Showing posts with label Dhe A. Sujana. Show all posts
Showing posts with label Dhe A. Sujana. Show all posts

Sunday, September 19, 2010

Mun

Cerpen Dhe A. Sujana


AKU harus menuliskan cerita ini, Mun. Tapi bukan untukmu. Kau tahu sebabnya, Mun. Ah, jangan-jangan kau sudah lupa. Baiklah, aku ulang lagi perkataan itu untuk menyegarkan ingatanmu. Mun, kisah tentang seseorang bukanlah untuk orang itu. Kisah itu lahir dan hidup di dalam peradaban untuk orang lain yang belum tentu kenal dengan orang yang menjadi pokok cerita.

Kini, aku duduk menghadap layar komputer�sambil sesekali mengisap rokok�untuk menulis cerita tentang dirimu. Apakah kau boleh marah setelah membaca cerita ini? Tentu boleh, Mun. Itu sepenuhnya menjadi hakmu. Tetapi, aku sudah bilang di awal, cerita yang kulahirkan ini bukan untukmu. Jadi, sepatutnya, kau memang tak perlu marah.

Persoalannya, bisakah kau marah kepadaku hanya karena cerita ini, setelah segala macam dentuman berulang kali pernah kita rasakan bersama di masa lalu?

Mun, baru-baru ini kudengar seorang presiden marah karena disamakan atau lebih tepatnya dianalogikan (sebab tak ada yang benar-benar sama kan, Mun?) dengan seekor kerbau. Ahai, mungkin dia belum pernah seperti kita ya, Mun. Kau ingat, alangkah kita sangat berbahagia ketika diibaratkan seekor anjing (buduk pula!).

Saat itu, kita malah tertawa. Ya, kita terbahak-bahak saat dikatakan mirip anjing buduk. Justru sangat baik dibilang seperti anjing, katamu saat itu. Anjing itu binatang yang setia kepada tuannya.

"Tapi siapa tuan kita?"

Kau terdiam menyambut selorohku itu. Sampai kini, aku masih menyesal dengan seloroh yang menyebabkan kita sama-sama menghentikan kata-kata bermuncratan dari mulut. Kalau saja tak ada seloroh itu, mungkin kita bisa lebih cepat tertawa. Namun, dasar masing-masing kita seolah punya mulut lebih dari satu dan otak yang liar ke sana-sini, maka pecahlah diam itu.

"Tuan kita, ya...diri sendiri. Tuanmu ya kamulah. Tuanku ya aku sendiri."

"Berarti, kita setengah anjing, setengah manusia, Mun?"

"Bolehlah kalau begitu. Kita memang setia kepada yang setengah-setengah!"

Lalu kita tertawa keras sekali. Setia kepada yang setengah-setengah? Ah, dari mana kau dapat frase itu, Mun!

Aku senang, Mun, sebab kita selalu tahu cara bikin hati jadi gembira. Kerap tak perlu uang untuk itu. Modal kita hanya pikiran-pikiran liar dan celotehan spontan. Entah apa kau bahagia dengan hal yang kukatakan ini.

Tapi aku ingat, kau senang ketika kita berhasil meminjam motor Joyok dengan berbohong kepadanya. "Mau nengok Lili yang diopname," alasanmu kepada Joyok yang tak berapa lama memberikan kunci motornya.

Joyok sebenarnya baik dan tidak pelit, tetapi karena kita sudah terlalu sering meminjam motornya hanya untuk keliling tanpa tujuan, kemudian menggeletakkan motor itu tanpa bensin di tangkinya, maka Joyok menjadi malas meminjamkan motor kepada kita. Untuk itulah kebohongan harus diucapkan; dusta harus diembuskan kepada Joyok agar luluh hatinya.

Lalu kita putar-putar kota. Keliling tanpa arah, hanya mengikuti jalan beraspal. Dan...Masya Allah! Ada operasi polisi lalu-lintas di dekat Pesantren Al Huda. Kita tak bisa mengelak. Untuk mundur sudah terlalu sulit karena kerumunan polisi itu telah melihat kita. Malah seorang di antara mereka menghidupkan motor, kemudian menghampiri kita yang tiba-tiba berhenti.

"Selamat sore," ucap polisi itu setelah berdiri di samping kita yang sedang gugup. "Bisa lihat surat-suratnya."

