tak mampu meredam keinginannya! Keinginan? O tidak, ini bukan keinginan. Ini tentang keberimbangan. Keberimbangan? Keberimbangan dari mana? Baiklah. Ia memang tak pernah berhasil mengalahkan nuraninya. Takkan pernah berhasil, sejatinya. Ini murni keinginanku! Puas?! Begitulah. Tidak salah, bukan? Hhhh... ia menghela napas seolah memberi tanda bahwa ia tak berniat melanjutkan pertikaian dengan hati kecilnya!

Numi masuk ke rumah setelah tidak ada lagi pertanyaan ayahnya yang harus ia jawab. Sesaat kemudian ia keluar lagi dengan membawa boneka beruang.

"Ayah mau ke klinik dulu. Kalau Nel pulang suruh dia saja menjaga adik-adiknya. Kau dapat mengurus rumah kan?"

Numi berhenti sebentar mengiyakan. Tak lupa ia mencium punggung tangan ayahnya. Sebelum pergi ke rumah bibinya, Numi masih sempat melempar tanya.

"Adik kami nanti laki-laki atau perempuan, Yah?"

Ia menoleh. "Laki-laki!"

***

DI klinik, ia kembali dengan kesendiriannya. Sendiri dengan kegelisahannya. Sendiri dalam penantiannya. Ia tiba-tiba merasa asing dengan tempat ini. Ah tidak, keempat anakku dilahirkan di sini, kok. Namun demikian, ia tak dapat menipu perasaannya yang seolah linglung dengan suasana sekitar. Klinik itu bagai dilalui alunan irama musik aneh yang datang dari tempat yang jauh. Ia merasa terpisah dari suasana kehidupannya sehari-hari: kegaduhan suara anak-anak bermain, tangis mereka yang berkelahi, teriakan ibu kepada anak-anak di dapur, dan segala macam suara berisik lainnya. Tiba-tiba ia merindukan suasana dalam rumah tangga, keluarga yang mempunyai anak sampai empat orang—o tidak, tapi empat orang putri—sepertinya. Ya, empat orang putri.

Aneh, bukan? Aneh? Benarkah?

Tiba-tiba ia memalingkan muka ke arah salah satu pintu kamar yang berjejer di klinik. Kamar itu masih juga tertutup rapat dan telinganya belum menangkap suara apa-apa dari sana. Kemudian ia meluruskan pandang seperti semula, melayangkannya jauh ke depan, ke tengah lapangan seberang klinik.

Seekor induk kambing dengan dua ekor anaknya yang masih kecil sedang mengulam di sana. Anak-anak kambing itu setiap sebentar melompat-lompat di atas kaki-kakinya yang mungil, dan suatu ketika tiba-tiba berlarian menyuruk ke bawah perut induknya, memagut susu induknya seperti berebutan sambil mengibas-ngibaskan ekor dengan nakal. Sang induk berdiri tenang membiarkan anak-anaknya mengelayuti kelenjar susunya.

Susu? Anak-anak? Anakku? Anakku?

Hhhh. Ia melenguh kesal. Ya, ia gagal lagi mengalihkan kegelisahannya.

Pikirannya masih ditawan oleh harapan dan kecemasan. Memang, menunggu istrinya melahirkan bukanlah hal baru baginya. Malahan penantian ini adalah kali kelima. Tapi arti setiap penantian itu tidak selalu sama baginya. Lebih-lebih setelah kelahiran anaknya yang ketiga. Ia harus menyambut bentuk kehadiran yang sama seperti yang dua kali sebelumnya: perempuan!

Ia meyakini, harapan dan kecemasan selalu muncul dengan kekuatan yang berimbang. Tapi sejak kelahiran anak perempuannya yang kedua—lalu diikuti yang ketiga dan keempat, harapan itu telah berkembang menjadi keinginan. Ia pun tak mengerti, bagaimana keinginan itu mengakar kuat sedemikian rupa hingga kehadiran seorang anak laki-laki dari kehidupannya seolah menjadi kemestian! Ya, mereka (dirinya, lebih tepatnya) menginginkan variasi yang memberi kelengkapan. Benarkah kehadiran anak laki-laki benar-benar melengkapi? Ia tidak pernah mengubur harapan. Bahkan sebaliknya, ia timbun harapan itu dengan iringan doa-doa yang berkubah dada.

***

IA merasa kali ini adalah haknya untuk merasakan kebenaran harapan itu!

Selama ini ia telah mendatangi banyak tabib, psikolog, hingga mendatangi dukun (walaupun ia tidak pernah memakai jasanya); ia telah menamatkan banyak buku kedokteran dan pengobatan tradisional; bahkan ia mempelajari kamasutra dari seorang temannya yang baru saja dikaruniai anak laki-laki setelah kelahiran yang kedelapan (Ia baru percaya kalau cara berhubungan memengaruhi keturunan)....

Kini, tibalah saatnya. Semua usaha akan berpusar pada hari ini. Hari kelahiran anak kelimanya! Ia hanya berserah kepada-Nya. Dan memang itu yang bisa dilakukan sesiapa dalam keadaan seperti ini. Kesendiriannya yang menggelisahkan itu diisinya dengan doa-doa permohonan dan penyerahan.

Lamat-lamat telinganya menangkap suara mengejan. Serta-merta ia melempar  pandang ke kamar yang tak jauh darinya. Istriku? Anakkku? Suara itu makin kerap dan keras. Sesekali seperti permulaan untuk mengerang. Ia membayangkan keadaan istrinya. Oh, ia pasti sedang meliuk-liuk dengan wajah meringis menahan sakit tak tertanggungkan.

Wajahnya makin tegang. Seketika segala doa dan harapannya hilang berganti dengan kecemasan. Semata-mata kecemasan. Ketika tiba-tiba kemudian ia menguasai dirinya kembali, ia segera memusatkan pikirannya dengan berdoa kembali bagi keselamatan istrinya. Ya, pikirannya kini lebih banyak tertuju kepada keselamatan istrinya. Rintihan-rintihan istrinya yang mencemaskan serta bayangannya pada keadaan istrinya yang kini sedang bertarung dengan rasa sakit, telah mengalihkan harapannya akan kelahiran yang sedang dinantikannya itu sendiri. Ingin rasanya ia menerobos pintu itu dan kemudian berbuat sesuatu yang ia tidak tahu apa, untuk meringankan penderitaan istrinya. Tapi itu tak ia lakukan, sama seperti ia tak ingin menganjurkan istrinya melakukan USG sejak bulan kelima kehamilannya.

