Showing posts with label Indrian Koto. Show all posts
Showing posts with label Indrian Koto. Show all posts

Sunday, September 23, 2012

Lampu Merah

Cerpen Indrian Koto


HARUSNYA aku berbelok ke kiri saja begitu melewati lampu merah di pertigaan jalan tadi. Mengambil arah kiri akan lebih dekat sampai ke rumah, tapi sewaktu-waktu ada razia—kadang sampai jauh malam. Berbahaya buatku yang tak memiliki surat-surat kendaraan yang lengkap. Aku memilih memacu motor lurus ke depan. Menjelang perempatan, jalanan tampak kosong. Gerimis jatuh satu-satu. Toko-toko yang kulewati sudah dari tadi tutup. Rasanya aku seperti melewati kota yang sudah lama ditinggalkan.

Di ujung jalan, aku dihadang lampu lalu lintas yang menyala merah. Aku berniat menerobos kalau saja kendaraan dari arah kiri tidak menyerobot duluan. Aku menarik resleting jaket, gerimis membuat tubuhku basah. Di motor tak ada mantel hujan. Rasanya sangat konyol jika harus berhenti dan berteduh. Ini hanya gerimis saja. Lagi pula terlalu sepi di sini, hanya ada bekas sawah yang dikeringkan dengan papan pengumuman: dijual. Di sebelah yang lain berdiri kantor pemerintahan yang memiliki pagar tinggi.

118, 117, aku membaca penunjuk angka di samping lampu merah. Di waktu-waktu tertentu petunjuk itu sering kacau. Dan ini sungguh-sungguh sangat lama bagiku. Satu-satunya cara menunggu yang tidak membosankan adalah ikut menghitung mundur angka itu. Aku menghitung dalam hati lebih pelan dari gerakan angka yang terpasang di atas tiang lampu. Itu cukup mengurangi waktu.

Aku mulai menghitung mundur dalam hati. 112, 111, 110...

Aku menengok ke samping. Seorang gadis di atas motor matic-nya berada beberapa senti di sampingku. Ia menatap lurus ke depan dengan perasaan yang begitu tenang. Kaki kanannya yang diturunkan ke jalanan yang mulai basah, bergoyang ringan, membuat daging-daging kakinya ikut bergetar. Kaki semampai yang terbuka itu berkilau dihantam gerimis.

Aku bisa mencium aroma parfumnya lamat-lamat. Aku memperhatikan sekeliling. Cuma ada kendaraan kami. Kenapa dia sendirian malam-malam? Kenapa ia berada sedekat ini denganku? Apa dia tidak takut kalau aku menggoda dan berniat buruk padanya? Atau berada di sampingku cukup aman baginya jika ada pengendara lain yang berniat iseng? Jarak kami cukup rapat, setang motorku nyaris beradu dengan pegangan jari tangannya. Hanya dia agak sedikit maju beberapa senti dan itu cukup menguntungkan. Aku bisa menatapnya dengan bebas, memperhatikan dia keseluruhan. Sementara jika dia ingin memandangku, ia harus memutar kepala sedikit ke belakang. Rambutnya yang lurus dan hitam menyembul dari helmnya. Bentuknya mungkin tak jauh beda dengan rambut anak muda lainnya, berponi dan lurus-panjang di bagian belakang. Butiran gerimis membentuk bulatan-bulatan kecil di sekujur helmnya yang hitam. Ia memakai kaos putih yang penuh dengan tubuhnya yang tinggi semampai. Celana dalam menyembul dari bawah kaos dan celana pendek cokelat sepaha yang dikenakannya.

Aku bisa menelanjangi dirinya dari sini. Melihat garis kutang yang dipakai, kulit punggungnya yang kuning terpampang lebih transparans karena cahaya dan butiran gerimis yang menimpanya. Aku bisa dengan bebas melihat kulit pahanya yang padat-kenyal. Menyusuri lututnya yang bersih, betisnya yang ramping, tumitnya yang bersih, hingga ujung-ujung jarinya yang menyembul dari balik sandal karet yang dikenakan. Ia berdandan seperti tanpa berdandan.

Sekejap, mata kami bertemu. Dan sumpah, aku gugup setengah mati. Seketika aku mengalihkan pandangan ke penghitung waktu. 73, 72, 70, 69... Astaga, rasanya cepat sekali waktu ini bergerak.