Karena aku yang tepat berada di belakang setang motor, maka akulah yang harus mengeluarkan surat-surat itu. Aku mengambil dompet, membuka-bukanya; entah untuk mencari apa. SIM aku tak punya. STNK pun tiada karena sebelumnya kita lupa memintanya kepada Joyok. (Oh, kenapa kita begitu pandai membohongi Joyok untuk mendapat pinjaman motor sekaligus pandir karena tak meminjam pula STNK motor itu.)

Aku keluarkan amplop warna ungu dari dompetku. Kemudian menatap mata si polisi sambil memegang amplop yang berisi surat cinta dari mantan pacarku itu. Tentu saja bukan surat itu yang dimaksud si polisi. Tapi, sumpah, Mun, saat itu aku tak tahu harus mengeluarkan surat-surat apa. Melihat tingkahku, aku yakin kau ingin tertawa kalau saja tak ada polisi di depan kita. Dan kau memang ingin tertawa, namun menahannya�mungkin agar si polisi tak sakit hati.

"Operasi apa, Pak?" Kau memberanikan diri bertanya kepada si polisi.

"Ada motor hilang. Baru dicuri dari daerah kampus," jawab si polisi dengan muka serius. "Mana surat-suratnya?"

Aduh, kenapa pertanyaan itu muncul lagi.

"Ini motor pinjeman, Pak. Kami mau menengok teman yang sakit. Tadi buru-buru. Jadi lupa bawa surat-suratnya. Gimana, Pak?"

Mun, kau sigap sekali saat itu. Lincah sekali lidahmu bersilat.

Polisi itu terdiam mendengar penjelasanmu. Namun, matanya melihat-lihat pelat nomor motor yang kita naiki. Mungkin dia memeriksa keaslian pelat itu.

"Ini motor Joyok, Pak. Teman saya dari Jombang," ucapku. "Pelat Jombang memang W kan, Pak?"

Polisi itu tetap terdiam. Kulanjutkan cerita tentang Joyok kepada dirinya. Aku katakan bahwa Joyok itu anak yang baik, keluarganya adalah petani melon di Jombang yang rajin ikut istigasah dan ia selalu tak lupa salat lima waktu. Tetapi, Mun, mengapa saat aku berbicara kepada polisi itu, tanganmu malah menyolek pinggangku berulang kali? Apa ada yang salah dengan ceritaku?

"Ya sudah. Kalian balik saja. Jangan terus," kata polisi itu setelah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mun, mungkinkah polisi itu terkesima dengan ceritaku hingga dia berperilaku demikian? Nanti, kalau kita bertemu dia lagi, sebaiknya kita tanyakan hal itu kepadanya. Tapi, Mun, apa kau masih ingat wajahnya? Aku sih sudah lupa.

***

Aku tulis cerita ini, Mun, untuk mengingatmu, tetapi bukan untukmu. Cerita ini untuk orang-orang yang mungkin belum pernah mengenal dirimu. Aku mengarang kisah ini, Mun, agar mereka tahu bahwa kita selalu punya cara bikin hati jadi senang, termasuk ketika kesedihan menerjang. Seperti peristiwa di pinggir jalan itu, ketika kita duduk di warung Cak Gondrong.

Malam itu pekat, Mun. Seolah dua gelas kopi yang sedang duduk santai berhadap-hadapan dengan kita telah melunturkan warnanya kepada malam. Tetapi kita tak marah kepada kopi yang membuat malam kian suram secara meyakinkan. Sebab kita kembali memesannya kepada Cak Gondrong kalau isi gelas di depan kita tinggal ampas.

Aku sangat masygul ketika kau buka suara hanya untuk mengantarkan kesedihan yang disebabkan oleh gadis dari Kota S itu kepadaku. Seolah kau mengkhianati kegembiraan yang selalu kita ciptakan sebelumnya. Kau bercerita bahwa kau kecewa karena gadis itu akhirnya memilih lelaki lain hanya karena ibunya selalu melihat lelaki itu dalam mimpi.

"Bagaimana kalau setan yang datang ke mimpi ibunya?"

Kau tak menjawab pertanyaanku. Tanganmu malah asyik menggoyang gelas yang menyebabkan air pekat di dalamnya serupa pikiranmu; menari-nari tak tentu gerak. Jujur saja, saat itu aku kuatir kau akan membantingnya.