Ia kemudian bangkit, mondar-mandir gelisah dengan gerakan-gerakan yang tak disadarinya. Ia melihat jam di tangan kirinya.

Sudah satu jam, pikirnya.

Kembali terdengar suara mengejan. Kini terdengar lebih keras. Lalu tiba-tiba melemah dan kemudian seperti sayup. Tiba-tiba ia mendengar suara itu. Tangis bayi! Seperti terlempar, ia membuat langkah panjang menuju pintu kamar. Tapi tangis itu segera lenyap ketika ia tiba di pintu. Dibukanya pelan-pelan pintu itu. Ia segera dapat melihat bidan sedang sibuk dengan bayi yang tergeletak di ranjang mungil, sedang seorang suster sibuk dengan istrinya yang tampaknya belum sadar. Ia segera melangkah bersijingkat ke dalam ruangan. Pandangannya melompat-lompat; berpindah-pindah dari bayi ke istrinya, dari istri ke bayinya.

Bidan  yang mengetahui kehadirannya, menghampirinya.

"Maaf Pak, kami sudah berusaha."

"Maksud, Bu Bidan?"

Bidan itu menunduk.

"Anak saya perempuan lagi?"

Bidan itu mendongak.

"Enggak papa, Bu. Asalkan anak dan istri saya selamat."

"Bukan, Pak." Bidan itu bersipandang dengan suster yang membantunya melakukan persalinan. "Bayi Bapak tidak dapat kami tolong. Maafkan kami, Pak. Ini di luar...."

Ia tidak dapat mendengar kelanjutan suara bidan itu lagi. Ia tiba-tiba jadi bingung dan tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Kini ia merasa ruangan itu sedikit menjadi suram dan kebenderangan yang dirasakannya tadi mulai berkurang. Tangannya bergerak-gerak seperti ingin menyentuh bayi yang berada tak jauh dari istrinya. Ia berjalan pelan menuju ranjang bayi. Dipandangnya sang bayi dengan penuh saksama, lamat-lamat: dari rambut, mata, hidung, bibir, tangan, perut, pusar, dan ... oh, Tuhan.... Air matanya menetes begitu saja. Sungguh, ia tak ingin menangis tapi ia tak dapat mengendalikan dirinya. Ia tersedu-sedan.

Ia mundur pelan-pelan dan mendekati tempat istrinya berbaring. Ia melihat istrinya yang mulai siuman. Suster yang merawatnya istrinya beralih mengurus bayi. Ia duduk di tepi ranjang di samping istrinya, lalu membungkukkan badan mencium dahi istrinya. Ketika dia mengangkat mukanya kembali, pandangannya tertumbuk pada mata istrinya yang menanggung lelah yang sangat.

"Kau sudah lihat?" Suara istrinya bertanya lemah sekali.

Ia tersenyum. Matanya masih basah.

Istrinya menyeka air mata suaminya dengan gerakan tangan yang masih lemah. "Mas, kita punya anak laki-laki kok. Hanya saja sudah dipanggil Tuhan. Tapi kita tetap pernah punya kok, Mas." Istrinya mencoba tersenyum, tetapi suaranya yang serak tak dapat menyembunyikan perasaan sedihnya yang mendalam. Istrinya pun tak mampu mencegah bulir-bulir hangat itu berebutan keluar dari kedua matanya yang redup.

Ia peluk istrinya. Mereka sama-sama menangis. Tiba-tiba ia merasa begitu bersalah. Kepada istrinya. Kepada anak-anaknya. Kepada dirinya.

Kepada Tuhan, tentu saja. n


Lampung Post, Minggu, 13 Mei 2012

Sunday, March 20, 2011

Pelajaran Tersenyum

Cerpen Benny Arnas


SEJATINYA, gadis itu hanya berteman dan bercakap dengan angin, dedaunan, belatung, dan tanah serta pepohonan yang mempersilakan air mengalir dan memercik darinya.

***

Apakah ia kara? Mana sang ayah, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas keluarga, atas dirinya?

Apa? Ayah?

Ah, kini gadis kecil tak peduli lagi. Sama dengan tak mau tahu bahwa setiap anak sejatinya memiliki ayah. Ya, bunda adalah orang tuanya. Bunda berjiwa kembar dalam badan tunggal. Ya ayah, ya bunda, ada dalam diri wanita yang melahirkannya itu.

***

"Kerjakan nomor 1 sampai 30!" Bu Alis memberi tugas setelah seharian menyetrap beberapa murid yang tidak mengerjakan tugas.

Dari arah kursi belakang, seorang gadis kecil mengacungkan tangan.

"Iya," ujar Bu Alis, "Ada yang ingin kau tanyakan, Pik."

"Ya, Bu."

Bu Alis tersenyum masam sambil mendongak ke arah jam yang bertengger di dinding, satu meter di atas papan tulis. "Cepatlah, nanti telat juga kita pulang!"

Anak-anak lain bersungut-sungut. Takut kalau Bu Alis marah. Mereka tak ingin jadi korban setrapan seperti beberapa temannya yang berdiri—dengan sebelah kaki di depan kelas—sejak kelas dimulai, hingga kini hendak pulang.

"Mmm...."

"Cepatlah!" Bu Alis membentak.

"Mengapa... Ibu jarang sekali tersenyum?"

"Aaaah....!" Bu Alis mengibaskan tangannya. "Kukira apa yang ingin kau tanyakan tadi!" ujarnya gusar. "Hei, dengar kalian semua...!"

Anak-anak makin bersungut. Kedua tangan mereka sudah rapi terlipat di atas meja, dengan kepala setengah menunduk dan ekspresi wajah yang disopan-sopankan.

"Kalau anak-anak bengal macam kalian aku baik-baikkan, akan jadi apa negara ini? Makin ngelunjak kalian nanti. Tak ada hormat-hormatnya pada guru. Nanti juga tak hormat pada orang tua, orang yang lebih tua, dan pada siapa-siapa!"