Seandainya aku mengenalnya, tentu akan ada percakapan yang bisa saya mulai. Dia pasti akan membalas dengan antusias pembicaraan pembuka itu, mengingat dari bentuk wajah dan garis bibirnya, dia bukanlah gadis yang pendiam dan pemalu, namun juga tidak termasuk tipe perempuan yang cerewet dan judes. Mungkin aku akan bertanya apakah dia merasa dingin karena hujan dan angin malam. Kalau dia mau aku akan membuka jaket, membiarkan dia memakainya, membuat bau kami saling bercampur. Besok, aku punya alasan untuk berkunjung. Puncak hidungnya terlihat merah, ah, pasti dia tidak terbiasa dengan gerimis dan angin malam. Aku yakin di rumah nanti dia akan diserang flu habis-habisan.

Bibir tipisnya melengkung datar. Bagian atasnya lebih tinggi atau bibir bawahnya yang agak sedikit mundur ke belakang. Dan itu membuat dagunya sedikit melengkung, meninggalkan bentuk pecahan pada ujungnya. Aku tak tahu di tahun-tahun belakangan apakah kecantikan masih bisa dilihat dari bentuk dagu dan garis bibir. Rambut berponi, kaos putih ketat dan celana sepaha seperti dikenakan gadis ini membuat perempuan terlihat sama di mataku. Belum lagi anting yang terpasang di hidung, dagu, bibir, lidah dan pusar menambah-nambah nilai keseksian seorang wanita. Tapi gadis ini lebih menarik. Alisnya tebal dan sudutnya terlihat begitu tajam. Aku mencoba meyakinkan bahwa gadis di sampingku ini memiliki kecantikan yang alamiah. Sudah ada begitu saja sebelum produk-produk sialan itu memaksakan kehendak mereka.

Aku berharap kami bisa saling mengenal. Bertukar nomor ponsel atau alamat facebook. Kukira akan menarik, aku bisa melihat koleksi fotonya yang pasti banyak dan tidak dibikin amatir, misalnya dengan mengarahkan kamera dengan tangan kanan dan mengacungkan dua jari kiri di depan wajah yang memasang senyum cerah. Mungkin dia mahasiswi di unversitas, institut jika bukan sekolah tinggi, atau akademi yang tersebar di kota ini. Di kampus, kawan-kawan fotografinya—hampir di setiap kampus selalu ada komunitas ini—tentu akan memintanya menjadi model mereka. Atau jika ia bekerja di salah satu distro, cafĂ© atau coffee shop dan aku tetap yakin dia menyimpan foto-foto yang lebih matang.

Apakah aku akan menyapanya? Bagaimana jika dia tidak merespons? Sementara kendaraan dari arah depan terus melaju lurus dan ke arah kiri kami. Tak ada celah untuk lari. Tapi kupikir dia tak sejahat itu. Aku tak akan menolak untuk mengantarnya sampai ke rumah atau tempat kosnya. Harus benar-benar yakin ia sampai dengan selamat. aku akan dengan senang hati membikinkan dia jeruk atau jahe hangat. Aku khawatir, kota ini sudah mulai tak aman. Hampir setiap malam mulai ada pencurian dan perampokan. Seseorang bisa saja kehilangan barang berharganya di tengah jalan. Laptop atau dompet, tas kecil atau bungkusan di gantungan motor. Belum lagi isu pembacokan di jalan-jalan. Beruntunglah gadis ini tak membawa apa-apa. Tapi penampilan dan kecantikan yang tak bisa dilepaskan, akan mengundang kejahatan lain yang tentu lebih menakutkan. Aku pernah mendengar cerita seorang anak kos yang kelaparan di tengah malam minta diantar membeli gudeg pada tukang ojek. Gadis itu diperkosa, dan ditinggalkan telanjang di tengah malam. Aku juga punya teman yang masuk rumah sakit karena dipukuli gara-gara perampok tertarik pada tas kecilnya yang hanya berisi sikat gigi. laptop tetangga kosku yang hilang ketika kamar kosong ditinggal salat jumat. Kasus pencurian, penodongan, kehilangan, pembunuhan, intimidasi bagi mahasiswa di kota yang dulu aman-tentram ini, berebut tempat di dua koran kriminal yang bersaing di kotaku.