"Kalau benar-benar setan yang ada di mimpi si ibu itu, berarti kamu yang menang, Mun."

"Kok bisa?" (Eh, kamu tergoda juga menyahuti ucapanku)

"Ya, soalnya cewek itu sudah ikut ke jalan yang sesat. Setan kan sudah berjanji menyesatkan manusia, Mun," jawabku santai.

"Sialan."

Aku tertawa kecil. Kau pun tersenyum. Tapi pasti hatimu belum gembira. Maka aku berjanji untuk menunjukkan jalan kegembiraan kepadamu.

"Kita harus balas dendam kepada cewek itu, Mun."

"Hah! Buat apa?"

"Biar dia kapok karena sudah melukai hatimu," jawabku.

Aku tak menoleh sama sekali ke arahmu. Padahal, aku mengintip lewat sudut mataku, kau tengah memandangku lekat-lekat. Aku tahu kau tak sabar ingin mendengar rencanaku. Asal kau tahu saja, Mun, aku berekspresi macam itu agar hatimu penasaran dan jantungmu kian berdegup kencang.

"Ayo, kasih tahu. Gimana cara balas dendamnya?"

Nah, kau penasaran kan? Bahkan sampai dua hari sejak obrolan malam itu, kau tetap bertanya perihal yang sama kepadaku. Tapi aku tetap tak menjawab. Itulah caraku, Mun, mengalihkan kesedihanmu menjadi rasa penasaran tak tentu.

Beberapa hari kemudian, kau datang membawakan senyuman untukku. Rupanya kau baru saja mendengar bahwa aku telah membalaskan dendammu kepada gadis itu. "Dasar gendeng!" Katamu sambil memukul bahuku.

Ya, Mun. Cinta memang harus gila. Aku memang membaca puisi bikinanku ketika si gadis sedang berada di rumah indekosnya. Kalau kau bersamaku saat itu, Mun, kau akan melihat teman-teman indekos si gadis berkumpul di beranda rumah dengan roman muka riang gembira menyaksikan aku membaca puisi berjudul Les Gratis untuk Temanku, yang bait pertamanya berbunyi:

Terimakasih, telah kau perkenalkan temanku kepada cinta

Malam itu, kami duduk bermuka-muka dan temanku telah

Mengubah kesedihan menjadi kata-kata.

Oh, wanita! Ternyata kau pun membawakan temanku secawan duka

Cinta yang kau ajarkan kepada temanku memang gratis adanya

Tetapi, aku harus membayarkan bergelas-gelas kopi untuknya

Oh, wanita! Kesedihan temanku merajalela

Dan kini kantongku makin tipis karenanya

Itulah Mun, caraku membalas penolakan si gadis terhadap cintamu. Itulah caraku yang telah membuat teman-teman indekos si gadis bertepuk tangan sebagai tanda bahwa aku tak mempermalukan dirinya. Mun, aku bukan Tuhan yang pernah mengirimkan banjir sebagai hukuman kepada umat Nabi Nuh. Dan, karena aku bukan ibu si gadis, bagaimana mungkin aku membalaskan dendammu dengan mengutuknya menjadi batu?

***

Setelah kubaca lagi cerita ini dari awal, Mun, aku sadar bahwa kisah ini bukanlah lagi semata-mata tentang dirimu. Inilah cerita tentang kita yang dulu selalu tak lelah mencari cara agar gembira.

Namun apakah kini kita telah bertemu dengan gembira? Aku tak tahu, Mun. Mungkin pertanyaan itu lain kali mampu kujawab dengan cerita. Untuk itu, kita harus bertemu, Mun.

Seputaran Pasar Cendrawasih, 1 Maret 2010

--------------
Dhe A. Sujana, lahir pada 21 Desember 1983 di Jakarta. Alumnus Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Jember. Saat ini bermukim di kota masa kecilnya; Metro, Lampung.



Lampung Post
, Minggu, 19 September 2010

Sunday, January 3, 2010

Ped

Cerpen Dhe A. Sujana

USAI mengantarkan pepaya sebanyak satu truk ke pasar, Mat Sodik bertemu dengan Mat Rifah. Ajakan Mat Rifah untuk singgah sebentar di warung tak ditampik oleh Mat Sodik pada sore itu.