Belum sempat Upik menganggapi, Bu Alis sudah berlalu. "Jangan lupa, les di tempat Ibu sore ini. Selamat siang!" repetnya sebelum menutup kelas.

***

"Pengidap kanker otak harus segera dioperasi. Obat-obatan yang diberikan tak lebih hanya sekedar penghilang rasa sakit. Apabila terus dibiarkan, ia bisa kehilangan ingatan masa lalunya. Ia juga bisa membuat dunianya sendiri."

Wanita paruh baya itu menunduk saja. "Biarlah saya pulang dulu ke desa, Bu. Kumpul uang dahulu," batinnya.

....

Dalam perjalanan pulang, seorang gadis enam tahun-an bertanya pada ibunya:

"Bunda, kok bu dokternya tak pernah tersenyum ya?"

"Hussh... tak baik menggunjing orang, Nak. Apalagi orang yang lebih tua."

"Dia dan teman-temannya di rumah sakit itu juga jahat ya, Bunda?"

"Husssh...! Sudahlah!"

"Masak enggak mau ngobatin Upik."

"Enggak cukup uangnya, Nak."

"Katanya berobat dan sekolah tidak bayar, Bunda?"

"...."

"Awas, Bunda...!"

"Aaaakkkhhh...!"

"Bundaaa...!

***

Gadis kecil itu berlari dengan langkah lebar. Ujung kedua kakinya mengenjit-enjit serupa balerina. Ah, balerina. Terlalu tinggi kata itu. Gadis kecil itu tak paham apa itu balerina. Tinggalnya saja di desa. Terpencil. Yang ia tahu adalah hatinya benar-benar gembira hari ini. Sepanjang jalan ia semringah: tersenyum dengan sebenar senyum.

Dari mana kau, wahai peri kecil?

"Dari rumah Umi."

Umi? Umi siapa?

"Umi. Ya Umi."

Ibumu?

"Bukan! Ibuku namanya bukan Umi, tapi Jamilah."

Ooo...

"Umi orangnya cantik. Usianya sama dengan Bu Alis."

29?

"Entahlah. Pokoknya seumuran Bu Alis. Guru kami yang masih gadis!"

....

Gadis kecil itu berlari kecil lagi. Tetap berinjit-injit. Kali ini di hadapannya telah menghampar sawah setengah menguning. Pemandangan yang kurang disukai si gadis kecil. Menurutnya, kalau padi-padi itu tidak hijau lagi. Alamatnya sawah akan segera berisi lumpur dan tanah liat saja. Ah, tak elok dipandang! Gadis kecil itu tetap tidak mau menerima ketika suatu waktu seorang petani yang tiba-tiba saja peduli pada celotehannya berkata: "Tapi itu juga alamat bahwa kita akan panen. Banyak beras. Kau bisa makan hingga kenyang. O ya, dulu, ketika orang tuamu masih hidup, mereka juga senang bila padi-padi di sawah telah menguning. Ah, sayang kau masih sangat kecil waktu itu."

***

"Nilaimu bagus-bagus, Nak."

"Iya, Bunda."

"Bunda juga sering tersenyum, ya?"

"Kok bertanya seperti itu, Sayang?"

"Kalau lihat Bunda, Upik jadi ingat Umi."

"Umi mana?"

"Umi yang tinggal di pondok dekat hutan, Bunda."

"Ooo di sana. Baru dibangun pondok ya?"

"Ada Umi di sana, Bunda."

"Iya, tapi apa hubungannya dengan senyum Bunda?"

"Iya. Kalau liat Bunda, Upik ingat Umi."

"Enggak kebalik?"

"?"

"Bukannya kalau lihat Umi, Upik jadi ingat Bunda?"

"Eh... ah... sama saja Bunda."

"Ya sudah. Bunda menanak nasi dulu ya, Nak."

"Iya bunda."

"..."

Ah, andaikan Bunda sering di rumah.

Gadis kecil itu menekuri buku-buku pelajarannya. Walaupun baru kelas dua SD, ia tidak mau mengecewakan Bunda.

"Ranking berapa, Nak?"

"Dua puluh, Bunda."

"Dari...?"

"Tiga dua, Bunda."

Gadis kecil itu masih mengingat dengan baik bagian dialog dengan sang bunda beberapa bulan silam. Bundanya yang pergi subuh-pulang magrib sudah sangat capai bekerja sebagai pengangkut batu. Pernah ia menanyakan di mana gerangan sang bunda bekerja, tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan mata sendunya. Gadis kecil itu tahu makna bahasa wajah orang yang melahirkannya itu: Sudahlah Nak, belajarlah yang rajin agar tidak jadi pengangkut batu seperti orang tuamu.

***

"Ada apa pula dengan dirimu, Nak?"

"..."

"Jangan diam, Nak."

"..."

"Tak kaupikirkan betapa capainya Bunda mengais rezeki."

"..."

"Masih kecil, tapi kau sudah bertingkah aneh-aneh saja!"

"Bu Alis tak pandai mengajar, Bunda."

"Apa maksudmu, Nak? Jaga tuturmu! Dia gurumu. Ibunda Guru yang mulia. Tak ada yang elok serupa sang guru. Bila tak ada dia, maka tak ada sekolahan di kampung kelam ini, Nak."

"Upik tak rehat sekolah Bunda. Hanya les saja tak mau dengan Bu Alis lagi. Upik les dengan Umi saja, Bunda."

"?"

"Boleh, Bunda?"

"Umi lagi, Umi lagi. Siapa nian Umi itu, Nak?"

"Seumuran Bu Alis. Agak lebih muda dari Bunda-lah. Tapi... baik sekali."

"Ah, Bunda tak mengerti, Nak."

"Bundaaa...!"

"Hhh...."

"Ayolah kita ke sekolahnya Umi tu!"

"Umi tak punya sekolah, Bunda. Cuma pondok."

"Pondok?"

"Iya."

"Jadi, macam mana ia memberi pelajaran? Aduuh... Upikku Sayang, jangan ganjil-ganjillah bercerita!"

"Tapi... Upik bisa mengerti semua pelajaran kalau Umi yang mengajar."