42, 41, 40. Sialan, pikiranku sudah melantur ke mana-mana. Aku menengok ke belakang, masih belum ada kendaraan lain. Hanya kami, dua kendaraan saja. Gerimis terasa semakin deras. Tapi aku kehilangan rasa dingin dalam sekejap.

Dia menatapku dengan ekor matanya. Apakah aku harus menyapanya? Menanyakan dari mana dan hendak ke mana? Jika dia mau meladeniku tentu amat menyenangkan perjalanan ini. Tapi jika tidak, betapa menyiksanya. Aku tak akan kuat menanggung malu dan berada di bawah lampu yang masih berwarna merah ini. Atau jangan-jangan dia akan ketakutan dan segera memutar ke kiri jalan. Mungkin perjalanannya menjadi tambah jauh, tapi setidaknya dia merasa aman.

34, 33.... Sial! Aku merasa waktu seperti berlari di hadapanku kini.

Di tengah malam begini, di bawah lampu yang menyala merah, gerimis pula, dan tak seorang pun ada di antrean selain kami. Gadis mana yang mau meladeni seorang lelaki yang tak lagi muda ini?

Kupikir dia mungkin saja terlambat pulang dari tempat kerja atau baru dari tempat temannya. Bisa jadi dia baru saja mengantarkan kenalannya ke stasiun, terminal atau penginapan. Mungkin ia habis nongkrong dengan temannya di pusat kota atau kedai kopi. Atau mungkin saja dia hendak atau habis dari tempat kekasihnya. Apakah dia sudah punya pacar? Keterlaluan sekali laki-laki itu yang membiarkan gadisnya berkendaraan malam-malam, hujan, dingin, dan tentu tidak aman.

28, 27... waktu benar-benar berlari. Apakah aku perlu menyapanya sekarang? Beberapa kali mata kami bertemu. Mimik wajahnya tak berubah. Ia tetap tenang dan santai. Ia tidak berekspresi berlebihan. Sesekali kakinya masih bergoyang, menggetarkan semua daging yang bergelayut di tubuhnya. Apakah ia sedang bahagia? Kalau pun dia bersedih, dengan wajah yang sekarang, tak satu pun orang yang tahu kesedihannya.

Gerimis masih turun. Kulihat ia menyeka wajah seperti yang baru saja kulakukan. Dan aku melihatnya seperti gadis yang baru bangun dari tidur. Dia kembali melirik dan mata kami bertemu untuk ke sekian kalinya. Gila, aku tak kuat untuk tak menghindar. Aku membaca penghitung waktu. 16, 15... Aku tahu dia mengamatiku dengan seksama.

Jika saja ada perubahan emosi dari wajahnya, aku akan segera menyapanya. Dan hap! Pandangan kami kembali beradu. Mungkin aku berkeringat, tapi beruntung malam dan gerimis telah meleburkan semuanya.

9, 8... sebentar lagi kami akan melewati jalan yang sama. Bergerak lurus ke depan dan menghadapi lampu merah yang tak terlalu lama dari yang sekarang. Kami mungkin akan segera berpisah, di depan, jalanan yang lebih besar menghadang. Puluhan atau mungkin ratusan kendaraan akan memisahkan kami, perempatan dan pertigaan jalan akan membuat kami tak akan pernah saling mengenal. Bisa jadi kami tinggal di daerah yang sama, kemungkinan untuk bertemu hanya satu dibanding seribu. Ini perpisahan yang menyedihkan buatku.

Kota ini penuh lampu merah dan sangat tidak beraturan. Tak jauh di depan sana, akan ada lampu merah lagi. Mungkin arah kami sama atau berpisah di sebuah pertigaan atau perempatan. Bisa saja kami akan mengendarai motor dengan pelan, menikmati hujan dengan tubuh yang terlanjur basah ini. Atau berhenti di sebuah kedai kecil, atau angkringan lalu memesan teh hangat atau jahe. Tapi rencana yang terakhir ini kukira terlalu berlebihan.

Apa rasanya berjalan dengan perempuan berusia belasan tahun bagi lelaki yang sudah berusia tiga puluh dua?

Suara klakson di belakang cukup mengagetkan. Dengan spontan aku menarik gas dengan kecepatan tertentu. Astaga, belum hijau. Pengendara lain pasti sedang iseng dan berniat mengerjai. Untung aku belum melewati marka jalan. Sialan, sudah sejak kapan ada kendaraan lain di antara kami? Aku melihat gadis itu tersenyum. Tentu tingkahku terlihat lucu baginya. Ini pertanda baik untukku memulai percakapan di lampu merah di depan sana, kalau dia mau.