"Aku benar-benar minta tolong," ucapan Mat Rifah itu kian membuat hati Mat Sodik tak tega. Bagaimana mungkin ia tak akan membantu teman sepermainan yang ia kenal mulai umur lima tahun. Mereka berpisah karena Mat Rifah memutuskan untuk merantau, menimba ilmu di tanah seberang.

"Ah Rifah, jangan bicara begitu," Mat Sodik mencoba untuk mengelak. "Pendidikanmu saja lebih tinggi daripada aku. Tentulah tak layak kalau kau sampai mengiba seperti itu kepadaku."

"Sodik, bantulah kawanmu ini," Mat Rifah belum bisa berhenti untuk memaksa. "Kau pasti bisa membantuku. Kau punya banyak kenalan. Pastilah mudah mencari orang untuk meluluskan niatku."

"Rifah, belum ada dua jam kita bersua lagi, tapi kau sudah memintaku untuk meruntuhkan langit."

"Ya tak apalah kalau kau tak mau membantu," sahut Mat Rifah sambil berdiri, seraya bersiap menemui pemilik warung untuk membayar apa-apa yang sudah mereka habiskan. "Bagaimanapun juga, Sodik, aku tetap kawanmu."

"Aku bukan tak mau membantumu, Rifah. Aku hanya tak sanggup melakukannya."

//

Pulang kampung memang bukan hal yang disukai oleh Mat Rifah. Tak ada apa-apa di kota tempat ia pertama kali belajar membaca dan menghitung itu. Tapi, Mat Rifah memang harus pulang untuk membantu pencalonan Pak Minan dalam pemilu.

Politisi yang sudah berusia magrib itu, Minan Hadiwaskito, memang terkenal punya hubungan baik dengan aktivis mahasiswa. Ia memberikan dukungan dana yang cukup besar untuk beberapa aktivis mahasiswa selama bertahun-tahun. Tak hanya itu, Minan juga memberikan jalan kepada mereka untuk berganti baju menjadi aktivis parpol.

Kolega Minan di parpol tempat ia bernaung menjulukinya sebagai pengijon kader. Julukan yang mirip dengan artian sebenarnya. Ibarat buah, aktivis mahasiswa yang diasuh Minan memang masih hijau ketika pertama kali bertemu dirinya. Bantuan dana yang disalurkan Minan kepada mereka bagaikan uang panjer yang diberikan pengijon kepada petani ketika buah di kebun mereka belum lagi masak.

Aktivis mahasiswa yang diasuh Minan akan membalas bantuan itu dengan kesediaan mengerjakan semua keinginan Minan; menggalang aksi massa untuk meruntuhkan lawan politik tuan mereka, menjadi tempat penampungan dana korupsi yang diambil Minan dari gedung Dewan, dan ketika musim pemilu tiba, mencarikan suara untuk Minan agar si gaek itu tetap duduk masyhuk di kursinya.

Mat Rifah tahu betul kenyataan yang akan dia dapat kalau berhubungan dengan Minan. Tapi, menggunakan dana bantuan Minan ialah tindakan paling rasional yang bisa dilakukan olehnya. Kiriman uang dari orang tuanya kurang.

Dan Mat Rifah ingat kepada Mat Sodik, temannya yang bertubuh paling besar di antara kawan sepermainannya dulu. Mat Sodik yang selalu melindunginya dari keroyokan anak-anak desa tetangga. Mat Sodik yang tidak mau ikut merantau ke tanah seberang karena harus melanjutkan usaha bapaknya. Maka, setelah mendengar cerita-cerita dari ibunya, Mat Rifah segera mencari Mat Sodik di pasar.

Mereka berbicara layaknya sepasang kekasih yang lama memendam rindu di warung pojok pasar itu.

"Ibu yang bilang kepadaku," ujar Mat Rifah setelah menghisap batang kreteknya. "Kalau ingin bertemu kawanku yang besar ini, cari saja dia di pasar."

"Ah, bisa saja ibumu. Bagaikan aku ini pemilik pasar saja," jawab Mat Sodik diiringi tawa.

Mereka mengurai lagi masa lalu sambil meraba-raba kondisi masing-masing saat ini. Mat Sodik bercerita kalau dia sudah menikah dan punya dua anak.

"Aku belum lagi berani untuk menikah, Sodik. Takut diatur oleh perempuan. Hahaha..."

"Menikahlah, apalagi yang kau cari. Gelar sudah pula kau rengkuh dari tanah seberang."