"Maksudmu, Nak?"

"Iya Bunda. Yang belum dipelajari, Upik juga bisa!"

"Ah, tak mungkin...."

Entah bagaimana caranya, akhirnya gadis kecil itu berhasil meyakinkan bundanya.

***

"Bagaimana bisa kau dapat ranking satu, Upikku Sayaaang...!"

"Ya, Upik belajar dengan Umi, Bunda."

"Husssh! Kau bawa-bawa jualah Bu Alis tu. Ia juga berjasa, Sayang."

"..."

"O ya, apa yang kau pelajari dari Umi, Nak?"

"Umi sering tersenyum, Bunda."

"Maksud Bunda, seperti apa dia mengajarmu, Nak?"

"Dengan senyum, Bunda."

"Aduuuh, Nak. Senyam-senyum, senyam-senyum. Macam mana kau ni, Upik. Ranking satu, tapi..."

"Iya, cuma dengan senyum, Bunda!"

"Pelajarannya?"

"Pelajaran tersenyum!"

***

Rumah Upik raib. Bunda juga tak lagi tampak. Entah, apakah ditelan kabut yang tumpah pagi tadi, atau apa... oooh, Upik tak mengerti. Gadis kecil itu meraung-raung. Baru ia sadari bahwa wajah Bunda mirip sekali dengan Umi. O tidak, wajah bunda benar-benar sama dengan wajah Umi.

Jadi? Ooohhh....

Maka, tergesa ia ke utara desa, ke hutan, ke pondok Umi.

Upik terpekur di tanah kosong itu. Tak ada lagi pondok itu. Apakah ada dalilnya bahwa rumah dan pondok pun dapat bersepakat untuk menghilang? Ah, Upik juga tak mengerti. Di sana, ia hanya mendapati sebuah foto kusam yang tergeletak di salah satu sisi kuburan: foto wanita paruh baya yang sedang tersenyum. Ia tercekat membaca sebuah nama yang terukir di sana, di nisan tua.

* * *

"Sekarang Upik di mana?"

"Di rumah sakit, Sayang!"

"Mana Bunda?"

"..."

"Mana Umi?"

Suster-suster muda itu terdiam.

"Kita panggil dokter saja, ya...."

"Kamu saja!"

"Kamu!"

"Aku takut nanti dia marah. Kamu tahu kan kalau dokter muda itu buasnya kayak harimau. Nyuruh kita tersenyum tapi dia sendiri tidak pernah tersenyum!"

"Ya sudah, panggil gih!"

"..."

"Mana Umi...?"

"..."

"Bu... bu dokter, anak ini sudah sadar. Dia menyebut dirinya Upik, Bu!"

"Mana Bunda...?"

"Tenang ya Sayang, di sini ada bu dokter yang akan menemanimu."

"Mana Umi....?"

"Itu hanya khayalanmu saja, Nak. Kau sekarang di rumah sakit. Istirahatlah, ya."

"Mana Bunda....?"

"..."

"Bu dokter, gimana ini?"

Setelah kembali berusaha menenangkan si pasien, dokter itu memperkenalkan diri. Dokter Alis. Entah, apa maksudnya mengutarakan hal yang tidak penting itu. Dokter itu lalu tersenyum. Seperti menyeringai. Ada taring di dekat gerahamnya.

Gadis kecil tercekat. Nama yang baru saja ia dengar seolah mengeluarkan tangan-tangan kekar dan berkuku tajam yang tak tampak, yang mencekiknya.

Upik meninggal dunia. Ada senyum yang melengkung di wajahnya.

***

"Meninggalnya gadis kecil itu karena terlalu lama bertahan hidup hanya dengan makanan yang tidak jelas asupan gizinya."

"Tapi Bu, bukankah ia selama ini bisa bertahan hingga lima tahun dengan makanan seperti itu?"

"Tak tahukah kalian kalau cacing memiliki kandungan protein yang mengalahkan ikan?"

"Tidakkah ada penyebab lain... ?"

"Itu di luar analisis medis?"

"Penyebab lain... ?"

"Penyebab lain lagi? Karena saya jarang tersenyum pada pasien? Itu maksud kalian? Kalian rekan wartawan jangan membuat berita yang tak jelas kebenarannya!"

"Maaf Bu, kami bahkan tidak tahu kalau Anda jarang tersenyum...."

"?"

"..."

"Ya sudah, lupakanlah itu!"

"!?"

"Yang jelas, yang akan saya katakan ini, saya pikir, jauh lebih layak kalian jadikan berita."

Berceritalah bu dokter itu bahwa ia pernah bertemu dengan si anak dan almarhum ibunya beberapa tahun silam. Entah bagaimana bisa dokter pelit senyum itu dapat menyampaikan hal tersebut. Yang jelas dengan percaya diri sekali ia menceritakan percakapan yang pernah ia lakukan dengan perawatnya, beberapa saat setelah dua beranak itu meninggalkan RS:

Para kuli tinta itu hanya mengangguk-angguk. Tak ada yang mereka lakukan—tidak pula mencatat, selain bergumam dalam hati: Ah, cari sensasi saja kau, gadis tua! n

---------------
Benny Arnas, lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Meraih Anugerah Batanghari Sembilan (2009) dan Krakatau Award (2009 & 2010). Bukunya Bulan Celurit Api (kumpulan cerpen, 2010).


Lampung Post, Minggu, 20 Maret 2011

Sunday, July 4, 2010

Cerita yang Menyeruak dari Kebun Mawar

Cerpen Benny Arnas



LELAKI itu sangat dekat dengan ibunya, walaupun itu hanya akhir-akhir ini. Tepatnya, ibunya yang mendekat-dekatkan diri, seolah ada kesalahan besar yang hendak ditebusnya.

***

Lelaki itu adalah orang yang paling depan berdirinya dan paling keras koarannya bila menghujat ayahnya, pamannya, saudara laki-lakinya, atau teman laki-lakinya. Walaupun sampai kini ia belum juga paham mengapa ketika mereka menatap balik padanya, ada rona skeptis dari mata-mata setan itu. Apa yang kaukatakan, hah? Seakan-akan kalimat itu mencuat dari bibir orang-orang yang dibencinya itu ketika idealismenya akan konsep kelelakian ia ceramahkan. Ya, tanpa kata-kata, hanya dengan bahasa tubuh, mereka balik mengejek laki-laki itu, lebih kejam dan menyakitkan....