Masih dua detik lagi. Aku berada beberapa senti di depannya. Dia bisa menatapku lebih bebas. Ini membuatku panas dingin karena aku tak mungkin berani menoleh ke belakang. Lalu dengan satu gerakan dia melaju. Lalu suara klakson di belakang yang seperti memaki dan mengejekku.

Aku melewati dia yang memacu kendaraan dengan tenang dan terjaga. Gerimis masih jatuh. Dari spion aku melihat dia tak jauh di belakangku. Sebentar lagi perempatan. Aku sudah bisa melihat lampu hijau di sana menyala. Aku sengaja memperlambat laju kendaraan, berharap dia akan melakukannya pula dengan spontan. Aku ingin kami terjebak untuk kedua kalinya di lampu merah. Dia mengikuti gerak kendaraanku, tidak mencoba mendahului. Ayo merah, merah...

Dia masih berada di belakangku. Sebelum kami sampai di perempatan, lampu berwarna kuning. Yup, kami akan sama-sama terjebak lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa berhutang budi dengan lampu merah. Tapi sebelum warna kuning berubah merah, dia menyerbu lebih dulu, membunyikan klakson dan melaju seperti kilat. Aku memundurkan gigi motor sebelum mengejarnya. Tapi kendaraan dari arah kiri sudah lebih dulu menyerbu. Aku hanya bisa menatap gadis cantik itu menghilang di seberang jalan lalu tenggelam bersama malam.

Rasanya 90 detik di bawah lampu merah akan sangat menyiksa. n

Yogyakarta, Februari 2010—April 2011


Lampung Post, Minggu, 23 September 2012

Sunday, March 25, 2012

Berangkatlah di Hari Selasa

Cerpen Indrian Koto


BEGITULAH. Inis yang sudah lama menghilang kini kembali ke rumah. Semua orang meributkan kejadian itu. Kedatangan dan kepergiannya sungguh jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Dulu ia pergi dengan keadaan paling murung dan dikutuk banyak orang: melompat jendela, di hari Selasa, di tengah malam pula. Kini dia pulang dengan kesempurnaan seorang wanita. Cantik dan kaya.

"Berubah sekali dia tampaknya. Jengatnya putih berkilat, gelang dan kalung bergelantungan di badannya. Senang benar tampaknya hidup dia," kata Mak Tando pagi itu di kedai Guru Abek sambil mengunyah lontong gulai cubadak. Lepau itu tampak ramai sepagi ini, oleh orang tua dan gadis muda.

"Tak itu saja, Mak Tando. Kulitnya berminyak, bajunya bagus-bagus. Awak melihat benar dari dekat, dan bercakap-cakap barang sekejap," ujar Tek Sidar tak mau kalah.

"Iyalah, jadi orang dia tampaknya. Tidak serupa anak gadis kita, yang kusut dan tampak hitam. Berpanas setiap hari. Aih, kulitnya tiada berdaki, mukanya bersih berkilat, tidak serupa kita yang dipenuhi bintik hitam dan jerawat batu meskipun sudah pakai bedak beras," Ijui menyahut pula dari sebelah.

"Entah rantau mana yang dia tuju sehingga bisa hidup sesenang itu," kata Mak Tando, sambil meletakkan piring makannya. Bersendawa besar dan segera meraih gelas minum.

"Itu yang belum sempat awak tanyakan. Bertemunya sebentar saja awak dengannya, kemarin pagi, ketika awak hendak ke mengatur air di sawah Munggu." Tek Sidar mengusap mulut, menggigit kerupuk merah yang berderuk. "Awak cuma bertanya, 'Kapan datang, Nak Gadis?' dia menjawab sambil tersenyum, berseri-seri muka dia. 'Tek Sidar, ya? Baru semalam' begitu jawabnya. Masih ingat jua dia dengan orang gaek ni. 'Ah, tidak akan lupa awak do, Tek' katanya pula. Lalu dia bertanya soal anak-anakku. Ya kubilang saja apa adanya 'Nde Nak, oi. Si Igus sudah beranak dua, Nan Tina alah meranda, Osep dan Kudil di Malaysia, mengekas mencari beras. Si Andi sudah tak tahu ke mana, hilang lenyap di rantau orang. Sangsai, Nak oi. Sangsai' begitu kata awak. Nan dia tersenyum saja dan menyuruh awak bersabar saja."