Pembicaraan segera memasuki ruang yang serius. Mat Rifah menyampaikan maksud kedatangannya kembali ke kampung mereka. Dia bercerita soal pencalonan Minan dan berharap kepada Sodik agar membantunya mencari suara untuk memenangkan Minan.

Mat Rifah sangat paham bahwa ia bisa menggunakan jasa Mat Sodik dalam menggalang orang-orang untuk memilih Minan. Pekerjaan Mat Sodik sebagai juru ekspedisi, yakni orang yang mengambil hasil bumi untuk dijual ke pasar dari kantung-kantung pertanian di seputaran kabupaten, telah membuatnya begitu akrab dengan pemuka-pemuka dari macam-macam desa.

Para petani di kabupaten menggolongkan Mat Sodik sebagai "Ped", yakni ekspedisi yang tidak menggunakan mobil jenis pikap, tetapi memakai truk besar untuk mengangkut barangnya. Artinya, kenalan Mat Sodik bukanlah para petani gurem tak berlahan, tapi para tuan tanah bergelar haji, para lurah yang memiliki bengkok luas dan tentu saja para kyai yang sering memperkerjakan santrinya di sawah.

"Apalah lagi yang kau ragukan, Sodik?" Mat Rifah mencoba untuk mengusir gundah yang tertuang dalam sorot mata kawannya itu. "Tenanglah, semua ada hitungannya. Kau paham maksudku, kan?"

"Aku sangat paham Rifah. Sebelum kau, pernah ada orang yang datang kepadaku meminta hal serupa ini. Tapi aku menolaknya."

"Siapa orang itu?"

"Haji Sarmud. Dia juga mencalonkan diri dari kabupaten kita."

"Tapi, orang yang meminta bantuanmu sekarang adalah aku, Sodik. Kawanmu ini."

"Aku tolak permintaan Haji Sarmud karena aku kuatir bakal ada apa-apa di masa depan. Aku memang tak begitu paham soal politik, tapi aku tidak buta, Rifah." Suara Mat Sodik mulai menunjukkan jati dirinya sebagai lelaki yang tegas.

"Apa ada jaminan kalau di masa depan, calonmu itu tidak melupakan janjinya kepada orang-orang yang aku kenalkan kepadanya? Kalau calonmu itu lupa, aku akan tergelincir pula. Bisa-bisa, kenalanku itu tidak akan menggunakan jasa Ped yang sudah dirintis oleh kakekku ini," lanjut Sodik.

Mat Rifah agak mengerut hatinya. Mat Rifah sudah mengerti tabiat Minan. Jika Pemilu sudah usai, Minan memang sengaja lalai pada janji-janjinya ketika kampanye. Maka tak aneh kalau Minan selalu berganti-ganti daerah pemilihan tiap kali pemilu diselenggarakan.

Tapi, Mat Rifah tak mampu menghapus bayangan Minan yang telah membantunya menyelesaikan kuliah dan kini membiayai dirinya pula untuk mendapatkan gelar S-2. Maka, ia kembali memaksa kawannya itu.

"Bantulah aku, Sodik. Pak Minan orang yang setia pada janji. Aku yang akan menjamin."

Mat Sodik ingin berteriak "Pembohong!" ke wajah Mat Rifah. Tapi tak mungkin hal itu dilakukannya. Mat Rifah sudah seperti saudara baginya. Jangankan hanya mandi berdua ketika masih kanak; terjebak kedinginan -- ketika berteduh dari siraman hujan -- di dalam rumah kosong yang konon paling angker di kampungnya, pernah pula dijalani oleh dua sekawan itu.

Pembicaraan di warung itu memang tak menghasilkan apa-apa.

///

Ibu dari dua anak itu duduk menghadap suaminya. Perbincangan suami-istri itu mulai beraroma kurang sedap. Padahal sebelumnya, obrolan berjalan dengan mesra; si istri menjadikan paha suaminya sebagai bantal sembari tiduran di sofa.

"Semua terserah Abang," ucap Aya dengan nada getir. "Tapi, apa Abang lupa pesan almarhum bapak?"

Mat Sodik memang belum lupa dengan pesan itu. "Jangan kau ikut bermain politik, Sodik. Usaha yang dibangun kakekmu ini bisa luluh lantak," kata bapaknya menjelang dijemput sang maut.