"Apakah ini yang namanya karma, atau ini yang disebut azab, atau ini... Aaaah, tidak! Tak ada itu! Lantas, menurutmu apa-apa yang laki-laki itu rasai saat ini adalah sebuah kebetulan, ketiba-tibaan, kelangsungjadian?"

Lelaki itu berkeringat dingin. Ia melangkah keluar rumah. Berharap angin malam dapat menyejukkan pikirannya. Aku terlalu lelah, mungkin. Lelaki itu dengan daya upaya yang ia bisa, mencoba membesar-besarkan hati bahwa semua hanya bunga penatnya.

Angin mendesau pelan, selaras dengan malam tua yang lamban menggeser waktu. Lelaki itu menghirup udara sambil memejamkan mata. Seakan mencoba khusyuk meresapi bunyi dan bau napas yang dengan lembut melewati mulut dan hidungnya. Segaaar!

Perlahan-lahan dibukannya kelopak mata yang berbulu lebat itu. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah pemandangan ganjil: sekuntum mawar raksasa yang masih kuncup bertegak kokoh di salah satu sisi pekarangannya. Mawar itu seakan-akan tengah menatapnya lekat-lekat.

Lelaki itu menggigil. Ia membalik badan. Menuju pintu rumah yang setengah terbuka. O o, kakinya berat. Lelaki itu merasa seakan-akan sekuncup mawar raksasa itu tengah berjalan ke arahnya perlahan-lahan. Terbayang olehnya, bagaimana adegan beberapa film horor yang pernah ditontonnya: tangan berjalan, kepala terbang, boneka pembunuh yang membelalak, atau ooo... ini mawar!! Perasaannya, dalam film-film horor, bunga itu tak pernah diilustrasikan sebagai simbol pembunuh, setan, hantu, atau apalah! Ooohh...

"AAAAH...!!!" Lelaki itu berkeringat dingin. Tak henti ia mengucap syukur bahwa semua hanya mimpi saja. Maka, beranjaklah ia ke kamar mandi. Baru seperempat daun pintu dibuka, seketika ia terperanjat mendapati dinding kamar mandinya sudah dipenuhi daun sirih yang merambat-menjulur. O bukan, bukan itu yang menjadi titik keterkejutannya. Sirih itu, ya sirih itu. Berbuah semangka? Oh, ini bukan saatnya bergurau, Kawan. Daun sirih itu, berbunga. Bunga yang sangat ia kenal. Warnanya.... darah! Merah kelam. Itu... bunga mawar. Bagaimana bisa? Laki-laki itu mengucek matanya beberapa kali. Mencubit-cubit lengan kanannya. Menampar-nampar pipinya. O tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata!

"Nak, cepatlah bangun! Sarapan."

Lelaki itu tersedak mendengar seruan dari luar kamar. Ibu. Ya, itu suara ibunya. Maka, makin terheran-heranlah ia, menyadari bahwa ia benar-benar tidak sedang bermimpi. Gegas ia melangkah keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana, ibunya menyambut dengan senyum sabit.

"Kemarin...Ibu lupa namanya. Ada temanmu yang ngantarin puding. Katanya enaknya dimakan hari ini, Nak." Wanita beruban itu menghidangkan beberapa potong puding berwarna kuning yang baru dikeluarkan dari kulkas. Tak lama, ia berlalu ke dapur.

Uuuh... setidaknya lelaki itu bisa bernapas sedikit lega mendapati warna makanan itu. Tidak merah.

Lelaki itu mengangguk. O o, tunggu dulu ini pemberian siapa?

"Kemarin udah Ibu cicip. Maaf ya, Nak. Tak bilang-bilang padamu. Tapi memang enak. Hebat benar teman laki-lakimu itu memasak." Ibunya berseru dari dapur seakan-akan dapat membaca pikiran lelaki itu.

Laki-lakiku? Mengantar puding...?

"O ya, sepertinya itu puding wortel. Ditambah stroberi juga. Sudah kau coba, belum?"

Lelaki itu tersadar dari lamunannya yang sejenak itu. Sesegera ia membuka plastik minyak berwarna kuning yang menutupi puding tersebut. Beberapa detik kemudian, ups! Lelaki itu tergagap. Bibirnya gemetar. Puding itu...

"Enak, Nak?"

Lelaki itu tak memedulikan suara sumir ibunya yang entah sedang apa di belakang sana. Ia bermaksud mengambil potongan-potongan puding merah hati yang berbentuk mawar di atas meja makan itu, membawanya ke beranda... dan membuangnya,

O o, ada apa dengan dunia ini? Mengapa...?

Lelaki itu teduduk, tersimpuh di beranda. Puding mawar ditangannya terjatuh berkeping-keping. Di hadapannya, di pekarangan yang tak begitu luas itu, rerumpunan mawar yang beranting-ranting menyemak di sana-sini. Di setiap sudut, hingga membentuk pagar daun, pagar duri, pagar mawar. Di salah satu sudut, tampak menonjol sendirian setangkai mawar raksasa yang belum mekar sempurna. Mungkin sebesar itulah bunga raflesia itu, pikirnya. Atau, jangan-jangan, yang ada di hadapannya inilah yang disebut bunga raflesia, batinnya. O tidak, walaupun lelaki itu belum pernah melihat bunga bangkai itu secara langsung, tetapi setahunya, bunga raflesia tak berbatang, tak berkuntum. Ia hanya berbonggol. Ya, itu mawar. Jelas-jelas mawar. Mawar dalam mimpinya!

"Lho, Nak, ngapain duduk di beranda? Kotor."

Lelaki itu menengadah. Mendapati wanita berbaju kurung sudah bediri di muka pintu. Ia tak menyahut. Ia mati kata.

"Mengapa kau serakkan puding-puding itu, Nak?" Ibunya menunjuk ke potongan puding yang menyerak di sekitar si lelaki.