Selesai bercerita, Tek Sidar kembali mengunyah sisa lontongnya, lalu memesan bubur pulut hitam. "Pakai lupi," Katanya pada Empol yang sibuk di belakang meja.

Idek mendengus. "Tapi, bagaimana pun dia pernah berbuat salah," katanya. Semua perempuan yang ada di lepau itu terdiam sejenak. Ingatan mereka mundur ke belakang, beberapa tahun yang lalu.

"Ah.. apa yang dikerjakan di rantau coba sehingga bisa tampak sesenang itu. Siapa pula yang tidak mencoba merantau di kampung ini, tak ada yang tampak serupa dia. Masa merantau dengan ijazah SMA saja bisa pulang dengan emas sebanyak itu. Negeri mana malah yang dia pijak?" Idek kembali mencerocos. Semua orang diam mendengarkan. "Tak ada yang tahu bukan, ke mana dia menghilang lima tahun ini? Dan apa kerjanya di rantau orang?"

"Benar itu," Ijai menyahut dari seberang meja. "Anak gadis merantau sendiri, tak lazim pula tanah yang dia pijak. Entah di negeri mana malah dia berdiam."

Warung kecil yang terdiri dari pondok di depan rumah Guru Abek itu mendadak sepi. Para perempuan yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri juga beberapa anak sekolah memenuhi pondok kecil itu yang terletak di bawah pohon jambu air besar yang daunnya bertebaran di musim panas begini. Di seberang, di bengkel Sibe, Epen tampak memutar-mutar mesin dinamo. Sepagi ini tangannya sudah hitam oleh oli dan gomok. Di jalan, beberapa anak sekolah berjalan agak ke pinggir. Beberapa remaja SMP dan SMA bergerombol di depan pagar, menanti oto yang akan mengangkut mereka ke sekolah masing-masing. Beberapa oto tambang balai berhenti di depan mereka, sebagian masih tampak kosong, tapi tak satu pun dari mereka bergerak.

"Ndak, Da. Nanti saja," jawab mereka setiap kali oto berhenti.

Selalu seperti itu, mereka menunggu angkutan yang lebih bagus, yang mesinnya masih halus, catnya belum menggelupas.

"Belum juga berangkat, Kau," pekik Ni Janah pada anak gadisnya yang memakai seragam SMP.

"Amak ini. Nantilah. Menunggu oto Uda Ijal."

Begitulah setiap pagi, kampung kecil itu telah berdenyut jauh sebelum embun pecah dan kabut terbuka. Subuh, mereka, para ibu dan anak gadisnya bersitungkin di dapur, merebus air, menghangatkan gulai semalam, memasak nasi, mencuci piring. Anak gadis memilih jalan aman, menyapu halaman. Ketika matahari baru tumbuh di balik Bukit Timbulun, laki mereka sudah bangun. Dengan sarung melilit mereka menyerbu kamar mandi. Segera segelas kopi terhidang di atas meja. Setelah itu anak-anak berebut mandi, siap-siap hendak sekolah. Si ibu menyerbu warung, membeli sabun dan keperluan dapur lalu masuk ke kedai lontong.

Pagi sepenuhnya milik perempuan. Laki-laki cukup menikmati segelas kopi dan beberapa potong kue yang dijajakan anak-anak sebelum berangkat ke sekolah, atau dibeli sang istri dari warung. Selalu tersedia godok kalau tidak onde-onde ubi, kue tepung tapai, kue talam, goreng pisang, ubi atau talas. Ritual pagi sebelum mereka menyantap nasi dan berhembus ke sawah dan ke ladang.

"Siapa yang bisa tahu kerjanya dia?" Suara Idek membuyarkan lamunan penghuni lapau kecil itu.

"Coba bayangkan, di negeri mana yang bisa membuat orang sesenang itu. Lihat dia, tinggi terurus, bersih dan ramping. Kesenangan terpancar benar dari wajahnya. Banyak pula uangnya. Tentu kerjanya bersenang-senang saja. Nah, kita tahu belaka, kata amaknya, Etek Rainas, dia belum juga berlaki. Lalu duit dari mana pula dia dapat? Dan usia setua itu belum berlaki? Tak percaya awak." Ketus terdengar suaranya.