"Tak mudah, Bang, menjaga kepercayaan orang yang sudah ditimpakan kepada Abang selama bertahun-tahun," lanjut Aya. "Pelanggan Abang bahkan ada yang sudah menggunakan jasa Ped milik kita sejak kakek masih hidup."

"Sungguh aku bingung, Aya. Aku tak sampai hati menolak permintaan Rifah," ucapan Sodik bergetar pelan. Pandangannya jatuh ke lantai.

"Bang," lembut sekali suara Aya. Suara itu seolah ingin menyelinap ke dalam kesadaran suaminya. "Tak selamanya kawan itu sama seperti bayangan yang menemani kita ke mana saja."

"Ah, tak tahulah. Andai saja Rifah yang mencalonkan diri, tak perlu dia datang minta tolong kepadaku. Asal kudengar kabar itu, pasti aku yang datang menawarkan bantuan kepadanya," suara Mat Sodik seperti menggelepar tak berdaya.

"Tapi Bang, persoalannya bukan siapa yang menjadi calon. Abang tidak boleh ikut bermain politik. Apa pun alasannya!"

Bisnis ekspedisi hanya bermodalkan kepercayaan dan kejujuran. Mereka bisa saja mencuri hasil bumi dari petani yang dikirimkan ke pasar lewat jasa Ped. Tapi petani pasti mengetahui tindakan itu. Sebab, para pedagang di pasar juga memiliki hubungan baik dengan para petani. Pedagang-pedagang itu tak jarang menelpon si petani untuk menanyakan perihal jumlah muatan yang dikirimkan lewat Ped. Kalau sampai muatan itu berkurang, maka Ped yang mengantarkan barang itu akan dicoret oleh si petani. Kepercayan memang mudah datang tapi tak sulit untuk terbang menghilang.

Ped yang sudah tak dipercaya oleh seorang petani harus bersiap-siap mengalami kebangkrutan karena kabar akan menyebar lebih cepat ketimbang datangnya musim kemarau. Tidak akan ada petani yang sudi menggunakan jasa ekspedisi yang culas.

Ped juga bisa bangkrut kalau ia menjadi makelar suara ketika musim pemilu tiba. Saingan Mat Sodik, yang bernama Dulah, harus menjual truknya dan beralih menjadi pedagang warung kecil karena calon gubernur yang dijajakannya kepada para pengguna jasa ekspedisinya tidak bisa memenuhi janji saat kampanye, yakni menurunkan pajak terhadap hasil bumi. Dulah dicap pembohong oleh para pelanggannya; dianggap bersekongkol dalam dusta yang disebarkan si calon gubernur pemenang pemilu. Mat Sodik tak pernah ingin bernasib seperti Dulah. Ped bukan saja terkait dengan hidup dan mati keluarganya, melainkan juga soal kecakapan menjaga usaha turun-temurun.

"Ped itu tugasnya mengantarkan barang, bukan membawa orang ke bilik suara, Bang," ucap istri Mat Sodik sambil melangkah menuju kamar.

////

Batin Mat Sodik berdesir ketika hampir melewati rumah Mat Rifah siang itu. Tampak olehnya sebuah mobil ambulans diparkir di luar pagar rumah bercat hijau itu. Orang-orang berkerumun; lelaki menggunakan peci dan perempuan memakai kerudung untuk menutupi kepala mereka. Mat Sodik memelankan laju truknya ketika sampai di depan rumah itu, kemudian bertanya kepada seseorang yang sedang memasang bendera warna kuning.

"Siapa yang meninggal?"

"Mat Rifah," jawab orang itu sambil menatap Mat Sodik. "Mobilnya masuk ke jurang tadi pagi."

Mat Sodik lemas menggenggam setir truknya. Seminggu sejak pertemuan di warung itu, ia memang menghindar dari Mat Rifah. Ia tak kuasa menolak permintaan Mat Rifah, tapi tak pula ingin memenuhinya. Jantungnya berdegup kencang. Tatapannya kosong. Ulu hati Mat Sodik bagai dibobol sebutir timah panas. Otaknya seperti tersambar halilintar. Mat Sodik menyesal tak bisa memenuhi permintaan terakhir Mat Rifah, kawan sepermainannya itu.

Jember-Metro, Maret-November 2009

Lampung Post, Minggu, 3 Januari 2010