O tidak, potongan puding itu sudah berubah menjadi mawar-mawar dengan beragam ukuran. Oh... lelaki itu terjerembab. Lebih tepatnya, memaksa tubuhnya untuk terjerembab. Pingsan artifisial. Dengan sepenuh jiwa ia berharap, ketika siuman nanti, entah dari tidur atau dari pingsan --buatan--nya, ia akan segera mendapati semuanya kembali seperti semula. Baik-baik saja.

***

"DARI pagi tadi, sejak dibawa ke rumah sakit ini, perutmu belum diisi, Nak. Kata dokter, kamu harus makan makanan yang lembut, halus, dan mudah dicerna, seperti puding ini." Ibunya menyodorkan sepotong puding pada lelaki yang didudukkan di sebuah dipan dengan kasur putih.

"Puding? Ooo tidaaak!" Lelaki itu menggeleng dengan mata terpejam.

"Makanlah. Puding ini kiriman istrimu, Nak."

Istri? Siapa istriku?

Lelaki itu membuka matanya perlahan. Sangat perlahan. Tiba-tiba ia menggeleng. Ia ketakutan. Bukan, bukannya mendapati puding yang berbentuk, berukir, dan berwarna mawar. Tetapi... mendapati sekuntum mawar yang sudah mekar sempurna, setinggi tubuh orang dewasa, berdiri di samping ibunya.

"Ada apa, Nak?"

Lelaki itu beringsut menarik selimutnya, bersandar di kepala dipan. Tampak sekali ia memaksa memejamkan matanya. Kepalanya masih menggeleng. Wajahnya pucat.

"Takkah kau merinduinya? Sudah lama tak bertemu, bukan? Yah, Ibu mohon maaf kalau dulu tak menyetujui pernikahanmu. Tapi sekarang Ibu sudah merestuiya, Nak. Walaupun tak berhasil jua Ibu meyakinkan ayahmu dan saudara-saudara laki-lakimu itu." Wanita itu menatap putranya lekat-lekat. Membelai rambutnya, seolah ia adalah anak belasan tahun. "Semua bukan karena Ibu sudah bercerai dan tak satu pun saudaramu yang ingin ikut Ibu, tapi... ah, sudahlah, Nak. Ibu tahu, kau tak memerlukan restu binatang-binatang itu, bukan?"

Lelaki itu menggigil. Ia sungguh tidak mengerti dengan semuanya. Bahkan, ia pun tak tahu, apakah ia tengah bermimpi atau tidak. Kalaupun iya, alangkah panjangnya mimpi ini? Alangkah membingungkan dan menakutkannya mimpi ini? Atau... sebenarnya ia sudah mati. Seperti inikah alam sesudah hidup itu? Absurd, ganjil, aneh, asal-asalan. Tak ada sebab-akibat lagi! Sungguh, sungguh yang sebenar sungguh, lelaki itu sudah lelah dengan semuanya. Lelah yang sangat. Gila!!

"Mark, tolong tenangkan suamimu, ya," wanita itu menoleh pada sekuntum mawar raksasa di sampingnya, sebelum tersenyum tipis pada lelaki itu.

Aku suami dari Mark? Mawar raksasa itu? Mark-Mawar? Apa-apaan ini, Tuhan?

Mawar raksasa merapatkan kuntum hijau berdurinya pada lelaki itu, seolah-olah hendak memeluk lelaki itu, menenangkan suaminya.

Lelaki itu berteriak. Terus berteriak hingga tak ada lagi suara. Ia mempingsan-pingsankan diri. Memejam-mejamkan mata. Memaksa membunuh diri dan jiwanya dengan perasaan yang menghunjam-hunjam, yang tiada dipahaminya.

Para pasien lain dan orang-orang yang ada di sekitar ruang inap itu berkerumun di sana.

"Bukan salah kau, Mak."

"Lagi pula bukan kehendakmu tak pulang selama 20 tahun, kan, Mak?"

"Memangnya dia bisa merasakan susahnya mencari uang sebagai TKW!"

"Sudahlah, Mak. Tak ada dalam adat percintaan macam seperti itu."

"Bila anak bujangmu gila, mungkin itu balasannya, Mak."

"Sudahlah, Mak. Pulang saja. Anggap kau tak pernah beranak."

"Bukan!" bantahnya. Ia membelalak pada perempuan-perempuan yang seolah-olah peduli padanya dan anak lelakinya. Hampir saja ia tumpahkan beban yang menyesak itu. Namun ia bagai tersadar bahwa takkan ia katakan bahwa semua ini salah suaminya. Lelaki yang berulangkali menunggangi anak lelakinya yang kala itu masih belia di kebun mawar belakang rumah, ketika ia memeras keringat di Hong Kong. Perempuan itu mengutuk-ngutuk, sebelum menangis, meraung sejadi-jadinya, seperti orang gila.

Ada yang bersitatap; memastikan bahwa tak hanya ia sendiri yang berempati. Ada yang menunduk saja. Ada yang bermata-kaca. Tak ada yang berani menyanggah. Walaupun semuanya masih singup, namun mereka bagai dapat menyimpulkan; terlalu berat perkara itu untuk jadi bahan pergunjingan.... (*)

Lubuklinggau, Januari 2009 s.d. Januari 2010


-------
Benny Arnas, lahir di Ulak Surung, kampung di utara Lubuklinggau, 08 Mei 1983. Menekuni sastra pada 2008. Cerpen-cerpennya sudah tersebar di pelbagai media dan puluhan antologi. Tahun ini, ia juga diundang event sastra internasional Ubud Writers & Readers Festival 2010.