"Ho.. lihat saja pantatnya sudah kempes. Siapa yang ngasih uang pada dia untuk makan dan bersenang-senang kalau dia tidak...," Ijai menjawab sambil mengusap bibirnya yang merah oleh gincu, sebagian lengket di tangan. Dia tak melanjutkan kata-katanya, memandang orang sekeliling.

"Melonte. Tentu saja melonte." Suara Idek terdengar keras, sampai ke pinggir jalan, di mana para remaja masih bersitungkin menunggu mobil. Terdengar ke telinga Epen yang sedang memutar mesin dinamo.

***

INIS bukan tak tahu percakapan itu. Jauh sebelum kepulangannya kini, sudah dia duga kemungkinan-kemungkinan itu. Ia paham belaka bagaimana orang-orang di kampungnya mempercakapkan siapa saja, menyingkap aib siapa saja. "Mobil yang mendaki, mereka yang sesak napas," begitu kata Amaknya berkata ketika dia pulang. "Tapi ndak usahlah diambil hati. Memang sudah begini perangai orang kita. Kita yang mengalami peristiwa baik-buruk, orang lain jualah yang meributkannya."

Dan dia, dengan keberangkatan yang tidak wajar telah membuat aib keluarga itu serupa tak selesai-selesai. Kepergiannya di sebuah malam, di hari Selasa dengan melompati jendela telah membuat orang ribut dan menganggap tindakannya sudah keterlaluan.

Jika kini banyak orang mempercakapkannya dengan segala kebaikan dan keburukan dia tak lagi merisaukannya. Kampungnya, di mana hamparan sawah, gunung, dan pantai yang memanjang, serupa nasib orang-orang: retak di musim kemarau, bocor di musim hujan. Sawah tak lagi menjanjikan, bukit-bukit terbakar, ladang dibiarkan menjadi hutan. Waktu lebih banyak dihabiskan para ibu dan anak gadisnya di beranda, mencari kutu dan bercakap ini-itu. Kampung makin lengang, anak muda mencoba mengadu nasib ke negeri orang. Kepulangan tak membawa perubahan apa-apa. Jalan makin lengang, warung kopi hanya diisi oleh gerutuan-gerutuan dan obrolan-obrolan ringan, sebentuk kekalahan laki-laki di sawah-ladang. Laut tak pula bisa diharapkan. Debu berterbangan sepanjang siang.

Di musim-musim seperti itu Inis pulang, saat di mana orang-orang merayakan kekalahan gemilang. Kampung serupa penjara kecil saja. Dalam keadaan serupa itu, ia bisa membangunkan rumah buat keluarganya. Rumah yang sudah lama doyong dan lapuk. Sebagai anak tertua dia merasa berkewajiban membantu keluarganya. Tiga orang adiknya kali ini bisa memperlihatkan muka di depan banyak orang. Rumah mereka sudah berlistrik, motor bebek terparkir di depan rumah yang sepenuhnya baru: rumah batu beratap tinggi, lantai keramik, membuat siapa saja betah berteduh di sana.

Orang-orang kini tak lagi perlu bertanya apa yang dikerjakan di rantau orang. Hampir tak ada yang mempercakapkan lagi bagaimana dia bisa tidak terkena tulah oleh sikap nekat dan keterlaluannya dulu, yang pergi diam-diam dan tak layak dilakukan oleh seorang anak gadis: melompat jendela di malam buta, di hari Selasa pula. Selasa adalah hari api, tak baik melakukan perjalanan. Tapi Inis, dengan kenekatannya, dalam waktu beberapa tahun saja mampu memperlihatkan kepada orang sekampungnya, tak ada bala, tak ada apa-apa yang buruk terjadi padanya.

"Untung kau tidak menerima pinangan Epen dulu, Nak. Bakalan sengsara kau," bisik Mak Tando padanya. Hampir sepanjang siang rumahnya dipenuhi ibu-ibu sekadar berbincang dan numpang berteduh di beranda yang dingin itu.

"Kenapa memangnya, Tek?"