Lampung Post, Minggu, 4 Juli 2010

Sunday, April 4, 2010

Membunuh Shakespeare

Cerpen Benny Arnas


Julia, maafkan aku
baru kini aku kuasa memberitahumu
dalam kertas bergulung yang kurekat dengan
getah pohon mapel
sungguh, aku tak pernah mampu membuat puisi
-termasuk susunan kata-kata ini

yang mengantar surat ini
jauh lebih layak kaupanggil laki-laki puisi

cintailah Shakespeare sebagaimana
kau pasrah disetubuhi
puisi-puisinya:
sandiwara-sandiwaranya

(Romeo, sebelum dipaksa menenggak racun itu)

Kembali ke Masa Depan

Di meja kayu yang terbuat dari bonggol beringin, gadis dengan syal biru pastel itu menyeracau pada pemuda yang duduk di hadapannya. Ia geram karena pemuda itu tak ingin mengajaknya jalan-jalan. Padahal ia tak minta diantar ke mana-mana. Tidak ke Italia, Jepang, atau Amerika. Ia hanya ingin kembali ke kampungnya yang kini tak lagi bernama. Tak lama, perempuan itu menyiramkan jus terong belanda di gelas kristal bertiang setinggi telunjuk ke laki-laki itu. Mungkin ia terlalu kesal. Namun, ajaib, pemuda itu malah bersimpuh dan mengucapkan sesuatu yang sangat diatur lenggok bahasanya. Oh, jangan-jangan ia sedang merayu. Dan tampaknya berhasil. Wajah gadis itu tiba-tiba merah ceri. Tak lama, mereka sudah berjalan bergandengan. Menyusuri jalan setapak yang dipagari krisan kuning yang berbaris dekat batu apung yang diserakkan di kiri-kanan jalan.

Ketika mereka pergi, kudekati meja kayu tempat mereka berselisih tadi. Betapa takjubnya aku ketika tempat duduk laki-laki tadi tiba-tiba menggeliat. Tak lama, terdengar suara dari situ.

"Aku tahu, Julia. Kau ingin kembali ke masa depan demi menyongsong kenangan itu. Namun, adakah yang kuasa membawamu selain puisiku."

Ah, pasti kursi itu menyadur rayuan Romeo tadi.

Laki-Laki Puisi itu Bukan Kekasihnya

Gadis itu mencangkung di sudut kamarnya. Ia mengeret selimut sampai ke sana. Sebenarnya bukan langit yang berkrayon gelap yang membuatnya menggigil. Namun karena telah dapat ia bayangkan, sebentar lagi bumi akan kuyup. O bukan juga! Bukan perihal hujan. Mungkin petir yang menyambar-nyambar. Blitz yang kadang-kadang dicorongkannya pada orang-orang yang tengah melamun-ria. Dia trauma. Pada suara gelegar langit, pada muntahan laut, pada gemeretak tanah, pada kumparan angin.... Ayahnya disambar petir ketika tengah memetik kelapa muda untuknya. Ibunya digulung tsunami ketika menyusur pantai di selatan kota. Adiknya ditimbun reruntuhan menara kastil ketika gempa. Kakaknya digulung puyuh yang datang tiba-tiba di siang lengang.

"Kenyataan pahit memang berserakan dalam hidupku. Namun, adakah yang mampu meluruhkan rindu?" katanya suatu waktu.

Tak lama, seorang laki-laki mengetuk pintu. Ia hampir saja melonjak kegirangan bila tak segera menyadari bahwa yang datang adalah bukanlah yang dinanti-nantikannya. Namun, ia tak ingin menampakkan keterkejutan. Gegas ia memeluk laki-laki itu. Menangis tersedu-sedan di balik punggungnya.

"Ada apa, Sayang? Mana satpam? Mana pembantu-pembantumu?"

Gadis itu masih menangis.

"Oh, keparat! Mereka makan gaji buta saja!"

Tangis itu makin pilu.

"Aku tahu cuaca sangat tak bersahabat. Namun, keinginanku untuk menghadiahimu sebuah puisi membuat semuanya tak berarti, Sayang." Laki-laki itu merenggangkan pelukan. Ia tatap mata perempuan itu lekat-lekat. "Sudahlah. Aku sudah membawa puisi untukmu...." Laki-laki itu menyeka air mata si gadis. Di tangan kirinya sebuah gulungan kertas digengam erat.

"Mengapa kau yang ke sini, Shakespear?" tanya gadis itu lirih, hampir tak terdengar.

"Maksudmu? Kau lebih mengharapkan Romeo?" Laki-laki itu mengernyitkan dahi. "Kau harus tahu, akulah yang membuat semua puisinya!"

"O ya?" Gadis itu mendongak dengan wajah diseri-serikan (ah, aktingnya begitu sempurna). "Kalau begitu, aku alihkan rindu itu padamu." Mata celik itu berbinar. "Takkan ada yang mengalahkan rinduku ini."

"Ya. Tapi, mengapa kau memertanyakan kepulanganku, Julia? Bukankah kau telah mendapatiku di sini?"

"Aku memang mendapatkanmu, tapi...." Gadis itu bagai bergumam.

Tiba-tiba laki-laki itu terhenyak. Gulungan kertas di tangannya terjatuh. Terdengar bunyi senak dari kerongkongan.

Gadis itu berbalik arah. Membuka pintu. Menerobos hujan yang bergumul dengan halilintar.

"Tapi kau telah membuatku kehilangan rindu itu...." Kali ini ia bercakap pada langit yang marah.

Telah Seberapa Kuyup Kau oleh Puisiku?

Aku akan datang kelak, gumam laki-laki itu.

Pada malam yang sangat dulu, gadis yang hendak ia sunting itu ditelan hujan lagi. Ia tahu sekali. Ya, dulu, Julia takluk oleh hujan yang ia guyur dalam kata-kata.

Awalnya adalah mendung. Lalu rinai. Deras. Hujan pun makin rimbun. Renyai. Ia ingat sekali. Kala itu Julia menelepon. Gadis itu mengungkapkan betapa ia merindukan laki-laki puisi. Ia ingin pemuda itu membacakan beberapa puisi untuknya.

Laki-laki itu tahu betapa bengkak tagihan telepon yang akan dibayar bila ia penuhi permintaan itu. Maka, ia merubah suaranya se-Romeo mungkin.

"Tutup telepon ini, Sayang. Keluarlah. Hitung hujan satu-satu. Lalu, ceritakan padaku. Telah seberapa kuyup engkau oleh puisiku...."

Bakda itu, gadis itu tak pernah menghubunginya lagi.

Laki-laki itu tak pernah tahu kalau Julia terus memintal rindu. Berhelai-helai rindu. Lalu menjahitnya. Kadang memayetnya di beberapa bagian. Setiap hari ia selalu mengenakannya.