"Wah.. lihat saja dia sekarang. Kapalnya habis terjual. Usaha kayunya tak jalan-jalan. Usaha penjualan terinya pun mengambang di tengah jalan. Kau lihat dia sekarang, orang kaya itu terlunta-lunta, menumpang kerja di tempat orang. Tiap hari tangannya bergomok, sepanjang siang membongkar dinamo dan mesin-mesin. Di sini Nak, hidup selalu menurun, tak pernah mendaki..."

Inis menarik napas. Ia ingat betul, keluarga Epen adalah orang kaya. Dia yang berkuasa atas teri dan ikan asin di pelabuhan batang Surantih. Dia punya kapal penangkap ikan, semua kini habis terjual.

"Orang kaya ternyata punya utang banyak pula. Seperti kita juga." Balas Mak Itam sambil mengunyah sirih.

Tapi itu pula yang mencemaskannya. Kepulangannya kali ini hanyalah untuk menengok sang ibu yang sering sakit-sakitan dan sekadar melepas kerinduan. Tapi kepulangan ini pula yang membuatnya berat hati. Orang-orang semakin banyak berkeluh padanya. Orang tua tentang anak gadisnya, para dara yang mempercakapkan nasibnya. Kesimpulan dari itu semua adalah keinginan mereka mengikuti jejak Inis ke tanah rantau. Ke tanah lain yang tak terpikirkan oleh orang-orang, kecuali untuk melanjutkan sekolah. Tanah Jawa, negeri sendiri tetapi begitu asing di telinga.

"Bagaimana pula mencari kerja di sana. Sedang mereka berbondong-bondong datang ke sini, ke tempat terpencil dan tak tersentuh cangkul." Kalimat Epen itu masih terngiang di telinganya ketika dia mencoba mendekati Inis.

"Siapa tahu, Da. Siapa tahu awak bisa mengadu untung ke sana. Belum terniat awak menikah," elaknya.

"Apalagi yang kau pikir. Kalau kita sudah berkeluarga, tentu keluargamu tak morat-marit macam begini. Adik-adikmu bisa sekolah, dan amakmu tak perlu lagi jualan sayur ke pasar. Semua sudah ada. Semua sudah tersedia."

"Tapi awak ingin merubah nasib dengan tangan sendiri, Da. Awak masih muda."

Itu yang membuat Epen sakit hati. Alasan masih muda terasa tidak pantas didengarkan di sini. Kawan-kawan seusianya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Dia sudah tamat SMA dan sudah setahun pula menganggur. Tapi dasar dia keras kepala. Kenekatan itu pula yang membuatnya pergi jauh-jauh. Ke rantau, tempat di mana tak ada orang-orang kampung dan dikenal.

Kini, mata semua orang berharap padanya. Ingin mencoba peruntungan yang sama. Malaysia, tanah seberang sudah lama tak menjanjikan. Ringgit yang terkumpul tidak bertuah. Mereka yang berangkat hanya memperkaya para calo saja, dan ketakutan membantai mereka sepanjang hari. Pengusiran sepanjang waktu menguntit mereka. Pendatang haram, ah, tahulah bagaimana nasibnya.

Dan dia mendengar keluhan sepanjang hari dari mereka, para gadis dan orang tua tentang nasib mereka dan anaknya. Inis semakin gamang saja. Sepanjang waktu ini mereka tak lagi bertanya apa pekerjaannya Jakarta sana. Mereka tak lagi soal apakah hanya sekadar menjaga restoran padang, tukang cuci, pengasuh anak, dan sebagainya. Yang meraka inginkan hidup mereka bisa berubah dan pulang serupa Inis.

Malam itu, sehari sebelum keberangkatannya Inis tak bisa tidur. Bagaimana cara mengatakan pada mereka bahwa, memang di tanah ini, untuk kerja yang baik dan gaji yang besar bukan milik mereka, orang-orang kampung yang lugu. Dia tak ingin orang-orang kampungnya mengikuti jejaknya. Pekerjaan apa yang bisa didapat dengan mengandalkan tenaga saja? Ia tak tega jika para gadis kampungnya harus serupa dia, mengumpulkan uang dari keringat dan apak kasur, lewat desahan dan rintihan. Ia tak kuat membayangkan.

Satu yang terlintas di kepalanya adalah, barangkali akan melakukan kekonyolan yang sama serupa dulu. Melompati jendela dan berangkat dengan segera, tepat di hari Selasa.

2007-2011


Lampung Post, Minggu, 25 Maret 2012