Gadis itu ketakutan sendiri bila hujan turun. Ya, itu pertanda Romeo akan menyerangnya dengan puisi yang bertubi-tubi. Namun, itu tak akan pernah menamatkan rindunya. Hingga, Romeo menelepon bahwa ia akan pulang. Ia bilang akan melucuti pakaiannya di malam pertama perjumpaan mereka setelah hampir setahun tak bertemu. Dan gadis itu merasa kematian akan segera menyambanginya. Hayat rindunya akan segera khatam.

"Oh, takkan ada yang boleh mencurinya, merebutnya, apalagi melepas rindu itu dari tubuh yang sudah bersekutu dengan waktu."

Pelukan Berdarah

Mereka bilang: ketika puisi dihadiahkan, maka penulisnya tak ada lagi. Namun, sepertinya tak berlaku bagi Romeo. Ya, bila Julia mengeja larik yang bertipografi itu, tiba-tiba lidahnya mati. Ia tak menemukan kata-kata di sana, selain wajah seseorang yang melemparnya ke masa lalu. Maka, gegas ia berharap agar hari ini bumi tak lagi mandi. Namun, permintaannya tertolak. Hujan menggila. Merajam bumi tak alang kepalang. Suara seng berkereokan. Ia mencangkung di sudut kamar. Selimut yang dieretnya dari ranjang, menutupi kakinya hingga sebatas lutut.

Ia tangkupkan kedua tangannya di kaca jendela yang mulai berkabut. Ia tatap jalan setapak yang meliuk di taman krisan dekat rumah. Meja bonggol-beringin itu sudah berlubang di sana-sini. Entah, ia bagai mendapati gelas kristal yang dulu pernah ia tinggalkan di sana, kini bertengger dekat salah satu kaki kursi yang terbuat dari anyaman damar yang sudah mencokelat. Ia serta merta mundur beberapa langkah ketika kilat tiba-tiba menyilaukan pandangan.

Pintu diketuk. Ia sibakkan gorden. Ia ambil sebilah pisau di dapur. Ia selipkan di pinggangnya. Ia gegas menyambut laki-laki itu. Laki-laki puisi, itu yang dia harapkan datang.

....

Ia peluk laki-laki itu. Erat sekali. Ia menangis. Menangis karena rindu tak tertanggungkan. Rindu tak tepermanai. Ia ingat sekali, bakda diboyong dari taman krisan satu tahun lalu, ia dikurung olehnya, laki-laki puisi palsu itu. Anehnya laki-laki itu meninggalkan nomor telepon Romeo untuknya.

"Aku dapat saja memisahkan kalian, namun cinta adalah keajaiban yang tak boleh dihentikan, bukan?" Ia terbahak-bahak seraya memberi kode agar para pengawalnya menyeret Romeo keluar.

O ya, laki-laki itu juga membayar para profesional untuk mengawasi dan memenuhi kebutuhan Julia. Dari satpam, tukang antar makanan, tukang cuci, hingga tukang rias. Dan kemarin, telah ia kirim semua orang bayaran itu bertamasya ke langit. Ia benar-benar yakin, hari ini mereka menangis hingga awan tak kuasa menampung air mata mereka. Ya, mereka hendak mengadu pada sang tuan yang kini dipeluknya.

Tak lama, Julia merenggangkan pelukan. Setelah bercakap sedikit, mata laki-laki itu membelalak. Terhenyak. Sebilah pisau telah tertancap di dadanya yang tak bidang itu.

Perempuan itu pergi. Menerobos hujan. Merayakan kematian Shakespear. Merayakan rindu yang takkan pernah mati.

Percakapan di Liang Lahat

Oh, bila kejadian ini disaksikan oleh orang-orang yang memuja mereka, pasti banyak yang terhenyak.

Bukan! Bukan karena Julia memaki-maki Romeo yang membawa setangkai bunga matahari. Bukan pula karena terlampau kasar cercaannya. Tapi.... Ah, nantilah kalian akan tahu sendiri. Ini adalah satu dari cerita yang tak pernah diumumkan.

Ialah ketika pemuda itu menanyakan mengapa Julia tak membalas puisi yang dikirimnya malam itu. Julia balik bertanya, bukahkah Shakespearlah yang menulis semuanya.

"Apalagi ia juga yang mengantarnya," lanjutnya. "Takkah kau tahu betapa aku membenci Shakespear, hah?! Aku benar-benar lelah terus berpura-pura mencintaimu, Romeo."

"Berpura-pura?"

"Ya. Kupikir kaulah laki-laki puisi itu." Julia melipat kedua tangannya di dada.

"Shakespeare juga telah meracuniku sebelumnya, Julia," wajah Romeo itu tiba-tiba sayu.

"Dan si tua bangka itu telah terlebih dahulu berkoar pada dunia, bahwa kita mati karena cinta yang sejati, sehidup semati!" Dada Julia turun naik meredam sesak.

"Malam itu," bibir Romeo bergetar, "Aku hanya ingin berbagi, Julia. Dan aku tak cukup lelaki untuk mengutarakannya tanpa basa-basi. Ya, aku berharap, puisi tak membuatku lemah sebagai kekasih."

"Ja... ja... ja... di," Julia gagu, "Benar puisi itu kau yang menulisnya, Romeo?"

Romeo mengangguk. "Tapi aku tak layak menjadi laki-laki puisi sebagaimana kau bayangkan."

Hening.

"Malam itu, Shakespear memintaku menulis puisi untukmu. Hanya puisi yang malam itu. Selebihnya karya Shakespear." Romeo jujur. "Yang menyambut teleponmu di malam ketika kau merinduiku, pun Shakespeare..." Romeo tertunduk.

"Sudahlah. Kalaupun kau benar mencintaiku, tak demikian dengan aku. Mungkin bila kita diberi waktu hidup lebih lama, dunia akan tahu bahwa kita hanya diperbudak pengarang hebat itu untuk saling memuja."(*)

Lubuklinggau, 09 Februari 2010


------------
Benny Arnas, lahir di Ulak Surung, kampung di utara Lubuklinggau, 08 Mei 1983. Meraih Anugerah Sastra Batanghari Sembilan 2009.


Lampung Post, Minggu, 4 April 2010